I Want You To Be My Only One – Part 3

I Want You To Be My Only One (Part 3)

Author                         : RahmaRiess

Main casts                   : Park Jihyun, Lee Jinki

Support casts               : Kim Kibum

Length                         : Sequel

Genre                          : Romance, Friendship

Rating                         : PG-13

A.N                 :

Beberapa part di cerita ini pernah ada yang saya pake di FF saya yg lain, jd kalo ada yg menemukan kemiripan, kemungkinan besar itu ulah (?) saya sendiri ko… hehe

Happy reading… n_n

Jihyun’s POV

It’s the day. Setelah hampir 2 bulan mendapat bimbingan intensive, hari ini adalah saatnya kami berlaga di medan juang. Olimpiade MIPA tingkat nasional di selenggarakan di Seoul university. Aku, Jinki dan Kibum pergi ke tempat perlombaan bersama dengan beberapa orang siswa yang juga mengikuti olimpiade untuk beberapa mata pelajaran lainnya.

Perlombaan di adakan dari jam 9 pagi sampai 12 siang. Saat meninggalkan ruang lomba rasanya kepalaku mau pecah. Meski ini bukan kali pertama aku berpartisipasi, tapi tetap saja efeknya selalu sama. Yang membuat kepalaku pusing bukan karena mengerjakan puluhan soal yang rumit itu, tapi rasa tegang saat menunggu pengumuman hasilnya lah yang membuatku seperti itu.

“Kau terlihat tegang sekali.” Jinki menghampiriku yang sedang duduk di sebuah kursi panjang di lorong dekat ruang lomba kami tadi.

“Emh… memangnya kau tidak?” Bagiku tampang Jinki sama sekali terlihat sangat tenang.

Ia menggeleng pelan. “Kita masih punya 2 jam sebelum pengumuman pemenangnya. Ikut aku, aku akan bantu menyembuhkan keteganganmu itu.” Tanpa menunggu persetujuanku ia langsung mengambil tanganku dan menarikku ke suatu tempat.

“Kau mau membawaku kemana?” Kataku saat dia mengajakku berjalan sampai ke luar gerbang kampus.

Ia menghentikan langkahnya “Kau suka ice cream tidak? Aku tahu kedai ice cream yang sangat enak disini?” Ia berbicara sambil menatap lurus ke dalam mataku.

“Emh… Ne. Aku suka.” Aish, Jihyun-ah kenapa kau jadi canggung begitu melihat tatapan matanya???

Setelah berjalan cukup lama dan agak berputar-putar kami masih belum sampai di kedai yang dia maksud. “Jinki-ah, apa kau benar-benar tahu dimana kedai ice creamnya?” Kataku sambil menghentakkan tanganku yang masih di genggamnya. Tunggu, apa kataku tadi? Tanganku? Benar, tanganku masih digenggam erat olehnya.

“Emh… harusnya sih di sekitar sini. Ah itu dia…” Jinki kembali menarikku yang masih tak percaya dengan apa yang ku lihat. Tangan kami masih saling bertautan.

Aku memesan ice cream strawberry favoritku dan Jinki memesan ice cream dengan rasa choco cookies. Tidak lama pesanan kami pun tiba. Aku menyuapkan sesendok ice cream yang rasanya benar-benar lezat ini.

“Bukankah kau bilang ini pertama kalinya kau datang ke korea, bagaimana kau bisa tahu tempat bagus seperti ini?” kataku sambil terus mengedarkan pandangan ke seisi kedai yang kebetulan tidak terlalu ramai ini.

“Hmmm… sebenarnya ini pertama kalinya aku ke tempat ini. Saat aku melihat kau murung seperti tadi, aku mengirim pesan pada temanku bertanya mengenai tempat yang bagus di daerah sini dan dia merekomendasikan kedai ice cream ini?” katanya panjang lebar.

“Jadi kau juga tidak mengenal daerah sini?” aku tidak percaya dengan kata-katanya barusan.

Jinki mengangguk dengan santai sambil terus menyantap ice creamnya.

“Pantas saja tadi kau malah membawaku berputar-putar… Aish… kau ini benar-benar ya…” Kataku yang di sambut tawa riang olehnya.

Kami menghabiskan banyak waktu mengobrol sambil makan ice cream di kedai ini. Jinki menceritakan banyak hal tentang dirinya, soal alasan kenapa ia pindah ke korea setelah sejak lahir di Amerika, tentang kehidupannya yang kesepian karena dia adalah anak tunggal dan kedua orang tuanya yang super duper sibuk sampai kehidupannya yang sekarang yang terpaksa harus tinggal di apartemen sendirian.

Saat mataku menangkap warna langit yang mulai jingga, aku menyadari kalau kami sudah terlalu lama disini.

“Jinki-ah, jam berapa ini? Aku lupa kalau kita harus kembali ke kampus untuk mendengar pengumumang juaranya.” Kataku tiba-tiba.

“Oh my god, sudah jam 4.” Jinki memukul jidatnya sendiri saat menyadari kalau kami sudah benar-benar terlambat untuk pengumunannya. “Kita harus segera kesana.”

Setelah meletakan beberapa lembar uang 1000 won di meja, Jinki menarik tanganku dan membawaku menyusuri jalan sebelumnya menuju ke area kampus Seoul university.

Saat kami tiba, suasana disana sudah sepi, tidak seperti saat kami tinggalkan sekitar 4 jam yang lalu. Kami berjalan menuju aula gedung pusat tempat pengumuman juara olimpiade dilaksanakan. Dan seperti yang sudah ku bayangkan, acaranya sudah selesai. Hanya tinggal beberapa orang cleaning service yang sedang membereskan sisa-sisa kemeriahan perayaan olimpiade tingkat nasional ini.

“Maaf, gara-gara aku kita jadi tidak tahu siapa juaranya.” Jinki menepuk pundakku yang masih terpaku di pintu gedung aula ini. Jujur, aku sangat kecewa tidak bisa hadir tadi. Karena sebenarnya aku sangat ingin tahu hasilnya, siapapun itu juaranya.

“Ya! Kalian berdua malah bengong disitu cepat bantu aku, tanganku pegal membawa semua barang ini!” Jinki dan aku menoleh ke arah sumber suara yang sangat ku kenal itu. Kim Kibum.

Dari arah rest room, aku melihat dia berjalan menghampiri kami dengan 2 buah piala besar, 3 medali emas dan sebuah amplop besar di tangannya. Mataku membulat saat melihatnya karena aku sangat hapal dengan benda-benda tersebut, benda yang 2 tahun berturut-turut menghiasi meja belajarku.

“Kibum-aaaahh…” aku berlari ke arahnya lalu memeluk namja yang terlihat sangat kerepotan itu.

“Karena tadi kalian menghilang begitu saja, jadi aku yang mewakili menerima penghargaannya.” Katanya sambil memberikan salah satu piala itu padaku. Disana tertulis “Juara 1 Olimpiade Fisika tingkat Nasional”.

“Jadi kami menang?” Kini Jinki sudah berada di sampingku.

“Bukan ‘kami’, tapi ‘kita’.” Kibum mengacungkan piala yang bertuliskan “Juara 1 Olimpiade Matematika tingkat Nasional” sambil memasang senyum lebar.

***

Jinki’s POV

Aku membanting tubuh di tempat tidur king size ku. Akhir minggu ini ku habiskan dengan bermain game seharian di rumah Kibum, makanya badanku rasanya pegal karena seharian hanya berdiam diri di depan layar TV. Mataku menyapu seisi kamar tidur yang di dominasi warna putih ini. Mataku berhenti di sebuah buku bersampul biru tua yang tergeletak di meja belajarku. Buku milik Jihyun yang ku pinjam beberapa hari yang lalu.

“Hmmm… sudah berapa hari buku itu aku pinjam?” tanyaku pada diriku sendiri. “Bagaimana kalau dia membutuhkannya?” Lagi, aku bergumam sendiri.

Jam dinding bulat di kamarku menunjukan pukul setengah 8, masih belum terlalu larut. “Baiklah, ku antarkan saja ke rumahnya sekarang.” Kataku, padahal aku tahu pasti kalau alasanku bukan semata-mata karena hal sepele seperti itu. Tapi, karena aku merindukan gadis itu.

Segera ku sambar buku biru itu serta jaket yang tergantung di balik pintu. Namun seketika langkahku terhenti saat aku teringat kalau aku sama sekali tidak tahu alamat lengkap rumahnya, karena dulu aku hanya mengikutinya sampai dia turun dari bis di halte terdekat dari rumahnya.

“Heuuu… kenapa tidak pernah terpikir olehku untuk menanyakan tempat tinggalnya ya?” Aku mengacak rambutku frustasi. Aha, sesuatu melintas di pikiranku… “Baiklah, biar ku tanyakan dulu padanya.”

Aku merogoh kantong jaketku dan mendapatkan benda berbentuk kotak tipis disana. Segera ku ambil lalu menekan beberapa tombol yang bisa menyambungkanku dengan orang  yang beberapa detik yang lalu terlintas di ingatanku.

“Yeobuseo?” Suara seseorang di seberang sana.

“Yeobuseo, Kibum-ah…”

***

Jihyun’s POV

Malam ini di luar hujan turun sangat deras. Aku sendirian di rumah karena eomma dan appa sedang pergi ke rumah nenekku yang sedang sakit di Daegu. Aku sedang duduk di kamarku dengan headphone yang bertengger di kepalaku. Di hadapanku tergeletak beberapa buku tebal yang sudah terbuka. Salah satu kebiasaan yang seringkali membuatku berdebat dengan Oppaku dulu adalah karena aku sangat suka belajar dengan iringan musik keras. Maka dari itu, headphone inilah satu-satunya teman baik yang selalu mendampingiku saat belajar.

Di tengah aktivitasku bermain-main dengan rumus-rumus kimia, aku melihat ponselku berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk. Chase Lee Jinki, begitulah aku menamai nomor telponnya di ponselku.

“Yobuseo?”

“Apa kau dirumah? Aku mau mengembalikan bukumu yang ku pinjam kemarin.”

“Ne aku sedang di rumah. Tapi sepertinya kau tidak bisa mengembalikannya sekarang. Di luar sedang hujan, kau kembalikan besok saja di sekolah.”

“Tidak apa-apa, akan ku kembalikan sekarang.”

“Ku bilang besok saja. Di luar hujan dan sangat deras.”

“Aku tahu di luar hujan, makanya cepat bukakan pintu, aku kedinginan…”

“Hah, apa maksudmu? Kau dimana?”

“Aku di depan rumahmu, cepat buka pintunya, disini dingin sekali.”

Aku melempar ponselku ke atas tempat tidur tanpa menutupnya terlebih dahulu. Kakiku melangkah cepat menuruni tangga menuju pintu depan. Saat pintu terbuka, aku melihat seorang pria yang sedang memeluk sebuah buku berwarna biru. Tubuhnya kuyup karena hujan.

“Kau, kenapa kau nekad datang kemari hah?” aku mencecarnya setelah melihat keadaannya yang sangat menyedihkan.

Namja itu mematung di depan pintu. Matanya menatapku lekat. Aku heran melihat dia menatapku sampai seperti itu. Perlahan aku mengikuti arah tatapannya. Dan…

“Aaarrggghh….” Aku berbalik dan mengambil langkah seribu menuju kamar.

Akhirnya aku sadar apa yang membuat dia menatapku seperti tadi. Aku lupa kalau saat ini aku sedang memakai baju rumahku. Celana pendek cokelat dan kaos hitam tanpa lengan dengan lingkaran leher yang rendah dan sangat pas dibadan. Berkali-kali aku memukul jidatku menyadari kebodohan yang baru saja ku lakukan. Oh Tuhan, bodohnya aku…

Jinki’s POV

Saat pintu terbuka karena seseorang menariknya, rasa dingin yang menyelimuti tubuhku yang basah terguyur hujan menguap seketika berganti dengan rasa panas yang menyeruak dari dalam dadaku. Disana, di balik pintu itu aku melihat Jihyun berdiri dengan memakai pakaian terbuka. Kakinya yang jenjang terlihat sangat jelas. Rambutnya diikat tinggi membuat lehernya yang putih terlihat jenjang.

“Aaarrggghh….” Teriakannya membuyarkan imajinasi laki-lakiku. Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghilangkan pikiranku yang mulai ngelantur kemana-mana. Haduh… Ternyata aku memang hanya namja biasa…”

Jihyun’s POV

Aku turun dengan menggunakan sweater tebal dan longgar hingga menutup sampai paha.  Jinki sedang duduk di sofa sambil memeluk tubuhnya sendiri saat aku memberikan handuk putih yang tadi ku bawa bersamaku. Tubuhnya menggigil dan wajahnya terlihat sangat pucat. Tanpa bicara aku kembali membalikkan badan dan berlari ke lantai atas, bukan ke kamarku melainkan ke kamar Leeteuk Oppa, kakakku.

“Ini… bajumu basah, ganti dengan ini saja.” Aku memberikan celana panjang dan kaos putih milik kakakku dulu. “Oh ya, kamar mandinya tuh disana.” Aku mengarahkan telunjukku lurus ke sebuah pintu di salah satu sudut rumahku ini.

Ia tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya ke tempat yang ku tunjuk tadi.

Sementara itu aku menuju dapur untuk membuatkan sesuatu. Secangkir cokelat hangat sangat tepat untuk mengusir udara dingin malam ini.

Tidak lama ia keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan baju yang ku berikan tadi.

“Ini, minumlah.” Aku menyodorkan secangkir cokelat hangat padanya.

“Kenapa sepi? Keluargamu kemana?”

“Mereka sedang ke daegu, mengunjungi nenekku yang sedang sakit.”

Kami duduk bersebelahan dengan secangkir cokelat hangat di tangan masing-masing.

“Emh… darimana kau tahu alamat rumahku?” Tanyaku memecah kekakuan yang tercipta diantara kami.

“Kibum.” Katanya singkat. “Itu Oppamu?” ia menunjuk sebuah foto yang berukuran cukup besar yang tergantung di salah satu dinding ruang tamu ini. Foto pernikahan Leeteuk Oppa dan Sora eonni.

“Ne.”

Ia menatapi foto itu dengan seksama. Aku tahu pasti ada pertanyaan di kepalanya melihat kedua orang di foto itu terlihat masih sangat muda tapi sudah bersanding sebagai suami istri.

“Sora eonni dan Oppaku berkenalan saat mereka sama-sama duduk di kelas 2 SMA. Kelas 3 mereka mulai pacaran dan saat kuliah tingkat 2 Oppa melamar eonni lalu mereka menikah.”

“mereka menikah saat keduanya masih kuliah?”

“emh… katanya daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, lebih baik mereka meresmikan dulu hubungannya.”

“Hal yang tidak di inginkan???”

“Emh… iya maksudnya… namja dan yeoja… yang sudah dewasa… dan saling mencintai… yaa… kamu sendiri ngerti lah…”

“Making love?”

“Ya! Kau tak perlu menyebutkannya kan?”

“Memangnya kenapa kalu mereka melakukannya, toh mereka saling cinta kan?”

“Tidak boleh. Mungkin ini terdengar kolot, tapi keluarga kami masih sangat memegang teguh prinsip bahwa hubungan pria dan wanita harus di jaga kesuciannya. Keluargaku seringkali memperingati generasi mudanya untuk bisa menjaga diri sampai adanya ikatan pernikahan.”

“Apa karena itu kau sangat marah padaku saat aku menciummu waktu itu?”

Blush… rasanya mukaku memerah seketika. “Emh…” aku mengangguk pelan.

“Aku benar-benar minta maaf.” Dia menunduk. “Chankaman, itu artinya yang kemarin itu adalah ciuman pertamamu?”Mata sipitnya membulat seketika.

Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang pasti sudah sangat memerah sekarang.

“Benar kan?”

“Aahh… sudah jangan dibahas lagi. Ngomong-ngomong mana bukuku, katanya kau datang untuk mengembalikannya.” Kataku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Jawab dulu pertanyaanku, yang kemarin itu sungguh ciuman pertamamu?” Jinki menggeser posisinya semakin mendekat.

“Argh kau menyebalkan! Hujannya sudah reda, sebaiknya kau pulang sebelum orang tuaku datang. Ayo pulang sana…” Ku tarik dia untuk berdiri. Setelah dengan agak rusuh menyerahkan jaketnya yang basah aku menyeretnya ke depan pintu memaksanya untuk pergi.

“Hahaha… jadi benar itu ciuman pertamamu?” Ia berusaha untuk tetap di tempat.

“Terimakasih sudah mengembalikan bukuku ya…” Usahaku untuk mengusirnya semakin keras.

“Hei tunggu dulu…” Aku berhasil mendorongnya sampai ke luar pintu.

“Sampai jumpa besok di sekolah ya… Bye…”

DUK~

Aku menutup pintu dengan tergesa-gesa lalu menyenderkan tubuhku di daun pintu yang sudah tertutup rapat itu. Tanganku meremas sweater yang menutupi dada sebelah kiriku, tempat dimana jantungku bersembunyi.

Tok~tok~tok~ “Jihyun-ah…”

“Kau masih disitu? Cepat pulang.”

Tok~tok~tok~ “Jihyun-aaah…”

“Pulanglah Jinki-ah, aku tidak mau Appa membunuhku karena menerima tamu pria malam-malam.”

Tok~tok~tok~ “Jihyun-aaaaah…”

“Aish, kau ini? Apa? Kau mau apa?”

Sudah tidak ada. Sudah tidak ada lagi yang mengetuk pintu. Mungkin dia sudah pulang. Perlahan aku membuka pintu dan ternyata dia memang sudah tiak disana. Sepertinya dia sudah benar-benar pergi.

“Jihyun-ah…”

Aku melonjak saat tiba-tiba mendapatinya sedang berdiri bersandar di dinding tepat di samping pintu. “Kau…”

Jinki menangkap tanganku yang barusaja hendak berbalik dan melarikan diri masuk ke dalam. “Aku pulang ya…” Tengkukku meremang saat ia berbicara dengan nada yang sangat rendah dan volume yang sangat pelan.

“Emh… hati-hati.” Kataku dengan tatapan tertunduk.

Jinki melepas genggaman tangannya lalu berjalan menuju gerbang. Sebelum berbelok keluar, ia memutar badannya dan menatapku. Aku dapat melihat ia tersenyum sekilas lalu pergi.

Aku berjalan menuju kamarku layaknya mayat hidup. Mataku menatap kosong dengan tangan yang masih mencengkeram dada. Oh tuhan, kenapa ini? Jantungku, ada apa dengannya? Kenapa bisa berdegup secepat ini?

Drrrrtt~ 1 message received: Chase Lee Jinki.

Good Night…

Aku tersenyum setelah membaca isi pesannya.

Drrrrtt~ Ada pesan lagi. 1 message received: Chase Lee Jinki. Lagi?

Have a nice dream…

Drrrrtt~ Chase Lee Jinki. Lagi???

See u tomorrow…

Aku tidak bisa menahan senyumku karena tingkahnya ini.

~To be continue~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “I Want You To Be My Only One – Part 3”

  1. Kyaaaa…..

    Demi air hujan yg gak sehat lagi buat mandi…
    Part ini sweet banget….
    Jinki yg badboy di Part 2 jadi sweet dan well-mannered banget disini…
    penuh kejutan…

    Demi pelajaran Biologi yg makin “liar” di tingkat SMA…
    Aku senyum2 sendiri dengan scene Jinki liat Jihyun dg pkaian minim
    dari point of view jinki…
    Jinki ku emang cuma namja biasa….
    lega…. O.O….
    maksudnya Jinki ku NORMAL…..
    #dijambak MVP… “JINKIKU..”? emang Jinki punya elho seorang… ?

    Tapi di Part ini mereka jelas udah saling suka…
    Moga gk ada cinta segitiga yg ngelibatin Kibum…
    karena persahabatan Jihyun-Kibum udah solid banget bagiku….

    Lanjut, RahmiRiess..
    Ceritamu asik….!!!!

    #Payungin Jinki…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s