More Than 100 Days – Part 4

More Than 100 Days – [4]

Title : More Than 100 Days

Author : adinary

Main Cast : Han Jinie – Lee Taemin

Support Cast : Key, Sulli f(x)

Length : Sequel

Genre : Fantasy – Romance

Rating : General

Summary : Akhirnya Key bertemu langsung dengan Taemin dan membicarakan sesuatu. Ketika 100 hari semakin dekat, puncak masalah baru saja akan datang. Di tengah keputus asaan, Jinie terus berusaha membantu Taemin walau ia sudah yakin bahwa 100 hari memang tidak cukup untuknya.

A.N : Annyeonghaseyo~ *bisik2* maafin author ya ini ff terusannya bikin reader buluk *bagi yang penasaran sama kelanjutannya* T_T hehehe~ Part ini author mulai bikin dari 2 hari sebelum UKK, maaf kalo rada bertele-tele atau malah jadi gaje. Otak author rada error, ide ff sama materi UKK jadi kusut._.v kecampur aduk hahaha. Tapi semoga suka ya^^ jangan lupa komentar, kritik dan saran. Mau pedes mau manis mau pait mau asem atau pun asin komentarnya author terima dengan senang hati 😀 enjoy!!! –dilarang copas!-

(part sebelumnya~)

Jinie pov

Apa benar aku mulai tertarik dengan Taemin?

Buktinya aku kesal karena dia lebih memilih jalan dengan Sulli eonni dan menolak ajakanku. Aku bad mood selama ia tak ada di rumah sampai membuat kamarnya berantakan seperti ini. Aku nyaris seperti orang frustasi. Dan lega!!! Kenapa aku lega ketika Taemin bilang bahwa ia gagal menyatakan perasaannya pada Sulli eonni hari ini?

Aaaaaaaaaa! Ada apa denganku?!

***

Jinie pov

“Hari ke 51.” Ucapku sambil menandai kalender. Tinggal 49 hari lagi. Pelajaran apa yang Taemin belum perbaiki? Matematika. Sedangkan mata pelajaran yang lainnya sekarang semakin membaik.

Kurasa hafalannya terlalu kuat hingga ia begitu membenci mata pelajaran yang satu itu. Aish, tak ada hubungannya-_-

Masalah apa yang belum ia selesaikan? Orangtuanya.

“Apa yang kau lingkari?” Taemin tiba-tiba ada di belakangku.

“Tanggal di kalender.”

Taemin pun merebut kalendernya dari tanganku, “Yaa!! Sejak kapan kau melingkari setiap tanggal di kalender ku???”

Aku pun merebutnya kembali dan meletakkannya di meja, “Sejak aku datang kesini. Memangnya kau tidak tahu?”

“Aku jarang melihat kalender di meja, lebih sering di ponsel.”

Aku pun mengangguk, “Kau mau kemana pagi-pagi begini? Rajin sekali minggu pagi sudah mandi.”

Taemin pun tersenyum, “Aku mau pergi bersama Sulli.”

Aku pun hanya ber-O ria. Cih, akhir-akhir ini dia sering sekali pergi bersama Sulli-_-

“Aku boleh ikut tidak?”

Taemin menoleh, “Ne?”

“Aku boleh ikut bersamamu atau tidak?”

“Tapi…”

“Tenang saja, aku akan berwujud peri dan duduk manis dalam saku jaketmu^^”

Sebenarnya kalau tidak tahan aku akan kabur-_-

Taemin terlihat berpikir sebentar, “Baiklah. Tumben sekali kau mau ikut.”

“Aku ingin jalan-jalan.”Jawabku sambil merubah wujudku menjadi makhluk kecil bersayap.

~~~

Ini sudah jam makan siang. Dari jam 9 pagi tadi mereka jalan-jalan di taman lalu mendatangi toko-toko buku yang mereka temui dan sesekali membel eskrim atau makanan-makanan kecil. Baiklah, ini sudah 4 jam mereka menikmati berdua dan selama itu pula Taemin mengacuhkanku-_- Sungguh 4 jam yang sangat membosankan.

Sekarang Taemin dan Sulli eonni masuk ke sebuah café. Mereka akan makan siang? Ah, baguslah aku juga lapar.

“Kau mau pesan apa?” Aku mendengar Taemin bertanya pada Sulli eonni. Apa dia juga akan bertanya padaku? Sebaiknya aku mempersiapkan menu yang ingin aku pesan.

Sulli eonni sudah menyebutkan pesanannya pada pelayan, begitu juga dengan Taemin lalu pelayan itu pergi. Ya! kenapa aku tidak ditawari juga?!

Aku pun sedikit menarik lengan jaket Taemin untuk protes. Tapi ia hanya menoleh sebentar padaku lalu kembali memperhatikan Sulli eonni yang sedang bicara. Aku pun menariknya lagi dan lagi tapi tetap tak menghasilkan apapun.

Bosan.

Lapar.

“Lebih baik aku pergi.” Ucapku sambil keluar dari saku jaket Taemin.

Aku keluar dari café itu dan merubah wujudku menjadi manusia. aku berjalan menyusuri jalanan tanpa arah. Aku mirip manusia galau-_-

Ini sudah yang kesekian kalinya aku diacuhkan seperti ini. Tapi ini pertama kalinya aku kabur. Aish jinjja! Ini sangat menyebalkan! Sekarang, seolah-olah Taemin hanya datang padaku kalau dia sedang butuh. Selebihnya ia bersenang-senang dengan Sulli.

Entahlah, aku lapar.

Aku pun berhenti di tempat penyebrangan saat melihat sebuah restoran bergambar ayam yang menarik perhatianku sejak 1 minggu yang lalu. Aku sama sekali tak memperhatikan lampu menyebrang saat itu. aku pun melangkah dan…

TIIIINNNNN!!!!!

Key pov

Entah kenapa hari ini aku ingin mengikuti kemanapun Jinie pergi. Aku melihat Jinie hanya diam di saku jaket Taemin. Aku tahu dia bosan. Terlihat jelas di wajahnya.

Lalu tiba-tiba Jinie keluar dari saku jaket Taemin lalu keluar dari café dan merubah wujudnya menjadi manusia. Tumben ia berwujud manusia di tempat umum seperti ini.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk merubah wujudku menjadi manusia juga dan mengikuti kemana Jinie pergi. Ia terlihat menyeret-nyeret(?) kakinya selama ia berjalan dan kepalanya terus menunduk. Anak malang.

Tiba-tiba ia berhenti dan melihat ke sebrang jalan. Sepertinya ia tertarik pada sesuatu. Aku pun sedikit mempercepat langkahku untuk mengikutinya. Tapi tunggu! Lampu menyebrangnya masih merah.

TIIIIINNNN!!!!

Dengan segera aku menarik kembali tangan Jinie untuk mundur sebelum ia terserempet sebuah mobil sedan.

“YA!! Wanita muda!! Kau ingin mati HAH?! Tidak punya mata!!!” Teriak ahjussi itu pada kami –tepatnya hanya pada Jinie- lalu ahjussi itu melaju dengan cepat bersama mobilnya sebelum aku sempat membungkuk untuk meminta maaf.

Aku pun menoleh ke arah Jinie dan melepas peganganku di lengannnya, “Gwenchana?”

Ia hanya menatapku sekilas lalu menunduk. Akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya menyebrang menuju sebuah restoran ayam.

~~~

Jinie memakan 5 potong ayam gorengnya dengan lahap. Kurasa ia benar-benar lapar.

“Kau sedih?” Tanyaku.

Jinie menggeleng tanpa berhenti mengunyah, “Aniyo. Tapi aku menyedihkan.”

“Karena Taemin?”

Ia berhenti makan lalu melanjutkan aktivitas makannya lagi, “Seperti yang kau lihat.”

“Kau-“

“Jangan banyak bertanya. Bukankah kau bisa tahu sendiri tanpa harus bertanya padaku?” Potongnya.

“Kau berlebihan! Hanya karena itu kau nyaris terserempet mobil? Babo.” Lanjutku.

Jinie menoleh ke arahku dan aku melanjutkan perataanku, “Ya~ jangan berlebihan menanggapi perasaanmu pada Taemin. Sampai kapanpun kau dan dia tidak akan bisa bersama-sama untuk selamanya.”

“Mwo?”

Aku pun tertawa hambar, “Apa kau mau seperti di dongeng-dongeng? Rela menukar jati dirinya sebagai makhluk non manusia untuk menjadi manusia tulen demi orang yang disukainya. Tepatnya untuk orang yang dicintainya. Kau tahu? Menurutku itu tindakan bodoh.”

“Aku tidak pernah berpikir seperti itu.”

“Kau AKAN berpikir seperti itu kalau terus menanggapi rasa sukamu pada Taemin.” Ucapku sambil menyentuh keningnya dengan jari telunjuk tanganku.

“Lalu?”

“Lalu? Ya kau batasi perasaanmu. Dengar, di duniamu sendiri saja masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari Taemin.”

“Tapi…menurutku Taemin baik.”

Apa katanya?-_-

“Taemin baik padaku. Walau ia kadang membentakku kalau aku paksa dan memarahiku saat aku berbuat kesalahan fatal. Walau ia sering mengacuhkanku tapi dia baik padaku.” Jelasnya.

Aku pun mengalihkan pemandanganku ke luar jendela restoran ini, “Bukannya minggu ini Taemin berjanji mengajakmu makan di restoran ini?”

Ia terdiam. Lalu ia menunduk lagi dan menarik napas dalam, “Ne…”

Aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa lagi.

Taemin pov

“Gomawo sudah mengantarku sampai rumah. Kau mau mampir?” Ucap Sulli menawariku.

Aku pun tersenyum dan menggeleng, “Tidak usah, terimakasih. Sampaikan salamku untuk orangtua dan adikmu.”

Sulli pun tersenyum dan aku membalasnya lalu kembali masuk ke dalam mobilku dan menjalankannya. Aku melihat ke arah spion saat ia melambaikan tangan padaku. Senyumku ini takkan luntur sampai malam nanti.

Aku pun merogoh saku jaketku untuk mengeluarkan Jinie. Dia menepati janjinya untuk diam dengan manis dalam saku jaketku, aku akan mentraktirnya makan ayam goreng sepuasnya.

Aku melirik jam tanganku sekilas, “Sudah jam 3 sore. Aku yakin Jinie sudah lapar.”

Chamkkaman!

Aku pun segera menyisi. Senyumku menghilang seketika.

Aku pun bertanya pada diriku sendiri dengan panik, “Dimana Jinie?”

Reflex aku membuka jaketku dan melihat sendiri isi saku jaketku, “Ya! Kau dimana???!!!”

“Oh jinjja! Kemana perginya peri bocah itu?!” Aku pun berpikir sejenak, “Apa dia pulang ke rumah duluan?”

Dengan segera aku pun langsung menyalakan mesin mobilku dan melesat dengan kecepatan tinggi untuk pulang ke rumah.

Brak bruk brak bruk!

Pintu rumah aku buka dengan kasar dan berlari menaiki tangga menuju kamarku. Entah barang apa saja yang aku tabrak dari ruang tamu sampai ke kamarku.

“Jinie-ya!”

Aku mencarinya dengan panik ke meja belajarku, tapi tempat tidur Jinie kosong. Di kasurku juga tidak ada. Aku mencarinya sampai ke bawah bed cover, kolong kasur, laci, balik lampu tidur, figura foto, tempat sampah sampai segala penjuru sudut kamar mandi tapi ia tetap tidak ada.

“Apa dia di dapur?”

Aku berlari cepat menuju dapur, beruntung bibi Jung sedang tidak di dapur. Jadi aku bebas mencari Jinie.

“Ahh~ Dia tidak ada dimana pun.” Ucapku putus asa.

“Ayolah, Taemin. Pikirkan tempat mana saja yang mungkin ia datangi.” Ucapku sambil mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri.

Flashback, 1 week ago~

“Taemin-ah! Kapan kau akan mengajakku ke restoran bergambar ayam itu?”

“Lain kali aku akan mengajakmu kesitu.”

“Jeongmal?”

“Ne~”

“Aaa kau baik sekali~ Kapan?”

“Yang pasti tidak siang ini. Aku lelah. Minggu depan aku janji akan mengajakmu kesana.”

“OKE!^^”

Flashback end

“Restoran ayam…” Gumamku.

Aku pun segera keluar rumah dan menjalankan mobilku secepat mungkin.

Author pov

Setelah sampai di restoran ayam tersebut, Taemin langsung masuk dan mencari-cari Jinie. Taemin berjalan perlahan saat ia mengenali seseorang yang duduk di dekat jendela restoran tersebut. walau dari belakang, tapi Taemin tahu kalau itu Jinie.

“Siapa laki-laki yang bersama Jinie?” Tanya Taemin pada dirinya sendiri. Kening Taemin berkerut bingung. Ia mencoba mengingat apakah laki-laki itu pernah ia lihat sebelumnya atau tidak. Taemin pun semakin mendekat ke arah meja tersebut dan akhirnya bertemu pandang dengan laki-laki yang duduk berhadapan dengan Jinie.

Taemin manatap mata laki-laki itu untuk pertama kalinya. Ekspresi Taemin maupun laki-laki itu sama-sama datar. Tapi Taemin merasa tatapan laki-laki itu berbeda. Tatapan sebal?

Saat Taemin hendak menyentuh pundak Jinie dari belakang, tanpa di duga Jinie menoleh ke belakang terlebih dulu dan melihat Taemin.

“Taemin-ah…”

Laki-laki yang bernama Key itu membuang muka ke arah jendela restoran. Dan Taemin menyadari hal itu.

Taemin pun mulai membuka mulutnya, “Aku-“

“Duduklah dulu.” Potong Jinie sambil menggeser duduknya untuk memberikan tempat pada Taemin.

Taemin pun akhirnya duduk di samping Jinie dan berhadapan dengan Key. Tapi Key sama sekali tidak menoleh ke arah Taemin.

Dengan cepat Jinie menangkap aura canggung dari Taemin dan Key. Ia pun mulai tertawa ringan untuk mencairkan suasana.

“Kalian belum saling kenal ya?” Tanya Jinie. Taemin menoleh ke arah Jinie tapi tidak dengan Key.

Lagi-lagi Jinie tertawa hambar, “Ahahahaha…hahaha tentu saja kalian belum saling kenal. Kalian kan baru pertama kali bertemu. Taemin-ah, perkenalkan ini Key sunbae. Dia sunbaeku di sekolah. Sunbae….ini Taemin.”

Key pun menoleh dengan malas, “Ah ne, aku tahu.”

Taemin hanya membungkukan sedikit badannya pada Key. Lalu ia Taemin menoleh ke arah Jinie dan memegang tangannya, “Kajja! Kita pulang.”

Mereka pun berdiri, begitu juga dengan Key yang mengikuti Jinie dan Taemin dari belakang. Taemin sedikit kaget saat Key juga ikut masuk dan…

Taemin pov

Laki-laki yang Jinie panggil Key sunbae itu tiba-tiba melepas peganganku pada tangan Jinie saat dekat mobil. Ia menyuruh Jinie duduk di kursi belakang. Dan dia dengan seenaknya duduk di depan, di kursi samping kemudi.

Aku pun mendengus sebal sebelum masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.

“Peri menyebalkan.” Gumamku

“Mwo? Siapa yang kau bilang peri menyebalkan?” Ucap Key.

Aish, dia mendengar perkataanku, “Aniyo.”

~~~

“Chamkkamanyo! Key-ssi, kau tidak merubah wujudmu menjadi peri dulu seperti Jinie?” Cegahku saat ia dengan seenaknya berjalan menuju pintu rumahku.

“Untuk apa? Bilang saja kalau aku itu teman barumu. Beres kan?” Ucapnya dingin.

“Sudahlah. Dia memang begitu.” Ucap Jinie yang duduk di pundak kananku.

Sesampainya di kamar ternyata Key sudah duduk di kasurku. Seenaknya sekali orang itu.

“Tadi Jinie hampir terserempet mobil.” Ucap Key tiba-tiba.

Aku pun segera berbalik setelah menutup pintu, “Mwo???” Aku juga menoleh ke arah Jinie yang baru saja merubah wujudnya menjadi manusia. Tapi ia hanya diam.

“Itu gara-gara kau.” Ucap Key lagi.

“Karena aku?” Jujur saja, aku tidak mengerti apa yang ingin di katakan peri ini.

Author pov

Jinie menatap Key dan menyimpan jari telunjuknya di bibir. Memberi isyarat agar Key tidak berbicara lagi. Tapi Key malah menatap Taemin.

“1 minggu yang lalu kau berjanji mengajak Jinie makan di restoran ayam tadi, bukan?” Ucap Key.

“Mm.” Respon Taemin.

“Kau lupa dengan janjimu?”

“Mm, ne.”

“Well, sebenarnya bukan itu inti penyebabnya. Kau lebih memperhatikan Sulli ketimbang Jinie, benar?”

“Mm. Itu….benar.”

“Mulai sekarang, jangan hanya fokus pada Sulli dan datang pada Jinie saat kau butuh saja. Tadi Jinie hampir terserempet mobil karena ia kesal padamu. Akhirnya ia pergi tanpa sepengetahuanmu. Kau pernah menghitung berapa kali Jinie kesal seperti ini padamu?”

“Tidak.” Kali Taemin sedikit menunduk dan bersandar pada pintu kamarnya.

“Lumayan sering. Dan untuk kali ini aku ingin campur tangan. Kalau tadi tidak ada aku, mungkin Jinie sudah celaka.” Key menghela napasnya sebentar lalu melanjutkan lagi, “Jangan sampai kau anggap kalau Jinie hanya makhluk non manusia yang datang untuk membantumu saja. Walau begitu, ia juga punya perasaan dan harus di perhatikan. Kau tidak perlu memperhatikan Jinie seperti kau memperhatikan Sulli, tapi jangan juga hanya datang pada Jinie jika kau merasa butuh bantuannya saja. Arasseo?”

Taemin mengangguk, “Ne, arasseo.”

“Baiklah. Aku pergi. Jinie-ya, jalankan tugasmu dengan baik. Dan kau Taemin, aku juga titip Jinie padamu. Annyeong.” Ucap Key dan ia pun menghilang seketika.

Hening sebentar dan Jinie pun membuka mulutnya untuk berbicara, “Key sunbae adalah pengawasku. Jadi, maklum kalau dia begitu dan aku minta maaf atas tingkahnya yang menyebalkan.”

Taemin pun berjalan menuju kasurnya dan merebahkan diri, “Hhh, gwenchana. Justru aku harus berterimakasih pada Key. Kalau tidak ada dia mungkin kau juga sudah celaka dan aku tidak akan sadar dengan perilakuku akhir-akhir ini.”

“Aku minta maaf.” Ucap Taemin lagi.

Jinie pun tertawa dan duduk di pinggir kasur Taemin, “Sudahlah, jangan pasang wajah bersalah seperti itu. Aku akan selalu memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf.”

Taemin beranjak duduk, “Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?”

“Tidak. Tenang saja.”

DingDong!

Tiba-tiba ponsel Taemin bunyi. Menandakan ada email yang masuk. Taemin melihatnya sebentar lalu menandai email itu sebagai tanda sudah dibaca.

“Email dari orangtuamu?” Tanya Jinie.

“Ne. Aku bingung enapa mereka selalu mengirimku email padahal aku tidak pernah membalasnya sekalipun. Jangankan membalas, membacanya saja aku baru 1 kali.”

“Mungkin karena kau jarang mengangkat telepon dan membalas pesan dari mereka. Jadi mereka mengirimmu email terus.” Ucap Jinie.

“Molla.” Taemin pun merebahkan tubuhnya lagi dan lebih memilih tidur.

Jinie pov

Malam harinya~

Aku diam-diam mengambil ponsel Taemin dan duduk di lantai sambil bersandar pada ranjang Taemin. Sampai sekarang aku masih kaku memegang ponsel karena di duniaku tidak ada barang seperti ini.

“Wah, panjang sekali email dari orangtuanya.” Bisikku saat membuka email masuk.

Semenjak orang tua Taemin pergi ke Indonesia, Taemin jarang atau hampir tidak pernah mengangkat telepon, membalas pesan atau membalas email dari orangtuanya. Karena itulah aku mengambil alih hal ini(?), aku selalu membalas semua email dari orangtuanya atas namanya. Beruntung aku pernah melihat Taemin mengirim email pada temannya, jadi aku tahu bagaimana cara mengirim email.

“Apa Eomma dan Appa tahu? Aku…” aku terus berbisik mengeja setiap kata yang ia ketik di ponsel Taemin.

“Selesai! Emailnya sudah terkirim. Ah, kau memang pintar Jinie!” Bisikku sambil tersenyum senang.

“Sekarang tinggal menghapus email terkirimnya supaya namja itu tak curiga.”

“Oooooohhhhhh, jadi begitukah cara mengirim email?”

DEG!

Suara Taemin… Rupanya dia belum tidur.

OMO! Mati aku!

Aku sama sekali tidak berani bergerak, tapi aku bisa merasakan kalau sekarang kepala Taemin ada di samping kepalaku. Tubuhku membeku…

“Kau peri yang benar-benar pintar. Sejak kapan kau bisa membalas email?” Ia bertanya dengan nada menyindir. Aku hanya bisa diam.

“Ya~ aku bertanya sejak kapan kau bisa mengirim email?”

Aku pun akhirnya memberanikan diri untuk menjawab, “Se…sejak aku melihat…..k..kau mengirim email pada temanmu.”

“Bukankah aku pernah bilang jangan ikut campur dalam urusan aku dan orangtuaku?” Ucap Taemin dingin. “Pantas saja mereka –orangtua Taemin- mengirim barang-barang itu untukku. Ternyata kau yang membalas email mereka atas namaku. Kenapa kau tidak bilang saja pada mereka kalau aku tidak butuh barang-barang itu.” Lanjut Taemin sambil beranjak duduk dan merebut ponselnya dari tanganku.

Aku pun berdiri menghadapnya, “Tapi kan kau belum pernah membuka barang kiriman orangtuamu. Jadi bagaimana bisa kau bilang kau tidak butuh?”

“Apapun bentuk barangnya aku tidak butuh.”

“Mianhae…”

“Ck! Tidur sana!!!” Bentaknya padaku. Ah, ia benar-benar marah.

Aku pun berjalan gontai menuju kasur miniku dan merubah kembali wujudku menjadi peri. Saat aku menutup selimut, ia bicara lagi, “Jangan sentuh ponselku lagi!”

Gagal sudah rencanaku memperbaiki hubungan Taemin dan orangtuanya. Tapi tenang, masih banyak jalan menuju roma! Han Jinie, fighting!

~~~

“Hari ke 85.” Untuk yang ke 85 kalinya aku melingkari kalender di meja Taemin. Dan untuk yang ke sekian kalianya aku mengusap wajahku putus asa.

Aku pun mendesah keras, “Tinggal 15 hari lagi dan aku belum bisa membuat Taemin dan orangtuanya dekat seperti dulu.”

Sejauh ini mungkin aku sudah berhasil. Membuat Taemin menjadi murid yang baik dan memperbaiki semua nilainya. Perubahan itu semakin membuat Taemin terkenal di sekolahnya dan memperbanyak fansnya. Dan terakhir, aku berhasil membantu Taemin menyatakan perasaannya pada Sulli. And you know what? Mereka sekarang sudah resmi berkencan. Aku sempat patah hati selama 1 minggu menerima kenyataan itu-_- Keberhasilan yang menyakitkan untukku ;_;

Benar apa kata Key sunbae, seharusnya aku tidak terlalu menanggapi perasaanku pada Taemin. Aku dan dia benar-benar berbeda. Tapi nyatanya aku masih menyukai Taemin sampai sekarang. Bagaimana ini??? Rasanya aku ingin menangis. Aku tidak tahu bagaimana lagi untuk membuat Taemin dan orangtuanya kembali dekat seperti dulu. Aku juga tidak tahu bagaimana lagi menutupi perasaanku pada Taemin, aku ingin membenahi hatiku sendiri agar tidak menyukai Taemin tapi nyatanya itu sangat sulit.

Kalian tahu? Aku nyaris bilang suka padanya. Untung saja ia lebih dulu berbicara bahwa dia telah resmi berkencan dengan Sulli.

Orangtua Taemin sudah pulang sejak 1 minggu yang lalu. Tapi keadaan tetap sama saja. Mereka hanya makan malam bersama 1x.

Orangtuanya. Kenapa mereka sesibuk itu? Kesibukan mereka membuatku curiga, mereka memang hobi berbisnis atau hobi meninggalkan anak tunggalnya. Seminggu yang lalu, aku menyelinap ke kamar orangtua Taemin dan menyimpan majalah otomotif di meja mereka. Siapa tahu orangtua Taemin memberikan kado untuk Taemin. Sebuah mobil mungkin? Atau motor? Semoga rencana kecil ini berhasil.

“Aku pulang.”

Samar-samar aku mendengar suara Taemin dari lantai bawah. Aku pun segera merubah wujudku menjadi peri dan terbang ke bawah.

Taemin pov

“Aku pulang.” Ucapku saat membuka pintu dan aku melihat Appa dan Eomma menghampiriku. Aku pun tersenyum, mereka ada dirumah? Itu artinya kami akan makan siang bersama? Akhirnya.

“Taemin-ah~ Kami punya sesuatu untukmu.” Ucap Appa sambil mengajakku keluar dan menuju garasi.

Mobil sport baru berwarna merah.

Daebak! Ini mobil keluaran terbaru!

“Kau suka?” Eomma tersenyum padaku dan mengusap lembut rambutku.

Aku pun mengangguk.

“Ini kado dari kami. Maaf kami baru memberikan kado sekarang.” Ucap Appa.

Aku pun tersenyum lagi, “Gwenchanayo. Tapi bolehkah aku meminta yang lain?”

Appa pun merangkul pundakku, “Katakan, katakan saja apa yang kau mau. Apapun akan kami belikan untukmu.”

“Aniyo, appa. Ini tidak pakai uang. Aku hanya ingin meminta waktu kalian.”

Eomma terlihat heran, “Maksudmu?”

“Aku ingin kalian hadir saat pengambilan raporku. Seperti 5 tahun yang lalu.”

Aku ingin melihat respon mereka, “Kami tidak bisa janji. Tapi kami akan usahakan untuk datang. Kalau kami tidak bisa datang, mungkin-“

“Ne, aku mengerti. Aku bisa mengambil raporku sendiri nanti.” Potongku.

“Maafkan kami… tapi eomma dan appa akan berusaha untuk datang. Kami janji.” Ucap Eomma.

“Ne. baiklah, aku ke kamar dulu.”

Sudah kuduga mereka akan jawab apa. Sudahlah, mereka tidak usah datang saja sekalian sampai aku lulus kuliah nanti!

Aku pun mengambil langkah lebar-lebar menuju kamar karena kesal. Ketika masuk kamar, aku melihat Jinie sedang memegang barang-barang pemberian orangtuaku dengan wujud manusianya.

“Kau sudah pulang rupanya. Lihat aku memindahkan-“

Karena masih kesal, aku pun mengambil barang-barang yang masih tersimpan rapi dalam berbagai ukuran kotak itu dari tangan Jinie dan melemparnya ke tempat sampah.

Rasa kesalku semakin menjadi-jadi, rasanya belum puas membuang kotak yang kecil. Aku ingin menghancurkan kotak yang besar. Tak lama aku pun merobek bungkus kotak yang besar dengan kasar tapi tangan Jinie menahanku.

“Ya! Apa yang akan kau lakukan?!” Teriak Jinie.

Aku hanya diam. Jinie terlihat membuka tutup tempat sampah dan mengambil kembali barang-barang yang kubuang tadi. Aku mendelik ke arahnya, “Buang.”

Jinie menggeleng, “Ish! Kau ini kenapa? Yang benar saja barang dari orangtua sendiri kau buang.”

Keadaan hening seketika. Aku mendesah keras dan beranjak menuju kasur lalu menghempaskan tubuhku dengan kasar di atasnya.

“Mianhae.”

Eh? Untuk apa peri itu meminta maaf?

Jinie menghampiriku dan duduk di pinggiran kasur, “Kau tidak suka ya kalau orangtuamu membelikan mobil sebagai kadomu?”

Ah, aku tahu. Ini pasti ulah peri ini, “Ani. Aku tidak suka. Kau tak lihat berapa banyak koleksi mobilku yang mereka belikan? Untuk apa aku senang di belikan mobil lagi.”

Aku beranjak duduk, “Wae? Kau yang membuat mereka membeli mobil itu, huh?”

Ia menunduk, “Ne.”

“Aku hanya butuh waktu mereka. Bukan barang mahal dari mereka. Kau tahu? Aku rela hidup sederhana tapi bahagia dengan keluargaku ketimbang menjadi orang kaya raya yang kesepian seperti tidak punya keluarga.” Jelasku.

“Mianhae, sampai sekarang aku belum bisa membuat kau dan orangtuamu seperti dulu lagi. Semua caraku selalu gagal. Aku memang bodoh.” Ucap Jinie. Dia putus asa?

Jinie menghela napasnya, “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Waktuku tinggal 15 hari lagi dan aku sekarang nyaris putus asa.”

“Kemana sunbaemu yang tidak tahu sopan santun itu?” Tanyaku sebal.

Jinie hanya mengangkat bahu, “Molla.”

Aku menghela napas ketika menyadari sesuatu, “Tadi kau bilang waktumu tinggal 15 hari lagi?”

“Ne.”

“Berarti 15 hari lagi kau akan pergi?”

“Mm.”

“Berarti kau tidak akan melihat hasil kerja kerasmu karena telah membuatku menjadi anak pintar dan rajin di sekolah? Bukannya kau tahu kalau para guru mengagumi perubahanku yang terbilang cepat itu?”

“Maksudmu?”

“Sekitar 2 bulan lagi raporku akan dibagikan. Dan disitu kau bisa melihat hasil nilai akhirku di kelas 2.”

“Ooh. Taemin-ah, sebenarnya…kalau tugasku disini belum selesai, aku tidak akan pergi karena tugas ini adalah tanggung jawabku.”

“Lalu bagaimana dengan 100 harimu?”

“Kurasa ini akan lebih dari 100 hari.”

“Apa itu tak apa?” Tanyaku.

“Paling appa akan memarahiku. Peduli apa dengan nilai. Lebih baik nilaiku buruk daripada aku tidak memenuhi tugasku. Jangan khawatir seperti itu.”

Aku tertawa kecil, “Kalau begitu jangan putus asa. Karena aku juga akan berusaha semampuku. Tapi aku tidak janji ya. Aku takut tidak bisa memenuhi janjiku untuk berusaha mengembalikan hubunganku dengan orangtuaku seperti dulu. Aku terlanjur malas sekarang.”

“Isshhh, kau memang payah!” Gerutunya sambil beranjak dari kasur.

Aku hanya memandangi punggungnya dan kembali merebahkan tubuhku di atas kasur. Kasihan juga bocah itu. Bagaimana pun dia sudah membantuku dalam segala hal.

Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas di pikiranku. Aku pun beranjak duduk, “Jinie-ya..”

Jinie menoleh, “Wae?”

“Kau tidak merindukan appa dan eommamu?”

Jinie tersenyum kecil, “Aku merindukan mereka. Kalau sudah waktunya pulang aku bisa melepas rindu dengan appa, tapi tidak dengan eomma.”

“Kemana eommamu?”

Jinie berjalan lalu duduk di kursi belajarku, “Eommaku pergi saat ia melahirkanku. Pergi untuk selamanya.”

Aku terhenyak, “Mwo?”

~~~TBC~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “More Than 100 Days – Part 4”

  1. daebak!
    Aku bener2 suka sama ff ini..
    Jinnie-ya.. Cobalah buat ortu taem mengerti betapa berharganya taemin bgi mrk.. Mungkin mrk akan sadar..
    Next.. Next..

  2. aaaaa~ aku bener2 kerasan sama ff ini 😀 ff nya bagus d^^b
    aku jadi kasian sama jinie gara2 taemin udh kencan sama sulli 😦
    dan hubungannya taemin sama orangtuanya ituu!
    authooor! kutunggu next partnya ya ^ㅇ^/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s