The Colour of Young Marriage [1.2]

The Colour of Young Marriage – Love 1

Author             : Saika Kurosaki aka Papillon Lynx

Main Cast        : Lee Taemin SHINee, Kim Shin You (OC)

Support Cast    : Nyonya Lee, Lee Yurra (OC), Lee Jinki SHINee as Kim Jinki, Ahjumma

Genre              : Romance, Teen, Marriage Life

Length             : Twoshoot

Rating              : PG-13 – PG-16

Summary         : Kami dijodohkan. Ya, memang begitulah kenyataannya. Tapi, bahagiakah kamu jika kamu memiliki seorang yang selalu orang-orang katakana adalah istrimu namun belum pernah dan tidak pernah berada di sampingmu sedetikpun? Bahkan, aku belum pernah melihat wajahnya. Tak ada foto, tak ada satu benda pun yang dapat membuatku sedikit mengenal “istriku” sendiri. Seperti apakah dia? Dan kenapa dia tak pernah menemuiku sekalipun selama tiga tahun pernikahan kami? Apakah pernikahan ini pantas untuk dipertahankan? Ada apa dengannya? Apakah ia tak mencintaiku?

  1. N                 :

Annyeong readers semua!! Aku balik lagi nih. Gimana? Setelah baca summarynya, apakah tertarik? Semoga. Oke deh, langsung saja. Jangan lupa RCL ya! ^^

ALL POV IS AUTHOR’S POV

***

TAEMIN menutup pintu kamarnya dengan kasar dan langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur king size miliknya. Taemin memejamkan matanya beberapa saat sampai akhirnya ia bangkit dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur bersprei hitam-putih miliknya dengan posisi kedua kaki yang ia tekuk ke atas. Helaan nafas Taemin terdengar teratur. Namun, jika dilihat dari ekspresi wajahnya yang tampak gusar, jelas saja Taemin sedang tidak baik-baik saja untuk saat ini.

Setelah sekian lama terdiam dengan posisi seperti itu dengan satu masalah memuakkan yang akhir-akhir ini berkeliaran dalam benaknya, akhirnya Taemin mendesah. Tangan kanannya terangkat dan mengusap wajahnya perlahan. Dan ketika Taemin menjauhkan tangan kanannya itu dari wajahnya, Taemin tercenung. Dilihatnya sebuah cincin perak sederhana yang melingkar di jari manis tangan kanannya.

Taemin memandangi benda yang melingkar di jari manisnya itu lekat-lekat, seolah itu adalah benda asing yang tiba-tiba saja melingkar di jarinya. Tapi, tidak. Cincin itu sudah bersamanya sejak 3 tahun silam. Dan keberadaan cincin itulah yang membuatnya terus bertanya-tanya selama ini. Tak hanya pada dirinya, tapi juga pada kakaknya Lee Yurra, dan juga kedua orangtuanya.

Kembali teringat dengan perkataan teman-temannya di sekolah tadi yang membuatnya muak, kini dengan melihat cincin perak itu, membuat perasaan dan pikirannya menjadi semakin tak karuan.

Namun, lagi-lagi Taemin hanya bisa mendesah. Kali ini terdengar panjang, mengekspresikan betapa tertekannya ia menjalani keadaan yang membosankan seperti ini selama 3 tahun. Dan juga harus menerima berbagai olokan teman-temannya di sekolah yang meragukannya. Tak ada pilihan, akhirnya Taemin kembali mengingat perkataan teman-temannya tadi.

FLASHBACK

 

“Ya! Taemin-ya! Lihat, gadis itu sungguh menawan, bukan?” Taemin yang sedang duduk dan menyesap frappucinonya di kantin, langsung menoleh pada Minho, temannya. Namun Taemin tak menghiraukan perkataan Minho dan hal itu membuat Minho kesal. “Ya! Kau mendengarkanku, tidak? Aish, jincca! Apa kau tak pernah tertarik dengan yang namanya yeoja, huh?” sungut Minho ketika melihat Taemin masih tenang di tempatnya.

 

“Diamlah, Hyung. Jangan mengajakku mengobrol jika topik yang akan kau obrolkan itu tentang yeoja.” Jawab Taemin datar. Minho mengernyitkan alisnya. Lalu hanya bisa mendesah dan memilih diam. Minho kembali menikmati sandwichnya.

 

“Aish, Taemin-ah! Sadarlah, kau ini seorang namja. Jadi, jika kau merasa tertarik dengan lawan jenismu, itu bukanlah hal yang tidak wajar. Apa Lee Ahjumma melarangmu untuk berpacaran, huh?” Kini giliran Jonghyun yang angkat bicara. Sesekali Jonghyun menyuarakan pendapatnya sambil melirik dan menggoda murid-murid yeoja yang lewat di sampingnya. Taemin melihat itu, namun Taemin hanya bisa mendesah.

 

Taemin akui, ia juga ingin bebas menyukai yeoja manapun. Bahkan, jika ia bisa, ia sudah melakukannya sejak dulu. Tapi, kenyataannya? Ia tak bisa. Bahkan alasan mengapa ia tak bisa mendekati dan menyukai yeoja manapun selama ini masih membuatnya penasaran. Bisakah Taemin menggunakan alasan “karena ia adalah seorang namja yang sudah menikah dan memiliki istri?”

 

Tapi, dimana istrinya? Bagaimana istrinya? Apakah ia mengenalnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar bodoh, sama seperti pernikahannya yang terasa konyol untuknya. Masih bisakah pernikahannya dikatakan sebagai sebuah pernikahan?

 

“Sudahlah, Hyung. Mungkin, Taemin belum ingin berurusan dengan yang namanya cinta. Lagipula, aku tak ingin Taemin menjadi seorang player sepertimu, Hyung.” Kata Key membela Taemin sambil mencibir Jonghyun. “Jangan racuni Taemin agar menjadi seorang playboy sepertimu, arrasseo?” Tambah Key sambil menyendokkan jjajangmyeon miliknya. Jonghyun hanya memberikan tatapan kesal pada Key.

 

“Anni. Bukan itu maksudku. Maksudku, tak apalah jika Taemin belum ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan seorang yeoja. Tapi, jika Taemin hanya menyukai seorang yeoja, apa itu juga tidak boleh? Aku rasa, jika Taemin tak pernah merasakan hal itu, dia seperti namja yang tidak normal.” Papar Jonghyun dengan gamblang.

 

“UHUK! UHUK! Ya, Hyung! Aku ini namja normal!” sungut Taemin setelah ia lebih memilih diam mendengar perdebatan membosankan teman-temannya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, yang selalu saja menyangkut tentang dirinya. “Dwaesseo, aku kembali saja ke kelas. Aku harus lebih fokus dengan skripsiku. Kalian itu memang menyebalkan!” Taemin bangkit dari duduknya dan meninggalkan frappucino miliknya yang masih setengah cangkir.

 

“Ya! Ya! Taemin-ah!” panggil Minho. “Wae geurae? Kelas selanjutnya masih lima belas menit lagi.” Minho setengah bangkit berdiri, ingin mencegah kepergian Taemin. “Apa kau serius ingin menjadi dokter? Kau bilang orangtuamu melarangmu keras menjadi dokter? Kau akan menjadi pengusaha seperti ayahmu, bukan? Jadi, santai sajalah..” Namun melihat Taemin yang menghentikan langkahnya dan setengah berbalik, Minho kembali duduk di tempatnya.

 

“Geumanhae (Hentikan), Hyung. Jebal, jangan membicarakan masalah ini lagi di hadapanku. Aku.. Aku memiliki alasan kenapa aku tidak ingin berdekatan dan menjalin hubungan khusus dengan yeoja manapun. Hajiman, untuk saat ini aku belum bisa memberitahu kalian apa alasannya. Yang jelas, semua asumsi yang kalian katakan tadi itu tak ada yang benar. Dan apakah seorang calon pengusaha pun tidak boleh mempelajari masalah kedokteran? Justru aku lebih tertarik menjadi dokter daripada mengurusi bisnis.” Minho, Jonghyun dan Key hanya bisa menganga lebar dan saling melempar pandang satu sama lain begitu Taemin melanjutkan langkahnya menuju ke kelas kuliahnya dan meninggalkan mereka bertiga yang masih bergelut dengan pikirannya masing-masing di café. 

 

FLASHBACK END

 

Lamunan Taemin buyar ketika suara ketukan pintu menariknya paksa untuk kembali ke alam sadarnya. Taemin memandang pintu kamar yang ada di hadapannnya.

Nugu?” tanya Taemin sebelum ia bangkit.

“Ini  Yurra Noona, Taemin-ah. Boleh Noona masuk?” tanya  Yurra di balik pintu. Taemin mengangguk.

Ne. Masuklah, Noona.” Jawab Taemin sambil berjalan dan duduk di depan meja belajarnya. Taemin mengambil salah satu buku dari tumpukan buku di atas meja belajar dan membacanya ketika  Yurra masuk. Tapi sebenarnya, Taemin tak benar-benar membaca. Ia merasa penasaran, jarang sekali  Yurra Noona masuk ke kamarnya. Ekor mata Taemin memperhatikan  Yurra yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur Taemin. Namun Taemin memilih diam, menunggu  Yurra yang membuka obrolan terlebih dahulu. Dan benar saja..

“Bagaimana kuliahmu hari ini, Taemin-ah?” tanya  Yurra sambil memandangi punggung Taemin yang duduk membelakanginya. Taemin tak bergeming.

“Biasa saja. Menyenangkan.” Jawab Taemin datar, membuat satu alis  Yurra terangkat ke atas.

“Seberapa menyenangkannya sehingga kau kembali dari kuliah sambil membanting pintu kamarmu dengan keras dan menjawab pertanyaanku dengan nada suara yang datar seperti itu, hm?” tanya  Yurra penuh selidik dan pertanyaan  Yurra berhasil menohok hati Taemin. Taemin pun mendesah, menutup bukunya dan memutar badannya hingga menghadap  Yurra.

“Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan padaku, Noona?” tanya Taemin sambil menyipitkan kedua matanya.

“Berhentilah bersikap dingin padaku, Taemin-ah. Apakah salah jika seorang kakak menanyakan kabar adiknya sendiri? Menanyakan kabar sekolah adiknya, bagaimana keadaannya, apakah itu salah?” protes  Yurra. Namun  Yurra masih bersikap tenang. Taemin hanya mencibir malas mendengarnya.

“Kau adalah salah satu orang yang paling tahu kenapa aku bisa menjadi seseorang yang selalu saja uring-uringan selama tiga tahun ini, Noona. Apakah kau melupakan cerita yang selalu saja kau, Eomma, dan Appa tutup-tutupi dariku selama ini? Sikap dinginku padamu adalah efek yang kau timbulkan karena kau tak pernah bercerita tentang..” Taemin ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Taemin bungkam dan memilih untuk meneguk air liurnya sendiri, membasahi kerongkongannya yang mendadak kering.

“Tentang yeoja itu, bukan?” Taemin diam. Namun itu sudah menjadi jawaban untuk  Yurra.  Yurra menghela nafasnya. “Asalkan kau tahu, aku, Eomma, Appa, tak pernah menceritakan tentang bagaimana dia karena dia sendiri yang memintanya. Dia tak ingin kau mengenal seseorang yang tak layak untukmu.”

“Apa maksudmu, Noona?” Taemin bangkit dan duduk di samping  Yurra.

Yeah.. Kau benar. Kami tak mungkin terus-menerus menutupi semua ini darimu. Mianhae, karena telah membuatmu bingung dengan keadaan ini. Kau dihadapkan pada sebuah pernikahan yang kau sendiri tak pernah tahu bagaimana pernikahanmu sendiri. Mungkin, kau selalu merasa kau masih berstatus sebagai seorang laki-laki lajang sampai sekarang. Namun kenyataannya membuatmu kau tekah beristri dan itu menyulitkanmu.” Jelas Yurra.

“Tidak, Noona. Meskipun aku merasa pernikahanku adalah sebuah kekonyolan, namun aku selalu menyadari diri bahwa aku adalah seorang namja yang telah beristri. Beri tahu aku, Noona. Siapa dia? Siapa istriku? Dimana dia tinggal? Bagaimana wajahnya? Kau pasti tahu kan, Noona?” tanya Taemin bersemangat. Meskipun ini adalah ke sekian kalinya Taemin melayangkan pertanyaan-pertanyaan yang sama pada  Yurra, namun Taemin tak pernah merasa bosan untuk bertanya seperti itu.

“Kau benar ingin tahu?” Taemin mengangguk cepat. “Hajiman, bagaimana jika kau menemuinya saja secara langsung? Jadi, kau bisa bertanya padanya kenapa selama tiga tahun ini ia tak pernah mengizinkan siapapun menceritakan tentang dirinya padamu. Eotthe?”

***

Aiish! Jincca! Dimana aku sekarang? Kenapa sekelilingku hanya ada pepohonan dan padang bunga matahari? Ah, jangan-jangan  Yurra Noona sedang mengerjaiku? Anni anni. Dia membuangku ke tempat tak berpenghuni ini?” gumam Taemin frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. Ini ke sekian kalinya Taemin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Benar-benar tak ada apa-apa di sini. Sejauh matanya memandang, ia memang hanya melihat pepohonan besar dan padang bunga matahari.

Taemin akui, tempat dimana ia berdiri sekarang sangat indah dan asri, yang tentu saja menciptakan suasana yang tenang, sejuk dan damai. Tapi setelah ia berpikir lebih jauh, tidak mungkin istrinya hidup di tempat seperti itu selama ini. Tak ada satu orangpun yang ia lihat sejak ia menginjakkan kedua kakinya di tempat itu. Taemin mulai menduga,  Yurra Noona hanya memberikannya harapan kosong dengan mengantarkannya ke tempat seperti itu.

SREK!

Taemin tersentak. Baru saja ia seperti merasakan ada suara langkah seseorang tidak jauh dari tempatnya. Kedua mata Taemin langsung bergerak cepat mencari sumber suara itu. Taemin terpaksa menarik koper besarnya melewati lebatnya bunga matahari yang telah mekar dan tumbuh dengan indah hingga sebatas dadanya.

SREK!

Nuguseyo?” seru Taemin entah pada siapa. Taemin mulai bergidik takut. “Aku harap di tempat ini tak ada binatang buas. Atau mungkin hantu? Zombie?” Gumam Taemin lalu menelan ludahnya karena takut. “Adakah orang di sana??” seru Taemin lagi, memberanikan diri.

Taemin terus berjalan dengan perlahan menyusuri padang bunga matahari itu. Sesekali Taemin harus menyibakkan bunga matahari yang menutupi jalannya. Dan untuk terakhir kalinya, ketika ia menyibakkan bunga matahari yang tingginya melebihi batas dadanya, Taemin tercenung. Ia melihat seorang yeoja tengah berjongkok sambil menghirup sebuket bunga matahari di kedua tangannya dan memejamkan matanya. Untuk sesaat, Taemin terpesona dengan yeoja itu. Kulitnya putih, hidungnya mancung, rambutnya panjang sepunggung dan berwarna hitam kecoklatan. Yeoja itu terlihat semakin cantik di mata Taemin karena mengenakan dress musim panas selutut dengan motif bunga-bunga berwarna kuning tanpa lengan, sehingga memperlihatkan bahunya yang indah dan lehernya yang jenjang.

Taemin menggelengkan kepalanya untuk mengusir lamunannya. Ia berjalan mendekati yeoja itu perlahan-lahan. Setelah sampai tepat di sampingnya, Taemin tercenung sekali lagi. Harum tubuh yeoja itu membuat Taemin kembali terpesona dengan yeoja itu.

“Harum sekali..” gumam Taemin lirih. “Ehem.. Chogiyo..” kata Taemin ragu. Namun yeoja itu masih saja memejamkan matanya sambil terus menikmati kesendiriannya seolah-olah tak ada siapapun di dekatnya. Taemin mengernyit heran. “Emm, jwesonghamnida. Bolehkah aku bertanya?” Dan tetap saja. Yeoja itu masih tak bergeming. Taemin semakin heran.

Setelah terdiam sesaat dan selama itupula yeoja itu masih saja diam, akhirnya Taemin memutuskan untuk bertanya sambil memberikan tindakan nonverbal pada yeoja itu.

 

Chogiyo..” kata Taemin untuk ketiga kalinya dan kali ini sambil mengguncang bahu yeoja itu pelan.

DEGH!

Yeoja itu sedikit tersentak saat membuka kedua matanya dan melihat ada orang asing yang sedang berjongkok di sampingnya. Kedua mata yeoja itu terbelalak lebar. Taemin membalas tatapan yeoja itu dengan tersenyum.

 

“Mianhamnida, karena telah mengusikmu. Hajiman, bolehkah aku bertanya padamu dimana sekarang aku berada? Ini pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini untuk menemui seseorang yang selama 3 tahun ini ingin sekali aku temui. Apakah di sini hanya ada pepohonanan dan padang bunga matahari saja? Apa tidak ada pedesaan? Karena menurut kakakku, orang yang ingin aku temui itu tinggal di tempat ini.” Jelas Taemin panjang-lebar berusaha membuat yeoja di hadapannya tak salah paham dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

SRET!

Tiba-tiba, yeoja itu bangkit dari duduknya. Melihat itu, membuat Taemin ikut bangkit dan memandang yeoja itu bingung yang kini sedang menatapnya dengan sinar mata yang gelisah dan takut-takut. Taemin dapat melihatnya dengan jelas karena kini tubuh yeoja itu sedikit bergetar.

“Ah, mianhae. Kau jangan takut. Aku bukanlah orang jahat. Seperti yang tadi aku jelaskan, aku hanya-“

TAP TAP TAP TAP!

YA!!” seru Taemin.

Yeoja itu berlari meninggalkan Taemin sebelum Taemin menyelesaikan kalimatnya dan membuat namja itu mau tak mau mengejar yeoja itu dengan perasaan yang campur-aduk. Taemin berlari mengejarnya sambil menyeret koper besarnya yang dirutukinya dalam hati karena semakin membuat langkahnya terhambat.

YA! Changkammanyo, Agasshi. Kkajimasseyo!” teriak Taemin, berharap yeoja itu akan berhenti berlari dan menunggunya. “Aiish! Larinya cepat sekali. Siapa sih dia?? Apakah manusia?” gumam Taemin sambil mengatur nafasnya yang mulai terengah. Dan sialnya, setelah ia rela menghabiskan tenaganya untuk mengejar yeoja itu, kini yeoja itu sudah tak terlihat lagi di matanya. Taemin kehilangan jejaknya, padahal hanya yeoja itu yang bisa memberikannya informasi dimana sekarang ia berada. Sesungguhnya, Taemin berharap banyak pada yeoja itu. Itu sebabnya Taemin mau mengejarnya sampai sejauh ini.

Tapi sepertinya Taemin tak benar-benar sial. Karena sekarang ia berada di sebuah pasar kecil yang cukup ramai. Banyak sekali pedagang dan pembeli di tempat itu, membuat Taemin kembali bisa berharap. Ia sekarang yakin, pasti tak jauh dari pasar itu akan ada pedesaan dimana istrinya tinggal. Tak mungkin tak ada desa jika ada pasar di sini.

Chogiyo..” kata Taemin di depan seorang pedagang buah. Pedagang wanita itu memperhatikan Taemin dari atas sampai bawah. Menurutnya, penampilan Taemin terlihat sangat fashionable, ditambah lagi dengan rambutnya yang berwarna blonde.

Ne. Kau ingin membeli buah apa, Anak Muda?” tanya pedagang itu ramah.

Aniyo. Aku tidak ingin membeli buah, Ahjumma. Aku hanya ingin menanyakan beberapa ha. Bisakah kau memberitahuku, dimana sekarang aku berada?” tanya Taemin sambil mengelus tengkuknya. Entah kenapa, ia merasa seperti anak kecil yangs sedang tersesat dan ia malu. Tapi, kenyataannya, memang begitu.

“Kau orang Seoul ya? Pantas saja. Desa kami ini sebenarnya masih masuk kota Gwangju. Keuraego, desa kami masih sangat terpencil karena terletak di sudut kota. Maka dari itu, masih belum banyak bangunan yang dibangun di sini. Memangnya, apa yang membawamu datang kemari, Nak?” Taemin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Chogi (Itu).. Ah, Noonaku membawaku kemari karena aku ingin bertemu dengan orang yang selama tiga tahun ini ingin sekali aku temui. Orang itu adalah istriku, Ajhumma..” aku Taemin. “Tapi, aku tidak tahu bagaimana rupa istriku itu karena kami menikah karena dijodohkan. Dan selama tiga tahun ini, keluargaku tak pernah mau memberitahuku bagaimana istriku itu dan dimana tempat tinggalnya.”

Mworagoyo? Ahh.. Arrasseoyo. Baiklah, siapa nama istrimu itu, hm? Mungkin, aku bisa membantu.”

“Istriku itu bernama.. Kim Shin You, Ahjumma.” Ahjumma itu pun tersentak mendengar jawaban Taemin. Tanpa sadar, ahjumma itu mengangkat satu tangannya dan menutup mulutnya yang setengah terbuka, membuat Taemin bingung sekaligus cemas. Ada apa ini? Tanya Taemin dalam hati.

“Maksudmu, Kim Shin You, perempuan gila itu??”

***

Ahjumma, kenapa kau mengantarku ke tempat seperti ini? Igeo mwoya??” tanya Taemin heran begitu ia dan pedagang wanita yang tadi ditemuinya di pasar, sampai di depan sebuah rumah kaca  yang didalamnya tampak terdapat banyak tumbuhan dan bunga yang berwarna-warni.  Taemin memperhatikan ke sekitar rumah kaca itu. Kanan-kirinya adalah hutan. Tak begitu lebat, namun jika Kin Shin You benar hidup di tempat seaneh itu, rasanya tidak mungkin, pikir Taemin. Dan jika memang benar, apakah benar istrinya itu adalah seorang yang taj waras?

“Masuklah. Kau akan menemukan jawabannya di dalam sana. Mianhae, Taemin-ssi. Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai di sini saja. Aku harus kembali ke pasar. Aku tak ingin terlibat terlalu jauh dengan masalah kalian. Semua warga desa di dini menghindari perempuan gila itu.” Dan pedagang wanita paruh baya itu pun membungkuk di hadapan Taemin lalu melangkah pergi. Taemin sedikit tersentak saat melihat ada seseorang yang umurnya jauh lebih tua darinya justru membungkuk di hadapannya. Tapi sedetik kemudian, Taemin tak mempermasalahkannya lagi.

Taemin memutuskan untuk  mengikuti saran ahjumma tadi. Ia tak ragu ketika ia melangkahkan kakinya mendekati rumah kaca itu. Hingga sampai di depan pintunya yang berkaca, tatapan Taemin tertuju pada satu titik, dan membuatnya mematung di tempat dengan tangan kanannya yang telah menempel di kenop pintu.

Kedua alis Taemin berkerut, ia merasa heran namun juga penasaran. Dan tak sadar, Taemin pun masuk ke dalam rumah kaca itu dengan langkah perlahan-lahan.

Ketika jarak pandangnya sudah lebih dekat dengan obyek yang menjadi fokus kedua manik mata besarnya, Taemin pun menghentikan langkahnya. Namun Taemin tetap memperhatikan sosok di hadapannya dengan lekat.

Agasshi..” gumam Taemin lirih dan hati-hati ketika sosok yeoja yang tadi bertemu dengannya di padang bunga matahari, mendongakkan wajahnya. Yeoja itu tengah duduk di atas kursi rotan yang terlihat nyaman untuknya. Tampak di hadapannya ada sebuah meja kayu dengan tangkai-tangkai bunga beranekaragam jenis dan warna yang berserakan di atasnya, setengahnya terlihat semakin cantik karena telah disusun menjadi buket-buket bunga dan dibungkus oleh plastik bening dan pita.

Yeoja itu membelalakkan kedua mata indahnya ketika ia melihat wajah namja asing yang ia temui di padang bunga matahari tadi. Taemin tak tahu apa arti dari tatapan ketakutan yang terpancar dari kedua mata gadis di hadapannya.

SREK!

Yeoja itu bangkit dari duduknya dengan sedikit kasar sehingga kursi rotan yang didudukinya terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan di tanah. Yeoja itu hendak meninggalkan Taemin sekali lagi sebelum Taemin berhasil menangkap lengan tangan kirinya.

Agasshi, changkamman! Bukankah sudah kubilang, kalau aku bukanlah orang jahat? Kenapa kau selalu menghindariku? Apa yang salah dariku? Kau terlihat sangat ketakutan ketika melihatku. Waeyo??” kata Taemin sambil terus mencengkeram lengan yeoja itu.

Yeoja itu tak bersuara, namun terus meronta ingin dilepaskan. Terasa sekali di tangan Taemin, tubuh yeoja itu gemetaran. Dan sekarang, yeoja itu meluruhkan air matanya. Taemin panik. Tapi satu yang ia rasakan dan ia sangat yakin, yeoja di hadapannya ini tidak gila. “Agasshi, gwenchanhaseyo? Apakah sakit? Mi-mianhae..” sesal Taemin lalu melepaskan cengkeraman tangannya yang baru ia sadari memang terasa kuat di lengan kiri gadis itu. Namun, yeoja itu tak berlari pergi seperti sebelumnya, membuat Taemin semakin dibuat bingung karenanya.

Taemin menundukkan kepalanya namun sesekali melirikkan matanya, melihat sekilas wajah gadis yang ada di sampingnya itu. Selama beberapa saat, mereka hanya diam. Dan Taemin tak tahu kenapa sekarang ia bisa mati gaya di hadapan yeoja asing di hadapannya. Hingga akhirnya, Taemin memutuskan untuk mencari tahu apa maksud dari perkataan ahjumma tadi pada yeoja berparas cantik itu.

“Ehem..” Taemin berdeham, membuat yeoja di sampingnya menatapnya sedikit takut. “Untuk yang tadi.. maaf. Aku telah berlaku kasar dan lancang padamu.” Kata Taemin susah-susah lalu meneguk air liurnya. “Terserah kau bisa percaya padaku atau tidak. Tapi aku bisa sampai di sini karena seorang ahjumma yang aku temui di pasar tadi mengantarkanku ke tempat ini dan menyuruhku masuk ke dalam sini agar aku bisa menemukan jawaban dari pertanyaanku padanya.” Taemin menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menjadi bingung, kenapa hanya untuk menjelaskan hal semudah itu saja ia merasa seperti kehabisan oksigen?

Yeoja itu menatap Taemin yang terlihat gelisah dengan lekat. Lebih tepatnya, ia memandangi bibir Taemin yang bergerak-gerak saat berbicara, menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi padanya. Tapi, sepertinya sia-sia. Ia sama sekali tak mengerti dengan semua yang Taemin ucapkan.

Sontak, wajah yeoja itu berubah murung dan sedih. Perubahan wajahnya disadari oleh Taemin. Tapi Taemin memutuskan untuk tidak mengacuhkannya dan memilih melanjutkan kalimatnya.

“Saat di padang bunga matahari tadi, sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Aku tak tahu tempat ini. Noonaku mengantarkanku kemari karena aku ingin bertemu dengan.. istri-ah aniya, dengan seseorang yang selama tiga tahun ini ingin sekali aku temui. Noonaku berkata, orang itu tinggal di desa ini. Namun sayangnya, aku sama sekali tidak tahu bagaimana rupanya. Aku hanya tahu orang itu bernama Kim Shin You. Jadi, apakah orang yang ingin aku temui itu benar tinggal di sekitar sini? Apakah kau mengenalnya? Apakah kau-“

Saengi, kkaja wasseo (ayo pulang). Ini sudah waktunya kau beristirahat.” Sebuah suara yang berasal dari pintu masuk membuat Taemin dan yeoja itu sontak menoleh ke belakang—ke arah pintu masuk. Begitu melihat ada namja yang dikenalnya, yang tengah berada di dekat adik perempuannya, namja itupun melangkah mendekati mereka. “Taemin-ssi?” tanyanya pada Taemin. Namun Taemin hanya melayangkan tatapan bertanya pada namja itu. Kenapa dia bisa tahu namaku?? Batin Taemin.

Nae irreum.. neo arra eotthe (Namaku.. bagaimana kau tahu)?? Ah, mianhae. Aku di sini karena aku ingin mencari seseorang yang bernama-“

“Shin You-ah, neo gwenchana?”

 

DEGH!

Taemin tersentak ketika mendengar sebuah nama terlontar dari bibir namja yang baru muncul di hadapannya itu. Apakah ia tak salah dengar? Pikirnya. Tatapan Taemin yang semula menatap namja di hadapannya itu, kontan langsung berubah menatap yeoja yang ada di sampingnya sejak beberapa saat yang lalu.

“Maafkan Jinki Oppa, ne? Kau pasti ketakutan dan kebingungan karena bertemu dengan orang asing seperti ini. Seharusnya Oppa tak meninggalkanmu di sini terlalu lama.” Gumam namja itu lirih sekali. Bagaimana yeoja itu bisa mendengarnya jika ia hanya bergumam dan terdengar begitu lirih sekali? Dan kesannya, ia seperti tak benar-benar ingin mengatakan hal itu padanya. Dia seperti.. bergumam untuk dirinya sendiri??? Batin Taemin.

 

To Be Continue..

 

Hayoo.. Gimana? Kaget ternyata langsung TBC? Hehe.. Sengaja bikin pensaran. Mianh.. Terus tungguin part akhirnya ya. Dan jangan lupa kasih komentar. Gomawo.. J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

50 thoughts on “The Colour of Young Marriage [1.2]”

  1. ah, penasaran…. apa itu beneran istrinya taemin?
    kasihan ya taemin, masa nikah tapi sama sekali ga tau orang yang ia nikahin?
    pokoknya aku penasaran..
    thor, lajutannya jangan lama-lama yah..

    1. Beneran ngga ya? Kali aja namanya doank yang sama. 😉 Wkwk.. #authorgaje
      Iya. Mau-maunya kawin sama orang antah-berantah.. 😀 Mesti kudu berunjung ke dusun terpencil pula. Hehe..
      Oke deh, lanjutannya dipublish sesuai jadwal kapan lanjutannya bakal publish. #gamparauthor 😀

  2. Orang yg pake cincin padahal ga tau istrinya siapa itu co cweet cekalii :3

    Udah nebak sih, cewek itu istrinya Taemin. Beneran gila gak sih? Atau trauma atas sesuatu? *halah

    Next part ditunggu yaa. Fighting ^^

  3. Kayanya, tuh yeoja gak gila deh. Tpi dia itu gak bisa mendengar(?)*korban k-drama chymh*. Lanjut ya thor, aq penasaran bgt, Keep writing

  4. biarpun aneh tapi seru thor ceritanya 🙂
    itu shin you ga bisa mendengar terus takut sama orang asing ya?
    trauma gitu?
    lanjut ya thor, penasaran 😀

    1. Wkwk.. Waduh, aneh ya? Mianh jadi gaje ceritanya. Mungkin waktu itu aku bikinnya lagi galau jadi yah~ ceritanya juga galau, aneh bin abal. Hahaha.. #dzighduaarrr!!
      Kasih tau nda yaa~? Tunggu aja last partnya yah. ^^

  5. hoo…
    seru..
    itu cewenya bisu?
    ato gila?
    oh mgkn stress? stress gara2 3 tahun gak ketemu sama suaminya.. hahahaha slh sndri sih knp juga ngerahasiain /plaakkk
    ngaco bgt jdinya..
    ditunggu lanjutannya deh

  6. Hahaha.. Mungkin asumsi kamu bener. Tuh Shin You crazy gara2 ngga ketemu Taemin 3 tahun lamanya. Berasa ngga dinafkahin batin n’ materi 😀 😀 #berarti authornya yang sableng ya? jaan.. =.=”

    Oke deh. Tunggu lanjutannya yaa~ 🙂

    1. Tentu donk bakal dilanjut. Sabar menunggu aja ya. Soalnya aku juga ngga tahu jadwal lanjutan ff ini kpan. #DZIGH, tendang author ke laut!! 😀
      Hehe..
      Kenapa ya? Mungki aja.. emang gila? 😉 Hehe.. Terus penasaran yaa.. Haha

  7. Eh eh, si tetem hebat ya bisa tahan punya hubungan abstrak gitu selama 3 thn. Kalo ane kayak gitu mah selingkuh selingkuh deh *plak
    ditunggu part selanjutnya yaaaa 😀

  8. yaaaaahhh shin you nggak bisa denger sama ngomong ya 😦
    (mksdku tuna rungu) itu cma dugaanku, tp kayanya gtu,, kasian bgt 😥 trus gmna taemin??aaaahhh lanjut deh 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s