House Next Door [1.3]

House Next Door [1.3]

Author             : ZaKey

Main Cast        : Kim Jonghyun, Lee Jinki

Support Cast    : Lee Taemin

Length             : Trilogy

Genre              : Friendship, Fantasy

Rating              : General

Summary         : Ketika bulan baru, pemilik rumah akan keluar untuk memanggil-manggil nama mendiang istrinya

Pondok mungil tersebut berdiri di tengah hamparan rumput yang tumbuh liar, dikelilingi pagar tanaman yang rapat dan berkesan tidak ramah. Jalan setapak dari batu pipih kelabu dipasang jarang-jarang menuju undakan kayu. Berjarak tiga undakan, teras rumah membentang sempit. Dinding bagian depan hanya dihiasi satu pintu kayu dan satu jendela tinggi. Cerobong asap mencuat dari atapnya yang miring; jejak kelabu samar terlihat dari lubang cerobong.

Di seberang jalan, terlindungi oleh pagar kayu tinggi bercat putih, dua anak kecil mengamati dengan saksama.

“Kau lihat, Taem? Ada asap; ada manusia!” seru anak bermata sayu dengan antusias. Anak yang lebih kecil mendongak, cemberut karena ujung kepalanya bahkan tak setinggi pagar.

“Tidak kelihatan, Jjong hyung!”

Jonghyun mendecak tak sabar. Ia meraih kedua sisi tubuh Taemin dan mengangkat anak yang lebih muda tersebut.

Kedua tangan Taemin mencengkram ujung pagar untuk membantu dirinya sedikit lebih tinggi lagi. Matanya menyipit melihat kepulan asap yang terus naik dan bergabung dengan gulungan awan mendung. Pandangannya beralih pada jendela, lagi-lagi merasa gelenyar ketakutan karena hanya kehampaan tak bertepi yang ada di balik kaca kotor itu.

“Sudah? Tanganku tidak kuat!” suara mendesak Jonghyun menyadarkan Taemin.

“Ah – ya, Hyung.”

Mata Jonghyun berkilat puas saat kaki Taemin sudah menjejak tanah. “Aku benar, kan?”

“Umm…ya,” Taemin menjawab ragu, kemudian melanjutkan dengan setengah berbisik, “menurut Hyung rumah itu berhantu?”

“Mungkin saja,” jawab Jonghyun misterius. Ia meraih telapak tangan Taemin dan membersihkan serpihan cat kayu dari sana.

Hyung, itu lebih dari sekadar hantu. Mungkin monster!” jerit Taemin tertahan. Jonghyun tertawa kecil; kini ia membungkuk untuk mengambil tasnya yang dijatuhkan ke tanah.

Monster House? Itu hanya film, Taeminnie. Sekarang lebih baik kita masuk dan bertanya pada ibumu tentang rumah di seberang jalan itu.”

~~~

Ibu Taemin adalah wanita muda yang ceria dan sangat terbuka. Segala perasaannya akan tampak sejelas siang hari di paras cantiknya. Begitu pula hari ini; wajahnya cerah dan senyumnya terus terkembang.

Selagi menuangkan coklat panas ke dalam dua cangkir dan mengisi piring dengan biskuit jahe, ia mendengarkan dengan sabar celotehan Taemin dan Jonghyun tentang sekolah mereka hari ini. Tiba saat Jonghyun bertanya perihal rumah di seberang jalan, wajahnya berubah keruh.

“Aku berharap aku tahu banyak, Jonghyun-ah,” jawabnya penuh sesal. Ia mengusap reremahan biskuit dari pipi Taemin dan duduk di depan mereka. Memandang kebun melalui jendela dapur, keningnya berkerut dan jemarinya saling menaut. Berpikir.

“Aku tidak tahu ini mampu meredam penasaranmu atau tidak, tapi aku pernah dengan sedikit tentang rumah itu,” ia kembali berbicara dengan nada merenung, “kabarnya sepuluh tahun lalu istri pemilik rumah meninggal dalam suatu kecelakaan. Sang pria tidak pernah keluar dari rumah lagi kecuali pada saat bulan baru.”

Taemin menurunkan cangkir dari bibirnya. “Bulan baru?”

“Itu artinya saat bulan tidak muncul dimana pun, Sayang.”

“Untuk apa?” tanya Jonghyun. Dadanya berdebar membayangkan hal itu benar-benar terjadi.

“Kudengar ia akan keluar dari pintu depan, mengelilingi halaman rumah mereka yang luas berkali-kali untuk mencari istrinya; ia memanggil-manggil nama wanita malang itu sepanjang malam.” Ibu Taemin mengangkat bahu, “aku tak percaya takhayul macam itu.”

Tapi Jonghyun percaya. Ia menjejalkan dua biskuit sekaligus ke dalam mulutnya dan tersedak karenanya. Ibu Taemin sampai harus menepuk-nepuk punggungnya dan menyorongkan segelas air putih. Jonghyun terlampau bersemangat.

“Tapi kupikir itu tidak benar; selama delapan tahun tinggal disini, aku tak pernah mendengar atau melihat sesuatu. Mungkin pria itu pindah ke rumah sanak saudaranya saat para tetangga lengah.”

Jonghyun tahu Taemin bermaksud bercerita soal asap yang mereka lihat, jadi ia menginjak kaki anak lelaki itu dan memelototinya sebagai peringatan.

“Jadi, Tuan Kim,” ibu Taemin, untungnya, sudah berdiri menghadap konter, membelakangi mereka, “apa ibumu tidak khawatir? Sekarang sudah pukul tiga dan kau belum pulang ke rumah.”

Jonghyun meringis. Ia lupa sama sekali soal rumahnya. “Terima kasih, Ajumma. Boleh aku membawa biskuitnya? Ini enak sekali.”

~~~

Keesokan harinya Jonghyun tak sabar untuk mencapai kelas Taemin. Semalam, setelah menerima omelan ibunya tentang keterlambatannya (“Demi Tuhan, rumah kita bersebelahan! Kenapa kau tidak pulang dulu untuk berganti baju dan bermain setelahnya?”), ia berhasil mengorek informasi dari ayahnya tentang bulan baru. Suatu kebetulan malam inilah bulan baru, dan kebetulan pula besok hari Sabtu hingga ia diperbolehkan menginap di rumah Taemin.

“Hei, Taemin-ah!” Jonghyun merangkul Taemin dengan kekuatan berlebih hingga anak lelaki kecil itu sedikit terhuyung.

“Ada apa, Hyung?”

“Kita bisa melihat pemilik rumah itu keluar malam nanti!”

Mata Taemin melebar, “maksudnya harabeoji itu pulang dari rumah saudaranya?”

“Bukan itu – malam ini bulan baru, Taemin-ah,” Jonghyun menyeret Taemin ke tepi koridor agar tidak mengganggu orang-orang yang bergegas keluar dari sekolah.

Taemin terlihat skeptis. “Hyung, aku juga tidak pernah dengar apapun di malam hari. Mungkin eomma benar, Hyung. Mungkin pemilik rumah memang sudah pindah.”

“Tapi – “

“Hei, kalian membicarakan apa?”

Jonghyun terlonjak kaget mendengar teriakan di telinga kirinya. Ia menoleh sedikit, melihat Jinki berdiri ceria di sampingnya dengan senyum lebar.

“Bukan urusanmu,” sahut Jonghyun judes. Ia tak pernah menyukai Jinki; anak itu terlalu pintar dan terlalu menarik perhatian para guru, tetapi juga terlalu ramah hingga membuat Jonghyun muak. Tanpa menunggu reaksi Jinki ia menarik Taemin keluar dari koridor.

Mood Jonghyun memburuk. Beberapa alasan logis mulai merusak imajinasinya, dan ia membenci itu. Ia ingin tetap mempercayai bahwa pemilik rumah akan keluar malam ini, terseok-seok mencari istrinya di balik helaian rumput yang tumbuh liar. Ia ingin tetap yakin akan mendengar suara serak pria itu. Tapi Taemin, dan kini dirinya juga, mulai merasa bahwa itu adalah hal yang bodoh. Belum lagi bahwa ia bertemu dengan Jinki barusan. Anak lelaki itu merusak semuanya.

Hyung! Hyung~”

Jonghyun tersentak, menyadari bahwa ia menarik tangan Taemin terlalu keras. Ia juga baru menyadari mereka telah keluar jauh dari sekolah, menyusuri trotoar menuju perumahan tempat dirinya dan Taemin tinggal.

Hyung marah karena aku tidak percaya? Maaf, jangan cemberut begitu terus.”

Jonghyun tak menjawab. Meski ia sudah tidak lagi menyeret Taemin, tangannya masih merangkum pergelangan kurus tangan Taemin.

Hyung tetap boleh menginap di rumahku; kita bisa bermain video game. Ya?”

Aish, kau ini!” Jonghyun tidak tahan untuk tertawa. Ia menggunakan tangan lain untuk mengacak rambut Taemin. “Tentu saja aku akan tetap datang. Tunggu aku nanti malam.”

Jonghyun tidak akan menyerah semudah itu.

~~~

Taemin menghambur dari pangkuan ayahnya begitu mendengar bel berdentang. Dengan susah-payah ia menarik pintu hingga terbuka, tersenyum lebar melihat Jonghyun berdiri disana.

“Jonghyun hyung!”

“Kau sudah makan malam, Jonghyun-ah?” itu suara ibu Taemin dari ruang tengah. Jonghyun melepas sepatu ketsnya dan meletakannya di dalam rak sepatu.

“Sudah, Ajumma.”

“Jangan bermain sampai larut malam, ara?”

Taemin bosan dengan dialog Jonghyun dan ibunya; ia menarik Jonghyun dengan tidak sabar menuju kamarnya di lantai dua. Dalam perjalanan, Jonghyun memberikan senyum pada orangtua Taemin dan mencuri pandang ke arah jendela yang menghadap ke jalan raya. Rumah itu tampak kosong.

Kamar Taemin berada di lantai dua, terletak di bagian depan rumah. Ada dua jendela di kanan-kiri dan satu ventilasi sempit di depan. Didominasi warna putih, kamar Taemin tampak seperti milik remaja ketimbang anak-anak. Tempat tidur single di sebelah kanan, satu set meja belajar di seberang, dan TV layar datar lengkap dengan berbagai macam permainan di depan tempat tidur; disitulah tempat Jonghyun dan Taemin biasanya menghabiskan liburan.

Tapi tidak kali ini. Jonghyun meletakkan tas di karpet putih, kemudian menarik kursi ke arah ventilasi sempit yang terpasang tinggi. Berjinjit, mata Jonghyun tepat berada di lubang udara, dan pondok itu ada di depan matanya.

Hyung, jangan katakan kau masih penasaran,” kata Taemin dari tepi tempat tidur.

“Aku tetap percaya sampai malam ini habis tanpa terjadi apapun,” balas Jonghyun keras kepala. Di kegelapan, pondok itu menyatu dalam malam; hanya jendelanya yang sesekali bercahaya memantulkan sinar lampu mobil yang melintas. Trotoar di depannya, seperti biasa, begitu lengang.

Tunggu, ada sesuatu yang bergerak.

Hyung…”

Sulur pagar tanaman yang ada di atas gerbang bergerak samar. Bergoyang tanpa ada angin.

Hyung…”

Sulur itu memanjang; gulungan kurusnya terbuka seperti kabel yang diulur. Semakin panjang menuruni engsel berkarat pintu gerbang.

“Jjong hyung…”

Melata di trotoar gelap layaknya ular, meliuk-liuk mencari mangsa dengan leher tegak.

“Jonghyun hyung…”

Dari kejauhan, seorang anak lelaki tampak berjalan santai mendekap tas di dadanya. Sulur itu tampaknya juga menyadari keberadaan manusia; membelok drastis ke arah si anak lelaki.

Anak lelaki itu berjalan semakin dekat dengan gerbang tanpa kecurigaan dan sulur itu pun bergerak semakin dekat, tak sabar.

Wajah anak lelaki itu tersorot lampu mobil yang melintas. Jonghyun mengenalinya tepat saat sulur mencapai ujung sepatu anak itu. Wajah Jonghyun memucat.

Jonghyun hyung!!”

“Jinki!”

Sulur itu melilit kaki Jinki dan menariknya hingga terjerembab ke tanah. Tasnya jatuh. Perlahan nyaris tak kentara, Jinki diseret mendekati pagar tanaman, tak peduli berapa besar usaha anak itu meronta dan mencakar trotoar dengan sia-sia.

Jonghyun tak lagi melihat kelanjutannya; ia sudah melompat dari kursi, berlari menuruni tangga, keluar lewat pintu dapur, dan, dengan kaki telanjang, melintasi halaman berumput milik keluarga Lee.

Trotoar seberang jalan hening. Pondok tak terurus itu hening. Hanya tas yang isinya berhamburan keluar yang ada disana, tergeletak kesepian tanpa pemilik.

Hyung, ada apa sebenarnya?” engah Taemin setelah berhasil menyusul Jonghyun.

“Jinki…” Jonghyun tercekat. Sedetik kemudian kata-kata sudah berhamburan keluar dari bibirnya , tak sempat disusun menjadi kalimat runtut hingga sulit dimengerti.

“Takhayul itu benar, Taemin-ah,” Jonghyun menarik napas panjang setelah menyelesaikan ceritanya. Tengkuknya bergidik ketakutan, tapi juga bersemangat.

Hyung, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Taemin cemas.

“Kita harus kesana, Taemin-ah,” jawab Jonghyun, “segera. Sebelum rumah itu memakan Jinki.”

~~~

Jarum pendek menunjuk angka sembilan saat Jonghyun dan Taemin mengendap-endap turun. Meski berkata “segera”, hal itu tak bisa terealisasi mengingat orangtua Taemin masih ada di ruang tengah.

Ruang tengah gelap gulita; lampu sudah dimatikan sedari tadi.

“Pintunya dikunci, Taemin-ah,” Jonghyun mengabarkan setelah mencoba menarik pintu utama yang mengarah langsung ke depan rumah.

“Ada. Kuncinya ada.”

“Dimana?”

“Tunggu…” Taemin menggeledah rak di sebelah pintu. “Ini dia!”

“Tidak bisa…tunggu, ini kunci mobil, Taeminnie.”

“Oh. Pasti yang ini. Biar aku yang mencoba membukanya, Hyung.”

“Hyung, tidak bisa!”

“Kau memutar ke arah yang salah,” terdengar bunyi klik lembut, “bagus. Ayo kita keluar.”

Jonghyun menarik Taemin keluar dan menutup pintu dengan amat perlahan. Di luar sama gelapnya dengan di dalam, tapi lampu jalan yang berdiri tiap sepuluh meter cukup memberi penerangan untuk mengetahui dimana letak gerendel pagar.

Pondok itu tetap hening saat mereka berdua keluar dari pekarangan rumah. Berdiri tenang. Pagar tanamannya melambai tertiup angin.

Hyung, kau yakin?” cicit Taemin begitu mereka menyebrang jalan yang sudah lengang.

“Jinki ditarik ke dalam, Taeminnie! Dia teman sekelasku; pada siapa aku mencontek PR jika dia tidak ada?”

Mereka terus berjalan, menaiki trotoar dan berhenti beberapa langkah di depan gerbang. Tak ada yang terjadi.

“Sekarang kita masuk.”

“EEH? Hyung, kau serius?” sentak Taemin terkejut. Suaranya melengking membelah malam, tapi tetap tidak ada yang terjadi.

“Aku bisa masuk sendiri jika kau tidak mau,” Jonghyun melepaskan tali tas dari lehernya dan menyerahkannya di tangan Taemin, “tak apa. Kau tunggu disini saja.”

“Tidak mau!”

“Kalau begitu ikuti aku!” balas Jonghyun dan kembali mengambil tasnya. Ia merunduk di depan gerbang. Aroma tanah basah dan dedaunan busuk tercium kuat dari sini.

Gerbang itu sudah sangat berkarat dan dipenuhi tanaman rambat sehingga mustahil untuk dibuka, baik dari dalam ataupun luar. Tapi pagar tanaman selebat apapun pasti ada celah di bawahnya, dan memang itu yang ditemukan Jonghyun. Lubang sebesar tutup tong sampah menganga tak jauh dari pintu gerbang, tersamarkan dengan juntaian sulur tanaman.

Hyung…”

“Ssht! Aku akan masuk duluan, kau menyusul.” Jonghyun mengubah posisi menjadi tengkurap, lalu dengan sikunya maju ke dalam celah. Rumput basah dan dingin menyambut tubuhnya.

Sensasi aneh menjalari tubuh Jonghyun setelah seluruh tubuhnya berhasil masuk. Masih meringkuk, ia mengulurkan tangan keluar.

“Tak apa, Taeminnie, masuklah.”

Taemin muncul semenit kemudian, terhambat oleh tali ranselnya yang tersangkut sulur. Beruntung Jonghyun berhasil melepaskannya sebelum Taemin meledak dalam tangis.

Jonghyun perlahan membalikkan badan. Pondok tersebut tampak begitu nyata dengan jarak sedekat ini; koloni-koloni jamur tumbuh subur di sepanjang tembok batanya, kusen-kusen jendela di bagian samping rumah terkoyak termakan usia, pipa air patah yang masih menempel di pondasi beton, dan kursi taman yang tertutup oleh tingginya rumput di halaman samping.

“Taeminnie, kau siap untuk masuk?” bisik Jonghyun lirih, teredam oleh rasa antusias dan takjubnya.

Balasannya jauh lebih lirih, “iya, Hyung.”

Jonghyun menggenggam tangan Taemin dan menariknya berdiri lalu, merunduk serendah mungkin, berjalan menyusuri halaman tak terurus yang lebih lebar dari yang dapat mereka bayangkan. Beberapa kali mereka dikagetkan dengan patung-patung gnome yang tergeletak dimakan usia di balik rerumputan tinggi.

Undakan kayu sudah berada di depan mata; Jonghyun dan Taemin berpandangan selama beberapa saat, lalu secara bersamaan menaiki susunan kayu yang lapuk tersebut. Dari sini aroma lembab semakin kuat tercium; seperti bau koran lama dan seprei berdebu disatukan dengan baju basah.

“Kita masuk, Hyung? Ke dalam rumahnya?” suara Taemin terdengar seperti rengekan, dan memang benar; matanya sudah berkaca-kaca dan hidungnya mulai berair.

“Yap.” Jonghyun mengulurkan tangan ke arah kenop pintu berlapis sarang laba-laba, lalu berhenti ketika sekelebat bayangan pekat terlihat dari jendela. Terlalu gelap dan terlalu cepat untuk memastikan apa itu sebenarnya. Jonghyun menyipitkan mata, menunggu bayangan itu muncul kembali.

Hyung, aku merasa diawasi,” bisik Taemin sambil mencengkram jaket Jonghyun erat-erat.

“Darimana?”

“Dari belakang, mungkin – tiap kali aku berbalik selalu ada yang bergerak sembunyi.”

Jonghyun mulai gentar. Tangannya berkeringat dan jantungnya berdegup kencang. Sebagian kecil dirinya berbisik untuk lari, tapi ia menguatkan tekad untuk tetap berdiri tegak. Demi Jinki.

Tapi bagaimana caranya masuk? Pintu ini, seperti gerbang tadi, tak bisa digerakkan kecuali dengan kekerasan. Jonghyun meletakkan telapak tangan di pintu dan mendorongnya perlahan.

Derak kayu lapuk terdengar, kemudian disusul debuman tertahan ketika kayu pintu bagian atas jatuh ke dalam, membentuk celah yang cukup lebar untuk tubuhnya. Jonghyun menumpukan kedua tangan di pinggiran celah, lalu mengangkat tubuhnya masuk. Setelah kakinya berhasil mencapai lantai bagian dalam pondok, seperti saat masuk ke dalam pekarangan, ia mengulurkan kedua tangan keluar.

“Mendekatlah, Taeminnie – aku akan mengangkatmu masuk.”

Taemin menurut; ia maju selangkah dan membiarkan Jonghyun menariknya.

“Aww! Hyung, kepalaku terantuk pintu!” jerit Taemin tertahan.

“Sshht! Jangan berisik!” bisik Jonghyun. Ia menarik punggung Taemin agar memudahkannya masuk, tetapi ada yang tidak diperhitungkan Jonghyun; Taemin mendarat dengan kepala lebih dulu.

“Aww! Hyung – “

“Ssht!”

Disertai rengekan, desakan untuk diam, dan adu mulut kecil, akhirnya kedua anak lelaki itu berhasil berdiri tegak, menghadap ruangan gelap sepekat tinta.

“Kita sudah ada di dalam, Hyung.”

“Yap. Keluarkan senternya.”

“Baik – aww, Hyung!!”

Jonghyun menoleh ke arah Taemin, tapi hanya kegelapan yang ada di matanya, “apa lagi sekarang?”

“Ada seseorang yang menarik kakiku!!”

Tanpa pikir panjang Jonghyun menarik tangan Taemin ke samping dan mulai berlari, tapi ia sendiri juga menabrak sesuatu hingga tersungkur. Sesuatu yang lunak dan hangat.

Jonghyun memfokuskan pandangan, lalu menjerit melihat seraut wajah di depannya.

..::To be Continued::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

62 thoughts on “House Next Door [1.3]”

  1. woy woy.. bikin tegang.. seru nih.. hahahaha

    lucu deh byngin jonghyun n taemin kecil.. aaawwwwww

    aq pikir di awal2 td.. pria penghuni pondok itu jinki.. lol…

    “tapi aku pernah dengan sedikit tentang rumah itu” – pernah dengar?

    ditunggu lanjutannya…

  2. kyaa.. Srasa baca novel detektif cilik..
    Aku suka..
    Aigoo, jjong nolong jinki biar,,, tetep bisa nyontek PR?? Yah.. Bahkan dari kecil sifatnya sudah begitu..#duagh
    next.. Next..

  3. Wahhh! Pertama kali baca FF ini, aku langsung terkesima. Aku yang lama ga update atau aku yang baru tau kalo ada author se-cool ini? hehe..

    1. Pendeskrispian ceritanya OK.
    2. The way you write the story juga OK. Aku baca FF ini, jadi inget cerita goosebumps loh =]
    3. Pemilihan vocabulary juga OK. Ga monoton. Maksudku, setauku selama ini cuma ada satu author yang biasanya memberikan vocab baru di setiap FF nya (Yen – If I may mention her name). Tapi sekarang aku menemukanmu #hayyah

    Walau kayaknya ada typo ya.. cuma satu sih, yang dibilang komentator pertama itu. sisanya bersih ^.^b

    Aku tadi juga sempat baca FF mu yang lain, dan semuanya keren!
    Keep up your good work. Kalo ada lomba FF, coba ikutan. Siapa tau dirimu bisa jadi salah satu main author di sini hehehe..

    Mungkin Zakey ga kenal aku, tapi aku salah satu penghuni lama di blog ini. Jadi, salam kenalll.. ^_^

    Zakey FIGHTING!!

    1. Thank you very much ^^;;

      Sebenernya banyak terinspirasi dari trilogi Bartimaeus sihh, salah satu novel yang paling aku suka 🙂 and to be honest, aku juga (dulu) sering stalking wp Storm ssi, makanya nama ‘Storm’ udah ga asing lagi, nyahahaha 😀

      Makasih buat penilaiannya; aku bakal berusaha lebih keras lagi, hehe ^^

  4. Satu lg author yang ‘wow’. Pertama, feelnya dapet. Kedua, bahasanya bagus, ga bkin bosen. Ketiga, bikin tegang. Keempat, bkin emosi – lucu, jengkel, serem – campur aduk kayak gado2.
    Wuahahaha Jjong, nyelametin Jinki cuma demi PR? -.-
    dan sumpah, Taemin unyu banget di sini. Mencerminkan anak2 sejati (?) dan Jjong juga pas tuh jd sahabat taemin. Ayo dilanjutkan 🙂 semangattt ~

    1. Makasih banyak loh ya~ Minho ganteng banget di ava dirimu <- out of topic

      Haha, iyalah Taemin pantes jadi anak kecil. Maunya agak gedean dikit, tapi nanti nggak seru di-pairing sama Jonghyun -,-

      Makasih~ semangaat ^^9

  5. Halo Zaaa~
    ak mau bikin pengakuan nih.
    ak udah baca ini duluan sejak di draft. gapapa kan?
    soalny keren sih, ak lagi nyari” ff misteri kek gini. Ga marah kan yah? Tp ak janji bakalan nahan napsu kehendakku (?) biar nungguin part 2 3 ny dipublish baru ak baca.

    dan soal misterinya, ak rasa gak perlu banyak cincong aja selain bilang: WOW
    seperti biasa, tulisan Zakey kan emang keren” hoho
    haha, okeh okeh ya
    salam penuh cinta (?)
    Boram 🙂

    1. Aah, Boram ssi ini ada ajaa *tampar mesra

      Gapapa sih, sebenernya kadang aku juga suka nyolong2 kayak gitu, nyehehe 😀

      Makasiih, ditunggu lanjutannya yaa ^^

  6. Wah pendeskripsiannya bagussss. Kaya yang disinggung sama Jonghyun dan Taemin itu, ini ceritanya mirip sama film kartun Monster House. Tapiiiiiiiiii aku pernah baca kalau semua ide cerita itu sebenernya basi, yang baru adalah cara penyampaiannya. Dan cara penyampaian kamu keren 🙂 Terus kesan yang aku dapet ini ada unsur kebarat-baratan ya, terutama karena ngemilnya kue jahe itu. Bisa jadi kamu sengaja bikin gitu ya hehehehe. Tapi bukan masalah juga kok. Semangat!

      1. Aku malah inget film Monster House habis mikir jalan ceritanya, jadi bisa
        dibilang nggak sengaja juga sih 🙂

        Kebetulan aku juga ga tau dan bosen kalo terus-terusan sok korea, makanya kadang kebarat-baratan aja, hehe

        Makasih yaa

  7. wah wah wah, seru banget deh seriusan!
    bikin tegang bacanya~ Fuiih.
    “Jinki ditarik ke dalam, Taeminnie! Dia teman sekelasku; pada siapa aku mencontek PR jika dia tidak ada?” <– sempet2nya si jjong ngomong begini -_-a
    Ga sabaran deh nunggu lanjutannya, jangan2 yang di liat Jjong itu mayat Jinki lagi. Aish! jangan lah.
    Next part secepatnya yah.kekek. ^^v

  8. kereeen.. kayak baca goosebumps fearstreet RL.stine.. O_O jgn lama2 part berikutnya ya.. keburu berangkat smtown!!_________________________kabur

    1. YA! BERANGKAT SANA! BERANGKAT KE GBK SANAA! #emosi

      padahal udah lama ga baca goosebumps, hehe. Bacaan pas SD tuh :3

      Makasih yaaa ^^

  9. Authooor ini seru sekaliii^^ Adventure-horror-mistery gini. Cara penulisannya bagus Thor, kayak novel-novel fantasy-adventure yang sering aku baca haha. meski ada sedikit (banget) typo.
    Next part jangan lama-lama Thor!! 😀

    1. Padahal aku terinspirasi dari rumahku sendiri. Memang sih, pas buat aku tiba-tiba ingat ada film Monster House. Well, yah. Terserah yang baca juga sih yaa 🙂

      Makasih komennya ^^

  10. Saya gak tahu apa itu goosebumps, monster house, atau apalah. Tapi terlepas dari kemiripan atau inspirasi, ff ini kereeenn… XDD Saya makin yakin anda akan jadi author favorit saya :3

    Author pinter banget ngasi peran di setiap tokoh. Disini karakter Jonghyun dan Taemin kelihatan banget anak-anak. Lugu dan kiuuuttt~~~ Sama sekali gak ada kesan maksa-maksain untuk jadi kekanak-kanakan

    Btw, saya harus manggil apa nih ke author? Yaah… biar akrab gitchuu(?). Secara saya dikit banget punya temen disini -,-
    Lagipula aneh banget kalo terus-terusan manggil dengan nama “author” atau “anda”. Gak kece *?*

    1. Ya ampun, Erii. Makasih yaa, aku juga makin sayang sama kamyuu :*

      Panggil Zakey aja, atau Zaky, atau apapun deh~ sesuka kamu. Kalo aku panggil Eri aja kamu keberatan? ^^

      Sekali lagi makasih loh yaa. Let’s be a good friend 😀

  11. ERI??? Boleh banget XD
    Tapi keseringan dipanggil Mahita, mahitong (?), atau semacam itulah. Kalo mau panggil ERI silahkan saja, yang penting happy 😀

    Jujur pas sekilas lihat ava-nya zakey, saya kira lockets, ternyata taemints toh XDD
    Tak apalah, kalo dipikir-pikir saya lockets tapi selingkuh sama taemin #omongan makin ngawur -,-

    OK, ayo kita berteman…^____^ *lempar bunga-buangaan*

  12. ahaahahha… #loh
    seriusan aku berasa nonton sinema liburan di trans..hehe. berasa kebawa cerita. mana di luar ujan deres pula. =,=

    Dan, aku langsung ngebayangin taemin kecil itu kayak aktor jepang kamiki yang maen di little DJ sama tantei gakuen q. tau gak? hahaha. berhubung wajah mereka pas kecil sama2 mirip, jadi gak ada kesusahan di sini. klo ngebayangin si jjong berasa di karikatur, badan kecil tapi mukanya tetep gede .____________.

    lanjuut!!! lanjuut!!! hahaha 😀

    1. Haha, aku sering nonton dorama atau film Jepang tapi ga pernah tau nama pemainnya siapa aja ._.

      Makasih ya, Dhilah. Hati2 jangan sampe kena flu gegara di luar hujan ^^

      1. wkwkwwk..aku juga cuma beberapa doang yang aku ampe nyari2 biodata sama masa kecilnya…hahaha…

        sama2 zakey, kemaren pas mo tidur udah terlanjur flu duluan kok .____.” #sambartisu

  13. w00w.. Nich ff DAEBAK bgt,
    feelnya dpet bgt,
    aq ja jd tegang N berdebar2(?) sendiri dr awal bacanya, apalagi pas akhir itu..

  14. FF-nya kereeen, feelnya ‘ngena’ banget! Sy ikutan tgang n berasa kyk d rmh hantu juga bareng jjong n taemin.
    Jujur, sy bru baca 2 ff karya zakey, salah satunya ini *cz sy reader baru* dan trnyata emang karya2mu daebak!
    Btw, zakey suka bartemius trylogi? Sy juga suka bgt sama novel itu!^^ #outoftopic

    ok, sy mau baca part-lanjutannya lagi, berhubung sy telat bgt baca nih FF.
    Keep writing y~^^

    1. Kamu juga suka? Kyaaa, kita samaan ^^ Keren banget memang, aku suka karakternya Bartimaeus yang sarkas tapi kocak 😀

      Makasih udah komen ^^

  15. Hwaaaa daebak!!
    aahh aku nyesel knp skrg bru nemu nihh ff.
    Sumpah nihh kerenn banget. feelnya dapet, aku mpe kebawa suasana ffnya jd ikut tegang jg bacanya. Mana bacanya pas tengah mlm lg.
    Saoloh Jjong, sempet²nya mikirin contekan -_- ngebayangin karakternya taemin jd gemes, aahh kyeopta ><
    Omo! itu yg ditabrak jong apa O.O??
    OKey aku udah penasaran ada apa sbenernya dgn rumah itu? *loncat kepart selanjutnya..

  16. bkin merinding… tp lucu ama jjong tae hahaha disini umur mereka brp thn?

    wah authornya terinspirasi dr film monster house ya? aq jg ngebayangin rumah itu kyk di monster house 😀
    trus ngebayangin sulur yg narik jinki jg bkin seru. tp kl di monster house lebih parah, sambil ditarik pake karpet yg berperan jd lidah tuh rumah. seru2 semoga jln ceritanya beda ya…

  17. Hadoh hadoh tegangnyaaa ..pas mau baca sih oke oke aja malah semangat banget tapi pas prtengahannya ughh musti nguatin nyali buat lanjut , klau ga dilanjut penasaran u,u aku dilema ..
    Kyaaa~ jjong pmberaniii , ttem kasian tuh tapi berani juga dia kalo aku sih pasti udah brlinangan airmata pasti *gananya kk~

    semangat jongtaem ^~

    1. Nguatin nyali? Sebegitu parah kah? O.O

      Aku juga! Sebelum diminta nemenin, aku pasti udah lari ke kamar orang tuaku deh u,u

      Makasih banyaak 😀

  18. ini bagus, feelnya dapet banget. pendeskripsian tempatnya bagus, jadi visualisasinya ngga susah. btw aku merinding pas bagian terakhir si Jjong jatuh itu. duh keren deh pokoknya. nice work!^^~

  19. oke aku telat aku telat udahhh lama smenjak UN SMP beres g buka blog ini lagi ehhh ketemu author favoritttttt jadiii fanssss author zakey
    seperti biasa tulisannya keuren abissss bahsanya berat tapi bisaa dimengerti #naloh?
    over alll aku ngfans 🙂

  20. lagi serius baca tiba-tiba ketawa baca part ini:
    “Jinki ditarik ke dalam , Taeminnie! Dia
    teman sekelasku; pada siapa aku
    mencontek PR jika dia tidak ada?”
    sempat-sempatnya dia bilang begitu.__.

  21. Seru… 🙂
    akhirnya ketemu ff keren lagi ^^
    bisanya anti horor.. tp kyknya sekarang bakal mulai ketagihan 😀
    Mulai mainin imajenasi, suka banget 🙂
    Jjong keren.. klo aku mah mending lapor polisi aja
    kira2 petulangan apa yg mreka hadapi?
    huah~ gak sabar…
    salm kenal author-nim ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s