Bodyguard Scandal – Part 4

Judul : Bodyguard Scandal

Author : Ayachaan

Main cast : Lee Taemin dan Park Yoon Hee (OC) as You

Support cast :

  • Lee Jinki as Taemin’s brother
  • Kim Jonghyun, Choi Minho and Kim Kibum as Taemin’s friends
  • Presiden Lee Se Jong as Taemin’s father.
  • Yunho as Park Yoon-hee’s sunbae.
  • other

Genre : Romance, Family Life

Rating : PG 15

A.N : Annyeong… saya balik lagi bawa FF. FF ini terinspirasi waktu saya liat ‘City Hunter’. Ngerasa keren gitu ya kalo ada bodyguard perempuan seperti Kim Na-Na dan…jadilah FF ini. FF ini pernah saya share di http://ffshineeshawol.wordpress.com . tapi, biar banyak yang baca saya share disini juga. (Oya, reader… mampir jg nyok ke WP tadi #promobanget ^^V). Kamsahamnidaaa~ admin dan reader yang baik hati mau ngepost dan membaca FF saya. Happy Reading ^^.

Note : All of this story use Author or Normal POV. Ada titik dua kebawah berarti beda adegan tapi masih diwaktu yang berdekatan. Dan bisa juga POV narasi yang digunakan lebih mengarah pada satu tokoh.

BODYGUARD SCANDAL PART. 4

Udara musim pergantian musim panas ke musim gugur berhembus pelan melayangkan helaian anak rambut Yoon-hee yang tidak ikut terikat. Matanya menatap lurus keundakan tanah didepannya. Setetes kristal bening meluncur pelan di pipi halusnya ketika pandangan matanya beralih keundakan batu kelabu yang didalamnya terukir nama Park Young-hwa—Ayahnya.

            “Appa, mianhae.” Hanya sebuah kalimat pendek yang keluar dari kedua bibir cherrynya. Disampaikan dengan sangat pelan dan penuh penyesalan.

            Apakah Ayahnya akan sangat marah pada dirinya?. Apakah Ayahnya merasa bahwa ia bukan anak yang baik?.

            Yoon-hee kembali terisak, butiran sebening kristal terus mengalir turun dipipinya. Mengingat janjinya pada sang Ayah untuk bisa menjadi Pengawal Kepresidenan yang berwibawa seperti Ayahnya. Tapi sekarang, bukankah ia sudah mengingkari janji itu. Bukankah keputusannya untuk menuruti permintaan Taemin adalah kesalahan besar. Bukan, mungkin bukan hanya keputusannya, tapi juga perasaannya.

            Keputusan yang didorong oleh perasaan. Entah perasaan seperti apa yang tengah hadir dihati Yoon-hee. Sebuah rasa halus yang hangat ketika ia melihat Taemin tersenyum, tertawa, bahkan ketika Taemin sedang marah. Meskipun ia juga merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman, seperti secuil sakit disudut hatinya, ketika ia menyadari Taemin marah padanya dan tidak menyukai kehadiarannya—meskipun hanya sebagai pengawal pribadi.

            Yoon-hee menghapus sisa-sisa airmata dipipinya yang hampir mengering. Membungkuk beberapa kali dan mengelus permukaan batu kelabu tempat nama sang Ayah terpahat. Menghaturkan permintaan maaf beberapa kali didalam hatinya. Kemudian dengan nafas berat beranjak meninggalkan makam sang Ayah. Mungkin Ayahnya belum memaafkannya, tapi Yooon-hee bertekad untuk menebus semua kesalahannya.

Drrrrrttt… drrrrttt…

            Yoon-hee merasakan getaran dari ponselnya. Ia menurunkan tasnya dan merogoh kantong kecil didalamnya untuk mengambil ponselnya. Ia menekan tombol virtual hijau dan menempelkan ponselnya ketelinga.

            “Yoboseyo, Oppa?” sapa Yoon-hee pada orang diujung telpon. Ia sudah membaca nama yang tertera dilayar ponselnya tadi—telpon dari Yunho.

            “…”.

            “Aku baru saja mau pulang dari makan Appa, waeyo Oppa?.” Dikeseharian, Yoon-hee lebih senang memanggil Yunho dengan panggilan ‘Oppa’ ketimbang ‘Sunbae-nim’. Karena memang ia sendiri telah menganggap Yunho—yang notabenenya sahabat karib sang kakak—seperti kakaknya sendiri.

            “Ne, aku baik-baik saja, Oppa.” Jawab Yoon-hee dengan nada pelan. Menyadari keadaan yang sebenarnya justru berbanding terbalik dengan apa yang dikatakannya. Ia sedang tidak baik-baik saja, tapi ia tidak ingin mengakui itu. Biarlah, biarlah ia sendiri yang tahu.

.

.

            “Yoon-hee, kau dimana?.” Tanya Yunho begitu mendengar suara Yoon-hee diseberang sana.

            “…”.

            “Ne, apa kau baik-baik saja?.” Tanya Yunho lagi. Berniat memastikan seperti apa keadaan gadis itu.

            “…”.

            “Baiklah. Jaga dirimu. Sampai nanti, annyeong.”

            KLIK. Yunho menekan tombol virtual merah di ponselnya begitu dia mendengar Yoon-hee juga mengucapkan ‘Annyeong’. Tadi, gadis itu mengatakan kalau ia baik-baik saja. Meskipun sebenarnya Yunho sanksi, apakah benar keadaan Yoon-hee baik-baik saja. Namun, dia tetap berharap yang terbaik bagi gadis manis itu.

            “Pengawal Yunho?.” Sebuah suara yang familiar ditelinganya mengagetkan Yunho. Yunho berbalik dan mendapati Lee Jinki tengah berdiri dihadapannya.

            “Tuan muda, ada apa?.” Tanya Yunho setelah dia membungkuk pada Jinki.

            “Kau menelpon Pengawal Park?” Tanya Jinki dengan sebuah senyuman. Yunho sedikit mengerutkan keningnya begitu menerima pertanyaan Jinki.

            “Ne, Tuan muda.” Jawab Yunho.

            “Kuperhatikan, sudah beberapa hari ia tidak masuk ‘kan?.” Tanya Jinki, terselip nada penasaran disuaranya.

            “Ia sudah berhenti bekerja, Tuan muda.” Jawab Yunho sambil menunduk. Bagaimana ini?. Bagaimana jika Jinki memintanya untuk mencerikatan alasan Yoon-hee berhenti bekerja.

            “Kenapa bisa?” sahut Jinki cepat begitu mendengar jika Yoon-hee sudah tidak lagi bekerja sebagai pengawal pribadi adiknya.

            Yunho menggerutu dalam hatinya, kenapa pula Tuan muda ini harus bertanya alasan Yoon-hee berhenti bekerja.

            “Ceritanya panjang, dan kurasa… cerita ini cukup diketahui oleh kami saja, para pengawal.” Sahut Yunho. Berusaha menolak keinginan Jinki untuk mengetahui detail cerita dengan halus.

            “Aku hanya ingin tahu, dan mungkin…aku bisa membantu.” Ucap Jinki.

            Yunho sedikit tertegun begitu mendengar kalimat terakhir dari Jinki. Apakah bisa? Apakah jika dia menceritakan seperti apa kejadiannya Jinki akan percaya? Apakah Jinki bisa membantu Yoon-hee pada akhirnya.

            Yunho masih menahan napasnya sambil memandang Jinki yang balik memandangnya, meyakinkan Yunho untuk bercerita padanya.

            “Aku paham, ini pasti ada kaitannya dengan Taemin. Ceritakanlah, aku tidak akan memihak pada siapapun.” Ucapan Jinki akhirnya meyakinkan Yunho untuk menceritakan yang sebenarnya.

            Yunho menghela napas pelan, kemudian memulai ceritanya apa adanya. Tanpa sedikitpun berusaha menyalahkan siapapun. Dia hanya bercerita apa adanya, sesuai dengan yang ia ketahui.

.

.

            “Bisakah aku bertemu dengan Yoon-hee?.” Tanya Jinki setelah ia diam beberapa saat ketika Yunho telah menyelesaikan ceritanya.

            “Tentu, kurasa Yoon-hee pasti mau bertemu denganmu, Tuan muda.” Jawab Yunho sambil tersenyum tipis. Benar ternyata, Jinki bukanlah seorang yang akan memihak pada siapapun. Dia adil dan bisa menilai siapa yang bersalah, siapa yang tidak.

            “Tunggu sebentar.”

Jinki kemudian beranjak meninggalkan Yunho menuju kamarnya. Tak sampai lima menit, dia telah kembali membawa selembar kertas putih yang terlipat.

            “Tolong sampaikan ini pada Yoon-hee. Semoga ia mau menemuiku.” Jinki menyerahkan kertas itu pada Yunho. Kemudian berbalik pergi menuju ruang perpustakaan, berniat kembali menghabiskan waktunya disana.

            Yunho membungkuk sebelum Jinki benar-benar berbalik. Diapun ikut meninggalkan tempat itu dan kembali keruangannya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata bening tengah mengawasi mereka dari balik dinding. Mendengar semua percakapan mereka dari awal. Dan sedikit merasa curiga pada Jinki—kakak si pemilik mata itu.

~~~

            Park Yoon-hee, jika kau ada waktu temuilah aku di restoran Cattlaa Lotte. Saat jam makan siang hari rabu, ku tunggu.

–          Lee Jinki.

Yoon-hee masih menekuri selembar note dari Jinki yang baru saja disampaikan Yunho kemarin ketika dia mampir ke rumah Yoon-hee.

            “Kurasa, aku harus menemuinya.” Gumam Yoon-hee pelan, lebih kepada diri sendiri. Ia lalu beranjak mengganti pakaiannya. Membenahi tatanan rambut dan penampilannya. Kemudian meraih tas coklatnya dan beranjak keluar kamar.

            “Oppa, aku pergi dulu ne~?” seru Yoon-hee meminta izin pada Oppa-nya dari ruang depan rumahnya. Sedikit melongok ke ruang kerja Oppa-nya yang berada disamping ruang tamu. Oppa-nya sepertinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga hanya berguman ‘ya’ dengan samar tanpa mengalihkan pandangannya dari sketsa gedung yang ada didepannya.

            Yoon-hee begitu mengerti dengan watak kakaknya. Hingga ia hanya tersenyum dan keluar rumah tanpa berusaha mendapatkan jawaban verbal dari sang kakak.

            Ini memang belum masuk jam makan siang—tapi sebentar lagi. Dan karena Yoon-hee harus naik dua bus hingga ia bisa sampai ke restoran yang disebutkan Jinki pada note-nya untuk Yoon-hee.

Yoon-hee memandang pemandangan dari balik jendela bus kedua yang dinaikinya. Angin berhembus agak kencang, sepertinya musim gugur akan segera datang. Karena bunga-bunga cherry blossom sendiri sudah mulai berguguran dan dedaunan mulai agak menguning.

Musim gugur, mengingatkan Yoon-hee pada seseorang. Bukan orang yang selalu bersikap baik padanya, tapi entah mengapa ia selalu saja dengan mudahnya bisa teringat pada orang itu. Yoon-hee mengingat sebuah mural lukiran musim gugur di dalam kamar seseorang, sepertinya orang itu menyukai musim gugur.

Lee Taemin, kembali, nama itu berputar dipikiran Yoon-hee.

.

.

            Yoon-hee melangkahkan kakinya pelan disepanjang jalan. Menujukan langkah kakinya ke restoran tempatnya akan bertemu dengan Jinki. Sudah terlihat diujung sana plat tulisan ‘Cattlaa Lotte’.

KRING.

            Restoran bergaya Itali jaman dulu dengan lonceng yang berbunyi ketika pengunjung masuk. Bukan sebuah restoran sederhana, melainkan sebaliknya—hanya saja dikemas nuansa tradisional.

            Seorang namja bermata bulan sabit melambai pada Yoon-hee. Ia tahu, orang itu adalah Jinki. Yoon-hee segera melangkah mendekati Jinki yang sudah menduduki meja untuk dua orang dipojok ruangan, tepat disamping sebuah jendela kaca dengan kusen-kusen kayunya yang terkesan antik.

            “Annyeong haseoyo, Tuan muda.” Sapa Yoon-hee ketika ia sampai dihadapan Jinki dan sebelumnya telah membungkuk hormat.

            “Kau bukan lagi pengawal pribadi, jadi panggil aku Jinki saja.” Sahut Jinki.

            “Ah, ne Jinki-ssi.” Ucap Yoon-hee sambil tersenyum.

            “Duduklah.” Jinki mempersilakan Yoon-hee untuk duduk dihadapannya. Yoon-hee menurutinya dan menarik kursi didepan Jinki.

            Seorang pelayan menghampiri mereka dan mengangsurkan sebuah daftar menu.

            “Kau mau pesan apa?.” Tanya Jinki sambil membuka daftar menu dan mengarahkannya pada Yoon-hee.

            “Sama denganmu.” Jawab Yoon-hee.

Jinki tersenyum mengerti. Yoon-hee pasti belum pernah ke restoran ini, hingga ia takut akan memilih menu yang salah.

“Baiklah, Vegetables Beef Blackpaper dan Pouch Oranges dua.” Pinta Jinki pada si pelayan yang dengan cekatan menulis pesanan Jinki.

“Ne, tunggu sebentar.” Sahutnya kemudian membungkuk, berlalu meninggalkan meja Jinki dan Yonn-hee.

Hening. Karena tidak ada seorangpun dari mereka yang berniat untuk membuka pembicaraan. Yoon-hee menatap keluar jendela yang terbuka. Sambil merasakan hembusan angin pergantian musim. Posisi restoran yang cukup tinggi dan berada ditepi sebuah anak sungai dari sungai Han. Dibawahnya beberapa perahu yang membawa turis berlalu-lalang dengan pelan.

Jinki masih betah mengamati gadis yang ada didepannya ini, hingga akhirnya memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Aku sudah tahu ceritanya.” Ucap Jinki yang mampu membuat Yoon-hee menoleh pada Jinki dengan wajah bertanya.

“Eoh? Maksudmu Jinki-ssi?.” Tanya Yoon-hee dengan bingung.

“Tentang alasan kau berhenti dari pekerjaanmu. Aku sama sekali tidak menyalahkan kau ataupun Taemin.” Jawab Jinki.

Yoon-hee terdiam tanpa memberikan tanggapan atas ucapan Jinki.

“Aku memohon maaf padamu, atas nama Lee Taemin.” Ucap Jinki lagi. Yoon-hee menarik napas sebelum ia menjawab.

“Tak apa, aku sama sekali tidak marah pada Taemin, Jinki-ssi.” Sahut Yoon-hee akhirnya, sambil tersenyum tulus pada Jinki.

“Izinkan aku menebus kesalahan adikku. Bolehkah?” Tanya Jinki. Tangannya mengambil sebuah amplop putih dari balik jas yang dia kenakan.

“Tidak perlu seperti ini, Jinki-ssi. Aku tidak apa-apa.” Yoon-hee sedikit merasa tidak enak. Sepertinya, namja yang ada didepannya ini sedang sangat serius dengan semua perkataannya.

“Aku merekomendasikanmu pada Professor-ku dulu, ketika aku belajar di Inggris. Dan, kau diterima untuk memperoleh beasiswa sesuai dengan bidangmu—Hukum. Kau hanya tinggal melengkapi administrasinya. Dan ini perintah, bukan permintaan, Park Yoon-hee!.” Kata Jinki tegas. Mengulum senyumnya ketika melihat wajah Yoo-hee yang begitu terkejut.

“Tapi, Jinki-ssi. Ini terlalu berlebihan. Aku tidak bisa, Mianhae…” jawab Yoon-hee. Kepala menggeleng pelan, tanda ia tidak enak dengan ide ini—meskipun sebenarnya ia haus juga akan sekolah dan ilmu.

“Sudah kubilang ini perintah!. Perkulihanmu akan dimulai bulan depan, jadi minggu depan kau sudah harus berangkat ke Inggris.” Sanggah Jinki.

Ah, kedua kakak beradik ini ternyata tidak beda jauh. Sama-sama seenaknya saja. Lee Taemin ataupun Lee Jinki, sama saja. Selalu bersikap seenaknya saat menyuruh orang lain melakukan sesuatu.

Yoon-hee hendak membantah, namun urung karena seorang pelayan telah datang dan menghidangkan pesanan mereka.

“Makanlah! Anggap ini permintaan maafku atas nama Taemin. Dan ini adalah Administration Letter yang harus kau lengkapi.” Jinki tersenyum manis pada Yoon-hee, membuat mata sipitnya menjadi segaris dan pipi bakpaonya menggembung sempurna. Tangannya yang kekar menggeser amplop putih tadi kehadapan Yoon-hee.

“Bagaimana caraku untuk mengucapkan terimakasih?” Tanya Yoon-hee pelan.

“Belajar dengan baik dan kembali ke Korea. Lalu perbaikilah hubunganmu dengan Taemin. Itu sudah lebih dari terimakasih bagiku.” Jawab Jinki masih dengan senyumannya.

“Sudahlah, makan saja dulu. Kalau kau kebingungan mengurus berkas-berkas itu, aku akan membantumu.” Lanjut Jinki.

Yoon-hee mengangguk-angguk paham. Ia tersenyum pada Jinki yang dibalas namja itu dengan cengiran lebar. Namja ini, Lee Jinki, sudah terlalu baik padanya. Entah bagaimana, tapi Yoon-hee merasa jika Jinki bisa membaca pikiran orang lain. Buktinya tadi, dia meminta Yoon-hee untuk memperbaiki hubungannya dengan Taemin. Apakah Jinki tahu apa yang sebenarnya Yoon-hee rasakan pada adiknya itu?. Aish… tidak, jangan sampai Jinki tahu, atau ia akan merasa malu pada Jinki seumur hidupnya.

~~~

To be continue…

Part. 4 selesai… mari tunggu part. 5 nya. Please I need your comments so much. Kamsahamnidaaa~.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “Bodyguard Scandal – Part 4”

  1. kyaaaaaaa udah selesai thoor ;( ayooo lanjut lanjuuut penasaraaan selanjutnya gimana, taem sama yoonhee barengan aja deh yaa yaa? hehe 😀

    1. belum, masih ada 2 part lagi, tungguin ya?
      Taemin-Yoonhee bareng? boleh aja asal mereka berdua mau, hihi
      gomawo ya udah sempetin mampir ^^

  2. Aaaa akhirnya keluar lanjutannya 😀
    Thor kenapa pendek bangeet? T__T
    Onew suka yoonhee ya thor? Nanti rebutan sama taemin ya? :p *kepo*
    Updatenya yg cepet ya thor, penasaran *o*b

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s