A Ghost Inside Me – Part 12

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 12

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Kim Jonghyun,  Lee Taemin, Choi Siwon,   dan    masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

“Apa yang mau kau bicarakan Su Ji?” tanya Key pelan. Wajahnya tetap terlihat ramah seperti biasanya.

Aku berdiri tegak dan menatap Key dengan kedua mata Su Ji. Ya Tuhan… semoga aku tidak akan salah mengambil sikap. “Key-ya… apa kau mau menceritakan soal kecelakaanmu?”

Aku masih terdiam sambil menatap kedua mata Key. Key pun melakukan hal yang sama. Menatapku tanpa berkata apa-apa. Andaikan Key bisa melihatku sebagai seorang Choi Minho-bukan Hwang Su Ji-mungkin ia sudah menatapku dengan tatapan yang lebih tajam dari ini.

“Kecelakaan apa yang kau maksudkan?” tanya Key dingin.

Aku mendesah kecil. Apakah ia berniat menyembunyikannya? Kenapa? Jangan-jangan dugaanku benar… “Kau pernah mengalami kecelakaan kan? Tidak lama setelah kau kembali ke Korea. Benar kan?”

Key tidak langsung membuka mulutnya. Entah kenapa ini adalah pertama kalinya aku merasa kesal pada sahabatku sendiri. Sungguh, menggelikan sekali ketika aku mulai membencinya justru disaat aku sudah menjadi roh. “Kau benar. Aku pernah mengalami kecelakaan besar beberapa bulan yang lalu. Mianhae, aku tidak menceritakan hal ini padamu. Tapi… apa tujuanmu menanyakan hal ini?”

Sekarang giliranku untuk memikirkan jawaban yang tepat. Aku tidak mungkin langsung menuduhnya begitu saja kan? “Tidak, aku hanya ingin tahu. Apa kecelakaan yang parah?”

“Ne… bisa dibilang begitu. Aku dirawat di rumah sakit selama satu minggu,” jawab Key dengan tenang.

“Apa yang menyebabkanmu mengalami kecelakaan itu?”

Tiba-tiba Key menatapku tajam dengan ekor matanya. “Wae? Kenapa kau jadi menginterogasiku seperti itu? Apa yang kau pikirkan Hwang Su Ji?”

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Sial, kenapa dia mulai mencurigai Su Ji? “Aku… aku… hanya mengkhawatirkanmu…” jawabku sekedarnya.

Key malah menatapku dengan tatapan yang semakin tidak kumengerti. Kenapa tatapannya berubah menjadi penuh nafsu begitu? Jangan-jangan… cup!

Mwo? Apakah aku bermimpi? Ya, mungkin aku sedang bermimpi kalau… kalau… Key menciumku?????????????!!!! Astaga, tidak maksudku Su Ji. Tapi bagaimana ini? Aku masih terjebak di dalam tubuhnya kan? Bodoh! Aku ingin keluaaaarrrr!!!

“Oh?”

Aku dan Key sama-sama menoleh ke samping setelah Key melepaskan ciumannya. Namun kali ini lebih parah. Aku pun membulatkan kedua mataku saat…

“Mian, aku mengganggu kalian. Silahkan dilanjutkan,” kata Taemin dengan polosnya. Aku menatapnya garang. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Padahal aku sangat yakin kalau ia tahu siapa yang ada dalam tubuh Su Ji sekarang. Aissshhh!! Awas kau Lee Taemin!

“Su Ji? Kenapa wajahmu memerah begitu?” tanya Key membuatku terkejut.

“Oh? Keuraeyo?”

“Ya! Lee Taemin!” seruku menyusul si menyebalkan Taemin yang lebih dulu meninggalkan perpustakaan. Aku menambah kecepatanku meskipun hanya dengan kaki kecil Su Ji. Tap! Aku berhasil mencengkeram bahu anak itu.

“Mwo? Apa yang kau lakukan Hwang Su Ji?” tanya balik Taemin dengan tatapan mengejek. Ia juga terlihat jelas sedang menahan tawa.

“Kenapa kau bisa berkata seperti itu huh?” cecarku tanpa basa basi. Aku semakin bertambah kesal saat melihat wajahnya kalau ingat kejadian tadi.

“Kenapa? Apa yang salah? Bukannya sah-sah saja kalau kalian berdua melakukannya? Kalian pacaran kan?” balas Taemin setengah meledek.

Aku mendecak sebal. Kenapa anak ini masih mengelak? “Jangan pura-pura Taemin-ah… Kau pikir aku bisa dibohongi oleh namja kecil sepertimu?”

Kali ini aku melihat Taemin berhenti memasang wajah mengejeknya. Namun wajahnya menjadi berubah kesal. Apa mungkin kata-kataku telah menyinggung perasaannya?

“Siapa yang kau sebut namja kecil Choi Minho?” tanyanya dingin. Kedua matanya yang kecil menatapku dengan berani.

“Wae? Kau tersinggung?” tantangku. Mana mungkin aku dikalahkan oleh seorang anak kecil?

“Kau bisa menyebutku seperti itu setelah aku membantumu?” ucap Taemin mengunci rapat mulutku. “Aku tidak menyangka ternyata kau adalah orang seperti itu,” lanjutnya dengan nada menghina.

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya melepaskan cengkeramanku di bahunya. Aku menghela nafas panjang sebelum membalas kata-katanya. “Baiklah, maafkan aku Lee Taemin,” ujarku setenang mungkin.

Taemin terlihat mengusap tuxedonya. “Aku tidak marah padamu. Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka mempermasalahkan hal-hal sepele.”

“Mwo? Lalu kenapa tadi kau berkata seperti itu?”

“Hehe… aku hanya ingin mengujimu saja,” jawab Taemin membuatku berpura-pura akan meninjunya. “Oh ya, apa tadi kau sedang berusaha menginterogasinya?”

“Ya, seperti yang kau tahu..”

“Dan dia mengaku?”

“Tentu saja tidak,” jawabku dengan volume kutinggikan. “Aissh, aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya…”

“Ternyata pikiranmu pendek juga ya..”

Aku menoleh ke arah Taemin. “YA!”

“Kenapa tidak kau telusuri saja daerah tempat kecelakaan itu terjadi?”

Aku menatap Taemin sambil berpikir. Aku merasa ada benarnya juga ucapannya. “Keurae…”

“Bagaimana? Ternyata aku lebih pintar darimu kan?” ledek Taemin lagi sambil cengengesan dan buru-buru lari meninggalkanku.

Aku menyapukan pandanganku luas ke luar jendela bus yang aku tumpangi. Ya, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Busan. Tepatnya ke daerah tempat dimana aku mengalami kecelakaan parah yang merenggut nyawaku. Hhh… meskipun aku harus menahan sakit karena teringat peristiwa itu lagi, namun apa boleh buat?

Tak lama kemudian, bus ini berhenti di sebuah halte. Aku langsung terperanjat. Benar, di tempat inilah aku mengalami kecelakaan itu. Aku pun segera memakai backpack pink Su Ji dan turun dari bus.

Aku memandang ke sekeliling begitu menginjakkan kaki ke tanah ini. Masih segar di ingatanku tentang kenangan kelam itu. Sebuah waktu yang membawaku ke dalam pusaran yang sulit dan membuatku dipaksa keluar dari dunia ini. Aku pun menundukkan kepala. Ingatan-ingatan itu seolah sedang menghakimiku sekarang.

Ah, tidak! Aku tidak boleh lemah. Aku harus berjuang demi tujuanku. Baiklah Choi Minho, kau tidak boleh cengeng. Kau tidak pernah bersikap seperti ini selama hidupmu bukan? Kau harus bangkit, demi semua orang yang menyayangimu!

Hal pertama yang aku lakukan adalah mengunjungi rumah salah satu penduduk di daerah ini. Ya, mungkin salah satu dari mereka mengetahui tentang kecelakaan itu lebih dalam.

Aku berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang bahkan tak memiliki pagar. Setelah mengambil nafas panjang, aku pun melangkahkan kaki ke halamannya yang juga tidak terlalu besar itu.

“Annyeonghaseyo,” sapaku ramah pada seorang Ibu tua yang sedang menjemur ikan-ikan kecil.

Ibu tua itu menyipitkan matanya karena silau saat menatapku. Jelas, tergambar tanda tanya besar di wajahnya. “Nuguseyo?”

Aku tersenyum dan membungkuk sebentar. “Annyeonghaseyo, Hwang Su Ji imnida,” jawabku sopan.

“Hwang Su Ji? Apa aku pernah mengenalmu?”

“Ah, tentu saja tidak,” kataku cepat. “Aku kemari ingin menanyakan sesuatu padamu. Bolehkah?”

Ibu itu mengerutkan keningnya samar. Ia memang belum sepenuhnya mengerti tentang apa maksud tujuanku datang kemari. “Menanyakan apa?”

“Kecelakaan satu bulan yang lalu?”

“Ya, kira-kira satu bulan yang lalu. Kecelakaan yang melibatkan sebuah bus dan mobil,” jelasku secara rinci pada Ibu itu. Wajahnya nampak jelas sedang mengingat-ingat sesuatu.

“Ah… kecelakaan tragis itu?”

“Ne, kau ingat?” kataku memastikan. Secercah harapan mulai muncul di depan mataku. Semoga ia tahu sesuatu…

“Ya, aku sangat mengingat kejadian itu. Aku begitu membenci pengemudi mobil itu. Orang yang sangat sombong dan tak tahu berterima kasih…” cerita Ibu itu tanpa menatapku sedikitpun. Kedua matanya menerawang jauh ke depan, seolah semuanya sedang terlihat di depan matanya sekarang.

“Bisa kau jelaskan padaku apa maksud dari semua itu? Orang yang sombong dan tak tahu berterima kasih?”

“Sehari sebelum kecelakaan itu terjadi, ketika aku dan anakku menjemur ikan-ikan kecil di pinggir pantai, tiba-tiba dua orang pemuda menghampiriku. Aku sangat mengingat jelas kedua wajah mereka. Tanpa alasan yang jelas, mereka berdua langsung membuang semua ikan-ikanku dan memukul anakku. Aku tidak tahu apa mau mereka. Mereka jelas melakukannya dengan sengaja, seolah mereka sudah tak mempunyai hati nurani…”

Aku termangu mendengar cerita itu. Aku kembali berpikir, apakah benar itu ulah Key? Kenapa rasanya begitu mustahil? Untuk apa Key melakukannya? Bukankah Key bukan orang seperti itu? Setahuku… dia adalah orang yang sangat penyayang..

“Sampai keesokan harinya, aku mendengar kabar tentang kecelakaan besar yang terjadi di jalan raya. Tentu saja semua orang terkejut dan berbondong-bondong untuk melihatnya. Namun aku sangat terkejut saat melihat siapa orang yang ada di dalam mobil sedan itu, adalah orang yang sama dengan orang yang telah menganiayaku. Aku melihat tatapannya seolah meminta ampun padaku. Tapi… aku memilih diam dan tidak peduli…”

“Apa kau bisa mengatakan padaku, bagaimana ciri-ciri orang itu?”

“Dia tampan dan berkulit putih, rambutnya hitam dan ia memakai tindik di telinga kirinya…”

Deg, kenapa semuanya mengarah padanya? Apa memang benar kalau pelakunya adalah… Key? Sahabatku sendiri yang telah menyebabkan kematianku?

“Apa tujuanmu menanyakan soal kecelakaan itu?” tanya Polisi yang aku temui di kantornya. Ia membawa setumpuk arsip yang tidak kuketahui.

“Aku membutuhkannya. Aku ingin mengetahui sesuatu dari kejadian itu,” jawabku dengan jelas.

“Apa kau salah satu korban selamat?” tanyanya lagi.

Aku menatapnya sejenak, berusaha mengulur waktu agar aku bisa menemukan jawaban yang paling tepat. “N..ne, aku adalah salah satu korban dari kecelakaan itu,” kataku akhirnya.

“Aneh?” ucap Polisi itu sambil memegang dagunya yang mulus. “Kecelakaan itu begitu tragis, kenapa ada yang bisa selamat? Benar-benar kejaiban yang luar biasa…”

Aku memaksakan seulas senyum di wajahku. “Aku sangat bersyukur mengenai hal itu. Bagaimana? Bisakah aku melihat data-datanya?”

“Ah, keurae. Ini…” jawab Polisi itu sambil menyerahkan berkas-berkasnya. “Kau bisa melihatnya di ruang itu. Kalau kau membutuhkan apa-apa lagi, bilang saja padaku.”

“Ne, ghamsahamnida…” ucapku sambil tersenyum.

25 April. Ya, itu adalah tanggal ketika kecelakaan terjadi. Aku membuka lembar demi lembar yang ada di arsip tersebut. Terdapat banyak foto dan keterangan di dalamnya. Aku pun membaca dengan teliti tanpa melewatkan satu titik pun. Hingga aku sampai pada sebuah data yang menerangkan tentang ‘si pengemudi mobil’.

Aku menyipitkan mataku melihat sebuah foto mobil sedan yang sudah remuk. Mobil Jaguar silver? Aku tidak pernah mengenali mobil ini? Nomor polisinya pun tidak pernah ku jumpai dimanapun. Dan… kenapa tidak ada data pemiliknya? Di arsip-arsip ini hanya membahas pada sebatas mobil tersebut, tidak ada data tentang pemiliknya. Aneh, kenapa seperti itu?

“Ah, jeogi… kenapa di arsip-arsip ini tidak ada data mengenai si pengemudi mobil sedan itu?” tanyaku pada Polisi itu.

“Data mengenai pengemudi mobil?” Polisi itu nampak memikirkan sesuatu. “Ah… itu, data yang sangat rahasia. Tak ada yang bisa mengetahui data itu kecuali penyidik dan kepala kepolisian.”

“Kenapa begitu?”

“Ya, memang itulah peraturannya,” jawab si Polisi dengan tenang.

Aku mengerutkan keningku. Semua ini rasanya sangat janggal. Mobil jaguar dan pengemudi yang datanya tidak dicantumkan di dalam arsip? Kenapa bisa seperti itu? Kenapa data itu harus menjadi rahasia?

CHOI MINHO POV END

“Rahasia? Apa maksudnya?” tanya Su Ji yang masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja diceritakan Minho.

Minho mendesah berat. “Ya, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi, data mengenai si pemilik mobil itu dirahasiakan oleh Polisi..”

“Kenapa seperti itu? Apa mungkin… pemilik mobil itu telah membayar ke Polisi agar merahasiakan identitasnya?”

“Hm, mungkin saja… Tapi, bagaimana caranya untuk mengetahui siapa dia?” pikir Minho sambil memegang ujung dagunya, bak seorang detektif.

Su Ji pun melakukan hal yang sama. Namun sejauh apapun ia berpikir, ia tetap tak menemukan jawaban apapun. “Aissshh… pikiranku sudah buntu!” serunya kesal.

“Andai ada sesuatu yang… Ah! Hwang Su Ji!” teriak Minho sambil menjentikkan jarinya. “Kenapa kita tidak mencari clue?”

“Clue? Apa maksudmu?”

“Bukan tidak mungkin kan, kalau pelakunya meninggalkan jejak? Misalkan ada barangnya yang tertinggal?”

“Ya… itu mungkin. Tapi bagaimana kalau tidak ada?”

“Aissh, kita mencoba dulu, otte?”

“Aigoo… apa kita akan pergi ke Busan lagi?”

“Keurom…”

“Aigooo…” keluh Su Ji sambil menenggelamkan kepalanya di bantalnya. “Benar-benar melelahkan!”

Minho hanya tertawa kecil menanggapi tingkah Su Ji. Kemudian matanya menerawang jauh menembus jendela kaca Su Ji. Pikirannya pun ikut melayang ke tempat entah berantah. Namun semua itu hanya mengarah ke satu titik. Key, Minho belum juga melepaskan tuduhannya pada namja itu. Meski Key adalah sahabatnya sekalipun…

Su Ji meletakkan beberapa buku di rak perpustakaan dengan kesal. Hari ini ia terlambat ke sekolah dan dihukum membersihkan perpustakaan. Berkali-kali Su Ji mendengus sebal. Biasanya ia bisa melenggang masuk ke sekolah dengan santainya walau ia terlambat 30 menit sekalipun. Namun hari ini? Sial sekali, karena ia bertemu Lee sonsaengnim tadi.

“Merapikan perpustakaan?”

Su Ji langsung tersentak kaget begitu ada suara di sisinya. Lalu sikapnya kembali berubah normal ketika melihat Key yang sedang menatapnya sambil tersenyum manis. “Aigo, kau mengejutkanku saja!” gerutunya pura-pura kesal.

“Kau terlambat ke sekolah?” tanya Key sambil mengikuti Su Ji.

Su Ji mengangguk pelan. “Hm..”

“Jadi begini ceritanya kalau terlambat ke sekolah? Hm, lain kali aku mau mencoba ah…”

Su Ji langsung menoleh ke arah Key. “Apa kau sudah gila? Untuk apa?”

“Selama ada kau, aku akan melakukan apapun Su Ji-ya…” goda Key membuat wajah Su Ji sedikit memerah.

“Mwo? Aisshh… sepertinya sifat playermu kembali lagi!” cibir Su Ji dan kembali sibuk pada pekerjaannya, ia tidak mau kalau Key sampai tahu kegugupannya.

“Mau jalan-jalan tidak?” tawar Key dan Su Ji menatapnya tanpa berkata apa-apa.

“Aku mau ngebut nih, sebaiknya kau pegangan yang erat ya,” suruh Key sambil menyetir motor sport merahnya.

“Mwo? Sirro….” tolak Su Ji mantap. Memeluk Key seperti ini saja rasanya ia lebih ingin melompat turun. Apalagi mengeratkan?

“Terserah..” balas Key sambil tersenyum. Kemudian ia langsung menambah kecepatannya hingga ia sukses membuat Su Ji memeluknya lebih erat.

“Ya!” teriak Su Ji kesal.

“Kan aku sudah bilang…” balas Key dengan santainya. Ia melirik Su Ji dari kaca spionnya sambil tersenyum penuh arti.

“Ayolah… aku kan tidak mempunyai foto bersamamu,” bujuk Key ketika ia mengajak Su Ji ke sebuah taman.

“Aigo… aku tidak suka di foto, Key!” tolak Su Ji. Ia pun berjalan meninggalkan Key di belakang.

Key tertawa kecil kemudian mengejar Su Ji. “Su Ji-ya…” ucapnya sambil memasang wajah aegyo. Su Ji menatapnya kesal dan Key memberinya sebuah senyum hangat. “Percayalah padaku,” ucapnya sambil menggenggam tangan Su Ji.

Su Ji mengerutkan kening. Ia merasa Key mempunyai maksud lain dari kata-katanya barusan. Namun, belum sempat ia membuka mulut Key sudah menjepretkan kameranya.

Key tertawa kecil melihat hasil gambarnya. “Di foto ini, kau terlihat sangat menyukaiku Su Ji. Lihatlah,” kata Key sambil menyodorkan kameranya.

Su Ji pun melihatnya dan langsung membulatkan matanya. “Mwo? Ya, kenapa wajahku seperti ini? Aissshh…. hapus!”

“Hahaha…. sirreo! Tepat sekali saat kau melihatku dan aku mengambil gambarnya. Ini benar-benar romantis!” goda Key yang langsung berlari menghindari Su Ji yang terus mengejarnya. Sembari berlari, Key pun beberapa kali memotret wajah Su Ji.

“YA! Hentikan!” teriak Su Ji tidak terima. Kedua tangannya sangat ingin mengambil kamera itu namun sama sekali tidak bisa. “YAAA!!! KEEEYYY!!!” serunya putus asa.

Su Ji menggenggam cangkir putih berisi moccalate yang hangat itu sambil memandang sekeliling. Suasana coffee shop malam itu cukup ramai juga. Mungkin, karena di luar sedang turun hujan sehingga mendorong orang-orang untuk menikmati sesuatu yang hangat. Su Ji pun merapatkan coat cokelat muda yang dipakainya lalu memperhatikan Key yang masih asyik dengan kameranya. “Wae? Kau menertawai fotoku ya?”

Key tertawa kecil dan menatap Su Ji dengan lembut. “Neomu yeppo,” ucapnya sambil tersenyum.

Su Ji mencibir. “Kau pikir aku sama dengan mereka? Aku tidak akan termakan rayuanmu, Kim Ki Bum!”

Lagi-lagi Key hanya tertawa menanggapinya. Ia pun kembali berkutat dengan kameranya. Mengamati foto demi foto, yang semakin lama semakin aneh dirasanya. Entah ini perasaannya atau tidak, ia merasa wajah dan tubuh Su Ji sedikit menghilang.

“Kau sering kesini?” tanya Su Ji membuyarkan pikiran Key hingga namja itu mau tak mau menatap Su Ji dan mengalihkan kameranya untuk sementara.

“Ne… Saat aku bosan, aku akan kemari,” jawab Key berusaha menutupi rasa penasarannya.

“Ah… tempat yang bagus,” kata Su Ji.

Key tersenyum. “Kau senang?” tanyanya.

“Hm, “ jawab Su Ji singkat. Kemudian ia memandang ke jalanan di luar. Dinding kaca di hadapannya di penuhi dengan tetesan air hujan yang berubah menjadi embun. Su Ji menghela nafas pendek. Bukankah seharusnya ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri? Tiba-tiba Su Ji mengerutkan kening, seperti tersadar akan sesuatu.

“Sebentar lagi, kita pulang ya,” ujar Key lalu menyesap kopinya. Ia tak memperhatikan sikap aneh Su Ji dan kembali memfokuskan perhatiannya pada si kamera.

Su Ji melihat ke sisi kaca di hadapan Key. Pikirannya semakin bertambah aneh ketika ia bisa melihat bayangan Key di kaca tersebut. Lalu kenapa ia tak bisa melihat bayangannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Su Ji menyapukan pandangannya ke seluruh isi ruangan tersebut. Semua orang di dekat kaca memiliki bayangannya sendiri-sendiri. Sementara dirinya, apakah ia… menghilang?

To be continued…

J Apa yang terjadi pada Su Ji? Apakah ini merupakan pertanda buruk?

J Lalu, di saat Su Ji dan Key mulai saling mencintai, apakah hubungan mereka akan berjalan dengan baik pula?

J Tunggu ya kelanjutannya di next chapter, keep reading!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 12”

  1. makin menegangkan ya..
    kyknya emang key.. tp key kyknya juga dihasut sama org.. mgkn si jjong n siwon deh ya..

    wajah dan tubuh Su Ji sedikit menghilang. >> huaaaaaaaaaa kenapa?? :O

    Bukankah seharusnya ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri? Tiba-tiba Su Ji mengerutkan kening, seperti tersadar akan sesuatu. >> huoooooo mau…. meninggal???? ato…. bukan suji??? mksdnya mino make tubuh suji??? UWWOOOOO

    tambah penasaran… ayo lanjut!! yoyoyooyoo

  2. Ya ampun key main nyosor aja,, dgn tdak langsung key ciuman ma minho.. Hhaha
    Makin pnasaran ma tragedi kecelakaannya dehhh, jjong ma siwon mungkinn tuhhh.. Masa key tega sih klo bener dia pelakunya..
    Tubuh suji mulai menghilang?? kenapa tuuhhh??

    Next part..
    fighting!!!

  3. Masih curiga bukan Key pelakunya. Entah kenapa, rasanya bukan Key. Mungkin Key terlibat tp bukan spt yg diceritain si ibu2 itu.
    Scene paling istimewa itu di bagian awal sm akhir. Itu minho bkin ngakak. Makanya jgn masuk2 badan suji, kecium kan LOLOLOL. Taeminnya jg pinter banget membiarkan hal itu trjd XDDD #ngakak
    scene endingnya nih, suji ga punya bayangan? Hiii….. ._. Tinggal pake gaun putih panjang trus urai rambut ke depan #plak
    ayo semakin excited nih aku 😀

  4. aaaaaaaaaaaa udah tbc lagiiiii thooor! *frustasi* kenapa suji jadi ga aa bayangannya? apa mungkin gara2 waktu yang lama terus minho belom nyelesaiin masalahnya, jadi suji juga sedikit2 menghilang? key-ya, sebenarnya aku sedikit ragu2 kalo key itu beneran cinta sama suji atau ada sandiwara di dalemnya ._.
    aigoo aigoo ini banyak banget teka-tekinya thoooor ayo lanjuuut semoga ga lama2 😀

  5. kalau suji nggak bisa ngelihat bayangannya di kaca itu berarti waktu yang suji dan minho punya tinggal dikit lagi dong…
    semoga mereka bisa segera memecahkan rahasia di balik kecelakaan itu deh…
    di tunggu lanjutannya

  6. Aigoooo sujin bayangannya menghilang?
    Aish aku semakin penasaran eonni, jangan lama lama ya publishnya? Aku gak sabar pengen baca cerita selanjutnya kekekekekek

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s