Namja – Part 5

Title : Namja

Author : Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast :

  • Kim Kibum
  • Park Hana
  • Park Ha In
  • Kim Heera

Support Cast : Kim Jonghyun, Lee Jinki, Key’s Eomma, Park Yoochun, Ken, Nara

Length : Sequel

Genre : Friendship, Family, Romance

Rating : PG – 15

A.N : Kisah ini terinspirasi dari beberapa film Korea dan novel. Tapi alurnya tetap pemikiranku.

***

Summary:

“Sudah selayaknya setiap manusia lepas dari kerangkeng bukan? Kita terkadang menjadi tawanan dalam kisah sendiri, seperti binatang peliharaan yang tidak dapat menghirup udara di alam bebas. Kau juga pernah merasakan betapa tidak enaknya terbelenggu, ‘kan? Kau mengerti maksudku?

Namja – Part 5 : Weird Condition

Tidak tahu pasti, namun rasanya tertaut. Tak ingin mengakui, namun bisikan itu ada dan memenuhi rongga pikiran. Tidak mengerti, hanya merasa janggal. Aneh, begitulah hati dan perasaan. Bukan  sesuatu yang bisa diperkirakan arahnya dan titik akhirnya. Bahkan konon perasaan itu tak akan pernah ada ujungnya karena ia berpangkal dari sesuatu yang terkadang tidak jelas. Begitulah, banyak hal-hal yang sulit diungkapkan, termasuk mimpi, harapan, atau bahkan terkadang hanya halusinasi tak berdasar.

***

“Tidak ada lagi, aku tidak mau mendengar kau masih bergelut dengan seni. Apapun itu, seni musik maupun seni rupa, apalagi seni peran. Jonghyun-ah, buka matamu! Kau lihat banyak artis yang bunuh diri karena depresi, dunia hiburan kita terlalu mengerikan.”

Pria itu tampak berang, kedua tangannya masih sibuk menyobek-nyobek selembar piagam yang pagi ini ditemukannya dari kamar Jonghyun. Itu adalah piagam yang Jonghyun dapatkan setelah menjuarai lomba seni ukir yang diadakan kampusnya sebulan yang lalu.

Sreekk, srekkk

Bunyi itu begitu menghancurkan hati Jonghyun. Melihat bagaimana kertas-kertas kecil itu berhamburan hingga kemudian berjatuhan di lantai, di hadapannya yang tengah terduduk di sofa. Itu bukan sehelai kertas biasa baginya, bukan pula kertas yang dijadikan sarana membanggakan diri. Itu adalah kertas yang membuktikan betapa tinggi kesungguhannya dan keinginan kuatnya untuk terjun ke jalan yang sama sekali berbeda dengan arus keluarganya.

Klasik, Jonghyun merasa orang tuanya ini bahkan lebih pengecut daripada dirinya. Bagaimana bisa mereka menjatuhkan langkah anaknya dan mengatakan bahwa jalan yang ditempuh anaknya itu akan gagal.

Jonghyun sangat marah, rasa ingin berontak menguasainya. Tapi ia masih bertahan, ada yang harus ia coba. “Appa, kau tidak ubahnya seorang pengecut. Appa, maafkan aku kalau mulutku lancang.  Aku tanya, dulu saat kau pertama kali merintis bisnismu, apa kau dapat memastikan bahwa langkahmu itu akan membawamu pada kesuksesan? Padahal sama saja, perjalanan bisnis itu dipenuhi dengan orang-orang licik dan rakus. Apa kau tidak takut gagal lalu menjadi miskin?”

Plakkkk,

“Diam kau!” hardik Tuan Kim selepas tangannya mendarat kencang di pipi Jonghyun. “Jalanku berbeda. Sekalipun peluang gagal itu bertebaran, tapi kesuksesan yang menungguku lebih menjamin kenyamanan hidupku. Aku tidak ingin kau tersesat dalam pilihanmu,” lanjutnya tegas.

Rasa panas memenuhi seluruh permukaan wajah Jonghyun, amarahnya semakin tersulut. Meskipun berulang kali ia pernah mendapatkan tamparan serupa, rasanya masih sama sakit. Sekalipun ia mencoba menguatkan hatinya agar tetap tenang, nyatanya ia selalu kalah.

Namun kali ini, ia teringat ucapan Hana, perihal yeoja itu menyindir masalah kepengecutan. Ya, satu arti pengecut yang Jonghyun rasakan kini, bukan pengecut karena tidak berani mengambil langkah menuju cita-citanya, melainkan pengecut dalam hal lainnya.

Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya memang sudah melakukan pemberontakan. Namun selama ini ia hanya memberontak melalui sikap, satu kalipun ia tidak pernah mencoba maupun memberanikan diri beropini di hadapan orang tuanya, ia selalu memilih bungkam.

“Ya, aku tahu maksudmu. Itulah mengapa aku bilang kau pengecut. Appa, apakah kesuksesan itu mutlak didapatkan dari berbisnis, kerja kantoran, atau kerja formal lainnya? Tidak. Aku tahu perjuangan itu berat. Lagipula, aku bukan ingin menjadi anggota boyband yang harus menjalani training hingga bertahun-tahun. Impian besarku yang sesungguhnya adalah menjadi pelukis, appa tidak perlu khawatir aku akan menjadi salah satu artis yang memilih bunuh diri.” Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Jonghyun melanjutkan argumennya. Berusaha, walaupun Jonghyun sama sekali tidak yakin kalau appa-nya akan luluh.

Tuan Kim mencibir, bahkan ia meludah pelan di hadapan Jonghyun. “Cih, aku tidak mau dengar opini mentahmu. Kau tahu apa tentang hidup? Aku telah melalui banyak hal berat dalam hidupku, untuk itu aku tidak ingin anak-anakku mengalami hal yang sama nantinya. Untuk itulah aku mengirimmu dan Jongmin ke sekolah terbaik, sejak kalian kecil hingga saat ini. Apa susahnya kau menjadi seperti adikmu, memiliki prestasi akademik adalah hal yang membanggakan.”

“Tidak ada yang aneh dengan prestasi akademik menurutku, wajar saja karena memang kita mendapatkan ilmunya melalui pendidikan formal. Appa, pernahkah kau berpikir bahwa sesuatu yang dikuasai dengan belajar secara otodidak itu terlihat lebih keren dan membanggakan?” Jonghyun tersenyum sinis kini, ia melemparkan pandangannya ke layar televisi yang sejak tadi menyala, semakin merasa muak dengan percakapan ini.

“Hah, jadi kau ingin mencari image ‘keren’ dan kebanggaan? Apa gunanya keren tapi hidupmu menderita. Sudah, aku tidak mau dengar lagi. Kalau kau masih tidak menuruti perintahku, berdirilah dengan kakimu sendiri, aku tidak akan memedulikanmu sebagaimana kau tidak mengacuhkanku!”

“Issssh.” Kesal, Jonghyun mendesis keras. Kemudian namja itu bangkit, menyenandungkan sebuah irama tanpa lirik dan melenggang santai seolah mengejek ucapan terakhir appa-nya, padahal perasaannya benar-benar remuk.

“Ya! Kim Jonghyun! Ganti margamu kalau kau masih bertingkah kurang ajar seperti itu!” Tuan Kim berang, namun Jonghyun sudah terlalu kebal dengan hardikan semacam itu.

Sesungguhnya Jonghyun tidak setuju jika appa-nya menuduh bahwa jalan yang ditempuhnya ini didasari oleh keinginan untuk mencari image keren dan untuk ajang membanggakan diri. Jonghyun hanya mencoba menjadi dirinya sendiri, berjalan di atas jalur yang menjadi pilihan hatinya. Ia tidak ingin menjadi pengecut yang tidak berani menerobos api.

***

Suasana cafe itu lengang, hanya ada beberapa orang yang tengah menyantap makanan sembari mencari kesempatan untuk menumpang sinyal wi fi yang terpasang di tempat itu. Ada juga beberapa anak yang hanya memesan segelas jus namun sengaja berlama-lama bercengkrama di sana, seolah jus itu hanyalah kedok untuk menikmati suasana nyaman cafe. Ya, inilah kelakuan khas mahasiswa berkantung tipis. Rasanya sedikit aneh karena biasanya ini adalah tempat yang sering dikunjungi mahasiswa setelah kegiatan kampus usai, di tempat ini pula Heera sering berkumpul dengan ketiga sahabatnya.

Sudah beberapa menit yeoja itu hanya mampu terdiam sembari mengaduk-aduk jus alpukatnya. Ia sama sekali tidak berminat menyeruputnya meskipun ia tahu bahwa khasiat buah itu sangat bagus untuk kulitnya yang sering kering. Ia tertunduk, menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia tidak tahu harus melakukan apa sembari menunggu Jinki datang.

“Sudah lama menungguku?” Orang yang dinanti pun tiba, membuyarkan lamunan Heera. “Hei, matamu merah, ada masalah apa?” Beberapa detik kemudian Jinki menyadari keanehan yang tampak di wajah kekasihnya itu.

Tidak menjawab, Heera tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak ada yang salah dan patut dipersalahkan kecuali dirinya sendiri, sekalipun Hana mengatakan bahwa Jinki memberi pengaruh besar dalam tindakannya beberapa hari belakangan.

“Kau marah atau kesal padaku, hmm?” Jinki mencoba memancing.

Masih hening, Jinki masih bersabar menunggu. Beberapa menit berlalu, terbuang percuma. Ia mulai berpikir bagaimana caranya membuat Heera tak lagi bungkam.

“Aku yakin ada yang tidak beres. Baiklah, terkadang kita terlalu bingung untuk memulai bercerita dengan kata, begini saja…,” Jinki memotong kalimatnya. Ia membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah notes kecil dan pulpen, lalu meletakkannya di meja. “Mulailah dengan gambar,” titah Jinki dengan sopan.

Heera meraih benda itu dengan ragu, menatap Jinki sejenak tanpa kata. Ia kemudian membuka notes itu, lagi-lagi menatap Jinki sembari membisu. Yeoja itu mulai menggoreskan tinta, Jinki dapat menangkap jelas getaran tangan Heera ketika sedang menggambar. Jinki menjadi semakin yakin bahwa hal besar dan menakutkan telah terjadi.

Jinki mengernyit begitu melihat apa yang terdapat di lembaran notes-nya. “Tanda tanya dan tanda seru? Kau sedang marah tapi bingung, begitu? Hmm, aku belum mengerti, boleh gambar berikutnya?”

Heera menggigit bibirnya, ia mulai ingin bicara tetapi ia khawatir tutur katanya salah dan kembali menyakiti orang. Pada akhirnya ia memilih menggambar sekali lagi dan kali ini ia menggambar mulut, pedang, serta sebuah wajah lengkap dengan senyum khas gigi kelincinya.

Jinki terdiam, terhenyak. Ia mengingat kembali apa yang dikatakannya belakangan ini. Menerka, mencoba mencari benang merah dari makna gambar-gambar Heera tadi. “Hhh…Heera-ya, mianhae… boleh aku mengasumsikan bahwa semua kekusutan yang kau tampakkan ini disebabkan oleh ucapanku mengenai Key?”

Tubuh Heera menegang, pikirannya mulai mendesak lidah agar segera meluapkan apa yang ingin diungkapkan. “Oppa, mungkin maksudmu baik, ingin membukakan mataku. Tapi Oppa, ternyata aku salah, mulutku salah. Aku… terus menekan Key, berusaha menggugah agar ia mau berubah. Lalu… ah, aku tidak sanggup melanjutkan.” Kalimat Heera tergantikan oleh luapan air matanya yang kian deras namun suara tangisnya seakan tertahan. Ia berusaha membungkam mulutnya dengan tangan, tapi sia-sia, tangisnya makin menjadi.

Jinki sedikit bingung, ia tidak terbiasa menghadapi seorang yeoja yang menangis. Ia pernah diberi tahu satu trik. Katanya, di saat seorang yeoja menangis, maka biarkanlah air matanya mengalir hingga ia merasa lega. Jangan banyak bertanya ketika tangisnya masih pecah, jangan juga mendesaknya untuk berkata-kata lebih banyak.

Ia pun memutuskan untuk menarik kursinya ke sebelah Heera, meraih kepala yeoja itu dan memiringkannya hingga bersandar di bahu tegapnya. “Aku salah, mian… gara-gara aku, kau menjadi terpengaruh,” lirih Jinki, menyesal. Tangannya mengelus lembut telapak tangan Heera.

Heera makin dilema. Kalau Jinki mengelak, mungkin dirinya akan membenci kekasihnya itu. Tapi Jinki tidak melakukannya, ia justru mengakui kesalahannya. Yeoja itu semakin bingung. “Aku yang minta maaf, Oppa. Seharusnya aku tidak menyalahkanmu karena aku lah pemegang keputusan. Seharusnya aku tidak mengucapkan kata-kata yang mendesaknya, aku tidak cukup terkendali,” ungkapnya kemudian, ia rasa menyalahkan orang lain bukanlah suatu hal baik.

“Heera-ya, izinkan aku bertemu Key untuk minta maaf, bisakah?” Jinki memberanikan diri bertanya setelah tangis Heera mereda.

Oppa, semalam Key… kecelakaan.”

***

Lalu apa yang bisa diperbuat? Hanya menunggu jawaban takdir sembari menuangkan segunung do’a dalam setiap langkahnya, berharap tidak terjadi hal buruk pada Key. Meniti pelan jalan setapak yang dilaluinya, ia tidak kunjung menegakkan kepalanya seolah ada yang memaksanya untuk terus menundukkan kepala.

Seolah nestapa terbentang di sepanjang hari, ia tak kunjung tersenyum. Langkahnya seperti diseret malas, seakan ia memang tak ingin menggerakkan kaki itu dan membiarkan asam laktatnya menumpuk di persendian.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Suara Jonghyun bergabung di dalam keheningan dunianya. “Hana-ya, hei!” Jonghyun menepuk bahu Hana  sekeras mungkin, berharap temannya itu membalas atau minimal kesal.  Rasanya Jonghyun lebih suka Hana yang ketus dan galak daripada melihatnya bagaikan robot terpaksa dihidupkan.

“Apa gunanya kau mendengar jika tak peduli. Kau hanya akan mencibir Key.” Hana bereaksi, dengan suara lemah.

Aigoo, kau tidak berhak menuduhku seperti itu. Ooo, jadi ini tentang Key? Hei, apa karena aku pernah menghinanya lalu berarti aku tidak peduli padanya? Hah, memang sih, untuk apa sebenarnya aku peduli pada Key banci itu.” Jonghyun tertawa, bagi Hana terdengar seperti ejekan.

“Cih, menjauhlah dariku. Sia-sia berbicara dengan pengecut sepertimu.” Hana memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan posisi Jonghyun. Sebenarnya, tangan Hana serasa gatal ingin menampar pipi Jonghyun karena namja itu menyebut Key ‘banci’. Tapi Hana sedang tidak ingin bertengkar.

“Tidak ada gunanya juga kau meminta pada pembelot sepertiku. Semakin dilarang, tingkahku makin menjadi. Semakin kau memintaku untuk menjauh, setan di dalam diriku berteriak girang dan menyuruhku mendekat. Lalu, bagaimana?” Menggerakkan alisnya, main-main.

Hana mendengus dan mengabaikan Jonghyun, memilih memandangi langit sore beserta gumpalan-gumpalan awan lembutnya. Ia kemudian memikirkan hal yang mustahil, rasanya lapisan putih itu begitu mendamaikan, membuat dirinya ingin terbang tinggi dan mendarat di atas buih-buih air yang terkondensasi itu. Dunia terasa begitu penuh dan menyesakkan dirinya, ia sangat ingin menghilang tanpa diganggu. Ingin mencari ketenangan, bertapa atau semacamnya, relaksasi sembari melesatkan kalimat permohonan pada Sang Penentu Nasib.

“Hana-ya! Temani aku sekarang juga.” Tiba-tiba Jonghyun menarik tangan Hana paksa.

“Uhh?” Hana yang tidak dalam posisi siap berkelit, terpaksa patuh pada Jonghyun. Hatinya tidak menolak, sedikit berharap Jonghyun akan mengajaknya ke atas kumpulan awan itu, menenangkannya dalam damai.

***

Terbilang banyak, sejak tadi siang teman-teman Key silih berganti datang, puncaknya adalah senja menjelang petang ini. Nyonya Kim terharu, setidaknya ia bersyukur karena masih banyak yang peduli dan sayang pada Key, tidak seperti bayangannya yang mengilustrasikan bahwa anaknya ini termasuk segelintir manusia yang terpojokkan karena hanya memiliki sedikit kawan. Dokter hanya mengizinkan pembesuk masuk dua orang sekali periode. Beberapa yang tersisa, berbincang dengan Nyonya Kim, memberi dukungan moral dan sejenisnya.

Dari Kejauhan Nyonya Kim dapat melihat sosok Ha-In, datang bersama dua orang namja yang belum pernah dikenalnya. Ha In tersenyum begitu menyadari Nyonya Kim sedang melihat ke arahnya.

Annyeong haseyo, Bibi,” sapa Ha In begitu dirinya sudah berada di hadapan Nyonya Kim.

 Ha In melemparkan senyum sekali lagi, mencoba bersikap normal dengan menyembunyikan segenap rasa sedihnya, meskipun jika diperhatikan lebih lanjut, matanya mungkin masih terlihat sembab setelah puas menangis di bahu Yoochun hingga akhirnya namja itu mengajaknya ke rumah sakit.

“Oo, annyeong… Ha In-ah, siapa yang datang bersamamu? Aku tidak pernah melihat sebelumnya,” tanya Nyonya Kim sambil menunjuk pada Yoochun dan seorang namja lainnya.

“Ooo, ini Park Yoochun, dia adalah… Oppa-ku.” Ragu-ragu, sedikit kikuk menjelaskan status Yoochun. “Lalu ini adalah Lee Jinki, pacar Heera. Tadi kami berdua tidak sengaja bertemu Jinki Oppa di lobi,” papar Ha In.

Yoochun dan Jinki memberi hormat pada Nyonya Kim, tidak berani berkata banyak karena keduanya merasa bahwa air muka Nyonya Kim masih terlihat kacau. Mereka sedikit takut salah berucap.

“Ooo, di mana Heera? Tidak ikut bersama kalian?” Mata Nyonya Kim masih mencari-cari satu sosok lagi.

“Dia sedang menjemput eomma-nya ke bandara, dia menitipkan salam untuk Bibi dan juga do’a untuk Key,” Jinki angkat bicara sebelum Ha In sempat membuka mulut.

Ha In melirik pada Jinki, ia tahu namja itu sedang berbohong. Ke bandara? Ha In tahu pasti eomma-nya Heera tidak sedang keluar negeri dan bagaimana mungkin Heera menjemputnya? Namun Ha In memilih bungkam, tidak ingin membuat suasana menjadi runyam lagi.

“Ahhh, iya Bi. Bagaimana keadaan Key? Bolehkah kami melihat ke dalam?” Ha In meminta izin, waktunya tidak banyak karena ia harus membantu eonni-nya.

“Key masih tidak sadarkan diri. Dokter bilang Key kehilangan terlalu banyak darah, untung saja stock darah golongan B tersedia, jadi cepat tertolong. Namun, dokter mengatakan bahwa Key mengalami benturan di kepalanya, tidak terlalu keras namun dampaknya belum bisa dipastikan selama Key belum siuman. Bibi harap tidak terjadi hal buruk padanya,” jawab Nyonya Kim lemah. Ia kemudian melanjutkan, “Tapi kalau kalian tetap mau bertemu Key, tunggulah sampai orang yang di dalam keluar, harus bergantian. Hana dan teman namja-nya belum keluar, mungkin masih ingin bicara pada Key.”

“Teman? Namja? Siapa, Bi?” Ha In mengernyitkan dahi. Sepengetahuannya, Hana tidak dekat dengan namja lain, kecuali Key.

“Kalau tidak salah namanya… Kim Jonghyun, entah, aku sedikit lupa.”

Ha In menelan ludah, menahan rasa kesal yang seketika mencuat. Ingin rasanya ia berteriak pada Hana, tapi ini adalah rumah sakit.

***

Tidak, sudah lama ia tidak merasakan bagaimana getaran tubuhnya bergejolak ketika darah segar bertumpahan, mengalir di atas aspal jalanan. Darah, bukan sesuatu yang menakutkan ataupun tabu lagi baginya. Puluhan hantaman keras telah diterimanya, mewarnai perjalanan hidupnya bahkan tubuhnya pun pernah meronta karena terlalu banyak kehilangan darah setelah luka tusuk didapatkannya dari pihak musuh.

“Ken, tidak usah diingat, bukan salah kita karena dia sendiri yang melepaskan diri.” Temannya, Nara—satu-satunya yeoja dalam kelompok Ken—berusaha mengingatkan.

“Tidak, kita juga terlalu bodoh. Andaikan setelah tubuh Key terseret lalu kita segera meraihnya, ia tidak perlu seperti ini, kepalanya tak perlu membentur trotoar.”

Nara hanya mengangguk lemah. Ya, ia pun memang sedikit merasa bersalah. Kejadiannya begitu cepat memang, semua yang menyaksikan tak sempat bergerak dan hanya bisa memandang miris, terlalu shock. “Sudah, tak apa Ken. Semua yang ada di posisi kita saat itu pun mungkin tak sempat menolong. Semuanya terjadi dalam hitungan detik, lalu apa yang bisa kita lalukan saat itu? Lagipula Ken, bukankah kita sudah sering menyaksikan hal seperti ini, kecelakaan penuh darah?”

“Nara-ya, jika yang kulihat adalah pertumpahan darah musuhku, aku tidak akan memikirkannya. Bagiku pertarungan adalah sekelumit liku yang harus kita lalui untuk bertahan hidup. Tapi, dia? Apa kau tidak memikirkan sesuatu tentang orang itu?” Ken memicingkan mata, ia berusaha mencerna apa yang ditangkap inderanya malam itu. Ken melanjutkan, “Nara-ya, sesungguhnya orang itu adalah orang yang polos, namun sedang terjebak dalam masalah. Nggg, dia dilarang minum alkohol oleh eomma-nya, terkesan terlalu dibayangi oleh aturan eomma-nya. Bahkan, dia tidak ingin pulang.”

Nara menggulum permen karetnya sekali lagi, ia sebetulnya tidak terlalu peduli pada sosok yang tertabrak itu. Ia lebih peduli pada Ken, namja itu terlihat termenung sejak pagi beranjak, tidak sekalipun hengkang dari duduknya.

“Nara-ya. Kau ingin tahu kisahku? Dulu, aku punya adik laki-laki, dia memilih bunuh diri karena merasa terkekang oleh appa-ku. Aku yang saat itu tengah berjuang untuk bertahan hidup dengan eomma-ku, tidak kuasa menahan emosi. Adikku, adalah satu-satunya orang yang kuanggap keluarga. Appa-ku, Eomma-ku, mereka hanyalah orang dengan gelar ‘orang tua’ namun kelakuan mereka sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah sesosok individu yang bertanggung jawab atas anaknya. Aku tidak mampu mengendalikan diriku, pada akhirnya datang menemui appa-ku, hingga… setan merasukiku dan tidak sengaja aku menghabisi pria angkuh itu. Melarikan diri, itulah yang sebenarnya telah dan sedang kulakukan hingga detik ini.” Ken bertutur panjang, untuk yang pertama kali ia menceritakannya pada orang lain, seolah beban atas rahasia yang terpendam itu sedikit lepas.

Nara terdiam. selama ini Ken selalu bungkam, tidak pernah bercerita begitu banyak tentang masa lalunya. Yeoja itu berusaha menguasai dirinya, tidak ingin menunjukkan rasa iba karena ia tahu Ken tidak suka dikasihani sedikitpun. “Lalu, apa hubungannya dengan kejadian semalam?” Setelah perasaannya stabil, Nara memutuskan bertanya.

“Sudah selayaknya setiap manusia lepas dari kerangkeng bukan? Kita terkadang menjadi tawanan dalam kisah sendiri, seperti binatang peliharaan yang tidak dapat menghirup udara di alam bebas. Kau juga pernah merasakan betapa tidak enaknya terbelenggu, bukan? Kau mengerti maksudku?

***

Hana mengusap air matanya, perasaannya bercampur aduk. Sedih melihat keadaan Key, dan rasa haru yang membaur karena baru saja ia menyaksikan Jonghyun membungkuk di hadapan Key. Mulut Jonghyun memang terkunci rapat, namun sorot mata namja itu membuat Hana yakin kalau Jonghyun tengah menyesali sesuatu.

Mata Key masih terpejam.  Perawat ruangan mengatakan Key mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya yang bergesekan dengan aspal, dan luka terparah terdapat keningnya karena bagian itu bukan hanya bersentuhan dengan badan jalan, namun juga sempat terbentur meskipun sepertinya tidak terlalu keras. Luka di kening itu bahkan harus mendapatkan jahitan cukup panjang karena kulitnya terkoyak.

Hana tidak berani menyentuh Key barang sedikitpun, ia khawatir tangannya akan mengenai luka Key. “Key, cepat pulih. Kembalilah bersama kami,” bisik Hana lirih sebelum akhirnya ia meraih tangan Jonghyun, mengajak namja itu meninggalkan ruangan.

Tatapan maut Ha In, itulah yang Hana dapatkan begitu ia keluar. Hana tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya, tapi ini bukan momen yang tepat untuk menjelaskan. Ada banyak orang yang akan mendengar nantinya, termasuk Nyonya Kim.

“Aku akan ke rumahmu, nanti malam.” Ha In menekankan suaranya, berbisik begitu Hana melewatinya. “Pengkhianat,” tuduh Ha In pelan, dengan penuh rasa marah.

Hana tidak menjawab, ia berlalu meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan dengan Nyonya Kim. Berjalan tertunduk, tidak juga bisa menangis karena di sebelahnya masih ada Jonghyun. Rasa gengsinya terlalu tinggi, tidak ingin Jonghyun memiliki alasan untuk mengejeknya ‘cengeng’.

“Hana-ya!” Tangan Jonghyun mendarat di bahu Hana, tanpa izin ia merangkul tubuh yeoja itu. “Jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan.” Jonghyun mencoba memunculkan semangat Hana sedikit saja.

“Tidak, apakah bersedih sehari layak dikatakan tenggelam dalam kesedihan? Kau berlebihan,” tanggap Hana pelan, datar.

Jonghyun mengangguk, membenarkan ucapan yeoja itu. Ia terdiam sejenak lalu berkata, “Hana-ya. Sebetulnya, aku ingin berterima kasih padamu. Tapi ini bukan kondisi yang tepat untuk bercerita. Malam ini, hanya malam ini, aku bersedia mendengarkan keluh kesahmu, menahan setan di dalam tubuhku, dan menjadi pendengar yang baik. Bagaimana?”

“Siapa yang bilang aku butuh teman bercerita? Oh, apalagi kau adalah calon pendengarnya. Lebih baik aku menahan seribu luka daripada bercerita padamu lalu kau mencemoohku,” Hana berujar malas, menatap Jonghyun jengah. Ia merasa risih pada tangan Jonghyun yang masih ada di bahunya. “Lepaskan aku, kau bisa memeluk In Young dengan mudah, tapi tidak semudah itu melakukannya padaku.”

***

Semua yang samar itu perlahan menampakkan kejelasan. Merasakan seluruh perih di sekujur tubuhnya, tampak luka-luka yang telah mengering maupun yang masih terlindugi perban dan plester. Ia berusaha sedikit menengok, melirik pada selang infus yang tergantung pada tiang besi di sebelah ranjangnya.

Ia masih ingin mengedarkan pandangannya, mendapati tampak belakang punggung eomma-nya, duduk namun kepalanya tertidur di atas meja dengan laptop yang masih menyala. Jam dinding menunjukkan bahwa hari telah berganti, lewat satu jam setelah pukul 12 malam. Key berusaha mengingat berapa lama ia telah terbaring di tempat ini, dia tak berhasil mendapatkan jawabannya.

Tidak jelas, ia dapat mengingat kejadian malam itu walau tidak sepenuhnya. Ia hanya mengingat sedikit, hal-hal yang terjadi sebelum akhirnya gelap menyelimuti. Mabuk berat, meninggalkan bar, lalu bertemu seorang yeoja. Apa lagi? Masih mencoba mengingat, ia kemudian dapat melihat bayangan sosok-sosok yang ditabraknya, seolah terhampar di hadapan mata. Ken, ia berhasil mengingat satu nama itu.

“Ken?” gumamnya, nyaris tak bersuara. “Ken? Ken? Ken? Keren? Benarkah? Mengapa?” Ia sendiri tidak mengerti maksud ucapannya secara pasti. Yang ia tahu, ia berhasil mengingat nama orang itu dan apa kesan pertama yang ditangkapnya dari seseorang yang bernama Ken itu.

Rasa sakit menyerang kepalanya, berpikir terlalu banyak rupanya. Matanya tidak kuasa untuk terjaga, rasanya begitu sakit, seakan syaraf-syarafnya berontak menyuruh organ itu terbungkus dalam kelopak mata yang terkatup.

To Be Continued

Thanks ya buat semua yang udah mau baca. Mau masukan dan opininya ya? ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “Namja – Part 5

  1. hyaah.. Bacanya musti pelan2.. Biar paham.. Tpi ternyata masih banyak yg ga nyangkut.. Hehe..
    Key dah sadar?? Ah leganya.. Mudah2an cpt sehat..
    Jjong minta maaf?? Dan,, jinki jg b’niat minta maaf??
    Ah, mudah2an ha in dan hana ga harus bertengkar hebat.. Bertengkar sama sahabat sendiri tu sakit bgt rasanya..
    Dan terakhir.. Makin seru aja.. Next ditunggu..

  2. udah terbit part 5 nyaaaaa…. Cerita bibib eonn selalu bagus deh, apalagi kata2nya yang indah kkkk~~~~… Tapi eonn mau sedikit protes gpp ya? Kok Key d part ini munculnya cuman dikit sih?? padahal dia kan cast utama, tapi munculnya cuman beberapa segmen *pplakkkk abisnya aku penasaran banget a nasib Key…
    Yaudah cuma itu eonn, typo aku kagak nemu dan pasti ceritanya okeee punya cuman tambahin porsi Key aja *maksa
    Next part ditunggu b^^d

    1. Di part 6 banyak klo ga salah key’na…

      Kan di part ini Key lg habis kecelakaan, apa enaknya nyeritain orang lg terbaring #ngeles

      Eh, tp emang ff ini tuh punya banyak kisah, maksudnya tiap cast punya cerita penting. Jadi, mungkin porsinya ya dibagi2, hehe

      Yoii, ditunggu ja ya part 6-nya

      Thanks fa

  3. Wah,syukurlah akhirnya key sadar jg…kyknya jinki,heera,jg jonghyun nyesel bgt,aplg heera…kyknya dy syok bgt gitu…
    Kyknya ken dkk itu misterius bgt gitu…kyknya mrk g cm sekedar numpang lwt doank alias bakal jd bagian dr konflik.lht aja cranya ken nyambungin masa lalunya sm kecelakaan key…apalagi key jg langsung inget sm ken…
    Lanjut bib…makin seru & bikin penasaran nih…

  4. aku baru ngebut dari part sebelumnya. Ya ampun, aku suka sekali masalah persahabatan kaya gini. Next part jangan lama yah. FFnya keren sih

  5. jgn bilang nnti key mengikuti jejakken
    huaaaa key jauh2 dri ken… q punya firasat buruk
    #plak di keplak mak nya key… seharusnya itu tgas q utk memperingatinya” katanya tegas..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s