Real To Love You

Title: Real to Love You
Author : Lee Soon Ji
Main Cast : Choi Minho, Lee Soon Ji
Support Cast :Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Kim Ki Bum (Key), Kim Jonghyun,
Lenght: One Shoot
Genree: Romance, Funny

Real to Love You

“Mwo?! jeongmal?”

Onew melompat dari kursi dan langsung memegang pundakku dengan tatapan penuh harapan aku yang bingung melihatnya langsung melepas tangannya dari pundakku

“ya, leader macam apa kau ini hyung? Anggota mau ninggalin dorm dua hari malah bahagia” aku berbicara datar pada Onew

“ah, itu… taemin selalu meloncat ke kasurku jika ingin turun. Ia tidak pernah menggunakan tangga. Jadi aku ingin mencoba kasurmu” ia teertawa kecil

“oh, arraesso…. Na kalke” aku pergi lalu Onew menarik tanganku

“setidaknya kau memakan ramen yang sedang di buat key dulu” aku menuruti perintahnya dan duduk di meja makan

“taemin-ah, panggilkan Jonghyun hyung di ruang komputer.”

“ne hyung” Taemin dengan pasrah menuruti permintaan hyungnya itu

“dari tadi Jonghyun sibuk mengencani laptopnya” Onew membuka sumpit dan meletakkannya di mangkuk ku yang berisikan ramen, aku kaget sekaligus bingung melihat tingkahnya

“aku akan merindukanmu” ia tersenyum padaku. Dan aku menyipitkan mataku memandang sikap anehnya. Ia seperti yeoja.

“Ramennya udah meteng ni~h” Jonghyun berteriak menggunakan 3oktaf. Aku, Onew dan Key menutup telinga

=tuuuungg!!!= sendok key melayang ke kepala Jonghyun

“aw….! appo” Jonghyun menghelus helus kepalanya sambil mengambil sendok itu

“whoaaaa hyung, Daebak” Taemin terkagum kagum pada key yang sedang berkacak pinggang. Jonghyun mengembalikan sendok key sambil menghelus helus kepalanya

“sudah berapa kali ku bilang, gunakan suaramu jika perlu saja hyung…. Nanti tenggorokanmu sakit… sudah berapa kali kau sakit? Kalau sakit siapa yang susah? Kau bahkan memanggil namaku terlebih dahulu….” Aku, Onew dan Taemin sibuk memakan ramen tanpa menghiraukan Key yang sedang mengomel. Sementara Jonghyun duduk di kursi dan mengambil remote tv lalu mengencangkan suara hingga suara Key terbenam.

“kecilkan suaranya hyung” pintaku dan ia menurutinya

“kenapa kau pulang selama dua hari?” tanya Onew membuka pembicaraan

“semenjak pulang dari Vietnam, rumah ku sangat berantahkan dan aku harus membersihkannya”

=sekarang sedang musim penculikan di sekitar Seoul, banyak pria menggunakan jas hitam dan kacamata. Mereka lebih mengincar yeoja muda untuk di kirim ke luar negri secara paksa dan di jual. Lalu….=

“ganti hyung” pinta taemin dan Jonghyun menurutinya.

=kita lihat di bandara incheon, di sana SHINee baru saja pulang dari Vietnam. = kata seorang Yeoja MC

=whooooa….. lihat mereka…. Tampak keren= kata si namja MC menambahkan

=omo, Minho da Taemin bahkan tidak menyapa para fansnya?=

=apa mereka memang arrogant?=

=ani, ini tak mungkin…. = aku dan taemin saling berpandangan,

“ya, Minho-ah, kenapa kau perlakukan fansmu begitu? Kau juga taemin…” Onew mengacungkan sumpitnya tepat di depan wajahku

“ya, hyung…. Awaskan sumpitmu itu” aku memprotes

“Minho, seharusnya kau memperlakukan fansmu dengan baik, sudah berapa kali kau di katakana arrogant…” key mulai menasehati

“ntahlah, aku tidak bisa mencintai mereka dan memberikan cinta pada mereka” aku menjawab dengan santainya

“minho-ya… dengarkan… anggap mereka yeoja chingumu, orang yang kau cintai, atau mantan yeoja chingumu yang masih kau cintai…. You got it?”jonghyun mengangkat sumpitnya tinggi

“ani, aku tidak memiliki yeoja chingu, orang yang di cintai atau bahkan mantan yeoja chingu. Untuk apa?” tanyaku dengan polosnya

“mwo?!” Onew, Jonghyun dan Key kaget dan membulatkan matanya, tangan mereka menghempas meja makan. Sementara Taemin sedang asyik dengan ramennya

“ya, w-wae?” tanyaku kaget.

“taemin-ah, apa kau begitu juga?” tanya Key dan Taemin mengangguk

“kita sedang sangat terkenal dan sebaiknya harus memikirkan hal hal yang baik.” Taemin berbicara sambil mengambil air minum

“kau pasti mendapatkan itu dari Minho” Onew menebak dan Taemin mengangguk

“aku pernah punya mantan, jadi aku menganggap fansku adalah dia, sehingga setiap saat aku mencintai mereka dan membalas beberapi kiriman yang mereka berikan padaku” Jonghyun menatap langit langit sambil tersenyum

“aku memang tulus mencintai mereka karena merekalah kekasihku” onew juga tersenyum memandangiku

“mereka susah payah memberikan cinta padaku hingga aku juga harus membalasnya, karena aku tau apa rasanya jika di tolak” Key memegang dadanya sambil menatapku teduh

“hyun, kalian semua kenapa?” Taemin bertanya dengan polosnya. Jonghyun, Onew dan Key menatap taemin dan langsung kembali duduk normal.

“kalau begitu, coba kau dekati seorang yeoja dan kau pasti akan jatuh cinta. Aku punya beberapa kenalan” Onew menerangkan

“shireo…. Na kalke” aku langsung mengambil jacket, syal, kaca mata hitam, dan topiku. Lalu pergi meninggalkan mereka.

Aku langsung menancapkan gasku “paboya. Kenapa mereka? Apakah aku terlalu arrogant? Aniyo, aku adalah aku” aku lalu menghidupkan radio sekancang kencangnya.

=hello hello…….= aku langsung memasang headset

“yeoboseyo?”

“oh, Minho-ya, aku sedang di cheongju airport… tolong jemput aku”

“kenapa kau di sana?”

“aku mau belanja ke dongdaemun dan lewat sini, lalu mobilku mogok di sini, tepat di depan toko Dukkgeon ramyun”

“ne, aku kesana”

“ne, ppalli….” Aku melepaskan headsetku “aisssh, jinjja… merepotkan saja” aku langsung memutar balik stirku, padahal aku sedikit lagi mau sampai di rumah. aku menuju kebandara cheongju, aku mencari toko ‘Dukkgeon ramyun’ sambil menjalankan mobilku pelan. Lalu aku memutuskan untuk bertanya pada orang orang sekitar. Aku mengambil syalku dan menutupi leherku agar tidak ada yang mengenaliku. Aku pergi keluar dan bertanya pada seorang yeoja yang tampaknya lebih dewasa dari pada aku “noona, apa kau tau di mana Dukkgeon ramyun berada?”

“itu, restaurant berwarna merah carah di sana” ia menunjuk restaurant merah dan kembali menatapku

“jangkaman, sepertinya aku pernah melihatmu, tapi di mana ya?” ia berpikir keras hingga memutar mutarkan bola matanya

“ah, mungkin di plaza. Gumawoeyo noona” aku langsung pergi meninggalkannya, saat hendak membuka pintu, aku mendapat telpon

“yeobo seyo?” aku menghentikan tindakanku untuk membuka pintu

“Minho-ya, mian ne… ku harap kau belum sampai, aku tadi menelepon bengkel mobil dan mereka menarik mobilku, kupikir jika aku berlama lama di sini, fansku akan mengerumuniku. Jadi ku putuskan untuk ikut mobilku ke bengkel. Mian ne minho-ah”

“mwo? aku sudah sampai di sini bahkan aku sudah menemukan restaurantnya”

“mian ne….”

“ne,” aku langsung menutup teleponku dan membuka pintu mobilku. Dan aku kaget setengah mati melihat yeoja yang sedang duduk di sebelahku sambil menutup wajahnya dengan tas. “y-ya! nuguya!!!” teriakku

“mian…. Aku baru datang ke korea dan aku sedang di kejar oleh orang aneh itu…” katanya sambil menunjuk tiga orang pria berjas dan berkacamata hitam. Aku jadi teringat berita di tv tadi. Aku menatap ketiga pria berjas dan berkacamata itu, sepertinya aku kenal. Ani, mereka pencuri

“ya… mereka pencuri, dan akan menjualmu ke luar negri”

“jeongmal?! Huhu…. Umma….. ” ia menangis sekuat kuatnya dan aku langsung menutup mulutnnya

“uljima… aku akan membawamu pergi dari sini”

“jngmlll?” ia berbicara dengan tanganku di depan mulutnya dan aku langsung menarik tanganku

“mworago?”

“jeongmal?” aku menghela nafas panjang, bagaimanapun aku tidak tega melihat yeoja yang baru datang ke korea dan langsung di hadapi dengan situasu seperti ini. Aku langsung menancap gasku.

“kau dari mana?” aku membuka pembicaraan dan tetap focus pada jalan

“jepang” jawabnya “aku ke sini mencari orang tua ku”

“kalau begitu, kenapa kau fasih dalam berbahasa korea?”

“aku hanya setahun di jepang. Asissten bapakku membuangku di sana, aku tak tau apakah orang tuaku mengetahuinya atau tidak. Yang ku ingat, aku sudah berada di mobil dan di bawa ke bandara, lalu pasportku di buang. Aku terpaksa mencari uang di tempat yang asing bagiku dan harus tinggal di kost yang jorok. Aku bekerja mengumpulkan uang untuk membuat passport dan membeli tiket ke korea. Dan untuk makan ku saja, gajiku sudah sangat kurang hingga satu tahun lamanya aku berhasil membuat passport. Aku yakin orang tuaku tidak mengetahui ini karena asissten appaku pasti menyingkirkanku karena aku pewaris tunggal” ia bercerita panjang lebar hingga kami sudah berjalan cukup jauh

“di mana rumah mu?” tanyaku

“aku lupa”

“mwo?!” tanyaku kaget dan merem mobilku mendadak hingga kami terseret ke depan “ya!! jangan jangan kau hanya mau memata mataiku?!!!!!!! Keluar! Keluar!” ia keget begitu melihatku yang marah marah

“mata matai? Untuk apa?” tanyanya sambil ketakutan

“kau tak tau siapa aku?” tanyaku dan ia hanya menggeleng sambil memegang tasnya kuat kuat

“jeongmal? Jadi kau tak tau siapa SHINee?” tanyaku lagi dan ia hanya menggeleng

“kau punya tv di rumah?” dan kali ini ia menggeleng lagi

“ya! bagai mana aku bisa membeli tv, sementara aku harus menabung untuk membeli tiket dan membuat passport!!!!” ia berteriak sambil menangis. aku membuka pintu untuknya

“keluar” aku memintanya perlahan “keluar!!!” aku berteriak di pinggir jalan yang sepi ini. Dan ia menuruti permintaanku. Lalu ia berlutut di hadapanku.

“jaebal… izinkan aku tinggal bersamamu… jaebal” pintanya dan aku tak menghiraukannya. Aku segera kembali ke mobil dan pergi meninggalkanya, masih kulihat di kaca spion ia berlutut sambil menangis terisak isak, ia memandangi sekitar. Lalu aku luluh melihatnya, apa salahnya. Ia juga tak mengenaliku. Aku lalu memutar kan mobilku. Sebenarnya ini melanggar lampu lalu lintas, aku harus pergi ke persimpangan baru boleh memutar. Tapi aku memutarnya di sini. Aku menghentikan mobilku di sampingnya dan membuka kaca. “masuklah”. Ia masih terisak

“jeongmal?”

“ne” ia langsung membuka pintu dan masuk, ia lalu menghapus air matanya. Dan aku langsung menancap gas. Sementara ia masih terisak karena tadi banyak menangis.

“sampai kapan kau tinggal di rumahku?” tanyaku membuka pembicaraan

“sampai aku menemukan orang tuaku”

“huh, sepertinya kau juga harus mencari pekerjaan.” Aku mengusulkan “agar kau bisa pindah cepat”

“ne, kau bisa membantuku mencari orang tuaku?”

“molla. Aku sangat sibuk. Siapa nama orang tuamu?” tanyaku

“Lee Chan Min, itu appakku”

“oh, aku bahkan belum tau siapa namamu”

“oh. Lee Soon Ji imnida”

“Choi Minho” jawabku singkat

=hello… hello….= aku memasang headset ke telingku

“yeoboseyo?…. mwo? CCTV? Ne… ne…. araesso…” aku melepaskan headsetku lalu menatap Soon Ji sinis

“mwo? nuguya?” tanyanya

******

Aku berjalan ke arah mobilku sambil memegang beberapa surat. “Aissh, jinjja, kenapa polisi harus melihatku memutar mobil di jalan sesepi ini? Aku bahkan tidak mengetahui jika di situ ada polisi” gerutuku sambil memasuki mobil

“kau sudah menemukan orang tuaku? Apa polisi memampang nama orang tuaku di jalan?”

“orang tua?! tsk” aku mengalihkan pandanganku sambil sedikit tersenyum dan kembali menatapnya sinis “ya!!! aku di kenakan denda karenamu!!! Untung aku tidak dikenakan kerja bakti social!!!! Kau memang sial!! Aisshhh jinjja” aku meneriainya

“kenapa kau bisa kena denda? Memangnya kau salah apa?” tanya yeoja ini polos

“aku memutar mobilku untuk menjemputmu kembali” ia melipat kedua tangannya dan kembali menghadap ke depan

“itu bukan salahku, siapa yang menyuruhmu menjemputku lagi”

“ya!! ” aku sesak nafas berbicara dengan yeoja ini

“mwo?! kau mau mengusirku lagi?! Ku rasa harga diriku sudah kau innjak injak!!” ia mengeluarkan air mata dan membuatku luluh. Ia menatapku sedalam dalamnya seolah olah mencari sesuatu di mataku “neon…. ” ia mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya ke kepalaku, lalu ia menangis lagi dan menurunkannya. Ia menarik nafas panjang. Lalu keluar dari mobilku, meninggalan ku sendiri dengan semua rasa bersalahku. Aku melihat yeoja yang berambut lurus di gerai sepundak itu di pinggir jalan yang tepat di depan kantor polisi. Ia menatap lurus sambil menangis. jalanan semakin diramaikan oleh mobil, tiba tiba ia melangkahkan kaki di tengah mobil banyak. Sepertinya ia terburu buru.

“ya, apa dia mau mati?” teriakku dari dalam mobil dan langsung keluar. Ia sudah berada di tengah jalan sementara mobilmobil yang banyak masih menghalanginya, saat ia hendak melangkahkan kaki lagi, sebuah mobil melaju, aku dengan cepat menariknya hingga tubuhnya tak terkena mobil yang melaju tadi. Tak sadar aku sudah memeluknya. Kami benar benar sudah di tengah jalan dengan cacian cacian orang orang dari dalam mobil. ia mendongkakan kepalanya melihatku, da bingung menatapku. Aku lalu melepaskan pelukanku da menariknya ke depan mobilku.

“kau menghilangkan pekerjaanku”

“mwo?” tanyaku bingung dengan ucapannya barusan dan ia menunjuk toko di sebrang .

“wanita itu sudah mengambilnya” ia menatap kosong dan pergi meninggalkanku. Aku dengan cepat menarik tangannya

“eodika?” tanyaku

“molla” ia melepaskan tanganku lalu pergi begitu saja

“ya, kau boleh ikut denganku” aku menundukkan kepalaku sambil memainkan kaki ku di tanah dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal ini. Aku belum pernah sebaik ini pada yeoja sebelumnya. Tapi aku benar benar kasihan padanya. Ia membalik dengan pipi yang sudah basah, ia menatapku bingung. Aku menatap matanya. “masuklah” pintaku.

“gumawo atas semuanya.” ia lalu pergi lagi meninggalkanku.

“y-ya” panggilku gugup dan ia tak menghiraukanku. Ia tetap pergi bersama tas birunya. Aku menarik tangannya

“kau mau tinggal di mana?!” ia melepaskan tanganku dengan paksa

“ya! na gwaencana!” bentaknya da air matanya semakin keluar deras “kau pikir dengan kau menumpangiku, kau bisah menginjak harga diriku?! Jika aku di jadikan maid mu, aku akan menerimanya, tapi jika kau menjadikan ku tamu di rumahmu dan membentakku tiap hari, aku bahkan tidak tahan membayangkannya. Aku akan tinggal dengan monster sepertimu?? Lebih baik aku di selimuti angin sejuk di malam hari yang merasuki tulangku dari pada aku bersamamu.” Aku terdiam mendengar perkataanya barusan. Ini sangat menusuk hatiku. Aku seperti tersambar petir dan di guyuri hujan mendengar ucapannya itu. Aku menarik tangannya lagi,

“sekarang musim penculikan, setidaknya kau menginaplah di rumahku dulu sebelum kau mempunyai rumah dan pekerjaan” ia tetap melepaskannya. Aku heran melihatnya. aku lalu meninggalkannya dan masuk kemobilku

“ia memang keras kepala,” aku mengomel sendirian di mobil dan langsung tancap gas menuju rumahku.

Aku menatap rumahku yang berserakan dan mengacak belakang rambutku. Lalu aku mulai membereskannya, tiba tiba aku terinngat Soon Ji. Aku membayangkan ia sedang di tangkap oleh sekawanan orang yang berjas tadi. Aku menggelengkan kepalaku

“aniyo minho…. aniyo” aku mengangkat buku buku dan majalah, lalu aku teringat lagi ia mengatakan aku monster, aku melempar bukuku “aku bukan MONSTEEER!!!!” aku merebahkan tanganku sambil berteriak.

“arraesso” seseorang berbicara di belakanku dan aku langsung menoleh

“Onew hyung” panggilku “kenapa kau bisa masuk?”

“itu terbuka.” Ia menunjuk ke arah pintu “aigo…. ini sangat berantahkan”

“hm….” Jawabku “masuklah hyung”

“aku baru tau kalau kau benar benar monster” aku langsung menolehnya, menatap wajahnya

“ya, jangan tatap aku seperti itu” ia memegang dadanya “aku jadi takut melihatmu”

“monster?” tanyaku

“ne, rumahmu bahkan berserakan”

“bagaimana sikapku ke orang? Apakah bisa di bilang monster? Ani, sikapku ke yeoja…” aku mulai mendekatinya

“kalau ke orang, sepertinya kau sangat mudah akrab… tapi kau memperlakukan namja dan yeoja itu sama, tidak ada hal yang spesial” ia menaikkan alisnya

“oh,” jawabku singkat. Aku langsung memikirkan Soon Ji, apa benar aku sudah kasar padanya? Apa ia sedang mencari pekerjaan? Atau bahkan mencari rumah? aigo….ia benar benar tidak mengetahui jalan di Seoul

“saat kita berdua menjadi MC dengan Suzy dan Jiyeon, kau bahkan meninggalkan Jiyeon sendiri di ruang tunggu saat aku pergi bersama Suzy. Aku saja tidak tega meninggalkan yeoja seperti itu sendiri. Neo jinjja…. Kau namja yang benar benar tidak menghargai yeoja sedikitpun” aku membulatkan mataku. Dan kami diam beberapa saat

“oh hyung, kenapa kau di sini?” tanyaku

“aku pikir Key bersamamu, ternyata tidak. Tadi ia menyuruhku menjemputnya saat aku sibuk, tapi ia entah di mana. Ia hanya mengatakan ‘aku akan meminta pada Minho saja’ lalu ia mematikan teleponnya”

“mwo? tadi katanya ia di bengkel bersama mobilnya”

“jeongmal?” tanya Onew dan aku mengangguk

“kau bahkan mengkhawatirkan namja juga hyung.”

“dia bukan namja, dia yeoja. Na kalke… annyeong” Onew bow dan meninggalkanku.

“Key yeoja? Jeongmal?” pikirku “oh, saat ia mandi dan lupa mengunci pintu, aku lalu masuk ke kamar mandi dan ia berteriak keras seperti yeoja. Jangan jangan…” aku menggelengkan kepalaku cepat.

“ah, SoonJi” aku langsung berlari ke tempat parker dan pergi ke kantor polisi tadi. Aku melihat sekitar dan tidak kulihat yeoja yang menggunakan jacket pink dengan lengan putih itu. Aku mencari sekitar situ. Aku menghentikan mobilku di taman dan keluar begitu saja. Aku mengingat apa ciri cirinya tadi… aku berpikir keras “jacket pink dengan lengan putih hingga pergelangan tangan, celana jeans di atas paha, tas biru muda, rambut lurus hingga di bawah bahu, dan…. Poninya di pinggirkan dengan pita pink. Ne…. itu dia”

aku mencari sekitar orang yang memiliki ciri ciri seperti itu. Aku berjalan melihat sekitar dan berjalan agak jauh menyusuri pertokoan. Tapi aku tetap tak menemukannya. Aku melihat jam tanganku 19:21 P.M aku membeli coke dan meminumnya.

“huh, jinjja…” tiba tiba ada seorang yeoja yang mengikutiku

“neon… Choi Minho SHINee???” tanya Yeoja itu

“a-ani” jawabku gugup dan langsung meninggalkan yeoja itu

“ya! jangkaman, jangkaman minho-ya” ia sepertinya sangat ngefans terhadapku. Aku menatapnya

“wae?” jawabku sambil menyipitkan mataku sementara ia merogoh tasnya

“ige…” ia memberikan sebuah kotak kaca kecil berisi hati yang berkilauan padaku

“oh, gumawo… kau memang flamer yang baik” aku tersenyum memandanginya

“flamer? Aku locked… itu bukan untukmu, berikan itu ke Key oppa” aku tercengang dengan ucapannya barusan

“ini bukan untukku?” tanyaku bingung

“awalnya aku berharap untuk bertemu denganmu dan memberikannya, tetapi kata orang orang kau sangat cuek dangan fans, jadi aku ingin memberinya ke Key oppa, eh ternyata bertemu denganmu di sini”

“gumawo….” Lanjutnya lagi dan ia pergi meninggalkanku.

“aigo… jinjja” aku menarik nafas panjang dan meraba leherku untuk mencari syal, namun akubaru sadar kalau aku tidak menggunakan syal di leherku “pantas saja dari tadi orang orang memandangiku, aku lupa memakai syal, kacamata dan topiku” Lalu aku pergi ke toko baju terdekat dan membeli syal, dan topi, di situ tidak menjual kaca mata. Aku menunggu di meja kasir

“oh, sudah menunggu lama… mianhamnida” ucap ahjussi itu sambil bow. Ia lalu mengecek harganya di komputer “ada ada saja orang mencari pekerjaan, mengatakan tidak punya rumah lagi….” Penjual itu mengomel ngomel sendiri. Aku mencerna kata katanya dengan teliti. Apa orang yang di maksudnya itu Soon Ji? Begitu selesai di kasir, aku langsung berlari mencari sekitar toko tanpa menggungkan syalku. Lalu aku melihat di sebuah bangku, ada seorang yeoja yang ciri cirinya pas dengan SoonJi. Ia memegang lehernya dan menutupinya. Sepertinya ia kedinginan. Aku kembali ke toko tadi dan membeli kan syal barwarna pink. Lalu membeli coke juga. Aku menghampiri yeoja tadi dari belakang dan melingkarkan syal pink itu ke lehernya.

“Minho-ah….” Ia mendongkakkan kepalanya menghadap kapalaku yang berada di atasnya.

“buang harga dirimu itu. Orang sepertimu belum bisa untuk mempertahankannya.”

“mworago?”

“kalau harga dirimu terlalu tinggi, aku tidak bisa mengajakmu ke rumahku” kali ini ia terdiam menatapku

“susah mencari pekerjaan?” aku duduk di sampingnya dan member hot cappuchino. Ia menerimanya dan membuka kaleng itu. Aku lalu memakai topi dan syal biruku “kau pasti lelah” aku memulai pembicaraan

“gumawo” ucapnya. kami lalu duduk beberapa lama di sana. Aku berdiri “kajja” aku pergi ke arah taman di mana aku memarkirkan mobilku dan ia mengikutiku. Aku menancap gas ke rumah ku. Kami naik lift bersama dan ia hanya bisa diam karena canggung, begitu juga denganku. Aku lalu membuka pintu rumahku.

“omo, ini sangat berantahkan” ia kaget melihat rumahku dan aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“masuklah” pintaku. Ia lalu meletakkan tasnya

“ayo kita bersihkan”

“kau harus istirahat dulu” aku menasehati, tetapi ia tetap mengumpulkan buku buku dan majakah yang berserakkan. Aku tak tega melihatnya, aku mengambil kain untuk mengelap debu yang menempel pada meja meja dan tempat lainnya. Kami mulai bekerja tanpa mengganti baju sebelumnya. Bahkan kami belum melepaskan syal kami.

“minho-ah,”

“mwo?” tanyaku yang sedang sibuk mengelap meja

“bisa kau hidupkan lagu?” pintanya dan aku mengambil handphoneku dan meletakkannya di speaker untuk i-phone dan menghidupkan lagu ‘Juliette’nya SHINee, suara lagunya mengisi seluruh ruangan

“ya! kenapa lagunya sangat tidak enak?” ia menghentikan aktifitasnya dan langsung mengganti lagunya. Aku tercengang melihatnya

“mwo-mworago?” tanyaku gugup

“lagunya tidak enak” baru kali ini ada orang menghina lagu SHINee di depan mataku. Ia memutarkan lagu ‘Sorry sorry’

“ini baru lagu…” dan ia melanjutkan tugasnya, aku menjadi berdebar dan terduduk….

“whoa…..” aku mengatur nafasku

“Minho, gwaenchana??” Tanyanya padaku dan aku hanya mengangguk pelan.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.58 PM dan rumahku sudah sangat bersih.

“huh, bisa bersih dengan cepat” aku mematikan musiknya dan merebahkan tanganku di sofa tempat SoonJi duduk. Aku benar benar capek. Lalu tertidur.

Aku terbangun dan melihat handphoneku yang berada di speaker dengan mata sayup, aku mengucek mataku lalu melihat sekitar. Aku merasa yang ada di kepalaku ini bukan bantal, aku membuka metaku lebar dan di atasku ada SoonJi yang sedang tidur,

‘OMO! Bagai mana bisa aku tidur di pangkuannya?!’ teriakku dalam hati. Aku melihatnya tidur tanpa membuka syalnya, begitu juga denganku. Aku menatapnya lama, memperhatikan lekak likuk wajahnya. Lalu aku bangun dan menggendongnya ke kamar tamu yang biasa di tiduri oleh member SHINee jika mereka menginap di sini. Aku menanggalkan syalnya dan melihat leher putihnya.

=hello… hello….= handphoneku bordering di speaker, aku langsung mengambilnya

“yeobo seyo”

“minho-ya…. ppalli…. Semua orang menunggumu di sini”

“mworago? ”tanyaku bingung, tiba tiba aku teringat sesuatu, hari ini ka nada pemotretan CF ‘Kiss Note’

MWO??!! PEMOTRETAN?!!!

“yeoboseyo? Yeoboseyo? Yeoboseyo?? Minho-ya…. kau masih hidup?!!! Yeoboseyo?!” Key berteriak di seberang sana. Aku segera mengambil pakaianku dan pergi.

*******

“huh, aku capek sekali” keluhku di lift. Aku melirik jam tanganku 21:44 PM. Aku lalu membuka pintu rumah dan langsung kaget melihat SoonJi sedang berdiri di depan TV 43 inch ku dengan sapu di tangannya. Gambar di TV terlihat sangat lebar, aku menatap TV dengan lekat dan mulai berfikir keras untuk mengatakan sesuatu

“yadong?” tanyaku. Apa yang di lakukan yeoja ini? Aku datang ke tempatnya berdiri

“ternyata kau melepaskan kesunyian dengan menonton hal seperti ini” aku tersenyum melihatnya yang tercengang menatap TV “sepertinya ini sangat mantap hingga kau tercengang, aku bahkan belum pernah menonton yadong sebelumnya dan kau… ” aku tertawa kecil “whoa…. Neo jinjja daebak…. Kau bahkan membawa ini dari Jepang dan kau… juga membawa alat pelengkap, tapi kenapa harus sapu?” aku masih menatapnya yang tercangang menatap TV yang layarnya dipenuhi dengan yadong itu. Ia menggelengkan kepalanya dan mengusap matanya

“aku tak menyangka kau menyimpan CD seperti ini,” sepertinya tadi ia memang tidak mendengarkan sepatahpun ucapanku “aku bahkan belum pernah menonton ini,” ia kembali menatapku

“belum pernah? ” aku menutup matanya tengan tangan kiriku dan ia menutup mataku dengan tangan kanannya dan membiarkan sapunya terjatuh.

“jadi ini bukan punyamu?” tanyaku

“ani, aku menemukannya di dalam DVD playermu saat mau mendengarkan lagu”

“mwo?!” aku kaget dan langsung melepaskan tanganku di matanya. Ia memukuli pundakku pelan sambil tertawa kecil

“gwaenchana…. Di tempat kerjaku dulu, namja juga suka menonton film yadong seperti ini ” ia lalu mendekati wajahnya ketelingaku dan berbisik “mereka menceritakan nya padaku dan menyuruhku merahasiakannya” dan ia tertawa kecil dan meletakkan tangannya di pundakku “aku tak akan mengganggumu” ia lalu pergi ke kamarnya meninggalkan ku yang masih kaku dengan suara suara di film yadong itu. Dengan cepat aku mematikannya dan mengeluarkan CD. Aku berkeringat memikirkan ini semua. Aku melihat CD berwarna biru tua itu, tiba tiba aku teringat sesuatu

+Flash Back+

=ting dong= aku melihat siapa yang datang melalui kamera

“oh, jangkaman” aku lalu menyuruh namja itu masuk. Ia membawa laptopnya kemari

“ada apa hyung?” tanyaku

“aku bosan di dorm, lalu pergi ke toko CD sesudah itu,aku melihat mu di jalan dan berniat untuk mengikutimu, ternyata kau hanya pergi ke rumahmu”

“oh, beli apa di toko CD?” tanyaku penasaran

“CD yang bagus lah, di mana air?”

“ambil saja Hyung” aku mengobrak abrik lemariku mencari dompet dan aku menemukannya di atas lemari, sementara namja itu pergi kedapur untuk mengambil air. Aku lalu duduk di sofa dan membuka laptopnya

“minho-ah, kenapa kau pulang ke sini” tanyanya sambil menuangkan juice apel

“aku mencari dompet”

“sudah ketemu?”

“o” jawabku

“kalau begitu kenapa kau di sini? Bukannya kau ada jumpa fans?”

“ada tamu yang datang, tak mungkin aku meninggalkannya, nanti barangku hilang lagi…… lagian itu di mulai lima menit lagi” jawabku sambil mengutak ngatik laptopnya memasukkan password di usernya, dan selalu salah

“hyung, apa passwordnya?” tanyaku

“hm? Kau membuka laptopku” tanyanya sambil membuka lemari es “oh, ada banana bread”

“apa hyung? Jaebal….” Pintaku sambil mencoba memasukkan namanya untuk passwornya

E-U-N-H-Y-U-K dan lagi lagi gagal. Aku menyerah dan meletakkan kepalaku di meja “pasti isinya yang macam macam hingga kau menguncinya”

“itu secret,” ia mengomong sambil memotong rotiku

“kata Donghae hyung kau bahkan berulang kali menggantinya” aku membuka CD roomnya, dan akku menemukan CD berwarna biru tua. Aku memandanginya dan ingin bertanya padanya, tapi aku mengurungkan niatku mengingat perkataannya tadi, bahwa ia membeli CD bagus, lalu aku menyembunyikan CDnya di bawah meja.

“bisa?” tanyanya dengan gelas dan roti di kedua tangannya dan aku hanya menggeleng pelan.

“sepertinya aku harus pulang, na kalke” iapergi meninggalkan gelas dan membawa roti ke luar, tidak lupa pula di bawanya laptopnya.

“annyeong” sapanya sambil bow

“annyeong, ” ia lalu pergi “Eunhyuk hyung” aku memanggilnya dan ia membalikkan badan

“o?” tanyanya

“aniyo…. Hati hati di jalan” aku mengurungkan niatku untuk mengakui kesalahanku karena telah mencuri CD nya. Lalu aku menghidupkan CD nya di DVD playerku, aku menunggunya di TV

“film sebagus apa sih?” tanyaku bingung, lalu keluar pembukanya

=jreeeeeng….. jreng jreng jreeeeeeeng= aku menunggu dengan penasaran

=hello… hello…= itu suara handphoneku

“yeoboseyo?”

“minho, siara apa itu? Matikan capat”aku mengikuti perintah Key dan langsung mematikan TV

“kau sudah menemukan dompetmu?” tanya Key

“sudah hyung”

“palli,, semua menunggumu”

“ne”

+end of flashback+

Aku memukul kepalaku dan aku sudah berkeringat. Aku mencuri ini karena ku pikir in CD yang benar benar bagus, tetapi ternyata ini CD yang luar biasa. Aku kualat sudah mengambil ini dari Eunhyuk hyung.

“Minho-ya!” teriak SoonJi dari dalam kamar

“mwo?” tanyaku

“kau sudah selesai? Aku mau mengambil minum”

“sudah, keluarlah” ia membuka pintu dan aku segera duduk di sofa depan tv. Ia duduk di sebelahku sambil meletakkan strawberry juice di meja di depanku

“minumlah, kau pasti sangat capek. Kata unni ku saat di Jepang, jika namja sedang menonton yadong, mereka melakukan…. Melakukan…. Apa namanya ya? pokoknya itu akan membuat mereka berkeringat” aku menatap wajahnya, dan menarik nafas panjang.

“berapa umurmu?” tanyaku dan ia sibuk menghitung jarinya

“aku lahir 1993… dan sekarang… 7,8,9,10,11,” tiba tibaa aku menjitak kepalanya “aw…. appo”

“ya, kau seharusnya memanggilku Oppa, aku lahir tahun 1991…”

“jeongmal? Mian ne oppa”

*****

=tong nong……..=

“yeoboseyo?” tanya seseorang melalui kamera di depan pintunya

“minho imnida” jawabku dari luar

“oh, Minho, masuklah, sudah ku buka” aku lalu masuk dan duduk di ruang tamu

“cari siapa?” tanya Sungmin hyung padaku.

“ryeewook hyung” jawabku sambil tersenyum

“oh, mungkin dia di kamar mandi. Masuk saja dulu. Aku mau masak”

“ne” jawabku dan ia meninggalkan ku ke dapur. Aku lalu berjalan masuk dan ku temui Kyuhyun Hyung sedang bermain PS

“hyung,” sapaku sambil memukul pundaknya

“jangan sentuh aku, nanti aku bosa kalah…. Omo! Omo! Andwae!!!!” ia memukul kepalanya dan menatapku sinis.

“w-wae?” tanyku bingung. Ia kembali ke gamenya dan aku duduk di sebelah Sungmin yang sedang sibuk memainkan laptopnya

“sedang apa hyung?” tanyaku

“membalas UFO,”

“oh, kau memang artis yang baik” dan ia tersenyum padaku. Aku menyandarkan pundakku di sofa dan memprhatikan sekeliling. Aku melihat ryewook yang lagi masak di dapur, lalu Sungmin dengan baju kaon pinknya memainkan laptop dan kyuhyun sibuk dengan gamenya, ia bahkan masih menggunakan boxernya.

“man Yesung hyun? Bukannya kalian berlima?” tanyaku

“ia rekaman untuk soundtrack film”

“lagi? Ia memang populer” aku memuji Yesung dan Eunhyun keluar dari kamar mandi

“oh, hyung” sapaku

“kau mencariku? ” tanyanya masih dengan handuk melilit tubuhnya,

“sebaiknya kau memakai bajumu dulu” aku mengusulkan. Setelah beberapa lama, ia keluar dan bertanya.

“wae?”

“ayo berbicara di kamarmu” pintaku

“ahaha,,, kau seperti gay saja. Bilanglah di sini”

“ani hyung, kajja” aku menarik tangannya

“katakan saja” aku menuruti permintaannya

“hyung. Mian…. Mian ne, aku sudah membuka CD room di laptopmu dan menyurukkan CD mu, ku pikir ini CD bagus seperti yang kau katakana, ternyata ini ya…” eunhyuk langsung menutup mulutku

“sebaiknya kita membicarakannya di kamarku” ia menarik tanganku. Sesampainya di kamar, ia menjitakku

“naappeun namja”

“aw…. Appo hyung”

“sampai bagian mana kau melihatnya?”

“aku baru bagian awalnya, aku takut melanjutkannya hyung”

“good boy” ia lalu menyembunyikan CDnya dan mengajakku makan.

*****

“hyung, aku sendirian di sini, jaebal… bawa aku” Taemin mulai merengek

“ne, masuklah” aku mempersilahkannya masuk ke mobilku

“hyung, aku mau ke rumahmu. Aku lupa kalau dulu bajuku ada yang tertinggal di sana”

“mwo? shireo, aku akan membawanya besok”

“hyung, kau seperti menyembunyikan sesuatu”

“ani” jawabku kaku

“kalau begitu, bawa aku kerumamu” dan dengan terpaksa aku pergi kerumah ku. Sepanjang perjalanan hati ku berdebar jika Taemin mengetahui semuanya.

Sesampainya di lift, kami diam sejenak

“hyung, apa soft lens ku bergeser?” tanyanya memecahkan suasana

“kau menggunakan soft lens?” tanyaku

“hm…. Tolong benarkan hyung” aku lalu berdiri di depan Taemin dan melihat soft lensnya

“miringkan kepalamu” ia menuruti oerintahku. Dengan sangat hati hati aku membetulkannya, hingga tak saar lift terbuka dan saat aku membalik, aku melihat SoonJi yang sedang menutup mulutnya kaget melihat kami

“omo! Aku tak tahu jika kau mempraktekkannya dengan temanmu. Ta-tapi sebaiknya kau jangan melakukannya di tempat umum. Aku akan pergi mencari kerja dan pulang lama. Lakukanlah di dalam rumah” ia lalu pergi ke lift sebelah yang sudah terbuka.

“omo! Apa yang di pikirkannya?!” aku memukul kepalaku

“pasti ia kaget karena melihat artis” jawab Taemin polos

*****

Aku menyemprot kamarku dengan pembasmi nyamuk agar tidak ada satupun nyamuk yang menggigit kulit mulusku. Setelah itu aku duduk di sofa sambil menonton tv

“apa temanmu sudah pulang?” SoonJi yang baru pulang mengagetkanku

“hm” jawabku singkat

“oh…” ia lalu duduk di sampingku menonton tv

“SoonJi-ah, kamarku baru ku semprot nyamuk… aku belum mengganti piyama tidur… aku numpang kamarmu ya?” aku lalu pergi ke kamarnya dan ia menarik tanganku

“andwae oppa” jawabnya khawatir

“wae? ”

“ng…. aku mau ganti baju” ia langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu

“ya! dasar pelit” aku menggerutu di luar

“mian oppa, ganti saja di kamar mandi” aku langsung ke kamar mandi. Aku melihat airnya yang jernih dan aku mengurungkan niatku untuk mengganti piyama aku berniat untuk mandi. ‘Meskipun sore udah mandi, tapi akan lebih segar jika mandi lagi.’ Pikirku. Lalu aku membuka baju dan eumh…. Yang ini di lewatkan saja.

Setelah beberapa lama aku mandi, aku baru teringat sesuatu “handuk!” aku berniat untuk memanggil SoonJi

“Soonjiah!!!!”

“mwo?!” teriaknya dari luar

“ambilkan aku handuk!!!”

“ne!!!!” tak beberapa lama ia datang mengetuk pintu

“Oppa… ige”

“jangkaman.. aku sedang shampoan”

“ppali…” tanpa sadar sudah lama aku menyampo rambutku dan saat aku membuka pintu, SoonJi terjatuh dari pintu dan menatapku kaget

“AAAAAAAAAAAAAAAAArghhhhhh!!!!!” teriaknya sambil menutup kedua matanya. Saat ini ia terduduk di lantai. Aku dengan cepat mengambil handuk dan menutupinya.

Aku pergi duduk di sampingnya yang sedang asyik menonton tv

“apa saja yang kau lihat tadi?” tanyaku memulai pembicaraan, dan mukanya menjadi merah

“opso,”

“jeongmal?” dan ia mengangguk pelan

“apa kau tadi bersandar di pintu?”

“hm…. Mian, karena kau sangat lama, jadi aku tertidur di pintu”

“kenapa kau lama pulangnya?”

“aku baru mendapat pekerjaan di restaurant”

“oh, kau pasti capek. tidurlah” aku pergi meninggalkannya sendirian di depan TV.

*****

Sudah dua bulan SoonJi dan aku tinggal bersama. Dan ia juga belum mengetahui siapa aku sebenarnya.

=clik…= soonji menekan remote =annyeong haseyo… kita berjumpa lagi di happy together. Kali ini kami akan membawakan lima member dari group I’m so cerrious yeah…. Inilah SHINee~ clik= aku dengan cepat mematikan tv

“oppa, aku mau nonton”

“nanti saja, kau harus masak dulu” pintaku

=hello… hello….=

“yeoboseyo?”

“minho-ya, kesinni…. ppalli” aku langsung pergi ke dormnya SHINee dan di situ sudah berkumpul member SHINee dan Kim Soo Man ahjussi.

“ig mwoyeyo? ” tanyaku heran

“kemana saja kau, tak pernah tidur di dorm lagi” Kim Soo Man ahjussi memulai pembicaraan dan di saksikan member member SHINee lainnya

“aku di rumah”

“wae?!” bentaknya

“aku…. Aku…. Bosan di sini” hanya itu yang terlintas di otakku dan ia langsung memberiku beberapa majalah yang di halaman awalnya terpampang beberapa fotoku sedang memeluk SoonJi di tengah jalan, lalu fotoku menarik tangan SoonJi.

“si-siapa yang membuat ini?” tanyaku bingung

“nuguya?” tanya Kim Soo Man ahjussi

“ahjussi, aku hanya menyelamatkannya.”

“kalau begitu kita jelaskan di konferensi pers nanti” ia lalu pergi meninggalkan kami.

Setelah konferensi pers, aku langsung pulang kerumah

“oppa, kenapa begitu telat?” tanya SoonJi di dapur. Aku menatap sekeliling rumahku yang sudah rapi di susunnya. Meskipun ia kerja di dua tempat, ia masih sempat merapikan rumahku, menyiapkan sarapan, bahkan menyiapkan makan malam. Ia seperti bekerja di tiga tempat, di restaurant, di produk kosmetik, dan di rumahku. Namaku sudah terpampang di setiap majalah karenanya. Ia masih menatapku dengan mata indahnya

“oppa, aku sudah menyiapkan makanan… kau lapar?” aku masih diam kaku menatapnya. Aku brpikir keras untuk nama baikku di kalangan artis dan untuk sikapku. Jika aku mengusirnya, masalah sekarang tak akan selesai, tapi seterusnya aku tak akan terkena masalah lagi. Jika aku menjadikannya yeoja chingu dan mengumumpaknya, masalah akan selesai dan siapa tau akan ada banyak masalah menanti ku. Tapi aku tidak sanggup menjalani ini semua. Aku menggelengkan kepala dengan cepat

“kau tak mau makan oppa? Ah, ne… mungkin kau sudah makan”

“SoonJi-ah….” Aku mendekatinya dan memegang pundaknya. Sementara ia hanya menatapku bingung.

“SoonJi-ah….” Ia masih terdiam

“sa…. Sar…. Sara….” Aku gugup mengatakannya. Apa aku harus melakukan ini untuk kebaikanku?

“ah, ne…. tadi ada orang (SARAM) yang memberikan majalah padaku. Biasanya ia hanya meletakkannya di depan pintu. Jadi aku usir dia,” ia tertawa kecil dan aku melepaskan peganganku dari pundaknnya.

“makanlah, aku mau pergi”

“eodika?” tanyanya khawatir. Aku hanya tersenyum padanya dan pergi meninggalkannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 11:15 PM. Aku berjalan ke kedai di pinggir jalan. Aku masuk ke sana dan memesan soju. Aku meminumnya dan tanpa sadar aku sudah menghabiskan Sembilan botol soju. Aku kembali ke rumah sambil berjalan sempoyongan. Dunia serasa berputar, aku seperti melangkah di dalam kesulitan. Aku memasuki rumahku

“oh, oppa….”

“kau menunggu ku?”

“oppa… kau mabuk.” Ia menaruhkan tanganku di pundaknya

“soonJi-ah, kenapa kau sangat manis?”

“oppa, kau pasti sudah mabuk berat”

“ani…. Na gwaenchana…..” lalu aku ambruk ke lantai

*****

“uh, kepalaku…. appo” aku memegang kepalaku dan melihat sekitar. Ini dikamarku, tetapi…. Aku melihat kebawah, ada SoonJi yang sedang tidur di lenganku

“i-ige mwoyeyo?” tanyaku, kenapa ia tidur di sini? Lalu kepalaku mulai pusing memikirkan apa yang telah ku lakukan tadi malam.

“aish… jinjja, aku menariknya tadi malam” tiba tiba ia terbangun, aku langsung memejam kan mataku pura pusa tidur

“apa dia ada masalah?” aku masih mendengar perkataannya di sudu tempat tidurku “ia terus menangis… aish, jinjja… kanapa ia memaksaku untuk tidur dengannya? Ia memelukku kuat hingga tak bisa berbuat apa apa. Dan bodohnya aku, kenapa aku kasihan dengan tangisannya” lalu tangannya memegang keningku “ia tidak sakit…. Sebaiknya aku keluar sebelum ia menyadarinya”

Tiba tiba saat aku membuka mata, SoonJi sudah tidak ada. Aku termenung dengan apa yang ku lakukan tadi malam. Aku memukul mukul kepalaku

“Minho pabo ya! minho paboya!!!”

******

Aku memutar mutar siaran TV, tiba tiba SoonJi pulang sambil menangis

“minho-aaaaaaaah……” ia merengek dengan berlinang air mata di pipinya

“SoonJi… waegeure?”

“aku di peeeeecaaaat…! Mereka bahkan belum membayar gajiku….” Ia terduduk di depan pintu sambil menggoyangkan kakinya seperti anak kecil.

“cepat masak” aku mengalihkan pembicaraan dan ia langsung ke dapur sesudah mengganti pakaian.

Tak beberapa lamaa

“oppa, sudah siap” ia memanggilu dengan lesu dan aku langsung pergi ke meja makan dan aku membulatkan mataku setelah melihat makanan apa yang di masaknya. Semua hitam.

“so-soon ki-ah”

“mwo? aku capek, aku mau tidur dulu. makanlah” ia memasuki kamarnya

“ya! bagai mana aku bisa makan dengan makanan seperti ini?! Lihatlah! Hanya nasi yang berwarna putih, selebihnya hitam” bentakku dan ia kembali menangis di depan pintu kamarnya sambil meletakkan kepalanya di depan pintu. Aku menarik tangannya

“kau harus menemaniku makan. kajja” ia dengan cepat mengambil jacketnya dan kami berjalan kaki ke bawah apartement mencari tempat makan terdekat. Dan ku temui tempat aku mabuk kemarin.

“itu ada orang jual makanan oppa” ia menunjuk ke arah kedai itu

“ani, tempat lain saja”

=krrrrrriiiiiiuuuuuuk=

“whoa, itu perutmu? Daebak! Aku baru pertama kali mendengar suara perut sebesar itu” pujiku, dan ia memukul lenganku

“kaja, sepertinya sudah tak ada toko lagi, kita makan di situ saja” aku membawanya ke tempat aku mabuk kemarin. Kami memesan makanan dan sebotol soju.

“kau pernah minum ini?” tanyaku dan ia hanya menggeleng pelan “kalau begitu kau tidak boleh meminumnya nanti” aku membolak balikkan dagingku di panggangan dan mulai memakannya, ia pun begitu. Aku yang dari tadi lapar, ternyata ia lebih lapar. Aku kaget melihatnya makan dengan dua porsi mangkuk yang nasinya menggunung. Aku menyipitkan mataku

“uh? Wae? Aku sangat lapar” ia tertawa kecil

“habiskan nasi di mulutmu dulu”

“oppa, apa aku boleh mencoba ini?” tanyanya

“andwae!” dan ia hanya tertunduk sambil memanyunkan bibirnya melihatku menuangkan soju ke mangkuk . Ia menatapku sambil memakan kue berasnya. Aku baru meminum semangkuk dan rasanya aku ingin pipis.

“ugh, aku ke toilet dulu, habiskan lah kue berasmu itu” ia mengangguk pelan.

Tak beberapa lama aku di toilet, aku kembali ke mejaku, dan aku kaget begitu melihat mejaku sudah tersedia empat botol soju. Aku tersenyum melihat ahjuma itu. Mungkin ia yang memberikannya untukku.

“aku bisa mabuk kalau begini.” Aku duduk di kursi dan menuangkan sojunya ke mangkuk,

“uh? Habis?” aku mencoba ke tiganya lagi dan semuanya habis. Aku meihat SoonJi yang meletakkan kepalanya di meja. Aku mengangkat kepalanya. Ia tersenyum padaku dengan mata sayup

“oppa” ia tertawa kecil padaku

“k-kau meminumnya?” tanyaku sambil merem melek dan ia mengangguk senang

“aish, jinjja….”

Setelah membayar, aku menartiknya pulang, dan ia terjatuh. Jadi terpaksa aku menggendongnya.

“tenyata kau berat juga” ia memukul kepalaku berkali kali.

“huh,,,,” aku mencampakkannya di kasurnya. Lalu menyelimutinya. Aku melihatnya tidur

“kau terlihat cantik dan meggemaskan saat tidur, tetapi kenapa kau berubah saat bangun?” aku duduk di ujung kasurnya. Aku melihat bibirnya. Lalu memegangnya. Tiba tiba entah kenapa aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Jarak kami hanya satu senti sekarang dan aku menutup mataku, tiba tiba ia bergerak ke samping

“ueeeeeek” aku memuntahkan sojunya ke spray.

“iek, kau sangat…. Argh, sudah ku bilang jangan minum” aku lalu mengangkatnya ke tempat tidurku. Ini pertama kalinya dia mabuk, jadi wajar saja ia muntah. Aku berniat untuk tidur di sofa. Ku pinggirkan rambutnya yang menutupi mukanya, lalu ia berbalik lagi dan ia memuntahkan sprayku

“arrrrrgh!!! SoonJi!!!!!!”

******

“oppa, kenapa kau meletakkanku di lantai? Itu sangat dingin, dan kepalaku… auh… kepalaku sangat sakit” ia memegang kepalanya, sementara aku melipat tanganku tak menghiraukan perkataanya

“siapa orang ini? Kenapa ia yang membersihkan rumah?” ia menunjuk bebera[a maid yang ku panggil untuk membersihkan rumah.

“ya! kau tau apa yang kau lakukan tadi malam?” tanyaku geram. Ia hanya menggeleng kepalannya kecil

“kau tau?! Aku melarangku meminum soju dan kau meminum hingga empat botol! Dan kau tau apa selanjutnya?! Kau menggendongmu pulang sementara kau memukul mukul kepalaku!” ia memandang langit langit rumah untuk mengelakkan mataku yang menatapnya tajam

“lalu, aku meletakkanmu di kamar dan kau memuntahkannya… uek,” aku memegang perutku tak kuasa membayangkan kejadian tadi malam, ia hanya memandang sekitar rumahku sambil memegang celananya “lalu aku meletakkan mu di kamarku karena kasihan, dan kau melakukan hal yang sama…. Lalu, lalu aku meletakkanmu di sofa, iek…. Kau kau melakukannya lagi, lalu aku meletakkanmu di lantai yang ku Alaskan selimut dan bantal,lalu kau memuntahkannya lagi, lalu aku menarik bantal dan selimut itu dan membiarkanmu tidur di lantai ” aku bercerita panjang lebar.

“kami sudah selesai mengerjakannya”

“ne, ghamsahamnida” aku bow pada mereka.

“omo! Aku harus kerja” ia pergi ke kamarnya dengan cepat aku menarik tangannya

“kau sakit, istirahatlah di rumah”

“aniyo oppa, aku harus kerja”

“aku bilang jangan ya jangan!!” teriakku, ia kaget melihatku

“kau tidurlah di kamarmu, aku mau pergi sebentar. Aku janji akan membelikanmu makanan” aku mengeluarkan dompetnya yang kutahan tadi malam “aku tahan ini agar kau tak keluar rumah, atau pergi kerja. Kau tak akan kerja tanpa uang untuk mu pergi ke tempat kerja” aku senyum dengan penuh kemenangan dan pergi meninggalkannya sendirian di rumah. aku pergi menuju dorm SHINee.

*****

Aku membuka pintu dorm dan kaget begitu melihat Onew hyung tidur di sofa, Key duduk dengan tangan di lipat dan topi jacket yang menutupi kepalanya dan mata yang tertutup dan Jonghyun hyung yang tidur di lantai sambil kaki naik ke atas meja. Aku menaikkan alis mataku sebelah melihat kejadian ini. Lalu ku putuskan untuk membangunkan Key terlebih dahulu agar ia bisa masak, jika aku membangunkan onew hyung, itu akan memakan waktu yang lama

“key, key…. Kau tidak masak?” aku menggoyangkan badan Key

“eh, ne” ia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dengan mata yang agak tertutup

“jjong hyung hyung….” Aku menurunkan kaki nya di atas meja

“ohh, minho-ah, sejak kapan kau datang?” tanyanya dengan mata menyipit

“baru hyung,”

“oh, aku mendi dulu” ia lalu pergi ke kamar mandi, dan agak terdengar keributan di sana

“ya! kau bisa menggunakan yang satu lagi!!” teriak key

“arghh! Kenapa kau menyiramku!!! Shireo, aku mau di sini”

“ya! jangan membuka bajumu di sini”

=pletak=

“auhg, kepalaku!!!”

“andwae! Andwae hyung, aku akan pindah” teriak key

“onew hyung…” aku menggeserkan badannya dan duduk

“jinjja,” aku lalu pergi ke kamar dan menemukan Taemin sedang main laptop dengan headsetnya

“hyung, sejak kapan kau datang?” tanyanya sambil melepas headsetnya

“baru saja,” aku duduk di tempat tidur Onew. “kenapa kau tak membangunkan mereka? Ini sudah jam sepuluh”

“ha?” tanya taemin bingung “mereka sudah bangun dari jam empat tadi dan tertawa di luar. Aku datang dan mereka bilang aku harus tidur…. Makanya aku disini”

“ha?” tanyaku bingung. “kau pasti ngantuk taem,” aku lalu pergi meninggalkannya. Aku menuju ke ruang komputer. Di situ aku menghidupkan komputer dan mulai membuka Me2Day. Lalu aku membalas beberapa pesan yang masuk sambil tertawa sendiri

“whoa, kau membalasnya?” tanya Jonghyun sambil mengelap kepalanya dengan handuk kecil

“hm” jawabku singkat

“daebak,” ia lalu duduk di kursi sebelahku

“minho-ah…” ia berdiri dan memegang pundakku, aku lalu berdiri dan kami berhadapan. Ia melepas handuk di kepalanya dan agak menjinjit

“minho-ah” ia memandangiku dengan tatapan yang berbeda, aku gugup dan bingung dengan tingkahnya, ia mendekatkan wajahnya ke wajahku “minho-ah” ia mengulangnya lagi dengan jarak sedekat ini, aku jadi salah tingkah, apa ia mau menciumku? Ia kan namja….

“h-hyung, a-apa yang k-kau lakukan?” tanyaku gugup

“minho-ah” ia mulai mendekat lagi, aku menutup mataku dengan paksa,

“minho-ah…” ucapnya lembut “bisa kau menyingkir? Aku mau menggunakan komputer” aku membuka mataku

“ne, ne” aku langsung menyingkir darinya dan ia langsung duduk di kursi. Aku menarik nafas panjang

“apa kau mengira aku mau menciummu?” tanyanya yang langsung membuatku merinding, ia tertawa lepas

“k-kau gila hyung” aku lalu pergi meninggalkannya.

Setelah itu kami makan bersama, dan aku langsung pergi meninggalkan mereka karena aku mengingat SoonJi. Akuhir akhir ini kami tidak ada kegiatan.

*****

“SoonJi-ah, aku membawakan fried chicken,” aku mencari ka kamarnya dan tak kutemukan dia di sana, lalu aku mencari ke seluruh ruangan. Opso. “Kemana dia, dia kan tidak punya uang?” lalu aku duduk di sofa dan di meja kulihat ada buku yang terbuka. Aku mengambil buku itu dan berpikir

“buku ini… omo!” aku mencari ke setiap lembar buku tersebut, aku meremas buku itu sambil menahan amarahku yang sudah memuncak “LEE SOON JIIIIII!!!!!!!” aku menarik nafas panjang dan menyusulnya ke tempat kerja.

Dari dalam mobil aku melihat SoonJi sedang mengelap meja yang kotor. Aku kasihan padanya, tapi apa boleh buat. Lalu SoonJi memegang kepalanya dan ia hempir terjatuh, tanpa aba aba aku langsung pergi ketempatnya

“gwaenchana?” tanyaku

“Minho-ah” ia kaget melihatku

“mwo? aku kan sudah bilang jangan pergi” aku masih memegang pundaknya

“oh, geure ia Minho SHINee” teriak seorang yeoja,

“ne, ia tampak lebih ganteng dari di TV ya”

“Minho-ah… lagumu sangat menyentuh hatiku” aku kaget karena hari ini aku tak menggunakan pelangkap untuk menutupi wajahku, aku langsung menarik SoonJi ke mobilku dan menancap gas.

“k-kau artis?” tanya nya dan aku menghentikan mobilku di pinggir pepohonan yang sepi. Aku menghela nafas panjang

“kau artiis?” tanyanya sambil menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Aku hanya mengangguk kecil

“mian,” kata kata yang jarang ku ucapkan tiba tiba keluar dari mulutku

“hh, kalau tau begini.. aku tak akan meminta bantuanmu” aku masih terdiam seribu kata

“oppa, mian ne, aku pasti sudah menganggu jadwalmu yang padat”

“ani” jawabku tiba tiba, kenapa aku ini?

“mian ne oppa… aku janji akan menggantinya”

“SoonJi…”

“huh, kepalaku sakit oppa… aku mau pulang” ia membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Aku menuruti permintaannya dan membawanya pulang. Begitu sampai, ia langsung menyalakan TV sementara aku langsung mengambil kan dua gelas minum dan duduk di sampingnya. Ia terlihat sedang menukar nukar siaran dan ia kaku saat melihat suatu siaran yang membintangi SHINee di dalamnya. Ia melihatku dan tersenyum.

“kau ” ia kembali terdiam dan air matanya menitik

=jadi, kita beralih ke flaming charisma Minho…

“ne, Minho imnida”

“jadi bisa kau jelaskan tetang kabarmu dua bulan lalu dengan seorang yeoja?”= lalu layar TV melihatkan gambarku dan SoonJi saat aku menyelamatkannya. Aku membulatkan mataku begitu juga SoonJi

“oppa…..” air matanya keluar sangat banyak dan aku dengan cepat mematikan TV,

“kau pasti sudah sangat susah karena ku” ia menatap mataku dan tersenyum. “mianne oppa”

“gwaenchana” aku menghapus air matanya dari pipinya dan ia memegang tanganku

“wae? Kenapa oppa melakukan inni?” pertanyaannya itu membuatku bingung dan kaku. Mungkin aku suka padanya dan cinta.

“aku akan mengganti semuanya”

“shireo, aku melakukan ini karena mu”

“na?” tanyanya dan melepas tanganku

“sepertinya…. Ne reul johahae…. Manhi manhi johahae….” Ia menatap mataku sedalam dalamnyaseolah mencari sesuatu. Ia lalu pergi meninggalkanku sendiri.

‘aish….!!! Kenapa aku mengungkapkannya? Jika ia tidak menyukai ku, apa yang harus ku lakukan? Seorang Flamming charisma Minho SHINee, di tolak? Andwae andwea’ pikirku dalam hati. Ia lalu keluar sambil membawa tas biru mudanya saat kami pertama kali bertemu.

“Soon Ji-ah, Eodika?” aku berdiri melihatnya, ia hanya tersenyum dan mendekatiku

“ige” ia memberiku uang “mian, aku mengambil uangmu dari bukumu, mian… aku hanya memakai dua ribu won untuk taxi dan ige..” ia memberiku semua uangnya

“ini uangku selama ini, mungkin ini tak seberapa, tapi ini sebagai ganti telah menyusahkanmu” aku tercengang melihatnya. dan ia pergi meninggalkanku, aku dengan sigap menarik tangannya.

“hajima…” kata kata itu keluar dari mulutku

“kadang ku berpikir, kenapa kau sangat arrogant… tetapi ternyata kau adalah artis yang terkenal…” aku mendekatinya dari belakang dan memeluknya

“saranghae” ucapku di pundaknya sebelah kanan “saranghea”. Ia membalikkan tubuhnya dan kini kami berhadapan “mworago?”

“ne neun… Choi Minho…. Lee SoonJi saranghae” ucapku dan ia memelukku dan dapat ku rasakan kini ia menangis di pundakku

“mian ne oppa… mianne” tangisannya meledak dan aku melepaskan pelukanku

“wae…?”

“nado saranghae” ia tersenyum menatapku dan aku menghapus air mata di pipinya

“kalau begitu jangan pergi, kau boleh pindah setelah bertemu dengan orang tuamu”

“mian ne oppa”

“apa kau mau pergi?” tanyaku bingung dan ia hanya tersenyum. Kali ini aku berani untuk menciumnya, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan menutup mataku, tiba tiba ia memukul pundakku pelan

“oppa” aku membuka mataku dan ia melirik ku sudut langit langit rumahku seakan menyuruhku untuk meluhat sesuatu dan aku mengikutinya. Aku melihat sesuatu yang aneh di sana. Aku mendekatinya

“CCTV?” tanyaku bingung “kau dari reality show?” tanyaku lagi dan kini muka ku memerah

“ani,” ia tersenyum dan menjelaskan semuanya padaku. Aku lalu menanggalkan kamera CCTV tersebut

“di mana saja lagi?” tanyaku

“di kamarku, di dapur, di sini… Cuma itu oppa” pantas saja SoonJi tak memper bolehkanku mengganti baju di kamarnya “aish…. Jinjja…. kajja” aku menarik tangannya dan kami berdua pergi ke Dorm SHINee

******

“cukhae!!!!” teriak Onew,Jonghyun dan key beersamaan

“apa saja yang sudah kalian lihat?” tanyaku sambil memegang tangan SoonJi dan jonghyun hyung memajukan bibirnya dan menutuo matanya

“hyung!” aku teringat saat aku memegang bibir SoonJi dan besoknya Jonghyun langsung bertingkah aneh. “HYUNG!” teriakku

“duduk dulu….” Onew mempersilahkanku duduk

“kalian tidak menyebarkannya kan?” tanyaku dan semuanya tersenyum

“jadi, kau tak dari Jepang? Dan kau sudah tau kalau aku artis?” tanyaku pada SoonJi dan ia hanya mengangguk

“SoonJi teman ku, dan ia anak artis Oh Danniel, pemain itu lho, film” Onew menjelaskan “ia di pilih jadi artis dan ia menolak dengan bodohnya ”

“apa maksudmu pabo?” tanya SoonJi

“lalu ia menerima tawaran kami untuk merubahmu” Onew melanjutkan

“terpaksa” jawab SoonJi

“aktingnya bagus, dan lama kelamaan ia mulai menyukai mu” Jonghyun tertawa lepas dan aku memandang SoonJi yang tersipu malu.

“kami sudah pacaran” jawabku dan SoonJi membulatkan matanya

“i-itu real?” tanyanya

“hm, ” jawabku sambil menahan malu dan ia tersenyum

“whoa… aku tak menyangka kalian bisa seromantis itu di rumah” key mulai berteriak

“kalian tidak menyebarkan ini kan?” tanyaku

“geurom, tapi kau harus meu bergabung untuk mengerjai Taemin” Jonghyun menyipitkan mantanya

“Taemin?” tanyaku bingung

“ne, ia juga kurang pada yeoja…. Sama sepertimu” Key berbicara

“oh, kalau begitu, siapa yeojanya?” tanya SoonJi

“aku punya kenalan namanya Choi Na Na, lumayan yeppeo lah… dulu ia mengejar ngejarku, tapi ia tak lagi menyukai ku, aku rasa ia mau menerima tawaran ini” Jonghyun melipat tangannya

“Choi nana? Apa dia yeppeo?” tanya Onew

“sepertinya masih di bawah SoonJi” jawab Jonghyun yang membuat SoonJi tertawa kecil

“oh, Taemin mana?” tanyaku

“ia ke rumahnya, semenjak kau sering di rumah, ia juga sering pulang ke rumahnya” Key memasang tampang sedih

“lalu apa rencana kalian?” tanya SoonJi

“kami akan membelikannya apartement tepat di sampung apartementnya Taemin” usul Onew dan kami semua mengangguk

“Minho-ah, kau mau menonton video mu selama ini?” tanya Key. Aku memandang wajah SoonJi yang mengangguk terhadapku. Lalu tiba tiba aku terpikir apa yang kulakukan saat aku mabuk, lalu saat dia mabuk dan aku menyentuh bibirnya

“andwae!!!!! ” teriakku dan semuanya terdiam melihatku

“oh hyung, sudah datang?” taemin baru masuk ke dorm dan kami saling berpandangan dan tersenyum evil

“hyung, nuguya?” tanyanya melihat SoonJi.

*****

SoonJi tak lagi tinggal di rumahku, tapi ia tetap selalu mengunjungi dorm karena aku tinggal di situ. Sudah sebulan kami pacaran.

“bagai mana taemin?” tanya SoonJi pada Key yang sedang mengupas apel di dapur

“sepertinya ia sibuk mengurusi Choi Nana” jawabnya “tolong potongkan” Key menyuruh SoonJi memotongkan apel yang di kupasnya. Sementara Aku dan Onew sibuk main winning eleven

“kyaaaa!!! Aku baru saja meng up date gambar taemin dan Nana” Jonghyun berlari ke arah ku dan memukul pundakku sambil melompat kegirangan “sebentar lagi pasti keluar kabar Taemin hahahah”

“kau jahat hyung” aku tetap menatap gameku

“gooooooaaaaalllllll!!!” teriak Onew sambil mengangkat steak ps nya. Ia melompat ke girangan,

“ya Minho-ah, mana?” kami memang taruhan dan aku memberinya uang sesuai perjanjian

“ige, Jonghyun hyung! Kau membuatku kalah! ” jonghyun hanya pergi mengambil apel dan memakannya

“aku mau pergi membeli ayam” Onew langsung mengambil jacketnya

“onew hyung, ayo main lagi”

“shireo, aku mau beli ayam goreng”

“hyunnnnnng” rengekku dan SoonJi datang menyodorkanku semangkuk apel dan menusukkan apel dengan garpu lalu memberikannya padaku. Aku langsung memakannya dan menatap SoonJi yang sedang tersenyum padaku

“SoonJi-ah”

“mwo?”

“kau pernah main winning eleven?” tanyaku dan ia hanya menggeleng kecil

“ayo, nih steakmu” aku memberinya steak

“ANDWAEEEE SOONJI-AAAAAH!!!!” teriak Key,Onew dan Jonghyun bersamaan

“Minho akan berubah menjadi Monster jika kalah” teriak Key

“ia akan memarahimua jika kau tak pandai” teriak Jonghyun

“andwae SoonJi, demi kebaikanmu” teriak Onew

“ya, aku tidak akan begitu dengan yeoja” teriakku

=ceklik… blam= taemin dengan muka marah duduk di sofa

“wae taemin-ah?” tanyaku

“tetanggaku itu…. Aisshhh jinjja… ia selalu mengangguku, bahkan untuk membuka tutup mayonaissse harus meminta bantuanku tengah malam! Dan masih banyak lagi hyung”

Kami tak menghiraukannya, aku dan SoonJi sibuk bermain ps dengan asyiknya. Aku mengajarkan SoonJi dengan perlahan. Onew pergi membeli ayam, Jonghyung pergi ke ruang komputer dan Key pergi ke kamarnya.

“ya hyung…” teriak taemin

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “Real To Love You”

  1. Authorr,, POVnya kurg jelas, lain kali dipisah2 ya, aku bingung bacanya..

    But, over all, nice FF!

    Lanjutin teasernya yaa, Taeminnie ‘s Part..heheh

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s