[FF KEY B’DAY PART] Vodka Rain – Part 3

VODKA RAIN –  PART 3

Written by Zikey

Main Cast: Kim Kibum, Kim Hyeo So

Support Cast: Lee Jinki, Kwon Jiyong, Choi Minho , Kim Jonghyun, Lee Taemin, Tuan & Nyonya Kwon

Genre: Angst, Mystery, Romance

Rating : PG +15 (Rated for Mild Language)

Length: Trilogy

Summary: Mereka ulang tahun, hari ini, keduanya. Dan sebuah kejutan datang, bahkan hingga membuat salah satu dari mereka menangis. Gadisnya tergeletak tidak sadarkan diri dengan darah yang terus menerus meresap ke dalam kasur. Apakah gadisnya bunuh diri, atau kah dibunuh? Tidak ada yang bisa ia percaya, bahkan teman-teman terdekatnya sekalipun.

Recommended Background Songs:

–          Yaya : Like a Storm, Like a Flame

–          Acoustic Collabo : A Mid Summer Night’s Dream

–          Lee Jeongmin ft HowL : Two People

–          As One : You’re My Baby

Pesanku: Duuuuhhh pasti anti-klimaks, aaaaaaaaaa takuuuuuuuuuuttttt. Anyway, untuk kalian yang udah ngikutin dari part 1, makasih yaaa ^o^b. Keep support yaaa~

“Jadi sejak kapan kalian bertemu?” Jiyong mulai bertanya.

“Hanya dua bulan sebelum Key bertemu dengannya, itu juga kami tidak dekat.” Onew menjawab diplomatis.

“Cinta pada pandangan pertama, huh?”

“Tidak, hyeongnim salah menilai. Ia hanya menarik perhatianku, membuatku ingin mengenalnya, hanya itu.” Onew meyakinkan, namun Jiyong hanya mengangkat bahu. “Serius!” serunya membuat Jiyong tertawa. Oh, ia baru menyadari darimana Hyeo So mendapat kebiasan untuk mengucapkan kata ‘serius’ untuk meyakinkan orang lain.

“Jadi kesan pertama yang baik?”

“Kurang lebih, anggota SHINee yang lain juga bilang begitu. Mereka hampir sama-sama menyukai Hyeo So di saat yang bersamaan.”

“Berarti tidak ada cinta segitiga?”

“Hampir, antara Minho dan Key, untungnya mereka berdamai. Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan Hyeo So… aku berharap bisa segera memasukkan orangtuanya ke bui.”

“Ia ayahku,” sela Jiyong tersinggung.

“Oh iya, maaf hyeongnim… aku tidak bermaksud apa-apa.” Jiyong langsung tertawa melihat respon Onew.

“Aku bercanda, bodoh!” ia berhenti tertawa, kemudian rautnya begitu serius. “Aku ingin membunuhnya, orang yang memperkosanya tanpa tahu malu dan orang yang menyobek nadi Hyeo So.” Onew menoleh dibuatnya, terkejut ia mendengar kalimat lontaran Jiyong. “Tidak akan ada yang tahu, apa yang sedang memenuhi otakku saat ini.” Katanya suram, dengan sunggingan senyum yang seolah mengiris hati yang melihatnya. Onew mengakuinya, hari ini, ia benar-benar melihat sisi lain senior-nya.

“Ayo!”

“Kemana?” Onew belum berdiri meski Jiyong sudah bangkit dan merenggangkan otot-ototnya.

“Menyelamatkan Key.”

“Maaf?”

Key meneguk ludah susah payah, kerongkongannya semakin perih, namun jemarinya lebih perih dari apa juga. Ia menyesal jarang ikut Jonghyun atau Minho ketika olahtubuh, sekarang rasanya tulang-tulangnya nyaris remuk. Tidak ada jalan keluar, jemari dan lengannya yang semakin lemas tak mungkin mampu melempar tubuhnya kembali ke kamar Hyeo So. Satu-satunya cara, terjun ke aspal yang baru bisa ia sentuh setelah kurang lebih 15 meter dari tempatnya bergelantung saat ini.

“Sialnya hari ini,” gumam Key dengan peluh yang makin deras mengalir di pelipisnya dan membasahi setiap helai rambutnya. Mengeluarkan tali dari tasnya juga tak mungkin, dengan apa ia bisa merogoh ranselnya? Kaki?

“Guru, maafkan aku… kali ini saja aku patah tulang, maaf yaaa….” Kemudian Key memejamkan mata dan terjun bebas ke bawah. Jika ada kata lain selain gamang yang bisa menggambarkan perasaan Key saat ini, maka, Key rela menggunakan kalimat itu hingga mati. Oh, sepertinya satu fakta terlupakan. Key sungguh takut ketinggian, dan demi Hyeo So, ia bergelantung di jendela kamarnya, juga demi Hyeo So, ia terjun bebas ke bawah tanpa pengaman dan hanya mengharapkan efek samping paling ringan.

“Hey bodoh!” Key benar-benar tidak mampu membuka matanya saat ini, ia gemetar, rahangnya mengeras, wajah dan telapak tangannya juga pucat pasi. “Key, aku datang untuk menjemputmu.”

“Aku masih harus menyelesaikan misiku wahai malaikat,” rengek Key masih dengan mata terpejam rapat, ia jadi semakin takut sekarang.

“Waktumu habis!”

“Tidak!” kemudian ketika pria ini membuka matanya, sosok Jiyong dan Onew memantul di bola matanya.

“Sudah siap mati?” ledek Jiyong, kemudian tertawa terbahak-bahak. Key hanya merenggut dengan pikiran kosong, bagaimana ia tidak mati? Tentu karena balon keamanan ini, namun… sejak kapan Jiyong dan Onew menyiapkan balon ini? Gila! Key benar-benar tidak menyangka ia masih bisa melihat matahari dan menginjak bumi.

“Besok, Hyeo So sudah setuju untuk memberi keterangan. Jadi sistemnya bagaimana?” Jiyong bertanya sambil membaca pesan dari manager-nya.

“Kalian yakin, benar-benar kedua orangtua Hyeo So tersangkanya?”

“Siapa lagi?” Key menyahut. “Hyeo So sendiri yang menceritakannya padaku, dan bukannya Jiyong hyeong sudah memberi kesaksian?”

“Nngg… bukan tentang itu, maksudku yang lainnya.” Jiyong langsung menatap temannya tajam, tentang yang lainnya? “Video yang kalian berikan itu, aku sudah mengamati dan menyelidikinya. Orangtua Hyeo So memang melakukannya, tapi… penyebab luka di pergelangan tangan Hyeo So.” Key langsung berdiri dari kursinya, sudah bisa menebak siapa yang dimaksud.

Dengan emosi membeludak, Key meninggalkan Jiyong yang terus-terusan memanggilnya dan berusaha mengejar. Tidak ada ampun, Key benar-benar tidak akan melepaskan bajingan yang telah mengecewakannya dan menyalahgunakan kepercayaannya. Ia bahkan tidak lagi mengontrol kecepatan mobilnya, sekuat mungkin ia menekan pedal gas, melaju menuju asramah SHINee.

Hyeong gila!” seru Minho tidak percaya.

“Aku tahu Minho! Tapi tolong jangan vonis aku dulu, aku punya alasan.”

“Apa? Sebagus apa alasan yang hyeong miliki sehingga bisa membuatku menerima kenyataannya? Hyeong sakit, aku yakin hyeong sakit jiwa!”

“Minho! Dengarkan aku dulu! Saat itu aku seperti kerasukan, aku tidak bisa mengontrol apapun. Mungkin karena terlalu lama berusaha memendam perasaanku pada Hyeo So. Tapi sungguh, aku tidak benar-benar bermaksud—“ pintu kamarnya terbanting membuka, Key berderap masuk dan sebuah tinju melayang tepat di pipi Jonghyun.

“BAJINGAN!” Minho tahu Key akan segera kehilangan kendali dan menghajar Jonghyun dengan membabi buta, namun ia dilematik. Ia sama sekali tidak bisa memutuskan mana kelakuan yang benar, atau mana yang lebih baik Jonghyun dapatkan. Jonghyun tidak melawan, sama sekali enggan mengangkat tangannya. Air mata Key seolah merembes hingga hatinya, perih, ia sakit hati melihatnya. Ingin sekali Jonghyun bunuh diri, namun baginya ini lebih baik, ia pantas.

“Key, hentikan! Cukup, Key!” Minho berusaha menangkap kedua pergelangan tangan Key, ia tidak bisa membiarkan Key membunuh keluarga mereka sendiri. “Key, ingat, ia Jonghyun, keluarga kita, hentikan Key!”

“Keluarga? Aku tidak sudi menjadi keluarganya. DENGAR BAJINGAN! AKU TIDAK SUDI MENGENALMU, AKU TIDAK SUDI MENJADI ADIKMU, AKU TIDAK SUDI MENJADI KELUARGAMU!” Minho tidak tahan, sekuat tenaga ia menarik Key dari tubuh Jonghyun yang sudah lemas. Minho memeluknya erat-erat, tidak peduli pada rontaan dan celaan Key yang menusuk-nusuk gendang telinganya, ia hanya tidak bisa membiarkan SHINee hancur seperti ini.

Ketiganya menangis, layaknya anak kecil, Key menangis meraung-raung, hatinya begitu sakit, perih. Jauh, amat sangat jauh lebih sakit dari gusi yang mengalami peradangan kronis. Minho dan Jonghyun hanya menangis dalam diam, Jonghyun tak mampu bicara apalagi bergerak, ia hanya terlentang di lantai tanpa tenaga dengan darah-darah mengotori wajahnya.

Di ruang TV, seorang laki-laki terduduk lemas di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Tak ada yang tahu, tak ada yang menyadari kehadirannya, tidak ada yang mendengar suara tangisnya. Ia menangis karena mendengar pengakuan Jonghyun pada Minho, dan ia menangis karena Key datang dan menghajarnya, ia juga menangis… karena kenyataan yang begitu memilukan harus datang padanya, ketika ia baru akan mengajak keempat kakaknya menonton aksi panggungnya.

Apakah seperti ini akhirnya? Apakah SHINee akan benar-benar hancur seperti ini? Jika tuhan memang tidak ingin mereka menjadi sebuah keluarga selamanya, kenapa harus bertemu? Bolehkah umatmu kecewa padamu, meski hanya untuk sementara? Jika tidak, berikan jawaban untuk umatmu, agar tak ada salah paham.

10, October 2012

Jiyong oppa kembali, kebenaran terungkap, kami begitu lega. Bodohnya kalau aku ingat bagaimana sebuah penyakit bernama Stockholm syndrome membuatku membela kedua orang yang aku benci itu. Hakim memberi hukuman sepadan kepada mereka, namun aku tetap merasa berat melihat ibu masuk ke penjara karena lelaki tidak tahu malu itu. Di sisi lain, Jiyong oppa pasti lebih berat melihat ayah kandungnya seperti ini. Namun hidup tetap berjalan, Jiyong oppa sangat kuat, terlihat sejak pertama aku mengenalnya.

Aku turut menyesal pada Jonghyun oppa, aku tidak begitu sakit hati dengannya. Lagipula, Jonghyun oppa belum sempat melakukan apa-apa padaku, hanya aku yang terlalu berlebihan. Luka di pergelanganku juga bukan sengaja, ia benar-benar tidak sengaja. Aku sudah terlalu muak dengan hidup, menyuruhnya untuk pergi meninggalkanku dan biarkan aku mengakui kejadiannya sebagai percobaan bunuh diri. Namun ia terlalu baik, membiarkan Key benar-benar memandangnya buruk karena ia merasa bersalah padaku. Meski tuntutan sudah di cabut, meski Jonghyun oppa baik-baik saja… bagiku belum cukup jika Key belum memaafkannya. Bagiku Jonghyun oppa tidak bersalah, mestinya Key juga beranggapan begitu.

Kami semua berusaha menenangkan pikiran, Jiyong oppa tetap sibuk dengan aktifitasnya sebagai musisi. Anggota SHINee yang lain mengambil liburan, selagi aku dan Key menikmati liburan kami.

Di Barcelona

Key keluar dari kamar mandi, hanya berbalut celana pendek dengan handuk kecil menggantung di lehernya. “Gantian,” kata Key sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Siang ini Key janji akan mengajaknya jalan-jalan ke Eixample dan Gotic—sebuah daerah seni dan daerah tua yang ada di Barcelona, yang tidak terlalu jauh dari Las Ramblas.

Dengan semangat Hyeo So membersihkan tubuhnya, memastikan ia cukup segar untuk menikmati malam di kota Barcelona yang indah. Betapa bahagia ia memiliki Key di sisinya, Hyeo So percaya Key tidak akan pernah membuatnya menyesal.

Hyeo So tersenyum melihat pantulan dirinya pada cermin, betapa bahagia hatinya, kini ia bisa dengan bebas menatap cermin. Tidak lagi ia merasa kotor atau takut, tidak ada yang abadi, Key bilang apa yang sudah berlalu harus berlalu. Meski demikian, Hyeo So sangat berharap tuhan akan memberikan ia dan Key sebuah keabadian di mana ia dan Key tidak perlu berpisah.

Sementara di luar kamar mandi, Key yang telah berpakaian rapi kembali tertegun di depan jendela. Berkali-kali sudah ia terpekur mengingat SHINee, betapa ia merasa bersalah namun kecewa kepada mereka. Dirinya juga salah, ia sadar. Jika saat itu Jonghyun tidak sedang membuat pengakuan kepada Minho, mungkin yang babak belur adalah Minho. Ia sungguh merasa bersalah karena berperasangka buruk terhadap Minho, menuduh Minho sebagai pelaku ketiga dalam kasus Hyeo So. Sungguh, meskipun kecewa Key baru sadar, tak semestinya ia memukuli Jonghyun dengan membabi buta.

Sikap yang benar adalah meminta penjelasan, dan menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Namun nasi telah menjadi bubur, Jonghyun tak bisa melepaskan diri dari rasa bersalah, dan ia juga tak mampu menyentuh tangan Jonghyun untuk sekedar meminta maaf. Tak ada yang benar dan tak ada yang salah. Kini ia merindukan keluarganya, betapa ia tidak bisa berhenti memikirkan hari-hari yang telah lama ia lalui bersama Onew, Jonghyun, Minho, dan Taemin.

Ia membiarkan setetes cairan bening mengalir di pipinya, air mata rasa bersalah. Emosinya kembali teraduk-aduk. Oh, rasa bersalah di hati Key semakin bertambah ketika ia tahu Taemin menangis karenanya. Karena ia menghancurkan keluarga mereka, karena dirinya menghajar Jonghyun habis-habisan, karena ia membuat sebuah benteng kuat tak nyata. Jika saja Taemin sedetik lebih cepat, mungkin tidak akan begini kejadiannya. Mungkin, ia bisa menahan amarahnya dan mencoba berkepala dingin, untuk Taemin, untuk SHINee.

Hyeo So mengeringkan sekujur tubuhnya dengan handuk, kemudian mulai mengenakan gaun santai musim panas. Ia membuka pintu kamar mandi, dan untuk sesaat tertegun pada Key yang tengah berdiri di depan jendela. Seolah ia tidak pernah melihat Key yang begitu menawan, kali ini dirinya benar-benar terpesona.

“Matamu seperti akan keluar sebentar lagi,” gumam Key lalu menoleh padanya dan tertawa. “Berhenti melihat seperti orang bodoh, kita bukannya baru pertama bertemu kan?” Key tidak pernah menggunakan jas ketika jalan bersamanya, itu alasan kenapa Hyeo So amat terpukau dengan penampilan Key hari ini. Jas hitam, kaus putih dengan corak-corak penuh warna, dan celana panjang warna merah… ini kenapa namanya Key.

Sneakers merah kembar menemani langkah mereka kali ini, keduanya berjalan seperti pasangan lain di tengah tenangnya daerah Ramblas—terletak satu km berjalan kaki dari pusat Kota Barcelona, daerah yang tenang dan penuh seni. Beberapa kali Key harus mengejar Hyeo So yang tiba-tiba berlari karena sebuah karya seni yang menarik perhatiannya, namun bagi Key tidak ada saat-saat yang lebih baik dari ini.

Menikmati keindahan Barcelona bersama Hyeo So, berdua, meski selalu membuatnya teringat pada Onew dan Taemin yang menemani perjalanannya tahun lalu. Walau sudah dua kali, Key tetap tidak bisa menghentikan dirinya dari mengambil gambar-gambar setiap sudut tempat wisata Barcelona.

“Terima kasih,” kata Hyeo So ketika keduanya duduk tidak jauh dari La Pedrera—Sebuah apartemen karya Gaudi atas permintaan suami-istri Milla. “Aku selalu ingin bisa berkunjung ke Barcelona. Setidaknya, kalau harus mati sekarang, aku tidak akan terlalu menyesal,” guraunya.

“Jadi kamu tidak menyesal kalau nanti meninggalkan aku duluan?” Key pura-pura marah.

“Kan itu hanya kiasan Key, karena aku sangat bahagia.”

“Hahaha iya aku mengerti Kim Hyeo So,” Key kemudian merangkul gadisnya, mereka duduk dalam diam menikmati setiap angin yang berhembus. “Hyeo So… ayo kembali ke Korea.” Hyeo So reflek mendongak kaget, namun Key diam, matanya memandang lurus ke depan seolah Hyeo So salah mendengar.

“Semuanya sudah terasa lebih jelas, terasa lebih tenang juga. Sepertinya… sudah bisa memaafkan Jonghyun hyung.” Hyeo So tidak menyahut, ia hanya memeluk kekasihnya erat-erat. “Biar bagaimana juga, mereka orang-orang yang dulu menemaniku ketika kesepiaan dan… Jonghyun adalah kakak terbaik yang pernah aku kenal. Aku menyesal sudah membuat masalah.”

“Tidak apa-apa, semuanya kelihatan wajar. Mereka mengerti keadaannya, kita kembali ke Korea dan menjalani semuanya seperti biasa juga sudah cukup. Aku merindukan mereka,” kata Hyeo So masih bersandar pada tubuh Key.

“Hyeoya,”

“Kenapa?”

“Aku mencintaimu,” Key mempererat tautan jemarinya dengan jemari Hyeo So.

“Aku tahu Key, aku juga.”

“Jadi, ayo menikah.”  Hyeo So reflek melepaskan dekapannya, menjauh dari Key untuk menatap matanya, mencari kebenaran.

“Jadilah istriku, yang pertama dan terakhir.”

UNTITLED

Adakah yang membaca catatan ini, aku harap ada. Jika aku sudah mati, atau sedang tidak sadarkan diri, atau… sedang tidak waras. Biarkan catatan ini yang menjawab.

Aku tahu ada yang aneh, sejak pagi ini aku tahu, Jonghyun bersikap lain dari biasanya. Salahku, aku tahu aku salah. Aku yang mendekatinya, aku berlebihan, aku membuatnya menaruh perasaan padaku, aku memberinya harapan palsu. Entah, tapi aku merasa akan ada yang terjadi. Tapi percaya, Jonghyun tidak akan melukaiku, aku percaya. Dia orang baik, hanya, hari ini ia terlihat marah. Jangan menyalahkannya, biarkan aku yang memberi kesaksian, biar aku yang memutuskan. Sekali lagi, aku yang salah.

Hanya… tolong sampaikan salamku pada Key. Bilang padanya, aku akan tetap mencintainya, kapan juga hingga aku tidak bernafas lagi, meski segala hal terjadi aku tetap mencintainya. Terima kasih.(23/09)

Sore ini indah, meski matahari lebih senang bersembunyi di balik tebalnya awan kelabu, meski cahaya matahari hanya berpendar sedikit di antara lubang-lubang awan, meski burung berterbangan menuju rumah mereka, meski angin berhembus terlalu kencang, dan meski rerumputan tak sempat menegapkan tubuh mereka, sore ini tetap terasa indah.

Ia memejamkan mata, gadis yang sedang mendengarkan alunan lembut koleksi lagu Epitone Project miliknya semakin menikmati permainan angin yang membuat rambutnya melambai, hidungnya bermanjakan aroma rerumputan yang bermandikan rintik-rintik hujan. Apakah langit sedang menangis sedih, ataukah mereka terlalu bahagia hingga menitihkan air mata?

Haruskah umat manusia menari di tengah hujan untuk mengucapkan selamat kepada langit atas kebahagiaannya, ataukah umat manusia harus ikut menangis seiring derasnya langit menangis? Jika tetesan air hujan ini membawa berkah, biarkanlah begitu, biar mereka para manusia dapat terus berterima kasih kepada langit atas air matanya. Namun jika tetesan air hujan ini membawa malapetaka, maafkanlah mereka yang berbuat salah, tak akan mereka ulangi lagi.

Tampias air hujan yang makin deras membasahi rambut gadis berlesung pipi ini, bibirnya menyunggingkan senyum, meski bulu kuduknya meremang, kedinginan. Perlahan kelopaknya terbuka, memamerkan keindahan coklat emas manik matanya, kemudian bola coklat keemasan itu bergerak, melirik pada seorang makhluk tuhan.

“Astaga… deras sekali hujannya.” Gerutu seorang lelaki sambil mengacak-acak rambutnya, berharap bisa cepat kering. Kemudian ia menoleh, dan mendelik tatkala melihat seorang gadis duduk tenang dengan rambut basah kuyup.

“Hei, kamu bodoh ya?!” lelaki ini melepaskan jaketnya dan melemparkan jaket tersebut kepangkuannya. “Agak basah, tapi setidaknya menghangatkan.” Ia bergumam agak gengsi, kemudian berbalik memperhatikan rerumputan.

Setengah jam berlalu begitu saja, lelaki ini sudah jenuh menunggu hujan yang tak kunjung reda, ia tidak bisa kemana-mana jika tidak ingin sakit. Kemudian ponselnya berbunyi.

“Ya? … aku di… duh, aku tidak tahu ini dimana, hanya ada tumbuhan! Iya… aku ingat… hem, sampai nanti.” Ia baru akan segera berlari menembus hujan ketika ia teringat gadis yang duduk tak jauh darinya.

“Ini,” lelaki ini langsung menoleh ketika mendengar suaranya, ia menjulukan tangan kanannya yang menggenggam sebuah payung tembus pandang. “Mau pergi bersama?” Tanya gadis ini. Ragu, namun lelaki ini tetap mengangguk meski pelan. Ia tersenyum, sesaat membuat sang lelaki seakan kehilangan akal, tapi kemudian nyawanya kembali dan ia balas tersenyum.

“Aku Key,” lelaki ini memperkenalkan diri sambil membuka payung.

“Hyeo So, senang berkenalan denganmu.” Gadis ini merapatkan jaket pemberian Key di tubuhnya, sambil mulai berjalan bersama.

“Kalau punya payung, kenapa hanya duduk diam sendirian?”

“Sedang menenangkan pikiran.”

“Oh ya? Apa efektif?”

“Tentu, aku lebih tenang sekarang.”

“Kapan-kapan ajari aku menengkan pikiran seperti itu.”

“Boleh,”

“Ngomong-ngomong, apa tidak kedinginan?”

“Tentu dingin, hahaha… sebenarnya aku bersyukur bertemu denganmu.”

“Hahahaha, spoof!” perbincangan kecilnya masih terus berlanjut, hingga tenggelam oleh suara guyuran hujan, kian menjauh dan menghilang. Namun rerumputan dan hujan rela menjadi saksi, bahwa mereka benar-benar akan kembali kemari untuk menikmati tanah yang dibasahi air hujan.

—END—

P.S: EPIC FAIL!! Anti-klimaks yaaaa? Huhuhu.. aku padahal udah berusaha. Ini penyakit kambuh terus, FF ku rata-rata anti-klimaks. Kenapa ya? :”( . Feel nya juga turun banget, mengecewakan ya? Aku juga kecewa kok hiks hiks. Aku latihan lagi deh ya untuk bikin yang lebih baik. 2NE segera lanjut ^O^! Di tunggu ya.

Makasih banyak untuk kalian yang baca FF ini dari Part 1, makasih untuk yang komen, kritik ataupun sarannya aku terima loh. Sangat sangat berterima kasih untuk kalian😀. Sampai ketemu di 2NE atau FF ku yang lain hehehe~

Untuk segala kekurangannya harap dimaklum, kritik dan saran saya terima dengan senang hati ^-^

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca ^O^

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

29 thoughts on “[FF KEY B’DAY PART] Vodka Rain – Part 3

    1. kurang jelas ya? aahh sangat gak jelas malah
      jadi, si Jjong itu… ah ya sudah lah heheh ._.v
      pokoknya, anggep aja apa yang kamu duga itu yang bener🙂
      makasih udah mampir ya saayy ^O^

  1. kukira dubu akan membuat masalah -,- baguslah akhirnya baca ff yang happy ending juga~ dari kemarin baca ff yang angst sama sad ending terus.. *ceritanya curhat*

    Sepaham sama komen diatas. emg jjongnya ngapain ya? ._.

    1. Happy ending sih… tapi masih gak jelas yah
      Jjong nya… duh…
      pokoknya si Jjong ini kan suka sama Hyeo, dia duh… udah aaahh hwueeeee
      aku jadi bete nih gara-gara endingnya gagal banget
      tapi makasih banyak loh masih mau mampir ^O^

  2. huwa.. Speechless..
    Jadi,, jjong yg ngiris nadi hyeoso? Ato kalo ngga, dy maksa hyeoso untuk nglakuin hal tsb?
    Itu yg aq pahami..
    Daebak!!

  3. Tuhan diketik T-nya kapital ya🙂

    jd jjong itu? yg hampir jg memperkosa atau yg hmpir memotong nadi? *telmi*

    bahasanya ringan.. endingnya… cooocuiiiittt cekali.. hahaha

    1. Loh? Aku tulisanya tuhan ya bukan Tuhan?
      oke, nanti aku koreksi deh, makasih yaaa🙂
      aahh bukan kamu yang telmi, emang aku fail kok kekeke
      hahaha
      makasih banyak ya udah mau mampir ^O^

  4. sumaph keren banget ni FF…
    ngak nyangka kalo yang ngelakuin itu Jonghyun,
    aku kira malah Jinki ato ngak Jiyong… beneran,,,,
    heheheh
    yyeeyeyey,
    aku mendukung hubungan antara Key dan Hyeo So.
    heheheheh

    VODKA RAIN …. Daebak. heheheheheheh

    1. Makasih yaaaaaa *lesu*
      Heemm.. kalau Jiyong sih emang harusnya gak masuk dalam tersangka
      ya gak sih? soalnya Hyeo So kan sayang banget sama kakaknya itu
      kekeke
      dukung terus ayooo ^O^b

      Makasih banyak pujiannya, makasih juga udah mau mampir ^O^

  5. Demi apapun, kmrn sore, di tengah kemacetan tol dalam kota dan hujan besar, aku udah komen via hp. Tapi knp ga masuk?? *sigh *capek

    Intinya, cerita ini seharusnya bisa booming kalo aja:
    a. Part nya lebih panjang, ga cuma 3 part. Biar lebih jelas ceritanya.

    b. Terkonsep dengan rapi. Klo yg 3 part ini bukannya ga terkonsep tapi kaya ada informasi yg missing di setiap part-nya. Aku bacanya jadi sedikit bilang, ‘eh? gmn? gmn?’ dan waktu dibaca ulang, aku ga nemu jawabannya.

    c. emosi di setiap part-nya se-gak-nya sama. Klo yg aku baca ya, part 1 cuma kaya riak-riak air laut, part 2 emosinya dapat bgt. Bergejolak lah ya aku bacanya. Nah, yg part 3, sumpe Zi, datar banget. Dan banyak pertanyaan yang muncul. Tapi kalo dibilang open ending, kaya nya ga juga. *tiba-tiba pening* hehehe

    Begitu Zika.. =]

    Anyway, glad to see u in this genre! Yooohooo!! o^.^o

    This is nice! Sooooooo niceeeee!!! Love ya Zi.. =]

    1. Di spam tapi gak ada storm:/

      a. Batas panjang maximum nya 3 part say, makanya aku juga udah sampe meres otak banget

      b. Aku buru-buru Storm. Part 1 tuh aku nulisnya spontan, part dua full mood, part 3 buru-buru. Gak boong deh. Sebenernya udah sadar banget salah, tapi mau gimana? Waktunya udah mau abis. Aku tetep harus ikut partisipasi, aku aja malah sampe gugur dari lombanya kan :((

      c. yang ini, gak tau ya… aku selalu gagal bikin ending. Biasanya Yen bilang “anti-klimaks” .. sampe sekarang masih gini juga.. pfftt

      Iya, masih pemula nih Strom. Ajarin aku yaaaa~
      kekeke..
      makasih loh Storm kamu mampir. Gak nyangka, beneran deh, walaupun berharap kamu muncul sih
      habis kamu bilang udah gak minat sama FF sih :’)

      Love ya Storm =D
      xoxo

      1. Hmm..Zika kalo ada didepanku, langsung kujitak deh.
        Emang aku pernah bilang begitu ya? Seingatku aku cuma bilang berhenti nulis FF. berhenti nulis bukan berarti berhenti baca kan?
        Cuma sekarang kadar bacanya itu udah 10%. Udah jarang bgt deh. Dan klo mau komen, ya sebacanya FF-nya aja. Klo ga ada komenku, berarti aku blm baca. Gitu..

        Eh, eh, emang skrg dibatasin ya? klo sequel harus 3 part? peraturan baru itu ya? aku baru tau.. Ehm..ga apa2 juga sih. daripada ga dilanjut ya FF nya hahaha *lgsg inget FF sendiri*

        1. Adow.. *usap kepala* storm gak di depanku aja jitakannya tetep nyampe
          kamu pake apa sih? Jne apa Tiki? sakit banget tau #ngaco
          10% ah masa?? bukannya cuma 3%? hahaha

          Duh, ketawan banget deh baru tgl 5 sama 6 kemarin mampir ke sf3si lagi
          ff ini kan buat lomba sayang, nah peraturan max 3 part itu buat lombanya. Bukan buat blog nya. author yg gak ikut lomba sih tetep bebas mau bikin ff sequel berapa panjang juga kkkk~
          kalo kamu udh berhenti nulis, aku belajar nulis genre beginian kemana yaa:/

  6. yang nangis di depan kamar itu taemin ya?
    bagus bagus bagus
    endingny g mengecewakan kok
    walaupun anti klimaks tpi bahasany bagus mudah dipahami
    aku nggk nyangka trnyt jong

    author pinter banget ya bikin reader salah tebak pelakunya ^^

  7. Genrenya bukan tragedy? Pantesan aq ga nangis ya, *gagnyambung*
    *plak*ditabok author*

    part1=belom mudeng
    part 2= udh mudheng
    part 3= nah lhoh, tb2 udh ending aja*abaikan*
    mian author,

  8. telat telaaaat

    alurny terlalu cepat kali yah, ak masih mudeng tiba” aja pelaku yg ngiris tangan Hye bang Jjong
    mana shinee bubar lagi. amit’ dah kalo kejadian -,-

    ah sudahlah, yg penting hepi ending dan satu lagi : ROMANTIS key ny haha

    seperti biasa, karya ZIka tetap GREAT (y)

  9. Cepet bgt thor udah ending lagi.tpi mian yah,aq bru komenny d part ini :D
    Jdi maksdnya jjong yang ngiris nadinya hye?
    So,awalnya key ngira minho yg ngiris nadi nya hye,tpi karna jjong ngaku ke minho and key denger jadi key tau klo ternyata jjong pelakunya?
    Owh God,bner2 bkin mikir epep nyah yah …hehehehehehe
    Not bad lah akhirny,ga buruk ko😀
    Betewe,jgn bkin shinee bubar yah,bikin sedih

    1. Gak apa-apa ^^, kamu komen juga aku udah seneng hahaha
      Nah nah, kurang lebih kayak gitu
      terlalu bikin mikir malah! Salah ngelangkah aku kekeke

      Iya iya, next no more disbanded deh ^^
      makasih udah mampiirrr *peluk*

  10. baguuss bgt, suka bgt sm ceritanya
    jdi ikut nebak apa sbnernya yg trjadi sm hyeo so
    ga nyangka jjong yg trlibat q kira onew
    key baik bgt sih msh mau nerima hyeo apa adanya

    1. Waaaaahhh jadi tersanjung nih😀
      Sebenernya sih ini terlalu complicated dan ngegantung
      thanks god dari sekian yg baca masih ada yang bisa ngerti hehe

      Makasih ya udah mau mampir dan komen ^O^

  11. selesai juga… tp aq msh bingung loh. jjong itu yg ngebuat luka dinadi hyo seo atau yg memperkosanya?
    ya ampun jd jjong jg suka ya selain minho ama onew. ya tp aq suka endingnya🙂 bikin lg ya yg seru

    1. Enggak-enggak, Jjong cuma bikin luka, itu juga gak sengaja ^^
      yg memperkosa itu ayahnya
      pfffttt~
      Siiiippp ^^ ditunggu aja yaaa
      Makasih banyak udah mau mampir dan komen😀

  12. Zikeeeeeey-ssi, FF-nya bagus! *telat banget*
    Terutama Part 2. Di situ banyak kejutan banget. Dari yang Jiyong ngomong “Kau menyukainya, kan?” (kalau nggak salah) ke Onew.

    Jujur, emang endingnya nggak berasa greget. Tapi di tengah asik banget, deh. Demi! Banyak twist di tengah. Saranku sih pertahanin feel kayak yang di part 2. Berarti… nulisnya jangan dipotong-potong. Begitu feel lagi jalan usahain beresin ceritanya saat itu juga.

    Semangat!😀

  13. Ini ff gak ketebak banget. Dari preview part 3 nya kayak Jiyeong yg ngelukain Hyoseo. Tapi ternyata…….. Tp aku ngerti kok soal Jjong itu walaupun banyak yg gak ngerti. Jd si Jjong itu udah mendam perasaan dia dan gak tahan. Nah pas dia mau memperkosa Hyoseo dia gak sengaja ngelukain si Hyoseo terus dia pergi. Dan aku gak nangkep SHINee disband. Author nulisnya mereka liburan. Aku gak ngerti kenapa Key nuduh Minho? Saru lagi yg ketemuan waktu hujan2 itu Hyoseo sama Key kan?

    Jujur masih kurang tapi aku suka!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s