Friendship Game [1.2]

Author                                     : Kim Nara

Beta Reader                           : mybabyLiOnew

Main Cast                               : Lee Taemin, Han Sohwa (OC)

Length                                    : Twoshot

Genre                                      : Friendship, Romance

Rating                                     : PG-15

Some scene adapted from     : Pesan Dari Bintang by Sitta Karina

Disclaimer                             : Karakter Sohwa di sini memang ciptaan aku tapi aku udah ngasih karakter ini lebih dulu ke Yuyu dan ternyata malah FFku duluan yang duluan publish. Jadi anggaplah kalau Nandits penciptanya, Yuyu pemilik pertama dan Kim Nara pemilik kedua hehe.

A/N                                      : Nama Han Sohwa emang aku pinjem dari Sohwa, salah satu admin SF3SI kita yang baik hati dan tidak sombong atas saran dari Yuyu. Makasih yaa Sohwa udah mau pinjemin namanya hehe. FF ini pernah dipublish sebelumnya di wp pribadi aku. Saran dan kritik yang membangun diterima banget lho. Happy reading 🙂

FRIENDSHIP GAME – PART 1

2012©Kim Nara

Han Sohwa yakin jika dirinya adalah orang terbodoh di dunia karena telah membeli lima botol banana milk sementara dia sendiri sesungguhnya sangat tidak suka dengan minuman itu. Benda pertama yang ia lihat ketika masuk ke dalam mini market itu adalah jajaran banana milk yang tersusun rapi. Entah kenapa tangan gadis itu bergerak dengan sendirinya untuk mengambil banana milk itu lalu memasukkan ke dalam keranjangnya, tepat di detik pertama ketika wajah Lee Taemin muncul di otaknya. Ia menatap kantong plastik yang dibawanya dengan ekspresi wajah yang terlihat menyesal. Namun saat di kasir tadi, tidak ada usaha apa pun dari gadis itu untuk mencegah botol-botol banana milk itu masuk ke dalam daftar barang yang dibelinya di dalam struk belanja.

Sohwa tidak mengerti sama sekali kenapa pria yang telah menjadi sahabatnya selama empat tahun itu sangat menyukai banana milk. Bagi gadis itu, cairan bernama susu –apa pun variasi rasanya- adalah minuman paling menjijikan yang ada di muka bumi ini. Bagaimana tidak menjijikan? Sohwa akan selalu merasa mual hingga akhirnya muntah jika meminum setetes susu saja.

Jika Sohwa tidak memiliki pengalaman yang menjijikan tentang susu, mungkin gadis itu bisa menikmati banana milk berdua dengan sahabatnya itu sekarang. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, Sohwa pernah menemukan seekor serangga mati di dalam gelas susunya. Parahnya lagi serangga itu baru terlihat oleh Sohwa ketika susunya hampir habis. Sejak saat itu ia selalu mual jika meminum susu meski ia sama sekali tidak bermasalah dengan aroma susu.

Gadis itu berjalan santai –meski sedikit pincang karena cedera ankle yang baru saja didapatnya ketika latihan basket- dengan lollipop rasa jeruk yang terselip diantara bibir mungilnya. Ia hanya menggunakan skinny jeans yang sedikit robek di bagian lutut, t-shirt putih dilapisi kemeja kebesaran bermotif kotak dengan warna biru putih serta sandal jepit Converse hitam minimalis. Dibahunya tersampir tas besar berwarna hitam dengan tulisan putih “ADIDAS”. Rambut ikalnya yang hitam diikat seluruhnya di bagian atas kepala meski ada beberapa helai yang terjatuh dekat telinganya. Sangat jelas terlihat Han Sohwa adalah tipe gadis yang kurang atau bahkan nyaris tidak pernah memperhatikan penampilannya. Tapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah kecantikannya. Bahkan dengan penampilan asal-asalan dan sikap tidak acuhnya, kecantikan Sohwa tidak tenggelam sama sekali. Kulitnya yang putih cerah, mata cokelat bening yang besar dan bersinar, bibir mungil berwarna cherry serta lesung pipi menawan yang selalu muncul ketika gadis itu tersenyum, cukup membuat banyak pria menghentikan apa pun yang sedang dilakukan mereka lakukan hanya untuk mengagumi sosok gadis itu.

Satu lagi.

Sohwa adalah anggota tim basket Seoul National University. Dan di saat gadis-gadis lain sangat menjaga penampilannya dengan merawat kulit tubuh mereka, gadis itu sama sekali tidak sungkan untuk bermain basket di tengah terik matahari –di mana Taemin selalu memarahinya karena khawatir darah rendah Sohwa akan kambuh. Tidak ada yang bisa membuatnya berhenti bermain basket kecuali dia sendiri yang menginginkannya. Sikap tidak acuh Sohwa justru membuat pria-pria itu semakin penasaran. Selama empat semester ini status Sohwa yang ‘single’ belum pernah berubah menjadi ‘taken’.

Take me by the tongue

And I’ll know you

Kiss me ’til you’re drunk

And I’ll show you~

 

Terdengar lagu Moves Like Jagger yang dinyanyikan Maroon 5 diiringi getaran di saku skinny jeans Sohwa. Ia melihat layar ponsel dan menyunggingkan senyum miringnya sambil melirik ke plastik penuh banana milk di genggamannya.

“Sabar sedikit Taem,” tanpa mengucapkan kata ‘Yeobseyo’ terlebih dahulu, Sohwa langsung berkata-kata seolah sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu.

“Kau di mana sekarang? Aku sudah menunggumu 15 menit dan kau sendiri tahu kan aku paling tidak suka menunggu, Soo?” Sohwa memutar bola matanya ketika mendengar nada kesal dari Taemin dan ia sama sekali tidak mempercepat langkah kakinya karena pasti pergelangan kakinya akan terasa lebih ngilu lagi. Tapi Sohwa tidak ingin menjelaskan hal itu kepada Taemin. Gadis itu berpikir akan lebih menyenangkan jika ia menggoda sahabatnya itu.

“Kau sendiri kan tahu kalau aku ini orang yang jarang sekali on-time, kecuali untuk basket tentunya. Kenapa kau mau saja membuat janji denganku, Tuan Lee Taemin?” tawa renyah yang keluar dari bibir Sohwa sekarang pasti membuat Taemin jengkel di seberang sana. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat mood gadis itu naik dan nyaris melupakan rasa sakit di pergelangan kakinya.

***

Lee Taemin memandang ponselnya dengan kesal kemudian berbicara dengan benda berbentuk persegi panjang itu seolah sedang berbicara dengan orang yang sedang ditunggunya secara langsung.

“Aku tahu pasti hal ini akan terjadi. Oke baiklah, memang aku yang bodoh karena mau saja menunggumu di sini. Seharusnya tadi aku menjemputmu. Ish.. dasar Soo si perawan tua,” Taemin hampir lupa mengecilkan volume suaranya karena kesal. Untung saja Kona Beans yang nyaman itu sedang sepi pengunjung. Maklum sekarang masih pukul sepuluh pagi.

Taemin melempar garpunya sehingga menimbulkan bunyi berdenting meski tidak begitu keras. Ia kehilangan selera untuk memakan tiramisu cake yang pada awalnya terlihat begitu mengundang selera. Menunggu adalah hal yang paling ia benci dalam hidupnya. Baginya budaya ‘on-time’ itu merupakan awal yang penting untuk menuju kesuksesan, diikuti dengan usaha dan doa tentunya. Dan Han Sohwa selalu saja menertawakan prinsipnya karena menurut gadis aneh itu tidak ada gunanya jika kau sendiri yang on-time sementara orang di sekitarmu selalu terlambat. Ha! Yang benar saja. Lihatlah nanti siapa yang akan sukses lebih dulu.

Taemin tidak mengerti kenapa dia bisa tahan bersahabat dengan Sohwa selama empat tahun ini. Kepribadian mereka jelas-jelas berbeda. Sohwa adalah pribadi yang cuek, sedikit egois -meski kadarnya masih bisa ditoleransi- dan ekspresif. Tapi untuk hal-hal tertentu kadang Sohwa sangat tertutup, bahkan kepada Taemin sekali pun. Ada beberapa hal penting yang terjadi dan justru Taemin-lah orang terakhir yang mengetahuinya. Sedangkan Taemin adalah pribadi yang kebalikan dari Sohwa. Mereka sangat bertolak belakang. Taemin cenderung tenang dan terkendali. Meski begitu, ia seperti buku yang terbuka, apa pun yang sedang dirasakannya saat itu akan tergambar jelas lewat raut wajahnya walaupun ia tidak mengatakannya dan tidak meledak-ledak.

Ada satu hal yang hanya diketahui oleh Sohwa, yaitu Taemin memiliki dark side yang cukup menakutkan. Memang orang lain jarang melihat Taemin marah tetapi sekali saja membuat pria itu marah, maka itu akan menjadi hari yang tak terlupakan. Tapi justru karena sisi yang berlawanan itu yang membuat mereka saling mengisi satu sama lain. Ketika salah satu dari mereka sedang menjadi api, yang lainnya akan menjadi air. Oleh karena itu, mereka tidak pernah terlibat dalam satu masalah berat yang berlarut-larut. Kehidupan sehari-hari mereka hanya diisi oleh pertengkaran kecil yang membuat mereka berdua tersenyum kecil ketika mengingatnya di malam hari sebelum mereka tidur.

Raut wajah Taemin sekarang jelas-jelas menggambarkan apa yang ada di hatinya saat ini. Ia terlihat sangat kesal. Sudah pasti karena Sohwa yang membuatnya menunggu. Oh baiklah, ini memang bukan kejadian pertama bagi Taemin. Tapi Sohwa tidak pernah membuatnya menunggu selama ini! 20 menit adalah waktu terlambat yang keterlaluan bagi seorang Lee Taemin.

Taemin masih mengoyang-goyangkan kakinya—tidak sabar—ketika lonceng yang ada di pintu masuk mengeluarkan suara nyaring. Pria itu menoleh ke arah pintu masuk, sama halnya seperti apa yang ia lakukan dalam jangka waktu 20 menit ke belakang. Bedanya, pria itu sekarang berdiri dari duduknya, meletakkan kedua tangannya di pinggang dan bersiap menyemprot seseorang yang baru datang itu. Namun, riak marah yang semula terlihat jelas di wajah Taemin berangsur menghilang dan digantikan dengan tautan kedua alis tebal pria itu.

“Ya, Han Sohwa! Apa lagi yang terjadi denganmu? Kenapa pincang seperti itu?” Taemin berjalan dengan langkah lebar-lebar untuk menghampiri gadis itu.

Sohwa terkejut sesaat karena suara Taemin yang begitu keras. Tapi yang terjadi kemudian adalah gadis itu memamerkan senyum bodoh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebelum pria itu memperhatikan cederanya lebih jauh, Sohwa menyodorkan kantong plastik penuh banana milk yang dibawanya ke depan wajah Taemin dan menghalangi pandangan pria itu.

Taemin menegakkan tubuhnya dan menatap Sohwa dengan kedua alis yang bertautan, “Mwoya ige?

Sohwa hanya tersenyum dan kembali menyodorkan kantong plastik yang dibawanya, mengisyaratkan kepada Taemin untuk mengambilnya. Taemin mengambil plastic itu kemudian mengintip benda apa yang ada di dalamnya. Sohwa dapat melihat perubahan mood yang membaik dari binar mata sahabatnya itu. Assa~ strategiku berhasil, Sohwa bersorak meski hanya dalam hati.

Memang benar, Taemin melupakan kekesalannya kepada Sohwa. Tapi kini ada perasaan khawatir yang menganggu karena melihat sahabatnya lagi-lagi tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. “Kau ingin menyogokku ya? Cih tidak mempan,” kontras dengan kata-kata yang keluar dari bibir Taemin, nyatanya ia malah mengambil satu botol banana milk dan meminumnya dengan sekali teguk.

Taemin memenuhi genggaman tangan kirinya dengan membawa kantong plastik sekaligus memegang botol banana milk yang masih tersisa dan masih ingin di minumnya. Sementara tangannya yang lain memegangi lengan Sohwa yang berjalan terpincang-pincang. Dari ekpresi wajahnya pria itu terlihat tidak terlalu peduli tapi tindakan Taemin yang terasa over care itu selalu membuat Sohwa terhenyak.

Oh please Taem, cut it off! Aku bukan nenek-nenek,” reaksi Sohwa selalu seperti itu. Bukan karena ia risih dengan sikap sahabatnya, gadis itu sesungguhnya malah merasa nyaman. Tapi ia lebih takut dengan reaksi jantungnya yang terkadang berdetak terlalu keras ketika Taemin menunjukkan afeksi yang baginya terasa terlalu berlebihan… terlalu manis. Sohwa tidak pernah benar-benar tahu kenapa jantungnya selalu berdebar keras seperti itu, padahal ‘kan Taemin itu sahabatnya.

Taemin hanya mengangkat bahu kemudian melepaskan pegangannya di lengan Sohwa. Gadis yang kini berjalan di depannya memang selalu seperti itu. Taemin tahu Sohwa memang tidak mau diperlakukan sebagai perempuan yang cengeng atau lemah. Tapi nyatanya bukan itu yang ada di dalam hati Sohwa dan Taemin tidak pernah tahu akan hal itu.

Sepasang sahabat itu duduk berhadapan di meja yang semula ditempati Taemin seorang diri kemudian Taemin memesankan satu strawberry cup muffin dan satu iced Americano untuk Sohwa.

“Wow, bahkan kau tidak perlu bertanya kepadaku apa yang ingin aku pesan, Taem,” Sohwa memandang sahabatnya itu dengan takjub. Seriously, ada apa dengan Taemin hari ini?

“Sudah ratusan kali kita menghabiskan waktu di tempat ini dan hanya dua menu itu yang kau pesan. Bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya, Soo?” ujar Taemin sambil memutar bola matanya.

Keunde…” Sohwa menghentikan gerakan tangannya yang sedang merogoh ke dalam tas untuk mengambil dompetnya dan memfokuskan kembali perhatiannya kepada Taemin, “Apa cedera kakimu sangat parah? Sudah ke rumah sakit?” lanjut Taemin yang tidak mampu lagi menyembunyikan kekhawatirannya.

“Hahaha tidak perlu ke rumah sakit. Di kompres dengan air dingin aku rasa cukup untuk meredakan bengkaknya.”

“Tapi… Ah sudahlah, kau tidak akan mendengarkanku meskipun aku memaksa,” Taemin menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap Sohwa dengan pasrah.

“Kau melakukan kesalahan di belakangku ya?” Sohwa mengusap-ngusap dagunya dan melemparkan tatapan curiga kepada Taemin.

Mworago?” Taemin murni tidak paham maksud dari pertanyaan Sohwa.

“Kau terlalu baik hari ini. Tidak seperti biasanya,” kali ini Sohwa melontarkan pernyataan yang membuat Taemin kesal.

YA! Aku memang selalu baik kepadamu. Kau saja yang tidak pernah sadar. Benar-benar tidak menghargaiku. Cih,” ujar Taemin kesal.

Sohwa tertawa keras karena reaksi Taemin. Ia memang sengaja mengatakan hal itu untuk membuat pria itu kesal. Entahlah, sifat jahilnya tiba-tiba muncul ke permukaan hari ini. Setelah puas tertawa, Sohwa membenarkan letak duduk, menopang dagunya dan menatap Taemin dengan penuh minat, “Hal baik apa yang terjadi kepadamu, hm?”

Ekspresi Taemin seketika berubah. Pria itu mengulum senyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sohwa bisa melihat semburat merah di pipi pria itu. Ketika sesuatu berkelebat dalam pikirannya, tiba-tiba gadis itu merasa tidak nyaman. Hal itu membuat dadanya sedikit sesak.

“Apa ada hubungannya dengan… Jiyoung?” Kalimat Sohwa hampir terputus karena ia merasa tenggorokannya sedikit tercekat ketika melafalkan nama itu. Ia cepat-cepat mengambil plastic cup di hadapannya dan meminum iced Americano pesanannya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

Taemin tidak menyadari perubahan ekspresi –dan juga emosi- yang terjadi pada Sohwa. Perhatiannya tersita kepada perasaan senang di hatinya yang rasanya hampir sama ketika ia memenangkan Dance Competition saat ia duduk di sekolah menengah atas dua tahun yang lalu.

“Kami sudah memutuskan untuk menjalin hubungan sejak seminggu yang lalu,” Taemin merasa kedua ujung bibirnya sudah tertarik sampai ke telinga karena senyum yang disunggingkannya begitu lebar, ekspresi dari rasa yang membuncah di dadanya.

“UHUK… UHUK….” Sohwa tersedak cairan iced cairan Americano yang sedang diminumnya ketika ia mendengar pernyataan yang keluar dari bibir pria di hadapannya. Cairan berwarna hitam itu masuk ke dalam rongga yang salah dalam perjalanannya menuju kerongkongan gadis itu.

“Aigooo Soo, bisakah kau tidak ceroboh sekali saja? Kenapa untuk minum saja kau harus tersedak sih?” Taemin bangun dari kursinya kemudian beranjak ke kursi yang terletak di sebelah Sohwa. Pria itu menepuk-nepuk punggung gadis itu yang masih terbatuk-batuk kemudian menyodorkan sebotol air mineral.

Rasanya berbeda.

Sohwa merasakan sesuatu yang berbeda ketika mendengar pernyataan Taemin tadi. Ini bukan pengalaman pertamanya ketika ia tahu bahwa Taemin menjalin hubungan serius –hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan- dengan gadis lain. Tapi dari seluruh gadis yang ada di penjuru Korea Selatan, kenapa harus dengan Jiyoung? Kenapa harus seorang gadis yang sama sekali tidak disukai oleh Sohwa? Gadis itu tidak punya bukti konkret kenapa ia tidak menyukai Jiyoung, ia hanya merasa Jiyoung sangat berpotensi untuk melukai Taemin. Setelah beberapa kali melihat Jiyoung berganti pasangan dalam waktu yang singkat, image Jiyoung di mata Sohwa langsung memburuk. Parahnya Taemin justru marah ketika Sohwa memberitahukan hal itu kepadanya.

*Flasback*

“Taem..,” Sohwa sedikit ragu dengan apa yang akan dikatakannya. Setelah menghela napas dan mengigit bibirnya sejenak ia pun melanjutkan kalimat yang belum terselesaikan tadi, “Taem.. aku rasa Jiyoung bukan gadis yang baik untukmu.”

Kata-kata yang meluncur dari bibir Sohwa membuat Taemin menghentikan gerakan sumpitnya dan mengangkat dagu untuk menatap gadis di hadapannya, “Apa?” Pria itu meminta Sohwa untuk mengulang kata-kata yang baru saja diucapkannya. Bukan karena ia melewatkan rentetan kata-kata itu, tapi untuk memastikan apakah pendengarannya masih berfungsi dengan baik atau tidak.

“Aku rasa Jiyoung bukan gadis yang baik untukmu,” Sohwa mengulangi kalimat itu dengan lebih mantap. Gadis itu tahu bahwa ia sedang bermain api di dekat tumpukan jerami, risiko untuk terjadi kebakaran yang hebat sangatlah besar. Karena bagi Lee Taemin, sudah enam bulan ini Kang Jiyoung selalu menjadi objek perhatiannya.

“Wae?” Ada rasa tidak suka yang kental terasa dari nada bicara Taemin.

“Reputasinya buruk. Kau tau hal itu kan? Berganti pasangan hampir setiap minggu. Tidak kah itu keterlaluan? Kau terlalu baik untuknya, Taem,” Sohwa memajukan badan dan sedikit merendahkan suaranya. Padahal suasana kantin saat itu tidak terlalu ramai dan tidak mungkin ada yang mendengar pembicaraan mereka meski pun Sohwa menggunakan volume suara yang normal.

Taemin meletakkan sumpit yang dipegangnya. Pria itu menyandarkan punggung di kursi dan melipat kedua tangan di depan dada, matanya menatap Sohwa tajam. ‘Baiklah, Taemin mulai marah...,’ gumam Sohwa dalam hati.

“Aku tidak ingin dia menyakitimu,” tanpa Sohwa sadari suaranya menjadi lebih lembut. Manik matanya memancarkan rasa khawatir.

Tapi Taemin tidak dapat melihat makna dari semua itu. Darahnya terlanjur mendidih. Yang terdengar oleh pria itu adalah Sohwa seperti menjelek-jelekkan Jiyoung di depannya. Saat itu memang Taemin seperti dibutakan oleh rasa sukanya kepada Jiyoung.

“Sejak kapan kau menilai orang dari apa yang terlihat di luar? Don’t judge a book by its cover. Kau selalu mengatakan hal itu kepadaku, KAU yang mengajarkan hal itu kepadaku, Han Sohwa!” Suara yang keluar dari bibir pria itu semakin meninggi. Taemin selalu memanggil nama lengkap lawan bicaranya jika ia sedang kesal. Sohwa tahu akan hal itu dan kini ia terlihat shock dengan sikap Taemin yang begitu marah. Sebelum gadis itu kembali berbicara, Taemin sudah bangkit sambil meraih kunci mobilnya yang ia letakkan di meja dan pergi begitu saja.

“Taem!” Panggilan Sohwa diacuhkan begitu saja oleh Taemin. Pria itu terus berjalan meninggalkan Sohwa yang terdiam di tempat duduknya sambil menatap kepergian Taemin.

*Flashback End*

Sohwa nyaris kehabisan napas ketika batuknya akhirnya mereda. Gadis itu sampai mengeluarkan air mata. Ia pun mengambil tissue yang disodorkan oleh Taemin.

Tunggu.

Kenapa volume air mata yang keluar terasa tidak wajar? Padahal kan ia hanya terbatuk saja. Rasanya air mata yang keluar tidak akan sebanyak ini. Taemin pun melihat bagaimana sahabatnya itu menyusut air mata yang mengalir ke pipinya. Kenapa Sohwa menangis? Apa karena aku dan Jiyoung…? Terbersit pertanyaan aneh di pikiran Taemin. Tapi ia tidak berpikir lebih jauh lagi, karena ia tidak pernah mengerti seberapa tipiskah garis batas antara sahabat dan kekasih.

Drrrt… drrrt….

Getaran ponsel Sohwa yang sempat ia letakkan di meja berhasil menarik kembali sepasang sahabat itu ke alam nyata, setelah sebelumnya bergelut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Sohwa menghela napasnya kemudian menerima telepon yang masuk.

Yeoboseyo?” ujar Sohwa pelan.

Meski pelan, Taemin masih dapat mendengar dengan jelas suara Sohwa yang tidak stabil dan sedikit bergetar. Hal itu membuatnya kembali tenggelam dalam hal-hal yang berkelebat dalam pikirannya. Taemin tidak mengerti kenapa Sohwa begitu terkejut ketika ia memberitahu hubungannya dengan Jiyoung yang kini telah resmi. Padahal gadis itu jelas-jelas tahu ketika sebelumnya Taemin melakukan semacam pendekatan kepada Jiyoung. Seharusnya hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan bagi Sohwa. Lalu meski tidak begitu terlihat jelas, Taemin menyadari ekspresi Sohwa yang kecewa dan juga seperti… takut kehilangan?

No way, Lee Taemin. You gotta be dreaming.

Pria itu menggeleng pelan, seolah dengan melakukan hal seperti itu pikiran-pikiran konyol yang berkeliaran di kepalanya itu akan menghilang begitu saja. Dari sudut matanya, Taemin melihat Sohwa mulai membereskan barang-barangnya, seperti ingin pergi dari tempat itu segera setelah menyelesaikan pembicaraannya di telepon entah dengan siapa.

“Kau mau pergi?”

Gadis itu tidak menjawab dan masih sibuk dengan persiapannya untuk pergi dari Kona Beans. Taemin mengerutkan dahinya. Pria itu mengulurkan tangannya dan memegang pergelangan tangan Sohwa. Gadis itu sedikit terkejut dan menoleh cepat ke arah Taemin. Ketara sekali sejak tadi Sohwa sedang tidak fokus.

“Mau kemana?” Pertanyaan Taemin kali ini berbeda tapi toh maksudnya hampir sama. Hanya saja ini pertanyaan lanjutan dari pertanyaan yang ia ajukan tadi.

“O-oh, aku harus pergi,” Sohwa menatap Taemin langsung ke manik matanya, namun dalam hitungan detik ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, “Sekarang aku harus ke hall basket untuk mengawasi pemilihan anggota tim yang baru,” Ia tidak suka jika Taemin bisa membaca apa yang dirasakan hatinya kini melalui bola matanya yang bergerak gelisah. Itulah sebab itu, Sohwa cepat-cepat mengalihkan padangannya.

Taemin meraih tas yang dibawa Sohwa kemudian menyampirkan di bahunya sendiri, “Lebih baik aku antar. Kau tidak mungkin naik-turun bus dengan kondisi kaki seperti itu. Tunggu di sini, aku…”

“TIDAK USAH!” ujar Sohwa keras, yang tidak hanya membuat Taemin kaget tapi juga dirinya sendiri. “Tidak usah. Aku bisa sendiri, kau kan tahu aku bukan gadis yang manja…,”Sohwa mengulangi kata-katanya dengan intonasi yang lebih masuk akal disertai dengan gurauan demi menghilangkan efek terkejut yang disebabkan teriakannya tadi. Gurauan yang justru terlihat aneh di mata Taemin. Kini pria itu melihat Sohwa seolah gadis itu adalah makhluk paling langka di dunia.

“Tapi…,” Taemin tidak jadi mengucapkan keseluruhan kalimat yang ingin dikatakannya ketika ada lagi suara getaran ponsel yang terdengar. Kali ini datangnya dari ponsel Taemin yang tergeletak di atas meja. Sohwa sempat melirik sebentar dan melihat nama yang paling tidak ingin dilihatnya saat ini. Nama dengan lambang hati pula di belakangnya.

“Angkatlah…” titah Sohwa kepada Taemin. Ia mengatakan itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Taemin tidak tahu apakah ia berhalusinasi atau tidak, tapi ia melihat mata Sohwa tidak tersenyum sama sekali. Pria itu sedikit ragu, kemudian ia pun menyentuh lambang telepon berwarna hijau di layar ponselnya ketika Sohwa mendorong lengannya sedikit agar ia segera mengangkat teleponnya. Ia menerima telepon itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Sohwa.

Sohwa bangkit dari tempat duduknya dan melambai ke arah Taemin, masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Dia membalikkan tubuhnya pergi dan membiarkan air mata yang sejak tadi ditahan-tahannya menetes begitu saja.

***

 

Annyeong, Sohwa-ya. Sendirian lagi. Kemana Taemin?”

Sohwa yang sedang melepas sepatu kemudian mengganti dengan sandal jepit Converse  hitam pun balik badan, tersenyum simple kepada sosok pria yang tetap terlihat keren meski peluh membanjiri seluruh tubuhnnya.

“Minho Sunbae…”

Sohwa memandang sekeliling lapangan basket indoor yang mulai sepi. Sudah hampir sepuluh hari sejak gadis itu menderita cedera ankle. Meski bengkaknya sudah sembuh namun tidak jarang ia masih merasakan ngilu di sekitar mata kakinya. Tapi ia tetap datang ketika latihan basket dan ikut dalam latihan-latihan kecil yang tidak terlalu membahayakan. Kalau tidak begitu, ia akan bosan –lebih tepatnya akan semakin merasa kesepian- lagipula pergelangan kakinya itu perlu dilatih agar otot-ototnya kembali lentur.

Choi Minho, seniornya di klub basket SNU sekaligus sebagai kapten tim basket putra. Wajah yang tampan, mata besar, hidung mancung dan tubuh proporsional dengan tinggi mencapai 186 cm, ditambah dengan karismanya yang tidak terbantahkan, tipe-tipe yang digilai oleh banyak perempuan Korea. Dikenal sebagai pria yang dingin dan tidak akan menunjukkan minat sama sekali kepada orang yang tidak disukainya atau yang tidak cocok dengannya. Sementara Minho ramah sekali kepada Sohwa dan hal itu terlihat jelas bahkan oleh Sohwa sendiri.

Minho sangat cocok menjadi second best. Well, setidaknya begitulah pendapat Sohwa karena bagi gadis itu yang menjadi nomor satu adalah Taemin. Seorang Choi Minho adalah refleksi dirinya, hanya saja Minho adalah versi pria. But, Sohwa thinks that it’s not interesting to have a crush with someone who has personalty exactly like your personality. Gadis itu lebih memilih sisi yang berlawanan darinya. Memang apa enaknya berpacaran dengan diri sendiri?

“Kau tidak apa-apa, Sohwa-ya?” Minho menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya di depan wajah Sohwa yang sedang melamun.

“O-oh Sunbae… Maaf aku melamun hehe,” Sohwa tertawa grogi sambil mengusap lengannya.

“Kau memikirkan apa memangnya? Pertanyaanku juga tadi belum dijawab. Sahabatmu, Taemin, kenapa sekarang jarang terlihat? Biasanya dia selalu menjemputmu setelah latihan,” Minho duduk di samping Sohwa kemudian meminum air mineral yang sejak tadi dibawanya.

“Belakangan ini sepertinya Taemin sedang sibuk…,” ucapnya, Sibuk pacaran dengan Jiyoung, lanjutnya dalam hati.

Minho menduga ada sesuatu yang terjadi antara Sohwa dan Taemin karena ia melihat ekspresi Sohwa yang mendadak murung ketika ia bertanya mengenai sahabatnya. Berita bahwa Taemin sudah berpacaran dengan Jiyoung pun sudah menyebar di seluruh kampus. Berita semacam itu tidak perlu menunggu hingga dua hari untuk tersebar luas. Minho cukup pintar untuk dapat menebak apa yang terjadi dengan Sohwa.

“Kau menyukai Lee Taemin,” Minho tertawa kecil. Maskulin namun playful. Sepertinya pria itu mengetahui apa yang Sohwa sendiri tidak sadari betul.

Ne?” Sohwa terkejut dengan pernyataan Minho tapi ia berusaha tidak menduga apa pun.

“Kau pernah berpikir hal lebih tentang sahabatmu itu kan? Say, you and Taemin… together?” Minho memandangi Sohwa dengan senyum dan tatapan jahil. Di depan Sohwa, Minho memang selalu banyak bicara. Oleh karena itu Sohwa selalu bertanya-tanya, dari mana orang-orang melihat sisi Minho yang katanya dingin?

“Aku dan Taemin? Ku rasa itu adalah imajinasi yang paling liar yang pernah aku bayangkan,” Jawaban simple dari Sohwa justru memberikan gambaran yang jelas bagi Minho. Bahwa sebenarnya she had a ‘thing’ on Taemin. Di mana peluang baginya sekarang malah tertutup rapat setelah sebelumnya ia pikir saat ini adalah saat yang tepat untuk mendekati Sohwa.

“Sohwa-ya,” Minho bangkit dari duduknya, lalu sesaat berpikir, “…lebih baik kau lupakan Taemin. You can’t change what has already happend so don’t waste your time thinking about it, move on, let go and get over it, it’s done.”

Sohwa terpekur lama memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Minho. Kenapa ia harus melupakan Taemin? Ia bahkan tidak mengerti betul bagaimana perasaannya terhadap Taemin. Yang ia tahu, Taemin adalah sosok yang selalu ada apa pun yang terjadi dengannya, senang maupun sedih. Bukankah itu namanya sahabat?

Hmm ya, selalu ada.

Dulunya.

Sekarang tidak.

Anyway, sampai ketemu lagi, Sohwa-ya. Aku ada jadwal kuliah satu jam lagi.”

Ne,” Sohwa tidak pernah selega ini mengetahui bahwa Minho akan pergi sebentar lagi. Yang mereka bicarakan barusan terlalu berat.. dan terlalu pribadi. Seperti membuka kotak yang selalu ia sembunyikan di bawah tempat tidurnya kemudian membongkar isi kotak tersebut tanpa seizinnya. Oleh orang asing pula.

Minho baru melangkahkan kakinya sebanyak tiga langkah ketika Sohwa mendengar pria itu berkata lagi, “Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi, Sohwa-ya. Mungkin kita bisa menjadi pasangan menyusul Taemin dan Jiyoung.”

What? Apa dia gila? Gerutu Sohwa dalam hati.

***

Sohwa berjalan pelan sambil membawa nampan yang berisi jus strawberry dan satu buah muffin blueberry. Setelah latihan basket tadi, tidak seperti biasa ia malah merasa lapar. Padahal biasanya ia membutuhkan sekitar tiga jam untuk bisa makan sesuatu setelah latihan basket. Karena biasanya setelah olahraga ia akan merasa mual jika langsung makan, apa pun jenis makanannya. Tapi kali ini berbeda, mungkin karena tadi ia ‘dipaksa’ berpikir oleh Minho sehingga menghabiskan energi terakhir yang ia punya.

Gadis itu berjalan ke arah sudut kantin dengan pelan. Meski cara berjalannya sudah tidak pincang lagi, namun ia masih belum bisa berjalan seperti biasa. Terkadang ada rasa ngilu yang menyengat jika ia terlalu memaksakan diri.

Belum ada setengah perjalanan ia tempuh untuk sampai ke tempat duduk di sudut kantin, tiba-tiba ada seseorang yang mengambil nampan yang dibawanya begitu saja kemudian berjalan sedikit lebih dulu dari Sohwa. Gadis itu terdiam di tempat, sejenak merasa takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Ia nyaris tidak berkedip dan mematung untuk beberapa saat.

“Soo?” Hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu dan Sohwa merasa seperti ada kupu-kupu yang menabrak dinding-dinding perutnya ketika mendengarnya, “Kenapa?” Orang itu berbalik dan kembali menghampiri Sohwa yang masih berdiri di tempat semula ketika nampan yang dibawanya telah direnggut orang lain. Ani, bukan orang lain. Itu Lee Taemin, sahabatnya.

“Awalnya aku ingin memapahmu juga, tapi pasti kau akan menolak dan bilang bahwa kau bukan nenek-nenek. Makanya aku memilih untuk membawakan nampanmu saja,” ujar Taemin ketika sudah berada tepat di hadapan Sohwa.

Baiklah. Sohwa sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa jantungnya berdebar begitu keras? Kenapa ia nyaris lupa bagaimana caranya bernapas? Kenapa harus ada kupu-kupu yang beterbangan dengan liar di dalam perutnya sehingga membuatnya sedikit mual? Kenapa ia merasakan gejala seperti itu ketika ia kembali melihat Taemin -yang notabene adalah sahabat baiknya sejak empat tahun yang lalu- setelah sepuluh hari ia tidak bertatap muka dengan pria itu?

Ada sesuatu yang membuncah di dalam dadanya yang ia sendiri tidak tahu apa ketika melihat wajah tampan tanpa cela di hadapannya sekarang. Aigooo.. sejak kapan Sohwa melihat pria satu ini begitu mempesona di matanya? Kenapa baru hari ini dia menyadarinya? Dulu ketika Taemin single, ia malah tidak peduli sama sekali.

Kalimat terakhir yang melintas di pikirannya itu menarik Sohwa kembali ke kenyataan. Sekarang status Taemin bukan hanya sahabatnya saja tapi sudah bertambah menjadi kekasih orang lain. Gadis itu mengerjapkan matanya, berharap dapat segera memperbaiki ekspresi kosongnya sebelum Taemin sempat menyadari hal itu.

Ani,” Sohwa menggelengkan kepalanya sekali sambil tersenyum, ia kemudian menunduk dan menatap ujung sepatunya. Ia pun mulai melangkahkan kaki menuju tempat tujuannya semula. Taemin ikut berjalan di samping Sohwa dan mengimbangi kecepatan langkah kakinya, seolah ingin menjaga gadis itu.

So, let’s see siapa yang ada di hadapanku sekarang. Ternyata kau masih ingat denganku ya,” sindir Sohwa dengan ekspresi pura-pura marah tepat ketika mereka berdua sudah duduk di salah satu sudut kantin.

Musun soriya? Bagaimana mungkin aku melupakan sahabat terbaikku?” elak Taemin. Ia tahu Sohwa sedang menyindirnya karena sudah sepuluh hari ini ia tidak bertemu sahabatnya sama sekali. Memang sesuatu yang ekstrem untuk mereka karena biasanya mereka selalu menghabiskan waktu bersama, minimal untuk makan siang berdua.

Sambil meraih gelas jus strawberrynya, Sohwa menatapi sahabatnya yang kebetulan juga sedang memandangi dirinya -lebih tepatnya meneliti gadis itu, mencari sesuatu yang Taemin sendiri tidak tahu apa. Waktu terasa seperti berhenti bagi mereka berdua. Sepasang sahabat itu saling mencari dalam keheningan yang tidak terasa aneh lagi.

“Sudah lama kita tidak makan siang bersama,” ucap Sohwa akhirnya.

Ne. Rasanya kita sibuk dengan urusan masing-masing—“

You. Not me.” Ralat Sohwa cepat.

OK. Me.” Kata Taemin lagi. Ia merasa hal yang paling tepat untuk dilakukannya saat ini adalah mengalah. Toh ia juga memang merasa telah mengabaikan sahabatnya itu. Padahal Taemin sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak berubah jika suatu saat dia memiliki kekasih. Dia ‘kan menjalin hubungan dengan seorang gadis bukan untuk kehilangan sahabat.

Sohwa masih berusaha terlihat baik-baik saja di depan Taemin padahal sesungguhnya dia ingin sekali marah untuk alasan konyol yang tidak ingin diakuinya sama sekali. Marah karena Taemin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jiyoung? Yang benar saja. Itu kan hal yang wajar. Lagipula ia kan hanya sahabatnya Taemin.

“Hari ini pengecualian kah? Kenapa tidak bersama dengan Jiyoung?” Gadis itu mencoba bertanya dengan nada dan ekspresi sewajar mungkin.

“Sedang pergi dengan ibunya,” Taemin menjawab singkat karena sudah tidak sabar ingin mencoba muffin blueberry yang dibeli oleh Sohwa.

Sohwa mengangguk sekali, yang tentu saja tidak dapat dilihat oleh Taemin karena pria itu kini sedang sibuk mencuil-cuil muffin milik Sohwa. Gadis itu menarik piring muffin dari hadapan Taemin sehingga pria itu mengerucutkan bibirnya dan terlihat sangat lucu bagi Sohwa. Sambil ikut mencuil muffinnya, Sohwa kembali bertanya, “Tell me, Taem, biasanya kalian pergi ke mana?”

“Ketika sedang berkencan, maksudmu? Hmm.. kami melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pasangan lain juga. Menonton film, makan malam, dan terakhir kali kami pergi, kami bersenang-senang di Lotte World.”

Sohwa sempat curiga, jangan-jangan dirinya menderita penyakit masochist yang berarti suka menyiksa dirinya sendiri. Siapa pun pasti akan menghindari pertanyaan yang baru saja ia ajukan kepada Taemin, tapi ia justru melakukan hal kebalikannya. Benar saja, ketika mendengar kata “berkencan”, hatinya sudah seperti disentuh… oleh sebilah pisau. Lalu apa katanya? Lotte World? Seharusnya Sohwa dan Taemin pergi ke Lotte World dua hari yang lalu, sesuai dengan rencana yang mereka buat beberapa waktu sebelumnya. Sebelum Taemin meresmikan hubungannya dengan Jiyoung.

“Cih. Kau lupa kalau kita sudah merencanakan untuk pergi ke Lotte World dua hari yang lalu?” Sohwa menyenderkan punggungnya ke kursi, ekspresi wajahnya seperti marah –yang tentu saja hanya dibuat-buat oleh gadis itu- Karena sesungguhnya ia tidak marah, ia hanya kecewa.

Tidak. Taemin tidak pernah lupa. Hanya saja ia sudah punya Jiyoung, yang kebetulan mengajaknya di hari yang sama. Bukankah seharusnya ia lebih mementingkan Jiyoung yang merupakan kekasihnya, meski Sohwa tidak pernah lepas dari pikirannya saat itu?

Sohwa memperhatikan ekspresi kosong Taemin yang justru terlihat lucu di matanya. Gadis itu menatap Taemin dengan senyuman yang membuat Taemin tidak tahan berlama-lama melihatnya, membuatnya merasa buruk. Senyum itu… senyum yang penuh rasa kehilangan.

“Aku bukan sahabat yang baik, ya?” ujar Taemin. Merujuk kepada intensitas bertemu yang berkurang di antara mereka berdua, juga karena Taemin tidak selalu ada untuk Sohwa justru ketika gadis itu sedang membutuhkan banyak pertolongannya karena cidera ankle yang dideritanya.

“Hmm akhir-akhir ini mungkin iya.”

“Aku minta maaf ya?” Nada suara Taemin sangat lembut. Membuat Sohwa kelimpungan karena terlalu merindukan suara pria itu.

Ne. Already forgiven,” Sohwa tertawa kecil, berusaha memperlihatkan bahwa ia tidak terluka dengan kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Taemin sesering dulu, bahwa Taemin sudah melupakan janji yang mereka buat berdua, bahwa Taemin sudah memiliki kekasih. Tapi sayangnya ia bukanlah pemain watak yang handal.

“Kau terlihat sangat kecewa, Soo,” ujar Taemin dengan menekankan kata ‘sangat’ dalam kalimat yang diucapkannya.

“Oh tidak, tidak. Tidak perlu kau pikirkan terlalu jauh Taem. Aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan semuanya. Yah mungkin aku juga harus memiliki seorang namjachingu. Choi Minho Sunbaenim, bagaimana menurutmu?”

Mungkin kali ini Sohwa berhasil memainkan ekspresi wajahnya karena sekarang justru Taemin yang terlihat tidak suka, “Dia playboy. Ia punya potensi besar untuk menyakitimu,” ujar pria itu ketus. Terdengar seperti orang jealous.

Sohwa membulatkan matanya mendengar kalimat yang meluncur dari bibir sahabatnya, “Cih, bukankah kalimat yang kau ucapkan sama persis dengan kalimat yang pernah aku ucapkan tentang Jiyoung?” dengus Sohwa kesal. Gadis itu melemparkan pandangan ke arah lain, ia benar-benar kesal.

“Jangan memulai, Soo,” Anehnya Taemin juga ikut kesal, entah karena apa. Ia sendiri pun tidak bisa menjelaskannya.

Hey, note this okay? You’re free to date any girls you want, and SO AM I,” kedua tangan Sohwa yang berada di atas meja terkepal keras.

Taemin kalah telak. Kalah sekaligus merasa tertohok mendengarnya. Begitu mendengar Sohwa ingin mempunyai kekasih, hatinya langsung merasa tidak tenang. Terlebih yang disebut oleh sahabatnya itu adalah seorang Choi Minho, “I’m just.. worried,” gumam Taemin.

“Berhenti mengkhawatirkanku secara berlebihan seperti itu Taem,” ujar Sohwa pelan. Jujur saja untuk saat ini Sohwa tidak menyukai sikap Taemin yang terlalu baik kepadanya. Mungkin sebenarnya itu hal yang biasa sejak dulu, tapi kini rasanya tidak tepat. Tidak, dengan status Taemin sebagai kekasih orang lain. Tidak juga jika itu bisa membuatnya semakin tidak rela melihatnya bersama Jiyoung.

Sohwa mengambil tas kemudian bangkit dari tempat duduknya, “Aku senang karena kau masih sangat mempedulikanku. Tapi kurasa ini tidak tepat, Taem. Sangat tidak tepat,” Gadis itu berkata dengan senyum sedih yang menghiasi paras cantiknya. Sebelum meninggalkan tempat, Sohwa sempat menepuk pundak Taemin dengan pelan.

Taemin hanya diam memperhatikan kepergian sahabatnya. Walau enggan.. saat ini, Taemin mengakui tidak ada gadis yang cocok memakai skinny jeans dengan kaos kebesaran dan sandal jepit, selain Han Sohwa dengan tubuh proporsional dan rambut indah yang digerainya itu.

Taemin terpesona… sekaligus takut dengan perasaan terlarangnya ini.

What kind of game they’re playing now?

Friendship game?

***

 

Mood Sohwa sedang berada di level tertinggi.

Meski berlawanan dengan tubuhnya yang justru berada di titik terlelah sepanjang 20 tahun hidupnya. Lelah, tapi sepadan dengan apa yang didapatnya. Ia merasa bangga karena tim yang dipimpinnya bisa memenangkan kembali Kompetisi Basket untuk seluruh universitas di Korea Selatan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Yang membuatnya lelah dari pada tahun sebelumnya mungkin karena ia harus bermain dalam keadaan belum sembuh total dari cedera. Kondisi tubuhnya, terutama pergelangan kakinya, belum fit dan membuatnya harus menahan ngilu yang masih terasa sepanjang pertandingan berlangsung. Namun di samping itu, bukan Sohwa namanya kalau ia menerima begitu saja keputusan awal pelatih untuk tidak menurunkannya di pertandingan final ini. Oh yang benar saja, di babak penyisihan dia sudah jarang diturunkan dalam pertandingan, masa ketika pertandingan final dia juga harus lebih banyak menonton dari bangku cadangan? Ia tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi dengannya.

Sohwa merasa beruntung ia tidak harus merasa sedih karena Taemin tidak menonton pertandingannya lagi. Mungkin ia memang sedih, tapi setidaknya hal itu terjadi setelah pertandingan selesai. Ia bersyukur selama pertandingan berlangsung ia mampu memusatkan seluruh perhatiannya kepada pertandingan semata dan pikirannya tidak terbagi kepada hal lain, terutama masalah Taemin. Memang hanya basket yang mampu mengalahkan posisi Taemin.

Hari ini Sohwa berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu memikirkan pria itu. Hari ini adalah hari yang membahagiakan terutama untuk dirinya dan rasanya tidak pantas jika ia terus menerus larut dalam masalah yang sedang ia hadapi sekarang. Lagi pula apakah itu masalah yang berarti? Cukup dengan ikhlas saja sebenarnya masalah akan selesai dengan sendirinya.

Sohwa berjalan menuju tempat yang sudah menjadi tempat favoritnya untuk hang out. Seharusnya menjadi tempat hang out favoritnya dengan Taemin, mengingat sudah tidak terhitung lagi berapa kali mereka berkunjung ke tempat itu.

Sekarang pun gadis itu yang mengusulkan teman-teman satu timnya untuk berkumpul dan merayakan kemenangan mereka di Kona Beans, tempat hang out favoritnya. Teman-temannya sudah berangkat terlebih dahulu dan sekarang ia menyusul setelah sebelumnya ia mandi terlebih dahulu.

TRING… TRING….

Sohwa membuka pintu masuk Kona Beans sehingga menimbulkan gemerincing khas tanda ada pelanggan yang baru datang. Sohwa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kedai untuk mencari teman-temannya.

Namun yang ia temukan justru hal yang lain.

Sesuatu yang membuat hati Sohwa mencelos, ia merasa seluruh darahnya tersedot, ia juga merasa lututnya lemas dan membuatnya oleng sehingga ia harus segera berpegangan pada etalase yang ada di dekatnya.

Apa yang dilihatnya membuat gadis itu ingin hilang di telan bumi, bagaimana pun caranya. Jika hal itu mustahil untuk dilakukan, mungkin keinginannya bisa berubah menjadi ingin hilang ingatan hanya di bagian memori yang menyimpan apa yang dilihat oleh kedua matanya saat ini.

TRING… TRING….

Kenyataan bahwa dia tidak bisa mewujudkan kedua keinginannya tersebut mendorong gadis itu untuk pergi meninggalkan Kona Beans. Ia tidak mampu berlama-lama di sana dan melihat kejadian yang membuatnya terluka lebih dalam hingga selesai.

Tidak. Lebih baik ia pergi sekarang juga.

“Did you ever fall for someone you know you shouldn’t? Try hard to fight it, but you just couldn’t? You fall deeper with each passing day, but try to hide it in every possible way.”

-Putitinwords.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “Friendship Game [1.2]”

  1. ah! Suka.. Suka..
    Sering aku kangen sama karya2 author yg lebih tua dariku.. Dan rahmi eonnie salah satunya..
    Next ditunggu..

  2. Walau aku blom pernah punya sobat cowok..tapi kok kerasa ya rasa sesek yang dirasakan sama Sohwa?
    Haha, aku suka pendeskripsiannya… ngaliiir aja dan ngebayanginnya enak..wkwk..
    Plus suka banget sama karakter taemin yang agak dark di sini..wkwkwkwk..

    Gak sabar nunggu kelanjutannya.. pokoknya taemin sohwa kudu bersatu!

    1. Seseknya nyampe? Syukur deh berarti feelnya emang nyampe ke reader hehe. Aku juga seneng kalau kamu gampang ngebayanginnya. Hmm sebenernya aku gak maksud bikin karakter Taemin dark gimana gitu. Aku cuma mau nunjukin kalau setiap orang pasti ada sisi kurangnya juga. Kaya Sohwa juga aku jelasin kalau dia begini tapi dia juga begitu. Nah sama halnya dengan Taemin deh. Hehehehe aku sampe jelasin panjang lebar gini. Abis takut pada kecewa kalau ternyata Taeminnya di luar ekspektasi kamu. Makasih yaa udah comment, mampir juga ke part 2nya, ne? 🙂

      1. hahahaa… aku tipe orang yang suka baca dan bikin karakter orang yang di luar kenyataan kok *?*, tenang ajaa..:D. makin jauh dari luar eksprektasi aku, aku makin seneng..nyahahhaa 😀

        aku usahakan ya kak, kan nggak enak juga bacanya gantung gini..wkwkwk ^.^/

  3. haaaa cinta butaaa

    suka banget cara penyampaiannya, bagus… semoga lanjutannya gak lama…
    tadi nemu satu kalimat yg agak gimana gitu pas dibacanya, tapi karna ini ceritanya lumayan panjang, pas dicari lagi gak ketemu 🙂

      1. Huaaaa payah ya typonya gitu 😦 Harusnya emang “Itulah sebabnya, Sohwa…” Makasih yaaa koreksinya.

        Mudah-mudahan sih gak lama, soalnya kan aku ngirim sekaligus sama part 2nya hehe. Ditungguin aja terus nanti mampir lagi. Makasih yaaa udah baca dan comment 😀

  4. huaa.. kereen! entah kenapa karakter Sohwa cool banget padahal dalamnya (︶︹︺)

    aku penasaran.. penasaran. itu yang dilihat Sohwa terakhir kali itu Taemin ama Jiyeong lagi berduaankah? huaa.. penasaraan, mudahan – mudah next part cepat dipublish

    1. Padahal dalemnya kenapa? Hehehe sip ditunggu aja part selanjutnya, kayanya sih gak lama soalnya aku kirim udah sekalian part 2nya. Makasih yaa udah baca dan comment 🙂

  5. Ngebayangin uri Taemin lagi duduk, nyender, kedua tangan dilipet ke dada, ditambah death glare, aissshh, sisi manly Taem keluar bgt disini
    *eh,apasih?*

    kesempurnaan hanya milik Yang Di Atas, miss typo bukan masalah utama, UTAMAKAN dapetin feel readers sodara..
    Dan itu saya temukan disini,
    ikut nyesek, belom sampe nangis sih*abaikan*

    part 2 ya thor 😉

    1. Waaaah terima kasiiiih karena sudah memaklumi kalau ada typo atau kesalahan lain. Baru nemu reader bersudut pandang seperti kamu di FF aku (di FF lain sih ada juga :p) Eh tapi gak apa-apa kok kalau mau koreksi. Kesempurnaan memang milik Tuhan, tapi gak ada salahnya untuk mendekati kesempurnaan tersebut selayaknya kita sebagai manusia #asek ^^V

      Sip sip part 2nya udah aku kirim ke sini kok, tinggal tunggu publish hehehe. Sekali lagi makasih ya udah mau baca dan comment 🙂

  6. Like this bnget laaah .. Pnyampaian nya bagus bnget ga terlalu terburu2 ahhh yg jlas kereeen .. Aku suka karakter sohwa yang ga terlalu feminin .. Ahh aku tuuunggu yaaa part slanjutnyaaa .. Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s