[FF KEY B’DAY PARTY] La Chata [2.2]

La Chata

Author             : Lady Lee

Main Cast        : Kim Key Bum, Shin Hyun Yi, Choi Minho

Support Cast   : Kim Jonghyun, Chef Lee

Genre              : Romance, Friendship

Rating             : T

Type/Length    : Twoshoot

Summary         : The love story starts from cooking

This arrow that reached my heart,

Feels like a part of my body now,

Even thought it hurts to death,

I can’t remove you who stuck in my heart,

Because I love you,

Even if I can’t have you in the end… (SHINee-Quasimodo)

 

Kim Kibum telah kembali bekerja setelah mengambil cuti satu minggu karena sakit.Restoran sedikit kacau karena koki andalan mereka itu tidak menjamah dapur beberapa hari ini.

Key baru saja beristirahat setelah jam makan siang yang memang sudah menjadi rutinitas restoran itu akan ramai pada jam-jam tertentu. Diliriknya jam tangan silver di pergelangan tangan kirinya. 2.15 P.M. Sebentar lagi waktunya untuk mengajar memasak Shin Hyun Yi. Namja itu duduk di salah satu sudut restoran itu. Mengamati keadaan sekeliling restoran dengan desain Itali klasik dari kaca besar yang menjadi dinding depan bangunan itu.

Ia tersenyum saat dilihatnya sesosok yeoja yang dinantinya terlihat berjalan beberapa meter dari restoran. Key berniat menghampiri yeoja itu, namun akhirnya ia lebih memilih untuk mengamati Shin Hyun Yi. Gadis itu berjalan sedikit menunduk, agaknya membuat Key kesulitan untuk melihat wajah Hyun Yi. Rambut sepunggungnya dibiarkan terurai dan sesekali yeoja itu menarik anak rambut yang menutupi penglihatannya kebelakang telinga.Kibum nyaris tak berkedip melihat betapa mempesonanya sosok Hyun Yi saat ini.

“Shin Hyun Yi,” seru Key seraya melambaikan tangannya saat gadis penyuka wedges itu telah berada didalam restoran. Hyun Yi tersenyum tipis.Yang membuat namja itu menyipitkan matanya, wajah yeoja itu tampak sedikit pucat.Terdapat kantung mata dan lingkaran hitam tipis dimatanya walaupun masih memendarkan tatapan hangat.

“Apa aku terlambat?” tanya Hyun Yi sambil menyunggingkan seulas senyum tipis.

“Tidak,” jawab Key singkat.Kemudian mereka beranjak menuju ke dapur.

“Sepertinya kau sedang tidak sehat.Eum, bagaimana kalau membuat dessert saja?”

Hyun Yi tersenyum mengiyakan. Sedetik berikutnya Key mulai berceloteh sementara tangannya bergerak lincah memotong buah-buahan dan membiarkan gadis itu mengolah adonan dibawah intruksinya. Hampir satu bulan dengan intensitas waktu  belajar yang cukup sering membuat Hyun Yi mulai mahir dalam mengolah bahan makanan.

Setidaknya kemampuan memasaknya tidak seburuk saat kali pertama bertemu Key.

+++++

Key masih tak melepaskan perhatiannya dari yeoja itu. Shin Hyun Yi sempat terhuyung beberapa kali, namun ia selalu mengelak setiap Key menawarkan agar mereka berhenti memasak.

“Apa kau yakin akan pulang sendiri?” tanya Key setelah ia selesai membereskan sisa kegiatan memasak mereka hari ini. “Aku antar pulang bagaimana?” lanjut namja itu.

Hyun Yi memandang kearah Key dengan mata yang menatap sayu. “Tidak.Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku tidak keberatan mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu repot-repot,” elak Hyun Yi halus sambil tersenyum hangat.

Namja itu nampak sedikit frustasi.“Kalau begitu biarkan aku mengantarmu sampai ke halte.Bagaimana?”

“Keras kepala.”

Namja itu terkekeh pelan mendengar balasan dari Hyun Yi. Tapi setidaknya, usahanya membuahkan hasil, kan?

+++++

Langit sore itu terlihat begitu memanjakan mata. Musim gugur akan berakhir sebentar lagi, walaupun begitu terik matahari masih belum terasa menyengat. Kehangatan lebih mendominasi sore yang diselimuti oleh hembusan angin musim gugur.

Mereka–Kibum dan Hyun Yi–nampak menikmati perjalanan pendek itu.Jarak antara restoran menuju halte tidak lebih dari 1km, tetapi dua orang itu seolah satu hati dengan berjalan–sengaja–lambat.

“Apa kau sedang ada masalah?” tanya Key, tak dapat menahan rasa penasaran yang menjalari dirinya sejak kedatangan gadis itu di restoran tadi. “Jangan mengelak. Tapi kau bisa tidak mengatakan apapun padaku jika tidak ingin mengatakannya,” sambung Key cepat saat melihat yeoja disampingnya itu sedikit tersentak.

Hyun Yi tidak mengatakan apapun sampai beberapa langkah mereka berjalan, membuat namja yang mewarnai rambut dibeberapa helainya itu sedikit merasa… kecewa?Namun hal itu segera berubah saat gadis berlesung pipi itu bertanya padanya, “Apa aku bisa menceritakannya padamu?”

“Tentu, kalau kau tidak keberatan.”

Gadis itu menghembuskan nafas dengan keras kemudian berujar.“Aku… aku sedang ada masalah dengannya.”

Key mengernyitkan dahinya. “Choi Minho?”Hyun Yi bergumam pelan mengiyakannya.“Kenapa?” namja itu bertanya lagi.Berharap kali ini yeoja itu benar-benar mau bercerita padanya.Setidaknya jika yeoja itu mau mengatakan masalahnya pada pria itu, dia bisa sedikit berharap bahwa Hyun Yi mempercayainya.

“Bagaimana menurutmu,” yeoja itu menghela nafas untuk kesekian kalinya.“Jika kau berada di posisiku?”

Key menatap yeoja disampingnya lekat. Yeoja yang kini berwajah pucat itu tengah memandang lurus kedepan, tatapannya kosong.

“Dia tahu aku menemuimu.Bukan, seharusnya itu bukan masalah.Tapi, aku tidak tahu kenapa aku berbohong padanya.Aku hanya… hanya merasa bahwa, dia tidak perlu tahu tentang itu.”

Satu yang terlintas dibenak Key, bahwa hubungan pasangan itu retak karenanya. Lantas apa yang harus dilakukannya? Mengatakan pada Minho bahwa dirinya dan Hyun Yi hanya teman, tapi bagaimana jika kenyataan dalam hatinya ingin berkata lain?

Yeoja itu memalingkan wajahnya kearah Key, kemudian berkata dengan suara lirih.“Dia bilang aku menyukaimu.Lalu jika kau berpikir kenapa aku tidak menyangkalnya, itu karena aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.”

Key terdiam.Ada banyak hal yang terlintas dalam pikirannya.Ini bukan posisi yang mudah.Bukan posisi dimana kau bisa dengan cepat mengatakan suatu hal atau menjatuhkan pilihan sesukamu.Lebih parah lagi, bahwa namja itu menyadari bahwa dia memang memiliki perasaan pada yeoja itu.

Kim Key Bum menahan nafas saat tiba-tiba Hyun Yi memeluknya.Beberapa saat kemudian kemejanya mulai basah oleh airmata gadis mungil itu.Tangannya mengambang, antara keyakinan hatinya untuk memeluk yeoja itu atau membiarkan gadis itu bersandar padanya.

Dan pada akhirnya namja tampan itu memutuskan untuk memeluk Hyun Yi.dia tidak berkata apapun, hanya mengusap lembut punggung yeoja itu, membuat gadis itu senyaman mungkin dalam pelukannya.“Aku disini.”

+++++

           “Gomawoyo,” ujar Hyun Yi lirih. Key mengulurkan tangan kanannya, mengusap sisa airmata di pipi yeoja itu. Seulas senyum tersungging dibibir Hyun Yi.

“Aku akan berbicara pada Minho nanti,” kata yeoja itu lagi. Key balas tersenyum. Bukan senyum yang tulus, lebih tepatnya senyuman pahit. Menggambarkan bagaimana hatinya yang seolah tersayat setiap nama namja jangkung itu –Choi Minho– terucap dari bibir yeoja itu.

“Baiklah, aku harus pulang sekarang.Terimakasih sudah menemaniku, Key-ya.”

“Aku senang jika kau merasa lebih baik.”

Gadis itu mulai beranjak dari tempat duduknya. Namun baru beberapa langkah, suara Key membuatnya berhenti. “Waeyo?”

Key berjalan mendekat, tetapi tidak kurang dari empat langkah dia berhenti. “Ada yang ingin aku sampaikan.”

Ne, katakan saja,” sahut yeoja itu.

Kalimat yang meluncur berikutnya seolah benar-benar diluar kendali namja itu. Key tahu semua ini mungkin malah menunjukkan dia sebagai namja tidak tahu diri, tapi dia tidak dapat menahan apa yang terucap dari lidahnya.

“Aku senang jika kau memiliki perasaan padaku.Bukan sebagai teman, tapi seseorang yang tinggal dalam hatimu. Shin Hyun Yi, aku menyukaimu.”

Shin Hyun Yi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pandangannya terpancang pada mata tajam milik Key.Mungkin tidak ada satu pun hal yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan hatinya saat ini.

Key memperpendek jarak diantara mereka. “Maaf aku mengatakannya,” terdiam sejenak sebelum melanjutkan.“Aku hanya ingin kau tahu perasaanku, tidak masalah kalau kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku.”

Namja itu nyaris melanjutkan kata-katanya kalau gadis itu tidak membalikkan badannya, sejurus kemudian dia berlari menjauhi Key. Key tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari yeoja cantik itu, hingga sosoknya benar-benar lenyap dari pandangannya. Dan pada saat itu, Key menyadari kesalahannya.Namja itu mengutuk dirinya sendiri.

Ia telah menggoreskan luka dalam hati yeoja itu.

+++++

La Chata, 4.00 P.M

One week later

 

Key menatap gusar pintu restoran sejak setengah jam yang lalu. Sudah hampir seminggu ia menjadikan kegiatan itu layaknya sebuah rutinitas.

“Kibum-ah!” namja itu memalingkan kepalanya kearah orang yang menyerukan namanya.“Kau menunggu Hyun Yi?” Key mengangguk mengiyakan.

“Baru saja dia memberitahuku kalau dia berhenti belajar memasak.”

Perasaan bersalah menghujam hati Key lebih dalam. “Jinja?”

Ne. Jadi lebih baik kau bersiap-siap untuk memasak menu makan malam.”

Ne, seonsaengnim.”

Yeoja itu berhenti belajar padanya? Itu artinya kesempatannya untuk dekat dengan Hyun Yi akan hilang. Bodoh! Ini salahmu sendiri, Kim Kibum.Kau yang membuatnya menjauhimu.

La Chata, 11.00 A.M

Somedays later

“Key!” seru seseorang tiba-tiba. Oh, dia salah satu pelayan disini. Namja yang dipanggil namanya itu hanya menatap pelayan itu dengan tatapan ingin tahu.“Ada yang mencarimu didepan.”

Nuguya?”

“Kau lihat saja.”

Key terdiam sejenak. Siapa yang mencarinya ditengah jam makan siang yang hampir tiba? Eum, jujur saja itu sedikit mengganggunya tentu saja.“Baiklah, terimakasih.”

+++++

            “Kau?” Key sedikit terkejut dengan sesosok namja yang ditemuinya. Namja itu tersenyum singkat.

“Selamat siang, Kibum-ssi.Kau tentu tahu siapa aku, kan?”

Key mencoba santai dihadapan namja jangkung itu, meskipun kentara jelas bagaimana dia menyembunyikan rasa kebingungannya karena tiba-tiba namja bermarga Choi itu, tunangan Shin Hyun Yi mendatanginya.

“Eum, ada yang mau kau bicarakan denganku?” tanya Key setelah ia mengambil tempat di kursi tepat didepan Minho.

Namja itu mengangguk ringan, kemudian menghela nafas kasar. “Tentang Hyun Yi.”

Key sedikit berjengit saat pendengarannya menangkapnama gadis –yang disukainya– itu terlontar dari lidah Minho. Sejauh ini dia selalu berusaha untuk meredam perasaannya. Namun, tampaknya ia harus mengakui kebenaran kata pepatah jika hati memang tidak pernah bisa berbohong. “Waeyo?” tanyanya kemudian.

“Dia sedang sakit,” Minho memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan.“Aku ingin meminta tolong padamu.”

“Aku?”

“Dia sedang dirawat di rumah sakit, sudah lima hari. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya, Hyun Yi sama sekali tidak mau bercerita. Aku pikir ini karena pertengkaran kami, tapi aku dan dia sudah berbaikan.Jadi aku pikir ini ada hubungannya denganmu.”

“Maaf, kau bukan bermaksud…”

“Hyun Yi selalu menggumamkan namamu dalam tidurnya.Aku khawatir padanya, jadi aku sangat meminta bantuanmu.Mungkin setelah kau bertemu dengannya keadaannya akan membaik,” Minho berbicara dengan tenang, namun tak cukup berhasil menyembunyikan perasaan tidak sukanya dari Key.

Namja bermata seperti kucing itu menunduk, terdiam beberapa saat yang membuat keadaan menjadi hening.

Key mengangkat wajahnya, menatap lekat Minho. “Dimana dia dirawat?”

+++++

Seoul Hospital

Next Day, 2.00 P.M

 

Sesosok gadis tengah terbaring lemah diatas ranjang.Wajahnya tampak pucat dan tidak tenang.Disamping kanannya, seorang namja tengah menggenggam tangannya sementara kepalanya tersandar disisi ranjang. Guratan di wajah tampa itu dengan jelas menunjukkan rasa lelahnya.

Suara ketukan pintu menginterupsi tidur namja itu. Ia menggeliatkan tubuhnya sejenak,  memperhatikansesosok yeoja dihadapannya sebelum akhirnya ia beranjak untuk membuka pintu.

“Oh, kau.Masuklah,” pinta Minho saat mengetahui orang yang mengetuk pintu tadi ialah Key.

Dengan langkah ragu Key memasuki ruangan itu. Kemudian hatinya terenyuh saat matanya menangkap sosok itu, sosok yang –diakuinya– dirindukannya, sosok yang beberapa hari ini memenuhi setiap ruang pikirannya. Shin Hyun Yi, gadis yang kini tergolek lemah diatas bangsal pesakitan.

Minho melirik jam tangannya sekilas. “Dia sudah tidur sejak dua jam lalu, sebentar lagi mungkin akan terbangun.”

“Apa keadaannya tetap seperti ini sejak seminggu lalu?” tanya Key tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari yeoja itu.

“Beberapa hari lalu sempat membaik, tapi kemudian down lagi,” tak ada tanggapan apapun dari Key. “Aku akan kembali ke kantor. Kau… tentu tidak keberatan kalau menjaganya, kan?” tanya Minho dengan nada tidak suka yang implisit.

“Apa tidak apa-apa?”

“Aku percaya padamu,” jawab Minho tegas.“Aku pergi.”

+++++

Satu jam berlalu sejak Minho memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Key masih bertahan di kursi sebelah kanan ranjang Hyun Yi, ia menggenggam gadis itu. Hyun Yi masih terlelap dalam tidurnya, hal yang sedikit disyukuri Key karena dia bisa menikmati wajah pucat –yang masih terlihat cantik– itu.

Key baru saja akan beranjak untuk mengambil minum saat tangan gadis itu bergerak dalam genggamannya, disusul mata gadis itu yang mulai terbuka. “Kau perlu sesuatu?”tanya namja itu langsung.

Hyun Yi mengerjapkan matanya beberapa saat, memfokuskan pandangannya pada sosok didepannya.“Dimana Minho?” gumam gadis itu, berbanding terbalik dengan kenyataan dalam hatinya bahwa dia bahagia namja itu ada disisinya.

“Ah, dia kembali ke kantor. Eum, lalu memintaku menjagamu,”  namja berlesung pipi itu berusaha tenang dengan kecanggungannya menghadapi yeoja yang tengah terbaring itu. “Apa kau perlu sesuatu?” ulangnya.

“Tidak.”

Tidak ada pembicaraan untuk beberapa saat setelah itu. Key mengalihkan perhatiannya dengan berkutat pada majalah yang tadi terletak diatas nakas. Sama seperti gadis itu yang juga tengah sibuk mencari perhatian lain, atau setidaknya memulai suatu pembicaraan?

Key menutup majalahnya. Sama sekali tidak berguna, pikir namja itu.Ia menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan keras. Sedetik kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. “Soal pernyataanku waktu itu…”Hyun Yi mulai menarik perhatiannya pada namja itu.Namun Key merasa ragu untuk membahas hal itu.Ia khawatir jika tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan pada akhirnya malah akan menyakiti yeoja itu. “Kau tentu masih mengingatnya.”

Ye,” gumam Hyun Yi.Perasaan sesak mulai menelusup kedalam relung hatinya.

“Aku minta maaf.Tidak seharusnya aku seperti itu.”

“Tidak masalah. Kau tentu tahu bagaimana jawabannya, kan? Minho tetaplah tunanganku, dia yang akan menjadi bagian hidupku nanti,” sedikit tercekat saat menungkapkan hal tadi, namun Hyun Yi berusaha menjaga nada bicaranya untuk tetap tenang.“Dan selamanya akan tetap seperti itu.”

Ingin sekali rasanya Key mendekap gadis itu, menumpahkan segala keluhannya. Mencintai seseorang yang tidak seharusnya memang menyakitkan. Lantas apa yang harus dilakukan Key, ia hanya pelaku dalam permainan takdir Tuhan, bukan?

“Aku tidak akan mengecawakannya, dan juga keluarga kami.”

Key menajamkan tatapannya pada yeoja itu.Ia berbisik namun masih terdengar oleh pendengaran Hyun Yi. “Lalu bagaimana denganku?Bagaimana perasaanmu?Kau memang… kau memang menyukaiku, kan?”

Setetes airmata dengan mulus meluncur melewati pipi pucat yeoja berparas cantik itu.“Kenapa kau menangis? Kenapa kau harus berbohong?” tanya Key, jelas tengah menahan egonya agar tidak meledak.

Yeoja itu, Shin Hyun Yi memaksakan pandangannya jauh kedalam mata kucing namja itu.“Mungkin perasaan ini hanya rasa tertarik yang sesaat.”

“Bagaimana kalau itu memang perasaanmu yang memang telah berubah?”

“Lalu apakah aku harus mempertahankan keegoisanku di saat seperti ini, Kibum-ssi?”

+++++

One Week Later

Hyun Yi POV

Hari ini aku berencana untuk mengajak Minho Oppa piknik.Cuaca sangat mendukung untuk melakukannya.Sejak kepulanganku dari rumah sakit beberapa hari lalu, kami belum pernah menghabiskan waktu berdua. Lagipula hari Minggu seharusnya Oppa tidak ke kantor, tapi ada sesuatu yang terpaksa membuatnya datang, begitu yang dikatakan padaku semalam.

“Selesai,” gumamku setelah menyelesaikan masakanku. Aku akan menghubungi Minho Oppa. Eum, kalau kalian belum tahu, namja itu selalu menuruti permintaanku.Menyenangkan, bukan?Kekeke.

Aku mengambi ponselku yang tergeletak diatas meja makan, kemudian menekan speeddial nomor 9.Panggilan cepatku untuknya.

Yeoboseyo,” sapa seseorang disana, Minho Oppa.

Oppa, kau sudah selesai dengan urusanmu?”

“Eumm,waeyo?”

“Ayo kita piknik,” ajakku riang. “Aku tidak menerima penolakan,” lanjutku  sebelum dia sempat memberi jawaban. Oppa terkekeh.

“Lalu kenapa ber…” kata yang kudengar setelah itu hanya kegaduhan.

Oppa?”DEG. Dia tidak menjawabku.“Oppa, naegagwenchana?”

OPPA!” tenangkan dirimu Shin Hyun Yi, tidak terjadi apa-apa padanya.“OPPA!Ya, jawab aku!” sambungan terputus.

 

Ada beberapa hal yang tidak ingin kita lepaskan,

Seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,

Tapi melepaskan bukan akhir dari dunia, melainkan suatu awal kehidupan baru,

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya,

Melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh… (Khalil Gibran)

Tiupan angin berhembus dengan lembut, meskipun begitu masih mampu menimbulkan suara gemerisik dedaunan yang saling bergesek.Langit biru bersih yang seakan-akan berbanding terbalik dengan tanah basah bumi itu.Tenang, satu kata yang mungkin dapat menggambarkan suasana sore itu.

“Hyun-ah, sudah saatnya kita pulang,” seseorang berkata dengan mimik sedih sekaligus khawatir.Gadis yang disebutkan namanya tadi masih belum merespon apapun.“Hyun-ah,” seru orang itu lagi.

Andwe, aku masih ingin disini.Kau bisa pulang,” jawab yeoja itu lirih, nyaris bisa dikatakan sebatas gumaman.

“Sudah berapa lama kau disini?Ahjumma akan khawatir,” orang itu, Key, masih berusaha membujuk gadis itu.

Bahu Hyun Yi nampak bergetar, dengan cekatan namja itu berjongkok dan merangkul yeoja dihadapannya.“Aku yang salah,” gumam gadis itu.Lagi, hati namja berlesung pipi itu seolah tersayat.Kemudian Key berganti mendekap gadis itu saat isakan tangis mulai terdengar kembali.“Aku yang salah.”

“Aniyo, bukan siapa pun,” namja itu mengusap punggung Hyun Yi dengan gerakan menenangkan.

Choi Minho, namja tampan itu kini tinggallah sebuah kenangan dalam bingkai takdir kehidupan dunia. Namja itu telah dibaringkan ditempat tidur–selama–nya beberapa jam lalu. Kecelakaan beberapa hari lalu, nyatanya menjadi jalan namja jangkung itu kembai kesisi Tuhan.

Key masih di pemakaman itu, bertahan untuk menemani gadis malang yang belum mau beranjak dari sisi nisan bertuliskan nama ‘tunangan’nya. Keluarga dan kerabat Minho sudah pergi 2 jam lalu, begitu pun kedua orang tua Hyun Yi yang akhirnya membiarkan gadis itu dengan  kekerasan kepalanya untuk tetap ditempat peristirahatan Minho.

“Bagaimana bisa dia pergi begitu saja? Kalau terluka kenapa harus pergi?” jemari lentik gadis itu mencengkeram kemeja hitam Key sementara namja itu semakin mengeratkan pelukannya. Kemejanya sudah basah karena airmata Hyun Yi. Dan untuk kesekian kalinya Key mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apapun untuk gadis itu.

Oppa…”

Oppa…”

“Minho Oppa…”

Bisikan itu, seolah menjadi hantaman godam yang mungkin sanggup meruntuhkan hati Key saat itu juga. Dia bisa saja berpikir untuk meminta gadis itu menghentikan gumamannya menyebut nama Minho, tapi kenyataannya dia tidak seegois itu. Ia akan menjaga gadis itu, melindunginya, dan segalanya yang bisa dia lakukan untuk gadis itu. Apapun.

“Minho orang yang baik. Dia tidak pergi, hanya saja ia harus kembali kesisi Tuhan lebih cepat dari kita. Dia tetap bersama kita disini, didalam hatimu.”

“Mulai saat ini, tersenyumlah.Bukankah kau tidak mau menyakitinya? Aku akan menemanimu, melindungimu…”

‘dan berharap menjadi pelabuhan terakhir hatimu.’

+++++

Flashback

“Hyun Yi selalu menggumamkan namamu dalam tidurnya.Aku khawatir padanya, jadi aku sangat meminta bantuanmu.Mungkin setelah kau bertemu dengannya keadaannya akan membaik,” Minho berbicara dengan tenang, namun tak cukup berhasil menyembunyikan perasaan tidak sukanya dari Key.

Namja bermata seperti kucing itu menunduk, terdiam beberapa saat yang membuat keadaan menjadi hening.

Key mengangkat wajahnya, menatap lekat Minho. “Dimana dia dirawat?”

“Rumah sakit Seoul.”

Key baru saja akan beranjak dari tempatnya duduk saat Minho menahan bahu namja itu. “Waeyo?” tanya Key bingung.

“Aku menyayanginya.Sangat menyayanginya. Tapi aku tidak tahu seberapa batasku untuk bisa melindunginya, membuatnya bahagia, dan hal-hal sederhana lain,” Key semakin bingung dengan arah pembicaraan Minho. Namja yang lebih pendek beberapa senti dari Minho itu mengerutkan keningnya lebih rapat.Kalimat yang diucapkan oleh namja jangkung itu menurutnya sedikit… menakutkan?

“Aku percaya padamu,” namja bermata besar –seukuran orang Korea– itu menyunggingkan senyumnya.“Kau pasti akan membuatnya bahagia.”

Flashback end

+++++

Incheon Airport

Dua tahun kemudian

 

Shin Hyun Yi keluar dari pintu kedatangan luar negeri dengan langkah anggunnya. Kali ini yeoja itu tampil cantik dengan kemeja putih dan skinnyjeansnya.Dibalut mantel coklat karya designer terkenal serta Buccheri 16cm-nya yang menambah kesempurnaan gadis itu.Tangan kirinya menarik sebuah koper coklat yang lumayan besar, sementara tangan kanannya menjinjing Gucchi berwarna merah menyala.

Gadis itu berhenti, membiarkan kopernya teronggok saat matanya menangkap sosok pria tampan yang sangat dirindukannya.“Key-ya!”

Ditengah hiruk pikuk bandar udara, kedua sejoli itu saling melepas rindu, seolah tak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan disekeliling mereka. “Missyou, dear,” bisik Key seraya mengeratkan pelukannya.

Shin Hyun Yi tersenyum lebar mendengar pernyataan dari prianya. Oh, sungguh ia bahkan lebih dari sekedar rindu pada pria dipelukannya ini.

“Ehm, sebaiknya kita segera pulang.Aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak seharusnya terjadi disini,” Hyun Yi terkekeh pelan mendengar ucapan Key. Masih sama. Namja itu tetap pengendali suasana yang hebat.

“Apa kau tidak ada pekerjaan hari ini?” tanya Hyun Yi –basa-basi– saat mereka dalam perjalanan pulang menuju apartemen.

“Apa pentingnya pekerjaan dibandingkan bertemu istri?”

Reflek Hyun Yi mengalihkan wajahnya keluar jendela.Sial, jangan sampai pria itu tahu wajahnya yang merona.

+++++

            Setahun yang lalu mereka memutuskan untuk menikah, tepat pada hari dan tanggal pernikahan Minho dan Hyun Yi akan dilaksanakan dulu. Sehari setelah pesta pernikahan, Hyun Yi pergi ke Amerika untuk melanjutkan study bisnisnya. Sementara Key? Setahun ini bisnis rumah makan dan cateringnya berkembang pesat berkat bantuan Chef Lee.Kini namja berusia awal 27 tahun itu berencana untuk membuka cabang di Daegu, tempat kelahirannya.

Awal kehidupan pernikahan mereka memang sulit.Hyun Yi tentu tidak mudah melupakan Minho.Hal itu juga yang menjadi alasannya untuk meninggalkan Seoul sementara waktu.

“Hyun-ah.”

Ne?”

“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?”

“Oh? Kau mengajakku kencan?” tanya gadis cantik itu seraya menyipitkan kedua matanya.

Namja itu menarik Hyun Yi lebih dekat padanya.“Apa mengajak istri sendiri jalan-jalan itu disebut sebuah kencan?” yeoja itu mengendikkan kedua bahunya sebagai jawaban.

“Kau tidak mau?”

Yeoja itu tampak berpikir sejenak.“Tidak ada yang lebih menarik dari jalan-jalan?” tanyanya.

“Ada.”

Jinja?Mwoya?”

“Bermain di ranjang!”

Chu~

“YA! KIM KIBUM MESUM!”

END

Yeah, finally, this fanfic was end! Maaf kalau alurnya lompat-lompat atau segala typo yang ada.Saya hanya penulis amatir yang nekat ngirim fanfic ini buat Key Birthday Party di SF3SI u.u tapi tolong dihargai ya. Thanks buat semuanya~ ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

24 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] La Chata [2.2]”

  1. Cieh, akhirnya Key sama HyunYi juga. Sempet kepikiran sama Minho, tapi ternyata takdir berkata lain #apasih

    Keren loh, ceritanya 😀 Nice story ^^

  2. Aku tahu antara key dan minho pasti meninggal *halah
    ketika hati hyun dilema akhirnya Tuhan yang memilihkan,*wkwk opo iki(?)
    keep writing ya thor,

  3. endingnya bagus.. dasar keybeom!! mesumm!
    tp alur ceritanya gampang ditebak. sayang minhonya hrs hilang, tp syukurnya happy ending dgn key.

    judul lachata mengingatku pd mv fx. Ah… jd kangen ama mv itu 🙂

  4. ending yg tak terduga…ehm,khusus part minho maksudnya,g nyangka aja dy bakalan metong…
    tadinya kirain dy bakaln ngalah sm key…tp g sampe mati jg…
    eh taunya…
    dr obrolannyasm key,kyknya minho udh ngeh deh klo dy sebentar lg mo meninggal..lht aja ucapannya…

  5. ga nyangka minho bakal meninggal… jalan ceritanya bagus thor~ aku kirain pas hyunyi kembali dari amerika itu mereka msih pacaran, eh ternyata udah nikah hehe..

  6. Halo~ Izinkan saya berkomentar dan memberikan masukan. Hehe.
    + Kalau mau pakai tanda “―” untuk menjelaskan suatu kalimat, misalnya seperti dalam kalimat ini:
    Minho mengusap-usap rambut belakang Hyun Yi dengan lembut –kebiasaannya belakangan ini–.“Aku serahkan padamu. Kau yang menjalaninya, kan?…….”

    Itu cukup pakai sekali saja tanda “―” nya kalau di akhir tanda “―” nggak ada lanjutan kalimat. Atau ganti saja menjadi seperti ini:
    Minho membelai lembut rambut belakang Hyun Yi, kebiasaannya belakangan ini. “Aku serahkan padamu. Kau yang menjalaninya, kan?…….”

    + Perhatikan spasi setelah titik ya. Di FF ini banyak yang tidak ada spasi setelah tanda titik. Meskipun sepele, tapi ini mempengaruhi kerapihan tulisan.
    + Dan maaf saya nggak ngerti sama kalimat:
    “Ya, Hyung! Aku bisa membuat bubur sendiri,” teriak seorang namja pada namja lain yang bertubuh atletis. “Hyung!” teriak namja itu lagi, Kibum atau akrab disapa Key ketika Hyungnya tidak menghiraukan teriakannya.
    Ini narasinya terlalu ribet. Siapa “seorang namja”? dan siapa “namja lain” itu? Sebaiknya langsung sebut nama atau gunakan pemilihan kata yang simple tapi mudah dimengerti ya.
    + Kurangi penggunaan kata “namja-yeoja” ya. Itu membuat bingung readers.
    + Untuk story-nya sendiri, kayaknya terlalu muluk untuk Key ditaksir Hyun Yi yang notabene udah berhubungan lama dengan Minho. Coba kalau kamu menonjolkan kelebihan Key dari sisi lain. Bukan Cuma dari sisi Key lucu, perhatian, manis, dll. Seandainya Key punya quote kehidupan yang sama dengan prinsip hidup Hyun Yi dan bikin Hyun Yi kagum sama dia, itu lebih masuk akal. Dan Minho terlalu baik untuk dikhianati. Lebih bagus lagi kalau Minho punya kesalahan yang membuat Hyun Yi berpaling ke Key. Dan… KYAAAAAHHHHH MINHO-NYA DIBUAT MATI T_T Cara itu terlalu kejam untuk menyingkirkan tokoh T_T
    + Segitu aja. Semoga bermanfaat. Terima kasih
    ^^

  7. Aku komen di part 2-nya aja ya.

    Mmm, aku ngerasa si hyun yi terlalu mudah suka sama Key. Entah sih, cuma perasaanku aja kali ya. Dan emang ada sih di dunia ini orang yg bisa kepincut dengan mudah. diperhatiin dikit aja udah jatuh hati, pindah ke lain hati.
    Jadi apa ya, berasa ga dapet feel-nya. Aku sering di protes juga sama beberapa reader yg baca ff-ku kalo aku pake alur yang tiba2 aja cinta, marah bla bla bla

    Tadinya aku mau bahas soal penggunaan titik, tp udah diambil sama diya eon. Ya… tambahan dariku ini:
    di part 1 penulisan ‘di’ masih salah. Untuk soal ini, ‘di’ itu harusnya dipisah kalo diikuti keterangan tempat atau waktu, cth: di rumah, di dalam kelas, di kala dll

    Penulisan lainnya udah lumayan rapi ^^
    Semangat terus ya nulisnya…

  8. Yeah! AKhirnya Hyun yi sama Key.
    Tapi ih sedih, kenapa Minhonya dibikin mati? kayanya bakalan lebih oKEY kalo Minho pada akhirnya menerima Hyun yi yang emang udah berpaling ke Key.
    Oh iya, ada masukan nih dari aku.
    u/ kalimat “Oppa, naegagwenchana?” <– Ini mungkin maksdunya , "Oppa, kau baik-baik saja?" u/kalimat itu bahasa Koreanya "Oppa, neo gwaenacanha?" soalnya kalo 'naega' itu kan artinya aku.
    Nah, sekian dari aku. Maaf kalo masukannya tidak berkenan.

    Pokonya aku suka sama FF ini.hhe.
    Nice FF b^^d

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s