Bodyguard Scandal – Part 3

Judul : Bodyguard Scandal

Author : Ayachaan

Main cast : Lee Taemin dan Park Yoon Hee (OC) as You

Support cast :

  • Lee Jinki as Taemin’s brother
  • Kim Jonghyun, Choi Minho and Kim Kibum as Taemin’s friends
  • Presiden Lee Se Jong as Taemin’s father.
  • Yunho as Park Yoon-hee’s sunbae.
  • other

Genre : Romance, Family Life

Rating : PG 15

A.N : Annyeong… saya balik lagi bawa FF. FF ini terinspirasi waktu saya liat ‘City Hunter’. Ngerasa keren gitu ya kalo ada bodyguard perempuan seperti Kim Na-Na dan…jadilah FF ini. FF ini pernah saya share di http://ffshineeshawol.wordpress.com . tapi, biar banyak yang baca saya share disini juga. (Oya, reader… mampir jg nyok ke WP tadi #promobanget ^^V). Kamsahamnidaaa~ admin dan reader yang baik hati mau ngepost dan membaca FF saya. Happy Reading ^^.

 

Note : All of this story use Author or Normal POV. Ada titik dua kebawah berarti beda adegan tapi masih diwaktu yang berdekatan. Dan bisa juga POV narasi yang digunakan lebih mengarah pada satu tokoh.

BODYGUARD SCANDAL PART. 3

‘BRUMM’

            Yoon-hee menghentikan mobil yang dikemudikannya tepat di depan pintu utama. Matanya mengerling Taemin yang masih saja duduk santai di jok belakang. Terasa aneh lagi, karena biasanya pangeran ini akan langsung turun begitu mobil berhenti.

            “Kau, ikutlah denganku.” Ucap taemin tiba-tiba membuat Yoon-hee membalikkan badannya mengarah pada Taemin.

            “Cepatlah.” Ucap Taemin lagi. Kali ini sambil mengambil tas kertas hitam yang berada di jok samping Yoon-hee. Membuka pintu dan melenggang dengan santai memasuki rumahnya.

            Sedikit terburu-buru, Yoon-hee keluar dari mobil dan menyusul Taemin. Meninggalkan kunci mobil itu, membiarkan seorang pengawal lain mengamankannya kedalam garasi.

            Taemin berhenti didepan pintu kamarnya. Menunggu Yoon-hee hingga berhenti dibelakangnya juga. Saat itu, tidak ada para pengawal lain yang biasanya berjaga. Entahlah, kenapa bisa, hanya saja Taemin menyukai keadaan ini. Keadaan yang bisa dia kendalikan. Senyum tipis menghiasi wajah pangeran tampan itu.

            “Masuklah sebentar.” Pinta Taemin pada Yoon-hee tanpa menoleh kebelakang.

            “Untuk apa, Tuan muda?” Tanya Yoon-hee. Untuk apa Taemin memintanya masuk kedalam kamarnya?. Lagipula jam kerja Yoon-hee segera habis satu jam lagi. Karena sekarang sudah larut malam.

‘CLEK’. Suara pintu dibuka.

            Yoon-hee masih memandang Taemin dengan tatapan ragu ketika pangeran itu menghadap padanya dari balik pintu kamarnya. Sebuah senyum manis tersungging di bibir Taemin. Entah, apakah itu senyuman tulus—Yoon-hee sedikit meragukannya.

            Pelan Yoon-hee melangkah masuk kedalam kamar Taemin. Sedikit terkejut mendapati betapa luasnya kamar pangeran ini. Ada sebuah tempat tidur ukuran king size dan jejeran sofa yang tertata. Beberapa rak buku yang didalamnya juga tertata begitu banyak buku.

            “Tidurlah disini malam ini.” Ucap Taemin dengan lugas.

            Yoon-hee mundur selangkah mendengar ucapan Taemin. Apakah dia…dia menganggapku sebagai gadis murahan, gadis yang tidak baik-baik?.

            “SHIREO!” seru Yoon-hee lantang. Emosinya sedikit tersulut karena perkataan pangeran ini.

            “YAA! Kau hanya perlu tidur di sofa itu. Dan aku tidur di tempat tidurku.” Sahut Taemin, seolah mengerti jalan pikiran Yoon-hee. Cih, enak saja gadis ini. Apakah ia menganggap seorang Lee Taemin akan meniduri yeoja yang bukan istrinya?. Tidak akan pernah terjadi hal seperti itu.

            “Tapi, Tuan muda. Aku harus kembali bekerja besok pagi.” Yoon-hee mencoba mencari alasan agar ia tidak harus tidur di kamar Taemin. Ah, konyol sekali ini.

            “Aku merasa sedikit takut tidur sendiri malam ini. Dan kau bisa memakai baju yang baru kubeli itu. ” Kata Taemin sambil mengarahkan pandangannya pada tas kertas hitam yang tergeletak di meja sofa. Jadi, inikah alasan Taemin membelikannya setelan jas formal?.

            “Tapi, Tuan muda—“ sahut Yoon-hee lagi, benar-benar ingin menghindar dari keinginan pangeran tampan ini.

            “Sudahlah, kau tidur di kamarku malam ini. TITIK!” Taemin menekankan ucapannya dikata titik. Dalam artian sudah tidak ada lagi kesempatan bagi Yoon-hee untuk menolak. Pangeran tampan ini, benar-benar sudah kelewat batas. Semaunya sendiri.

            Taemin bergerak menuju sofanya. Menarik meja didepannya sedikit menjauh dan membuka lipatan empuk sofa itu. Membuatnya lebih besar dan nyaman untuk ditiduri.

            “Kau tidur disini. Selimut ada dilemari itu.” Kata Taemin. Jemarinya mengarah pada sebuah lemari kayu yang berukuran besar di sudut ruangan.

            Pangeran tampan itu lalu berjalan menuju tempat tidurnya yang berjarak sekitar empat meter dari sofa tadi dan terhalang sebuah rak yang dipenuhi buku. Tanpa mengganti pakaiannya, Taemin merebahkan badannya dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Tak sampai lima menit, Yoon-hee sudah mendengar dengkuran halus Taemin. Menandakan kalau pangeran tampan itu sudah berada di alam bawah sadarnya.

            Yoon-hee melepas sepatunya dan beranjak mengambil selimut ditempat yang tadi ditunjukkan Taemin. Kemudian kembali menuju sofa untuk melemaskan otot-ototnya yang lelah. Mungkin benar Taemin hanya ingin merasa dia tidak tidur sendirian dikamar sebesar ini. Ya, berpikirlah positif Yoon-hee. Kali ini, turuti saja permintaan Taemin. Dan besok pagi-pagi sekali sebelum Taemin bangun, ia bisa segera pergi dan kembali ke apartemannya sebelum datang lagi untuk bekerja.

            Yoon-hee tidak bisa menahan berat matanya lagi, hingga akhirnya iapun tertidur pulas. Berniat menyusul Taemin yang telah lebih dulu terlelap. Tanpa Yoon-hee sadari, sebuah senyum kecut tersungging di bibir Taemin yang ternyata masih terjaga sejak tadi.

~~~

‘PLAK’.

            Beberapa lembar foto jatuh didepan Pengawal Yunho—Kepala divisi Pengawal keluarga Kepresidenan. Semua foto menampakkan seorang wanita yang tengah tertidur disebuah tempat yang sangat dikenali oleh Yunho. Tempat yang begitu familiar…seperti  kamar sang tuan muda Lee Taemin.

            “Bisa kau jelaskan Pak Kepala Yunho? Kenapa bisa ada foto-foto seperti ini?” kelekar Kepala Kantor Pengawal Baek. Menatap tajam Yunho yang tampak sedang memungut selembar foto dari atas mejanya.

            Yunho mengamati foto itu dengan seksama. Foto seorang yeoja, berjas formal hitam, rambut hitam yang luruh disisi tubuhnya—Park Yoon-hee. Apakah ini halusinasi, Yunho semakin memicingkan matanya. Bagaimana mungkin seorang Park Yoon-hee bisa tidur… ya, tidur di kamar Tuan muda Lee Taemin. Meskipun terlihat jelas kalau Yoon-hee tidur disofa sempit, bukan ditempat tidur.

            “Pak Kepala, ini pasti ada unsur konspirasi didalamnya.” Sahut Yunho tegas sambil berdiri dari duduknya. Dia tahu seperti apa Yoon-hee. Gadis itu tidak mungkin serendah ini.

            “Tapi ini sudah sangat memalukan, Yunho!” seru Kepala Baek dengan nada tinggi, seolah tidak bisa lagi menahan amarahnya.

            “Pak Kepala, biarlah aku yang menyelesaikannya dengan Yoon-hee.” Pinta Yunho dengan nada pelan nan tegas, berusaha meredam amarah Kepala Baek.

            “Berhentikanlah ia!” Ucap Kepala Baek yang langsung membuat Yunho terbelalak mendengarnya.

            “Pak Kepala, tidak bisa seperti ini. Kita harus menyelesaikannya dengan kepala dingin.” Sanggah Yunho.

            “Ani, kalau kau tidak bisa memberhentikannya, maka aku yang mengambil alih.” Ucap Kepala Baek dengan tatapan tajam pada Yunho. Seolah kedua orang yang hanya terhalang sebuah meja itu akan segera saling menyerang.

            “Tap—“

            “Panggilkan ia, suruh keruanganku! Atau kau juga ingin berhenti dari pekerjaanmu Kepala Yunho?”. Kepala Baek berujar sambil menatap sinis pada Yunho. Dia tahu, dia telah bisa membungkam lelaki itu untuk terus mengajukan pembelaan yang menurutnya basi. Untuk apa membela orang yang jelas-jelas membahayakan nama baik Kantor Pengawal Kepresidenan mereka.

            Kepala Baek menghampiri meja kerja Yunho dan mengambil semua foto yang tadi dihempaskannya ke meja Yunho. Berniat akan menjadikan foto-foto itu buktinya nyata kepada Yoon-hee.

.

.

            Yunho berjalan pelan setelah keluar dari ruangannya. Matanya menatap kedepan, dia beberapa kali menghembuskan napas panjang. Rasa bersalah. Ya, perasaan itu yang kini Yunho rasakan. Perasaan bersalah pada Yoon-hee. Dia sadar, Yoon-hee tidak mungkin berlaku seperti itu. Dia tahu seperti apa Yoon-hee, karena dia sudah berada dalam lingkaran keluarga Yoon-hee sejak masih kanak-kanak.

Karena Yunho adalah sahabat karib Yoon-hwa—kakak lelaki Yoon-hee. Dan Ayah Yoon-hee adalah orang yang membuatnya bisa seperti sekarang. Hingga Yunho tahu betul kalau Park Yoon-hee tidak mungkin seperti itu, tidak mungkin.

Langkah Yunho terhenti begitu melihat Yoon-hee tengah berjalan kearahnya. Sambil tersenyum pada Yunho, Yoon-hee mempercepat langkahnya.

“Yunho sunbae-nim.” Sapa Yoon-hee dengan senyum ramah. Ia berhenti tepat sekitas satu meter didepan Yunho dan membungkuk hormat.

“Kau, baru datang?” Tanya Yunho yang menyadari sepertinya Yoon-hee baru saja masuk ke istana besar itu.

“Ne, mianhamnida sunbae-nim. Aku terlambat 15 menit hari ini. Tidak akan kuulangi lagi nanti.” Jawab Yoon-hee sambil membungkuk. Menghanturkan maaf atas kelalaiannya. Ah, tidak. Ini bukan hanya disebabkan karena dirinya, tapi juga karena si pangeran tampan Lee Taemin itu yang memaksanya untuk bermalam semalam.

Yunho menatap Yoon-hee dengan tatapan nanar. Sedikit curiga pada Yoon-hee karena keterlambatannya. Gadis ini adalah orang yang disiplin, dan adalah hal yang tidak biasanya jika ia terlambat seperti ini. Apakah benar, ada sesuatu yang salah yang baru saja terjadi pada gadis yang ada dihadapan Yunho ini.

“Sunbae-nim?.” Suara Yooon-hee menyadarkan Yunho.

“Ehem.” Yunho berdehem pelan sambil menunduk. Agak ragu untuk mengatakan sesuatu hal yang seharusnya dia katakan. Tidak tega pada keadaan yang akan segera dihadapi atau dipertanggungjawabkan oleh Yoon-hee—apabila itu memang salahnya.

“Kau dipanggil ke ruangan Pak Kepala Baek.” Ucap Yunho sambil mengangkat wajahnya agar bisa bertatap langsung dengan Yoon-hee. Begitu melihat mata bening Yoon-hee, rasa tidak tega itu kembali menyeruak dengan keras. Tidak mungkin. Gadis baik yang sudah dia kenal bertahun-tahun ini tidak mungkin berbuat serendah itu. Tidak, karena Yunho percaya kalau Yoon-hee adalah gadis baik-baik.

“Benarkah? Apakah terjadi masalah, sunbae-nim.” Tanya Yoon-hee. Sedikitpun tidak menyadari keadaanya yang tengah terancam.

“Aku tidak tahu.” Jawab Yunho singkat. Lebih memilih agar Yoon-hee tahu sendiri duduk permasalahannya. Karena memang sesungguhnya dia tidak akan sanggup untuk menjelaskannya pada Yoon-hee. Tidak sanggup pula jika harus menuduh gadis ini berbuat hal rendah seperti itu.

“Baiklah, aku kesana dulu, sunbae-nim. Annyeong.” Yoon-hee membungkuk kemudian dengan langkah tegas berlalu melewati Yunho yang masih terpaku ditempatnya.

“Mianhae, Yoonhee-ah. Aku tidak bisa melindungimu.” Gumam Yunho dengan nada sedih.

.

.

            Yoon-hee sampai didepan kantor Kepala Baek yang masih berada dilingkungan istana keluarga Lee itu.

 

‘Tok tok.. tok tok’.

Sedikit ragu, Yoon-hee mengetuk pintu tinggi yang terbuat dari kayu itu. Agak gugup, entahlah datang darimana perasaan itu. Tapi, Yoon-hee merasa sepertinya ada masalah besar yang melibatkan dirinya.

“Masuk.” Sebuah suara berat yang berasal dari balik pintu itu menyahut.

Yoon-hee menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan sebelum tangannya menyentuh dan memutar kenop pintu itu.

“Pak Kepala memanggil saya?” Tanya Yoon-hee setelah membungkuk begitu ia sampai didepan meja besar. Dibaliknya ada Pak Kepala Baek yang sepertinya tengah melihat-lihat beberapa lembar foto.

‘PLAK’.

            Kepala Baek membanting beberapa lebar foto itu diatas mejanya. Membuat Yoon-hee terbebelak akan sikap si Kepala Pengawal.

            “Bisa jelaskan semua itu?” Tanya Kepala Baek dengan tatapan sinis pada Yoon-hee.

            Seperti terserang sengatan listrik, begitu Yoon-hee menyadari foto apa sebenarnya yang baru saja dihempas dengan kasar oleh Kepala Baek. Foto-foto itu adalah foto-foto dirinya yang tengah memperlihatkan bahwa ia sedang tidur dikamar Taemin.

            Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, bukankah ia hanya tidur disofa sementara Taemin tidur ditempat tidurnya sendiri. Dan siapa pula yang memotretnya. Apakah orang itu punya dendam yang begitu besar pada Yoon-hee hingga tega melakukan hal ini. Memfitnahnya seolah-olah ia adalah yeoja penggoda.

            Tapi, bukankah pintu kamar Taemin terkunci? Lalu mungkinkah Taemin pelakunya. Taemin yang telah memotretnya?. Tidak, tidak. Yoon-hee terus menyanggah pikirannya yang mulai berpikir jika Taemin yang berusaha menjebaknya.

            Pangeran tampan itu, tidak mungkin melakukan hal tega seperti ini. Meskipun  Yoon-hee menyadari jika Taemin sangat tidak menyukainya. Tapi, tidak. Ia tidak ingin menuduh Taemin. Tidak pada seorang namja manis yang ingin ia lindungi—meskipun Taemin tidak ingin dilindunginya. Ya, ia tidak mungkin menuduh namja yang beberapa hari terakhir ini membuatnya berdebar.

            “APA KAU BISU, PENGAWAL PARK?” Tanya Kepala Baek dengan nada keras. Membuat Yoon-hee tersentak dan buru-buru membungkuk, untuk menghanturkan maafnya.

            “Aku…aku…itu semua tidak benar, Pak Kepala.” Jawab Yoon-hee sedikit tergagap. Ia hanya sanggup untuk berkata jujur. Meskipun ia menyadari posisinya saat ini sudah menjadi yang paling bersalah.

            “Pembelaan macam apa itu?.” Sinis Kepala Baek. Menatap Yoon-hee dengan pandangannya yang paling menyeramkan. Memandang Yoon-hee seolah-oleh gadis ini adalah kejahatan yang harus dibasmi. Cih, ia benar-benar tidak suka direndahkan seperti ini. Meskipun itu oleh Kepala kantornya sendiri.

            “Aku berkata jujur, aku hanya tidur disana. Tidak melakukan apapun.” Sahut Yoon-hee dengan tegas. Ia sudah bertekad, ia akan menjadi orang yang jujur. Mungkin ia memang salah karena menerima permintaan Taemin begitu saja. Tapi biar bagaimanapun. Tidak terjadi apapun setelah itu.

            “Kau masih bisa berkata seperti itu? Kau pikir dimana wibawamu sebagai pengawal Kepresidenan yang terlatih hah?” sanggah Kepala Baek dengan nada tinggi.

            “Tapi, Pak Kepala, aku—“

            “KAU KUBERHENTIKAN! Atas dasar pencorengan nama baik instansi ini. Silakan kemasi barangmu dan tinggalkan tempat ini. Gaji terakhirmu akan segera kukirim ke rekeningmu.” Potong Kepala Baek. Kalimat panjang dari Kepala Baek barusan seolah meruntuhkan segala semangat Yoon-hee. Segala keberanian dan kesabarannya. Hanya karena hal ini, hanya karena hal kecil namun mungkin sensitive ini.

Tanpa suara Yoon-hee membungkuk dan segera keluar dari ruangan Kepala Baek. Hampir tidak bisa menahan emosinya untuk tidak meledak. Bagaimana mungkin, bagaimana?. Hanya karena hal ini, hanya karena hal kecil seperti ini, ia harus kehilangan segala impiannya yang sudah ia raih.

Pelan, perasaan bersalah merayap dihati Yoon-hee. Begitu otaknya memutar memori tentang seluit wajah seorang lelaki paruh baya yang selalu membuatnya bangga. Ayahnya. Ya, Appanya yang begitu ia cintai. Yang begitu ingin ia buat bangga meskipun sang Appa sudah tidak lagi berada didunia ini.

.

.

            Yoon-hee memasuki ruangannya dengan wajah datar. Ia segera mengambil tasnya dan membereskan beberapa barang-barangnya. Memasukkannya kedalam tas kertas hitam, tanpa menyadari semua pandangan bingung dari para sunbae-nya.

            Yoon-hee selesai membereskan semua barangnya dan berniat segera meninggalkan tempat itu, sebelum langkahnya dicegat oleh para sunbae-nya.

            “Yoonhee-ah, waeyo?” Tanya Pengawal Shin yang kini tengah berdiri dari mejanya dan berjalan mendekati Yoon-hee, diikuti oleh beberapa sunbae-nya yang lain.

            “Gwenchanaeyo, kamsahamnida sunbae-nim. Tapi aku tidak bisa lagi bekerja sama dengan kalian. Senang bisa bekerja sama dengan kalian.” Yoon-hee membungkuk sambil tersenyum. Memaksakan agar airmatanya tidak keluar. Menutupi segala sakit hati yang ia rasakan. Ia tidak ingin terlihat lemah. Baginya, berdiri tegar adalah sebuah keharusan.

            “Aku pergi dulu. Mianhamnida jika selama ini aku banyak salah.” Sekali lagi membungkuk hormat. Kemudian terus berlalu meninggalkan ruangan itu di iringi tatapan sendu dari para sunbae-nya. Sejujurnya, mereka telah mengetahui apa yang terjadi. Sebetulkan mereka semua sangat meragukan tentang kebenaran peristiwa yang sebenarnya. Sejujurnya, mereka menganggap apa yang terjadi pada Yoon-hee adalah ketidakadilan. Dimana peristiwa ini tidak ditelusuri, tapi langsung dijatuhkan terdakwa dan diberi hukuman.

            Dari sudut matanya, Yunho dapat melihat kepergian Yoon-hee. Dia tahu, gadis itu pasti sakit hati. Ia pasti sangat kecewa menerima kenyataan ini—ketidakadilan pada dirinya. Tapi, Yunho seakan kaku dalam duduknya. Dia seolah tidak bisa menggerakkan badannya untuk sekedar mengucapkan selamat jalan pada Yoon-hee. Terlalu merasa bersalah, sangat merasa bersalah.

To be continue…

Part. 3 selesai… mari tunggu part. 4 nya. Please I need your comments so much. Kamsahamnidaaa~.

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “Bodyguard Scandal – Part 3”

  1. yahhh ga adil langsubg main pecat az.
    Taemin mungkin yg foto.. ahhh ntar aemin nyesel lohhh ntar rindu loh ma yoonhee..

    next part .

  2. taemiiin yang foto kaan? ide yang bareng jjong kaan? aigoo thor kasian yoon-hee 😦 ayo ayoo lanjut thoor part 4 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s