Namja – Part 6

Title : Namja

Author : Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast : Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Support Cast : Kim Jonghyun, Kim In Young, Lee Jinki, Key’s Eomma, Park Yoochun

Length : Sequel

Genre : Friendship, Family, Romance

Rating : PG – 15

A.N: Mian kalo part ini kelewat panjang di narasinya, sedang terpengaruh gaya tulisan yang beberapa hari belakangan dibaca *bow*

***

Summary:

Oppa, apa mungkin Key menginginkan alam baru, bebas tanpa tekanan. Sekarang pun aku merasa damai jauh dari rumah yang memusingkan kepala. Oppa, apakah mungkin Key ingin terbang layaknya burung terbang tanpa hambatan?”

Namja – Part 6 : Like A Bird

Tidakkah engkau lelah terus meringkuk dan takluk oleh dongeng yang sama, yang membuatmu lalu tiada henti melafalkan mantera tanpa makna yang bahkan tak mampu menghapuskan air matamu, apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaan kehidupanmu?

Coba luruskan tubuhmu, regangkan tungkai-tungkaimu, duduk nyaman, lalu perlahan-lahan berdiri tegaklah. Bentangkan kedua tanganmu, tebarkan pandangmu ke sekeliling dan terbangkanlah imajinasimu. Barangkali dapat kau sadari bahwa kau selama ini sedang berada di sebuah taman indah bernama kehidupan, bukan sebuah penjara dengan seperangkat kewajiban melelahkan.

Sekarang setelah engkau dapat bebas merdeka menghirup napas kehidupan bersama seisi semesta raya, langit di atasmu tak lagi menyungkup pengap karena ada pelangi warna-warni yang menjembatani Bumi dan alam raya.

Di sini, di luar ini, sejuk kesiur angin perubahan akan menggugah kesadaranmu bahwa engkau di sini bukan untuk jadi yang takluk, tunduk, dan takut dikutuk, melainkan engkaulah bintang itu, yang berkuasa atas peranmu dalam menentukan nasibmu dan engkaulah pengunggah impianmu sendiri sebesar dan seliar apapun itu …[1]

***

Perihnya mata tidak lagi Hana pedulikan. Rasa sakit hati setelah tujuh malam yang lalu beradu mulut dengan Ha In itu masih ada di ulu hatinya. Bagaimana bisa Ha In menuduhnya sebagai pengkhianat hanya karena dirinya datang bersama Jonghyun ketika membesuk Key? Hana bahkan telah menjelaskan pada Ha In bahwa Jonghyun justru membungkuk di samping Key dengan raut wajah penuh penyesalan sekalipun mulutnya tetap terkatup rapat, namja itu sama sekali tidak mencemooh ataupun menertawakan Key yang masih terbaring tak sadarkan diri. Hana yakin dirinya tidak cukup bodoh untuk membedakan mana tingkah polah yang palsu dan bukan.

Namun layaknya serangga dan tanaman bunga yang saling berhubungan erat, sahabat memang tetap sahabat. Sekalipun Hana belum berhasil melenyapkan rasa kesalnya, nyatanya ia bersikap biasa saja ketika Ha In menghampirinya siang ini. Entah karena hati kecilnya memang sudah memaafkan Ha In, atau karena kabar bahagia yang baru saja disampaikan Ha In. Key siuman!

Bagaimana mungkin keduanya tidak berpelukan girang sekalipun beberapa jam lalu mereka masih saling memalingkan wajah ketika bertemu di gerbang kampus? Rasa gembira itu mampu menyatukan dua hati yang berseberangan, dalam pelukan erat nan mengharu biru. Keduanya pun tidak ingin menunggu lebih lama lagi, mereka harus segera menemui Key tak peduli arang melintang, tak peduli jika kenyataannya jam kuliah berikutnya masih menunggu untuk disinggahi. Toh, apa gunanya tubuh tetap terpenjara dalam ruang kelas sementara pikiran sudah terbang mengawang pada sosok Key?

“Hana-ya, kita ke tempat Heera dulu.” Ha In menahan langkah Hana yang mengarah pada pintu gerbang, ia teringat sahabatnya yang satu lagi. “Aku tahu dia sengaja tidak membesuk ke rumah sakit. Tapi aku yakin, alasannya bukan karena ia malas atau tidak ingin. Aku rasa, ia merasa bersalah setiap melihat Key.”

Hana hanya mengangguk pelan, tidak ingin membahas hal itu lebih panjang. Ia hanya ingin tiba di rumah sakit secepatnya dan melihat keadaan Key, tanpa perlu ternodai dengan rasa kesal yang mungkin timbul jika ia menyanggah. Hana hanya menurut ketika Ha In menarik tangannya menuju lorong ruangan perkuliahan jurusan Heera.

Keduanya mendapati Heera sedang termenung di bangku yang terdapat di depan sebuah kelas, memainkan iPad-nya dengan tatapan seolah mata itu tak punya bahan bakar untuk pancarkan kehidupannya. Yeoja itu tampak kusut, rambut panjangnya saja tidak terikat rapi. “Kalian?” tanyanya pelan begitu Hana dan Ha In mendekat.

“Heera-ya! Key sudah sadar!” Untuk yang kesekian kalinya sejak sejam yang lalu, Ha In memekik riang. “Ayo kita ke rumah sakit, melihat keadaan Key.” Tangan Ha In spontan meraih tangan Heera, membuat Heera sedikit bangkit dari posisi duduknya.

“Jangan, lepaskan! Ah, tidak, aku tidak ikut. Lepaskan aku,” pinta Heera gugup. Ia melepaskan tangan Ha In, kembali duduk, dan tertunduk tanpa berani memandang keduanya. Yeoja itu tertunduk sembari memainkan ujung rambutnya yang terurai angin, tidak ada hal lain yang dapat dilakukannya untuk menghindar pandang dari Ha In dan Hana. “Kalian pergi saja, aku tidak ingin,” lirihnya pelan kemudian.

Ha In tidak percaya, ia yakin ada yang keliru dengan perkataan sahabatnya tadi. “Heera-ya? Kau tidak sedang bercanda? Hei, Key sudah siuman dan bagaimana bisa kau tidak ingin melihatnya? Ayolah, temui sahabat kita.” Ha In kembali menarik tangan Heera, namun ditepis lagi, bahkan sedikit lebih keras.

“Sahabat? Bahkan aku merasa bahwa diriku ini bukanlah lagi sahabat Key. Bukankah seorang sahabat harus bisa menerima segala kekurangan sahabatnya? Nyatanya aku tidak bisa,” ungkap Heera lemah, berusaha setengah mati menahan air matanya agar tidak bertentangan dengan keteguhan yang tersirat kental di wajahnya.

Hana menggigit bibir bawahnya sesaat, menahan sedikit rasa kesal, meredam keganasan yang sebenarnya sudah siap disemburkan saking merasa muaknya. Oh, tidakkah jawaban Heera barusan itu sangat konyol? Kaku? Hana tidak pernah mengira sebelumnya bahwa pemikiran sahabatnya itu sudah sekacau itu. Pada akhirnya Hana membuka mulut, melesatkan kata dengan tempo cepat, “isssh, jangan biarkan rasa bersalah menguasaimu hingga kau men-judge bahwa kau tidak lagi layak menyebut dirimu sebagai sahabat Key. Seorang sahabat akan memafkan tanpa diminta. Percayalah, Key tidak akan membencimu. Kau tahu, Key bukan orang seperti itu, setidaknya terhadap kita.”

Heera menyeringai kecil. Mendengar Hana berkata seperti itu membuatnya merasa muak. Hanya sok bijak, pikirnya. “Key memang akan memaafkanku, karena pada dasarnya dia berjiwa pemaaf. Tapi aku tidak, aku tak mampu memaafkan diriku, setidaknya sampai saat ini. Pergilah, sekeras apapun kalian memaksaku, aku tak akan memenuhi ajakan kalian. Jangan memaksa lebih lama lagi kalau kita tak ingin saling melukai lebih dalam.”

Ha In melemparkan tatapan bingung pada Hana. Tak mendapatkan jawaban berupa keputusan, ia berinisatif meraih tangan Hana—kembali menariknya tanpa persetujuan. “Kalau begitu kami pergi,” sungut Ha In tanpa rela mengulaskan senyum untuk Heera. Rasanya, ia pun mulai muak dengan tingkah kolot sahabatnya itu.

***

Jika kau bertanya, ‘mengapa aku berbeda dari mereka?’, lalu Jawaban seperti apa yang ingin kau dengar? Menunggu orang mengatakan ‘tak apa berbeda, kau yang lebih baik dari mereka’, begitukah? Mungkin, sebagian orang ada yang berpikir seperti itu. Ah, rasanya cukup bisa diyakini bahwa kau sama sekali tak ingin orang lain menjawab, ‘kau yang harus beradaptasi agar kau mendekati mereka yang tampak sama itu’. Sadarkah kau, sesungguhnya tidak ada jawaban yang mutlak salah. Mungkin, pertanyaanmu yang menggelikan. Tuhan begitu hebatnya, sengaja menciptakan manusia dalam keragaman. Coba bayangkan jika semua orang sama? Hal kecil yang akan terjadi, tidak ada transaksi jual beli karena tidak adanya sesuatu yang disebut ‘saling membutuhkan’. Maka jawaban terbijak ketika seseorang bertanya seperti itu adalah, ‘mengapa kau berpikir untuk menjadi sama dengan yang lain?’. Ya, berikan jawaban yang tidak menghakimi, namun membuat orang tersebut berpikir dan menilai sendiri. [2]

Andai Key mengerti, dan andai ada seseorang yang memberikan jawaban seperti itu atas pertanyaan besar yang selama ini menggerogoti pikiran Key, maka hari ini ia tak akan memilih bungkam ketika Ha In dan Hana datang, begitu pula ketika Nyonya Kim mengajaknya bicara.

“Key, apa kau tahu, Hana sampai rela bolos jam kuliah siang demi melihat keadaanmu. Sungguh, bagi kami ini adalah hal yang sangat membahagiakan.” Ha In berhambur memeluk Key begitu ia tiba di ruangan.

Sulit bagi Key untuk menolak pelukan itu, namun setidaknya ia tak membalas. Ada dorongan yang begitu kuat, yang memerintahkan padanya untuk tetap membatu dalam bisu. Ya, tak terdefinisikan, namun Key tahu pasti bahwa perasaan ini belum menyeretnya ke alam bawah sadar. Hanya tidak ingin, tak banyak penjelasan lebih lanjut mengenai alasan atas pilihannya ini.

Hana bergabung bersama Ha In, meluapkan rindu dengan cara yang sama. “Key, akhirnya kau bangun. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kau selamanya tak membuka matamu,” ujar Hana sembari menghapus air matanya yang buncah seketika. Oh, tentu saja, Key bukanlah Jonghyun. Di hadapan Key, Hana tak perlu menjaga gengsinya hingga menahan untuk tak menangis.

Lama tak bersua dengan sorot mata Key, membuat Hana dirundung haru ketika mendesak masuk ke dalam manik mata indah itu. Namun tak berselang lama, dadanya bergemuruh, bercampur antara rasa bahagia tak terkira dan perasaan janggal tak termaknai. Ya, Hana menangkap keanehan dalam diri Key. Namja itu, tak bereaksi? Tidak, Hana yakin Key tidak sedang berada pada kondisi vegetatif [3]. Hanya saja… ini berbeda jauh dengan Key yang biasanya, yang ekspresif, dan memancarkan kehangatan melalui seluruh gerak tubuhnya. Key yang ada di hadapannya kali ini adalah sosok yang dingin, dengan ekspresinya yang datar tak pancarkan makna. Sorot mata namja itu tampak seperti orang melamun, bercampur dengan rasa enggan untuk merespon.

“Key, lihat, aku sempat minta pada Jonghyun untuk dibuatkan sketsa gambar kita berempat!” Hana mencoba tetap menyelipkan semangat dalam nada bicaranya. Key masih tak merespon, membuat Hana dengan ragu-ragu membentangkan selembar kertas itu di hadapan Key, masih berharap Key akan berteriak spontan seperti biasanya ketika kenangan persahabatan mereka terbingkai dalam suatu benda berwujud.

Key hanya mengerjap sekali, seluruh organ tubuhnya masih tidak ia izinkan bergerak, kecuali dadanya yang naik turun perlahan karena tetap harus bernapas. Apa ini? Key sungguh tak memahami perasaannya. Ia bahkan tidak merasa tertarik melihat goresan pensil sekalipun terlihat apik,  imbasnya ia enggan menanggapi.

“Wow, Hana-ya, ini keren. Yah, sekalipun kuakui bahwa aku cukup sebal dengan namja bernama Jonghyun itu. Tapi seni tetaplah seni, yang bagus layak dipuji dan yang jelek layak dikritisi.” Ha In meraih kertas tadi, mengamatinya dengan lebih cermat. Ya, guratan kebahagiaan itu jelas tersampaikan dengan indahnya, melukiskan sebuah momen berkesan tatkala keempatnya melewatkan penghujung musim salju dengan menghabiskan waktu untuk membuat sebuah boneka salju di depan rumah Key. Ha In terkesima untuk karya yang satu ini.

“Kau ingat momen ini Key? Saat itu kau mengatakan, salju memang dingin dan cukup membuat sesak, tapi kelembutannya mampu membiusmu. Sama halnya dengan persahabatan, rumit namun kebahagiaan yang timbul darinya mampu membelenggu diri dalam sebuah ikatan yang tak tertuang dalam lembar perjanjian.” Membuka jemari Key yang tertelungkup, lalu meletakkan lembaran itu ke atasnya, Hana tersenyum sementara bulir bening itu diam-diam kembali merayap dari ujung matanya.

Ha In melepaskan tangannya yang masih merangkul Key, perlahan rasa heran itu singgah setelah lama mengamati namja itu. “Key, sesuatu terjadi padamu? Apakah koma seminggu membuatmu seperti ini? Aku memang pernah membaca bahwa segelintir orang yang habis koma, akan bertingkah aneh seperti mendadak bisa berbahasa Jerman dengan fasih, bahkan ada yang tiba-tiba pandai memaki ibunya [4]. Tapi kau? Oh, sungguh, tak bisakah kau sedikit tersenyum pada kami yang telah mencemaskanmu setengah mati? Jangan bilang kau juga termasuk segelintir orang yang mendadak aneh setelah koma tadi?”

Bersamaan dengan deretan kata tanpa jeda berarti itu usai, air mata Hana melesat deras mengalahkan laju cairan bening yang masih tampak malu-malu mengintip dari sudut mata Ha In. Hana sadar, sesuatu yang menakutkan sedang menari-nari di dalam pikiran Key. Entah apa itu, tapi Hana memiliki firasat bahwa itulah yang akan menyeret kisah mereka selanjutnya pada puncak pilu.

“Key, sungguh kau tak ingin berucap walau hanya membalas sapa? Key, kau memang sedang bersandiwara untuk mengerjai kami sampai frustasi, atau jangan-jangan pendengaranmu mendadak rusak karena kecelakaan itu?” tanya Hana pasrah.

“Key, ayolah. Eomma-mu bahkan mengatakan bahwa hasil pemeriksaan medismu pasca terbangun dari koma, tidak menunjukkan tanda bahaya. Keberuntungan benar-benar menghampirimu karena benturan yang kau dapat tak berakibat fatal, hanya perlu menunggu luka-luka di sekujur tubuhmu benar-benar mengering. Beri kami balasan walau hanya satu kata, Key.” Ha In memohon, menggoyangkan pelan tubuh Key. Rupanya ia cukup termakan kesal juga.

“Pergi.” Satu kata dari mulut Key, meruntuhkan rindu di hati Hana dan Ha In. Memaksa air mata lebih banyak membanjiri wajah.

“Baiklah. Nasib kita hari ini memang sedang sial, Hana-ya. Setelah tadi Heera yang menyuruh kita pergi, sekarang Key juga. Mari kita pulang, basuh, atau bahkan rendam tubuh kita dengan air agar otak kita mendingin,” sindir Ha In ketika akhirnya ia menarik tangan Hana.

“Key, jaga dirimu baik-baik hingga pulih. Temui kami ketika kau sudah membaik.” Hana memeluk Key tanpa izin, melampiaskan perasaan getir yang berkecamuk di dalam hatinya.

***

Kalau bukan memilih pergi, maka hanya menunggu sabar. Ya, tak ada pilihan lain. Jinki masih menujukan arah pandang pada notebook yang menyala di hadapannya. Heera masih tak bergeming, menelungkupkan wajah di atas meja taman belakang rumah Jinki. Sayangnya Jinki tak mungkin pergi karena ini rumahnya, ia juga tak cukup sadis untuk mengusir kekasihnya, yang sejak kedatangannya tadi hanya bungkam dan menyeret Jinki langsung ke taman belakang, seolah bukan Jinki yang menjadi tuan rumah.

Bukan maksud tak menghiraukan keberadaan yeoja di hadapannya, Jinki hanya sedang dikejar deadline laporan bulanan perusahaan. Ia tak ingin waktunya habis begitu saja sembari menunggu Heera ‘hidup’ dalam arti yang sebenarnya.

“Kau tidak mau bergabung bersamaku? Kalau kau mau, aku bisa menunda pekerjaanku. Tapi kalau tidak, tak apa. Tetap pejamkan matamu, tenggelamkanlah dirimu dalam kedamaian, berpikirlah jernih. Sesungguhnya kau sendiri sudah tahu mana jalan yang benar itu, kau hanya terlalu menghakimi dirimu dengan bersikukuh menolak ajakan dua sahabatmu tadi,” pesan Jinki tatkala ia sudah menyelesaikan separuh tugasnya.

Anieyo, aku hanya butuh menyendiri,” tanggap Heera pelan, masih belum mengangkat wajahnya.

Jinki tertawa kecil, baginya ini terdengar lucu. Bagaimana bisa orang yang ingin menyendiri justru memilih datang ke rumah orang lain? Ia yakin Heera hanya terjebak dalam rasa bingung. “Heera-ya. Bolehkah aku menilai? Mungkin kau memang tipe orang yang sulit menyampaikan maksudmu. Kau boleh pandai berbicara di depan kelas ketika presentasi untuk menyampaikan isi otakmu, tapi kau tidak cukup pandai untuk melontarkan isi hatimu. Apa aku perlu menyediakan secarik kertas untuk menggambar lagi, hmm?”

Oppa, bisakah kau tidak menggangguku? Aku ingin tenang!” Rasa frustasi makin mendesak pikiran Heera, membuat emosinya tersulut.

“Tidak, bukan itu yang kau inginkan. Sebenarnya kau butuh teman berbagi, untuk itulah kau datang kemari. Ayolah, kau mari kita bercerita lebih lanjut, mungkin kau bisa menemukan titik terang.” Jinki tetap sabar menunggu kekasihnya yang tak kunjung merubah posisi tubuhnya.

“Tidak, bukan ingin bercerita. Hanya… ah, sudahlah.” Heera menegakkan kepalanya, memandang Jinki cukup lama. Isssh, tentu ia tak bisa mengatakannya karena yakin bahwa Jinki akan tergelak otomatis jika mendengar. Ya, alasan kedatangannya sangat sederhana. Hanya ingin merasakan kedamaian yang menyeruak ketika ia berada di dekat Jinki, menyaksikan wajah tenangnya merupakan suatu vitamin tersendiri bagi Heera yang begitu mencintai namja itu.

Jinki menanggapi dengan senyum, saking tidak inginnya tawa keras itu tersembur. Sungguh, tingkah Heera ini pada awalnya terasa menjengkelkan. Namun ujungnya, ia justru merasa ini tak beda jauh dengan lelucon aneh. “Baiklah, lakukan sesukamu. Apapun alasanmu, kau boleh datang kemari kalau kau ingin. Tapi sungguh, jangan salahkan aku kalau aku lebih fokus pada laptopku. Yah, hidup harus realistis. Aku butuh bekerja demi uang juga, sekalipun sebenarnya aku bisa mengambil jalan yang lebih mudah jika aku mau.”

Heera menutup percakapan itu dengan sebuah anggukan, tanpa senyum.

***

Empat hari yang lalu ia datang, melintas sesaat untuk melihat, hanya mematung sekian detik di depan pintu, dan pergi setelah melihat Key sudah siuman. Berjalan menjauhi kamar tempat Key dirawat, duduk di bangku yang tersedia di lobi.

Kedua kalinya menjejakkan kaki di rumah sakit ini, ia memilih tempat duduk yang sama di lobi. Ia memilih berpikir ulang sebelum kakinya benar-benar melangkah ke kamar rawat Key. Isi kepalanya membisikkan sebuah gagasan, ia tidak tahu apakah yang dilakukannya benar atau tidak. Ia hanya merasa pernah berada di posisi yang sama.

Ken, namja itu masih mempertimbangkan apakah dirinya akan masuk ke kamar itu dan menemui Key. Hari ini ia sengaja memberanikan diri menampakkan wajah aslinya pada dunia, meskipun sebuah kacamata hitam dan topi tidak lepas dari kepalanya agar sedikit menyamarkan wajahnya jika kebetulan bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya di masa lalu.

Sebuah kesimpulan sudah dibuatnya, ia meraih ponsel dari saku jeans-nya, mengetikkan beberapa kata dan mengirimnya pada Key. Ia merasa beruntung karena tidak menghapus nomor Key setelah menghubungi Nyonya Kim malam itu, pasca terhempasnya tubuh Key setelah terserempet sebuah motor.

Message to: Key

Key, kau sudah sadar? Aku ikut bahagia. Aku akan datang sebentar lagi. Ken

Ken sengaja tidak ingin mengetikkan lebih banyak lagi kata karena tidak bisa memastikan siapa yang akan membaca pesannya tersebut. Ia memilih cara aman, menggunakan kata yang tidak membuat orang berpikir macam-macam, siapapun yang akan membacanya nanti.

Tidak lama namja itu bangkit, merapikan kaos serta jaketnya, dan yang paling utama adalah rambutnya. Ia tidak ingin rambut gondrongnya terlihat berantakan ketika datang nanti, maka helaian itu diikatnya agar tetap terjaga kerapihannya.

Ragu-ragu ia melangkahkan kaki ke kamar Key, melongok dari jendela kaca kecil yang ada di pintu ruangan sebelum benar-benar masuk. Ia belum berani menyapa lebih dulu—melihat sinar mata Key yang masih terlihat hampa terarah pada langit-langit—membuatnya merasa tidak yakin bahwa Key benar-benar sudah bisa diajak berinteraksi. Ken menelisik keadaan sekitar, perhatiannya tertuju pada ranjang tempat Key terbaring. Di sampingnya sedang tidak ada siapapun, tapi terlihat jelas bahwa belum lama ini ada seseorang yang duduk di sebelah Key. Hal itu Ken simpulkan setelah melihat bekas tetesan air di seprai yang membungkus kasur Key dan kupasan kulit jeruk yang tergeletak begitu saja di meja kecil yang ada di sebelah ranjang Key.

“Key,” sapa Ken pelan.

Key menengok lemah.“Kau?” Samar-samar Key mengingat suara yang baru saja menyapanya. “Ken?”

Ken mengangguk. “Kau tidak membaca pesanku?”

Key menggeleng, sedikit tersenyum. “Aku sedang tidak memegang ponselku. Nggg, apa kau yang menyelamatkanku malam itu? Melarikanku ke rumah sakit ini? Goma-”

“Ya, itu aku. Tak perlu berterima kasih. Simpan semua rasa terima kasihmu, jangan kau obral dengan mudah, harganya sangal mahal,” potong Ken  dingin. “Bagaimana kabarmu? Apakah koma seminggu membuat tubuhmu seperti lumpuh sejenak?

“Ya, hanya beberapa jam terasa aneh ketika digerakkan, sejenis lemas dan linu pada persendian. Sekarang semuanya membaik setelah aku mengikuti program pemulihan fisik, tubuhku tidak lagi lemas dipakai melangkah lama, tidak kaku juga meskipun rasa sakit akibat luka luar yang belum kering total itu masih kuat terasa,” jelas Key sambil menyelipkan rambutnya yang mulai gondrong ke belakang telinga dengan kelingkingnya. Key terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu. Tak lama, ia memutuskan untuk bertanya pada kawan barunya ini, “Ken, apakah menjadi burung itu sangat nyaman?”

Ken tercenung. Pertanyaan ini cukup membuatnya berpikir sebelum menjawab. “Nyaman itu relatif. Tapi, karena kau bertanya padaku, maka aku akan menjawab. Pada dasarnya, burung itu memiliki kebebasan untuk terbang, mengikuti musim bergerak. Ia dapat melihat dunia lebih banyak, memandang dari atas adalah sudut terbaik karena meskipun semuanya terlihat sangat kecil, banyak hal yang dapat tertangkap mata. Aku pun sama, banyak melihat hal-hal sepele namun jika dirasakan, semua itu sangat menarik.”

Key mengangguk pelan, merasa jawaban Ken sangat berkesan, memberikan kesimpulan secara tidak langsung. Menjadi burung, melihat banyak kehidupan, pemikiran seperti ini kemudian membuat Key ingin bertanya lebih lanjut. Ia melamun sesaat, lalu melanjutkan rasa penasarannya. “Ken, apakah dengan melihat dunia maka seseorang bisa berubah?”

“Cenderung tidak bisa, tapi tergantung individunya.” Ken menjawab mantap. “Sebenarnya bukan dengan melihat, lalu seseorang akan berubah. Tetapi lebih dikarenakan oleh kondisi sekitarnya, ia terdampar pada suatu tempat baru yang mengharuskannya untuk berubah, suka ataupun tidak,” papar Ken sembari melemparkan pandangannya pada dunia di luar jendela.

Key menyimak seksama jawaban Ken hingga pada akhirnya ia menatap Ken dengan sorot mata penuh keyakinan, tidak lagi kosong seperti sebelumnya. “Kalau begitu Ken, bawa aku ke dunia yang berbeda. Aku merasa jemu terus seperti ini.”

***

Mencekam, tidak ada yang bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Dua yeoja itu akhirnya saling melempar pandang untuk saling menanyakan ‘hal apa yang sebaiknya dilakukan?’. Mereka berdua sama-sama tak tahu jawabannya. Jangankan meredakan isak tangis Nyonya Kim, mereka sendiri sebenarnya ingin segera menumpahkan air mata, namun tidak ingin membuat suasana bertambah memilukan.

Bukan kegembiraan yang justru mereka dapatkan begitu tiba di ruangan Key, melainkan berita mengejutkan sekaligus memukul batin mereka. Key hilang dari tempat tidurnya dengan hanya meninggalkan secarik kertas bertuliskan ‘Aku pergi, ingin melihat dunia’.

Firasat seorang sahabat memang lebih sering terbukti kebenarannya, entah mengapa Ha In begitu ingin mengajak Hana untuk datang membesuk Key lagi. Hana menyetujui, meskipun ia tidak yakin Key akan menerima mereka dengan baik. Kemarin malam saat berhubungan melalui sambungan telepon, Nyonya Kim—eomma-nya Key sekalipun—mengatakan bahwa anaknya memang sulit dimengerti, wanita itu saja merasa gagal memancing respon positif dari Key. Namja itu tidak menolak untuk diterapi, dibersihkan lukanya, dan menjalani perawatan intensif. Namun tetap saja, mulutnya tak menanggapi hal-hal lain di luar kepentingan pengobatannya.

Nyonya Kim sempat tidak sadarkan diri setelah membaca pesan singkat tersebut. Begitu tersadar, ia kembali menangis, nyaris terdengar seperti raungan. Wajar jika wanita itu sangat mengkhawatirkan anaknya. Baginya ini sangat mengerikan. Key yang terbiasa hidup dalam perlindungan aman dirinya, kini melangkah entah ke mana dan sedang berada di tempat seperti apa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Key makan, berlindung, dan… Key bahkan pergi tanpa membawa selembar uang pun kecuali ponselnya yang terdapat di laci meja yang ada di sebelah ranjang rawatnya.

“Bagaimana Key hidup nantinya?” tanya Nyonya Kim cemas. Membayangkan Key hidup terlunta di jalanan membuat tangis Nyonya Kim kian menjadi. “Oh, bahkan Key baru dua jam menghilang, rasanya sudah seperti tergantung di ranting rapuh yang jika patah, aku akan terjatuh dan mulut jurang menanti untuk bercengkrama. Bagaimana kalau Key memang tidak pulang sampai besok? Sampai minggu depan? Bulan depan? Atau bahkan selamanya? Aku benar-benar akan kehilangan nyaris seluruh jiwaku jika itu memang terjadi,” bisik Nyonya Kim, terkesan mendramatisir jika orang tak dikenal kebetulan mendengar.

Hana dan Ha In tidak sanggup berkata bijak, menghibur ataupun sekadar saling menguatkan. Rasa cemas yang begitu besar pun tengah menggelayuti pikiran keduanya, meskipun tidak akan setara dengan apa yang dirasakan oleh Nyonya Kim. Keduanya menerka maksud kalimat singkat pada pesan Key tadi.

Melihat dunia. Jadi selama ini Key merasa terkungkung? Ah, rasanya tidak. Nyonya Kim bukanlah tipe ibu yang otoriter sekalipun ia memang tergolong cukup cerewet. Ha In bahkan merasa iri melihat bagaimana Nyonya Kim mencurahkan kasih sayangnya pada Key, melihat bagaimana Nyonya Kim tersenyum tulus menyambut Key pulang, dan melihat bagaimana Nyonya Kim mencemaskan Key ketika namja itu terbaring sakit. Ha In bahkan sudah belasan tahun merasa tidak diperhatikan sedemikian rupa oleh eomma-nya.

Apakah Key merasa terbebani? Hana menyimpulkan ‘iya’. Hana merasa bahwa rasa tertekanlah yang memicu semua ini. Sekalipun bisa saja namja itu memilih untuk mengabaikan semua statement yang selama ini memojokkannya, sedikit banyak kalimat-kalimat itu mendekam di dasar otaknya dan lama-lama tertimbun hingga menggunung. Ketika ketinggiannya sudah mencapai titik maksimum. Duarrrgh!! Meledak, memporak-porandakan pertahanan diri Key dan memberikan dorongan kuat pada namja itu untuk mencari dunia yang baru. Entah dunia apa yang Key cari, ketiganya tidak dapat menerka. Dugaan manusia ada batasnya, bukan?

“Bibi….” Ha In memberanikan diri bicara, ia mengalahkan semua perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya.

Ha In merasa, meratapi takdir bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan. Setidaknya, Key belum meninggalkan dunia ini dalam arti yang sebenarnya. Key hanya berpindah ke sudut dunia yang lain yang belum terprediksi. Setidaknya, peluang bahwa Key akan kembali masih ada. Atau jika memang Key tidak berniat kembali dalam waktu dekat, masih ada usaha yang bisa dilakukan untuk ‘memaksa’ Key pulang.

“Bi, kita masih bisa berusaha. Bagaimana dengan memasang iklan di media cetak bahkan jika perlu d televisi? Oh tidak, terlalu berlebihan jika memasang di media elektronik visual, kita mulai dari radio dan surat kabar saja. Aishhh, hal terkecil, kita mulai dengan menanyakannya pada teman-teman di kampus. Apa Bibi setuju?” tanya Ha In pada akhirnya.

***

Kali ini Ha In tidak duduk di teras seperti biasanya, menikmati sore dengan bercengkrama bersama Yoochun. Pikirannya bertambah kusut berada di rumah yang tidak pernah lepas dari hiruk-pikuk. Akhirnya ia menerima tawaran Yoochun untuk pergi ke suatu tempat.

Dataran yang lebih tinggi dari sekitarnya, semacam bukit di mana dirinya bisa melihat pemandangan Seoul di malam hari dari tempat itu. Setidaknya, semilir angin dapat menyejukkan pikirannya, berada di alam terbuka mungkin merupakan solusi baik untuk meredakan emosi dan rasa kalutnya. Duduk di hamparan rumput alam memang menyenangkan.

“Lupakan dulu Key sementara belum ada yang melaporkan, beri juga waktu agar pengumuman dan iklan di beberapa media cetak tersebar.” Yoochun mengelus pelan rambut Ha In, lalu menarik kepala itu ke dadanya.

Ha In tercengang dengan perlakuan Yoochun yang mendadak itu. Namja itu selalu penuh kejutan, mampu menggetarkan hingga ke organel yang ada di dalam tubuh Ha In, memporak-porandakan pertahanan diri yang setiap hari dibangunnya agar tidak terjatuh lebih dalam dalam pesona namja itu. Usaha hanya usaha, semakin Ha In mencoba, semakin ia tersihir dengan semua hal yang melekat pada diri Yoochun. Ia tak kuasa menolak. Pada akhirnya Ha In takluk, ia bersandar pada dada bidang namja itu.

Oppa, apa mungkin Key menginginkan dunia baru? Yang bebas tanpa tekanan? Sekarang pun aku merasa damai jauh dari rumah yang memusingkan kepala. Oppa, apakah mungkin Key ingin terbang layaknya burung terbang tanpa hambatan?”

“Tidak Ha In, burung tidak terbang semulus yang kau pikirkan. Andaikan mata kanan mereka ditutup, mereka tidak dapat terbang dengan baik. Apa kau tahu? Mata kanannya memberikan informasi ke otak bagian kiri. Burung melihat medan magnet sebagai warna terang atau gelap. Sebebas-bebasnya ia terbang, akan ada suatu kondisi di mana geraknya akan terhambat [5]. Sama seperti Key, walaupun ia melangkah jauh meninggalkan kehidupan lamanya, rasa sayangnya pada eomma-nya, pada kalian, akan mengacaukan arahnya hingga berbalik pada kalian. Percayalah, orang seperti Key masih akan menggunakan hatinya.”

Ha In mengangguk, masih dalam belaian Yoochun. Untuk sementara waktu ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan dan kelembutan pria yang dicintainya ini, merasakan kedamaian yang terpancar dari jemarinya.

Oppa, kau kan sudah punya istri. Lalu…errr, aku penasaran…-” Entah dorongan apa yang merasuki pikiran Ha In, ia berucap tanpa berpikir panjang, terlontar begitu saja tanpa alasan yang jelas. “Oppa, apakah setelah seorang pria menikah berarti semua pintu baginya untuk melihat yeoja lain telah tertutup?”

“Sesungguhnya pintu di dunia ini tidak ada yang pernah tertutup sebelum kematian menjemput. Tidak ada kondisi yang benar-benar statis, bahkan elektron sekecil itupun masih bergerak pada jalurnya, dapat berpindah ke lintasan lain.” Yoochun menjawab sembari tersenyum. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau mau berusaha memikatku?” Seperti biasa, bercanda di akhir kalimatnya, dengan sedikit maksud menyindir.

Wajah Ha In memerah, pertanyaannya begitu bodoh, membuatnya terjebak dalam posisi mati kutu, membeku di dada Yoochun. Untung saja bukan Yoochun yang bersandar di bahunya, kalau tidak, rasanya suara jantung yeoja itu masih akan terdengar oleh telinga Yoochun.

“A-ani, kau terlalu berpikir jauh. Untuk apa aku tertarik pada namja yang sudah beristri, sudah seperti bocah yang mengidolakan ajusshi saja. Di luar sana banyak namja tampan, masih lajang pula!” Ha In kalap, mengelak asal tanpa menanyakan persetujuan hatinya lebih dulu. “Ya! Oppa, tunggu dulu. Berarti kau menganggap kalau selingkuh adalah hal yang mungkin terdapat di dalam kamusmu?”

Yoochun tersenyum santai. “Perlukah aku menjawab? Apa gunanya aku menjawab? Kalau aku memilih tidak ingin menjawab, bagaimana?”

***

Dari depan, bangunan itu tidak mirip dengan tempat hunian. Gelap, terasnya penuh onderdil yang berserakan di berbagai titik dengan dinding yang dipenuhi goresan-goresan grafiti. Jangankan bunga warna-warni menghiasi pekarangannya, siapapun yang melintas hanya akan mendapati tumpukan ban di sisi-sisi yang merapat ke tembok.

Tapi begitu Key telah melewati satu ruangan, ia dibuat terkesima oleh pemandangan di dalamnya, rapi. Ia sungguh tidak menyangka kalau bangunan ini bahkan berisikan televisi flat super besar, yah, meskipun memang tidak ada sofa empuk di hadapannya. Key hanya mendapati sebuah meja pendek lebar yang terbuat dari kayu dan sebuah tong lebar yang dialihfungsikan menjadi tempat duduk.

“Duduklah!” Ken memberi komando dingin. “Kau telah memilih, maka kau harus bersiap menerima. Aku bukan malaikat suci yang baik. Aku adalah setan dalam tubuh manusia, ya, orang-orang menjuluki kami seperti itu,” tambahnya seraya membuka kaos yang dikenakannya.

Apa yang tampak setelah kaos itu terlepas dari tubuh Ken adalah, goresan tato-tato hitam yang membentang vertikal dari mulai punggung atas hingga bawah. Key terperangah, otaknya mulai bereaksi.

“Apa kalian identik dengan tato?” tanya Key sembari duduk di salah satu tong yang dijadikan kursi tadi.

Ken melirik cepat lalu menanggapi, “Ya, tato adalah bagian kecil dari kami. Kau ingin punya?” Ia tertawa kecil begitu pandangan matanya terfokus pada sesuatu . “Huh, geli. Jangan pernah duduk dengan cara seperti itu. Duduk dengan kaki kanan menindih kaki kiri seperti itu menjijikkan, seperti tante girang sedang arisan,” ejek Ken sambil menendang kaki Key, ia sama sekali tidak menggubris pertanyaan Key.

“Ya! Sakit! Aku baru saja pulih pasca kecelakaan tahu!” Seperti anjing yang tidurnya terganggu, Key marah.

“Hiss, jangan bilang kau mau ditato kalau ditendang pelan seperti tadi saja sudah sakit. Tato adalah simbol kekuatan bagi sebagian orang. Karena kau harus menanggung banyak resiko ketika memutuskan untuk memilikinya di tubuhmu, termasuk menahan rasa sakit ketika proses pembuatannya,” cibir Ken sinis.

Key bungkam, pelan-pelan kakinya berubah posisi, membuat jarak yang cukup lebar satu sama lain. Setelah itu ia melepaskan jaket Ken yang tadi dipinjamnya agar dapat mengelabui petugas rumah sakit, meletakkannya ragu-ragu di meja kayu yang ada di hadapannya. Ia memang ditawari Ken untuk menggunakan jaket tersebut walaupun sebenarnya merasa sangat risih menggunakan jaket kulit hitam macam itu. Memang rasanya perih ketika luka di sisi sebelah kiri tubuhya—yang beberapa di antaranya masih terbungkus perban dan plester itu—tersentuh bahan jaket. Apa daya, bagaimana bisa ia keluar jika pakaian ala rumah sakit masih terihat melekat di tubuhnya?

“Hey, aku mendengar suara orang asing. Kau datang bersama siapa, Ken?” Seseorang datang, dia adalah Nara, satu-satunya yeoja di dalam komplotan yang Ken bentuk. “Woww, kejutan! Hey Cantik, kau sengaja datang ke sarang penyamun?” Nara mencolek dagu Key sembari menyeringai, membuat Key bergidik. Merasa lucu melihat ekspresi takut Key, ia melepaskannya, dengan sedikit tawa mengejek.

“Dia? Katanya dia ingin menjadi seperti kita, burung yang memiliki kebebasan,” tanggap Ken yang tidak lama kemudian kembali menatap Key. “Tidak apa, aku pernah punya perasaan yang sama, Key. Nikmatilah proses ini. Nara-ya, kau bisa sedikit memolesnya? Kurasa tatapan matanya cukup menarik jika tidak lagi terlalu lembut.” Ujung bibir Ken terangkat, ia mendongakkan dagu Key dan menelisik wajah itu dengan seksama.

“Jangan meremehkan aku dengan perlakuan seperti itu. Sudah cukup, aku datang kemari bukan untuk direndahkan.” Key menepis tangan Ken, ia bangkit dan berjalan mendekati Nara yang kini sedang meraih sebuah gitar yang ada di pojok ruangan. “Nara-ssi, lakukan apa yang terbaik. Sembunyikan aku, sembunyikan wajahku yang kau bilang cantik.”

“Menarik, ckck,” gumam Ken sembari tersenyum puas. “Bagus, jangan pernah mau diremehkan siapapun. Buktikan bahwa kita adalah yang terkuat. Kita bukan orang yang terbuang lagi, kita bisa lebih unggul dari mereka yang hanya berani berlindung di dalam naungan ketiak orang tuanya. Jalanan akan membuktikan siapa pemenang yang sesungguhnya. Kau gentar, maka kau tersisih. Kau lamban, maka kau akan lenyap termakan keganasan.”

“Tunggu. Key, kau bergabung hanya untuk merasakan sensasi kebebasan?” Nara menyelidik penuh curiga. Melihat penampilan Key yang terlihat terurus, ia tidak yakin bahwa Key adalah satu dari sekerumun orang yang merasa keberadaannya tak dianggap.

Ani, ada tujuan lain. Aku, ingin…-” Key menelan ludahnya sesaat, mengepalkan jemarinya untuk mengumpulkan semua tekadnya. Ia kemudian berteriak garang, “Ya! Aku ingin membuat mereka semua bungkam! Aku ingin mereka semua—yang selama ini mengatakan aku banci—tutup mulut dan tunduk mengakui bahwa aku adalah seorang namja. Mereka yang selama ini merendahkanku, nantinya bahkan tidak akan berani menegakkan kepalanya ketika memandangku. Aku lelah, aku ingin memberontak. Aku ingin mereka semua, semuanya tanpa terkecuali, mengakui bahwa seorang Key tidaklah sepengecut, sefeminim, se– ah, apapun itu. Aku adalah Key, burung yang telah lepas untuk mengasah keberaniannya menantang dunia luar!” Seluruh tenaga dikerahkannya untuk berteriak, melepas semua beban yang selama ini menekannya dan membuat pikirannya resah . Seketika merah itu menjalar, memenuhi seluruh kulit wajahnya, bertemankan peluh yang diam-diam merembes dari pori.

Begitulah, diam terkadang petaka. Memendam adalah bahaya terbesar yang mengancam. Sekalinya buncah, maka akan termuntahkan tanpa mengenal arah. Tumpah ruah, entah melalui aliran arus yang mana, yang kemudian terhanyut dalam pusaran air nan dahsyat. Blammm! Bagaikan mantera sakti yang dapat meluluhlantakkan, mendobrak semua pertahanan diri dan kesabaran.

Ken tersenyum miris. “Kau puas berteriak, Key? Berteriaklah, bebaskanlah perasaanmu. Apapun tujuanmu, niatmu, nyatanya kau dan kami serupa. Sama-sama sekumpulan makhluk yang muak terhadap sistem. Begitulah dulunya kami terbentuk.”

To Be Continued

Big thanks buat Nandits yang udah mau ngoreksi ff ini. Juga buat Nidji atas lagu ‘Arti Sahabat’-nya, aku butuh terhanyut dalam suasana, ngerasa akhir-akhir ini jiwa cueknya mulai mencuat lagi, jadi agak susah ngerasain.

Makasih buat semua yang baca, dan yang bersedia memberikan masukan, atau minimal kesannya. Jujur, aku ngerasa ga pede banget. Bolak-balik baca part 5-6-7, ngerasa ada yg ga sreg, tp ga tau apa. Jadi aku pingin tau pikiran readers tt ff ini.

Give me oxygen ya?😀

Catatan Kaki:

[1]

Aku dapet dari status fb tanteku, udah dapet izin orangnya kok

[2]

Terinspirasi dari iklan Pentene Taiwan tentang gadis pemain biola yang bisu

[3] Tentang kondisi vegetatif:

  • Kondisi vegetatif adalah kondisi terjaga tanpa kesadaran diri dan lingkungan,  Link
  • Pasien bisa saja sesekali membuka-menutup mata, bahkan menangis, tetapi semua gerakan ini muncul tanpa disertai kesadaran,  Link 

[4] Tingkah aneh orang yang habis koma, Link

[5] Burung ‘melihat’ arah dengan mata kanannya, Link

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Namja – Part 6

  1. wow part 6 keluar!!
    ini baru seru!!! kl yg seblmnya aku blm gregetan bacanya,tp sekrng udh🙂 Jadi key mau jd preman? preman pasar mana? #plak

    key-ken wah keren nih. eh iya aku baru sdar teman2 key depannya huruf ‘H’ semua (kecuali in young) Hana, Heera, dan Ha In, Kayak kembar.

    Hahaha itu lucu waktu key duduknya dengan cara ‘itu’. haha kayak tante2 arisan. Itu si ken mau jadiin key apa? Jangan2 niatnya mau jahat atau bahkan membantu key ngelurin masalahnya. Wah kayaknya part selanjutnya seru!! Keynya jadi berandalan! Yeay!

    Lanjut!🙂

    1. Preman pasar bogor, wkwkwk

      iya ya h smua awalnya. Aku suka h. Karena nama asliku diawali dengan h, haha, canda ding.

      Part 7 udah keluar tuh😀
      Makasih ya hana udah setia banget ama ff ini ^^

  2. jiah.. Kenapa otakku tiba2 mampet pas mau ngomen??
    Yap, sesuatu yg dipendam memang akan mengerikan ketika meledak..
    Bagian key ngusir hain n hana itu bagian paling nyesek..
    Lanjutkan, bib.. Aku selalu nunggu ni ff.. Habis kalo di wp-mu di-protect.. Aku males minta pw.. Ehehe..
    Hwaiting!

    1. Loh knp males? tinggal sms ato email aja. Sebenernya aku jarang ngepasword lama2 sih. Biasanya buru2 kupasword kalo nyadar ada cacattt, hhehe…

      Makasih ya eonni buat support-nya ^^
      Makasih juga udah setia nongol di tulisanku

  3. tadix g mau baca cz udh baca…
    tp sbg readr yg baik (?),aq g blh mangkir dr janji hehehe…
    klo d lht2 kykx ni bkl panjang y bib…
    kshan key…hrz trtkan kyk gt,sampe ngusir temenx sgala…
    ju2r i2 part plg nyesek sklgus nyebelin bwtq…
    krn i2 nunjukin si2 lmah & trtkan key…
    aq g suka klo key klhtan lemah o_o

    1. Iya, bakal panjang ini mah eon. Heheuuu, abis klo buru2 ntar jd ngaco.

      Wajar sih tertekan jd ngusir orang, aku kadang2 gitu jg klo udh memuncak

      Makasih ya eonni dah 2x mampir😀

  4. Aaaah, part 6 udah out. Dah gak galau lagi loooh~
    Kok malah gak suka persepsi bang Ken it sih, yang soal terkuat it. Si Bibib nih, ngajarinny gak bener. Kalo Key kenapa”, habis lu digerek sma lockets #gaje

    Itu juga sih Key, kalo mau jadi namja yang keren noh berguru sama Jjong. Biar tiap hari disuruh ngangkat barbel haha

    Okeh okeh, next part gak lama kan yah. Ak selalu terpukau sma narasi mu soalny. Jadi kebayang pengen bisa ngeksplor tulisanku sekeren ini.

    1. Ahaha, iya diriku sesat ya? Tenang2 sodara sebangsa setanah airku, semua kesesatan ini akan mengerucut pada sesuatu yang bermakna baik (?)

      Key mengambil jalan yg salah ya. Hmmm, sebenernya ini cukup banyak terinspirasi dari kisah temen2ku waktu SMP. Banyak yang masih ingin mencari jati diri tapi kemudian bertemu figur yang salah, eh jd sesat deh

      Aih, mirror-mu itu keren kok boram ^^d

      Makasih ya say udah mampir😀

  5. keren banget kata2nya, eonn…. tapi aku ngerasa ff ini berat banget, d. kl otak baru siap diksih ujian ama tumpukan soal MIPA, kyknya ga bakal sanggup baca ff ini… #lebeeee

    btw, ngerasa agak aneh aja ama Key yg kyk gt. yah, gimanapun sikapnya yg agak feminin kan bukan salah temen2ny, jadi dia g seharusnya ngediamin mereka, terlebih eommanya….

    key bakal jadi preman atau gmn, nih? jangan dibuat jadi antagonis, y!!! pleaseee…..

    btw, good job, eonn!

    1. Bener, ga salah kok km ngerasa key aneh. semoga penjelasan ke depannya bikin ini jdi logis ya😀

      Ga antagonis gimana2 kok. Setiap orang punya 2 sisi kan? jahat n baik.

      Makasih ya udah mampir😀

  6. DAEBAKKK!!! ‘_’)b
    part ini seru banget, jadi ga sabar dgn part 10 nya
    Key bakalan jadi sprti apa stelah gabung ama Ken? Aku jd ngebayangin Key wktu nyanyi RDD rock ver. dgn pakaian serba hitam + gris mata yg tajam hwaa kerenn,
    tp aku ttp brharap Key nya balik kn kasian eommanya.
    Ok next part ditunggu, Fighting thor!!

  7. kyaaaa tbakan q bnar.. akhirnya key mngikuti ken…. ya ampun key .q nggk tau klo ngikuti ken itu baik ato buruk… tpi melihat ken yg di penuhi tato dan menjunjung tinggi kebebasan mmbuat q cmas sma key… jgn jtuh ke dlam lubang yg akan menyeretmu trus menerus key… brubah boleh.. bebas boleh tapi hrus bebas yg bertanggung jwab..
    key berfikirlah dua kali aniii berkali kalii… q snang key yg nurut orangtua nya…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s