More Than 100 Days – Part 3

More Than 100 Days – [3]

Title : More Than 100 Days

Author : adinary

Main Cast : Han Jinie – Lee Taemin

Support Cast : Key, Sulli f(x)

Length : Sequel

Genre : Fantasy – Romance

Rating : General

Summary : Key, sunbae Jinie tiba-tiba turun ke bumi dan menghampiri Jinie. Ia membuat Jinie tersadar bahwa telah terjadi sesuatu dengan perasaannya saat Taemin terus bersama Sulli. Apa yang berbeda dengan perasaannya?

A.N : ANYYEONG! Author balik lageeeeee HAHAHA *kibar bendera* (reader: apasi! Rusuh!) akhirnya ada waktu senggang(?) nerusin part 3 nya :’) *sujud syukur* *sok sibuk* ya ampun ya, SMA keras men! *tetep* OKE! Maaf kalau banyak typo, ceritanya ada yang gaje atau gimana. Tapi FF ini asli bikinan author bukan plagiat. Sekali lagi, hanya terinspirasi pas author abis nonton Thinkerbell^^ Kritik, saran, komentar selalu ditunggu :3 dan copas diharamkan! Plagiat jg! enjoy ya!!^^

(part sebelumnya~)

Author pov

30 menit berlalu, Taemin sudah mulai merasa lelah membaca. Ia pun menoleh ke arah Jinie yang ternyata tertidur di sebelahnya.

Taemin memandang wajah Jinie lekat-lekat, “Lucu. Wajahnya lucu. Hhh, sampai saat ini rasanya aku sedang bermimpi ada seorang peri yang tinggal bersamaku untuk 100 hari. Peri? Ku kira hanya ada dalam dongeng.” Lirih Taemin.

Karena kasian, Taemin pun menggendong Jinie dan membaringkannya di kasur milik Taemin. Membetulkan posisi bantal dan menyelimuti peri yang sedang berwujud manusia itu dengan perlahan. Sejenak Taemin memandang Jinie yang tertidur pulas dan duduk di samping Jinie. Taemin menyingkirkan rambut panjang Jinie yang berada di pipi gadis itu. Taemin pun mengambil bantal dan guling yang berada di sebelah Jinie dan berjalan menuju sofa. Ia memutuskan untuk tidur di sofa dan membiarkan Jinie tidur di kasur empuk miliknya.

***

Jinie pov

“Aniyo, bukan begitu caranya. Lihat dulu rumus di halaman sebelumnya.”

Ini yang aku lakukan setiap malam bersama Taemin. Aku masih mengawasinya belajar sampai pukul 9 malam. Setidaknya beberapa hari ini nasibnya mulai membaik walau tidak semuanya baik. Ia tak pernah lagi lupa membawa tugasnya. Walau kata-kata malas masih sering muncul dari mulutnya.

“Aish!!! Sudahlah, jangan kerjakan soal no terakhir ini. Benar-benar membuatku pusing!” Gerutunya sambil melempar pensil.

Itulah kebiasaan Taemin jika menemukan soal yang sulit. Aku harus sabar, “Jangan menyerah, bahkan kau belum mencoba mengerjakannya dengan rumus yang lainya.”

Taemin berdecak, aku tau dia mulai kesal. “Aku malas. Ngantuk. Mau tidur.” Ia beranjak dari meja belajarnya menuju kasur.

“YA! Jangan menyerah begitu saja! Coba dulu rumus yang lain.” Bujukku sambil membawa buku dan menghampirinya.

“Sudah ku bilang aku ngantuk!” ucapnya kesal.

“Tapi-“

Tok tok tok…

Aku dan Taemin menoleh bersamaan saat ada yang mengetuk pintu kamar Taemin.

“Taemin-ah, ini eomma..” ucap suara di balik pintu. Aku melihat Taemin turun dari kasurnya dengan malas. “Ne.. tunggu.” Balas Taemin.

Secepat kilat aku pun merubah wujudku menjadi peri kecil lagi dan bersembunyi di belakang lampu tidur. Aku melihat Taemin berhadapan dengan eommanya dengan malas sedangkan eommanya terus tersenyum.

Ayolah, Taemin-ah! Sudah kubilang berikan senyum terbaik untuk eommamu, untuk kedua orangtuamu. Jangan cemberut seperti itu.

Tak lama aku melihat Taemin keluar kamar dengan eommanya. Mungkin membicarakan sesuatu?

Taemin pov

Eomma tiba-tiba mengajakku turun ke bawah untuk menemui appa. Ada apa ini? Aku pun duduk di sofa ruang keluarga berhadapan dengan appa dan bersampingan dengan eomma.

“Kami akan ke Indonesia selama 2 bulan. Ada yang harus kami urus disana.” Ucap appa to the point. Ia yang tadi menatapku kini menunduk, begitu juga dengan eomma. Aku sedikit terkejut. 2 bulan? Ini pertama kalinya mereka pergi selama itu. Lalu aku? Aku sendirian disini. Mereka benar-benar…

“Mianhae, Taemin-ah,” Ucap appa lagi. “Maaf kami selalu tak ada untukmu. Kami terlalu sibuk dengan bisnis kami.”

“Tapi kau harus tahu, kami sayang padamu.” Ucap eomma.

“Gwenchanayo. Aku sudah terbiasa.” Ucapku sambil senyum terpaksa. “Aku ke kamar dulu. Mau tidur. Selamat malam eomma, appa.”

Kedua pasang mata mereka megikuti langkahku saat aku beranjak dari sofa. Aku menyadari wajah mereka berdua yang terlihat merasa bersalah padaku. Tapi sudahlah, apapun yang mereka ucapkan mereka takkan mempedulikanku. Mereka hanya peduli pada bisnisnya walau katanya mereka sayang padaku.

Aku pun memasuki kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Tak lama Jinie pun menghampiriku dan duduk di samping wajahku dengan wujud perinya.

“Kau sedih?” tanyanya tiba-tiba.

“Sedih?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Wajahmu terlihat sedih. Ada apa dengan orangtuamu?”

“Aku tidak sedih. Mereka hanya akan ke Indonesia selama 2 bulan dini hari nanti. Sudahlah, itu hal biasa.”

“Apa ini kali pertama mereka pergi selama itu?”

DING! Dia tepat sasaran. Peri aneh ini tau rupanya. Aku hanya mengangguk kecil dan memunggunginya. “Aku ngantuk. Jangan ganggu aku. Dan jangan bahas lagi atau mencampuri urusan aku dan orangtuaku.”

Jinie pov

Dia memunggungiku. Aku tau suasana hatinya sedang tak bagus. Kasian sekali namja ini. Sebaiknya aku biarkan dia menenangkan suasana hatinya dulu.

Aku pun terbang menuju meja belajarnya untuk tidur di kasur miniku. Kalian tau? Kemarin Taemin membelikan kasur mini ini untukku^^ sebagai permintaan maaf. Sebenarnya kasur ini untuk Barbie, hihihi :3

Aku terhenti saat melihat kalender. Ini masih bulan juli dan OMO! Besok tanggal 18???

Ah, apa yang harus ku lakukan untuk menghiburnya? Membantunya seharian? Mencabuti bulu kakinya agar kakinya mulus?^^ Atau……Sulli eonni? Hm! Kurasa aku punya ide yang lumayan bagus.

Aku pun bergegas sebelum tepat jam 12 malam. Aku harus ke rumah Sulli eonni, membuatnya memberi ucapan selamat untuk Taemin. Tak butuh waktu lama untukku ke rumah Sulli eonni. Sekarang tinggal masuk lewat lubang ventilasi kamarnya.

Di dalam kamar Sulli eonni aku melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ayo, berpikirlah, Jinie. Buat alarm di ponsel Sulli eonni.

30 menit berlalu dan aku berhasil membuat alarm. HA! Aku memang pintar, hahaha. Aku pun mendekati telinga Sulli eonni dan berbisik, “Kamsahamnida~~~” Lalu dengan secepat kilat aku pun keluar dari kamar itu dan kembali ke rumah Taemin.

Author POV

00:00 – 18 Juli.

“Saengilchukkhaeyo Lee Taemin~” Bisik Jinie tepat di telinga Taemin. Walau Jinie tahu Taemin takkan mendengarnya. Jinie pun kembali ke kasurnya.

Sementara itu di rumah Sulli, alarm ponsel Sulli tiba-tiba berbunyi dan menampilkan text, Taeminie’s Birthday ^^. Sulli pun dengan susah payah bangun dan mengerjapkan mata beberapa kali. Memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.

“18juli? Kapan aku memasang alarm ini, ya

?” ucap Sulli yang belum sadar sepenuhnya. “Tapi tidak ada salahnya aku mengirim pesan padanya.” Lanjutnya. Sulli pun mengetik pesan dan mengirimnya pada Taemin.

Sementara itu Jinie sama sekali belum tertidur karena menunggu pesan yang datang dari Sulli. Jinie terlonjak ketika ponsel Taemin berbunyi. Ia pun segera membangunkan Taemin. Walau susah, tapi Taemin tetap berusaha bangun dari tidurnya dan membuka Ktalk (kakao talk) yang masuk.

Sulli<3

Taemin mengucek(?) matanya berusaha meyakinkan nama yang tertera di ponselnya. Taemin menatap Jinie sekilas dan kembali menatap layar ponselnya.

“Sulli!! Ini dari Sulli.” Ucap Taemin bersemangat. Matanya mendadak segar. Ia pun membenarkan posisi duduknya dan membaca baik-baik pesan dari Sulli.

‘ANNYEONG!!!!^^ Taemin-ah, Taeminie yang tampan.. saengil chukkhae.. saengil chukkahamnida.. kekekeke~~~^^ lebih rajinlah dari sebelum-sebelumnya, jadilah laki-laki yang baik hati, dewasa, selalu tersenyum dan selalu tampan. Terimakasih karena kau selalu denganku, jadi aku tak sendirian kalau ke toko buku. Jangan bosan menemaniku jalan-jalan, oke??? Kekekeke~ maaf mengganggu tidurmu dengan ucapanku yang panjang malam-malam seperti ini. Kau harus mentraktirku!!!!^-^’

Dengan cekatan dan semangat tinggi, Taemin membalas chat dari Sulli. Akhirnya mereka pun chatting. Jinie memperhatikan setiap ekspresi yang Taemin keluarkan saat ia mengetik pesan atau membaca pesan untuk dan dari Sulli.

Jinie tersenyum kecil melihat Taemin. Ia ikut senang melihat Taemin, setidaknya ia bisa merasa bahagia di hari ulang tahunnya, dibanding harus kesal karena orangtuanya. Jinie pun kembali ke tempat tidurnya.

1 jam kemudian…

AISH! Apa mereka belum berhenti chatting???? Batin Jinie. Jinie terus mencuri pandang ke belakang untuk melihat Taemin yang sudah berkali-kali ganti posisi tanpa melepaskan ponsel dari tangannya. Mencuri pandang ke belakang membuat leher Jinie pegal karena posisinya kini tidur sambil memunggungi Taemin *ngerti ga posisinya? Jadi meja belajar Taemin itu bersebrangan dengan kasurnya Taemin. Posisi kasur Jinie juga horizontal*.

“Seharusnya kau tau kalau aku yang merekayasa ini. Jd sebenarnya aku yang memberi kejutan untukmu, bukan Sulli eonni.” Gumam Jinie dengan sangat pelan. Ia pun memutar kepala untuk curi pandang lagi ke belakang dan….

“KYAAA!!!” teriak Jinie kaget karena melihat wajah Taemin secara close up di matanya. “YA!!! Kau mengagetkanku!! Jangan senyum seperti itu, itu menakutkan.”

“Kekekeke… kau tau????? Ini pertama kalinya Sulli mengucapkan selamat tepat tengah malam seperti ini padaku,” Jelas Taemin sambil tersenyum lebar. “Waaahhhh ini sangat membuatku senang.”

Taemin pun kembali ke kasurnya dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar(?). Jinie pun mengikuti Taemin dan duduk di atas bantal.

“Taemin-ah.. Saengil chukkhaeyo..” senyum Jinie.

Taemin pun menoleh ke arah Jinie sambil terus tersenyum, “Ne, gomawo.”

“Kau sudah 18thn ya,”

“Ne~”

“Kau tua ya…”

Senyum Taemin menghilang lalu mendelik ke arah Jinie, “Mworago???”

“Kekeke.. aniyo.. aku hanya bercanda. Omong-omong, kau mau tidak?”

“Mau apa??? Kau akan memberiku hadiah???” Senyum Taemin kembali.

Jinie mengangguk, “Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sepulang kau sekolah? Aku akan mentraktirmu.”

“Hari ini?” Tanya Taemin sedikit ragu. Jinie pun mengangguk sambil tersenyum.

Taemin menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Engg.. tapi.. Jinie-ya mi-mianhae aku tidak bisa.”

“Waeyo?”

“Bu-bukan berarti aku tidak mau!” jelas Taemin cepat, “Tapi aku terlanjur janji untuk pergi dengan Sulli sepulang sekolah. Mianhae.”

“Ooh.. gwenchanayo.. pergi saja dengan Sulli eonni. Kurasa itu lebih baik. Bukankah kau selalu menunggu saat-saat jalan berdua dengannya?” ucap Jinie pura-pura bersemangat.

“Kau tak apa?”

Jinie menggeleng, “Tenang saja. Asal kau sediakan banyak makanan untukku disini selama kau pergi, kekeke.”

“Ne! Pasti.” Senyum Taemin.

“Sudahlah, tidur sana. Pagi nanti kau ada test praktek, bukan? Kau harus mendapat nilai tinggi di hari ulang tahunmu, ara?”

“Neeeeeeee!!” Ucap Taemin sambil menarik selimut dan tidur lagi. Wajahnya terlihat sangat senang.

Jinie pov

Aku terbang dengan malas menuju kasur miniku setelah memastikan Taemin tidur lelap. Aku sedikit kecewa saat ia menolak ajakanku. Aku pun berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Seharusnya aku bisa bersenang-senang dengan Taemin sepulang ia sekolah nanti. Aku menarik selimut dan menutupi tubuhku sampai leher.

Sulli eonni mengajaknya duluan. Kurasa mereka akan segera menjalin hubungan. Ah, eottokhae? Kalau mereka berpacaran bagaimana denganku?

Jinie mengerjap, “Aish! Apa yang aku pikirkan?” Jinie menjitak pelan keningnya. Maksudku, kalau mereka berpacaran aku takut tugasku sedikit terganggu. Ya, itu maksudku.

~~~

“Taemin-ah, saengil chukkhae..” Teriak seorang namja dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.

“Ne!! gomawo~” balas Taemin.

“Banyak sekali yang memberi selamat untukmu.” Ucapku sambil melihat namja tadi sambil tetap diam di saku kemeja sekolah Taemin.

“Tentu saja banyak, temanku kan banyak.” Ucapnya.

“Ngggg.. Jinie-ya….” Panggil Taemin sambil menoleh ke arahku.

“Wae?”

“Gomawo, berkat kau hasil test ku mendapat nilai sempurna. Kau lihat ekspresi seongsaenim kan barusan? Ia terlihat terkejut dengan nilaiku.” Ucapnya.

“Oh, ne.. itu tugasku, bukan?”

Ia mengangguk sambil tersenyum, tapi kemudian ia memanggilku namaku lagi.

“Jinie-ya…”

“Hm?”

“Nggg.. kau… kau tau kan aku akan, akan pergi bersama Sulli sebentar lagi.” Ucapnya dengan nada sedikit ragu.

“Ne, waeyo?”

Taemin terlihat sedikit bingung, terlihat dari matanya. Sebenarnya dia ingin bicara apa?

“Mianhae,” Mwo? Dia meminta maaf? Untuk apa? “Bukan maksudku menyuruhmu mm.. mengusirmu atau mengatakan bahwa.. Aku hanya ingin.. Nggg, aih bagaimana mengatakannya.”

Aku pun tersenyum setelah menangkap maksud dari apa yang ingin ia katakan, “Arraseo, tenang saja. Aku mengerti maksudmu.” Ucapku sambil keluar dari saku kemejanya dan melayang(?) di hadapan wajah Taemin.

“Jinie-ya.. aku tidak bermaksud-“

“Gwenchanayo~ bersenang-senanglah!! Aku pulang dulu, annyeong! Semoga menyenangkan^^”

Ia pun tersenyum dan bergumam, gomawo. Aku juga ikut tersenyum dan segera pulang ke rumah Taemin. Semakin lama semakin menjauh darinya.

“Hhh, itu artinya aku sendirian di kamar Taemin? Membosankan.” Keluhku sambil terus terbang ke rumah Taemin.

Aku pun sampai di kamar Taemin lalu merubah diri jadi manusia. Issshhh, apa yang harus ku lakukan sekarang. Taemin dan Sulli eonni pasti sedang bersenang-senang. Itukan berkat aku juga! Aaaaaaaaaaaah kenapa aku tiba-tiba kesal seperti ini, menyebalkaaaaaaan!! Ada apa denganku?!

Aku sudah seperti orang gila, bergulingan di kasur sampai bantal-bantalnya berjatuhan.

“Padahal kan aku juga ingin main.” Rengek Jinie dengan bibir yang sudah manyun sempurna(?).

“Kau ingin bermain atau ingin bersama Taemin, huh?”

Eh? Suara siapa itu?

Aku pun segera duduk dan menoleh ke arah datangnya suara. Aku mengerjapkan mata melihat seorang namja tinggi dan yah memang tampan. Ia berdiri di samping kasur ini.

“Key…sunbae?” tanyaku ragu.

“Wae? Kau terkejut?” Ia pun ikut duduk di kasur ini. Untuk apa dia datang kesini? Mataku terus memperhatikan setiap gerak-geriknya.

“Jangan memandangku seperti itu. Aku tahu aku sangat tampan.” Ucapnya. Cih! Percaya diri sekali. Masih lebih tampan Taemin. Eh??? Apa yang aku pikirkan!-_-

“Ini baru hari ke 19 dan kau mulai tertarik dengan namja bernama Taemin itu. Payah.”

Aku mendelik, “Apa maksudmu aku payah? Siapa bilang aku tertarik dengannya!”

Namja bermuka menyebalkan itu pun tertawa meledek, “Sudahlah, aku tahu kau tertarik padanya! Jangan mengelak! Aku ini sunbaemu jadi aku lebih pintar membaca pikiran, apa kau lupa tentang itu, huh? Aku yakin besok pun kau sudah mengaku pada diri sendiri bahwa kau menyukainya. Setelah itu kau akan terus cemburu kalau Taemin pergi bersama Sulli lalu kau- AWW YA! Kenapa kau melemparku dengan bantal?!”

“Kau berisik!” Teriakku. Tiba-tiba Key sunbae menyeringai, menyeramkan sekali-_-

“Akan ku laporkan pada ayahmu karena kau malah menyukai Taemin, bukan menjalankan tugasmu.” Ucap Key sunbae dengan mimik menyebalkan sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.

Ya Tuhan, izinkan aku memukul namja satu ini T_T dia benar-benar menyebalkan.

“Ish! Kalau kau bukan sunbaeku aku sudah memakanmu! Sebenarnya ada perlu apa kau kesini, huh?!”

“Aku disuruh ayahmu untuk mengawasimu. Hanya itu. Wae? Kau keberatan? Kalau kau keberatan………….itu deritamu, hehehe.”

“Mwo?! Tentu saja aku keberatan!!! Lagipula untuk apa ayah mengirim makhluk sepertimu untuk mengawasiku!” Bentakku.

Key sunbae mengangkat kedua bahunya, “Molla. Mungkin karena aku adalah salah satu peri berprestasi? Pintar? Cerdas? Tampan? AHAHAHAHAHAHAHA.” Tawanya menggelegar. Terdengar seperti nenek sihir *maapin lockets._.*. “Sudahlah, aku sibuk. Tak bisa berlama-lama disini. Tapi aku akan terus mengawasimu, arachi? Annyeong!” Pamitnya sambil mengacak rambutku asal.

“Pergi kau sana dasar peri jelek!!!!!!!!!” Teriakku. “AAAAAAAAAAA namja itu benar-benar menyebalkan!!!! Untuk apa ayah memintanya mengawasiku?!” Aku pun bergulingan di kasur saking kesalnya.

Perlu aku ceritakan tentang Key sunbae? Dia memang murid terpintar dan paling berprestasi saat di sekolah. Ia 5 tingkat diatasku. Ia berhasil merubah nasib seorang manusia dalam waktu 2 minggu saja. Bukankah itu mengejutkan? Dia mengalahkan rekor Jonghyun sunbae yang tugasnya selesai dalam 1 bulan. Key sunbae banyak mendapat pernghargaan, bahkan sekarang ia menjadi seorang pengawas para peri yang sedang praktek di usianya yang sebenarnya terlalu muda untuk seorang pengawas. Sialnya, kenapa ia harus mengawasku dan ayah yang secara khusus memintanya? Asal kalian tahu, aku banyak terlibat masalah dengannya. Aku selalu terfitnah secara tidak langsung olehnya, mentang-mentang aku hoobaenya T_T

Sekarang, kemana Taemin? Dia belum pulang juga? Aku kesepian padahal baru 2 jam ia pergi dengan Sulli eonni. Engg, maksudku kesepian karena tidak ada teman ngobrol. Itu maksudku. Lebih baik aku melakukan sesuatu agar aku tak bosan.

Author pov

“Kau senang?” Tanya Taemin saat mereka sedang makan disebuh café yang tidak jauh dari lokasi wahana bermain.

Sulli pun mengangkat kepalanya lalu tersenyum, “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. hari ini kan kau yang ulang tahun.”

Taemin pun tertawa kecil, “Kalau aku sudah pasti senang karena kau menemaniku. Kau juga orang pertama yang mengucapkan ulang tahun untukku tengah malam tadi.”

Taemin menghela nafas, “Aku sangat menikmati hari ini. Entahlah, hari ini terasa lebih menyenangkan dari hari-hari lainnya.”

Tak lama pesanan mereka pun datang, “Kamsahamnida.” Ucap Taemin pada pelayan. Lalu pelayan itu berlalu.

“Oh ya, sebelum makan…” Ucap Sulli menggantung kata-katanya. Ia merogoh isi tasnya. “Ini, hadiah kecil untukmu. Maaf kalau kau tak suka dengan pilihanku.” Senyum Sulli sambil menyodorkan kotak berukuran sedang ke arah Taemin.

Taemin tersenyum senang, “Apa ini?”

“Buka saja. Ku harap itu cocok denganmu.”

Taemin pun membuka hadiah pemberian Sulli, “Oh! Jam tangan ini keren! Darimana kau tahu kalau aku menginginkan jam tangan ini? Woaaa kau memang hebat!” Ucap Taemin dengan semangatnya sambil mencoba jam tangan tersebut. Wajahnya terlihat sangat senang.

“Hehehe, waktu kita ke toko buku, kau mampir ke sebuah toko jam tangan dan bilang bahwa jam tangan itu keren dan kau ingin membelinya kalau berkunjung ke toko itu lagi. Untung saja kau belum sempat k etoko jam itu lagi, jadi aku bisa lebih dulu membeli jam itu.” Jelas Sulli.

“Ooh arasso.” Taemin masih tersenyum senang sambil melihat jam tangan yang terpasang di tangan kanannya.

“Gomawo. Thankyou soooooooooo MUCH Sulli-yaaaa!” Ucap Taemin dengan senyum yang lebar sambil mencubit kedua pipi Sulli.

Sulli pun tertawa, “Ne, ne.. Aku senang kau menyukai hadiah dariku.”

“Kalau begitu ayo kita makan! Semua wahana tadi membuatku lapar.” Ucap Taemin sambil memegang sendok.

“Selamat makaaaaaan.” Ucap mereka berdua.

Mereka pun diam sambil menikmati menu makan mereka samapi tiba-tiba Taemin berhenti mengunyah lalu menelan makanan dimulutnya. Ia menatap Sulli yang masih terus makan.

“Sulli-ya..” Panggil Taemin.

“Wae?” Sulli juga berhenti mengunyah lalu menelan makanannya.

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa itu? Katakan saja.” Ucap Sulli sambil memasukan satu suapan lagi ke dalam mulutnya.

“Aku…”

Taemin pov

Tiba-tiba terlintas sesuatu di otakku. Aku ingin mengungkapkan sesuatu pada Sulli. Sudah lama aku ingin mengungkapkannya pada Sulli tapi keberanianku belum terkumpul semua. Aku pun berhenti mengunyah dan menalan makanan yang ada dalam mulutku lalu menatap Sulli yang masih menikamati makanannya.

“Sulli-ya..” Panggilku.

Ia pun mendongak dan berhenti makan, “Wae?”

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

Ia memasukan satu suapan lagi ke dalam mulutnya, “Apa itu? Katakan saja.”

Aish! Apa aku harus menyatakannya sekarang? Lidahku tiba-tiba sulit berfungsi, otakku tak bisa bekerja dengan baik seperti biasanya.

“Aku…”

Aku menggantung kalimatku lagi, ia mengangkat kedua halisnya pertanda ia menunggu apa yang akan aku katakan.

“Aku ingin bilang kalau…”

Lidahku macet!!!!!

“Kalau…?” Ulangnya.

“Kalau…”

Kalau aku menyukaimu sejak lama.

“Kalau…kau cantik sekali hari ini, hehehe.”

WAAA JINJJA!!! Ucapanku benar-benar tidak sejalan dengan hati dan pikiranku! Tapi dia memang cantik, kkkk.

Ia tersipu dan tersenyum. Aku juga ikut tersenyum.

“Kau bisa saja. Kukira kau mau bilang apa. Bukankah aku biasa saja hari ini? Sama seperti hari-hari biasanya. Ah! atau mungkin karena ini hari ulang tahunmu jadi aku terlihat lebih cantik, hehehe.” Candanya.

Iya tertawa kecil, mungkin malu. Aku juga ikut tertawa. Yah, walau candaannya itu nggak nyambung tapi dia tetap cantik. Bukan hanya kecantikannya, ia juga wanita yang baik dan friendly. Aku suka diaaaaaaa. Akan ku coba sekali lagi.

“Sulli-ya..” Panggilku.

“Ne?”

“Maukah kau…”

Maukah kau menjadi yeojachinguku?

“Maukah kau…mengambilkan saus itu untukku?”

GAGAL! Ah, baiklah sepertinya aku memang belum siap mengatakannya sekarang.

“Oh, tentu. Ini.” Ucapnya sambil menyerahkan botol saus untukku.

Aku pun menerimanya, “Gomawo.”

Baiklah, akan aku coba lain waktu. Taemin, sekarang nikmatilah kebersamaanmu dengannya di hari spesialmu ini.

Jinie pov

“Aku pulang! Eh? Ya, apa yang kau lakukan pada kamarku?” ucap Taemin saat ia membuka pintu. AAAHH akhirnya dia pulang juga.

Aku pun bangkit dari dudukku sambil nyengir. Aku masih berwujud manusia sekarang.

“Kau sudah pulang? Bagaimana jalan-jalanmu dengan Sulli eonni hari ini? Apa menyenangkan? Wahana apa saja yang kau naiki? Apa Sulli eonni memberimu hadiah?” Aku langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan.

Ia berjalan menuju kasurnya dan mengambl bantal yang terjatuh di lantai lalu duduk di pinggiran kasur. “Pertanyaanmu banyak sekali.”

Aku pun menghampirinya dan duduk di atas kasur, “Jadi bagaimana? Menyenangkan?”

Taemin tersenyum lebar dan merebahkan tubuhnya di kasur, “Saaaaaaaaaaangat menyenangkan!!!!”

Aku pun ikut tersenyum. Syukurlah, hari ini ia memang kelihatan sangat bahagia.

“Waaaah, kalau begitu bagus!”

Ia pun kembali duduk, “Dan lihat ini, Sulli memberiku hadiah jam tangan yang sangat kuinginkan.” Ucap Taemin sambil memperlihatkan sebuah jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.

Aku pun melihatnya lalu tersenyum, “Bagus. Keren!”

“Ini adalah hari ulang tahun yang sangat menyenangkan. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.” Ucapnya. “Ini kali pertamanya aku jalan-jalan dengannya saat hari ulang tahunku. Karena tahun lalu ia masih sedikit canggung mengucapkan ulang tahun dan memberi hadiah untukku.” Lanjutnya.

“Itu berarti ada kemajuan.” Ucapku.

Taemin pun menunduk sambil tersenyum. Tapi tiba-tiba ia mengangkat kepalanya, “AH! Dan kau tahu? Hari ini juga aku menyatakan sesuatu padanya.”

DEG

Menyatakan sesuatu? Jangan bilang…

“Aku bilang aku menyukainya dan memintanya untuk menjadi yeojachinguku.” Ucap Taemin sambil tersenyum sebelum aku merespon.

“Lalu?” Aku menatapnya, menunggu cerita selanjutnya. Aish! Sepertinya ia berhasil mengungkapkan isi hatinya. Tapi kenapa firasatku berkata lain ya?

“Lalu aku gagal.”

FIUH~ firasatku benar. Hahaha, aku lega. Eh? Kenapa aku lega?

“Tapi akan ku coba lain kali! Jadi, bantu aku, oke?” ucapnya semangat.

Aku pun langsung memasang tampang mendukung, “Oke! Tentu saja!”

Taemin pun tertawa kecil dan tawanya langsung menghilang, “Ya! kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Yang mana?” Yang mana ya?-_-

“Apa yang kau perbuat pada kamarku? Lihatlah, bantal bertebaran dimana-dimana. Bola basket sudah tidak pada tempatnya dan gitarku sudah telanjang. Maksudku gitarnya sudah keluar dari tasnya. Tulang ayam goreng belum kau buang! Seprai kasur juga kusut dan komikku bertebaran di lantai seperti itu!” Omelnya panjang lebar.

Aku pun tertawa garing sambil menggaruk kepalaku, “Mianhae, akan ku bereskan sekarang.”

Aku pun turun dari kasur dan mulai memunguti bantal, “Kau tahu? Sedari tadi aku benar-benar merasa bosan tingkat tinggi disini. Jadi kamarmu kubuat berantakan. Aku hanya ingin tahu dengan semua barang yang kau punya di kamar ini.”

Taemin pun beranjak dari kasur dan memegang puncak kepalaku, “Kalau begitu cepat bereskan. Aku mau mandi dulu, oke? Buat kamarku lebih rapi.” Lalu ia berlalu ke kamar mandi.

Aku pun melihat ke arahnya, “Neeee, Tuan Lee Taemin.”

Ketika dia sudah masuk kamar mandi dan menutup pintunya aku pun melanjutkan aksi(?) beres-beresku. Tapi aku jadi memikirkan sesuatu. Aku teringat lagi dengan apa yang dikatakan Key sunbae tadi siang.

Apa benar aku mulai tertarik dengan Taemin?

Buktinya aku kesal karena dia lebih memilih jalan dengan Sulli eonni dan menolak ajakanku. Aku bad mood selama ia tak ada di rumah sampai membuat kamarnya berantakan seperti ini. Aku nyaris seperti orang frustasi. Dan lega!!! Kenapa aku lega ketika Taemin bilang bahwa ia gagal menyatakan perasaannya pada Sulli eonni hari ini?

Aaaaaaaaaa! Ada apa denganku?!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~TBC~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

 

 

6 thoughts on “More Than 100 Days – Part 3”

  1. @hyora kim tunggu minggu depan next partnya ya kkk makasih
    @salsabila segitiga? segiempat boleh? hahaha makasih
    @shineeapyeintaeminie next week ya kayaknya part 4 nya 🙂 makasih

  2. Jinie noona yg sabar’-‘)/ berhubung aya msih 14 thn, jadi manggilnya noona. Tetem? Terserah deh mau milih siapa. ┐(˘˘,)┌ sekian._. Thor, ampe part brpa nih?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s