Loves Way – Part 8

LOVES WAY

[Part 8]

Title : Loves Way [Part 8]

Author : Jung Yong Eun, Lee Taerin

Genre : School, Romance, Friendship, Life

Length : Sequel

Rating : PG-15

Main Cast : Bae Suzy, SHINee member

Support Cast : Find them in the story

AUTHOR POV

BRAAK…. BRAAK

“Sulli.” Gumam Taemin syok setelah melihat siapa yang berada didalam bilik kamar mandi.

“Astaga…. Itu Sulli.” Kata yeoja tadi setelah pintu berhasil didobrak Taemin. Kemudian gadis itu berlari mencari pertolongan lain setelah melihat kondisi Sulli.

“Kau benar-benar melakukannya.” Gumam Taemin yang masih membeku terdiam didepan pintu kamar mandi. Sulli terduduk dilantai dengan kepala tersandar didinding, lantai penuh dengan darah segar yang berbau amis menyengat, seragam gadis itu juga dipenuhi oleh darah. Meskipun matanya tertutup terlihat bahwa tidak ada beban dalam dan penyesalan di wajahnya. Wajahnya terlihat bahagia dan beseri.

Beberapa saat kemudian yeoja yang tadi kembali bersama beberapa guru. Kemudian para guru segera mengangkat tubuh Sulli dan menggotongnya ke mobil sekolah untuk dibawa ke rumah sakit.

Taemin sekarang sedang duduk dikursi redaksi tempatnya menyiapkan berita-berita sekolah. Namja itu termenung memikirkan kondisi Sulli yang mungkin saja tidak akan terselamatkan. Dia berfikir apakah dia bersalah atas semua ini? Tentu saja dia bersalah, dialah yang menyuruh Sulli untuk membunuh dirinya sendiri. Dan sekarang gadis itu sudah melakukannya.

“Apa aku bersalah?” gumam namja itu, dia sangat gelisah. Sesekali meletakkan kepalanya dimeja dan sesekali berdiri dan mondar-mandir kesana-kemari.

Keesokan harinya

Pagi yang cerah untuk aktifitas yang baru. Nampak segerombolan siswa-siswi sedang mengerumpuli papan pengumuman didekat pintu gerbang. Nampak juga seorang namja yang tengah duduk lemas di ruang redaksi.

“Apa sekarang aku sama seperti dirinya?” Tanya namja itu pada dirinya sendiri.

“Ani, aku tak membunuhnya. Jadi aku tak sana dengannya.” Gumam namja itu lagi, namja itu adalah Taemin yang sekarang sedang berduka mungkin, untuk kematian Sulli.  Yeoja itu sudah meninggal sebelum sampai kerumah sakit kemarin.

“Kau telah membayar hutangmu pada ummaku.” Gumam Taemin lagi, tanpa sadar air matanya menetes setelah beberapa memori indah bersama Sulli kembali terngiang di pikirannya. Meskipun begitu ada rasa senang dihatinya karena sekarang tidak aka nada lagi orang yang mengemis-ngemis maaf padanya.

AUTHOR POV END

SUZY POV

Hari ini adalah hari yang sangat cerah, tapi disekolah hari ini bukanlah hari yang cerah. Ada salah satu siswi yang meninggal karena bunuh diri dikamar mandi kemarin. Para guru mengintruksikan agar semua murid pergi kepemakaman siswi itu. Sebenarnya hanya mengirim perwakilan saja juga sudah cukup, kenapa harus semuanya kesana? Sangat menyebalkan.

“Suzy-ya kau kenal dengan siswi yang bunuh diri itu?” kata MinHee yang sedari tadi bingung mencari tahu siapa siswi yang bunuh diri itu.

“Molla, aku juga tak begitu peduli.” Jawabku.

“Hey kau jangan begitu. Dia itu mati bunuh diri, makanya para songsanim menyuruh kita semua untuk melayatnya(?).”

“Lalu apa hubungannya?”

“Karena mungkin saja kita tidak sengaja membuat salah padanya dan mungkin ini bentuk permintaan maaf agar dia tak menghantui kita.” Jawab MinHee dengan wajah yang serius.

“Dia hanya akan menghantuimu karena kau selalu membicarakannya. Dia itu sudah mati, dan mungkin arwahnya mendengar semua dugaan-dugaan jelekmu tentang kenapa dia bunuh diri.” Kataku dengan wajah menakut-nakuti Minhee. Anak ini’kan takut dengan hantu dan semacamnya, beraninya menukut-nakutiku.

“Jinca? Aigoo, kau ada benarnya. Mianhae arwah siswi yang bunuh diri kemarin, aku tak bermaksud seperti itu. Mianhae.” Kata Minhee sambil beringsut menggandeng tanganku. Dasar penakut.

“Hey, kalian jangan bergosip saja. Cepat bersiap-siap kepemakaman.” Seru Jinki yang baru saja kembali setelah mengambil motornya untuk pergi kepemakaman.

“Bagaimana kita kepemakaman? Oppa hanya membawa motor, sedangkan kita bertiga.” Kata MinHee yang kembali menunjukkan wajah kagumnya melihat Jinki dengan  motor barunya. Setelah kembali dari Afrika namja ini semakin keren kurasa, dan sangat keren untuk MinHee tentu saja.

“Kalian duluan saja, aku akan menunggu mobilku.” Kataku menyuruh mereka duluan, ya sekalian untuk maki mendekatkan mereka berdua.

“Tapi…”

“Sudahlah, sana pergi. Atau aku yang pergi bersama Jinki dank au menunggu mobilku?”

“Ya sudah, kajja.” Perintah Jinki pada MinHee agar segera naik ke atas motornya.

“Baiklah, annyeong Suzy-ya.” Pamit MinHee. Aku hanya mengibaskan tanganku untuk mengusir mereka. Akhirnya Jinki melajukan motornya dan menghilang dari pandanganku.

Kumainkan handphoneku untuk mengusir rasa bosan karena menunggu mobil jemputan yang tak kunjung datang.

“Suzy-ya, mau pergi bersamaku?” suara seorang namja yang tiba-tiba sudah berada di depanku dengan motornya.

“Kau mau kepemakaman juga’kan?” tanyanya lagi.

“Ne, baiklah aku ikut denganmu.” Kataku lalu berdiri dan menaiki motornya. Namja itu adalah Taemin, aku merasa kalau dia adalah namja yang baik jadi aku mau ikut dengannya. Sepanjang perjalanan kami hanya diam dan bergulat dengan pikiran kami masing-masing.

“Kita sampai.” Katanya setelah kami sampai diparkiran pemakaman.

“Gomawo sudah mau mengajakku pergi bersama.” Kataku basa-basi. Entah kenapa aku merasa Taemin berbeda dari pertama aku mengenalnya. Dia terlihat murung, apakah dia berduka atas kematian siswi itu?

“Ne, tak masalah. Kajja, mungkin pemakaman sudah dimulai.” Katanya sambil tersenyum yang kurasa seperti senyum dipaksakan. Aku berjalan mengikutinya dari belakang. Dia sama sekali tak menghiraukan aku, kemarin-kemarin dia selalu mengajakku mengobrol jika bertemu denganku, sekarang aku sudah memberinya kesempatan untuk mengobrol denganku tapi dia malah diam saja. Apa dia benar-benar berduka atas kematian siswi itu? Apa dia kenal dengan siswi itu? Entahlah, apa peduliku, itu maslahnya, aku lebih suka tak ikut campur.

“Oh, Taemin sunbae annyeong.” Sapa MinHee setelah kami sampai di depan liang lahat. Taemin memang sengaja mendekat ke tempat MinHee.

“Ne, annyeong.” Jawab Taemin singkat lalu berjalan lebih mendekat ke depan liang lahat.

“Suzy-ya, ternyata siswi itu adalah mantan yeojachingu Taemin sunbae. Kasihan sekali Taemin sunbae, wajahya terlihat sangat lesu.” Kata MinHee.

“Kau tahu dari mana?” tanyaku.

“Jinki oppa yang memberi tahuku. Meskipun dia tergolong murid baru tapi dia banyak tahu tentang hal-hal seperti itu.” Ohh pantas saja wajahnya seperti itu, rupanya siswi itu mantan kekasihnya.

Pendeta mulai membaca kitab ditangannya dan berdoa untuk ketenangan arwah dari tubuh yang akan dikuburkan itu. Kulihat ada seorang wanita paruh baya yang menangis sejadi-jadinya saat peti mati itu mulai diturunkan. Pasti itu adalah umma dari siswi itu. Aku tak tahu nama siswi yang dikuburkan itu.

Seusai pemakaman semua murd yang hadir lamgsung berhambur meninggalkan pemakaman, tentu saja mereka merasa senang, karena setelah ini mereka tak harus kembali ke sekolah.

“Suzy-ya, aku harus segera pulang. Ummaku baru menelfon kalau pamanku mengalami kecelakaan. Jadi aku harus mengantar ummaku kerumah sakit.” Kata Jinki berpamitan padaku. Oh yaa, aku juga harus ke rumah sakit untuk menjenguk Key. Namja itu sedang sakit sekarang dan aku belum sempat menjenguknya.

“Ya baiklah, tapi antar MinHee dulu. Aku akan pulang dengan Noh ahjussi.” Kataku setelah sempat melamun karena teringat Key yang sedang dirawat dirumah sakit.

“Tentu saja, setiap hari juga aku mengantar anak ini pulang.”

“Aku MinHee bukan ‘ANAK’ arachi?” kata MinHee dengan penekanan pada kata anak, dia tidak suka dipanggil anak, mungkin dia trauma karena pernah dikejar orang gila dan dipanggil anak oleh orang gila itu.

“Ya sudah, sana pergi.” Usirku.

Setelah kepergian Jinki dan MinHee, aku kembali menunggu Noh ahjussi untuk menjemputku, astaga dia lama sekali. Pemakaman semakin sepi pula, hanya ada beberapa pengurus pemakaman yang membereskan tempat pemakaman.

“Mau pulang manis?” kata seseorang dari sampingku. Aku langsung berdiri dan menoleh padanya.

Deg, dia… kenapa dia ada disini? Tanganku langsung bergemetar dan ponselku yang semula kugenggam sekarang sudah jatuh ditanah. Tubuhku serasa kaku, sama sekali tidak bisa bergerak.

“Kau takut padaku? wae?” kata orang itu lagi sembari mendekat kearahku. Tubuhku tersa semakin membeku dan tanganku semakin bergetar.

“Pe..per..pergilah…” kataku terbata-bata, dengan sisa kemampuanku untuk berbicara.

“Kau takut padaku? wae?” kata orang itu sembari mendekat kearah Suzy. Tubuh yeoja itu tersa semakin membeku dan tangannya semakin bergetar.

“Pe..per..pergilah…” kata Suzy terbata-bata, gadis itu terlihat sangat ketakutan melihat orang yang semakin mendekatinya itu. Dia tak pernah menyangka jika reaksinya akan separah ini jika bertemu lagi dengan orang ini.

“Suzy-ya, kau tak merindukanku? Aku sangat merindukanmu. Aku bersyukur kau masih hidup setelah kejadian waktu itu.” Kata orang itu.

“Men.jauh.lah dariku.” Kata Suzy terbata-bata.

“Kenapa kau seperti ini? Aku masih tetap Chansung yang dulu mencintaimu.”

“Ke.napa kau a.da di.disini? bukan.kah k.kau.”

“Aku memang seharusnya ada di penjara, tapi aku bisa bebas bersyarat. Wae? Kau takut bertemu denganku?”

“Wae, kenapa kau ingin membunuhku waktu itu?” dengan segenap keberaniannya akhirnya Suzy menanyakan pertanyaan itu pada Chansung. Alasan Suzy tak pernah menemui Chansung dipenjara karena dia takut reaksinya akan seperti saat ini. Tapi saying sekali, sekarang dia malah bertemu Chansung ditempat ini dan sendirian.

“Kau seharusnya tak menanyakan pertanyaan itu, karena kau sudah tahu jawabannya bukan?”

“Lalu apa tujuanmu menemuiku sekarang?” kata Suzy dengan lantang meskipun tangannya masih bergetar hebat.

“Aku menemuimu untuk memintamu kembali padaku. Kau mau’kan?” pinta Chansung dengan suara yang sangat lembut.

“Aku tak pernah membencimu, aku bahkan masih sering memandang foto kita dan memanggilmu oppa. Tapi aku tidak akan bisa kembali padamu lagi.” Tersirat rasa penyesalan yang besar dari suara Suzy.

“Benarkah begitu? Kalau memang benar begitu, sekarang aku sungguh menyesal tidak bisa membunuhmu sampai kau benar-benar mati waktu itu.” Kata Chansung dengan air mata yang menetes dari pelopak matanya.

“Kau akan mencoba mem..membunuhku lagi?” Tanya Suzy dengan suara bergetar dan kini kedua tangannya menggenggam erat rok seragamnya.

“Tentu saja aku akan melakukannya, dan kau tau’kan alasanku melakukannya?”

“Jangan lakukan itu, kumohon.” Kata Suzy dengan suara bergetar. Gadis itu benar-benar ketakutan. Chansung berjalan mendekat dengan sebuah pisau digenggammannya.

“KURANG AJAR KAU, PERGI SANA!” teriak seorang namja dari kejauhan sambil berlari kearah Suzy. Dengan sigap namja itu menubruk(?) tubuh Chansung yang jauh lebih kekar darinya. Tentu saja Chansung hanya bergeser sedikit karena tubrukannya itu dan tubuhnya sendiri malah terpanting dan jatuh ketanah.

“Suzy-ya gwaenchana?” Tanya namja itu setelah berdiri dan menghampiri Suzy.

“Pergilah, kau tak akan bisa melawannya.” Perintah Suzy, kerena dia tidak ingin melibatkan orang lain ke dalam masalahnya. Selain itu Suzy juga tahu bahwa tubuh kurus Taemin tidak akan bisa bertahan jika harus berkelahi dengan Chansung yang bertubuh jauh lebih kekar darinya.

“Ani, aku tidak akan meningalkanmu. Kita berlari saja bersama. Kau mau lakukan itu?” ajak Taemin, tapi Suzy tentu saja tidak bisa melakukan itu. Tubuhnya yang serasa membatu itu tidak mungkin bisa berlari kencang untuk menghindari Chansung. Jika tubuhnya tidak membeku, pasti hal itu sudah ia lakukan sejak tadi.

“Jangan takut padanya. Mana Suzy yang kukenal? Kendalikan dirimu seperti dulu!” teriak Taemin agar Suzy sadar dan tidak lagi membeku. Tapi usahanya itu sia-sia saja, gadis yang diteriakinya masih saja membeku ditempatnya.

“Pergilah Taem, aku pasrah dengan semua ini.” Hati Taemin terasa berdesir mendengar Suzy memanggilnya dengan sbutan Taem, selain itu suara gadis itu sangat lembut, berbeda dari biasanya yang terkesan kasar dan angkuh.

“Jika kau tak bisa pergi, aku akan melindungiu disini.” Kata Taemin lembut.

“Hey anak kecil, pergilah. Jangan campuri urusan kami.” Teriak Chansung yang sudah bersiap-siap untuk kembali mendekati Suzy dengan pisau yang siap menusuk apapun yang ada didepannya.

“Aku tak akan membiarkanmu menyakitinya!” teriak Taemin kemudian berlari untuk menghajar Chansung.

“Aaahhh….” Suara desahan Taemin setelah pisau yang Chansung pegang menusuk tepat di ginjal kirinya. Ternyata namja itu tak melihat bahwa Chansung membawa sebuah pisau.

“ANDWAE! TAEMIN!” teriak Suzy setelah melihat Taemin mulai melorot tersungkur ditanah dengan tangan yang memegangi perut bagian kirinya.

“BRENGSEK KAU!” teriak seorang namja yang dengan cekatan menghajar Chansung yang terlihat syok karena telah membuat Taemin tersungkur bersimbah darah.

“Taemin.” Guman Suzy sembari berusaha mendekati Taemin yang sedang kesakitan.

“BRENGSEK, RASAKAN INI, KAU PANTAS MENDAPATKAN INI DARIKU. INI UNTUK SUZY DAN INI UNTUK TAEMIN!” teriak namja yang sekarang sedang gencar menghajar Chansung, sedangkan Chansung sudah tidak berdaya lagi dihajar olehnya. Wajahnya penuh luka lebam akibat pukulan bertubi-tubi dari namja itu.

“Taemin, kau harus bertahan. Kumohon bertahanlah.” Kata Suzy setelah bisa mencapai tempat Taemin dengan susah payah. Sekarang gadis itu sedang serangkul Taemin dipangkuannya. Seragamnya yang semula bersih sekarang sudah ternoda oleh darah Taemin.

“Suzy-ya, gwaenchanayo?” Tanya namja yang menghajar Chansung setelah puas menghajarnya sampai sama sekali tak berdaya.

“Minho-ya, tolonglah Taemin.” Kata Suzy lirih. Air matanya mulai menetes, pikirannya sangat kacau sekarang. Dia sudah membuat dua namja berkorban untuknya. Ternyata sejak dari sekolah Minho sudah mengawasi Suzy yang sendirian menunggu jemputan dan sampai dipemakaman namja itu masih mengawasi Suzy karena takut terjadi sesuatu pada gadis pujaannya itu.

“Suzy-ya.” Gumam Taemin sangat lirih, saat akan dibopong Minho ke dalam mobil Suzy.

“Jangan bicara. Kau akan lelah nanti. Diamlah.” Kata Suzy.

“Ani, a.ku ha..rus bica.ra seka..rang.” Taemin tetap ingin berbicara.

“Baiklah, apa yang ingin kau katakana?”

“Sa..sarang.hae, dan a..ku tidak me..meminta balasan dari..mu. Aku ha..nya ingin kau hi.dup ba.ha..gia.” Kata Taemin parau.

“Taemin-nie.” Gumam Suzy, air matanya makin deras mendengar pernyataan Taemin. Namja itu sedang sekarat sekarang, dipikiran namja itu saat ini ia sedang menhampiri ajalnya.

“Sebaiknya kita cepat membawanya kerumah sakit.” Seru Minho tiba-tiba karena ia tahu Taemin tidak akan bertahan lebih lama lagi. Tanpa basa-basi lagi Minho langsung membopong tubuh Taemin kedalam mobil dan ikut masuk didalamnya bersama Suzy dan Noh ahjussi supir Suzy. Sedanngkan Chansung diamankan oleh petugas keamanan pemakaman dan selanjutnya akan diserahkan ke polisi.

“Maafkan saya agassi, jika saa tidak terlambat ini semua tidak akan terjadi.” Kata Nih ahjussi sembari melajukan mobil menuju rummah sakit.

“Gwaenchana, jangan pikirkan itu. Yang terpenting sekarang adlah membawanya kerumah sakit.” Kata Suzy sambil sesenggukkan.

AUTHOR POV END

MINHO POV

Taemin sekarang sedang ditangani dokter di ruang ICU. Dia kehilangan banyak darah, selain itu pisau itu juga melukai ginjal kirinya. Awalnya aku senang jika ia mati, tapi sekarang tidak lagi. Jika Taemin mati, Suzy akan dihantui rasa bersalah. Gadis itu sekarang sedang duduk dilantai sambil menangis. Aku tak berani menghampirinya, ini juga kesalahanku. Jika aku lebih dulu menolongnya dan tidak hanya diam menonton pasti inni semua tidak akan terjadi.

“Keluarga pasien.” Seru seorang suster yang baru keluar dari ruang ICU.

“Bagaimana keadaannya.” Kata Suzy langsung menghampiri dokter yang keluar setelah suster tadi. Aku ikut mendekati dokter itu. Aku juga penasaran dengan keadaan Taemin sekarang.

“Apakah agassi keluarga pasien?” Tanya dokter itu.

“Ani, kami temannya. Kami panik jadi kami langsung membawanya kemari tanpa menghubungi keluarganya.” Jawabku. Aku tahu Suzy pasti sedang tidak ingin berbicara banyak. Bodohnya aku, kenapa tak terfikir untuk menghubungi keluarga bocah itu? Aku terlalu khawatir pada Suzy sehingga melupakan hal penting seperti ini.

“Kami harus berbicara dengan orang tua atau keluarganya langsung.” Kata dokter itu lagi. Sejurus kemudian Suzy langsung mengambil ponsel Noh ahjussi dan sibuk dengan orang yang ia telfon. Mungkin dia menghubungi orang yang kemungkinan tahu nomor tetepon atau apapun yang bisa menyambungkannya dengan keluarga Taemin.

“Apakah tidak bisa dokter membicarakannya denganku saja? Keluarganya sulit dihubungi.” Kataku membujuk dokter agar mau memberitahuku bagaimana keadaan Taemin sekarang. Kenapa dokter tidak mau member tahu kami tentang keadaan Taemin, atau jangan-jangan bocah itu……. Ah ani, aku tak boleh berfikiran yang tidak-tidak.

“Melihatmu bersikeras aku akan memberitahumu keadaan pasien padamu.” Aku sangat tegang saat mendengar dokter akan member tahuku keadaan Taemin. Tuhan, semoga tidak seperti yang aku duga.

“Ikuti saya ke ruangan saya.” Perintah dokter itu kemudian aku mengikutinya dari belakang.

“Baiklah, anda harus siap dengan apa yang akan saya katakana pada anda nanti.” Kata dokter setelah mempersilahkanku duduk.

“Ye~ algessemnida.” Ucapku.

“Kami….tidak dapat menyelamatkan pasien. Pasien meninggal saat kami sedang berusaha menghentikan pendarahannya. Selain luka tusukan yang mengenai ginjal, ternyata pisau itu telahdilumuri racun, sehingga luka akibat tusukan itu terkena racun dan menyebar melalui pembuluh darah yang terkoyak pisau. Maafkan kami. Kami sudah berusaha sebisa kami.” Jelas dokter panjang lebar, kemudian menepuk bahuku.

Tanpa berkata apa-apa aku keluar dari ruangan dokter dengan pandangan kosong, pikiranku terasa melayang mendengar penjelasan dokter barusan. Aku yang sebenarnya tidak begitu peduli dengan Taemin saja bereaksi seperti ini mendengar Taemin meninggal, bagaimana dengan reaksi Suzy jika mendengar berita ini? Aku tak sanggup mengatakannya pada Suzy.

“Minho-ya, eottae? Apa kata dokter.” Tanya Suzy setelah melihatku keluar dari ruang dokter. Kurasa Suzy belum berhasil menghubungi keluarga Taemin karena sekarang kulihat Noh ahjussi sedang sibuk dengan ponselnya.

“Minho-ya jawab pertanyaanku.” Kata Suzy lagi karena aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya. Kupandangi kedua bola mata Suzy yang masih berkaca-kaca. Aku berusaha menegarkannya dengan menapatnya lembut.

“Jangan salahkan dirimu, karena ini memang bukan salahmu.” Kataku.

“Apa maksudmu? Cepat katakan bagaimana keadaan Taemin sekarang.” Kata Suzy tak mengerti dengan apa yang kukatakan.

“Dia..dia..dia sudah meninggal.” Kataku lirih berharap Suzy tak mendengarnya. Tapi ternyata yeoja itu tetap mendengar perkataanku barusan. Dia langsung menangis dan terduduk di lantai. Menangis sambil menutupi ajahnya dengan kedua tangannya. Akupun berjongkok didepan Suzy berusaha menenangkan gadis itu. Mencoba menegarkan hatinya dengan mengatakan bahwa ini semua bukanlah salahnya.

MINHO POV END

JINKI POV

Setelah beberapa hari kematian Taemin, Suzy masih terlihat murung dan tak bersemangat. Meskipun dia sudah tidak menyalahkan dirinya tentang kejadian itu. Selama beberapa hari ini juga Minho jadi sering mengajakku ngobrol tentang keadaan Suzy dan lain-lainnya. Sepertinya namja itu serius menyukai Suzy. Aku sudah menganggap Suzy sebagai yeosaengku sendiri jadi aku juga harus memperhatikan siapa saja yang mendekatinya.

“Oppa, sampai kapan Suzy akan seperti itu?” Tanya MinHee tiba-tiba.

“Hee?”

“Kau memikirkan keadaannyakan sekarang? Makanya aku tanya itu.” Kata MinHee.

“Nado molla, sekarang ini dia sedang banyak pikiran.”

“Arraseo. Selain kematian Taemin sunbae dia pasti juga emikirkan keadaan Key oppa yang sedang dirawat  dirumah sakit.” MinHee benar, selain tentang kematian Taemin pasti Suzy juga memikirkan Key hyung yang dirawat dirumah sakit karena dirinya juga.

“Oh ya oppa, akhir-akhir ini sepertinya kau jadi akrab sekali dengan Minho sunbae. Apa kalian bersahabat sekarang?”

“Ani, aku tidak bersahabat dengan orang itu. Aku tak akan mau bersahabat dengan orang itu.” Kataku ketus.

“Iiish, kenapa tidak mau bersahabat degannya saja sih? Minho sunbae’kan sebenarnya orang yang baik, lembut dan penuh perhatian. Tentu saja selain wajahnya yang kyeopta dengan mata keroronya dan juga tubuhnya yang jakung.” Puji MinHee kemana-mana. Apa-apa’an dia, kenapa menuji namja itu dengan ekspresi seperti itu? Aku membencinya, bukan mungkin aku cemburu padanya karena suka menujinya dengan berlebihan didepanku.

“Aku pergi.” Kataku kesal sembari berdiri dan meninggalkan MinHee yang duduk dibangku depan kelasnya.

“Hhhm? Odiya? Aku ikut. Suzy sedang sangat tidak mood untuk diajak mengobrol.” Kata MinHee lalu mengejarku dan mensejajarkan langkahnya dengan langkahku.

“Oppa jahat sekali mau meninggalkanku sendirian.” Katanya manja. Hee? Ada apa dengan yeoja ini, kenapa berkata manja begini. Ohh ya, aku belum menyelesaikan urusanku dengannya. Harusnya aku sudah mendapatkan penjelasan tetang pernyataannya di kantin waktu itu tentang dia menyukaiku, tapi tak jadi karena tiba-tiba dia mimisan dan membuatku melupakan pernyataan itu.

“Aku belum mendapat jawabanmu tentang pernyataanmu dikantin dulu.” Kataku tiba-tiba dan beriri tepat dihadapan MinHee membuatnya menghentikan langkahnya.

“Pernyataan? Pernyataan apa?” kata MinHee pura-pura tak mengerti. Jelas sekali kalau sebenarnya dia tahu pernyataan apa yang aku meksud, tapi dia malah pura-pura tidak mengerti.

“Mau aku ingatkan pernyataan mana?” kataku sambil tersenyum jahil padanya. Dia hanya diam sambil mengedip-ngedip’kan matanya. Ahh neomu yeppeo, batinku.

Tanpa aba-aba lagi aku langsung mencium bibir MinHee lembut. Bisa kurasakan tubuhnya langsung menegang. Yeoja itu hanya diam membeku atas apa yang kulakukan padanya.

“Saranghae.” Ucapku setelah melapaskan ciuman kami. MinHee masih membeku dan membelalakkan matanya.

“Wae? Bukankah kau ingin aku yang mengatakan ini duluan?” kataku.

“Nado saranghae.” Katanya sembari memelukku erat. Sejurus kemudian aku tersenyum dan mebalas pelukannya. Terdengar suara sorak sorai dari anak-anak lain yang melihat kejadian barusan.

“WAAH CHUKKAE, CHUKKAE, CHUKKAE!” teriak seorang diantara mereka. Mendengak sorak sorai aku langsung melapas pelukanku dan MinHee lalu kupandang sekeliling.

“Astaga.” Kataku lirih lalu menggelus terngkukku dan tersenyum geje melihat banyak murid-murid yang menonton kami. Tentu saja kami dipandangi, karena kami sekkarang berada ditengah-tengah lapangan yang tentu saja banyak murid-murid yang beraktifitas disekitarnya.

“Aku malu.” Gumam MinHee. Tanpa aba-aba pula aku menggandeng tangan MinHee untuk pergi dari tempat itu dan menghindari kerumunan dan sorak sorai.

JINKI POV END

SUZY POV

Hari ini sudah seminggu setelah kematian Taemin. Aku sudah tidak begitu memikirkan hal itu lagi. Kedua orang tua Taemin juga sudah merelakan kepergian Taemin dan mereka juga tak menyalahkan aku atas kejadian itu. Tapi aku masih kurang bersemangat untuk melakukan aktifitas. Sekarang aku memikirkan keadaan Key yang kian memburuk.

Sepulang sekolah ini aku akan menjenguknya, menjenguk dan menemuinya setelah terakhir aku menemuinya di bar waktu itu. Di bar waktu itu, Key sudah memohon agar aku membatalkan perjodohan itu. Tapi aku tak menghiraukan perkataannya, aku malah menyuruhnya untuk mabuk-mabukan untuk menghilangkan stresnya. Aku sama sekali tak tahu jika Key mempunyai infeksi usus dan tak boleh minum minuman keras, tapi aku malah menyuruhnya melakukan itu, sama artinya aku menyuruhnya bunuh diri. Tanpa kusadari air mataku menetes, ternyata air mataku masih tersisa, padahak aku sudah menangis semalaman karena memikirkan hal ini.

Bel tanda jam belajar telah berbunyi dan aku menunggu jemputan digerbang depan seperti biasa. MinHee dan Jinki sudah pulang. Mereka pasti akan pergi menonton film atau setidaknya hanya sekedar jalan-jalan berdua. Wajar saja mereka’kan baru saja meresmikan hubungan sebagai sepasang kekasaih dengan cara yang menghebohkan dua hari yang lalu.

“Suzy-ya, mau aku antar pulang?” kata Minho yang menghampiriku dengan motornya.

“Ani, aku akan kesuatu tempat sekarang jadi aku akan menunggu jemputan saja.” Kataku pada Minho. Setelah kejadian di pemakaman itu Minho semakin baik dan perhatian padaku. Jika aku belum dijemput, dia pasti akan menawarkan untuk mengantarku pulang, atau dia akan menemaniku sampai jemputanku datang. Dia sangat berbeda dengan saat pertama aku mengenalnya.

“Bagaimana jika aku mengantarmu saja? Aku mau mengantarmu kemanapun kau mau.” Katanya lagi dengan sebuah senyuman manis diwajahnya. Bahkan sekarang ini dia menjadi terlalu baik.

“Tidak usah, gwaenchanayo. Mobilku sudah datang kok.” Kataku sambil tersenyum dan menuju mobil jemputanku. Sebelum pergi aku melihat Minho melambaikan tangannya dan tersenyum padaku.

@ Hospital

Sebelum tiba dirumah sakit aku sempat membeli sekeranjang buah-buahan untuk kuberikan pada Key. Aku hanya membeli buah yang lunak, karena kata dokter dia belum boleh makan makanan yang keras. Bahkan keadaannya masih belum banyak mengalami peningkatan.

“Ah, ini dia kamarnya.” Gumamku sambil tersenyum melihat ruangan yang bertuliskan angka 687. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa gugup saat akan menemuinya. Apa ini karena aku merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya??

“Umma tak pernah mengerti apa yang dirasakan Key! Bahkan umma tak pernah tahu’kan kalau Key memiliki penyakit ini? Umma dan appa terlalu egois untuk tahu masalah ini.” Kudengar suara yeoja sedang marah-marah dari dalam kamar itu. Kubuka sedikit pintu kamar dengan pelan-pelan agar tak ada yang menyadari kehadiranku.

“Umma dan appa bukannya egois tapi umma dan appa hanya ingin yang terbaik untuk Key, keu harus mengerti itu Hyu Bum.” Kulihat appa Key sedang mencoba menenangkan Hye Bum yang terlihat sangat emosi.

“Lepaskan appa! Dan aku tak butuh mengerti hal itu.” kata Hye Bum sembari menampik tangan appa Key dari pundaknya.

“Kenapa kau begitu keras menentang perjodohan ini? Apa Key memintamu untuk membantunya?” kata umma Key lembut.

“Ani. Bukan karena itu. aku melakukan ini karena memang aku menentang perjodohan ini.” Kata Hye Bum.

“Wae? Katakan pada kami alasanmu melakukan ini. Kau sudah dewasa, jadi kau tidak boleh bertindak kekanak-kanakan seperti ini.” Kata umma Key lagi.

“Aku tahu kalau aku sudah dewasa. Dan ini bukan sikap ekanak-kanakan umma.” Suasana hening sejenak, tak ada yang mengeluarkan argumen mereka.

“Aku melakukan ini karena aku mencintainya sebagai seorang wanita dewasa umma.” Kata Hye Bum lirih, hampir tak dapat terdengar olehku. Jantungku terasa berhenti berdetak mendengar pernyataan Hye Bum barusan.

“Mworagu? Kau mencintai Key? Dia itu oppamu Hye Bum. Bagaimana mungkin kau mencintainya.” Kata umma Key yang juga terkejut mendengar pernyataan Hye Bum.

“Tapi dia bukan oppa kandungku’kan? Jadi apa salahnya jika aku mencintainya.” Kata Hye Bum membela diri dengan air mata sudah hampir jatuh.

PLAAK

Suara tamparan dari appa Key mendarat dengan mulus dipipi Hye Bum. Hye Bum sampai tersungkur dilantai karena tamparan keras dari appanya itu. Aku langsung membekap mulutku sendiri melihat kejadian itu. sebegitu marahnya kah appa Key sampai tega menampar Hye Bum sampai seperti itu.

“Appa, apa yang kau lakukan. Meskipun dia bersalah kau tak boleh menamparnya seperti itu.” kata umma Key sembari akan membantu Hye Bum berdiri. Tapi bantuan umma Key ditampik mentah-mentah oleh Hye Bum.

“Apakah aku sangat bersalah, sehingga appa menamparku sampai seperti ini?” tanya Hye Bum masih terduduk dilantai dengan tangan kirinya memegangi pipinya yang ditampar.

“Astaga.” Gumamku saat melihat darah di ujung bibir Hye Bum.

“Ya Tuhan, Hye Bum-mie kau berdarah saying.” Kata umma Key lagi sambil berusaha membantu Hye Bum. Tapi lagi-lagi Hye Bum menolak bantuan umma Key.

“Ada apa ini?” Tanya Key sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Dia pasti terbangun dengan semua keributan ini.

“Key, tetaplah di tempat tidurmu.” Kata umma Key sembari berlari menahan Key agar tetap berbaring di tempat tidurnya. Hye Bum tetap diam ditempatnya, begitu juga dengan appa Key. Key tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi karena jarak tempat tidur dan tempat perseteruan(?) lumayan jauh. Tentu saja, karena dia dirawat diruang VIP. Ruangan yang memiliki beberapa ruang lagi didalamnya seperti ruang tamu dan kamar mandi. Tapi dari tempatku sekarang aku tetap bisa melihat Key.

“Mana Hye Bum.” Tanya Key pada ummanya. Umma Key hanya diam saja. Karena tak mendapat jawaban dari ummanya dia kembali berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Kurasa dia mendengar pertengkaran yang terjadi barusan.

“Biar umma bantu.” Kata umma Key sambil membantu Key turun dari tempat tidurnya.

“Hye Bum-mie.” Seru Key setelah melihat Hye Bum yang tersungkur dilantai dengan memegangi pipinya. Kemudian Key langsung menghampiri Hye Bum dan memeluknya.

“Gwaenchanayo?” tanya Key penuh rasa khawatir di kata-katanya. Hye Bum hanya mengangguk den tersenyum menjawab pertanyaan Key.

“Appa menamparnya?” tanya Key, bukan kata-kata Key lebih mengarah pada tuduhan.

“Biarkan saja dia. Dia tak pantas dikasihani. Anak tak tahu balas budi.” Kata appa Key.

“Appa menamparnya karena karena dia bilang kakau dia mencintaiku’kan? Ayo tampar aku juga karena aku juga mencintainya.” Kata Key. Kini jantungku terasa benar-benar berhenti. Mereka berdua saling mencintai, itu berarti yeoja yang dimaksud Key adalah Hye Bum.

“Apa yang kau katakana? Kau tak boleh mencintainya.” Kata appa Key. Umma Key sudah terduduk disofa sambil menangis. Kasihan sekali Kim ahjumma.

“Aku sudah memastikan bahwa Hye Bum dan aku bukanlah saudara kandung. Jadi tidak ada yang bisa menghalangi cinta kami.” Kata Key. Sudah cukup. Sudah cukup aku mendengar pertengkaran dan hal-hal yang menghancurkan hatiku. Aku mengurungkan niatku untuk menjenguk Key dan aku kembali ke mobil dan memutuskan untuk pulang kerumah.

@ Home

Sesampainya dirumah aku langsung menelfon umma untuk membatalkan perjodohanku dengan Key. Aku tak mau dia menderita karena aku. Sudah cukup dengan aku pernah menyuruhnya bunuh diri dan membuatnya bertengkar dengan kedua orang tuanya. Sekarang saatnya aku membalas semua kebaikannya. Kebaikannya karena telah menjagaku dan semua perhatian dan kasih sayangnya dalam merawatku saat aku sakit. Aku harus merelakannya untuk kebahagiaannya.

“Taem, aku belajar banyak darimu.” Gumamku setelah menelfon umma tentang keininanku membatalkan perjodohan itu. Entah kenapa hatiku terasa sangat lega dan tak terbebani lagi.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Loves Way – Part 8”

  1. Thor bagus banget yatuhan, nangis beneran ini T^T tanggung jawab, sekarang gw kepo… lanjutin ya, jan biarin gw ga bisa tidur(?) n,n m0ah:*

  2. KENAPA TAEMIN MENINGGAL? YAALLAH SUAMI GUE ㅠ.ㅠ
    Tp gpp bgs thor entar kan jadinya minho-suzy yakan?;;)
    Lanjut cpt yap!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s