Message in the Bottle

Message in the Bottle

Author : ZaKey

Main Cast : Lee Jinki, Kim Taeyeon

Length : One shot (2907 words)

Genre : Romance

Rating : PG-15

Summary : Aku mencintaimu seumur hidupku, dan aku sudah bersumpah untuk itu.

Jam berkedip menunjukkan pukul enam tepat. Matahari muncul dengan malu-malu dari balik atap-atap rumah yang terlihat tumpang-tindih. Sorot cerahnya menyebar ke seluruh tempat; menimpa genangan air bekas hujan semalam, membentuk bayangan samar di bawah pepohonan, menerobos melalui celah gorden-gorden yang terbuka.

Di dalam salah satu rumah mungil, seorang wanita berdiri di dekat jendela, menerima cahaya matahari sambil memejamkan mata. Jemarinya yang lentik saling meremas. Leher jenjangnya menunduk pasrah. Sesekali terdengar desahan dari bibirnya.

“Aku sudah selesai.” Suara itu berasal dari pintu di belakang sang wanita. Ia membuka mata lalu memutar tubuh, melihat seorang lelaki berdiri di depan pintu dengan penampilan yang kurang lebih sama dengannya: baju kusut, wajah lelah, rambut berantakan.

“Lebih baik kau juga bersiap-siap,” si lelaki menjejalkan tangannya yang gemetar ke dalam saku celana. “Pukul sepuluh nanti truk pengangkut akan datang.”

“Tidak ada yang perlu kubawa selain baju yang melekat di tubuhku ini,” wanita itu tersenyum getir, “semua yang ada disini dibeli dengan uangmu.”

“Kita…bagaimanapun pernah menjadi satu. Semua yang ada di rumah ini milikmu juga.” Lelaki itu berkata dengan enggan, seakan tiap tarikan napasnya terlalu berharga untuk dikeluarkan.

Si wanita menggeleng pelan. “Tidak, terima kasih.”

Tidak ada lagi yang minat berbicara. Kedua manusia itu terpekur memandangi lantai berkarpet yang dihinggapi debu tebal, mendengarkan bagaimana dunia perlahan bangun dari tidur panjangnya.

~~~

Seorang anak laki-laki kurus duduk di bawah pohon. Kakinya terjulur santai keluar dari bayangan. Tubuh mungilnya membungkuk di depan buku tebal sementara kedua tangannya memuntir pensil tanpa sadar. Kelihatannya ia terlalu asyik hingga tak menyadari seorang anak perempuan mengendap-endap di belakangnya.

“Jinki-ya!!”

Si anak laki-laki melonjak kaget. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menoleh ke arah anak perempuan yang tertawa puas karena berhasil mengerjainya. “Taeyeon-ah…” gumamnya dan menutup buku.

“Kau membaca apa? Ini kan istirahat, tidak perlu belajar lagi,” kata Taeyeon ceria sambil menjulurkan tangan berusaha menggapai buku Jinki, tapi Jinki dengan halus menjauhkan buku bersampul kulit tersebut.

“Aku tidak sedang membaca,” tukas Jinki pelan.

“Lantas?”

“Aku sedang melihat.”

Kerutan halus muncul di kening Taeyeon, “melihat apa? Boleh aku ikut melihat?”

Jinki mendesah, lalu setelah melihat kanan-kiri mendekatkan bukunya kembali. Sebelum membukanya ia menatap Taeyeon tajam, “janji tidak akan memberitahu siapa-siapa?”

“Tentu! Aku takkan memberitahu siapapun,” sahut Taeyeon.

“Tidak meyakinkan…”

“Hei!” Taeyeon memukul pundak Jinki, “aku bukan anak seperti itu!”

“Baiklah,” Jinki mengusap sampul buku secara perlahan, kemudian membukanya dengan perlahan pula. Halaman depan buku itu bertuliskan sebaris nama yang ditulis tangan dengan rapi: Lee Jinki. Lalu halaman berikutnya sukses membuat Taeyeon ternganga takjub.

Lukisan berwarna lembut terlihat memenuhi kertas. Kecil memang, tapi lukisan itu terkesan tidak terbatas; perbukitan hijau, rerumputan pendek, bunga dandelion yang bergoyang lembut, awan berarak perlahan, dan, di puncak bukit, serta punggung seorang anak lelaki.

“Indah sekali,” kata Taeyeon tercekat. Tanpa mengalihkan pandangan dari kertas ia bertanya pada Jinki, “kau beli dimana?”

“Aku tidak membelinya, bodoh.” Jinki menoyor kepala Taeyeon dengan tangannya yang bebas, “aku membuatnya.”

“Membuat?” Taeyeon terkesiap. “Lukisan seindah ini?”

“Tidak seindah itu, aku membuatnya waktu berumur tujuh tahun,” kata Jinki merendah, namun terkesan menyombong. Setelah membiarkan Taeyeon menikmati lukisannya, dengan tegas ia menutup kembali bukunya.

“Aku belum selesai melihat!” protes Taeyeon. Jinki berdecak kesal.

“Kau bukan temanku, yang boleh melihat hanya temanku.”

“Dan siapa temanmu?”

Jinki mengangkat bahu tidak peduli. “Burung-burung mungkin? Aku tidak punya teman.”

Taeyeon melompat mundur kemudian menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan pose memohon. “Kalau begitu jadikan aku temanmu, kumohon! Aku rela melakukan apapun demi melihat semua lukisanmu!”

Jinki terperangah. Beberapa detik tidak ada yang bicara, lalu Jinki secara mengejutkan tersenyum lembut – senyum pertama sepanjang yang dilihat Taeyeon. “Kau resmi menjadi temanku.”

~~~

Terdengar tetes air dari wastafel, menggema dengan menyedihkan ke seluruh dapur. Wanita itu mendongak, memandangi langit-langit yang pernah menaungi kehidupan mereka berdua. Ia tidak bermaksud apapun disini, hanya menghabiskan waktu hingga mereka benar-benar berpisah. Harus diakui itu sangat sulit; bagaimanapun mereka berdua pernah hidup bersama-sama.

Dari keramik di atas bak cuci piring ia bisa melihat si laki-laki berjalan ke arahnya – tidak, berjalan mondar-mandir ke seluruh rumah, mengecek apakah ada barang yang tertinggal. Memandang punggung si laki-laki cukup untuk memacu kelenjar air matanya bekerja keras kembali.

Entah berapa malam yang ia habiskan dengan menangis tanpa suara seperti sekarang, tapi ia tidak pernah terbiasa. Dengan gerakan canggung ia mengelap air mata menggunakan lengan sweaternya. Seharusnya ia merasa terbebas sekarang, tapi bagian dirinya yang lain memaksa untuk tetap tinggal; kalau bisa memohon agar kehidupan mereka kembali seperti sedia kala.

Perlahan ia duduk di kursi makan yang reyot. Mendadak ia merasa begitu letih dan tua. Sebaliknya, perasaannya bergolak seperti remaja labil. Ia menumpu kepala dengan telapak tangan. Ia tidak tahu harus berpikir ke arah mana.

~~~

Taeyeon tersenyum gembira. Bukan saja karena Jinki mengajaknya ke bukit yang pernah ia lihat di lukisan Jinki, tapi karena anak lelaki itu kini dengan sangat erat menggenggam satu tangannya. Tentu saja itu dimaksudkan agar ia tidak jatuh atau tergelincir, mengingat sifat cerobohnya, tetapi Taeyeon tetap merasa begitu spesial.

“Sebentar lagi sampai,” Jinki memberitahu. Di tengah langkahnya yang panjang dan cepat ia menoleh pada Taeyeon. Melihat gadis itu berjalan dengan riang di belakangnya membuat rasa pegal yang mulai menggerogoti kakinya sirna.

“Aku tidak sabar.”

“Lebih baik jangan terlalu berharap, sebenarnya bukit itu tidak seindah lukisanku.”

“Kau bermaksud menyombongkan diri lagi?” cibir Taeyeon, tapi tetap tersenyum.

“Sedikit,” Jinki mengakui, “tapi aku bicara yang sebenarnya.”

Taeyeon terkikik geli. Dengan tangannya yang bebas ia membetulkan letak tali tas selempangnya lalu berlari kecil agar berada di samping Jinki. Senyumnya melebar melihat wajah Jinki dari samping.

Mendadak Jinki ikut menoleh. “Aku tahu aku mempesona, tapi jangan memandangku terus.”

“Ap – apa? Hei, aku tidak – “ Taeyeon memukuli kepalanya sendiri, menyalahkan pipinya yang mulai bersemu dan jantungnya yang berdebar kencang tanpa diketahui penyebabnya.

Sementara Taeyeon merutuki diri sendiri, Jinki melepas pegangan Taeyeon dan mempercepat langkah. Wajahnya menjadi cerah karena pemandangan indah di depannya.

“Taeyeon-ah, lihat ini!”

Taeyeon mendongak, lalu terkesiap. Persis. Benar-benar persis dengan apa yang ada di dalam lukisan Jinki. Dengan hamparan kuning bunga dandelion, hijaunya rumput yang menyeruak serta langit biru muda, tempat itu terlihat seperti campuran warna yang sederhana namun indah.

“Indah…”

“Benar, kan?” Jinki menjatuhkan diri di hamparan rumput kemudian mengeluarkan peralatan menggambar dari dalam ranselnya. Mengikuti, Taeyeon duduk di sebelahnya, namun Jinki dengan cepat menghadap Taeyeon hingga gadis itu tidak dapat melihat apa yang ada dalam buku Jinki.

Taeyeon merengut, “kupikir kita teman.”

“Kita memang teman,” sanggah Jinki tenang, lalu mulai mencorat-coret sketch book-nya.

“Kau bilang teman boleh melihat lukisanmu.”

“Benar.”

“Aku sudah melihat semua lukisanmu kecuali yang ini. Kenapa?” tuntut Taeyeon kesal. “Apa karena aku kurang baik menjadi teman?”

Jinki lagi-lagi menjawab dengan tenang, “karena yang boleh melihat ini bukan temanku.”

Taeyeon mengerjap terkejut. “Apa? Lalu siapa?”

Jinki memandang Taeyeon, lalu tersenyum jahil. “Rahasia. Yang jelas bukan kau dalam jangka waktu dekat ini.”

“Apa? Hei!” Taeyeon berdiri dengan susah payah dan mengejar Jinki yang berlari dengan mendekap buku di dadanya.

Sejujurnya Taeyeon tidak peduli siapa orang itu; selama ia berada di dekat Jinki, semua akan baik-baik saja.

~~~

Tulisan dalam notes kecil yang dipegangnya tampak mengabur sejenak, kemudian kembali jelas ketika pipinya dialiri air mata. Lelaki itu mendongak dan menarik napas panjang. Tidak boleh ada air mata lagi – setidaknya sampai mereka berpisah nanti.

Pandangannya beralih pada kardus di hadapannya; sudah tampak penuh, tapi ada sesuatu yang kurang di dalam sana. Si laki-laki mengetuk dagu dengan ujung pulpen. Ia yakin sudah mencatat semua yang harus dibawa atau dibuang, dan ia sudah memasukkan semuanya. Ada yang –

Secara tidak sengaja matanya tertuju pada sebuah pigura putih di atas meja rias, membingkai selembar foto yang dicetak besar. Foto itu masih bagus; menampakkan dengan jelas apa yang ada di dalamnya.

Dua orang yang tampak berbahagia. Tampan dan cantik dengan pakaian pengantin yang serasi. Tidak terlihat beban di mata keduanya; hanya ada harapan masa depan yang cerah dan kebahagiaan tak terkira.

Laki-laki itu mengulurkan tangan hendak mengambil pigura putih tersebut, tapi mengurungkan niatnya. Hanya ada rasa sakit dan perih jika ia menyimpannya. Ia takut keinginannya untuk kembali seperti sedia kala akan terus membengkak seandainya ia melihatnya untuk beberapa saat saja.

Ia menjepit pangkal hidung dengan ibu jari dan telunjuknya. Apa yang harus ia lakukan? Ia merasa dikhianati, tapi ia tidak bisa mengenyahkan perasaan bodoh ini.

~~~

Jinki meniup ampas penghapus dengan hati-hati lalu menjauhkan buku dari matanya untuk mengagumi karyanya yang terbaru. Ia merobek halaman tersebut secara perlahan lalu membalikkannya. Menggigit bibir, dengan konsentrasi penuh ia menuliskan sebaris kalimat yang sudah dihafalnya di luar kepala.

Tanpa sadar Jinki terkekeh membaca kembali tulisan tersebut. Masih tersenyum ia meraih botol kaca yang dicuri dari gudang anggur tetangga lalu menggulung kertas dan memasukkannya ke dalam botol. Setelah menyumbat mulut botol dengan gabus, ia berdiri dan berlari dengan riang menuju sungai di belakang rumah.

“Ya!” teriaknya pada pepohonan yang bergoyang, “yeongwonhi saranghae!!”

Setelah mendeklarasikan perasaannya ia melempar botol sekuat tenaga ke dalam aliran deras sungai. Jinki mengangguk-angguk khidmat. Sesuatu mengatakan pada dirinya bahwa jika ia bisa menjaga sumpahnya untuk tetap mencintai satu orang, botol itu akan datang ke tempat dan waktu yang tepat.

~~~

Jam berderak ke antara angka sembilan dan sepuluh. Si wanita dengan sia-sia menarik rambutnya ke belakang; tangannya yang gemetar membuatnya kesulitan untuk menyatukan rambutnya untuk diikat. Ia memaki pelan lalu memutuskan untuk menyematkan jepit rambut alih-alih menggunakan pita.

Wanita itu memandang pantulan dirinya di cermin. Sesosok jelita dengan rambut tergerai indah di bahunya balik memandangnya. Tubuh langsingnya dibalut sweater hijau gelap serta legging hitam. Cantik jika tidak ada lingkaran hitam di seputar matanya.

Ia bangkit dari kursi rias dan bermaksud segera ke lantai satu untuk sekadar menghirup udara segar, namun matanya tertumbuk pada pigura putih di atas meja rias. Tidak perlu waktu lama untuk membuat matanya kembali basah oleh air mata.

Mereka bahagia. Mereka damai. Mereka tidak punya masalah. Mereka saling mencintai.

Ia memejamkan mata lalu cepat-cepat menyingkir agar tidak terluka lebih dalam. Ia bukan lagi salah satu dari mereka.

~~~

Taeyeon memandang pantulan dirinya di cermin. Tampak seperti putri kerajaan dengan gaun putih bersih serta tiara yang tersemat indah di rambut pirangnya. Ia tersenyum manis.

Sudah sekitar sepuluh tahun sejak Jinki mengutarakan perasaan padanya, yang dibalas dengan kalimat yang sama. Konyol memang, mengingat mereka baru berumur empat belas tahun saat itu. Tapi hingga sekarang Taeyeon bahkan tidak pernah berhenti mengagumi sosok Jinki, terutama saat lelaki itu berkonsentrasi di atas kanvas.

Jinki yang menjadi pelukis freelance mungkin tidak ada apa-apa dibandingkan pekerjaannya sebagai dokter di salah satu rumah sakit universitas terkenal, tapi Taeyeon begitu bahagia ketika Jinki melamarnya di salah satu malam musim panas. Saat yang tidak akan terlupakan.

“Neomu yeppeo…”

Taeyeon memutar kursi, “seharusnya kau tidak boleh mengunjungiku sekarang.”

“Siapa peduli?” Jinki melangkah tenang melintasi ruang rias. Ia sendiri tampak mempesona dengan jas putih. “Toh kau akan menjadi milikku dua puluh menit lagi.”

Pipi Taeyeon merona. Dengan canggung ia berdiri lalu mendorong bahu Jinki, “berhentilah bercanda.”

“Kau mendengar nada bercanda dalam suaraku?” Jinki menangkap tangan Taeyeon dan menariknya mendekat hingga berada dalam pelukan Jinki. “Aku serius.”

Taeyeon tidak sempat membalas karena saat itu Jinki sudah mengecup pipinya dengan hangat dan lama.

“Aku tidak akan mencuri ciuman pertama orang yang akan menikah,” Jinki menyeringai, “sekalipun orang itu akan menikah denganku.”

“Oh, Jinki-ya, berhentilah bercanda,” Taeyeon memukul bahu Jinki main-main, “cepat keluar!”

Jinki tertawa lalu meninggalkan ruang rias.

~~~

“Bagaimana jika kita keluar? Ke taman, mungkin?”

Berat rasanya untuk menolak, jadi wanita itu memutuskan untuk beranjak dari kursi dan mengikuti mantan suaminya keluar dari rumah. Meski matahari bersinar cerah rupanya angin tetap berhembus kencang. Ia melipat lengan di depan dada lalu menggigil. Seharusnya ia membawa mantel tadi.

“Pakai punyaku,” si laki-laki menutupi bahunya dengan jaket.

“Terima kasih…”

Hening. Mereka berdua menikmati tiap langkah menyusuri jalan setapak menuju taman tak jauh dari rumah. Dulu, entah sudah berapa kali mereka berdua bergandengan ke taman, saling bercanda.

Dan kenyataan itu membuat mereka berdua diam-diam merasa sesak.

Bunyi aliran sungai menandakan mereka sudah dekat. Meski sudah masuk musim dingin, aliran itu masih tampak sederas biasanya, tidak terganggu apapun. Pepohonan bergemerisik. Burung-burung saling berkicau. Hewan-hewan kecil mencicit ribut.

Semuanya bersuara kecuali kedua manusia di dalam taman sekarang. Kelihatannya mereka lebih memilih menjadi pendengar daripada ikut meramaikan suasana.

“Sebenarnya aku…”

“Mungkin aku…”

Mereka berdua berpandangan, sedikit terkejut karena berbicara di timing yang sama. Si laki-laki mengusap rambut ke belakang sebelum mengayunkan sebelah tangan.

“Kau duluan.”

Si wanita meneguk ludah. Ia sudah memutuskan. “Sebenarnya aku masih…”

~~~

Jinki memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Kemungkinan besar karena kurang tidur, tapi ia tahu yang membuatnya sangat tersiksa adalah Taeyeon yang belum pulang juga hingga selarut ini.

Mendengar pikirannya, terdengar bunyi pintu depan terbuka. Sejurus kemudian terdengar keributan kecil; kursi terseret tidak teratur dan sebuah gelas jatuh ke lantai. Jinki keluar dari ruang kerjanya.

“Taeyeon-ah? Kau sudah datang? Astaga!” Jinki mempercepat langkahnya menuju Taeyeon yang berlutut di lantai, tidak mempedulikan pecahan tajam gelas di sekitarnya.

“Apa yang terjadi? Kau mabuk?” Jinki melingkarkan lengan Taeyeon di bahunya dan membimbing wanita itu ke sofa terdekat. Sementara menunggu Taeyeon mengumpulkan kesadaran, Jinki mengumpulkan pecahan gelas.

“Aku dipecat, Jinki-ya,” gumam Taeyeon, tidak jelas di bawah pengaruh alkohol, “gara-gara pasien bodoh yang manja. Sial, seharusnya aku membiarkan kakek cerewet itu mati.”

Jinki kehilangan konsentrasi sehingga satu pecahan menggores jemarinya sampai berdarah, tapi ia tidak peduli. “Kau serius?”

“Apa aku terlihat bercanda, Lee Jinki?” sentak Taeyeon, “dasar laki-laki tidak berguna!”

Jinki menyipitkan mata. Ia tidak tersinggung, hanya terkejut. Melihat Jinki tidak merespon, Taeyeon mengibaskan satu tangan, “harusnya aku menikahi dokter Choi yang jauh lebih kaya, bukan laki-laki kumal sepertimu.”

“Taeyeon-ah…”

“Diamlah! Aku butuh tidur,” Taeyeon terhuyung-huyung menuju satu-satunya kamar di rumah mereka.

~~~

Si wanita mengatupkan kembali mulutnya lalu menggeleng, “bukan. Seharusnya aku minta maaf.”

“Untuk?” si laki-laki menendang kerikil di dekat sepatunya. “Bicaralah, Taeyeon-ah.”

Taeyeon meneguk ludah. “Aku…minta maaf sudah bersikap tidak baik selama dua tahun terakhir.”

“Lalu?”

“Kumohon, jangan dingin begitu, Jinki-ya,” pinta Taeyeon. Air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya. Tidak ada yang membuatnya lebih terpukul selain sikap dingin Jinki.

“Aku memberimu waktu untuk bicara. Bicaralah,” gumam Jinki.

“Aku…mungkin kau membenciku, tapi percayalah, aku salah dua tahun ini. Seharusnya aku tidak meminta untuk cerai. Seharusnya aku tidak pergi bersama laki-laki manapun selain – “

“Semua sudah terjadi. Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Jinki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Menarik kembali gugatan ceraimu? Mengembalikan semua uangku? Menyembuhkan lukaku? Apa yang akan kau lakukan?”

Taeyeon tergugu, tidak menyangka Jinki yang lemah lembut dapat menjadi seperti ini. Ia mengusap matanya yang basah. Tidak, bagaimanapun semua yang dikatakan Jinki benar – semua sudah terjadi.

“Dengar, aku tak peduli apa yang kau lakukan dulu maupun apa yang kau rasakan sekarang, yang jelas – oh, sial,” Jinki membalikkan tubuh lalu menunduk. Ia sudah berjanji untuk tidak menangis di depan Taeyeon lagi, dan nyaris melanggarnya.

“Maafkan aku, Jinki-ya. Kumohon…”

Jinki menarik napas panjang lalu menghadap Taeyeon kembali. “Jika ada kesempatan, kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal, Kim Taeyeon ssi.”

Taeyeon tidak mampu menahan kepergian Jinki. Matanya hanya sanggup memperhatikan bagaimana lelaki itu berjalan meninggalkan taman dengan langkah lebar. Taeyeon terisak pelan.

Baru saja Taeyeon hendak meninggalkan taman, terdengar denting lembut dari bawah jembatan. Sebuah botol kaca dengan kertas digulung di dalamnya terantuk-antuk di tepi sungai.

2 years later…

Seorang pria mengangguk puas dengan lukisan yang baru saja dipasang oleh dua petugas di tempat yang diinginkannya. Di sebelahnya, seorang pria muda mencatat sesuatu di notes.

“Jinki ssi, pembukaan galeri Anda akan dimulai dua jam lagi. Ada lagi yang harus dilakukan?”

Jinki tersenyum lalu menepuk pundak asistennya ramah, “tidak. Terima kasih, Taemin-ah.”

Dengan langkah santai Jinki berjalan menyusuri koridor yang dipenuhi lukisannya. Karyanya sejak ia kecil hingga usianya sekarang, semua terpajang dengan apik dan runtut.

Jinki mengalihkan pandangan keluar jendela lebar yang menjadi dinding di sisi lain koridor. Matanya melebar melihat sesosok duduk di bangku taman tak jauh dari sana. Secara naluriah ia berjalan cepat untuk menyusul orang itu. Perasaannya campur aduk; senang, rindu, serta bingung.

Taeyeon tampak seperti terakhir kali diingatnya. Cantik namun tetap sederhana. Wanita itu mendongak tepat ketika Jinki tiba di depannya. Ia tersenyum ramah.

“Aku menunggu galerimu dibuka,” Taeyeon menepuk bangku di sebelahnya, “terlalu sibuk untuk duduk di sampingku?”

“Tidak,” Jinki tidak mengalihkan pandangan dari Taeyeon saat ia duduk, “apa yang membuatmu kesini?”

“Aku kesulitan mencari alamatmu,” Taeyeon mengaduk tasnya yang lumayan besar, “terlebih lagi karena kau sekarang menetap di Paris. Aku tidak mungkin menyusulmu kesana hanya untuk mengembalikan barangmu yang tertinggal.”

“Aku tidak meninggalkan apapun,” jawab Jinki setelah menyerah mengingat saat itu.

Taeyeon menarik botol kaca dari dalam tasnya, lalu tersenyum manis sambil menggoyangkannya di depan Jinki. “Ingat sekarang?”

Jinki melebarkan mata tidak percaya. “Ini…”

“Terima kasih untuk tetap mencintaiku…” Taeyeon tersenyum, “sampai saat yang tidak kuketahui.”

“Sampai sekarang.” Jawab Jinki lalu mengambil botol dari tangan Taeyeon, “aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, dan laki-laki tidak mungkin melanggar sumpahnya.”

Waktu terasa berhenti bagi Taeyeon. Ia tercengang memandang Jinki, yang balas memandangnya lembut.

Epilog

Taeyeon membersit hidungnya lalu membungkuk untuk mengambil botol kaca bersumbat gabus dari dalam sungai. Kelihatannya sudah lama sekali melihat retak dan noda di sana-sini. Tanpa berpikir apapun ia mencabut sumbat yang sudah rapuh.

Jantungnya seakan berhenti begitu membuka gulungan kertas yang ada di dalamnya. Bukit. Awan. Dandelion. Semua membangkitkan kenangannya. Dan…

Taeyeon merasa matanya mengabur. Di sana, di atas bukit yang ia ingat betul hanya ada satu orang anak laki-laki, kini terdapat punggung satu lagi dengan rambut yang diikat tinggi di belakang. Itu dirinya. Itu potret Jinki dan dirinya dulu.

Masih setengah tidak percaya, Taeyeon membalikkan kertas dan mendapati tulisan yang mulai pudar termakan usia. Jika memaksa, ia dapat membaca sebaris kalimat tersebut.

Jika Kim Taeyeon yang membuka gulungan ini, berarti Lee Jinki benar-benar mencintainya sampai mati. Lee Jinki sudah bersumpah.

Dan laki-laki tidak akan melanggar sumpahnya.

Lee Jinki

..::END::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

48 thoughts on “Message in the Bottle”

  1. T^T
    nangis ngebacax..
    manis sangat manis..
    keren..

    Ya Lee Jinki,, Kim Taeyon!!
    balikan lagi aja noh..
    sama2 saling cintakan..

    dae to the bak..
    4 jempol bwat author..

    1. Jangan nangis, Sayang~ *kasih tisu*

      Balik atau enggak, semua tergantung imajinasi pembaca, hehe ^^

      Makasih komen dan jempolnyaa d(^-^)b

  2. Ikutan speechlessss!! Aaaaaa *gantung diri /loh*
    ZaKey, sepertinya dirimu author favoritku yang baru :*
    aku suka banget penyusunan kata2mu. Bikin terbawa suasana tau gak sih aaaa?
    Sweet banget diihhh, mana aku suka kalo Onew dipsangin sama Taeyeon kekeke.
    Gila! Cinta Jinki tulus noh, message in the bottlenya bisa sampe ke taeyeon stlh waktu yg lama X’D pengen deh ada cowok yg kayak gitu ke aku #modus XD

    1. Sini, sini. Aku bales ciuum :*

      Iya, anehnya aku juga suka kalo Onew dipairing sama Taeyeon, hehe. Aaa, aku juga berharap cowok2 nggak pada PHP #eh

      Makasih yaa, aku kasig ppoppo lagi nih :*

  3. ada ontaeng.. yippiiiyyy

    awalnya gak ngerti sm inti ceritanya.. soalnya pke alur campuran… pas ke sininya jd ngerti.. hahaha

    Jika ada kesempatan, kita akan bertemu lagi. — dan bener.. wkwkwk

    bisa dblg happy end dong ya.. rujuk lagi dah.. iya aja deh ya..

    nice ff
    aq suka

  4. kereeenn.. Tp jinki ma taeyon bersatu kembali kan? Apa ga? Aku suka ceritanya, diksinya jg bgus.. Keren lah pokoknya..

  5. keren keren! Ini so sweet banget, Author. Jadi suka sama pairing Onew-Taeyeon deh hahaha. Seperti biasa, cara penyampaian cerita author daebak banget. Neomu johaaa ^^b

  6. 2907 kata sangat cukup untuk membuatku melupakan dunia dan jatuh dalam pesona imajinasi anda~~ #gak-lebay

    Harus diakui saya sempet diem dan speechless berlama-lama setelah baca ff ini. Begitu meninggalkan kesan mendalam di hati, membuatku lupa sesaat untuk komen apa 🙂

    Jalan cerita udah gak perlu dibahas lagi, bagus pake banget 😀

    Kata-katanya sederhana, mudah dimengerti, dan penggunaan bahasa serta kata-katanya gak itu-itu aja, sehingga saya pribadi sama sekali gak jenuh dan pengen terus-terusan baca sampai akhir.
    Aaaaa~~~ jikalau saya baca ff anda lebih banyak pasti anda udah jadi author favorit saya. Punya blog pribadikah? Boleh minta link-nya? xD

    Aku salut untuk satu hal, author berhasil “mencampuradukan” flashback dan masa sekarang dengan rapi dan sama sekali tidak membingungkan. Joha~~~ nilai plus lagi untuk anda^^

    Kerja bagus thor!! Saya ngucapin dengan sungguh-sungguh bahwa karya anda bagus banget! Jangan capek-capek nulis ya? Saya akan menunggu karya anda selanjutnya ^_____^

    1. Ya ampun, makasih ya. Beneran nih, aku terharu :’)

      Ada sih blog pribadi. Just clik my ava, but it still under construction jadi ga bisa dibuka untuk sementara waktu ^^

      Sekali lagi, terima kasih ya, Eri. Aku janji bakal berusaha lebih keras lagi 😀

  7. yaampun OnTaeng couple! couple favorit aku itu eonni author >< :*
    kyaa sering2 deh ya buat ff yg main-castnya ontaeng. pasti aku rajin komen ff buatanmu thor. keren semua soalnya 😀

  8. Ah, akhirnya ada juga FF ini couple, aku baru-baru aja suka sama mereka gegara beberapa orang *lirik mybabylionnew sama lideronyu*

    Bagus loh cara penulisan dan ceritanya, mana nulisnya udah rapi banget lagi, cuman itu pas ada tanda — bukannya ga perlu di spasi ya? Coba deh cek di novel2 terdekat *apadeh*

    Hehe, aku suka tulisanmu, tapi ini first time baca, entar2 cari lagi ah~
    Pengen maen ke blogmu tapi lagi di tutup ya? Okelah kutunggu sampe buka ^^

    Bangawoyo, Aikyung imnida ^^

    1. Hehe, ZaKey imnidaa 🙂

      Tanda — ya? Emang sih, harusnya digabung, tapi aku kurang suka *nah loh, yang egois siapaa* next time aku benerin deh, makasih koreksinya, Aikyung ssi ^^

      sekali lagi makasih yaa, udah mau komen 😀

  9. daebak!!
    huuh, suka banget endingnya dan dari awal ceritanya bikin penasaran, ada apa sih sebenarnya?

    hehe, bikin lagi kak, couplenya ini lagi juga ya 😀

    1. Hehe, sebenernya aku ga terlalu suka bikin cerita romance, tapi mungkin OnTaeng bisa jadi selain couple dalam arti ‘itu’ yaa 😀

      Makasih komennya ya, Aya-chan ^^

  10. spechless ya Allah…
    ya ampuun, ini daebak bangeet!!!

    alur maju mundurnya mantap! gak bikin aku bingung.
    aku juga sukses merasakan hawa nyesek di sana.

    dan, beneran…aku pengen teriak sekencang2nya pas di bagian scene si Jinki yang menjadi cool banget itu.
    “Aku memberimu waktu untuk bicara. Bicaralah,” gumam Jinki.
    “Dengar, aku tak peduli apa yang kau lakukan dulu maupun apa yang kau rasakan sekarang, yang jelas – oh, sial,” Jinki membalikkan tubuh lalu menunduk. Ia sudah berjanji untuk tidak menangis di depan Taeyeon lagi, dan nyaris melanggarnya.

    ya ampuun ~A~. andai Jinki beneran berkesempatan bikin mini drama dengan cerita ini.

    dan terimakasih udah menyampirkan Taemin di sana..xD

    keep writing yaa!!! dan slamat buat pengangkatan sbagai author baru di sini 😀

    1. Dhila Taemints juga ya? Kayaknya tiap FF-ku mesti ada Taemin, meski itu cuma nyempil dikit XD

      Jinki bikin mini drama? Arrggh… mau banget deh, haha 😀

      Aku bukan author baru kok, cuma author freelance yang diangkat jadi staff, hehe ^^

      Makasih udah mau baca dan komen yaa :*

      1. iyaaa…hahaha. dan the next bias is Jinki. makanya slalu klepek2 klo ada cerita yg bikin mereka jadi cool…hahaha xD

        iyaa, shinee kudu ada reality show ttg itu lagi. soalnya mini drama mereka yg sblum2nya kebanyakan yg lawak daripada yg serius =_=”

        haha, maksudku author tetap and staff di sini..wkwkwk. chukkhae ya ^o^/

        sama2 zakey 😀

  11. weeeeww,,, keren bangett,,,
    pertmanya kirain 2 cerita and pemerannya beda,,,
    ternyata sama,,,,,, bru ngerti pas baca terakhirnya,,,,
    terharuuu,,, huuuuu,,, keren,,

  12. Merinding bacanya!!
    Keren banget nget nget!! Beneran deh gak pake boong hehehe.
    Itu endingnya luar biasa banget thor, amat sangat suka!!
    Pemilihan diksi juga bagus, cerita ngalir. Suka banget deh sama FF ini 🙂

  13. romantis banget…
    suuuuwwiiiiiiiiiiiiiiittt… gitu
    manis dech pokoknya
    terutama karena Jinki…

    apalagi pas akhiran aku nangis…
    cos rasanya nyesek gimanaaaaaa gitu

    cerita keren banget dech

  14. Dohh. Ternyata lagi-lagi Author ini yang membuatku menangis QAQ.

    Yang dipakai cast-nya Taeyeon lagi, biasku di SNSD tuh #IniPenting bikin air mata tambah banyak aja T.T

    DAEBAK EP EPNYA! XD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s