Diary Of Our Memories

Diary Of Our Memories

Title : “Diary of Our Memories”

Author : CharmyGirl

Main Cast : Choi Min-ho

Support Cast : Cellyn Jung (Jung Se-rin), Lee Tae-min

Length : Oneshot

Genre : Angst, Tragedy

Rating : PG-13

Hai readers… Yah ini ff pertamaku yang aku share di sf3si dan aku pernah nulis banyak ff juga di blog pribadiku, jadi aku nyoba ngeshare ffku ke sini deh…

Enjoy read yah ^^

*Untuk huruf dimiringkan, bagiannya Serin*

*Untuk font biasa, Minho.*

*Untuk digaris bawahi, Taemin.*

~~~*

“Inilah jalanku. Apa yang aku lihat sekarang, yang aku alami di masa lalu, dan apa yang akan kualami di masa depan, itu adalah jalanku. Tuhan sudah mengatur semua dengan rencana terbaik, aku harus menghadapi semua tantangan yang ada, termasuk cerita cintaku…”

~~~*

Sebuah diary. Sebuah buku diary yang sekarang ada di hadapanku. Kado terakhir yang diberikan Serin padaku, terakhir kalinya dan tidak akan lagi…

“Uri Sarangeun Iyagi (Our Love Story)” by. Cellyn Jung (Jung Se-rin)

Di kamar yang gelap ini, aku mulai menyalakan lampu baca dan mulai membalik lembar-lembar buku tersebut…

~~~*

20 January 2008.

 

Dari sinilah, aku mulai mengenal cinta pertama dan terakhirku. Choi Min-ho.
Saat itu aku sedang mengumpulkan berkas ke ruang guru. Sebagai ketua kelas aku sangatlah sibuk. Selain mengumpulkan tugas aku harus mengikuti rapat osis, mengurusi teman-teman yang sedang ribut, dan sebagainya. Karena berkas yang sangat banyak, akhirnya aku kehilangan keseimbangan dan aku terjatuh tepat di depan kelas 3-4.
Para senior menertawakan aku, yang membuat aku harus menanggung malu di depan mereka. Tapi sesosok namja keluar dan…

“Aigo, saeng… Gwaenchanayo? Omona, banyak sekali berkas yang kau bawa…” serunya kaget.
“Ani, gwaenchanayo sunbaenim, gamsahamnida…” tuturku.

Kemudian ia memberikan tangannya padaku, “Ayo, kubantu kau bangun… Akan aku bantu kau membawa berkas-berkas bodoh ini.”

 

Aku hanya terkekeh. Aku merasakan bagaimana malunya Serin saat itu.

~~~*

21 January 2009

 

“Selamat, Oppa. Oppa sudah lulus dari sini.” Ucapku.

“Gamsahamnida, Serin-ah.” Tutur Minho-oppa.

“Ayo, Oppa mau ditraktir apa?” tanyaku manja.

“Aigo, tidak usah, kau ini.” Sepertinya ia tidak nyaman dengan tawaranku.

“Omona, Oppa sudah banyak membantuku, dan sekarang, aku yang akan membantu Oppa. Oppa mau apa dariku?” aku memaksanya sambil menunjukkan aegyo-ku.

Tapi yang aneh, wajahnya sangat merah. Seakan ia mempunyai perasaan yang sangat dalam padaku. Tapi, kenapa? Selama ini aku bersamanya dan akrab dengannya, tapi aku merasa…

“Kau serius mau menanggapi pernyataanku?” tanya Minho-oppa.

“Ne!” Jawabku bersemangat.

“Kalau gitu… kau mau kan… jadi yeojachinguku?” tuturnya cepat, dengan wajah yang sangat merah.

Aigo, aku tidak akan menyangka ia akan memiliki perasaan yang sama denganku!

“Ne… aku mau.” Kataku sambil berpelukan dengan Minho-oppa.

Wajahku memerah. Saat-saat itu memang sangat romantis, mendesaknya menjadi yeojachinguku. Itu sangat tidak sopan. Aegyonya itu memang sangat manis. Aku juga tertawa, saat aku mengingat bagaimana ia membujukku meminta sesuatu. Haha.

~~~*

9 Desember 2010

 

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida… Saengil chukhahamnida Minho-ssi, Saengil chukahamnida…”

Aku dan salah seorang teman Minho-oppa, Taemin, yang juga dulunya teman sekelasku, membawa sebuah kue tart besar.

“Hyung, saengil chukahamnida…” ucap Taemin. “Ini hadiah dari kami. Semoga kau suka hyung. Bukalah.”

Aku dan Taemin menyerahkan sebuah kado besar, dan dengan segera Minho-oppa membukanya. Yah, isinya hanya sebuah Playstation, karena ia hobi main game.

“Kalian ini. Playstation itu mahal, berapa harganya? Biar aku ganti.” Kata Minho-oppa sedikit kesal.

“Jadi Oppa tidak mau menerima hadiahku?” tanyaku sedih.

“Serin-ah. Oppa jadi merasa terlalu dibebani. Tapi… aku pasti menerima apa yang kalian berikan. Neomu gamsahamnida, yeoreobeun.” Jawab Minho-oppa lembut. “Taemin-ah, kita main bareng yuk! Serin-ah, mau ikut?”

“Ani oppa, aku tidak bisa main, hahaha.” Sahutku.

Yah saat ulang tahunku, saat itu ia membawa sebuah kado dan kue tart yang sangat besar dengan Taemin, dan memberikannya padaku. Aku dan Taemin langsung memainkannya, tapi Serin hanya duduk di samping. Yah, saat-saat itu sangat bahagia…

~~~*

24 Desember 2011

Malam natal. Aku, Taemin, juga namjachinguku Minho-oppa sedang duduk di halte bus. Saljunya deras sekali. Bahkan saking derasnya kendaraan pun jarang ada karena lantai licin.

“Hyung, aku haus. Aku mau beli minum ya. Hyung, Serin-ah, mau minum apa?” tanya Taemin.

“Hyung tidak usah, berikan saja minuman hangat untuk Serin ya.” Kata Minho-oppa.

“Jangan! Berikan juga satu minuman hangat untuk Oppa. Uangnya dari aku.”

“Kau ini. Serin-ah, tidak usah. Taemin-ah, belikan untuk dia saja, ya.”

“Ani. Cuaca sedang dingin, Oppa. Taemin-ah, belikan 2. Gamsahamnida.” Ujarku.

“Baik, Serin-ah!” ucap Taemin.

Kemudian Minho-oppa duduk di sampingku. Aku sedang menikmati salju yang berjatuhan, tapi Minho-oppa malah memandangiku.

“Kau ini. Aku namja. Jadi aku bisa jaga diri.” Kata Minho-oppa. “Saljunya indah ya.”

“Ne, Oppa… neomu areumdaunyo…” ujarku.

“Merry Christmas, Serin-ah…”

“Merry Christmas, Oppa…”

 

~~~*

Lalu aku pun membuka lembar demi lembar. Tapi yang aku temui di bagian belakang…

Bukan tulisan Se-rin. Dan juga… sepertinya tulisan ini terkena percikan air.

“Dari sini dibuat oleh Lee Tae-min”

13 January 2012

Di apartemennya Serin. Aku menatap langit dan melihat betapa teriknya matahari saat itu. Serin sedang menjemur pakaiannya dan aku hanya duduk-duduk di sampingnya, aku benar-benar teman yang tak punya hati yah. Haha.

Tetapi aku merasakan sebuah guncangan kecil di tempatku.

“Guncangan? Ada yang mengguncang lantai atasnya? Ah sudahlah.” Kataku cuek.

“Taemin-ah… kalau aku tidak ada, jaga Minho-oppa yah.” Kata Serin.

“Hei? Apa maksudmu berkata seperti itu? Aku tidak mengerti.”

“Aku ada urusan, jadi tolong yah.”

Tiba-tiba guncangan itu makin keras. Lantai dua mulai retak dan aku merasa…

God! Ini GEMPA!

“Serin-ah! Cepat turun bersamaku!” teriakku.

“A-apa sih… Taemin-ah, tidak ada apapun yang terjadi. Percayalah,” kata Serin tulus sambil memegang bahuku dengan lembut.

“Baboya!” teriakku. “Sarafmu sudah tidak berfungsi? Kau tidak merasakan ada gempa dan apa kau tidak melihat retakan kecil yang ada di dekat kakimu itu?”

“Retakan?” katanya.

“Sudahlah… AYO IKUT DENGANKU!” Aku menyeret Serin ke tangga darurat dan lari secepat mungkin dari lantai paling atas apartemen tersebut. Tapi di lantai dasar…

“Taemin-ah…” serunya lirih.

“Buang waktu, Serin-ah, ayo cepat atau kau akan mati di sini!” kataku marah.

“Ani, Taemin-ah… Aku minta satu permintaan terakhir…”

MWO?

Permintaan terakhir? Ani, kau gila Serin-ah! Kita masih punya peluang! Cepat keluar atau kau akan mati di sini…

“Taemin-ah… kita hanya bisa bertemu sampai di sini… Jebal… berikan ini pada Minho-oppa…”

Air mata Serin mulai menetes. Ia memberikan sebuah buku, yang lain tak lain, buku yang sedang kau pegang ini, hyung. Ia juga memintaku untuk meneruskan sedikit dari cerita cintamu juga Serin- agar buku ini selesai… Ia memintaku untuk terus menjagamu, sampai kau menemukan cinta yang baru hyung…

“Taemin-ah… cepat keluar… aku sudah capek… selamat… tinggal…” ujar Serin… sambil tersenyum lirih.

Perlahan gedung apartemen itu mulai roboh, bersamaan dengan aku yang keluar dari apartemen, tapi…

“Serin-ah… Andwaeyo Serin-ah… Serin-ah… ANDWAEE!!!!”

Hyung bisa melihat, beberapa tulisan yang pudar di buku ini karena air. Ya, itu adalah air mataku hyung. Aku tidak sanggup menuliskan ini dan aku menangis saat aku menulis ini…

Dan begitu juga saat gedung apartemen runtuh, aku juga menangis seperti anak kecil saat itu…

~~~*

Kututup diary itu dengan air mata yang bercucuran. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat sosok Serin yang selalu gembira di hadapanku, yang selalu menghiburku di saat susah maupun senang… Dia seperti oksigen bagiku. Aku tidak bisa menahan kesedihanku saat kepergiannya…

~~~*

FLASHBACK

 

13 January 2012

Aku pun langsung berlari menuju apartemen. Karena gempa barusan rumahku roboh dan sekarang aku ragu dengan apartemen Serin.

“Serin-ah… Serin-ah!!!!” Aku hanya bisa memanggil namanya sambil menangis…

Setibanya di apartemen, aku bertemu dengan beberapa orang yang mengangkat sesosok yeoja yang telah bersimbah darah… juga menemukan Taemin di situ…

…sedang menangis.

“Taemin-ah… Se-rin! Dimana dia?” jeritku, sambil mengguncang-guncangkan tubuh Taemin. Taemin, hanya bisa menatapku dengan lirih.

“H-hyung… Hiks… Dia telah pergi hyung… Hiks… Tadi pada saat kami keluar ia berhenti berjalan keluar… Katanya… hiks… dia capek… dan hanya berdiri di situ… Hiks… hiks…” kata Taemin terisak.

Aku-hanya terdiam, berlutut di tanah, dan memukul tanah tersebut sambil menangis…

“Baboya… Hiks… Kau tidak mengerti perasaan orang di sekitarmu Serin-ah? Hiks… Hiks… Harusnya kau berjuang lebih keras lagi, lagi… ANDWAEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!”

~~~*

14 January 2012

Taemin menemuiku setelah pemakaman Serin selesai. Ia menemuiku dengan mata sembabnya, karena terlalu banyak menangis.

“H-hyung…” panggil Taemin dengan suara yang serak.

Aku memalingkan mukaku ke arahnya, dengan mata yang masih berairan dan wajah yang sangat basah.

“N-ne, Taemin-ah…”

“Ini… untuk hyung… Bacalah nanti, jangan sekarang… Ia memberikan ini sebelum meninggal… Bacalah setelah keadaan kota kembali seperti semula, begitu permintaannya… Simpan ini baik-baik hyung, jangan kau lupakan, dia adalah cinta pertamamu…”

FLASHBACK END

~~~*

Oppa, saat Oppa membaca ini, mungkin aku sudah pergi. Tapi Oppa jangan lupakan aku, karena aku adalah cinta pertama Oppa…

 

YOU ARE MY FIRST AND MY LAST. SARANGHAEYO, CHOI MIN-HO.

 

~Choi Min-ho & Jung Se-rin~

 

~~~*

12 Juni 2012

Jung Se-rin. 05/12/1993 – 13/01/2012

Itulah yang tertulis di batu nisan yang ada di hadapanku sekarang.

Aku meletakkan sebuah bunga di samping makam Serin.

“Seandainya kau masih hidup…”

Ah, lagi-lagi aku menangis. Aku mengusap air mataku dan…

“…kau pasti akan menjadi pendamping hidupku.”

Aku mengelus batu nisan tersebut.

“Aku berjanji akan selalu mengingat cerita cinta kita… Jeongmal gamsahamnida… Jung Se-rin…” bisikku, sambil tersenyum.

“Hyung!”

“Oh, Taemin-ah? Kemana saja kau? Hyung sudah menunggumu dari tadi!”

“Tadi aku ke toilet hyung…”

Kemudian Taemin berlutut di depan makam dan memegang batu nisan Serin.

“Kau sahabat terbaikku. Kau akan menjadi sahabatku…”

Ah. Taemin mengusap air matanya.

“…selamanya. Yaksok…” Ucap Taemin dengan senyum getir.

“Neol saranghae, Serin-ah…” ucapku. “Ayo, Taemin-ah, kita pergi. Hujan akan turun.”

“Ayo, hyung.”

Aku dan Taemin meninggalkan pemakaman. Kami tidak bisa melepaskan Serin tapi…

Aku ingin ia tenang dengan Tuhan di surga.

Kau akan selalu di hatiku…

NEOL SARANGHAEYO JUNG SE-RIN.

~~~*

~END~

Yah sekian ceritaku ^^V

SANSO GATEUN COMMENT! DON’T BE A SILENT READERS!

Gamsa 4 read all ^^ *BOW

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Diary Of Our Memories”

  1. agak nyesek pas baca ceritanya. kasian bgt si serin. uhuhu. minho yg tabah yaaa. trus lalo kamu mau cari cinta yg baru ama aku ajaa *dijedotin key :D* ehehe. nice story 😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s