Crash – Part 6

Title: Crash (part 6)

Author: Sierra K

Main Cast: Kim Ki Bum (Key), Choi Ji Hyo (this could be you), Lee Jinki, Jung Nicole

Support Cast: Lee Taemin.

Length : Sequel

Genre: Friendship, Romance, school life

Rating : PG-15

Summary : we were young, we were in our teens, it wasn’t a real love.

I Thought I’ve let You go, without anything left.

But No, I still haven’t been able to let you go.

-Because I Miss You, Jung Yong Hwa-

Kim KiBum’s POV

Hari ini aku berniat meluruskan semua kejadian yang terjadi kemarin sore dengan Jinki, sahabat terbaikku. Aku masuk ke dalam perpustakaan, tempat dimana ia menghabiskan waktunya dengan membaca buku.

Aku duduk di tempat biasa. Melihat Jinki yang masih asyik membaca bacaannya. Ia lalu sadar saat melihatku, ia membuang pandangannya. “perihal kemarin…..”

“tidak usah dibahas” potongnya cepat. Ia beranjak dan meninggalkanku, namun aku mencegatnya, “maaf, hyung” ia mendengus saat aku mengatakannya, terlihat benci kepadaku. Aku hanya ingin meluruskan semuanya, aku hanya ingin memberi tahu kalau diantara aku dan Ji Hyo tidak ada apa-apa.

“gue maafkan. Tapi, apakah gue bisa lupa begitu saja? Ini masalah hati, kau mempermainkan perasaan semua orang!” ia membentakku keras, aku mendongak, aku bukanlah orang yang suka mempermainkan hati orang lain.

“gue bukan orang yang seperti itu, hyung!” aku mencengkram lengannya penuh tenaga, aku membenci namja dihadapanku ini. Aku bukan orang yang seperti itu. Ia hanya memutar bola matanya kesal, lalu melepaskan cengkraman tanganku di lengannya, dan melenggang begitu saja keluar perpustakaan.

“ini kata terakhir, gue sayang Ji Hyo” ucapku, ia menghentikan langkahnya, lalu menatapku geram. Yang tidak disangka, ia melayangkan pukulannya tepat di pelipis kananku. Sakit.

Aku melayangkan pukulanku ke perutnya, membuatnya terhuyung jatuh, lalu bangkit lagi. Kami saling baku hantam saat semua orang di sekolah menonton kami. Badanku berdenyut sakit, namun aku tidak peduli.

Pukulan Jinki memang tidak keras, namun aku yakin semua emosinya terkumpul di hantamannya. Ia juga sudah lebam, sama sepertiku. Aku mendengar suara gaduh dan suara Ji Hyo datang ke arah kami, berusaha melerai, namun aku malah tidak sengaja menonjok pelipisnya.

***

Lee Jinki’s POV

            Aku melihat Key tidak sengaja menghantam pelipis Ji Hyo yang sedang berusaha melerai dengan tangannya, tenaga Key memang sangat besar, tidak diragukan lagi, Ji Hyo terhuyung jatuh dan pingsan.

Aku hampir saja membawa Ji Hyo ke UKS saat melihat Key jauh lebih cekatan. Wajahnya terlihat ketakutan, ia membopong tubuh Ji Hyo yang sudah tidak sadarkan diri ke UKS. Aku duduk di lantai, menyerah. Mengapa aku merebutkan Ji Hyo, yang sudah jelas-jelas bukan kekasihku lagi?

Aku memang egois. Seharusnya, aku membiarkan Key menyukai Ji Hyo. Itu haknya. Ji Hyo bukan kekasihku lagi. Namun, aku memikirkan perasaan Nicole. Gadis itu bisa melakukan hal terbodoh kalau tahu mereka berdua—Key dan Ji Hyo, saling mencintai.

Sebuah sapu tangan terulur di depanku, aku mendongak melihat Nicole dihadapanku, wajahnya tersenyum dipaksakan, “gomawo” aku menerima sapu tangannya, ia duduk di lantai tepat disampingku.

they love each other, am i right?” Ia memeluk lututnya, aku yakin sebentar lagi ia akan menangis atau apa. Aku hanya mengangguk menyetujuinya, Key dan Ji Hyo memang mencintai satu sama lain. Aku dan Nicole pun belum tentu bisa memisahkannya.

and in the end, kita nggak tahu siapa yang punya happy ending, aku dan Key, kamu dan Ji Hyo, atau Key dan Ji Hyo” tidak biasanya ia terlihat kuat seperti ini. Biasanya Nicole hanya gadis lemah, dan sering menangis.

“kita sepertinya tahu siapa yang mempunyai akhir yang sempurna” tandasku, Nicole mengiyakan. “i wish it were me and Key.” Bahu Nicole bergetar. Aku juga mengharapkan hal yang sama, akhir yang indah, bukan seperti ini. Nicole menyenderkan kepalanya di bahuku.

Kita berdua adalah korban.

***

Kim Ki Bum’s POV

Aku berlari menggendong Ji Hyo ke UKS, aku tidak sengaja menonjok pelipisnya, kulitnya sedikit ada yang sobek, membuatku panik setengah mati. Ia pun tidak sadarkan diri, kulitnya pucat.

Ini mungkin adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Tadi, aku melihat Nicole ketika aku menggendong Ji Hyo dengan paniknya. Tatapannya kosong, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Key-a” Ji Hyo mengerang namaku, sepertinya ia sudah sadar. Sekarang, daerah mata sebelah kanannya sudah di perban. Bagaikan menemukan air di gurun, aku senang saat melihatnya sadar.

gwenchanha?” tanyaku, menyusuri pipinya lembut. Ia hanya tersenyum dan memegang tanganku yang ada di pipinya. Aku menghela nafas lega, namun seketika aku merengut, aku tidak mungkin mendapatkan gadis dihadapanku ini. Seperti katanya, takdir kita berbeda.

“kapan lagi aku bisa seperti ini denganmu” ucapku tidak sengaja. Keceplosan lagi. Aku tidak sangka, kalau Ji Hyo hanya tersenyum, semakin mengeratkan pegangannya di tanganku yang ada di pipinya.

gomawo, ya… walaupun kau sudah menonjokku.” ia terkekeh, sangat manis. Aku ikut tertawa, menatap mata berwarna hazel itu dalam-dalam. Ada ketakutan tidak bisa memilikinya saat aku menatap matanya.

Seakan ia bisa membaca pikiranku, ia tertawa “aku sudah putus dengan Jinki” aku tersenyum bahagia mendengarnya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Bayangan Nicole menari-nari dikepalaku saat ia mengatakannya. Aku masih harus menjaga Nicole.

arraseo” wajahnya kembali serius, ia mengerti. Sekeras apapun aku berusaha, aku benar-benar tidak bisa tidak mencintai Ji Hyo. Gadis ini seperti zat adiktif, selalu aku butuhkan.

you have your own life. And, I have mine. Just forget about the past, Don’t look backwards. Eventhough, i wish i could turn back the time.” aku terenyuh saat ia mengatakannya, seakan ini adalah kata-kata terakhir yang ia katakan kepadaku. Ia memintaku untuk tidak melihat kebelakang, maksudnya, disaat saat kami berdua egois dan tidak memikirkan perasaan orang sekitar. Disaat kita sama-sama mencintai, walaupun belum memulai apapun dari semua ini. Ingat, takdir kami berdua memang berbeda.

Aku menolehkan kepalaku ke belakang, lalu tersentak melihat Nicole sudah berdiri di depan pintu UKS. Mungkin, tadi ia melihat semuanya. Ji Hyo pun menyadarinya, lalu mengangguk, memintaku untuk segera meninggalkan ruangan.

Nicole tersenyum tulus. Ia menggamit tanganku menuju ke kelas, semua pasang mata menatapku aneh. Aku juga mendengar orang-orang berbisik cukup kencang, seperti ‘Ji Hyo penghancur semuanya’, ‘aku tidak menyangka Jinki dan Key memperebutkannya’, ‘kenapa Nicole masih mau bersama Key?’ dan semua bisikkan murahan dari mereka. aku yakin Nicole juga mendengarnya, namun ia berpura-pura tidak mendengarnya, malah mengeratkan genggamannya, seakan membuktikan kalau kami akan selalu bersama selamanya.

***

Lee Taemin’s POV

Prediksiku memang benar, memang ada sesuatu antara Key dan Ji Hyo. Mungkin, aku adalah generasi penerus Nostradamus. Mengetahui sesuatu sebelum orang lain tahu. Aku tadi melihat langsung baku hantam antara Key dan Jinki, terlihat sangat emosional. Jinki terlihat begitu marah, padahal biasanya ia dingin dan kaku.

Sekarang, Ji Hyo duduk di hadapanku, memakan sepiring Kimchi dengan lemah. Mata sebelah kanannya diperban, akibat luka sobek di area matanya, tonjokkan tidak sengaja Kibum. Semua pasang mata menatap Ji Hyo, dan tidak jarang, banyak yang melontarkan ejekkan terhadapnya.

“lukanya masih sakit?” tanyaku, ia hanya menatapku dan menggeleng lemah, lalu menyumpitkan kembali kimchi-nya. Ia merasa sangat diasingkan sekarang, ia selalu di tuduh sebagai ‘penghancur pasangan terpopuler di sekolah’. Padahal, tidak. Memangnya, mencintai itu suatu hal yang salah?

Sesekali, aku menatap ke bangku kantin di sebelah kiriku, Nicole dengan geng barunya. Nicole juga menghindari Ji Hyo, mungkin masih sakit hati dan…. cemburu. Aku merasa kasihan pada Ji Hyo. Semua beban ada pada dirinya.

“ke kelas, yuk” ajaknya, setelah sepiring kimchi-nya habis. Aku mengangguk, ia menggamit tanganku keluar kantin. Aku yakin, ia merasa sedikit frustrasi dengan semua yang dihadapinya akhir-akhir ini. Belum lagi, tatapan murid-murid yang memandangnya rendah.

Aku akan menjaga gadis ini. Walaupun aku bodoh dan tidak berpengalaman, entah mengapa aku ingin melindungi gadis yang sudah ku anggap sebagai kakak perempuanku. Aku tidak ingin melihatnya seperti ini lagi.

Walaupun aku yakin, Key dan Ji Hyo akan bersama lagi, suatu hari nanti. Ingat, aku penerus Nostradamus, bukan?

***

Jung Nicole’s POV

“hei” seseorang menyapaku, aku masih hafal suaranya. Suara yang biasanya menemaniku saat aku menggalaukan Key, suara yang sering merutukki hal bodoh yang aku lakukan, suara yang sangat aku rindukan.

“hei” aku menoleh ke belakang untuk melihat wajahnya, rona merahnya masih tetap ada di wajahnya, sudah 6 bulan kami tidak bertegur sapa. Padahal ia sahabatku, dulu. Sebelum semuanya berubah dan menjadi rumit seperti ini.

“apa kabar?” tanyanya canggung. Padahal, dulu kami tidak secanggung ini. Dulu kita berdua sering ke salon—walaupun aku yang memaksa, pyjamas party berdua, menelfon tengah malam, aku bahkan masih hafal di luar kepala nomor handphone-nya. Aku merindukan sosok sahabat yang tidak kutemukan pada teman-teman baruku.

“baik, kamu?” jawabku standar dan tak kalah canggung. Ia tersenyum dan mengangguk, tipenya yang tidak mau banyak bicara memang tidak berubah. Aku tersenyum balik, dan menatap wajahnya lekat. Gadis ini adalah gadis yang sampai saat ini—aku tahu—Kibum sayangi, bukan aku.

“ah, aku duluan ya. jaga dirimu baik-baik, annyeong!” ucapku seriang mungkin. Makin lama aku melihat wajahnya, perasaanku tidak menentu. Sakit hati dan cemburu. Setiap kali mendengar namanya saja, yang terlintas di pikiranku adalah Key yang memeluknya sayang.

Aku melihat ekspresi wajahnya saat melihatku meninggalkannya. Kecewa, itu jelas. Mianhae, Ji Hyo-ya, kita tidak bisa bersahabat seperti dulu lagi.

***

Kim Kibum’s POV

Kami tidak pernah saling bertegur sapa lagi. Baik aku dengan Jinki, atau dengan Ji Hyo. Ji Hyo selalu membuang pandangannya saat mata kami bertemu, enggan menatapku lebih lama. Dan Jinki, ia selalu menatap lurus kedepan, menganggapku tidak ada.

Aku mengeluarkan 2 lembar tiket yang tidak jadi kami—aku dan Ji Hyo—tonton. Tiketnya masih tersimpan rapi di drawer samping kasurku. Aku masih mengingat saat saat itu, saat dimana semua mengalir seperti air, tenang dan bahagia.

Jujur, aku sangat berusaha mencintai Nicole kembali, walaupun itu sulit. Aku selalu menginginkan Ji Hyo ada disampingku sekarang, menggenggam tanganku dan tersenyum seakan dunia ini hanya milik kami berdua saja. Aku sangat, sangat menginginkannya.

jagi” Nicole menyadarkanku dari lamunannya, ia memelukku. aku tersenyum dan mengacak rambutnya lembut. Nicole juga sudah tidak dekat dengan Ji Hyo semenjak kejadian 6 bulan yang lalu. Ia selalu menghindari Ji Hyo yang nampak berusaha kembali dekat dengannya. Ini semua salahku, semua menjauhi Ji Hyo, ini semua salahku.

“tadi aku bertemu Ji Hyo, ia menyapaku” ucapnya, aku merasakan wajahku memanas saat mendengarnya. Tuhan, kapan aku bisa mendapatkan keajaiban seperti Nicole? Disapa oleh Choi Ji Hyo, gadis yang paling aku rindukan dan….. sayang.

“oh ya?” ucapku berusaha biasa saja, dan ia hanya mengangguk dalam pelukanku. Dadaku terasa sakit, aku merindukan suara dingin Ji Hyo. “jagi, kamu percaya pada kata selamanya?” tanyanya, membuatku ragu.

i do” jawabku, ia mengangguk lagi dalam pelukanku, “yeah, so do i. Aku dan kamu, selamanya. iya, bukan?” tanyanya, mempercayakanku penuh. Aku meyakinkannya, ia tidak usah ragu denganku lagi. I’m all hers.

Namun, Aku hanya merasa tidak yakin dengan semuanya. Semuanya bertambah palsu.

TBC

Part yang ini kependekan gak ya? kok aku ngerasa alurnya kerasa cepet banget ya? ehhehe. Semoga kalian suka ya :D. Oh ya ini 3 part terakhir loh, hehehe.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “Crash – Part 6”

  1. kasihan amat ji hyo hrs di jauhin smw orang…padahal dy kan g salah,maksudq g bener2 salah…
    lebih kasihan lagi sm nicole…dy te2p maksain key bwt terus disampingnya,padhl kan nicole tau bener klo key sukanya sm ji hyo…kesannya kyk dy menutup mata dan g bisa terima kenyataan…itu sama artinya nyiksa diri sendiri

    taemin penerus Nostradamus…???
    apaan bgt coba….
    tp setuju bgt sm Taem,Key sm ji hyo pasti bersatu lagi….

  2. ah.. Ksian jihyo.. Kadang kesel sama cole.. Tpi b’hubung dgn adanya ‘kjadian’ antara key-cole ya ga bisa nyalahin cole jg.. Ujung2nya key biang masalahnya.. Huhu
    next.. Next..

  3. pendek amat yah..
    hatiku kayanya gimanaa gitu kalo ffnya nyeritain ji hyo ma key, menurutku mereka itu slah banget,
    tega ngekhianatin sahabat n pacarnya..
    kalo sahabatku gituin aku, aku yakin bakal lebih parah dari nicole n jinki..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s