Waiting for The Sun – Part 2

Waiting for The Sun – PART 2

Credit poster: yuyounji. Thanks eonni 

Author : Dubudays and Nikitaemin
Main cast : Lee Jinki, Cho Hyunsa (OC)
Support cast : Cho Jiman (Hyunsa’s father)
Genre : AU, Romance, Family
Rate : PG 16 (for the violences. Semoga rating nya bener hehe._.)
Length : Chaptered (2/?)
Disclaimer : THIS FANFICTION BELONGS TO DUBUDAYS AND NIKITAEMIN!!!

“Sudah, Jinki. Kau ke kamarmu saja, istirahat. Terima kasih sudah mengobatiku. Selamat malam, Dubu sayang.” Hyunsa berbicara pelan sekali untuk menghindari nyeri di bibirnya yang terluka dan berjalan menuju lemari pakaian. Tiba-tiba tubuhnya terasa limbung tetapi cepat-cepat diraihnya gagang pintu lemarinya.

“Arasseo. Jagi, aku ke kamar, ya. Kalau terasa sakit lagi panggil a… astaga, Hyunsa hidungmu berdarah!!!” Jinki yang hendak menutup pintu cepat-cepat menghampiri Hyunsa dan menopang tubuh Hyunsa yang agak limbung. Jinki meraih kotak tissue didekatnya dan segera menutupi hidung Hyunsa dengan tissue.

“Kamu kenapa sebenarnya, jagiya?” Jinki memapah Hyunsa kembali ke tempat tidurnya. Ditariknya selimut hingga sebatas dagu Hyunsa.

“I’m okay. Kurasa hanya kelelahan.”

********

“Selamat pagi, Jagiya. Sudah merasa baikan?” Suara lembut Jinki menyapa telinga Hyunsa saat kakinya melangkah menuju dapur. Jinki sedang mengolesi roti tawar dengan mentega di meja makan. Sakit kepala Hyunsa sudah hilang dan membuatnya sedikit ceria.

“Lumayan. Tapi dahiku masih terasa panas karena memar dan ini,” Hyunsa menunjuk bibirnya yang kemerahan karena luka. “Thanks sudah mengobatinya semalam, Dubu-ya.” Hyunsa masih berbicara dengan suara pelan khawatir luka di bibirnya bertambah parah.

“Bukan apa-apa. Oh iya, tadi bengkel menelepon, mobilmu cukup parah rusaknya. Jadi untuk sementara kau tidak bisa menggunakannya dulu. Jadi kalau mau kemana-mana harus naik kendaraan umum. Ayahmu sedang sibuk. Mobilnya selalu dipakai. Tapi tenang saja, aku pasti mengantarmu.”

“Tidak perlu repot-repot, Jinki. Aku bisa sendiri, kok. Ah, jam satu nanti aku harus menguji murid-murid di sekolah musik. Sekarang sedang masa ujian.” Tangan Hyunsa dengan iseng mencomot setangkup roti tawar yang telah dibuat Jinki.

“Mwo? Hyunsa, kau lupa baru habis kecelakaan? Kau istirahat saja dulu hari ini. Biar aku yang menggantikanmu.”

“Aniyo! Aku bisa kok. Jangan khawatirkan aku.”

“Kau harus istirahat hari ini, titik. Lagipula mana bisa mengetes murid dengan bibir jontor seperti itu? Ngaco!” Jinki menatapnya tajam.

“YAA!! Aduuhhh..” teriakan Hyunsa sukses membuat bibirnya nyeri lagi dan Jinki hanya bisa meringis seakan ikut merasa nyeri. “ini luka karena kugigit! Eh..”

“Kau menggigitnya?? Kenapaa? Ya! coba jelaskan padaku!”

Hyunsa menggeleng kuat-kuat. Jinki tidak boleh tahu kebiasaan barunya semenjak terkena vertigo.

“Aiish! Kali ini kutolerir karena bibirmu yang masih luka itu. Kalau sudah sembuh, aku akan menerormu dengan pertanyaan tadi, Hyunsa!”

********

“Selamat siang semua!” Sapa Jinki lantang di depan kelas pertama yang biasa dimentori Hyunsa. Semua murid berpandangan heran melihat orang yang tidak biasa mereka lihat.

“Hari ini saya menggantikan Hyunsa karena dia sedang sakit. Tapi ujian tetap berlangsung untuk hari ini. Sistem penilaian saya sama dengan Hyunsa, jadi tidak perlu khawatir nilai kalian akan berubah drastis—kecuali kalau kalian memang ada perubahan,” lanjut Jinki. Murid-murid mengangguk-angguk paham.

“Oke, kita mulai ujian praktek hari ini. Untuk dua nama yang saya panggil, silahkan tetap di tempat dan yang lainnya silahkan keluar sambil menunggu giliran dipanggil. Baiklah, nama pertama….”

********

“Belum apa-apa sudah merindukanku, hm?” Jinki mengangkat telepon dari Hyunsa dan mengapit ponselnya diantara telinga dan bahunya. Ujian pada kelas pertama baru saja berakhir dan ada jeda sekitar setengah jam sebelum kelas kedua.

“Hmm, bagaimana ya? Hahaha. Aku hanya.. Sangat booooosaaaaan di rumah. Boleh main gitar sebentar, tidak?” suara Hyunsa masih sedikit terdengar lirih.

“Nope! Kalau kau pegang gitar, kau tidak akan melepaskannya sampai malam.”

“Tapi bosan! Tanganku gatal kalau sehari tidak melakukan apapun.”

“Nonton televisi, lah.”

“Sudah. dan bosan.”

“Tidur. Dan mimpikan aku. ;; ) ”

“Tsk! Yang ada aku malah memimpikan ayam nanti. Lagipula aku sudah bosan tidur. Jadi, boleh ya aku main gitar? Sebentaaaaaar saja.”

“Andwae.”

“Ya sudah, aku menyusul saja ke sekolah musik, ya.”

“Kau mengerti tidak sih kalau aku mengkhawatirkan kesehatanmu? Istirahat saja lah. Supaya kamu bisa cepat pulih. Arasseo?”

Terdengar hyunsa mendengus kesal. “Arasseo, arasseo, eusanim (dokter). Ya sudah, aku nonton televisi lagi. Annyeong.”

Belum sempat jinki menjawab, Hyunsa sudah lebih dulu memutuskan sambungan telepon. Jinki menghela nafas panjang. Apa dirinya terlalu keterlaluan melarang Hyunsa ini dan itu? Tapi Hyunsa juga butuh istirahat banyak. Apalagi Hyunsa belum juga mengatakan penyebab wajahnya kemarin pucat dan bibirnya yang berdarah. Jinki yakin, itu tidak didapatkan Hyunsa dari kecelakaan yang dialaminya. Ada sesuatu yang salah dengan Hyunsa.

********

“Appa! Katanya pulang malam? Kok sore sudah kembali?” Hyunsa menyambut Appa nya di depan pintu. Diraihnya tas yang dibawa Appanya dan membantu membawanya masuk. Nyeri di bibir Hyunsa sudah berkurang dan membuatnya sedikit bebas berbicara.

“Iya. Tiba-tiba saja Appa ingin pulang cepat. Appa kangen kamu, sayang.” Ayahnya mengelus-elus kepala Hyunsa, memanjakannya seperti anak kecil.

“Tumben sekali bilang begitu. Appa mau teh?”

“Hmm, boleh. Dan sayang, ada apa dengan keningmu?”

“Ahaha, terbentur stir mobil,” jawab Hyunsa enteng dari dapur.

“Bagaimana bisa??”

“Kemarin malam Hyunsa menabrak pohon besar karena kaget ada anjing melintas tiba-tiba. Makanya jadi begini.” Hyunsa kembali dengan secangkir teh untuk ayahnya.

“Ckck, kau ini. Pantas saja mobilmu di garasi hilang.”

“Haha, iya. Mobil Hyunsa masuk bengkel. Mianhae.”

“Ah, dwaesseo. Yang penting kau selamat.” Ayah Hyunsa mengambil cangkir dan menyesap tehnya perlahan. Ada yang sedang dipikirkannya saat ini dan membuatnya ingin segera pulang menemui Hyunsa.

“Hyun,” panggilnya setelah tehnya telah habis seperempat.

“Ya, Appa?”

“Appa ingin mendiskusikan sesuatu. Boleh?”

“Tentang?”

“Kau dan Jinki. Mian Appa to the point saja ya. Appa dengar, Jinki melamarmu, sayang?”

Hyunsa hampir menyembur ayahnya dengan air putih hangat yang sedang diminumnya. Dari mana Appanya tahu?? Dan ditambah lagi sepertinya Hyunsa sudah melupakan kejadian waktu itu. Saat itu Hyunsa berpikir Jinki hanya terbawa suasana.

“Mungkin waktu itu Jinki hanya bercanda, Appa. terlalu cepat untuk memutuskan menikah padahal kami baru saja bertemu beberapa bulan.”

“Ya, Appa tidak tahu keseriusan Jinki saat mengatakannya. Tapi seandainya iya, Appa tidak akan menolak untuk merestui kalian. Appa rasa kamu bahagia bersama Jinki. Senyum milik Hyunsa kecil Appa sudah kembali saat Appa melihatmu dengan Jinki.”

Hyunsa terdiam. Meskipun begitu, hati Hyunsa masih menolak keseriusan ucapan Jinki kala itu. menurutnya itu masih terlalu cepat.

“Sebaiknya, kalau kalian memang benar-benar serius, mantapkan saja. Kamu tahu? Appa ingin melihatmu bahagia hidup dengan orang yang kamu cintai dan bisa menjagamu. Dan Appa melihat kriteria itu pada diri Jinki. Apapun keputusan yang kalian jalani, Appa mendukung kalian seratus persen! ”

********

“Jagi, kau yakin tidak mau kuantar ke studio?” tanya Jinki saat Hyunsa sudah bersiap-siap pergi ke studio nya. Hyunsa menggeleng kuat, tak ingin merepotkan Jinki.

“Ne, aku yakin sekali. Kau kerjakan saja lagi partitur untuk Appa. Belum selesai, kan? Jangan menumpuk pekerjaan!”

“Tapi aku bisa meninggalkannya sebentar hanya untuk mengantarkanmu kok. Aku bisa mengerjakannya dengan cepat.”

“Jangan sombong. Partitur harus dikerjakan dengan kehati-hatian, Dubu-ya.”

“Haah, ya sudah. Hati-hati, ya! Kalau ada apa-apa segera telepon aku!”

“Ne ne neee. Annyeong, Dubuuuu!”

********

Meskipun istirahat beberapa hari yang (menurut Hyunsa) membosankan, tidak membuat vertigo hyunsa menghilang total. Dirinya benar-benar merutuki penyakit sialan itu sekarang. Kepalanya mulai berdenyut lagi, jauh lebih sakit daripada yang sebelumnya. Beruntung, semua kelas telah ia uji hari ini.

Hyunsa merapikan barang-barangnya dengan cepat lalu keluar dari gedung tertatih-tatih. Entah mengapa Hyunsa lebih memilih pulang naik feeder busway yang sebenarnya pilihan konyol.

Saat melewati gang kecil sebelum menyambung bus berikutnya, nafas Hyunsa tercekat. Tiga pria bertubuh besar menghampirinya dengan nafas berbau alkohol. Hati kecilnya sedikit menyesal pulang menggunakan bus tanpa minta ditemani Jinki tadi. Padahal Jinki sempat menawarkan untuk menjemputnya tadi.

“Hai cantik, temani kita, dong!” Salah satu dari tiga pria itu mendekati Hyunsa dan mencolek dagunya. Hyunsa berusaha mengabaikan mereka dan terus berjalan. Keadaan yang terjepit refleks membuatnya mengatupkan rahang kuat-kuat dan denyut di kepalanya semakin bertambah. Satu-satunya yang ada di kepala Hyunsa adalah berkomunikasi dengan bahasa asing pada mereka supaya mereka melepaskannya.

“si.. Sillyehamnida (permisi).”

“wah, bro, ini kayaknya bule asia, bro! Kayaknya tambah asyik nih. Kayak ituuu, Miyabi! Hahahahaha. Cantik, ayo kita have fun bareng-bareng!” Pria tadi semakin memojokkan Hyunsa. Hyunsa mengangkat case gitarnya— bersiap memukul mereka semua dengan gitarnya. Tapi terlambat, case itu keburu dirampas dan dibanting ke tanah oleh salah satu pria itu.

Ketiga pria itu semakin mempersempit ruang gerak Hyunsa. Tubuhnya sudah membentur tembok dan tidak ada jalan keluar lagi karena dua pria sudah menghimpit tubuhnya dari sebelah kanan dan kiri. Pria ketiga berdiri di depannya. Seringainya begitu mengerikan. Dia memerintahkan kedua temannya untuk menahan tangan Hyunsa. Kemeja ungu Hyunsa ditarik paksa hingga kancing-kancingnya terlepas dan tubuh atasnya terlihat.

“haha, bener kan kata gue. Gak kalah seksi sama Miyabi, bro!” Tangan seorang pria menggerayangi tubuh Hyunsa. Hyunsa memekik ketakutan. Percuma saja berontak. Tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan pria di kanan-kirinya. Tanpa sadar satu bulir airmatanya turun. Matanya terpejam rapat-rapat. Kedua tangannya dipegang kuat-kuat oleh pria di kanan dan kirinya sementara pria yang berada di depannya menarik dagunya dan mulai menciumnya dengan kasar.

“hmmppff—andw—hmmpp!! Dawaju—KYAAA!!”

Jinki, kumohon tolong aku.. Aku minta maaf menolak segala perhatianmu. Aku minta maaf. Tolong aku…

“HEEEEII, LO SEMUA! BERHENTI!!!!”

Flashback

Entah sudah keberapa kalinya Jinki mengusap matanya yang perih dan berair karena menatap layar komputer sejak siang hari. Tiba-tiba tepukan pelan di bahunya membuat namja itu menoleh.

“Jinki, maaf saya harus meninggalkan kamu dan Hyunsa lagi. Saya harus ke Thailand untuk launching album saya. Tolong jaga Hyunsa, ya. Mianhae sekali lagi,” pamit Ayah Hyunsa yang sudah siap dengan koper kecil di sampingnya.

“Oh, tidak apa-apa, Sonsaengnim. Saya pasti akan menjaga Hyunsa. Semoga sukses launching di Thailand, ya. Hati-hati, Sonsaengnim.” Jinki mengantarkan Ayah Hyunsa sampai di depan mobil yang sudah siap mengantarkannya ke bandara.

Jinki kembali duduk di depan komputer dan meneruskan pekerjaannya. Tiba-tiba Jinki teringat Hyunsa yang wajahnya pucat dan bibirnya berdarah. Segera diraihnya ponsel yang tergeletak dipinggir keyboard dan menekan speed dial untuk Hyunsa.

“Ya, Jinki? Ada apa?”

“Sebentar lagi larut. Mau kujemput?”

“Hmm, tidak usah. Biar aku naik bus saja.”

“Bus?? Ya, neo! Naik taksi sajaa! Aku tidak mau terjadi sesuatu yang aneh-aneh, Hyunsa!”

“Sekali-sekali aku ingin naik bus. Sudah, ya. Aku mau latihan sekali lagi lalu pulang.”

“Hyun! Aisshh!” Jinki meletakkan ponselnya dengan kasar. Perasaannya semakin tidak enak. Matanya sempat melirik kunci mobil yang ditinggalkan Jiman disampingnya tadi. Sepertinya harus ada tindakan nekat hari ini.

********

Jinki memacu mobil Ayah Hyunsa dengan kecepatan tinggi. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak saat melihat gang gelap yang dilewatinya. Jinki memelankan laju mobil, lalu memarkirkannya di dekat jalan masuk gang itu.

“hmmppff—andw—hmmpp!! Dawaju—KYAAA!!”

Samar, Jinki mendengar pekikan seorang perempuan berbahasa Korea. Jantungnya semakin berpacu cepat saat melihat case gitar berwarna navy blue tergeletak di samping perempuan itu dengan keadaan terbuka.

“Hyunsa….”

Jinki berlari cepat kearah ‘keributan’ itu. Saat jarak semakin dekat, dengan matanya sendiri Jinki melihat tangan-tangan nakal menjamahi tubuh gadisnya. Hyunsa berusaha meronta tetapi kekuatannya kalah dengan tiga pria itu. Pria di depan Hyunsa menarik dagu Hyunsa menciumnya dengan kasar. Hatinya mencelos saat pria lainnya berusaha menjamah tubuh Hyunsa lebih kasar lagi. Sesaat Jinki merasaan kakinya tidak menjejak tanah. Namun kesadarannya kembali dan segera menyelamatkan Hyunsa sebelum semua terlambat.

Flashback end

Jinki berdiri persis dibelakang pria yang menghimpit Hyunsa dari depan dan menjambak rambutnya. Tangannya terkepal kuat dan melayangkan bogem mentah ke rahang pria itu. Pria itu terbelalak kaget atas serangan tiba-tiba dari Jinki. Tangannya melayang bersiap meninju pipi Jinki tetapi Jinki berhasil menepisnya dan bahkan memelintir tangan itu hingga sang pemilik berteriak kesakitan. Jinki membanting pria itu ke aspal. Diinjaknya dada pria itu hingga pria itu terbatuk-batuk.

“LEPASKAN PEREMPUAN ITU SEKARANG!!” Jinki meraung keras. Pria di samping kanan Hyunsa berdiri sejajar dengan Jinki dan mencoba menyerangnya. Jinki lebih gesit. Tangan kirinya melayangkan tinju tepat ke perut lawannya. Pria itu mundur beberapa langkah karena tinju Jinki. Matanya memicing marah pada Jinki. Dia memperpendek jaraknya dengan Jinki dan meninju perut Jinki. Terlambat menghindar, beberapa pukulan keras di perut Jinki berhasil membuatnya tersungkur di dekat Hyunsa. Jinki perlahan bangkit sambil menahan nyeri. Dengan cepat, Jinki memegang kepala pria tadi dan menggerakkannya ke kanan dan kiri dengan keras hingga terdengar bunyi ‘krak’ yang membuat pria itu terjatuh lemas.

“HEI ANAK KECIL!!” Pria di kiri Hyunsa mendekati Jinki dan bersiap menghunuskan pisau lipatnya. Kaki Hyunsa lemas. Tubuhnya segera merosot ke aspal. Hyunsa menekuk lututnya dan memeluknya erat-erat. Kepalanya tertunduk dalam, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sakit fisik karena sakit di kepalanya yang terus menghajarnya dan sakit mental karena kejadian yang hampir merenggut harta berharganya.

Jinki berusaha tenang saat melihat pisau itu. Pria itu menyeringai—Seperti tahu kelemahan Jinki. Sedikit dimainkannya pisau itu dan bersiap menghunuskannya ke Jinki. Jinki mencoba menghindar. Tangannya berhasil mencengkeram tangan pria itu. Tapi pria itu lebih gesit dari Jinki. sebuah goresan panjang dan dalam bersarang di lengan bawah Jinki.

“Akkhh, damn!!” umpat Jinki dan cepat-cepat membereskan lawan terakhirnya. Dengan tangannya yang masih sehat, Jinki merebut pisau itu dan melemparnya jauh-jauh. Ditariknya tangan pria itu dan membantingnya keras di aspal. Dengan tatapan bengis, Jinki menginjak wajah pria itu hingga hidungnya berdarah hebat.

“LO SEMUA LEMAH! PAKAI PISAU SEGALA! PECUNDANG!! PERGI SANAA!!!” Jinki menendang satu-persatu punggung pria-pria itu. Mereka tertatih-tatih berdiri lalu segera kabur.

Keringat menetes dari pelipis Jinki. Nafasnya tidak karu-karuan. Sudah lama sekali Jinki tidak bertarung seperti tadi. Padahal waktu SMA, itulah hal yang terkadang ia senangi selain hal wajar seperti bermain musik bersama teman-teman se-geng nya. Jinki menyeringai senang. Ternyata bakat berkelahinya tidak hilang begitu saja semenjak lulus SMA.

Perlahan kesadaran Jinki kembali. Jinki melirik tubuh kecil yang meringkuk tak jauh darinya.

“Hyunsa,” lirih Jinki sambil berlutut di samping Hyunsa yang masih memeluk lututnya. Hyunsa tidak memberikan reaksi apapun. Ditepuknya bahu Hyunsa perlahan dan akhirnya Hyunsa mengangkat kepalanya.

“da.. Dawajuseyo (tolong aku)..” Kelopak mata Hyunsa perlahan turun dan kepalanya tertunduk lagi. Jinki mengepalkan tangannya kuat-kuat—merutuki keterlambatannya. Jinki melepas jaketnya, menutupi tubuh Hyunsa yang terbuka karena kancing-kancing kemejanya yang terlepas paksa lalu segera menggendong Hyunsa.

“Hyunsa, mian….”

********

“Aaakkhh, aduhh!!” Jinki merintih sendirian di meja makan sambil mengobati sendiri luka di lengan kirinya. Butuh waktu cukup lama hingga luka itu tidak mengeluarkan darah. Jinki membasahi kapas dengan obat merah lalu menempelkannya perlahan di lukanya yang masih menganga. Seharusnya luka sedalam itu diobati dengan dokter dan bukan asal-asalan seperti yang dia lakukan. Tapi Jinki seakan tidak menyadari parah lukanya. Jinki merasa lebih sakit melihat Hyunsa dengan keadaan seperti itu. Hyunsa yang berusaha meronta saat tubuhnya digerayangi. Hyunsa yang sesegukan saat dirinya berkelahi, Hyunsa yang menutup kelopak matanya perlahan saat dirinya sudah amat dekat dengan Hyunsa. semua itu membuat Jinki frustrasi karena membuat gadisnya menderita. Harusnya Jinki memaksa untuk menjemput Hyunsa tadi. Seharusnya Jinki bisa sampai di gang gelap itu lebih cepat. Seharusnya….

“Hyunsa, mianhae mianhae mianhae.” Kalimat itu yang terus-terusan keluar dari mulutnya selain sesekali meringis kesakitan. Jinki menjambak rambut dan mengacak-acaknya frustrasi.

Jinki tiba-tiba terbatuk dan merasakan nyeri hebat di perutnya. Dengan tertatih-tatih, diambilnya obat gosok dan mengoleskannya di perutnya yang lebam.

Setelah membebat lukanya dengan perban, Jinki naik ke kamar Hyunsa dengan membawa segelas air putih—mengantisipasi kalau-kalau Hyunsa terbangun dan butuh sesuatu yang bisa menenangkannya. Jinki sudah mantap ingin menemani Hyunsa malam ini—atau setidaknya sampai Hyunsa membuka matanya.

Jinki berdiri di samping ranjang Hyunsa. Ditatapnya wajah goddess-nya yang terbaring lemah dengan wajah lelah dan tertekan. Dengan kehati-hatian ekstra Jinki duduk di tepi kasur dekat kepala Hyunsa. Nafas Jinki tiba-tiba saja terasa begitu berat. Ketidakmampuannya untuk bergerak lebih cepat menyelamatkan orang yang disayanginya kembali menghantui pikirannya. Kejadian belasan tahun silam yang berhasil merenggut Jinhyung-nya membuat Jinki bergidik ngeri membayangkan apabila hal itu terjadi pada Hyunsa.

Jinki membaringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan tangan kanannya yang masih sehat. Kepalanya mulai terasa berat. Tangan kirinya ia paksakan untuk membelai lembut kepala Hyunsa hingga tanpa sadar, kedua matanya tertutup. Tangan kanannya tidak lagi menopang kepalanya, melainkan menjadi alas kepalanya yang sudah terbaring.

********

Sinar matahari pagi menerobos dari celah gorden kamar Hyunsa dan menyorot mata Hyunsa. Kelopak matanya bergetar perlahan lalu membuka. Hyunsa melihat ke sekelilingnya. Bukan tempat gelap dan mengerikan seperti semalam. Ini kamarnya.

Hyunsa merasakan tangan yang hangat berada di kepalanya. Nafasnya tercekat lagi. Diremasnya ujung selimut yang berada didekat dagunya. Bayangan tiga pria mengerikan, dengan bau alkohol yang menyengat dari mulut mereka. Dan bagaimana pria itu mencium bibirnya kasar hingga kembali terluka menghantui pikirannya. Nafas Hyunsa jadi tersengal-sengal karena ketakutan itu menjalari setiap inci tubuhnya.

“ANDWAEE!” jerit Hyunsa tiba-tiba dan sukses membangunkan Jinki yang berada di belakangnya. Jinki mengusap wajahnya dan menyipitkan matanya saat melihat Hyunsa karena sinar mentari menyorot matanya langsung. Hyunsa dalam posisi duduk dan hampir seluruh tubuhnya ditutupi selimut. Tubuh Hyunsa semakin lama semakin menjauh dari Jinki. Isakannya terdengar semakin lama semakin kencang. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

“Hyunsa, ini aku, Jinki. Kamu aman sekarang.” Jinki berusaha mendekati Hyunsa tetapi Hyunsa langsung menjerit dan membuat telinga Jinki sakit. Hyunsa masih terisak dan tubuhnya juga masih gemetar. Hyunsa sama sekali tidak mau menurunkan selimut yang menutupi setengah wajahnya.

“Hyunsa, ini aku, Jinki. kumohon percayalah. Kau sudah aman sekarang. Ini aku, Jinki.”

“Please go away!”

“Hyunsa, ini J—“

“GO AWAAAAYY!!!!”

Hyunsa melihat Jinki dengan ketakutan yang amat sangat. Hati Jinki kembali sakit. Rasa bersalahnya semakin berlipat ganda karena Hyunsa jadi memiliki trauma. Jinki memandang Hyunsa yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dengan pilu. Dengan berat hati, Jinki meninggalkan Hyunsa sendirian di kamarnya sementara Jinki masuk ke kamarnya sendiri.

To be continued.
-ㄱ . ㅅ-

Ps: next part would be person’s pov. Gak bakat saya nulis author’s pov begini-.-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

2 thoughts on “Waiting for The Sun – Part 2”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s