I’ll Be The One To Love You

Author: Yamashita Michiko / Marie Veibra

Main Cast : Lee Jinki (Onew), Young Shinmi

Support Cast : Kim Jonghyun as Young Jonghyun, Choi Minho

Other Cast : Lee Taemin, Eun Yeonlee, Kevin Woo, Lee Michi

Genre : Romance, Sad

Lenght : Oneshoot

Rating : 15

Summary : Aku akan selalu tetap mencintaimu, menjagamu, dan menjadi pendamping hidupmu. Tak peduli aku dengan fisikmu. Aku hanya mencintaimu.

A. N. : annyeong annyeong… ff saya kali ini terinspirasi dari lagunya James Ingram “Forever More” yang dinyanyiin Onew. Dan kali ini saya membawa bling bling jjong dengan marga yang bukan marganya. Mian ya untuk blingers. Terus, ff ini juga terinspirasi dari sebuah ftv, tapi saya lupa judulnya, bahkan intin ceritanya sama kayak ftv itu, cuman alurnya saya buat sendiri. Jadi mian ya bagi yang pernah nonton ftv itu, soalnya saya suka banget sama ftv itu dan bikin saya terobsesi untuk buat cerita itu tapi versi saya. Sekian dulu penjelasan dari saya, saya harus menyudahi pembukaan ini. Happy reading ^.^

• #Backsound : Forever More By James Ingram. Covered By Lee Jinki

Pagi ini adalah pagi yang cerah dan bersahabat untuk seorang yeoja ceria yang mulai kemarin memutuskan untuk menghabiskan sebagian waktu libur kuliahnya di Villa puncak di daerah Seoul. Yeoja itu nampak sangat ceria dengan ekspresi wajah bahagianya. Dia adalah Young Shinmi, biasa dipanggil Shinmi oleh teman dan keluarganya, beserta namjachingunya. Ia seorang siswi di Chungwoon University yang memiliki image sebagai siswi pintar dibidang akademik dan non-akademik, tapi ia sering telat masuk kuliahnya.

Shinmi keluar dari pintu utama villanya. Ia mengenakan pakaian yang cocok untuk cuaca disekitarnya saat ini. Ia mengenakan sweater tebal yang panjangnya selutut berwarna dark chocolate dengan lengan panjang. Ia merentangkan kedua tangannya kesamping menikmati betapa sejuknya cuaca saat ini. Ia menghirup dalam-dalam angin semilir yang menyapu wajahnya dengan memejamkan kedua matanya. Aroma daun tehlah yang tercium oleh hidung Shinmi ketika ia menghirup udara disekitarnya. Ia membuka perlahan kedua matanya mencoba menyaksikan kembali pemandangan yang begitu indahnya. Rambutnya yang terurai cukup melindungi leher jenjangnya dari angin yang sejuk saat ini. Lagi-lagi ia tersenyum dan kali ini menunjukan gigi-gigi rapinya melihat pemandangan dihadapannya. Ia sudah siap dengan membawa kamera slr yang telah terkalungkan dilehernya. Masih diposisi yang sama Shinmi mulai memotreti pemandangan yang begitu indah. Ia berjalan perlahan kesegala arah mencari pemandangan indah lainnya. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan berlari menghampiri pintu utama villanya.

“Eomma! Aku keluar dulu ya! Tak jauh kok dari sini. Annyeong!” Shinmi langsung berlari kembali keposisi semula dan mulai memotreti lagi pemandangan. Ia berjalan kecil ke segala arah mencari pemandangan lainnya dengan posisi kamera masih ia bawa dan menempel di wajahnya. Kali ini ia menemukan yang paling indah baginya dan sangat ingin ia abadikan dengan hati-hati agar hasinya juga indah.

“Nah, sudah pas.” Shinmi langsung menekan tombol potret pada kameranya. Lalu ia terlihat sejenak hasil potretannya. Dan potretan kali ini adalah potretan yang gagal baginya. Dan yang sialnya lagi didalam hasil potretannya itu terdapat seorang namja yang berdiri lumayan jauh didepannya yang sedang membelakanginya. Seharusnya jika ada seseorang didalam sebuah potretan seharusnya hasil potretan itu akan menjadi indah membawa kesan terdapat orang yang beraktivitas dalam hasil potretannya. Tapi kali ini tidak untuk Shinmi, ia menatap kesal hasil fotoannya. Lalu ia bergegas untuk memotret sekali lagi pemandangan yang sangat ingin ia abadikan itu.

“Issh. Siapa sih namja itu ?!!” Shinmi menatap sejenak namja didepannya yang membelakanginya.

“HEY! Kau!” Shinmi meneriaki namja didepannya. Namja itu langsung diam dan perlahan membalikan badannya.

“Aku ?” Namja itu menunjuk dirinya sendiri.

“YA! KAU! Menyingkirlah dari sana!” Lagi-lagi Shinmi berteriak.

“Kau lihat tidak fotografer sedang mengabadikan pemandangan ?!! Tapi kau ada disana membuat potretanku gagal. Menyingkirlah!” Lanjutnya yang tetap berteriak.

“Ya! Aku disini juga sama sepertimu! Jangan seenaknya! Lihat tidak pelukis sedang mencari pemandangan yang tepat untuk dilukisnya!” Namja itu juga tak kalah berteriaknya dengan Shinmi.

“Ya! Paling tidak kau menyingkirlah sebentar! Memotret hanya sebentar!”

“Ne! Arraseo!!” Namja itu bergeser kekanan dari posisinya. Shinmi sudah ancang-ancang siap untuk menekan tombol potret pada kameranya.

“Hana… Dul… Set…” Ckrek! Pemandanganpun berhasil terpotret. Tapi lagi-lagi Shinmi menatap kesal hasil potretannya. Karena lagi-lagi didalam fotonya terdapat namja tadi lagi.

“Ya! Kenapa kau selalu ada dalam fotoku ?!! Apa kau numpang eksis di hasil potretanku ?!!”

“Ya!! Yeoja cerewet!! Apa maksudmu ?!!”

“Tolonglah! Kalau kau memang ingin eksis dan narsis, nanti saja setelah hasil potretanku dipemandangan kali ini berhasil. Baru aku akan memotretmu! Kumohon!” Awalnya Shinmi berteriak tapi teriakan itu berubah menjadi rengekan. Namja itu tak ingin mendengar omelan Shinmi lagi, ia langsung meninggalkan Shinmi yang ingin melanjutkan aktivitasnya. Sehingga namja itu kini telah hilang dari jangkauan pengelihatan Shinmi.

“Sekarang lebih baik.” Shinmi langsung menyiapkan kameranya lagi dan memotret dengan hati-hati. Dan, ckreek!

Akhirnya Shinmi berhasil memotret pemandangan yang ia inginkan kali ini. Ia sekarang menunggu hasil potretannya apakah hasilnya memuaskan dirinya.

“HAH!” Shinmi bernafas lega melihat hasil potretannya yang kali ini memuaskannya.

“Eotteohke ?” Suara namja yang familiar ditelinga Shinmi itu tiba-tiba muncul dan membuat Shinmi langsung melompat kecil karena kaget.

“Ya! kau mengagetkan saja! Sejak kapan berada disini ?” Shinmi mengatur nafasnya yang kelagapan karena kaget. Tapi ia usahakan agar volume suaranya tak berubah.

“Sejak aku menghilang tadi. Aku langsung berpindah kebelakangmu.” Jawab namja itu santai.

“Ya sudahlah. Gomawo sudah baik padaku untuk pemotretanku kali ini.” Shinmi langsung berjalan melewati namja itu dan sama sekali tak menoleh ke arah namja itu.

“Yak! Dasar kau itu yeoja seenaknya saja!!” Namja itu langsung memegang tangan Shinmi dan menahannya.

“Mau apa lagi kau ?” Tanya Shinmi dengan nada angkuhnya.

“Mana janjimu ?”

“Mwo? Janji apa ?” Shinmi menautkan kedua alisnya.

“Katanya kau mau memotretku.”

“Yak! Ternyata kau narsis juga ya ? Aku tadi hanya asal ngomong. Jadi Mian. Lagipula aku sedang tak mood memotret seseorang.” Shinmi hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh namja itu.

“Yaa! Kau harus menepati janjimu! Hanya satu foto saja! Kajja!!”

“Ya sudah. Baiklah.” Shinmi sudah tinggal menekan tombol potretnya dengan kameranya yang sudah mengarah ke namja itu.

“Ya! Palli! Berposelah! Aku tidak punya banyak waktu!”

“Ne. Bersamaku!” Namja itu langsung menarik tangan Shinmi sehingga ia sudah berdiri disampingnya untuk siap difoto.

“Yak!! Memangnya kau siapaku berfoto denganku ?!!” Shinmi menatap kesal namja disampingnya itu.

“Sudahlah. Ingin cepat pulang kan ? Tak usah membantah. Permisi bu, tolong bisa fotokan kami berdua tidak ?” Namja itu tiba-tiba menghentikan langkah kaki seorang yeoja pekerja kebun ini. Dan yeoja itu meresponnya dengan senyumannya. “Ne. Geurom.”

“Mana kameramu ?” Shinmi langsung mengasih kameranya dengan ekspresi wajah enggan kepada namja itu.

“Ini bu, silahkan.” Namja itu langsung mengambil posisi disebelah Shinmi. Namja itu langsung mengembangkan senyumannya dan langsung merangkul pundak Shinmi untuk pose foto yang ia inginkan.

“Issh!” Shinmi menatap kesal tangan namja yang merangkulnya itu. Dan, ckreek! Foto berhasil terambil. Namja itu langsung melihat hasilnya, namun raut wajahnya menunjukan kekecewaan.

“Bu, bisa tolong sekali lagi ?” Ibu yang dimaksdunya hanya mengangguk dengan senyumannya. Namja itu langsung memberikan kameranya lagi.

“Hey! Kalau kau ingin segera pulang, tersenyumlah arra !!”

“Arraseo!” Jawab Shinmi sinis.

“Hana.. Dul.. Set.. Ckreek!” Namja itu langsung melihat foto itu dan kali ini raut wajahnya menunjukan kepuasan dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.

“Kamsahamnida bu.” Namja itu menerima kamera Shinmi. Dan membalikan badannya menghadap Shinmi setelah ibu yang memotret dirinya sudah tak ada disekitarnya lagi.

“Ini kameramu. Gomawo.” Namja itu langsung memberikan kamera Shinmi kepada pemiliknya. Shinmi menerima kameranya dengan kasar dan langsung berlalu meninggalkan namja itu.

“Hey! Namaku Lee Jinki!! Namamu siapa ?” Seru namja bernama Lee Jinki itu kepada Shinmi yang belum jauh darinya.

“Shinmi! Young Shinmi!” Balas Shinmi tak kalah berteriaknya dengan posisi yang sama, meninggalkan Jinki.

“Hey! Fotonya jangan kau hapus! Lain waktu aku akan ke villamu atau bertemu denganmu meminta foto itu! Arra!!”

“Arraseo!!” Jawab Shinmi dengan teriak lagi. Jinki lalu mengembangkan senyumannya memandangi punggung Shinmi yang lama kelamaan menghilang dari jangkauan pengelihatannya.

*****

Malamnya, lebih tepatnya didalam villa yang ditempati oleh keluarga Shinmi. Di sebuah meja makan telah terkumpul tiga orang anggota keluarga. Kondisi mereka saat ini hampir setiap hari wajib terlakasanakan. Kesunyian dan keseunyian… Itulah suasana yang melanda setiap mereka makan besama seperti saat ini. Mereka langsung makan seenaknya. Tak peduli si anggota keluarga yang lebih muda dari yang lebih tua itupun mendahului makan tanpa mempersilahkan orang tuanya makan terlebih dahulu. Terlebih saat mereka makan, satu diantara mereka sama sekali tak ada yang mengucapkan ucapan selamat makan dan berdoa bersama yang pada umumnya selalu wajib terlaksanakan.

“Jonghyun-ah, mana dongsaengmu itu ? Kenapa ia tak ikut makan ?” Tanya eomma Shinmi disela-sela aktivitasanya yang memecahkan keheningan.

“Molla. Mungkin saja dia tak mood makan atau sudah makan duluan.” Jawab Jonghyun dengan adegan yang sama dengan eommanya.

“Lebih baik kau panggil dia saja.” Sang appa pun angkat bicara.

“Ne.” Jawab Jonghyun dengan ekspresi wajah datar dan langsung berjalan memasuki kamar Shinmi yang tak tertutup.

“Shinmi-ya, segeralah makan.” Ujar Jonghyun yang belum memberhentikan langkah kakinya, karena memang ia belum sampai ditujuannya.

“M.m.wo?!” Jonghyun melompat kecil dan terbelalak kaget melihat penampilan dongsaengnya.

“Wae ?” Shinmi mengeluarkan senyuman angkuhnya.

“Kau cantik sekali malam ini. Tumben sekali. Sepertinya kau ada acara ?” Jonghyun menaikan salah satu alisnya.

“Ne, aku ada acara. Dan malam ini aku tak dinner divilla ini.” Shinmi memainkan rambutnya dan tangan satunya sibuk dengan ponselnya.

“Jangan bilang kau ada acara dengan namja brandalan itu ?”

“Ne, terseralah kau bilang apa tentangnya. Malam ini aku ada acara dengan Minho.” Shinmi memasukan ponselnya kedalam tas kecilnya.

“Ya!! Sudah oppa bilang, jangan berpacaran dengan namja seperti itu! Dia itu nappeun namja!! Kau harus hati-hati dengannya! Jika oppa jadi appamu, langsung oppa larang keras hubunganmu dengannya. Kau beruntung karena orang tua kita saat ini tak seberapa memikirkan hal itu.” Jelas Jonghyun panjang lebar yang membuat Shinmi mendengus lalu meniup poninya.

“Sudah ceramahnya ?” Shinmi kali ini bersikap berbeda dengan oppanya, dingin. Biasanya saja ia manja dengan oppa tersayangnya itu. Tapi tidak untuk kali ini ia justru bersikap dingin dengan oppanya. Jonghyun hanya bisa sabar menghadapi dongsaengnya yang keras kepala itu. Shinmi berjalan meninggalkan oppanya dan menuju meja makan.

“Eomma! Appa! Aku pergi dulu, annyeong!!” Sifat childishnya kembali muncul.

“Eodiya ?”

“Dinner dengan namjachinguku. Tak akan lama. Annyeong!!” Shinmi langsung berlari sehingga eommanya yang sempat ingin bicara lagi terurungkan sudah.

**

Sesampainya disebuah restaurant yang cukup romantis itu, Shinmi celingak-celinguk mencari sesosok namjachingu yang sangat ia sukai itu, entah suka atau justru sudah jatuh cinta Shinmi kepada namjachingunya itu, sehingga ia sama sekali tak mau tau cemoohan dari teman-temannya tentang namjachingunya. Terdengar derapan langkah kaki mendekati Shinmi dari belakang.

“Permisi noona, apakah anda yang bernama Young Shinmi yang telah ada janji diresto ini kan ?” Tanya seorang pelayang yang ternyata adalah pemilik dari derapan kaki tersebut.

“Ne.” Shinmi mengangguk berharap.

“Silahkan anda ke meja nomor 9 didalam ruangan sana!” Pelayan itu mengarahkan sebuah ruangan khusus dan menyuruh agar Shinmi memasukinya. Shinmi menautkan kedua alisnya, mencoba memastikan sekali lagi apakah orang yang berada didalamnya adalah namja yang sedang dinantinya.

“Silahkan noona!” Pelayan itu terkesan menyuruh Shinmi agar segera memasuki ruangan tersebut yang membuat Shinmi sadar dari lamunannya.

“Ah ne, kamsahamnida.” Shinmi berjalan perlahan menuju ruangan tersebut dengan tatapan mata tetap mencurigai seseorang yang ada didalamnya.

‘Tumben sekali Minho membuat surprise seperti ini, jarang-jarang seromantis ini.’ Batin Shinmi. Dan kali ini ia sudah berjalan dan memasuki ruangan tersebut tanpa ragu. Kini Shinmi telah melangkahkan kakinya masuk. Dan hanya kegelapan lah yang terlihatnya di awal ia memasukinya. Semakin kedalam ruangan, semakin berkurangnya penerangan, karena penerangan dari luar ruangan sudah menghilang karena pintu ruang tersebut telah tertutup. Ia melangkahkan kakinya lagi, ia kaget tadi hanya gelap tapi sekarang berubah menjadi ruangan didesain untuk candlelight dinner yang cukup membuat Shinmi takjub. Ia berpikir, ‘Tadi perasaan gelap, sekarang kok indah begini ?’. Ya, Shinmi tak sadar kenapa tadi gelap, karena meja untuk candlelight dinnernya dihadang oleh seseorang, dan kenapa terang, karena seseorang itu telah tiada di posisinya. Tapi tiba-tiba ada kedua tangan yang melingkar di perut Shinmi dari belakang dan memeluknya. ‘Sepertinya ini namja.’ Pikirnya. Lalu, ada kepala seseorang yang bersandar di pundak belakang Shinmi. Dan dengan seenaknya namja itu mencium area lehernya lembut yang di awali dengan menghirup parfum Shinmi.

“Shinmi-ya, aku bahagia, sepertinya kau saat ini sudah mulai menerimaku kembali.” Ucap namja itu di sela aktivitasnya. Shinmi yang mendengar suara itu langsung melepaskan pelukan namja itu kasar dan menatap wajah namja itu sinis. Karena suara itu familiar sekali di telinga Shinmi.

“Yak! Jangan seenaknya kau Woo Sunghyun! Aku sedang ada janji, kenapa justru kau yang ada ?!!” Shinmi mulai membentak namja itu. Tapi namja itu justru tersenyum evil dan mendekati Shinmi lagi.

“Hey! Panggil aku Kevin saja! Aku sudah muak dengan nama itu! Nama waktu aku cupu. Saranghaeyo!” Lagi-lagi Kevin memeluk Shinmi dari belakang.

“Yak! Ne, ne! Kau Kevin, dan apa yang kau katakan ?!! Kau mengatakan aku mau menerimamu kembali ?!! Aku sama sekali tak pernah berpacaran dengan namja sepertimu! Dulu ex-boyfriendku bernama Woo Sunghyun, bukan kau!!” Dengan segera Shinmi menuju pintu dengan berjalan mundur lalu mengambil ponsel dalam tasnya dan menyalakan tombol powernya. Tapi hasilnya nihil, karena ponsel Shinmi Lowbatt untuk saat ini. Kevin yang mendengar umpatan Shinmi, ia senang lalu mengeluarkan senyuman evilnya lagi dan mendekati Shinmi lagi. Semakin dekat, hingga Kevin dapat merasakan dengusan nafas ketakutan Shinmi. Kali ini Kevin sudah mengunci posisi Shinmi dan mendekatkan wajahnya lagi.

“Siapa saja di luar!! Tolong aku!!” Teriak Shinmi yang berusaha menghindarkan wajahnya dari jangkauan bibir Kevin. Terbesit sebuah ide di otak Shinmi,

“Hana.. Dul.. Set..!” Shinmi berhitung pelan dan langsung menginjak kaki Kevin sekenanya. Kaki Kevin mengangkat dan kuncian Kevin dari dirinya sudah melonggar, sehingga ia takkan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Langsung saja Shinmi membuka knop pintu dan lari kabur secepatnya, tapi Kevin tak begitu saja membiarkan usaha Shinmi berhasil. Di sisi lain, sedari tadi ternyata ada seorang namja yang menatap ruangan khusus itu penuh dengan kecurigaan dari meja nomor 7, ditatapnya terus sehingga tatapannya sama sekali tak beralih. Kemudian, ketika pintu itu terbuka ia langsung terbelalak kaget dan langsung berlari menghampiri yeoja yang keluar ketakutan. Tetapi, saking takutnya Shinmi, ia sampai menabrak tubuh namja yang menghampirinya.

“Mianhae, Mianhae.” Shinmi tetap menunduk dan melanjutkan larinya tanpa melihat namja yang ditabraknya. Tapi Shinmi berhenti sejenak dan mencari sesosok Minho. “Di mana ya ?” Shinmi menggaruk kepalanya kebingungan. “Selamat!!” Shinmi menunjuk seorang yang duduk di meja nomor 3, lebih tepatnya dialah Minho. Shinmi langsung menghampirinya dan bercerita semuanya lalu pindah ke restaurant lainnya. Kembali ke masalah utama di ruangan khusus tadi terdapati dua orang namja yang saling menatap sinis.

*****

Saat ini masih sama berada di dalam Villa Shinmi. Di sebuah meja makan, terjadilah moment-moment sarapan yang sepertinya sudah merupakan tradisi di keluarga Young ini. Sarapan keluarga yang penuh dengan kebungkaman suara dan keheningan suasana. Semuanya telah terhanyut dalam suasana mereka masing-masing. Shinmi menghentikan aktivitas makannya dan menaruh sendok garpu yang ia pegang perlahan, lalu menatap satu persatu anggota keluarganya.

“Eomma, aku pergi dulu ya, annyeong!” Shinmi berjalan dengan tatapan lurus.

“Eodiega ?”

“Ke kebun the kok eomma. Gak jauh kok, gak lama.”

“Oh ne! Hati-hati!” Shinmi tersenyum manis.

Shinmi berjalan keluar villa dengan ketenangan yang melanda hatinya. Ketenangan dan ketentraman, ia nampak bahagia dan bersemangat karena akan memotret pemandangan kebun teh lagi. Shinmi telah sampai di kebun teh. Yang ia lihat, banyak juga tukang kebun teh yang mengerjakan tugasnya dengan ikhlas dan senyuman. Shinmi kali ini berniat untuk mengabadikan sesuatu yang ada seseorang beraktivitas di dalamnya. Dan sekarang Shinmi telah menemukan pemandangan sesuai hatinya, ia melangkahkan kaki lagi agar posisi untuk memotretnya pas. Shinmi sudah siap dan tinggal menekan tombol capturenya. Tapi ia urungkan dulu, ia berjalan menuju seorang yeoja paru baya yang mengerjakan tugasnya sebagai tukang kebun.

“Permisi ahjumma.”

“Ne ?”

“Perkenalkan, nama saya Young Shinmi. Apa saya boleh memotret saat anda bekerja seperti saat ini ?” Yeoja paru baya itu tersenyum.

“Ne, ne. Tak usah bertanya, pasti sudah saya bolehkan.”

“Oh ne ahjumma. Kamsahamnida.” Shinmi berjalan mundur dan… Ckreek! Aktivitas berhasil diabadikan oleh Shinmi.

“Sudah ahjumma. Kamsahamnida.” Shinmi menyunggingkan senyumannya dan berjalan meninggalkan yeoja tadi menuju ke area yang ingin ia potret selanjutnya. Kali ini Shinmi menemukan area yang siap dipotret, ia berjalan mundur agar hasil potretannya sesuai dengan keinginannya. Ia berjalan mundur terus namun perlahan. Tapi tiba-tiba tanpa disengaja Shinmi menabrak tubuh seorang namja yang juga bekerja dari belakang yang saling membelakangi.

“Mianhaeyo ahjussi, jeongmal mianhaeyo.” Shinmi berbalik badan dan menunduk, tapi ketika posisi kepalanya kembali normal, ia takjub dengan pemandangan alam yang ia lihat saat ini. ‘Waah, sepertinya ini yang harus di abadikan! Apalagi ada ahjussi ini.’ Pikir Shinmi, ia tersenyum berharap.

“Mianhaeyo ahjussi kalau saya mengganggu anda. Bolehkah saya memotret anda saat bekerja seperti ini ?”

“Tidak boleh.” Jawab namja itu dingin dengan posisi yang sama.

“Yaah, tolonglah ahjussi. Saya ingin jika hasil potretannya baik, maka nanti akan saya dokumenkan dan memasukannya kedalam galeri saya.” Namja itu tak menjawab dan hanya diam kata dalam aktivitasnya. Tapi di sisi lain, namja itu tersenyum lalu perlahan membalikan tubuhnya menghadap Shinmi.

“Perasaan kalau fotografer memotret itu sesuka hatinya deh, tanpa izin. Tapi kenapa kau minta izin dulu ? Ahh, jangan-jangan kau ingin dekat-dekat denganku ya ?” Ucap namja itu dengan PDnya.

“Issh. Yak! Kau lagi! Siapa juga yang ingin dekat-dekat denganmu ?! Justru aku yang tanya kenapa kau selalu menunda kesenanganku ?” Shinmi berkacak pinggang.

“Ya itu kan hakku, kebetulan juga kita bertemu. Kemarin aku ingin melukis, lalu sekarang aku ingin membantu pekerjaku mengerjakan kebun ini.” Namja itu membuka topi kebunnya.

“Mwo? Kau pemilik kebun ini ? Cih. Aku gak gampang dibohongi ya!”

“Ya sudah. Memang bukan aku, tapi orang tuaku, Lee’s Family. Um…” Namja itu menurunkan kepalanya melihat raut wajah Shinmi.

“Hey! Apa yang kau lihat ?!!” Volume suara Shinmi yang besar itu cukup membuat Jinki meloncat kaget.

“Yaah! Kau itu yeoja jutek sekali! Um… Matamu rabun ya ?” Shinmi dibuat mendelik gara-gara perkataan Jinki barusan.

“Yaa! Wajahmu menyeramkan! Kau itu tau namja setampan dan manly begini kau panggil ahjusshi ??”

“Aissh. Suka-suka aku!” Shinmi hendak berbalik badan dan meninggalkan Jinki, tapi Jinki lebih dulu menahan Shinmi agar tak pergi dulu.

“Apa lagi ?” Bentak Shinmi. Jinki hanya bisa mendengus sabar.

“Kau lupa dengan tujuanmu ?” Shinmi menaikan salah satu alisnya.

“Mwo?”

“Katanya kau ingin memotretku dengan kondisi bekerja ?”

“Moodku hilang.”

“Yakin ? Padahal, cuaca saat ini bersahabat sekali. Takutnya sih kalau hujan.” Ucap Jinki dengan menatap langit yang cerahnya mulai berkurang. Perkataan Jinki kali ini membuat Shinmi berpikir lagi.

“Kau ada benarnya. Ya sudah, siaplah berpose! Yang bagus!” Jinki hanya mengeluarkan wink eyesnya sebelum berpose. Jinki mengambil pose sedang memetik daun teh yang siap dipetik. Dan tak harus menunggu lama, aktivitas pun berhasil diabadikan di kamera Shinmi dan hasilnya memuaskan.

“Eotteohke ? Bagus kan ?” Jinki meninggikan badannya agar dapat melihat hasil potretan yang dihalangi tangan Shinmi.

“Ihh, mau tau ajah !” Shinmi memindahkan posisinya sehingga Jinki sama sekali tak dapat melihat potretannnya.

“Hey, siapa namamu lupa aku ?” Shinmi menggaruk kepalanya sambil mengalungkan kameranya lagi.

“Lupa ?!” Shinmi hanya mengangguk.

“Yaah, cantik-cantik pelupa. Ingat-ingat ya! Lee Jinki!” Ucap Jinki yang diakhiri dengan ejaan namanya.

“Oh! Ne, ne. Ternyata kau ada baiknya. Gomawo!”

“Eitth! Tunggu!” Jinki menahan Shinmi yang hendak meninggalkannya.

“Apa lagi?”

“Di dunia ini tak ada yang gratis kan ya ?”

“Hee? Maksudmu ?”

“Hey! Michi-ya!” Jinki meneriaki seorang yeoja yang sibuk dengan bawaannya.

“Mwo Oppa ?” Yeoja bernama Michi itu menyipitkan matanya melihat Jinki yang lumayan jauh darinya.

“Sini sini!” Michi langsung berlari kecil menghampiri Jinki.

“Shinmi-ya, fotokan aku dengannya ya!” Jinki langsung merangkul bahu Michi.

“Hey! Hasil fotoannya bagus loh! Jangan nolak!” Kata Jinki berbisik tepat di telinga Michi. Shinmi yang melihat itu sama sekali tak mengerti apa-apa sehingga ia mengerutkan keningnya. Dan Michi hanya mengangguk nurut. Dan tak perlu menunggu lama lagi, foto pun berhasil diabadikan. Jinki langsung menyaut kamera Shinmi dan dilihatnya dengan senyumannya.

“Aigo! Hasilnya bagus! Gomawo!” Tanpa menjawab perkataan Jinki, Shinmi langsung meninggalkan mereka berdua dengan raut wajah suntuk.

“Oppa! Siapa sih yeoja itu ? Dingin sekali ?” Ucap Michi lumayan pelan ketika keberadaan Shinmi sudah tak ada di sekitarnya.

“Namanya Shinmi, anak kedua dari keluarga pemilik perhotelan Young corp.”

“Oh! Jelas! Dingin dia, pasti sombong ya?”

“Aniyo. Dia sama sekali tak sombong, hanya saja dia begitu gara-gara keluarganya yang sangat sibuk dan namjachingunya yang jarang kontak-kontakan dengannya. Kasihan oppa melihatnya.” Jinki menundukan kepalanya melihat telapak tangannya yang ternyata membawa sebuah kalung. Seketika itu Jinki terbelalak kaget.

“Kyaa Jinki-ya!! Jeongmal baboya kau itu!” Jinki menepuk keningnya sendiri.

“Wae oppa ?” Michi hanya heran melihat kelakuan Jinki.

“Tadi tujuan oppa itu mau kasih ini!” Jinki memperlihatkan kalung yang ia bawa.

“Kalungnya ?” Jinki hanya mengangguk.

“Kok bisa ada di tangan oppa ?”

“Kemarin oppa menolongnya dari mantannya yang kurang ajar!” Jinki lumayan geram mengingat kejadian beberapa hari lalu.

“Oh! Iyaya oppa, kasihan dia.”

*****

Di dalam kamar Shinmi, terlihatlah Shinmi yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia menatap kesal layar lcd ponselnya. Ia selalu mengetikan sesuatu yang sepertinya adalah sms kepada namjachingunya. Tapi setelah ia selesai mengetikan sms, ia tunggu sudah lumayan lama sambil tetap menatap ponsel itu, tapi sama sekali tak ada balasan sms dari namjachingunya.

“ARRGHH!!” Ia mengacak kasar rambutnya dan membuang ponselnya sekenanya di kasurnya.

“Aissh! Shinmi-ya! Apa-apaan kau ini?!! Pasti gara-gara namja sialan itu ya ?” Tiba-tiba suara Jonghyun yang datang tapi tak ada pemiliknya itu pun membuat Shinmi celingak celinguk mencari sesosok oppanya.

“Heey fotografer! Aku di sini!” Suara Jonghyun lebih mengarah berada tepat di samping Shinmi, dan benar ternyata Jonghyun tiba-tiba saja sudah berada di samping Shinmi. Sejak kapan ya nih orang ada di sini ? Pikirnya.

“Issh! Kebiasaan kau itu oppa!” Shinmi menyikut pundak Jonghyun.

Di luar villa Shinmi terdapati seorang namja yang sepertinya adalah tamu di villa Shinmi. Namja itu terlihat ragu di antara menekan atau tidak bel villa Shinmi. Tapi tak lama kemudian keraguannya telah terjawab juga, ia akhirnya menekan bel villa Shinmi, dan pintu telah dibukakan oleh eomma Shinmi.

“Annyeong haseyo Ahjumma.” Namja itu menyunggingkan senyumannya ketika pintunya telah terbuka.

“Oh! Jinki-sshi, kau datang juga! Silahkan masuk!” Eomma Shinmi mempersilahkan namja bernama Jinki itu untuk masuk ke dalam villanya.

“Ne ahjumma. Kamsahamnida.” Jinki membungkukan badannya lalu baru memasuki villa kediaman keluarga Young.

**

“Jonghyun-ah! Shinmi-ya! Kemarilah!” Teriak eomma Shinmi.

“Hey Shinmi-ya! Ayo kesana! Eomma manggil kita!” Jonghyun menarik tangan Shinmi dan ekspresi Shinmi sama sekali tak bergeming, diam seribu bahasa dan raut wajah datar.

“Shinmi-ya! Tolong buatkan minuman ya!” Shinmi dari tadi hanya menunduk dan menuruti perkataan eommanya. Shinmi menuju dapur dengan tetap menunduk dan langsung membuatkan hot coffe dan hot tea. Selesainya, Shinmi membawakan 4 cangkir hot tea dan secangkir hot coffe dengan tetap menunduk sampai ia menaruhkannya di atas meja dengan ekspresi yang sama.

“Jonghyun-ah! Dari mana saja kau itu ?” Tanya eomma Shinmi kepada Jonghyun yang baru saja terlihat batang hidungnya.

“Mianhae eomma, habis dari toilet.” Jonghyun mendudukan dirinya di sofa dan menatap wajah Jinki ketika ia sudah terduduk.

“Jinki-sshi ?”

“Jonghyun-sshi ?”

“Hey! Kenapa kau bisa sampai di sini ?” Jonghyun ber high five ria dengan Jinki. Mendengar itu Shinmi langsung menegakan kepalanya menatap kaget kehadiran Jinki.

“Ya karena dia tamu kita saat ini.” Shinmi menelan ludah kali ini mendengar perkataan eommanya barusan.

“Aissh! Kau lagi!” Ucap Shinmi pelan dengan tatapan enggannya menatap Jinki.

“Ternyata kalian saling kenal ya ?” Timpal Appa Shinmi yang dari tadi hanya tersenyum saja.

“N..”

“Aniyo appa. Kita belum saling kenal. Mungkin kita pernah bertemu di tempat lain.” Shinmi memotong perkataan Jinki.

“Eomma, Shinmi tak ingin mengganggu acara kalian. Shinmi pergi dulu ya.”

“Ya! Mau kemana kau ?”

“Ke mall dekat sini kok.”

“Malam begini, lebih baik dengan oppamu saja.”

“Aniyo, aku bisa sendiri. Aku tak akan lama. Annyeong.” Shinmi langsung berlalu meninggalkan keluarganya memasuki mobilnya dan langsung melaju kencangkan mobilnya menuju tujuannya.

“Jonghyun-ah, ada yang ingin kubicarakan denganmu, tapi tidak di sini.” Bisik Jinki yang hanya didengar Jonghyun. Dan Jonghyun hanya mengangguk.

“Eomma, aku ingin mengajak Jinki keliling villa ini. Boleh kan ?” Eomma Jonghyun hanya mengangguk. Mereka berdua mulai berjalan menyusuri seisi villanya.

“Hey! Ada apa sih dengan dongsaengmu itu ? Sebenarnya kami berdua sudah saling mengenal.”

“Oh! Entah, aku sendiri juga tak tau menau tentang kondisi dongsaengku saat ini. Sepertinya ia ada masalah dengan namjachingunya,

“Oh. Biasanya kalau dia sedang galau begini dimana tongkrongannya ?”

“Di mall. Biasanya dia bermain bowling saat galau seperti ini.”

“Oh, ya sudah. Kalau gitu aku pulang dulu ya. Annyeong!

“Kenapa secepat ini ?”

“Ternyata aku lupa ada urusan malam ini.”

“Oh ya sudah.”

“Ahjussi, ahjumma, Jinki pulang dulu. Mianhaeyo kalau terlalu cepat, saya tadi ditelfon eomma saya agar segera pulang, ada hal yang ingin eomma saya katakan pada saya.”

“Ah ne, ne.”

“Annyeong!” Jinki membungkukkan badannya sebelum meninggalkan kediaman keluarga Young saat ini.

“Ne! Hati-hati!” Jinki langsung memasuki mobilnya dan menancapkan gasnya menuju ke sebuah mall terdekat di sekitar puncak sini. Dan memang hanya ada satu mall di sekitar puncak sini.

***

Jendela kamar Shinmi yang masih tertutup dan terbalut gorden itu. Shinmi menggeliat mengakhiri tidur malamnya. Ia menguap mungkin terakhir kalinya untuk mengakhiri tidur tadi malam. Ia merenggangkan kedua tangannya keatas agar otot-ototnya tak kaku. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menguceknya lalu duduk. Shinmi kaget ketika kakinya menyenggol tangan Jinki yang agak menjulur karena ia tertidur tengkurap dikasur Shinmi dngan duduk dikursi. Lalu ia lebih kaget lagi, ketika ia melihat benda yang familiar ditangan Jinki. Ya, benda itu adalah kalung pemberian namja sialan itu. ‘Kok bisa ada di namja ini ya ?’ Pikirnya. Ia langsung mengambil kalung itu dan langsung menaruhnya ke dalam tasnya.

“Kenapa sih namja ini kok ada disini ?”

“Kenapa dia selalu ngikutin aku ?” Shinmi menyamakan posisi wajahnya dengan posisi wajah Jinki. Ia menatap dalam-dalam wajah Jinki, mendekatkan wajahnya lagi. Ia memegang pipi Jinki yang tersisa, karena satunya ia sandarkan dikasur. Lalu menghelanya lembut.

“Lembut juga kulitnya.” Tiba-tiba senyuman Shinmi mulai terukir dibibirnya.

“Ternyata tampan juga namja ini.” Kini Shinmi membuka poni yang menutupi kening Jinki. Tapi, tiba-tiba tubuh Shinmi menggeliat dan seketika itu juga ia langsung berdiri tegap dan berlari menuju kamar mandi.

“Yaaa!! Kebelet pipis!!” Shinmi menutup pintu kamar mandinya kasar yang cukup membuat Jinki terbangun dari tidurnya. Jinki menguap lalu mengucek kedua matanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Kalungnya ?!! Dimana kalungnya ?!!” Jinki nampak kebingungan karena kalung yang dari tadi ia pegang sudah tiada saat ini.

“YAAAA!!!” Terdengar jeritan dari kamar mandi. Mendengar itu Jinki langsung menghampiri sumber suara.

‘Shinmi ?’ Hanya itu yang terbesit dipikiran Jinki.

“Shinmi-ya! Gwaenchana ?” Jinki mengetukan pintu kamar mandi, tapi sama sekali tak ada respon.

“Gwaenchana aniya!!” Terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.

“Tolong ambilkan handuk!!” Lanjut Shinmi tetap berteriak. Jinki langsung mengambil handuk yang tergantung didekat pintu kamar mandi.

“Ini handuknya Shinmi.” Shinmi langsung membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya keluar. Ia menatap sinis Jinki waktu menerimanya.

“Gomawo.” Pintu kamar mandi langsung ditutupnya kasar lagi sehingga mengagetkan Jinki. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka, dan Shinmi keluar hanya dengan balutan handuk ditubuhnya. Jinki yang melihat itu hanya bisa menelan ludah tak berkedip.

“Hey! Apa yang kau lihat ?!! Keluar! Aku mau ganti!!” Shinmi langsung mendorong Jinki sampai keluar dari kamarnya.

Mendengar Shinmi sedang menelfon seseorang, Jinki langsung menempelkan telinganya dipintu kamar Shinmi.

“Nanti kita ketemuan di cafe dekat puncak sini! Ada yang ingin kubicarakan denganmu! Sekaligus mengembalikan hadiah yang sudah tak berhak kupakai! Mungkin ini pertemuan terakhir kita dengan kesan yang baik! Ya sudah kalau gitu. Annyeong!”

Itulah suara Shinmi yang terdengar oleh Jinki dari luar kamar Shinmi. Seketika itu juga ekspresi Jinki menjadi cemberut.

“Jinki-ya! Ayo kita sarapan!” Jonghyun yang lewat didepan Jinki langsung menepuk bahu Jinki.

“Ah ne, ne. Aku menyusul! Duluanlah!” Jonghyun hanya mengangguk disertai senyumannya.

***

Shinmi keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi seperti akan jalan-jalan. Ia berjalan menuju meja makan yang sudah terkumpul anggota keluarganya dengan membawa tasnya ditangannya.

“Eomma, appa, oppa! Shinmi keluar dulu ya! Mau ke rumah teman.” Shinmi sudah sampai dipintu utama yang telah ia buka.

“Temanmu yang mana ?” Kali ini Jonghyun angkat bicara.

“Um… Temanku yang Hyesun ituloh oppa! Dia yeoja kok! Rumahnya gak jauh dari sini, tak akan lama aku! Annyeong!” Tanpa mendengar balasan dari oppanya, Shinmi langsung berlari menghiraukan perkataan yang mungkin akan dikatakan salah satu anggotanya. Tapi untungnya anggota keluarganya sudah tak ada yang menyanggah lagi dan mempercayakan Shinmi. Jinki yang mendengar itu mengurungkan niatnya untuk mengambil nasi, padahal sebelumnya ia hendak menyiapkan sarapannya, tapi ia urungkan sudah.

“Wae ? Kau tak makan ?” Tanya Jonghyun pada Jinki disela-sela aktivitas makannya. Jinki menghela nafas panjang sebelum menjawab Jonghyun.

“Aku tak selera makan.”

“Wae ? Masakannya tak sesuai seleramu ?”

“Aniyo, masakannya enak. Hanya saja aku khawatir dengan dongsaengmu itu.”

“Kenapa dengannya ?” Kali ini Jonghyun menghentikan aktivitasnya dan serius dengan topik pembicaraannya dengan Jinki.

“Tadi aku mendengarkan dia menghubungi Minho lagi, Shinmi meminta agar mereka ketemuan di cafe dekat puncak sini.”

“Jadi menurutmu dongsaengku itu bertemu dengan Minho sekarang ?”

“Molla. Mungkin saja. Lebih baik aku mengawasinya dicafe tersebut.”

“Ne, ne. Ide bagus. Aku ikut.”

“Aniya. Kalau kau ikut nantinya kau nanti lepas kontrol melihat namja itu.”

“Ya sudah. Hati-hati!”

***

“Issh! Mana sih tuh anak ? Lama amat ?!!” Shinmi memandangi jam tangannya dengan mimik kesal. Shinmi sekarang sedang berada disebuah cafe didekat villanya. Ia memilih duduk dipojok luar cafe, posisinya sekarang cenderung dapat melihat pemandangan gunung yang tingginya menjulang indah dan hawa yang menyejukkan hati setiap orang yang merasakannya. Tapi tidak untuk Shinmi, ia sungguh dibuat kesal hari ini gara-gara Minho tak kunjung datang.

“Chagiya, mianhae aku telat.” Suara Minho yang tiba-tiba datang itu membuat Shinmi mendengus kesal.

“Mwo? Ne, aku tau kau telat. Tapi, kau tadi panggil aku apa ? Chagiya ? Gak salah dengar ?” Shinmi bangkit dari duduknya dan memandangi pemandangan kebun teh dari perbatasan kebun dan luar cafe yang membelakangi posisi Minho.

“Mwo? Apa salahnya kau kan pacarku.” Kini Minho menyamakan posisinya seperti Shinmi disampingnya.

“Haa!! Tak salah bicara kau ?! Aku pacarmu ?!! Bukannya pacarmu itu yang namanya Eun.. nn.. Yeonlee itu yah ?” Kali ini Shinmi membalikan badannya menghadap Minho.

“Kenapa kau tak percaya padaku ?!! Dia itu dongsaeng sepupuku.” Minho mendekatkan dirinya ke Shinmi berserta wajahnya juga, dan menatapnya lekat-lekat. Tangan kanannya memegang dan menghela lembut pipi kiri Shinmi.

“Aissh! Sudahlah!” Shinmi menepis tangan Minho kasar sehingga terjatuh menggantung.

“Oiya ini!” Shinmi membuka tangan Minho dan langsung menaruh kalungnya ditelapak tangan Minho dan menutup telapaknya lagi.

“Urusan kita sudah selesai.” Shinmi hendak meninggalkan Minho, tapi Minho menahan Shinmi dan otomatis Shinmi berbalik dan menatap Minho kesal. Minho menatap Shinmi dalam lagi dan sengaja menghembuskan nafasnya hingga nafasnya tercium oleh hidung Shinmi. Minho memegang kedua pipi Shinmi dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Shinmi dan menciumnya lembut. Minho melepaskan bibirnya dan tersenyum simpul menatap Shinmi yang menunduk.

“Ini pertama kalinya aku menciummu. Dan ini juga adalah ciuman pertamamu.” Minho menatap Shinmi dengan berbinar-binar, tapi Shinmi justru menatap Minho sinis dan tersenyum licik.

‘Jeongmal baboya kau Minho! Ini bukan ciuman pertamaku babo! Dasar kau baboya!’ Batin Shinmi.

‘Tapi kenapa aku tak menolaknya ya ?’ Batinnya lagi dan kali ini Shinmi menunduk.

“Ini, lebih baik untukmu saja.” Minho memasangkan kalungnya dileher Shinmi.

“Dan hubungan kita tetap berlanjut.” Lanjutnya yang kali ini memasangkan cincin dijari manis Shinmi.

Disisi lain, Jinki yang melihat itu raut wajahnya memburuk, dari khawatir menjadi sedih. Perlahan air mata mulai mengalir dipipi lembut Jinki. Memang dia berhak menangis, tapi kalau marah ia sama sekali tak berhak memarahi pemeran dalam adegan yang ia lihat. Ia memegang dadanya tepat pada bagian jantungnya. Jinki merasakan nafasnya yang menyesak dan rasa pening pun mulai memutari kepalanya. Ia memejamkan matanya sejenak mencoba untuk menerima kenyataan ini. Lalu membukanya perlahan, tiba-tiba raut wajahnya berubah kaget dan matanya terbelalak. Mimik wajahnya menjadi khawatir seketika karena melihat pemeran dalam adegan tersebut sudah tidak ada ditempat kejadian. Tapi ia masih melihat sedikit sesosok Minho yang hampir menghilang dari posisinya. Jinki mengerutkan keningnya karena ia tak melihat Shinmi disamping Minho. Ia langsung bangkit dan segera menuju ke parkiran. Ia masih melihat mobil Shinmi dan akhirnya ia juga melihat Shinmi yang baru memasuki mobilnya. Tanpa berpikir lagi, Jinki langsung memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya mengikuti arah laju mobil Shinmi berjalan.

Ketika diperjalanan Jinki berhati-hati dalam menjaga jarak mobilnya dengan mobil Shinmi. Tapi ia juga tak mau kehilangan jejak mobil Shinmi yang semakin kencang laju jalannya. Sehingga dengan beraninya ia juga mempercepat laju mobilnya dan membuat jarak diantara keduanya semakin dekat.

“Aisssh!! Sialana!!” Jinki memukul stirnya kasar karena harus berhenti mendadak akibat lampu lalu lintas yang tak mendukungnya saat ini.

“Kenapa dengan anak itu ?!! Jangan membuatku khawatir kau itu!!” Jinki berbicara sendiri agar mengisi kekosongannya menunggu lampu merah yang tak kunjung selesai beserta rasa kesal dan khawatirnya bercampur aduk itu semakin membuatnya tak bisa berhenti bicara sesuatu. Ia langsung meng-gas mobilnya cepat ketika lampu merah telah istirahat.

“Issh! Sialan!” Lagi-lagi Jinki memukul stirnya karena kali ini ia sungguh sudah kehilangan jejak Shinmi. Tapi ia tak pantang menyerah, ia akan tetap berusaha mencari Shinmi sampai ketemu dan memastikan menemukannya dengan kondisi yang sehat tak luka sedikitpun. Dan tiba-tiba Jinki meng-rem mobilnya mendadak karena didepannya tengah banyak orang bergerumul ditengah jalan.

‘Sepertinya kecelakaan.’ Pikir Jinki. Dan seketika itu juga perasaan Jinki yang awalnya khawatir kini berubah menjadi lebih, bahkan sudah sangat khawatir. Dan tiba-tiba ada rasa sakit yang sangat sakit didadanya. Rasanya dadanya seperti ditusuk beribu-ribu duri secara bersamaan. Jinki mengambil nafas panjang lalu keluar dari mobilnya dan menghampiri orang-orang yang bergerumul itu.

“Permisi, permisi!” Jinki menerobos paksa gerumulan itu namun tetap dengan bahasa yang sopan. Ia sudah sangat khawatir dengan keberadaan Shinmi. Jinki berharap semoga dugaannya tentang korban kecelakaan ini salah, sempat terbesit bahwa korban kecelakaan itu adalah Shinmi. Tapi pikiran itu langsung ia buang jauh-jauh dan tetap berpikir jernih. Jinki lumayan shock melihat korban itu ternyata adalah yeoja. Ia langsung memegang tangan korban dan memastikan bahwa denyut nadinya masih ada.

‘Untung saja masih ada.’ Batinnya. Ia mencoba melihat wajah si korban, namun nihil. Ia sama sekali tak mengetahui siapa korbannya. Karena kecelakaan ini cukup mengenaskan si korban. Wajahnya berlumuran darah, mungkin hampir semua tubuhnya berlumuran darah. Tapi Jinki menatap wajah korban dalam lagi, dan mimik wajahnya kini sangat shock. Dan ia merasakan seperti ada petir yang menyambar jantungnya.

“ANDWAE!!” Suara Jinki tertahan oleh air mata yang mengalir dipipinya lagi. Ia mengepalkan tangannya dan memukulkannya di jalan aspal itu. Tanpa berpikir lagi, Jinki langsung menggendong Shinmi ala bridal style memasuki mobilnya, tapi sebelumnya Jinki sudah berkata ke orang-orang bahwa ia adalah kerabat si korban. Jinki mendudukan si korban perlahan dan langsung memasangkan seatbelt mobilnya. Ia langsung tancap gas kencang menuju rumah sakit terdekat. Ditengah perjalanan, Jinki sudah bisa menangis sepuas-puasnya, ia nampak terpukul dengan kecelakaan yang menimpah korban tersebut.

“Shinmi-ya kenapa semua ini harus menimpahmu ?!! Tolong Bertahanlah! Mianhaeyo Shinmi-ya! Sungguh kali ini aku tak bisa menjagamu seutuhnya. Tolong bertahanlah demi aku! Walaupun kau mungkin bertahan tak demi aku, tapi setidaknya tolong bertahanlah!” Jinki terisak dalam tangisannya sangat lama tak berhenti sehingga tak terasa mereka sudah sampai ditempat tujuan.

***

Sehari kemudian setelah Shinmi diinapkan dirumah sakit dan selama itu juga Shinmi masih tak kunjung sadar. Lalu keluarlah seorang Uisa dari ruang rawat Shinmi. Melihat itu anggota keluarga Shinmi ditambah Jinki langsung menghadap kearah Uisa tersebut dan memandangnya penuh dengan rasa penasaran.

“Bagaimana uisa keadaannya ?” Jinki yang bukan keluarganya langsung angkat bicara duluan, mungkin ia sangat khawati dengan kondisi Shinmi.

“Nona Shinmi sudah siuman. Hanya saja ada kabar buruk yang harus anda semua dengarkan.”

“Mwo ?” Nada suara Jonghyun sudah semakin khawatir.

“Nona Shinmi mengalami kelumpuhan ganas.” Mendengar itu, semua anggota keluarga Shinmi yang hadir langsung mengeluarkan air matanya, namun masih ada yang masih dibendung. Apalagi dengan Jinki, mendengar itu dialah yang paling shock. Raut wajahnya menjadi kaku dan matanya terbelalak. Seolah ada sesuatu yang menyakiti hatinya, memang setelah mendengar itu dada Jinki jadi sesak karena dia merasakan seperti ada petir yang menyambar jantungnya. Sampai ia terisak dalam tangisannya.

“Mak.. Mak.sud uisa kelumpuhan yang seperti apa ?” Begitu juga dengan eomma Shinmi yang juga terisak dalam tangisannya.

“Kelumpuhan yang mungkin berlangsung lama, tetapi bukan kelumpuhan total. Sehingga ia masih bisa disembuhkan dengan terapi.” Kali ini Jonghyunlah yang tak sanggup menerima kenyataan ini. Otot kakinya serasa tidak berfungsi, ia lemas dan terjatuh berlutut. Ditengah suasana menyedihkan ini, datanglah Minho yang berniat untuk menjenguknya juga.

“Annyeong haseyo.” Minho membungkukkan badannya disertai dengan sunggingan senyumnya.

“Kau ?!! Mau apa kau kemari ?!!” Jonghyun sudah geram melihat kedatangan Minho.

“Ya! Aku ini namjachingunya.”

“Namjachingu cuman bawa celaka yeojachingunya saja! Pergi kau!”

“Aniyo. Aku harus tetap masuk.” Minho langsung menerobos masuk ke dalam ruang rawat Shinmi. Jinki yang melihat itu hanya bisa menatap kesal wajah Minho.

“Eomma, appa. Lihat sendiri kan ? Namja yang tak sopan sama sekali.”

Diawal Minho memasuki ruang rawat Shinmi, Minho cukup terpukul melihat keadaan Shinmi yang kini terbaring lemah. Tapi Minho berusaha kuat, ia menyunggingkan senyumnya menghampiri Shinmi.

“Shinmi-ya.” Senyuman tetap terukir dibibir Minho, namun air mata yang sudah menggenang itu tak dapat ditutupi lagi.

“Minho-ya ?” Shinmi juga menyunggingkan senyumnya, bahagia melihat namjachingunya datang.

“Shinmi-ya, gwaenchanhayo ?” Minho menatap Shinmi sendu. Dan Shinmi hanya mengangguk lemas. Shinmi bangkit dan berusaha duduk, tangannya berusa menggapai segelas air putih yang sudah siap diatas laci.

“Shinmi-ya, kau jangan banyak bergerak. Kau mau apa ? Akan kuambilkan.”

“Aniyo. Aku bisa sendiri.” Ucap Shinmi dengan membuang muka dari Minho. Shinmi mencoba bangkit dari kasurnya dan berdiri, namun hasilnya nihil. Shinmi justru terjatuh ke lantai dan wajahnya nampak shock akan hal yang ia alami saat ini.

“Kenapa ?!! Kenapa aku tak bisa berdiri ?” Air mata sudah menggenang penuh dipelupuk mata Shinmi. Minho yang melihat itu juga ikut sangat terpukul.

“Tenanglah Shinmi. Mungkin ini efek setelah kau tertidur lama. Sekarang coba berdiri, ayo aku bantu.” Minho mengangkat bahu Shinmi, dan Shinmi pun berusaha berdiri.

“Sekarang, coba aku lepaskan ya.” Perlahan Minho melepaskan tangannya dan membiarkan Shinmi berdiri sendiri. Tapi tiba-tiba Shinmi langsung ambruk, dan kini air matanya sudah membanjiri wajahnya.

“AAARRRRGGGGH!!” Shinmi mengacak rambutnya kasar dan memukul-mukul kakinya keras, tapi Shinmi sama sekali tak merasakan sakit apapun. Mendengar itu, Jinki langsung berlari masuk ke kamar Shinmi.

“SHINMI-YA!!” Jinki langsung menggendong dan dipindahkannya kembali keatas kasurnya.

“Gwaenchanhayo ?” Jinki menghela lembut kening Shinmi.

“Gwaenchanha aniya.” Shinmi menangis terisak, ia tak tau apa yang terjadi dengan dirinya.

“Oppa, sebenarnya kenapa denganku ?” Jinki menatap kedua mata Shinmi dalam dan mendengus nafas panjang.

“Mianhae Shinmi-ya, oppa tak bisa melindungimu. Kau divonis lumpuh ganas, bukan lumpuh total. Hanya saja lumpuh yang berlangsung lama.” Jinki berusaha menahan air matanya agar Shinmi tak mengira bahwa orang-orang kini mengkasihani dirinya.

“Jinjjayo oppa ? Ini hanya mimpikan ?!!” Kini Shinmi telah duduk dan memegang kedua pipi Jinki, menatap kedua mata Jinki lekat.

“Aniyo. Ini bukan mimpi.”

“Kalau gitu cubit aku.” Jinki langsung mencubit pipi Shinmi.

“Appo!!” Shinmi mengusap pipinya yang sakit.

“Ne, ini bukan mimpi. Kalau gitu…” Shinmi menggantungkan kalimatnya dan langsung mengambil pisau dan diarahkan dikakinya.

“Yak! Shinmi-ya! Kau jangan bertindak bodoh!!” Jinki langsung menyambar pisau yang dipegang Shinmi lalu langsung menaruh ke tempatnya semula.

“Sudahlah! Mungkin jika tadi kugores pasti rasanya sakit! Kalau sakit berarti aku tak lumpuh!”

“Shinmi-ya~ kau lumpuh ?~” Minho berbicara pelan terkesan kecewa. Minho menjauhkan dirinya dari Shinmi bermaksud untuk meninggalkan Shinmi.

“Ya Minho-sshi ?!! Kenapa kau menjauh!!” Lagi-lagi air mata Shinmi menggenang dipelupuk matanya lagi.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo Shinmi-ya! Mungkin kalau kita lanjutkan hubungan ini, mungkin aku takkan bisa melindungimu. Lebih baik hubungan kita berakhir disini, daripada kau harus terluka.” Semakin lama tubuh Minho semakin kecil terlihat dimata Shinmi.

“Ya kau!! Bilang saja kalau kau tak mau repot menjagaku dengan keadaan seperti ini ?!! Kau pasti lebih memilih yeoja soim itu ?!!” Teriak Shinmi ditengah isakan tangisannya sambil menunjuk punggung Minho yang semakin lama semakin menjauh sehingga sudah menghilang dari pandangan Shinmi.

“Dasar namja pengecut!!” Shinmi berteriak sekali lagi sebelum ia ambruk karena nafasnya hampir habis.

“Sudahlah Shinmi-ya! Lupakan namja pengecut itu! Bukalah hatimu untuk namja lain dan coba mencintainya.”

“Mwo? Tapi siapa yang mau dengan yeoja cacat sepertiku ?”

“Aku. Hatiku selalu terbuka untuk hatimu.”

“Tapi, pasti aku akan merepotkanmu. Aniyo, aku tak ingin membuatmu repot.”

“Sudahlah Shinmi-ya! Sekarang tataplah kedua mataku! Aku serius akan mencintaimu dan menerimamu apa adanya, aku sama sekali tak merasa direpotkan olehmu. Aku akan selalu tetap mencintaimu, menjagamu, dan menjadi pendamping hidupmu. Tak peduli aku dengan fisikmu. Aku hanya mencintaimu.” Jinki memegang kedua pipi Shinmi dan menatapnya dalam.

“Mwo? Kau ingin menjadi pendamping hidupku ?” Jinki hanya mengangguk lembut.

“Would you be marry me ?” Jinki langsung mengeluarkan sekotak kecil yang berisi cincin. Shinmi mengangguk lalu tersenyum. Dan Jinki langsung memasangkan cincin itu dijari manis Shinmi.

“Lumpuhmu bukan lumpuh total. Jadi kau masih bisa untuk sembuh dengan terapi.”

~~THE END~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “I’ll Be The One To Love You”

    1. pikirannya kalud, terus nyetirnya asal2an, waktu ada truk, tabrakan kenceng. terus waktu shinmi keluar dri mobil, nggk sengaja ada yg naik motor nginjek kaki shinmi
      maaf ya, bagian kecelakaannya nggak aku tulis. gomawo sebelumnya utk komennya 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s