Neon Naegae Banhaesseo – Part 5

 Tittle                     : Neon Naegae Banhaesseo aka You’ve Fallen for Me (Part 5)

 

Author                  : Papillon Lynx aka Ervina H, @fb: Namida Narumi Usagi (Saika Kurosaki)

 

Main Cast            :

  • Kim Shin You (Imaginary Cast) covered by Choi Sulli f(x),
  • Choi Minho SHINee,
  • Kim Kibum aka Key SHINee,
  • Aita Rinn (Imaginary Cast) covered by Jung Soojung aka Krystal f(x),
  • Kim Jonghyun SHINee,
  • Han Nhaena (Imaginary Cast) covered by Sunny SNSD,
  • Han Yurra (Imaginary Cast) covered by Im Yoona SNSD,
  • Lee Jinki SHINee,
  • Lee Taemin SHINee,
  • Kim Hyeo So (Imaginary Cast) covered by Goo Hara KARA
  • Kim Hyung Sae (Imaginary Cast) covered by Lee Taemin SHINee with his red hair

 

Support Cast      : Park Seonsangnim, Hwang Seonsangnim, Eomma, Appa, Dokter Lee.

 

Genre                   : Romance, Sad, Friendship

 

Length                  : Sequel

 

Rating                   : PG-16

 

 

Sinopsis               : FF ini menceritakan banyak cerita cinta dan persahabatan di antara semua main cast-nya. Tentang bahagianya dan sakitnya merasakan cinta pertama yang tak terbalas dan karena terlambat menyatakan cinta. Cerita akan persahabatan yang kokoh juga membuat salah satu dari main cast dalam FF ini menjadi rela mengubur perasaan cintanya dan akhirnya menemukan cinta yang sebenarnya dengan orang lain.

 

Sumarry               :Ciuman pertamaku dan ciuman keduaku hanya aku lakukan denganmu.”

 

TRACKLIST:

Boyfriend-Don’t touch my girl,

SHINee-Our Love Should Go On,

F(x) feat SHINee-Lollipop,

SHINee-Noona Nomu Yeppo,

2PM-Heartbeat,

CN Blue-Love Girl

 

Hai, hai, hai.. Bagaimana kabar readers semua? Hehe.. Maaf, kalau di part-part sebelumnya tidak sempat menyapa. Jadi baru bisa di part 5 ini aku nongol. Gimana sama part-part sebelumnya? Makin seru ngga? Penasaran ngga? Oke deh, langsung baca aja ya. Happy reading! And don’t forget to give me your appreciation. Give me your oxygen. 😉

 

ALL POV IS AUTHOR’S POV

@@@

 

HYUNG SAE duduk di kursi dalam ruangannya. Seekor anak macan putih duduk juga dalam pangkuannya dan tengah tertidur. Hyung Sae mengelus bulu-bulu halus binatang peliharaannya itu. Namun pikirannya melayang memikirkan sesuatu.

Sudah semenjak seminggu yang lalu semenjak pesta pertunangan Jinki dan Nhaena, dan ia mendapati Hyeo So menangis melihat adiknya, Taemin, tengah bersama dengan Yurra. Hyung Sae masih ingat apa yang diceritakan oleh Hyeo So malam itu. Yeoja itu bercerita banyak hal mengenai dia, Taemin, keluarga mereka dan apa yang menyebabkan dirinya selalu bergantung pada sosok Taemin, adik kembarnya.

<<<=FLASHBACK=<<<

 

“Hyung Sae Oppa.. Hanya Taemin Oppa lah yang aku miliki di dunia ini. Tak ada yang lain. Aku takut dia akan meninggalkanku.” Kata Hyeo So tiba-tiba di sela-sela tangisnya.

“Apa maksudmu dengan mengatakan kalau Taemin adalah satu-satunya orang yang kau miliki??” Hyung Sae merasa heran dengan apa yang baru saja dikatakan yeoja di depannya itu. Walaupun Hyung Sae merasa sangat penasaran, tapi Hyung Sae mencoba untuk tetap bersikap tenang di depan Hyeo So. Tapi, yeoja itu tak kunjung melanjutkan kalimatnya. Justru semakin menangis. Merasa tak enak hati, Hyung Sae mencoba menenangkan Hyeo So ke dalam pelukannya.

Hyung Sae memeluk yeoja itu sambil sesekali mengelus punggung dan puncak kepalanya. Perlahan, kedua matanya terpejam. Seolah menikmati waktu kebersamaannya dengan yeoja yang sekarang sedang berada dalam dekapannya.

Namun entah kenapa, sekedar melakukan hal itu saja sudah seolah membuat darahnya berdesir dan detak jantungnya semakin tak karuan. Hyung Sae gugup sendiri. Apa yang terjadi padaku sekarang?? Batinnya bingung.

DEGH DEGH DEGH!

Hyeo So seketika sadar akan suara detak jantung Hyung Sae. Yeoja itu langsung menarik diri dari pelukan Hyung Sae dan segera menghapus tangis di pipinya.

Hening. Tercipta tembok kecanggungan di antara mereka. Mereka sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga salah satu dari mereka mencoba merubah suasana.

“Taemin Oppa.. Dia itu adalah teman kecilku.” Kata Hyeo So tiba-tiba. Hyung Sae menatap yeoja di depannya lekat-lekat. “Kami bertetangga. Taemin Oppa dan aku berteman sejak Taemin Oppa diadopsi oleh Lee Ahjussi, ayah Minho Sunbae dan Jinki Sunbae. Hari pertama saat aku melihatnya, badannya penuh luka dan kakinya digips. Kata Jinki Sunbae, Taemin Oppa menjadi seperti itu karena sempat mengalami kecelakaan di jurang. Dan Lee Ahjusshi yang menemukannya di dasar jurang dengan luka parah.”

DEGH!

Hyung Sae tersentak di tempatnya setelah mendengar Hyeo So mengucapkan kata ‘jurang’. Jelas kejadian itu tidak akan mungkin terlupakan dalam ingatannya. Kejadian itu yang sekarang menghancurkan hubungan persaudaraannya dengan adik kembarnya sendiri.

Hyung Sae mencoba membuang pikiran itu sementara. Ia lebih ingin tahu apa kelanjutan dari cerita Hyeo So.

“Sejak itu aku sudah sangat menyukainya. Tapi entah kenapa, Taemin Oppa sangatlah dingin pada siapapun, termasuk padaku awalnya. Aku sering melihatnya dengan wajah yang murung dan itu membuatku ingin menjadi sahabatnya. Dia jarang sekali berbicara ketika aku mengajaknya berbicara. Hingga suatu saat, saat kami sedang bermain di taman yang sama, dan saat itulah pertama kalinya dia mau berbicara denganku. Dia bertanya “apakah seorang kakak bahkan bisa tega membiarkan adiknya sendiri mati?”, seperti itu.”

DEGH!

Untuk kedua kalinya Hyung Sae kaget mendengar cerita Hyeo So tentang adiknya. Pertanyaan yang dilontarkan Taemin itu, membuat hatinya mencelos seketika.

“Aku saat itu bingung bagaimana menjawab pertanyaan Taemin Oppa. Aku hanya diam. Hingga akhirnya aku melihat Taemin Oppa pergi meninggalkanku setelah sebelumnya ia menyunggingkan senyum seolah meremehkanku akan pertanyaannya yang tak bisa kujawab. Aku tahu apa yang dipikirkannya saat itu. Dia pasti menganggapku sebagai yeoja yang sok ingin tahu tentangnya, sok ingin dekat dengannya tapi untuk berinteraksi dengannya saja aku gagal ketika dia menanyakan satu pertanyaan padaku. Keundae, akhirnya aku memberanikan diri menjawab pertanyaannya sebelum dia semakin jauh pergi. Aku menjawab, “Mianhae. Aku tidak memiliki saudara. Aku anak tunggal di keluargaku.” Dan ketika aku mengatakan itu, Taemin Oppa menghentikan langkahnya dan berbalik memandangku. Aku melanjutkan kalimatku dengan berkata, “Hajiman, aku memiliki Eomma dan Appa yang sangat menyayangiku. Begitupula aku. Aku sangat menyayangi mereka. Hanya merekalah yang aku miliki di dunia ini. Mereka begitu berharga bagiku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku tanpa kehadiran mereka di sampingku. Walaupun mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan jarang pulang ke rumah, tapi aku tahu dan aku yakin kalau di sana mereka juga sangat merindukanku.” Aku mengatakan itu semua sambil tersenyum. Berharap apa yang menjadi jawabanku bisa menyenangkan hati Taemin Oppa. Dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya tersenyum begitu tulus padaku. Bukan senyuman yang meremehkan lagi. Dan setelah itu, dia mau berteman denganku.” Hyung Sae mendengarkan semua cerita Hyeo So dengan sesekali mengangguk tanda mengerti. Tapi ada satu hal yang baginya belum bisa menjawab sesuatu yang terus berputar dalam otaknya.

“Tapi, dengan semua cerita ini, apa maksud dan hubungannya dengan perkataanmu tadi yang mengatakan kalau kau hanya memiliki Taemin di dunia ini? Bukankah kau masih memiliki-“ kata-kata Hyung Sae terpotong.

“Orangtuaku meninggal ketika dalam perjalanan pulang ke rumah dalam kecelakaan mobil. Dan seminggu kemudian, rumah orangtuaku disita dept collector. Aku tak pernah tahu kalau ternyata Appa meminjam uang begitu banyak dari rentenir demi menyelesaikan krisis di perusahaan Appa yang terancam bangkrut. Aku menangis dan merasa sangat terpukul.” Hyung Sae tak menyangka dengan apa yang barusan saja ia dengar. Selama ini dirinya menganggap Hyeo So adalah yeoja manja yang selalu berkecukupan. Tapi nyatanya, kisah hidup yeoja ini benar-benar memilukan. Batin Hyung Sae.

“Aku bingung. Tak ada satupun sanak-saudara dari keluarga Appa dan Eomma yang bersedia menolongku dengan membayarkan hutang Appa yang sangat besar berikut dengan bunganya. Saat itu Taemin Oppa datang dan memelukku. Dia berjanji kalau dia akan terus bersamaku dan menjagaku dari kemungkinan terburuk yang ada. Dan dia juga berkata kalau aku masih memilikinya di dunia ini meskipun Appa dan Eomma-ku sudah tiada. Setelah itu Taemin Oppa meminta pertolongan Jinki Sunbae dan Lee Ahjusshi untuk membantuku. Bahkan saat itu aku melihatnya sedang berlutut di hadapan Lee  Ahjusshi hanya demi menolongku. Aku terharu. Dan itu yang membuatku mulai mencintainya.” Hyeo So mengakhiri ceritanya dengan sebulir air mata yang menetes membasahi pipinya. Mendengar cerita Hyeo So membuat hati Hyung Sae sakit. Namun juga bangga terhadap Taemin. Taemin yang ia kenal ternyata bisa sangat dewasa dan seorang yang sangat murah hati.

“Jadi, itu maksudmu kalau kau hanya memiliki Taemin? Tapi menurutku kau salah mengartikan apa yang diucapkan Taemin padamu saat itu, Hyeo So-ah..”

>>>=END OF FLASHBACK=>>>

Kening Hyung Sae berkerut. Keadaan yang dialami seorang Hyeo So saat itu memang benar-benar sulit. Baginya, Hyeo So tak sepenuhnya salah. Hal itu wajar jika Hyeo So menjadi posesif terhadap Taemin dan merasa takut jika Taemin akan meninggalkannya ketika dia tahu kalau Taemin memiliki perasaan terhadap Yurra. Taemin juga salah karena saat itu tanpa pikir panjang berkata kalau dia akan terus bersama dan menjaga Hyeo So. Itu jelas tidak mungkin. Mereka memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Dan kelak, ketika keduanya semakin bertambah dewasa, mereka akan sadar kalau jalan hidup mereka hanya mereka sendiri lah yang bisa menentukan. Bukan orang lain ataupun hanya terus mengandalkan orang lain untuk bisa menjalani hidup. Pikir Hyung Sae.

Hyung Sae menghela nafasnya panjang dan membenarkan posisi duduknya yang dirasa sudah mulai kurang nyaman baginya. Anak macan putih itu pun perlahan bangun, lalu meloncat naik ke atas meja kerjanya.

“Hei, Pochi.. Kenapa kau bangun, hm? Kau lapar?” kata Hyung Sae mencoba mengajak berbicara Pochi. Ya, Pochi adalah nama yang dia berikan untuk anak macan putih itu. Hyung Sae tersenyum sambil mengelus-elus bulu di bagian kepala Pochi. Pochi hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Tapi, tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Tunggu! Saat itu Taemin bersama Yurra Noona, berarti Taemin menyukai Yurra Noona?? Dan Yurra Noona menangis karena dia mencintai Jinki Sunbae setelah melihat Jinki Sumbae dan Nhaena Sunbae bertunangan, kan?” Sepersekian detik Hyung Sae hanya diam mencoba mencerna kata-katanya sendiri. Kemudian, sontak Hyung Sae bangun dan berlari keluar dari ruangannya, meninggalkan Pochi yang menatap kepergiannya dengan tatapan bingung.

@@@

@@@

 

“Noona, kau terlihat pucat.. Apa kau tidak apa-apa?” tanya Taemin yang entah sejak kapan sudah berada di samping Yurra, duduk di sebelahnya, di dalam ruang kerja Yurra. Yurra hanya menggeleng lemah dan terus berkutat dengan laptopnya. Yurra sedang sibuk membuat proposal untuk kegiatan festifal olahraga sekolah yang 2 minggu lagi akan diadakan di sekolah itu, sebagai realisasi dari program kerjanya.

Sudah selama dua jam pelajaran Taemin mendekam dalam ruangan itu dan menemani Yurra. Dan selama dua jam pelajaran itu lah dia rela membolos pelajaran di kelasnya. Sedikit ada perasaan bersalah yang mengganjal di hatinya semenjak kejadian malam itu. Ketika dirinya mencium Yurra. Walaupun Yurra tak menolak perlakuannya, tapi Yurra menjadi semakin pendiam dan susah diajak berbicara dengannya. Taemin merengut kesal karena ulahnya sendiri.

GUBRAK!!

Taemin tersentak di tempatnya beberapa detik menatap tubuh Yurra yang tergeletak jatuh ke samping. Yurra tak sadarkan diri. Taemin langsung mengangkat tubuh yeoja itu dan membawanya sambil setengah berlari ke ruang kesehatan dengan raut wajah yang sangat panik.

“Noona, bertahanlah..” kata Taemin sambil berlari.

@@@

 

@@@

 

“Bagaimana dengan keadaannya, Shin You-ssi?” tanya Taemin pada Shin You yang kebetulan menjadi petugas kesehatan yang sedang berjaga di ruang kesehatan.

“Ya! Apa yang kau lakukan padanya, huh?!” bentak Shin You membuat Taemin perlu mundur 3 langkah dari yeoja itu.

“Ya! Kenapa kau malah meneriakiku? Aissh, kau sama seperti kakakmu.” Sembur Taemin tak mau kalah.

“Ya, ya! Ada apa dengan kalian?” tiba-tiba Minho sudah berada di samping Taemin dan Shin You yang saling melemparkan death glare mereka. Minho hanya geleng-geleng dibuatnya.

“Yang aku dengar dari Jonghyun Oppa, kau itu sangat menyukai Yurra Sunbae. Kenapa sekarang kau menelantarkannya, huh?” tanya Shin You kembali memarahi Taemin seperti tak mempedulikan kehadiran Minho. Minho menarik tubuh yeoja itu, menvoba menengahi permasalahan.

“Apa maksudmu?” tanya Taemin yang sudah tak tahan dengan sikap Shin You yang baginya seperti berbasa-basi.

“Sepertinya Yurra Sunbae sakit maag. Dan sekarang maag-nya sedang kambuh. Menurutku sepertinya ini dikarenakan karena akhir-akhir ini makannya menjadi tidak teratur. Kau harus lebih baik lagi dalam menjaganya.” Kata Shin You dengan nada biasa sambil melepaskan stethoscope dari kedua telinganya dan meletakkannya di atas meja. “Pastikan dia makan dengan teratur dan hindarkan dia dari masalah-masalah yang akan memebuatnya berpikir keras. Arrasseo?” kata Shin You sambil berlalu keluar dari ruang kesehatan. Minho mau tak mau mengikuti yeoja itu sedangkan Taemin hanya menatap tubuh tak berdaya Yurra dengan sedih.

“Kau mencintainya?” Taemin langsung menoleh dan mendapati Hyung Sae sedang bersandar di dekat pintu ruang kesehatan.

“Kalau iya, memang kenapa?” tanya Taemin sewot. Hyung Sae tertawa renyah mendengar jawaban Taemin. Namja berambut merah mencolok itu lantas berjalan mendekati Taemin.

“Kau mencintainya. Tapi dia mencintai namja lain. Kau pasti tahu dia mencintai Jinki Sunbae kan?” Hyung Sae menyeringai ketika ekspresi wajah Taemin berubah kesal.

“Kau.. Apa maumu, huh?!” tanya Taemin mulai kesal pada namja yang notabene adalah kakaknya sendiri itu.

Hyung Sae menyeringai lagi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kau tidak benar-benar mencintainya. Kau hanya mengaguminya. Orang yang sebenarnya kau cintai sebenarnya selalu bersamamu, di sampingmu. Tapi kau tak pernah melihatnya dengan kedua matamu. Dia yang selalu bersamamu ketika kau bersedih dan bahagia. Yeoja itu lebih berarti dibanding dia..” Hyung Sae menunjuk Yurra dengan telunjuknya “… yang selalu tak mengacuhkanmu dan perasaanmu.” Hyung Sae pergi meninggalkan Taemin yang mematung di tempatnya. Kepalanya tertunduk, memandangi ujung sepatunya. Pikirannya mulai berkelana. Siapa yeoja yang dimaksud Hyung Sae Hyung sebenarnya? Batinnya.

@@@

 

@@@

 

Minho sedikit kewalahan mengejar langkah-langkah Shin You. Entah kenapa akhir-akhir ini Shin You sering sekali mengomeli orang, terutama jika orang itu adalah namja. Minho juga sudah ke sekian kalinya setelah kejadian di Lotre World itu, menjadi sasaran amukan Shin You tanpa sebab. Shin You menjadi tempramen sekali semenjak Key menyakiti hatinya.

Jejak Shin You hilang di ujung koridor. Sepertinya Shin You sedang ingin sendiri saja. Gumam Minho. Minho mengalah lalu kembali ke kelasnya dengan malas.

Di sisi lain, Shin You masih terus berlari melewati kelas-kelas murid tahun kedua. Tak dipedulikannya Aita yang sudah meneriaki namanya, memanggilnya. Beberapa hari ini memang hubungan mereka kembali membaik. Aita juga sudah tidak menangis dan sakit hati karena melihat kedekatan atara Minho dan Shin You. Aita tahu bahwa Shin You tidak menyukai Minho meskipun Minho menyukainya. Dan tanpa ada asumsi itu pun, entah kenapa ada seorang namja yang sekarang mulai mencuri pikiran dan hati Aita lebih dari Minho.

Shin You lebih sering menyendiri dan meninggalkan Aita sendirian di kelas pada jam istirahat. Bukan karena ada masalah baru di antara kedua yeoja itu, tapi karena ia tak mau melihat tampang Key lagi. Dan beberapa hari ini perasaannya menjadi aneh. Ia merasa Key selalu memperhatikannya. Dan itu justru membuatnya tak nyaman sekali.

Tak terasa, air mata Shin You luruh. Yeoja itu menangis di depan pintu gudang, membelakangi pintu itu. Tempat itu memang sepi. Jarang ada siswa yang berjalan-jalan di sekitarnya. Dan itu dijadikan sebagai tempat persembunyiannya ketika dia benar-benar ingin menumpahkan segala rasa sakitnya tentang Key.

GREP!

Seseorang menarik tubuh Shin You cepat dan membawanya masuk ke dalam ruangan gudang yang gelap gulita. Orang misterius itu mengunci pintu gudang dari dalam seketika. Shin You meronta-ronta dan berteriak-teriak meminta tolong tapi tidak ada yang menolongnya, bahkan mungkin tak ada yang mendengar suara teriakannya karena sekarang mulutnya ditutup oleh sebuah tangan yang tak lain adalah tangan orang misterius itu sendiri.

Orang misterius itu terus menyeret Shin You. Tenaganya begitu kuat, sehingga Shin You mulai merasa kelelahan dengan usaha perlawanannya yang sepertinya hanya sia-sia. Yeoja itu pingsan karena merasa pengap di dalam ruangan yang gelap dan berdebu itu. Terlebih lagi tangan yang membungkam mulutnya membuatnya semakin sesak nafas saja.

Sedetik kemudian  orang misterius itu menyalakan lampu ruangan gedung itu dan mendapati Shin You sudah pingsan tak berdaya karenanya. Orang mistreius itu mengenakan topi hitam dan sarung tangan yang menutupi sebagian wajahnya sehingga hanya matanya saja yang terlihat. Tapi dia mengenakan baju seragam yang sama dengan Shin You.

Tersorot kepanikan dari kedua mata orang misterius itu. Orang misterius itu segera melepas sapu tangan yang dijadikannya sebagai topeng dan membuang topinya kasar. Orang itu adalah.. Key. Key melihat wajah Shin You yang pucat karena ulahnya dengan perasaan bersalah.

Tubuh yeoja itu merosot perlahan ke lantai dalam dekapan Key. Dengan setengah berlutut, Key menyangga tubuh yeoja itu agar tidak benar-benar menyentuh lantai gudang yang kotor. Namja itu menyibakkan beberapa helai rambut Shin You yang menutupi wajahnya.

“Mianhae.. Aku terpaksa melakukan ini.” Kata Key sambil terus memandangi wajah Shin You dengan tatapan bersalah.

 

@@@

 

@@@

Lima belas menit berlalu dan Shin You masih belum sadar juga. Key membiarkan celananya kotor untuk duduk di lantai gudang. Namja itu memeluk Shin You erat.

“Shin You-ah.. Sadarlah. Mianhae, aku melakukan hal semacam ini. Kau pasti akan semakin membenciku setelah kau bangun nanti. Tapi ini satu-satunya cara agar kau mau mendengarkan penjelasankau. Jebal, bangunlah..” kata Key dengan bulir air mata yang sudah jatuh membasahi pipi Shin You.

Kelopak mata Shin You bergerak perlahan tanda  yeoja itu telah kembali ke alam sadarnya. Hingga kedua matanya terbuka sempurna dan ia melihat wajah namja yang baru-baru ini selalu dihindarinya.

“Apa yang kau lakukan, Key?!” tanya Shin You setengah membentak sambil mendorong tubuh namja itu sekuat yang ia bisa. Shin You langsung berdiri dan badannya hampir saja rubuh kalau Key tidak mencegahnya. Shin You merasa pusing.

“Lepaskan aku, Key!” bentak Shin You lagi. Yeoja itu lalu hendak menuju pintu untuk keluar.Tapi Key menahan satu tangannya.

“Changkamman. Please, listen to me.” Kata Key dengan tatapan memohon. Shin You menatap kedua mata Key tajam dan membuang muka.

“Apa lagi yang perlu kau jelaskan, Key? Aku tahu, kau memang tak memiliki perasaan apa-apa padaku. Aku bisa terima itu. Tapi kau tak seharusnya tega membohongiku dan bersandiwara di depan Jonghyun Oppa! Kau menghancurkan persahabatanmu dengannya hanya karena lelucon konyolmu itu!” Shin You mencoba melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman Key. Tapi Key masih menahannya dengan kuat. Bahkan semakin kuat seiring usaha Shin You yang semakin ingin membebaskan tangannya. “Lepaskan! Aphooo..” keluh Shin You. “Lepaskan aku, Key!” Yeoja itu lagi-lagi membentak pada Key. Dan Key hanya menatap yeoja itu dalam diam. “Apa maumu, Key?! Kau ingin menyakitiku lagi, huh??” Emosi Shin You sudah berada di puncak. Ditatapnya pergelangan tangannya yang mulai menimbulkan bekas kemerahan akibat genggaman Key di tangannya itu yang cukup kuat. Shin You akhirnya mengangkat satu tangannya yang bebas dan akan melayangkan tamparan di pipi Key. Tapi Key langsung menepis tangan Shin You, menarik yeoja itu ke arahnya dan langsung mencium bibirnya.       Key melumat bibir Shin You perlahan dengan kedua matanya yang terpejam. Key memeluk pinggang Shin You dan mendorong tubuh Shin You perlahan hingga menempel di dinding gudang.

Shin You kaget setengah mati hingga kedua matanya terbuka lebar dan seakan sulit berkedip saat itu juga. Badannya menjadi lemas dan lututnya bergetar. Hanya terlihat tetes-tetes air mata yang mulai luruh dari sudut matanya. Ia meronta namun Key justru semakin menyudutkannya dan memperdalam ciuman mereka membuat Shin You kesulitan menghirup udara di sekitarnya.

Key menikmati ciuman itu dan tanpa sadar, satu tangannya menyentuh pipi kiri Shin You dan mengusapnya perlahan. Hal itu membuat Shin You seperti hilang kesadaran. Shin You mulai menikmati ciuman Key di bibirnya dan sedikit mendesah. Saat bibir Shin You yang semula terkatup rapat dan kini sedikit terbuka, Key tak menyia-nyiakan kesempatan. Key langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Shin You dan hal itu semakin membuat Shin You mendesah lebih keras. Namun tak lama setelah itu, Shin You terisak.

Key yang menyadari hal itu sontak melepaskan ciumannya dan menatap langsung ke dalam kedua mata Shin You yang memerah dan basah. Kedua mata yeoja itu memancarkan sinar mata yang sangat tersakiti..

“Ciuman pertamaku dan ciuman keduaku hanya aku lakukan denganmu.” Kata Key sambil menghapus air mata Shin You. Shin You masih tak bergeming di tempatnya. “Kejadian di Lotre World itu, saat kalian semua melihatku bersama Hyeo So, itu tidak benar. Aku tidak menciumnya. Aku hanya mencoba menghapus air matanya. Kalian salah paham. Bisakah kau memepercayaiku, Shin You-ah?” mohon Key. Kedua tangan namja itu menggenggam erat kedua tangan Shin You. Shin You menatap namja itu masih tak percaya. “Jebal.. Percayalah. Kau jangan diam saja seperti ini. Mianhae.. Jangan menangis lagi. Aku sakit dan semakin merasa bersalah jika melihatmu seperti ini, Shin You-ah. Aku menciummu tadi untuk membuktikan padamu kalau sekarang hanya kau satu-satunya yeoja yang ada di hatiku.” Shin You melepaskan tangannya dari genggaman Key. Yeoja itu masih menangis.

Shin You memutar tubuhnya dan berjalan mendekati pintu. Satu tangannya sudah terjulur menyentuh kenop pintu. Tak ada satupun kata yang bisa keluar dari mulut yeoja itu. Entah kenapa, setengah hatinya ingin mempercayai Key. Tapi setengah hatinya lagi berkata lain. Yang dia tahu dan dia yakin, Key memang menyukai Hyeo So jadi bisa saja saat itu Key memang benar mencium Hyeo So dan sekarang Key sedang berbohong padanya. Bahkan sebelumnya, Key juga merencanakan kebohongan untuk Jonghyun Oppa. Batinnya.

“Shin You-ah..” Suara Key semakin terdengar seperti memohon di telinga Shin You. Yeoja itu semakin sulit untuk meninggalkan Key saat itu juga. Shin You menundukkan kepalanya dan kembali menangis.

“Bukankah kau mencintai Hyeo So, Key-ah? Untuk apa kau menjelaskan ini semua padaku seolah kau mempedulikan perasaanku?? Selama ini kau juga tak pernah menganggapnya. Bodohnya aku, aku bahkan sampai mau berbohong di depanmu kalau namja yang aku sukai adalah Minho. Tapi kejadian itu membuatku sadar. Kalau Minho adalah namja yang lebih baik darimu karena dia tak pernah tega membohongiku apalagi membohongi teman dekatnya sendiri dengan kebohongan konyol yang kau lakukan pada Jonghyun Oppa!” Key hanya bisa memandangi punggung yeoja itu dengan nanar. Matanya mulai memerah. Kedua tangannya terkepal erat mendengar semua yang dikatakan yeoja yang baru ia sadari akhir-akhir ini telah menyita pikirannya. “Dwaesso, anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi. Aku akan melupakanmu. Melupakan perasaan ini, melupakan semua yang telah kita lewati bersama. Mianh, kurasa aku tak bisa denganmu lagi. Walau sekedar menjadi sahabat.” Shin You menekan kenop pintu yang sedari tadi hanya bisa dipegangnya, dengan perlahan. Didorongnya pintu itu pelan hingga menimbulkan sedikit suara deritan.

Tanpa sadar Key menggelengkan kepalanya perlahan, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Shin You. Dia merasa tak ingin Shin You benar-benar merealisasikan kata-katanya.

Sejurus kemudian, Key sudah mendekap tubuh yeoja itu dari belakang, menahan kepergian Shin You. Untuk kedua kalinya Shin You dibuat bingung oleh sikap Key.

“Kajima, Shin You-ah (Jangan pergi, Shin You-ah)..” Key mendekap tubuh yeoja itu lebih erat. Satu tangannya ia lingkarkan di pinggang Shin You. Dan tangan yang lain berada di atas bahu kanan Shin You, mencengkeramnya erat.

“Ini salah, Key. Jangan seperti ini. Cukup!” Shin You menepis kedua tangan Key yang berada di pinggangnya dan bahu kanannya. Yeoja itu berlari pergi meninggalkan Key yang tak bisa bergeming dari tempatnya. Kedua mata namja itu menatap kosong kepergian Shin You yang sosoknya sudah menghilang dari pandangannya dan tergantikan oleh pintu gudang yang perlahan tertutup.

BLAM!

“Saranghae.. Saranghae.. Kenapa kau tidak bisa mempercayaiku? Saranghae..” kata Key sambil tertunduk, menahan tangisnya.

@@@

 

@@@

 

Shin You berjalan dengan langkah gontai menuju ruang kelasnya. Kedua matanya terlihat sembab. Bibirnya terlihat bergetar. Yeoja itu terpaksa menahan tangisnya. Lebih tepatnya, dia masih ingin menangis namun terpaksa disembunyikannya.

Minho yang sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya, langsung sadar akan kehadiran Shin You. Namja itu terlihat kaget begitu melihat keadaan Shin You yang sedikit berantakan. Rambutnya acak-acakan, dan seragam sekolahnya kotor. Minho langsung menghampiri Shin You yang kini sudah duduk di bangkunya.

“Gwenchana? Ada apa denganmu??” tanya Minho panik sambil merapikan rambut Shin You yang menutupi wajah yeoja itu. Shin You hanya diam saja dengan tatapan kosongnya.

Sejurus kemudian, Aita datang sambil tertawa lepas bersama Jonghyun di sampingnya. Aita yang menangkap ada sesuatu yang aneh dengan Shin You langsung menghampiri chingunya itu, disusul Jonghyun.

“Apa yang terjadi dengannya, Minho-ah?” tanya Aita dan Jonghyun kompakan. Sedetik kemudian, Jonghyun dan Aita menoleh melihat satu sama lain, dan mereka sama-sama tersenyum dengan apa yang baru saja terjadi –baru saja mereka lakukan-

“Molla. Tadi Shin You memang sedikit aneh, jadi aku biarkan dia sendiri. Aku kira dia butuh waktu untuk sendiri saja. Tapi sekarang dia jadi seperti ini. Seragamnya bahkan kotor sekali seperti ini. Aku khawatir, Hyung. Shin You diam saja dari tadi.” Jelas Minho sambil menoleh ke belakang, yang sontak membuat perhatian Jonghyun dan Aita kembali terfokus pada Shin You.

“Jeongmal? Aiish.. Jincca! Apa ini masih ada hubungannya dengan Key?!” geram Jonghyun. Jonghyun terlihat emosi sekarang. Dan hampir beranjak ingin menemui Key dengan niat akan menghajar namja itu.

“Jonghyun-ssi.. Jangan!” cegah Aita sambil menggeleng. “Jangan memperkeruh masalah yang sudah ada. Tahan emosimu. Yang terpenting sekarang adalah keadaannya.” Saran Aita sambil menatap lurus-lurus Shin You yang masih saja ditanya-tanyai oleh Minho. Tapi gadis itu masih menutup mulutnya rapat. Jonghyun menghela nafasnya, mencoba untuk mengontrol emosinya, sesuai nasihat Aita.

Di sisi lain, Key memperhatikan orang-orang itu dari luar kelas dengan tatapan sedih dan merasa bersalah. Terutama pada Shin You yang dilihatnya terus bertampang murung dan mengacuhkan semua pertanyaan Minho. Dalam hatinya, Key ingin sekali menghampiri mereka dan meminta maaf pada mereka saat itu juga. Terutama pada Jonghyun karena dia telah menyakiti hatinya dan hati adiknya. Pengecut kau, Key! Neo nappeun namja! Rutuk Key dalam hati untuk dirinya sendiri.

@@@

 

@@@

 

Sebuah alunan merdu dari suara dentingan piano mengisi ruangan bercat krem yang di sekitarnya terdapat beberapa alat musik seperti gitar akustik, gitar melodi, drum, biola, cello, flute dan juga beberapa alat musik tradisional korea seperti gayageum dan yang lainnya.

 Seorang yeoja dengan bandana berwarna biru langitnya yang berbentuk pita terus tersenyum sambil memainkan piano berwarna putih dengan seorang namja yang juga sedikit bersenandung, menyanyikan melodi yang sama seperti melodi yang tercipta dari piano putih itu.

PROK! PROK! PROK!

Terdengar suara tepukan tangan setelah Jonghyun dan Aita selesai memainkan pianonya. Di belakang mereka, Jinki dan Nhaena sudah mengacungkan kedua jempol tangan mereka, memuji kepiawaian Jonghyun. Terutama Aita yang baru beberapa hari ini belajar bermain piano dengan Jonghyun, tapi sudah terlihat pandai memainkannya.

“Sudah, sudah. Kalau memang ngefans sama aku, nanti aku kasih tanda tanganku.” Kata Jonghyun mencoba bercanda dengan gaya khasnya berpura-pura menyombongkan dirinya. Aita tertawa renyah mendengar  candaan Jonghyun. Jinki hanya menatap Jonghyun dengan tatapan –idiiih-percaya-diri-sekali-anak-ini!- Sedangkan Nhaena hanya geleng-geleng kepala melihat aksi teman tunangannya itu.

“Ada apa kau kemari, Hyung?” tanya Jonghyun yang sudah mengalihkan topik.

“Bagaimana keadaan dongsaengmu? Aku dengar dari Minho, Shin You agak sedikit aneh hari ini. Benar?” tanya Jinki sambil mendekat ke arah Jonghyun dan Aita yang masih duduk di depan piano putih itu. Sedangkan Nhaena sudah sibuk melihat-lihat biola yang terletak di sampingnya, namun telinganya menyimak apa yang dibicarakan tunangannya dengan Jonghyun.

“Ne, Hyung. Eotthokae? Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Jonghyun sambil memijat kedua pelipisnya yang terasa sakit.

“Kau salah jika kau berusaha memisahkan Shin You dengan Key, Jonghyun-ah.. Kau tidak pernah memberikan Key kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Saat di Lotre World itu, Key sepertinya menolak tuduhan kita padanya kalau dia mencium Kim Hyeo So. Aku rasa, jika kau ingin menyelesaikan masalah ini dan membuat semuanya jelas, temuilah Key. Tanyakan langsung padanya dan biarkan Key menjelaskan semuanya.” Jinki menepuk-nepuk bahu Jonghyun mencoba menguatkan satu temannya itu yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.

“Itu benar! Aku setuju dengan Jinki Oppa. Key tidak akan segampang itu mencium yeoja lain. Kita tidak boleh menuduhnya begitu saja. Aku yakin saat itu hanya salah paham saja. Jangan sampai itu terjadi. Aku benar-benar tak tahu bagaimana perasaanku jika Key benar-benar-” Nhaena segera menutup mulutnya dengan satu tangannya dan berlari keluar ketika baru disadarinya dia telah mengatakan sesuatu yang janggal dan membuat Jinki dan yang lainnya menatapnya bingung.

“Hyung.. Apakah Nhaena menyukai-“ kata Jonghyun hati-hati ketika dilihatnya Jinki yang terlihat sedih.

“Iya, apakah rumor tentang Nhaena Sunbae yang menyukai Key sejak lama itu benar?” tanya Aita dengan kata-kata yang lebih jelas membuat Jinki tersenyum getir dibuatnya. Aita dan Jonghyun menjadi tak enak hati sendiri.

“Ne. Dia memang tak pernah mencintaiku. Baginya, aku memang tunangannya, tapi cintanya adalah Key.” Kata Jinki lalu keluar dengan langkah cepat dari ruangan itu. Jonghyun dan Aita pun reflek mengejar Jonghyun yang sekarang sudah setengah berlari pergi.

@@@

 

@@@

 

“Noona, kau sudah tak apa? Apa tidak apa-apa jika kau memaksakan diri lagi?” kata Taemin sambil setengah memapah tubuh Yurra dari ruang kesehatan.

Yurra yang masih tampak pucat hanya tersenyum dan menggeleng. “Kau seperti ibu-ibu saja, Taemin-ah..” komentar Yurra.

“Mwo? Aku begini karena aku mengkhawatirkanmu, Noona.” Taemin kesal lalu menggembungkan kedua pipinya. Yurra hanya diam saja dan tersenyum, tak mau lagi mengomentari Taemin lagi.

“Ah, aku ke toilet dulu ya, Noona? Noona tidak apa-apa kan kembali ke ruangan sendiri? Nanti aku menyusul.” Kata Taemin yang sudah terlihat tak tahan menahan hasratnya untuk buang air kecil dan untung saja mereka sudah berada di depan toilet.

“Sudah sana. Nanti kau langsung kembali ke kelas saja dan mengikuti pelajaran. Jangan korbankan sekolahmu karena aku. Arrasseo?” Yurra lalu kembali melangkahkan kakinya dengan hati-hati seorang diri. Dan Taemin, namja itu bahkan sudah tak terlihat batang hidungnya sebelum Yurra menyelesaikan kalimatnya tadi.

Yurra berjalan sambil menunduk, memperhatikan langkah kakinya. Beberapa saat kemudian, ketika ia mendongakkan kepalanya, dilihatnya seorang namja yang sangat dikenalnya sedang bersandar di dinding koridor yang berdekatan dengan pintu ruangan kerjanya sebagai Ketua Kepresidenan Siswa.

Namja itu menunduk dan terlihat murung sambil mengetuk-ngetukkan salah satu ujung sepatu yang dipakainya ke lantai. Dan ketika mata mereka bertemu, namja itu tersenyum menampilkan deretan gigi-gigi putihnya yang bersih dan putih. Yurra tertegun dibuatnya.

Namja itu berjalan perlahan sambil terus tersenyum menghampiri Yurra. Dan tak butuh waktu lama, Yurra sudah berhadap-hadapan dengan namja itu.

“Annyeong, calon kakak ipar..” sapa Jinki masih dengan senyum manisnya. Untuk sepersekian detik, Yurra terus menatap kedua mata namja itu lekat-lekat. Namun setelah itu, perasaan sakit dalam hatinya muncul dan membuatnya ingin segera beranjak dari hadapan Jinki. Jinki menahan kepergian Yurra.

“Kakak ipar.. Kenapa kau selalu seperti ini padaku? Kenapa kau selalu mengacuhkanku? Waeyo?” tanya Jinki yang sudah kehilangan senyum di bibirnya dan menatap sedih Yurra dengan kening berkerut. Yurra masih tak mempedulikan Jinki dan tetap ingin melanjutkan langkahnya walaupun satu tangannya kini sudah ditahan oleh tangan Jinki. “Waeyo, Yurra-ah?” Kali ini Jinki bertanya dengan nada yang lebih lembut membuat yeoja di hadapannya menoleh menatapnya lagi.

“Jangan memanggil namaku dengan nada seperti itu, Jinki-ssi!!” bentak Yurra yang sudah meneteskan air matanya. Yurra mencoba membebaskan tangannya.

“APA MAKSUDMU?!! KENAPA KAU BERUBAH MENJADI DINGIN PADAKU, HUH??!” Emosi Jinki lepas kendali. Emosinya tak tertahan ketika Yurra membentaknya. Wajah namja itu terlihat merah padam dan nafasnya terdengar tak beraturan. Yurra sudah tak berani lagi menatap langsung ke mata namja itu. Bukan karena takut karena dibentak oleh Jinki yang tak kalah kerasnya, tapi karena sekarang tangisnya pecah setelah mendengar pertanyaan Jinki.  “Wae? Waeyo? Dulu kita sangat dekat. Kita bertiga. Aku, kau dan Nhaena selalu bersama, bermain bersama. Kita selalu melewati suka dan duka bersama. Bahkan seingatku, kita tak pernah ada masalah apalagi sampai bertengkar hingga sekarang kau berubah menjadi seperti ini padaku. Kau, kau kenapa sebenarnya?” tanya Jinki yang sudah sedikit lebih tenang. Yurra masih terus terisak dan karena menangis, wajahnya menjadi terlihat semakin pucat dari sebelumnya.

“Kau menentukan pilihan yang tepat, Jinki-ah..” ucap Yurra di sela-sela tangisnya.

“Apa maksudmu?” Jinki terlihat bingung dengan apa yang baru saja dikatakan Yurra.

“Aku.. Aku.. Aku bukanlah kakak kandung Nhaena!”

JDERRRR!! Jinki bagaikan tersambar petir mendengar ucapan Yurra.

“Aku hanyalah anak angkat di keluarga Han! Dan semenjak aku tahu kebenaran itu, aku menjadi sadar kalau aku tidak pantas untuk menjadi jodohmu bahkan untuk sekedar menjadi calon tunanganmu, walaupun aku mencintaimu! Dan untuk membalas budi, aku melakukan ini semua agar kau memilih Nhaena untuk menjadi istrimu kelak! Puas kau, huh?!” Pegangan tangan Jinki di tangan Yurra merenggang seiring apa yang baru saja dikatakan Yurra. Yeoja itu segera menepis tangan Jinki kasar dan berlari masuk ke dalam ruangannya. Yurra menutup pintnya kasar. Badannya yang bersandar pada pintu seketika lemas dan perlahan merosot jatuh hingga menyentuh lantai. Kedua lututnya tertekuk dan ditundukkan kepalanya di atas lututnya.

Jinki berpegangan kuat pada dinding koridor sambil menelan kenyataan pahit yang baru saja diutarakan Yurra. Selama ini rasanya dia sudah sangat bersalah pada Yurra karena baru sekarang dia memberanikan diri menanyakan apa alasan Yurra yang berubah sikap dengannya. Dan entah kenapa, setelah mendengar langsung dari bibir Yurra kalau Yurra mencintainya, Jinki merasa menyesal menjadikan Nhaena sebagai tunangannya, walaupun mungkin sekarang dia sudah cukup  terlambat untuk memutar waktu mencegah pertunangan waktu itu.

Dia baru sadar, orang yang selama ini mencintainya dengan tulus ternyata berada di dekatnya, dan itu Yurra. Sedangkan dia tak pernah mau menoleh ke samping dan menyadari kehadiran yeoja itu. Dia terus saja menatap ke depan, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar berharap Nhaena akan berlari ke arahnya dan memeluknya erat namun yeoja yang diharapkannya itu pun kerap membuat jarak dengannya karena Nhaena hanya mencintai Key.

@@@

 

@@@

 

Hyeo So mengetuk pintu tiga kali lalu masuk ke dalam ruangan Hyung Sae. Hyung Sae yang sedang bermain dengan peliharaan kesayangannya, Pochi, langsung tersenyum dengan kedatangan Hyeo So yang kini sudah duduk di hadapannya.

“Oppa..” sapa Hyeo So.

“Kenapa kau kemari?” tanya Hyung Sae yang jujur saja merasa heran dengan Hyeo So yang tiba-tiba menemuinya.

“Lho? Bukankah kau ingin menjadikanku sebagai model baju cosplaymu?” Hyeo So bertanya sambil menggendong Pochi yang sebelumnya sedang bergelayut manja di kakinya.

“Ah, benar! Kenapa aku jadi lupa?” gumam Hyung Sae yang masih bisa didengar Hyeo So. “Kkaja! Ke apartemenku saja..”

“Apa?! Apartement??”

@@@

 

To Be Continue..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “Neon Naegae Banhaesseo – Part 5”

  1. Aduh, miris bener gw kalo jadi yurra… ToT
    Eh, ini Hyung sae = taemin kan? Ya udah, aku dukung hyungsae!!! #dugh Hayohloh mereka itu mau ngapain coba di apartemen? Ckckckck

    Ini shin You mau sama siapa sih? Sama Key yah? Kalo gitu Minhonya buatku yak!!!! #DUGH
    Ditunggu selanjutnya yaa… XDD

    1. Iya. Dari awal emang cerita tentang Yurra nyesek terus. Hehe.. 😀
      Yap, Hyung Sae itu sebenrnya Taemin. Kakaknya. Kenapa ngedukung Hyung Sae? Aku aja ngerasa ngga ada bedanya. #plak!! 😀

      Shin You? Em.. Ngga tau juga. Masih galau gitu. Whehe..
      Yoyoy.. 😉

  2. hyaa.. Ruwet bin pusing.. Kkk..
    Aku suka jjong-aita.. Dan walaupun hyungsae bilang cinta sejati taemin itu hyeoso, tpi aku maunya hyungsae-hyeoso.. Hehe
    next.. Next..
    Oya, di sini hyungsae-taemin masih tertukar kan?

    1. Wkwk.. Saya suka bikin readers bingung terus penasaran.. #bugh!
      Kenapa suka jjong-aita? Kesannya adem ayem aje ye? Wkwk..
      Iya. Menurutku mereka emang labih cocok si. Tapi tergantung nanti. Baca aja kelanjutanyya. 😉
      Masih dong. Jadi jangan galau-galau sama mereka yah.. 😀

  3. hebat!! ceritanya rumit aneh bin ajaib o.O
    apalagi baca hyungsae-taemin, soalnya sering lupa klu hyungsae=taemin & taemin=hyungsae…
    kasian minho, sini ama aku aja 😀

  4. Waduh aneh binn ajaib ya? Wkwk.. 😀 Berarti ini bukti kegalauan saya waktu itu.. ^^
    Mianh kalo mbingungi. Authornya juga bingung #plak! 😀
    Tentang Taemin Hyung Sae ngga udah dipikir banget. Yang penting muka mereka sama. 😉

    Minho sudah sama saya #gamparauthor 😀
    Tengkyu udah komen lhoo.. ^^

  5. ah.. kenapa jinki baru nanya sama yurra..
    suka bgd deh sama jjong-aita, akur-akur aja ya..
    kasian jg yurra.. seru seru ceritanya. dilanjut ya..

  6. suka part jjong and aita, tapi kenapa bagian mereka selalu saja sedikit….???
    diperpanjang pas aita sama jjongnya thor ❤

  7. jujur yaa aku bingung ma hyung sae & taemin, aku bingung mau pilih yg mana *plakkk kkk~
    ampunn yurra kasian bgt dehh.. nah loh Jinki bru nyesel skrg, eottokkhae?
    Key-Shinyou semoga mrk bisa baikan..
    lanjut ke next part…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s