Who I Am? I Am an Eve – SPY 7

(credit poster : cutepixie/pinkhive.wordpress.com)

Title       : Who I Am? I Am an Eve (Sequel From Fairytale and Myth)

Author    : ReeneReenePott

  • Maincast :

• Key(NOT KIBUM OKAY!) <Eve>

• Jessica <Eve>

• Jung Yoogeun <Human>

  • Supporter cast : (tokoh masih bisa bertambah)

• Hero(Kim Jaejoong) <Eve>

• Ty(Kim Jong Hyun) <Eve>

• Gyuri <Eve>

• Madeleine <Elf>

• Elias(Choi Minho) <Elf>

• Claire <Elf>

• Joon <Elf>

• Chase(Lee Jinki) <Werewolf>

• Ariana Clearwater <Wizard>

• Baek Chan Gi <Human>

  •  Genre : Fantasy, Romance, Thriller, Alternate Universe
  • Rating   : PG – 15

    Length  : Sequel

    Backsound : Big Bang – Haru Haru, Troublemaker – The Words I Don’t Want To Hear

    A/N        : Mungkin yang baca pasti mengira aku salah bikin fiction ==a Tapi mulai SPY ini, the real game started.  LEGOOOO~~~~

SPY 7

Mr. Baek’s house, Seoul, South Korea

June, 2016 at 7.00 p.m

“Eomma!” sebuah suara gadis melengking di lantai dua rumah yang sudah mirip istana itu.

Duk

Duk

“Eomma!” kini lengkingan itu diiringi dengan suara dentuman langkah kaki yang tak beraturan menuruni tangga. “Jebal eomma, aku tak mau,”

“Sayang, ini perintah,” tegas suara wanita lain, kira-kira setengah baya umurnya. Bisa dipastikan bahwa wanita itu adalah ibu si gadis. “Baek Chan Gi! Jangan melawan! Sudah cukup kau berbuat bandel, kini kau harus menurut pada eomma dan appa, arachi?!”

“Aniya, eomma, jebal…” si gadis yang memiliki rambut ikal pendek itu menggoyang-goyangkan lengannya yang dicengkeram amat kuat oleh ibunya. “Aku tidak mencintainya,”

“Jangan gunakan alasan cinta. Lihat dulu seperti apa orangnya, baru kau tentukan sendiri. Ini, belum dilihat saja kau sudah menolaknya mentah-mentah. Ini tugasmu, Nona Baek,” sembur ibunya sedikit kesal. Chan Gi mengerucutkan bibirnya, lalu melepaskan cengkeraman tangan ibunya yang mulai mengendur.

“Arasseo! Aku ganti baju dulu,” jawabnya ketus. Senyuman terlukis di bibir ibunya, lalu menepuk pundak putrinya itu sayang.

“Bagus. Sana, ganti baju, dan awas kalau kau coba kabur,” tiba-tiba nada dalam suara ibunya berubah menjadi nada ancaman.

“Ne! Arasseo!” Chan Gi menjawab keras tanpa berbalik. Ia menghentak-hentakkan sepatu heel-nya ketika menaiki tangga dengan kesal. Hello… ini bukan jaman Siti Nurbaya, juga bukan sinetron atau drama-drama yang sering ditontonnya di televisi. Sekarang sudah jaman Perlindungan Anak, dan dia punya hak untuk menyuarakan suaranya, benar tidak?

Chan Gi menghentikan langkahnya ketika ia tiba di depan sebuah pintu kamar besar bercat cokelat kayu di lantai dua rumahnya. Kamar siapa lagi kalau bukan kamarnya?ia menatap kesal ke gagang pintunya, meraihnya dan mendorongnya keras hingga pintu itu langsung terjebak terbuka. Ia menyeret langkahnya menuju ke tempat tidurnya yang berukuran king size, dan langsung menjatuhkan diri ke pulau kapuk itu.

“Hufft… dasar eomma kolot,” makinya. Ia mengangkat kepalanya, pandangannya tertuju pada sebuah lemari besar yang di dekor di samping ranjangnya. Dengan malas ia bangkit lagi, lalu melangkah dan membuka lemari itu. Terlihatlah semua koleksi pakaian yang ia miliki, tergantung rapi dan diurutkan tiap warnanya. “Apa yang harus kupakai? Gaun karung goni?” cibirnya.

Tanpa pikir panjang, pilihannya jatuh pada sebuah dress dengan panjang selutut berwarna peach cerah dengan aksen kupu-kupu. “Setidaknya, bila dipasangkan dengan cardigan rajut akan terlihat lebih baik. Daripada aku memakai baju yang hot,” ia mengangkat bahunya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

__

“Ah, ye, pasta ini Chan Gi yang memasaknya,” jelas Nyonya Baek kepada ketiga orang yang duduk di meja makan di hadapannya. Chan Gi hanya memotong daging yang ada di piringnya, dan melahapnya dalam diam. Biarlah eomma yang berpromosi, gumamnya dalam hati.

“Jinchayo? Astaga, enak sekali. Apalagi Yoo Geun sangat suka pasta, ya kan?” ujar wanita paruh baya yang di sanggul ketat pada seorang pria muda bersetelan jas hitam yang sedang mengunyah pastanya dengan pelan. Pria itu tersenyum tipis sambil terus melanjutkan makannya. Lagi-lagi Chan Gi mendumel dalam hati, untung saja tidak kutambahkan sebotol cuka. Kalau iya, habis kalian.

“Chan Gi menyiapkannya tadi siang. Dia sangat serius,” atau sangat dipaksa? Timpal Chan Gi lagi dalam hati.

“Yoo Geun, kenapa kau tak menyapa Chan Gi sedari tadi? Kalian berdua hanya membisu bagai patung selamat datang,” tegur Nyonya Jung—si wanita dengan sanggul ketat itu—yang membuat sang pria muda alias Jung Yoo Geun salah tingkah. Bukan karena gugup atau apa, tapi bingung harus melakukan apa agar tidak menyinggung keluarga yang sedang ia kunjungi ini.

“Ah, mungkin mereka masih malu satu sama lain. Biasa, anak muda memang mau mau tapi malu,” sahut Nyonya Baek. Percakapan kedua nyonya itu mengundang senyum simpati dari dua pria dewasa, yaitu Tuan Jung dan Tuan Baek.

“Ah, Yoo Geun, kau pernah bilang sewaktu kuliah kau dan Nona Jung pernah berada di satu Universitas?” tiba-tiba Tuan Jung membuka topik. Baik Yoo Geun maupun Chan Gi memandang bingung.

“A-ah, itu, tapi hanya sekedar tahu saja, tak pernah bertegur sapa,” kilah Yoo Geun yang memang kenyataan.

“Aku malah tak mengenalnya,” timpal Chan Gi cuek. Tuan Jung hampir saja tersedak menahan tawa.

“Jadi ini seperti reuni, begitu?”

“Ah, kita melupakan rencana pertunangannya, Tuan Baek,” tiba-tiba Nyonya Jung menyela.

“Uhuk… uhuk!” Chan Gi tersedak wortel yang tengah ditelannya. Dengan sigap Yoo Geun yang berada di sampingnya menepuk punggungnya untuk mengeluarkan potongan sayur itu. “Uhuk!” kali ini Yoo Geun melingkarkan tangannya di pinggang Chan Gi, agar tenaganya bisa lebih besar.

“Uhuk!” dan akhirnya, potongan wortel yang dirutuki Chan Gi pun keluar, dan terjatuh ke atas serbetnya. Pasangan orantua di depan mereka hanya bisa tersenyum lega.

“Untung saja ada Yoo Geun,” gumam Nyonya Baek lega. Chan Gi cepat-cepat mengambil air putih dan meneguknya hingga setengah.

“Mereka benar-benar serasi, kurasa ada baiknya mempercepat pertunangan mereka,” ujar Tuan Baek antusias.

“MWO?” baik Yoo Geun maupun Chan Gi berteriak bersamaan.

__

Incheon International Airport, South Korea

Begining of July, 2016

Suara stiletto beradu dengan lantai keramik di bandar kedatangan, menampakkan seorang wanita cantik berambut blonde bergelombang yang nampak anggun. Gayanya sederhana namun cukup modis, hanya skinny jeans dengan tanktop dan blazer berwarna putih. Meskipun begitu, awalnya ia sangat ingin ‘berlari’ dari Perancis ke Korea Selatan, namun karena keadaan ia terpaksa naik transportasi udara manusia bila tak ingin dicurigai.

Pandangannya mengedar, tangan kirinya sudah menyenderkan koper Louis Vuitton di sampingnya. Ia menggelengkan kepalanya, dan kembali menyeret kopernya itu dan menyusun rencana untuk memanggil taksi. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti, napasnya tercekat mendapati seorang pria tegap dengan senyuman manis menghalangi langkahnya.

“Maaf telat menjemputmu, Jess,” ujarnya dalam. Suara itu… wajah itu…

“Kibum?” desah Jessica dengan perasaan sesak yang sudah sampai di pangkal lidahnya. Pria itu merenyit, dan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Jessica.

“Siapa? Kibum? Siapa dia?” pria itu menegakkan punggungnya kembali lalu menatap Jessica dalam. “ini aku, Key!”

Jessica terdiam, mencoba mencerna siapa yang berdiri dihadapannya ini. Tiba-tiba ia tersentak.“A-ah.. kau, Key?”

Key tersenyum senang. “Ya, ini aku. Lama sekali kau pergi, kau tidak melihat perkembanganku, kan?” jawabnya. Tangannya perlahan terulur menyentuh lengan atas Jessica, dan dengan pelan tapi pasti, ia menarik Jessica ke alam pelukannya. “Aku rindu padamu,”

Astaga. Baunya, suaranya, tatapannya, bahkan sentuhannya, benar-benar membuat Jessica merasakan deja vu. Jessica hanya menenggelamkan kepalanya di dada bidang Key, berusaha mengusir air mata yang telah terbit. “Aku juga, Key,”

“Kurasa kau tidak melupakan keberadaan kami disini, Jess,” sebuah suara mengusik moment mereka. Jessica melepaskan dirinya dari Key, lalu menoleh dan tersenyum.

“Hero…” Jessica langsung menghambur ke dalam pelukan Hero. Hero tersenyum kecil.

“Temanku yang bandel, kau sudah kembali?” ujar Hero sambil melepas pelukannya. Kenapa? Karena ia bisa membaca pikiran pria yang sedang menatap Jessica lekat itu. “Kau sama sekali tidak berubah,”

“Well, kalau aku tidak pulang, kau yang akan mencak-mencak,” balas Jessica disambut dengan kekehan khasnya.

“Jessica, ah, kau makin cantik saja,” Taylor tersenyum sambil meremas bahu Jessica. Gyuri nyengir di belakangnya, menunggu giliran untuk memeluk sahabatnya itu.

“Oh, Jessica, akhirnya kastil kembali seperti semula. Kau tahu, aku tidak punya teman untuk menggoda Madeleine,” ungkapnya sambil mendekap erat Jessica.

“Memangnya Elias dan Madeleine dimana?” tanya Jessica heran. Sebuah tangan tiba-tiba melambai dari balik punggung Hero.

“Kami berdua di sini,” jawab Elias sambil tersenyum.

“Hai, Jess. Lama tak bertemu,” ujar Madeleine sambil menyambut Jessica dalam pelukannya.

“Peragaimu berbeda. Wah, kau juga banyak berubah ya,” Madeleine hanya nyengir menanggapi ucapan Jessica. “Jadi bagaimana hubunganmu dengan Elias?” Jessica berbisik tepat di telinga Madeleine.

“Apa? Astaga, tidak ada apa-apa di antara kami, sungguh,” jawabnya cepat, dan seperti… bercampur cemas?

“Baiklah, baiklah, sekarang kita pulang, aku ingin istirahat,” ujar Jessica sambil merangkul Gyuri.

“Aku… ada acara denganya,” ujar Elias tiba-tiba sambil menunjuk Madeleine. “Biasa, ada sesuatu,”

“Benarkah? Baiklah, ayo mereka kita tinggal!” ujar Key cuek sambil mengalungkan lengan kanannya di leher Jessica. Jessica tersentak, tapi ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Key.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Madeleine sambil menatap Elias bingung. Mereka sudah ditinggal berdua, dan itu membuat suasana sedikit cangggung.

“Tidak ada apa-apa. Ayo kita jalan,” ajak Elias sambil menggenggam salah satu tangan Madeleine.

“Jalan?” gumam Madeleine bingung sambil menatap tangannya yang bertaut dengan tangan Elias. “Kau pikir—“

“Diamlah, kau kan selalu menolak untuk pergi keluar,”

__

Book store, Seoul

Seorang yeoja berkucir satu dan berjaket tipis tengah asik menelusuri rak-rak buku tinggi yang digolongkan untuk buku-buku psikologi. Matanya tertacncap pada sebuah buku ber-hard cover warna salem, jemarinya perlahan bergerak untuk menarik keluar buku itu. Ia sedikit memiringkan kepalanya ketika membaca judul dan pengarangnya, lalu membalikkan buku itu untuk melihat profil singkat si penulis.

It’s like maeil maeil everyday ya..

Nae mami appha eoneundae, dapdaphan mameul naega ali eopjanha~ (Teen Top – To You)

Gadis itu tersentak lalu mengerang kesal ketika dirasakannya sesuatu bergetar di saku celananya. Dengan kasar ia menarik keluar pponselnya, dan langsung menjawab panggilannya tanpa melihat siapa yang menelpon.

“Yoboseyo?”

“Eodiga?” sambung sebuah suara berat dari seberang. Gadis manis itu mengerutkan keningnya, lalu membalas pelan,

“Nuguni?”

“Ck, berani kau bertanya siapa aku, maka aku akan mempercepat lagi pertunangan kita,” semburnya sedikit kesal. Kedua mata gadis itu membulat.

“Yoo Geun-ssi?”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu aku yang menelponmu?” tanyanya. Gadis itu—yang notabene bernama Chan Gi—menjilat bibirnya yang sedikit kering.

“Aku tidak melihat siapa yang menelpon tadi,” ungkapnya ragu, “Untuk apa kau menelponku? Kangen ya?”

“Jangan geer, Nona Baek. Kalau bukan karena makan malam membosankan ini akupun tak akan mencoba menghubungimu,”

“Kau galak sekali,” cibir Chan Gi. “Aku ada di toko buku, wae?”

“Yang mana?”

“Yang ada di Apgeujong. Kau tahu tidak? Toko buku yang khusus untuk buku mata kuliah,”

“Kau masih kuliah?”

“Ne, aku akan melanjutkan S-2 ku tahun ini,”

“Baiklah, aku akan kesana sekarang,” klik. Chan Gi memiringkan bibirnya, lalu mengangkat bahunya acuh. Satu alasan kenapa pada akhirnya ia tak membantah perjodohan itu adalah, ia diperbolehkan melanjutkan S-2 nya asal dia mau menikah.

Chan Gi melangkah gontai menuju kasir dengan buku tebal incarannya di pelukannya. Setelah selesai bertransaksi, ia melangkah keluar dan kembali berhenti ketika ia menemukan pedagang minuman di depan toko buku itu.

__

Yoogeun melepas earphonenya dan melemparnya asal ke jok mobil di sebelahnya. Ia menghembuskan napas berat, lalu memfokuskan diri ke jalan raya di hadapannya.  Pikirannya bagai benang ruwet sekarang, entah karena apa.

“Hsh.. Baek Chan Gi, Jung Jessica. Baek Chan Gi, Jung Jessica. Haish… kenapa nama itu masih melekat di otakku sih?” erang Yoogeun kesal. Ia menginjak kopling dan rem, menghentikan laju mobilnya tepat di depan lampu merah.

Pandangannya menerawang jauh. Sepuluh tahun lalu, ia tak seperti ini. Masih mengenakan seragam sekolah, berpikiran sempit, dan yang jelas, tidak tahu tujuan hidupnya. Jelas, hidupnya berubah setelah Jessica menghilang dari kesehariannya. Dan anehnya, mimpi buruk itupun menghilang seiring menghilangnya Jessica dari hidupnya.

Tapi hanya satu yang tak pernah hilang dari dalam dirinya;

Ada sesuatu yang tersembunyi di dalam lubuk hatinya, sesuatu untuk Jessica. Masih tersimpan rapi di sana, tak pernah terjamah selama 10 tahun. Dibiarkan begitu saja, bergerak dengan liar di sudut hatinya itu.

__

“Sicaa~” panggil Key sambil membuka pintu kamar Jessica. Jessica yang sedang memberesi pakaiannya menoleh kaget.

“Eh, Key,” ia memasukkan kopernya ke dalam lemari besarnya lalu menegakkan punggungnya sambil menatap Key. “Kau memanggilku apa?”

“Sicca,” sahut Key enteng lalu duduk di tepi ranjang Jessica. Ia menatap gerak-gerik Jessica dengan seksama. “Aku sudah dewasa, jadi aku tak perlu menambah embel-embel ‘noona’ saat memanggilmu,”

Jessica terbahak saat mendengar alasan Key. “Kau sudah berubah. Buklan Eve kecil lagi yang bisanya minta ini dan itu,”

“Apa? Eve kecil yang bisanya minta ini dan itu? Ish, aku tak separah itu, Jessie,”

“Dan kau suka sekali mengubah-ubah namaku. Tadi Sicca dan sekarang Jessie. Hya, namaku Jessica, kalau kau lupa,” balasnya sambil berkacak pinggang. Key menyeringai.

“Sicca akan kugunakan saat aku ingin bermanja denganmu, tapi Jessie terdengar lebih seksi,” balas Key menggoda. Jesica mengerucutkan bibirnya, lalu menoyor kepala Key.

“Kau baru sepuluh tahun, tapi omonganmu benar-benar berbahaya. Belajar dari mana kau?”

“Kau tak ingat? Aku ini anak Taylor, meski sekarang aku sudah nampak seperti adiknya sendiri,” sahut Key tenang. Jessica menghembuskan napas berat, lalu menatap Key sambil melamun. Kibum jelas berbeda dengan Key.

“Lalu, apa kau menyamar?” tanya Jessica ragu. Key mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum dan mengangguk.

“Yep. Aku seorang fotografer,”

“Mana ada fotografer lulusan Hogwarts?” sembur Jessica. Key terkekeh, lalu merapikan poni asimetrisnya yang sempat ia cat dengan berbagai garis berwarna.

“Aneh, kan? Tapi ternyata, pendidikanku di sana bermanfaat juga,” Key terdiam sejenak saat Jessica tak menyahutnya. Ia melirik Jessica yang duduk tepat di sampingnya, dan tanpa pikir panjang, ia langsung mendorong bahu Jessica hingga wanita itu berbaring di atas ranjangnya dengan mata terbelalak.

“Key!” napas Jessica tercekat. “Apa yang kau lakukan?!” pekiknya tertahan. Key tak menjawab, ia hanya menatap lembut mata Jessica.

“Kau tahu, aku merasa, bahwa sebelum aku lahir, aku sudah memiliki hubungan denganmu,” bisiknya pelan di telinga Jessica.”Bogoshipo,” ujarnya lagi, lebih lembut. Tiba-tiba tangan Key menggelitiki pinggang Jessica ganas.

“Kya! Key! Apa-apaan kau ini!” Jessica berusaha mengelak, tapi sayangnya kini kedua tangan Key sudah berhasil menyiksa pinggang Jessica. “Hentikan Key! Geli! Hahaha…” tubuhnya bangkit hingga ke posisi duduk karena sedrai tadi Key tak memberinya ampun. Jessica ingin membalasnya, tapi ternyata anak itu lincah, sehingga tubuhnya sama sekali tak dapat disentuh.

Dan setelah bermenit-menit Jessica memohon pada Key, akhirnya Key melepaskan tangannya namun tetap menatap Jessica. “Aku rindu senyummu yang seperti itu,” Key dan Jessica saling menatap, tak ada kata-kata keluar dari bibir mereka.

Hening.

Pancaran dari mata mereka seolah mengirim sinyal rindu. Mentransfer semua yang ingin dikatakan, ingin diceritakan, bahkan yang ingin dirasakan.

Cklek…

“Astaga, pantas saja kalian berdua tak terlihat dimana-mana,” suara Gyuri yang terdengar seperti sapaan membuat kedua mahkuluk itu saling melepaskan diri. Gyuri tersenyum kecil melihat wajah mereka yang agak memerah. Tidak mungkin, memang, tapi nyatanya terjadi juga.

“Ada apa, Gyuri?” tanya Jessica setelah berhasil melepaskan tatapannya dari Key. Key hanya menggaruk tengkuknya dan memasang wajah seolah-olah semua itu tak terjadi.

“Tak ada apa-apa. Hanya memastikan Key aman saja,” ujar Gyuri tenang. Key merenyit, lalu menatap ibunya itu sedikit kesal.

“Aku sudah dewasa, Gyuri,” balasnya. Gyuri mengangkat sebelah alisnya lalu membalikkan langkah.

“Baiklah, baiklah. Jangan lupa untuk menemani Taylor makan malam bersama kawanannya nanti, kalian sudah janji, kan,”

“Iya, aku tidak pikun, Gyuri,” sahut Key tak sabaran. Gyuri menatapnya jengkel, lalu menutup pintu kamar Jessioca dari luar.

“Lain kali jangan menggelitikiku, Key. Hanya Hero yang tahu kalau kelemahanku di pinggang,” ujar Jessica kesal pada Key setelah Gyuri menghilang. Key hanya nyengir.

__

The next morning

“Jadi, kau ingin bekerja, huh?” goda Hero saat Jessica memeriksa beberapa lembar berkas yang ada di tangannya. Jessica meliriknya sedikit, lalu berpikir, tentu saja bodoh, aku tidak ingin jadi pengangguran. Hero mengangkat sebelah alisnya.

“Kau sendiri? Tidak punya pekerjaan. Jadi apa kau?” sahut Jessica.

“Aku? Aku jadi Eve!” jawabnya asal sambil nyengir lebar. Jessica mendengus, lalu bangkit dari duduknya, lalu merapikan blazer yang digunakannya.

“Aku pergi,”

“Jess,” panggil Hero tiba-tiba. Jessica berbalik, lalu mengangkat alisnya, menunghgu kelanjutan kalimat Hero.

“Hm?”

“Kenapa… aku merasa… kau harus hari-hati dengan kantormu itu,” ungkapnya, persis seperti merenung. Jessica mengerutkan keningnya, lalu memblas tatapan Hero dengan senyum lebar.

“Tidak akan terjadi apa-apa, Hero. Ini hanyalah perusahaan yang membutuhkan designer,” Jessica kembali mengacungkan map yang berisi berkas permitaan pekerja. “Karena aku sudah tak di Paris lagi, aku di transfer ke sini,”

“Ya, ya, terserah kau lah. Ingat, sehabis ini kau jangaan keluyuran!”

“Kau benar-benar seperti ibu-ibu, Hero,” dengus Jessica kesal. Hero nyengir lagi, lalu melambaikan tangannya. “Aku pergi,”

__

Jung Company Building, Seoul

Same day, 07.30 a.m KST

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” seorang resepsionis memberi salam kepada Jessica yang baru masuk dan nampak sedikit kebingungan. Jessica membalas salam itu dengan senyuman tipis.

“Saya ingin bertemu dengan Direktur,”

“Apa anda sudah membuat janji?” tanya resepsionis itu sambil merenyitkan keningnya. Jessica menggeleng polos.

“Saya belum membuat janjinya secara personal, karena saya dari Art Design of France,” balas Jessica lancar. Resepsionis itu tertegun sejenak, lalu menunduk dan meraih gagang telepon.

“Tunggu sebentar ya,” Jessica mengangguk kecil ketika resepsionis itu menekan beberapa tombol telepon. Setelah berkutat dengan telepon, resepsionis itu kembali mengadahkan kepala lalu menatap Jessica ramah. “Tuan Jung sedang ada di ruangannya din lantai 7. Anda bisa langsung menuju ke sana,”

“Gamsahamnida,” Jessica merasa sedikit aneh ketika ia kembali menggunakan bahasa itu. Tapi bagaimanapun juga, ia sudah kembali di Korea, kan? Jadi ia tak lagi menggunakan bahasa Perancis yang banyak aturannya itu.

Dan ketika pintu lift tertutup untuk segera naik ke lantai tujuh, kenapa ada perasaan aneh yang bercokol dalamnya? Jessica menggelengkan kepalanya sejenak, meyakinkan dirinya bahwa tak ada hal yang patut dikhawatirkan.

Ting!

Jessica menlangkahkan kaki keluar lift, membelokkan langkahnya mengikuti lorong yang ada di depannya hingga ke depan sebuah pintu besar denganp class=”MsoNormal” style=”margin-bottom:10pt;text-align:justify;” gagang besi. Ia mengetuknya tiga kali, dan setelah mendengar perintah mausk dari dalam, ia mendorong gagang pintu itu.

“Annyeonghaseyo,”

“Agashi, akhirnya anda datang juga,” Jessica terpaku menatap nama yang terukir di atas meja sang direktur. Ia belum memandang si empunya ruangan, tapi ia jelas benar-benar terkejut. Sambil menelan ludah, ia mendongakkan kepala dan memasang seyum termanisnya.

“Annyeonghaseyo sajangnim,” Jessica mengangkat sebelah alisnya ketika sebuah tangan terulur ke arahnya.

“Tak usah memanggilku dengan sajangnim, Jung Yoogeun imnida,” ujarnya hangat. Jessica balas tersenyum, membuat pria di hadapannya membeku.

“Jung Jessica imnida,”

Dan seketika tautan tangan mereka terlepas.

__

The Zoutte Bar, Seoul

Same time

“Ada yang bisa saya bantu, nona?”

“Campange, satu gelas lagi,” seorang gadis dengan blazer berwarna merah menyala tersenyum pada seorang bartenrter di sebuah bar ternama di Seoul. Wajahnya amat sangat cantik, hingga beberawa pria meliriknya dengan penuh kekaguman.

“Silahkan, nona,”

“Terimakasih,” gadis itu menatap minuman keras yang ada di hadapannya, lalu tersenyum miring. “Jadi ini rasanya menjadi seorang Munggle,” gumamnya sambil meraih gelas tinggi itu dan meminum isinya dalam sekali teguk.

__

Jung Company Building, Seoul

Same time

“Untuk apa kau kemballi lagi, nona Jessica?” tanya Yoogeun dingin sambil melangkah menuju kursi direkturnya yang empuk.

“Kalau bukan karena—“ Jessica menghentikan kata-katanya sejenak setelah berpikir bahwa kata-kata itu bisa mengundang rasa penasaran Yoogeun, “Aku juga sebenarnya tak ingin kembali,”

“Apa karena aku sudah siap untuk mati?”

Glek

Jessica menatap Yoogeun perlahan. “Bukan, bukan karena itu. Aku juga tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,”

“Well, banyak yang berubah selama sepuluh tahun,” sahut Yoogeun acuh. Jessica memiringkan kepalanya sedikit.

“Ya, kau banyak berubah. Aku hampir tak mengenalimu yang seperti ini,”

“Kau malah tak berubah sama sekali,” balas Yoogeun datar, “Kau tetap cantik, dan muda seperti dulu. Kau mudah dikenali bagiku,”

“Kupikir kau memang tahu siapa diriku, Jung Yoogeun,” sahut Jessica dingin.

“Jadi, kau ingin bekerja di sini?” tanya Yoogeun, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Jessica mendengus, tapi dia sama sekali tak mengeluarkan ungkapan protesnya.

“Bukan aku yang ‘ingin’ bekerja di sini, Tuan Jung, tapi aku yang di ‘transfer’ ke sini. Bila anada tak mau menerimaku, tak masalah,” balas Jessica sedikit jengkel sambil menaruh map yang sedari tadi ia pegang ke atas meja kerja Yoogeun. Yoogeun mengangkat wajahnya sejenak, lalu menatap map yang baru saja mendarat di atas mejanya itu, tanpa menyentuhnya.

“Kau diterima,” nadanya terkesan seperti memerintah, yang mau-tak mau membuat Jessica melongo.

“A-apa?”

“Kau bukan manusia biasa—oh, kau malah bukan manusia, jadi pendengaranmu pasti lebih baik daripada kami,” tukas Yoogeun datar. Jessica mencebik.

“Baiklah, terimakasih atas kesempatannya. Kapan saya bisa mulai bekerja?”

“Hari ini juga,” Jessica tertegun. “Kau harus memeriksa gambar-gambar bangunan yang akan menjadi proyekku. Sekretarisku akan menunjukkan dimana mejamu,”

__

Seoul International Hospital, South Korea

Same day, 11.00 a.m

Tok

Tok

Tok

“Choi uisa,” sapa seorang perawat yang baru saja membuka pintu di ruangan seba putih itu. Seorang namja denugan jas dokter dan kacamata tanpa /p bingkai—serta dengan wajah yang amat sangat tampan—mendongak.

“Ne?”

“Ini daftar absen para dokter selama seminggu,” ujarnya sambil memberikan sebuah map tipis ke meja namja itu, tepat di belakang papan kecil bertuliskan ‘Choi Minho’.

“Ah, ne. Akan saya cek sebelum diberikan pada direktur,” namja itu membuka map tersebut lalu memeriksa isinya sebentar. Tiba-tiba matanya terpaku pada baris ke 23. Sebuah nama tercetak miring di sana. “Lee Son Hee?” tanyanya bingung. Perawat itu tersenyum lebar.

“Ah, dia dokter muda bagian syaraf yang baru masuk seminggu lalu. Tapi saya lupa memasukkan namanya di situ, jadi tadi baru saya tulis ulang,” namja bernama Minho itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Er… bisa panggilkan dia, suster?”

“Ne? Panggilkan siapa?”

“Lee Son Hee ini. Aku harus melihat seperti apa orangnya,” perawat itu tersenyum lagi.

“Baiklah. Akan saya panggilkan segera,” setelah membungkukkan badannya, perawat itu langsung melesat keluar.

Beberapa menit kemudian…

Tok

Tok

Tok

“Annyeonghaseyo…” suara yeoja terdengar, membuat Minho mendongakkan kepalanya.

“Ne, annyeonghaseyo,” jawabnya sedikit… tegas? Minho mengerutkan keningnya meneliti tampilan yeoja dihadapannya. “Lee uisa?”

“Ne?”

“Jangan mulai, Madeleine,” yeoja dihadapannya nyengir.

“Waeyo, Choi uisa? Ah, Choi Minho uisa?” gurau yeoja itu sambil menyenderkan punggungnya di pintu.

“Kau tidak bilang ingin praktek di sini,” tukas Minho, membuat yeoja itu mengangkat bahunya.

“Aku ditawari. Rejeki tak boleh ditolak, kan?” jawabnya enteng. “Kau tidak praktek?”

“Kau tidak ada pasien?” tanya Minho balik. Son Hee mengerutkan keningnya.

“Aku baru saja sampai,” ia terdiam sejenak, “Baiklah, aku harus kembali. Nanti direktur marah kalau tahu perkerjaanku hanya ngobrol dengan sesama uisa,” tukasnya sambil mengibaskan tangan dan meraih gagang pintu.

“Son Hee-ssi,” panggil Minho, membuat Son Hee menoleh.

“Ne?”

“Kau mau makan siang denganku?” tanyanya. Son Hee mengangkat alisnya, lalu menganggukl sambil tersenyum.

“Tentu,”

__

Konkuk University, Seoul

Same day, 12.00 a.m

“Waeyo, Chan Gi-ya? Kok kau tidak nafsu makan seperti itu?” tanya seorang yeoja ber-blazer merah tua pada yeoja berambut ikal pendek di sampingnya yang sedang mengaduk-aduk isi bentonya dengan pandangan menerawang. “Ya! Baek Chan Gi! Kau dengar aku tidak?!” lengkingnya pada akhirnya.

“Ne?”  Chan Gi menoleh lemah. Dan ketika ia melihat wajah kesal chingunya itu, ia kembali menatap bento-nya yang kini sudah tak berbentuk itu. “Oh, aniya,”

“Pasti ada sesuatu, tak mungkin seorang Baek Chan Gi yang monster makanan tiba-tiba berubah seperti ini,” ujar chingunya heran.

“Hey, kau tahu perjodohan kan?” tanya Chan Gi tiba-tiba. “Kalau kauu dijodohkan, apa yang akan kau lakukan?”

“Mengatakan bahwa itu sama persis dengan sinetron di televisi ataupun plot novel-novel remaja,” ujar chingunya itu datar. “Dan plot si maniak fanfiction, si Jung Hyehyo itu,”

“Kalau kenyataan?”

“Sekarang sudah zaman perlindungan anak, setiap anak berhak menyuarakan keinginannya, wahai Baek Chan Gi yang sedari dulu tak pernah mau memperhatikan pelajaran PKn,” sahut chingunya itu tegas. “Tidak mungkin ada perjodohan, kecuali di kalangan orang bangsawan Eropa. Itupun sekarang banyak yang kawin-cerai, Baek Chan Gi, apa sih isi otakmu sekarang?”

“Aku ditunangkan, Hwaeji-ya,” gumamnya pelan sambil menatap mata chingunya itu, Do Hwaeji. Hwaeji melongo.

“Kau bercanda. Namjachingu saja kau tak punya, kenapa tiba-tiba mau bertunangan?” tanya Hwaeji heran. Chan Gi mengibaskan tangannya tak peduli.

“Aku baru bertemu dengan pria itu semalam. Dan yah, masing-masing orang tua menginginkan percepatan jadwal pertunangan itu,”

“Lebih tua darimu-kah?”

“Tentu saja, tampang bapak-bapak seperti itu,”

“HAAAAH?” Hwaeji benar-benar melotot. Bapak-bapak? Astaga… teganya orangtua Chan Gi. Menjodohkan anaknya sendiri dengan seorang bapak-bapak? Adakah nasib yang lebih buruk dari itu? “Kau serius?”

“Umurnya 28 tahun,”ujar Chan Gi sambil melirik ke atas. Hwaeji melayangkan tinjunya ke bahu Chan Gi.

“Ya, segitu mah masih muda, kupikir kau mau menikahi bapak-bapak umur 40 atau 50-an tahun,” tukasnya sambil cemberut. Chan Gi terbahak.

“Mana mungkin aku mau menikahi pria macam begitu. Aku masih waras, tahu,” jawabnya sedikit kesal.

“Tapi, apa pria itu tampan?” tanya Hwaeji tiba-tiba berubah semangat. Chan Gi mendengus, lalu menatap chingunya tidak percaya..

“Yah, kalau menurutku sih biasa saja. Mungkin menurutmu tampan,”

“Astaga, Chan Gi-yaa~ laki-laki itu harus di hargai!”

“Ne, ne, apa katamulah,” jawab Chan Gi sedikit cuek. “Tapi jangan sampai kau iri kalau sahabatmu yang paling baik hati ini sudah sibuk dengan seseorang,”

“Tidak akan, Baek Chan Gi. Yang ada aku akan mencari target baru,” ujar Hwaeji penuh keyakinan.

To Be Continued

Hallaw! Pasti nunggu lama yah. Mian yak kalo makin ga jelas, yah, maklum lah, yang bikin juga masih terus belajar. Typo, salah penyusunan kalimnat, dan beberapa kelalaian lainnya ==a mianhae yah.

Komen dan kritik yah woyy ^o^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 7

  1. banyak perkembangaan, key tb2 udh gede yuhu~
    aku seneng minho sm son hee satu kantor, emg sengaja atau gmna?

    Yoogeun is back! He must be hate jess very much. Aku berharap smg chan gi ga sakit ati kalau tau yoogeun msh suka sm jess.

    well, reen,as always, i’ii wait for next chapt

    1. Iya dong. masa ga maju-maju #dorr
      Sebenernya sih… buat hemat tempat aja. pidah sana pindah sini, aku kan juga pusing#eaaaa #dugh

      Waowwww itu sih… ehm… jelas lah. dia benci setengah hidup sama Jess.
      gomawooohhh *hug* XDDD

  2. thor, kali ini ga ada aksi berantem2nya, y? trus Key-Ssica nya kurang romantis…. *ehem*

    abis itu ada typo tapi cuma 1 yg aku sadari. kalo nulis ‘di’ yg disambung ama kata tempat baru dipisah, tapi kl disambung ama kata kerja jangan dispsiin… ok?

    btw, good job, thor!

  3. akhirny keluar juga nie spy 7
    sampe bolak balik ngecek wp ga muncul muncul bru nongol sekarang
    Thor, keren Thor
    aku cma ma ngoment spy nya kurang panjang
    spy 8 keluar kapan?? berharap tingkt tinggi spy 8 cepet nongol.. spy 8 cepet kluar yaaa
    penasaran nih

    1. iyakaaah?? Wah, kukira ini FF dikacangin u,u
      Ehm… oke deh. panjangin aja dikiiiit yaa XDD
      Semoga deh cepet keluar, aku sibuk banget, dan lagi ngestuck di tengah. plot keluar semua tapi kata-kata bingung mau mulai darimana *oke, tabok saja anak ini*
      AMiin deh ya,
      gomawoo XDD

  4. Errr… lagi dan lagi
    Author memang selalu bikin penasaran, saking enaknya ngebaca ni ff, sampe gak tau kalo udh continue –”
    Kenapa gak ada adegan di Hogwarts lagi? Kangen sama masyarakat(?) Hogwarts

    (“Mana ada fotografer lulusan Hogwarts?”) Eh itu Key udah lulus dari Hogwarts ya?

    Ahh thor, cepetan dong SPY 8 nya keluar, semakin penasaran nihh

    Tapi, yah… semuanya DAEBAK😀

    1. Iyakah?? huakaka XDD
      Yaa.. karena ini FF must go on *cie ilee*

      Udah, karena 1 SPY dikebut buat 7 tahun XDD
      Iyaaahhh amin deh amiiinn moga-moga deket-deket tanggal ini😄

      gomawo yaa😄

  5. ffnya bagus aku suka >,<
    itu siii jessica ketemu yoogeun lagi?? omo! kebetulan atau apa ya???

    aku tunggu lanjutannya thor jangan lama lama yaa…

    miaaan telat komennya🙂

  6. akhirnya yg ditunggu-tunggu nongol juga😀
    lama nih author, stengah abad ningguin baru muncul skrg
    wew makin pnasaran nih gimana klanjutannya.. di spy 7 ini kayanya konfliknya blum nyata ya? ahhh, gk sabar nunggunya
    kalo bisa bagian key-jessica nya dibanyakin ya thor hahaha
    oia, ati2 sama typo ya, tadi agk keganggu juga sama typo yg sedikit bertebaran diatas hehehe
    ditunggu klanjutannya!! hwaiting!!🙂

  7. gimana tuh ngebayangin jd jess… dia yg udh liat key dr dimuntahkan ama gyuri dan skrng teribat cinta? wahh.. ntar jd kyk kisah rafli ahmad ama yuni sarah dong? wkwkwk tp romantis kok author. tp kenapa key manggil ibunya dgn namanya? kyk kurang sopan…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s