Neon Naegae Banhaesseo – Part 3

Tittle                     : Neon Naegae Banhaesseo aka You’ve Fallen for Me (Part 3)

 

Author                  : Papillon Lynx aka Ervina H, @fb: Namida Narumi Usagi (Saika Kurosaki)

 

Main Cast            :

  • Kim Shin You (Imaginary Cast) covered by Choi Sulli f(x),
  • Choi Minho SHINee,
  • Kim Kibum aka Key SHINee,
  • Aita Rinn (Imaginary Cast) covered by Jung Soojung aka Krystal f(x),
  • Kim Jonghyun SHINee,
  • Han Nhaena (Imaginary Cast) covered by Sunny SNSD,
  • Han Yurra (Imaginary Cast) covered by Im Yoona SNSD,
  • Lee Jinki SHINee,
  • Lee Taemin SHINee,
  • Kim Hyeo So (Imaginary Cast) covered by Goo Hara KARA
  • Kim Hyung Sae (Imaginary Cast) covered by Lee Taemin SHINee with his red hair

 

Support Cast      : Park Seonsangnim, Hwang Seonsangnim, Eomma, Appa, Dokter Lee.

 

Genre                   : Romance, Sad, Friendship

 

Length                  : Sequel

 

Rating                   : PG-16

 

 

Sinopsis               : FF ini menceritakan banyak cerita cinta dan persahabatan di antara semua main cast-nya. Tentang bahagianya dan sakitnya merasakan cinta pertama yang tak terbalas dan karena terlambat menyatakan cinta. Cerita akan persahabatan yang kokoh juga membuat salah satu dari main cast dalam FF ini menjadi rela mengubur perasaan cintanya dan akhirnya menemukan cinta yang sebenarnya dengan orang lain.

 

TRACKLIST:

Boyfriend-You and I,

SHINee-Quasimodo,

F(x)-Chu~,

SHINee-Noona Nomu Yeppo,

2PM-Without You,

CN Blue-I Will Forget You

 

@@@

 

KEY’S POV

 

“Apa yang ingin kau katakan padaku, Key Sunbae? Ini sudah malam, Taemin Oppa sudah menungguku. Aku harus segera pulang, Sunbae.. Mianh.” Taemin? Taemin lagi! Taemin lagi! Apakah kau tidak bisa memberikan kesempatan untukku barang sebentar saja, Hyeo So-ah..?

Kulihat Hyeo So sudah akan berbalik meninggalkanku. Namun kutangkap satu tangannya cepat. Aku tak tahu lagi bagaimana raut wajahku yang terlihat di matanya. Pasti terlihat sangat menyedihkan! Hhh.. Aku benci seperti ini. Tapi, apa boleh buat.. Aku tak mau memendamnya lagi.

“Tunggu sebentar. Berikan aku waktu 5 menit saja. Ya, 5 menit. Kau cukup mendengarkanku dan menjawabnya setelah kata-kataku selesai.” Kataku memohon.

Hyeo So melihat ke arah jam tangannya dan berdecak kesal. Apa dia begitu terganggu denganku??

“Joa, Sunbae. Malhaebwa.”

“Em.. Na.. Naneun..” Sial! Kenapa sulit sekali sih mengatakannya?!

“Mwo?? Suaramu tidak terdengar, Sunbae..” Aiish! Jincca, etthokae?? Aku gugup sekali!!

“Dangsineun.. Nan.. Nan.. Arrgh! Saranghae, Hyeo So-ah!” Aaah.. Akhirnya tersampaikan juga. Lega rasanya.. Tapi, bagaimana dengan jawabannya??

“Mianhae, Key Sunbae.. Aku tidak mencintaimu..” DEGH! Secepat itukah dia menjawab pernyataan cintaku. Bahkan untuk memikirkan jawabannya saja aku rasa dia tidak perlu untuk melakukannya.

“Kau.. Kau mencintai namja lain?” selorohku.

“Ne. Kau pasti tahu siapa dia. Mianhae.. Sudah malam, aku harus pergi. Aku ada janji dengan Taemin Oppa. Annyeong!”

DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

Aku hanya bisa mematung menatap kepergiannya. Lidahku terasa kaku. Dan bibirku bergetar. Aku bahkan tak sanggup menahannya dan membuatnya mempertimbangkanku sekali lagi. Paboya! Nan jeongmal paboya! Rutukku.

Kurasakan cairan bening mengalir turun dari mataku. Badanku seketika lemas. Sedetik kemudian, badanku sudah terjatuh ke atas tanah yang sudah tertutup salju tebal ini.

Aku menarik rambutku frustasi. Sakit ini benar-benar membuatku tak tahan. Cinta ini, sebentar lagi akan membunuhku.

“ARRRGGGH!!” Erangku kesal. Hanya itu yang bisa aku ungkapkan. Itulah suara hatiku. Aku patah hati. Ini nyata. Baru saja yeoja yang kusukai menolakku mentah-mentah! Dia bahkan tak menghiraukanku.

“ARRRGGGHHH!!! ARRRGGGGGGHH!!” Erangku lagi untuk yang ke sekian kalinya. Entah aku harus bagaimana agar rasa sakit ini pergi. Ya Tuhan.. Aku sudah tak tahan. Perih sekali rasanya.. T.T Selama ini aku sudah merasakan sakit karena memendam perasaan cinta. Dan sekarang, harus berakhir dengan sia-sia pula.

Aku menangis. Menangis dalam diam. Aku mencoba menahannya. Tapi mataku ini lancang dan terus meneteskan air mata kesedihan dari sana. Kutundukkan kepalaku, aku tak ingin menoleh ke belakang dan berharap Hyeo So akan kembali. Itu tidak mungkin!

“Key-ah..” Kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh pundakku. Lembut.. Siapa dia? Apakah itu Hyeo So? Kim Hyeo So? Benarkah itu dia? Dia kembali padaku??

Sontak aku pun bangkit dan langsung memeluknya erat. Terima kasih Tuhan.. Ternyata Kau bersedia memberikan kesempatan padaku untuk menyatakan cinta sekali lagi.

“Hiks.. Hiks.. Nan.. Nan jeong, jeongmal, neo saranghae..” Aku tak dapat menahan tangisku lagi. Aku ingin Hyeo So tahu seberapa rapuhnya aku karena mencintainya. Semoga perasaanku ini tersampaikan padanya. Aku benar-benar tulus mencintainya.

Aku terus memeluk tubuhnya erat. Udara malam ini benar-benar seperti menusuk tulangku. Dan aku ingin mendapatkan kehangatan dengan memeluknya seperti ini.

“Na, na do. Na do jeongmal saranghae, Key-ah..” Mwo? Hyeo So mencintaiku?!

Sontak aku langsung mengangkat wajahnya dan langsung menciumnya.

OMO! Apa yang aku lakukan? Bagaimana bila Hyeo So marah padaku? Aish, aku tidak bisa membuka mataku. Aku tidak berani. Aish.. Aku takut dia akan marah padaku.

“Hatchim!” Omo! Ini bukan suara Hyeo So!

Aku segera membuka mataku dan melepaskan ciumanku.

APA?! Dia.. KIM SHIN YOU?!

END OF KEY’S POV

@@@

 

@@@

AUTHOR’S POV

 

Shin You dan Key duduk bersebelahan di bangku taman sekolah. Suasananya hening. Tak ada satu pun dari mereka berdua yang hendak membuka mulut sekedar untuk memecahkan keheningan di antara mereka.

“Hatchim!” Untuk ke sekian kalinya Shin You bersin. Hidungnya memerah dan sesekali Shin You mengusap-usap lengannya karena kedinginan. Jas seragam yang dipakainya ternyata tidak cukup tebal untuk menahan hawa dingin yang serasa berhasil menusuk tulang-tulangnya.

“Aiissh.. Pabo!” komentar Key kesal karena merasa terganggu. Namun sedetik kemudian, Key segera melepaskan jas seragam yang dipakainya dan memakaikannya di tubuh Shin You. Shin You menoleh dan memandangi Key dengan tatapan tak percaya.

Selama ini Key tidak pernah beramah-tamah dengannya. Dan kali ini, hatinya benar-benar berbunga. Key yang dingin berubah hangat padanya walaupun masih sedikit galak. Tapi Shin You sudah sangat bahagia hingga membuat seulas senyum selalu menghiasi wajahnya.

“Wae? Neo michiesseo? Jangan menatapku dengan tatapan penuh nafsu seperti itu.” cibir Key yang merasa risih dengan Shin You yang terus memandanginya sambil tersenyum.

“Eh?? Ah, mianhae..” kata Shin You yang langsung membuang pandangannya ke arah lain. Dalam hatinya dia mengutuk dirinya sendiri karena telah berbuat hal yang memalukan.

“Kejadian yang tadi, mianhae.. Aku tidak sadar telah melakukannya.”

DEGH!

Sontak Shin You kembali menatap Key. Namun kali ini bukan dengan tatapan yang sama. Wajah Shin You berubah serius. Dahinya mengerut.

“Apa maksudmu, Key-ah?” tanya Shin You was-was. Dia takut jawaban Key tidak sesuai dengan apa yang ingin dia dengar.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku kira kau itu adalah Kim Hyeo So. Tadi, aku salah mengutarakan cinta. Jebal, maafkan aku. Aku tahu kau pasti merasa terganggu dan marah karena sikapku tadi yang tiba-tiba memeluk dan menciummu. Aku menyukai Hyeo So, Shin You-ah..”

JDERRRR!!

Mata Shin You berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan apa yang Key jelaskan padanya barusan. Dalam hatinya ia berharap lebih baik semua ini hanyalah mimpi dan bukanlah kenyataan yang tadi sempat dia harapkan. Dan ternyata kenyataan ini tak seindah yang dia kira.

Nafas Shin You tercekat. Tenggorokannya seketika terasa kering. Tangisnya tertahan.

“Ne?? Ah, gwenchana, Key-ah.. Kau tak perlu meminta maaf sampai seperti itu. Aku tahu kok, tidak mungkin kau akan menyukai yeoja sepertiku. Lagipula tadi itu aku juga hanya sedang latihan kok. Sebenarnya aku menyukai Minho. Dan kebetulan ada kau, jadi aku manfaatkan saja kau agar aku bisa berlatih mengungkapkan cinta padanya. Gwenchanayo, ne?” Sandiwara. Shin You memang benar bersandiwara. Bukan bersandiwara berlatih mengutarakan perasaannya pada Minho, tapi bersandiwara menyembunyikan perasaan sakitnya dari Key.

“Jeongmalyo? Aaah.. Syukurlah. Aku takut kau akan marah padaku karena aku telah berbuat lancang padamu. Tapi, tak kusangka ternyata kau menyukai Minho. Jadi, sejak kapan?”

Tak tahan. Shin You mulai tak tahan bersandiwara lebih lama. Kebohongan yang dibuatnya justru membuatnya sakit sendiri.

“Mollayo. Aku lupa. Hahaha..” jawab Shin You berpura-pura ceria di depan Key.

“Mwo? Aiish.. Yeoja pabo! Hahaha..” ejek Key yang baru kali ini memamerkan tawanya di depan Shin You. Ini kali pertama Shin You melihat Key tertawa seperti itu. Dan walaupun hatinya terasa sakit, muncul keinginan dalam hatinya untuk bisa membuat namja di hadapannya itu tertawa ceria lagi walaupun itu artinya dia harus selamanya bersandiwara. Dan mungkin lebih baik ia harus melupakan cintanya pada Key.

“Key-ah.. Aku bisa menjadi teman baikmu. Aku tahu kau baru saja patah hati. Bagilah perasaan sakit itu denganku. Aku bersedia menjadi teman curhatmu. Kau bisa percaya padaku. Arrasseo?” tawar Shin You.

Suasana hening lagi. Mendengar ucapan Shin You yang tak diduga Key sekalipun, membuat Key memandangi yeoja itu lekat-lekat. Ada sesuatu dari diri Shin You yang baru bisa tertangkap oleh mata hatinya sekarang. Entah apa itu, tapi Key merasa Shin You tulus ingin menjadi temannya.

Shin You mencoba untuk membunuh rasa sakitnya. Cinta memang kadang tak harus memiliki. Yang terpenting adalah membuat orang yang dicintai itu bahagia, bukan memaksa. Ini sudah menjadi keputusan Shin You. Dia memang akan tetap menyimpan perasaannya pada Key dalam-dalam, cukup hanya dia  dan Tuhan yang tahu. Dan saat ini Shin You hanya bisa berharap Key bisa menerimanya untuk  menjadi temannya. Asal itu bisa membuatnya terus di sisi Key dan membuat Key bahagia, walaupun hanya sebagai teman, tak masalah.

“Joa. Would you be my bestfriend?” tanya Key sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Shin You dengan tersenyum.

Shin You menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Key. “With my pleasure..”

@@@

@@@

 

TING TONG!

Terdengar suara bel pintu di kediaman keluarga Jinki. Choi Ahjumma yang tak lain adalah eomma  dari Jinki dan Minho segera berlari untuk membukakan pintu, dan melihat siapa yang datang bertamu di malam yang bersalju seperti ini.

“Jinki-ah..” kata Choi Ahjumma ketika melihat anak sulungnya ada di balik pintu.

“Annyeonghaseyo, Ahjumma..” Muncul seorang yeoja dari balik punggung Jinki dan menyapa eomma Jinki dengan tersenyum ramah.

“Omo! Nhaena-ah.. Mari, masuk dulu.” Ajak Choi Ahjumma mempersilahkan Jinki dan Nhaena masuk.  “Duduk dulu ya..” Choi Ahjumma mempersilahkan Nhaena duduk di sofa ruang tamu lalu pergi menuju dapur. Jinki mengikuti ibunya dari belakang.

Di dapur, Jinki segera mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam lemari pendingin dan meneguk isinya langsung tanpa menggunakan gelas.

“Appa eoddiga?” tanya Jinki pada ibunya yang sedang membuatkan Nhaena minuman di sampingnya.

“Appa-mu berada di kamar. Waeyo? Temui dia dan mintalah dia untuk menemui Nhaena juga.” Kata Choi Ahjumma sembari membawakan segelas juice jeruk ke ruang tamu untuk Nhaena. Jinki mengangguk dan segera menemui ayahnya di kamarnya.

Di ruang tamu, Choi Ahjumma meminta Nhaena untuk menceritakan apa yang membuatnya datang ke rumah mereka.

“Tunggu Jinki Oppa saja, Ahjumma. Jinki Oppa akan menjelaskan semuanya nanti pada Choi Ahjumma dan Lee Ahjusshi.” Jawab Nhaena berusaha sopan. Choi Ahjumma hanya mengangguk dan sesekali menawarkan beberapa snack pada Nhaena namun Nhaena menolaknya dengan halus.

Nhaena bukan sedang tidak ingin makan. Snack-snack yang ditawarkan Choi Ahjumma sebenarnya adalah makanan kesukaannya. Tapi sekarang ini hati dan pikirannya sedang gelisah, sehingga nafsu makannya seketika seperti lenyap begitu saja, tidak seperti biasanya.

Nhaena bingung apakah keputusannya untuk menerima Jinki dan menyampaikan niat mereka berdua untuk segera ditunangkan secara resmi kepada orangtua mereka itu benar atau justru suatu kesalahan. Untuk sesaat yang lalu mungkin rasa sakit karena selalu ditolak oleh Key lah yang membuatnya emosi dan terburu-buru menerima Jinki. Dan sekarang, Nhaena mulai goyah apakah keputusannya tepat atau tidak.

“Aaah.. Rupanya kau, Han Nhaena..” Lee Ahjusshi turun dari tangga dan segera duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki oleh Nhaena dan Choi Ahjumma. Sedangkan Jinki memilih duduk di samping ayahnya. Nhaena mencoba tersenyum menanggapi kehadiran Lee Ahjusshi.

“Appa, aku sudah menentukan keputusan hari ini. Aku yakin, aku memilih Nhaena. Aku mencintainya. Dialah jodoh yang kuinginkan. Kami ingin agar kami bisa ditunangkan secara resmi secepatnya.” Kata Jinki tegas. Tak ada satupun nada keraguan yang terdengar dari setiap kata-kata yang terlontar dari bibirnya. Namja itu benar-benar sudah mantap akan keputusannya. Tapi bagaimana dengan Nhaena? Yeoja itu justru menggigiti bibir bawahnya gelisah.

“Jeongmalyo? Ah, keurae. Kalau begitu, bagaimana bila pertunangan kalian dilangsungkan 5 hari lagi?” tanya eomma Jinki bersemangat dan terlihat sangat senang dengan keputusan Jinki. Begitupun dengan Lee Ahjusshi yang sudah menepuk-nepuk pundak anak sulungnya itu sambil tertawa bangga.

“Nde, Eomma.” Jawab Jinki tersipu malu menyetujui tawaran Eomma-nya. Sedangkan Nhaena hanya bisa meremas-remas kedua tangannya sendiri merasa semakin gelisah.

@@@

@@@

DUGH! DUGH! DUGH!

Minho mendribble bola basketnya keras-keras, sendiri. Minho mempercepat langkah kakinya sambil menggiring bola basketnya mendekat ke arah ring basket dan.. HUP! Minho meloncat dan bola itu berhasil masuk dengan sempurna ke dalam ring.

PLOK! PLOK! PLOK!

Seorang namja berambut hitam pendek dengan jaket ber-hoodie tersenyum bangga dan datang mendekat.

“Apa kau masih belum puas setelah tadi sore kita memenangkan pertandingan, Saengi?” tanya Jinki pada adiknya, Minho, yang tampak sedang menghapus peluh di dahinya.

“Aniyo. Aku bukannya merasa belum puas. Tapi aku tidak akan pernah bosan untuk bermain basket, Hyung.” Kata Minho balas tersenyum pada hyung-nya. Minho mendudukkan tubuhnya di atas lantai lapangan basket -lapangan basket berukuran kecil yang sengaja dibuat oleh Lee Ahjusshi di samping rumah mereka untuk anak laki-laki bungsunya itu.

Jinki lantas duduk di samping Minho, memandang langit malam yang sedikit berbintang walaupun kapas-kapas salju masih jatuh dari langit dan menimpa wajahnya. Jinki tersenyum, menikmatinya.

“Istirahatlah. Kau bisa sakit. Malam bersalju seperti ini kau masih saja bermain basket.” Komentar Jinki setelah sebelumnya mereka terdiam, menikmati salju yang jatuh mengenai tubuh mereka. Di puncak kepala Minho pun sudah tampak kapas-kapas salju itu.

“Arrasseo, Hyung. Gomawo..” Minho bangkit dari duduknya dan membersihkan puncak kepalanya yang dihinggapi kapas-kapas salju. Ketika Minho hendak mengambil bola basketnya, Minho teringat sesuatu.

“Chukkae, Hyung! Akhirnya kau memilih Nhaena untuk menjadi tunanganmu. Aku turut bahagia.” Kata Minho yang membuat Jinki menatapnya dengan tatapan –gomawo, saengi..-

Minho pun berlari masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke kemarnya yang bernuansa biru muda.

Minho duduk di depan meja belajarnya dan sesaat kemudian tangannya terjulur mengambil sebuah figura foto berwarna biru muda yang didalamnya terpajang foto seorang yeoja.

Yeoja itu berambut panjang kecokelatan dengan rambut yang tergerai dengan senyum mengembang di bibirnya.

Minho menatap foto itu beberapa saat hingga akhirnya sebuah air mata menetes membasahi pipinya.

“Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku setelah aku mengetahui kau sudah bersamanya, hm?” kata Minho sambil tersenyum kecut.

@@@

@@@

 

TOK! TOK! TOK!

 

“Masuklah, Kim Hyeo So. Aku sudah menunggumu.” Kata Hyung Sae dari balik kursinya.

“Silyehamnida (Permisi)..” kata Hyeo So seraya masuk ke dalam ruangan kerja Wakil Presiden Siswa, yang tak lain adalah ruangan Kim Hyung Sae.

Hyeo So duduk di kursi yang sudah tersedia dan menatap pemandangan di depannya heran. Kim Hyung Sae masih duduk di kursinya dengan posisi membelakanginya . Sehingga hanya terlihat bagian punggung kursinya saja.

“Sunbae, sebenarnya apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Hyeo So yang merasa tak nyaman dengan sikap Hyung Sae di depannya.

Sejurus kemudian, Hyeo So merasakan seperti ada sesuatu yang halus dan bergerak-gerak di kakinya. Hyeo So memberanikan matanya untuk melihat sesuatu apa yang berada di dekat kakinya. Dan..

“HUWAAAAA!!! ADA SINGAAAAA!!!” Wajah Hyeo So langsung memutih, pucat-pasi dan pandangannya menjadi gelap seketika.

Melihat reaksi Hyeo So yang sangat ketakutan hingga pingsan, Hyung Sae panik lalu segera mengangkat tubuh yeoja yang sudah tergeletak pingsan di lantai itu dan menggendongnya ke ruang kesehatan.

Hyung Sae melewati koridor kelas dengan tergesa-gesa hingga tubuhnya menabrak Taemin yang berjalan berlawanan arah dengannya.

Taemin berbalik melihat Hyung Sae yang sudah berlari menjauh dari tempatnya berdiri dengan alis berkerut.

“Kau!!” geram Taemin kesal setelah melihat siapa namja yang sedang menggendong Hyeo So.

@@@

 

@@@

 

“Apa yang kau lakukan padanya sehingga membuatnya pingsan, huh?!” kata Taemin yang sudah berdiri di belakang Hyung Sae. Hyung Sae yang sedang duduk di samping ranjang rawat Hyeo So pun sontak membalikkan wajahnya. “Apa yang kau lakukan padanya, huh?” tanya Taemin sekali lagi. Taemin berjalan mendekat ke ranjang rawat Hyeo So. Dilihatnya Hyeo So dengan mata yang masih terpejam. Taemin tak mempedulikan namja yang kini berada di sampingnya tengah menatapnya dengan marah.

“Nuguya? Apakah kau pacarnya?” tanya Hyung Sae akhirnya.

“Anni. Aku sahabatnya.” Taemin menjawab pertanyaan Hyung Sae sekenanya.

Hyung Sae menatap namja di sampingnya lekat-lekat. Dia merasa namja di sampingnya ini tidaklah asing di matanya. Namja itu terlihat… Banyak kemiripan dengannya. Seperti dirinya. Semuanya mirip, hanya saja rambutnya yang berwarna hitam, tidak seperti rambutnya yang berwarna pirang. Tiba-tiba, sesuatu melintas dalam ingatannya.

“Kau.. Kau bukankah..??” Hyung Sae tidak melanjutkan ucapannya. Hyung Sae tampak berpikir keras untuk mengingat siapa sebenarnya namja itu.

“Kau sudah mengingatku, Lee Taemin?” Hyung Sae tersentak. Namja di hadapannya itu justru menyebutnya dengan panggilan ‘Lee Taemin’. Nama itu.. Nama itu.. “Terima kasih karena kau masih mengingat adik kembarmu ini, Hyung..” Kata-kata Taemin sekali lagi membuat Hyung Sae tersentak di tempatnya. Taemin tersenyum sinis pada Hyung Sae.

“Ya, selama 3 tahun ini kau telah berhasil menjalani hidup yang bahagia dengan menggunakan  namaku. Tapi sekarang, setelah kau bertemu denganku, apakah aku harus memanggilmu dengan panggilan ‘Lee Hyung Sae’, Taemin Hyung? Atau Kim Hyung Sae, nama dengan marga baru yang kau dapat dari keluarga barumu? Belum puaskah kau hidup menjadi seorang Lee Hyung Sae? Sayangnya, aku masih hidup, Hyung. Dan aku ingin meminta identitasku kembali.” Taemin menyeringai setelah selesai mengucapkan kata-katanya.

“OMO?! Kau? Kau benar Lee Hyung Sae?! Aigo..” Hyung Sae langsung memeluk erat tubuh Taemin. Namun detik itu juga Taemin mendorong tubuh Hyung Sae kasar. Bahkan karenanya, tubuh Hyung Sae hampir saja tersungkur.

“Saudara kembar macam apa kau Hyung, yang tega membiarkanku jatuh saat itu dan menukar identitas kita, huh?! Kau mengaku pada semua keluarga kita bahwa kau adalah Lee Hyung Sae dan semuanya menganggap bahwa Lee Taemin lah yang mati! Aku ini Lee Hyung Sae! Bukan Lee Taemin!!” Nafas Taemin memburu. Amarahnya tak dapat ditahannya lagi. Amarahnya mencuat hingga menciptakan tetes-tetes air mata yang menghiasi wajah tampannya.

“Aku tidak pernah mencoba membunuhmu, Hyung Sae-ah!! Setelah kecelakaan yang menimpa kita berdua itu, aku hilang ingatan. Aku tak bisa mengingat apapun dan kau tidak bisa ditemukan. Kau dikabarkan hilang dan meninggal di dasar jurang. Orangtua kita terlanjur mengira bahwa aku adalah kau, yaitu Lee Hyung Sae! Setahun kemudian orangtua kita meninggal karena kecelakaan pesawat dan aku diadopsi oleh pamannya Key. Margaku pun berubah dari Lee menjadi Kim. Kau harus tahu, ingatanku baru pulih baru-baru ini. Kau harus percaya padaku! Aku sudah pernah mengaku bahwa aku adalah Lee Taemin, bukan Lee Hyung Sae, tapi keluarga baruku tak percaya.” Taemin tak mau mendengar apapun penjelasan Hyung Sae. Dalam benaknya, yang ia tahu, kakaknya sendiri lah yang telah sengaja mencelakainya.

“Neo geotjimal, Hyung (Kau pembohong, Kak)!” bentak Taemin lalu pergi meninggalkan ruang kesehatan saat itu juga.

@@@

@@@

FLASHBACK

 

“Hyung Sae, hati-hati! Jalannya licin.. Jaga keseimbanganmu.” kata Taemin mengingatkan adik kembarnya.

 

“Gwenchana. Sebentar lagi kita sampai di puncak.” Kata Hyung Sae semangat.

 

“Aigoo.. Perhatikan kakimu, Hyung Sae. Kalau terjadi apa-apa dengan kakimu maka kau tidak akan bisa menari dengan hebat lagi.” Sekali lagi Taemin mengingatkan adiknya.

 

“Ah, Hyung.. Penyakit brother complex-mu kambuh ya? Aku ini kan namja, Hyung. Lagipula umur kita sama. Aku lahir beberapa menit saja setelahmu kan? Gokjeongmal..” Hyung Sae mendaki di depan Taemin. Taemin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang masih terlihat kekanak-kanakan. Padahal umur mereka sudah 14 tahun. Bukan umur anak-anak lagi.

 

“Hyung! Lihat! Itu puncaknya! Ppali!” Taemin terlalu bersemangat hingga melangkahkan kakinya terlalu terburu-terburu dan kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset dan membuatnya terperosok jatuh ke dasar jurang.

 

“HYUUUUUNNG!!!” Terdengar teriakan Taemin yang menggema dan semakin menjauh.

 

“HYUNG SAEEEE!!! ANDWAEEE!!” Dengan mata kepalanya sendiri Taemin melihat Hyung Sae, adiknya sendiri, jatuh ke dalam jurang. Taemin menangis. Namun dirinya tak bisa memutar waktu. Dan dia juga tak bisa menolong Taemin sekarang. Mereka memang hanya berdua, mendaki berdua. Tanpa ada pengawasan orang lain, orang dewasa yang profesional. Sekarang Taemin menyesal telah menuruti kemauan adiknya itu untuk melakukan pendakian. Dan kini, kesalahannya benar-benar fatal!

 

Tiba-tiba Taemin merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Namun Taemin memaksakan kakinya tetap melangkah menuju ke puncak, dan mencoba menahan rasa sakitnya.

 

Dan ketika Taemin baru sampai di puncak, badannya lemas. Semuanya menjadi tak terlihat dan Taemin pingsan. Kepalanya membentur sebuah batu yang cukup besar sehingga menimbulkan darah menetes dari belakang kepalanya.

 

Di Rumah Sakit..

 

“Hyung Sae! Syukurlah.. Kau tak apa-apa, Nak.. Eomma dan Appa sangat cemas.” Kata seorang wanita paruh baya sambil terisak.

 

“Hyung Sae? Itukah namaku? Kalian.. Kalian.. Eomma dan Appa-ku?” tanya Taemin bingung.

 

“Ne. Maafkan kami. Kata Dokter Lee yang mengobatimu, kau tidak mungkin bertahan hidup jika komamu terus berlanjut. Tapi ternyata Tuhan memberikan keajaiban padamu, Nak. Satu tahun kau koma dan kau akhirnya bisa siuman. Keundae, resikonya kau akan kehilangan ingatanmu.”

 

“Jinccayo?!” Setengah hati Taemin merasa ada yang tidak benar dengannya, tapi setegah hatinya lagi ia mencoba menerima semua penjelasan wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibunya.

 

“Benar. Dan..” Wanita paruh baya itu menangis lagi, tak sanggup melanjutkan ceritanya.

 

“Kakak kembarmu, Lee Taemin, meninggal dan tak dapat ditemukan, Hyung Sae-ah..” lanjut wanita paruh baya itu membuat Taemin terlonjak di tempatnya.

 

“Mwo? Kakak kembarku?”

 

FLASHBACK END

 

@@@

 

@@@

 

“Kau sudah bangun, Hyeo So-ah?” Hyung Sae bangkit dari duduknya dan segera membantu Hyeo So yang akan memposisikan tubuhnya untuk duduk.

“Aku mendengar semuanya. Aku akan menyatukan kalian berdua, Sunbae. Kakak dan adik sudah seharusnya rukun, kan?” Hyung Sae tersenyum kecut mendengar perkataan Hyeo So. Sudah barang tentu Hyeo So mendengar semua pembicaraan mereka. Baru saja mereka bertengkar dengan suara yang keras di depan Hyeo So, walaupun mereka mengira Hyeo So masih pingsan. “Emm.. Taemin Oppa eoddiga?”

“Dia pergi. Dia masih belum bisa menerimaku. Hyeo So-ah, sebelumnya aku sangat berterima kasih karena kau mau membantuku.” Hyeo So tersenyum kecil.

“Bolehkan aku tetap memanggilmu dengan nama Hyung Sae Sunbae? Aku mencintai Taemin Oppa meskipun Taemin yang sebenarnya adalah kau, Sunbae.”  Hyung Sae mengedip-kedipkan matanya, merasa tak menyangka dengan apa yang diminta oleh yeoja yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.

“Joa! Kalau kau mau, panggil aku Hyung Sae Oppa.”

@@@

 

@@@

 

Yurra berjalan menyusuri koridor kelas tahun pertama untuk menemui Taemin. Yurra ingin meminta laporan kegiatan dari seluruh ketua ekstrakurikuler di sekolah dan Taemin adalah ketua ekstrakurikuler dance.

Saat dirinya melintas di depan beberapa murid yeoja yang sedang berkumpul, telinganya menangkap sesuatu yang sedang dibicarakan oleh murid-murid itu.

“Mworago?! Jinki Sunbae akan bertunangan  dengan Nhaena Sunbae?! Aiish.. Eotthokae??”

“Ne. Beritanya sudah menyebar. Dan sepertinya ini fakta. Kabarnya mereka akan bertunangan 4 hari lagi.”

“Keurchi. Lagipula bukankah mereka sudah dijodohkan sejak kecil oleh orangtua mereka?”

“Tapi bukankah Yurra Sunbae juga dijodohkan dengan Jinki Sunbae?”

“Aiish, itu sudah tidak ada gunanya. Yang Jinki Sunbae pilih kan Nhaena Sunbae. Tak apa-apa sih, mereka juga terlihat cocok. Aku mendukung hubungan mereka. Menurutku Yurra Sunbae tidak benar-benar menyukai Jinki Sunbae. ”

“Aaah, kau ini. Aku kan patah hati..”

“Iya. Bagaimana sih kau??”

Yurra berlari pergi dari tempat itu. Yurra menaiki tangga dan sampailah dia di atap gedung sekolah. Tangisnya pecah begitu saja. Tempat ini memang selalu dengan mudah membuatnya menangis karena mengingat cintanya pada Jinki yang selama ini tak terbalas. Namun, tempat ini juga yang menjadi temannya ketika menangis.

Tubuh Yurra merosot jatuh, hingga kedua lututnya tertekuk menyentuh lantai atap gedung. Kedua tangannya kini sukses berada di wajahnya, menutupi wajah sedihnya.

“Yurra Noona..” Entah sejak kapan, Taemin kini tengah berdiri mematung dan melihat Yurra seperti biasa menangis sendiri di tempat itu. Taemin berjongkok di depan Yurra dan memeluk Yurra dari belakang. Taemin menempelkan dagunya di puncak kepala Yurra. Yurra hanya bisa diam saja.

“Gwenchana. Aku ada di sini untukmu, Noona. Menangislah sepuasmu. Keluarkan semua rasa sakitmu. Aku tidak akan mengejekmu. Justru aku akan menemanimu di sini.” Hibur Taemin. Hatinya nyatanya juga terasa sakit melihat yeoja yang disukainya menangis. Dan mungkin akan lebih sakit lagi jika dia tahu hal apa dan siapa yang membuat Yurra menangis.

“Gwenchana, gwenchana. Sssst.. Uljima, Noona.”

@@@

 

@@@

Shin You merasa ada yang aneh dengan sikap Aita hari ini. Semenjak menghilangnya Aita saat pertandingan basket kemarin itu secara tiba-tiba, Aita menjadi pendiam dan hanya menjawab pertanyaannya sekenanya. Shin You jadi berpikir, apakah Aita sedang ada masalah serius dan tidak bisa menceritakan masalahnya dengannya? Tapi itu tidak mungkin, karena Aita selalu bersikap terbuka dengannya.

TUK!

Sebuah gumpalan kertas mengenai bagian belakang kepala Shin You. Shin You langsung menoleh ke belakang dan melihat Key yang duduk dua bangku di belakangnya memberikan isyarat dengan satu tangannya agar Shin You mendekat ke arahnya.

Shin You menatap heran Key lalu mengedikkan bahunya. Shin You berbalik lagi, mengacuhkan Key. Saat ini Key memang sudah mau menerimanya sebagai sahabatnya, namun perubahan sikap Aita lebih menyita pikirannya. Lagipula, Shin You sudah memutuskan akan melupakan perasaannya pada Key.

Merasa tak dipedulikan tentu saja membuat Key kesal. Key lalu menghampiri Shin You dan duduk di samping yeoja itu.

“Sahabat macam apa kau? Kenapa justru mengacuhkanku, Pabo?!” omel Key sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aiish.. Apa maumu sih?! Aku sedang banyak pikiran, tahu!” Key kaget. Selama ini Shin You selalu bersikap manis padanya, namun kenapa kali ini Shin You bisa berubah galak dan menampakkan ekspresi wajah kekesalan di depannya setelah mereka telah menjadi sahabat?

“Aigoo.. Ada apa denganmu? Tak biasanya dahimu berkerut seperti itu? Ayo, tersenyum. Tampakkan wajah ceriamu..” Key menarik-narik kedua pipi Shin You dengan kedua tangannya, ingin membuat kedua sudut bibir yeoja itu membentuk suatu lengkungan ke atas. Key tertawa puas sedangkan Shin You hanya bisa berteriak-teriak kesakitan. Sontak, semua teman sekelasnya melihat ke arah mereka berdua yang tiba-tiba berubah menjadi akrab, bahkan sangat akrab. Baru kali ini mereka melihat seorang Key mau berurusan dengan seorang yeoja. Dan yeoja itu adalah Kim-Shin-You.

“Key, lepaskan!” Shin You mencoba menjauhkan tangan Key dari wajahnya dan Key mengalah. Shin You akhirnya dapat bernafas lega.

“Hahaha.. Itu hukamannya karena sudah berani tak mempedulikan seorang Key.” Shin You mengelus-elus pipinya yang memerah lalu menjulurkan lidahnya pada Key kesal. Key hanya tertawa ringan.

“Shin You-ah.. Jadilah manager tim basket kami.” Pinta Key tiba-tiba.

“Shirreo!” tolak Shin You mentah-mentah.

“Aiish.. Kau berani menolakku, huh?!” Key mulai kesal lagi.

“Aku mau, jika kau menemaniku pergi bermain ke Lotre World. Bagaimana?” tawar Shin You sambil tersenyum licik ke arah Key. Dalam hati Shin You tertawa karena dia tahu, seorang Key paling takut jika pergi ke taman hiburan seperti itu. Dan terselip rencana nakal di benaknya, dia akan meminta Key bermain roller coaster dengannya. Lebih tepatnya memaksa, karena satu kelemahan Key, Key takut ketinggian.

“Mwo?!” Key tampak bimbang dengan tawaran Shin You. Tapi jika dia tidak berhasil membuat Shin You menjadi manager klub basketnya, maka kegiatan klubnya akan berantakan karena manager yang lama baru saja mengundurkan diri. Akhirnya dengan berat hati, Key menerima tawaran Shin You.

“Baik! Siapa takut??” tantang Key sombong.

@@@

 

@@@

 

Jonghyun memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko alat musik. Sebentar lagi Shin You ulang tahun, dan dia ingin membelikan sebuah gayageum untuk Shin You. Shin You memang pernah bercerita padanya kalau dia ingin sekali bisa memainkan alat musik tradisional korea itu. Dan sepertinya Jonghyun bisa membantu mengajarinya karena pada dasarnya cara memainkan gayageum yang dipetik seperti kecapi tidak jauh berbeda seperti memainkan sebuah gitar yang sudah menjadi keahlian Jonghyun sendiri.

Jonghyun masuk ke dalam toko musik itu dan langsung memilih beberapa gayageum yang dijual di sana. Saat dia sudah memilih gayageum yang akan dia beli dan akan membayar di kasir, seorang yeoja juga ingin membayar barang yang akan dibelinya, sehingga tak sengaja tubuh mereka bersenggolan.

“Ah, mianhae. Ladies first-“ Di akhir kalimat, Jonghyun tanpa sadar melambatkan suaranya karena merasa kaget. Yeoja di hadapannya juga terlihat kaget melihatnya.

“Oh, neo..” “Lho, kamu?” kata mereka berdua bersamaan. Jonghyun tak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung saja Jonghyun menujulurkan tangannya.

“Joneun, Kim Jonghyun imnida. Maaf waktu itu jika aku lancang menyentuh pipimu.” Jonghyun tersenyum.

“Nan Aita Rinn. Aku bukan orang Korea, Jonghyun-ssi. Jadi kau bisa memanggilku dengan sebutan Aita saja. Gwenchana, itu juga salahku sehingga membuatmu terjatuh.” Aita menjabat tangan Jonghyun. Jonghyun terlihat senang bisa bertemu dan berkenalan dengan Aita. Baru kali ini dia merasakan ingin sekali mengenal seorang yeoja, dan yeoja itu adalah Aita.

“Di sekolah aku adalah sunbae-mu. Tapi kau tak perlu terlalu formal denganku, ne? Ah, kau membeli biola? Kau bisa memainkannya?” tanya Jonghyun dengan satu tangannya menunjuk ke arah biola yang ada di tangan Aita. Aita hanya mengangguk.

“Jonghyun-ssi juga bisa bermain gayageum?”

“Aniyo. Ini untuk hadiah ulang tahun adikku.” Jawab Jonghyun tersipu. Memang baru kali ini Jonghyun membelikan hadiah mahal untuk ulang tahun Shin You. Dan kebetulan pula saat dia sedang merealisasikan niatnya untuk membelikan barang yang diinginkan adiknya, yeoja yang disukainya melihatnya. Tentu baginya ini adalah kesan positif yang dapat dia tunjukkan di depan Aita.

“Aaah.. Kau benar-benar kakak yang baik, Jonghyun-ssi. Emm.. Alat musik apa yang bisa kau mainkan? Jujur, aku sangat tertarik dengan musik. Keluargaku adalah keluarga seniman musik.” Aita berkata seraya mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar biolanya.

“Gitar, piano, drum, dan flute.” Jawab Jonghyun yang tak bisa melepaskan pandangannya dari Aita.

“Piano? Jinccayo? Dari dulu aku sangat ingin memainkan alat musik itu. Tapi tak pernah ada waktu.” Mendengar kata-kata Aita itu membuat sebuah ide terlintas di otak Jonghyun.

“Bagaimana jika aku mengajarimu? Di sekolah kita ada satu piano yang bisa kita gunakan untuk latihan. Eotthe?” tawar Jonghyun.

“Kau mau? Ah, senangnya! Gamsahamnida, Jonghyun-ssi. Baiklah, mulai kapan kau bisa menjadi tutorku?”

END OF AUTHOR’S POV

 

@@@

To be Continue…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “Neon Naegae Banhaesseo – Part 3”

  1. Aita sama Jonghyun ajaaahhhh
    DAN ITU KENAPAAAAA SHIN YOU DEKET-DEKET KEY??? #plakk
    Yura-ya, kau sendiri yang pabo, makanya, sawer Jinki duluan #plak!
    Berarti di sini Minho HAK MILIKKU HIYAKH #PLETAKK #BAGH #BUGH #DUARRR
    Lanjut thor…. XDD

    1. Waduh, bukan Shin You yg dket2. Tapi Keynya. Hahaha
      Hehe, ada alasan kuat kenapa Yurra g mau gebet Jinki duluan kok. 😉
      Jiah, ya sudah. Bolebole. Wkwk
      Onkeydokey.

  2. caelah jjong udh mw mulai pedekate nih..
    Key jg jd dket ma shin you.. Trus gmna dong minho? Yurra suka jinki, tp jinki suka nhaena.. Hyeoso suka taem tp taem ky’a suka yurra..
    Nah loh? Ditunggu ya kelanjutannya..

  3. Tuhh kann!!
    pnttes, trnyata yurra suka ma Jinki.
    Omo! jd Hyung sae adlh Taemin & Taemin adlh Hyun sae?!
    hwahh ribet nihh..
    key udah mlai dkt ma shinyou.
    Jong Aita jg, aaahh aku pnsaran *langsung lari ke part selanjutnya*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s