Waiting for The Sun – Part 3

Waiting for The Sun – PART 3

Credit poster: yuyounji. Thanks eonni 

Authors : Dubudays and Nikitaemin

Main Cast : Lee Jinki, Cho Hyunsa (OC)

Support Cast : Cho Jiman (Hyunsa’s father)

Cameo : Lee Jinhyung

Genre : AU, Romance, Family

Rate : PG – 15

Length : chaptered (3/?)

Disclaimer : THIS FANFICTION BELONGS TO KAN AHRA AND SHIN MINKI!!

LEE JINKI’S POV

Sudah satu jam berlalu dan aku masih bisa mendengar isakan lirih Hyunsa dari kamarnya. Rasanya benar-benar sakit saat mendengar isakannya. Aku harus bisa menghilangkan rasa takut Hyunsa itu. Aku harus meyakinkan kalau Hyunsa sudah aman dan tidak ada lagi yang bisa menyentuhnya sembarangan.

Tok tok tok

“Hyunsa, boleh aku masuk sebentar?” dengan hati berdebar aku menunggu jawaban Hyunsa di depan pintu kamarnya. Sialnya tidak ada jawaban dari dalam. Dengan perlahan kubuka membuka pintu kamar dan menyembulkan kepalaku. Posisi Hyunsa kurang lebih sama seperti saat aku meninggalkannya. Wajahnya sangat kusut. Rambut ikalnya menutupi hampir separuh wajahnya.

“Jagiya, neon gwenchana?”

“Dubu-ya….”

Demi Tuhan, aku sangat senang saat Hyunsa sudah menyebut namaku kembali. Aku masuk ke kamar Hyunsa dan duduk di sampingnya. Keadannya masih sama berantakan seperti sebelumnya.

“Aku takut….” lirih Hyunsa dengan suara serak. Ia terlihat terengah-engah. Sedalam apapun Hyunsa menarik nafas, tetap saja masih terengah. Matanya sangat merah saat kami bertemu pandang.

“Aku di sini. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

“Aku… aku… hhh…hhh.. aku…”

“Ssshh, aigoo aigoo~ Hyunsa, sudah, ya menangisnya. Kamu jadi tidak bisa bernafas dengan baik.” aku menariknya ke dalam pelukanku, mengusap-usap punggungnya lembut. Tiba-tiba Hyunsa meronta dalam pelukanku. Aku pikir Hyunsa sesak nafas karena kupeluk, ternyata….

“Bisakah kau berhenti menyentuhku? Aku ini najis, Jinki. Kau terlalu suci untuk menyentuh najis sepertiku. Lepaskan tanganmu dariku.”

“Hah?”

“Kumohon berhentilah menyentuhku. Aku ini kotor. Aku ini najis. Kamu harus jijik padaku.”

“Hyunsa! Ya! museun iriya?”

“Aku sudah disentuh oleh mereka. Aku jijik pada diriku sendiri. Kamu pasti hanya berpura-pura tidak jijik menyentuhku, kan? Jauhkan tanganmu dari tubuhku!”

“Hyunsa, neo—“

“Berhentilah menyentuhku, Jinki. Aku tidak mau tanganmu menjadi kotor karenaku.” Hyunsa kembali meronta minta dilepaskan.

“Tidak Hyunsa! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menarik ucapanmu barusan. Aku tidak sudi kamu melabeli dirimu sendiri kotor, najis, dan menjijikkan seperti tadi.” Bukannya melepas, aku malah semakin mengeratkan pelukanku.

Hyunsa masih meronta, tapi tidak sehebat tadi dan kelamaan berhenti. Kujauhkan tubuhku dari tubuhnya dan ternyata Hyunsa sudah terlelap. Aku harus berpikir positif. Mungkin saja Hyunsa tadi masih mengigau.

********

“Hyunsa, makan yuk. Kamu mau kubuatkan apa?” tawarku pada Hyunsa yang baru bangun setelah menangis tadi. Matanya menatapku kosong. Seperti belum sadar sepenuhnya.

“Umm, aku tidak lapar, Dubu. Gomawo.”

“Tapi kau belum makan dari semalam. Kau mau apaa? Biar kubuatkan.”

“Aniyo, aku tidak lapar. Jinjja.”

“Hyunsa, ayolaaah!”

Hyunsa menatapku beberapa saat tanpa ekspresi lalu menggelengkan kepalanya. Perlahan, Hyunsa memindahkan kepalanya dari dadaku ke bantalnya dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Aku masih berusaha membujuknya meskipun lama-lama hanya kesunyian yang menjawab tawaranku. Aisshh, ini kenapaa??

********

“Jagiyaaa, kubuatkan bubur untukmu. Ayo aaaaaa~” Kusendokkan bubur untuk Hyunsa dan memposisikan sendoknya di depan mulut Hyunsa. Bibirnya terkatup rapat. Dan dia tetap saja bergeming. Tak ada satupun perkataan ataupun tindakanku yang direspon olehnya. Seperti aku dan Hyunsa berada di dua dunia yang berbeda.

“Sayang, kamu harus makan meskipun sedikit, arra? Sekarang ayo aaaa~” ujung sendoknya kutempelkan di bibir Hyunsa yang terkatup. Tidak ada reaksi sedikitpun. Haahhh, bagaimana inii?

“Kamu mau makan apa kalau tidak mau bubur? Aku bisa membuatkannya kalau kau mau. Katakan saja.”

Hyunsa mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menatapku beberapa saat. Tangannya menepis pelan tangan kananku yang masih memegang sendok. Lalu Hyunsa terduduk dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Hyunsa kumohon, kamu harus makan. ya?”

“Bawa keluar saja. Aku tidak lapar.”

Aku hendak memaksanya lagi untuk makan, tetapi segera kuurungkan. Dengan helaan nafas berat, aku beranjak keluar dari kamarnya dan membuang bubur yang sudah kubuat untuknya. Lagipula itu sudah dingin, tidak pantas dimakan lagi.

********

Sudah dua hari berlalu dan Hyunsa belum menunjukkan kemajuan. Tatapan matanya benar-benar kosong dan tidak ada sesuap makanan yang masuk ke dalam perutnya. Yah, kecuali air putih dan beberapa gelas susu yang aku buatkan dan aku tinggalkan di meja belajarnya.

Pernah kutemui Hyunsa sedang berjalan menuju toilet dengan langkah gontai dan hampir terjatuh. Dengan sigap aku menangkap tubuhnya, tetapi dengan tangannya yang lemah, Hyunsa mendorongku agar menjauh darinya. Aku hanya tidak mau semuanya menjadi terlambat seperti aku terlambat menyelamatkan Jinhyung dulu.

Hyunsa, tolong jangan buat aku mengingat Jinhyung. Kumohon jangan. Itu amat menyakitkan, kau tahu.

Kreeekk

Pintu kamar Hyunsa terbuka dengan suara khasnya. Ada untungnya juga pintu itu belum dibenar-benarkan juga oleh Sonsaengnim. Cepat-cepat aku keluar dari kamarku dan mencegatnya.

“Jagiya, kamu mau kemana?” aku berdiri persis di hadapannya. Tangan kanannya sedang membawa gelas kosong.

“Mmm… aku mau ambil minum.”

“Kamu tunggu di sini saja. Akan kuambilkan.”

“Tidak. Biar aku saja. Permisi, Dubu.”

“Aniyo! Ya! Kamu tahu, dengan sikapmu yang terus-terusan diam membuatku serbasalah! Apa yang harus aku lakukan padamu? Semakin kamu membenci dirimu sendiri dan menganggap dirimu kotor, maka semakin pula aku membenci diriku sendiri! Jadi kumohon, jangan seperti ini lagi!”

“Minggirlah. Kamu tidak harus membenci dirimu sendiri, Jinki. Kamu hanya harus tidak menyentuhku.”

“Shireo!”

Hyunsa mencoba melewatiku, tetapi kutahan dia dengan tanganku. Kurentangakan kedua tanganku—mencegahnya pergi kemanapun. Kulihat Hyunsa menarik nafasnya dalam-dalam. Tubuhnya berusaha untuk maju lagi tapi tiba-tiba gelas di tangannya meluncur ke lantai hingga menimbulkan bunyi berisik. Pecahan gelas itu berserakan di lantai. Tangan Hyunsa mengepal kuat. Tubuhnya terlihat menjadi kaku dan tiba-tiba saja limbung ke arahku. Sebelum tubuhnya menghantam pecahan gelas itu, segera kutangkap dan menggendongnya.

Matanya terpejam rapat. Tiba-tiba saja punggungku memanas. Memori menyakitkan itu kembali datang dan amat sangat jelas.

FLASHBACK
(Jinki was 7 while Jinhyung was 3)

“Jinki Hyung, ireonaa! Jinki Hyung!” Jinhyung yang berbaring di sebelahku mengguncang sedikit tubuhku dengan sisa kekuatannya. Sementara aku masih asyik terlelap dalam mimpi indahku.

“Jinki hyuung..” erangnya lagi. Jinhyung memegang dadanya yang sesak dan nyeri dengan sebelah tangannya. Sementara tangan yang satunya lagi masih berusaha membangunkanku.

“Jinhyungie? Waeyo? Eoddi apha??” akhirnya aku terbangun dan segera mendekatinya. Jinhyung segera meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Dia membuka mulutnya lebar-lebar, berusaha mendapatkan udara yang bisa memenuhi paru-parunya. Tiba-tiba saja gerakannya melemah dan perlahan matanya menutup.

Tanpa pikir panjang, aku segera menggendong Jinhyung keluar kamar dan menendang-nendang pintu kamar Ayah dan Ibu dengan keras. Ibu segera membuka pintu dan melihat Jinhyung yang sudah semakin kehabisan nafas. Ibu segera membangunkan Ayah dan kami segera menuju rumah sakit.

Adik kandungku, Jinhyung. Adikku satu-satunya, yang paling kusayangi. Semenjak lahir, dia mengidap kelainan pada paru-parunya. Sehingga terkadang, Jinhyung seperti orang yang asma. Jinhyung masih terlalu kecil rasanya untuk menghadapi rasa nyeri yang amat sangat di dadanya setiap penyakit itu kambuh. Jinhyung biasanya menangis dalam diam ketika kesakitan. Aku yang terkadang ditugaskan oleh Ayah dan Ibu untuk menjaganya, hanya bisa menggendongnya sampai Jinhyung benar-benar berhenti menangis dan tertidur.

Dokter memberi prediksi tentang umur Jinhyung yang mungkin tidak akan lebih dari satu tahun setelah kelahirannya. Aku benci dokternya Jinhyung! Enak saja dengan sembarangan memberi vonis tentang umur adikku! Dan nyatanya, Jinhyung bisa bertahan lebih lama daripada itu. tetapi kini, aku mempercayai kata-kata dokternya Jinhyung. Bukannya aku mau terjadi sesuatu yang buruk atau menginginkan sesuatu yang buruk, tapi firasatku mengatakan, ini terakhirnya aku bisa memeluk Jinhyung kecilku dengan nyawa yang masih berada di tubuhnya.

********

Firasatku benar.

Bahkan, sebelum kami semua benar-benar sampai di rumah sakit terdekat di wilayah rumah kami yang agak terpencil dari Jakarta, Jinhyung sudah mengembuskan nafas terakhirnya dalam dekapanku. Saat dokter menyatakan bahwa Jinhyung telah meninggal, Ibu menangis histeris di depan pintu UGD sementara Ayah memelukku dan Ibu dalam keadaan menangis juga.

Kami semua merasa benar-benar kehilangan Jinhyung. Dan aku, aku merasa tidak becus menjadi Hyung untuk Jinhyung. Bahkan saat Jinhyung berusaha meminta pertolongan, aku masih asyik bermimpi. Saat Jinhyung berada dalam dekapanku, aku bahkan tidak bisa berbuat banyak selain menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Aku Hyung yang tidak becus.

Setelah pemakaman Jinhyung, aku jadi sering sakit-sakitan. Badanku sering demam tanpa alasan yang jelas. Ibu dan Ayah bilang, mungkin ini karena aku rindu dengan Jinhyung dan mungkin karena hanya aku yang memiliki firasat tentang kematian Jinhyung. Setiap badanku demam, aku selalu merasa Jinhyung ada di dekatku. Seakan dia menjagaku.

Aku berjanji pada Tuhan juga pada Jinhyung bahwa aku tidak akan mengabaikan orang yang membutuhkanku. Aku tidak akan mencelakakan orang yang kusayangi. Aku akan menjaga orang yang kusayangi dalam dekapanku. Dan tentu saja, membuat mereka merasa aman dalam dekapanku.

FLASHBACK END

********

Hospital

PLAAAKKK

“Aku minta maaf, Sonsaengnim.” Kutundukkan kepalaku dalam-dalam sambil menahan nyeri di pipi karena tamparan Sonsaengnim. Segera setelah Hyunsa pingsan, aku membawanya ke rumah sakit dan menelepon Sonsaengnim yang masih berada di Thailand. Sonsaengnim langsung memesan tiket pesawat ke Jakarta dan menyusul ke rumah sakit.

“Saya minta maaf atas tamparan itu. Tapi setidaknya kau harus sadar, Jinki. Saya kecewa atas semua yang terjadi pada Hyunsa selama saya pergi. Saya merasa gagal menjadi ayah. Tidak bisa menjaga anak saya hingga dia hampir kehilangan masa depannya. Kekecewaan saya semakin bertambah karena kau yang kutugasi untuk menjaga Hyunsa tidak menjaganya dengan baik. Maafkan atas tamparan itu. Tapi saya harap kamu mengerti.”

“saya menerimanya, Sonsaengnim. Saya minta maaf atas kebodohan saya.”

“Yah, kita hanya bisa menyesali kejadian ini. Saya tidak akan pernah berharap ini akan terulang.” Sonsaengnim meninggalkanku sendirian di koridor rumah sakit. Kupegangi pipiku yang ditampar tadi. Sakit memang. Tapi pasti tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di dalam hati Sonsaengnim.

Dengan menarik nafas panjang, kubuka pintu kamar rawat Hyunsa. Hyunsa masih memejamkan matanya. Kali ini wajahnya sudah lebih tenang. Mungkin memang seharusnya dari awal aku membawanya ke rumah sakit, bukan ke rumah. Ya, Jinki pabo.

Hari sudah mulai gelap. Bahkan sudah sangat gelap. Ah, bahkan aku sudah melupakan ini jam berapa, hari apa. Hanya Hyunsa yang aku pikirkan. Kututup satu persatu gorden ruang rawat Hyunsa kemudian duduk di kursi yang disediakan rumah sakit di samping Hyunsa.

Aku duduk di kursi yang tersedia untuk penjaga pasien dan menyanggah kepalaku yang mulai memberat dengan tangan kananku. Kupaksakan tangan kiriku yang masih saja kaku untuk membelai wajahnya. Kuelus ujung bibirnya luka dengan pelan. Aku sudah tahu darimana asal luka itu.

Vertigo.

********

CHO HYUNSA’S POV

Kegelapan yang mencekam disekitarku perlahan memudar. Aku mulai bisa merasakan apa itu udara segar kembali. Tidak ada udara lembap yang membuatku sulit bernafas seperti hari-hari kemarin.

Perlahan bayangan wajah teduh Jinki berkelebat di depan mataku. Senyumnya yang hangat dan membuat matanya melengkung membentuk dua bulan sabit yang indah semakin membuat kegelapan itu tergantikan oleh sinar-sinar berwarna hangat. Aku masih ingat beberapa kalimat Jinki yang membuatku yakin Jinki tidak akan meninggalkanku meskipun aku masih berada dalam kegelapan itu.

Semakin lama cahaya-cahaya berwarna hangat itu menyeruak ke dalam pupil mataku. Awalnya semua terasa buram, tapi kelamaan semuanya menjadi lebih jelas. Cahaya dari lampu yang tidak pernah kutemui di kamarku—bahkan rumahku—membuatku terjaga. Kuhirup udara segar sebanyak-banyaknya dan menyadari bahwa aroma ruangan ini berbeda dengan aroma kamarku. Kutolehkan kepalaku dan mendapati botol infus yang tergantung dan ujung selangnya yang melekat di tangan kananku. Oh, rumah sakit rupanya.

Aku kembali menghirup nafas dalam-dalam. Demi Tuhan, aku mau membuang jauh-jauh udara lembap yang menyesakkan dadaku. Tidak masalah dengan aroma rose ruangan ini, yang penting udaranya tidak pekat.

Tiba-tiba aku merasa lengan kiriku memberat seperti ada yang menindih. Omona! Ternyata itu kepala Jinki yang terkulai sehingga membuat tanganku menjadi bantalan kepalanya. Sejak kapan dia tertidur dengan posisi itu? aigoo… pasti lehernya sakit. Kuguncang bahunya perlahan hingga Jinki terbangun.

“ummhh… Oh! Jagiya, kau sudah sadar?!” tanya Jinki dengan suara serak. Jinki segera berdehem dan mengucek matanya perlahan.

“Iya, tentu saja.” tunggu-tunggu? Mengapa tiba-tiba aku merasa sangat merindukan Jinki? suaranya, matanya, pipinya, sentuhan lembutnya….

“Apa kau sudah merasa lebih baik? Tunggu, aku harus membangunkan ayahmu.” Jinki perlahan bangkit menghampiri Appa yang ternyata sudah kembali ke Jakarta dan tertidur di sofa. Aku menahan lengan Jinki segesit yang aku bisa.

“Duduklah. Biar Appa bangun sendiri. Kamu tahu, Jinki? rasanya aku sudah lama sekali tidak bertemu denganmu dan.. yah, aku kangen padamu.” bzzh.. pipiku rasanya sedikit menghangat setelah mengucapkannya. Jinki kembali duduk di bangkunya dan nyengir bangga. Dimajukannya bangku yang didudukinya sehingga jarak kami semakin dekat. Aduh, kenapa dengan jantungku sekarang? Mengapa berdetak lebih cepat?

“Jeongmalyo? Kalau begitu kau boleh lakukan apapun padaku untuk melepas rindu. Keke.”

Aku meraih tangan Jinki yang tidak diperban dan menggenggamnya erat. Ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku saat aku semakin mengeratkan genggamanku. Perlahan tanganku bergerak untuk membelai pipinya. Astaga, rasanya dengan begini saja aku sudah merasa sangat sehat. Mataku menyelusuri wajahnya yang tampan. Tiba-tiba aku menyadari bahwa Jinki memiliki lingkaran hitam di bawah matanya.

“Kapan terakhir kali kamu tidur nyenyak, Jinki?” tanyaku sambil mengelus lingkaran hitam itu, berharap dengan ibu jariku, lingkaran itu akan memudar.

“Hm? Entah. Mana mungkin aku bisa bernyaman-nyaman tidur sementara setiap malam aku harus mendengar jeritanmu.”

Tiba-tiba aku merasa terenyuh mendengar pengorbanan Jinki. Bahkan dia rela mengobati lengan kirinya dengan asal-asalan agar bisa cepat-cepat menjagaku. Setelah ini kamu harus langsung mengobati lenganmu dengan benar, Jinki!

“Apa yang kamu rasakan sekarang, Hyunsa?”

“Hangat dan nyaman. Dan juga bahagia karena kamu masih di sampingku. Gomawo…”

“Bukan apa-ap—“

“Hyunsa! kau sudah bangun, sayang??!” suara Appa yang kencang membuatku terlonjak dan melepas tanganku dari wajah Jinki. Malu ketahuan Appa ._.

“Ne, Appa. Aku sudah bangun dan merasa lebih baik,” jawabku dengan nada riang untuk memastikan bahwa aku memang benar-benar sudah baikan.

“Really? Syukurlah kalau begitu. Appa turut senang.”

“Oh, Jinki! kau yakin masih kuat menjaga Hyunsa? kau terlihat lelah dan berantakan. Lebih baik kau istirahat sekarang. Biar saya yang jaga Hyunsa,” kata Appa segera saat menyadari Jinki sedang memijit dahinya.

“Ne? oh, saya baik-baik saja, Sonsaengnim. Biar saya saja yang jaga Hyunsa.”

“Ani anii, saya tidak mau ada giliran masuk rumah sakit. Lebih baik kau istirahat sekarang. Malah kalau kamu masih kuat menyetir, lebih baik istirahat di rumah.”

“saya akan istirahat di sofa saja, Sonsaengnim. Saya janji istirahat semaksimal mungkin. Hehe. Hyunsa, aku tidur dulu, ya.”

Aku mengangguk pada Jinki yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa. Dalam hitungan detik Jinki sudah tertidur pulas.

Setelah Appa yakin Jinki sudah pulas, Appa duduk di bangku yang diduduki Jinki tadi dan mengelus-elus punggung tanganku. “Hyunsa, maafkan Appa, ya. Appa kurang menjagamu. Dan kamu jadi punya vertigo karena kurang istirahat. Pasti kamu terlalu bersemangat menggantikan Appa di Denmark hingga lupa waktu untuk istirahat. Maafkan Appa ya. Sebaiknya… kita batalkan saja ya showcase ini.”

“Mwoya?? Andwae, Appa! Biarkan Hyunsa selesaikan showcase ini. Setelah itu Hyunsa akan istirahat. Janji. Tapi please jangan batalkan keikutsertaan Hyunsa, Appa.”

“Ssstt! Jangan kencang-kencang bicaranya! Nanti Jinki bangun!” upss.. dengan segera aku melirik Jinki. tapi sepertinya namja itu sudah asyik di alam mimpinya.
“Tapi kamu bisa kumat di panggung, Hyunsa. Appa tidak mau hal itu terjadi. Dan lagi, apa kau sudah benar-benar sehat?” lanjut Appa.

“Aniyo, Appa! please jangan batalkan showcase itu. Hyunsa janji untuk beristirahat total setelah showcase ini. Dan kalau Appa mencemaskan mental Hyunsa, Hyunsa merasa sudah benar-benar baik. Mungkin memang seharusnya Hyunsa memberitahukan segala yang Hyunsa keluhkan. Dan setelah masuk rumah sakit, Hyunsa sudah merasa lebih baik. Hyunsa sudah tidak takut lagi.”

“Nak…” Appa berpikir cukup lama, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau itu memang keinginanmu. Appa pegang kata-katamu dan Appa akan terus pantau latihan kamu, istirahat kamu, dan pola makan kamu juga.”

“Oke! Hyunsa setuju. Terima kasih untuk pengertian dan kesempatan yang Appa berikan buat Hyunsa.”

“Iya, sayang.”

********

Beberapa hari kemudian

Saat Jinki membuka pintu ruanganku, dia mendapatkanku tengah mengikat rambutku membentuk sebuah cepolan sederhana yang cukup tinggi. Rambut panjangku membuat leherku gatal karena terus-terusan berbaring di ranjang rumah sakit.

Jinki baru saja kembali dari rumah untuk mandi. Disini kamar mandinya kurang nyaman sehingga Jinki memilih mandi di rumah. Dia terlihat segar dan tampan seperti biasanya. Dan omo! Dia membawa sebuket mawar yang di tengahnya terdapat bunga anggrek yang warnanya sangat serasi.

“Bunga yang cantik untuk Hyunsa yang paling cantik.” Jinki menyerahkan buket bunga tadi hadapanku.

“Go..gomawo, Dubu.” kuambil bunga itu dan mencium wanginya.

“kau terlihat lebih cantik kalau digelung seperti itu,”

Wajahku pasti memerah sekarang. “Ah biasa saja, Jinki.”

“Tapi serius, aku suka rambutmu digelung seperti itu. Kau terlihat berbeda. Aku bisa melihat wajahmu lebih jelas. Hehehe.”

“Mwoyaaa! Ah ya Dubu, kapan kira-kira aku boleh pulang?”

“Hmm, sepertinya lusa sudah boleh. Yang penting kau harus benar-benar istirahat kalau kau memang mau berlatih dengan tubuh yang segar.”

“Oh iya, kalau aku sudah keluar, temani aku ke makam Mama, ya? Kau belum pernah ke sana kan?”

To Be Continued.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

-ㄱ . ㅅ-

3 thoughts on “Waiting for The Sun – Part 3”

    1. Yaampun makasih banget :”:” ternyata walopun berantakan gini masih bisa buat kamu senyum:”terharuuu:””
      Makasih yaa baca terus dan komen terus:):):)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s