[FF KEY B’DAY PARTY] Vodka Rain – Part 2

VODKA RAIN –  PART 2

Written by Zikey

Main Cast: Kim Kibum, Kim Hyeo So

Support Cast: Lee Jinki, Kwon Jiyong, Choi Minho , Kim Jonghyun, Lee Taemin, Tuan & Nyonya Kwon

Genre: Angst, Mystery, Romance

Rating : PG +15 (Rated for Mild Language)

Length: Trilogy

Summary: Mereka ulang tahun, hari ini, keduanya. Dan sebuah kejutan datang, bahkan hingga membuat salah satu dari mereka menangis. Gadisnya tergeletak tidak sadarkan diri dengan darah yang terus menerus meresap ke dalam kasur. Apakah gadisnya bunuh diri, atau kah dibunuh? Tidak ada yang bisa ia percaya, bahkan teman-teman terdekatnya sekalipun.

Recommended Background Songs:

–          Coffee Boy : That’s Nothing

–          Elena : White March

–          Vodka Rain ft Jang Yunju : Nothing That I Could Say

–          Autumn Holiday : I Want To Hold You Like Crazy Sometimes

Pesanku: Aku sedang jatuh cinta sama band indie nya Korea. Lagu-lagu di atas bisa kalian dapet di youtube, channel nya Hummingwaltz. Mungkin buat kalian lagunya agak bikin ngantuk, tapi aku cuma berniat menunjukkan warna lain dari music Korea😀. Harusnya aku partisipasi sama lombanya, tapi aku gak bisa komit kirim tepat waktu. Sanksi nya, FF ini jadi FF sumbangan aja deh ^^. Selamat membaca dan mendengarkan lagunyaaa ^o^

Hyeong, maaf aku mengecewakanmu.”

“Aku tidak mengambil hati atas sikapmu, kami mencoba terbiasa. Jadi, dari mana kita harus mulai?” Onew memberikan segelas coklat hangat. “Oh sebelumnya, apa kamu yakin butuh bantuanku? Maksudku, apa kamu yakin mempercayaiku?”

Hyeong, jangan buat aku ragu!” Onew terkekeh.

“Baiklah, ayo kita mulai.” Key mulai menceritakan segala bentuk hal-hal yang ia ketahui membuat Hyeo So stress, dan beberapa rahasia yang membutuhkan perjuangan bagi Hyeo So untuk menceritakannya.

“Oke, oke sebentar… untuk hal yang satu ini bisa kita bahas secara perlahan? Jadi orangtua Hyeo So saat ini bukan orangtua kandungnya?”

“Ayahnya, ia bukan ayah kandung Hyeo So. Ia membeci orangtuanya, ibu kandungnya dan ayah angkatnya. Awalnya, keluarganya sangat sempurna, hingga keluarganya bangkrut. Keluarganya mulai rusak, orangtuanya mulai bertengkar, kemudian ayahnya bunuh diri dan ibunya menikah lagi. Ia hanya anak berumur 10 yang hanya bisa mengikuti kemauan ibunya, ia terlalu mencintai orangtuanya saat itu. Ia senang melihat ibunya bahagia menikah dengan laki-laki lain, ternyata lelaki itu juga sudah memiliki anak, seorang laki-laki. Kebahagiaannya tidak lama, orangtuanya mulai bertengkar, dan saat itu ia menganggap hidupnya menyedihkan.” Key menarik nafas berat, paru-parunya seperti diremas kuat-kuat.

“Di umur 12 tahun, untuk pertama kalinya, ia merasakan kejamnya hidup. Keperawanannya direnggut oleh ayah tirinya.” Onew hampir tersedak, tiba-tiba ikut merasa sesak. Tidak menyangka orang di sekitarnya mengalami hal-hal seperti yang ia baca di surat kabar atau ia tonton di TV, terlalu menyakitkan untuk diketahui. Onew tidak bicara, meski banyak pertanyaan yang masuk ke kepalanya, ia tidak mau mengganggu Key. “Kakaknya melihat kejadian itu, ia membela sebisa mungkin. Namun ibunya terlalu nyenyak tidur, tidak ingin peduli pada suaminya. Kakaknya dihajar habis-habisan, sayangnya ia berandalan kecil yang belum bisa melawan ayahnya. Semuanya terjadi, tanpa ada yang bisa melawan.”

“Menurut film atau pendapat teman-temanku, gadis yang mengalami luka psikologi mendalam akan bereaksi berlawanan dengan luka yang ia dapat. Maksudku, ia akan secara otomatis benci atau takut kepada makhluk yang bernama laki-laki.”

Key mengangguk, “Aku juga berasumsi sama, aku bertanya, hasilnya… ternyata ia sudah terlalu sakit dengan trauma-trauma itu hingga tidak lagi merasakan apa-apa selain kotor.” Onew mengerutkan alis, menangkap sebuah jawaban. “Itu bukan terakhir kali ia mengalaminya, lebih dari satu kali ayahnya melakukan itu. Semakin ia dan kakaknya memberontak, semakin dalam lukanya. Kakaknya dihajar lebih parah jika ia membela Hyeo So, sementara ibunya menganggap luka itu karena ia suka berkelahi dan menganggap ia hanya membual tentang suaminya.”

“Gila,”

“Lebih dari gila menurutku, sebelum bertemu denganku, hanya satu laki-laki yang tidak ia benci. Kakaknya, yang dibuang ayahnya karena dianggap mengganggu kegiatannya dengan Hyeo So.”

“Dibuang? Secara harafiah? Dibuang?” Onew membeo tidak percaya.

Key mengangguk depresi. “Ayahnya mengajak mereka berlibur, katanya ibunya akan menyusul. Di perjalanan, ayahnya meminta kakaknya untuk keluar, membeli minuman, namun begitu kakaknya turun, ayahnya langsung mengendarai mobilnya menjauh.”

“Sampai sekarang ibunya tidak tahu apa-apa? Tidak mungkin!”

“Itu yang aku pertanyakan sejak kemarin, karena itu aku berusaha meretas catatan harian Hyeo So di laptop-nya.”

“Aaaahh, jadi itu laptop Hyeo So dan sejak kemarin kamu berusaha mengakses jurnalnya?” Key mengangguk, dan saat itu ia kembali teringat dengan perbincangannya dengan Hyeo So.

“Kami pernah membicarakan soal hal, angka, nama, atau apapun yang kami suka, aku sudah mencoba segala jenis tapi tetap tidak berhasil. Terakhir, aku ingat kami pernah membicarakan soal huruf kesukaan kami. Hurufku K-E-Y, aku sudah coba tapi tidak berhasil.”

“Huruf kesukaannya?”

“A, P, R, E.” Kemudian keduanya sunyi, saling berfikir.

“Apre, pare, reap…,” Onew bergumam pelan, “Rape, aep—,”

HYEONG!” Onew tersentak kaget. “Apa katamu barusan?”

“Apa? Apre? Pare? Reap?”

“Bukan-bukan… tunggu…,” keduanya saling memandang.

Rape,”

Jantung Key berdegub lebih cepat dari biasanya, ia hampir tidak bisa merasakan tangannya, namun ia memberanikan diri. Key membuka sebuah folder dengan nama “VODKA RAIN” kemudian sebuah pop up menu muncul, meminta kode rahasia untuk mengakses folder tersebut. Onew mengangguk padanya, kemudian mengetik huruf kesukaan Hyeo So yang mereka rangkai menjadi sebuah kata mengerikan.

Password correct, welcome back Hyeo So!

Hati Key seperti mencelos, tiba-tiba merasa tidak siap membaca seluruh isi jurnal Hyeo So. Melihat keraguan Key, Onew menegur. “Tidak akan ada yang berubah jika kita tidak bertindak,” ucapnya penuh pengertian. Key meneguk ludah kemudian membuka catatan pertama Hyeo So. Sebuah option unsaved document muncul di sebelah kiri jendela catatan Hyeo So.

Save saja, untitled. Kita baca nanti,” usul Onew, Key hanya mengangguk dan menurut.

Semua baik-baik saja di awal catatan, Hyeo So terkesan amat riang setiap menulis catatan. Perlahan Key mengingat kejadian-kejadian yang Hyeo So tulis, ia terlalu mencintai gadis ini.

8, Maret 2009

Hari ini hujan, oh… aku semakin mencintai hujan. Sudah hampir satu tahun, tapi aku tetap mengingatnya dengan jelas. Pertama kalinya aku merasa tersanjung, untuk pertama kalinya seorang laki-laki memberiku jaket, untuk pertama kalinya kami bertemu dibawah guyuran hujan deras.

Key merona malu, mestinya ia baca catatan Hyeo So sendiri bukan bersama Onew. Akan memalukan jika Hyeo So menulis tentang ciuman pertama mereka, dan ya… gadis itu benar-benar menulisnya.

 

23, September 2009

Untuk pertama kalinya! Ya ampun… aku maluuuu!! Hari ini kami merayakan hari kelahiran kami dan hari jadi kami yang kedua tahun, hari ini cukup luar biasa. Pagi-pagi sekali Kibum menjemputku, di samping jadwal padatnya, ia merelakan satu hari untukku. Kami ke taman hiburan, kemudian nonton film, dan makan malam bersama. Aku pikir ia akan menciumku ketika nonton film atau makan malam bersama, tapi ternyata ia menciumku di taman hiburan!! Kami naik kereta gantung, memandangi keramaian taman hiburan dari atas. Kami berdua takut ketinggian, kemudian…. mmmm…. Key bilang ‘aku ingin menikmati pemandangan dari sini, tapi terlalu takut untuk melihat kebawah’, aku mengangguk setuju. Kemudian tibalah saatnya, ia tersenyum padaku dan kami berciuman untuk pertama kalinya. Setelah itu, seperti disihir, kami melihat ke bawah tanpa rasa takut. Oh tentu… dengan rasa malu dan canggung. Kekeke~

“Astaga,” gumam Key malu, membuat Onew tertawa.

“Ayolah Key, ini pengalaman bagus. Hyeo So bahkan tidak akan menceritakan soal perasaannya padamu sedetil ini, bersyukurlah kita bisa membaca catatannya.” Hibur Onew setengah meledek.

“Kita berhenti sampai di sini untuk hari ini,”

“Key! Ayolaaahhh…” Onew membujuk sambil tertawa.

“Tidak tidur?” tanya Onew sambil meletakkan segelas teh hangat di dekat Key.

“Hari ini aku belum baca jurnal Hyeo So,”

“Kan tidak ada peraturan untuk membacanya setiap hari.”

“Memang, tapi tidak akan tuntas kalau tidak rutin aku baca.” Meski hari ini jadwal mereka padat, entah kenapa Onew juga belum merasa mengantuk. Jadi ia menarik kursi ke sisi Key, lalu ikut bergabung dengannya.

“Kadang aku berfikir, bagaimana bisa seseorang menulis catatan setiap hari dengan rutin, tanpa terlewat satu hari pun. Yang lucu, kalian berdua sama-sama suka menulis catatan harian… aku membayangkan kalau kalian menikah, setiap malam saling menulis catatan harian sebelum tidur.” Key ikut tertawa dengan Onew, ia sendiri juga bingung bagaimana sebuah kegiatan menulis catatan bisa menjadi kebutuhan hariannya.

1, November 2009

Semakin menyeramkan, keluarga ini. Aku merindukannya, masih merasa bersalah padanya. Jika saja kami bisa berlari bersama saat itu, aku tidak akan terkurung di keluarga menyeramkan ini. Malam ini terjadi lagi, lebih parah. Ibu tidak lagi memberontak ketika dipaksa melihatnya bermain di atasku, menjijikan melihat wajahnya. Ia tidak lagi menangis dan membelaku seperti sebelumnya, ia seperti perempuan sakit jiwa. Ia tertawa, ia menikmati permainan lelaki itu, ia tidak menjerit melihat anaknya dilecehkan. Amat nista. Melihat seorang ibu menikmati suami barunya memperkosa anak kandungnya untuk yang kesekian kali, kini aku yakin aku membenci mereka berdua, keluarga biadap.

Key dan Onew sama-sama hampir tersedak, ini mengerikan. Keduanya kembali membaca catatan tanggal 1 November, mencari sebuah kenyataan bahwa mereka salah baca, namun tidak berhasil. Apa yang mereka baca benar seratus persen, dan Key tidak mampu lagi membendung amarahnya. Betapa menjijikan orangtua Hyeo So, dan betapa tertekan Hyeo So selama ini terkunci bersama iblis-iblis itu.

“Mau kemana?” Onew buru-buru menangkap pergelangan lengan Key.

“Melapor pada polisi atau menghajar mereka habis-habisan,”

“Tidak akan ada gunanya Key, kita tidak punya bukti kuat untuk melapor pada polisi. Dan kita tidak cukup kuat untuk melawan orangtua Hyeo So.”

“Kenapa? Aku bisa berkelahi! Aku bisa membuat ayah Hyeo So mati ditanganku!” Onew menggeleng lemah.

“Kita butuh strategi, kita tidak bisa melawan dengan tangan kosong.” Key mengerutkan alis, menunggu kelanjutan. “Beritahukan ini kepada anak-anak.”

“Anak-anak?! Hyeong pikir dengan Minho tahu masalah ini dia bisa menghajar orangtua Hyeo So? Hyeong pikir mereka bisa membantu?”

“Kecilkan suaramu Key, mereka sudah tidur,” desah Onew tertekan. “Kita butuh bantuan Jonghyun, Minho, dan Taemin untuk menyusun strategi sementara kita membaca habis jurnal ini.”

“Hyeo So harus menunggu berapa lama agar orangtua biadap itu diadili?!”

“Key, jaga bicaramu, mereka tetap orangtua, lebih tua dari kita. Sekarang lebih baik kamu istirahat, kita bicarakan ini besok bersama yang lainnya.” Onew bertitah, membuat Key bungkam di dalam amarahnya yang ingin meledak.

Mee chen nom (Crazy Bastard), jen jang (damn it), shib seh ggi (Piece of shit)! Tidak tahu malu, bajingan, brengsek!” Onew hanya bisa memejamkan mata sambil menghela nafas pasrah mendengar Key tidak berhenti mengumpat sambil berjalan menuju kamarnya.

“Kita pasti akan menyelesaikan ini Key, aku berjanji Hyeo So akan bebas.”

Kamarnya begitu sunyi, seorang gadis tertidur lelap di antara pot bunga berbagai jenis dan boneka-boneka yang hampir memenuhi setengah ruangan. Sejuk, menarik, kamarnya begitu nyaman dan menenangkan. Setiap kali ia terbangun karena mimpi buruk, ia bisa kembali tidur dengan tenang karena bunga-bunga dan boneka di sekitarnya.

Seorang laki-laki masuk ke kamarnya, menatapnya dengan wajah yang tak mampu dibaca. Perlahan berjalan mendekat melewati susunan pot di sekitar kasurnya, matanya berkaca-kaca melihat gadis menawan yang sedang memejamkan mata itu. Meski tenang, ia tetap melihat sebuah duka dan luka di wajahnya. Jemarinya menyapu helai rambut yang menutupi keningnya, dengan hati-hati menyentuh setiap inci wajah gadis ini. Ia tetap begitu, meski gadis itu mulai bereaksi seakan matanya sebentar lagi terbuka.

Pandangannya masih tak jelas, ia hanya melihat sosok laki-laki dan merasakan sentuhan tangan hangat yang ia tak asing sama sekali. “Oppa…” saat itulah, air mata yang sedari tadi ditahan lelaki itu mengalir juga. Betapa sakit hatinya melihat gadis kesayangannya masih terluka dan tak kunjung sembuh.

Byung shin (dumbass)!” serunya kasar, kemudian keduanya tertawa pelan. “Aku merindukanmu bodoh!” Lelaki itu kemudian memeluk gadisnya erat-erat.

Oppa… aku tidak bisa napas.” Hyeo So berusaha menarik udara melalui mulutnya.

“Maaf, maaf untuk semuanya,” katanya sambil mengendurkan pelukannya.

Oppa tidak pernah salah, aku selalu menyayangimu dan percaya padamu.”

“Terima kasih, apa keadaanmu baik?”

“Aku baik-baik saja, hanya kekurangan banyak darah. Tapi aku sudah tidak apa-apa, aku sudah sehat.”

“Bodoh! Jangan pura-pura sehat, kamu tahu aku tidak suka kan?”

Oppa akan menjagaku kan? Oppa akan di sini terus kan? Jangan tinggalkan aku,”

Lelaki itu melepaskan pelukannya kemudian memandangi mata adik kecilnya lekat-lekat. “Ketika urusannya selesai, aku akan segera menjagamu seperti dulu. Aku berjanji akan menyelesaikannya dengan cepat, sehingga kita bisa kembali bersama-sama. Untuk saat ini, aku hanya bisa bergantung pada Key.” Hyeo So tersenyum padanya kemudian mengangguk. “Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu sampai kembali tidur. Oke?”

“Maaf ya suster, saya jadi jarang kemari.”

“Tidak apa-apa, Kibum-ssi, lagipula anda mengirimkan perwakilan untuk menjaganya. Saya jadi tenang.” Key megerutkan alis pada perawat yang bertugas menjaga Hyeo So. “Anda tidak mengirimnya? Laki-laki kurus, tingginya rata-rata, ia sering kemari.”

“Lee Taemin?”

“Bukan, rambutnya kekuningan, sepertinya belum lama pergi. Mengenakan kemeja biru awan.” Key cepat-cepat berlari keluar, mencari laki-laki yang sesuai dengan ciri-cirinya.

“Hey!?” Panggil Key ketika ia berhasil melihat punggung seorang laki-laki berambut blonde berkemeja biru awan, berjalan semakin jauh darinya. Key mempercepat langkahnya, melewati kerumunan pengunjung dan pasien rumah sakit. “Hey!” panggil Key sekali lagi, namun jalannya tertutup oleh gadis-gadis yang kini mengerumuninya meminta tanda tangan.

Rahang Key mengeras, kepalan tangannya membulat, ia memejamkan mata sebentar sambil menghela nafas keras-keras kemudian tersenyum pada penggemarnya. “Mohon maaf atas keributan yang saya buat di rumah sakit,” Key membungkuk kepada pengunjung paruh baya lainnya yang merasa terganggu, kemudian ia membungkuk sedikit pada penggemarnya sebelum kembali ke ruang perawatan Hyeo So.

“Aku belum boleh pulang?” Hyeo So merengek sambil memainkan apelnya.

“Sabar, kalau perkembanganmu bagus kita bisa cepat pulang.”

“Memangnya aku sakit jiwa ya?” Key terhenyak kaget mendengarnya, intonasinya amat tidak biasa, nadanya bicaranya tajam. “Kamu pikir aku bunuh diri? Karena depresi? Atau kamu pikir aku punya gangguan psikologis?”

“Kamu kenapa tiba-tiba begini?” Key berdeham.

“Aku yang harusnya bertanya. Aku baik-baik saja, lukanya juga hanya luka ringan. Aku ingin pulang, tapi semua orang melarang, malah membuatku berkutat dengan dokter kejiwaan setiap hari. Aku mau pulang!”

“Bukannya begitu, Hyeo Soya. Kami hanya berusaha melindungimu, ini untuk kebaikanmu juga.” Onew ambil suara.

“Aku mau pulang, aku mau pulang, aku mau pulang…” Hyeo So terus-terusan merengek sambil memukulkan apelnya ke pinggiran meja. Onew dan Key berusaha menenangkannya, gadis ini benar-benar sedang tidak dalam kondisi terbaiknya.

Tiba-tiba Hyeo So berhenti, ia seperti merasa kaku. Tak lama, kedua orangtuanya datang, membuatnya meremas apel yang telah rusak bentuknya itu. “Eommonim, abeonim,” sapa Key lalu membungkuk.

“Terima kasih banyak ya Key karena menjaga gadis kami dengan baik. Jika tidak salah dengar tadi, Hyeo So ingin pulang. Bukan begitu sayang?” mendengar suaranya, bulu kuduk Key meremang, amarahnya hampir naik lagi. Menjijikan, nada bicara laki-laki ini membuat Key ingin muntah. Meski samar, Onew bisa melihat tubuh Hyeo So gemetar.

“Tapi ia masih harus melakukan perawatan, pak.” Onew menjawab.

“Oh ya? Bukannya lukanya sudah sembuh? Perawatan apa lagi?”

“Psikologis, ia pasti mengalami luka sehingga bisa melakukan ini.” Key menyahut lantang.

“Psikologis? Kamu pikir gadis kami ini kenapa? Memangnya kami tidak menjaganya selama di rumah? Mana mungkin ia mengalami gangguan atau luka seperti yang kamu bilang.” Tuan Kwon mengelak.

Oppa!” Hyeo So tiba-tiba berseru, membuat yang lain serentak meliat ke arah pintu. Dan di sana, seorang lelaki yang amat familiar bersandar pada dinding dengan lengan disilang di depan dada.

“K-k… Jiyong sunbae….” Key hampir tidak bisa berkata-kata, begitu juga dengan Onew dan kedua orangtua Hyeo So.

“Bukannya kalian ada urusan penting? Tidak takut terlambat?” katanya kemudian menatap kedua orangtua Hyeo So dengan seringai.

“Oh iya, tentu. Hyeo So, kami akan mampir kapan-kapan.” Keduanya baru akan keluar ketika Jiyong mencegat mereka lalu berbisik.

“Bersyukurlah, aku masih menjaga harga diri kalian. Jangan pernah berani menampakkan wajah kalian di hadapanku!” ancamnya tegas, membuat kedua orang itu cepat-cepat pergi.

Sunbae… benar-benar… maksudku… sunbae itu…” Key menggelengkan kepala untuk yang kesekian kali, masih tidak bisa percaya pada faktanya.

“Kamu tidak akan memberitahu siapa-siapa soal ini kan? Bukannya aku malu punya adik sepertinya, hanya belum tepat saja.”

“Jadi benar?”

“Tentu saja. Maaf ya baru memberitahu sekarang, mungkin kalau kita tidak bertemu aku tidak akan memberi tahu.”

“Bukannya kakak Hyeo So itu… beberapa tahun yang lalu…-“

“Oh! Jadi kamu yang mengambil laptop Hyeo So?” Tuduh Jiyong kemudian tertawa. “Untung saja, beberapa hari ini aku khawatir kedua orang tidak tahu malu itu membacanya. Aku sudah bertemu Hyeo So lagi sejak eeeemmm, sekitar tahun 2008. Lucu juga, dulu aku dibuang tapi malah menjadi penyanyi dan sekarang sukses.”

“Sun-sunbae, emm… soal apa yang dilakukan ayahmu kepada Hyeo So itu-“

“Kamu juga mau mencari tahu?” potong Jiyong. “Kalau begitu begini saja, aku sudah mengurus beberapa hal dengan temanku di kantor polisi. Aku punya barang bukti di kamar Hyeo So, jurnal hariannya tidak akan terlalu berguna. Aku akan minta izin kepada Hyeo So untuk melaporkan kasusnya kemudian berusaha membujuk Hyeo So untuk bertemu temanku. Tugasmu adalah membawa barang bukti yang sudah aku sembunyikan di kamarnya, aku akan memberitahumu lokasi persisnya.”

“Kita bisa langsung melaporkan pada polisi kan?”

Jiyong menggeleng, “Aku khawatir Stockholm Syndrome yang diderita Hyeo So lebih parah dari yang aku pikir. Kalau ternyata memang parah, bisa-bisa tuntutannya berbalik pada kita meskipun buktinya kuat. Pembelaan yang akan dilakukan Hyeo So pada lelaki tua itu jauh lebih kuat dari bukti yang kita bawa, karena itu kita harus minta izin dulu. Hari ini aku ada jadwal, jadi pertemuan kita sampai di sini saja ya. Nanti aku hubungi, aku punya nomormu.” Kemudian lelaki dengan senyum menawan itu melambai sambil lalu.

Key masih terdiam di tempatnya, sungguh kecil dunia… kekasihnya adik dari Kwon Jiyong, ketua boyband tenama Korea, Big Bang.

Jiyong berjongkok tepat sebelum meraih pintu, tali sepatunya terlepas, memaksanya untuk mengikat kembali.

“Cappucino!” Jiyong mengerutkan alis, berfikir dengan siapa Hyeo So berbicara. “Hahahaha… oppa yang kalah!” Kerutannya semakin dalam… oppa? Siapa maksudnya? Key? Mana mungkin.

“Ya sudah, aku mengaku kalah. Jadi… bagaimana terapinya?”

“Doh, jangan dibahas! Aku tidak ingin ikut terapi bodoh apalagi konsultasi dengan orang yang menyelesaikan masalah pribadinya saja belum tentu bisa! Eh, bukannya aku sudah bilang aku tidak sakit jiwa?”

“Dasar bodoh. Harus aku jelaskan berapa kali sih? Bukannya kita sudah membuat janji? Dan lagi, kita kan sudah membahas ini sebelumnya.”

“Si bodoh ini, awas saja sampai berani selingkuh,” gumam Jiyong kesal kemudian bangkit. “Hai,” sapanya sambil menyembulkan kepalanya.

Oppa,” sambut Hyeo So antusias.

“Sudah datang ternyata, kalau begitu aku pulang ya.” Onew berjalan untuk meraih tasnya.

“Aku menganggu kalian ya?” Jiyong pura-pura merasa tidak enak.

“Tidak, aku memang sudah ada jadwal setelah ini. Aku bersyukur hyeongnim datang. Sampai jumpa semua,” katanya sambil melambaikan tangan dan berlalu. Jiyong langsung memasang tatapan menuduhnya, Hyeo So merenggut.

“Aku tidak macam-macam, hanya, Onew oppa itu aku anggap seperti oppa. Wajar kan?” Jiyong hanya menggedikkan bahu sebagai respon pada Hyeo So. “Serius!” Hyeo So ngotot.

“Iya iya, aku percaya. Walaupun aku tidak tahu bagaimana supaya bisa percaya…”

Oppa!”

“Iya! Jadi… aku punya hal penting untuk kita diskusikan.” Rautnya berubah serius, kemudian sosoknya duduk di salah satu bangku dekat jendela dan meminta Hyeo So untuk menyusul. Tak selang beberapa lama usai Hyeo So duduk di sebelahnya, ia angkat bicara. “Ayo laporkan,” ia menatap Hyeo So dalam. “Ayo kita laporkan masalah ini kepada temanku, tidak, kepada pihak berwajib. Ayo bertindak,”

“Apa maksudnya?”

“Tidakkah kamu ingin bebas dari kedua manusia biadap itu?”

“Yang benar saja, mereka orangtua kita! Kenapa aku harus pergi menjauh dari mereka? Mereka kan baik, selama ini… memangnya mereka kenapa?” Gadis ini benar-benar membela orangtuanya, membuat Jiyong menghela nafas. Ia sudah menduganya, terlalu dalam luka Hyeo So, ia yakin gadis ini benar-benar akan melindungi kedua manusia bejat itu. Persetan stockholm sindrom!

“Aku akan menambah jadwal terapimu, aku akan mencari terapis terbaik dan konsultan berkualitas. Kita bicara lain kali,” Jiyong hendak berdiri ketika Hyeo So menangkap lengannya.

“Tidak! Aku tidak mau!”

 “Sadari kesalahanmu, baru aku batalkan rencanaku. Hubungi aku kalau sudah sadar, selamat istirahat.” Jiyong mengecup pipi adiknya sebelum menarik lengannya lepas dari genggaman Hyeo So.

Oppa!” panggil Hyeo So marah.

“Istirahat yang baik, jangan lupa renungkan salahmu.” Kemudian Jiyong menutup pintu kamar Hyeo So.

“Aku pikir jadwalmu padat,” ujar Jiyong murung kemudian menoleh ke sisi kirinya.

“Bukannya padat juga sih… hanya… ya, begitulah. Jadi… ia benar-benar mengidap stockholm itu?”

“Kamu menyukainya, kan?” Jiyong tersenyum tanpa perasaan. “Kamu lebih dulu bertemu dengannya daripada Key kan?”

Key meneguk ludah, hari ini ia akan menjadi aktor sehari. Tidak menyangka ia akan benar-benar melakukan adegan ini dalam kehidupan nyata. Key menaikkan maskernya hingga lengkungan tulang hidungnya, memastikan orang-orang hanya bisa melihat matanya, keningnya sudah tertutupi topi kupluk. Bergaya seperti orang sakit akan jauh lebih aman daripada mengenakan topi hitam dan masker hitam, begitu prinsipnya.

Kakinya berhenti di depan sebuah pintu apartemen, tangannya yang dibalut sarung tangan menekan tombol kode, dan pintunya terbuka dengan mudah. Dengan hati-hati ia memastikan tidak ada siapapun di rumah tinggal ini, kemudian ia mulai melangkah masuk.

“Haaahh astaga aku tidak bisa bernafas.” Key membuka maskernya ketika telah berhasil masuk ke kamar Hyeo So dengan aman. “Baiklah… dimana kamera-kamera itu berada.” Key mendekati lemari kaca di pojok ruangan. Berbagai jenis buku tertata rapi, membuat matanya harus jeli mengamati.

“Dapat!” katanya kemudian mengambil salah satu buku tebal berwarna biru. Satu benda ditemukan, kini ia harus kembali mencari di mana letak kamera yang lain. Setelah memasukkannya ke dalam ransel, Key kembali mengitari kamar Hyeo So mencari penyadap yang dipasang Jiyong. “Astaga… semestinya ada yang merekamku, pasti keren.” Key kembali berceloteh ria sambil mencari tiga penyadap yang tersisa.

“Ya ampun, memangnya tidak ada tempat persembunyian yang lebih jelas ya?” sindirnya ketika mendapatkan sebuah kamera besar merekat di langit-langit kamar Hyeo So. “Sekarang, bagaimana caranya melepas kamera itu,” gerutu Key sambil mengambil kursi untuk memanjat. “Andaikan aku 20cm lebih tinggi dari ini.”

“Jung Sik, kamu ada di rumah?”

Key nyaris terjatuh. “Brengsek, sial sekali aku hari ini!” umpatnya sambil cepat-cepat melepaskan kamera tersebut.

“Jung Sika?” suaranya terdengar semakin jelas, membuat Key jadi semakin gugup. Ia menghela nafas lega ketika akhirnya berhasil terlepas. “Jung Sik cepat keluar, aku sedang tidak ingin main petak umpet.” Posisi Key semakin terjepit, namun ketika itu, ia menemukan penyadap yang lain. Sebuah pulpen di meja belajar Hyeo So dan sebuah gantungan pakaian di belakang pintu.

“Awas ya! Sampai aku menemukanmu, pastikan untuk sembunyi sebaik mungkin!”

“Gawat!” umpat Key, ia mulai panik. Ia tidak mungkin bisa keluar dari kamar ini melalui pintu biasa, dan yang lebih tidak mungkin… melompat keluar jendela. Namun ketika suara langkahnya terdengar begitu dekat, Key sungguh tidak memiliki pilihan lain.

“Jung Sik!”

“Sialan,” umpat Key dan pintu pun terbuka.

—Continued—

P.S: Kualitasnya meningkat apa menurun? Kayaknya standar aja ya… meningkat enggak, menurun enggak, bagus juga enggak😥. Feelnya gak dapet ya? Pasti deh. Kalau mengecewakan, tolong ungkapin uneg-unegnya deh.. supaya aku bisa tahu kekurangannya. ^^. Terima kasih.

Catatan:

Stockholm Syndrome merupakan sebuah gangguan kejiwaan yang melanda seorang korban kasus kejahatan semacam penyekapan dan pemerkosaan. Di mana sang korban justru berbalik membela pelaku kejahatan dibanding memasukkannya ke penjara.

Intip-intip:

“Jadi sejak kapan kalian bertemu?” Jiyong mulai bertanya.

“Hanya dua bulan sebelum Key bertemu dengannya, itu juga kami tidak dekat.”

“Cinta pada pandangan pertama, huh?”

“Tidak, hyeongnim salah menilai. Ia hanya menarik perhatianku, membuatku ingin mengenalnya, hanya

itu.”

“Jadi kesan pertama yang baik?”

“Kurang lebih, anggota SHINee yang lain juga bilang begitu. Mereka hampir sama-sama menyukai Hyeo So di saat yang bersamaan.”

“Berarti tidak ada cinta segitiga?”

“Besok, Hyeo So sudah setuju untuk memberi keterangan. Jadi sistemnya bagaimana?”

“Kalian yakin, benar-benar kedua orangtua Hyeo So tersangkanya?”

“Siapa lagi?”

“Video yang kalian berikan itu, aku sudah mengamati dan menyelidikinya. Orangtua Hyeo So memang melakukannya, tapi… penyebab luka di pergelangan tangan Hyeo So.”

“Apa? Sebagus apa alasan yang hyeong miliki sehingga bisa membuatku menerima kenyataannya? Hyeong sakit, aku yakin hyeong sakit jiwa!”

“BAJINGAN!”

“Key, hentikan! Cukup, Key!”

“Keluarga? Aku tidak sudi menjadi keluarganya. DENGAR BAJINGAN! AKU TIDAK SUDI MENGENALMU, AKU TIDAK SUDI MENJADI ADIKMU, AKU TIDAK SUDI MENJADI KELUARGAMU!”

“Hyeoya,”

“Kenapa?”

“Aku mencintaimu,”

“Aku tahu Key, aku juga.”

“Jadi, ayo menikah.” 

“Jadilah istriku, yang pertama dan terakhir.”

Untuk segala kekurangannya harap dimaklum, kritik dan saran saya terima dengan senang hati ^-^

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca ^O^

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] Vodka Rain – Part 2

  1. “Berarti tidak ada cinta segitiga?” — iya.. tp cinta segi banyak.. eehhhh #abaikan

    yg melakukan rape itu bnrn ayah tirinya.. tp yg memotong urat nadi itu…. wow.. jgn2 jiyong???
    soalnya.. dianalisis dr yg intip-intip.. #eh.
    yg ini nih:
    AKU TIDAK SUDI MENJADI ADIKMU, AKU TIDAK SUDI MENJADI KELUARGAMU!”

    bahasanya ringan.. enak bcnya…
    ditunggu lanjutannya

    1. eeehhh hahahha

      Betul sekali😀, waduuuhhh siapa ya kira-kira yang motong urat nadi Hyeo So?:/
      Ah masa? Tapi kenapa Jiyong baik banget sama Hyeo So? Jangan-jangan cuma trik? kkkkk

      siiippp lusa jangan lupa yaaaa ^O^b
      makasih udah mampiiiirr *peluk*

    1. gak apa-apa ^^ yang penting komen di part selanjutnya
      oh ya? aaahh aku jadi seneng dengernya🙂

      siipp lusa yaa.. makasih udah mampir ^O^
      *peluk*

  2. makin seruu… akhir-akhir ini suka susah nemu ff yg alurnya beda dan bahasanya enak dipahami. keren„ aku suka ^^ gak sabar nunggu part 3 nya…

    yaaaahhh… si dubu nambah masalah lagi aah… udah mah si Hyeoso sakit, key emosinya jadi labil, ortu hyeoso yang dalam tanda kutip kurang gila itu, eeh… si dubu malah suka sama Hyeoso. jadi kasian sama abang konci… sabar kunci… sabar… Q_Q

    1. yeeeeyyyy~
      aaahh banyak kok, yang lebih asik dan lebih bagus dari ff ku🙂
      tenang ajaaa lusa keluar kok

      Hahaha.. si onew gak bermaksud nambah masalah kok
      suka boleh kan? yang penting gak ngerebut punya orang lain kekeke
      makasih ya udah mampir ^O^
      *peluk*

  3. emosiku campur aduk baca ff ini…
    seneng, marah, kesel, seneng lagi, kaget, seneng, deg-degan, marah #lah
    klo kualitas mnurut la meningkat kak..hahaha…

    ya ampuun, kaget pas tau si jidi itu abangnya si hyeoso *o*
    dan pas si key mengucapkan kata2 ##### itu aku langsung teringat suatu drama jepang..haha #aneh

    lanjuut! aku penasaran apakah si hyeoso terapinya bakal berhasil apa kagak, dan siapa dalang sebenarnya dari kisah ini. aku jadi curiga member shinee juga ikutan loh ._.

    gak sabar nunggu part terakhiir!

    1. iyaa??
      meningkat? beneran? makasih dhilaaaa.. ah tapi pasti aku menurun di part terakhir,. udah kebiasaan banget ppfftt

      Kkkk.. asik yaahh, aku mau deh jadi adeknya jidi .. ooww cinta mati *Key: Zika!*
      Drama Jepang? Apa?

      Lusa yaaaa jangan lupa baca😀
      doain aja berhasil, biar selesai masalahnya kekeke
      Eh iya, jangan-jangan ada campur tangan member SHINee nih?

      Makasih udah mampir ya Dhilaaaa ^O^
      *peluk*

  4. huwa~~~~~~
    bener-bener daebak ni “Vodka Rain”,,,,
    ga nyangka kalo jreng jreng#soundeffect kekeke
    kalo~~~~ Jiyong jadi oppanya Hyeo so…. hohoho
    intipnya pasti keren tuch,
    yg ngiris nadinya Hyeo So siapa??? Jiyong ato Tn. Kwon,
    aku penasaran~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    1. Hwuaaaaa.. mananya yang daebak?? ^///^
      Hahah aku juga gak nyangka *?*
      Siapa ya kira-kira.. ayo tebaaakkk😀
      Penasaran? Jangan lupa baca next part nya lusa yaaa~

      anyway, makasih udah mampir ^O^

  5. ini keren! dan aku mulai agak bisa baca jawaban misteri yg akan terungkap di part selanjutnya , tapi onyu…semoga jawabannya tdk akan sesuai dengan yg aku pikirkan, semoga…

    1. Serius?? xD
      oh yaaa?? siapa siapa?? Onew? aaahh masa Onew sih?
      kan dia baik bangeeettt *gak terima*
      Jawabannya segera yaaa kekeke

      makasih udah mampir ^O^

  6. coming lagi nih
    suka baca yg psikologi kek hyeso it? ak nyodorin satu buku keren deh, judulny Behind Closed door karya jenny tomlin. true story sih, kisahny hampir persis dgn hyeso. Si jenni ini jg dirape sm ayah tiriny, trus ibuny gak ambil pusing. alah, kok malah promosi ini. ckck

    hore! ini cerita romance, tau banget sih Zika otakku lg gak mood buat ff misteri haha.
    dan hey, ap Jiyong yg ngiris tangan hyeso? ap dy ngelakuin it biar kasus ayah tiriny yg bejat it trungkap cepat.
    biar ak tebak, hyeso sm onyu ku? no! jangan yah, masa suamiku berpaling k hyeso
    part 3 update lusa? yey!

    1. Boraaamm😀
      Behind Closed Door karya Jenny Tomlin ya? Aku kemarin nyari buku yang ceritanya semodel sama ide ceritaku buat vodka rain tapi gak ketemu. eeehh sekarang baru dapet dari Boram hehehe.. makasih ya Boram ^^
      nanti aku cari. Kalau ada rekomen buku bagus lagi, genre apapun, ditulis siapa pun, terbitan manapun, kasih tahu aku yaaa~

      Kekeke.. aku sendiri juga gak jagi bikin yang misteri gitu ram
      emang ada hubungannya? kalau Jiyong yang ngiris artinya dia juga salah dong?
      enggak tenang aja, hyeoso teteeeepp… dari dulu-dulu endingnya sama Key kok kkkk~
      Baca yaaaa

      makasih udah mampiiirrr ^O^

  7. Tarrraaaa reader paling kece *ditendang* balik lagi😀
    aku gamau ambil pusing sama masalahnya, yg pasti aku mau mengomentari jalan ceritanya. Lg gamau tebak2an .-.
    Acieh GD jd kakaknya, cuy. Hyeoso beruntung banget. Pacarnya Key, kakaknya GD. Azzz -.-
    Idih yg pemerkosaan itu bkin aku pengen marah2 .-.
    Zikey eon (zikey cewek kan? #dor), kasih tau di mana alamat dan bagaimana rupa ayah tirinya si hyeoso! Aku mau kirim boneka voodoo (?)😄
    kualitas? Sebenernya bagus, tp gatau kenapa lebih suka yg pertama kekeke. Tp yaudahlah, tiap org kan beda2 feelnya😀 gada yg salah sm ceritanya. Bkin gereget. Btw, password si hyeoso mengerikan -_-

  8. akhirny sempet jga bacanya
    kayaknya aku sangat telat baca part 2 ya? smpe part 3nya udh keluar
    daebak
    udh dulu ninggalin jejakny, mau berjelajah di part 3 dulu Thor ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s