A Ghost Inside Me – Part 13

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 13

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Kim Jonghyun,  Lee Taemin, Choi Siwon,   dan    masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

Su Ji melihat ke sisi kaca di hadapan Key. Pikirannya semakin bertambah aneh ketika ia bisa melihat bayangan Key di kaca tersebut. Lalu kenapa ia tak bisa melihat bayangannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Su Ji menyapukan pandangannya ke seluruh isi ruangan tersebut. Semua orang di dekat kaca memiliki bayangannya sendiri-sendiri. Sementara dirinya, apakah ia… menghilang?

Su Ji berlari masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia menyebarkan pandangannya ke segala arah. “Minho-ya! Choi Minho!” panggilnya panik. Tak lama kemudian sesosok yang dipanggilnya datang dari langit.

“Ada apa? Aku sedang bersantai di surga malah kau panggil,” gerutu Minho kesal.

“Ada apa dengan tubuhku?” cerca Su Ji tidak sabar. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan hingga ia tak bisa menahan air matanya sendiri.

“Mworagu? Apa maksudmu?” balas Minho tidak mengerti. Namun ia menebak ada yang tidak beres.

Su Ji menggelengkan kepalanya. “Aku, aku tidak bisa melihat bayanganku sendiri!” jawabnya sambil menangis sejadi-jadinya.

Minho pun terkejut bukan main. Lalu ia berjalan ke arah cermin di sebelah Su Ji dan membulatkan matanya. Bayangan Su Ji benar-benar tak terlihat dari sisi manapun. Padahal kalau Su Ji berdiri di sana, seharusnya bayangannya terlihat di cermin ini. “Su… Ji?”

Su Ji membalikkan badannya dan kini ia berdiri tepat di depan cermin. Lututnya langsung terasa lemas hingga ia tak kuat lagi untuk berdiri. Ia menutup mulutnya. “Kenapa bayanganku menghilang?” ucapnya dengan lirih.

Minho menatap Su Ji. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk menyentuh Su Ji dan ternyata tidak bisa. “Untunglah…”

“Apa yang harus kulakukan?!” seru Su Ji putus asa.

“Tenang, aku mengerti keadaan seperti ini. Sekarang tanggal berapa?”

Su Ji menggerakkan kepalanya ke arah kalender di meja kecilnya.

“15? Astaga… waktuku sudah sangat menipis! Hanya tersisa 15 hari lagi?” kata Minho sedikit panik. Namun ia berhasil mengontrol dirinya sendiri.

“Minho-ya… “ Su Ji menatap kedua mata Minho dalam-dalam. “Apa… aku akan mati?”

Minho langsung menggelengkan kepalanya. Raut cemas sedikit tersirat di wajah tampannya itu. “Tidak, kau tidak akan mati Su Ji-ya. Jangan pernah mengatakan hal itu lagi,” jawabnya atas pertanyaan Su Ji.

Air mata Su Ji tak juga berhenti menetes. Kemudian yeoja itu terduduk jatuh di lantai kamarnya. Ia menangis tersedu-sedu. “Aku tidak mau. Aku tidak mau mati. Aku ingin hidup!” serunya sambil terisak. Ia merasakan dadanya sakit sekali. Baru kali ini ia mengerti apa artinya hidup dan betapa sulit mempertahankannya. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dan sekarang matanya benar-benar terbuka.

Minho pun berlutut di depan Su Ji agar tinggi mereka setara. Satu-satunya hal yang disyukurinya selama ini adalah, ia tidak bisa menyentuh Su Ji. “Mau kuceritakan sesuatu?”

Su Ji menatap Minho dengan kedua matanya yang berair. Mulutnya sama sekali tak terbuka namun wajahnya lah yang menggantikannya untuk bertanya.

“Tentang kenapa aku mau menyerahkan separuh nyawaku untukmu..”

Su Ji mengerutkan keningnya samar. Kedua matanya kini beralih menatap ke arah mata Minho. Seolah ia ingin masuk ke dalam kedua bola matanya yang hangat dan tenang itu.

“Aku sangat menyayangi sahabatku, Key. Ia telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Mungkin kau tidak tahu bagaimana dulu aku dan Key yang sangat dekat satu sama lain. Ia selalu membantuku, bersamaku ketika aku sedih, di sisiku ketika aku bahagia, dan ia adalah satu-satunya orang yang mau tersenyum padaku walaupun seisi dunia membenciku,” kenang Minho tanpa menatap yeoja di depannya itu. “Aku tahu, meskipun persahabatan kami begitu dekat, kami pun tak luput dengan adanya masalah. Suatu ketika, aku bercerita pada Key kalau aku menyukai seorang yeoja. Cheon Sa noona. Aku selalu bercerita padanya tentang perkembangan hubungan kami. Semuanya, semua yang kualami bersama Cheon Sa noona kuceritakan padanya. Dan… saat aku menyatakan cintaku pada Cheon Sa noona dan aku memberi tahu pada Key kalau Cheon Sa noona menerimaku, entah kenapa sikap Key agak berbeda dari biasanya. Aku juga tidak yakin dengan tebakanku, namun aku merasa Key seperti tidak senang dengan apa yang ku ceritakan kali ini…”

“Lalu?” kali ini Su Ji membuka mulutnya untuk bertanya.

“Tiba-tiba Key menangis di hadapanku. Ia berlutut sambil mengaku kalau ia juga mencintai Cheon Sa noona. Aku sangat terkejut dengan pengakuannya itu. Tentu aku merasa tidak tega telah merebut yeoja yang dicintai sahabatku sendiri. Ya, walaupun Key selalu mengatakan tidak apa-apa. Namun aku yakin apa yang ia ucapkan berbeda 180 derajat dengan apa yang dikatakan hatinya..”

“Apa Key masih mencintai Cheon Sa?”

Minho terkekeh kecil. “Sebenarnya, setelah kejadian itu sikap Key berubah. Ia menjadi senang mempermainkan para yeoja. Entah itu untuk pelampiasannya atau apa dan aku sangat prihatin melihatnya seperti itu. Tapi, ketika Key tak sengaja melihat fotomu, ia seperti tersihir oleh sesuatu yang tidak ku mengerti. Kau tahu, kedua matanya seolah terpaku padamu, ia tak henti-hentinya tersenyum. Lalu ia bertanya padaku siapa namamu. Aku bilang aku tidak tahu. Tapi… ia malah memaksaku untuk memata-mataimu,” kenang Minho sambil tertawa.

Su Ji pun melakukan hal yang sama. Ia tidak tahu kalau sampai ada namja yang mengaguminya seperti itu. “Lalu?”

“Saat aku memberi tahu namamu, ia sangat senang. Sangat, sampai meloncat-loncat di kasurnya. Dan ia pun mengatakan kalau ia akan kembali ke Korea. Sejak itu, aku menyadari satu hal. Key, sangatlah mencintaimu. Ia rela melakukan apapun demi kau. Kau ingat, ia bahkan masih setia tersenyum padamu meski kau membangun tembok kebencianmu setinggi langit…”

Su Ji menurunkan pandangannya. Ia kembali teringat masa itu. Ketika ia amat sangat menolak kehadiran Key dalam hidupnya. Key selalu mendekatinya, bahkan menolongnya saat ia dikereroyok beberapa yeoja menyebalkan. Key begitu tulus, semua itu dilakukannya berdasar akan cintanya yang tak bisa ia lihat seberapa dalam itu. Ya, Su Ji dapat merasakannya. Merasakan bagaimana rasanya dicintai, sesuatu yang tak pernah dirasakannnya kecuali dengan orang tuanya.

“Su Ji-ya… saat aku melihatmu di surga waktu itu, yang kurasakan adalah perasaan bahagia. Kebahagiaan yang akan kudapatkan jika aku bisa membuat sahabatku tersenyum senang. Keinginanku adalah melihat Key bisa hidup bahagia bersamamu, yeoja yang sangat dicintainya…”

Su Ji tertegun akan kalimat terakhir yang diucapkan Minho. Hidup bahagia bersama Key? Apakah ia harus menjalaninya? Apakah itu benar-benar menjadi keinginan Minho yang terakhir kalinya? Tapi… apa ia yakin dengan hatinya sendiri? Kalau ia mencintai Key dengan tulus?

“Apa kau bisa?” tanya Minho lirih.

Su Ji terdiam. Jujur, ia tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan itu bahkan lebih sulit dari sebuah soal matematika tingkat tinggi sekalipun. “Aku… aku…”

“Berusahalah,” potong Minho dan Su Ji langsung melihat ke arahnya. “Demi kita berdua… demi pengorbananku, dan kehidupanmu,” lanjutnya dengan tatapan memelas.

Setetes air mata Su Ji kembali jatuh tanpa komando. Ia merasakan sesuatu berdesir di relung hatinya dengan lembut. Kemudian sesuatu itu memeluknya hangat, memberikan sebuah kepercayaan dan kasih sayang. “Minho-ya…” gumamnya dengan sisa suara yang ia miliki.

Minho tersenyum. Ia percaya akan satu hal, Su Ji dapat melakukannya. Ya, ia akan mempercayakan semuanya pada yeoja itu. “Kau juga sahabatku, aku ingin melihatmu bahagia dengan namja yang kau cintai. Agar saat aku tak bisa menemanimu lagi, kau sudah bersama namja yang akan menjagamu. Kau tidak akan sendirian…”

Su Ji berdiri di ambang pintu ruang kelasnya. Ia melihat semua orang sibuk belajar, mempersiapkan diri untuk menempuh ujian akhir yang sebentar lagi akan datang. Su Ji menghela nafas panjang. Bukankah ia adalah bagian dari mereka juga? Ia akan mengalami nasib yang sama dengan mereka.

Lalu Su Ji pun berjalan ke tempat duduknya dan membuka buku apapun yang ada di dalam tasnya. Seisi kelas menatapnya heran. Seperti memandang sesuatu yang sangat menakjubkan. Tapi Su Ji memilih untuk diam. Ia sama sekali tak berniat untuk menggubris omongan orang lain tentang dirinya.

“Jangan memaksakan diri seperti ini,” ucap Minho yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Su Ji. Ia khawatir akan perubahan drastis pada Su Ji kalau begini caranya.

Su Ji pun sama sekali tak menanggapi apa kata Minho. Ia tetap menekuri buku-bukunya. Belajar semaksimal mungkin untuk menghadapi ujian akhir yang sudah ada di depan mata. Kali ini ia ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Ia ingin menunjukkan pada kedua orang tuanya kalau ia bisa menjadi manusia yang berguna. Setidaknya, sebelum ia akan meninggal suatu hari nanti…

Su Ji menatap layar ponselnya setelah mengirim sms untuk Key beberapa detik yang lalu. Ia tersenyum sambil memandang pepohonan maple di sekitarnya. Entah ini hanya perasaannya atau tidak, ia merasa begitu damai berada di tempat ini.

“Apa ini caramu untuk melakukan semua kebaikan selama 14 hari?” tanya Minho sambil melipat tangannya di depan dada.

Su Ji menatap lurus ke depan. Tapi ia mendengar apa yang dikatakan Minho sehingga ia berniat untuk menjawabnya. “Aku hanya ingin membuat orang lain bahagia sebelum aku meninggal. Aku tidak ingin menyesali kehidupanku…”

Minho tersenyum. “Percayalah, kau akan tetap hidup. Kau tidak akan meninggal dalam 14 hari. Aku tahu takdirmu tak seperti ini,” hibur Minho meyakinkan.

“Tidak ada yang tahu akan takdir seseorang Minho. Aku pun begitu…” balas Su Ji lalu menundukkan kepalanya.

“Su Ji-ya!” panggil Key ceria. Seperti biasa, ia selalu memberikan senyum lebar pada yeoja yang disayanginya itu. “Tumben sekali kau mengirim sms padaku?” katanya sambil duduk di sebelah Su Ji.

Su Ji membalas senyum Key. Suatu hal yang cukup jarang dilakukannya. “Kau tidak suka?”

“Hahaha… anio,” bantah Key. Kemudian ia menatap kedua mata Su Ji dengan lembut. “Aku tidak menyukainya, tapi mensyukurinya…”

Su Ji terkekeh kecil. Lalu ia mengambil kotak makan di sisinya. “Ini, aku membawakannya untukmu,” ujarnya sambil menyodorkan kotak makan itu di depan Key.

Key terlihat heran sekaligus takjub. “Wow, kotak makan? Apa isinya makanan?”

“Bukan, tapi batu. Aisshh, kau ini!” balas Su Ji sambil berpura-pura memukul Key. Mereka berduapun tertawa sampai Key membuka kotak makan itu.

“Wah… bentuknya lucu sekali! Apa kau yang membuatnya?” tanya Key tanpa melepaskan tatapannya pada isi kotak makan itu.

“Ne. Tapi aku tidak yakin akan rasanya, hehe…”

“Keurae, akan ku coba,” Key pun memasukkan satu suapan telur gulung ke mulutnya. Ia mengunyah sambil menunjukkan ekspresi layaknya chef. “Hm, rasanya…”

“YA!” seru Su Ji sambil mendorong bahu Key. “Ottohke?”

“Enak,” jawab Key singkat lalu menatap wajah Su Ji dan tertawa. “Hmmppff, maksudku enak sekali chagi. Aku baru tahu kau bisa masak juga.”

“Sincha? Kau tidak bohong kan?”

“Untuk apa?” yakin Key sambil tersenyum.

Su Ji merasakan kedua matanya hangat karena air mata. Tiba-tiba ia memeluk Key dan membuat Key terkejut. Ia memeluk namja itu begitu erat hingga meneteskan air mata. “Mianhae, jeongmal mianhae…” ucapnya dengan suara bergetar.

“Kau kenapa Su Ji?” tanya Key khawatir.

Su Ji tak menjawabnya. Ia terus memeluk Key seolah tak mau melepaskannya lagi. Ya, ia tak mau kehilangan namja sebaik Key. Dan ia merasa sangat ketakutan kalau hal itu benar-benar terjadi.

Minho menggelengkan kepalanya. Ia merasa begitu kasihan pada Su Ji. Yeoja ini begitu menginginkan kehidupannya, ia tak ingin meninggalkan orang-orang yang perlahan mulai mencintainya. Kenapa bisa terjadi hal semacam ini padanya? Apa ia tak bisa melakukan sesuatu? Sesuatu yang bisa menyelamatkan Hwang Su Ji…

Su Ji memandang hamparan rerumputan hijau di depannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, memasukkan udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia menutup lalu membuka matanya sambil tersenyum.

“Kau suka ke bukit ini?” tanya Key yang berdiri di sisi Su Ji.

Su Ji menganggukkan kepalanya. “Aku merindukan Eomma dan Appaku. Ketika aku kecil, aku sering pergi ke tempat ini setiap akhir pekan,” jawabnya sambil mengenang masa kecilnya.

Key tersenyum simpul. Kemudian ia merangkul Su Ji dan menyandarkan kepala yeoja itu ke pundaknya. “Aku juga begitu. Aku merindukan kedua orang tuaku. Bahkan, aku sudah lama sekali tak bertemu dengan mereka..”

Su Ji mendesah pelan. “Aku menakuti satu hal…”

“Hm? Apa itu?”

“Suatu saat nanti, bagaimana kalau tiba-tiba aku menghilang dari dunia ini? Bagaimana kalau aku tidak diberi kesempatan melihatmu lagi? Eomma dan Appa… bagaimana kalau aku tidak sempat berbicara dengan mereka lagi? Ba…”

“Hwang Su Ji!” Key memotong kata-kata Su Ji. Ia memegang pundak yeoja itu dan melihat kedua matanya yang sudah basah oleh air mata. “Apa yang kau bicarakan?”

Su Ji menatap mata Key. Ia melakukannya agar suatu saat ia bisa mengingat tatapan ini ketika ia sudah tidak bisa lagi melihatnya. “Kau mencintaiku?”

“Keurom… aku sudah mengatakannya ratusan kali. Kau tidak percaya juga? Apa lagi yang harus kulakukan?”

Su Ji menggeleng. “Tidak ada…” ucapnya sambil terisak. Key memandangnya bingung. “Aku tidak tahu apa yang terjadi pada hidupku. Dan aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti…”

“Apa maksudmu?”

“Jangan pernah menangis karenaku. Jangan menghancurkan hidupmu demi aku. Dan jangan mengacuhkan kebahagiaanmu jika kau teringat padaku. Aku mencintaimu Key… aku telah berusaha semampuku dan aku berhasil,” Su Ji tersenyum sekilas sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. “Karena itu aku juga akan berjuang semampuku. Aku tidak ingin berpisah denganmu secepat ini. Percayalah… aku mohon,” pinta Su Ji lalu dipeluknya kekasihnya itu. Ia masih meneteskan air matanya dan merasakan degup jantung Key yang tenang.

Sementara Key memilih untuk diam. Ia membiarkan Su Ji menangis di pundaknya. Sepuas yeoja itu melepaskan semua bebannya dan ia akan menerimanya dengan lapang dada. Key tahu, hidup Su Ji tidak sesimple perkiraannya. Namun ia juga tak mampu menjangkau semua itu. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu, sampai saatnya nanti, ketika Su Ji mau menceritakan semuanya. Semua yang pernah dialaminya selama hidupnya…

Minho berjalan ke dalam sebuah ruangan putih. Ia melihat ke sekelilingnya, seperti mencari-cari sesuatu. Ia mengepalkan tangannya sendiri, merasakan degup jantungnya yang semakin lama semakin cepat. Hingga ia bisa mendengarnya sekarang.

“Apa kau disini? Apa kau melihatku dan dapat mendengarku?” teriak Minho namun tak seorangpun menyahutnya. “Aku yakin kau ada disini…”

Minho menundukkan kepalanya. Air matanya terasa menggenangi pelupuk matanya. “Aku mohon, lepaskanlah dia dari masalah ini. Dia harus tetap hidup. Masih banyak hal berguna yang harus dilakukannya. Kau tahu, ia baru merasakan kebahagiaannya saat ini. Dia…”  Minho pun jatuh berlutut. Air matanya merebak jatuh hingga membentuk dua aliran sungai kecil di wajahnya. Ia begitu kalut, dan ia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

“Aku mohon, biarkanlah ia hidup. Jangan ambil nyawanya. Aku telah mengorbankan nyawaku. Aku mohon… aku mohon…” ucapnya sambil terisak.

“Hwang Su Ji, dia adalah yeoja yang baik. Aku menyesal, aku sangat menyesal… Karena aku adalah orang yang membuatnya menjadi seperti itu… “ Minho membiarkan semua air matanya jatuh bercucuran. Ia menyesali masa lalunya yang begitu kelam. “Aku tak pernah melihatnya meskipun ia memberiku kebaikan ribuan kali. Aku menyesal Tuhan… aku sangat menyesal…”

Minho pun tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Ia semakin menangis sejadi-jadinya. Juga berteriak tanpa ada yang menyahutnya. Ia merasa dijatuhi hukuman yang sangat berat. Penyesalan yang sangat menyakitkan. Ia tak sanggup melewatinya. Terlalu berat dan sulit. “Su Ji-ya… maafkan aku…” gumamnya lirih.

Su Ji memandang cermin yang ada di hadapannya. Kedua matanya berkaca-kaca. Bayangannya masih menghilang. Ia tak dapat melihat dirinya sendiri di cermin itu. Su Ji mengigit bibir bawahnya. Apakah hidupnya memang harus seperti ini?

Perlahan Su Ji menggerakkan tangannya ke cermin itu. Menyentuhnya dengan gerakan yang sangat lembut. “Apakah aku akan mati? Atau menghilang?” gumamnya dengan suara bergetar.

Tak terasa air matanya sudah mengalir di wajahnya. Seluruh tubuhnya bergetar. Ia sangat ketakutan, ia tak bisa membayangkan kalau kematian itu benar-benar menimpanya.

“Dilaporkan dari Busan, Korea Selatan. Hingga berita ini diturunkan, Kepolisian masih menyelidiki tentang adanya kejanggalan dalam kecelakaan yang pernah terjadi di daerah ini…”

Su Ji pun membalikkan badannya dan memperhatikan layar tv. Ia mengerutkan kening saat melihat lokasi kecelakaan yang terpampang disana. Bukankah itu lokasi kecelakaannya dulu? Su Ji langsung menyambar remote tv dan mengeraskan volumenya.

“Beberapa menit yang lalu, Polisi Ahn memberikan keterangannya bahwa sementara ini telah di tetapkan seorang tersangka. Tersangka sendiri adalah seorang pemuda yang berasal dari salah satu keluarga konglomerat di negara ini. Dan diketahui pula jika pemuda itu bernama Key atau yang bernama asli Kim Ki Bum…”

Su Ji langsung menjatuhkan remote tv yang ada dalam genggamannya. Nafasnya tercekat dan tenggorokannya terasa tercekik saat ia melihat wajah kekasihnya sendiri di layar tv. Su Ji tak bisa memikirkan apapun saat ini. Pikirannya benar-benar dibuat beku dan kaku. Air matanya pun tak bisa menetes sama sekali. Apakah ini kenyataan? Atau hanya mimpi buruknya belaka? Lalu, bisakah ia terbangun lagi? Dan… melupakan semuanya?

To be Continued…

J Omo… apakah benar semua yang diberitakan di tv? Apakah Key memang….

J Lalu bagaimana dengan kehidupan Su Ji? Bisakah ia menerima takdirnya begitu saja?

J Dan apa yang akan dilakukan Choi Minho untuk menolong Su Ji? Berhasilkah ia?

J Keep waiting readers, karena penulisannya cukup sulit, maka ff ini membutuhkan waktu yang cukup lama juga. Hehe… author sempet dibuat pusing dan bahkan kehabisan ide, huhu… T.T #author curcol…

J Overall, neomu ghamsahamnnida to all readers yang udah setia membaca fanfic ini!! \(^.^)/ #hug kiss

-heigh�@0’�{ X�

Su Ji menggenggam cangkir putih berisi moccalate yang hangat itu sambil memandang sekeliling. Suasana coffee shop malam itu cukup ramai juga. Mungkin, karena di luar sedang turun hujan sehingga mendorong orang-orang untuk menikmati sesuatu yang hangat. Su Ji pun merapatkan coat cokelat muda yang dipakainya lalu memperhatikan Key yang masih asyik dengan kameranya. “Wae? Kau menertawai fotoku ya?”

Key tertawa kecil dan menatap Su Ji dengan lembut. “Neomu yeppo,” ucapnya sambil tersenyum.

Su Ji mencibir. “Kau pikir aku sama dengan mereka? Aku tidak akan termakan rayuanmu, Kim Ki Bum!”

Lagi-lagi Key hanya tertawa menanggapinya. Ia pun kembali berkutat dengan kameranya. Mengamati foto demi foto, yang semakin lama semakin aneh dirasanya. Entah ini perasaannya atau tidak, ia merasa wajah dan tubuh Su Ji sedikit menghilang.

“Kau sering kesini?” tanya Su Ji membuyarkan pikiran Key hingga namja itu mau tak mau menatap Su Ji dan mengalihkan kameranya untuk sementara.

“Ne… Saat aku bosan, aku akan kemari,” jawab Key berusaha menutupi rasa penasarannya.

“Ah… tempat yang bagus,” kata Su Ji.

Key tersenyum. “Kau senang?” tanyanya.

“Hm, “ jawab Su Ji singkat. Kemudian ia memandang ke jalanan di luar. Dinding kaca di hadapannya di penuhi dengan tetesan air hujan yang berubah menjadi embun. Su Ji menghela nafas pendek. Bukankah seharusnya ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri? Tiba-tiba Su Ji mengerutkan kening, seperti tersadar akan sesuatu.

“Sebentar lagi, kita pulang ya,” ujar Key lalu menyesap kopinya. Ia tak memperhatikan sikap aneh Su Ji dan kembali memfokuskan perhatiannya pada si kamera.

Su Ji melihat ke sisi kaca di hadapan Key. Pikirannya semakin bertambah aneh ketika ia bisa melihat bayangan Key di kaca tersebut. Lalu kenapa ia tak bisa melihat bayangannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Su Ji menyapukan pandangannya ke seluruh isi ruangan tersebut. Semua orang di dekat kaca memiliki bayangannya sendiri-sendiri. Sementara dirinya, apakah ia… menghilang?

To be continued…

J Apa yang terjadi pada Su Ji? Apakah ini merupakan pertanda buruk?

J Lalu, di saat Su Ji dan Key mulai saling mencintai, apakah hubungan mereka akan berjalan dengan baik pula?

J Tunggu ya kelanjutannya di next chapter, keep reading!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 13”

  1. semoga tidak terjadi apa2 pada suji…
    terus semoga minho bisa menyelesaikan semua urusannya dan pergi dengan tenang…
    dan juga semoga berita di tv itu tidak benar, dan semua itu hanya bagian dari rencana licik jonghyun dan siwon…
    ditunggu lanjutannya…

  2. AAAAAAA lanjut !!!!
    Eh buset, bikin penasaran nih. Sumpeeeee itu si Key kenapa cobaaa??? Aduh Minho, lu sama gw aja yak?? Kkkk~~ #ditampol
    Asek asek, ayo lanjutannya jangan lama-lama sceduler!!! #BUGH #DUGh #DUARRR

  3. AAAAAAAAAAAAAAAAAA next next next paaart thoooor ayooo aku harap ga lamaa yaa :((((( suji jangan meninggaaal, minhooo juga thor aku pengen semuanya hiduup.. aku jadi kebawa feelnya, sedih banget bayangan hilang terus mau meninggal. terus lagi cinta sama orang tapi orang itu di duga jadi tersangka kematian dirinya sendirii.. ayoooooo thooor ayoo aduh mianhae thor aku cerewet banget, soalnya aku udah nunggu2 ff ini :(((

  4. knp aku nangis ya? T.T
    huhuhuhu
    part ini lumayan nyesek..
    key jd tersangka? tp tetep ada yg janggal ya.. key kyk gak inget/gak sadar gtu pas kecelakaan itu.. kyknya ini ada hubungannya sama jjong n siwon..
    penasaran nih . … lanjutkan.. ditunggu

  5. Bener2 bikin pnasaran niiihhh… Key kenapa harus key?? Semoga cman fitnah aja ya..

    Lanjuuutttt…
    Next part..
    Fighting!!!

  6. baca part ini sambil ditemenin instrumental ost to the beautiful you itu rasanya.. TT^TT
    adegan key ama suji itu nyesek entah kenapa .. huwaaa
    ditunggu next chap nyaa (y)

  7. aku kasihan mha su ji hidup.a menderita… dia nggak bisa ngeliat bayangan.a sndiri bahkan orang yg dia cintai jd tersangka yg menyebabkn dia bs meninggal

  8. Wah sedikit demi sedikit semua masalahnya bakal muncul…
    Dan yang bikin penasaran, keterlibatan Jonghyun serta Key dalam kecelakaan yang dialami Minho itu apa? :O

    Hm.. Hwang Su Ji, kenapa sama dia? Dia ngilang? Jadi hantu gitu? #ditabok
    Hehehe, Overall it’s nice (y)
    I’m still waiting next chap 😀

  9. Eh, kog jd nangis bombay gni? Su Ji kenapa?si Minho jg kennapa?
    Si Key? Kyknya dy emg dimanfaatin sm JJong n Siwon oppa..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s