More Than 100 Days – Part 5

More Than 100 Days – [5]

Title : More Than 100 Days

Author : adinary

Main Cast : Han Jinie – Lee Taemin

Support Cast : Yoo Seungho

Length : Sequel

Genre : Fantasy – Romance – Sad

Rating : General

Summary : Jinie mempunyai kenangan indah dengan Taemin sebelum nanti ia pulang ke negerinya. Tapi ternyata ada satu masalah yang baru di ketahui oleh Jinie dan itu menambah list tugasnya. Tapi Jinie punya perasaan tidak enak dengan apa yang akan terjadi setelah mereka jalan-jalan di wahana bermain. Sebuah kejadian membuat Jinie merasa bodoh dan tidak berguna sama sekali dan membuat Taemin juga merasa sangat bersalah pada Jinie.

A.N : Annyeong!!!! UKK selesai dan akhirnya bisa lanjutin part 5 ini 😀 maaf lama banget ya hehehe. Untuk part ini semoga reader dapet feelnya ya^^ Maaf kalau ada typo atau ada yang gaje 😛 Mohon komentar, saran sama kritiknya. DILARANG COPAS!!!! 😀 enjoy!~

(part sebelumnya~)

Taemin pov

Aku hanya memandangi punggungnya dan kembali merebahkan tubuhku di atas kasur. Kasihan juga bocah itu. Bagaimana pun dia sudah membantuku dalam segala hal.

Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas di pikiranku. Aku pun beranjak duduk, “Jinie-ya..”

Jinie menoleh, “Wae?”

“Kau tidak merindukan appa dan eommamu?”

Jinie tersenyum kecil, “Aku merindukan mereka. Kalau sudah waktunya pulang aku bisa melepas rindu dengan appa, tapi tidak dengan eomma.”

“Kemana eommamu?”

Jinie berjalan lalu duduk di kursi belajarku, “Eommaku pergi saat ia melahirkanku. Pergi untuk selamanya.”

Aku terhenyak, “Mwo?”

***

Taemin pov

Aku bertanya lagi, “Jadi kau tidak punya ibu?”

Jinie tersenyum kecil, “Aku punya. Hanya saja ibuku sudah pergi.”

“Tapi setidaknya kau tahu wajah ibumu, kan?”

“Ayah bilang wajah ibu sangat mirip denganku.”

“Jadi kau tidak pernah melihat wajah ibumu?”

Jinie menggeleng. Oh, jinjja. Mendengarnya membuatku sedih.

Tiba-tiba satu ide melintas di pikiranku, “Kau mau jalan-jalan tidak?”

Jinie menoleh dengan cepat dengan wajah sumringah, “Kemana????”

Aku tertawa kecil, “Aku akan mengajakmu berkeliling kota dan bermain. Bagaimana?”

“MAU!” Jawabnya semangat. “Kali ini kau benar-benar berjanji kan?” Tanyanya.

“Yaksok! Dari pagi besok sampai malam. Sekalian menebus dosaku padamu karena lupa dengan janjiku, hehehe.”

Author pov

14 days to go… 11.00 AM

“Sudah siap belum? Kau bercermin lama sekali!” Gerutu Taemin yang sudah 30 menit menunggu Jinie bercermin.

“Tunggu sebentar. Aku kan harus cantik.” Respon Jinie sambil membetulkan jepitnya. Jinie tetap mengurai rambutnya lalu menjepit poninya ke belakang. Jinie pun berbalik menghadap Taemin, “Apa aku sudah cantik?”

“Cantik seperti biasanya. Kajja!” Taemin pun menarik tangan Jinie keluar kamar dan menyelundupkan(?) Jinie yang enggan merubah wujudnya untuk keluar rumah. Untung saja bibi Jung sedang sibuk di dapur.

“Bibi Jung! Aku pergi ya!” Pamit Taemin sambil berteriak. Taemin pun menutup pintu rumah setelah mendapat respon dari bibi Jung.

“Kau mau naik motor atau mobil?” Tanya Taemin saat ia membuka pintu garasi.

“Motor.” Jawab Jinie.

Taemin pun mengeluarkan motor sport merahnya dan menyerahkan helm pada Jinie, “Naik dan pegangan.”

“Neeee~”

Dengan senyum yang terus mengembang, Jinie memakai helmnya dan naik ke atas motor. Lalu ia melingkarkan kedua lengannya di perut Taemin.

“Berangkaaaaaat~” Seru Jinie.

Tujuan pertama mereka adalah berkeliling kota lalu mereka akan pergi ke wahana bermain. Sepanjang perjalanan Jinie sibuk melihat-lihat ke sekililing dan sesekali bertanya pada Taemin.

“Taemin-ah! Stop stop stop, stop disini.” Ucap Jinie sambil menepuk-nepuk pundak Taemin.

Taemin pov

Jinie tiba-tiba menepuk-nepuk pundakku saat kami melewati beberapa toko, “Taemin-ah! Stop stop stop, stop disini.”

Aku pun menyisi, “Wae?”

“Aku ingin beli benda warna-warni itu. Apa itu makanan? Apa itu permen?” Ucap Jinie sambil menunjuk permen lollipop di etalase sebuah toko.

“Baiklah, ayo kita beli.”

Aku pun memarkirkan motorku dan masuk ke dalam toko tersebut. Jinie terlihat begitu excited melihat jajaran lollipop di toko tersebut.

“Aku mau yang ini, ya?” Ucapnya sambil mengambil salah satu dari jajaran pertama rak lollipop tersebut.

“Ambil sesukamu saja.” Ucapku sambil menepuk pelan kepalanya.

15 menit kemudian…

Aku terdiam, “Jinie-ya, apa itu tidak terlalu banyak? Dan jaketku?”

“Waeyo?” Tanyanya polos.

Aku sedikit speechless. Ternyata tujuannya meminjam jaketku untuk menampung semua lollipop yang ingin ia beli. Padahal kan ada keranjang belanja di sebelah pintu masuk ~_~” dia membuaku malu saja. Sekarang para pengunjung sedang memperhatikan kami.

“Hehehe,apa uangmu kurang untuk membayar semua ini?” Tanyanya lagi.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, “Ani.. maksudku-“ Aku langsung mengambil keranjang di sebelah pintu masuk, “Ini. Pakai ini untuk menampung permen-permen itu.”

“Oooh, aku kira uangmu kurang.” Jinie pun menumpahkan semua lolliponya ke dalam keranjang dan para pengunjung kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

“Apa tidak apa-apa makan lollipop sebanyak ini? Apa gigimu tidak akan sakit atau bolong?” Tanyaku.

Jinie mentapku, “Ne? Bolong?”

“Hem. Gigi peri juga bisa bolong kan?”

Jinie masih menatapku.

Hening.

Jinie terlihat berpikir dan kami saling menatap.

Tik tok tik tok tik tok tik tok………

“Ah sudahlah, kita bayar lollipopnya.” Ucapku sambil berjalan menuju kasir. Kurasa ia tidak tahu gigi bolong itu seperti apa ~_~”

Kami keluar dari toko tersebut dan melanjutkan perjalanan. Sekarang tujuan kami adalah wahana bermain. Dan sepanjang perjalanan aku lihat dia hanya mengemut lollipopnya. Sedangkan aku hanya diberi loliipop yang kecil, padahal aku yang bayar semua itu-_-

Aku terus fokus ke jalanan. Tiba-tiba satu hal terlintas di pikiranku.

Aku akan merindukan Jinie nanti…

AH~ Han Jinie~ Peri aneh yang sangat berjasa.

Aku tersenyum mengingat hal itu. Lalu aku merasakan tangan Jinie melingkar lebih erat dari sebelumnya.

“Kapan kita sampai?” Tanyanya.

“Sebentar lagi.”

~~~

Akhirnya kami sampai di wahana bermain. Kami pun masuk setelah membeli tiket. Aku melihat Jinie takjub dengan tempat ini sambil tetap mengemut lollipopnya. Lollipopnya tinggal tersisa 1. *author ngebayanginnya kayak dufan-dufan gitu aja ya._.v*

“Kau mau naik bianglala?” Tanyaku.

“Aku mau naik apa saja. Ini semua keliatan sangat menarik.”

“Baiklah, kajja!”

Author pov

Jinie terlihat senang menaiki wahana tersebut. Ia bisa melihat semuanya dari atas.

“Woaaaa, daebak!” Ucap Jinie.

“Kau suka?” Tanya Taemin.

“Tentu saja!”

Setelah naik wahana bianglala, mereka pun memutuskan naik roller coaster.

“Kau tidak takut kan?” Tanya Taemin.

“Aniyo.” Jawab Jinie senang.

Taemin tertawa kecil dan menoleh ke arah Jinie yang sudah siap duduk di samping kirinya sambil menengadahkan tangan kirinya. Jinie menoleh dan mengulurkan tangan kanannya. Mereka pun berpegangan tangan.

“Hana…dul..set…”

Hitung mereka berdua sebelum rollercoaster itu meluncur cepat ke bawah. Mereka berteriak kencang terutama Jinie.

“Woooo daebak!!” Seru Jinie setelah turun dari wahana tersebut. Mereka pun berjalan-jalan lagi.

Jinie menarik lengan Taemin untuk masuk ke dalam rumah kaca. Bukannya sibuk mencari jalan, Jinie malah sibuk bercermin dan tertawa sendiri saat melihat bayangannya sendiri. Taemin sempat mengabadikan foto mereka berdua dengan ponselnya.

Mereka keluar dari rumah kaca tersebut dan mencari wahana lain. Entah sadar atau tidak, Taemin merangkul pundak Jinie selama mereka berjalan. Itu membuat wajah Jinie sedikit memerah.

“Mumpung tidak Sulli eonni, hihihi~” Ucap Jinie dalam hati.

“OH!” Jinie tiba-tiba berhenti saat melihat wahana yang menurutnya menantang. Hizteria.

“Kita naik itu ya?” Ucap Jinie sambil menarik-narik baju Taemin.

“Oke!!”

~~~

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Jeritan Jinie saat naik hizteria membuat semua orang terkejut. Orang yang sedang mengantri bahkan yang hanya lewat langsung menengadah ke atas, ke arah datangnya jeritan 10 oktav tersebut *lebay* dan diam.

Jeritan 10 oktav tersebut terus menggema sampai akhirnya Jinie turun dari wahana tersebut dan orang-orang kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.

Jinie terus mengelus dadanya saat berjalan ke pintu keluar wahana tadi, “Ooo jinjja! Wahana itu seperti menarik jantungku secara tiba-tiba!!”

Sedangkan Taemin sibuk tertawa, “Kau sadar dengan jeritanmu sendiri? Hahahaha Kau..Kau sadar tidak?” Taemin berusaha berbicara di tengah tawanya.

“Waeyo? Ada yang aneh dengan jeritanku?”

“Jeritanmu sepertinya sampai 10 oktav! Kau lihat tidak tadi? Orang-orang langsung melihat ke atas saat kau mejerit. Ekspresi orang-orang itu sungguh menggelikan.”

Taemin meredakan tawanya, “Aku baru tahu kau punya jeritan se-melengking itu.”

Jinie ikut tertawa, “Pantas saja aku mendengarmu terus berteriak sambil tertawa. Suara asliku memang melengking seperti itu.”

Mereka berjalan lagi sambil mengobrol sampai akhirnya Jinie mengajak Taemin untuk naik wahana Tornado.

“Permainan ini menarik! Seperti sedang membakar jagung.” Ucap Jinie sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya. Jinie sudah duduk manis menunggu wahana tersebut berputar.

“Aku tidak akan tanggung jawab kalau kau mual setelah naik wahana ini.” Ucap Taemin yang duduk di samping Jinie.

“Ani~ aku tidak akan mual.”

Wahana pun berputar dan jeritan 10 oktav itu kembali menggema sampai wahana itu selesai berputar.

Beberapa menit kemudian…

“Huelkk..”

Taemin terus memijit tengkuk Jinie, “Haaahhh sudah kubilang kau akan mual setelah naik wahana ini!”

Jinie pun terduduk di sebuah bangku, “Tapi tadi aku merasa baik-baik saja.”

“Itu kan tadi sebelum Tornadonya berputar. Aish, wajahmu pucat.”

Jinie memegang kepalanya sambil mengeluh, “Ahhhh eottokhae kepalaku pusing. Lemas sekali.”

Taemin mengusap tengkuknya sendiri, “Kalau begitu kita makan saja. Lagipula ini sudah jam 3 sore, kita belum makan siang.”

“Ne..baiklah.” Ucap Jinie lemas.

Taemin pun membantu Jinie beranjak dari duduknya dan merangkul pundaknya. Mereka melewati beberapa tempat makan dan mereka makan di tempat makan yang menyediakan berbagai menu olahan ayam.

“Apa makanannya tidak enak?” Tanya Taemin saat menyadari kalau Jinie tak sesemangat biasanya saat memakan ayam goreng.

“Aniyo, ini enak. Hanya saja aku jadi malas makan. Efek wahana tadi sepertinya masih ada.”

“Bagaimana kalau kusuapi?”

Jinie pov

“Bagaimana kalau kusuapi?”

Apa? Apa katanya? Disuapi? Hihihi tentu saja aku mau.

“Oh ani, tidak perlu aku akan makan sendiri.”

Tapi Taemin tetap berpindah duduk ke sampingku, “Ini, buka mulutmu.” Ia menyodorkan potongan kecil ayam itu ke mulutku. Aku pun membuka mulut dan mengunyahnya. Walaupun rasanya sedikit tidak karuan karena kondisiku, tapi aku tetap makan karena Taemin yang menyuapiku, hihihi.

Dia terus menyuapiku. Tangannya bergantian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri dan ke dalam mulutku. Aku pun tersenyum padanya. Kapan lagi ia bersikap semanis ini padaku.

Taemin menoleh ke araku, “Wae?”

“Ani. Kau selalu terlihat lebih tampan kalau sedang bersikap manis.”

“Ne?”

Ah dia tidak mendengar apa yang aku katakan? Tapi, baguslah, “Ani, aku hanya bilang ayam goreng disini enak.”

“Jinie-ya..” Ia tiba-tiba memanggilku. Aku pun menoleh.

“Apa kau akan mengunjungiku lagi kalau tugasmu sudah selesai?”

“Molla. Tapi aku ingin. Waeyo?”

“Kalau kau benar-benar pergi nanti, aku akan merindukanmu.”

Aku langsung berhenti mengunyah dan langsung menelan makanan dalam mulutku, “Mwo?”

“Hehehehe, kau kan sudah banyak membantuku. Kau juga sudah berada satu kamar denganku cukup lama. Jadi, apa aku salah kalau aku akan merindukanmu?”

Kalian tahu? Sebenarnya aku berharap kalau jawaban dia lebih dari itu. Seperti, “Jinie-ya.. saranghae..” HAHAHA sepertinya aku akan bergulingan kalau benar dia berkata seperti itu.

Aku tersenyum, “Ooh, ne. Aku juga pasti merindukanmu. Dan merindukan ayam goreng.”

Taemin terawa kecil, “Kau mau aku bekali berapa kilogram ayam goreng nanti untuk persedian di duniamu?”

“Sebanyak mungkin.” Jawabku sambil tersenyum lebar.

“Ada yang menelpon?” Tanyaku saat melihat Taemin mengeluarkan ponselnya.

“Ani, aku akan mengambil selca kita berdua dengan ayam goreng ini.”

Aku hanya ber-O ria mendengar jawabannya.

“Pegang ayam goreng itu dan lihat ke kamera.” Perintahnya. Aku pun memegang ayam goreng dan tersenyum ke kamera.

“Hana..dul..set..” Klik!

Kami terus berfoto dan sesekali tertawa melihat gaya kami berdua. Kami banyak mengambil selca selama di wahana bermain ini. Kami juga menaikki banyak wahana setelah selesai makan siang.

Aku berjalan berendengan dengan Taemin, melihat ke sekeliling siapa tahu ada sesuatu yang menarik. Taemin terlihat melihat jam tangannya, “Pantas saja lampu-lampu sudah mulai menyala. Sudah jam 6 petang.”

“Kita akan pulang jam berapa?” Tanyaku.

“Jam 7 saja.”

Aku pun mengangguk dan melihat ke sekeliling. Ada boneka beruang besar!

“Taemin-ah, aku ingin boneka itu. Bolehkah?”

Taemin melihat ke arah yang aku tunjuk, “Boleh.”

Kami pun berjalan ke toko boneka kecil itu dan membeli boneka beruang besar putih yang lucu.

Aku memeluk boneka itu setelah keluar dari toko tersebut, “Uuuu lucu sekali!”

Taemin tersenyum, “Kau suka?”

“Tentu saja! Gomawo~”

“Boneka itu bahkan lebih gemuk dari badanmu.” Ucapnya.

“O! Kau ingin permen kapas?” Tawar Taemin seraya menarik tangaku ke sebuah kedai kecil.

“Kami pesan 2 permen kapas.” Ucap Taemin pada penjual. Hey! Bahkan aku belum bilang mau. “Terima kasih.” Ucapnya lagi seraya mengambil 2 gulung permen kapas yang berukuran cukup besar itu.

“Ini, makanlah. Permen ini sama enaknya dengan lollipop yang kau makan siang tadi.” Ucapnya.

Aku pun mencobanya dan ternyata enak. Tapi tiba-tiba Taemin menarik tangaku lagi, “Ayo kita naik kereta gantung. Pemandangan malam hari disini bagus. Kau bisa melihat semua lampu yang menyala disini.”

“Waaah, daebak~” Ucapku sambil melihat kebawah. Ya, aku dan Taemin sedang berada di kereta gantung. Lampu-lampu bertebaran dimana-dimana dan warnanya sangat menarik.

“Bagus, bukan?” Tanya Taemin tanpa menoleh ke arahku. Kami sama-sama menikmati pemandangan di bawah sana. Aku hanya mengangguk sambil bergumam.

“Dulu aku juga sering naik kereta gantung di malam hari bersama eomma dan appa. Kami selalu main kesini 1 bulan sekali. Setiap weekend kami juga sering bepergian ke tempat-tempat yang menarik. Tapi itu dulu. Sekarang, jangankan weekend. Kurasa kami hanya berlibur 1 tahun sekali dan hanya 3 hari menikmati liburan karena kesibukan mereka yang luar biasa.” Ceritanya panjang lebar sambil terus memandang ke luar.

“Bagaimana dengan natal?” Tanyaku. Kini aku menoleh ke arahnya.

“Kami jarang merayakan malam natal di rumah. Biasanya aku di rumah nenek dan kakek. Dan itu membosankan karena ibu dan ayahku juga anak tunggal. Jadi aku tidak punya sepupu, om atau tante. Kami hanya bertukar kado dan yah hanya ngobrol-ngobrol biasa dan makan malam. Setelah itu pulang dan aku langsung tidur. Selalu begitu.” Jelasnya lagi.

“Tidak ada hal lain yang kau lakukan?”

Dia tetawa kecil, “Selama liburan natal biasanya aku pergi main dengan teman-teman satu genk ku. Tentu saja tanpa seijin orangtuaku. Kami biasa melakukan semua hal yang kami mau. Bahkan aku dan teman-temanku pernah berlibur bersama ke luar negeri dan orangtuaku nyaris tak tahu.”

“Sampai balap liar pernah masuk dalam list activity liburanku.” Tambahnya.

“Mwo? Bukankah kau bilang semenjak bertemu Sulli eonni kau berubah?”

“Ya! Berubah itu perlu proses. Jadi tidak semua aktivitas buruk aku tinggalkan sekaligus.”

Entah ilham darimana, tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranku. Aku memegang pundak Taemin agar ia menatapku, “Lihat mataku sebentar.”

“Wae?” Herannya.

“Kau masih berhubungan dengan anak-anak balap liar itu ya?”

“Akhirnya ketauan juga. Kau memang pintar.” Ucapnya menepuk pelan kepalaku, “Aku masih berhubungan dengan mereka tapi tidak seperti dulu. Sekarang aku sedang menjauh dari mereka secara perlahan. Mereka juga anak-anak kaya sepertiku. Hanya saja beberapa dari mereka lebih ganas dariku.” Lanjutnya lalu tertawa kecil.

“Selama aku tinggal bersamamu, kau ikut balap liar juga?”

“Sekali. Hanya sekali.”

“Waaa jinjja! Kau menambah list tugasku.” Ucapku sedikit sebal.

Hidup namja ini benar-benar menyusahkan sekali. Sudah tau waktuku tinggal 14 hari lagi. Ah ini benar-benar akan lebih dari 100 hari.

Taemin tiba-tiba tertawa, “Ya! apa yang kau pikirkan? Wajahmu seperti ingin menyakiti seseorang.”

“Ne! Aku ingin menjambak rambutmu! Kau harus menjauhi mereka. Mereka anak-anak berlimpah uang yang tidak baik. Bagaimana kalau mereka iseng menawarimu obat-obatan terlarang?”

“Tenanglah, mereka tidak sampai seperti itu. Sebenarnya aku ada janji dengan mereka malam ini.”

“Berani kau datang menemui mereka! Akan kubuat rambutmu botak selamanya!” Ancamku.

Tapi Taemin malah puas tertawa. Apa dia pikir aku bercanda?! Menyebalkan!

Taemin meredakan tawanya, “Jinie-ya, tenang sebentar. Aku sudah membatalkan janji dengan mereka. Jadi kau tak usah khawatir.”

Aku hanya menatap Taemin dengan wajah tak menyenangkan. Kalian tahu? Perasaanku tak enak. Ayolah Jinie berpikir apa yang selanjutnya akan terjadi!!! Tadi kau pintar kenapa sekarang bodoh!!!!

“Kereta gantungnya berhenti. Ayo, turun.” Ajaknya.

Aku pun menurut. Berjalan mengikutinya di belakang sambil terus berpikir. Aku yakin ada yang akan terjadi setelah ini.

“Kau mau naik komedi putar atau mau pulang?” Tanyanya.

Mood ku turun, “Lebih baik kita pulang saja. Aku lelah.”

“Baiklah, kita pulang.”

Taemin pov

Aku menyodorkan helm pada Jinie. Ada apa dengannya? Daritadi ia terlihat sedang berpikir. Atau dia sakit?

“Setelah ini kau akan menikmati indahnya malam di kota Seoul.” Ucapku berusaha membuat moodnya naik lagi.Tapi dia hanya bergumam dan naik ke atas motor.

Malam ini jalanan cukup ramai tapi tidak seramai biasanya. Tunggu sampai ia melihat pemandangan di salah satu jembatan sungai Han.

Aku melirik ke arah kaca spion untuk melihat Jinie. Wajahnya terlihat muram tapi ia menikmati pemandangan sekelilingnya. Mungkin dia lelah.

“Aku ingin berfoto disini. Boleh tidak?” Akhirnya Jinie bersuara lagi.

“Tentu.”

Jalanan ini sedikit sepi, tumben sekali. Aku pun sedikit memperlambat laju motorku untuk mencari posisi yang pas. Tapi saat aku melihat ke arah spion, aku melihat segerombolan motor sport sedang mengikutiku dari belakang. Siapa mereka?

Tanpa pikir panjang aku mempercepat laju motorku, berharap cepat keluar dari jembatan ini dan aku akan mengambil jalan pintas untuk menghindar.

“Ya! Taemin-ah! Gerombolan motor itu sepertinya mengejar kita.” Ucap Jinie setengah berteriak, wajahnya terlihat sedikit panik.

Sepertinya aku tahu mereka siapa. Yoo Seungho. Ada Seungho di jajaran paling depan, dia anak Seoul High School. Ayahnya adalah saingan ayahku.

Aku menambah kecepatan lagi.

AH! Sial!!! Salah satu dari mereka mendahului motorku dan berhenti di depan motorku. Otomatis aku ngerem mendadak dekat pembatars jembatan sampai ban motor ini berdecit. Selang beberapa detik aku sudah di kepung oleh gerombolan itu. Sh*t.

Author pov

Orang yang di sebut Seungho oleh Taemin membuka helmnya dan turun dari motor sport hitamnya. Taemin juga membuka helmnya dan turun. Begitu juga dengan Jinie, ia membuka helmnya dengan wajah takut lalu turun dari motor sambil memeluk bonekanya.

“Apa urusanmu?” Tanya Taemin dingin.

Seungho hanya tersenyum sinis sambil berdiri di hadapan Taemin.

BUG!!!

Secara tiba-tiba Seungho meninju wajah Taemin sampai tersungkur. Itu membuat Jinie membelalakan mata dan takut. Jinie melihat segerombolan laki-laki yang mengelilingi mereka –Jinie, Taemin, Seungho- hanya berdiri sambil tertawa jahat. Seungho terus memukuli Taemin tanpa henti hingga Taemin tak punya kesempatan untuk membalas.

Taemin akhirnya berdiri dan membalas pukulan Seungho sampai tersungkur. Lalu dia duduk di atas tubuh Seungho, “YA!!!! LAKI-LAKI PENGECUT!!!! APA MAKSUDMU MELAKUKAN HAL INI, HAH??!!”

Taemin mencengkram keras kerah baju Seungho dan memukul wajah Seungho, “KATAKAN PADAKU!”

Seunho membalik tubuh Taemin hingga ia sekarang berada di atas lalu balik mencengkram kerah baju Taemin, “Aaah!!! Diam kau!!! Kau tidak tahu kalau aku tidak suka kalah?! HAH??!!”

Taemin mendelik, “Hanya karena itu?! Laki-laki bodoh!! KAU BODOH DAN PENGECUT!!!!!!”

BUG!!

Satu pukulan kembali tertuju pada wajah Taemin, “Kau kira hanya itu alasanku?! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau juga sering menghinaku?!”

Taemin tertawa sinis, “Hah! Kau baru berani menghajarku sekarang? Disaat aku sendirian dan kau membawa segerombolan anggota genk bodohmu itu? Hanya untuk menghajar satu orang? Mana nyalimu pengecut!”

BUG! BUG! BUG!

Seungho tanpa ampun terus memukuli Taemin hingga Taemin mengerang, “KAU PIKIR SIAPA YANG MEMBUAT PERUSAHAAN AYAHKU DI AMBANG KEHANCURAN, HAH???!!!! AYAHMU!!! AYAHMU YANG BODOH ITU!!!”

BUG!

Taemin mendorong dan meninju perut Seungho, “Jangan sebut ayahku bodoh! Itu karena ayahmu yang tidak becus mengelola perusahaan sendiri! Dasar laki-laki bodoh! Mana otakmu, HAH?!”

Seungho berpegangan ke pembatas jembatan untuk berdiri lalu meminta sesuatu ke salah satu temannya. Temannya pun melempar sebuah tongkat bisbol ke arah Seungho.

Jinie terbelalak, ia panik dan takut. Ia mencengkram boneka yang ia pegang. Jinie berusaha berpikir tapi ia tidak bisa karena ia panik. Itu kelemahannya.

“JINIE BODOH!!! AYO LAKUKAN SESUATU!!!!” Teriak Jinie dalam hati, bulir air mata jatuh ke kedua pipinya saking takut dan kesalnya pada diri sendiri. “AYO BERPIKIR!!!! LAKUKAN SESUATU UNTUK TAEMIN!!!” Teriaknya dalam hati lagi.

Nafas Jinie tercekat saat ia melihat Seungho mengambil ancang-ancang untuk memukul Taemin yang sudah lemas dengan tongkat bisbol di tangannya.

“ANDWAEEE!!!!!!!!” Dengan segenap keberanian Jinie menahan tangan Seungho sebelum tongkat itu melayang ke tubuh Taemin. “Jangan pukul dia!!! Kau tidak lihat keadaan Taemin???!!!!”

Seungho mendelik dan menyikut Jinie sampai Jinie tersungkur, “Diam kau gadis bodoh!!!”

Sekali lagi Seungho mengambil ancang-ancang, sedangkan Taemin sudah lemas.

Jinie kembali bangun dan menggigit lengan Seungho, “AKU BILANG JANGAN PUKUL DIA!!!!!!”

“Jinie-ya, menjauh, nanti kau terluka!” Seru Taemin. Tapi tak di dengar oleh Jinie.

Tanpa perasaan, Seunho mendorong Jinie hingga punggung Jinie terbentur pembatas jembatan dengan keras.

“Awwh!” Ringis Jinie.

Sedetik kemudian 2 anggota Seungho yang lain sudah memegang pergelangan tangan Jinie agar Jinie tak berulah lagi hingga pergelangan tangannya memerah.

“Jangan sentuh dia!!!!” Sekali lagi Taemin bangkit dan langsung mendorong Seungho yang tengah lengah.

Taemin juga menghajar 2 laki-laki yang mencengkram pergelangan tangan Jinie dengan keras.

BUG!

BUG!

Jinie hanya menangis dan diam ketakutan di belakang punggung Taemin. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa. “Jinie bodoh ayo lakukan sesuatu..” Rengeknya dalam hati. Jinie nyaris putus asa. Atau memang sudah putus asa.

BUG!

Seungho memukul perut Taemin dengan tongkat bisbol. Taemin mengerang kesakitan dan bersujud menahan nyeri di perutnya. Jinie terbelalak dan ikut duduk lalu memegang pundak Taemin, “Taemin-ah..”

“Oooh, tuan Lee Taemin sepertinya pacarmu ini sangat khawatir padamu. Kalian lihat? Tuan Lee Taemin kini tidak berdaya, hahahahaha..” Ucap Seungho dengan nada mengejek. Sengho mengelap darah di sudut bibirnya dan sekali lagi melayangkan tongkat bisbolnya untuk memukul Taemin.

Jinie langsung bangkit dan berhasil menahan tangan Seungho sambil menangis, “Andwae!!!! Ku mohon berhenti!”

Jinie memukul dada Seungho dan mencoba mendorongnya menjauh dari Taemin. Air mata Jinie mengalir setiap mendengar Taemin mengerang kesakitan.

Seungho berdecak sebal dan mendorong Jinie ke arah pembatas dengan keras. Ingin puas, Seungho menekan keras pundak Jinie padahal punggung Jinie sudah menempel di pembatas jembatan yang tingginya itu hanya setengah punggung Jinie, “Menjauh dariku gadis sial!!!!!”

Tapi…

“andwae..AAAAAAAAAAAAAAAA…..!!!!!”

Seungho terpaku dan terbelalak.

Taemin mengerang, “Jinie-ya…”

Seungho terlalu keras mendorong Jinie hingga Jinie jatuh dari jembatan dengan posisi kepala di bawah. Mata Taemin terbelalak kaget, “JINIE!!!”

Taemin bangkit dan melihat Jinie tercebur ke dalam sungai Han. Jantungnya terasa berhenti dan nafasnya tercekat.

Dengan emosi Taemin berbalik dan memukuli Seungho habis-habisan, “YA!!!!! SUDAH KUBILANG JANGAN SENTUH DIA!!!!!!”

BUG!

BUG!

“APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADANYA, HAAAHHHH???!!!!!!!! SIALAN!!!”

BUG!

BUG!

BUG!

“Sungguh! Aku tidak sengaja..” Ucap Seungho lemah.

BUG!

Taemin mencengkram kerah Seungho dengan keras. Seolah ini bisa mengembalikan Jinie kembali dengan selamat.

“Laki-laki sialan!!!”

BUG!

Pukulan Taemin melemah dan setitik air mata keluar dari matanya.

Taemin memukul Seungho lagi dan berbicara lirih, “Selamatkan dia…”

“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatnya terjatuh.” Ucap Seungho lagi.

“AKU BILANG SELAMATKAN DIAAA!!!”

BUG!

BUG!

Seungho mengerang kesakitan sedangkan Taemin meneteskan air mata lagi sambil mencengkram kuat kerah Seungho.

“Seungho-ya, a….aku rasa ga…gadis itu mati tenggelam. Sungai Han kan dalam sekali..” Ucap salah satu teman Seungho dengan gugup. Semua anggota Seungho berdiri gugup bahkan ada satu dari mereka yang sudah melarikan diri.

Seungho mendelik ke arah Taemin dan mendorong Taemin agar menyingkir dari atas tubuhnya. Dengan cepat mereka semua kabur meninggalkan Taemin sendirian bersandar di pembatas jembatan dengan penuh luka dan tubuh yang lemas.

“Eottokhae..” Lirih Taemin.

“Jinie..mianhae..”

“Jeongmal mianhae..”

Setelah itu semuanya gelap di mata Taemin.

~~~TBC~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “More Than 100 Days – Part 5”

  1. hwaaa.. Jinie ga kenapa2 kan?? Dia kan bisa berubah jadi peri.. Aigoo knp key ga bantu jinie..
    Taem pingsan kah?
    Next.. Next..

  2. @hyora kim: huaaa haha key pasti dtg kok XD makasih
    @clara kekeke makasih ya
    @salsabila putri udah sampe part 7 tuh ^^ part 8 jumata depan. kekeke maksih
    @shineeapyeontaeminie ayo ayo baca2 skrng udh part 7 kekeke makasih

  3. Huaaaa.. Sumpah pengen nangis bacanya di part ini.. T.T
    Ngebayanginnya gak sanggup..
    Tragi sekali..
    Oh tataem ku..
    Huaaah.. Daebbak thor.. Bikin aku panas dingin bacanya!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s