[FF KEY B’DAY PARTY] Mirror

Title : Mirror

Author: Boram

Main Cast: Kim Kibum

Support Cast : Lee Jinki, Kim Taeyoon

Length: Oneshoot

Genre: Angst, Psychology, Tragedy

Rate : G

Inspired by : Lil Wayne ft Bruno Mars – Mirror

Special thanks : Chandra *yaampun makasih banget loh waktunya buat ngasih masukan kritik saranmu di ff gaje ini. Dan juga linknya membantu banget. Makasiiih* #kecupbasah

 

Haloooo~

Karena kemampuan nulis saya masih cetek, masih kalah dibanding author-author lain yang jauh jauh jauh jauh lebih hebat dari saya, jadi saya cuma mau kasih peringatan, baca fic ini mesti dengan penghayatan penuh. Secara kan tulisanku masih gaje luar biasa tuh, ceritanya bisa dibilang jelek aneh, bahkan ga masuk akal mungkin. Susunan kalimatnya juga amburadul, jadi diharapkan untuk memaklumi sajalaaah~

 

Tampan. Aku sudah sering mendengarkan itu dari tiap orang yang melihatku. Sudah seharusnya aku bangga. Tapi bagiku, itu tak lebih dari sebuah ejekan yang memaksaku untuk semakin menundukkan kepalaku hanya untuk menghindari tatapan merendahkan dari mereka. Lagipula, apa gunanya pujian tampan jika kenyataannya aku mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk dari itu.

Bukannya aku mau menyalahkan takdir yang telah diciptakan Tuhan. Memberikan pahatan di lekuk wajahku yang aku sendiri bahkan harus mengakuinya, betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Aku sungguh bersyukur untuk itu. Tapi demi Tuhan, aku sangat benci pada kenyataan tiap kali mataku memperhatikan pantulan wajahku di cermin. Memandangi betapa genetika pria itu menurun padaku, alasan utama di balik ketampananku yang belum tentu semua orang bisa memilikinya.

Pria itu. Pria brengsek yang telah menghancurkan hidupku, membuatku terperangkap dalam kesengsaraan batin yang tiada seorang pun akan mengerti. Yang oleh eumma selalu mengajarkanku untuk mengucapkannya dalam satu kata yang sampai mati pun takkan kusebutkan, appa.

“ Kibum ah, ayo katakan, ‘appa’. “

Aku hanya diam. Eumma terus mengucapkan kata itu berkali-kali, tak pernah bosan memerintahkanku untuk memanggil dirinya appa. Harusnya kau tahu eumma, itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan jika itu berarti aku harus masuk ke liang terdalam neraka sekalipun, aku tak akan sudi menyebutnya.

Eumma akan memasak untuk appa. Kibum akan baik-baik saja kan di sini? “

Aku tetap diam. Kulihat eumma menghela napas, kemudian senyumnya segera mengembang. Eumma, tidakkah kau tahu anakmu ini sudah dua puluh dua tahun? Sampai kapan kau mau memperlakukanku sebagai anak ingusan?

Wanita lemah lembut itu mencium keningku, segera beranjak meninggalkanku yang masih duduk di atas ranjang. Mendengar pintu tertutup, aku beralih menuju cemin yang berada di sebelah ranjang. Kulihat ekspresi wajahku yang tampak datar.

“ Kau terlihat tidak senang, Kibum. “

Pantulan wajah itu mulai berbicara padaku.

“ Apa mereka mengganggumu lagi? “

Aku tak berkomentar. Aku tahu, setelah ini ia pasti akan melontarkan kalimat yang sama. Menanyakan apakah aku sedih, mengapa aku tak tersenyum lagi padanya hari ini, dan lain-lain.

“ Kau terlihat sedih. Senyummu tak selembut yang kemarin. “

Sudah kubilang bukan, aku sudah terlalu hapal dengan ocehan pria di cermin itu.  Maka segera aku meninggalkan kursi, membuka jendela hingga daunnya menyentuh dinding luar. Ini adalah kebiasaanku, terjadwal rapi dan tak boleh seharipun terlewatkan. Pernah satu kali kulewatkan kegiatan singkat ini, dan akhirnya aku berakhir meringkuk di tepi tempat tidur. Berteriak secara kontinuitas tanpa merasa lelah, melempar apapun yang berada di sekitarku, hingga eumma harus lelah menghadapi sikap kekanakanku yang dikarenakan oleh hal sepele. Pemberontakanku akhirnya terhenti saat pria itu muncul di hadapanku dengan tatapan tajam khasnya.

Oh sudahlah. Untuk apa aku membahas pria itu lagi. Hidungku menghirup udara segar dan aku sangat menikmatinya, tak sadar jika sebelah kakiku sudah terangkat, tersentuh dengan tepi kusen. Aku tahu aku sudah berhasil melompat dari jendela, saat tapak kakiku yang telanjang tersentuh dengan permukaan tanah yang masih lembap. Memberi sensasi lembut dan nyaman ketika aku mulai berlarian kesana kemari.

Kurasakan pohon-pohon cecille oak itu menyambut kehadiranku dengan menggugurkan daunnya satu persatu – beberapa mengenai wajahku. Tanganku terentang lebar, berterima kasih pada kesediaan mereka menerimaku berada di sekeliling mereka.

****

            Sekarang kulihat kamarku benar-benar berantakan. Terserahlah, eumma pasti akan membersihkannya nanti. Bukannya aku mau bertindak jadi anak durhaka. Terus menyusahkan wanita cantik itu. Hanya saja aku sudah letih bergulat dengan pikiranku sendiri. Aku seringkali memerintahkan otakku, tapi ia tak mau mendengarku. Karena otak ini juga, yang bisa kulakukan hanya mengajak bayanganku sendiri untuk berbicara, bukannya berbaur dengan lingkungan sosial sebagaimana orang-orang normal pada umumnya. Makanya, aku lebih suka menghabiskan waktu di depan cermin.

Aku tahu ini terdengar tak masuk akal. Tapi saat di depan cermin, aku bisa mengendalikan tubuhku sepenuhnya, tak ada sistem regulasi, yang berarti saraf-saraf labil yang dikoordinir oleh otakku tak punya kuasa mengatur motorikku. Yang ada hanyalah aku dan pantulan wajahku. Aku sudah lupa kapan pertama kali ia menyapaku, tapi aku tahu sejak itu ia menawarkan dirinya untuk menampung segala keresahanku, mendengarkan keluh kesahku, mengajakku ngobrol ketika aku mulai kesepian dan tak lupa memberikanku senyuman hangat.

Aku baru saja akan menghampirinya, berdiri di depan cermin untuk kembali berbincang dengannya. Setidaknya kembali mengeluhkan sikap eumma yang selalu memperlakukanku sebagai anak kecil, hingga telingaku menangkap suara jeritan wanita. Tubuhku bergerak tak menentu, ketika otak ini memerintahkanku untuk segera bersandar  di samping lemari.

Teriakan itu semakin keras. Aku cepat menutup telingaku, tidak tahan mendengar teriakan wanita yang sarat akan rasa sakit – yang semuanya dikarenakan olehku. Tubuhku gemetar tatkala pria itu membanting pintu kamar, dan saat aku mengangkat wajahku kulihat ia mencengkeram tangan eumma dengan kuat. Warna kemerahan berbekas di pergelangan tangannya saat pria itu melepaskan genggamannya.

Setelahnya, pria itu menarik lengan bajuku, hingga aku harus berdiri meskipun kepalaku tetap tertunduk. Tubuhku mulai mengucurkan keringat dingin, sebagai reaksi saat tatapan tajam miliknya mulai beradu dengan mataku. Aku tahu sensasi dari hormon serotonin hasil produksi tubuhku yang berlebihan mulai bekerja mengirimkan sinyal kegelisahan ke seluruh tubuh, memberikan hasil gemetar yang jauh lebih hebat dari sebelumnya.

“  Sudah kubilang! Jangan pernah membiarkan anak sialan ini keluar dari rumah! Dia adalah aib! Harus berapa kali kukatakan, Taeyeon! “

Baiklah, aku sudah berbuat kesalahan lagi. Seharusnya kemarin aku tak melompat dari jendela, dan tetap mengagumi keindahan pohon-pohon teduh itu dari bingkainya seperti biasa. Dengan begitu, eumma tidak harus disakiti lagi. Tapi sudah kukatakan, aku tak bisa mengontrol tubuhku sepenuhnya. Ia bergerak sesuka hatinya, tak menentu.

Aku masih tak bisa bergerak dari tempatku, dan mulai mundur beberapa langkah saat pria itu mendekatiku. Bisa kurasakan gemetar di sekujur tubuhku makin hebat. Punggungku menabrak tembok, sepertinya aku tidak bisa lari lagi. Terlebih saat pria itu menarik kerah bajuku, sedikit menyesakkan bagiku. Bau menyengat menyeruak masuk ke dalam hidungku. Bisa dipastikan, ia mabuk lagi sekarang.

“ Kau, bocah brengsek! Kau seharusnya sudah mati dari dulu! “

“ Tidak, Jinki! Tidak dengan Kibum! “

Eumma memeluk kaki pria itu. Aku brengsek? Justru kau yang brengsek Lee Jinki! Kau bahkan menendang istrimu sendiri sekarang, tidak cukupkah kau menamparnya? Memberikannya bekas luka yang tak sepadan dengan wajah cantiknya? Sungguh, ingin sekali kuhajar pria brengsek di depanku. Tapi tubuhku melumpuh, hanya bisa bekerja di bawah kehendak otakku yang cacat.

Bukk! Aku jatuh terjerembap saat tinju itu melayang padaku. Membuat kepalaku terantuk ke lantai, mencemari putihnya keramik dengan cairan merah yang anyir dan pekat. Kau bahkan meninju anakmu sendiri, manusia macam apa kau ini?! Oh tidak! Manusia, bukan, kau bukanlah manusia!

Puas melihatku yang sudah berlumuran darah, ia melepaskan dasinya, melemparnya tepat di depan wajahku. Ia hampir menendangku, tapi lagi-lagi, eumma melindungiku.

“ Anak dan ibu sama brengseknya! “

Akhirnya, ia meninggalkan kami. Kulihat ia membuka pintu depan, dan membantingnya dengan keras. Setelahnya suara mesin mobil terdengar, kemudian menghilang perlahan.

“ Kibum, Kibum, kau tidak apa-apa sayang? Oh Tuhan, kau berdarah! “

Tangan lembut itu menuntunku hingga aku duduk bersandar di dinding sementara tangannya meraba wajahku, membuatku memandangi sudut bibirnya yang berdarah. Mataku tak sengaja melirik ke lantai. Juga ada darah yang lebih banyak di sana. Gemetar yang semula menghilang, kembali lagi. Aku menggeleng sambil menutup mata. Kurasakan sakit luar biasa di dadaku, berikut ke kepala membuat kedua tanganku segera mencengkeramnya. Masih dengan gelengan keras yang menambah rasa pening di kepalaku, dimulailah suara tangisanku memenuhi rumah.

“ Tenanglah sayang, tenang. Tidak ada yang terjadi. “

Pelukan hangat segera kudapatkan. Tepukan-tepukan yang diperoleh punggungku menenangkanku. Senandungnya terdengar lirih, karena bisa kudengar isakan terselip di antaranya. Kedua tanganku merosot, terjatuh di atas bahunya. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena setelahnya yang kulihat hanyalah gelap.

****

            “ Kau terlihat buruk, Kibum. “

Aku tak berkomentar lebih lanjut. Ia memang benar. Di kaca itu tampak wajah yang bengkak, berwarna biru di pipi kirinya.

“ Tapi kau tetap tampan, tenang saja. “

Ia tersenyum senang. Aku tahu ia sedang menghiburku yang tengah kalut membayangkan kejadian kemarin.

 

            “ Lihat! Si tampan keluar dari rumah! “

            Aku menundukkan kepalaku. Beberapa anak-anak mulai mengerubungiku.

            “ Jadi sekarang kau mengajak pohon itu berbicara? “

            Salah satu dari mereka mulai mengintimidasiku. Ya, aku memang sedang berbicara dengannya. Seharusnya kau tahu bocah, pohon-pohon ini jauh lebih menghargaiku daripada kalian.

            “ Ya! Apa kau tuli, atau tidak bisa bicara? “

            Aku tidak tuli, dan aku bisa bicara! Berhenti mengejekku! Aku melihat mereka tertawa terbahak-bahak. Oh, tubuhku bergerak sesukanya lagi. Sebelah tanganku terayun ke depan, sedang kepalaku menggeleng tidak jelas. Aku bisa memastikan sekarang aku sedang mengepakkan kedua tanganku. Tentu itu akan membuat mereka semakin senang. Lihat saja tawa mengesalkan itu dari wajah mereka.

            “ Autis! Autis! Autis! “

            Mereka mulai bersorak, sangat menggangguku. Aku terus mundur, dengan kedua tanganku yang menutup telingaku kuat-kuat.

            “ Di… Di.. Diam … “

            Pintaku dengan suara terbata-bata. Bukannya mendengarkanku, mereka berteriak semakin keras. Bahkan tanpa segan mereka semakin mendekatiku, tak merasa takut meski tubuhku hampir dua kali lebih tinggi dari mereka. Menyudutkanku hingga aku harus meringkuk dengan menutup kedua telingaku yang semakin berdengung keras. Sementara seluruh tubuhku bergetar hebat, aku semakin menenggelamkan kepalaku ke sela kedua lututku yang merapat. Sakit sekali, tidakkah mereka mengerti itu?

            “ Diaaam! “

            Aku berteriak keras. Akhirnya mereka diam juga, dan pelan-pelan kuangkat kepalaku. Kupikir mereka sudah pergi, tapi ternyata anak-anak berandalan itu masih juga mengelilingiku. Aku hampir kehilangan harapan, saat sosok pria tinggi dengan rahang mengeras menghampiri kami. Membuat anak-anak itu pergi dengan tergesa.

                         

Mereka benar, aku memang terlahir dengan mental yang cacat, atau kau bisa menyebutnya autisme. Tangisan yang pada umumnya terdengar dari bibir mungil seorang bayi saat pertama kalinya ia mengenal dunia selain tempat sempit yang disebut rahim, aku tak melakukannya. Aku bahkan harus melalui enam tahun penuh hanya untuk menyeimbangkan postur tubuhku agar aku bisa berdiri tegak. Kosakataku sangat minim. Ada saat dimana aku bisa mengucapkan sepatah dua patah kata, tapi aku lebih suka menggumam.

Para dokter dan psikolog menyatakan sindrom ini sejak umurku hampir tiga tahun, setelah kejanggalan pada tubuhku mulai terendus oleh pria itu dimana aku masih juga belum bisa berjalan kala itu. Awalnya ia masih bersikap biasa saja. Semuanya dimulai ketika umurku sepuluh tahun. Saat itu, aku tengah mengikuti pendidikan dasar, tentunya di sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus sepertiku. Aku sudah lupa apa penyebab dari kemarahanku. Yang kuingat, aku sudah membuat beberapa guru pembimbing harus masuk ke ruang inap rumah sakit untuk beberapa hari.

Dan sejak saat itu, tak ada lagi pelukan kasih sayang darinya, tak ada lagi ciuman hangat di keningku, tak ada lagi lagu-lagu pengantar tidur yang sering dinyanyikannya untukku. Semuanya terganti dengan teriakan kekesalan, dengan mabuk yang membuat eummaku harus memperoleh pukulan atas kemarahannya, yang menuduh eumma sebagai sumber utama penyebab ketidaknormalanku.

Kau belum sadar, huh? Kaulah, Lee Jinki! Kaulah penyebab utamanya! Tidakkah kau ingat tiap kali kau mulai kesal karena suara muntah eumma yang kau bilang sangat mengganggumu, kau menyuntiknya dengan thalidome, obat kuno yang kau anggap sebagai solusi tepat untuk mengatasi rasa mualnya ketika ia masih mengandungku. Jika saja kau bisa sedikit lebih bersabar, kau tidak akan memberikan senyawa terkutuk itu. Dan kau tidak akan menanggung malu atas aku yang tidak normal ini.

“ Kibum, berhenti menyakiti dirimu sendiri. Kau tahu itu salah. “

Sebelas alisku terangkat, dan kulihat bayanganku tersenyum mengerti.

“ Jika memang ayahmu membencimu, dia akan meninggalkanmu dari dulu. Tapi pada kenyataannya, ia tetap di sisimu, bukan? “

Aku menggeleng. Ia bertahan di sisiku karena ia sangat menikmati caranya menyakitiku. Lihatlah bekas luka ini, ini bukan pertama kalinya pria itu menyakitiku.

“ Kau tahu kan, dia sedang mabuk saat itu. Apa kau masih ingat ia pernah menggendongmu ke atas ranjang. Bertahanlah, Kibum. Bagaimanapun, dia adalah ayah kandungmu. “

Ayah kandung? Oh, ia hanya orang yang kebetulan memiliki struktur DNA yang sama denganku!

“ Ingatlah Kibum. Kau pernah mendengar ayahnya meminta untuk meninggalkanmu, tapi ia tidak melakukannya bukan? “

Aku menunduk. Tidak, ia memang tidak meninggalkanku. Tapi ia tetap saja brengsek.

“ Dengarkan aku, Kibum. Tatap mataku. “

Matamu? Hei, itu bukan milikmu. Kau hanyalah wajah yang terpantul di atas lapisan cermin. Dan kau sama sekali tak tahu apa-apa.

“ Aku cerminan dirimu. Aku bisa merasakan semua kesedihanmu. “

Kau tidak mengerti! Tidak akan! Rasa sakit ini, rasa sakit saat kau ingin melakukan sesuatu tapi tubuhmu menolak melakukannya. Rasa sakit saat pria itu menyentuhmu bukanlah dengan kasih sayang, tapi dengan pukulan yang meninggalkan luka di sekujur tubuh. Rasa sakit saat pria itu menyakiti eumma, tapi aku sama sekali tak bisa menghentikannya karena sekeras apapun aku mencoba, tubuhku tetaplah diam. Tak bergerak seperti benda mati tak bernyawa. Kau tidak akan pernah mengerti!

****

Sendok berisi kuah sup dimasukkan ke celah bibirku. Lalu, omelette  yang terjepit di sumpit itu disodorkan eumma padaku. Di depanku, pria itu makan dalam diamnya. Tak lagi ia mengungkit permasalahan semalam. Atau lebih tepatnya, ia tak mempedulikan keadaan wajah kami yang sudah bengkak karenanya. Setelah menghabiskan makanannya, ia berlalu dari hadapan kami. Kulihat eumma menghembuskan napasnya, entah ia merasa lega atau sedih karena perubahan sikap suaminya yang tak lagi menunjukkan kehangatannya pada kami.

Mata eumma mengikuti tiap gerakan pria itu. Baru setelah punggungnya menghilang di balik pintu, perhatiannya kembali terfokus padaku.

Eumma… “

Ia terkejut bukan main. Air mata harunya menetes. Aku tahu, ia selalu melakukan hal yang sama tiap kali aku memanggilnya. Karena ia pun tahu, betapa kerasnya aku berjuang demi mengucapkan satu kata sakral itu. Cepat ia menghapus air matanya, kemudian ia meletakkan sumpit ke atas piring. Tangannya mengelus pipiku, sangat lembut.

“ Kau tahu sayang, kau ini istimewa. “

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Meski aku tahu, kata ‘istimewa’ itu hanyalah sebuah kata fana untuk menghiburku. Istimewa? Apa yang bisa diistimewakan oleh penyandang autis sepertiku? Mungkin ada beberapa kasus dimana seorang anak autis bahkan lebih cerdas dari manusia normal. Tapi sekalipun, aku tidak memiliki keistimewaan apapun.

“ Aku mencintaimu, Kibum. “

Aku juga mencintaimu, eumma. Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun dari dunia ini. Oh, ingin sekali kuucapkan kalimat itu padanya, menunjukkan betapa aku sangat berterima kasih pada kesetiaannya menemaniku. Tapi sayang, mentalku tak sejalan dengan isi hatiku. Untuk mengucapkan satu kata saja, lidahku terasa ngilu.

Pipiku basah. Aku tahu aku sedang menangis. Menangisi kenyataan kehadiranku yang tidak sempurna, menjadikan diriku sebagai beban untuknya. Melenyapkan kata cinta yang pernah bersemi di antara ia dan pria itu. Oh Tuhan, kenapa Engkau menciptakanku dalam keadaan menyedihkan ini?

****

            Eumma menangis lagi karenaku. Aku tidak tahu itu untuk keberapa kalinya, tapi aku bisa merasakan kesedihannya yang mendalam karenaku. Baiklah, aku memang cacat mental. Aku memang tak bisa mengekspresikan apa yang kuinginkan dengan baik, kemampuan motorikku sangat tidak stabil. Tapi bagaimanapun, aku adalah seorang manusia. Di balik ekspresi wajahku yang datar, atau kau bisa mengatakannya tampak seperti ‘idiot’, aku masih punya perasaan. Otakku memang tak bisa berpikir normal seperti kalian, tapi sekali lagi. Aku juga punya hati.

Kulihat pantulan wajahku di cermin. Benar, aku kembali duduk di sini sekarang. Di depan cermin besar yang melengket di dinding. Pantulan wajah itulah satu-satunya temanku selama ini. Aku tersenyum padanya, dan ia pun membalas senyumku.

Aku pernah mendengar ini dari eumma. Katanya, dengan bunuh diri, neraka akan langsung menjemputmu. Liang panas berapi-api itu akan langsung menjilatmu masuk ke dalamnya.

“ Kibum, kau tidak akan melakukan apa yang kupikirkan sekarang kan? “

Aku tersenyum padanya. Tidak, aku sudah lelah. Kau pernah bilang pria itu akan mengerti dan menerima diriku apa adanya. Sejujurnya, aku juga mengharapkan itu terjadi suatu saat nanti. Aku juga rela mendapatkan luka yang jauh lebih menyakitkan dari ini, demi mendapatkan elusan hangatnya sekali lagi. Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku tidak bisa melihat eumma menangis lagi.

“ Dengarkan aku Kibum. Ini salah, kau tahu itu bukan? Kau tidak harus melakukannya. “

Ya, aku tahu ini salah. Dari awal kelahiranku, sejak aku mulai menghirup oksigen pertama, semuanya adalah kesalahan. Karena itu, untuk sekali ini, aku ingin menghapus semua kesalahan itu. Aku ingin semuanya menjadi normal, sama seperti sebelum aku lahir di dunia ini.

“ Tidak, Kibum. Ti- “

Ucapannya terhenti saat tanganku memukul cermin itu, memecahkannya hingga berkeping-keping. Untuk pertama kalinya, aku bisa menggerakkan tanganku sesuai keinginanku, setelah melalui perjuangan keras tentunya. Perlahan aku mengambil salah satu dari serpihan kaca itu, memandangi pantulan wajahku sekilas. Terima kasih telah menjadi temanku selama ini. Terima kasih telah mendengarkan seluruh keluh kesahku. Terima kasih telah menghiburku, bayangan Kibum.

Tanpa berpikir panjang lagi, sudut runcing itu kuarahkan di pergelangan tanganku. Kutusuk dalam, hingga akhirnya urat nadi itu putus. Darah mulai merembes keluar, memenuhi lantai. Samar-samar kudengar suara eumma yang memanggilku.

Tangan lembutnya meraih kepalaku, membaringkan di pahanya. Dalam kaburnya penglihatanku, aku melihatnya menangis. Air mata terakhir yang akan kulihat seumur hidupku. Dan kuharap air mata itu adalah terakhir kalinya terhias di wajah cantiknya. Dengan kepergianku, aku ingin eumma mendapatkan kembali kebahagiaannya.

Kulihat sosok berjubah hitam memelukku, mengangkat rohku hingga terlepas dari ragaku. Tidak apa-apa Tuhan. Tidak apa-apa jika Engkau membenci keputusasaan ini. Asalkan Kau bisa membuatnya tersenyum lagi, asalkan pria itu bisa memberikannya cinta seperti dulu setelah aku tiada. Sungguh, jika itu terjadi, jika Engkau mengabulkan permintaan dari lelaki hina yang tak sempurna ini, aku terima melalui berjuta-juta tahun penderitaan di nerakaMu. Apapun, asal eumma bahagia.

I realize if those blessing smile never erased on your beautiful face

Even if there were no me

Saranghaeyo, eumma

-Kibum-

 

EPILOG

Kibum menundukkan kepalanya. Seluruh tubuhnya merinding, ada rasa sakit yang luar biasa saat didengarnya hentakan tangan pria yang jauh lebih tua darinya itu dilampiaskan ke meja. Jinki sesekali melirik ke arah Kibum. Dagunya sudah tersentuh dengan dadanya. Jinki bisa melihat bagaimana anak itu menutup mata sambil menggigit bibir bawahnya.

“ Jadi sekarang dia membuat staff di sana masuk ke rumah sakit? “

Jinki tak menjawab. Matanya tak berpaling pada wajah Kibum yang sudah memerah. Bisa ia pastikan betapa buruknya mood  Kibum saat ini.

“ Sudah kubilang, jangan membawanya ke hadapanku! Dan sudah berapa kali kukatakan, tinggalkan mereka! Aku bisa menemukan wanita lain yang bisa memberimu keturunan yang jauh lebih sempurna darinya! “

Kibum hampir melempar bola tenis yang digenggamnya ke arah lelaki tua itu, hingga tangannya digenggam erat oleh Jinki.

“ Kembalilah ke dalam mobil. “

Kibum masih belum bisa mengontrol emosinya. Dadanya kembang kempis. Baru setelah tatapan tajam itu dihujamkan ke matanya, ia kembali menunduk.

“ Sekarang, Kibum. “

Kibum berlari secepat mungkin. Cukup takut karena ini adalah pertama kalinya sang ayah menatapnya tajam.

Aboji, jangan sekali pun mengucapkan hal buruk di depan Kibum! “

“ Kau pikir dia bisa mengerti apa yang kuucapkan? Sadarlah, Jinki! Dia itu au- “

“ Cukup aboji! “

Jinki mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras untuk menahan emosinya. Biar bagaimanapun, pria di depannya adalah ayahnya. Ia tak mau memperpanjang pertengkaran ini. Seperti biasa, ia akan menunggu waktu yang tepat setelah sang ayah sudah mendinginkan kepalanya. Jinki menutup matanya, menarik keputusan untuk segera meninggalkan rumah itu.

“ Aku akan mencabut seluruh hakmu sebagai pewaris keluarga Lee. “

Jinki tak peduli, ia terus melangkahkan kakinya tanpa ragu.

“ Kau tahu kan reputasiku. Apa kau mau jika itu akan berpengaruh pada mereka? “

            Langkah Jinki terhenti. Tangannya kembali terkepal.

Jinki mengusap wajahnya kasar. Wajah  cantik yang masih tertidur pulas itu ditiliknya seksama, ada bekas kemerahan di pipi itu. Ia menghela napasnya, kemudian  diangkatnya tubuh mungil itu ke atas ranjang dengan pelan. Setelahnya, ia segera bergegas menuju kamar di sebelahnya.

Anak itu tertidur di samping lemarinya dengan posisi duduk. Setelah memastikan Kibum sudah ditempatkan ke ranjangnya, ia segera pergi ke kamar mandi. Di dalam sana ia menekukkan lututnya. Kembali menangis dalam diam.

Ayah macam apa dia? Selalu memberikan luka pada anak semata wayangnya, membuat istrinya harus melalui hampir seluruh malamnya dengan mengompres pipinya yang bengkak.

Ia sudah tahu kondisinya sangat buruk dalam keadaan mabuk, tapi ia selalu mengabaikan itu dan melampiaskan kemarahannya pada berbotol-botol tequilla. Pada akhirnya, ia tetap menyakiti Taeyeon dan Kibum. Dan lebih bodohnya, bukan sekali tapi mungkin sudah keratusan kalinya ia mengulangi kebodohan yang sama.

 “ Jika kau masih bersikeras mempertahankan mereka, jangan pernah menemuiku lagi. Kau akan kuhapus dari daftar pewaris keluarga Lee. Pergilah sejauh mungkin dari tempat ini. Dan ingat, jangan pernah memberikan marga Lee pada anakmu.  Terakhir, jika aku tahu kau memperlakukan mereka dengan baik, jika sekali saja aku melihat wajah mereka, aku tak akan segan-segan memblokir seluruh aksesmu ke seluruh perusahaan di Korea. Kau tidak mau melihat mereka mati kelaparan, bukan? “

Jinki meninju lantai. Kalimat ayahnya itu terus terngiang di telinganya, meski kejadian itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Ingin sekali ia menghentikan seluruh sandiwara konyol ini.  Kembali memeluk keluarga kecilnya itu dengan kasih sayang. Kembali menjadi ayah yang selalu tersenyum lembut, menggendong putra semata wayangnya di atas bahunya, menjadi seorang suami yang selalu menyediakan dadanya untuk menjadi sandaran Taeyeon.

Demi Tuhan, ia sudah lelah. Tapi apa yang harus ia lakukan sementara ia tetaplah seorang suami dan ayah, memiliki tanggung jawab penuh terhadap kelangsungan hidup keluarganya. Memastikan Kibum dan Taeyeon selalu tercukupi kebutuhannya. Memastikan mereka berdua tetap dalam lingkungan yang aman, tidak menjadi gelandangan seperti yang dijanjikan ayahnya.

Jinki memegang gagang pisau kecil  itu dengan erat. Ia sudah meyakinkan dirinya. Kibum pergi karena kebodohannya. Yang ia lakukan hanyalah terus dan terus menyakiti Kibum.  Ia bahkan tidak pernah meninggalkan kenangan manis untuk putranya. Penyesalan selalu datang terlambat, tapi haruskah ini terjadi padanya? Mengapa Tuhan tak memberinya kesempatan sekali saja? Ia ingin bertemu Kibum. Ia ingin memandang wajahnya sekali lagi.

Ujung pisau itu hampir menyentuh pergelangan tangannya hingga sebuah suara mengejutkannya.

“ Kau pengecut, Jinki. “

Kepala Jinki menoleh ke sebelahnya, lalu terhenti saat matanya bertemu dengan sepasang mata lain di depannya.

“ Kau pikir semuanya akan selesai jika kau meninggalkan dunia ini? “

Seluruh tubuh Jinki tak bisa bergerak. Ia hanya bisa memelototkan matanya ke arah bayangan pada cermin di depannya. Sungguh tidak masuk akal. Di cermin itu bukanlah dirinya yang terpantul, tetapi sosok Kibum yang menatapnya tajam.

“ Setelah menyakitiku dan eumma, kau akan melarikan diri. Kau pikir bagaimana perasaan eumma saat ini? “

Jinki tergagap, masih sibuk dengan pikirannya mencerna kenyataan yang ada di depannya.

“ Kau pikir kami akan puas dengan pundi-pundi keuanganmu itu. Kami hanya membutuhkanmu, bukan yang lain. Bahkan setelah aku tiada kau masih belum bisa menyadari itu? “

“ Maafkan aku, Kibum. Aku ayah yang buruk. “

Bayangan di cermin itu menyeringai.

“Jika kau sudah tahu kau sudah menjadi ayah yang buruk untukku, apa menurutmu meninggalkan dunia ini adalah jalan terbaik untukmu? Tidak, Jinki. Kau bisa lebih baik dari itu. Setidaknya, kau masih bisa menjadi suami yang baik untuk eumma.  “

Jinki mengangkat wajahnya. Di cermin itu tampak senyuman Kibum yang lebar. Untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi secerah itu dari Kibum, mengingat sebelumnya lelaki itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.

“ Jaga eumma, aku mohon. “

Segaris lurus bening terbentuk di pipi Jinki. Tubuhnya melemas, ketika bayangan itu menghilang perlahan. Terganti dengan bayangannya sendiri, pantulan wajahnya yang sudah dipenuhi air mata.

“ Apa yang kau lakukan?! “

Jinki masih tak bisa bergerak dari tempatnya, meski ia tahu Taeyon sudah berada di sampingnya. Memandangi pisau di tangan Jinki dengan mata melotot. Sekian detik ia merampas pisau itu, melemparnya sembarangan ke sudut kamar mandi.

“ Apa kau mau meninggalkanku juga? Oh, demi Tuhan Jinki! “

Taeyeon benar-benar kehabisan akal. Kepalanya sudah terlalu berat, ia tahu menangis berhari-hari ikut mempengaruhi kondisi tubuhnya. Ia hampir terjatuh, hingga dirasanya sesuatu telah menopang dirinya. Ia terkesima sesaat, meyakinkan dirinya jika Jinki benar-benar memeluknya.

“ Maafkan aku, Taeyon. Maafkan aku. Maaf. “

Taeyon memukul dada Jinki dengan pelan.

“ Pukul aku lebih keras. Bahkan jika kau ingin membunuhku agar bisa memaafkanku, lakukan saja. Aku mohon, maafkan aku Taeyon. “

“ Bodoh! Bodoh! “

Taeyon memukul dada Jinki lebih keras. Tak begitu lama, karena tangannya segera melingkar di punggung lebar Jinki, sedang wajahnya sudah tenggelam di dada bidang suaminya. Sementara itu, Jinki berbalik ke arah cermin berharap ia bisa menemukan bayangan Kibum lagi. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, saat keinginannya terkabul dan ia bisa melihat bayangan Kibum tersenyum padanya.

“ Aku mencintaimu, appa. “

 

I know you try hard to do the best for me

‘Cause now I can feel this infinite love

Saranghaeyo, appa

-Kibum-

 

END

Note:

            Thalidome itu kudapat pas lagi googling nyari soal autis, dan itu berdasarkan survey, jadinya kumasukin ke dalam cerita saja. Kalo mau tau lebih lengkap soal autis, bisa cek ke sini. http://forbetterhealth.wordpress.com/2009/01/16/autisme/

            Ini udah direview berkali-kali, jadi kalo masih ada typo yah namanya juga manusia. For Kibum, have a happy birthday oppaaa~ Oh ya, jangan lupa memberikan komentar kritik saran yaaaa~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

 

 

101 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] Mirror”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s