[FF KEY B’DAY PARTY] The Eyes [2.2]

Title: The Eyes

Author: Ayachaan

Main cast:

  • Kim Kibum aka Key
  • Lee Na-young

Support cast:

  • Lee Jinki
  • BoA
  • Lee Taemin
  • Kai EXO-K
  • Lee Se-jeong (just mention)

Genre: Romance, Crime, Mystery, Family, Angst

Length: Twoshoot

Rating: PG, Teen

Summary:

Mata bulat bening empat belas tahun lalu

Mata bulat bening yang kemudian kembali enam tahun lalu

Mata bulat bening yang kini ada di hadapannya

THE EYES PART 2

Banyak orang mengatakan bahwa cemburu adalah perasaan paling powerfull. Namun, baginya, rasa penasaran adalah perasaan paling hebat. Membuat dirinya bergejolak, bersemangat hingga dapat menemukan titik temu dari hal yang membuatnya penasaran.

Kini, saat dia dihadapkan pada dua buah hal yang membuat dirinya penasaran—jujur saja—dia hampir tak dapat mengendalikan kemelut pertanyaan dalam dirinya. Terlalu banyak rasa penasaran yang memenuhi pikirannya. Dan mungkin saja, bercerita bisa me-refresh sedikit pemikirannya.

Maka, disinilah Kibum sekarang. Melangkahkan kakinya menuju ruangan Jinki—setelah mendapat informasi tentang keberadaan Jinki dari perawat jaga. Saat Kibum sampai di depan ruang praktik Jinki, dia membuka pintu putih itu pelan.

Hyung,” sapa Kibum.

Tak ada sahutan. Membuat Kibum memilih untuk melangkah lebih dalam. Mungkin saja Jinki tak mendengar sapaannya karena ruang praktik Kepala Instalasi Forensik ini memang besar.

“Kibum ‘kah?” sebuah suara terdengar dari balik tirai putih di sudut kiri ruangan. Membuat Kibum terhenti di tempatnya dan berujar menjawab pertanyaan itu.

Ne, Hyung.”

Lee Jinki menyibak tirai putih itu hingga terbuka setengah. Setelahnya Kibum dapat melihat kain putih yang sudah menutupi tubuh seseorang di belakang Jinki. Sepertinya, Jinki sedang sibuk.

“Aku mengganggumu, Hyung?” tanya Kibum ragu.

Jinki menggeleng sembari berjalan menuju wastafel di ujung ruangan. “Aniyo, kebetulan aku sudah selesai.” Jawab Jinki.

“Tolong kalian bawa jenazah itu ke ruang Instalasi Jenazah.” Pinta Jinki pada tiga asistennya yang sedari tadi diam. Ketiganya serempak mengangguk. Mereka lalu mendorong brangkar itu melalui dua pintu yang langsung terhubung dengan Instalasi Jenazah.

“Ada apa?” Jinki buka suara sesaat setelah telinganya menangkap suara pintu tertutup.

“Apa jenazah tunawisma lagi?” Kibum mengindahkan pertanyaan Jinki dan memilih mengemukakan rasa penasarannya.

Jinki berbalik dan mengambil tissu untuk mengeringkan tangannya. Namja bertubuh tegap itu mengangguk, “Ne. Kali ini lebih brutal. Dadanya di bedah melintang dan dijahit sekadarnya. Ususnya di angkat, lalu rongga perutnya di isi kain dan kantong plastik.” Jelas Jinki dengan geram.

Rahang Kibum mengeras mendengar penjelasan itu. Jahat, keterlaluan sekali orang-orang itu. Ingat saja, Kibum sedang menggenggam kasus ini. Dan dia tidak akan membiarkan pelakunya lolos begitu saja.

“Jadi, ada apa sebenarnya, Kibum-ah?” Jinki kembali mengingatkan Kibum akan tujuan utamanya datang kemari. Dia tidak bisa bercerita tentang kasus peliknya. Namun, dia ingin bercerita tentang masa lalunya.

Kibum tersenyum samar. Dia bergerak untuk duduk di kursi di depan meja kerja Jinki. “Masa laluku, Hyung.” Sahut Kibum singkat.

Jinki langsung menangkap arah pembicaraan Kibum. “Cinta pertamamu?” tebak namja tampan itu.

Ne. Ternyata ia… berada di Korea sejak dua tahun yang lalu.”

Jincha? Jadi, dimana ia sekarang?”

Kibum mengangkat bahu, “Molla. Aku ingin sekali menemukannya, Hyung. Tidak gampang untuk terus merasa penasaran tentang keberadaannya. Aku… merindukannya, aku ingin bertemu dengannya.” Suara Kibum terdengar serak.

Sebelumnya, Jinki tidak pernah percaya ada cinta seperti ini sebelum dia bertemu dengan Kibum. Mendengar semua cerita tentang masa lalu namja tampan yang sudah dianggapnya saudara kandung itu.

Cerita suka, cerita berdebar, cerita tentang cinta monyet yang ternyata adalah cinta sejati. Cerita yang tak terkikis oleh waktu. Walau tak pernah bertemu lagi sejak enam tahun yang lalu, namun rasa itu terus membekas lalu mengakar tumbuh.

“Kibum-ah, saat ini kita sedang berjalan dalam takdir. Jika memang Tuhan menetapkan perasaan itu pada hatimu, maka percayalah bahwa Tuhan juga akan menuntunmu kembali dengannya.”

“Sulit memang. Tapi, bukankah selama enam tahun belakangan ini kau sudah bersabar? Bertahanlah dan tetap bersabar, Kibum-ah.”

Kibum tak memandang Jinki, namun telinganya mendengar kata-kata Jinki penuh perhatian. Yah, benar, dia telah bersabar. Maka—mungkin—dia harus kembali bersabar hingga takdir sampai pada hati yang terpilih.

“Cinta mati pada gadis bermata bulat yang sedang menangis.” Celetuk Jinki.

Kibum refleks menegakkan pandangannya. Memicingkan mata pada Jinki, hei, apa tadi katanya? Berniat mengejek Kibum ‘kah?

Jinki tidak dapat menahan kekehannya melihat tatapan tajam Kibum yang berusaha mengintimidasinya. “Bukankah aku benar?” tantang Jinki.

Kibum mendengus dengan nada kesal yang di buat-buat. Yah, dia tidak bisa menyalahkan atapun menyanggah pernyataan Jinki. Semua yang di katakan namja itu memang benar. Dia jatuh cinta pada seorang gadis bermata bulat yang tengah menangis. Cinta monyet khas anak remaja, namun ternyata, terlalu membekas hingga tak pernah hilang dari ingatan hatinya sampai saat ini.

[Flasback on]

Musim dingin, 2006.

Anak laki-laki berseragam Kyunghwa Junior High School itu berjalan cepat. Kedua pipinya yang tirus memerah oleh udara dingin. Syal tebal dan jas seragam berlapis mantel rajutan rupanya masih belum mampu menghalau dingin. Membuatnya terus menggigil di sepanjang perjalanan menuju sekolah.

“Kibum-sunbae, annyeong.” Sapaan dari segerombol hoobae menghentikan langkah Kibum di gerbang sekolah sejenak. Menoleh untuk melihat gerombolan hoobae yang menanti sahutannya untuk sapaan mereka.

Kibum tersenyum tentatif, “Annyeong.” Sahutnya singkat. Detik berikutnya dia kembali melanjutkan langkah kakinya. Dingin udara ditambah butiran salju yang mulai turun benar-benar tidak bisa di toleransi. Dia harus secepatnya masuk ke kelas sebelum mati beku.

Langkah kaki Kibum sedikit menggema ketika dia mulai menaiki tangga ke lantai dua di tenggara gedung sekolah. Bagian ini memang sepi karena hanya ada kelas Seni, Laboraturium Biologi dan gudang sekolah. Karena pelajaran pertamanya hari ini adalah Seni—dan dia memang terbiasa datang lebih pagi—maka Kibum harus menuju kelas Seni seorang diri.

Saat kakinya berpijak di tangga terakhir, sebelum dia berbelok ke kiri menuju kelasnya, Kibum mendengar suara isakan yang samar. Tangis seorang perempuan yang membuat bulu romanya sedikit meremang alih-alih membuatnya penasaran.

Kibum akhirnya memilih mengurungkan niat untuk segera mencapai kelas Seni. Memerintahkan kakinya untuk berbelok ke kanan, mencari sumber isakan tersebut. Semakin dia melangkah, suara itu semakin terdengar jelas. Kibum akui jika ada rasa takut yang merayap pelan. Namun, terlalu penasaran membuatnya mengindahkan ketakutannya sendiri.

Ujung mata Kibum menangkap pergerakan dari balik pintu gudang sekolah di sisi kanan tubuhnya. Pelan, dia bergerak mendekati pintu yang terbuka seperempatnya itu. Tangan kanan Kibum terangkat untuk bertaut di kenop pintu. Sesaat setelahnya, Kibum sudah membuka pintu itu dan terperangah.

Di sana, di bagian kiri dinding gudang, seorang gadis—yang nampaknya adalah hoobae—meringkuk sembari memeluk erat lututnya. Isakan terdengar jelas dari balik kepalanya yang tersembunyi di tekukan lutut.

Kibum mendekat pelan, berusaha tidak mengejutkan gadis itu. Ketika Kibum berada dalam radius kira-kira seperempat meter, dia baru berani buka suara.

Gwenchana?” tanyanya sembari merendahkan tubuh untuk menyamai gadis itu.

Kibum melihat tubuh gadis itu tersentak—mungkin kaget. Kemudian, ia mengangkat wajahnya pelan, menatap lekat Kibum dengan mata bulat beningnya yang berair.

DEG.

DEG.

Dia terpaku sementara impuls sarafnya sibuk mengorek gudang memorinya. Mencari kepastian akan kesan déjàvu yang di cetuskan hatinya. Sebelumnya, apakah dia seperti pernah melihat mata bulat bening yang kini tengah menatapnya?

PERNAH. Kata itu tercetus pasti oleh otaknya ketika ingatan Kibum pergi berkelana ke tujuh tahun silam. Saat itu, musim semi di tahun 1998. Suatu hari yang sejuk di awal musim semi. Lalu berubah cerah ketika dia menemukan seorang gadis kecil yang tengah berjongkok menangisi kematian kelinci putihnya.

Hanya pertemuan singkat, dimana dia dan gadis kecil itu mengubur si kelinci bersama-sama. Namun, oleh pertemuan singkat itu, dia tak pernah melupakan seperti apa bentuk mata bulat bening yang memandangnya lekat. Berbekas, tak terhapus oleh masa.

Gwen… chana?” Kibum mengulangi pertanyaannya dengan nada gugup. Setelah ingatannya kembali, hal ini ternyata berimbas pada rasa gugup yang menerpa dirinya tanpa ampun.

Gadis itu mengalihkan pandangannya dari Kibum dengan kembali menunduk dan terisak. Tak mendapat tanggapan dari gadis itu membuat Kibum semakin penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Apakah ia korban bullying atau baru saja terjadi hal buruk dengannya?

“Apa… yang terjadi denganmu?” Kibum akhirnya mengemukakan rasa penasarannya.

Gadis itu bergeming beberapa saat hingga terdengar suara pelan dari mulutnya. Menjawab pertanyaan Kibum.

“Teman-teman sekelasku… mereka marah… k-karena aku… tid-tidak mengizinkan m-m-mereka berkunjung ke rumahku.”

“Lalu hanya karena itu kau menangis?” sanggah Kibum.

Gadis itu menggeleng pelan, “Aniyo, tap-tapi… karena me-mereka menumpahkan hasil percobaan membuat Lava gunung berapi ke seragamku.” Ucapnya serak.

Detik berikutnya Kibum baru menyadari rok biru dan seragam putih gadis itu berlumuran cairan merah kejinggaan. Geraham Kibum berderak geram melihatnya. Kurang ajar, berani sekali orang-orang itu berlaku sekasar ini dengan seorang gadis. Seandainya orang itu ada di depannya saat ini, Kibum benar-benar ingin menghajarnya.

Menyadari dia tak mungkin membiarkan gadis itu sendirian di gudang membuat Kibum berinsiatif mengulurkan tangannya.

Kacha! Kutemani kau mencari seragam ganti di ruang UKS.” Ajak Kibum.

Gadis itu menoleh cepat mendengar ajakan Kibum. Mematung melihat tangan Kibum yang terulur di depannya.

Kacha! Kau tidak mungkin terus berada di sini dan menangis ‘kan?” kata Kibum lagi. Kali ini sepertinya kata-kata itu mampu menghapus rona kebingungan dari si gadis. Hingga kemudian ia meraih uluran tangan Kibum.

Kedua insan itu beriringan berjalan dengan jemari yang saling terpaut. Kibum berjalan satu langkah di depan si gadis dengan dada berdebar tak karuan. Tidak pernah sebelumnya seperti ini… hingga diapun bingung harus menafsirkan rasa ini seperti apa.

Sunbae-nim, gomawo.” Bisik gadis itu. Dan walaupun sangat pelan, entah mengapa Kibum dapat mendengarnya dengan jelas.

Anak lelaki tampan itupun menghentikan langkahnya dan berbalik. Betapa dia terkejut melihat tubuh gadis itu bergetar samar. Bukan karena terisak, tapi karena menahan udara dingin yang menusuk. Ia hanya mengenakan seragam tipis—yang bahkan basah.

Kibum menarik pundak gadis itu hingga menyisakan jarak setipis kertas. Sebelah tangannya merangkul pundak gadis itu, berusaha mengirimkan kehangatan di balik dingin yang mendominasi.

Ne, cheonmaneyo.” Sahut Kibum dengan senyum sumringah yang mendominasi wajah tampannya.

***

            “Kibummie!”

Kibum terlonjak dari duduk santainya di taman belakang sekolah ketika teriakan ceria itu mencapai gendang telinganya.

“Ish, gadis tak tahu sopan santun.” Dengus Kibum ketika si pemanggil telah sampai dan ikut duduk santai di sampingnya.

Mwo? Aku sopan, kok. Buktinya aku menambahkan akhiran –ie di namamu.” Gadis berkuncir kuda itu berusaha membela diri dari tuntutan Kibum.

Kibum mencibir, “Tapi, aku adalah kakak tingkatmu Lee Na-young!” gemas Kibum.

Gadis itu—Lee Na-young—tertawa lepas, “Kita hanya berbeda beberapa bulan, Kibummie.” Sanggahnya dan kembali tertawa lepas.

Kibum menoleh untuk dapat melihat ekspresi gadis itu. Dia tersenyum lebar melihat semua aura ceria yang menguar dari diri Na-young. Lee Na-young, gadis yang mengunci hati Kibum sekaligus gadis yang tak pernah tahu kebenaran perasaannya.

Sejak pertemuan tak terduga di gudang sekolah, Kibum dan Na-young berteman dekat. Na-young yang akan tergopoh-gopoh mendatanginya ketika ada tugas Bahasa Inggris. Atau, Kibum yang akan meminta bantuan Na-young untuk mengerjakan praktikum Biologi. Saling melengkapi namun tak menyadari keterpautan jiwa raga mereka dengan masa lalu dan masa depan.

Kibum sempat mengira—dengan egoisnya—bahwa dia dan Na-young akan selalu seperti ini. Saling melengkapi sembari menghabiskan hari. Menjadikan satu sama lain sebagai tempat kembali ketika hari yang melelahkan telah berakhir.

Tetapi, semua harapan itu kandas di suatu hari di awal musim gugur. Ketika Na-young tak pernah lagi hadir ke sekolah. Tak pernah lagi mengajak Kibum jalan-jalan ke taman Kota dan membeli eskrim bersama. Gadis itu, menghilang seperti tertelan bumi. Hanya wajah manis dan bentuk mata bulat beningnya yang selalu Kibum ingat. Karena bagi Kibum, suatu saat nanti, dia pasti bisa menemukan Na-young.

[Flasback off]

Kibum menunduk, mengerjap matanya yang terasa panas ketika ingatan akan masa lalu menyergapnya tanpa peringatan.

“Aku yakin kau bisa menemukannya, Kibum-ah.” Jinki menepuk-nepuk pundak Kibum. Berusaha memberikan semangat pada sang Dokter Bedah.

Kibum mengangkat wajah, “Gomawo. Jeongmal gomawo, Hyung.” Sahut Kibum tulus. Lee Jinki, sunbae yang menunjukkan perhatian di balik sikap bijaknya. Tipikal sunbae terbaik untuk Kibum.

Namja tampan berpipi tirus itu berdiri, “Aku harus pergi, Hyung.” Kata Kibum.

Jinki mengangguk mengerti. Sebelah tangan Dokter Ahli Forensik itu terangkat mempersilakan Kibum pergi. “Silakan. Sampai jumpa lagi, Kibum-ah.” Ujarnya sembari tersenyum.

Kibum sedikit membungkuk, “Ne, sampai nanti, Hyung.” Setelahnya Kibum langsung keluar dari ruang praktik Jinki. Mampir sebentar ke ruangannya sendiri untuk menitipkan jas putihnya. Kemudian Kibum ke meja perawat jaga untuk menandatangani absensi.

***

            Kim Kibum memandang penuh konsentrasi beragam data yang terpampang di layar proyektor. Memperhatikan foto close-up yang tertera beserta setiap huruf yang tercetak. Di sampaing namja itu, BoA dan beberapa staf lain tak kalah konsentrasi. Walau beberapa staf nampak sibuk memilah-milih berkas, lalu di serahkan pada Kibum maupun BoA.

“Jadi, itu adalah Lee Taemin?” tanya Kibum memastikan.

BoA mengangguk, “Ne,” jawabnya.

“Minho-ssi, tolong pindahkan pada hasil tes DNA.” Perintah BoA pada salah seorang staf.

Choi Minho—nama staf itu—segera memberdayakan jemarinya di atas keypad notebook. Sesaat kemudian, layar proyektor menampilkan berkas serta sampel kecocokan DNA Taemin dengan… Lee Se-jeong.

“Lee Se-jeong? Jadi benar dia putra dari Lee Se-jeong.” Ucap Kibum cepat.

Ne,” kali ini Minho sebagai staf ahli DNA menjelaskan. “Laboratorium NIS masih menyimpan DNA dari Lee Se-jeong. Sementara DNA Taemin kami dapatkan dari sisa ludahnya di sebuah gelas.” Jelas Minho.

Kibum menoleh pada Minho, “Kalian mengikutinya?”.

Minho mengangguk mengiyakan, “Kami mengikutinya keluar dari rumah. Lalu, saat dia mampir ke sebuah rumah makan, kami meminta izin untuk mengambil gelas yang masih menyisakan sampel ludah Lee Taemin.”

Kibum memangut-mangut mengerti. Sesaat dia terdiam ketika mengingat sesuatu yang lebih penting. “Bukankah Lee Se-jeong memiliki seorang anak perempuan yang lebih tua dari Taemin?”

“Kami sedang mengusahakan mencari informasi detail tentangnya, Key-ssi.” Sahut Kai—salah satu staf ahli yang lain.

“Tolong secepatnya.” Pinta Kibum.

“Baiklah, Key-ssi.” Kai membungkuk hormat lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan cekatan.

BoA bergerak menggeser kursinya ke samping Kibum. Sengaja membuat jarak dekat untuk mengungkapkan pendapatnya pada namja tampan dengan mata bersudut runcing itu.

“Key-ah, bagaimana menurutmu?”

Kibum tak menoleh namun dia menyimak pertanyaan BoA, “Aku yakin kakak dari Lee Taemin ada dalang nomor satu dari kasus ini.”

BoA tersenyum puas, “Aku sependapat denganmu, Key-ah. Kita harus bisa menemukan orang itu dan menghukumnya.”

Ne, itu juga yang kuinginkan, Noona.” Tanggap Kibum. “Ah, Noona, tidakkah kau pikir jika keberadaan Lee Taemin bermanfaat?” tambah Kibum.

“Maksudmu, Key-ah?”

“Kita bisa memancing singa betina dengan menculik anaknya….” Cetus Kibum, menatap BoA dengan senyum tipisnya.

“Menjadikan Taemin umpan.” BoA menyambung kalimat Kibum. Kentara jelas rona sumringah di wajah cantiknya.

“Key-ssi, BoA-ssi, kami sudah menemukan informasi saudara perempuan Taemin.” Suara Kai menyeruak di antara Kibum dan BoA.

“Tampilkan di layar.” Perintah BoA tanggap.

Detik berikutnya terpampang data demi data beserta foto close-up seorang wanita yang di sinyalir saudara perempuan Taemin.

“Lee Na.” gumam Kibum.

Sementara setengah perhatian Kibum tersita untuk berkonsentarasi pada data-data Lee Na di layar, sebagian perhatiannya yang tersisa berkelana jauh. Mengapa… di merasa familiar dengan wajah di foto close-up itu?

BUKAN. Itu bukan foto Lee Na-young. Wajah perempuan di sana berbeda jauh dengan wajah Nayoung-nya. Walau bentuk wajah mereka sama-sama lonjong, namun Kibum masih mengingat jelas seperti apa detail wajah Na-young.

Hidung bangir, pipi tembam dan bibir Na-young yang agak tebal tak pernah sirna dari gudang memorinya. Sedang wajah di foto close-up itu memiliki hidung kecil, pipi tirus dan bibir yang mungil. Berbeda… jauh dengan Nayoung-nya.

Lamunan Kibum buyar ketika layar proyektor tak lagi menampilkan data Lee Na.

“Ini adalah tiga bukti penjualan organ atas nama Lee Na. Dari Srilanka, Filipina dan Korea sendiri.” Sebuah suara menjelaskan.

BoA menoleh pada Kai, “Tolong satukan tanda tangan dari bukti dan data Lee Na.” pintanya.

Kai mengangguk. Kemudian, jemari tangannya dengan lihai mengoperasikan notebook hingga di layar proyektor timbul empat insert dari tanda tangan Lee Na.

“Persis.” Kibum, BoA dan para staf ahli mendesiskan kata itu di waktu yang hampir bersamaan. Seakan tidak ada keraguan lagi dari mereka. Lee Na, adalah otak dari kasus pencurian dan perdagangan organ tubuh ilegal ini.

Kibum berdiri, berbalik menghadap BoA dan semua staf, “Baik semuanya, bisa berkumpul? Mari kita menyusun rencana.” Ucap Kibum tegas.

BoA dan para staf langsung menyadari keadaan. Merekapun mendekat, membentuk lingkaran kecil untuk memulai diskusi rencana penyergapan bersama Kibum. Setiap kepala yang berada di ruang Rapat Umum NIS kini penuh semangat. Mereka siap tempur untuk mengungkap kebenaran.

***

            Gadis manis berambut hitam panjang itu keluar dari ruang pribadinya dengan tergesa-gesa. Memberdayakan semua tenangnya untuk berlari cepat naik ke lantai dua rumahnya. Kelakuannya yang tak biasa membuat beberapa pelayan menatapnya bingung.

BRAK.

Membuka pintu dengan hentakan keras. Detik berikutnya mata gadis manis itu berkelana ke setiap penjuru kamar. Mencar-cari seseorang—ataupun sekelebat bayangannya saja.

“Nona muda, ada apa?” tanya sebuah suara yang berwibawa.

Gadis manis itu menoleh sesaat, namun kembali menjelajahkan mata dan tubuhnya mencari-cari seseorang di kamar itu.

“Nona muda,”

“MANA? Kemana Lee Taemin? Selarut ini dia belum pulang, Jonghyun-ssi.” Paniknya.

Saat ini baru pukul 5 sore waktu Seoul. Dan… bagi sebagian orang, masih wajar jika seorang mahasiswa tingkat pertama belum pulang ke rumah sekarang. Tapi, bagi gadis itu, hal ini sudah sangat mengawatirkan.

“Jonghyun-ssi, kemana adikku?” tergurat nada frustasi di suara gadis itu.

Sementara Jonghyun—orang yang diberinya pertanyaan tak memberikan jawaban verbal, gadis manis itu terus saja mencari-cari Taemin di segala penjuru rumah.

Ia khawatir. Tidak tahu datangnya perasaan itu dari mana. Ia tahu Taemin sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Tapi, Taemin tidak pernah tanpa kabar seperti ini sebelumnya. Sesempatnya, adiknya itu selalu memberi kabar.

“Nona muda, ada telpon untuk Anda.” Suara Jonghyun menyeruak, membuyarkan lamunan singkatnya tentang Taemin.

Nugu-ya?”

Jonghyun menggeleng pelan dan semakin mengarahkan telpon padanya. Akhirnya ia mengambil gagang telpon itu dan menempelkannya di telinga.

Yeoboseyo?” Sapanya.

Noona,” suara di seberang menyahut pelan. Suara itu… suara adiknya, Lee Taemin.

“Taemin, kau dimana?”

Hening sesaat sebelum suara Taemin kembali terdengar, “Noona, a-aku… di gedung Kesenian. J-jangan… AKH.”

“Taemin, ada apa?” nada suara gadis manis itu kontan panik mendengar jeritan tertahan Taemin.

“T-to-tolong kem-mari, Noona.”

“Baiklah, tunggu di sana.”

Gadis manis itu langsung memutuskan sambungan telpon. Kemudian berlari menuju garasi rumahnya. Masuk ke dalam mobil Mercedez hitamnya tanpa peduli pada teriakan Jonghyun. Ia… harus segera sampai dan menjemput Taemin.

***

            Lee Na memarkir mobilnya buru-buru. Kemudian keluar dan berlari masuk ke gedung Kesenian. Ia segera menghampiri meja resepsionis begitu masuk dari pintu utama. Lalu mengambil kartu pengunjung. Sesaat, ia berdiri bingung di lobi yang agak sepi. Namun, seketika berlari menuju lantai tiga. Ia yakin… Taemin, ada di sana.

Lantai tiga benar-benar sepi hingga tapak kaki gadis manis itu menggema ketika menyentuh lantai porselen dengan mural kayu. Ia terus berlari, memicingkan mata untuk bisa menangkap sekelebat bayangan Taemin.

Di belokan kedua, Lee Na berhenti. Terhenyak melihat pemandangan di depannya. Adiknya, Lee Taemin, berdiri dengan tangan terikat bersama seorang wanita. Pelatuk pistol yang mengacung angkuh di pelipis Taemin membuat Lee Na mengutuk dirinya sendiri.

Ia ceroboh. Pergi sendirian tanpa memikirkan kemungkinan terburuk—yang bahkan telah ada di depan matanya. Ia membahayakan nyawa Taemin dan… dirinya sendiri.

Annyeong Lee Na, senang akhirnya bisa bertemu denganmu.” Sapa wanita di depannya dengan nada ramah yang dibuat-buat.

“Kau—.”

BoA tersenyum angkuh, “Terkejut?”

“Lepaskan adikku.” Geram Lee Na.

Kembali senyum angkuh menghiasi wajah BoA, “Tidak, sebelum kau mengaku. Kau adalah dalang dari kasus pencurian dan perdagangan organ tubuh ilegal, bukan?”

Lee Na terdiam. Sekarang ‘kah saatnya? Walau bukan tangannya yang melakukan kejahatan itu, namun tetap saja, takdirnya tergaris untuk menjadi kambing hitam bagi orang-orang jahat itu. Ia… adalah sang penanggungjawab.

“Mana nyalimu, Lee Na?” tantang BoA.

NOONA, ANDWE!” teriak Taemin.

AKH.

Erangan kesakitan itu menyadarkan Lee Na. Matanya melihat dengan jelas bagaimana BoA mengencangkan ikatan di tangan Taemin.

BoA semakin menekan ujung pistolnya ke pelipis Taemin, “Mengaku sekarang, Lee Na!” titah BoA. “Oh, atau kau ingin melihat kepala adikmu di tembus timah panas?” tantangnya.

Sebelah tangannya terkepal sementara napasnya berderu hebat. Gugup, takut, khawatir… segala rasa itu bercampur tak tentu dalam diri Lee Na.

NOONA!”

Pekikan Taemin terdengar bersamaan dengan Kibum yang menyergap Lee Na dari belakang. Mengunci pergerakan gadis manis itu dengan memelintir kedua lengannya. Berimbas pada ringisan Lee Na yang menahan sakit di tangannya.

“Mengaku sekarang, pembunuh!” desis Kibum di samping kepala Lee Na.

Pembunuh? Benarkah? Tapi ia hanya menjadi benteng bagi para pembunuh yang sesungguhnya. Harus berapa kali hatinya berteriak jika ia dan Taemin adalah kambing hitam?

“A-aku….” Akhirnya, Lee Na buka suara.

NOONA… AKH.” Semakin Taemin bersuara, maka BoA semakin mengeratkan ikatan di tangannya.

“AKU PELAKUNYA. Aku dalang dari kasus itu. Aku bersalah.” Pengakuan gamblang itu tercetus begitu saja dari mulut Lee Na. Kontan membuat Kibum, BoA dan beberapa staf yang sedari tadi bersembunyi tersenyum penuh kemenangan. Mereka berhasil membuat sang pelaku mengaku.

“Sekarang lepaskan adikku.” Pinta Lee Na.

BoA menoleh pada Taemin yang memandang kakaknya tak percaya. Tak mengira… semudah itu sang kakak membuat pengakuan. Tanpa perhitungan mempertaruhkan nyawa untuk Taemin.

BoA mengerling pada seorang staf. Ia lalu menyerahkan Taemin pada staf itu—sepertinya—menyuruh staf tersebut membawa Taemin ke suatu tempat.

“Kami akan melepaskannya. Tapi, tak semudah yang kau kira.” Ucap BoA.

Lee Na menggeram kesal. Tak ada hubungan timbal-balik rupanya. Bukankah ia sudah mengaku, mengapa mereka masih menyekap Taemin. Apalagi yang mereka inginkan?

BUGH.

Entah mendapat kekuatan darimana, Lee Na menyikut Kibum. Membuat namja tampan itu kehilangan keseimbangannya sesaat. Saat itulah gadis manis itu berbalik menghadap Kibum dan menarik belati kecil dari balik saku blazer-nya.

DEG.

DEG.

Wajah itu membuatnya terpaku. Lalu, mata bulat bening yang kini memandangnya dengan gurat kaget. Detik itu juga, Kibum menyadari wajah gadis yang ada di depannya ini adalah hasil kreasi tangan-tangan medis. Wajah itu… seharusnya adalah wajah yang selama ini ada di ingatnya.

Mata bulat bening berair yang pertama kali menatapnya lekat empat belas tahun lalu. Kemudian, kembali bertemu pandang dengan mata bersudut tajamnya enam tahun lalu. Dan kini… mata itu, mata yang sama, ada di hadapannya.

“Nayoung-ah,”

Kibum hampir tak percaya akan reaksi otaknya yang begitu cepat. Tapi, dia yakin. Yakin seyakin-yakinnya. Wajah boleh tak sama, namun sorot mata bulat bening itu tetap tak ada bedanya dengan sorot mata empat belas tahun lalu.

Setelah enam tahun, setelah pergi karena paksaan Ayahnya, matanya kembali bisa melihat sudut runcing dari mata Kibum. Mata seseorang yang menjadi raja di hatinya. Ia ingin menangis, ingin memeluk namja itu… cintanya… cintanya yang tak pernah terucap.

            “Ia membawa senjata.”

            “Lumpuhkan segera.”

 

DOR! Tepat sasaran oleh pelatuk pistol BoA, jantungnya.

PLANGG. Belati itu jatuh begitu saja.

“NAYOUNG-AH!”

Kibum menyongsung tubuh Lee Na yang ambruk. Meraih pundak gadis manis itu, mengangkat wajahnya yang kontan memucat.

“Kibummie.”

Suara serak dan lemah. Namun, Kibum dapat menangkap nada panggilan sayang itu. Hanya Lee Na-young yang memanggilnya begitu. Hanya seorang, dan itu adalah gadis yang kini berada dalam dekapannya.

“Nayoung-ah, wae?” suara Kibum serak oleh genangan air di pelupuk matanya.

“Akhirnya… a-aku… bisa melihatmu lagi.” Lee Na—Lee Na-young—tersenyum manis pada Kibum. Sebelah tangannya yang gemetar terangkat mengelus pipi Kibum.

“Kibummie… nae Kibummie….”

Kibum menegang melihat mata bulat bening yang begitu dia sukai mulai meredup. Redup… redup… hingga terpejam seutuhnya. Hembusan napas hangat dan persendiannya yang melemas menjadi pertanda terakhir kehidupannya di dunia. Gadis itu… pergi dalam dekapan kasih cintanya.

“Nayoung-ah, nae sarang! NAYOUNG-AH NAE SARANG.”

Menggema. Teriakan dan tangis Kibum mendominasi suasana sepi gedung Kesenian. Tubuh tegapnya memeluk tubuh Na-young yang sudah tak bernyawa. Cintanya… cintanya yang ingin dia temukan memilih pergi, bahkan, ketika tak sampai semenit pertemuan mereka.

THE END

Ayachaan #120920

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

43 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] The Eyes [2.2]”

  1. huwweeeeee…. T_T
    knp akhirnya tragis begini….
    tadinya kupikir pas mereka,kibum sm na young,ketemu semuanya bakal jd jls…
    tentang alasan kepindahan na young…knp taemin dan na young hrs jd “tumbal” terus akhirnya NIS berhasil nangkep pelaku utamanya…

    tp sumpah…
    akhirnya nyesek bgt…. 😦

  2. ya ampuuun..nyeseek!!! tragiis!!!
    aku kira bakal ada kesempatan si nayoung mengungkapkan segalanya…hoho…tpi gakpapa… smoga ada sequelnya yaa 😀

    dan, aku suka deskripsi latarnya. apalagi pas kibum ditawan sama BoA. mantaap!!!

    oke, err…kibummie, semangat yaa!!!

    oiya, btw, kibum udah jadi dokter bedah kan? trus pertemuannya dgn nayoung terakhir itu 6 tahun yang lalu pas masih SMA. kurasa jarak waktunya trlalu cepat. biasanya waktu normal buat lulus dokter 5 tahun, klo spesialis bedah lbih kurang 4-5 tahun..hehe.. jadi sekitar 8-9 tahun lah, klo di indonesia ya :D. mgkn di korea lbih cepat..wkwk.
    tapi gakpapa, itu hanya saran dikit. gak mengganggu esensi cerita kok..wkwkwk ^o^v

    keep writing yaa!!! kutunggu ffnya yg lain 😀

    1. sebenarnya setting waktu flashback itu aku sesuain sama umurnya Key sekarang. Tapi ternyata… aku malah lupa sama setting waktu yg lebih penting *deepbow
      Ini jadi bahan revisi buat aku, makasih banyak ya masukannya. Aku seneng lho di kasih tau kayak gini daripada di biarin, hehe…

      sekali lagi, gomawo masukan kamu di 2 part cerita ini, hehe :*

      1. haha, aku juga suka gitu kok..pas taunya klo udah kelar, bingung ngedit dari awal ._______.”
        sama2 ay, aku juga suka sama author yang berani nyelipin unsur ilmiah dan keprofesian di dalamnya, apalagi buat kedokteran, sesuatu yg cukup susah utk dideskripsikan gitu..hehehe…

        makasi juga ya udah nanggepin komentar saya yg blak2an dengan hangat… jadi seneng ^o^/

  3. andweeeeeeeeeee..

    kenapa kisahnya tragis amat sih thor?!!!
    #nangis
    ngingetin sma film Athena..

    knapa tim NIS harus menyergap Na-young sesadis itu,,
    harusnya mreka cri bukti lebih banyak sapa tw kecurigaan mreka salah..
    huaahhhhhhh thor tegax dirimu memisahkan Na-young dan Key seperti ini..
    orang yg ditunggu selama bertahun-tahun malah meninggal di depan mata kepala sndiri..
    kasihan Kibummie..

    tapi overall,,
    keren..

    1. dari kemaren pengen nanya, film Athena itu film korea ya? aku kepengen nonton 😀

      Na-young jadi tersangka udah bener, tapi, mungkin cara NIS melumpuhkan dia agak brutal ya? hehe

      gomawo ne~

    2. sorry, tadi maksudnya Na-young jd tersangka itu sengaja aku bikin karena ada perjanjian antara Ayahnya dan sodara2nya

      1. ne athena itu drama korea,,
        judul lengkapx “athena : goddes of war”..
        versi filmx juga ada tpi blom nnton..
        pemainnya Jung Woo-sung,, Cha Seung-won dan Soo Ae..
        Siwon sma Changmin juga main di drama ini..
        uri Ondubu Onew sma Maknae Taemin juga sempat jadi cameo,,
        meskipun cuman sekian detik..
        hehehehg..

        critax sebelas dua belas ma ff nie..
        hahahah..
        gtapi bukan soal organisasi penjualan organ tubuh sih,,
        lebih kepada aksi mata2 korut..

        nnton deh chingu,,
        banyak berkelahinya sih tapi ceritax seru,,
        bkin penasaran..

  4. T.T whuaa.. tragis amat thor..
    bru aj kibum crita m jinki bhagiany dy mo ktmu m cnta prtmany.. pas ktemu mlah liat na young tewas d tempat.. 😥
    tp tteep kereen thor^^

  5. Tragiiss, baru ketemu beberapa menit udah harus pisah lagi ㅠㅠ

    Btw, Aya ssi, itu kelanjutan kasusnya gimana? Endingnya nanggung nih *puppy eyes*

    Daebak. Pilihan katanya keren banget, variatif tapi tetep nggak terkesan aneh ^^

    1. ending kasusnya… di usut lagi setelah Lee Na meninggal. Tapi, sorry aku ga ngejelasinnya di part ini ^^V
      gomawo ne~ udah sempetin mampir 🙂

    1. sebenarnya, sengaja di bikin tragis. dari awal kepikiran alur, ending seperti ini udah aku pengenin, hehe… mianhae kalo bikin kecewa

      gomawo ne~ ^^

  6. Ay ay ayaaaa…

    Aduh mak, cedih ckaliiii….

    Ay, di part ini masih ada pertanyaan.

    Menurutku, terlalu gegabah tindakan si Lee Na itu. Dia yg tau posisinya itu sebagai ‘tumbal’ atas kejahatan besar, ga akan pergi seorang diri buat nyelametin taemin, paling engga dia bawa anak buah. eh, apa dia ga punya anak buah?

    trus, yah… sebenernya diriku sdikit kecewa. kenapa kenapa kenapa? kenapa dua bersaudara itu mau aja dijadiin tumbal. Dodolnya, sebenernya Lee Na bisa aja nyeritain semuanya pas nyelametin taemin. habis itu minta perlindungan dari NIS biar ga dibunuh sodara2nya. Karena gini ay. Cerita ga cerita, Lee Na tetep aja harus dapet hukuman.
    Misal, dia ngakuin klo dia dalangnya, toh tetep dia bakal kena hukuman berat plus bisa aja sodara2nya tetep ngincer dia krn takut bocorin rahasia. Klo aku jd Lee Na, sekalian aja aku ceritain ulah busuk sodara2ku yg bikin hidupku menderita, toh sama2 dibunuh juga ujungnya.

    kecuali kalo kasusnya si Lee Na ama taemin itu sayang sama keluarganya n ga pingin kejahatan keluarganya terkuak, logis klo nyembunyiin. Atau, misalnya si Lee Na ama Taem ini masih punya sodara lain yg disandera ama keluarga besarnya, yang bikin mereka takut buka mulut ke NIS, baru deh wajar klo mereka ga buka mulut.

    Itu aja sih ay. Maaf ya ay kalo komenku kurang berkenan. Aku emang gini, kalo nonton drama yg ceritanya intel2 n pembunuhan aja langsung protes klo ada yg menganjal, emang tipe penonton n pembaca yg banyak maunya *bow*

    Secara keseluruhan ini oke ay ^^b

    1. seneng deh tulisanku di kunjungi sama ka bibib 🙂 sarannya nggak kurang berkenan kok, aku malahan seneng banget di kasih tau kayak gini, hehe

      sebenarnya Lee Na sama Taemin jadi tumbal itu krn perjanjian yg dibikin Ayahnya sama sodara2nya. disini perjanjian itu aku bikin mengikat, gimanapun caranya Lee Na adlh si penanggungjawab.. hhe.. tapi ini memang cerita yg ga terlalu tuntas kak, krn aku ga jelasin scr rinci ^^V
      Lee Na dtg sendirian juga sengaja aku bikin. ini krn buatku Lee Na itu orgnya gegabah. terus… adegan penyergapan itu sebenarnya banyak terinspirasi dari Death Note 1 kak, hehe. Aku waktu bikin part ini habis nonton jadi terbawa2 ^^V
      Lee Na ga punya anak buah, bener. ia cuma punya org2 kepercayaan macam Jonghyun. kenapa ga punya, karena sodara2nya lah yg punya anak buah, mksdnya… krn sodaranya itu yg ngelakuin kejahatan.
      hehehe… ini aku ngerasa cerita yg memang rumpang kak. karena aku pribadi juga ngerasa banyak poin2 yg sampai ending belum di jelasin scr rinci.

      saran ka bibib bikin aku jadi kepengen bikin cerita macam ini lagi, terus ngebagusin poin2 yg di kasih tau kakak tadi ^^
      sekali lagi makasiiiiiiihhhh banyak kak bibib buat saran dan kunjungannya :*

  7. Ah, kok udah berakhir aja? *eh* kerasa cepet, mungkin karena alurnya padat kali ya?
    ah, sayang banget nayoung harus mati seperti itu, apalagi dia jadi tumbal.. 😦
    btw, aku masih belum paham nih perjanjiannya gimana, bisa tolong jelasin sedikit? jadi ayah Nayoung yang membuat perjanjian dengan organisasi jahat itu untuk menjadi tameng atas kejahatan mereka? kira2 apa latar belakang dibalik perjanjian itu? apa ada keuntungan yang diterima ayahnya Nayoung waktu itu?

    ini masih bisa dibikin after story-nya lho, kalau aku boleh ngasih saran. mungkin bisa tentang penangkapan sindikat penjualan organ tubuh manusia (pelakunya), atau bagaimana nasib taemin selanjutnya, nasib key? *reader banyak mau*

    aku sempat baca di komen kalau aya-ssi terinspirasi Death Note..*jadi nostalgia adegan pas Shiori ditangkap.*

    oya, sedikit saran lagi, di cerita ditulis Key-ah, tapi dalam hangeul, tulisannya kan Ki, jadi seharusnya pake -ya karena diakhiri huruf vokal.

    secara keseluruhan keren kok, karya selanjutnya ditunggu 😀

  8. haduh, ending nya sedih sekali… seriusan lah sampe mau mewek ini.
    Moment2 pas keduanya saling menyadari satu sama lain dalam situasi yang ga tepat itu beneran bikin tersentuh.
    Kasihan Kibum…. 😦
    Nice story 😀

  9. sad ending… hiks.
    hmm.. cara kerja NIS mirip mafia ya? klo kejadian beneran, NIS bisa dibubarin senat nih. lol.
    yg na-young jd tumbal itu… make sense kok. cara kerja dan loyalitas mafia kadang emang ga masuk akal *efek kebanyakan baca ff gd yg jd bos triad*
    sungguh tema dan idenya keren. tambahin risetnya deh, biar perfect.
    semangat!!

    maaf klo aku sotoy dan bahasanya kasar.
    *deep bow*

    1. nah ini yen. jd penasaran jg. aku sempet kepikir tt loyalitas. masalahnya si dua bersaudara ini merasa terpaksa yen. trus kenapa bisa loyal?
      haha, komenku ini ga penting amat ya

      1. agak panjang klo mo kita diskusiin di sini. nggak sopan ah, masak ngerusuh di FF-nya Aya, hehehe…
        Intinya nih, menurutku, logika ceritanya udah lumayan dapet, sayang eksekusi penjebarannya kurang jelas (mungkin keterbatasan panjang cerita juga).
        kenapa Taemin dan Na-Young bisa loyal segitunya?
        Hmm… klo menurut imajinasiku, ayah mereka itu bukan sekadar anggota biasa di komplotan mereka. Aku malah ngebayanginnya Ayah mereka itu semacam Dragon Head klo di TRIAD, pimpinan puncak. *Upss… jadi inget GD. FOKUS, YEN!!*
        Organisasi mafia semacam TRIAD atau Yakuza itu solid banget, melibatkan anggota keluarga. Istilahnya nih, “lo bikin perkara ama kelompok, keluarga lo abis! Tapi klo lo setia ama kita, keluarga lo kita jamin sejahtera.” Ini berlaku bahkan klo tu anggota udah mati.
        Apalagi buat keluarga Dragon Head yg istilah kata dari dikandungan juga udah terjebak dalam lingkaran setan. Hmm… antara terpaksa tapi udah takdir gitu. Terpaksa tapi menikmati #apaini?

        Dalam kondisi2 tertentu, untuk njaga keselamatan dan kerahasiaan organisasi, tumbal itu ada.
        Emang sih, soal culik-menculik Taemin ini agak logikanya agak lepas.
        Klo Taemin itu Dragon Head, atau minimal Deputy Mountain Master, anak buah mereka nggak bakal ngebiarin dia diculik begitu aja. Bahkan 24 jam pake pengawalan.
        Beda ama Na-Young yang emang jadi tameng. Dia dijaga juga, tapi sekira perlu dikorbankan, ya bakal dikorbankan.

        Hehehe… cukup deh. Klo masih pengen sharing, japri aja ya Bib.

        Maaf, Aya~
        Udah ngerusuh ditempatmu.
        *deep bow*

  10. Ayaaaa~
    Dah baca nih. Dari tadi baca karya saeng” ku yg manis”+daebak luar biasa.
    Okeh, skrg giliranmu.

    N ak bisa nyimpulin sekaligus pengen nanya aja. Ini kebiasaan Aya nih, suka banget bikin cerita yg gantung. Itu kenapa si Nayoung sm Taemin mau aja jd benteng prtahanan gituh?
    Arrrgh, frustasi eke penasaranny. Tapi kerenlah. Setidakny tulisanmu makin bagus aja daripada ak. Haha

    1. Hai Kak ^^
      Aya pribadi juga ngerasa cerita ini rumpang bgt. banyak bagian yg nggak jelas dan kebenaran faktanya ga Aya perhatikan.
      bener2 jadi bahan revisi Aya nih, biar bisa lebih baik lagi nantinya.

      hehe, makasih ya Kak udah sempetin mampir ^^

  11. Haaai ayaaa, aku balik lagi nih 😀
    semoga gak bosen baca komenku yah

    Kenapa yang dicuriga sebagai dalang nomor satu adalah kakak Taemin? Hanya karena dia anak tertua? Karena mereka berkata dengan begitu yakin sebelum ada data-data tentang Lee Na dan buktinya (maaf, kayaknya nalar aku yang gak nyampe)

    Dan kenapa saat NIS berusaha menjebak Lee Na, aku malah ngerasa disitu posisi terputar balik, NIS terasa seperti mafia #abaikan
    Kesannya gegabah aja kalau NIS bertindak hanya berdasarkan data-data seperti itu
    Kupikir NIS nya bakalan ngejebak pelaku penjualan organ sewaktu mereka beraksi (memang sulit sih, ceritanya bakalan kepanjangan, kk)
    eeeer dan sepertinya anggota NIS dibuat terlalu gegabah dengan langsung menembakkan pistol ke arah Nayoung yah? Padahalkan Nayoung cuma bawa belati, senjata yang berguna kalau digunakan dalam jarak dekat (kecuali kalau belati itu dia lempar, tapi kemungkinan untuk mengenai sasaran kayaknya cukup kecil juga yah?)
    Harusnya agen NIS bekuk aja, buang belatinya Nayoung, kasian banget Nayoung harus ditembak gitu 😦

    Endingnya sad, termasuk ending yang berani karena kebanyakan orang gak tega buat ending yah sad
    Terus berjuang yah, berkarya terus ^^b

    1. hai kak Yuyu ^^

      banyak bagian yg bolong ya kak? hehe, mianhae
      Aya pribadi juga ngerasa cerita ini bolong2 lah islilahnya. banyak bagian yg setelah di kasih tau nggak Aya perhatiin baik2.

      Ah, Aya seneng lho di kasih tau ada salah2nya dimana kayak gini. jadinya Aya tau dimana Aya harus bebenah.
      makasiiihhh banyak ya Kak masukannya, ngebantu Aya banget ^^

  12. hwaaaaaaaaaaaaa,,tragisssss!1! nayoungnya matiiiiiii….. kasian key…. padahal kan nayoung cuman kambing hitam aja tuh

  13. langsung part 2 ajah yah komennya hehehhehe
    Ternyata, cinta yang dulu, ya ampuun sedih banget ceweknya musti mati bgituu, huwaaaaaaa, kembalikan nayoung,etapi key sama aku ajah deh yahh hahahahah ^^b

    1. yaaa eon, minta kembaliin nayoung tapi keynya dibawa kaborr 😀
      makasih eon, maaf nih baru balas komenny sekarang ^^v

  14. Hello Ayaaaa~~~
    Kyaaaaaaaaaaaaaaaa sukaaaaaaa >o< Bahasanya suka, ceritanya suka. Suka pokoknya!
    Tapi mau ngasih masukan tentang penulisan tanda baca koma dalam kalimat sapaan.
    + “Tapi, kau tidak Noona. Kau sedang terancam sekarang!” Karena Noona ditaruh diakhir kalimat sebelum titik, maka wajib hukumnya menggunakan koma (,).
    Menjadi: “Tapi, kau tidak, Noona. Kau sedang terancam sekarang!” Karena itu adalah bentuk kalimat sapaan.
    + Udah diborong sama Bibib mengenai tanda baca lainnya.
    + Untuk keseluruhan, ini oke banget ^^d

    1. haiiii ^^ aku panggilnya apa nih diya eon boleh? hehe

      makasih banget masukannya eon, hehe… walopun udah diborong ya beberapa. tapi, buat tanda bacanya itu makasih lho :3 kedepannya pasti aku inget terus!

  15. ommoo knp harus mati??
    pdhal kan nayoung ga salah
    rasanya ga adil bgt
    aku rasa ceritanya trlalu cpt
    pdhal mkirny bkal ada konflik perasaan antara key n nayoung
    tp ni ff dah lmyn bagus kok, nice ff

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s