More Than 100 Days – Part 2

More Than 100 Days – [2]

Title : More Than 100 Days

Author : adinary

Main Cast : Han Jinie – Lee Taemin

Support Cast : Sulli f(x)

Length : Sequel

Genre : Fantasy – Romance

Rating : General

Summary : Bagaimana jadinya Taemin tanpa Jinie? Taemin tiba-tiba memikirkan Jinie saat ia merasa bersalah padahal Jinie membuatnya sadar tentang orangtuanya yang selalu tak ada waktu untuknya.

A.N : Annyeonghaseyo^^ hahahaha~ balik lagi dengan part 2! 😀 ada yg nunggu ff ini kah? Kkkkk~ *PD banget* Lama ya? FF ini aku rombak jd tambah lama. Maaf kalo di part 1 ada yg bikin bingung atau gimana. Sekarang fokus aja ke part 2 kekeke 😛 Baca part ini baik-baik karna ada bagian yang banyak penjelasannya~ maaf kalo banyak typo~ Ini murni FF hasil author, terinspirasi pas abis nonton Thikerbell^^ hahaha. Maaf juga lanjutannya lama >< author sibuk sekolah, SMA itu ternyata keras men!(?) susah waktu senggang. Komentar, kritik dan saran selalu ditunggu dan diterima 😀 dan copas cerita orang diharamkan! Plagiat juga! enjoy!!!^^

(part sebelumnya~)

Author pov

Perlahan Taemin membuka selimutnya dan duduk. Ia melihat ke arah meja belajarnya, melihat Jinie yang tertidur pulas. Ia pun beranjak dari kasur dan membuka lemari untuk mengambil sebuah sapu tangan. Taemin pun mendekat ke arah Jinie yang tertidur di atas meja belajarnya lalu menyelimuti Jinie dengan sapu tangannya.

“Kau salah. Aku mendengar semua penjelasanmu.” Bisik Taemin. Ia pun menghela nafas dan kembali ke kasurnya lalu tidur.

***

Jinie pov

9 hari berlalu dan apa yang aku dapat? Tak ada sama sekali. Namja itu keras kepala. 9 hariku terbuang percuma. Sekarang apa yang ia lakukan padaku. Aku di kurung di kandang hamster???? APA-APAAN DIA???? NAMJA GILA!!

Flashback – author pov

Setelah pergi selama kurang lebih 1 jam, Taemin kembali pulang ke rumah dan bergegas ke kamarnya. Taemin masuk kamar dengan senyum yang mencurigakan. Ia melihat Jinie yang ternyata belum mengubah wujudnya menjadi peri lagi.

“Apa itu?” Tanya Jinie saat Taemin masuk kamar dan membawa sesuatu di kotak hadiah.

“Kau mau tau?” Tanya Taemin dengan senyum yang tak berubah semenjak ia masuk kamar.

Jinie lalu menoleh ke arah Taemin dan mendesis, “Hentikan senyum mengerikan itu.”

Taemin tertawa sambil meletakkan kotak itu di atas kasur. Berhadapan dengan Jinie yang duduk di tengah-tengah kasurnya. “Ini hadiah ulang tahunmu. Bukalah.” Taemin pun ikut duduk berhadapan dengan Jinie.

Jinie terlihat melongo, “Hadiah Untukku?”. Dengan cepat Taemin mengangguk. “Bagaimana bisa kau tau kemarin adalah hari ulang tahunku?”. Jinie hampir tak percaya seorang Lee Taemin, namja yang baru 8 hari ia kenal. Namja yang menyebalkan dan keras kepala memberinya hadiah ulang tahun? Malaikat apa yang merasuki Taemin saat ini?

“Kenapa kau diam? Mau aku yang membukanya?” Tanya Taemin dengan senyum yang masih terlukis di wajahnya. Tapi Jinie hanya diam dan Taemin mengartikan bahwa Jinie menjawab, ‘Ya, bukakan untukku.’

“Baiklah, aku buka.” Ucap Taemin kemudian sambil membuka tutup kotak tersebut lalu mengeluarkan isinya dan “Tadaaaaaaaa!!! Saengil chukhae Jinie-ya~~~~ Ini kado special untukmu dariku.”

Jinie menatap lekat-lekat benda yang kini berada di tangan Taemin.

“Aku melihat di kalenderku kau menandai tanggal 8 di bulan Juli dan tertulis namamu disana. Jadi sebagai hadiahnya aku membelikanmu ini.” Jelas Taemin yang masih mempertahankan senyumnya.

“Apa kau bercanda?” Tanya Jinie datar.

“Ani. Aku tak bercanda. Wae?” sekarang gaya berbicara Taemin mulai berubah menjadi menyebalkan.

“Taemin-ah. Bukankah itu kandang binatang?” Jinie mendelik ke arah Taemin. Senyum Taemin pun kini berubah menjadi senyum licik.

“Ne. Ini kandang hamster. Dan ini untukmu. Untuk mengurungmu. Mengurung peri aneh yang mengganggu kehidupan orang lain dengan alasan merubah nasib orang tersebut.” Jelas Taemin yang langsung beranjak dari kasur dan keluar dari kamar.

“Apa maksud orang itu?!” Gumam Jinie sambil melihat ke arah pintu kamar yang baru saja ditutup Taemin.

Keesokan paginya~

Saat bangun Jinie mendapati dirinya berada dalam kandang hamster yang diberikan Taemin padanya kemarin. Jinie terlihat kaget dan memeriksa pintu kandang tersebut dan ternyata terkunci oleh sebuah gembok kecil.

Flashback end

Taemin pov

Aku berjalan menuju sekolah dengan senyum yang mengembang dan perasaan senang. Aku berhasil mengurung peri aneh itu di kandang hamster, hahahaha. Ini hari ke 10 ia tinggal bersamaku. Selama 9 hari ini ia terus mengusik hidupku. Menyuruhku belajar, menyuruhku untuk memperhatikan guru, menyuruhku mengatur pola makan dan mengatur waktuku seenak yang ia mau. Terlebih yang aku tak suka adalah ia selalu menyuruhku untuk bersikap lebih manis pada orang tuaku.

“Bulu kakiku selamat.” Ucapku sambil mengangkat sedikit celana seragamku untuk melihat bulu kakiku yang sedikit. Aku tak mau mereka habis dicabuti peri aneh itu.

Bayangkan saja, setiap kali aku tak menuruti perintahnya, ia akan mencabut satu dari bulu-bulu kakiku yang berharga ini. Asal kalian tau, bagi kami para lelaki hal tu menyakitkan.

Bukan hanya itu! Mulai sekarang hidungku bebas dari gigitan peri aneh itu. Sebelum ini, ia selalu menggigit hidungku dengan gigi kecilnya itu untuk membangunkanku. Untung ia menggigit hidungku dengan wujud perinya, coba kalau wujud manusianya? Kurasa hidungku akan mengalami pembengkakan.

“Taemin-ah!!” Aku pun menoleh karena merasa ada yang memanggil namaku. Aku kenal suara ini.

Aku pun melambaikan tangan padanya, “Annyeong, Sulli-ah!” ia berlari kecil menghampiriku. Dengan imutnya ia tersenyum.

“Taemin-ah, pulang sekolah kau mau tidak menemaniku ke toko buku? Aku ingin membeli novel baru.” Ucapnya sambil mengajakku berjalan memasuki sekolah.

Aku pun mengangguk, “Tentu saja. Tunggu saja di depan gerbang sepulang sekolah.”

“Aaaa kau baik sekali. Kalau begitu aku masuk kelas dulu ya. Belajarlah yang serius, oke? Hehehe.” Ucapnya sambil menepuk bahuku, ia terlihat senang. Selalu seperti itu sih sebenarnya, hahaha. Aku jadi ikut senang.

“Ne, kau juga. Belajar yang serius.” Aku pun melambaikan tangan dan berjalan ke kelasku sendiri.

~~~

“Mana buku tugas matematikaku???” Gumamku pelan sambil terus mengacak-ngacak isi tas. Sial! Dimana buku itu!!! Argh! Andai peri aneh itu ada denganku, ia pasti bisa membantuku seperti hari-hari sebelumnya.

“Kau lupa membawa tugasmu lagi?” Tanya seongsaenim yang entah sejak kapan ada di pinggir mejaku. Ia bertanya dengan penekanan kata ‘lupa’ dan ‘lagi’. Aku hanya menghela nafas.

“Jeosonghamnida.” Lirihku.

“Keluar.” Ucap guru itu. Aish, sudah berapa kali ini terjadi? 2? 3? 6? -_- Aku pun berdiri dan berjalan keluar kelas dengan tampang lesu.

Padahal aku baru sehari mengurung peri aneh itu tapi nasibku langsung memburuk lagi. Aku pun pergi ke taman sekolah dan duduk di bangkunya.

Tiba-tiba aku menyesali perlakuanku padanya. Mengurungnya di kandang hamster. Aku memang bebas melakukan apapun yang ku mau, tapi nasib jelek ini kembali menyerangku. Aku jadi ingat bagaimana cekatannya peri aneh itu saat mengetahui sketsa gambar seniku tertinggal di kamar. Dengan keahliannya dia meng-adakan kembali sketsa itu dalam tasku. Dan aku selamat dari omelan guru seniku. Dia juga banyak memperingatiku saat di jalan. Aku memang memiliki kebiasaan menendang sesuatu di jalan, tapi ia selalu mengingatkanku untuk tidak melakukannya. Pernah aku hampir menendang botol minuman, kalau saja peri aneh itu tak memperingatiku, botol itu akan melayang ke arah seorang bayi kecil yang sedang di gendong ibunya. Dan banyak lagi hal lain yang ia lakukan.

Yah, walau dia sempat mengejutkan pengunjung taman kota karna ia tanpa sengaja merubah dirinya menjadi seekor domba. Sungguh memalukan. Ngomong-ngomong apa yang ia lakukan sekarang di kandang hamster itu?

“Ah! Kenapa aku jadi memikirkannya begini. Peduli apa dengannya di kandang itu.”

Jinie pov

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa menggunakan kemampuanku karena kandang ini berwana kuning. Setiap peri memiliki kelemahan terhadap warna apabila warna itu mengelilinginya seperti ini. Dan kelemahanku adalah warna kuning. Kandang ini berwarna kuning. ARGH!!!!

“Taemin pabo pabo pabo!!!” gerutuku sambil menendang-nendang kandang hamster yang mirip penjara ini.

“Kemana namja gila itu?!” Aku mendelik ke arah pintu kamar yang tak terbuka sejak tadi. Juga melihat ke arah jam dinding. Sudah jam 5 sore dan dia belum pulang. Kemana namja itu????!!! Awas kau kalau pulang!!!!! Aku akan memakanmu hidup-hidup!!!!

‘cklek’

Tak berapa lama aku mendengar seseorang membuka pintu kamar, Itu dia!!! Aku segera berdiri dari dudukku. “Ya!! Keluarkan aku dari sini!!!”

“Nanti saja, aku sedang malas.” Ujarnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur.

“Keluarkan aku dari siniiiiiiiiiiii!!!!!” Teriakku sambil memukuli kandang marmut itu dengan ganas. Sampai aku tak menyadari letak kandang itu berada di pinggir meja. Kandang ini bergeser dan akhirnya kandang ini jatuh dan tentu saja bersama aku yang ada di dalamnya.

Keningku terbentur tiang-tiang kandang ini dan roda berputar dalam kandang ini menimpa tubuhku yang kecil. Kandang ini berat untuk ukuran tubuh sekecil aku.

“Appo…” Lirihku. Mana namja itu??? Ia tak datang menolongku??? Issshhhh keterlaluan.

“Taemin-ah!!!!” Teriakku senyaring mungkin.

Aku pun mendengar ia menggerutu, “Wae?! Kau mengganggu tidurku dasar kau- OMO! Apa yang terjadi???”

Author pov

“Wae?! Kau mengganggu tidurku dasar kau- OMO! Apa yang terjadi???” Ucap Taemin saat ia melihat kandang hamster itu jatuh. Taemin langsung membuka kunci pintu kandang tersebut dan mengeluarkan Jinie lalu mendudukan Jinie di atas bantal tidurnya.

“Apa yang sakit????” Tanya Taemin panik ketika melihat Jinie menangis dan memegang bahunya. Ia juga melihat ada sedikit darah di kening kecil Jinie. Tapi Jinie tak menjawab dan hanya menangis. “Biar aku ambil obat. Tunggu sebentar.” Ucap Taemin sambil bergegas mengambil kotak obat di meja belajarnya.

Dengan cekatan Taemin mengambil kapas untuk membersihkan darah di kening Jinie. Tapi kening Jinie terlalu kecil.

“Rubah dulu wujudmu menjadi manusia, keningmu terlalu kecil.” Perintah Taemin.

Dengan terisak Jinie pun menurut pada Taemin. Setelah itu Taemin segera membersihkan darah di kening Jinie dan memberi plester.

“Kenapa kau bisa jatuh sih?? Dasar ceroboh. Membuatku panik saja.” Tegur Taemin sambil membereskan kotak obat.

“Ini kan gara-gara kau, dasar- Aww! Bahuku…” Jinie meringis saat menggerakan lengan kirinya untuk memukul Taemin.

“Eh? Wae?? Kenapa dengan bahumu??” Taemin langsung menoleh dan panik lagi.

“Sakit…” Keluh Jinie.

“Apa karena tertimpa roda putar tadi??? Coba buka sedikit risleting dressmu, biar kulihat bahumu.” Perintah Taemin. Jinie pun menurut. Ia membuka sedikit risleting dressnya yang terletak di punggung. Agar Taemin bisa melihat bahu Jinie.

“Astaga! Bahumu memar.” Ucap Taemin. Ia pun langsung keluar kamar untuk mengambil handuk dan es batu dan bergegas kembali lagi ke kamar.

“Biar aku kompres dulu.” Ucap Taemin.

“Kenapa bisa sampai jatuh? Ini akibatnya kalau kau ceroboh!” Tegur Taemin.

“Ini karenamu, pabo!” Balas Jinie dengan nada kesal.

“Bukankah kau peri? Kenapa tak menggunakan kekuatanmu saja? Bahkan aku sempat berpikir kalau kau akan bisa saja keluar dari kandang itu sendiri.”

“Kandang itu berwarna kuning.”

“Memangnya kenapa dengan kuning?”

“Hhh, dengar. Setiap peri mempunyai kelemahan dalam satu warna jika warna itu mengelilingi tubuhnya. Dan kelemahanku adalah kuning.” Jelas Jinie.

“Ooh. Ada lagi kelemahanmu?” Tanya Taemin.

“Aku tidak bisa berpikir saat panik dan ketakutan. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kemampuanku seolah-olah tak berfungsi sama sekali.” Jawab Jinie.

“Hmm.” Gumam Taemin.

Lalu Taemin menghentikan kompresannya dan menatap Jinie sebentar, “Mianhae..” lirih Taemin.

Jinie terdiam sebentar, “Gwenchana.. aku tau alasannya kenapa kau mengurungku. Tampaknya aku terlalu berlebihan dan terburu-buru padamu. Seharusnya aku membantumu secara bertahap.”

“Dan seharusnya aku menghargai bantuanmu selama ini. Maaf karena aku selalu meremehkanmu dan tak peduli dengan bantuanmu. Padahal bantuanmu sangat berharga.” Ucap Taemin sambil memberikan obat berbentuk krim pada Jinie, “Ini, oleskan pada bahumu.”

Jinie mengambil krim itu dan mengoleskannya pada bahunya yang memar secara perlahan, “Apa yang terjadi hari ini?”

“Hari ini aku sial. Buku matematikaku tertinggal dan aku dilarang mengikuti jam pelajaran matematika. Aku juga batal menemani Sulli ke toko buku karena aku dihukum mengerjakan 50 soal matematika yang beranak dan bercucu. Aku sudah terlalu sering lupa membawa dan lupa mengerjakan tugas matematikaku. Kau tahu? Aku hampir muntah di tempat mengerjakan soal-soal itu. Memandangnya saja membuatku mual.” Cerita Taemin.

“Seharusnya saat itu aku ada untuk membantumu.” Ucap Jinie sambil menutup kembali risleting dressnya.

“Ne, andai aku tak melakukan hal konyol dengan mengurungmu di kandang hamster, mungkin kau bisa mengingatkanku untuk membawa tugas matematikaku. Dan aku bisa jalan berdua ke toko buku dengan Sulli.” Ucap Taemin.

“Taemin-ah..” Panggil Jinie pelan.

“Wae?”

“Mulai sekarang, belajarlah untuk memperbaiki nasibmu. Usahaku akan sia-sia kalau kau sendiri tak berniat memperbaiki nasibmu. Percuma kalau aku membantumu saat kau lupa membawa tugas, memperingatkanmu dan lain sebagainya kalau kau sendiri tak berniat merubah nasibmu dan hanya bergantung padaku.” Jelas Jinie.

“Kalau kau begini terus, takkan ada hasil yang akan kau capai. Keinginanmu takkan terpenuhi. Mau jadi apa kau setelah lulus SMA nanti? Bukankah orang tuamu pengusaha besar? Dengan menyandang status sebagai anak pengusaha besar, kau harus menjaga nama baik mereka.” Jelas Jinie.

Taemin memutar bola matanya dan merebahkan diri di samping Jinie yang masih terduduk. “Jangan bahas orangtuaku. Bahkan mereka tak pernah memikirkanku. Sekalipun aku adalah anak tunggal mereka. Mereka takkan peduli denganku, mereka hanya bisa memberiku uang, uang dan uang. Mereka pikir aku akan bahagia jika terus di beri uang tanpa kasih sayang. Bahkan mereka jarang ada di rumah.”

“Tapi mereka sering mencoba menghubungimu lewat telepon kan? Mengirim pesan dan juga email.” Ucap Jinie sambil membenarkan posisi duduknya, “Itu artinya mereka masih perhatian. Kau harus mengerti posisi mereka sebagai seorang pengusaha besar yang mempunyai hubungan dengan banyak perusahaan besar lainnya dari berbagai negara.”

“Taemin-ah.. mereka bekerja menjadi pengusaha besar sepeti sekarang juga untukmu. Untuk masa depanmu. Kau tau kan, kalau biaya hidup sekarang itu mahal. Tujuan orang tuamu adalah agar kau hidup berkecukupan. Tapi mungkin, memang cara mereka yang salah. Mereka kurang memberi perhatian sebagai orang tua padamu. Mereka jarang makan bersamamu atau berlibur bersama, menghabiskan waktunya denganmu seharian di hari libur.” Lanjut Jinie.

Taemin terdiam, ia merasa bahwa kata-kata Jinie itu benar. Taemin pun bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala(?) kasur, sama seperti Jinie. “Kau benar, Jinie-ya.” Ucap Taemin sambil menunduk, sedangkan Jinie menatap Taemin dari samping. Taemin tersenyum miris mendengar kata-kata Jinie.

Jinie menyunggingkan senyumnya, “Jadi, kau jangan salah mengartikan kesibukan mereka yang sampai tak memperhatikanmu. Mengertilah posisi orang tuamu. Menjadi orang tua itu tak mudah. Semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi mungkin mereka salah cara dalam pengaplikasiannya. Untuk itulah pengertian seorang anak pada orang tua dibutuhkan,” Jinie menghela nafas sebentar.

“Ayolaah, kau sudah mau 18 tahun. Jangan berpikiran pendek, jangan menyimpulkan sesuatu tanpa memikirkannya lagi dan jangan berbuat semaumu tanpa memperdulikan orang lain terutama dirimu sendiri. Kalau kau begini terus, itu artinya kau tak menyayangi dirimu sendiri. Kalau dimasa depan nanti kau tetap seperti ini, tidak menutup kemungkinan kalau hidupmu tak akan bahagia dan akan mengecewakan orang tuamu.”

Taemin tetap menunduk, memproses setiap perkataan Jinie. Jinie pun menepuk pelan pundak Taemin dan tersenyum lagi, “Satu lagi yang harus kau pikirkan. Kau adalah anak tunggal, satu-satunya harapan orang tuamu jika nanti orang tuamu sudah tak sanggup bekerja keras lagi untukmu. Di masa depan nanti, kaulah yang akan berusaha keras untuk orang tuamu.”

“Kau benar, Jinie-ya.” Ucap Taemin sambil mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Taemin pun tersenyum kecil sambil menatap Jinie. Taemin pun memperlebar senyumnya dan tertawa kecil sambil mengacak pelan rambut Jinie, “Ya.. bagaimana bisa kau berpikiran lebih dewasa daripada aku? Padahal aku lebih tua darimu.”

“Aku kan peri hebat walaupun kemampuanku masih bisa dibilang berada di level bawah. Makannya jangan meremehkan aku, Tuan Lee Taemin.” Ucap Jinie sambil mehrong ke arah Taemin.

“Kau tahu tidak? Dulu aku nyaris menjadi anak brandal.” Cerita Taemin.

“Jinjjayo? Tampangmu lebih cocok menjadi badut ketimbang brandalan.” Canda Jinie.

“Enak saja. Mau mendengar ceritaku atau tidak???”

“NE!!!!” Teriak Jinie, “Aku mau.”

Taemin menutup telinganya, “Tak usah berteriak! Suaramu buruk! Untung hanya aku yang bisa mendengar suaramu. Kalau tidak, orang akan kasihan mendengar teriakan kucing terjepit pintu sepertimu.”

“Okay! jadi begini…”

Taemin pun menceritakan saat-saat dimana ia hampir terjerumus ke dunia perbrandalan (?). Saat SMP dulu ia sering bolos sekolah tanpa sepengetahuan orang tuanya dan pergi bermain bersama teman-temannya. Hanya sekedar nongkrong tak jelas di berbagai tempat atau memalak adik-adik kelas. Taemin mempunyai banyak kekasih padahal masih SMP, itu karena ia berlimpah uang dari orangtuanya dan tentu saja tampan.

Taemin lulus SMP dengan nilai yang pas-pasan, tapi ia memaksa ingin masuk ke Cheongdam High School karena ia tau kalau Sulli, wanita yang menarik perhatiannya ketika pandangan pertama juga masuk ke Cheongdam. Taemin bertemu Sulli di dekat sungai Han, awalnya Taemin hanya membantu Sulli yang kesulitan membetulkan rantai sepedanya yang lepas.

Taemin memaksa ingin masuk Cheongdam, sampai akhirnya orang tuanya memberi uang ke pihak sekolah agar Taemin bisa bersekolah disana. Akhirnya, karena uang Taemin bisa bersekolah di Cheongdam. Tapi Taemin pernah masuk sebuah genk yang berisikan anak-anak dengan dompet tebal yang suka membully anak-anak cupu, membuat onar dan nongkrong tidak jelas di sekolah maupun tempat-tempat tertentu bahkan balapan liar sambil memamerkan kendaraan mewah dan keren. Memanfaatkan anak-anak pintar untuk mengerjakan tugas mereka dll. Tapi Taemin berusaha keluar karena Sulli ternyata malah menjauhinya, padahal sudah dengan susah payah ia mendapatkan perhatian Sulli dan dekat dengan Sulli. Taemin sampai masuk ekskul yang sama dengan Sulli, yaitu ekskul musik. Sulli tak suka dengan genk seperti itu. Hingga akhirnya Taemin mencoba berubah dan akhirnya ia dan Sulli bisa dekat lagi. Setelah mengenal Sulli lebih lama, Taemin pun lebih tersadarkan akan kelakuannya selama ini. Masuk ke kelas 2 SMA, Taemin mencoba lebih keras untuk menjadi anak yang baik dalam artian tak sebrandal dulu.

Tapi ternyata itu sulit bagi Taemin, walau temannya banyak tapi ia tak mau bergantung pada teman-temannya. Alhasil Taemin tak bisa mengatur dirinya sendiri, ia selalu bernasib buruk tapi ia selalu berhasil menyembunyikan setiap keburukan nasibnya di depan Sulli. Beruntunglah ia tak satu kelas dengan Sulli.

“Yah.. begitulah ceritaku dulu. Buruk, bukan?” Ucap Taemin sambil tertawa hambar.

“Setidaknya kau sudah punya niat mengubah hidupmu. Kapan-kapan kau harus berterima kasih pada Sulli eonni.” Ucap Jinie.

“Ne, aku akan berterimakasih padanya nanti.” Senyum Taemin.

“Taemin-ah, ganti baju sana. Dan bawakan aku makanan, aku lapar sekali.” Ucap Jinie dengan tampang memelas yang menyedihkan.

Taemin pun tertawa, “Aku lupa kalau aku mengurungmu di kandang hampir seharian. Baiklah, tunggu sebentar.”

Taemin pun ke kamar mandi untuk ganti baju lalu membuka pintu kamar untuk mengambil makan malamnya dan camilan.

“Ingat ya! Aku tak suka makanan manusia yang putih itu. Aku mau makanan yang seperti kemarin. Daging….mmm…ayam goreng.” Pesan Jinie sebelum Taemin membuka pintu kamar.

“Arasseo, kau tak suka nasi.” Ucap Taemin sambil berjalan keluar.

~~~

Selesai makan, Taemin dan Jinie duduk di sofa kamar Taemin sambil menonton TV.

“Kenapa kau tak suka nasi? Kau peri korea kan? Yang benar saja tak suka nasi.” Ucap Taemin sambil terus memakan snack.

“Di negeriku tak ada benda putih itu. Itu lengket dimulutku, aku tak suka. Kami, para peri lebih banyak memakan buah-buahan. Tapi aku suka makanan manusia yang ini.” Ucap Jinie sambil terus memakan ayam goreng.

“Porsi makanmu juga sedikit.” Ucap Taemin.

“Aku kan peri, peri tak punya nafsu makan sebesar manusia. Sekalipun peri itu gemuk.” Jelas Jinie. Taemin hanya ber-O ria.

“Ayo! Kita belajar!” Ajak Jinie sambil menaruh tulang ayam goreng di piring, lalu ke kamar mandi dan mencuci tangan.

Jinie sudah menyiapkan semua keperluan belajar Taemin dan mematikan TV, tapi Taemin malah menguap dan merentangkan tangannya.

“Ya! Jangan pura-pura mengantuk. Ini baru jam 7 malam.” Ucap Jinie sambil mendelik ke arah Taemin dan membawa buku-buku Taemin ke meja yang berada di hadapan sofa. “Besok pelajaran Biologi, Matematika dan Sejarah. Kau punya tugas matematika di hal 124, tak banyak. Hanya 5 soal.”

“Ne.. Kalau begitu bantu aku.” Ucap Taemin sambil membuka bukunya lalu melihat soalnya. “Hhh, aku tidak mengerti. Aku benci matematika.” Taemin pun melempar pelan buku tersebut.

“Kau benar-benar tak mengerti? Hhh, sudah ku bilang perhatikan jika guru sedang menjelaskan!” Kesal Jinie.

“Aku malas.”

“Hilangkan kata malas dari kamusmu saat belajar!” Ucap Jinie. “Baiklah, akan ku coba menjelaskan soal-soal ini padamu.”

“Kau bisa???” Mata Taemin membulat.

“Akan kucoba. Aku juga bersekolah di negeriku, tapi bukan belajar matematika seperti ini. Aku belajar logika angka.” Ucap Jinie sambil menelusuri soal-soal tersebut.

“Daebak~~~” Lirih Taemin. Secara seksama Taemin memperhatikan Jinie. Selang 20m, Jinie memberikan buku matematika itu pada Taemin.

“Baiklah, aku mengerti. Sekarang, akan ku jelaskan padamu.” Ucap Jinie sambil mengambil pensil dan sebuah kertas kosong untuk coretan. Dengan telaten, Jinie menjelaskan bagian-bagian yang tak di mengerti Taemin. Hampir 1jam mereka habiskan untuk belajar matematika.

“Ooh, ne.. aku mengerti sekarang. Ngomong-ngomong darimana kau dapat rumus-rumus ini?” Tanya Taemin sambil menyimpan pensilnya. Akhirnya tugas Taemin selesai.

“Cek 4 halaman ke belakang. Rumusnya ada disitu, tinggal kau pahami saja.” Jawab Jinie enteng.

Taemin mengerutkan halisnya, ia pun mengecek 4hal ke belakang dan ternyata benar. Rumusnya ada di halaman itu. Tapi kalau belajar sendiri tentu saja Taemin tak akan mengerti.

“Jadi kau memahami semua rumus-rumus ini? Hanya 20 menit? secepat itukah?” Tanya Taemin.

“Ne.. 20 menit itu sebenarnya terlalu lama. Para sunbaeku bisa lebih cepat. Makannya, rajinlah membaca dan berlatih. Asah otak dan logikamu. Jika sudah terasah pun kau bisa mengerti sendiri rumus yang ada disitu.” Ucap Jinie.

“Kau kan peri sedangkan aku manusia biasa.” Ucap Taemin sambil meminum banana milknya.

“Asal kau berusaha dan punya keinginan, kau pasti bisa, Taemin-ah. Belajarlah secara bertahap,” Saran Jinie, “Sekarang, mulai bacalah buku biologimu atau sejarahmu. Membaca ringan dan santai juga materinya akan masuk kok. Tak usah terlalu banyak yang penting rajin membaca.” Lanjut Jinie.

“Ne Jinie seongsaenim..” Ucap Taemin sambil tertawa kecil. Ia membuka buku biologinya, membaca sambil memainkan pensilnya.

Jinie memperhatikan Taemin dan tersenyum kecil. Merasa dirinya di perhatikan, Taemin pun menoleh, “Wae?”

“Aniyo. Aku hanya berpikir, sebenarnya siapa yang lebih muda disini? Aku atau kau?” Tawa Jinie.

Taemin pun memukul ringan bahu kiri Jinie, “Jangan mengejekku, dasar bocah!!”

“Ah! Appo!! Bahuku sedang memar!”

“Oh mianhae, hehehe.” Ucap Taemin sambil cengengesan.

30 menit berlalu, Taemin sudah mulai merasa lelah membaca. Ia pun menoleh ke arah Jinie yang ternyata tertidur di sebelahnya.

Taemin memandang wajah Jinie lekat-lekat, “Lucu. Wajahnya lucu. Hhh, sampai saat ini rasanya aku sedang bermimpi ada seorang peri yang tinggal bersamaku untuk 100 hari. Peri? Ku kira hanya ada dalam dongeng.” Lirih Taemin.

Karena kasian, Taemin pun menggendong Jinie dan membaringkannya di kasur milik Taemin. Membetulkan posisi bantal dan menyelimuti peri yang sedang berwujud manusia itu dengan perlahan. Sejenak Taemin memandang Jinie yang tertidur pulas dan duduk di samping Jinie. Taemin menyingkirkan rambut panjang Jinie yang berada di pipi gadis itu. Taemin pun mengambil bantal dan guling yang berada di sebelah Jinie dan berjalan menuju sofa. Ia memutuskan untuk tidur di sofa dan membiarkan Jinie tidur di kasur empuk miliknya. Ia tak tega dengan bahu Jinie yang memar.

~~~to be continued~~~

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

4 thoughts on “More Than 100 Days – Part 2”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s