Undiscloser Desire – Part 3

Title : Undiscloser Desire

Author : Vikey…..

Maincast : Kim Jonghyun,Lee Hyukyung,Kim Yoogeun.

Support cast : Key, Kim Hyuna, SHINee member.

Genre : Romance,Marriage Life,Friendship,family.

Rate : PG 16

Summary : Persahabatan antara pria dan wanita tidak akan pernah berakhir murni. Diantara keduanya akan muncul suatu perasaan yang disebut Cinta dari salah satu pihak. Entah itu cinta yang terbalas ataupun cinta yang bertepuk sebelah tangan. Entah itu cinta yang tersampaikan maupun cinta yang tersembunyi rapi bertahun-tahun.

Cinta itu sebuah pengorbanan, tak peduli apapun yang kupunya akan kukorbankan. Meski itu adalah masa depanku sekalipun. Bahkan jika dia memintaku untuk memberikan nyawaku, akan kuberikan dengan sukarela padanya. (Han Hyukyung)

Cinta?? Kau bertanya padaku tentang cinta?? Aku tidak tahu cinta itu apa?? Yang kurasakan cinta itu menyakitkan, saat aku telah merelakan seluruh hatiku, dia malah dengan mudahnya melempar kembali hatiku yang telah berdarah. Huh,, cinta?? Bahkan ketika aku kembali jatuh cinta,, aku justru takut dia akan kembali menolakku?? Hanya satu cinta yang kupunya dan kupercaya, cinta dari sebuah persabahatan yang kumiliki bersama seseorang. Dan aku tak ingin mempertaruhkan semua itu hanya demi cinta semu. (Kim Jonghyun)

Cinta, bagiku cinta itu membebaskan. Ya, Love is free, membiarkan dia bebas menjalani hidup yang menurutnya membahagiakan. Meski aku sangat tahu dia tak pernah bahagia dengan setiap pilihannya. Terlalu banyak hal yang telah dia korbankan hanya untuk sebuah ungkapan bernama cinta. Dan rasanya, aku ingin sekali memukul kepala sahabatku itu yang tak pernah bisa melihat besarnya cinta yang dipunyai yoeja-ku untuknya, yoeja-ku?? Huh, percaya diri sekali kau ini Kim Kibum, bahkan dia sudah menolakmu berkali-kali. Dan kau hanya bisa tersenyum getir saat dia datang dan menangisi orang lain. (Key)

Cinta, persetan dengan cinta. Aku tak percaya cinta. Aku tak punya cinta. Bahkan orang tuaku juga tak mencintaiku hingga tega memisahkan aku dengan dia, bahkan memisahkanku dengan darah dagingku sendiri hanya karena sebuah gengsi dan posisi. Aku tak punya cinta. Bagiku cinta itu adalah sesuatu hal yang tabu. (Han Yoora)

Part 3 : My Love Is Free

Nyonya Han langsung mendekati dokter muda bernama Lee Jinki itu dengan tergesa. Ingin memastikan keadaan Yoora pasca operasi tadi.

“Uisa,, bagaimana keadaan putri saya?”tanya nyonya Han.

“Nyonya Han,, selamat! Putri anda melahirkan seorang bayi laki-laki dengan bobot 2,4 dalam keadaan sempurna. Hanya saja,,”dokter Jinki menghentikan ucapannya untuk sejenak.

“Hanya saja, sepertinya ada kelainan dalam susunan tulang dada dan diafragma sehingga menyebabkan cucu anda kesulitan bernafas, juga detak jantungnya yang sangat lemah.”lanjutnya.

“Lalu bagaimana keadaan putri saya,, apa Yoora baik-baik saja!”Nyonya Han sepertinya tidak terlalu memperdulikan keadaan bayinya.

“Putri anda baik-baik saja, tidak hal serius yang perlu dikhawatirkan. Untuk sementara bayi nona Yoora akan kami incubator sampai dia kuat.”

“Ya,, terserah anda dokter.”sahut Nyonya Han tanpa kesan apapun. Kemudian dokter itu pergi dengan dahi berkerut menanggapai ucapan nyonya Han yang begitu tidak peduli pada keadaan cucunya sendiri.

“Cih,, lihatlah, baru lahir saja sudah mengalami kelainan.”gumam nyonya Han.

“Jadi Lee Hyukyung, bayi itu kuserahkan padamu. Terserah kau mau merawatnya atau membawanya ke panti asuhan. Dia bukan lagi tanggung jawab kami. Karena hari ini juga aku akan membawa Yoora ke Jerman untuk pemulihan dan memulai kehidupannya yang baru disana.”ucap Nyonya Han begitu Hyukyung mendekat.

“Anda begitu jahat Nyonya Han,, dimana hati nurani anda!”kecam Hyukyung dengan suara lirih. Terlalu sedih untuk bisa berteriak dan memaki wanita paruh baya itu seperti keinginannya sejak tadi.

“Baik., aku akan merawatnya, membesarkan anak itu layaknya anakku sendiri. Dan aku berjanji, setelah ini, anda maupun keluarga Han sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan bayi itu, bahkan jika suatu saat Yoora datang ingin mengambilnya, aku bersumpah tidak akan menghiraukannya, karena dia anakku. Anak kandungku.”lanjut Hyukyung disertai tetesan air mata yang mulai berjatuhan dengan perlahan.

“Baguslah, jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menjauhkan Yoora dari bayi itu.”sambut nyonya Han dengan senyum puas, lalu melangkah dengan angkuh meninggalkan Hyukyung dengan seribu rutukan dan makian untuk nyonya Han.

***

“kaki-kaki yang begitu kecil”Hyukyung menyentuh kaca incubator dengan pandangan sayu, menatap sosokbayi mungil yang terlelap dalam damai. Ya, setelah lelah menumpahkan emosinya untuk nyonya Han dikamar mandi, Hyukyung memutuskan untuk melihat bayi mungil itu. Bayi mungil yang tidak diinginkan kehadirannya oleh keluarga sang ibu.

“Hyu,,”sebuah tepukan pelan membuyarkan lamunannya.

“Oh! Key,,, kau sudah datang.”sapa Hyukyung.

“Ini,, ini bayi Jjong hyung??”mata Key membulat takjub menatap sosok mungil dihadapannya.

“Benar,, bagaimana? Tampan bukan?”sahut Hyukyung dengan berbinar. Ikut takjub memandangi bayi mungil itu menggeliat denga pelan dan terlihat begitu menggemaskan.

“Permisi,, tuan-nyonya..”sapa seorang suster pada keduanya.

“Apa nyonya Lee inging menggendong bayi anda? Ah,, tunggu,, benarkah anda nyonya Lee Hyukyung? Tapi anda tidak terlihat seperti habis melahirkan.”ujar suster tersebut sembari memperhatikan Hyukyung dengan seksama.

“Ne,, aku Lee Hyukyung,, ini kartu identitas saya.”sahut Hyukyung seraya mengulurkan kartu identitas.

“Ah,, benar,, anda Lee Hyukyung,, kalau begitu mohon tunggu sebentar.”suster itu langsung percaya tanpa peduli dengan kondisi Hyukyung yang terlihat bugar, tidak tampak seperti wanita yang baru melahirkan.

“Nah,, Nyonya Lee, silahkan,, ini bayi anda, kondisinya sudah lebih baik, dia bisa keluar dari incubator sekarang.”

suster itu langsung membuka kaca incubator dan mengangkat bayi mungil itu dengan hati-hati, lalu menyerahkan pada Hyukyung yang menyambutnya dengan antusias. Bayi itu bergerak pelan, dengan perlahan membuka kedua mata kecilnya, menatap dunia baru miliknya.

“Aigoo,, lihatlah,, betapa lucunya Key.”Hyukyung mengusap pipi chubby sibayi yang tampak begitu nyaman dalam buaian lengan Hyukyung.

“Omona,, lihatlah,, hidungnya mirip Jjong hyung,, matanya,, tapi untung saja,, rahangnya tidak menampak rahang dino milik appanya.”Key terkekeh pelan, ikut antusias menelusuri raut mungil milik bayi tampan itu.

“Haish,, kau ini,, niat mau memuji atau mengejek sebenarnya.”sahut Hyukyung tanpa mengalihkan tatapannya.

“Aku jadi iri melihat Kim Junior ini,, aigoo,, betapa beruntungnya Jjong hyung. Oh,, iya,, aku belum memberitahu dia.”Key berniat meraih ponselnya, namun ditahan dengan sigap oleh Hyukyun.

“Jangan dulu Key,, nanti saja,, bawa pulang malaikat kecil ini dan tunjukkan pada Jonghyun, kurasa itu lebih terlihat dramatis.”cegah Hyukyung, bibirnya mengulum senyum sembari menaikkan sebelah alisnya saat bertatapan dengan mata Key.

“Kurasa juga begitu..”jawab Key setuju.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Gerimis yang sedari tadi mengundang, kimi mulai berhenti berjatuhan. Kerlip bintang-bintang mulai menampakkan diri satu persatu, menghias hamparan langit malam yang begitu cerah setelah hujan seharian. Seorang namja bernama Kim Jonghyun terlihat berjalan mondar-mandir diteras rumah Hyukyung dengan gelisah, sesekali matanya melirik jarum jam yang tertempel didinding putih diruang depan, atau terkadang menengadah kearah langit dengan begitu cemas dan resah.

“Haish,, Lee Hyukyung,, kau ini kemana?”gerutu Jonghyun frustasi. Tangannya bergerak meraih ponsel dalam saku celana dan berniat menghubungi seseorang. Namun sayang, hasilnya tetap sama saja seperti satu jam yang lalu. Panggilannya hanya dijawab sapaan operator seluler.

“Annyoeng Hyung,,,”sapaan seseorang membuatnya terlonjak kaget.

“Oh,, Key,, tumben kau datang malam-malam.”Jonghyun memandangi Key dengan heran, karena namja bermata kucing itu tidak sendirian, dibelakangnya nampak 2 orang berseragam pegawai sebuah toko jika dilihat dari seragam dan atributnya yang penuh tempelan iklan.

“Maaf tuan,, apa ini boleh langsung dibawa masuk?”tanya salah satu dari mereka sambil menunjukkan tumpukan kardus diatas mobil pick up hitam.

“Tentu,, silahkan bawa masuk, dikamar pojok sebalah kanan itu, dan tolong langsung disusun rapi semua perlngkapan ini.”jawab Key dengan ramah.

“Ya!! Kim Kibum,, barang-barang apa itu yang kau bawa kemari, banyak sekali, apa ini Hyukyung yang membelinya, atau kau mau pindahan?”mata Jonghyun berputar, mengikuti pergerakan kedua pegawai yang sibuk menurunkan beberapa kardus.

“Hyung,, kau duduk saja dengan manis, sebentar lagi kejutan untukmu akan sampai, jangan kemana-mana sebelum aku kembali.”Key menarik Jonghyun, dan mendudukkannya diteras rumah Hyukyung yang juga menjadi tempat tinggal Jonghyun untuk sementara. Lalu Key sendiri melesat kedalam untuk mengawasi penyusunan perlengkapan rahasianya itu.

Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti tepat dibelakang pick up dijalanan depan rumah.

“Aku pulang,,”ujar Hyukyung pelan, tangan kiri menenteng tas kecil dan tangan kanan membuai sosok mungil yang terbalut jaket tebal hingga mampu menghalau hembusan angin malam yang begitu dingin.

“Hyu,, kau sudah pulang,, kau bawa ap—-“ucapan Jonghyun terhenti seketika, ketika matanya menangkap sosok mungil dalam gendongan Hyukyung. Darah Jonghyun terasa membeku seketika, ada perasaan haru yang menyeruak dalam benaknya. Seperti mendapat kontak batin, mata kecil bayi itu mengerjap terbuka, meski tak tahu apakah dia mampu melihat, tapi mata bulat bayi itu tak berkedip saat Jonghyun menatapnya dengan intens.

“Mendekatlah Jjong,, sapa aegi-mu,, dia pasti merindukanmu.”perintah Hyukyung.

“Ini,, nae aegi??”mata Jonghyun mengerjap tak percaya, nalurinya menyuruh tangan besar miliknya untuk bergerak mengusap pipi namja mungil itu penuh kasih sayang.

“Hyu,, benar ini anakku??”air mata merebak seketika, Jonghyun tak bisa menahan perasaan harunya saat menatap wajah putranya, darah dagingnya.

“Aegi,, ini appa nak,, appamu.”sapa Jonghyun masih dengan tangis harunya.

“Chukkae hyung,, kau sudah menjadi seorang appa sekarang.”Key muncul dari dalam rumah, memeluk bahu Jonghyun dengan senyum lebar.

“Ne,, dia tampan Key,, sangat tampan.”balas Jonghyun, berusaha menghapus tetesan bening dari matanya.

“Lalu,, bagaimana dengan Yoora, dimana dia?”pertanyaan Jonghyun, sontak membuat Hyukyung membisu, bingung harus menjelaskan bagaimana pada Jonghyun.

“Jangan kau pikirkan wanita itu lagi hyun, dia sudah pergi. Orang tuanya membawa Yoora ke Jerman, mereka pindah kesana.”jawab Key sedikit ketus, masih geram dengan perlakuan ibu Yoora saat Hyukyung menceritakan detail kejadiannya.

“Kau benar Key,, aku tak perlu lagi khawatir, tanpa Yoora pun, aku pasti bisa membesarkan anak ini.”lirih Jonghyun.

“Tentu saja,, kau pasti bisa membesarkan Yoogeun dengan baik, karena kau adalah Kim Jonghyun.”timpal Key.

“Yoogeun?”Jonghyun mengangkat alisnya dengan bingung.

“Ne,, Kim Yoogeun,, aku menamai anakmu Kim Yoogeun,, bukankah itu nama yang bagus.”kekeh Key dengan girang.

“Ya! Kau ini,, aku bahkan belum memikirkan nama yang cocok, tapi kau malah sudah memberikan nama untuknya,,”Jonghyun menjitak kepala Key dengan gemas seraya ikut terkekeh.

“Kim Yoogeun,, kurasa bukan nama yang buruk”lanjutnya lagi.

Mereka bertiga mulai larut dalam kesenangan memperhatikan Yoogeun yang kini sudah diletakkan dikasur bayi yang dibawa Key tadi. Ternyata kardus-kardus tadi berisi peralatan bayi, yang kini sudah tertata rapi dikamar Hyukyung.

“Jong,, kupikir,, hm,,”tiba-tiba Hyukyung membuka percakapan, namun terlihat sedikit ragu saat bertatapan dengan Jonghyun.

“Ayo kita menikah Jjong,,”lanjut Hyukyung dengan cepat, hanya satu tarikan nafas.

“Mwo,,??” “Mworago!!”pekik Key dan Jonghyun bersamaan. Lalu, Jonghyun menarik lengan Hyukyung keluar dari kamar.

“Apa yang kau katakan barusan Hyu,,??”tanya Jonghyun memastikan.

“Menikah,, kita menikah!”
“kau serius Hyu..??”kata Jonghyun masih tak percaya.

“Ne,, a,, a,,ku serius Jjong. Ayo kita menikah!”Hyukyung menggigit bibirnya dengan ragu, tak berani menatap mata Jonghyun secara langsung.

Ini keputusan yang sudah dia pikirkan sejak nyonya Han menyerahkan bayi itu padanya. Satu-satunya jalan agar dia bisa membesarkan dan merawat Yoogeun tanpa harus memisahkan dia dari ayahnya. Tak bisa dipungkiri butuh keberanian besar untuk mengutarakan hal ini. Hyukyung tak bermaksud mencari kesempatan dalam kesempatan, sungguh, dia hanya merasa wajib melindungi namja mungil itu meski harus mengorbankan segalanya untuk itu.

“Ta,, ta,,pi,,”jawab Jonghyun dengan terbata, masih tak yakin dengan yang Hyukyung sampaikan.

“Lihat ini Jjong,,”Hyukyung mengeluarkan secari kertas dari dalam tas hitamnya.

“Surat keterangan kelahiran? Atas nama Lee,, Hyukyung,,,??”Mata Jonghyun menelusuri baris demi baris tulisan dalam kertas itu.

“Apa ini,, APA MAKSUDNYA???”Jonghyun@mendelik tak percaya dan menghempaskan kertas itu dengan kesal. Entahlah, rasanya hatinya begitu sakit, rasa kecewanya sungguh teramat menyesakkan, kecewa terhadap Yoora, terhadap orang tua Yoora, juga kecewa pada dirinya sendiri.

“Hyung,, Kenapa kau membentak Hyukyung??”tegur Key tak senang, berusaha merangkul bahu Hyukyung yang terlihat bergetar.

“Mia,, Mianhe,, aku tidak bermaksud marah padamu Hyu,, aku Hanya,, hanya kecewa pada diriku sendiri.”Jonghyun mengacak rambutnya dengan frustasi , berusaha mengatur emosinya. Lalu meraih kepala Hyukyung dan membenamkan wajah pucat itu dalam dekapannya. Memeluk Hyukyung dengan erat.

“Minahe Hyu,, kau harus mengalami semua ini karena aku.”sesal Jonghyun tanpas bisa mencegah setitik air menetes disudut matanya.

***

“Hyung,, bisa kita bicara?”Key menepuk pelan bahu Jonghyun yang tengah berdiri dalam diam didepan jendela besar, menerawang jauh entah kemana. Membiarkan Hyukyung dikamarnya dan menidurkan Yoogeun yang sedikit gelisah dalam tidurnya.

“Key,,”Jonghyun berbali, langsung memeluk tubuh kurus Key dengan erata.

“Maaf Key,, maafkan aku. Sekarang juga, kau boleh memukulku, melampiaskan semua rasa kecewamu padaku.”ujar Jonghyun dengan lirih.

“Gwenchana Hyung,,kurasa Hyukyung sudah menentukan pilihan hidupnya. Dan dari dulupun aku tak pernah berharap lebih. Sejak saat Hyukyung menolakku dikelasmu dulu, aku sudah tahu bahwa sampai kapanpun dia takkan mungkin berbalik memilihku.”Key ikut mengeratkan pelukannya, berusaha meredam emosi yang berkecamuk dibenaknya. Walau bagaimanapun, dia sangat mencintai Hyukyung. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek, dan tentu saja Key merasa sedih. Membiarkan Hyukyung menikah dengan Jonghyun, itu bukan perkara mudah. Dia manusia normal, bahkan sedikit sesal yang menyusup dihatinya. Menyesal karena Hyukyung dan Jonghyun menikah bukan karena cinta. Justru keadaanlah yang memaksa mereka menikah.

Dan bagi Jonghyun, dia seolah tengah menghadapi buah simalakama. Disatu sisi, dia tidak ingin membiarkan Yoogeun, anaknya hidup terlantar tanpa kasih sayang seorang ibu. Ya, Jonghyun bukanlah type pria berpirian sempit, yang lebih mementingkan ego dengan berkata bahwa dia sanggup membesarkan anaknya seorang diri. Dan kenyataan bahwa Hyukyung terlihat begitu menyayangi Yoogeun membuat Jonghyun menganggukkan kepala mengiyakan ajakan Hyukyung untuk menikah. Namun, Jonghyun juga menyadari resiko yang harus dihadapinya. Ya, Key. Dari dulupun Jonghyun tahu bahwa Key begitu mencintai Hyukyung, sejak mereka masih duduk dibangku high school. Menikah dengan Hyukyung sama artinya dia telah menikam ulu hati sahabat karibnya dengan begitu sadis.

“Kau tahu Key,, ini terasa begitu berat untukku, tak pernah terbersit dalam benakku jika suatu saat aku akan menikah dengan sahabat kecilku dan menghianati pertemanan kita.”sahut Jonghyun dengan suara serak, mengalihkan wajahnya karena tak sanggup menatap mata kucing Key yang memerah.

“Aku tidak bisa berkata aku baik-baik saja Hyung, karena dalam kenyataanya aku memang tidak baik-baik saja. Kuakui, aku masih merasa shock dan sedih dengan keputusan kalian ini. Tapi, aku tetaplah Key yang baik hati, aku masih memiliki sedikit hati untuk tidak membiarkan keponakanku yang tampan hidup terlantar tanpa seorang ibu.”Key tidak berusaha menampilkan wajah tegar. Dia bukanlah orang yang suka berpura-pura.

“Mungkin, setelah Yoogeun dewasa atau cukup mampu hidup tanpa Hyukyung, aku akan melepasnya Key. Akan kukembalikan Hyukyung untukmu.”balas Jonghyun kemudian. Yang serta merta membuat Key mendelik tak percaya.

“Mwo…?? Kau bercanda dengan ucapanmu barusan itu bukan, Kim Jonghyun??”mata kucing Key berkilat dengan marah, menatap tajam manik coklat Jonghyun.

“Ke,,,kenapa Key?? Apa aku salah bicara??”

“Kau salah bicara Hyung,, ucapanmu sungguh keterlaluan. Berpisah setelah Yoogeun dewasa? Kau pikir Hyukyung wanita macam apa? Yang bisa kau perlakukan seenaknya saja.”Key begitu geram dengan ucapan Jonghyun tadi. Tak bisa membayangkan bagaimana jika Hyukyung mendengarnya.
“lalu? Apa yang bisa kulakukan? Aku merasa bersalah padamu Key? Kupikir itu yang bisa kulakukan, melepaskan Hyukyung untukmu.”

“Baru kusadari, ternyata kau begitu picik Kim Jonghyun. Kau tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Hyukyung sedikitpun. Jika kau lakukan itu,, aku akan membunuhmu saat itu juga.”sepertinya Key begitu serius dengan ucapannya.

“Apa aku menyinggung perasaanmu Key?? Weire??”

“Yang perlu kau ketahui hyung, aku memang mencintai Hyukyung. Tapi bukan berarti aku harus memilikinya. Bagiku, cinta itu membebaskan. Dan inilah yang kulakukan hyung, membiarkan dia bebas dan menikah denganmu. Satu hal yang kuharap darimu, tolong bahagiakan Hyukyung. Cobalah mencintainya. Karena hanya itu yang penting bagiku. Jangan pernah berpikir untuk berpisah setelah kalian menikah nanti.”emosi Key perlahan luruh melihat raur bersalah diwajah Jonghyung.

“Hyung,, aku menyayangimu, menyayangi Hyukyung, juga Yoogeun. Untuk itu jadilah keluarga yang bahagia, setidaknya demi aku. Demi menghormati perasaanku.”

“Terimakasih Key,, kau sahabat terbaikku. Aku berjanji akan membahagiakannya, ini adalah janji seorang laki-laki.”tutur Jonghyun dengan serius.

“Suatu saat aku akan menagih janji itu Kim Jonghyun.”bibir Key melengkung sedikit, menampilkan senyum tulus untuk Jonghyun seraya memukul bahu namja kekar itu pelan.

***

Hyukyung POV

Memakai gaun pengantin dan memasang tiara diatas kepala. Tentu adalah impian terbesar bagi seorang gadis. Terlebih, menikah dan bersanding dengan namja yang sangat dicintai. Tapi pernahkah kau membayangkan memakai gaun pengantin dan mengucap janji setia itu demi alasan menghadirkan orang tua utuh untuk bayi mungil yang bukan darah dagingmu dan justru bayi itu anak kandung namja yang kau cintai dengan mantan kekasihnya. Terasa sakit bukan? Tapi meski begitu tetap kujalani dengan lapang. Kalian mau bilang aku bodoh atau semacamnya. Yah, aku memang bodoh. Namun percayalah, bila kau berada diposisiku kau pasti akan melakukan hal yang sama. Mencintai seseorang dengan begitu dalam, bahkan rela mengorbankan segalanya, meski dia tak pernah tahu perasaanku ini. Dan lagi, setiap kali aku menatap wajah Yoogeun aku merasa terhipnotis, ekspresinya membuatku tak bisa mengalihkan tatapan dari malaikat kecil itu. Namja mungil itu seolah membuatku kembali jatuh cinta, seperti aku jatuh cinta dengan appanya yang bodoh itu.

Aku mulai melangkah dengan perlahan. Menyusuri karpet merah ini dengan balutan gaun putih panjang yang ujungnya melambai diatas pijakanku ini. Aku terus melangkah menuju ke altar tempat dimana seorag namja tengah menantiku dengan sabar. Dalam gandengan lengan kokoh tuan Kim, appa seorang Key yang begitu tulus membiarkan appanya menjadi saksi pernikahan untuk wanita yang dicintainya dengan namja lain. Dari ekor mataku aku bisa melihat Key yang tampak tampan dalam balutan tuxedo hitam, duduk berdampingan dengan nyonya Kim dibarisan terdepan dimana dihadapannya tengah terlelap didalam box bayinya, malaikat mungil yang menjadi alasan bagiku untuk menikah. Yah, Kim Yoogeun, sebantar lagi aku akan menjadi omma-mu sayang.

Kini langkahku mulai terhenti didepan altar, sebuah tangan kekar terulur kehadapanku. Menyunggingkan senyum tulus saat aku menyambutnya. Sedikit berat untuk mengungkapkan ini, yah,, dengan terpaksa kukatakan bahwa Jonghyun terlihat sangat tampan dan tampak begitu dewasa.

“Kau siap Hyu??”bisiknya dengan pelan, menarikku agar berdiri disampingnya. Bisa kulihat, Jonghyun mengalihkan matanya kearah Key dan mengangguk sekilas padanya seolah meminta ijin. Huh, Key, aku tak punya lagi ucapan yang menurutku pantas kuucapkan padanya. Aku hanya bisa berharap Key bisa menemukan belahan jiwanya, seorang yoeja yang akan menemaninya berdiri disini, dialtar ini.

“Sekarang kalian resmi menjadi pasangan suami istri.”akhirnya kami selesai mengucap janji setia. Ya, kini Kim Jonghyun sudah resmi menjadi suamiku, rasanya kenapa begitu lega dan sedih yang bercampur dengan haru. Dengan perlahan, jemari Jonghyun menyibak renda tipis dari wajahku, menari daguku dengan lembut. Sebelah tangannya terulur untuk menghapus setitik air disudut mataku. Wajah tampannya semakin dekat, hingga bibirnya menyentuh keningku. Rasanya seluruh tubuhku lunglai seketika, darahku berdesir dengan hebat. Terlebih saat bibir itu menempel dibibirku. Sungguh, aku merasa bumi yang kupijak berputar seketika saat Jonghyun mulai memperdalam ciumannya. Melumat habis setiap inchi permukaan bibirku ini. Tanpa Kusadari kedua lenganku telah bergerak kearah lehernya dan bertumpu didadanya saat kami melepas tautan bibir kami. Nafasku tersengal, dan bisa kupastikan sekarang pipiku pasti sudah memerah terlebih begitu menyadari ada banyak pasang mata yang memperhatikan aksi Jonghyun barusan. Dan bisa kulihat, Key tengah menunduk dengan sengaja kearah Yoogeun.

“Maafkan aku Key.”batinku. Lalu sebuah sentuhan dipipi mengalihkan perhatianku.

“Terimakasih Hyu,, untuk semua yang telah kau lakukan padaku pada Yoogeun. Untuk bersedia menjadi ibu dari anakku.”ujar Jonghyun disela rangkulannya.
Aku hanya bisa diam menikmati pelukannya, pelukan hangat dari suamiku sendiri.

***

“Hyu,, kutinggal sebentar. Key mau bicara denganmu katanya.”ujar Jonghyun begitu acara pernikahan telah usai. Kini aku tengah berada dikamar, membereskan penampilanku setelah seharian memakai gaun berat ini.

“Klek,”pintu kamar terbuka lebar, sosok tegap Key muncul dalam bayangan kaca besar dihadapanku ini.

“Oh,, Key! Ada apa??”sapaku tanpa mengalihkan tatapn dari kaca.

“Aku hanya ingin berpamitan Hyu,,”ujarnya begitu dia duduk disofa yang tak jauh dari pembaringan.

“Berpamitan??”sahutku seraya membalikkan badanku menghadapnya.

“Besok aku akan berangkat ke Newyork. Aku mau melanjutkan studi disana.”

“Kau akan pergi? Apa ini karena aku?”entahlah, rasanya begitu sedih mendengar rencana kepergian Key yang mendadak seperti ini.

“Mungkin iya, bisa juga tidak.”sahutnya datar.

“Aku hanya berpikir mungkin ini yang terbaik agar aku bisa segera melupakan perasaanku padamu. Tak bisa kupungkiri, aku sedih saat melihatmu dan hyung dialtar tadi. Mungkin juga, jika kau menikah dengan hyung karena kalian saling mencintai. Aku rasa aku bisa tetep tinggal disini. Tetap menjadi Key yang akan tersenyum melihat kebahagiaanmu bersama orang yang kau cintai. Namun kenyataannya kau dan hyung menikah bukan karena cinta, dan itu yang membuatku sulit melepasmu Hyu. Aku takut seandainya aku terus disini aku malah menyulitkan semua orang, terlebih kau dan hyung.

Aku hanya bisa menunduk, membiarkan air mata menggenang didipelupuk mataku. Key, kau sungguh orang yang baik dan teramat baik.

“Satu pesanku Hyu,, cobalah untuk memperjuangkn kebahagiaanmu. Kau berhak bahagia. Dan hanya dengan melihatmu bahagia, aku bisa melepasmu dari hatiku.”entah sejak kapan Key kini sudah berdiri dihadapanku. Membungkuk sedikit saat dia tiba-tiba mengecup keningku. Air mataku semakin luruh begitu menatap matanya yang bening.

“Aku pergi Hyu,,”ujarnya begitu dia berbalik dan bersiap untuk pergi.

“Pergilah Key.. Aku berjanji akan memperjuangkan kebahagiaanku. Aku akan bahagia untukmu.”balasku saat dia membuka pintu.

“Kau juga harus bahagia Key,, bahagia untukku. Itu permintaanku padamu.”lanjutku masih dengan senyum terhangatku untuknya yang hanya disambut acungan jempol.
Terus kupandangi punggung Key hingga lenyap diambang pintu.

***

Setelah Key pergi, aku kembali duduk dan mencoba menghapus air mataku. Aku tidak ingin Jonghyun melihatku menangis seperti ini.

“Hyu,,,”Jonghyun kembali masuk, dan kini berdiri disampingku. Menarik tubuhku agar duduk ditepi tempat tidur.

“Mianhe Hyu,,”lirihnya seraya memeluk tubuhku dengan erat.

“Berhentilah meminta maaf padaku Jjong. Aku ini istrimu sekarang.”balasku sambil mengusap punggungnya perlahan.

Lama tak ada tanggapan, ternyata Jonghyun sudah terlelap dalam tidurnya. Kupikir Jonghyun sangat lelah hari ini.

“Kim Jonghyun,,, kau ini. Mudah sekali lelap.”gumamku sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur. Melepas sepatu dan jas hitamnya. Kupandangi wajah teduh Jonghyun, kutelusuri garis wajahnya yang terpahat sempurna. Kau memang tampan Jjong, meski aku tak kan pernah mengakui itu dihadapanmu. Lalu kukecup dengan lembut pipinya sebelum beranjak untuk melihat keadaan Yoogeun.

***

Author POV

Seminggu berlalu semenjak hari pernikahan Jonghyun dan Hyukyung. Hubungan mereka tetap saja seperti sebelumnya. Selayaknya dua sahabat dekat. Bahkan Hyukyung dan Jonghyun masih tidur dikamar terpisah.

“Hyu,, kudengar kau sudah tidak berangkat kuliah lagi??”tanya Jonghyun sambil memperhatikan Hyukyung yang tengah menimang Yoogeun dan memberikan susu untuknya.

“Ne,, aku ambil cuti Jjong. Sampai Yoogeun cukup besar untuk ditinggal.”sahut Hyukyung yang kemudian ikut duduk disamping Jonghyun.

“Cuti??”

“Ne,, lagipula aku berencana untuk lebih fokus merawat Yoogeun dan mengembangkan kios bunga untuk tambahan penghasilan kita, kau setuju bukan Jjong?”

Jonghyun hanya diam. Tak mampu menjawab apapun.

“Jjong! Kau kenapa?”Hyukyung sedikit cemas melihat Jonghyun hanya diam seperti itu.

“Kau tahu,, aku beruntung memilikimu dalam hidupku Hyu. Kau bagaikan malaikat yang diturunkan untukku, untuk Yoogeun.”sahut Jonghyun seraya berdiri dan menepuk puncak kepala Hyukyung. Kemudian mencium pipi chubby Yoogeun penuh kasih sayang.

“Aku tidak ingin dianggap malaikat Jjong! Aku hanya ingin kau mengaggapku sebagai istrimu. Aku tidak ingin kau merasa segan padaku.”batin Hyukyung dengan sedih. Sejak menikah, Jonghyun begitu segan pdanya, sikapnya pada Hyukyung berubah sedikit kaku. Terbeban oleh perasaan berhutang budi pada Hyukyung. Dan itu membuat Hyukyung merasa sedih. Terasa ada jarak antara dirinya dan Jonghyun. Jarak yang membuatnya merasa asing dengan sosok Jonghyun. Karena namja itu kini menjadi begitu serius. Sehari-harinya dia habiskan untuk bekerja, menjadi pelayan kafe dan merangkap sebagai penyanyi kafe. Ya, tak bisa dipungkiri meski Hyukyung ikut membantu dengan membuka kios bunga didepan rumah. Namun nyatanya kebutuhan rumah tangga mereka cukup besar, terlebih dengan kondisi Yoogeun yang masih bayi dan butuh biaya lebih.

***

Jonghyun berlari menembus kerumunan orang-orang. Tak peduli dengan teriakan mereka yang merasa terganggu dengan tingkah Jonghyun itu.

“Jjong,, Yoogeun masuk rumah sakit. Dia mengalami sesak nafas. Cepatlah datang.”satu telpon dari Hyukyung, mampu membuat Jonghyun begitu cemas dan khawatir dengan keadaan anaknya itu. Jonghyun terus memacu langkahnya, hingga dia bisa melihat Hyukyung berdiri didepan ruangan emergency dengan wajah tertunduk.

“Bagaimana keadaaanya Hyu,,”Jonghyun menunduk, berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.
“Jjong,, dokter bilang Yoogeun harus segera di operasi. Susunan tulang dadanya membuat dia tak bisa bernafas dengan normal.”
“Operasi?? Ya tuhan,, dapat dari mana uang untuk biaya operasi.”batin Jonghyun seraya menunduk.

Bersambung……..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “Undiscloser Desire – Part 3”

  1. Ya ampun key , besar banget pengorbanannya. Hyukyung juga gitu. Tapi ya ampun jjong , sampai kapan sih nyadarnya kalau hyukyung itu cinta sama dia…
    Gemes sendiri jadinyaaaa.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s