Silly Girl

SILLY GIRL

Author : *Azmi

Cast :

• Lee Taemin

• Min Seul Bin

Length : One Shoot (7000+ word)

Genre : comedy romance, bromance

Rating : PG 13

A/N : Annyeong…. Maaf kali ini aku bawa cerita aneh bin gaje. Maaf juga firts FF yang main cast-nya uri Taemin gag bisa maksimal. Cerita ini aku buat di tengah kegalaluan gara-gara ketolak di Snmptn undangan. Nasib baik masih belum berpihak padaku. Readers doain yang terbaik untuk Azmi ya… #Amin…. semoga diberikan kemudahan untuk kelanjutan perjuanganku meraih pendidikan selanjutnya *apaan deh Lebee banget ini*

Intinya aku minta DOA-nya kalian semua… *Teriak melas* Doa kalian sangat berarti buatku… mungkin aku gag bisa balas apa-apa tapi biar Allah yang memberikan pahala untuk kalian… aku sayang kalian… #Wusssssssssssss… *ngilang habis curcol*

***Azmi Present***

Taemin berjalan dengan wajah kesal. Tas ranselnya yang penuh dengan buku-buku tebal itu tergantung bergoyang seiring dengan langkah terburunya. Wajah ditekuk dengan umpatan-umpatan kecil mengawali paginya hari ini. Pagi yang menyebalkan. Bagaimana tidak, pagi yang seharusnya menyenangkan dengan cuaca secarah musim semi-padahal sedang musim panas-ini ia harus dengan tak elitnya mencuci seprai bekas ompol Noona tirinya.

Menyebalkaaaan…. Ingin rasanya Taemin meneriakkan isi hatinya, tapi apalah daya harga diri Taemin terlalu tinggi untuk sekedar berteriak demi sedikit membuat rasa sesak di dadanya berkurang. Tidak jika ia tak mengingat posisinya sebagai presiden siswa di sekolahnya. Apa kata dunia jika semua orang tahu penderitaan Taemin setahun belakangan ini. Mencuci seprai bekas ompolan, mencuci baju, membersihkan rumah, memasak dan pekerjaan-menurut Taemin-rendah lainnya. Dan itu semua dikarenakan kakak tirinya yang super menyebalkan. Parahnya Taemin masih harus memberikan les privat padanya, padahal Taemin setahun lebih muda dari kakaknya. Bayangkan saja, setiap malam Taemin harus berakhir dengan menyanyikan lagu lullaby di kamar kakaknya setelah penyiksaan-penyiksaan sepenjang hari. Apa dia pikir Taemin ini baby sitter-nya?

Bagaimana bisa ada gadis sebesar itu tapi masih sangat kekanakan. Taemin ingin mencekik lehernya, memutarnya kemudian menggantungnya di tiang jemuran jika saja penjara dan neraka itu tak pernah ada. Ya Tuhan~ padahal Taemin harus berkonsentrasi pada ujian akhir yang sebentar lagi akan dihadapinya atau jika tidak ia tak akan pernah bisa masuk ke SMA yang sudah lama ia inginkan.

“Taeminie~ kau masih marah?” Taemin memutar bola matanya kesal mendengar nada polos itu, “Ayolah, aku ‘kan tak sengaja mengompol. Lagi pula tadi juga aku membantumu mencucinya ‘kan? jangan marah lagi ne??”

Langkah Taemin berhenti seketika, memutar tubuhnya dan memandang sengit gadis yang-menurut Taemin-sok polos disampingnya.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan menggelikan itu!!” ucapnya tajam, “Dan apa kau bilang?? Membantu?? Hey~ kau tak sadar jika seharusnya kau yang mencuci seprai menjijikkan itu, bukan aku!! Dan tak sengaja katamu?? Tak sengaja tapi kau sudah melakukannya dua kali dalam seminggu ini!! Kau pikir aku pembantumu huh??”

“Kenapa kau jahat sekali?? Kau berkata seolah-olah aku melakukannya dengan kesadaran penuh. Kau lupa aku tengah tertidur saat itu terjadi??”

“Aiss jincha!! Memang apa yang kau lakukan dalam tidur nyenyakmu itu hingga kau tak sadar telah… Astaga~ aku tak sanggup mengatakan hal menjijikkan itu. Sudahlah, sebenarnya kau mimpi apa hingga bisa seperti itu?!”

Taemin kesal, benar-benar kesal. Gadis ini memang terlalu polos atau tolol?? Bagaimana bisa ada gadis 16 tahun yang masih saja mengompol. Dan parahnya sekarang gadis itu tinggal seatap dengannya.

Dan sekarang lihatlah, bukannya menjawab gadis itu malah menundukkan wajahnya begitu dalam. Dan hal itu pula yang selalu menjadi kelemahan Taemin. Ia tak pernah tega memarahinya lebih dari ini dengan wajah menyedihkan seperti ini.

Aling-aling melancarkan umpatan-umpatanya lagi, Taemin justru menarik gadis itu untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka kalau tak mau ketinggalan kereta. Demi apapun~ tahun ini adalah tahun terberat dalam hidupnya.

“Maafkan aku Taemin-a…”

“Sudah tutup mulutmu!”

****

Akhir pekan memang selalu menyenangkan. Tak ada belajar, tak ada pergi ke sekolah, tak ada PR dan tentu saja bisa menghabiskan waktu dengan bermain sepanjang hari. Dan begitu lah yang dilakukan Seul Bin. Ia mematut dirinya hampir lima belas menit lamanya di depan cermin, tak beranjak ataupun bergerak. Matanya sibuk menelusuri wajah yang menurutnya sangat cantik. Hey! Kalau kita tak yang memuji diri sendiri lalu bagaimana orang lain akan memuji kita. Setidaknya dengan begitu aura positive dalam tubuh kita akan terpancar. Begitulah pemikiran Seul Bin.

Puas dengan bercermin, Seul Bin memutuskan untuk segera berangkat sebelum matahari musim panas membakar kulitnya. Disampirkannya tas selempang kesayangannya di pundak kirinya kemudian keluar dari kamar dengan senyum merekah. Entah apa yang kini ada dipikirannya yang jelas, pasti ada rencana yang tengah dipersiapkannya.

Seul Bin menghentikan langkahnya begitu melihat pintu kamar Taemin yang berada tepat di depan kamarnya sudah tertutup rapat. Apa Taemin belum bangun? Tak mungkin, setahu Seul Bin bocah itu tak pernah terlambat bangun. Ia adalah orang terdisiplin yang pernah Seul Bin kenal, sangat berkebalikan dengan dirinya. Atau Taemin sudah pergi? tak biasanya Taemin keluar sepagi ini.

Sibuk bergelut dengan pikirannya yang tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya Seul Bin memutuskan untuk turun kebawah. Di ujung tangga Seul Bin dapat melihat Ayahnya tengah menikmati kopi paginya dengan selembar koran yang berhasil menutupi seluruh wajahnya dari penglihatan Seul Bin. Seul Bin memutar pendangannya ke sebrang kiri dan menemukan Ibu tirinya tengah sibuk memasak di dapur. Seul Bin berlari ke dapur dan menghempaskan bokongnya di atas kursi makan. Melepaskan tasnya kemudian meletakkannya di kursi sebelah kanannya.

“Eomma! Taemin dimana?” Tanya Seul Bin.

Wanita paruh baya itu membalikkan wajahnya kemudian menatap Seul Bin dengan senyum hangat, “Taemin ijin untuk menemui seseorang tadi…”

“Sepagi ini?”

“Iya, katanya ingin jalan-jalan dengan seseorang…” Jawab Ibunya. Wanita itu kembali membalikkan wajahnya kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.

Seseorang? Siapa? Gadis ‘kah? Jangan-jangan Taemin sudah punya pacar? Andwee… Seul Bin yang lebih tua saja belum pernah punya pacar, kenapa Taemin yang masih SMP berani berpacaran. Tidak boleh!!

“Eh sayang!” intrupsi Ibu membuyarkan lamunan Seul Bin.

“Ne Eomma?”

“Seul Bin tak ngompol lagi ‘kan hari ini?” tanya wanita yang sudah menjadi ibu tirinya selama setahun lebih ini.

Wajah Seul Bin sontak memerah mendengarkan pertanyaan polos Ibunya. Seul Bin menundukkan wajahnya karena malu. Walaupun Ibunya tak pernah marah, tetap saja Seul Bin merasa bodoh.

“Ani Eomma…” jawabnya lirih.

Seul Bin merasakan sebuah sentuhan hangat di punggungnya yang tertutup rambut panjang miliknya. Seul Bin mendongak dan mendapati wajah Ibunya menatap dirinya penuh kasih sayang.

“Gwaenchana… Kebiasaan itu suatu saat pasti akan berhenti. Tak masalah…”

Seul Bin membalas senyum hangat itu dengan pelukan. Ia membenamkan wajah di dada Ibunya. “Gomawo Eomma…” ucapnya.

Seul Bin melepaskan pelukannya kemudian menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Ibunya di meja makan bersama Ayah yang sudah lebih dulu dipanggil oleh Ibunya.

Seul Bin meneguk susu hangatnya hingga tandas kemudian beranjak dan kembali menyampirkan tas ke pundaknya. Dan bergegas pergi setelah mendapat izin dari orang tuanya.

****

Seul Bin tersenyum puas melihat tas belanjaan yang ditentengnya. Senyumnya semakin merekah membayangkan apa yang akan dilakukannya. Ia berjalan riang menelusuri trotoar yang akan membuatnya sampai di halte bis. Ia ingin segera pulang dan melancarkan aksinya. Sudah tak sabar ingin memberikan kejutan untuk Taemin sebagai permintaan maaf karena selama ini telah banyak merepotkan adik tirinya itu.

Langkah Seul Bin tiba-tiba terhenti. Begitu mata bundarnya menangkap siluet yang begitu dikenalnya. Itu Taemin, dengan sepeda kesayangannya. Dan siapa gadis yang mebonceng didepannya? Astaga~ apa benar Taemin sudah punya pacar? Tak boleh dibiarkan. Seul Bin tak terima. Entah mengapa ia merasa tak suka.

Seul Bin mempercepat jalannya atau lebih tepatnya kini ia tengah berlari mengejar Taemin.

“Taemin-a!! Tunggu!!” teriaknya. Tapi Taemin sudah terlalu jauh. Mana mungkin Seul Bin dapat mengejar Taemin yang bersepeda sementara dirinya hanya mengandalkan kaki kurusnya yang bahkan tak pernah dipakainya untuk berolah raga terkecuali saat di sekolah.

Seul Bin memutuskan untuk berhenti dan mengatur nafasnya. Lebih baik menanyakannya nanti saja saat Taemin sudah pulang. Ini benar-benar penghinaan bagi Seul Bin, bagaimana bisa adiknya yang bahkan masih SMP saja sudah punya pacar, sementara dirinya sekalipun tak pernah merasakan jatuh cinta.

****

Seul Bin mondar-mandir gelisah di kamarnya. Diluar hujan turun begitu deras dan Taemin sama sekali belum pulang. Seul Bin khawatir, tapi rasa takutnya mengalahkan segalanya. Tadi siang kedua orang tuanya pamit untuk pergi ke Seoul karena ada rekan bisnis ayahnya mengundang mereka dalam acara pernikah anaknya dan baru akan pulang esok hari.

Di luar hujan semakin deras. Petir menyambar semakin keras. Seul Bin takut, ia sangat takut dengan petir. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan belum ada tanda-tanda Taemin akan pulang.

Seul Bin menyambar ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Mencari-cari nomor kontak Taemin, namun belum juga ia sempat menekan tombol Call, petir menyambar pendengaran Seul Bin hingga ponselnya tanpa sengaja terlempar dari tangan Seul Bin hingga jatuh dengan begitu mulus di lantai kayu kamarnya. Seul Bin memandang miris ponsel yang kini hancur itu.

Seul Bin berangsek hendak mengambil ponsel miliknya, namun tiba-tiba saja lampu mati. Seul Bin memekik keras. Demi Tuhan ia fobia kegelapan.

Seul Bin mengedarkan pandangannya, semuanya gelap. Tak ada setitik cahayapun yang mampu tertangkap retinanya terkecuali kilatan-kilatan terang petir yang berangsek masuk melalui jendela kamarnya. Dan sialnya hal itu semakin membuat Seul Bin ketakutan.

Berlahan tubuh Seul Bin bergetar karena takut. Kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya yang kaku. Sampai detik ini mata bundar itu melotot tak berkedip berharap ada cahaya yang masuk.

Seul Bin memberanikan diri keluar kamarnya. Kalau berada disana terus ia akan semakin ketakutan. Lebih baik ia keluar dan mencari Taemin. Ini masih sore pasti jalanan masih ramai.

Berlahan Seul Bin memutar knop pintu kamarnya yang berada di lantai dua. Dan suasana yang didapatinya juga tak kalah gelap. Semua hitam, walau tak sepakat di kamarnya. Samar-samar Seul Bin masih dapat melihat dan akhirnya ia berhasil keluar dari rumah.

Ia membentangkan payung yang sempat diambilnya di dekat pintu utama rumah. Dan mulai mencari Taemin. Di mana pun asal tak berada di dalam rumah serba hitam itu.

****

“Sulli-ah terimakasih untuk hari ini! Aku pulang dulu.” Taemin melambaikan tangannya sebelum berbalik dan menerobos hujan dengan sepedanya.

Mantel hujan kuning transparannya ikut berkibar diterpa angin seiring dengan kakinya yang mengayuh sepeda. Taemin melirik jam tanganya, pukul 8 malam. Taemin mempersiapkan diri mendapatkan omelan dari orang tuanya. Keluar rumah dipagi buta dan baru kembali malam-malam. Taemin tak bisa menjamin kupingnya akan baik-baik saja hingga esok hari.

Taemin membuka pintu gerbang rumahnya berlahan, tampak sepi dan gelap, pasti mati lampu. Ia melepas mantel hujannya kemudian menyampirkan di gantungan digarasi sepedanya.

Taemin meraba-raba dinding untuk sampai di kamarnya. Untunglah semua orang telah tertidur, setidaknya ia selamat malam ini. Esok hari itu urusan nanti. Langkah Taemin berhenti di anak tangga terbawah. Samar-samar ia mendengar sebuah suara.

Tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Hey! Tak ada yang namanya hantu di jaman serba modern ini. Taemin menajamkan pendengarannya dan suara itu semakin jelas menabuh gendang telinganya. Demi apapun, Taemin mulai takut. Tapi tidak, ia lebih memilih bertemu dengan hantu atau apapun itu dari pada harus menjatuhkan harga dirinya dengan takut sebelum berbuat.

Taemin mencoba mendekat kesumber suara dan Taemin berani bersumpah kalau suara yang sejak tadi samar didengarnya adalah suara isak tangis. Taemin semakin bergidik tapi tak juga mengurungkan niatnya untuk mencari tahu lebih dekat. Ia merogoh ponsel disaku celananya kemudian manjadikannya senter dadakan, walau tak begitu terang tapi setidaknya cahaya dari layar ponselnya sedikit membantu.

Taemin terpekur. Matanya menangkap sosok gadis yang meringkuk di sudut ruang tengah rumahnya. Tubuh gadis itu bergetar dengan isakkan yang terdengar begitu ketakutan.

Gadis itu mendongak menampakkan raut sembabnya di tengah temaram cahaya yang berasal dari ponsel Taemin. Gadis itu seketika berhambur memeluk Taemin dengan guncangan hebat hingga hampir saja Taemin terjungkal kebelakang.

“Mengapa baru pulang? Kemana saja? Aku mencemaskanmu, aku sudah mencarimu kemana-mana tapi tak ketemu. Aku takut kau dan pacarmu kenapa-napa. Kau tak tahu seberapa khawatirnya aku. Kau itu adikku, kau masih kecil dan baru pulang malam-malam begini padahal diluar hujan lebat. Kau mau membuatku mati khawatir ya?”

Kalimat panjang lebar itu membuat Taemin tersadar. Pelukan erat ditubuhnya hampir membuatnya tak bisa bernafas. Taemin membiarkan Seul Bin memeluknya hingga guncangan hebat ditubuhnya perlahan menghilang.

Perlahan Taemin melepaskan pelukan Seul Bin, “Seharusnya aku yang merasa khawatir Seul Bin-a…” Taemin mengusap pipi Seul Bin yang basah oleh airmata. Sesekali masih terdengar sesenggukan.

“Aku takut gelap. Kenapa baru pulang?” Taemin tersenyum kemudian menggiring Seul Bin untuk duduk di sofa.

“Sudah tau fobia gelap. Mengapa tak menyalakan lilin?” tanya Taemin.

“Aku sudah mencarinya tapi tak ketemu!”

“Arraseo! Kemana Eomma dan Appa?”

“Mereka di Seoul…”

“Ngapa…”

CTARR~

Tiba-tiba petir menyambar keras membuat Seul Bin kaget dan reflek kembali menghambur dalam pelukan Taemin. Tubuh itu kembali berguncang dengan isakan kecil.

“Jangan takut, sudah ada aku…” gumam Taemin mengusap punggung Seul Bin dengan halus. Ia tahu Seul Bin fobia gelap dan sangat takut dengan petir. Hal itu di sebabkan lima tahun yang lalu saat kecelakaan tragis itu terjadi dan berhasil merenggut nyawa Ibu dan adik perempuannya.

Getaran itu masih terasa, Seul Bin benar-benar takut. Apa lagi ponsel Taemin sudah mati dan sekarang keadaan kembali gelap gulita. Hitam pekat dimana-mana, tak ada satu bayanganpun yang mampu tertangkap retina mata Seul Bin.

Taemin menghela nafas panjang kemudian semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Seul Bin. Menarik kepala kakak tirinya itu dan menyandarkannya di dada.

“Dengarkan detak jantungku, jangan dengarkan yang lain. Berkonsentrasilah, kau bisa menghitungnya kalau kau mau. Aku jamin kau tak akan lagi ketakutan…” gumam Taemin.

Seul Bin terdiam memikirkan ucapan Taemin. Tak ada salahnya mencoba. Akhirnya Seul Bin memulai berkonsentrasi pada detak jantung Taemin dengan telinganya yang menempel tepat di dada Taemin.

DEG DEG DEG

‘Cepat sekali…’ gumam Seul Bin dalam hati, ‘Aku sampai tak bisa menghitungnya’

Seul Bin mendongak mencoba untuk melihat wajah Taemin, tapi tak bisa. Seul Bin mencoba melebarkan matanya tapi tetap saja tak bisa melihat apapun.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Taemin.

Seul Bin terkesiap, “Kau bisa melihatku?” Tanyanya.

“Tentu saja, walau samar-samar sih!” jawab Taemin.

“Tapi mengapa aku tak dapat melihat apapun?”

“Benarkah?” Taemin kaget. Ruangan ini tak segelap itu hingga tak bisa melihatnya dengan jarak sedekat ini. Walau sangat samar-samar setidaknya ia bisa menangkap siluet Seul Bin, tapi gadis ini? “Kau benar–benar tak bisa melihat apapun?” Tanya Taemin khawatir.

“Iya…” jawab Seul Bin. Taemin kembali terpekur, tak mungkin. Apa mungkin Seul Bin rabun senja? Tapi selama ini Taemin tak pernah mendengar keluhan apapun dari kakak tirinya ini.

“Kenapa detak jantungmu cepat sekali Taemin-a?” tanya Seul Bin membangunkan Taemin dari lamunan. Menyadarkannya bahwa sedari tadi jantungnya juga berdetak tak kalah kencang dari detak jantung Seul Bin yang memang sedang ketakutan.

Belum sempat Taemin menjawab, Seul Bin kembali bertanya. Untunglah, setidaknya ia tak perlu memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Seul Bin karena pada kenyataannya Taemin juga tak tahu kenapa.

“Taemin-a mengapa kau tak pernah mau memanggilku Nuna?” Tanya Seul Bin.

“Tentu saja aku tak mau. Kau itu sangat kekanakan, tak pantas di panggil Nuna!” Jawab Taemin.

“Tapi tetap saja, aku kakakmu. Ayo panggil aku Nuna!”

“Tidak mau!” pekik Taemin dan mencoba melepaskan pelukkannya namun Seul Bin segera mengeratkannya kembali.

“Jangan di lepaskan, aku takut!”

“Arraseo!” pasrah Taemin, demi apapun~ entah mengapa jantungnya berdetak semakin menggila, “Yang seperti ini minta dipanggil Nuna!” cibir Taemin meremehkan.

Setelah itu suasana kembali hening. Dapat terlihat oleh Taemin mata bundar Seul Bin yang agak berbinar akibat sisa air mata mencoba menangkap bayangannya. Tanpa ia sadari bibirnya melengkung menampakkan senyum samar. ‘Cantik~’ gumamnya dalam hati.

“Taemin-a aku tak bisa menghitung detak jantungmu. Ia berdetak cepat sekali!”

“Kau saja yang bodoh!”

“Jangan mengataiku bodoh terus!”

“Kau memang bodoh ‘kan? kenapa tak mau mengakuinya?”

“Ya!! Aku tak bodoh!”

“Ya!! Appo!! Mengapa mencubit pinggangku?!”

“Rasakan!!”

****

Taemin membuka pintu kamar Seul Bin perlahan dengan kakinya. Kemudian menurunkan Seul Bin dari punggungnya dengan hati-hati ke atas ranjang. Ia memandangi Seul Bin yang tertidur pulas sebelum menarik selimut untuk melindungi gadis itu dari dingin.

Sempat Taemin menggusak dahi Seul Bin sebelum membalikkan tubuhnya hendak keluar. Namun belum sempat Taemin melewati pintu kamar Seul Bin, gadis itu bergumam lirih.

“Jangan tinggalkan aku…”

Taemin berbalik, ia yakin Seul Bin tak akan tidur dengan nyenyak saat Taemin pergi. Ia merutuk dalam hati. Gadis ini benar-benar merepotkan. Seharusnya dia yang menjaga Taemin bukan sebaliknya.

Taemin menarik kursi tepat di samping ranjang Seul Bin kemudian mendudukinya. Ia mengamati wajah damai Seul Bin yang pulas. Bibirnya nampak bergerak-gerak menggumamkan sesuatu. Entahlah Taemin juga tak bisa menangkap maksudnya.

Taemin menyandarkan kepalanya di tepi ranjang yang kosong menghadap Seul Bin yang tertidur.

“Kapan kau akan berhenti merepotkanku?” gumamnya, “Kau tahu hari ini aku sangat lelah! Dan besok ada Tryout untuk persiapan ujian kelulusan!”

Taemin mulai menutup matanya dan bernyanyi lirih, lagu yang selalu dinyanyikannya untuk mengantar Seul Bin tidur.

There’s a song that inside of my soul

It’s the one that I’ve tried to write over and over again

I’m awake in the infinite cold, but you sing to me over

And over and over again

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

Sing to me the song of the stars

Of your galaxy dancing and laughing and laughing again

When it feels like my dreams are

So far, sing to me of the plans that you have for me over again

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

I give you my destiny, I’m giving you all of me

I want your symphony

Singing in all that I am at the top of my lungs

I’m giving it back

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

“OnlyHope”

****

Seul Bin menyelesaikan sarapannya. Diusapnya mulutnya dengan serbet kemudian meminum teh hangatnya, minuman yang paling disukainya.

“Eomma, Taeminie kenapa lama sekali?!” Tanya Seul Bin memandang Ibunya yang tengah membereskan peralatan sarapan sedangkan ia hanya bertopang dagu.

“Taemin hari ini tak masuk sekolah sayang!”

“Wae?!”

“Dia sedang tak enak badan.”

“Mwo??” kaget Seul Bin. Bukankah tadi malam Taemin baik-baik saja. Kalaupun sakit seharusnya dirinyalah bukan Taemin. Yang hujan-hujanan dimalam hari adalah dirinya.

“Adikmu demam sayang, kau lihatlah sebentar!”

Tanpa diminta dua kali Seul Bin sudah berlari meniti anak tangga menuju kamar Taemin. Membukanya dengan kasar dan hal pertama yang dilihatnya adalah seonggok manusia yang tertutup sempurna dengan selimut. Seul Bin beringsut mendekat dan mendudukkan dirinya di tempat tidur yang kosong di sebelah Taemin dengan hati-hati.

“Taeminie…” panggil Seul Bin halus.

Tak ada jawaban. Taemin masih bergeming di bawah selimut tebalnya. Sesekali Seul Bin hanya dapat mendengar desahan halus. Perlahan Seul Bin mencoba membuka selimut yang membungkus tubuh Taemin hingga menampakkan kepala Taemin yang tersembunyi di bantal. Kebiasaan Taemin yang selalu membenamkan kepalanya dibantal saat sedang sakit ataupun saat tak ingin siapapun melihat keadaannya.

“Taeminie…” panggil Seul Bin sekali lagi sembari menyibak sedikit rambut Taemin hingga menampakkan sebelah kanan pipi pucat Taemin dari samping. Seul Bin meletakkan telapak tangannya di pipi tersebut dan matanya seketika membulat. Suhu tubuh Taemin sangat panas.

“Taeminie… kau sakit, ayo buka wajahmu nanti kau tak bisa bernafas!” ujar Seul Bin sembari mencoba membalik tubuh Taemin yang tengkurap.

Merasa tak mendapatkan respon sama sekali dari Taemin dan kesulitan membalik tubuh Taemin, Seul Bin dengan kalut berlari kebawah memanggil Appanya yang kini tengah bersiap-siap pergi ke kantor.

“Appa! Taemin demamnya tinggi sekali, ayo bawa dia kerumah sakit!” pekik Seul Bin membuat Appanya yang tengah berkonsentrasi dengan dasi yang dikikat oleh istrinya di leher menoleh.

“Appa! Kenapa masih bengong, Kajja!” Seul Bin menarik lengan ayahnya menuju kamar Taemin. Setelah sampai di kamar Taemin tautan tangannya di lengan ayah seketika saja ia hempaskan.

“Taemin ayo bangun! Kita kerumah sakit!” pekik Seul Bin mengguncang tubuh Taemin yang masih dalam keadaan semula seperti waktu ia meninggalkannya untuk memanggil ayah.

Taemin yang merasa terganggu akhirnya mengangkat kepala dan menampakkan wajah merahnya karena demamnya yang tinggi. “Seul Bin-a… sampai kapan kau akan menggangguku??” gumam Taemin pelan hampir tak terdengar.

“Jangan protes, ayo bangun dan ke rumah sakit.”

“Arraseo!” pasrah Taemin.

****

Seul Bin berlari kencang setelah berhasil kabur dari jam tambahan yang seharusnya ia ikuti akibat nilai ulangan matematikanya yang kurang. Rambutnya yang di jalin longgar terlihat berantakan diterpa angin. Tas punggungnya ikut bergoyang seiring dengan langkah cepatnya. Ia sudah tak menghiraukan keringat yang mulai keluar dari pori-pori kulit putihnya, juga tubuhnya yang memanas akibat sudah berlari terlalu jauh.

“Semoga dia belum pulang!” gumam Seul Bin di sela-sela nafasnya yang mulai tersengal.

Sekolah Taemin sudah semakin dekat terlihat dari beberapa siswa berseragam sama dengan Taemin keluar dari pintu gerbang sebuah gedung berlantai lima. Seul Bin kembali menarik nafas dan dalam hitungan detik menambah kecepatan berlarinya. Gadis itu, ia dapat melihat gadis yang bersama dengan Taemin kemarin keluar dari gerbang sekolah.

Dengan kekuatan penuh akhirnya Seul Bin mampu menggapai lengan gadis itu dan membuatnya berhenti.

“Chogio… kau pacar Taemin??” tanya Seul Bin langsung begitu gadis itu menoleh karena merasa tangannya ada yang menahan.

“Ne??”

****

“Baiklah Sulli-ssi, maaf mengganggu waktumu. Aku hanya ingin berbicara sedikit denganmu mengenai kau dan… Taemin.” Ucap Seul Bin dengan wajah datar. Matanya menatap Sulli dengan pandangan yang sulit diartikan. Dua buah cup es krim di depan meraka serasa menyesal telah dipesan andai saja es krim itu bisa menyuarakan protes karena sedikit pun belum di jamah.

Sulli sedikit mengulas senyum menampakkan deretan gigi putih terawatnya. Matanya ikut melengkung seperti bulan sabit mengikuti gerak bibirnya. Manis~ batin Seul Bin, pantas saja Taemin mau berpacaran dengannya.

Seul Bin buru-buru menggeleng mengusir pikiran-pikiran mengganggunya.

“Jadi Eonie kakak Taemin? Pantas saja aku seperti sudah mengenalmu sejak melihatmu pertama kali tadi. Taemin sering menceritakan tentang Eonie padaku!” ujar Sulli renyah.

“Benarkah?” tanya Seul Bin antusias. Benarkah Taemin menceritakan tentang dirinya pada orang lain? Bukankah Taemin selalu malu mengakui dirinya sebagai kakak tirinya. Tapi bagaimana bisa Taemin menceritakannnya pada Sulli? Bukankah itu berarti hubungan antara Taemin dan Sulli memang sudah serius? Senyum antusias Seul Bin menghilang begitu saja.

Seul Bin mengangkat sendok es krim yang sudah berisi es krim coklatnya ke dalam mulut kemudian menelannya. Sensasi dingin terasa menjalar di tenggorokannya untuk pertama kalinya sejak ia berdiam diri dengan Sulli di kedai es krim ini. Menyegarkan tenggorokannya yang kering akibat terlalu lelah berlari.

Seul Bin berdeham sebentar sebelum mengucapkan unek-unek yang sedari tadi mengganggunya hingga tak berkonsentrasi dengan pelajaran.

“Aku tak tahu sejauh mana hubungan kalian, tapi aku sebagai kakak Taemin hanya ingin yang terbaik untuk adiknya…” ujar Seul Bin mengawali, “Kalian masih sangat kecil untuk mengerti cinta… Sulli-ssi kuharap kau mau membebaskan Taemin, kurasa kalian butuh berkonsentrasi dengan sekolah kalian mengingat sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian kelulusan.”

“Apa maksud Eonie? aku tak mengerti!” tanya Sulli dengan wajah bingungnya.

“Begini Sulli-ssi… Kalian belum pantas untuk berpacaran…”

“Berpacaran?” potong Sulli tak mengerti.

“Nde,,, kalian belum saatnya untuk berpacaran. Kalian masih sangat kecil. Kuharap kau mau memutuskan hubunganmu dengan Taemin dan mulailah dari awal lagi dengan berteman saja. Tunggu sampai kalian cukup umur!”

“Tapi kami tak berpacaran Eonie…”

“Tak apa, kau tak perlu malu mengakuinya. Eonie tak marah, asal kalian akhiri saja hubungan itu sekarang. Kalau sudah besar aku berjanji akan merestui kalian!” Seul Bin mengulas senyum sok tenang padahal dalam hatinya terjadi perang mengani tindakan beraninya ini. Bagaimana jika Taemin marah padanya karena menghancurkan hubungan mereka. Tapi demi apapun, ia berjanji akan melindungi Taemin. Ia berfikir bahwa Taemin masih sangat kecil untuk menjalin hubungan seperti itu dengan seorang gadis, ya walaupun kenyataannya Taemin terlihat jauh lebih dewasa dibanding dengan dirinya.

“Kalau begitu Eonie pulang dulu Sulli-ssi. Senang bisa berbincang denganu walau hanya sebentar. Annyeong!”

****

Cuaca sore ini begitu cerah, semburat merah yang menyebar di langit semakin menambah indah pemandangan yang terlihat dari balkon kamar Seul Bin. Menikmati angin sore yang malu-malu berangsek masuk keparu-parunya.

Menghiraukan semua keindahan itu Seul Bin terlonjak kaget dari duduk antenganya begitu pintu kamarnya terjerembab terbuka dengan kasar. Manampilkan sesosok pria kecil masih dengan seragam lengkapnya menyembul dari balik pintu. Tangannya yang semula sibuk dengan benang-benang woll dan jarum sulam itu seketika bersembunyi di balik punggungnya. Seul Bin tak mau hadiah yang sudah seminggu ini di persiapkan sebagai kejutan untuk Taemin ketahuan begitu saja. Seul Bin tak mau kerja kerasnya sia-sia.

Dengan langkah terburu dan juga nafas tersengal Taemin menghampiri Seul Bin. Kilatan kemarah tergambar jelas di wajah berpeluhnya. Seul Bin tak bisa menebak apa yang terjadi pada Taemin. Tak mungkin ‘kan Taemin sudah mendapatkan masalah di hari pertamanya masuk sekolah setelah tak masuk seminggu karena demam?

Seul Bin mendongak mencoba memandang Taemin yang berdiri angkuh di depannya.

“Apa yang kau lakukan pada Sulli?” tanyanya geram.

Seul Bin terpekur. Benar, dia melupakan Sulli. Melupakan kenyataan bahwa gadis itu bisa saja mengadukannya pada Taemin. Bodohnya Seul Bin~

Seul Bin manarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila karena takut. Taemin akan sangat menakutkan saat sedang marah, Seul Bin tahu itu. Dan sialnya ia telah melakukan kesalahan fatal. Taemin paling tak suka ketika kehidupan pribadinya diusik orang lain.

“Aku tak melakukan apapun pada Sulli…” ucap Seul Bin hati-hati. Miris sekali melihat wajah pucatnya yang ketakutan karena adiknya sendiri.

“Tak melakukan apapun katamu?” bantah Taemin ketus, “Mendatanginya, berlagak sok dewasa, menyuruhnya memutuskan hubungan yang bahkan tak pernah terjalin diantara kami. Kau pikir kau itu siapa beraninya menyampuri urusanku? Kau hanya kakak tiri yang baru setahun ini masuk di kehidupanku!”

“Bukan begitu Taemin-a… aku hanya mengkhawatirkan dirimu, kau masih terlalu kecil untuk berpacaran…” Seul Bin menelan ludah susah payah sesaat setelah mengucapkan kata-katanya. Wajah Taemin yang terlihat semakin mengeras membuatnya tak berkutik.

“AKU TAK BERPACARAN DENGANNYA!!!” pekik Taemin membuat Seul Bin sedikit terjungkal kebelakang karena kaget hingga membentus besi pembatas balkon. Ia tak menduga bahwa Taemin akan semarah itu.

“Ma-maafkan aku Taemin-a… Aku-aku hanya tak ingin sekolahmu terganggu karena hal sepele ini, makanya aku mendatangi Sulli dan meminta hubungan kalian supaya berakhir. Aku tak ada maksud lain, aku tak bohong!”

“Ku bilang aku tak sedang berpacaran denganya!!”

“Tapi…”

“Jangan berlagak sok dewasa di depanku. Aku bahkan jauh lebih dewasa dibanding dengan gadis pengompol sepertimu, yang bisanya Cuma menyusahkan diriku. Tahu apa kau tentang diriku?!”

“Ta-Taemin…”

Taemin membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar Seul Bin dengan nafas memburu dan menghilang dari pandangan Seul Bin tepat setelah debuman keras itu terdengar. Seul Bin sudah tak mampu menahan airmatanya yang serasa mendesak untuk keluar membasahi pipi pucatnya. Ini adalah kali pertamanya ia dibentak sekeras itu oleh orang lain. Bahkan ayahnya sendiri tak pernah berkata dengan nada membentak walaupun Sul Bin membuat ayahnya kesal setengah mati.

Tangan Seul Bin yang semula masih setia tersembunya dibalik punggungnya kini terlelepas dan bergerak mengusap airmatanya kasar. “Taemin hanya sedang emosi, pasti ia tak sadar ketika membentakku tadi!”

****

Seul Bin berjalan gontai melewati gang yang menghubungkan dengan rumahnya. Tanganya terasa tak bertenaga melambai di kedua sisi tubuhnya, mengikuti gerakan kakinya. Rambutnya yang tergerai tampak berantakan tertiup angin sore.

Benar-benar hari yang buruk. Di sekolah ia dimarahi habis-habisan oleh Kim Seongsaemnim-penjaga lab kimia gara-gara memecahkan tabung reaksi saat praktikum dan menumpahkan sebotol bahan kimia yang Seul Bin sendiri lupa namanya tapi Seongsaemnim bilang bahan kimia itu sangat mahal. Bukan salah Seul Bin saat dirinya tak bisa mengerjakan semua dengan baik, salahkan saja Taemin yang membuat Seul Bin tak bisa berkonsentrasi dalam belajar karena mengacuhkannya selama hampir seminggu ini. Bahkan tadi pagi saat lagi-lagi Seul Bin mengompol saja Taemin membersihkan sprai Seul Bin dalam diam dan tak banyak protes seperti biasa.

Sungguh lebih baik Seul Bin dimarahi habis-habisan seperti waktu itu dari pada diacuhkan seperti ini. Rasanya ia seperti berada dalam tempat yang tak bisa menampakkan dirinya secara kasat mata, ia seperti asap di mata Taemin tak begitu penting dan berusaha dihilangkan dan ditiup jauh-jauh.

Seul Bin membuka pintu rumahnya malas dan mencopot sepatunya kemudian menggantinya dengan sandal rumah.

“Aku pulang…” ucapnya lesu namun tak berlangsung lama karena sebuah suara bentakan keras membuat Seul Bin kaget.

Ia segera berlari ke ruang tengah dimana ia yakin suara itu berasal dari sana. Seul Bin berhenti di tempatnya, ia terpekur. Tubuhnya kaku mendengar apa yang baru saja diucapkan Taemin.

“Dengan atau tanpa ijin Eomma aku akan tetap pindah ke Seoul. Eomma tahu ‘kan ini adalah cita-citaku dari dulu!”

Seul Bin melirik Ibunya yang duduk di seberang meja dihadapan Taemin dengan wajah mengeras marah. Wanita yang selalu tampak lembut itu kini terlihat berbeda. Tatapan matanya serasa menghunus tajam pada Taemin. Sedangkan Taemin sendiri tampak datar dan tenang.

“Setelah kelulusan minggu depan, aku akan segera berangkat Eomma…”

“Eomma tak mengijinkanmu Taemin!” sela Ibu Taemin, “Disana tak ada siapapun yang bisa kau tumpangi!”

“Aku akan tinggal di asrama!!”

“Tetap tak boleh.”

“Terserah!! Aku tak akan mundur!”

Seul Bin masih membeku di tempatnya saat Taemin dengan kasar beranjak dari duduknya. Mata mereka sempat bertemu tapi Taemin cepat-cepat menghindar dan berlari ke kamarnya.

****

Seul Bin benar-benar merasa terpukul. Tak menyangka kesalahanya waktu itu begitu fatal dimata Taemin. Taemin benar-benar marah pada Seul Bin hingga memutuskan untuk keluar rumah dan pindah ke Seoul.

Seul Bin sudah tak mampu membendung air matanya. Ia terisak keras, tubuhnya ikut terguncang membuat ayunan yang didudukinya bergerak-gerak. Kalau jadinya akan seperti ini Seul Bin bersumpah lebih baik tak melakukan apapun waktu itu, lebih baik biarkan saja Taemin berpacaran dengan Sulli.

Seul Bin membuka kedua telapak tangannya yang semula menangkup wajahnya. Dan segera berlari untuk kembali masuk ke dalam rumah. Ia membuka kasar kamar Taemin.

“Taemin kumohon jangan pergi gara-gara aku!!” pekiknya di sela isakannya yang semakin tersedu-sedu. Wajahnya yang tertunduk membuat air matanya jatuh bebas membasahi lantai marmer kamar Taemin.

Taemin yang semula tengah belajar terkesiap kaget mendengar debumam keras pintu kamarnya yeng terbuka paksa. Ia dapat melihat Seul Bin berdiri dengan wajah di tundukan di tengah-tengah pintu, bahunya nampak naik turun karena manangis.

Taemin menggeser kursi belajarnya ke belakang kemudian berjalan menghampiri Seul Bin.

“Kau kenapa?” Tanya Taemin polos.

Seul Bin berlahan mengangkat kepalanya untuk menatap Taemin. Ia sedikit mengusap air matanya yang sukses membasahi hampir selurus permukaan pipinya.

“Aku minta maaf soal yang waktu itu. Tapi kumohon jangan pergi hanya gara-gara kau marah padaku. Aku akan meminta maaf pada Sulli dan memohon padanya agar kembali padamu kalau kau menginginkannya. Tapi Jangan pergi Taemin, kumohon jangan pergi!! Aku-aku tak akan mengulanginya… aku janji!!”

“Apa maksudmu?” tanya Taemin bingung.

“Kau pergi ke Seoul karena marah padaku ‘kan? kau tak ingin dekat-dekat denganku karena aku sudah menghancurkan hubunganmu dengan Sulli ‘kan??”

Seul Bin berhambur memeluk Taemin erat seperti tak ingin melepaskannya.

“Kumohon Taemin jangan lakukan itu. Kalau kau mau, biar aku saja yang pergi. Aku sungguh menyesal!” racau Seul Bin.

Taemin terkekeh begitu sedikit bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia berlahan melepaskan pelukan Seul Bin.

“Astaga~ kau salah faham Seul Bin-a…”

“Maksudmu?”

****

Seul Bin meletakkan gunting rambutnya diatas rerumputan kemudian mengambil sisir yang semula berada di sisi sampingnya. Menyapukan sisir tersebut untuk merapikan rambut Taemin. Ia tersenyum puas dengan hasil karyanya.

“Nah… sudah selesai!” decaknya.

Taemin yang duduk di depan Seul Bin membalikkan kepalanya untuk menatap Seul Bin.

“Mana cerminya aku mau lihat!” kata Taemin sembari menjulurkan tangannya kearah Seul Bin.

Seul Bin dengan sigap memberikan cermin yang di minta Taemin. Ia tiba-tiba saja tegang menunggu reaksi Taemin tentang hasil potongan rambutnya.

“Ige mwoya?!!” teriak Taemin membahana begitu ia melihat pantulan wajahnya di cermin yang diberikan Seul Bin.

“Waeyo? Itu bagus kok!! Aku pernah melihat yang seperti itu dimajalah!”

“Apanya yang bagus? Seperti jamur begini!” kesal Taemin sembari memperhatikan rambut barunya. Ia tahu Seul Bin memiliki bakat tentang hal ini, tapi Taemin tak menyangka rambutnya akan berakhir seperti ini.

“Taemin… itu cocok untukmu, kesan cildismu jadi terlihat!”

“Aku tak ingin jadi cildis! Kau tahu aku akan jadi artis, ini tak cocok dengan mode sekarang! Ayo ulangi dan ganti dengan model yang lain!!”

“Bodoh!!” Seul Bin menggeplak kepala Taemin, “Justru ini akan jadi ciri khas seorang Lee Taemin. Aku yakin ini akan jadi tren nanti!!”

Taemin berdecak tak lagi protes. Kalau diperhatikan dengan baik-baik ternyata tak seburuk penglihatan Taemin. Ia jadi terlihat lebih segar.

“Aku ingin melihat kau debut dengan model rambut seperti ini nanti!” ujar Seul Bin memecah keheningan.

“Hmm…” respon Taemin minim.

Suasana berubah hening. Taemin sibuk memperhatikan rambut barunya sedangkan Seul Bin tampak terpesaona dengan Taemin. Ia jadi terlihat lucu dan menggemaskan, Seul Bin tak tahan untuk tak mencubit kedua pipi Taemin yang tembam.

Astaga~ Seul Bin hampir saja kelepasan mencubit kedua pipi itu kalau saja sang empunya tak memberikan deathglare. Kedua tangan Seul Bin mengambang diudara.

“Apa?” ketus Taemin.

“Ti… tidak apa-apa!” Seul Bin menurunkan kedua tangannya canggung kemudian kembali meletakkannya di atas pangkuannya. Seul Bin tertunduk lesu.

Melihat itu Taemin menghela nafas kemudian mengedarkan pandangannya ke penjuru taman belakang rumah mereka. Aiss~ Taemin lupa kalau ini taman pribadi miliknya tentu saja tak akan ada orang di sini kecuali ia dan juga keluarganya.

Sekali lagi Taemin menghela nafas, “Baiklah~” ucapnya akhirnya, “Untuk kali ini kubiarkan kau memegang pipiku, tapi jangan coba-coba mencubitnya. Kalau tidak kupastikan kau tak kan lagi bisa mengompol!” ancam Taemin membuat Seul Bin cemberut namun tak kurang dari setengah detik senyum di bibir Seul Bin merekah lebar.

Ini untuk pertama kalinya Taemin mengijinkan Seul Bin menyentuh pipinya padahal dari dulu Seul Bin selalu gemas dengan pipi Taemin.

Seul Bin kembali mengangkat kedua tangannya untuk mencubit, ah tidak menyentuh pipi Taemin maksudnya.

“Tunggu!” cegah Taemin membuat Seul Bin berdesis, “Ingat ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya, setelah ini tak ada lagi! Ini kulakukan sebagai hadiah perpisahan, minggu depan aku sudah harus ke Seoul untuk memulai jadi Traine!”

“Minggu depan?!” kaget Seul Bin.

“Tentu saja. Bahkan upacara kelulusan sudah usai, untuk apa lagi menunda-nundanya. Lagi pula aku sudah mendapat surat panggilan dari sekolah baruku di Seoul…”

“Harus secepat itu ya?” lesu Seul Bin.

Taemin berdecak melihat Seul Bin seperti tak merelakan ia pergi ke Seoul. Seharusnya Seul Bin ikut senang, bukankah ia tahu ini impian Taemin dari dulu. Ia bahkan rela audisi di SM sembunyi-sembunyi, untung ada Sulli yang mau menemaninya.

“Aiss~ jangan perlihatkan wajah cemberutmu itu, jelek tau!” cibir Taemin. Sebenarnya ia juga tak tega melihat Seul Bin sedih seperti ini. Apa lagi mereka sudah menghabiskan banyak hal selama setahun belakangan ini.

Banyak yang mereka lalui bersama. Hingga tanpa Taemin ketahui kapan persisinya, ia telah sampai di situasi dimana ia tak bisa lepas dari Seul Bin. Walau tak mau mengakuinya tapi dihati kecil Taemin selalu ada nama Seul Bin di situ. Taemin tahu ini salah, untuk itulah ia ingin cepat-cepat menjauh dari Seul Bin sebelum semuanya terlambat.

“Ya sudah kalau tak jadi, pipiku juga sepertinya tak mau kau sentuh!” ujar Taemin santai sembari hendak beranjak dari duduknya.

Dengan sigap Seul Bin menahan pergelangan tangan Taemin, “Aniya~ jadi kok. Ayo duduk lagi.” Kata Seul Bin, “Kau kan sudah setahun lebih jadi adikku, tapi aku sama sekali belum pernah memperlakukanmu selayaknya adik.” Seul Bin terkekeh diakhir kalimatnya.

Ada sedikit nyeri dibagian terdalam hati Taemin begitu mendengar kata-kata Seul Bin. Seperti ada jarum kecil tak kasat mata yang menusuknya.

“Kau adikku yang paling tampan…” kata Seul Bin sembari mengelus pipi Taemin sayang. ‘halus sekali’ batin Seul Bin.

Sementara Taemin diam membeku di tempatnya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak cepat melihat Seul Bin menatapnya lekat.

Mata Taemin tak fokus, ia mencari-cari apa saja yang bisa dijadikan obyek penglihatannya kecuali gadis badoh di depannya ini. “Tentu saja! Bukankah memang adikmu hanya aku?! Dasar Bodoh!”

Aishh~ Taemin merutuki mulut besarnya. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu. Lihat! raut wajah Seul Bin berubah seketika. Hal itu tentu saja mengingatkan Seul Bin pada adiknya yang meninggal bersama dengan Ibunya dalam insiden beberapa tahun lalu.

“Tentu saja! Adikku ‘kan cuma Taemin! Lagi pula Seul Ki juga ‘kan perempuan! Hahaha~ aku memang bodoh!” ucap Seul Bin pura-pura ceria.

Suasana kembali hening. Taemin sedikit menyesal karena keceplosan kata-kata yang menyinggung tentang kejadian tragis beberapa tahun lalu.

Ia memandang sendu Seul Bin yang menundukkan wajahnya. Seul Bin selalu seperti itu saat teringat ibunya. Gadis manja seperti dirinya pasti sangat sulit menerima hal itu. Walau tak melihatnya secara langsung Taemin bisa merasakan seberapa dekat mereka dulu.

“Seul Bin~a…” panggil Taemin.

“Hmm?” Seul Bin mendongak. Walau tak ada airmata tapi Taemin mampu melihat raut sedih di sana.

Tangan Taemin terulur, gantian kini ia yang mengelus permukaan lembut pipi Seul Bin. Niat awalnya memang hanya untuk menenangkan tapi entah dorongan dari mana tiba-tiba saja wajahnya sudah bergerak mendekat ke wajah Seul Bin dengan sendirinya. Taemin juga tak mengerti apa yang tengah dilakukannya. Ia baru sadar saat bibirnya sudah menempel diatas permukaan bibir Seul Bin.

Ia tak merasakan apapun, hanya getaran halus tubuhnya sendiri yang disadari Taemin. Dapat Taemin lihat mata bulat Seul Bin melebar seketika. Tak melawan, hanya raut kaget yang tertangkap Taemin dari jarak yang terlalu dekat ini.

Perlahan Taemin melepaskan tautannya sementara raut wajah Seul Bin masih sama-kaget. Ia menunggu Seul Bin bereaksi. Apapun, Taemin siap. Walau Seul Bin akan memarahinya habis-habisan atau bahkan lebih dari itu.

Beberapa detik berlalu, akhirnya Seul Bin mampu mengerjabkan matanya. Tangannya bergerak perlahan menyentuh bibirnya sendiri.

“Taemin~a…”

“Saranghaeyeo Min Seul Bin!!”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!”

****

Seul Bin menggedor pintu kamarnya brutal. Tidak bisa, ia tak mau dikurung sementara Taemin akan pergi untuk waktu yang lama. Ia ingin mengantar Taemin di stasiun juga. Demi apapun Seul Bin tak bisa melepas Taemin dengan cara seperti ini.

“Appa kumohon buka pintunya!!” teriakan Seul Bin bagai angin lalu.

Rumah terdengar sepi hingga deru suara mobil dari garasi membuat Seul Bin semakin kalut. Pandangan Seul Bin terhenti pada sebuah mantel hangat yang ia rajut dengan tangannya sendiri selama sebulan penuh ini. Bahkan ia belum memberikannya pada Taemin.

Seul Bin memutar tubuhnya kemudian membuka jendela yang langsung mengarah pada balkon kamarnya. ‘Tak terlalu tinggi’ batin Seul Bin. Ia yakin pasti bisa melompat. Seul Bin memasukkan mantel biru muda itu kedalam tas selempangnya dan menyampirkan tas itu ke pundaknya. Ia berjalan mendekati pambatas balkon.

Baru setengah kaki kanannya yang turun, Seul Bin sudah menariknya kembali. Tak mungkin, ini terlalu tinggi untuk di lompati Seul Bin. Bisa-bisa Seul Bin sudah tak bernyawa saat nanti sampai di bawah.

Seul Bin kembali masuk kedalam kamarnya mengambil dua buah seprai kemudian menyambungnya hingga menjadi lebih panjang. Ia ikat ujung seprai tersebut di pembatas balkon. Walau tak sampai bawah tapi setidaknya saat Seul Bin jatuh, hal itu tak akan membuatnya kehilangan nyawa.

Perlahan Seul Bin meniti seprai itu, tangannya sampai terasa panas. Hingga sampai di ujung seprai Seul Bin melompat dengan penuh percaya diri.

Tapi sayang sekali sebuah kerikil kecil tepat mengenai lulutnya yang mendarat lebih dulu. Seul Bin meringis, lututnya berdarah, nyeri sekali. Tapi Seul Bin menghiraukannya. Ia lebih memilih mengangkat kakinya melangkah-walau sedikit terpincang-ke garasi rumahnya, mengambil sepeda Taemin dan menaikinya menuju stasiun kereta. Semoga ia tak terlambat.

Sul Bin mengedarkan pandangannya ke penjuru stasiun dan ia belum juga bisa menemukan Taemin padahal sudah lima belas menit ini ia mengitari stasiun. Seul Bin yakin Taemin belum berangkat, ia sudah tanya pada petugas tadi bahwa kereta yang menuju ke Seoul masih baru akan berangkat sepuluh menit lagi.

Mata Seul Bin terhenti beredar ketika melihat Sulli berjalan berlawanan arah dengannya. Gadis itu tampak tak memperhatikan jalan dan sibuk dengan ponsel di tangannya hingga beberapa kali ia bertabrakan dengan orang-orang.

Seul Bin berlari menghampiri Sulli, “Sulli-ssi!!” panggil Seul Bin.

Sulli menghentikan langkahnya dan mendongakkan wajahnya, “Eonie?”

“Dimana Taemin? Kau akan berangkat ke Seoul bersamanya ‘kan?” tanya Seul Bin langsung.

“Taemin di ruang kesehatan Eonie. Mendadak ia tadi tak enak badan. Entahlah apa ia jadi berangkat sekarang atau tidak!”

****

Nafas Seul Bin memburu. Ia sudah sampai di ruang kesehatan yang di sediakan oleh stasiun. Ia memandang pintu yang tertutup itu sebelum membukanya.

Dapat dilihatnya Taemin yang muntah-muntah dalam pengawasan ibunya. ‘Taemin sakit…’ batin Seul Bin.

Seul Bin melangkah mendekat, “Taemin~a…”

Taemin mendongak memperlihatkan wajah pucatnya. Seul Bin juga bisa melihat bekas muntahan Taemin di baskom yang berada di tangan Ibunya.

Seul Bin memutar kepalanya menghadap ayahnya yang kaget melihat dirinya bisa sampai di sini. “Appa… biarkan aku bicara dengan Taemin sebentar. Aku janji tak akan macam-macam!”

Tanpa berkata apapun Ayah dan Ibu Seul Bin keluar meninggalkan dirinya dan Taemin sendiri di ruang kesehatan itu.

Seul Bin mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Merogoh sesuatu dari saku celananya. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sana dan menyapukannya di bibir Taemin yang masih ada sedikit sisa muntahan.

“Kenapa bisa sakit begini? Aku jadi tak bisa melepasmu, padahal aku sudah bertekat melupakan semuanya dan membiarkanmu memulai hidup baru!” tanpa terasa air mata Seul Bin menglir perlahan, sudah tak mampu membendungnya lagi.

Taemin menarik tubuh Seul Bin dan memeluknya erat, “Maafkan aku…”

Seul Bin membalas pelukan Taemin, “Untuk apa meminta maaf.”

“Seandainya aku tak mengatakan hal itu, pasti keadaannya tak akan seperti ini, maafkan aku…”

“Kalau kau tak mengatakannya maka aku yang akan mengatakannya!”

Taemin melepas pelukan Seul Bin, “Apa maksudmu?!”

“Na ddo saranghae Lee Taemin…”

“Nuna……” Taemin tak bisa mengucapkan apapun, ia tak menyangka ternyata Seul Bin juga memiliki perasaan yang sama padanya. Selama ini ia pikir cinta yang ia rasakan hanya searah.

“Kenapa baru sekarang memanggilku seperti itu setelah semua yang kukatakan. Kau jahat sekali Taemin…”

Seul Bin kembali berhambur di pelukan Taemin. Mendekapnya sangat erat.

“Maafkan aku…”

“Kenapa meminta maaf terus??” Seul Bin memukul kecil punggung Taemin. “Memang seharusnya itu ‘kan yang kau lakukan dari dulu. Tetaplah panggil aku dengan sebutan itu Nae Dongsaeng!”

Taemin kembali melepaskan pelukannya dan memandang Seul Bin dengan penuh tanya.

“Apa maksudmu? Kenapa menyuruhku memanggilmu seperti itu terus? Bukankah kau juga menyukaiku? Seharusnya aku tak memanggilmu seperti itu ‘kan?”

Seul Bin tersenyum kecil. “Tidak Taemin. Walau aku menyukaimu, bahkan mencintaimu tetap saja hubungan kita tak boleh lebih dari hubungan kakak beradik.”

“Aku tidak mau, kenapa kau sekarang bersikap sok dewasa. Kembalilah jadi Min Seul Bin yang kekanak-kanakan. Dan lihat bahkan marga kita tak sama!”

“Dan kenapa justru kau sekarang yang kekanak Taemin? Bukankah kau selalu bersikap dewasa selama ini? Dan masalah marga, itu karena kau sendiri yang tak pernah mau di panggil dengan marga ayah-ayah Seul Bin.”

“Aku tak mau Seul Bin~a kita bukan saudara kandung. Ayo berpacaran denganku!”

Seul Bin menggeplak kepala Taemin dan terkekeh kecil walau hatinya juga ikut terluka. Ia sangat ingin, sangat ingin jika saja mereka tak memiliki status sebagai kakak adik.

“Kau bahkan akan pergi dalam waktu lama. Berani-beraninya mengajakku berpacaran huh?!”

“Aku bisa membtalkannya!”

“Bodoh!!” Seul Bin kembali menggeplak kepala Taemin. “Kau bilang ini keinginanmu dari dulu? Untuk apa mengorbankan cita-citamu demi gadis tak penting sepertiku…”

“Kau penting Seul Bin~a!!” potong Seul Bin.

“Arraseo… Arraseo!! Aku memang penting!!” ucap Seul Bin mengalah.

Ia kemudian merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan mantel hangat yang ia rajut dengan tanagannya sendiri.

Sel Bin tersenyum sebelum memakaikan mantel itu pada Taemin, “Ini sebenarnya aku buat sebagai ucapan maaf karena banyak merepotkanmu, tapi sepertinya itu tak penting lagi. Jadi kuputuskan ini sebagai hadiah perpisahan saja.” Ucap Seul Bin, “Kau harus menjaga kesehatan. Jangan sakit-sakitan seperti ini!”

Seul Bin merapikan rambut Taemin yang agak berantakan. “Nah sudah rapi! Ayo kita keluar sebentar lagi kereta akan berangkat!” Seul Bin beranjak dari ranjang yang semula didudukinya.

“Tapi…”

“Aissh~ kajja!!”

Seul Bin membantu Taemin turun dari ranjang kemudian memapahnya keluar dari ruang kesehatan. Di depan pintu sudah menyambut Appa, Eomma, Sulli dan orang tua Sulli.

“Appa ijinkan aku memapah Taemin sampai di kereta!” ijin Seul Bin. Ayahnya hanya mengangguk.

“Aku bisa jalan sendiri!” Seul Bin menghiraukan Taemin dan tetap memapah Taemin.

“Aku baru sadar ternyata Sulli sangat cantik!” ucap Seul Bin terkekeh.

“Aku tak peduli!!” sahut Taemin ketus.

“Bagaimana bisa kau tak peduli dengan gadis secantik dan sebaik Sulli? Bukankah ia juga traini sepertimu?”

“Kau lebih cantik dan juga jauh lebih baik darinya. Jangan membahas gadis lain di depanku. Aku tak suka!!”

“Mwo!! Ya~ sejak kapan kau jadi pandai memujiku seperti ini? Bukankah kau selalu menghinaku gadis pengompol dan kekanakan!! Ckckckc…”

Taemin tiba-tiba saja berhenti dan memeluk Seul Bin erat sekali. Tubuh Taemin terguncang karena menangis.

“Ku mohon Seul Bin~a… terimalah aku, kumohon!”

Seul Bin melepas pelukan Taemin perlahan dan menatap Taemin hangat. Ia tersenyum tulus.

“Tidak Taemin, aku hanya bisa menganggapmu sebatas adik. Kau sudah besar, kau tentu tahukan kalau ini salah. Ayo kita akhiri saja dan anggap saja tak pernah terjadi apapun dan kembalilah seperti Taemin yang dulu dan jadilah artis terkenal seperti yang selalu kau katakan padaku!” ucap Seul Bin.

“Saranghaeyeo Nuna!!’ Taemin berlari memasuki keretanya dan meninggalkan Seul Bin yang masih berdiri ditempatnya.

Seul Bin tersenyum dangan airmatanya yang perlahan mengalir. “Sampai jumpa nanti Taemin, nae Dongsaeng!!” Seul Bin melambaikan tangannya pada Taemin yang terlihat dari balik jendela kaca kereta.

Ponsel Seul Bin bergetar dalam saku celananya. Ia mengambilnya dan menemukan sebuah pesan dari Taemin.

‘Aku yakin kita akan bersama suatu saat nanti. Tunggu aku pulang Min Seul Bin. Dan jangan lupa minta ayah menemanimu ke dokter mata, aku merasa ada yang tidak beres dengan matamu. Saranghaeyeo Min Seul Bin…. Jangan memintaku untuk memanggilmu Nuna!’

mengembara kedalam lautan kehidupan, semua mimpi yang hilang ada di pojok laciku

kamu tersembunyi bersamanya.

~SELESAI~

Cuap-cuap: Sengaja dibikin berwarna biar Readers tambah semangat ngebacanya *Apanya yang semangat, malah bikin mata pegel gini!!*

Kali ini pengen tampil agak beda dari cerita-cerita sebelumnya yang kebanyakan genre-nya angst, sekarang ditambah dikit komedi agak lucu-lucu gitu *yang sebelah mana lucunyaa??!!* ya walaupun Ending-nya aku tahu pasti gag seperti yang diharapkan Readers. Habis mau gimana lagi, orang mereka beneran *dalam cerita maksudnya* adik-kakak, ‘kan gag boleh kalau sampai pacaran… Ahh~ segitu aja deh pembelaan Azmi… review-nya ya!! FIGHTING FOR ME^^9… kekekeke

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Silly Girl”

  1. Nyesek banget pas bagian taemin nyatain cintanya sampai bagian perpisahan nya…!
    KU TUNGGU KARYA AUTHOR SELANJUTNYA KEEP WRITING

  2. woooho~ si taemin sister complex!!

    Btw, ceritanya menarik n bhasanya bgus.. Cuma ada bbrapa typo sih..
    Keep writing y^^

  3. Aaaah… Aku suka aku suka…. Cerita.x bener2 buuaaagus…. Penuh makna, aduh aku jadi nyesek sendiri waktu Taemin nyata’in perasaan.x ke Seul Bi…
    Keep writing ya Author….!!! 🙂

  4. aish.. Knp pas terakhir taemin malah jadi childish seul bin yg dewasa…?? He
    endingnya nyesek..
    Keep writing, chingu..

  5. endingnya nyesek,tapi aku suka 🙂 ! hahaha
    Taeminie awalnya jadi dewasa kok jadi kekanakan?kebalik dengan Seul Bin,

    FF nya keren,aku suka 🙂
    thour bikin lagi yang Taeminie,tapi yang lebiiiiihhh romance yah,,hehehe *maksa :p

  6. Azmi…. eon baru baca ni cerita…. Miaaannnn….
    Eon jadi nyesel sendiri kenapa baru ‘ngeh’ ada cerita ini…
    Bagus banget…. Ada, kok, lucunya…
    Seul Bin ngompol di usia SMA, dan yg nyuci spreinya,
    adik tiri cowoknya……. ampuuunnnn….
    Ternyata gitu, toh, perasaan Taemin ke nunanya…
    Kirain emang beneran benci, ternyta suka….

    Eon kira bakal ada penjelasan ttg hobi ngmpol seul bin dan
    ada tindakan lanjutan dari matanya seul bi…
    trnyta enggak, ya… ya, emang udah pas, kok, ceritanya….

    Eon tunggu, ya, Love Menya… banget….
    annyong

  7. anyeoong~~ thoor endingnya gantungg u,u itu seul bin nya beneran sakit mata? bikin sequel dooong o.o /plak
    tp ceritanya baguus~ bahasanya juga enak dibaca^^ ditunggu ff selanjutnyaaa~~ ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s