Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 3A

Naega Saranghae “Our Marriage” – Story 3A

– Author :

Papillon Lynx, @fb: Saika Kurosaki

– Casts :

  • Kim Shin You (Imaginary Cast) covered by Jung Eunji APink
  • Choi Minho SHINee
  • Kim Jonghyun SHINee
  • Aita Rinn (Imaginary Cast) covered by Kim So Eun
  • Kim Kibum aka Key SHINee
  • Lee Jinki SHINee
  • Han Nhaena (Imaginary Cast) covered by Son Naeun APink
  • Han Yurra (Imaginary Cast) covered by Kim Taeyeon SNSD

– Support Cast :

  • Jinki and Minho’s Eomma
  • Lee Won Ssi
  • Shin You and Jonghyun’s Eomma
  • Kim Junsu
  • Lee Soo Man
  • Tuan Han
  • Nyonya Han
  • Nyonya Kim
  • Pengacara Hwang

– Genre :

  • Romance
  • Sad
  • Life
  • Friendship
  • Teen
  • Marriage Life

– Length :

Sequel

– Rating :

PG-13 until PG-16

Summary :

Our marriage was a mistake. However, what if love begins to grow between us over time? We don’t know. But, if that happens, as much as possible I will continue to maintain our beautiful love.

Story 3! Story 3! Yeyeyeye!! Adakah yang bersorak seperti ini di antara readers semua? Hehe.. Lebay. Bagaimana dengan story 2 kemarin? Ada yang kurang? Ada typo? Pasti. Itu mah human error, ne? Mohon dimaklumi. 😀 Di antara kalian pasti bingung, kok dari awal, dari story 1 udah ada masalah, konflik di setiap tokoh ya? Itu bukan karena dipercepat. Tapi emang alur ceritanya sengaja aku bikin udah ada konflik dari awal. Biar readers semua penasaran. Hehe.. Oh iya, story 3 ini aku bagi jadi dua bagian. Bagian A dan B karena aku takut kalau disatuin jadi kepanjangan. Oke deh, langsung! Happy reading! Jangan lupa like dan comment-nya sangat ditunggu!

NOTE :

KATA-KATA YANG BERCETAK miring ADALAH KATA-KATA YANG DIUCAPKAN OLEH KARAKTER DALAM HATI DAN BAHASA ASING (KOREA DAN INGGRIS) YANG DIGUNAKAN DEMI KEPERLUAN ALUR CERITA

Review Last Part

Apakah ini hukuman atas apa yang sudah kami perbuat, Tuhan? Jika iya, jika memang ini semua terjadi karena terjalinnya cinta sedarah di antara kami, maka janganlah Engkau menghukumnya. Hukum sajalah aku. Akulah yang terlebih dulu mencintainya. Dan akulah yang begitu gigih membuatnya mencintaiku. Hukum aku saja, Tuhan. Jangan dia.. Jangan dia.. Sembuhkanlah Younnie, sadarkanlah adikku dari komanya. Aku tak tega melihatnya menderita seperti ini. Setidaknya, janganlah Engkau mengambilnya sebagai adikku.. Shin You bahkan lebih berharga dibanding seseorang yang sangat aku cintai..

“Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Shin You-ah.. Kenapa kau kembali dengan keadaan seperti ini?? Irreonna! Irreonna! Kau harus bangun! Kau tidak boleh terus tertidur!”

“Minho, berhenti. Berhenti.. Cukup..”

@@@

MALAM ini adalah malam yang paling menyebalkan bagi Nhaena. Memang, ini adalah Sabtu malam, yang seharusnya bagi anak muda seumurannya bisa bebas pergi berjalan-jalan dengan teman sebayanya karena esok adalah hari libur. Tapi tidak bagi Nhaena. Dari 30 hari yang ada setiap bulannya, ia pasti akan membenci 1 hari di antara ke-30 hari itu. Alasannya? Karena ia harus duduk manis di depan meja makan dan menyantap makan malam rutin bersama Appa dan juga yeoja yang sangat tidak diharapkan kehadirannya olehnya. Siapa lagi kalau bukan, Yurra. Han Yurra. Bukan tidak diharapkan lagi. Tapi Nhaena sangat muak terhadapnya. Dan sejak saat itu, sejak dua tahun silam, ia tidak ingin menganggap Yurra sebagai kakaknya lagi. Tidak akan! Dan neraka baginya, sekarang ia duduk bersebelahan dengan yeoja itu.

Ini memang menjadi makan malam rutin bagi keluarga Han. Sudah sejak dulu, ketika Nyonya Han masih berada di antara mereka dan keluarga itu masih sangat harmonis. Berbeda dengan sekarang. Sejak perceraian yang terjadi di antara Tuan Han dan Nyonya Han, dan juga setelah Nyonya Han meninggal karena menderita sakit, Tuan Han lebih sering menghabiskan waktunya di kantor bertemankan pekerjaan-pekerjaannya yang menumpuk. Beliau seakan lupa kalau beliau masih memiliki dua orang putri dan bertanggungjawab penuh atas mereka. Hingga akhirnya, Yurra memilih untuk tinggal sendiri di luar dan membeli apartement dengan uang hasil kerja kerasnya bekerja menjadi seorang manager di sebuah agensi artis yang cukup terkenal di Korea Selatan. Namun, kesendirian dan rasa kesepian yang dirasakan oleh Nhaena membuatnya sedikit depresi dan membenci kakaknya yang pergi meninggalkan rumah mereka tanpa memberiitahunya. Saat itu, hanya Yurra lah yang menjadi sandarannya. Namun Yurra pergi tanpa pamit padanya. Nhaena merasa Yurra tak peduli dengannya dan hanya mengejar uang semata. Terlebih ketika ayahnya selalu memuji Yurra yang selalu berhasil memanageri artis manapun yang dibebankan oleh perusahaan kepadanya. Itu membuat Nhaena semakin muak dan cemburu. Itulah akar kebencian Nhaena pada Yurra.

“Nhaena-ah.. Cepat makanlah.. Jangan hanya mengaduk-aduknya seperti itu.” Nhaena menghentikan aksi jengkelnya dan menatap lelaki paruh baya yang duduk di hadapannya dengan tatapan sebal. Namun ayahnya itu sudah kembali berkutat dengan santapannya. Nhaena hanya mendengus kesal dan mencoba menyuapkan potongan tenderloin steak ke dalam mulutnya dengan asal.

“Ah, Appa ingat. Bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Jinki, Yurra-ah??” tanya Appa tiba-tiba membuat Yurra tersedak. Yurra cepat-cepat meneguk minumannya sedangkan Nhaena hanya mencibir tak peduli. Yurra tersenyum canggung setelah ia sudah merasa tenang.

“Pihak perusahaan sudah mengaturnya, Appa. Aku dan Jinki hanya tinggal menjalankannya saja. Appa tak perlu khawatir.” Yurra mencoba lebih tenang dan tersenyum sekali lagi untuk meyakinkan ayahnya. Tuan Han tersenyum lebar mendengarnya.

“Geuraeyo? Ah, Appa tak menyangka kau akan menikah dengan Jinki. Sejak kapan kalian saling mencintai?”

DEGH!

Yurra menghentikkan gerakan tangan kanannya yang hendak menyuapi mulutnya. Pandangannya kosong menatap ke arah makanannya yang sudah hampir habis. Saling mencintai? Tidak, Appa. Hanya aku yang mencintainya. Jinki tidak. Batin Yurra sedih.

“Appa, lupakanlah pertanyaan konyol semacam itu.” Yurra mencoba tertawa. Nhaena pun berdecak.

“Hm.. Bukankah pernikahan kalian tidak didasari oleh rasa cinta?” tanya Nhaena dengan nada mencibir. Pertanyaan Nhaena menohok hati Yurra.

“Nhaena!” bentak Appa yang merasa tak enak mendengar pertanyaan putri bungsunya itu.

“Ini fakta, Appa. Perusahaan tempat artis bernama Lee Jinki itu hanya menjadikan yeoja ini sebagai alat untuk mempopulerkan artis mereka di dunia hiburan dan kalangan masyarakat.” Yurra tersentak. Sedetik kemudian, wajahnya tertunduk dalam. Ia tak ada kuasa untuk mengelak. Ia sadar, kenyataannya memang seperti yang Nhaena katakan.

“NHAENA!! Apa maksudmu? Sopan sekali kau berbicara seperti itu pada kakakmu sendiri, huh?!” Appa bangkit dari duduknya dan menatap kedua mata Nhaena tajam. Nhaena hanya mendengus dan tersenyum sinis.

“Pernahkah Appa memarahi yeoja ini seperti Appa memarahiku sekarang? Pernahkah Appa membentaknya seperti Appa membentakku sekarang?!” nada suara Nhaena mulai meninggi. Air mata mulai menggunung di pelupuk mata gadis itu. “TIDAK PERNAH, KAN?!” seru Nhaena membuat Yurra mendongak, menatap wajah adiknya itu yang sudah basah karena air mata. “Kakak macam apa yang meninggalkan rumah, meninggalkan adiknya yang sangat bergantung padanya, tanpa pamit?? Bahkan ia tidak menangis saat kematian Eomma!!!” Tubuh Nhaena bergetar hebat. Ia menoleh dan menatap Yurra yang kini sedang balik menatapnya. Air mata terus menetes dan membanjiri pipinya, namun tatapan matanya yang sembab itu tetap menyinarkan sinar kebencian dan kekecewaan yang mendalam pada Yurra. “Selamanya, aku takkan memanggilmu dengan sebutan ‘Eonni’ lagi. ARRASSEO?!”

PLAK!!

Yurra tersentak.

Rasa nyeri menjalar di setiap bagian pipi kanan Nhaena. Sedetik yang lalu, sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipinya. Kedua mata Nhaena terbelalak lebar. Ia tak percaya akan mendapat perlakuan seperti ini oleh ayahnya sendiri. Nhaena menyentuh pipinya perlahan. Kentara sekali tangannya bergetar.

“Nhaena-ah, Nhaena-ah. Maafkan Appa. Appa tidak bermaksud-“

“Seperti inikah perlakuan seorang ayah pada anak kandungnya sendiri, hm?” Nhaena menahan tangisnya. “APAKAH AKU BUKANLAH ANAK KANDUNG APPA DAN EOMMA SEHINGGA APPA TEGA MELAKUKAN INI PADAKU??!!”

TAP TAP TAP TAP…

Nhaena berlari pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Appa hanya menunduk dalam, menyesali perbuatannya.

GREK..

Yurra mendorong kursinya ke belakang dan ia bangkit.

“Appa, rasa laparku sudah hilang. Aku permisi dulu.”

Yurra membungkuk hormat dan melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruang makan rumah ayahnya itu.

“Yurra-ah, kau mau kemana?” tanya Appa lirih. Yurra menghentikkan langkahnya dan berbalik.

“Appa, Nhaena adalah adik yang sangat berharga bagiku. Dengan Appa menyakitinya, sama saja dengan Appa menyakitiku.” Lalu Yurra melanjutkan langkahnya.

@@@

Suara dentuman musik mengalun keras hingga memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Bau asap rokok dan alkohol yang menyengat diselingi oleh banyaknya lampu yang berkelap-kelip menghiasi ruangan yang luas itu.

Entah sudah gelas ke berapa Jonghyun menenggak minumannya. Matanya sesekali terpejam, dan terkadang ia tersenyum tanpa sebab. Alam sadarnya sudah berhasil diambil alih oleh alam tidak sadarnya. Bahkan ketika banyak nappeun yeoja yang mendekat dan bergelayut manja di dekatnya, Jonghyun sudah tidak peduli dan tanpa sadar justru meresponnya.

“Ya! Berikan aku satu gelas lagi!!” seru Jonghyun di tengah-tengah mabuknya. Jonghyun mengangkat satu telunjuknya semampu yang ia bisa.

DUK!

Dan kini ia sudah tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Kepala Jonghyun sukses menyentuh meja bar yang ada di hadapannya. Matanya terpejam rapat.

“Tuan, ini minumannya..”

“HYUNG!” teriak dua orang namja bersamaan. Para wanita yang mengerubungi Jonghyun segera pergi ketika mendapat tatapan tajam dari dua namja itu.

“Hei, apa yang kau lakukan, huh?! Kau masih memberinya minum di saat ia sudah mabuk berat seperti ini??” tanya Key pada bartender yang ada di depannya. Bartender itu ketakutan ketika Key menarik kerah kemejanya kuat-kuat. Lalu Key menghempaskannya dan tak mempedulikannya lagi.

“Key, aku saja yang membawanya kembali ke rumah dan menemani Jonghyun Hyung. Kau kembali saja ke rumah sakit dan menemani Shin You. Arra?” kata Minho seraya menggendong Jonghyun di punggungnya. Key mengangguk.

“Arrasseo. Dan kau membiarkan dompetku ludes untuk membayar semua yang telah Jonghyun Hyung minum.” Cibir Key ketika ia menerima sebuat tagihan dari bartender tadi. “MWO?! Lihat, apa yang Jonghyun Hyung minum? Mahal sekali..” komentar Key kaget ketika melihat tagihannya.

“Sudahlah, pakai saja uangmu dulu. Besok kau bisa menagihya pada Jonghyun Hyung, kan? Bahkan jika kau mau, kau bisa memintanya untuk membayar dua kali lipat. Kekayaan Jonghyun Hyung tidak akan habis hanya dengan membayar hutang minum itu padamu.” Kata Minho lalu Minho beranjak pergi membawa Jonghyun.

“Aiish.. Bagaimana ini? Aku hanya membawa uang cash sedikit di dompetku. Arrgh, andai saja Nyonya Kim tidak membekukan kartu kreditku!!” Key merutuk sebal sambil menghitung sisa uang yang ada di dalam dompetnya. Key mendelik ketika semua sisa uang yang dimilikinya hanya cukup untuk membayar minuman yang sudah Jonghyun minum. Sial! Dompetku benar-benar ludes sekarang!

Key berjalan lunglai menuju pintu keluar diskotik. Dalam hatinya ia terus merutuki usul Minho tadi. Sudah jelas, Minho akan membawa Jonghyun pulang dengan mobil milik Key. Dan sekarang, aku pulang naik apa??? Batin Key frustasi.

Key berdiri di depan pintu keluar diskotik dan memandangi ramainya jalanan di hadapannya. Otaknya berpikir keras akan apa yang harus ia lakukan agar ia bisa cepat sampai ke rumah sakit dan menemani Shin You. Ia ingat betul kata Uisa tadi, Shin You harus selalu ada yang menunggui. Uisa takut sewaktu-waktu akan ada yang terjadi dengan Shin You. Key semakin cemas ketika mengingat perkataan Uisa itu.

BRUK!

“Hei, hei! Apa yang kau lakukan??” tanya Key setengah berteriak.

Key terperanjat ketika seorang yeoja menabrak tubuhnya dan jatuh pingsan. Dengan terpaksa, Key menahan tubuh yeoja itu agar tidak menyentuh lantai. Key setengah memeluknya.

“Agasshi.. Agasshi.. Gwenchanhaseyo?” tanya Key dengan bahasa formal. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah yeoja yang berada dalam pelukannya itu. Yang hanya Key lihat adalah rambut panjang lurusnya dan bau alkohol yang menyengat dari tubuh yeoja itu. Sial, yeoja ini mabuk! Batin Key.

“HOEKZ..” Key mendelik. What the heaven??! Pekik Key dalam hati. Wajah Key berubah semakin masam. Ia menahan nafasnya ketika bau amis mengganggu indera penciumannya.

“OH NOOOO!!! AGASSHI!! NEO WAE IRRAE?!” pekik Key membuat orang-orang yang ada di sekitarnya memandanginya heran. Key mendorong tubuh yeoja itu dengan mencengkeram bahunya kuat-kuat. Dan dugaannya benar ketika ia melihat kaosnya begitu menjijikkan karena sesuatu yang sudah dimuntahkan oleh yeoja itu. Key geram. Ingin sekali rasanya ia meninggalkan yeoja itu sekarang juga. Tapi tatapan orang-orang di sekitarnya begitu menusuknya seakan menganggapnya sebagai penyebab sekaligus orang yang harus bertanggungjawab atas apa yang yeoja itu alami. Akhirnya, dengan berat hati dan dengan terus menahan nafasnya -meskipun itu tak mungkin, Key mengangkat yeoja itu dan menggendongnya. Ketika yeoja itu sudah berada dalam gendongannya, Key menyibakkan rambut panjang yeoja itu yang menutupi wajahnya.

“MWO?! HAN NHAENA¬-SSI?!” pekik Key begitu ia tahu gadis dalam gendongannya adalah Nhaena. “Cih, tak kusangka seorang Presiden Siswa sepertimu bisa datang ke diskotik seperti ini sendirian.” Cibir Key. “Ya! Dimana rumahmu?” tanya Key ketika ia merasakan Nhaena bergerak dalam gendongannya.

“Tuan..” Key membalikkan tubuhnya. “Tadi Nona ini datang dengan membawa mobilnya. Ini kunci mobilnya, Tuan.” Kata seorang Ahjusshi sambil menyerahkan sebuah kunci mobil. Key berdecak.

“Antarkan aku ke mobilnya. Aku tidak memiliki tiga tangan untuk menerima kunci itu sekarang.” Sindir Key sambil mengarahkan tatapannya pada kedua tangannya yang sudah sibuk menggendong Nhaena. Ahjusshi itu melihatnya dan cepat-cepat mengangguk lalu berjalan mendahului Key.

“Ini mobilnya, Tuan.” kata Ahjusshi itu setelah membukakan pintu jok belakang mobil Mercedez Benz milik Nhaena. Key segera menidurkan Nhaena dan menutup pintunya asal.

“Terima kasih.” Kata Key sebelum ia masuk dan duduk di kursi kemudi lalu melesat dengan mobil itu. “Hei, dimana rumahmu??” kata Key sambil melirik ke spion tengah mobil, melihat bayangan tubuh Nhaena yang tergeletak di jok belakang. Namun yang ditanya hanya diam saja. Key memukul stir mobil di hadapannya geram. “Aiish, bagaimana dengan Shin You?? Dia sendirian di rumah sakit dan gara-gara yeoja sialan ini aku terlambat datang ke rumah sakit.”

….

BRUK!

Key menjatuhkan tubuh Nhaena asal di atas tempat tidur king size miliknya. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan menatap Nhaena yang terpejam dengan sebal.

“Apa tidak apa-apa ya jika aku membawanya pulang ke rumah?” gumam Key sambil berpikir. “Ah, dwaesseo! Lagipula Nyonya Kim sedang ada pertemuan bisnis di Jepang dan baru pulang lusa. Akan kupastikan, besok yeoja ini sudah enyah dari rumahku ini.” Sedetik kemudian, Key sadar dengan sesuatu berbau amis yang menempel di kaosnya. “Aish, aku harus mandi dulu.” Key segera masuk ke dalam kamar mandinya.

BLAM!

15 menit kemudian…

CKLEK!

Key keluar dari kamar mandinya seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk di tangannya.

“Eomma..”

DEGH!

Key menoleh ketika ia yakin baru saja ia mendengar Nhaena menggumamkan sesuatu. Key meletakkan handuknya di atas meja belajarnya asal.

“Eomma.. Eomma..”

Key tertegun sesaat. Tanpa sadar, kakinya sudah melangkah mendekat ke arah Nhaena. Key duduk di sisi tempat tidur dan tercenung.

“Eomma.. Jangan tinggalkan aku. Eomma, aku tidak ingin sendiri. Eomma..” Nhaena menangis dalam tidurnya. Key melihatnya. Melihat tetes-tetes air mata itu menggelinding dengan bebas dan menyusuri lekuk wajah Nhaena.

“Eomma, kembalilah. Temani aku di sini. Jangan tinggalkan aku..” Lagi-lagi air mata menetes dari sudut kedua mata Nhaena. Key miris melihatnya. Reflek, kedua tangan Key merengkuh wajah Nhaena dan menghapus air mata itu dengan kedua ibu jarinya. Key tak menyangka, ia akan melihat Nhaena dalam keadaan yang sangat terpuruk seperti ini. Apakah ibunya sudah meninggal? Atau pergi meninggalkannya begitu saja? Batin Key.

GREP!

Key tersentak. Nhaena menariknya ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Key berusaha melepaskan diri.

“Ya! Lepaskan aku!”

“Eomma, Eomma.. Aku rindu padamu. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin memelukmu. Kajimayo..”

DEGH!

Key berhenti meronta. Ia merasakan tubuh Nhaena yang bergetar. Isak tangis Nhaena mendominasi kamar Key sekarang. Key mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nhaena yang sangat dekat dengannya. Hati Key tiba-tiba bergemuruh.

DEGH DEGH!

Key menelan air liurnya. Ya Tuhan, perasaan apa ini?

Key memandangi kedua kelopak mata Nhaena dengan sendu. Matanya.. Hidungnya.. Ya, Tuhan! Jangan kau bangkitkan naluriku laki-lakiku sekarang. Ini gila, aku tidak mungkin memiliki hasrat seperti ini pada Han Nhaena-ssi!!

Namun sekuat apapun Key menahan hasratnya, pelukan erat kedua tangan Nhaena yang berada di sekeliling pinggangnya membuatnya lupa. Key terlena. Dan tanpa sadar, ia telah melakukan hal yang lebih pada Nhaena.

….

Pagi menjelang. Sinar mentari menyusup masuk melalui gorden kamar diselingi dengan suara nyanyian burung-burung yang terdengar indah.

Key memicingkan matanya ketika ia merasakan silau diterpa sinar matahari yang berhasil menembus pori-pori gorden kamarnya. Key menggeliat dan mengerang perlahan.

“KEEYYY!! EOMMA WASSEO (MAMA PULANG)!!”

CKLEK!

Key bangkit dari tidurnya seraya mengucek kedua matanya yang terasa berat. “ Oh, Nyonya Kim? Annyeong!” Key tersenyum. Namun Key menangkap ekspresi yang aneh yang terpancar dari wajah Eommanya itu. “Wae geuraesseoyo (Kenapa seperti itu)??” tanya Key heran masih dengan tersenyum.

“Eunghh..” Senyuman Key langsung memudar ketika indera pendengarannya menangkap sebuah suara di sampingnya. Key menoleh dan kedua matanya membulat ketika dengan jelas ia melihat tubuh seorang yeoja di sampingnya polos, tanpa busana sedikitpun dan hanya dibalut oleh selimut tidur miliknya. Nhaena bangkit perlahan dan duduk di atas tempat tidur sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.

“Dimana aku? Kenapa aku-“ Nhaena menggantungkan kalimatnya ketika ia sadar tubuhnya hanya dibungkus oleh selimut yang sama yang juga membungkus tubuh Key di sampingnya.

“HUWAAAAAAA!!!!” teriak Nhaena saking kagetnya.

“KEEEEYYYYY!!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK GADIS ORANG, HUH?!!!” teriak Eomma sambil mengguncang-gungcangkan tubuh Key. Sedangkan Key hanya bisa pasrah akan apa yang akan terjadi setelah ia bisa mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Nhaena semalam. Key bangkit dan meninggalkan kamar dengan tatapan kosong dan syok. Key masuk ke dalam kamar mandinya dalam diam.

Tangis Nhaena pecah begitu melihat Key yang hanya diam saja dan ketika ia melihat tubuhnya polos, tanpa sehelai benangpun. Perlahan, Nhaena memungut pakaiannya yang tergeletak di dekatnya dan memakai semuanya dengan asal. Nhaena bangkit sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Ia tak tahu kenapa, tapi ia yakin sesuatu yang buruk telah menimpanya.

Nyonya Kim tersentak. Ia melihat bercak darah di tempat tidur anak laki-laki satu-satunya itu. Meskipun marah dan kecewa, ia yakin ini semua pasti kesalahan setelah melihat anaknya dan juga gadis muda di hadapannya yang tampak syok dan bingung. Nyonya Kim yakin, ini semua tidak mereka lakukan dengan sengaja. Nyonya Kim sangat mengenal Key dengan baik. Anaknya memang sedikit nakal, tapi Key tidak pernah membawa bahkan meniduri seorang gadis sebelumnya.

“K-kau.. Tunggu..” kata Nyonya Kim dengan maksud memanggil Nhaena. Nhaena menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, Ahjumma. Aku bahkan baru tahu kalau aku bersama Key tadi ketika aku membuka mataku. Mianhamnida. Jeongmal mianhamnida..” Nhaena menangis lagi. Selain karena menangisi kecerobohannya dalam menjaga kesuciannya sebagai seorang perawan, juga karena sesuatu yang sangat perih ia rasakan di bagian sensitifnya. Dan Nyonya Kim melihat ekspresi kesakitan itu dengan jelas.

“Maafkan anakku. Aku juga tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Maaf, telah membuatmu sakit dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam dirimu. Keundae, uljimayo. Aku akan mengantarkanmu ke rumah orangtuamu dan berbicara dengan orangtuamu tentang hal ini. Kau tidak perlu khawatir. Aku pastikan Key akan bertanggungjawab padamu.” Nhaena tersentak.

“Bertanggungjawab?” tanya Nhaena dengan wajah polosnya. Tangisnya mulai reda. Bertanggungjawab? Kata-kata Nyonya Kim terus terngiang-ngiang dalam otaknya. Bahkan Nhaena belum sempat berpikir untuk meminta pertanggungjawaban Key. Ia terlalu syok sekarang.

“Geurae. Key harus menikah denganmu, kan? Kkaja, aku antar kau pulang ke-“

“Nyonya Kim!” Nyonya Kim berbalik dan melihat Key yang sudah rapi dengan balutan kemeja kotak-kotak dan celana jeans berwarna biru, berdiri di depan pintu kamar mandi dengan melemparkan tatapan mata yang serius. “Eomma, aku ikut denganmu. Aku akan menemui orangtua Nhaena sekarang juga. Aku akan bertanggungjawab dengan..” Key menggantungkan kalimatnya. Key menghela nafas perlahan. Meskipun ia belum sepenuhnya yakin, tapi mau tidak mau ia harus melakukan ini. “Dengan.. Dengan menikahi Nhaena secepatnya..”

@@@

“Dimana Key? Kenapa dia tak ada di sini?” gumam Minho pada dirinya sendiri ketika ia baru saja sampai di ruang rawat Shin You dan tidak menemukan Key di sana. “Apa jangan-jangan bocah itu tidak datang ke sini semalam? Aish, dasar tidak bisa diandalkan!” rutuk Minho. Untung saja hari ini hari Minggu. Aku jadi bisa datang ke rumah sakit lebih awal. Batin Minho.

Lalu, Minho menarik sebuah kursi ke dekat sisi ranjang rawat Shin You dan duduk di sana. Minho memandangi wajah tenang Shin You. Ya, tenang. Sudah seminggu dan belum ada tanda-tanda positif untuk kesembuhan Shin You. Kapan yeoja itu bisa membuka matanya, Uisa juga tidak berani menjanjikan. Ditambah lagi dengan keadaan Jonghyun yang setiap malamnya selalu pergi ke diskotik dan mabuk. Hal ini pasti sangat sulit diterima oleh Jonghyun Hyung.. Kata Minho dalam hati sambil menatap Shin You dengan nanar.

TUT TUT TUT TUT..

Suasana hening. Hanya terdengar jelas bunyi alat pendeteksi detak jantung yang membuat Minho miris. Minho bangkit dan duduk di sisi ranjang rawat Shin You. Sedetik pun pandangannya tak teralih. Hanya satu yang ingin ia terus perhatikan. Yaitu, Shin You.

“Hm.. Kapan kau akan membuka matamu, Shin You-ah? Kau tahu, kau itu sangat rakus.” Minho mengalihkan tatapannya dan tertawa miris. “Kau menghabiskan waktu 1 minggu hanya untuk tidur. Dasar, kerbau betina!” ejek Minho sambil terus memaksakan seulas senyum mengembang di bibirnya.

TUT TUT TUT TUT..

“Kenapa kau diam saja? Bangun dan balaslah ejekanku, seperti yang biasa kau lakukan padaku. Kau bisa kan?” Tatapan Minho kembali pada Shin You. Kali ini berubah serius. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Jangan seperti ini. Jebal (Aku mohon). Kau sama saja menyiksa kami. Apa kau tak tahu, setiap malam Jonghyun Hyung melupakan depresinya dengan minum-minum sampai mabuk di diskotik? Apa kau tega membiarkannya terus seperti itu? Jonghyun Hyung hanya diam saja ketika aku menasihatinya untuk tidak melakukannya lagi. Dia hanya mau kau bangun dan kembali padanya. Pada kita semua. Setelah itu, dia akan menghentikan tindakan bodohnya. Apa kau tak kasihan padanya?!!” Minho lepas kendali. Ia selalu saja seperti ini jika ia hanya berdua saja dengan Shin You di rumah sakit. Ia merasa tak tega melihat salah satu sahabatnya itu seperti tidak memiliki semangat hidup lagi.

Minho menangis. Ia sudah tak bisa lagi mempertahankan sikap tenangnya. Minho terisak ketika ia menggenggam tangan kiri Shin You yang terasa dingin dan terlihat pucat karena tusukan jarum infus di sana.

“Bangunlah.. Aku janji, aku tidak akan mengejekmu lagi setelah kau bangun nanti. Aku tidak akan membuatmu marah dan kesal lagi padaku. Aku akan bersikap seperti Key yang selalu baik dan perhatian padamu. Memang sudah seharusnya itu yang aku lakukan padamu. Pada sahabat baikku sendiri. Mianhae.. Mianhae, Shin You-ah.. Jangan biarkan kami menagisimu setiap hari. Kau tahu, bahkan Key membolos dari latihan basketnya setiap pulang sekolah hanya karena ingin cepat-cepat datang ke sini untuk melihatmu kembali membuka mata. Tapi kau tak melakukannya. Kau mengecewakannya. Apa kau masih bisa tega, huh??”

TUT TUT TUT TUT..

“Baiklah, jika kau tak ingin bangun sekarang. Terserah!”

Minho menyerah. Shin You sama sekali tak merespon apapun yang telah diucapkannya.

Minho bangkit seraya menghapus sisa-sisa air mata di sekitar matanya. Sekali lagi, Minho teringat pada Key. Dimana dia? Kenapa dia tidak datang-datang juga?

Akhirnya, Minho meraih ponsel dalam saku celananya dan memilih untuk menghubungi Key.

“Maaf, nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan hubungi beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan-“

BIPP!

Minho mematikan sambungan telefonnya. “Dimana dia sebenarnya?? Kenapa ponselnya tidak aktif? Aish, lebih baik aku pergi ke rumahnya saja sekarang.” Minho memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan mengambil langkah menuju pintu kamar rawat Shin You.

“Eunghh..” Minho menghentikkan langkahnya ketika ia mendengar suara lenguhan di balik punggungnya. Nafasnya tiba-tiba memburu ketika ia berusaha menebak apa yang baru saja didengarnya.

“Eunghh.. Nan eoddiga?”

Minho langsung berbalik dan setengah berlari merengkuh tubuh Shin You ke dalam pelukannya. Rasa senangnya muncul di permukaan. Begitu banyak dan begitu penuh hingga hanya seulas senyuman lebar dan linangan air mata haru yang dapat diekspresikannya.

“Ah, Minho-ah.. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ada dimana?”

DEGH!

Senyuman Minho menghilang. Ia melepaskan pelukannya perlahan dan menatap kedua manik mata milik Shin You lekat. Minho teringat sesuatu. Sesuatu yang telah menimpa Shin You dan hal terburuknya.

“Kau ada di rumah sakit, Shin You-ah. Kau mengalami kecelakaan ketika akan berangkat ke tempat perlombaan bersama Ahjusshi dan Ahjumma.”

“Kecelakaan?! Kalau begitu, Eomma dan Appa baik-baik saja kan? Dimana Jonghyun Oppa? Dimana Eomma dan Appa? Apakah mereka berada di luar?” Minho hanya diam saja. Ia tak berani memberikan jawaban apapun. Bahkan menatap Shin You saja ia tak berani. “Aish, kenapa kau diam saja? Oh iya, dimana Key? Apa mereka semua berada di luar kamar? Baiklah, aku akan ke-“

“Shin You, jangan!!”

SRET! Shin You menyingkap selimutnya.

BRUK!

“Shin You!” pekik Minho sambil berjongkok di lantai mendapati Shin You yang sukses terjatuh.

Shin You terbelalak lebar begitu ia melihat kaki kanannya di-gips dan tidak bisa digerakkan sedikitpun.

“APA YANG TERJADI DENGAN KAKI KANANKU?!!” Tangis Shin You pecah. “KENAPA KAKI KANANKU DI-GIPS? RASANYA KAKU DAN TIDAK BISA AKU GERAKKAN! Kenapa?!” Tangis Shin You semakin menjadi. Dan yang hanya bisa Minho lakukan adalah menahan getaran hebat tubuh Shin You dan kedua tangan gadis itu yang terus memukuli kaki kanannya.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 3A”

  1. huweee.. Jjongie oppa yg tabah ya..
    Key-nhaena,,,,,, ouch.. Speechless.. Untungnya key bertanggung jawab..
    Shin you sadar..?? Syukurlah..
    Next ditunggu..

    1. Iya. Jjong mah tabah banget jadi oppanya Shin You. Whehe
      Yap. Aku ngrasa kalo aku bikin Key ngga tanggungjawab ntar makin ribet alurnya. 😀
      Sadar, ya. Alhamdulillah.. 😀

      Onkey dokey. 🙂

  2. waah key -nhaena
    ga nyangkaa, gmna ya kalo mereka nikah nanti
    semoga key bisa suka sama nhaena ya
    tapi ntar minho gimana kalo tau -,-

    jong kasiaan 😦

    next part secepatnya ya thor :))

    1. Semoga saja. Wkwk.. Pada ngga nyangka ya kalo Nhaena bisa accident sama Key? Berarti ceritaku sukses nih. 😀
      Ngga tau lho. Makanya kamu baca terus ya ff ini. 😉
      Iya. Jjong lagi menderita. Tapi pasti nanti ada senengnya kok. ^^

      Onkey, minta sama schedulernya suruh cepet. #plak!bugh!

  3. huaaa…itu key ngapain anak gadis orang..hihii..tp key mau tanggung jwb..oyaa next nta jgn lm2 ya thor…gk lm aja bingung kdg lupa soalnya castnya banyak..gmn lama..hihihii..

    1. Ngapain ya? Hayoo.. Jangan mesum. 😀
      Iya. Aku juga bingung waktu bikin ceritanya. Mau couple mana dulu yang aku bikin ceritanya. Whehe..
      Minta sama schedulernya sana biar cepet dipublish. #pukulin author 😀

  4. Key-Nhaena wahh aku sangat setuju, tp minho? eum minhonya ama ShinYou aja Hhehe.. hyaa ni ff bner² ribett dehh tp aku suka 😀
    next part thor, ppalli jangan lama² ^^)v

  5. KEY!!! kita cerai!!! teganya kamu khianatin akuu ;(. hiks hiks. ahaha *lebeh :P. ceritanya bagus! i like it.

  6. Ooh my god apa yg akan terjadi kalo minho tau kalo key bakal merried sama wanita pujaannya ,
    Semoga mereka tidak berantam (˘ʃƪ˘)
    Lanjut ke cerita selanjutnya ~>

  7. wae irae??? keyy!! bagus bener ya udh ngerusak ank orng.. ya ampun dsr cowok. tp untung bertanggung jawab. tp gimana kl key tahu yurra adik nhaera? bagus bgt ya key… ckckck

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s