Waiting For The Sun – Part 1

Waiting for The Sun – PART 1

Credit poster: yuyounji. Thanks eonni 

Author : Dubudays and Nikitaemin

Main Cast : Lee Jinki, Cho Hyunsa (OC)

Support Cast : Cho Jiman (Hyunsa’s father)

Genre : AU, Romance, Family

Rate : PG – 15

Length : chaptered (1/?)

Disclaimer :THIS FANFICTION BELONGS TO DUBUDAYS AND NIKITAEMIN!!!

a/n :

ANNYEONGHASEYOOOHHH!!

Waaaahhh apakabar dunia per-ffan indonesiaa? Berapa juta tahun kita sudah berhiatus, Minki-ya? hahaha-.- firstly, mari kita menyapa dunia(?)

Haloooo semuaa! Bagi yang masih asing dengan user id ini, kita sempet aktif 2 tahun yang lalu. Kita sempet ngirim ff kita yang judulnya The Guitarist. Ada yang pernah baca? Hehehe. Naah, abis itu kita hiatus dari dunia ff ini-.- soalnya kita mau fokus ke UN dan nerusin ke SMA. Setelah SMA, feel buat nulis lagi itu sebenernya ada banget. tapi karen faktor sibuk dan faktor X (baca: males), makanya hiatusnya jadi makin lama.

Naah, ff ini sedikit banyak berhubungan dengan ff kita sebelumnya yang judulnya The Guitarist. Bisa dibilang semacam sequelnya. Tapi kalian gak harus baca sequel pertamanya kalau mau baca ini. Ada resume sequel 1 nya kok 😉 kalo mau baca sequel pertamanya juga gak apa-apa siih keke.

Okedeh, gausah kebanyakan intronya, ntar gak jadi baca lagi-.-wkwkw SELAMAT MEMBACAAA!! 

INDONESIA, 2014

“….Hyunsa, Appa mau memberikan sebuah kado untukmu. Appa rasa kamu sudah pantas mendapatkannya. Kamu sudah berlatih keras dengan prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Appa akan menyelenggarakan showcase untukmu. Appa tahu kamu pasti akan gugup karena penampilan pertamamu, maka dari itu, Appa akan mengajak murid Appa untuk berduet denganmu. Namanya Lee Jinki. Dia murid terhebat yang pernah Appa ajari. ”

“Showcase?? Appa tidak bercanda? Apa Appa benar-benar yakin Hyunsa sudah pantas mendapatkannya? Dan dengan murid terhebat Appa?? Oh.. Appa gomawoooo!!!”

********

“Yeoboseyo, Hyunsa-ssi! Aku sudah berada di Jakarta sekarang.”

“Okay, Jinki-ssi. Kamu berada di mana sekarang? Biar kujemput.”

“Aku ada di café dekat toko musik di Pondok Indah.”

“Wah, kebetulan sekali aku ada di dekat Pondok Indah. Baiklaah, sebentar lagi aku akan menjemputmu, Jinki-ssi.”

********

“…. Hyunsa, aku ini lahir dan besar di Indonesia. dan aku sangat beruntung menemukan guru musik terhebat, yaitu ayahmu. Suatu hari saat belajar di kelas, tiba-tiba kamu masuk ke kelasku dan ikut belajar bersamaku. Tanpa sadar aku selalu memerhatikanmu. Suara ayahmu bagai angin lalu saat aku menatapmu. Aku rasa, aku menyukaimu sejak pertama kali menatapmu,” ujar Jinki dengan bibir gemetar menahan dingin yang mendera. Cuaca hari ini kurang bersahabat. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati hamparan bintang di danau dekat rumah Hyunsa, hujan lebat mengguyur bumi.

“B…benarkah? Kalau begitu, masihkah kau memiliki perasaan yang sama padaku? Sejujurnya, saat kita pertama kali bertemu di café itu, aku juga merasa telah menyukaimu. Tidak ada alasan khusus, aku hanya benar-benar menyukaimu.”

“O…oohh… ba..baguslah k..kalau begitu. Karena perasaaanku tidak pernah bisa hilang meskipun akhirnya aku harus meninggalkan Indonesia setelah lulus SMA. A..aku tidak bisa menggantikanmu dengan siapapun. Cho Hyunsa, jadilah malaikatku. Terimalah cintaku.”

Mereka saling bertatapan. Jinki menundukkan pandangannya mengamati bibir Hyunsa yang pucat kedinginan. Perasaan itu tiba-tiba datang. Jinki ingin sekali mencium bibir itu untuk menghangatkannya.

Dan ditengah hujan deras yang mendera, berselimutkan jaket biru Jinki, mereka saling berpagut bibir.

********

“….Hyunsa, aku sudah memutuskannya bulat-bulat.”

“Hm?”

“Aku akan tetap berada di sini dan berjanji untuk memperjuangkannya. Dan aku juga berencana melamarmu, sesegera mungkin.”

“Haaa??”

********

MAY, 2015,
Three months after Hyunsa and Jinki’s first showcase

“Prosedur ini butuh waktu lama. Apa anda benar-benar yakin akan melakukannya, Saudara Lee?” sekali lagi salah satu staff kementrian yang mengurusi pengajuan kewarganegaraan Jinki menanyakan kesediaan Jinki. Namja itu sekali lagi mengangguk pasti. Keputusannya sudah bulat untuk memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Selain karena keinginannya sejak lulus SMA—yang sayangnya harus batal—Yeoja anggun berketurunan Indonesia – Korea pengisi ruang-ruang hatinya itu yang membuatnya memutuskan hal ini.

“Baiklah. Saya akan jelaskan peraturannya. Pertama anda harus menuliskan surat permohonan kewarganegaraan Indonesia dengan Bahasa Indonesia diatas kertas bermaterai dan mengirimkannya pada kami. Kami akan meneruskan surat anda pada Presiden.”

“Hmm.. baik. Secepatnya akan saya berikan suratnya melalui anda, Pak,” jawab Jinki sumringah.

“Tapi sebelum itu, ada syarat yang harus anda penuhi. Syarat utamanya adalah, anda harus tinggal di Indonesia selama 5 tahun berturut-turut atau 10 tahun secara tidak berturut-turut. Tanpa memenuhi syarat itu, anda tidak diperkenankan mengajukan permohonan. ”

“A..apa?? 5 tahun??”

********

Jinki turun dari taksi dengan langkah gontai menuju pintu masuk studio baru Hyunsa. Syarat utama pengajuan permohonan kewarganegaraan itu memenuhi pikirannya. Ia cukup berbesar hati mengakui kebodohannya tidak mencermati syarat dan prosedur permohonan kewarganegaraan yang sudah ia bookmark dalam laptopnya.

“Hyunsa, nan wasseo…,” sapa Jinki lirih. Ia segera menjatuhkan dirinya di sofa yang berada di depan ruang latihan Hyunsa—membiarkan pikirannya berseliweran.

“Oh, neon wasseo? Bagaimana harimu? Menyenangkan?” sapa Hyunsa lima menit setelah Jinki sampai.

“Tidak juga. Aku rasa aku mau mati saja,” jawab Jinki asal yang segera direspon Hyunsa dengan jitakan di kepalanya.

“Ngomong apa sih kamu!” Hyunsa berlalu menuju pantry untuk membuat minum. Ia mulai merasa hawa kurang baik saat melihat wajah Jinki yang kusut.

Beberapa menit kemudian, yeoja itu kembali dengan nampan berisi dua cangkir teh. Diletakkannya nampan itu di atas meja di hadapan Jinki, lalu mengambil tempat duduk di samping Jinki yang sedang menekuk lutut.

“Ada apa? Jangan cemberut gitulah,” suara lembut Hyunsa membuat Jinki mengangkat kepalanya yang terasa berat. Tatapan penasaran Hyunsa membuat Jinki tidak tahan untuk tidak bercerita.

“Aku sudah konsultasi pada staf kementrian tadi. Dan… aku minta maaf Hyunsa.”

“Untuk?”

“Aku terlalu bodoh untuk tidak mencermati persyaratan dan prosedur naturalisasi. Mereka mengharuskanku untuk tinggal di Indonesia selama lima tahun berturut-turut. Baru setelah itu aku diizinkan untuk mengirimkan permohonan pada Presiden.”

“Haahh?? Kenapa harus seperti itu? Bukankah kamu lahir dan besar di sini? secara tidak langsung prosedurnya hanya tinggal mendapatkan kewarganegaraan yang hilang saja, kan?”

“Tidak. Ketika aku lahir, ayahku masih berstatus sebagai warga negara Korea dan itu artinya aku mengikuti kewarganegaraannya. Dan yah.., itu syarat utamanya.”

“Ya sudah, kalau begitu tinggal saja di rumahku selama lima tahun, lalu urus lagi permohonanmu,” jawab Hyunsa santai sambil meraih cangkir tehnya. Jinki mendengus kesal sekaligus geli mendengar respon Hyunsa yang seperti anak kecil.

“Jaaaaashik~ Kamu ini pintar atau apa? Ingat? Aku harus punya visa untuk masuk ke sini!”

Hyunsa tampak berpikir keras untuk mengerti maksud Jinki. Baru beberapa menit kemudian Hyunsa mengerti dan menepuk dahinya. “Oh iya! Visa! Sampai kapan visamu berlaku?”

“Mian… bulan depan visaku habis.”

Yeoja di hadapan Jinki ini sedikit mulai mengerti arah pembicaraan ini. Dan yeoja itu membencinya.

“Bisakah kamu kembali ke Korea untuk mengurus visamu bersamaku? Aku ikut kamu ke Korea. Bisa, kan?”

Jinki menggelengkan kepalanya lemah sebagai jawaban. Ayah Hyunsa lebih membutuhkan anaknya di sini. ditambah lagi, Ayah Hyunsa sedang dalam masa-masa sibuknya berpromosi album barunya.

“Kenapa?? Memangnya kamu tidak mau aku menemanimu di sana? Lagipula, mengurus visa itu tidak membutuhkan waktu yang lama, kan?”

“Ayahmu lebih membutuhkanmu di sini. Kamu lupa, ya ayahmu sedang sibuk-sibuknya sekarang? Dan mengurus visa tidak semudah yang kamu bayangkan. Kadang bisa cepat, tapi kadang bisa berlarut-larut. Aku mohon mengertilah….” Jinki kembali menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena baru pertama kali menolak permintaan Hyunsa. Tapi Jinki benar-benar tidak mau merepotkan orang lain.

Hyunsa tampak berpikir. Di satu sisi, Hyunsa merasa akan mati bila sehari saja tidak bersama Jinki. Namun di sisi lain, Hyunsa merasa menjadi anak yang durhaka pada orangtuanya apabila tidak membantu orangtuanya yang sedang sibuk.

“Apa kamu akan berjanji untuk tidak melupakanku selama di sana, Jinki? Yaahh… maksudku… selalu banyak kemungkinan untuk setiap keputusan.”

Jinki mengangkat kepalanya, menatap Hyunsa dengan kening berkerut. Daritadi, pertanyaan itu merupakan salah satu topik yang berputar-putar dalam pikirannya. bedanya, justru pertanyaan itu mau ia tujukan pada Hyunsa.

“Tidak akan ada yang berubah. kamu boleh pegang kata-kataku ini,” jawab Jinki tulus. Matanya menatap Hyunsa intens, seakan memberikan pesan lewat matanya bahwa yang baru saja mulutnya katakan adalah benar.

Hyunsa menghela nafas. Ia membalas tatapan Jinki untuk mencari celah kebohongan yang mungkin saja terlihat. Namun, mata coklat yang jernih itu membuatnya terdiam dan meyakinkan diri bahwa Jinki benar.

Yeoja itu menyurukkan kepalanya pada dada bidang Jinki, ingin merasakan hangatnya dipeluk kekasih. Jinki mengerti, lalu melingakarkan tangannya ditubuh Hyunsa—mendekapnya erat.
Tiba-tiba Hyunsa merasa kepalanya sedikit sakit dan keadaan sekitarnya sedikit berputar. Kejadian ini sudah terjadi beberapa kali dalam minggu ini. Hyunsa mengabaikannya dan memejamkan matanya untuk mengurangi efek mual yang muncul.

********

Jinki dan Hyunsa meneguk teh yang tadi telah dibuat Hyunsa. Sudah agak dingin, tapi tetap diteguknya teh itu. Tiba-tiba pintu studio terbuka cukup keras. Ayah Hyunsa terlihat di ambang pintu dengan tas yang disampirkan ke bahunya.

“Lho? Appa sudah kembali? Katanya besok baru pulang?” tanya Hyunsa. Hyunsa segera berdiri dan memeluk Appanya.

“Iya, Appa kebetulan bisa pulang duluan. Ah ya, Appa mau memberitahu kalau Appa ditawarkan menghadiri showcase di Denmark selama dua minggu bulan Agustus nanti. tapi secara kebetulan, Appa juga ada acara yang sangat penting. So Hyunsa, kamu mau menggantikan Appa?”

“Denmark? Hmm, baiklah akan Hyunsa usahakan, Appa.”

“Jinjja? Aaah, gomawo nae baby! Appa sebenarnya tidak enak tidak menghadiri showcase Denmark itu. Tapi acara yang bentrok ini juga sangaat penting. Gomawo, sayaang.” Ayah Hyunsa mengecup pipi Hyunsa sekilas.

“Ne, Appaaa.”

“oh iyaa! Jinki, bisakah kau membuat kembali partitur lagu-lagu karya saya? Saya ceroboh sekali menghilangkan soft copynya di laptop. Partitur-partitur itu sangat saya butuhkan untuk beberapa acara kedepan. Jadi bisa, ya tolong buatkan kembali?”

“Ne, sonsaengnim. Tentu saja bisa,” jawab Jinki sambil tersenyum.

********

“… nona, sakit kepala yang sering anda rasakan akhir-akhir ini dipicu karena jadwal anda yang terlalu banyak dan padat hingga tidak ada jeda istirahat yang baik. pola tidur yang buruk, pola makan yang seenaknya membuat kekebalan tubuh anda berkurang. Anda mengidap vertigo, nona. Ini cukup parah. Kalau anda ingin vertigo anda tidak terus-menerus kambuh, tolong atur ulang jadwal anda. Mengerti?”

Hyunsa kembali mengingat kata-kata dokter tadi siang. Kepalanya mulai sering berdenyut-denyut dan terkadang Hyunsa merasa sekelilingnya berputar akhir-akhir ini. Setelah Appanya memintanya untuk mewakilinya di Denmark, Hyunsa semakin latihan mati-matian.

Tubuhnya memang lelah— sangat lelah. Berkali-kali konsentrasinya hancur karena mengantuk dan sekelilingnya yang terasa berputar kencang. Hyunsa menepis rasa lelah dan pusingnya. Selalu berkata dalam hati ‘kalau lelah tandanya kalah’. Jinki mengingatkan berkali-kali untuk tidak memforsir tubuhnya, bahkan pernah mengkritik Hyunsa ‘tidak menghargai usahanya sendiri’ karena rasa tidak puasnya yang berlebihan. Tapi Hyunsa malah sedikit tersinggung dan mengelak. Dan hasilnya, Hyunsa memiliki vertigo sekarang.

Hyunsa menarik dan menghembuskan nafas dalam berulang-ulang. Berharap dengan cara itu, sakit di kepalanya akan sedikit berkurang. Bibir bawahnya ia gigit terus-menerus untuk menahan rasa sakitnya. Mulai ada sedikit rasa menyesal karena tidak mendengarkan Jinki. Jinki berusaha untuk tidak lelah mengingatkan Hyunsa untuk banyak beristirahat.

Sakit kepala itu tak kunjung membaik. Keringat dingin mulai turun ke pelipisnya. Hyunsa mengambil sesuatu dari tasnya lalu berjalan perlahan menuju pantry untuk mengambil segelas air putih dan menenggak obat penghilang rasa sakit yang diberikan dokter. Perlahan denyutan di kepalanya terasa mulai berkurang. Hyunsa berjalan tertatih ke dalam studio dan duduk.

Ddrrrtt ddrrrrt

“ya, halo?” jawab Hyunsa lirih.

“Jagi, kamu baik-baik saja?” tanya suara di seberang. Siapa lagi kalau bukan Jinki.

“Na? aku baik-baik saja kok. A..ada apa?”

“Ada apa kamu bilang? Jam mu mati? Ini sudah jam sebelas malam, Hyunsa!”

“Oo jinjja? Baiklah a..aku aisshh.. aku pulang sekarang.”

“Jagiya, kau benar baik-baik saja? Mau kujemput saja?”

“aniyo, nan jeongmal gwenchana. Aku pulang sekarang, ya. Annyeong Jinki.”

Hyunsa menekan tombol ‘end call’ di ponselnya dan bergegas berkemas. Dicabutnya kabel amplifier dari gitarnya dan menggulungnya dengan rapi. Gitarnya dimasukkan ke dalam case dan dikunci dengan rapat. Setelah memastikan studionya rapi dan semua telah terkunci, Hyunsa segera menuju mobilnya.

Ditengah perjalanan, rasa sakit dan berputar itu muncul kembali. Konsentrasinya mulai buyar. Hyunsa mengerjap-kerjapkan matanya. Pandangannya mulai tidak fokus. Yang ada di kepala Hyunsa hanya satu, segera sampai rumah dan tidur cepat.

Ditengah ketidakfokusan pandanganya, seekor anjing melintas tepat di depan mobilnya. Hyunsa memekik kaget dan refleks membanting stir ke kiri.

BRAAAAKK

Mobil Hyunsa sukses menabrak pohon besar. Beruntung Hyunsa tidak mendapat luka serius kecuali memar dan luka tergores di dahinya dan semakin menambah rasa pusing di kepalanya. Hyunsa mengangkat bendera putih. Cepat-cepat di teleponnya Jinki untuk menjemputnya.

“mengapa belum sampai juga? Kau dimana, jagi?”

“Aku hampir menabrak anjing tadi, lalu aku menabrak pohon besar. Bisa jemput aku sekarang tidak? Kepalaku tebentur stir mobil dan sekarang aku pusing sekali.”

“astagaa! Ya sudah, aku ke sana sekarang pakai taksi!”

Hyunsa memejamkan matanya sambil menunggu Jinki datang. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, seseorang mengetuk jendela mobil Hyunsa. Hyunsa membuka matanya dan melihat Jinki sedang mengetuk jendela mobilnya dengan cemas. Dibukanya pintu mobil dan tersenyum miris di depan Jinki.

“Hyunsa, Hyunsa. Apa yang kamu lakukan tadi? Aku rasa mobilmu harus diderek. Taksinya masih menunggu, jadi ayo kita pulang sekarang.”

Hyunsa mengangguk pelan, membiarkan Jinki menggendongnya ke dalam taksi. Kesadarannya hampir hilang saat Jinki tiba-tiba memanggilnya.

“Hyun,” panggil Jinki setelah cukup lama taksi berjalan.

“Mm?”

“apa tabrakan tadi benar-benar parah hingga bibirmu ikut terluka dalam?”

********

Jinki segera membayar tarif taksi dan menggendong Hyunsa ke kamarnya. Kakinya terasa melayang saat menaiki tangga karena berlari dengan tergesa. Jinki langsung membaringkan Hyunsa, lalu menyelimutinya sebatas dagu. Jinki kembali berlari ke bawah untuk mengambil obat merah, handuk kecil, dan mangkuk berisi air untuk mengompres memar di dahi Hyunsa.

“Dubu, apo…,” Hyunsa menggumam saat Jinki kembali ke kamarnya. Jinki menarik kursi dari meja belajar Hyunsa dan mulai membersihkan darah yang telah mengering dari bibir yeoja itu. Ia mengolesi cutton bud dengan obat merah lalu mengoleskannya perlahan di bibir Hyunsa yang luka. Dahi Hyunsa berkerut menahan perih dan matanya terbuka perlahan.

“Akkkh.. pelan-pelan, Dubu-ya,” lirih Hyunsa dengan suara serak. Jinki memelankan gerakan tangannya dan meniup luka Hyunsa.

“Pejamkan saja matamu. Aku janji akan pelan-pelan.” Jinki kembali berkonsentrasi mengobati Hyunsa. Setelah beres, Jinki meraih handuk kecil dan membasahinya dengan air dalam mangkuk untuk mengompres dahi Hyunsa yang memar. Hyunsa kembali meringis dan menggenggam tangan Jinki.

“Akkkhh.. periih….”

“Iya, sebentar lagi perihnya akan hilang. Sabar ya.”

Kini luka Hyunsa sudah bersih. Jinki merapikan obat dan kain yang digunakannya tadi cepat-cepat karena Hyunsa ingin mengganti pakaiannya sebelum benar-benar pulas tertidur. Hyunsa mendudukkan tubuhnya di ujung kasur dan mencoba untuk berdiri.

“Sudah, Jinki. Kau ke kamarmu saja. Terima kasih sudah mengobatiku. Selamat malam.” Hyunsa tersenyum tipis dan berjalan menuju lemari.

“Arasseo. Jagi, aku ke kamar, ya. Kalau terasa sakit lagi panggil a… Hyunsa hidungmu berdarah!!!”

To Be Continued.
-ㄱ . ㅅ.

Maaf yaaa kalo ini belom asyik dan malah terkesan buru-buru bangetT_T Mian….

Note:

Vertigo adalah keadaan pusing yang dirasakan luar biasa. Seseorang yang menderita vertigo merasakan sekelilingnya seolah-olah berputar, ini disebabkan oleh gangguan keseimbangan yang berpusat di area labirin atau rumah siput di daerah telinga. Perasaan tersebut kadang disertai dengan rasa mual dan ingin muntah, bahkan penderita merasa tak mampu berdiri dan kadang terjatuh karena masalah keseimbangan.
Vertigo terjadi bukan karena faktor keturunan, namun ada beberapa faktor yang menyebabkan vertigo seperti karena serangan migren, radang pada leher, mabuk kendaraan, infeksi bakteri pada telinga dan kekurangan asupan oksigen ke otak.
litbang.depkes.go.id

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Waiting For The Sun – Part 1”

  1. aah.. Sdikit2 aku inget ama yg the guitarist..
    Next.. Next.. Aku suka ne ff..
    Dan,,, hidung hyunsa berdarang..?? Knp.. Knpa?? Jgn kanker2an yah, chingu.. Hehe

    1. Huaaa makasih ternyata masih ada yg inget:”” kl lupa baca lg yah sequel 1 nya;;)
      Idungnya hyunski berdarah masih rahasia :B

      Makasih banget yaaa mau bacaaaa;”””

  2. Ciye ciye aw awwwwww!
    Ini masih summary nya the guitarist yaa?
    Cepet2 masuk ke inti cerita ya!!! Hehehehhe
    Fighting minki&ah ra eonnnnnie!;)

  3. Jujur aja, awalnya aku ga terlalu ngerti jalan ceritanya. Cuma lama2, ngerti juga dan emg bagus!! 😀
    *lompat2an bareng minho ke part 2*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s