[FF KEY B’DAY PARTY] The 22nd “Happy Birthday”

Title : The 22nd “Happy Birthday”

Author : Lumina

Main Cast : Kim Kibum (Key), Do Hwaeji (ulzzang)

Suport Cast : Tuan dan Nyonya Kim, Nyonya Do

Genre : Friendship, Romance

Type/Length : Oneshot (3.402 words)

Rating : G

Summary :

Tahun demi tahun berlalu hingga tanpa terasa dua puluh dua tahun telah terlewati. Tahun-tahun penuh canda tawa serta haru dan juga tangis. Waktu akan terus bergulir. Melewati tiap detik, menit dan jam. Melalui hari, minggu dan bulan, hingga akhirnya berganti tahun.

Manusia tidak dapat menghentikan putaran waktu. Kita hanya dapat menikmati setiap waktu yang datang dan pergi. Setiap kita tiba pada hari yang disebut hari ulang tahun, kita harus percaya bahwa satu tahun ke depan akan selalu ada moment yang bernama kebahagiaan dan memastikan bahwa satu hari itu menjadi hari yang sungguh-sungguh happy birthday.

PS : Umur Key dalam FF ini memakai umur dalam hitungan Korea bukan Internasional.

=====================================================

The Twenty-Second “Happy Birthday”

-1st Happy Birthday-

“Oee… Oeeeekkk..”

Tangisan bayi laki-laki memecahkan ketegangan ruang persalinan berdinding serba putih. Sebuah kehidupan baru telah lahir di dunia ini. Tidak ada hal yang spesial, hanya kelahiran biasa dari seorang anak laki-laki berparas tampan dari seorang ibu dengan wajah penuh kasih. Suster segera menggendong bayi yang kemerahan itu dan membersihkannya dari sisa-sisa darah yang menempel di kulitnya yang sehalus sutra.

Gomawo, sayang,” ujar Tuan Kim seraya mengecup kening Nyonya Kim yang penuh peluh, “Saranghae. Istirahatlah.”

Suster telah selesai membersihkan tubuh bayi tampan di tangannya dan membalutnya dengan kain lembut untuk membuat sang bayi tetap hangat. Dengan hati-hati, suster membawa sang bayi ke pangkuan orang tuanya yang masih berada di ruang persalinan.

“Putraku yang tampan,” puji Nyonya Kim seraya menerima bayi yang baru saja dilahirkannya.

“Kibum.. Kim Kibum,” bisik Tuan Kim di telinga istrinya, “Itu nama yang sudah kusiapkan untuknya. Bagaimana menurutmu?”

Nyonya Kim tersenyum lalu mengangguk perlahan tanpa melepaskan tatapannya dari bayi di gendongannya, “Nama yang bagus. Apa kau suka, Kibum-ah?”

Suster membawa kembali bayi Kibum untuk dibaringkan di kamar bayi. Nyonya Kim pun dipindahkan ke kamar perawatan biasa.

Annyeong,” sapa seorang wanita muda yang telah berada di kamar itu lebih dulu.

Annyeong,” balas Nyonya Kim, “Apakah anda juga baru melahirkan?”

Wanita muda itu tampak terdiam sejenak dan terlarut dalam pikirannya, “Ne, seorang bayi perempuan.”

Jinjja? Pasti bayi perempuan yang cantik,” ucap Nyonya Kim dengan wajah penuh kebahagiaan, “Bayiku laki-laki, ia baru saja dibawa ke kamar bayi oleh suster. Apa kau sudah memberi nama bayi perempuanmu?”

Wanita itu mengangguk pelan, “Ne, Hwaeji. Do Hwaeji.”

***

-2nd Happy Birthday-

“Kibum-ah, ayo tiup lilinnya,” pinta Nyonya Kim, “Hana.. deul.. sit..

Kibum kecil segera meniup lilin berbentuk angka dua yang berada di atas kue ulang tahunnya yang besar –tentu saja dengan bantuan Tuan dan Nyonya Kim. Seluruh penjuru rumah langsung dipenuhi tepuk tangan riuh.

Saengil chukahamnida, uri Kibum,” ujar Tuan dan Nyonya Kim bersamaan seraya mengecup kedua pipi putra mereka.

Kibum kecil tertawa dengan riang. Kakinya yang masih lemah menapak dengan berani di atas lantai dan berjalan ke arah balon yang terjatuh di sudut ruangan. Tuan dan Nyonya Kim terus memperhatikan putra mereka tanpa sedikit pun melepaskan pengawasan. Mereka membiarkan Kibum bermain dengan riang sambil terus menjaganya dari jauh.

“Apa sebaiknya kue yang tersisa kita berikan pada tetangga kita?” tanya Nyonya Kim seusai pesta. Sanak keluarga mereka telah pulang. Rumah mereka kembali sepi karena hanya dihuni oleh tiga orang saja.

“Mengapa tidak? Kau ingin memberikannya pada siapa?” tanya Tuan Kim yang sedang menggendong Kibum di tangannya.

“Ada tetangga yang baru pindah ke sebelah rumah kita beberapa hari lalu. Aku ingin memberikan kue ini padanya,” ujar Nyonya Kim seraya memindahkan potongan kue ke dalam kotak kecil.

Tuan dan Nyonya Kim membawa Kibum bersama dengan mereka. Tuan Kim menekan tombol bel tetangga mereka. Seorang wanita muda keluar membukakan pintu sambil menggendong seorang anak perempuan.

Eoh, apa kita pernah berjumpa?” tanya Nyonya Kim.

Wanita muda itu memperhatikan wajah Nyonya Kim, “Sepertinya begitu. Ada keperluan apa?” tanya wanita muda itu dengan ramah.

“Ah, kami tinggal di rumah sebelah. Baru saja putra kami berulang tahun, kami ingin memberikan kue ini pada kalian,” jawab Nyonya Kim seraya mengulurkan kotak kue di tangannya.

Wanita muda itu agak terkesiap ketika menerima kotak kue, “Putriku juga berulang tahun hari ini, hanya saja aku tidak merayakan pesta untuknya.”

Tuan dan Nyonya Kim memperhatikan gadis kecil dalam gendongan wanita muda itu.

Annyeong, siapa namamu?” tanya Nyonya Kim.

“Do Hwaeji,” jawab wanita muda di hadapan Nyonya Kim.

“Hwaeji? Nama yang cantik. Ini putra kami, namanya Kim Kibum,” ujar Nyonya Kim seraya menggerakan tangan kanan Kibum agar berjabat tangan dengan Hwaeji. Nyonya Do ikut menggerakan tangan Hwaeji agar menyambut uluran tangan Kibum.

***

-5th Happy Birthday-

Saengil chukahamnida.. Saengil chukahamnida..”

Seluruh siswa dalam kelas bernyanyi sambil bertepuk tangan merayakan hari ulang tahun Kibum yang kelima. Tuan dan Nyonya Kim menemani putra mereka di sisi kiri dan kanan.

Hwaeji duduk di pojok kelas, dua kursi dari belakang sambil menatap ke arah depan kelas. Matanya yang bulat dan besar mengamati kue ulang tahun besar dengan cream warna-warni dan potongan buah ceri di atasnya, pasti kue itu luar biasa enak. Hwaeji selalu ingin merayakan ulang tahun dengan kue semacam itu. Tapi kenyataannya, ia harus bersyukur bila ibunya tidak melupakan ulang tahunnya dan masih dapat merayakan ulang tahun hanya dengan sepotong kue murah yang dibeli ibunya di pasar dengan satu batang lilin di atasnya.

“Tiup lilinnya, Kibum-ah,” pinta Jung Songsaenim, wali kelasnya.

Kibum menatap Jung Songsaenim ragu, “Uhm..” gumamnya pelan, “Bolehkah aku meniupnya bersama dengan Hwaeji?”

Jung Songsaenim terkejut. Tuan dan Nyonya Kim pun menunjukkan reaksi yang sama. Kibum menunggu persetujuan salah satu dari mereka.

“Tentu saja boleh, sayang,” jawab Nyonya Kim pada akhirnya.

Senyum Kibum merekah, ia segera berlari menyusuri ruang kelasnya menuju deretan kursi di belakang kelas. Tangannya langsung meraih tangan Hwaeji dan menarik anak gadis itu ke depan kelas bahkan tanpa persetujuan.

“Ayo kita tiup lilin sama-sama, Hwaeji-ya,” ujar Kibum riang. Hwaeji tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan sambil tersenyum.

Seluruh anak dalam kelas, beserta Tuan dan Nyonya Kim juga Jung Songsaenim menghitung. Kibum dan Hwaeji bersiap-siap, mulai membungkuk dan akhirnya memadamkan lilin bersamaan pada hitungan ketiga.

***

-13th Happy Birthday-

Hwaeji menghilang. Sejak pulang sekolah, tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaannya. Nyonya Do terus menatap jendela setiap menitnya dengan harap-harap cemas. Kemana perginya putri semata wayangnya itu? Tidak biasanya Hwaeji pulang terlambat kecuali ada tugas kelompok atau bimbingan belajar tambahan di sekolah. Jika memang ada pun, gadis yang beranjak remaja itu akan menelepon ke rumah untuk mengabari Nyonya Do terlebih dulu.

Jam menunjukkan pukul tujuh. Nyonya Do yang panik segera berjalan ke luar rumah. Kakinya melangkah menuju rumah keluarga Kim yang berada tepat di sebelah rumahnya.

Dengan ragu, Nyonya Do menekan bel. Kecemasan tidak juga hilang dari wajahnya ketika Kibum membukakan pintu untuknya.

“Ah,  Do Ahjummoni?”

Nyonya Do menatap Kibum lekat, tangannya langsung terulur memegang kedua bahu Kibum yang sekarang sudah hampir sama tinggi dengannya.

“Kibum-ah, apa Hwaeji bersamamu? Apa kau tahu di mana Hwaeji?” tanya Nyonya Kim tanpa bisa menyembunyikan nada cemas di wajahnya.

“Hwaeji?” Kibum balik bertanya, “Dia tidak bersamaku. Tadi ia langsung pulang begitu bel pulang sekolah berbunyi. Apa Hwaeji belum pulang ke rumah?”

Nyonya Do menggeleng lemah. Kibum dengan perlahan menurunkan tangan Nyonya Do, “Tunggu sebentar, Do Ahjummoni.”

Kibum segera masuk ke dalam rumah, tanpa menutup pintu rumahnya. Tak sampai satu menit, ia kembali dari dalam rumah sambil berlari, “Do Ahjummoni masuklah, tunggu saja di dalam bersama Appa dan Eomma. Aku akan mencari Hwaeji.”

Tanpa menunggu Nyonya Do mengiyakan ucapannya, Kibum segera berlari meninggalkan rumahnya. Kaki-kakinya dengan yakin berlari menuju satu tempat.

“Hwaeji?!” pekik Kibum ketika melihat sosok yang dicarinya sedang duduk sendiri di atas ayunan yang bergeming.

Hwaeji menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dengan cepat ia hapus air matanya yang daritadi tidak kunjung berhenti mengalir.

“Hwaeji-ya, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kibum begitu tiba di depan Hwaeji.

Hwaeji mengalihkan wajahnya dari Kibum, takut kalau teman sepermainannya itu melihat sisa air mata di wajahnya.

“Hwaeji-ya?” Kibum membungkukkan tubuhnya, menjajarkan matanya dengan mata gadis di hadapannya, “Kau tidak bermaksud menyimpan rahasia dariku, kan?”

Takut-takut, Hwaeji mencoba membalas tatapan mata Kibum yang lembut. Isakannya kembali. Rasa sesak di dadanya muncul lagi, “Mereka.. Teman-teman sekelasku berkata bahwa aku anak haram yang tidak punya ayah. Aku pada diriku sendiri. Aku benci dilahirkan tanpa ayah!”

Kibum terkejut mendengar semua kata-kata yang terlontar dari mulut Hwaeji. Untuk sesaat Kibum menyesali kenyataan bahwa tahun ini dia dan Hwaeji harus berada di kelas yang berbeda. Kibum menyesal karena ia tidak ada di dalam kelas yang sama untuk membela Hwaeji ketika teman-teman mereka mengejek statusnya.

Tangan Kibum terulur, merengkuh Hwaeji dalam pelukannya. Tangan kanannya bergerak perlahan mengelus rambut Hwaeji dengan lembut, “Jangan menangis lagi, Hwaeji-ya. Jangan bersedih hanya karena perkataan mereka yang tidak berperasaan.”

Hwaeji tak kuasa menghentikan isakannya. Kibum tak bermaksud melepaskan pelukannya, jika itu memang bisa menenangkan perasaan gadis itu.

“Jangan mengatakan kau membenci dirimu, Hwaeji-ya. Kau tidak boleh berkata kau membenci dirimu, padahal banyak orang yang menyayangimu. Walau pun mungkin kau tidak tahu di mana ayahmu berada, tapi Do Ahjummoni sangat mencintaimu. Kau tahu, kau punya eomma yang sangat sangat mencintaimu. Kau harus pulang, Do Ahjummoni mencari dan mencemaskanmu daritadi,” papar Kibum sambil perlahan merenggangkan pelukannya, matanya menatap wajah Hwaeji dalam pelukannya untuk memastikan gadis itu telah merasa lebih baik.

Perlahan Hwaeji mendorong tubuh Kibum menjauh, “Eomma mencariku?”

Kibum mengangguk yakin, “Ia sangat cemas karena kau tidak pulang sejak tadi siang. Sekarang, ayo kita pulang. Ah, bukankah hari ini adalah hari ulang tahun kita? Apa kau lupa?”

Hwaeji mengangguk, “Aku hampir lupa kalau hari ini hari ulang tahun kita.”

“Baiklah, karena sekarang kau sudah ingat, kita harus pulang dan merayakannya bersama,” ajak Kibum seraya mengulurkan tangan ke arah Hwaeji. Gadis itu menyambut uluran tangan di depannya, berdiri lalu kemudian beranjak bersama Kibum untuk pulang.

***

-16th Happy Birthday-

Jam menunjukkan pukul 11.58. Key berdiri tepat di depan pintu kamar Hwaeji dengan membawa kue ulang tahun di tangannya. Dengan satu tangan ia memegang kue ulang tahun yang berukuran tidak terlalu besar itu, sedangkan tangan lainnya sibuk menyalakan 16 batang lilin kecil yang menghiasi permukaan kue.

Tok.. tok.. tok.. Key mengetuk pintu kamar Hwaeji tepat ketika jarum detik di tangannya berjalan melalui angka enam, tiga puluh detik menuju tengah malam.

Perlahan pintu di buka, cahaya terang dari dalam kamar mendesak keluar, membuat ruang tengah tempat Key berdiri tepat di depan pintu kamar Hwaeji jadi agak terang.

Saengil chukahamnida.. Saengil chukahamnida.. Saranghaneun Hwaeji-ya.. Saengil chukahamnida……”

Hwaeji menatap tidak percaya dengan sosok Key yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa kue ulang tahun berhiaskan lilin warna-warni yang menyala benderang. Senyuman merekah di wajahnya, “Kibum?” gumamnya pelan.

Key membesarkan matanya, “Kibum? Yaa.. jangan panggil aku dengan nama itu lagi. Sekarang namaku Key. Kau harus ingat itu, nama itu jauh lebih keren dari nama Kibum.”

Hwaeji tertawa renyah, “Shireo, aku akan tetap memanggilmu Kibum, Kibum, Kibum,” ujarnya seraya menjulurkan lidah.

Dengan satu tangan Key mengacak pelan rambut Hwaeji, “Kau ini selalu semaunya sendiri.”

“Tentu saja. Kau ini seperti baru mengenalku saja,” balas Hwaeji sambil mencubit pipi Key.

“Sudah, sudah. Sekarang ayo tiup lilinnya,” ujar Key sambil menaikkan kue ulang tahun di tangannya lebih tinggi, “Kita tiup bersama, ne? Tapi sebelumnya, ucapkan permohonan dulu.”

Hwaeji segera menuruti ucapan Key, menutup kedua matanya dan berdoa. Key menyempatkan diri untuk mencuri pandang ke arah gadis di hadapannya. Gadis yang telah menemaninya selama enam belas tahun hidupnya.

Mungkinkah kesamaan tanggal ulang tahun mereka adalah takdir yang telah diberikan Tuhan? Dan mungkinkah suatu saat nanti, mereka ditakdirkan juga untuk bersama lebih dari sekedar sahabat? Key menutup matanya mengucapkan harapan yang hanya diketahui dirinya, dan Tuhan.

Bersamaan dengan keduanya membuka mata, keenambelas lilin yang menghiasi kue ulang tahun mulai padam satu per satu.

***

-20th Happy Birthday-

Key duduk di depan laptopnya. Menunggu video callnya tersambung ke seseorang yang berada jauh di kota kelahirannya, Seoul.

“Kibuuuuummm!” seru seorang gadis yang tergambar jelas di layar laptopnya, gadis itu tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.

“Hwaeji-ya, happy birthday,” ujar Key cepat sambil mengangkat kue ulang tahun yang telah ia siapkan di depan laptopnya.

Hwaeji memiringkan kepalanya, “Happy birthday? Yaaa.. mentang-mentang sekarang kau berada di Amerika bukan berarti kau lupa mengucapkan selamat dalam Bahasa Korea, kan?”

“Hahaha..” Key tertawa mendengar protesan Hwaeji, “Arra, Saengil chukahamnida, uri Hwaeji.”

Nado. Saengil chukahamnida, Kibum-ah,” balas Hwaeji.

“Sebentar, aku nyalakan dulu lilinnya agar kita bisa meniupnya bersama, otte?” Key mengambil korek api yang telah dipersiapkannya dan mulai menyalakan lilin satu per satu.

“Kibum-ah,” panggil Hwaeji saat menunggu Key menyalakan semua lilin di atas kue ulang tahun mereka.

“Hmm?” balas Key hanya dengan gumaman tanpa mengalihkan perhatiannya dari kue ulang tahun.

Hwaeji memperhatikan Key dari layar laptop. Namja itu terlalu fokus menyalakan lilin ulang tahun mereka. Hwaeji mencibir, lalu kemudian perlahan mengatakan sesuatu tanpa mengeluarkan suara, ‘Bo..go..shi..ppo..

Nde?” tanya Key sambil menatap ke layar laptop, merasa bahwa Hwaeji mengucapkan sesuatu yang tidak ia dengar, “Apa kau mengatakan sesuatu tadi?”

Hwaeji tersenyum, menjulurkan lidahnya, “Aku tidak akan mengulanginya, salah sendiri kau tidak dengar.”

Issshh,” cibir Key, “Baiklah, lilinnya sudah siap. Ayo tiup lilinnya sekarang.”

“Eh, tapi bukankah di Amerika belum waktunya kau berulang tahun?” tanya Hwaeji.

Gwenchana, di Korea aku harusnya sudah berulangtahun saat ini,” jawab Key santai.

“Tidak ucapkan permohonan?” tanya Hwaeji lagi.

Ne, kita ucapkan permohonan dulu,” jawab Key cepat.

“Bagaimana aku meniupnya? Kuenya tidak ada di depanku,” tanya Hwaeji untuk ketiga kalinya.

“Kau ini bawel sekali, aku yang akan menggantikanmu meniupnya. Kau pura-pura saja,” jawab Key mulai habis kesabaran. Hwaeji hanya tertawa melihat Key yang mulai kesal dengannya yang terus menerus bertanya.

Keduanya memejamkan mata bersamaan, mengucapkan harapan masing-masing. Saat seperti ini, jarak bukanlah masalah besar selama hati keduanya tetap bersama. Dan pada akhirnya, keduapuluh lilin padam bersamaan dengan bertambahnya usia mereka.

***

-The 22rd Happy Birthday-

Hwaeji masuk ke dalam kamarnya, dibantingnya tasnya ke atas tempat tidur. Tubuhnya menyusul terhempas tepat di samping tasnya. Kepalanya pening. Pekerjaan yang menumpuk di kantor, membuatnya lelah. Belum lagi atasannya yang selalu menuntut tanpa henti. Andai dia memiliki kesempatan untuk masuk perguruan tinggi, mungkin ia dapat bekerja pada posisi yang lebih baik.

Hwaeji berjalan keluar kamar, melangkah untuk mengambil segelas air dingin di dapur. Matanya tertarik pada kalender yang menggantung di sebelah kulkas. 22 September. Ya ampun, bagaimana bisa ia lupa bahwa besok adalah ulang tahunnya? Bahkan tengah malam tidak sampai dua jam lagi.

Dengan cepat Hwaeji meletakkan gelasnya di atas meja makan, berlari ke kamar dan menyalakan laptopnya. Mungkin ada pesan dari Key di emailnya. Namja itu selalu mengirim pesan sehari sebelum hari ulang tahun mereka untuk membuat janji video call bersama.

Tidak ada email masuk.

Hwaeji terpaku di depan layar laptopnya, memastikan bahwa benar-benar tidak ada email baru yang masuk ke inboxnya. Apa mungkin Key lupa hari ulang tahun mereka? Ah, tidak mungkin. Namja itu selalu jadi orang pertama yang ingat hari ulang tahun mereka. Atau mungkin ia sibuk?

Seingat Hwaeji, Key pernah bilang kalau kuliahnya sudah hampir selesai dan ia sedang mencari pekerjaan di Amerika. Mungkin saja ia sedang sibuk. Tapi sesibuk apa pun, sulit dipercaya kalau Key bisa melupakan hari ulang tahun mereka.

Dengan rasa kecewa, Hwaeji terpaksa mematikan kembali laptopnya. Ia mengambil pakaian dan handuk. Mungkin mandi air hangat dapat menenangkan pikirannya yang penat.

Selesai mandi, Hwaeji kembali ke dalam kamar, membaca buku di atas tempat tidurnya hingga detik dan menit berlalu begitu saja.

Tok.. tok.. tok.. Suara pintu kamarnya di ketuk.

‘Kibum?’ tanya Hwaeji di dalam batinnya. Entah apa yang diharapkannya, jelas-jelas ia tahu bahwa Key sedang berada di Amerika, belahan dunia yang berbeda dengannya. Namun, bagaimana caranya ia bisa berhenti berharap bahwa Key mungkin sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan membawakan kue ulang tahun untuknya?

Dengan sigap ia menaruh buku yang daritadi dibacanya dan segera berlari membuka pintu. Rasa kecewa harus lagi-lagi menyusup ke dalam dirinya ketika menemukan Nyonya Do berdiri di depan pintu kamarnya.

Eomma,” panggil Hwaeji, “Wae?”

Nyonya Do mengulurkan telepon wireless ke arah Hwaeji, “Telepon untukmu.”

Dengan bingung Hwaeji menerima telepon dari Nyonya Do yang langsung berlalu dari depan pintu kamarnya dan kembali ke dalam kamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar Hwaeji.

Yeoboseyo?” sapa Hwaeji kepada seseorang di seberang telepon sana.

“Hwaeji-ya!”

“Kibum?” Hwaeji terkejut mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya, “Yaaa! Kukira kau lupa hari ulang tahun kita. Tapi tumben kau menelepon? Bukankah mahal menelepon dari Amerika ke Korea?”

Key tertawa mendengar ucapan Hwaeji, “Kau tahu?”

“Tentu saja aku tidak tahu kalau kau belum memberitahuku,” balas Hwaeji sambil bersandar pada pintu kamarnya.

“Aku ada di Seoul!”

MWO?!” Untuk kedua kalinya Hwaeji terkejut, “Kau di Seoul? Sekarang?”

Ne, aku di ada di Seoul sekarang,” tukas Key menegaskan.

“Di mana kau sekarang? Di rumahmu?”

Anii, aku tidak ada di rumah,” jawab Key singkat.

“Lalu kau di mana, Kibum-ah? Cepat beritahu aku,” ujar Hwaeji tidak sabar.

Shireo, aku tidak akan memberitahumu aku ada di mana.”

Wae?” tanya Hwaeji bingung.

“Kau ingat dulu kau pernah pergi dari rumah dan aku menemukanmu?” tanya Key.

“Uhm?” gumam Hwaeji bingung. Ia mencoba mengingat kenangan beberapa tahun lalu yang hampir kabur di memorinya.

“Sekarang kau yang harus menemukanku,” ujar Key.

Yaa.. kau di mana?” tanya Hwaeji dengan sedikit meninggikan suara, ia benar-benar bingung dengan tingkah laku Key yang justru bermain-main dan membuatnya penasaran.

“Tiga puluh menit. Waktumu tiga puluh menit sebelum tengah malam. Sampa jumpa, aku akan menunggumu.”

Key memutuskan sambungan telepon. Hwaeji menatap telepon di tangannya dengan bingung. Ia masih tidak mengerti dengan maksud Key menyuruhnya mencari namja itu. Walau masih diliputi kebingungan, Hwaeji menyambar jaketnya dan segera berlari keluar rumah.

Kemana ia harus pergi? Di mana Key berada? Hwaeji tidak kunjung menemukan gambaran dalam kepalanya. Ingatannya sudah kabur. Berapa tahun yang sudah terlewati? Dirinya dan Key bukan lagi anak kecil yang pantas bermain petak umpet seperti ini.

Hwaeji melirik jam tangannya. Jarum menit sudah melewati angka sepuluh. Waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Hwaeji berhenti sejenak untuk menarik nafas. Bahunya naik turun seirama dengan paru-parunya yang mengikat oksigen yang masuk ke relung dadanya.

“Kibum, oddiya?” gumam Hwaeji pelan. Dengan jantung berdegup cepat, ia melirik jam tangannya. Waktunya tidak sampai lima menit lagi.

Hwaeji menengadah, menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit. Berharap salah satu bintang di atas sana dapat menunjukkan kepadanya tempat Key berada.

Mata Hwaeji membulat, sekejap ia terkesiap ketika sekelebat memori terlintas jelas di kepalanya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan tempat itu. Tempat Key dulu menemukannya menangis. Tempat Key pertama kali memeluknya saat ia sedih. Ya, sejak saat itulah, ada sebuah rahasia besar yang ia sembunyikan dari Key.

Kaki-kaki Hwaeji berlari dengan cepat menuju taman dekat rumahnya. Berlari secepat yang ia bisa dan berpacu dengan waktu.

Key ada di sana. Bersandar di tiang ayunan. Key menunggu Hwaeji. Ia menunggu gadis itu datang dan menemukannya. Tanpa ragu lagi, Hwaeji berlari ke arah Key. Ia telah berhasil menemukannya.

“Kibum!” panggil Hwaeji lantang sambil mencoba mengatur nafasnya yang hampir habis.

Senyuman merekah di wajah Key. Ia memang yakin Hwaeji pasti bisa menemukannya. Ia yakin, Hwaeji tidak akan melupakan setiap kenangan yang telah mereka ukir bersama, seiring waktu mereka bertumbuh dan beranjak dewasa.

“Lima.. empat..” Key mulai menghitung sambil melihat jam tangannya, “Tiga.. dua..”

Hwaeji menatap wajah Key yang sekarang berdiri di hadapannya. Tak percaya bahwa namja itu telah benar-benar pulang ke Seoul dan sekarang berada di depannya.

Saengil chukahamnida, Hwaeji,” ujar Key bersamaan dengan jarum jam yang tepat menunjukkan angka dua belas.

Saengil chukahamnida, Kibum-ah,” balas Hwaeji.

Keduanya saling berpandangan selama beberapa saat. Memastikan bahwa keberadaan masing-masing adalah nyata dan bukan mimpi semata.

“Ah,” Hwaeji terkesiap, “Kuenya? Mana kuenya?”

Key menggeleng, “Mianhae, aku baru tiba dua jam lalu di Seoul dan toko kue sudah tutup.”

Hwaeji cemberut, lalu kemudian tertawa, “Gwenchana, sesekali ulang tahun tanpa kue juga tidak apa-apa. Aku.. senang kau ada di sini.”

Tangan Key terulur mengacak rambut Hwaeji pelan, “Tapi aku membawa hadiah untukmu.”

Jinjja?” Mata Hwaeji berbinar menatap Key.

Key merogoh saku celananya, mengeluarkan satu kotak kecil berwarna hitam. Hwaeji mengamati setiap gerak-gerik Key dengan bingung. Key tersenyum menatap wajah Hwaeji, lalu perlahan merendahkan tubuhnya, berlutut di depan Hwaeji.

“Hwaeji-ya, ada sesuatu yang harus kukatakan saat ini juga karena aku takut kalau aku menundanya lebih lama, maka aku tidak akan pernah berani mengatakannya,” ucap Key sambil menengadah menatap Hwaeji, “Saranghae, Hwaeji-ya. Entah sejak kapan, mungkin karena kebersamaan kita, aku tidak menyadarinya bahwa perasaanku padamu telah lebih dari sekedar sahabat.”

Hwaeji tertegun. Telinganya dengan jelas dapat mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Key dan hal itu membuat jantungnya berpacu cepat, terlalu cepat hingga pembuluh darah di dalam tubuhnya seolah hampir mendesak keluar ke permukaan kulit wajahnya yang mulai memerah. Ia merasa tubuhnya sekejap terasa lemas dan paru-parunya kesulitan mengambil udara.

“Ki..bum?” gumam Hwaeji pelan dengan bibir yang bergetar.

Key kembali melanjutkan kata-katanya sambil membuka kotak di tangannya, sebuah cincin perak terlihat mengkilat di bawah sinar bulan dan bintang, “Terima kasih telah menemaniku selama dua puluh dua tahun dalam hidupku. Bersediakah kau menemaniku terus tahun demi tahun, hingga akhir hidupku?”

Tanpa disadari, ada sesuatu yang hangat mendesak keluar dari pelupuk mata Hwaeji. Sungguhkah ini kenyataan? Bila iya, ini adalah hari ulang tahun terindah dalam hidupnya. Dengan perlahan namun pasti, Hwaeji mengangguk, “Aku bersedia, Kibum-ah. Nado, saranghae.”

Key menyelipkan cincin perak di jari manis Hwaeji. Ia kemudian berdiri dan menghapus air mata yang kini beranjak menuruni pipi halus Hwaeji. Key merengkuh Hwaeji ke dalam pelukannnya, melingkarkan lengannya yang kekar di pinggang dan punggung Hwaeji. Gadis itu balas memeluknya, menyesap aroma tubuh Key yang sangat familiar di indera penciumannya.

Happy birthday,” bisik Key di telinga gadis dalam pelukannya, “My Hwaeji.”

-END-

Admin Note: Lain kali jangan salah angka lagi ya 😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

39 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] The 22nd “Happy Birthday””

  1. huwaaaa… lumina!!!!
    alamaak, mataku bener2 berkaca2 pas baca endingnya ya ampuun…
    walau aku udah bisa nebak endingnya, tapi tetep aja sukses bikin aku tersenyum lebar. omo~~~
    andai aku punya kisah macam ini ya :”)

    sukses nih ff nya. terus berkarya yaa 😀

  2. aaahhhhh….
    so sweet…
    enak ya klo temenan…sahabatan…ultah bareng terus jadian pula…
    apalagi jadiannya pas sm ultahnya…

    jgn2 ultah taun depan si hwaeji dilamar lg sm key..???

    1. O___O
      aghhhhhhh.. salah yah aku??? maaaaaaaapp.. soalnya aku baru aja jadi shawol.. huaaaaaaaa… gmn dunk??? bisa gak d ganti judulnya sama beberapa tulisan yg angka 23 jadi 22??? 😥

  3. manisssssssssssssssssssss..
    ceritanya manis sangad..
    keren..

    ultahku sma ma Minho tapi syang ga sama kayak cerita ini..
    hehehegh..
    #thor : ga ada yg nax

    daebak thor,,
    very touching sampe2 mata berkaca2 ngebacanya./
    ^^

    1. huaaaaaaa.. aku salah umur yaaaaa… ottokhae?? TT_________TT
      harusnya key baru 22 yah bukan 23… huaaaaaa.. nanti aku coba ngomong sama mimin d sini deh bisa gak minta revisi.. 😥

  4. so sweet… tp aku msh bingung. bukannya diumur korea skrng key berumur 22 thn? atau 21? pokoknya kl gk slh blm sampai 23 deh. Yang 23 kan jjong, hehehe aku jd makin bingung.

    tak apalah yg penting jalan ceritanya bgs. tetep berkarya ya author!!

    1. iyaaaaaaaa.. aku salah info.. hiks.. salahku juga sih soalnya aku cuma tanya temen dan gak nyari d inet.. padahal aku baru juga jadi shawol.. jadi belom inget semua tgl lahir shinee.. 😥
      mian yah chingu.. btw makasih buad semangatnya 😉

  5. Ini obsesi lumie buat nikah yah? ckckckc
    Hwaaaaaaaaaaaaa key-hwaeji.
    Inspirasi dari aku yah ini #plaaakkk
    bayar 10 juta won LOL
    kereeeennnn… bagus, tapi sebenernya kurang panjang ini cerita, tapi tiap moment ultah dapet banget… tapi-tapi kenapa cuma peluk doang *diinjek*

    1. yoaaaaaaa!! saya mau tp sama MINHO!!! 😆
      idih.. matre.. ogah bayar.. :p
      maunya juga d panjang2in tp mentok sama bates max 12 halaman.. 😦
      dipeluk? maunya d apain? gak rela bikin key sampe ngapa2in sama hwaeji.. *kabur*

  6. Haduhh… so sweet sekali yah ini.
    Eh tapi tapi, umur Korea Key itu sekarang 22 tahun.
    terus terus, baca komen2 di atas rata2 pada terharu pas bagian akhirnya. Ko aku malah mau nangis pas bagian mereka ulangtaun ke lima itu yah?
    Pas Key ulangtaun di sekolah, terus Hwaeji nya sedih gegara eomma nya suka lupa sama ultahnya apah engga cuma rayain pake kue murah gitu. Tersentuh banget sama part itu *reader aneh*
    Nice story 😀

  7. Hai lumie *lambai tangan sambil senyum manis*

    Karena ini potongan-potongan cerita kibum waktu bday, aku jadi ngebayangin kibum + hwaeji yang chibi waktu lima tahun, pasti imut yah waktu key yg chibi lari-larian di kelas sambil narik tangan Hwaeji? kkk

    karena ceritanya berfokus di ultah mereka dari kecil sampai umur 23, eh salah 22 maksudnya *diinjek*
    jadi gak ada konfliknya sama sekali, mestinya diselipin sedikit-sedikit tuh, jadiin aja dua part
    Tapi ceritanya so sweeeeeet

    1. eh ada yuyu…
      udah d revisi tauuuu yu jadi 22.. horeeeee… *pelukin admin satu2*
      iyah fokus ke moment ultahnya.. konfliknya sih ada d selipin tp emang cuma asal nyelip.. kayak pas hwaeji sedih krn gak punya bokap, pas key naksir hwaeji, sama hwaeji yg diem2 ternyata udah suka key dr dulu.. cuma emang gak fokus d situ sih.. 2 part yah? emang sih klo jadi 2 part jadi bisa lebih panjang dan konfliknya lebih d ulik.. tp kemaren pas bikin saya lg males ngetik panjang2.. mwahahaha.. 😆 *kabur*
      udah yu komennya gini doang? aghhhhhhh.. padahal ngarepin lebih dr komen yuyu.. 🙄

  8. Wah wah, ternyata si lumie emang ngebet nikah ya jeng? ^^
    Sweet. Kisah cinta jarang yg semulus ini lum, sayangnya.
    Kisah cintakuuuu, kelammm #curhatbo’ongan

    Cara brceritamu oke lum, kebayang banget. tp aku ngerasa kurang nih konfliknya, ga bikin aku pingin cium2 authornya ato jambakin authornya krn kemakan kesel.

    Maafkan diriku ya lum 😦

    Aku ngilang dulu ah sebelum diinjek ama lumie (eon)

    1. klo sama minho sih gak ngebet juga rela d ngebet2in.. hahahahaa…
      makasih bibib udah baca.. makasih komennya.. makasih pujiannya.. konfliknya emang hampir gak kliatan.. waktu nulis malah gak mikirin konfliknya sama sekali.. fokus di taon2 moment ultahnya key doang.. *jegerr* oh, tenang aja.. lumie gak mau d cium bibib gak mau juga di jambak bibib.. klo d cium minho rela.. klo d jambak minho? boleh aja asal boleh lumie bales cium minhonya.. 😆 *lempar bibib pke petasan*

  9. Haloooo~ Ini Diya. Keke~
    Luminaaaa~ Itu di ulang tahun kedua, Do Hwaeji kan masih anak-anak ya ceritanya, tapi kok ditulis “wanita muda”? Wanita muda itu kayaknya lebih cocok untuk cewek umur 20-an ke atas. Jadi, lebih pas ditulis “gadis kecil”.
    Dan Key masih 22 umur Korea. Keke. Cari-cari info lebih dalam lagi ya sebelum mulai menulis ^^

    1. halo diya.. itu waktu ulang tahun kedua maksudnya bukan hwaeji tp eomma hwaeji..

      Tuan dan Nyonya Kim membawa Kibum bersama dengan mereka. Tuan Kim menekan tombol bel tetangga mereka. Seorang wanita muda keluar membukakan pintu sambil menggendong seorang anak perempuan.

      errr.. apa kalimatku bikin salah kaprah si wanita muda jadi bisa d sangka hwaeji? .__.

      iyah, soal umur key yang aku sempet salah tulis itu aku bener2 minta maaf karena gak cari info dulu sebelom nulis.. aku cuma tanya temen dan langsung percaya gtu aja.. aku janji next time bakal cari info dulu sebelom nulis ff.. hehehe..

      makasih diya udah baca dan ngasih masukan.. 😉

  10. bagus kok ceritanya
    kyknya seru tiap tahun slalu ngrayain ultah bareng
    apalagi sama key
    jdi keinget key yg ngrayain ultah bareng nicole stlh pulang dr jakarta
    sbnernya jeles bgt
    tp suka cerita d ff ini

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s