[FF KEY B’DAY PARTY] Someone From The Past [1.2]

Title                 : Someone From The Past – Part 1

Author             : Kim Nara

Beta Reader    : mybabyLiOnew

Main Cast        : Kim Kibum, Song Jae In (OC)

Support cast  : SHINee’s member

Genre             : Romance

Length           : Twoshot

Rating            : G

Disclaimer       : I OWN this story and OC characters but not other characters. SHINee belongs to God, himself, family, and SM Entertainment. There are some facts in this fic that I have to modificate due to story needs. Do not copy without permission and copyright.

***

.

SHINee’s Dorm. 12.45 AM

“Kau mau ke mana, Kibum-ah? Kenapa belum tidur?”

Aku mendengar suara Jonghyun hyung ketika aku baru saja menutup pintu kamar dan memakai jaket maroon ber-hoodie kesayanganku. Ketika aku menoleh, aku melihat pria itu membawa segelas susu di tangan kanannya.

Akhir-akhir ini Jonghyun hyung memang mengalami insomnia dan aku menyarankannya untuk meminum segelas susu hangat di malam hari. Karena hal itu biasanya memberikan efek kepadaku dan aku berharap memberikan efek juga kepadanya. Jujur saja aku kasihan setiap kali ia sangat ingin tertidur tapi tidak bisa, lalu pria itu akan berakhir dengan handphone dan akun twitter-nya.

“Jam tujuh tadi aku ketiduran dan terbangun sekitar pukul sebelas. Sekarang aku sama sekali tidak mengantuk dan berniat ingin menghabiskan waktu dengan menonton film saja sambil ditemani camilan yang aku beli kemarin. Tapi ketika aku membuka lemari di dapur, semua camilan itu sudah lenyap. Jangan katakan bahwa kau yang memakannya, Hyung,” ujarku panjang lebar. Aku pun menyipitkan mata di akhir kalimatku karena curiga dengannya.

Yak! Nan aniya. Aku bukan tipe yang akan makan di luar waktu makan. Kau tahu itu kan? Seharusnya kau bertanya kepada Minho dan Taemin apa yang mereka makan ketika kau tidur tadi.” Nada bicara Jonghyun hyung sedikit naik. Mungkin kesal karena aku menuduhnya yang tidak-tidak. Matanya membulat persis seperti mata Roo, anjing kesayangannya itu.

Aku terkekeh. Tentu saja aku tahu bahwa Jonghyun hyung tidak akan seperti itu. Aku hanya ingin menggodanya saja. “Arasseo Hyung, aku ‘kan hanya bercanda,” kataku sambil menahan tawa.

“Lalu kau mau ke mana tengah malam begini?”

“Ke mini market di ujung jalan sana. Sudah lama aku menginginkan camilan itu, tapi Minho dan Taemin justru memakannya sampai habis,” keluhku jengkel.

“Perlu kutemani?” Jonghyun hyung menaruh gelas susu yang isinya belum berkurang sedikit pun. Ia mengambil sebuah jaket milik Taemin yang tersampir begitu saja di kursi meja makan.

“Tidak usah, Hyung. Sebaiknya kau habiskan susu itu sebelum dingin, kemudian segera tidur. Sudah lebih dari tiga hari kau selalu tidur terlambat.”

Jonghyun hyung terlihat ragu sesaat tapi ketika ia melihat aku mengangguk untuk meyakinkan, ia pun akhirnya mengalah. Mungkin ia juga memikirkan kesehatannya. “Hati-hati Kibum-ah, jangan sampai ada yang mengenalimu.”

Geogjeongma, Hyung. Lagipula aku tidak pergi jauh dan aku pun tidak berniat berlama-lama di sana.” Aku tersenyum menanggapi Jonghyun hyung yang terlihat sedikit mengkhawatirkanku. Sungguh tidak ada yang lebih menyenangkan daripada memiliki partner kerja yang merangkap menjadi sahabat dan juga keluarga seperti Jinki hyung, Jonghyun hyung, Minho, dan juga Taemin.

Arasseo. Jalga.” Jonghyun hyung melambaikan tangan sebelum pria itu masuk ke dalam kamarnya. Aku pun hanya tertawa dan membalas lambaian tangannya.

Aku memasuki lift dengan membawa kupluk hitam dengan garis-garis maroon –senada dengan jaketku- serta sebuah masker. Hanya membawa dan tidak berniat memakainya sampai nanti aku tiba di lantai dasar. Tidak mungkin ada Shawol yang berkeliaran selarut ini ‘kan? Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan keadaan lingkungan tempat tinggal kami semenjak kami pindah ke dorm baru, mengingat schedule yang menggila belakangan ini.

Aku keluar dari lift dan hendak berjalan keluar melalui pintu depan ketika aku melihat ada sekelompok wanita yang duduk-duduk tepat di seberang jalan. Aku langsung memutar tubuhku dan merubah haluan, lebih baik aku lewat pintu belakang kalau begitu. Aku berbelok dan berjalan menuju ujung koridor ketika bertemu dengan seorang pria paruh baya dengan sebuah name tag yang tersemat di seragamnya. Tertulis “Shim Dong Hoon” di sana.

“Menghindari para fans, Tuan?” Ahjussi yang sedang berjaga malam ini menyapaku sambil melemparkan senyum penuh pengertian.

“Ah neCheogi, Ahjussi, apa setiap malam mereka selalu duduk-duduk di sana?” tanyaku penasaran.

Ne,” sahutnya kemudian.

Jinjja?” Mataku membulat, cukup terkejut dengan kenyataan yang ada. Meski hal tersebut sudah biasa terjadi di dorm kami yang lama. “Kenapa aku tidak menyadarinya?” gumamku. Pertanyaan yang lebih kutujukan untuk diriku sendiri.

Keurom…” Aku membungkukkan badan sekilas, berpamitan untuk pergi. Dong Hoon ahjussi pun ikut membungkukkan badan.

Begitu keluar dari pintu belakang, aku langsung memakai kuplukku. Aku sempat menimbang-nimbang apakah aku perlu memakai maskerku juga atau tidak, tapi akhirnya aku memutuskan untuk tidak memakainya. Aku berjalan tanpa ragu dan berbelok tanpa menengok ke belakang lagi. Aku tetap mencoba berjalan dengan santai dan tidak terburu-buru, meski jantungku berdebar keras karena takut ada yang melihat dan langsung mengenali hanya dengan melihat punggungku. Nyatanya memang tidak ada yang mengikutiku setelahnya dan tidak ada pula Shawol lain yang berkumpul di sekitar dorm selain di depan pintu utama tadi. Ternyata aku cukup beruntung.

Di Korea, ada dua kata yang digunakan untuk istilah camilan. Yang pertama adalah gansik (간식) yang berati ‘makanan yang dimakan di antara waktu makan’ dan yang kedua adalah gwaja  (과자) yang berarti ‘makanan ringan’. Aku ingin membeli beberapa jenis gwaja atau camilan yang sudah lama sekali aku tidak memakannya. Aku sungguh menginginkannya sampai kemarin aku memohon kepada manager hyung untuk membelikannya, tapi ternyata aku bahkan tidak bisa mencicipinya sedikit pun.

Aku menaikkan ritsleting jaketku ketika angin malam bertiup agak kencang dan dinginnya masih terasa menusuk kulitku. Jalan di sekitar dorm sangat sepi, bahkan tidak ada seorang pun. Ah ya, mungkin pengecualian untuk daerah di depan dormku itu yang ramai dengan beberapa Shawol… atau mungkin lebih cocok kusebut sasaeng? Entahlah.

Jalanan sepi yang terbentang lurus di depanku terlihat elok karena disinari lampu jalan yang bersinar kekuningan, mendadak membuat perasaanku campur aduk. Di sudut hatiku ada rasa rindu untuk berjalan-jalan dengan bebas tanpa beban; tanpa harus memperhatikan pakaian apa yang aku kenakan; tanpa perlu khawatir apakah wajahku berjerawat, berminyak, atau berkeringat; dan tanpa merasa risih dengan kamera-kamera yang tertuju ke arahku. Tiba-tiba aku rindu masa kecilku di Daegu.

Sesaat kemudian aku menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Mencoba mengusir apa yang ada di benakku. Bukan karena pikiran itu salah, tapi bukankah lebih baik aku bersyukur dengan apa yang telah aku peroleh saat ini? Dari awal pun aku sudah tahu risiko apa yang akan aku tanggung ketika aku memilih untuk meraih mimpiku. Ya, ketika kita memikirkan semua keinginan dan juga kesulitan yang kita hadapi, kita sering melupakan bahwa Tuhan telah memberikan apa yang kita butuhkan dan terbaik untuk kita. Jadi, lebih baik aku bekerja lebih keras untuk membuat bangga keluarga dan orang-orang yang terus mendampingiku, menabung untuk masa depan yang akan aku rajut bersama anak dan istriku nantinya, serta selanjutnya aku tinggal menikmati masa tuaku tanpa ada penyesalan sedikit pun. It is good, isn’t it?

Beberapa langkah sebelum aku sampai di mini market yang aku tuju, aku memakai masker yang sejak tadi bertengger dalam kantung jaketku. Tentu saja untuk membuat pembeli yang lain tidak langsung mengenaliku. Aku ‘kan juga harus berinteraksi dengan penjaga kasir. Bisa saja dia histeris melihatku berbelanja di tengah malam begini. Oh, baiklah mungkin aku terlalu percaya diri. Tapi bukankah ada pepatah ‘mencegah lebih baik dari pada mengobati’? Well, aku hanya berjaga-jaga saja.

Aku menganggukkan kepalaku sekali kepada gadis penjaga kasir yang mengucapkan salam ketika aku masuk. Dilihat sekilas sepertinya malam ini hanya aku saja yang menjadi pembeli di mini market yang buka selama 24 jam itu. Aku langsung mengambil keranjang dan berbelok ke rak bagian makanan ringan sebelum gadis penjaga kasir mengamatiku lebih lama. Kedua mataku bergerak menyusuri tiap bagian rak itu dan akhirnya bibirku menyunggingkan satu senyuman puas ketika menemukan apa yang aku cari.

Aku mengambil satu bungkus Kkokkalcorn, makanan ringanjagung asin dan renyah yang memiliki bentuk kerucut. Seperti yang menjadi kebiasaan orang-orang, aku suka memakannya dengan menempatkan kerucut-kerucut itu masing-masing satu buah di setiap jarinya sehingga terlihat seperti kuku yang panjang, lalu memakannya satu persatu. Aku pernah melakukannya juga saat shooting Hello Baby di episode 12 ketika aku dan Minho mempersiapkan pesta ulang tahun untuk Jonghyun hyung.

Di rak paling bawah aku melihat Sando, makanan ringan tertua di Korea. Aku pernah membaca di internet bahwa makanan ini diperkenalkan pada tahun 1961. Daebak! Masih banyak orang yang mencarinya termasuk aku. Ini merupakan biscuit sandwhich dengan krim di tengah dan memiliki pilihan rasa vanilla, cokelat, dan strawberry. Setelah menimbang-nimbang sesaat, aku mengambil rasa vanilla dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Aku berpikir ingin membeli satu jenis makanan ringan lagi. Dan ketika aku menjatuhkan pandanganku ke rak paling bawah bagian ujung, aku melihat satu bungkus Chocopie, makanan ringan mirip spongecake dilumuri cokelat dengan isi marshamallow. Saat aku masih di duduk di sekolah dasar dulu aku pernah memakai Chocopie ini sebagai kue ulang tahun untuk seorang teman sekelasku karena aku tidak punya banyak uang untuk membeli kue ulang tahun.

.

*Flashback*

AUTHOR POV

“Saengil chukkahae!” ujar seorang anak lelaki dengan pipi chubby, bibir mungil, dan alis yang cukup tebal. Lelaki kecil itu memegang sebuah Chocopie dengan lilin kecil ditengahnya, menyodorkan kepada gadis kecil dengan rambut yang diikat dua.

“Eoh? Gomawo, Kibong-ah.” Gadis kecil itu terlihat bingung sejenak tapi kemudian ia menyunggingkan senyum manisnya. Membuat lelaki kecil di hadapannya menundukkan wajah, entah karena apa.

“Pikirkan keinginanmu, lalu tiup lilinnya Mal Lang-ah (squishy),” gumam Kibong yang masih menundukkan kepalanya, meski masih terdengar jelas oleh gadis itu.

“Arasseo.”

Kibong mengawasi bagaimana gadis kecil itu menutup matanya kemudian meniup lilinnya beberapa saat kemudian. Seperti dihipnotis, lelaki kecil itu ikut menyunggingkan senyumnya ketika ia melihat senyum manis tersungging di bibir gadis kecil itu.

*Flashback End*

.

Aku tersenyum kecil mengingat masa kecilku. Menakjubkan rasanya ketika menyadari memori itu mengkristal di otakku hingga aku masih mengingat setiap detilnya sampai saat ini. Bahkan aku masih ingat bagaimana berdebarnya jantungku saat itu.

Aku melangkahkan kakiku untuk mengambil Chocopie yang tersisa tinggal satu kotak itu. Aku berpikir makanan ini akan aku sembunyikan agar Minho dan Taemin tidak memakannya lagi. Biarlah makanan yang lain mereka makan, asal jangan Chocopie ini. Aku sudah lama tidak memakannya dan demi Tuhan aku benar-benar menginginkannya sekarang. Aku setengah membungkukkan tubuhku untuk mengambil makanan ringan yang begitu aku idamkan itu.

GREP.

Namun begitu aku berhasil menggapainya, tiba-tiba ada satu tangan lain yang memegang kotak yang sama dengan yang aku pegang. Aku menarik kotak Chocopie itu ke arahku, tapi sialnya tangan itu juga menariknya dengan kuat. Oh tidak, jebal, aku sangat menginginkannya. Aku tidak akan mengalah. Pokoknya Chocopie yang tinggal satu-satunya ini harus jadi milikku.

Choegiyo…,” desisku gusar. Jelas-jelas aku yang melihat Chocopie ini lebih dulu. Aku pun menegakkan tubuh, ingin melihat siapa orang yang keras kepala itu.

Pemandangan yang menyambutku kemudian adalah seorang gadis dengan mata cokelat, hidung mancung, bibir peach, kulit putih segar, dengan rambut yang dicepol tinggi di bagian atas kepalanya, sedang menatapku dengan sorot memohon sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu memakai legging abu-abu dengan sweater baby pink ber-hoodie yang kebesaran.

Aku hanya mampu terpana selama beberapa detik dan baru tersadar ketika ia menarik sedikit kotak Chocopie itu. Tapi entah kenapa aku malah melepaskan kotak itu begitu saja.

Gomawo,” katanya ceria. Lalu gadis itu berlalu begitu saja melewatiku.

Aku mengerjapkan mataku lalu aku mengejarnya. “Hei,” panggilku sambil memegang bahunya.

Huh?” Gadis itu berbalik dan melemparkan tatapan bingungnya ke arahku.

Chocopie itu…,” ujarku ragu sambil menunjuk kotak yang dipegangnya. “Aku melihatnya lebih dulu. Berikan kepadaku,” pintaku lebih tegas.

Mwo?” Matanya membulat tidak percaya. Gadis itu kemudian mendengus, membuatku menyesal karena sempat berpikir bahwa kadar kecantikan gadis ini berada di atas rata-rata. “Tapi kau memberikannya kepadaku. Pria macam apa yang meminta kembali sesuatu yang sudah diberikan kepada orang lain?”

Aish. Aku benar-benar menginginkannya dan makanan itu tinggal satu! Baiklah, mungkin aku harus menggunakan cara ini. Aku membuka maskerku kemudian tersenyum semanis mungkin kepadanya. “Aku sudah melihatnya sejak tadi, jadi Chocopie itu milikku. Bisa berikan itu kepadaku?” ujarku lebih lembut.

Gadis itu terlihat terkejut karena bola matanya membulat dan mulutnya membentuk huruf ‘O’. Nah seharusnya dengan melihat senyum manisku, gadis itu akan langsung memberikan Chocopie itu. Aku yakin sekali, karena gadis mana pun pasti akan…

Mwoya?! Walaupun kau tersenyum sampai ujung-ujung bibirmu hampir menyentuh telinga sekalipun aku tidak akan memberikan Chocopie ini. Kau sudah memberikannya kepadaku tadi!”

Eh?

“Kau tidak tahu aku siapa?” bisikku tidak percaya.

“Siapa pun kau, apa pun status dan pekerjaanmu, aku tetap tidak akan memberikannya kepadamu.” Gadis itu berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Demi Tuhan! Memangnya gadis ini hidup di belahan dunia mana sih? Setelah aku perhatikan lebih jauh, dia ini orang Korea juga kok. Lalu kenapa tadi sorot matanya terkejut seperti itu? Seolah-olah dia mengenal siapa diriku.

“Di rumahmu tidak ada televisi, ya?” tanyaku masih dengan ekspresi tidak percaya.

“Apa urusanmu bertanya seperti itu?” Gadis itu pergi begitu saja menuju kasir. Aku melihat ia hanya membawa satu kotak Chocopie itu saja dan tidak membeli makanan ataupun barang lainnya.

“Serius kau tidak tahu siapa aku?” tanyaku lagi sambil mengikutinya berjalan menunju kasir.

OMO Key SHINee! Benar dugaanku!”

Aku mendengar ada seseorang yang memekik menyebut namaku. Tapi aku tahu pasti suara feminim itu bukan berasal dari gadis di sampingku ini. Aku mendongak dan melihat gadis penjaga kasir sedang menatapku dengan ekspresi terkejut sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.

“Ck.” Aku berdecak sebal karena lupa memakai maskerku lagi. “Bisakah kau tidak memberitahu siapa pun bahwa aku sedang berada di sini sekarang? Tolong jangan mengambil fotoku juga. Aku akan memberikan tanda tanganku sebagai gantinya. Kau bisa membantuku?” tawarku lengkap dengan senyum termanis.

Aku menghela napas lega ketika melihat gadis penjaga kasir itu mengangguk. Aku mengalihkan pandanganku kepada gadis keras kepala di sampingku sambil memberikan tatapan yang seolah berkata sudah-tau-kan-aku-siapa.

“Oh kau artis?”

Aku dikejutkan kembali dengan reaksi yang diberikannya. Reaksinya sungguh di luar dugaan.

Omo, agassi… kau tidak tahu SHINee? SHINee kan belum lama comeback. Ditambah Minho, salah satu membernya, sedang terlibat dalam satu drama,” jelas gadis penjaga kasir itu sambil menghitung makanan yang aku beli. “3700 won, Key-ssi.”

Aku mengangguk menanggapi penjelasan gadis penjaga kasir itu sambil memberikan uang kepadanya. Kemudian menandatangani selembar kertas yang disodorkan gadis penjaga kasir kepadaku.

“Sudahlah aku tidak peduli. Ini… aku membeli ini saja,” tandasnya sambil memberikan kotak Chocopie yang benar-benar aku inginkan.

“Kau benar-benar…,” Aku bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk aku lontarkan kepadanya. Aku mengela napas kemudian memakai maskerku dan berjalan keluar setelah menggumamkan kata ‘kamsahamnida’ kepada gadis penjaga kasir itu.

Ya!” Langkahku harus terhenti ketika ada yang menahan lenganku.

Ketika aku membalikkan badan, gadis keras kepala itu lagi yang aku lihat. “Wae?” ujarku malas.

“Kau begitu menginginkannya ya?” tanyanya polos. Aku mengerutkan kening selagi mencerna maksud dari pertanyaannya itu.

Dia membuka kotak Chocopie itu. “Ini.” Lalu memasukkan dua bungkus Chocopie ke dalam kantung jaketku kemudian menatapku angkuh. “Anggap saja aku sedang baik hari ini.” Gadis itu menatap langsung ke mataku beberapa detik, kemudian ia berbalik dan pergi begitu saja.

Apa itu tadi?

Aku hanya mampu terdiam di tempatku sambil menatap punggung gadis itu yang menjauh. Kebingungan. Bukan hanya karena sikapnya yang aneh tapi juga karena matanya. Mata yang tampak… familiar.

***

Handel & Gretel. Yeongdeungpo-Gu, Yeouido-dong, Seoul. 08.45 PM.

Setelah kemarin aku, Onew hyung, Jonghyun hyung, dan Taemin mengisi acara di Etude Pink Play Concert di Seoul Olympic Hall, hari ini hanya aku dan Minho yang memiliki schedule. Seperti kemarin dan hari sebelumnya, Minho harus shooting drama. Sedangkan aku harus ke MBC menggantikan Shindong hyung menjadi DJ di Shim Shim Tapa jam 12 malam nanti.

Sebenarnya schedule-ku hari ini bukan hanya menggantikan Shindong hyung saja tapi juga harus melakukan promosi untuk produk Etude. Sore ini aku akan mengunjungi Etude House di Seoul Shinonhyun Station untuk membeli beberapa produk dan akan ada staff yang mendokumentasikannya. Namun jika dipikirkan lebih jauh, aku tidak sepenuhnya melakukan promosi. Aku memang telah menggunakan produk dari Etude untuk perawatan kulitku jauh sebelum SHINee menjadi model untuk produk kosmetik ini.

Aku sedang mendengarkan musik melalui iPod Touch 64Gb putih pemberian Lockets saat perutku tiba-tiba meraung kelaparan. Aku baru ingat kalau aku belum makan malam, padahal jam digital yang melingkar di pergelangan tanganku sudah menunjukkan angka 08:45.

Hyung, bisakah kita mampir sebentar ke Handel & Gretel milik Yesung hyung sebelum ke MBC? Aku lapar sekali,” tanyaku kepada Gyeongshik hyung yang duduk di sebelah road manager kami.

“Kau belum makan? Apa yang terjadi dengan hamburger yang aku belikan tadi sore?” Gyeongshik hyung merubah posisi duduknya sehingga ia bisa melihatku yang duduk di belakang seorang diri.

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal kemudian berkata sambil tersenyum canggung. “Ah itu… aku menyuruh seorang pekerja di Etude House tadi untuk memberikannya kepada tunawisma yang ada di seberang jalan.”

Aigoo, kenapa tidak bilang supaya aku bisa membelikanmu makanan yang lain? Baiklah, kita mampir dulu ke café milik Yesung.”

Belakangan ini aku berpikir ingin membuka usaha seperti Yesung hyung yang mempunyai merek kacamatanya sendiri yaitu Ystyle dan café Handel & Gretel; lalu ibu dari Kyuhyun hyung, Leeteuk hyung dan Sungmin hyung yang bergabung membuka Kona Beans; dan Shindong hyung yang mempunyai PC room. Ya karena dunia entertainment ini tidak terlalu menjamin masa depan. Begitu popularitasmu tenggelam, maka penghasilanmu juga akan berkurang. Jadi sebenarnya semua pelakon dunia hiburan seperti kami sebaiknya melakukan investasi di bidang lain.

Saat ini aku belum menemukan investasi seperti apa yang cocok untuk kucoba. Tapi rasanya tidak akan melenceng jauh dari hal berbau seni. Bisa juga aku menerbitkan merek bajuku sendiri. Ya siapa tau? Yang jelas aku ingin mempunyai investasi di bidang lain untuk masa depanku nanti.

Aku ingin berkunjung ke Handel & Gretel bukan semata-mata karena pemiliknya adalah sunbaenim-ku. Tapi aku memang sangat menyukai sandwich yang disediakan di sana dan juga suasana Eropa yang terasa menyenangkan.

Aku pun pernah membaca beberapa informasi mengenai coffee shop bersistem franchise itu. Salah satu yang membuatku tertarik adalah filosofi yang bagus dari nama café ini. Nama Handel & Gretel berasal dari singkatan HANd made, DELicious, GREat friend, TELl and chatter. Hand made berarti semua makanan dan minuman di toko ini dibuat langsung dengan tangan, bukan kemasan pabrik. Sandwich dan kopi serta makanan lainnya diklaim enak(delicious) dan sehat. Terakhir, Handel & Gretel diharapkan bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berbincang (tell and chatter) dengan teman-teman yang hebat (great friend).

Di Korea sendiri, baru ada delapan Handel & Gretel. Berbeda dengan coffee shop lain seperti Starbucks dan Caffe Bene yang berjumlah puluhan. Di Seoul, Handel & Gretel tersebar di beberapa daerah seperti di daerah Jangchun-dong, daerah elit Gangnam-gu (Nonhyeon-dong, Daechi-dong, Apgujeong-dong), Gireum-dong (Hyundai Department Store), serta yang paling dikenal, gerai milik keluarga Yesung di Yeongdeungpo-gu, Yeouido-dong. Lalu di luar Seoul, ada satu cabang Handel & Gretel di provinsi Gyeonggi, Yeoju-gun.

Hal yang paling menarik adalah semua produk Handel & Gretel milik Yesung hyung ini dijual lebih murah dari pada produk Handel & Gretel yang lain. Entah bagaimana caranya, namun yang jelas Yesung hyung mengambil keputusan ini karena memikirkan kondisi para ELF juga. Wah, aku berharap bisa seperti Yesung hyung. Aku selalu memikirkan dan berterima kasih kepada SHINee World, tapi aku belum menemukan cara bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihku. Jadi aku hanya bisa menunjukkan kerja kerasku di atas panggung saja.

Begitu sampai, aku memasuki toko itu, sendiri tanpa ditemani Gyeongshik hyung seperti biasa. Aku yang memintanya demikian, terkadang aku jengah juga selalu diikuti kemana-mana olehnya. Lagi pula Handel & Gretel sedang tidak ramai, hanya ada empat orang yang sedang duduk di sudut ruangan. Mungkin karena sebentar lagi waktunya tutup.

“Selamat datang.” Seorang pegawai laki-laki menyambutku dari balik meja kasir.

Aku tersenyum lalu membungkuk sekilas. Sambil berusaha keras mengabaikan bisikan keempat orang yang sedang duduk di sudut ruangan itu, aku berdiri di depan meja kasir dan sedikit mendongak untuk melihat menu yang dipajang di depan-atas dari jarak pandangku.

Reguler iced americano seperti biasa, Tuan?”

Pegawai pria ini sudah beberapa kali melayaniku ketika aku berkunjung ke sini, sepertinya sekarang ia sudah hapal dengan minuman kesukaanku. Aku tersenyum sambil berkata, “Tepat. Tapi kali ini aku juga ingin memesan bacon lettuce tomato sandwich. Take out.”

Algetseumnida. Satu reguler iced americano dan satu bacon lettuce tomato sandwich. Semuanya jadi 5400 won, Tuan.” Pegawai laki-laki itu menyebutkan semua pesananku sambil menghitung total tagihan yang harus aku bayar.

Aku memberikan sejumlah uang yang harus aku bayarkan kemudian menerima kembalian sekaligus nomor pesanan. Setelah itu aku dipersilakan duduk sambil menunggu pesananku dibuatkan. Aku berpikir apa yang sedang dilakukan member lain saat ini, jadi aku mengirimkan pesan kepada mereka melalui Kakao Talk. Seperti biasa, Jonghyun hyung adalah member yang paling cepat membalas pesanku. Dia itu benar-benar tidak ada kerjaan, ya?

Beberapa lama kemudian, pesananku sudah bisa diambil. Aku berjalan ke meja kasir untuk mengambil pesananku sambil terus mengutak-ngatik ponselku. Jonghyun hyung masih saja mengirimiku gambar-gambar konyol, membuatku terdiam sejenak di depan meja kasir, lalu tertawa bodoh sambil menyeruput iced americano-ku.

“Benar juga ya kalau kafein bisa meningkatkan konsentrasi seseorang. Nyatanya kau sangat berkonsentrasi dengan ponselmu sampai tidak menyadari bahwa ada orang yang tidak bisa memesan karena kau menghalangi kasirnya.”

Seketika aku mengangkat wajahku yang semula menunduk menatapi ponselku. Aku merasa kata-kata yang dilontarkan suara feminim yang terdengar tidak asing itu memang untukku. Aku pun berbalik dan menemukannya.

Lagi.

Pikyeo (minggir). Kau menghalangiku,” katanya sambil mendorong tubuhku pelan.

Neo…”

Aku hampir saja berteriak marah karena sikapnya yang menyebalkan itu. Masalahnya, ini adalah kedua kalinya ia bersikap semena-mena terhadapku. Bukankah dia bisa menegurku dengan baik-baik? Aku bahkan harus menelan bulat-bulat semua teriakan yang sudah sampai di ujung lidahku, ketika aku melihat empat orang yang duduk di sudut ruangan tadi masih mengamati dan sesekali berbisik-bisik. Tidak lucu sama sekali jika besok ada artikel di internet dengan judul ‘SHINee Key bertengkar dengan seorang wanita pelanggan Handel & Gretel’

Jadi aku hanya bisa membungkuk sedikit dan mengucapkan “Mianhamnida” dengan rahang yang kukatupkan rapat-rapat saking kesalnya.

“Satu reguler iced green tea dan satu tuna sandwich. Take out ya.” Gadis itu memesan sambil tersenyum kepada penjaga kasir.

Aku memutar kedua bola mataku ketika melihatnya. Sok manis. Padahal tidak ada yang salah dengan penampilannya yang menurutku cukup menarik. Kali ini ia memakai blazer simple dengan warna cokelat yang sangat muda, lalu sepertinya ia memakai kaus V-neck putih polos untuk bagian dalamnya, skinny jeans abu-abu tua, high heels dengan warna yang senada dengan blazernya, dan kalung dengan liontin berbentuk satu helai bulu sebagai pelengkap. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, rambut kecokelatan dengan model layer yang terlihat indah. Hmm mungkin akan terasa lembut jika disentuh…

Jamkkan.

Ige mwoya? Aish aku pasti sudah gila jika aku benar-benar berpikir untuk menyentuh rambutnya. Apa-apaan ini? Aku belum merasa lelah, tapi kenapa aku malah melantur seperti ini?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengenyahkan pikiran liar di otakku. Dan yang kutemukan selanjutnya adalah tatapan aneh dari gadis itu.

“Kenapa kau masih di sini? Kau stalker ya?”

Aku membulatkan mataku mendengar pertanyaan yang lebih terdengar sebagai tuduhan penuh percaya diri di telingaku. “Mwo?” Aku mendengus lalu tertawa meremehkan.

Cheogiyo…” ujarku lagi dengan suara sepelan mungkin tapi bisa kupastikan gadis itu masih mendengarnya. “Tidak pernah kudengar sekalipun mengenai artis yang justru menjadi stalker orang lain. Terlebih gadis macam kau yang keras kepala dan tidak sopan. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apakah kau stalker-ku? Kupikir pertemuan kita di mini market waktu itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kita. Tidak kusangka kau mengikutiku sampai ke sini.” Tidak lupa kupasang ekspresi semanis mungkin seolah sedang bersikap manis di depan fans meski sebenarnya aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya.

Gadis itu tercengang ketika aku mengatakan hal itu. Kemudian ia meniup poninya tanda bahwa ia jengah berhadapan denganku. Ketika ia mulai membuka mulutnya untuk membantahku, secepat kilat aku langsung meninggalkannya dan berjalan menuju pintu keluar. Aku menahan tawa membayangkan bagaimana kesalnya ia dengan tingkahku. Siapa suruh membuatku kesal.

Ternyata dia justru menyusul. Ia mendahuluiku membuka pintu kemudian menahannya sebentar dan berbalik ke arahku. “Kau tidak semanis dulu.”

Aku mengernyitkan keningku ketika ia berkata seperti itu. “Jangan bertingkah seolah kau mengenalku. Awalnya kau bahkan tidak tahu bahwa aku artis. Jangan percaya semua yang tertulis di internet,” sahutku kalem. Pasti dia percaya begitu saja dengan apa yang tertulis di berbagai forum dan artikel.

Sekilas aku melihat sorot kecewa di matanya. Hanya sekilas. Karena sedetik kemudian wajahnya menjadi tanpa ekspresi. “Whatever,” gumamnya sambil mengangkat bahu tidak peduli dan berlalu dari hadapanku. Tanpa perlu menghabiskan lebih banyak waktuku untuk melihat kepergiannya, aku langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu tepat di depan Handel & Gretel.

“Kau mengenalnya?” tanya Gyeongshik hyung begitu aku menutup pintu mobil. Sepertinya ia mengamatiku berbicara dengan gadis itu sejak tadi.

Ani,” jawabku singkat sambil membuka paper bag yang aku bawa kemudian mengeluarkan bacon lettuce tomato sandwich untuk kumakan.

“Ah… fans.” Gyeongshik hyung mengambil kesimpulan sendiri. Sejujurnya itu lebih baik dari pada ia menginterogasiku dan aku harus menceritakan hal menyebalkan yang sebelumnya terjadi.

Eoh,” kataku sekenanya.

Mobil ini berhenti karena lampu lalu lintas yang menyala merah. Aku melemparkan pandanganku ke luar jendela dan seketika aku menyesalinya. Aku melihat gadis itu sedang menyeberang. Tapi entah kenapa mataku terus mengikuti pergerakan gadis itu yang melintas di depan mobil kami… hingga aku menemukan sesuatu yang janggal dan mengejutkan untukku.

“Bando itu… kenapa bisa…?”

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

54 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] Someone From The Past [1.2]”

  1. HUwaaa, nandits, akhirnya diposting juga FF-nya, pas banget ya pas ultahnya Key ^^

    Aku yakin kamu pasti research a lot, itu banyak banget yang nggak mungkin diketahui sama fans biasa kecuali dia nyari datanya langsung, keren lah 😀

    So that girl is the one from his past?

    Belum muncul ya konfliknya, oke ditunggu part selanjutnya ^^

    1. iya eon, seneng banget deh bisa dipost pas banget di ultah key hehe.
      research-nya… untuk hal kecil aja kadang emang sulit banget. tapi selain aku bisa tahu, aku juga seneng bisa bagi-bagi pengetahuan baru ke reader 😀
      hihihi mampir part selanjutnya ya eooon, makasih udah baca 🙂

  2. yah… penonton kecewa sodara2, teh-beh-ceh sih kakak… penasaran!
    apa cewe itu dari masa lalunya Key?
    Key suka sama cewe yg di masa lalu itu ya?

    banyak bgt pertanyaan ini kak. lanjut deh ya, biar aku gak ngelabrak Key (?) #lho

    ff ini keren. risetnya itu looooh… grrr, pelajaran besar buatku 😀

  3. kerenn!! Kesimpulanku cewek itu teman semasa kecilnya key kan?
    🙂
    Aku senang dengan pendeskripsian author yg detail pd hal2 kecil tp jadi unik. termasuk cafenya yesung. ohh aku baru tahu yesung punya cafe, ketinggalan kereta aku 😦
    aku lupa key yg di shim2tapa itu yg berpenampilan kyk gimana ya? yg pake celana pendek pink atau yg pake kaus abu2? aku lupa..

    sisanya tinggal katakan: lanjut & nice ff! 🙂

    1. makasih yaaaa udah baca dan comment, syukur deh kalau emang suka hehe.
      itu key pake baju item. di part selanjutnya itu aku kasih link videonya kok, jadi mampir lagi yaaa di part 2 🙂

  4. woaaaa… yeoja nya cool!!! saya suka karakter yeoja di sini.. sukurin c key d jutekin.. *dibantai locket* mwahahahaa.. lanjutannya pasti saya tungguin.. btw infonya mantep banget.. daebak deh!!

  5. Keren, keren. Ada pengetahuannya juga bikin tambah unyu (?). Aah, aku suka pemilihan bahasanya loh u.u

    Cewek itu siapa sih? Ditunggu next partnya 😀

  6. Bahasanya rapi bangetttt… Mengalir gitu ajjj…. Lama banget rasanya gx baca Ff kayak gini…hehehe

    nebak-nebak palingan tuh yeoja yg di kasih cochopie sama Kibum eh salah Kibong dengg..hehehe

    Ceritanya sederhana tapi deskripsinya Kerennnn….. Terutama yg filosofi dibalik nama Handel & gretel….. Aku baru tahu lohhh.. Thanks author…

    Oh iya add koreksi satu, sebenarnya gx ngaruh sihh tapi sedikit mengganjal di aku.. “Key Shinee bertengkar dengan wanita pelanggan handel & gratel” kayaknya lebih nyaman klo “pelanggan wanita” dibanding “wanita pelanggan”..hehehe

    Maap klo kritiknya gx penting… Semangat! Semangat!!

    1. Iya, itu pun gak sengaja sebenernya. Pas lagi searching lokasi Handel & Gretel, ternyata ada yang informasi tentang filosofi namanya. Karena menarik, jadi aku masukin aja ke sini. Semoga bermanfaat yaa bisa menambah pengetahuan hehe.

      Untuk koreksinya makasih banget yaaaaa, aku baru sadar itu. Tapi maaf gak akan bisa dibenerin di sini. Paling entar aku benerin pas aku repost di blog. Btw kritik itu gak ada yang gak penting kok selama tujuannya supaya si author bisa memperbaiki dirinya ^^

      Makasih yaa udah baca dan comment 🙂

      1. iyaaa Bib Yesung punya Handel and Gretel. Tapi entah deh katanya sekarang udah tutup. Aku nanya sama temenku yang ELF, siapa aja anak SuJu yang buka usaha. Terus diceritain deh sama dia. Akhirnya aku searching Handel and Gretel dan nemu informasi yang menarik itu hehehe.

        Naaaah masih sering lupa nih sama penggunaan -pun. Sebelah mana sih Bib yang masih dipisah? Entar coba aku cek lagi deh. Makasih yaa Bib udah mampir 🙂

        1. maaf ndits aku belum baca ff nya, baru baca komen doang #duar
          besok yah bacanya biar konsen *liat jam*

          cuma mau bantu jawabin pertanyaan bibib..
          [apa pun] dengan [siapa pun] itu penulisannya dipisah 😉

  7. uyyyyeeeeyyyyy….banjir ff key…
    saya suka…saya suka….saya suka…
    apalagi cerita2 kyk gini…
    pencarian cinta masa lalu….
    cieeee…ciiieee…ciiiiieeeee…..
    tuh cewek pasti yg pernah dikasih chocopie sm kibum kecil….
    suka…suka….suka….

  8. bando itu! bando itu miliku! *plak
    waduh telat komen,tp gpp kan ya, u.u
    ini sercing2(?) dulu ya? woah paket lengkap gt , xp

    1. hihihihihi gak apa-apa telat juga, malah aku seneng banget kamu mau usaha scroll ke bawah dan baca FF aku. iya aku searching-searching dulu, pengen banget bisa ngasih informasi juga soalnya. makasih yaaa udah baca dan comment 😀

  9. Hai 😀

    Ada beberapa pendapat pribadi nih yang mau aku sampaiin, semoga bisa ikut membantu..

    – Sekarang aku sama sekali tidak mengantuk dan berniat ingin menghabiskan waktu dengan menonton film saja sambil ditemani camilan yang aku beli kemarin.
    Di sana ada kata ‘berniat’ dan ‘ingin’ yang mana berniat itu sendiri artinya ‘berkeinginan’

    – Mungkin kesulitan atau kendala menulis dari sudut pandang pertama karena penggunaan kata “Aku” yang pasti akan disebut berulang kali. Apalagi kalau kata “aku” disebutkan dalam jarak yang berdekatan, sewaktu dibaca aku agak gimana gitu.. mungkin penggunaan kata “aku” nya bisa dikurangi, seperti
    Beberapa langkah sebelum aku sampai di mini market yang aku tuju, aku memakai masker yang sejak tadi bertengger dalam kantung jaketku.
    menjadi: beberapa langkah sebelum aku sampai di mini market yang dituju, kupakai masker yang sejak tadi bertengger dalam kantung jaket.
    Nah, di sini kalau aku perhatikan nandits juga jarang pakai kata ganti, jadi lebih banyak aku padahal sepertinya kalau dicampur-campur dengan kata ganti jadi lebih bervariasi waktu dibaca (cth: kuambil, kuanggukan, kupikir, kulihat, dll)

    – Pada kalimat yang ditulis biasa, bahasa asing biasanya dicetak miring. Sementara pada tulisan bercetak miring (flashback) bahasa asing dicetak tebal..

    – Aku pernah baca di mana gitu, aku lupa, kata-kata yang ada wah, nah, yah, aduh, biasanya dikasih koma sebagai pemisahnya.

    Mengenai cerita, aku juga suka karakter ceweknya!! keren!! penokohan untuk si cewek ini menurut aku malah lebih kuat daripada penokohan key sendiri
    Dan untuk identitas si cewek, sepertinya yang lain juga udah pada nebak itu siapa.. Semoga ada kejutan di part selanjutnya 😀

    1. Aaaaaaaaa Yuyu datang, seneng banget ><

      Untuk poin yang pertama, wakakaka bener banget! Aku baru ngeh gitu. Sip diterima koreksinya.

      Untuk poin yang kedua, naaaaaaah aku pernah nih ngetweet masalah sudut pandang orang pertama yang menurutku susah karena aku ngerasa jadi gak bervariasi gitu. Jadi sesungguhnya aku masih belajar karena aku gak biasa pake POV seperti ini. Jadi masukan dari Yuyu untuk poin kedua ini bermanfaat banget buat aku. Makasih ya Yuuuu

      Untuk poin ketiga, masalah kata asing dalam flashback itu… AKHIRNYA aku nemu juga jawabannya. Oke diterima lagi koreksinya.

      Untuk poin keempat juga makasih banget udah ingetin.

      Hmm jadi kalau penokohan si cewenya terasa lebih kuat dari Key itu sesuatu yang jatuhnya berefek negatif buat FF ini atau gak Yu?

      Ah Yuyu makasih banget ini komennya bermanfaat banget. Kecuuups :*

  10. Duh, telatnya jauh banget yah aku hehehe
    Aku komen apa yaaaa =___=a catetanku udah ditulis semua gitu sama Yuyu eon

    Oh.. yang bener hapal apa hafal? aku pernah baca sebelumnya di kamus, kayaknya sih hafal 🙂
    Selebihnya udah di komentarin sama yang lain
    Riset nya yang pasti kece badai hohoh

    Oh iya, bagian pemisah
    Handel & Gretel. Yeongdeungpo-Gu, Yeouido-dong, Seoul. 08.45 PM.
    Aku pikir, gak perlu sedetail ini. Karena.. posisinya Key itu kan di awal, dia baru ngajakin hyung nya ke Handel & Gretel kan? Mereka bukannya udah ada di cafe itu
    Jadi Handel & Gretel. Yeongdeungpo-Gu, Yeouido-dong, Seoul. Udah cukup.. gak usah pake jam nya. Ya gak sih? Enggak ya? ._.v ya udah deh keke

    Dari segi cerita sih, konsepnya sederhana, tapi pembawaan ceritanya ini asik
    Walaupun hampir jenuh dengan panggilan ‘aku’ yang jarangnya deketan kayak kata Yuyu eon, tapi masih bisa di toleransi lah kalau dibandingin sama ceritanya 😀

    Kak Nandits, SEMANGAT! \^O^/

    1. Hai Lana, maaf baru bales. Baru ngeh ada komen baru di part 1nya hehe.

      Untuh hapal atau hafal, ternyata kamu yang bener. Tadi aku cari di KBBI ternyata yang benar itu hafal. Nanti aku koreksi kalau aku repost di blog hehe.

      Masalah jamnya. Mengganggu alur ceritakah? Atau jadi gak logiskah? Aku rasa sih gak ya. Kenapa aku detil pake jam? Karena aku mau menyampaikan fakta lain yang sempet aku temukan kalau Handel & Gretel itu tutupnya jam 9. Aku mencoba menyampaikan fakta itu dengan cara yang tersirat. Pake keterangan jam. Jadi reader gak disuapin mulu. Karena kalau jeli sih aku nulis “Mungkin karena sebentar lagi waktunya tutup.”

      Sip thanks yaa buat masukan dan komentarnya. Berguna banget 🙂

  11. tuh yeoja seseorang dari masa lalu key? trus kenapa pura pura ga kenal sama key? atau emang baru nyadar pas pertemuan kedua? o.o

  12. Hai Nara… maafkanlah aku yang baru baca FFmu *bow*
    Aish! ga tau kenapa lah aku suka banget sama karakter ceweknya, itu tuh cool banget!
    “Oh kau artis?” , “Kenapa kau masih di sini? Kau stalker ya?” <— Ini tuh COOL abisss B-)

    Dan yang Handel and Gretel, ko ak malah inget Hensel and Gretel yah? .hha. *abaikan*
    Well, langsung cuss ke part 2 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s