[FF KEY B’DAY PARTY] Someone From The Past [2.2]

Title                 : Someone From The Past – Part 2

Author             : Kim Nara

Beta Reader   : mybabyLiOnew

Main Cast       : Kim Kibum, Song Jae In (OC)

Support cast  : SHINee’s member

Genre              : Romance, Fluff

Length            : Twoshot

Rating             : G

Disclaimer       : I OWN this story and OC characters but not other characters. SHINee belongs to God, himself, family, and SM Entertainment. There are some facts in this fic that I have to modificate due to story needs. Do not copy without permission and copyright.

***

.

MBC Building, Yeouido-dong, Seoul. 12.37 PM.

Aku mengambil botol yang terletak di atas meja yang tidak jauh dari hadapanku, kemudian membuka tutupnya dan meneguk cairan bening yang tinggal sepertiga botol. Kira-kira sudah setengah jam berlalu sejak aku dan Dana noona menjadi special DJ untuk Shim Shim TaPa—yang biasa disingkat menjadi SSTP—tengah malam ini dan PD-nim mengatakan bahwa kami sudah membawakan SSTP malam ini dengan sangat baik.

Malam ini yang menjadi tamu di SSTP adalah Lady Jane, EXID Hani, dan Hanbyul. Sekarang kami sedang menunggu commercial break yang sedang berlangsung sambil sesekali mengobrol dengan para guest. Aku mengambil kertas yang diberikan oleh writer noona, kemudian membacanya sekali lagi meskipun aku sudah mengingatnya di luar kepala.

Ada banyak hal yang berkelebat dalam pikiranku saat ini, yang dipicu oleh sebuah benda yang kulihat sebelum tiba di MBC, yang membuatku harus membuka kotak kenangan yang telah lama aku simpan… dan juga sempat aku abaikan. Bukan kenangan yang negatif atau sesuatu yang menyakitkan, tapi hanya kenangan lama yang terkadang membuatku tersenyum kecil ketika mengingatnya.

Anehnya adalah masih ada sesuatu yang bergejolak dalam perutku setiap kali aku mengingatnya belakangan ini. Tidak mungkin ‘kan aku masih merasakan hal itu sampai sekarang? Maksudku… itu sudah lama terjadi dan bahkan aku pun tidak punya alasan yang kuat untuk membuat rasa itu tiba-tiba saja kembali naik dan terombang-ambing di permukaan hatiku. Ah sudahlah, aku juga tidak mengerti kenapa ingatan masa lalu yang muncul kembali itu terasa begitu kuat mempengaruhi perasaanku. Padahal dulu aku pernah menceritakannya kepada member tapi bahkan hal tersebut tidak menyita pikiranku sama sekali saat itu.

Aku sedikit terlonjak ketika Dana noona menepuk bahuku dan mengisyaratkan untuk cepat memakai headset yang sempat aku lepaskan, karena sebentar lagi commercial break akan berakhir. Ternyata aku terlalu lama memandangi kertas yang sedang aku pegang. Mungkin Dana noona dan orang lain berpikir bahwa aku serius membaca isi kertas itu, tapi nyatanya pikiranku berkeliaran entah kemana.

Dana noona mengucapkan opening statement dengan baik, begitu juga denganku yang lihai menimpalinya. Bukannya aku menyombongkan diri, tapi asal kau tahu saja, semua public figure adalah pemain watak yang mahir di depan kamera. Mereka –termasuk aku- seperti robot yang akan tersenyum ceria di depan kamera ketika tombol ‘on’ ditekan, padahal seringkali ada hal yang mengganggu pikiran dan hati.

Segment ini waktunya games untuk para guest yang hadir. Games kali ini bertemakan cinta dan entah kenapa writer noona berinisiatif untuk mengangkat kisah cintaku saat aku masih kecil, lalu menjadikannya sebagai games pembuka.

Top star kita hari ini adalah seorang fashionista. Sosok yang lucu, lovable, dan sangat tampan!” Dana noona mengatakan hal itu dengan tawa tertahan. Para guest juga membungkuk dan tertawa di tempat. Bahkan aku pun ikut tertawa. Narasi yang memalukan. “Almighty Key dengan pesonanya yang tidak terkalahkan,” lanjutnya lagi.

Kami semua mulai bertepuk tangan tak terkecuali aku yang sesungguhnya malu dengan narasi yang berlebihan itu.

Almighty Key dengan pesona yang tidak terkalahkan…” Dana noona memulai percakapan denganku.

Ne!

“Apa itu cinta menurut seorang Key?”

Pertanyaan itu sudah beberapa kali dilontarkan padaku dan jawabanku akan selalu sama. “It’s very useless thing to me while I work,” jawabku tanpa ragu. Aku memang selalu tidak suka melibatkan perasaan dengan pekerjaan. Itu bisa membuat konsentrasiku terpecah.

“Wah, itu jawaban yang cukup sinis,” ujar Dana noona yang menatapku tidak percaya. Sedangkan aku hanya tertawa menanggapinya.

Setelah itu Dana noona menjelaskan peraturan games yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Writer noona menghampiriku dan memberikan sebuah pemukul untuk alat yang sampai saat ini aku tidak tahu namanya. Pokoknya alat yang akan aku pukul tiga kali dan menghasilkan bunyi ding dong daeng~~ saat seseorang menjawab pertanyaan dengan benar dan akan berbunyi daeng! ketika seseorang menjawab dengan salah. Bergantian dengan Dana noona, aku melanjutkan membacakan peraturan lainnya mengenai games ini.

Beberapa saat kemudian, tiba waktunya untuk memberikan pertanyaan kepada Lady Jane noona, Hani noona, dan Hanbyul. Dana noona pun membacakan pertanyaannya. “Ketika younger Key masih menjalani hidup sebagai Kim Kibum, apa tindakan yang sangat kekanakkan yang Key lakukan untuk mendapatkan perhatian dari gadis yang disukainya?”

Tanpa sadar aku tersenyum sendiri membayangkan apa yang aku lakukan saat itu. Benar-benar tindakan yang jarang dilakukan oleh anak seusiaku. Apalagi jika mereka mengetahui motivasiku melakukan itu.

Satu persatu jawaban yang dipikirkan oleh para guest dilontarkan. Setelah masing-masing mencoba menjawab satu kali dan berakhir dengan bunyi daeng! nyaring yang keluar dari alat yang aku pukul, akhirnya aku dan Dana noona memberikan petunjuk untuk mempermudah mereka menjawabnya.

“Saat itu aku sangat berbeda dengan anak-anak yang lain. Aku memiliki pemikiran yang sangat dalam mengenai hal ini,” ujarku dengan ekspresi datar.

Hanbyul tertawa ketika mendengar jawabanku dan berkata, “Kau benar-benar mengucapkannya dengan mulutmu sendiri?”

“Apa kau tidak malu?” timpal Jane noona.

Ne? Iya aku tidak malu sama sekali,” jawabku masih dengan wajah tanpa ekspresi. Karena aku pikir tidak ada yang salah dengan mengungkapkan kejujuran. Aku memang terkenal dengan gayaku yang selalu mengungkapkan apa yang aku suka dan tidak suka, yang aku pikir benar dan tidak benar. Yah meski terkadang ada orang melihatku sebagai orang yang kasar karena kejujuranku itu.

“Ya, kau sangat berbeda dan memiliki pemikiran yang dalam.” Dana noona berkata sambil tersenyum kecil. Mungkin ia melihat kalimat yang aku lontarkan itu terlalu percaya diri.

Keurom, aku menginginkan petunjuk,” kata Hanbyul.

“Baiklah, aku akan memberikan petunjuk. Hal ini terjadi ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Hmm… bisa dianalogikan seperti ini, ketika orang lain tidak membawa payung, kita harus berbagi dengannya.” Aku langsung mengucapkan analogi pertama yang melintas di pikiranku.

“Ah, petunjukmu itu terlalu to the point,” desah Dana noona.

“Petunjuknya terlalu jelas ya?” tanyaku.

“Kalau begitu aku akan memberikan petunjuk pengecoh.” Dana noona pun memberikan solusi. “Gadis itu pasti akan merasa malu ketika waktunya makan siang,” lanjut Dana noona.

Semua guest terlihat berpikir sesaat hingga Jane noona mengangkat tangannya dan mencoba menjawab, “Ah!! Jane, Jane, Jane! Key menyembunyikan sendok dan sumpit gadis itu.”

Ding dong daeng~

Aku memukul alat itu tiga kali dengan nada yang berbeda karena Jane noona sudah menjawabnya dengan benar.

“Tapi kenapa kau menyembunyikan sendok dan sumpit gadis itu?” tanya Dana noona kepadaku.

“Karena aku ingin ia memakan bekal makan siangnya bersamaku.” Entah kenapa aku menjawabnya dengan serius, hingga aku mendengar suaraku dengan nada rendah dan sedikit husky.

Dan hal yang terjadi selanjutnya adalah suara-suara lantang dan berisik yang terdengar dalam ruangan ini.

“Ah bagaimana ini?! Kau membuat jariku mengeriting!” pekik Hanbyul.

“WOAAAAAAH KAU KEREN!” Berbeda dengan tanggapan Hanbyul, para gadis justru menganggapnya berbeda.

“Apa kau berhasil memakan bekal makan siangmu bersamanya?” Dana noona murni terlihat penasaran, meskipun pertanyaan itu memang ada dalam script.

“Saat itu aku duduk di bangku kelas dua sekolah dasar…”

Aku belum selesai menjawab pertanyaan Dana noona ketika mendadak terdengar instrument dengan nada sedih yang dimainkan oleh PD-nim—Kiss The Rain dari Yiruma.

Oh My God,” ujarku saat mendengarnya.

Say something to her,” pinta Dana noona.

Aku menghela napas sesaat, kemudian menatap kamera dengan serius. Tidak menyangka bahwa games pembuka ini akan membuatku meninggalkan video message. Lumayan juga… aku mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang selama ini aku pendam. Ah~ semoga dia mendengarkan SSTP malam ini.

“Walaupun kau tidak ingin, bukankah itu keterlaluan kalau kau akhirnya memakan makananmu dengan tangan?” ujarku memulai.

Aku mendengar Dana noona tertawa setelah aku mengucapkan hal itu.

“Ah jadi Key tidak berhasil.” Kali ini Jane noona yang berkomentar

Aku terus memasang wajah serius sambil tetap menatap kamera. Padahal aku ingin sekali tertawa karena malu. Tapi aku pun melanjutkan apa yang ingin aku katakan. “Sampai saat ini mungkin kau masih belum tahu bahwa aku yang menyembunyikan sendok dan sumpitmu. Aku menyembunyikannya di bawah perosotan tempat kita biasa bermain bersama.”

Aku terdiam sebentar. Menimbang-nimbang apakah aku harus mengucapkan ini sekaligus memprediksi apa yang akan terjadi jika aku benar-benar mengucapkannya. Namun rasanya tidak akan ada gejolak yang berarti di antara fans jika aku mengutarakannya, mungkin mereka akan berpikir bahwa aku hanya bercanda. Baiklah, akan aku ungkapkan. Karena ada hal yang benar-benar ingin aku pastikan.

“Kalau kau masih memikirkanku sampai saat ini, ambillah sendok dan sumpit itu. Aku akan menemuimu pukul 12 malam di tanggal yang paling aku sukai.”

Aku mengakhiri video message itu dengan senyum kecil. Aku pun tidak tahu kenapa aku ingin sekali mengucapkan hal itu. Tiba-tiba aku penasaran dengan banyak hal. Apakah ia mendengarkan SSTP malam ini? Kalau iya, apakah dia mengingat saat aku melakukannya dulu? Kalau memang ingat, apakah dia masih memikirkanku? Lalu apakah ia akan mengambil sendok dan sumpit itu sesuai dengan waktu dan tempat yang aku ungkapkan? Apakah ia masih mengingat tanggal yang paling aku sukai? Apakah bando yang kulihat adalah bando yang sama dengan yang waktu itu aku berikan?

Aku benar-benar penasaran.

***

.

Daegu. Sept, 22nd 2012. 11.45 PM.

15 minutes to Key’s birthday.

Kau ingin bilang aku gila? Kalau ya, berarti kau adalah orang kelima yang menyebutku ‘gila’. Karena sudah ada Jonghyun hyung, Minho, Taemin, dan terakhir Onew hyung yang terlebih dulu menyebutku seperti itu. Entah kenapa segment games di SSTP kurang lebih sebulan yang lalu begitu mengganggu pikiranku. Tanpa henti mendobrak masuk ke dalam pikiranku, bahkan di saat aku seharusnya berkonsentrasi untuk melakukan kewajibanku di atas panggung.

Maksudku, mana mungkin hal semacam itu bisa begitu menggangguku? Hal semacam… cinta monyet. Bukankah aku berkali-kali bilang bahwa aku tidak suka mencampuradukkan urusan perasaan dan pekerjaan? Demi celana Taemin yang memiliki sobekan besar di bagian pahanya, prinsipku itu bukan hal yang direkayasa atas perintah dari perusahaan. Hal itu benar-benar keluar dari hatiku yang terdalam. Memangnya bisa prinsipku berubah dengan sendirinya? Tanpa kusadari?

Apa yang membuat mereka menyebutku gila? Pertama, karena aku menjanjikan untuk menemui gadis masa laluku, melalui siaran radio, dan dengan statusku sebagai idol. Dalam kondisi di mana aku pun tidak tahu bagaimana rupanya sekarang dan tidak tahu apakah dia mendengarkan SSTP malam itu. Kedua, karena di sinilah aku –seorang diri- berjalan di lingkungan yang sepi, di bawah langit tengah malam Daegu yang indah karena begitu banyak bintang, menuju ke sebuah taman bermain yang terletak satu blok dari Jimmyo Elementary School. Sekolahku dulu. Ketiga, karena aku melakukan semua ini tanpa tahu apakah akan ada seseorang yang datang. Tidak ada jaminan bahwa aku akan bertemu dengan orang yang kumaksud malam ini.

Aku baru tiba di Daegu Station sekitar 40 menit yang lalu dengan menggunakan KTX yang berangkat pukul sembilan malam dari Seoul. Aku bersikeras berangkat sendiri dan menggunakan public transportation, padahal manager hyung hampir saja meledak marah karena aku terus menolak tawarannya untuk mengantarku. Tapi berkat bantuan dari Onew hyung dan Jonghyun hyung, Gyeongshik hyung berhasil dibujuk dan akhirnya mengizinkanku pergi sendiri. Dengan berbagai macam syarat. Salah satunya aku tidak boleh menggunakan baju yang mencolok. Harus sangat biasa dan tidak terlihat modis. Tidak jarang ada beberapa orang yang pada awalnya tidak begitu memperhatikanku, akhirnya jadi memperhatikanku karena gaya fashion-ku yang terlalu aneh di mata mereka.

Langkah kakiku melambat sampai akhirnya berhenti ketika aku sampai di sebuah taman bermain. Aku berdiri diam dan memandang ke seluruh sudut tempat ini, tempat aku biasa bermain sejak aku kecil hingga sampai sebelum aku pergi ke Los Angeles mengikuti program pertukaran pelajar. Aku membiarkan memori-memori yang sempat mengkristal itu kini meleleh, lalu mengaliri setiap ruang dalam ingatanku.

.

*Flashback*

“Kibong, jebal! Jangan lepaskan, ya!”

“Iya, iya. Kau lihat saja ke depan, tetap kayuh pedalnya dan kendalikan stangnya dengan baik,” ujar Kibong sambil memegang bagian belakang sepeda roda dua miliknya.

“Pokoknya jangan dilepaskan. Sepeda milikmu masih sedikit tinggi untukku sampai aku harus berjinjit jika sedang berhenti.”

“Mal Lang-ah, kau cerewet sekali tahu! Aku tidak akan melepaskannya kok.” Kibong berkata sambil melepaskan pegangan pada bagian belakang sepedanya perlahan-lahan. Ia tersenyum ketika melihat Mal Lang-nya bisa mengendarai sepedanya dengan cukup baik.

Kibong berdiri diam sambil memandangi temannya yang sudah cukup jauh dari tempatnya berdiri. Mal Lang masih belum tahu bahwa Kibong melepaskan pegangannya.

“Kibong-ah sepertinya aku sudah cukup lancar mengendarainya. Iya kan?”

Hening.

“Kibong-ah, kenapa kau tidak menjawab?”

Gadis kelas satu sekolah dasar itu menoleh dan yang terjadi kemudian…

BRUK!

“Mal Lang-ah!!”

Kibong berlari menghampiri Mal Lang yang terduduk di tanah sambil meringis memegangi lututnya.

“Gwaenchanha? Coba aku lihat lututmu.” Kibong menggeser tangan Mal Lang yang menutupi lukanya. Cukup parah.

Kibong membantu Mal Lang berdiri, kemudian anak lelaki itu berjongkok di depannya.

“Naik,” titahnya.

“Eoh?”

“Aku akan mengantarmu pulang dan segera mengobati lukamu.”

*Flashback End*

.

Aku duduk di salah satu bangku taman yang terbuat dari kayu, yang kukira adalah tempat yang paling sempurna untuk menyembunyikan diri tetapi memiliki sudut pandang yang strategis untuk melihat ke arah perosotan. Aku merogoh kantong jaketku kemudian mengeluarkan kaleng Lotte Coffee yang aku beli di stasiun tadi dan membukanya.

Jam digital Toy’s Story hadiah ulang tahun dari salah satu fansiteku, Keyandu, menjadi tempat aku mengalihkan pandanganku sejenak. Lima menit lagi menuju jam 12 malam. Aku merasakan tenggorokanku mengering. Cepat-cepat aku menenggak kopi yang belum kuminum setelah aku membuka kalengnya barusan.

Aku hampir saja menyemburkan cairan kopi yang belum sukses melewati kerongkonganku ketika aku melihat seorang gadis berjalan memasuki taman bermain ini dari arah kiri. Sepertinya tempatku duduk ini benar-benar sempurna untuk bersembunyi dengan nyaman karena ia sepertinya sama sekali tidak menyadari keberadaanku di sini. Jika kuperhitungkan dengan seksama, dari arah ia memasuki taman bermain ini, tempat dudukku terhalang oleh sebuah bangunan kayu berbentuk balok yang terhubung dengan perosotan itu.

Bisa kupastikan bahwa dia adalah Mal Lang. Teman kecilku. Karena dia memakai bando yang sama dengan yang aku lihat sebulan yang lalu. Hmm… terlebih lagi siapa juga gadis gila yang mau keluar rumah tengah malam dan mampir ke taman bermain? Kecuali kalau yang aku lihat itu bukan… manusia. Shit! Aku paling tidak suka hal-hal berbau hantu. Kenapa juga pikiran itu bisa muncul begitu saja? Benar-benar merusak konsentrasi.

Aku mengabaikan kaleng kopi yang masih terisi setengah dan  tetap memperhatikan gadis yang tengah berdiri di depan perosotan itu. Sesekali ia menggosok-gosok kedua tangannya dan mengusap lengan atasnya yang sepertinya hanya memakai sweater berbahan tidak terlalu tebal. Sudah tahu sekarang sudah mulai musim gugur, seharusnya dia memakai dua tumpuk pakaian hangat saja sekalian.

Wajahnya tidak terlihat begitu jelas karena ia memakai hoodie. Yang bisa kulihat hanya posturnya saja yang menurutku proporsional. Beberapa saat kemudian ia melihat keadaan sekitar dan aku merasa beruntung karena dia melewatkan tempatku duduk. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari cardigan-nya kemudian ia berjongkok di depan perosotan itu. Ah… dia membawa sekop kecil ternyata. Aku sudah berniat dari awal bahwa aku tidak akan terus bersembunyi seperti ini. Aku menunggu waktu yang tepat untuk muncul di depannya. Sampai aku yakin bahwa ia ke sini untuk mengambil sumpit dan sendoknya.

Pasir yang ia gali sudah cukup dalam. Seharusnya ia sudah menemukan benda-benda yang aku kubur di sana karena seingatku tanah yang kugali tidak terlalu dalam. Mendadak aku menjadi tidak sabar. Aku pun berjalan perlahan ke arah gadis yang berjongkok dan memunggungiku itu. Aku berusaha untuk tidak menghasilkan suara sedikitpun.

Tepat ketika aku berhenti melangkah dan berdiri di belakangnya, ia berbicara pelan dengan nada seperti bersorak. “Found it!” pekiknya. Dia pun berdiri sambil membersihkan sesuatu yang ia temukan. Aku tidak bisa melihatnya karena ia masih membelakangiku. Jantungku berdetak begitu cepat, bahkan terlalu cepat, hingga aku pikir gadis itu bisa saja mendengarnya di malam yang sunyi ini. Diam-diam aku menghela napas untuk mempersiapkan diri ketika dia berbalik dan menunjukkan wajahnya.

1… 2… 3….

“KYAAAAAAAAAAAAAA!”

“AAAAAAAAAAAAAAAA!”

Dia menjerit dan entah kenapa aku pun ikut menjerit. Kami berdua sama-sama mundur selangkah, terlonjak karena terkejut setengah mati. Benda yang dibawanya pun jatuh ke dekat kakiku. Aku melebarkan kedua mataku ketika aku melihat wajahnya, bersamaan dengan jeritan keras yang terdengar dari mulut kami berdua.

Neo…” Aku menunjuk ke arah benda—yang ternyata benar sendok dan sumpit yang kumaksud—dan ke arahnya secara bergantian.

Gadis itu memandangku dengan ekspresi terkejut dan mata yang terbelalak sambil memegangi dadanya. Aku melihat wajahnya memucat sesaat, benar-benar sesaat, karena setelah itu wajahnya kembali ke warna semula dan sedikit… merona? Jika indera penglihatanku tidak salah.

Yak! Gadis keras kepala! Kau…” Kalimatku terhenti, rasanya kerongkonganku terlalu kering. Aku butuh air—apapun—yang bisa membasahi kerongkonganku saat ini juga. Tapi tidak ada. Sial. “… Mal Lang?” Aku pun hanya mampu menyelesaikan kalimatku dengan bisikan.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Ia terlihat kesal. Aku menunggu jawaban darinya tapi bibirnya tetap terkatup rapat. Ia melirikku dengan sinis sebelum akhirnya ia mengambil sendok dan sumpit yang jatuh di dekat kakiku dan pergi melewatiku begitu saja. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Tanpa pikir panjang aku meraih lengan ramping itu dan menahannya untuk tidak berjalan lebih jauh. “Kau Mal Lang ‘kan? Ani, kau Song Jae In ‘kan? Murid Jimmyo Elementary School, sekelas denganku dari kelas satu hingga kelas enam? Iya ‘kan?”

Entah kenapa aku begitu bersemangat sampai tidak sadar bahwa cengkeraman tanganku di lengannya terlalu keras. Membuat gadis itu meringis. Aku buru-buru melepaskan cengkeramanku. Mendadak mual karena perasaan menyesal yang menghantam ketika aku membayangkan bagaimana jika lengannya memerah karena tingkahku tadi.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dan malah pergi?” tanyaku kepadanya yang masih membuang muka, menolak menatap lawan bicaranya. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah memainkan pasir dengan ujung sepatunya.

YAK!” teriakku, hilang kesabaran.

Dia mengangkat wajahnya cepat dan menatap mataku langsung. Sial. Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini?

WAE?!” pekiknya tidak kalah keras.

“Kenapa kau marah, eoh?” tanyaku heran.

“Bukan urusanmu,” ucapnya jengah.

“Bertemu teman lama, bukannya bertanya dan berbincang dengan baik, kau justru marah-marah seperti ini. Kenapa tingkah lakumu jadi buruk begini?” Aku bertanya sambil meneliti postur gadis dengan wajah kusut di hadapanku ini dengan seksama, yang sebelumnya luput dari pandanganku karena tingkahnya yang lebih menyita perhatian. Hmm… dia lebih pendek dariku. Mungkin tinggi badannya hanya sebatas daguku.

“Siapa yang kau bilang buruk? Tidak mengenali teman kecilmu bukankah itu lebih buruk?” tanyanya sarkastik.

Ya, kau menyalahkanku?” Aku mendecakkan lidah tidak percaya.

“Siapa lagi yang salah jika bukan kau? Aku saja masih mengingat wajahmu sejak pertama kali kita bertemu di mini market tempo hari.” Dia benar-benar tidak mau kalah.

“Wajar kau mengingatku, karena aku selalu muncul di TV sejak tahun 2008. Sedangkan kau? Kau berubah! Bagaimana bisa aku mengingatmu,” bantahku cepat.

Mwo?” Kemudian ia tertawa frustasi. “Kau adalah orang tersombong yang pernah aku temui. Cheogiyo, aku sama sekali tidak berubah. Aku tidak pernah melakukan operasi plastik, semuanya alami dari aku kecil hingga sekarang. Tidak masuk akal kalau kau bilang aku berubah!”

“Pokoknya menurutku kau berubah!”

“Tidak!”

“Iya!”

“Tidak!”

“Ya!”

Gadis itu meniup poninya dengan kesal. “Memangnya apa yang berubah dariku, hah?”

“Sekarang kau jauh lebih cantik. Aku sampai tidak mengenalimu!” tandasku cepat.

“Apa?” Ekspresi wajah gadis itu berangsur melunak ketika mendengar kalimat yang aku ucapkan. Ada semburat merah yang bermain di pipinya yang terlihat halus. Sementara aku? Dalam hari merutuki kebodohan yang sudah aku perbuat. Aku memang selalu mengatakan apa yang ada di otakku. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan menjadi sejujur ini… dan sememalukan ini.

“Tidak ada,” Aku membuang muka ketika aku merasakan wajahku juga memanas. Apa-apaan ini?

“Kau bilang apa tadi?” tanyanya lagi.

Aish jangan pura-pura tidak mendengar. Aku tidak berbisik-bisik ketika mengatakannya.” Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, tindakan refleks yang kulakukan ketika aku salah tingkah.

Arasseo. Annyeong.” Lebih aneh lagi dengan gadis itu. Dia mengatakan dua kata tidak penting itu lalu pergi begitu saja.

Lagi-lagi aku harus menahannya pergi. Kali ini aku tidak mencengkeram lengannya tapi aku meraih pergelangan tangan gadis itu kemudian menggandengnya lembut. Aku berjalan ke arah bangku kayu terdekat kemudian mengajaknya duduk di sampingku. Tampaknya kami harus berbicara dengan tenang, sambil duduk, agar kami –aku khususnya- bisa mengatakan apa saja yang ingin aku katakan dan menanyakan apa saja yang membuatku penasaran.

“Kita harus berhenti berteriak satu sama lain dan berbicara baik-baik.” Aku yang semula hanya menatap ke arah perosotan itu kemudian menatapnya di akhir kalimatku. Aku pun melihat ia mengangguk sebagai respon dari pernyataanku.

How should I start?” gumamku. Banyak hal yang ingin aku tanyakan tetapi aku bingung harus memulai dari mana. “Hmm… ternyata bando yang aku berikan waktu itu masih ada.” Dan kembali sebuah kalimat bodoh yang keluar. Kalau sudah tidak ada tentu saja tidak akan dipakai olehnya, bukan?

Ne, ini benda terakhir yang kau berikan kepadaku sebelum kau pergi ke Los Angeles.” Mata gadis itu terlihat menerawang, seperti sedang membaca kembali buku diary yang ditulisnya setiap hari saat masih kecil dulu. “Lagi pula bando ini masih layak pakai,” tambahnya. Mungkin tidak ingin terlihat terlalu serius.

Ah matta! Kenapa aku tidak bisa menemukanmu di mana-mana ketika aku kembali dari Los Angeles? Kenapa kau pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?” tanyaku bertubi-tubi.

“Kim Kibum, kau ini berlebihan sekali ya. Tidak meninggalkan jejak apanya? Ibumu tahu bahwa aku dan keluargaku pindah ke Jepang karena pekerjaan ayahku. Aku sudah menitipkan pesan untuk memberitahumu. Memangnya kau tidak menerima suratku, eoh?

“Iya, ibu memberikannya padaku…,” ujarku pelan sambil menundukkan kepalaku, karena yang dia katakan benar. Tapi bukan itu yang kumaksud! Aku pun menegakkan kepalaku lagi dan menatap mata cokelatnya. “Tapi kau tidak meninggalkan nomor telepon ataupun e-mail yang bisa aku hubungi. Kau juga tidak pernah menghubungiku. Makanya aku mengatakan bahwa kau pergi tanpa meninggalkan jejak.”

Gadis itu meninju lenganku pelan. “Aigoo, aku melakukan itu karena kau harus berkonsentrasi penuh dengan audisi SM yang ingin kau ikuti. Aku juga berusaha keras untuk tidak menghubungimu, takut kalau-kalau aku mengganggu.”

“Ngomong-ngomong…” Gadis itu melanjutkan lagi. “Aku mendengarkanmu siaran di SSTP. Kau benar-benar gila. Seandainya aku tidak mendengarnya bagaimana? Kau akan tetap ke sini dan menunggu sampai pagi? Bagaimana kalau teman-teman satu sekolah kita dulu mendengar juga dan mengambil keuntungan dari ucapanmu di SSTP? Menyebarkan gosip misalnya? Seharusnya kau berhati-hati. Statusmu sekarang ‘kan sebagai idol. Bukan lagi Kibong atau Kim Kibum.”

Aku menghela napas mendengar apa yang dikatakan Jae In. Pertanyaan yang diajukannya banyak sekali. Harus mulai dari mana aku menjawabnya? Aku pun berdehem sebelum menjawab. “Pertama, kau tidak ingat bahwa kau tidak sadar bahwa aku yang menyembunyikan sendok dan sumpitmu? Kau bahkan bilang kepada teman-teman bahwa ibumu lupa membawakan sumpit untukmu. Jadi tidak mungkin ada orang yang akan menyebarkan gosip. Lalu… aku harap kau tidak menganggapku sebagai Key SHINee. Aku ingin kau tetap melihatku sebagai Kibong, teman masa kecilmu, atau sebagai Kim Kibum, sebagai diriku sendiri. Kadang aku lelah harus terus tersenyum di saat mood-ku sedang buruk.”

Dia terdiam, terlihat memikirkan apa yang aku katakan. Aku melirik gadis itu yang lagi-lagi mengusap kedua lengannya. Ia kedinginan. “Ya Song Jae In, sudah tau sekarang sudah mulai musim gugur, kenapa kau tidak memakai baju hangat dengan benar? Apa-apaan ini? Sweater dengan bahan tipis seperti ini tidak akan melindungimu dari cuaca yang dingin. Memangnya kau tidak tahu kalau di awal musim gugur kemarin saja suhunya sudah mencapai 19 derajat? Ara?” Aku mendumal sambil melepaskan jaket luar yang kugunakan, lalu menaruhnya di bahu Jae In.

“Cih, kau tidak berubah. Kalau kau mengatakannya dengan baik dan manis pasti akan terdengar lebih tulus,” gerutunya pelan. “Gomawo, Kibong.” Tapi ia melanjutkan dengan ucapan terima kasih dan senyum manis.

Aku menatapnya intens. What happen with my heart? Kenapa organ yang menahanku tetap hidup ini berdetak begitu tidak normal? Terlebih dia memanggilku dengan nama kecilku. Aku merasa kembali menjadi diriku sendiri, terasa bebas menanggalkan identitas keartisanku. Rasanya seperti orang biasa dan itu menyenangkan untukku. Bukannya selama ini aku tidak menjadi diri sendiri, hanya saja… terkadang aku ingin mengekspresikan apa yang sedang kurasakan. Bukan hanya tersenyum ketika sedih, marah, ataupun gelisah.

“Berikan ponselmu,” pintaku kepadanya.

Wae?” tanyanya bingung. Tapi aku melihat ia tetap merogoh kantung celananya dan memberikan ponselnya kepadaku.

Aku menyentuh layar ponsel itu tapi kemudian harus merasa kecewa. “Ya, ini ada password-nya.”

Geuronika, buat apa kau meminta ponselku?”

Ish, aku ingin kau menyimpan nomorku.”

Geurae,” ujarnya singkat. Ia pun membuat suatu pola dengan ibu jarinya untuk membuka password. Sepertinya berbentuk huruf ᄀ.

Aku memasukkan nomorku ketika gadis itu memberikan ponselnya kepadaku. Aku menimbang-nimbang dengan nama seperti apa aku harus menyimpannya. Aku sudah mengetik “My Kibo…” tapi segera kuhapus karena terlalu cheesy. Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpannya dengan nama “Kibong” saja. Setelah itu aku menyentuh ikon telepon berwarna hijau dan melakukan panggilan melalui nomor gadis itu.

“Sekarang kau dan aku mempunyai nomor masing-masing,” ujarku sambil mengembalikan ponselnya.

Begitu menerima ponselnya, Jae In berdiri dari bangku kayu yang kami duduki. Aku memandangnya dengan kening yang berkerut dan ikut berdiri. “Wae? Kau mau pulang?” Ada nada kecewa yang terselip dalam suaraku.

Eoh. Annyeong~”

Tanpa salam perpisahan lainnya, gadis itu berbalik dan bersiap meninggalkanku yang hanya mampu terdiam dengan mulut yang terbuka. “Ah matta! Saengil chukkahae!” Gadis itu berbalik lagi kemudian menyerahkan satu bungkus Chocopie kepadaku.

Ige mwoya? Aku menerimanya dengan eskpresi kosong karena bingung. Kenapa dia terlihat biasa saja bertemu denganku? Delapan tahun tidak bertemu seharusnya ada banyak hal yang ingin ia bicarakan kepadaku bukan? Kenapa hanya aku saja yang begitu ‘terganggu’ dengan ingatan-ingatan dari masa lalu itu?

Aku melihat punggungnya yang menjauh. Sudah berapa langkah dia berjalan? Lima langkah? Tujuh langkah? Mendadak ada sesuatu yang mendorongku untuk memanggilnya. Ada sesuatu yang membuatku tidak rela jika ia pergi begitu saja. Ada sesuatu yang membuatku ingin menahannya tetap di sampingku. Apakah aku jatuh cinta lagi kepadanya? Bukankah itu terlalu cepat? Tapi aku sadar bahwa aku bahkan rela mengalah berkali-kali demi dirinya, saat di mini market, saat di Handel & Gretel. Aku bukan tipe orang yang rela mengalah dengan mudahnya, apalagi jika aku menginginkan sesuatu. Aku juga bukan tipe orang yang akan diam saja jika ada yang mendebatku. Tapi nyatanya… aku selalu mengalah.

“Jae In-ah!” Akhirnya aku pun memanggilnya.

Dia berbalik dan aku berlari ke arahnya. Aku menatap matanya yang memancarkan sorot ingin tahu. Sesaat aku terbius di kedalaman mata beningnya dan saat itulah aku tahu bahwa aku ingin ia selalu di sisiku. “Jae In-ah, aku tidak akan bertele-tele tapi aku ingin kau menjadi pacarku.” Aku merasakan kerongkonganku semakin mengering. “Kau… mau ‘kan?”

Sesaat Jae In terlihat terkejut. Ia balas menatap mataku untuk beberapa lama. Mungkin mencari apakah ada setitik kebohongan di sana. Aku menunggu dengan jantung yang terus berdebar, hingga debarannya terasa menyakitkan dadaku. Lalu keteganganku mencair ketika ia menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya, membuatku ikut tersenyum.

“Tidak sekarang, Kibum-ah.”

.

.

Apa?

Tadi dia tersenyum. Aku pikir…

“Kau… menolakku?” tanyaku. Suaraku hampir seperti berbisik.

Jae In menggeleng, masih dengan senyum manis yang melengkung sempurna di bibirnya. “Aku tidak menolakmu. Tapi aku hanya memberikan waktu kepadamu untuk menata ulang hati dan memikirkan kembali perasaanmu. Aku tidak mau hanya karena bertemu denganku, kau jadi terhanyut oleh rasa sesaat, oleh kenangan-kenangan lalu. Jika benar kau menginginkanku berada di sampingmu, aku ingin karena kau melihatku sebagai Jae In yang sekarang. Kenangan masa lalu itu hanya pelengkap saja.”

Aku tercenung mendengar kata-katanya. Gadis ini benar. Seharusnya aku memikirkan kembali dan meyakinkan bagaimana perasaanku kepadanya. Terburu-buru pun tidak baik. Aku juga tidak ingin menyakitinya jika benar suatu saat yang aku temukan adalah aku hanya terlarut dalam kenangan masa lalu. Aku pun mengangguk sambil tersenyum menatapnya.

“Kau benar. Hmm baiklah! Meski saat ini aku merasa yakin, tapi aku akan memikirkan kembali perasaanku kepadamu. Tapi ada hal yang harus kuberitahu kepadamu.”

Apa?

“Mulai saat ini, aku akan berusaha sesering mungkin bertemu dan menghubungimu.”

Kedua alis Jae In hampir menyatu mendengar pernyataanku. “Apa bedanya dengan pacaran kalau begitu?”

“Hei, itu caraku untuk meyakinkan perasaanku kepadamu, ara? Pokoknya kali ini tujuanku untuk keep contact denganmu bukan untuk berteman, tapi untuk meyakinkan perasaanku dan akhirnya menahanmu terus berada di sisiku.”

“Cih seenaknya saja,” cibirnya.

Aku tertawa sambil mengusap puncak kepalanya. Penolakan… ani… penundaan dari Jae In ini tidak membuatku sakit hati. Justru aku mengerti bahwa ini untuk kebaikan kami berdua.

Kaja, aku antar kau pulang.”

“Ini salah satu usahamu untuk meyakinkan perasaanmu?” Jae In memandangku dengan menaikkan alis kanannya.

Aku tahu ia meledekku. Karena gemas, akhirnya aku merangkul lehernya dengan memberikan sedikit tekanan.

“Iya, ini caraku untuk meyakinkan perasaanku. Yakin kau mau meledekku lagi, eoh?

“Tidak, tidaaaak. Ampun Kibum-ah!

.

END

A/N     : Dengan berat hati aku harus membuat kalau tanggal 22 September itu tidak ada SMTown T.T Karena tanggal 22 midnight itu Key ada urusan sama Jae In-nya. Aku bener-bener baru ngeh pas selesai nulis adegan di radio itu karena aku harus bikin Key nyebutin tanggal ketemu. Dan gak mungkin juga dia reveal tanggalnya kan kalau gak mau ketahuan fans? Makanya Key harus nyebut tanggal penting bagi dirinya sendiri dan mungkin diketahui sama Jae In. Lalu untuk guest SSTP, yang namanya Hanbyul itu… sungguh aku udah browsing ampe mabok tapi gak ketemu dia itu siapa. Satu-satunya nemu Hanbyul LED Apple tapi pas ngecek schedule-nya masa kosong melompong gitu bulan Agustusnya? Jadi karena gak yakin aku hanya tulis Hanbyul aja, tanpa embel-embel.

Buat yang belum tau video Key yang ngomongin 2nd grade crush-nya ini linknya :

Terakhir, saengil chukkahae buat Kim Kibum!! FF ini adalah wujud dari salah satu wish list, salah satu doa aku untuk Key di hari ulang tahunnya. Aku pengen Key ngerasain semua manis, asem, asin, pahit, hambar ketika jatuh cinta. Kenapa ada pahit? Karena Key juga butuh ngerasain yang namanya patah hati, kecewa, dan belajar nerima kenyataan buat pelajaran hidup ke depannya juga. Dan akhirnya bagaimana dia bisa berdamai dengan dirinya, berpikir tentang hikmahnya, dan akhirnya bangkit supaya menjadi lebih baik ^^. Eh tapi siapa tau dia udah ngalamin sendiri ya? Kekekekekeke. Pokoknya mah semoga Key dapet pendamping yang tulus sayang sama dia setiap detik, setiap hari, selamanya. Amin^^ Salam kecup buat juri dan adminnya :*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

57 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] Someone From The Past [2.2]”

  1. ciee yang sumpitnya diumpetin wkwk,
    lucu lah,alurnya menarik,storynya seru tapiii kadang narasinya kepanjangan,menurut aku loh ya itu u,u
    tapi overall neomu johaaa xp

    1. hehehe iyaaa emang gak semua orang sreg sama narasi panjang sih. sebenernya aku udah berusaha banget buat misah-misah paragrafnya biar ga terlalu panjang. entar aku pikirin lagi deh cara supaya narasinya bisa lebih kuat meski pendek. soalnya aku mikir narasi itu nyawa dari FFku hehehe. makasih yaaa udah mampir lagi 🙂

  2. wah ga nyangka key ditolak, haha *gaditolak juga sih
    tuh kan bener dia temen kecil key
    hmm, ceritanya seruu, pendeskripsiannya jelas
    bikin ff main castnya key lagi yaa, hehehe
    pengen jadi jae in nyaaa, hahaha

  3. Diih, dua orang itu ngegemesin banget tau ga? Kalo aku jadi ceweknya, aku bakal langsung bilang iya, haha.

    Sweet banget ceritanya, hehe. Deskripsinya juga oke. Semangat yaa ^^

  4. so sweet….ff na bgus nih…ssuai ma jdwlnya key, kcuali tgl 22 nya…
    jd berasa bnr2 nyata kjadiannya… Hehe
    Hahaha…key di tolak tp ttp maksa..kkkkkk

    O ya,,agk bingung pas bag. Key liat jae in dtg k taman.. Dia yakin klo gadis yg dtg itu ad.jae in krn bando yg d pke nya…tp bukannya jae in dtg pke hoodie»mukanya ga jelas krn ttutup hoodie?

    Hwaiting….keep writing

      1. Aku gak ngeh dan jadinya baca lagi hahaha. Aku gak bilang kalau Jae In datang ke taman itu dengan memakai bandonya. Kalo kata Kibum yang ini –> “Hmm… ternyata bando yang aku berikan waktu itu masih ada.” Kibum merujuk ke saat dia ngeliat Jae In nyebrang jalan (part 1 akhir)

        Tapi mungkin yang bikin bingung karena dialog Jae In yang “Ne, ini benda terakhir yang kau berikan kepadaku sebelum kau pergi ke Los Angeles.” –> seolah bandonya ada di depan mata ya? Nah ini letak kesalahan aku. Harusnya aku pake “itu” ya.

        Thanks buat Niek sama Rahmi Eon yang udah nanya, jadi bikin aku nyadar sama kesalahan 🙂

  5. sweettt!! aku setuju kl ff ini jd pemenangnya. aku suka penggambaran author akan sesuatu, bahkan sstp bisa nyambung pd fiksi. tp emng benar ya key mengatakan kl dia prng caper ke cewek dgn tampang serius?? Aku lockets tidk tau hal ini malah 😦 #pundung

    walau endingnya nanggung tp malah bagus tuh… jd key diberi waktu utk memantapkan hatinya? Really nice ff! Ayo author ttp berkarya!!

    1. Oh Ya Allah, FF ini bisa dipublish dan dibaca sama reader aja aku udah bersyukur banget. Beneran deh aku gak kepikir untuk jadi pemenang, yang penting wish aku buat Key bisa tersalurkan aja. Tapi aku anggap apa yang kamu bilang itu sebagai doa, maka aku akan bilang “Amin” hehe

      Caper ke cewe dengan tampang serius? Ada statement kaya gitu ya emangnya dari aku? Itu liat aja videonya pas dia cerita cinta monyetnya. Kan aku kasih linknya tuh hehe.

      Makasih yaa udah baca dan comment 🙂

  6. waaaahhhh….
    akhirnya key ketemu jg sm jae in…sempet nyatain perasaannya pula…
    tp kok ditolak…eh salah,ditunda..#begini kan istilahnya key…

    biarpun gitu ceritanya tetep seru kok…
    apalagi pas adegan detik-detik (?) pertemuan key sm jae in…menegangkan dan bikin penasaran…
    nice ff….

  7. Hehe, baru liat lanjutannya ini ^^

    Endingnya belum jadian ya? Sayang sekali >__<

    Itu narasi pas Dana sama Kibum ngobrol bener ya? Aku lagi puasa yutub dulu deh gamau buka dulu, hehehe

    Hmm, aku bingung mau komen apaan lagi, soalnya ini udah ngantuk, ndits XD

    Yang pasti aku suka bagian pas Kibum cengkram tangan Jaein /eh

    Moga menang ya ^^9

    1. kayanya gak pantes menang eon, banyak cacatnya ini FF. meski jujur aja aku belum baca yang lain, pasti ada yang lebih bagus dari FFku deh. Makasih udah mampir eon 🙂

  8. hai ndits, aku datang lagi #duar
    oke, langsung aja yah..

    Yang mau aku tanyain masih sama, perihal bando seperti komen di atas.. ada kalimat Key yang:
    Bisa kupastikan bahwa dia adalah Mal Lang. Teman kecilku. Karena dia memakai bando yang sama dengan yang aku lihat sebulan yang lalu.
    Ini yang dirujuk Key adalah bando yang dipakai si cewek misterius waktu Key liat dia nyebrang jalan kan? Berarti Key yang di taman bermain harusnya tau kalau si cewek misterius yang sekarang datang ke taman itu adalah Mal Lang, begitu bukan maksud dari kalimat di atas?
    Tapi, di kalimat ini:
    Wajahnya tidak terlihat begitu jelas karena ia memakai hoodie. Yang bisa kulihat hanya posturnya saja yang menurutku proporsional.
    Wajah si cewek yang masuk ke taman ini gak terlihat jelas, jadi Key tau dari mana kalau cewek yang ke taman sama dengan cewek misterius?
    Nah, oke anggap aja Key mungkin ngeliat sedikit-sedikit fitur wajahnya, tapi masih ada lagi di kalimat selanjutnya yang:
    “Yak! Gadis keras kepala! Kau… Mal Lang?”
    pada kalimat ini aku nangkepnya kalau key gak nyangka si cewek misterius ini adalah Mal Lang, jadi agak gak sinkron dengan kalimat yang aku bold pertama di mana kalimat itu kesannya key udah 90% yakin kalau si cewek misterius itu Mal Lang

    wuaaaah so sweet banget waktu mereka ribut di taman
    konflik batin key waktu Jaein kasih chocopie dan beranjak pergi itu kerasa banget, kereeen
    Dan setelah nonton video yang dikasih, entah kenapa ngerasa cerita ff ini jadi semakin nyata, kkk

    1. oiya, ada yang ketinggalan lagi, hehe
      sebenarnya komen utk part 1, tapi aku komen di sini aja yah..

      Di part 1 si Key keluarin iPod yang katanya pemberian dari Locket
      Di sini yang dimaksud itu memang fans internasional atau fans korea?? kalau seandainya fans korea, mending di sebut pemberian dari Key-Ppa

      Berkarya terus nandits ^^b

    2. Thanks Yu koreksi dan masukannya ya. Makasiiiiiiiiiiih banget. Terbukti proses edit harus berkali-kali. Aku gak akan beralasan lagi deh, karena kamu bener dan aku baru ngeh. Bener-bener baru ngeh sekarang. Sekali lagi makasih banget ya 🙂

  9. Woah~ Daebak!!
    ceritanya terlihat lebih real dan gak mengada-ngada 🙂 n karakter Key terlihat seperti Kibum yg sebenarnya. Karakter Jae In pun sangat bijaksana Choayo~
    Nice FF thor ^^

  10. Aku mau buka-bukaan(?) ya ndits… aku ga bisa komen panjang lebar. mungkin karena emang udah minim kesalahan, atau bisa jadi krn aku-nya yg kurang suka fluffy

    aku mau bilang dulu apa yang kusuka dari ff ini:
    risetnya: dari mulai nama tempat ampe jadwal. Aku kasih semua jempolku untuk yg satu ini 😀
    Narasinya, aku bisa ngebayangin dengan baik yg berujung dgn mesem2 gaje plus ngikik. apalagi pas Key ketemu cewe itu.

    dari beberapa ff yg udh kubaca, EYD ff ini paling oke. ada typo juga si: Dalam hari (dalam hati)

    Nah, tapi. Aku ngerasa terlalu banyak kata ‘aku’ di ff ini, agak gimana aja gitu ndits.

    setuju jg sama komen Yuyu tt kejanggalan itu.

    ada satu lg tp bingung gimana bilangnya

    Oce lah… See You ya di karyamu yg laen

    1. Ajarin ya Bib pake POV kaya gini. Baru kali ini aku bikin FF pake sudut pandang orang pertama sampe ber-part begini. Waktu itu pernah bikin satu tapi cuma sanggup ficlet kan gak panjang-panjang (kamu udah pernah baca). Masih harus banyak belajar nih Bib, ajarin yaaaaa.

      Iya itu kejanggalan rencananya mau aku revisi nanti kalau aku repost di blog hehe. Dibilang buru-buru ngirim juga gak sih. Sempet diedit sendiri di awal dan dibeta-in juga. Salahnya adalah aku ngeceknya gak pelan-pelan. Cuma benerin apa yang dikasih tau Rahmi Eon dan gak baca lagi dari awal, khususnya tentang kelogisan jalan cerita. Jujur aja ini FF yang cacatnya bener-bener fatal *lah jadi curcol*

      Tentang sesuatu yang bingung bilangnya, sms aja Bib. Atau mention hehehe. Makasih ya Bib buat komentar dan masukannya 🙂

      1. what? emang aku pernah ya bikin pake POV gini?
        Eh gini deh. Kan km sering tuh ngeritik aku krn aku hobi bikin kalimat untuk subjek. Nah, kadang2 kalimat sejenis itu perlu untuk menyingkat, dan jg buat POV macem ini ndits.

        mention? dm aja deh, soalny ini opini pribadi agak ga penting, hahaha

      2. Emang kamu gak pernah? Bukannya pernah ya Bib? Tapi kalaupun belum pernah, gak apa-apalah ajarin aku. Kan sebagai reader juga bisa ngasih masukan enaknya gimana itu kalimat biar gak ngulang-ngulang kata “aku” hehe. Oke oke ditunggu DMnya. Kayanya sih aku bisa nebak hehe

        1. Kamu mau riset negara Korea itu dari segi mananya Bib? Misalnya pas aku riset Handel & Gretel itu ya aku ketik aja itu di google terus muncul artikel2. Tinggal dibacain aja. Cuma emang susah kalau kamu mau riset yang lebih ke lifestyle. Lebih gampang cari lokasi atau tempat yang emang udah terkenal di kalangan fans sampe ada yang mau review, macem Handel & Gretel itu. Tapi kalo lifestyle yang umum dan dasar-dasar aja itu coba ke hallyucafe dot com deh kalo ga salah

  11. Key, ayo pacaran dengan ku saja! *plakk*

    hahahaha, suka sama Key dan Mal Lang yg 2 2 nya keras kepala tapi malah jadi lucu^^

    Pas Key nyatain cinta, pertama mikirnya diterima, ternyata ditolak, ngga taunya ditunda hahaha

    keep writing^0^

  12. Annyeong…
    Mau ngasih beberapa masukan yaaa… Semoga menjadi saran yang membangun. Hehe.
    + Pada kalimat, “Ahjussi yang sedang berjaga malam ini menyapaku sambil melemparkan senyum penuh pengertian.”
    Lebih baik lagi kalau menjadi, “Ahjussi yang sedang berjaga malam tersebut menyapaku dan melemparkan senyum penuh arti. Ia mengerti keadaanku saat ini.” (Di part 1)
    + Kelebihan FF kamu ada banyak pengetahuan yang disampaikan. Itu pertanda FF kamu nggak ‘kosong’, bermanfaat bagi beberapa orang yg belum tahu.
    + Kata-kata asing yang kamu tulis dalam bentuk cetak miring dan diberikan ‘translate’-nya dalam tanda kurung itu juga sudah benar. Tapi, waktu flashback seharusnya kata asing tidak dicetak miring.
    + Coba perhatikan bagian ini di part 1:
    “Jinjja?” Mataku membulat, cukup terkejut dengan kenyataan yang ada. Meski hal tersebut sudah biasa terjadi di dorm kami yang lama. “Kenapa aku tidak menyadarinya?” gumamku. Pertanyaan yang lebih kutujukan untuk diriku sendiri.

    “Keurom…” Aku membungkukkan badan sekilas, berpamitan untuk pergi. Dong Hoon ahjussi pun ikut membungkukkan badan.

    Kalau masih dialog Key, sebaiknya jangan dibuat dalam paragraf baru. Paragraf baru dibuat untuk dialog lawan bicara yang dalam kasus ini adalah si ahjussi. Jangan sampai readers bingung siapa yang sedang bicara saat itu.
    Terus hilangkan dialog: “Kenapa aku tidak menyadarinya?” gumamku. Nggak perlu bergumam, lebih baik dituangkan dalam bentuk narasi saja.

    + Kelemahan FF kamu, di sini Key kesannya banyak ngoceh (meskipun emang aslinya banyak ngoceh). Obrolan-obrolan “dalam hati” Key atau narasinya terlalu bertele-tele, terlalu banyak penjelasan, terlalu mendetail. Ini bisa bikin readers capek bacanya. Lain kali gunakan pemilihan kata yang tepat biar ngejelasinnya nggak ribet.
    Misalnya:
    Aku mengambil botol yang terletak di atas meja yang tidak jauh dari hadapanku, kemudian membuka tutupnya dan meneguk cairan bening yang tinggal sepertiga botol.
    Coba ganti dengan:
    Kuambil botol mineral di atas meja, kemudian menenggak isinya hingga tersisa sepertiga dari botol.

    Lebih singkat tapi tetap jelas ‘kan? 🙂

    Segitu masukannya. Saya juga masih amatiran dalam menulis, hanya menyampaikan pemikiran dan hal-hal yang saya tahu. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
    ^^d

    1. Hai Kak, makasih banget udah mau berkunjung dan memperhatikan FF aku. Jujur sempet rada gimana gitu baca komennya, entah kenapa ngerasa jleb (meski komen Yuyu sama Bibib juga sama jlebnya sih). Mungkin karena baru kali ini aku liat Kakak komen di FFku. Tapi setelah dipikir lagi mah kenapa juga harus gak enak? Toh ini komennya bener semua. Kalau udah masuk sini mah, seharusnya aku gak usah canggung lagi ketika ada orang lain kasih masukan hehehe #jadi curcol

      Untuk yang Ahjussi itu setelah kupikir lagi ternyata emang lebih enak kalau pake kalimat yang disarankan sama Kakak. Tapi karena gak bisa aku perbaiki di sini, jadi aku perbaiki di blog aku langsung ya Kak.

      Untuk kata-kata asing, seperti yang udah dikasih tau sama Yuyu, bener juga kok apa yang Kakak bilang. Dan untungnya udah aku perbaiki di blog aku. Mudah-mudahan sih gak ada yang kelewat 🙂

      Lalu untuk yang dialog Key sebaiknya jangan dibuat paragraf baru juga sudah aku perbaiki. Bener juga, bahkan mungkin udah ada beberapa reader yang bingung seperti yang Kakak bilang

      Masalah kelemahan, gak bermaksud membela diri sih. Emang aku tuh orangnya sangat mengikuti prosedur. Jadi kebawa ke sini juga. Macemnya Key mau minum aja sampe aku jelasin harus buka tutup botolnya dulu gitu kan. Terus kenapa Key terkesan banyak ngoceh? Karena emang di sini aku mau jadiin Key sebagai center-nya. Meski main cast gak dia sendirian, ada Song Jae In juga. Yaaa secara ini POVnya Key semua jadi aku bikin lebih banyak Key yang dieksplor dan ngomong. Tapi emang yang Kakak bilang ada benarnya juga. Aku tinggal meramu gimana caranya supaya gak terlalu detil dan bertele-tele sehingga reader juga nyaman bacanya.

      Sekali lagi makasih banyak Kakak udah menaruh perhatian yang besar buat FFku. Seneng bisa sharing sama Kakak 🙂

      1. nebeng komen kurang penting:

        Aku mengambil botol yang terletak di atas meja yang tidak jauh dari hadapanku, kemudian membuka tutupnya dan meneguk cairan bening yang tinggal sepertiga botol.

        VS

        Kuambil botol mineral di atas meja, kemudian menenggak isinya hingga tersisa sepertiga dari botol.

        Makna 2 kalimat itu beda. Klo yg pertama pas mau nenggak minuman, isinya udah 1/3 botol

        Kalo yang kedua. Key nenggak sampe 1/3 botol. Tadinya tuh botol penuh.

        Kalo mau singkat pake kalimat diya eon. Tp kl emang nandits punya maksud lain dari kondisi minuman di dalem botol, pake yang punya km aja. Tp ga usah pake penjelasan buka tutup botol segala, hehe

        Ngilang lagi aahhhh

        1. Iya bener Bib, begitu maksud aku. Emang isinya udah tinggal 1/3 pas mau diminum sama Key. Tapi yang buka tutup botol udah aku ilangin kok di blog aku hehe. Makasih ya 🙂

  13. HUAAAAA ;A;
    FFnya keren. aku gatau kalo key ada video kayak gitu (?)
    waktu dia bilang “”IF YOU’RE STILL THINKING OF ME NOW, TAKE THEM. I’LL MEET YOU AT 12 P.M”

    itu beneran ato cuma buat becandaan aja?? huaaa patah hati </3 (?)

    Btw ffnya bagus banget loh, ada typo sih ^^ tapi gak banyak banyak amat. ditunggu nextnya ya author ^^D

    1. becandaan apa gak ya? gak tau juga aku hahahaha

      typo-nya apa?? boleh banget dong kalau dikoreksi, harus malah! hehehe. makasih yaa udah baca dan comment 🙂

  14. Untung udah kucek lg. Komenku yg kmarin gak masuk trnyta -,-

    tau tidak? Ff ini berasa kek nyata. Ak jadi membyangkan karakter Jae In benar” ad. Malah ak mikirny it si Nicole. Kan Key rayain ultahny bareng dy haha

    apa lg yaah? Temany mungkin udah umum,tp amigod! Alurny it loh,KECE!

    Terakhr,ak mau like,tp syang onlenny lewat hape. Bentaran deh kalo udah on d lapi hehe

    1. Maaaaf banget baru bales commentnya *deep bow*

      Kepikiran Nicole? Meskipun aku suka-suka aja sama hubungan dekat (entah itu persahabatan atau mungkin lebih) antara Key sama Nicole, aku justru gak keinget sama sekali lho sama Nicole pas bikin karakter Jae In ini kkkkkk

      Aku seneng kalau emang kamu menikmati baca FFku yang ini. Makasih yaaa commentnya 🙂

  15. Wah,wah,wah, Sukaaa deh.
    Aku tetep suka sama karakter Jae in, ga muluk2. Dan ah! plotnya keren, beda ajah dari yg lain. Mungkin org2 bakal berasumsi bhwa Jae in bakalan langsung nerima Key, karna kayanya Jae in jg emg msih nyimpen perasaan sma Key. Tapi yh itu tdi, mnurutku kekuatan FFnya tuh di situ.ekekekek. Tpi kl ak jdi Jae in psti bkalan ngambil keputusan yg sama sih 😛 *gilak ajh jdi pcarnya Almighty Key, kl ketauan Shawol bsa langsung msuk kubur itu .hha. *

    Oia, trus ak agak bingung sma sndok sma sumpit. Itu ko udh 8taun yg lalu msih ada yah? terlebih dikuburnya g terlalu dalem, kemungkinan buat msih ada di sana trlalu kecil mnurutku.
    However, keren banget plotnya…. \(^0^)/

    1. Maaaaf banget baru bales commentnya *deep bow*

      Meskipun ini fiksi, tapi aku selalu berusaha untuk bikin lebih deket ke kenyataan. Kalo dipikir-pikir sekilas sih siapa coba yang gak mau jadi pacar artis (meski dengan segala risikonya), mungkin yang diliat duluan kan appearance-nya atau bahkan dompetnya *huks* Nah di sini aku bikin supaya Jae In-nya ini punya karakter yang rasional dan gak teledor ngambil keputusan. Dia mikir juga meskipun Key udah jelas bilang suka bahkan dari kecil, dia mau mastiin apakah Key-nya itu sendiri juga yakin sama perasaannya.

      Bahkan aku gak kepikiran sama sekali lho itu sendok sama sumpit udah 8 tahun kok masih ada di sana. Soalnya kalau udah dipindah gimana bisa mereka ketemu? Gimana bisa FF ini jadi kekekeke. Mungkin itu sisi ketidakrasionalan aku sebagai author FF ini kali ya. Hehehe maaf kalau gak berkenan ^^V

      Makasih yaa commentnya 😀

    1. Maaaaf banget baru bales commentnya *deep bow*

      Bener! Aku mau bikin realistis sedikit, emang tujuannya gak mau terlalu fairy tale :p

      Makasih yaa udah baca dan comment

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s