Let Me Love Him – Part 1

Let Me Love Him – Part 1

Author                          :    himahimawari

Main Cast                     :    Lee Habin (OFC), Kim Jonghyun, Choi Minho

Support Cast                :    Jung Jyorin (OFC)

Length                          :    Sequel

Genre                           :    Romance, Friendship

Rating                           :    PG-13

A/N                                :

                Annyeong yeoreobun^^ ini ff pertama yang author post, mian kalo masih banyak kekurangannya juga. Soalnya author juga manusia *nyanyi lagu Seurieus* #abaikan. Author mau ngucapin terima kasih sama Bibah eonni alias Bibib Dubu eonni (hehe^^v) yang udah mau koreksi beberapa bagian yang kurang 😀

                Mian kalo ada kesamaan nama tokoh maupun jalan cerita, itu bukan unsur kesengajaan. Nah, selamat membaca! Jangan lupa tulis comment atau tinggalkan jejak ibu jari tangan kalian ya^^

***

-Author POV-

Hujan begitu deras, seorang gadis termenung di atas kasurnya. Ia menurunkan kakinya perlahan dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari apartemennya hingga harus menggunakan bus.

 “Habin Eonnie, Palli! Nanti kita bisa terlambat!” teriak Jyorin dari pintu depan.

Habin yang sedari tadi merapihkan dasinya sambil termenung pun tersadar. “Ah, ne. Mian,” jawab Habin lalu menyisir rambutnya dan berlari keluar.

Eonni, kau lama sekali,” protes Jyorin sesampainya Habin di luar lalu berjalan ke gerbang.

Habin memperlambat langkahnya “Mian… haah mian aku… haaah.. melamun tadi,” katanya dengan napas terengah-engah karena berlari tadi.

Aigoo kau ini, memang apa yang kau pikirkan, hah?” tanya Jyorin sambil menaikkan  satu alisnya.

“Hanya… hanya ada yang membuatku merasa ganjil. Sudahlah, lebih baik kita cepat-cepat ke sekolah,” jawab Habin seraya menarik tangan Jyorin dan berlari.

“Ah, ne. Betul juga. Kajja!” Habin dan Jyorin pun berlarian ke halte bus.

 

-Habin POV-

Perkenalkan, namaku Lee Habin. Sejak kecil, aku hidup bersama orang tua angkatku di Inggris. Aku sebenarnya orang Korea Selatan, karena itu namaku menggunakan nama orang Korea. Jangan berpikir apa yang telah orang tua kandungku lakukan hingga aku hidup di negeri orang bersama orang tua angkatku. Yang kudengar, aku dan orang tua kandungku terpisah saat peristiwa kebakaran melanda rumah hangat kami di Inggris. Kata orang tua angkatku, mereka menemukanku tergeletak tak sadarkan diri di trotoar jalan dan mereka memberi namaku Lee Habin karena menemukan kalung berinisial nama itu dengan huruf Hangul yang terpasang di leherku saat itu.

Satu tahun yang lalu aku mendengar kabar orang tua kandungku ada di Korea Selatan namun keberadaan pastinya belum aku ketahui. Karena itu, aku berniat mengunjungi negeri ginseng itu untuk mencari orang tua kandungku. Namun, karena biayanya transportasi dan tinggal di sana yang mahal dan aku tidak ingin membebani orang tua angkatku, aku mengejar beasiswa kesana untuk meringankan biaya hingga akhirnya aku berhasil berangkat 5 bulan lalu untuk beasiswa tingkat SMA.

Awalnya aku tinggal di sebuah kontrakan kecil dan bekerja sampingan di café hingga bertemu dengan seorang gadis yang lebih muda 1 tahun dariku, Jung Jyorin yang ternyata hoobae-ku di sekolah dan mengajakku tinggal bersamanya di apartemen miliknya dengan alasan dia merasa kesepian karena tinggal sendiri di apartemen itu karena orang tuanya berada di kota lain. Aku memutuskan untuk menerimanya agar pengeluaranku lebih irit juga, hihi. Aku memang tidak fasih berbahasa Korea, hanya sebatas yang diajarkan sebelum aku berangkat kesini. Tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa dan mulai mengerti apa yang orang ucapkan. Sekarang aku sudah lumayan fasih berkat bantuan Jyorin.

Aku mengalami hal aneh belakangan ini. Memimpikan hal yang sama, dicium seorang namja namun aku tak tahu persis siapa dia. Tapi hal itu cukup mengganggu pikiranku. Karena itu, aku sering melamun belakangan ini.

***

Aku dan Jyorin pun tiba di sekolah. Karena kelasku di lantai 3 gedung kanan sedangkan Jyorin di lantai 2 gedung kiri, kami pun harus berpisah disini dan berjalan ke arah gedung masing-masing.

Eonni, aku ada tugas berkelompok hari ini, jadi kau tidak usah menungguku. Kau bisa pergi ke café duluan,” ucap Jyorin sebelum kami berpisah.

Aku menoleh dan mengangguk. “Ne, arraseo,” jawabku singkat lalu berjalan ke kanan, menaiki tangga dan berjalan di koridor gedung. Tiba-tiba 3 orang namja berlari ke arahku dan hampir menabrakku.

Aku sontak mundur merapatkan tubuhku ke tembok. “Ya kalian! hati-hati kalau berlari!” teriakku pada mereka. Lalu aku maju 1 langkah ke tempat semula. Aku mendengar derap sepatu yang berganti menjadi bunyi decitan nyaring dari kulit bawah sepatu yang bergesekkan kasar dengan lantai. Aku membalikan badanku hendak melihat suara sepatu siapa itu dan…

“Hey, hey, awas!”

 

Brukk

 

Seseorang menabrakku hingga terjatuh. “Ackk, aww… appo,” keluhku sambil mengusap pergelangan kakiku yang terasa sakit.

Mianhae, gwenchanayo?” tanya seorang… namja? aku mendongakkan kepalaku. Kulihat seorang namja tampan mengulurkan tangannya kepadaku dengan wajah agak panik.

 

-Jonghyun POV-

Aku berlari mengejar teman-temanku karena mereka sangat menyebalkan. Mereka meledekku karena hukuman yang seonsaengnim berikan padaku kemarin.

“Ya kalian! hati-hati kalau berlari!” Aku mendengar teriakan seorang yeoja yang membuatku sontak berhenti berlari. Namun sepatuku yang licin membuatku sulit berhenti dan justru mengeluarkan bunyi decitan nyaring.

 

“Hey, hey, awas!”

 

Brukk

 

Aku menabrak yeoja itu hingga terjatuh. Aku beruntung karena berhasil bertumpu pada kakiku sehingga tidak ikut terjatuh juga.

“Ack, aww… appo (sakit),” keluhnya sambil mengusap pergelangan kakinya.

‘Aishh, Jonghyun pabo! Mengapa kau terlalu fokus berlari hingga tidak menyadari ada yeoja di depanmu. Lihat sekarang apa yang telah kau perbuat? Yeoja itu terjatuh dan kakinya terluka.’

 

Mianhae, gwenchanayo?” tanyaku pada yeoja itu sambil membantunya berdiri tapi ia kehilangan keseimbangan dan tanganku tertarik olehnya sehingga aku hampir terjatuh juga. Hal itu membuat jarak wajah kami dekat sekali. Matanya terbelalak lalu membuang mukanya. Wajah yeoja itu memerah, manis sekali.

“Ah ne… gwenchana,” jawabnya sambil mencoba berdiri lagi. Sayangnya, dia terjatuh lagi. Aku pun membantunya berdiri.

 “Apa kau yakin?” tanyaku sekali lagi sambil mengangkat kedua alisku.

Dia mengangguk lalu tersenyum. “Ne, aku baik-baik saja,” jawabnya.

‘Tidak mungkin, aku menabraknya cukup keras tadi. Pasti kakinya sakit.

“Ah, jeoneun Kim Jonghyun imnida,” ucapku memperkenalkan diri.

‘Ash, kenapa aku malah memperkenalkan diri? Apa dia tidak tahu aku? Aku kan salah satu namja yang populer di sekolah ini. Bahkan kemarin  ada seorang yeoja lagi menyatakan cintanya padaku. Tapi aku tidak tertarik sama sekali kepadanya, jadi kutolak saja. Untuk apa memaksakan? Alhasil dia menangis dan seonsaengnim yang melihatnya pun langsung menghukumku dan aku… malah jadi bahan ejekan teman-temanku. Aku benci orang menilaiku cool. Mereka tidak tahu aku punya kenangan buruk dimasa lalu. Karena itu, aku belum bisa beralih ke yeoja lain. Dan para yeoja itu, sungguh ini sangat memuakkan.

Jeoneun, Lee Habin imnida,” balasnya. Mungkin dia memang tidak tahu aku. Tapi… aneh sekali. Ternyata masih ada saja yang tidak tahu aku.

Aku mencoba memapahnya dan membantunya berjalan, “Di mana kelasmu? Biar kubantu kesana,” ujarku, menawarkan bantuan untuk membayar kesalahanku.

Aniyo… tidak perlu, aku tidak apa-apa. Kamsahamnida.” Dia melepaskan tanganku, lalu membungkukkan badan dan pergi.

Aku memperhatikannya, jalannya sedikit pincang. Aku yakin sekali kakinya terkilir. Tapi tadi… dia manis juga. Aku melangkahkan kakiku hendak pergi tapi kemudian aku merasa… err, menendang sesuatu? Aku menatap ke bawah dan melihat sebuah jepitan berada pada jarak beberapa centi di depan sepatuku.

‘Apa ini punya gadis itu? Aku harus mengembalikannya. Lagipula.. aku ingin melihatnya lagi. Lee Habin, nama yang indah. Aku… Kenapa aku jadi penasaran begini?’

Aku menggelengkan kepalaku dan pergi meninggalkan koridor itu untuk menyusul teman-temanku yang berlari tadi.

-Habin POV-

 “Aniyo… tidak perlu, aku tidak apa-apa. Kamsahamnida,” ujarku lalu melakukan salam dan pergi ke kelas dengan jalan agak pincang.

‘Mengapa jantungku berdebar cepat? Ah, pasti karena tadi. Pipiku pun sepertinya memanas tadi. Ya ampun Habin, ini masih pagi. Ayo kendalikan dirimu.

Setiba di kelas, aku duduk di kursiku membuka sepatu dan kaos kaki yang kupakai lalu terlihat kakiku yang biru. Sakit sekali rasanya. Tiba-tiba poniku yang cukup panjang turun menutupi mataku.

‘Jepitanku? Apa tadi terjatuh? Gawat, itu jepitan kesayanganku. Aku harap jepitan itu tidak hilang. Aku harus mencarinya nanti.

Aku merasa seseorang berada di dekatku. Saat aku menoleh kulihat seorang namja sudah berada di dekatku. Dia adalah Choi Minho, teman dekatku sejak aku bersekolah di sini. Walaupun kami tidak satu darah, kami sudah menganggap satu sama lain seperti saudara.

“Ada apa dengan kakimu?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di dekatku.

Aku menatap wajahnya sebentar lalu kembali melihat memar di kakiku sambil mengusap-usapnya.“Gwenchana. Hanya tertabrak seorang namja saat berjalan di koridor tadi,” jawabku santai.

Mwo? Siapa yang menabrakmu? Kakimu sampai biru begini,” tanggapnya dengan nada kaget.

Aku menoleh dan melihat ekspresi kaget di wajahnya. Aku berusaha menahan tawaku. “Gwenchana, jangan khawatir. Aku yakin dia tidak sengaja,” balasku.

Dia menatapku serius. Sepertinya dia benar-benar khawatir. “Siapa namanya?” tanyanya lagi.

Aku memutar bola mataku lalu menatap langit-langit kelas dan meletakkan jari telunjukku di tengah-tengah bibir bawahku, mengingat nama namja tadi. “Hmm, Kim Jonghyun kalo tidak salah,” ujarku agak ragu.

“Kim Jonghyun? Maksudmu namja yang populer di sekolah kita ini?” tanyanya seperti tidak percaya.

Aku kembali menatapnya dan mengangkat kedua bahuku. “Mungkin. Mwo? Populer? Tapi aku tidak pernah mendengar kepopulerannya.” Aku mengerucutkan bibir.

“Kau saja yang tidak memasang kupingmu sehingga ketinggalan berita,” sindirnya sambil menjulurkan lidahnya meledekku.

“Apa katamu??” ucapku sambil mengambil ancang-ancang ingin menjitak kepalanya.

“Hahaha tidak… tidak… hanya bercanda.” Dia menolehkan kepalanya kesamping, menatap jendela kelas yang sudah terbuka dari tadi. “Haassshh… Kim Jonghyun.” Tiba-tiba terdengar ia menghembuskan napasnya kasar.

“Hm? Wae?” tanyaku bingung.

Dia kembali menatapku dan menggeleng, “Aniyo. Jam istirahat nanti kita ke ruang kesehatan ya? Kakimu itu harus diobati,” ujar Minho sambil menunjuk kakiku yang memar. Dia memang khawatir sekali.

Arraseo, Minho-ya…,” jawabku sambil terkekeh. Lalu kudengar dering bel tanda masuk. Minho segera bangkit dan duduk di bangkunya.

-Minho POV-

“Kim Jonghyun? Maksudmu namja yang populer di sekolah kita ini?”

‘Kenapa selalu saja dia? Haasssh, Jonghyun, bisakah kau jangan menggangguku lagi…’

“Mungkin. Mwo? Populer? tapi aku tidak pernah mendengar kepopulerannya,” jawabnya sambil mengerucutkan bibir. Terlihat kekanak-kanakkan sekali, membuatku harus menahan tawa.

“Kau saja yang tidak memasang kupingmu sehingga ketinggalan berita,” ledekku sambil menjulurkan lidah.

“Apa katamu?” Dia mengambil ancang-ancang ingin menjitak kepalaku. Dia memang lucu sekali.

“Hahaha tidak… tidak… hanya bercanda.” Aku menoleh kesamping dan menatap jendela kelas. “Haassshh, Kim Jonghyun.” Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.

“Hm? Wae?” tanyanya dengan nada bingung.

Aku menatapnya dan menggeleng. “Aniyo. Istirahat nanti kita ke ruang kesehatan ya? Kakimu itu harus diobati,” usulku sambil menunjuk kakinya yang memar.

Arraseo Minho-ya…,” jawab Habin sambil terkekeh. Bel tanda masuk pun berbunyi. Aku segera bangkit dan duduk di tempatku.

‘Jonghyun itu… dia… Habin… kau tak tahu sesuatu. Kuharap kau tidak mendekatinya.

* * *

-Habin POV-

 

Teng teng teng…

 

Aku menghela napasku panjang . “Haa… Untung aku tidak disuruh kedepan tadi.”

“Jangan duduk dan berbicara seperti itu saja, ayo ke ruang kesehatan sekarang.” Minho menghampiriku lalu meletakkan tangannya di pinggang sambil memiringkan kepalanya dan mengangkat kedua alisnya.

“Ah ne, kajja!” jawabku.

Minho membantuku berdiri dan berjalan ke ruang kesehatan. Sesampainya di sana dia menarik kursi dan menyuruhku duduk di atasnya.

“Aku ingin mengambil kotak obat dulu. Jamkkaman,” ucap Minho sambil memberi isyarat kepadaku untuk menunggunya lalu pergi dan tak lama dia kembali lagi.

Minho mengambil balsam di kotak obat lalu membuka sepatu dan kaos kakiku.

“Kalau sakit tahan sedikit ya” ucap Minho sambil mengoleskan balsam pada kakiku.

“Aww! Pelan sedikit Minho-ya,” keluhku sambil melepaskan kakiku yang diolesi balsam olehnya. Tapi ia menahannya.

“Tahan… sedikit lagi. Oke, wanryo (selesai).” Minho menatapku dan mengembangkan senyumnya lalu dia menarik kursi lain ke dekatku lalu duduk di kursi itu.  Ia menatap lurus ke depan. “Habin-ah, boleh aku minta sesuatu?” katanya tanpa menatapku dan tetap menatap lurus ke depan. Raut mukanya tiba-tiba berubah menjadi serius.

“Hm? Kau mau apa? Asalkan bukan yang aneh-aneh ya,” jawabku sambil mengangkat kedua alisku.

Ia hanya terdiam, tidak menjawabku. Apa dia… melamun?

“Minho-ya?” panggilku sambil menggoyang-goyangkan telapak tangan kananku di depan mukanya.

“Ah!” Dia mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menggeleng kecil. “ Itu… tolong temani aku mengambil kacamata hari ini,” jawabnya sambil tersenyum.

-Minho POV-

Aku duduk di kursi di samping Habin yang baru saja kutarik. Aku menatap sinar matahari di depanku yang masuk melalui kaca jendela yang tembus pandang dan ventilasi udara di atasnya.

“Habin-ah, boleh aku minta sesuatu?” kataku masih melihat sinar matahari di depanku.

“Hm? Kau mau apa? Asalkan bukan yang aneh-aneh ya,” jawab Habin. Aku pun terdiam.

‘Apa aku harus melarangnya sekarang? Bagaimana kalau dia kaget dan marah padaku? Aku belum pernah melarangnya berdekatan dengan siapa pun sampai saat ini.

 

“Minho-ya?” Aku tersadar. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Kulihat telapak tangannya yang bergoyang-goyang di  depan wajahku. Aku menggeleng kecil.

Kuputuskan untuk tidak mengucapkan laranganku itu dulu kepadanya. “Ah, tolong temani aku mengambil kacamata hari ini,” jawabku sambil tersenyum.

Dia memutar bola matanya dan mengerjap beberapa kali tanda dia sedang berpikir. “Hmm.. tapi aku tidak bisa lama-lama. Aku harus bekerja di café,” ujarnya.

Ne, arraseo,” jawabku. Senyum yang terukir di wajahku semakin mengembang.

“Hanya itu?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya.

“Memangnya kau mau memberiku apa?” godaku. Aku mendekatkan wajahku dan senyumku semakin mengembang.

“Ah kau ini, kau sudah tidak waras selalu tersenyum sepeti itu tiap waktu?” Dia mengalihkan tatapannya dariku. Kulihat wajahnya memerah. Mungkin bila kubandingkan dengan kepiting rebus warna merahnya sudah setara.

“Apa kau bilang?” Aku mencubit kedua pipinya.

Aigoo… Hentikan Minho-ya, appoyo.” Dia mencengkram kuat tanganku dan menariknya, berusaha melepaskan cubitanku dari pipinya.

-Habin POV-

“Apa kau bilang?” Minho mencubit kedua pipiku.

Aigoo… Hentikan Minho-ya, appoyo,” keluhku sambil mencengkram tangannya dan berusaha melepaskan cubitannya dari pipiku.

Kurasakan Minho mulai merenggangkan cubitannya. Tapi ia tidak melepaskannya melainkan memegang pipiku. Aku baru sadar wajahnya berada sejengkal di depanku.

Mataku menatap matanya, begitu pun Minho. Tiba-tiba dia mengelus pipiku dan memajukan kepalanya lebih dekat dengan wajahku sehingga mataku terbelalak kaget.

Tatapannya berubah. Keningnya agak berkerut. Matanya menyipit. Tangannya mengelus pelan pipiku kemudian bergerak perlahan ke daguku. Kurasakan pipiku mulai memanas.

Sekarang dia menjepit daguku dengan ibu jari dan telunjuknya yang ditekuk. Dia menutup matanya. Aku ingin melawan. Tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku seperti terhipnotis olehnya. Aku pun menutup mata perlahan. Dan…

 

~*To be Continued*~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “Let Me Love Him – Part 1”

  1. Aku pun menutup mata perlahan. Dan… TBC

    Haha, keren banget. Bikin geregetan -_-

    Waduh, jangan2 Jonghyun bermasalah. Ditunggu lanjutannya 😀

    1. *ambil mic* geregetan~ jadinya geregetan *nyanyi bareng jjong

      hehe gomawo^^ tapi ff eonni lebih keren kok, aku juga masih pemula banget 🙂

      gomawo udah mau baca + komentar! hehe 😀

  2. ah.. Tbc sungguh sangat amat tepat waktu.. Kkk..
    Ada apa dgn cinta, eh, ada apa dgn jonghyun ya..?
    Next ditunggu..

  3. loch koc udh tbc adja..?!
    Kurang panjang~~~~
    Kkkkk~~~~

    Minho mw nglarang habin apa..?!
    Koc gk jd ngm0ng..?!
    Nglarang untk dket2 ma JongHyun ya..?!#sotoy
    Mang JongHyun bermasalah ya..?! Ato apa..?!
    Aish.. Jd pnasaran..
    Lanjut.a jngn lama2 ea..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s