House Next Door [2.3]

House Next Door [2.3]

Author             : ZaKey

Main Cast        : Kim Jonghyun, Lee Jinki

Support Cast    : Lee Taemin

Length             : Trilogy

Genre              : Friendship, Fantasy, Horror

Rating              : General

Summary         : Ketika bulan baru, pemilik rumah akan keluar untuk memanggil-manggil nama mendiang istrinya.

 

Lewat cahaya samar lampu jalan dari jendela, wajah itu tampak sepucat kertas. Tempat yang seharusnya ada mata hanya terdapat dua lubang kecil hitam, menganga kosong. Bibirnya yang tampak dijahit dengan benang hitam tebal membuka begitu melihat Jonghyun.

Jonghyun menjerit seperti perempuan, bahkan ia menyadari itu. Tapi tak ada cukup waktu untuk menyesalinya; ia menarik tangan Taemin berdiri, tapi anak yang lebih kecil itu tidak bergeming.

“Cepat, Taeminnie!”

“Kakiku ditarik, Hyung!” balas Taemin menjerit. Jonghyun merunduk tepat saat tangan kurus terayun padanya, berusaha meraih kepala atau lehernya.

Aish!” Jonghyun melepaskan pegangannya pada tangan Taemin. Ditangkap sendirian sudah buruk, tapi ditangkap berdua sangat amat buruk. Jonghyun merangkak dalam kegelapan, bergidik tiap kali jemarinya merasa lapisan debu di bawahnya. Tangannya menggapai-gapai, berharap menemukan sesuatu untuk menyelamatkan diri.

Wajah tanpa mata itu menoleh pada Jonghyun. Bibirnya tertarik kaku ke atas, membentuk senyum mengerikan yang nyaris menyobek bibirnya sendiri. Langkahnya terhuyung menuju Jonghyun, mengulurkan kedua tangan sekurus pohon pada kegelapan tanpa terarah.

Jonghyun berguling ke samping begitu tangannya menyentuh satu tongkat besi yang dingin. Meski kegelapan meliputinya, ia bisa merasakan keberadaan makhluk itu; ia berdiri tanpa suara, menunggu makhluk itu membungkuk ke tempatnya tadi berada, lalu menghantam bagian belakang kepala sekuat tenaga.

Makhluk itu terayun-ayun sebentar tanpa kendali tapi masih mampu berbalik ke arah Jonghyun. Cahaya semerah api muncul bagaikan batu bara di kedua lubang matanya. Bibirnya terbuka sedikit, menggumam sesuatu yang rendah dan serak.

“Penyusup.”

Jonghyun menjerit sekali lagi, kini memukul wajah makhluk itu dengan segenap kekuatan dan keberaniannya. Terdengar derak sesuatu yang patah, kemudian makhluk itu ambruk ke lantai dan menciptakan kabut debu yang bergulung di udara. Jonghyun menghembuskan napas pelan dan menoleh ke kegelapan.

“Taeminnie?”

Hening.

Ketakutan mulai menjalari tubuh Jonghyun. Mendadak ia tak bisa melihat apapun lagi; tangannya menggapai-gapai lantai, daun pintu, bahkan bagian luar pintu. Nihil.

Hyung!”

Jonghyun tersentak merasakan sentuhan di lengannya. Rasa lega menghangatkan wajahnya. “Taeminnie…”

Sentuhan di tangannya menguat; bukan cengkraman ketakutan dan rapuh milik Taemin, melainkan kekuatan tidak manusiawi yang begitu dingin. Jonghyun menyipitkan mata, terkesiap melihat satu lagi makhluk serupa berada di dekatnya.

Makhluk tersebut juga tidak mempunyai mata, tapi tidak ada benang yang menyatukan kedua belah bibirnya. Sebagai gantinya, benda sejenis peniti menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk senyum mencapai mata – dalam arti harfiah.

“Lepaskan aku!!” pekik Jonghyun panik. Sudut matanya melihat si mulut berjahit mulai bergerak dan berusaha bangkit; hidungnya bengkok dan pipinya penyok, tapi matanya masih membara.

Hyung, aku takut!” suara Taemin berasal dari dalam mulut terbuka makhluk yang mencengkram Jonghyun. Makhluk itu menyeringai – sulit dijelaskan mengingat bibirnya memang membentuk senyum lebar – melihat wajah ketakutan Jonghyun.

“Kenapa kau tidak menyelamatkan adikmu, Jonghyun?” suara itu begitu dalam dan kuat, mempengaruhi jiwa terguncang Jonghyun, “kenapa kau melepaskannya? Kenapa?”

Jonghyun menggertakkan rahang, sekuat tenaga meronta namun tetap tidak bisa melepaskan diri.

Si mulut berjahit sudah berdiri di belakangnya. Menjulang sekepala lebih tinggi daripada Jonghyun.

“Penyusup.”

Jonghyun menoleh ke belakang, melebarkan mata melihat tongkat besi yang tadi digunakannya kini mengayun keras ke arahnya.

~~~

“Jonghyun-ah?”

Jonghyun perlahan membuka mata. Ruangan di depannya sempit, tapi ada sedikit penerangan untuk melihat tumpukan buku dan kertas-kertas usang di sekitarnya, juga sesosok anak lelaki…

“Jinki!!”

Jinki tersenyum lebar, “syukurlah kau mengenaliku. Kepalamu berdarah.”

“Kau baik-baik saja?”

“Hm? Ya, begitulah,” Jinki tertawa kecil, “bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu?”

“Hei, kau tahu kenapa kita disini? Bagaimana kau dibawa kesini? Ini dimana? Taemin – “

“Satu-satu, Kawan,” Jinki menaik-turunkan bahunya untuk menghentikan rentetan pertanyaan Jonghyun. Jonghyun membuka mulut lagi, bermaksud bertanya mengapa tangan Jinki – juga tangannya – terikat, tapi Jinki menjawab,

“Pertama, aku tidak tahu kenapa kita ada disini. Kedua, aku ditarik oleh sulur monster ke dalam halaman rumah kemudian diseret oleh dua makhluk mengerikan. Ketiga, kita berada di loteng. Dan soal Taemin…” Jinki mengangkat bahu menyesal. “Maaf, aku tak tahu.”

“Oh, sial. Aku yang membawanya kesini tapi aku yang membuatnya dalam bahaya. Teman macam apa aku ini?” gumam Jonghyun sambil merenggangkan kedua tangan, berusaha melepas ikatan dengan sia-sia. Matanya mulai memanas. Ketakutan kembali mencengkram tubuhnya.

Jinki mengerjapkan mata, “maksudku aku tidak tahu Taemin yang mana. Saat kau dilempar kesini, seorang anak kecil diambil keluar lagi. Anak malang; dia terus menangis melihatmu.”

“Itu dia! Itu yang kumaksud dengan Taemin! Dia dibawa kemana?” sahut Jonghyun cepat. Matanya mencermati sekali ruangan tempatnya disekap. Dindingnya dipenuhi kliping koran, begitu pula lantainya. Tidak ada pintu. Tidak ada jendela. “Bagaimana aku masuk tadi?”

“Lewat tingkap di bawah kita. Kau lihat celah kayu sempit itu? Dari sanalah pencahayaan ruangan ini,” jelas Jinki tenang. Sikapnya mengingatkan Jonghyun bahwa ia sebenarnya membenci Jinki, tapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu.

“Kita harus segera keluar, Jinki-ya.” Jonghyun beringsut mendekati Jinki dan memunggungi anak lelaki itu. “Buka ikatan tanganku dulu.”

“Kau lupa tanganku juga diikat?”

“Tidak, tapi dengan inilah kita bisa kabur secepat mungkin.”

“Aku mengerti.” Jinki juga beringsut, sedetik kemudian Jonghyun merasa pergelangan tangannya disentuh oleh jemari hangat Jinki yang berusaha mencari simpul ikatan.

Diperlukan waktu beberapa menit sebelum Jonghyun bebas. Diselingi gerutuan sebal dan protes karena tangannya pegal, Jinki berhasil membuka ikatan tangan Jonghyun. Jonghyun cepat-cepat berbalik lalu melepas tali Jinki. Mereka berdua berdiri, mengerang karena kaki kesemutan.

Well, kita sudah bebas. Bagaimana cara kita keluar?” nada bicara Jinki seakan menanyakan bus yang akan membawa mereka berwisata; ceria dan ringan. Jonghyun meliriknya sebal.

“Jonghyun hyuung!!”

Jonghyun mendongak, merasa dadanya berdebar kencang mendengar suara Taemin disusul bunyi bedebum yang keras dan mengerikan. Ia melirik Jinki, yang juga tampak shock. Tanpa pikir panjang ia berusaha menarik tingkap di lantai sekuat tenaga. Tidak bergerak.

“Kau bodoh.”

What? Di saat seperti ini kau masih memanggilku ‘bodoh’?” seru Jonghyun kesal.

“Kau bodoh karena belum menarik gerendelnya.”

“Oh, benar.” Jonghyun menarik palang berkarat itu, lalu kembali menarik tingkap kayu. Dengan mudah papan itu meluncur membuka dan kepulan debu langsung menghujaninya.

Jonghyun tak peduli. Setelah terbatuk-batuk sejenak, ia mencengkram pinggiran lantai dan menjatuhkan tubuhnya setelah itu membantu mengeluarkan Jinki. Mereka berada di ruangan asing, kotak kayu rendah dengan dua lilin menyala di atasnya mengapit pigura buram di salah satu sisi dinding.

Hyung!!”

“Darimana suara itu berasal?” tanya Jonghyun kalut. Suara Taemin menggema di seluruh ruangan.

“Aku tidak tahu,” Jinki berjalan menuju kotak kayu tersebut dan mencabut salah satu lilin, “tapi kita butuh penerangan.”

Untuk sesaat Jonghyun dan Jinki hanya berjalan tanpa arah, mengibas-ngibaskan lilin untuk mencari pintu keluar. Kemudian terdengar derak pelan, seperti seseorang berusaha membobol pintu kayu.

“Jonghyun-ah…” panggil Jinki pelan. Ia berusaha keras tidak mengindahkan suara itu.

Jonghyun tidak mendongak dari kenop pintu yang sudah ia temukan. “Hmm?”

“Berhentilah membelai tengkukku. Geli sekali.”

“Apa? Kau tidak lihat kedua tanganku berusaha membuka pintu ini? Aish, susah sekali!”

“Lalu di belakangku siapa?” Jinki mencengkram pundak Jonghyun dengan tangan yang bebas, lalu perlahan menoleh ke belakang. Tak sampai sedetik kemudian ia menjerit histeris.

Lilin yang dipegang Jinki jatuh, tetapi Jonghyun masih dapat melihat apa penyebab teriakan Jinki; seorang manusia yang tidak bisa disebut manusia. Wajahnya pucat nyaris kebiruan, terkoyak disana-sini termakan belatung. Kulitnya terkelupas, mulutnya hanya berupa lubang menganga tanpa bibir, rongga matanya kosong, tempurung kepalanya dihiasi gumpalan rambut kelabu sepunggung.

Makhluk itu menyeringai, memamerkan deretan gigi kekuningannya.

“Lari! Lari!!”

Jonghyun dan Jinki berlari ke arah yang berlawanan, menabrak-nabrak tembok berharap menemukan lubang keluar lain yang lebih efisien. Makhluk itu berjalan terseok-seok; tiap langkah yang diambil menimbulkan bunyi daging bergesekan dengan kayu.

Jinki meraba-raba dinding yang dingin dan licin oleh lumut, lalu terjengkang ke depan; kakinya menginjak udara kosong dan ia terguling-guling turun di anak tangga yang penuh debu. Suaranya cukup untuk membuat makhluk itu menoleh dan mengejarnya.

Jonghyun menahan napas. Bagaimana ini? Ia sudah mendapat kesempatan untuk lari tapi ia ragu meninggalkan Jinki sendirian. Jonghyun mundur beberapa langkah, terkesiap ketika punggungnya menabrak sebuah lubang kecil. Ia berbalik dan merunduk. Lubang lift makanan menganga disana, mengundangnya untuk segera turun.

Hyung!!”

Jonghyun tak lagi ragu memasuki lubang tersebut; suara Taemin berasal dari bawah.

~~~

Jinki mengusap-usap kepalanya, setelah itu mendongak; makhluk serupa hantu tadi sudah mengejarnya, menuruni tangga disertai bunyi-bunyi mengerikan. Jemari kurus panjangnya mencengkram selusur tangga. Bibirnya terbuka sedikit dan cairan pekat mengalir dari sana.

Kaki Jinki gemetar hebat, ia harus berusaha keras untuk beringsut mundur, terus mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Jinki merutuki sempitnya dan gelapnya ruangan ini; ia tak bisa melihat apapun selain dua rongga mata yang bersinar biru milik makhluk itu.

Kkkaauu….

Jinki terkesiap keras mendengar desisan dingin itu. Makhluk itu sudah berada di anak tangga terbawah sementara Jinki hanya mampu beringsut beberapa sentimeter.

Makhluk itu merunduk dan merentangkan kedua tangan ke depan. Mulutnya terbuka semakin lebar hingga ujung bibirnya sobek dan sinar matanya makin terang.

~~~

Hyung!!”

Jonghyun mengumpat pelan, cepat-cepat bangkit dari dasar lantai dan melompat keluar dari lubang. Ruangan tempatnya berpijak sangat luas, dengan perapian menyala di seberang ruangan. Dengan bantuan api itulah Jonghyun dapat mengedarkan pandangan untuk mencari Taemin.

“Taemin!” Itu dia. Terikat di salah satu kursi bersandaran tinggi. Wajahnya sepucat mayat dan basah oleh air mata.

Jonghyun tak pernah merasa selega itu; ia berlari ke arah Taemin dan dengan tangan gemetar membuka ikatan di belakang kursi. Ia baru saja membuka mulut ketika terdengar langkah kaki dari belakangnya.

“Penyusup.”

Jonghyun menoleh, lalu reflek berguling ke samping ketika ayunan tongkat besi mengarah padanya. Tongkat itu mengenai puncak sandaran kursi, meninggalkan bekas berupa koyakan samar.

Itu makhluk berbibir jahit yang tadi! pikir Jonghyun panik. Ujung hidungnya yang dihantam Jonghyun kini tak lagi bengkok, melainkan sobek dan tergantung-gantung di pangkal hidung. Matanya semakin membara saat menatap Jonghyun. Ia melangkah maju dan kembali mengayunkan tongkatnya.

Hyung, tolong aku!!”

Jonghyun nyaris putus asa. Di satu sisi ia harus menyelamatkan diri, tapi di sisi lain ia tidak mungkin meninggalkan Taemin sendirian. Jonghyun tiarap saat sekali lagi makhluk itu menebas kepalanya dengan tongkat besi. Tangan Jonghyun terulur dan dengan segenap keberanian menarik kaki kurus si mulut berjahit hingga terjatuh dengan suara keras. Tanpa membuang waktu Jonghyun berlari ke arah kursi Taemin.

Kebebasan itu hanya berlangsung lima detik; si mulut berjahit itu sudah berdiri lagi, kebingungan karena Jonghyun sudah tidak ada di tempat semula.

Hyung, aku….”

“Sshht, tenanglah. Aku akan melepas ikatanmu.” Jonghyun menarik simpul tali hingga terbuka. Ia memutar ke depan kursi dan menarik Taemin sampai berdiri.

Hyung….”

“Kita harus segera lari dan mencari Jinki, setelah itu kabur!” Jonghyun menggamit lengan sweater Taemin. Matanya masih terpaku pada makhluk yang sibuk mencarinya di balik lemari-lemari.

Hyung, aku bukan Taemin.”

Apa?

Jonghyun menoleh dan menyadari bahwa Taemin telah berubah menjadi si mulut peniti yang dilihatnya di ruang depan tadi. Makhluk itu terkekeh kejam.

Suprise!!

~~~

Jinki menahan kedua bahu makhluk yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia meringis merasakan cairan dingin dan lengket yang mengalir dari bibir makhluk itu mengenai bajunya. Makhluk itu kini berada di atas Jinki, menjepit tubuh anak lelaki itu dengan tubuhnya sendiri yang ringkih dan hanya tulang berbalut kulit. Ia menyeringai.

Kkkauu… haruss jaddii milikkuu….” desisnya. Jinki mengernyit mencium bau busuk. Bahkan dari jarak sedekat ini pun makhluk itu terlihat teramat jelek: hidungnya mencuat dari wajahnya yang tak berbentuk, rambutnya basah seperti rumput laut, dan kulitnya dipenuhi gumpalan bisul.

“Menjauh dariku, makhluk jelek!!” pekik Jinki. Ia mengumpulkan kekuatan dan, menggunakan kaki, menendang perut makhluk itu hingga pegangannya dari leher Jinki terlepas. Kesempatan itu digunakan Jinki untuk segera menggapai dinding dan melompat berdiri. Baru saja ia berbelok untuk kabur, tangan sekurus ranting kering menahan pergelangan kakinya.

Jinki terkesiap. Tangannya meraih apapun yang ada di depannya dan mengayunkan sekuat tenaga pada makhluk itu. Cengkraman di kakinya melonggar, dan desisan seperti tabung gas bocor memenuhi ruangan itu. Jinki membuka mata takut-takut. Tangannya menggenggam sejenis pedang  yang ditemukannya di atas rak pajangan. Ia menunduk, melihat kepala yang sudah terpisah dengan tubuhnya. Mata kebiruan itu masih memancar kuat ke arah Jinki.

Jinki tidak punya dan butuh penerangan; tanpa ragu ia mengambil kepala itu dan menentengnya seperti lentera. Tidak buruk – jauh lebih baik daripada lilin yang bisa memendek. Jinki mengarahkannya ke deretan pigura di dinding, menyadari bahwa ia sedang membawa kepala istri pemilik rumah.

~~~

Jonghyun terkesiap saat tangan kurus kedua makhluk itu meraba-raba wajahnya. Ia sudah tertangkap dan didudukkan di kursi tempat Taemin gadungan tadi disekap. Apa yang bisa ia lakukan? Perlawanannya sia-sia dan keadaan menguntungkan lawannya karena ia tidak mengenal tempat ini sama sekali. Tapi setidaknya Jonghyun berhasil menyarangkan satu pukulan ke si mulut peniti hingga satu penitinya terlepas dan sudut mulutnya tergantung mengerikan.

“Kau akan jadi seperti kami!” Terdengar tidak jelas karena mulutnya sobek sangat lebar, tapi cukup membuat Jonghyun nyaris menangis putus asa. “Pemilik rumah akan senang jika pelayannya bertambah; rumah akan selalu terjaga dari anak-anak nakal sepertimu,” lanjutnya histeris.

“Jonghyun-ah, kau disini?”

Jonghyun mendongak mendengar suara yang amat dibenci namun sangat dinantinya itu. Ia nyaris tersenyum dan, dari balik jemari kurus si mulut berjahit yang membekap mulutnya, berseru keras:

“Jinki-ya, aku ada disini! Cepat selamatkan aku!”

“Penyusup.” Makhluk jangkung itu mendesis pelan. Melepaskan cengkraman dari bibir Jonghyun, ia berjalan tertatih menuju sosok Jinki yang berkelebat di balik tirai dengan cahaya kebiruan di tangannya.

“Aku hampir lupa dengan yang satu itu,” cibir si mulut peniti. Ia tidak tertarik dengan Jinki; ia membungkuk di dekat kaki Jonghyun dan meraih potongan kayu lantai yang terlepas.

Jinki menyibak tirai penuh sarang laba-laba dan tersenyum lebar pada Jonghyun.

Kehadirannya sontak membuat dua penghuni rumah histeris. Si mulut berjahit tersandung lalu jatuh ke lantai, sementara si mulut peniti memekik histeris dan menjatuhkan kayu di tangannya. Jonghyun mengerjapkan mata, memfokuskan pandangan dengan apa yang ada di tangan kanan Jinki.

“Jinki-ya, kau membawa kepala!!”

“Aku tahu,” Jinki berjalan tenang melangkahi makhluk yang menggelepar shock di lantai dan mendekati Jonghyun sambil menyorotkan dua mata seterang lampu. Ia tertawa pelan, “Kelihatannya pemilik rumah menyimpan mayat istrinya di dalam rumah ini. Kualih-fungsikan sebagai pengganti senter. Ide cemerlang, bukan?”

“Sama sekali tidak, bodoh! Kau jenius tidak waras!” pekik Jonghyun ngeri melihat darah sehitam tinta mengucur dari bagian bawah leher kepala itu.

“Penyusup. Membunuh Nyonya Kang.”

Jinki menoleh, tepat waktu untuk menghindari sergapan si mulut berjahit. Ia berguling ke samping; kepala yang ia bawa terayun pelan dan terantuk lantai di belakangnya. Pekikan serta desisan ngeri terdengar, kemudian kedua penghuni rumah mengejar Jinki secara membabi-buta.

“Kau tidak bisa membunuhnya! Kau tidak boleh membunuhnya!”

“Penyusup. Harus dihancurkan.”

Jonghyun menggeliat dari ikatannya di kursi. “Jinki-ya, lari!!!”

~~~

Jinki mendengar teriakan saling bersahutan di telinganya. Semua ditujukan padanya. Ia berlari melintasi ruangan menuju dekat jendela bersaput debu, meringis mendengar keriut di belakangnya. Ia kembali terpojok; jendela ini terletak di satu cekungan yang hanya bisa memuat tubuhnya, dan jika kedua penghuni rumah mengepungnya, riwayatnya akan tamat.

Tidak tamat sama sekali. Jinki melirik kepala di tangannya. Insting mengatakan bahwa kedua makhluk aneh ini sangat bergantung pada kepala istri pemilik rumah – terlihat jelas dari bara api di mata mereka yang sangat bernafsu mengejarnya. Berarti jika ia membawa kepala ini ke tempat yang berbahaya…

“Jinki-ya!!”

Jinki mendongak, menatap Jonghyun yang menggerakkan dagu ke salah satu sisi ruangan. Dan itu adalah… perapian. Benar juga. Jinki merunduk tepat ketika dua tangan – entah milik siapa – terulur padanya. Dengan setengah merangkak Jinki menerobos di antara kedua kaki yang terentang. Ia baru akan kembali berlari ketika kepala di tangannya ditarik dengan paksa.

“Penyusup.”

“Aaah!” Jinki menjerit saat anak lelaki dengan bibir berpeniti itu menarik dan menduduki lengannya sementara rekannya berusaha melepaskan cengkraman jemari Jinki dari seikat rambut kepala terpenggal itu. Jinki menggelepar di lantai, mengernyit dengan dinginnya kulit-kulit keriput itu di ujung jarinya.

“Hei, orang-orang bodoh! Kau tak lihat aku sudah bebas?”

Teriakan Jonghyun sontak membuat makhluk berpeniti itu berdiri dan cengkraman di jemari Jinki melonggar. Hal itu, tentu saja, tipuan yang segera disadari oleh kedua penghuni rumah, tapi cukup bagi Jinki untuk segera menarik tangan berikut kepala dan berlari menuju perapian yang memperlihatkan api menari-nari di dalamnya.

“Penyusup.” Bagaikan pemain futbol, si mulut berjahit berlari mengejar Jinki, hanya dengan dua detik mampu meraih kerah belakang kaos Jinki. Jinki memekik pelan.

“Lempar, Jinki-ya, lempar!!”

Tarikan tangan si jangkung sangat kuat hingga Jinki nyaris terjengkang ke belakang, tapi ia segera mengayunkan tangannya ke depan dengan seluruh tenaga.

Waktu terasa berjalan lambat. Kepala itu terlontar berputar-putar di udara; cahayanya menyorot langit-langit, dinding, dan lantai secara bergantian. Membentuk parabola dari tempat Jinki berdiri ke arah perapian. Melambung tinggi, lalu turun, terus turun dengan kecepatan tinggi, dan terakhir mendarat dengan derak keras di… sofa samping perapian.

Jinki mengerjap tak percaya, menatap dua bola mata bercahaya itu yang duduk manis di atas sofa, sedikit miring seakan mempertanyakan akurasinya yang payah.

Jinki melongo. Jonghyun mendesah putus asa.

Dua penghuni rumah menyeringai senang.

..::To be Continued::..

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

30 thoughts on “House Next Door [2.3]”

  1. ajegile.. Aku jatuh dalam pesona ff ini..#lebe
    tapi betulan kq..
    Hwa.. Menegangkan pake bgt.. Taemin kmn??
    Next ditunggu..

  2. aseli beneran gak bohong aku merinding sampai kata to be continued tertoreh di akhir cerita. masya Allah…
    untung gue gak baca malem hari ya ampuun! baca sore aja merindingnya udah asoy bgini…
    gatau lah ya, tpi yang jelas, imajinasi aku terlampau berbahaya. bahkan cuma baca 10 kata perdetik untuk melewatkan pendeskripsian si ‘monster-hantu’ itu, aku tetep bisa kebayang bentuk si hantu gimana persisnya. ya ampuun! berasa mulut cadaver yang kulit dan ototnya udah diangkat..hiii~~~~~

    paling takjub itu pas si jinki menenteng kepala si nyonya pemilik rumah gaje itu… alamaaak #joget2gaje

    mencekam! sungguh! kerasa ada pergesekan di setiap penjalaran darah di pembuluh darah kuduk saia. *o*

    lanjuut! next part ending kan yah? oke, aku penasaran!

    1. Padahal ini cerita anak-anak. Masih terlalu serem ya? Haha, tapi ya jangan disamain sama cadaver dong. Denger cerita dari kakakku kayaknya sangat amat menyeramkan -_-

      Makasih 🙂

  3. author…. Ini Ff daebakkkk , pendiskripsiannya keren thor \m/… Aq aj sampe kebawa ma alur ceritanya…
    author daebak laahh Kekeke…
    Waktu bagian pas rupa hantunya dipaparkan, Kyk gtu aja dah kebayang gimana bentuknya… Iiihh ngerii…

    eeh…taemin nya ada dimana tuhh ? Kasian bgt, ilang sendiri… Pasti ketakutan, atau mungkin pingsan #ooppss

    aq ngakak pas jjong bilang “Sama sekali tidak, bodoh! Kau jenius tidak waras!” . . .muahahaha… Lagian kepala bwt penerangan… Saking pinternya jinki tuhh… Ga ada penerangan lain, kepala pun jadi… Kekeke

    pokoknya keren laahh… Cepet lanjut yaaa…

  4. ketegangan akan meningkat berkali lipat kalau dibaca hampir tengah malam. Dan ini aku bingung tidurnya gimana kalau masih kebayang monster2 mengerikan itu… Huooo…. Author jjang-eyo jjang!!

  5. demi apa bacany sampe merinding nasional. oh men, gila!
    Deskripsiny KECE sumpah!
    Iyah, ak serasa baca goosebump terbaru padahl trakhir bca pas smp.
    DAEBAK Za!
    tp ak masih gak ngeh kenapa jdulny house next door, ap ak yg rada mumet aja gitu yah. haha

    1. Kenapa judulnya House Next Door? Simple, soalnya rumah itu ada di depan rumah Taemin *nah loh*. Lagian aku nggak punya sense bikin judul, makanya apa yang ada di pikiranku aku tulis aja, hehe 😀

      Makasih ya, kak Boram ^^

  6. *injek mulut jahit ma muka zombie!! kau apakan taeminkuu~ adik ipar tersayangku~
    >>kemudian pintu yang menghubungkan ruangan di depan jonghyun terbuka.. sesosok gadis berambut merah pendek dan bermata bulat menghampirinya sambil tersenyum. tangan kananya memegang sebuah tongkat usang kecil.sedetik gadis itu mengibaskan tongkatnya. sebuah siluet cahaya seakan masuk dan menerangi ruangan dalam sekejab. jonghyun dan jinki terpental jauh mendarat di tanah yang keras dan lembek.
    ” hyung kau tidak apa-apa? “, sebuah suara yg dikenal jonghyun muncul,ia membuka matanya pelan. ia melihat taemin sedang berjongkok di depannya. ” dia tidak apa-apa, taemin “. jonghyun menoleh, gadis berambut merah tadi berdiri tepat didepannya.
    ” si..siapa dia minnie? “, tanya jonghyun.
    taemin tersenyum membuat semburat merah di kedua pipinya.
    ” dia emma watson, hyung “,,:)))
    –end– hahahahaha~ just joke..
    btw,zaa.. buruan ya next part nya.. penasaran bget! udah kayak baca RL.STINE yg halaman terakhirya sobek nga nemu2 *tarik rambut putus asa

    1. HAHAHAHA. Tau gak sih, aku baca komenmu tiga kali. Pertama buat ngeyakinin kalo kamu nggak salah komen, kedua buat ngakak habis-habisan, yang ketiga buat bales komen. HAHAHA, ide bagus. Mungkin aku harus ganti part 3-nya jadi apa yang kamu bikin XD

      Makasih banyak ya 😉

  7. Seperti biasa aku tak terpengaruh sm cerita horor manapun wks *bangga secara ga langsung *ditendang.
    Bukan berarti ga rame, ini asli rame banget Zakey eon! *tumben ni anak manggil eon XD*
    bahasamu itu dapet darimana sih. Otakmu bagaikan kamus besar bahasa indonesia! Pinjem bentar dong otaknya #plak

    ya walau ga merinding, tapi aku sibuk ber-wow ria tiap baca adegan2nya. Dan as-e-li, aku pengen lentera kepala itu. Lucu kalo dipajang kayaknya wkwkwk XD
    tapi kenapa jinki ga berhasil ngelempar sih -_-
    widih penghuni rumahnya juga keren noh stylenya. Bibirnya dijahit, pake peniti. Lebih hebat dr pierching tuh. Lama2 jadi style dunia, ngalahin Gangnam style #ngek.
    Ditunggu part terakhir zakey eon, muah :* (?)

    1. Iya yah? Baru kali ini kamu panggil aku ‘eonni’. Panggil langsung nama aja nggak papa kok 😉 Kamu kalo pinjem otakku percuma, soalnya aku bikin FF dari hati dan perasaan paling dalam #okehsip

      Hahaha, boleh juga tuh. Makasih banyak ya ^^

  8. aaaargh part yg ke-2 bener2 horor!
    Si jinki bener2 gk ketulungan. Kepala manusia ditenteng2 kyk lampion aja -_-”
    meluncur k part yg ke-3 ah~~

  9. Hhhhh *tarik nafas *hmbuskan.
    Serius, sumpah aku merinding bacanya
    “seorang manusia yang tidak
    bisa disebut manusia. Wajahnya pucat nyaris
    kebiruan, terkoyak disana-sini termakan
    belatung. Kulitnya terkelupas, mulutnya hanya
    berupa lubang menganga tanpa bibir, rongga
    matanya kosong, tempurung kepalanya dihiasi
    gumpalan rambut kelabu sepunggung”
    Aaargghh ga sanggup ngebayanginnya /.\
    Doohh itu Taeminnya diumpetin di mana???
    Ya Allah Jinki, ga tau hrs komen apa ttg ni bocah ckkckk. bisa²nya yaa kpla dialih-fungsikan jd senter Daebakk!! *geleng² kpla*
    Aku pnasarn dgn 2 makhluk aneh itu, “kau akn mnjd seperti km” apa mrk sblumnya jg ank² yg diculik & dijdikn monster? & 1 lg si pemilik rmhnya kemana? eumm mksudku, si tuan kang dia msh hidup ato udh mti jg??

    Hadeehh kyaknya aku udah kbnyakn ngasih prtnyaan, mending lanjut dulu *loncat ke part selanjutnya*

    1. Pemilik rumahnya masih bugar di suatu tempat #apadeh . Bukan, kayak yang di part tiga, dua anak itu anaknya si pemilik rumah. Hoho, buat apa ngasih tau toh kamu udah baca sampe habis <- nggak sopan. Makasih banyak yaa ^^

  10. Wow ..fantastic jinki kkk~ jinki geniusssss 2 thumbs up buat kamuu ..tapi sayang pendaratannya kurang baguss ughh padahal sdikit lagi itu ckck sangat disayangkan pemirsa *author : ini orang ngmong apa sih ?? ..kkk~ yah biasalah hanya bacotan gaje waks -.-‘

    btw btw btw ttaem dimana ya ?? Koq ngga keliatan batang idungnya ..minong mana minong , baby taemmu tolongin ngapa u,u kasiaann …

  11. wuaaah seru…
    Berasa nntn 3D ching hihi
    gak berani bilang kalo berasa ikut ddalamny, krna kalo gw ada ddlam crita, critanya ntar mkin ribet. Karena gw akan….. Nontonin mereka smbil mkan popcorn breng taemin(?) wkwkwkwk gak penting bget.
    Sebel ih liat makhluk2 gaje itu ching, udah jelek pake senyum2 mulu. Gak mau deh bayanginnya.
    Jdi pnasaran pemilik rumah seseram apa sih? Pelayanny aja udah bkin mual gtu.
    Otw next part*brum brum*

  12. tegang sumpeh…
    huhuhu~ jinki dikit lagi itu.. kenapa bisa kelempar kekursi?
    kira2 taemin dimana?
    ni kayk nnt moster house tp lbih seru ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s