Namja – Part 7

Title : Namja

Author : Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast : Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Support Cast : Kim Jonghyun, Kim In Young, Lee Jinki, Key’s Eomma, Park Yoochun, etc.

Length : Sequel

Genre : Friendship, Family, Romance

Rating : PG – 15

A.N: Aduhhh, bukan porno, bukan juga adegan hot atau semacamnya. Tapi ada adegan yang ga boleh dicontoh anak kecil. Ayo yang masih di bawah 17 taun menyingkir ya? Yang aku tulis di part ini banyak sesatnya, menyangkut kehidupan sekumpulan anak yang menyimpang.

Disclaimer: SHINe is not mine. I’m only the owner of this story and plot. Don’t copy-paste or repost without my permission, oke?

 

 

***

Summary:

“Ya! Santai, Boy. Jangan takut pada kami, juga padaku. Bukan karena kau junior maka kau harus selalu mengalah dan kalah. Tidak, jalanan memberikan kesempatan yang sama untuk kita. Kau bisa mengalahkan aku jika nantinya kau berhasil menaklukkan aku di arena ini. Sekarang, kau hanya perlu menyimak. Perlahan, kau akan mengerti kehidupan yang akan kita jalani bersama ini. Bersama, ya, kau boleh membunuh aku jika kami meninggalkan kau seorang diri.”

Namja – Part 7 : Break The Rules

Di antara beberapa persimpangan, berhenti sejenak. Ragu… sedikit bisikan halus itu ada, membuat langkah tak semulus yang diprediksi. Layaknya permainan judi—sekecil apapun yang kau pertaruhkan—ada ketakutan bahwa kau akan kalah nantinya. Tapi kau kemudian berpikir, bahwa di dunia ini memang tidak ada hal yang mudah. Harus ada kepasrahan—walau hanya sedetik—kau harus meluangkan dirimu untuk terhanyut dalam sesuatu yang kau definisikan sebagai kekalahan, sembari kau berharap bahwa momentum itu datang pada waktu yang tepat. Ah tidak, kau tidak bisa memilih soal waktu, hanya mampu menanti dirimu melalui garis tersebut untuk mencapai ujung hidupmu, yang kau sebut sebagai—tujuan. Kau hanya bisa memilih langkahmu, tidak dengan ujungnya.

***

Mematut diri di hadapan cermin, masih tidak mempercayai bayangan yang dipantulkan oleh benda optik tersebut. Takjub, sekaligus rasa takut itu ada. Siapa gerangan wujud yang tampak itu? Sang pemilik wajah bahkan tidak mengenali bayangan tersebut. Terlalu mengerikan, untuk definisi kehidupan lamanya.

Tidak, dalam dunia barunya, inilah yang disebut sebagai luapan emosi. Berekspresi dengan cara yang berani dan unik, itulah yang Nara katakan sewaktu ia menahan si pemilik wajah itu dalam hujaman rasa sakit. Ya, sakit. Key bahkan meremas pahanya sendiri untuk menahan sakit ketika ujung tajam itu menembus bibirnya, membuat organ tersebut mati rasa sejenak setelah sebuah benda berkilau menancap di atasnya, melingkar sempurna di belahan bibir bawahnya.

Manja, penakut. Itulah yang Nara tudingkan setelah berhasil memaksa Key tak berkutik ketika tiga buah tindikan berhasil tertanam di daun telinga kiri dan satu di dekat lubang hidung kanannya. Setiap cemoohan yang terlontar dari bibir yeoja itu, membuat Key geram dan bertekad bahwa ia tidak akan menyerah.

Termenung sekali lagi, kali ini ia bergidik seram melihat skomey eyes-nya. Ia tidak tahu bagaimana Nara menyapukan eyeshadow dan eyeliner hitam tersebut di atas kelopak matanya karena saat itu ia diperintahkan untuk memejamkan mata. Ia hanya tahu ketika Nara menorehkan tato temporal di sekirar area matanya.

Tidak, ia tidak senekat Nara yang menanamkan tato pada kornea matanya. Key hanya berani menggunakan soft lens coklat menyerupai mata ular yang ditawarkan Nara. Key bahkan tidak siap ketika Nara hendak menanamkan tato di area lehernya, sekalipun Nara hanya membujuknya untuk membuat tato semi-permanen. Key juga tidak seberani Ken yang menanamkan piercing di lidahnya. Oh, sungguh tidak dapat Key bayangkan bagaimana rasanya ketika makanan menyentuh lidahnya nanti.

Tanpa sadar, air mata Key menetes dari ujung matanya. Rasa takut begitu mendesak ke dalam batinnya, terhantarkan melalui getaran pelan kepalan tangannya. Mendadak keraguan besar kembali menelusup masuk. Haruskah dirinya menempuh jalan ini? Haruskah ia membumihanguskan aturan-aturan yang selama ini tertanam dan bersemayam di dalam pikirannya? Berekspresi, mengatasnamakan kebebasan untuk meluapkan emosi dan berkreasi, Key tahu ini tidak bisa dikatakan sebagai pernyataan yang benar. Haruskah sedemikian rupa ia melangkah, untuk menjadi sosok namja yang disegani, atau minimal diakui? Hati kecilnya membantah, mengatakan bahwa ini jalan yang tidak tepat. Namun setan tak mudah menyerah, membisikkan kenangan-kenangan yang Key dapatkan sepanjang hidupnya. Suara itu merapal memori tentang bagaimana kalimat-kalimat pahit yang harus Key telan karena mereka, orang-orang di sekitarnya yang memberi cap ‘setengah banci’ hingga ‘banci’ pada dirinya.

“Hisaplah sebatang.” Nara datang, melemparkan sebungkus rokok ke atas paha Key. Kotak itu  pada akhirnya terjatuh ke lantai karena Key tidak siap menangkap.

Pada saat yang bersamaan, Key merasakan perih teramat sangat pada goresan luka-lukanya yang terpahat jelas di sisi kiri tubuh—bagian yang bergesekan dengan badan jalan malam itu. Kepalanya yang membentur trotoar, terasa kembali berdenyut. Hati-hati, Key menyembunyikan semua rasa sakit itu, tak ingin dicap rendahan lagi. Ia sedikit merutuki mengapa ia harus merasakannya kembali, padahal di rumah sakit tadi, ia hanya merasakan kepalanya yang sedikit berat. Ia sama sekali tidak bermasalah dengan luka-luka yang beberapa di antaranya masih terlindungi perban dan plester, sementara yang lainnya sudah mulai mengering.

Key melirik takut, matanya menangkap sosok Nara yang tengah menyalakan pemantik api, membakar racikan tembakau ala pabrik tersebut dengan santainya. Yeoja itu terduduk di pojok ruangan, melantai dengan kaki kanan yang dibiarkan lurus dan kaki kiri yang tertekuk, menjadi tumpuan siku tangannya yang memegang sebatang rokok tadi.

Key terbatuk, tidak biasa menghirup asap rokok membuat indera penciumannya berontak cepat. Reaksi Key itu membuat Nara mencibirnya sekali lagi. “Jangan bersikap seperti itu ketika teman-teman yang lain datang nanti, mereka bisa mati tertawa melihat tingkahmu. Kau hanya tidak terbiasa, aku yakin kau tak pernah merokok. Cobalah satu.”

“Heeei, Nara-ya. Ada penghuni baru kenapa tidak kau kenalkan pada kami?” Beberapa orang masuk, bergabung. Dua di antaranya menghampiri Nara dan ikut duduk di sebelah yeoja itu.

Terselamatkan, Key merasa kehadiran tiga orang baru itu dapat mengalihkan perhatian Nara sehingga batang rokok itu tidak perlu menyangkut di sela bibirnya.

“Dua hari belakangan bengkel sedang ramai, banyak motor yang harus dimodifikasi sehingga kami harus begadang semalam. Tidak disangka, kami jadi absen menyambut kawan baru kita ini.” Seorang namja yang tidak duduk tadi menepuk bahu Key, sedetik kemudian tangannya bertumpu pada pundak Key, matanya tertuju pada bayangan Key yang terpantul cermin.“Wah, hanya temporal ya? Hmmm, tidak apa. Seniman tato seperti Nara tetap bisa membuat kau terlihat keren sekalipun ini hanya tato mainan. Hei, kau luar biasa, Boy. Sorot matamu indah di mata kami. Coba kau picingkan matamu, menataplah seolah kau sedang melihat musuh,” lanjutnya kemudian. Namja itu menguatkan tekanan telapaknya di bahu Key, membuat Key harus menahan diri untuk tidak meringis karena tangan tersebut menekan bekas luka yang ada di sisi kiri tubuhnya.

Key mengikuti keinginan namja itu. Menyipitkan matanya, seolah ia sedang menatap sengit musuhnya. Ia melihatnya di cermin, mendapati sinar matanya yang terlihat datar. Huh, ia bahkan tidak tahu caranya menatap seseorang dengan sorot seperti itu. Key jarang melakukannya, membenci orang hingga sedemikian rupa bukanlah hal yang baik—begitu bunyi ajaran eomma-nya.

Ia kemudian mencoba membayangkan sesuatu yang dapat menumbuhkan perasaan marah dan benci itu. Heera, In Young, Jonghyun? Mengapa sosok itu yang dapat dibayangkannya untuk membuat sorot mata itu menajam. Menelan ludah, pertanyaan dilema itu menohok batinnya. Betulkah tiga orang itu secara tidak sadar telah ia anggap sebagai musuh? Key tidak ingin mengakui, namun sosok-sosok itu tetap tidak hilang dari pikirannya. Key semakin tidak memahami isi otaknya, ia menjadi kesal karena ini. Mengapa strukturnya menyerupai labirin yang memusingkan? Di dalam saku skinny jeans-nya, ia meremas bahan celananya tersebut sekuat mungkin.

“Woww, memang bagus! Key, andaikan sorot mata ini disertai dengan keganasanmu di jalanan, aku rasa pamormu bahkan bisa mengalahkan Ken. Leader seperti Ken saja tidak punya sorot mata sebuas ini, iya ‘kan?” Nara antusias, mendekati Key yang bibirnya semakin menggeram penuh benci.

“Jadikan aku, ah maksudku, didik aku sekehendak kalian,” mohon Key kemudian. Ia meraih senapan tindik yang tadi digunakan oleh Nara. “Suatu hari nanti alat ini akan tertempel di lidahku juga.”

“Tidak usah banyak omong. Sebagai langkah awal, nanti malam datanglah bersama Nara. Kami akan terjun ke arena balap jalanan, ini adalah pertandingan penting. Kau akan tahu bagaimana kami menantang hidup. Oh ya, perkenalkan. Aku Max. Dua temanku yang lain adalah Thunder dan Joon. Masih ada lima lainnya yang belum kau tahu. Mungkin mereka masih sibuk atau bisa jadi mereka masih terseret pulau mimpi.”

***

Dengan sebuah tabung hitam panjang di punggungnya yang berisikan sketsa gambar, Jonghyun melangkah cepat menuju parkiran motor, ia tahu In Young sudah menunggunya sejak tadi. Rasa rindu begitu menguasai hati Jonghyun karena hampir selama 2 minggu belakangan ia sama sekali tidak melihat sosok pujaan hatinya itu, In Young sedang menjadi utusan jurusannya untuk sebuah kompetisi debat Bahasa Inggris yang mengharuskannya terbang ke Australia.

Hatinya merekah bahagia begitu ia melihat sosok In Young yang menunggu dengan senyum manisnya, berdiri anggun dengan tangannya yang menyilang di dada. Memilih berlari agar segera mendekat, itulah yang pada akhirnya Jonghyun lakukan. Ia mengabaikan rasa lelah dan penat yang menggerogotinya setelah seharian tadi berkutat dengan tugas.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Jonghyun sebelum langkahnya benar-benar berhenti. “Ah iya, aku membawakan sesuatu yang spesial untukmu,” imbuhnya lagi seraya melepaskan tabung panjang tadi dari punggungnya lalu membukanya. Ia pun menyerahkan selembar kertas A3 yang sudah dipersiapkannya sejak semalam.

“Aku baik. Kau? Hmmm, kurasa kau terlihat sedang suntuk? Apa aku salah menilai?” tanya In Young setelah ia menerima pemberian Jonghyun. “Dan… apa ini? Wah… ini sketsa diriku? Bagus sekali….” In Young memperhatikan gambar itu dengan seksama.

“Itu… sketsa yeoja tercantik di dunia.” Jonghyun tersipu malu, menggaruk pelan tengkuknya yang dipenuhi peluh. “Kubuat khusus untukmu,” akunya seraya terkekeh.

“Ckck, gombalmu kurang membuatku melambung karena kau tertawa jelek seperti itu,” In Young membalasnya dengan candaan kecil, mengelus pipi Jonghyun pelan. “Jjong, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Ah iya. Kalau kujelaskan lebih detail, kau pasti menertawakanku. Kau pasti tidak percaya, seharian ini aku berkutat dengan tugas kuliah. Ini kejadian langka, bukan? Bahkan yang kukerjakan adalah tugas kelompok. Hah, sejak kapan aku menjadi rajin?” Jonghyun tertawa, meraih pundak In Young untuk merangkulnya.

In Young ikut terkikik. “Iya, memang aneh. Memangnya ke mana teman kelompokmu sampai kau terpaksa mengerjakan tugas? Tapi baguslah, dengan begini kau tidak selamanya menjadi pemalas.”

“Ya! Aku bukan pemalas, hanya tidak tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan jurusanku.” Melepaskan rangkulannya, membalikkan badan hingga berhadapan dengan In Young. Lagi-lagi pertahanan diri Jonghyun sangat kuat, sekalipun yang berucap barusan adalah In Young, namja itu tetap tidak suka ada orang lain yang men-judge dirinya.

“Dasar kau! Ah ya ya, baiklah, kau bukan pemalas.” In Young mengalah, ia paham sifat Jonghyun yang satu itu.

Jonghyun tersenyum, menatap lekat bola mata In Young yang berwarna kecoklatan. Sangat indah, meneduhkan hatinya yang sejak pagi memanas. Sorot mata, ah, ia menjadi teringat sorot mata sendu milik Hana tadi pagi. Jonghyun sendiri tidak mengerti kenapa dirinya harus rela bersusah payah mengerjakan semua tugas itu seorang diri. Sekalipun mulutnya memang berulang kali mengeluh di hadapan Hana, ia tetap menuntaskan pekerjaannya. Untuk kali ini saja ia ia rela, Jonghyun bertekad. Ia tidak tega melihat Hana yang tetap memaksakan diri mengerjakan tugas tersebut di tengah kekusutan yang terpatri jelas di wajah yeoja itu setelah tadi siang sempat hengkang dari kampus untuk pergi ke rumah sakit.

“Jjong, kudengar Key kecelakaan, apa kau sudah tahu?” In Young membuka topik baru setelah keduanya berjalan cukup lama.

Ne, aku bahkan membesuknya. Dan… sebenarnya dia sudah siuman, hanya koma seminggu kalau aku tidak salah menghitung. Tapi konyolnya… isssh, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Yang jelas aku yakin dia tidak sedang diculik. Eomma-nya mengatakan Key menghilang padahal baru ditinggal beberapa menit karena beliau harus menemui dokter di ruangannya,” tanggap Jonghyun panjang lebar, terlihat sedikit menyindir.

In Young melirik cepat. “Maksudmu, Key kabur? Hei? Dia bisa kabur? Oh Tuhan, kisah macam apa lagi ini?” Yeoja itu menepuk keningnya, tidak habis pikir. Bahkan In Young pun tidak yakin bahwa Jonghyun berani kabur dari rumah. Pacarnya itu hanya berani menghilang beberapa hari, tapi akan kembali setelah itu.

In Young tahu, biasanya Jonghyun kabur ketika ia ingin punya kesempatan untuk melukis ataupun menyalurkan hobi lainnya, dan… jika ada pekerjaan bonus di tempat namja itu bekerja sebagai pelayan yang sesekali tampil di panggung untuk menghibur pengunjung dengan suara emasnya.

“Itulah mengapa aku heran. Tidakkah ia berpikir kalau kehidupan di luar sana begitu keras untuk orang seperti dirinya? Aku saja masih tidak berani sekalipun aku sangat ingin…” Kalimat Jonghyun terpotong. Ia teringat perkataan Hana. Pengecut, mendadak Jonghyun merasa bahwa sekali lagi ucapan Hana benar. “Ngggg, apa pilihanku itu termasuk tindakan pengecut?” Untuk meyakinkan dirinya, ia ingin mendapatkan jawaban dari satu orang lagi, berharap In Young memberikan penilaian jujur.

“Hhh, kau ini… memangnya siapa yang pernah mengatakan kau pengecut? Begini, menurutku, memilih bertahan di rumah dan tidak kabur bukanlah suatu hal yang pantas dikategorikan sebagai tindakan pengecut. Kau pasti punya pertimbangan. Bisa jadi kau masih memikirkan perasaan orang tuamu kalau kau kabur, hmm?”

Jonghyun terdiam, merasa bahwa tidak sepenuhnya pendapat In Young benar. Dirinya memang masih memiliki pertimbangan, namun sama sekali tidak terpikir bahwa alasannya bertahan di rumah adalah untuk menjaga perasaan orang tuanya. Tidak, bagi Jonghyun, memikirkan hal itu terasa sangat menggelikan. Untuk apa ia memikirkannya kalau selama ini saja kedua orang tuanya tidak pernah mau mengerti perasaaannya? Tidak pernah membiarkannya memilih, tidak pernah memberikan kebebasan melangkah padanya. Omong kosong, semua yang mereka sebut sebagai rasa sayang, menurut Jonghyun tidak ada bedanya dengan pemaksaan abad modern.

***

Langkah Jinki terhenti di gerbang begitu matanya menangkap sesosok yeoja tengah duduk menanti di teras rumah mungilnya. Tidak, bukan karena kecantikan luar biasa milik yeoja itu yang membuat Jinki tertegun. Ia hanya tidak menyangka bahwa momen seperti ini akan ada. Ia bahkan tidak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa bertemu lagi dengan sosok itu.

Sinar mata sendu milik yeoja itu menyeretnya pada masa lalu, melambungkan ingatannya pada puing-puing kenangan beberapa tahun silam. Mendadak Jinki sedikit merasa bahwa kata ‘pernah’ adalah istilah yang menyakitkan dan sering kali menyeret, lalu memojokkan seorang anak adam ke sudut gelap hidupnya.

Yeoja itu mendekati Jinki, langkahnya terkesan ragu-ragu. Ia kemudian berdiri persis di depan Jinki. Ada perasaan lega di hatinya ketika memandang ke dalam bola mata Jinki. Masih sama, pikirnya. Ya, bola mata itulah yang dulu memberinya rasa damai dan merasa terlindungi.

Jinki tak mampu lari, ia melakukan hal yang sama dengan yeoja itu. Lama, keduanya saling bertatap tanpa ucap. Seolah melalui koneksi semacam itu, rasa rindu mereka sudah tersampaikan tanpa melalui kata. Melalui bayangan yang tertangkap lensa masing-masing, keduanya sama-sama tahu bahwa sedang ada masalah yang merundung kehidupan mereka.

“Apa kabar?” tanya yeoja itu canggung, hanya bermaksud memecah keheningan.

“Aku baik. Kau? Ah, tidak perlu menjawab. Aku tahu kau sedang ada masalah berat,” tanggap Jinki beberapa saat kemudian, membiarkan jemari kedua tangannya beradu untuk saling mengusap malu-malu.

Diam, kembali terjebak dalam keteduhan bola mata masing-masing. Beberapa saat kemudian Jinki menangkap setetes cairan bening di sudut mata yeoja itu. “Ji Hyo-ya, ceritakanlah,” pinta Jinki tanpa ragu. Menyibak lembut ujung poni yeoja itu agar dapat melihat guratan wajahnya dengan jelas.

Ji Hyo tercekat, tidak menyangka bahwa Jinki masih memperlakukannya sama. “Kau masih mau mendengarkan ceritaku sekalipun aku pernah menciptakan kisah pilu dalam hidupmu?” tanyanya tak percaya.

Yeoja itu melempar pandangannya, mencari titik fokus lain yang membuatnya tak harus melihat wajah Jinki. Genggaman tangan Ji Hyo menguat, menjadikan tali tas yang dipegangnya itu berkerut jelas. Jika boleh menarik ucapan, ia ingin kalimatnya tadi tak pernah ada. Bukan hanya Jinki yang akan tersakiti, ia sendiri merasakan luka besar dalam hidupnya kembali terkelupas sebelum benar-benar kering.

“Bukan kau yang menciptakan, Tuhan yang telah menggariskan semua ini. Hyo, mungkin perpisahan kita adalah jalan terbaik saat itu. Dengan begitu, kau mempunyai keleluasaan untuk mengejar karirmu sebagai stylish di Italia, dan aku bisa menjalani hidupku dengan lebih tenang karena tidak merasa menghalangi kemajuanmu. Tidak apa, pernikahan kita memang tidak ditakdirkan untuk terjadi.” Jinki tersenyum, meraih tas jinjing yang ada di dalam genggaman Ji Hyo. “Masuklah, kita berbincang di dalam.”

Jinki melangkah lebih dulu, membiarkan Ji Hyo menyusul di belakanganya. Jinki tak bisa lagi meraih tangan yeoja itu untuk menariknya ke dalam rumah. Ia pun tak kuasa merangkul pundak yang kini sangat rapuh di matanya itu. Bagaimanapun Jinki sadar, yeoja itu adalah masa lalunya. Masa sekarang Jinki adalah Heera.

Sofa putih menjadi plihan Ji Hyo untuk duduk, sementara Jinki lebih memilih duduk pada couch yang terdapat di seberangnya setelah ia mengambil sekaleng cola dari kulkas mini yang ada di ruang tamunya itu. Satu kaleng ditaruhnya di hadapan Ji Hyo. Memang bukan kaleng yang sama, tapi semua minuman cola selalu membuat Jinki teringat sesuatu.

“Kau tak berubah, soft drink bersoda adalah favoritmu. Mian, aku sedang tidak bisa minum ini,” Ji Hyo menolak sopan minuman yang disuguhkan Jinki.

Mwo? Woaah… bukankah kau yang pada awalnya membuatku menggemari minuman sejenis ini? Ckck, baguslah, kau sedang menerapkan gaya hidup yang lebih sehat rupanya.”

“Ah, bukan seperti itu sebenarnya.” Raut wajah Ji Hyo berubah mendadak, muram dan sorot matanya bertambah sendu.

Jinki memberikan fokus lebih untuk mengamati perubahan mimik wajah Ji Hyo. Ia tahu ada beban dalam kalimat terakhir Ji Hyo. “Kenapa? Kau dilarang minum soda oleh dokter? Apa alasannya?” pancing Jinki cepat.

“Soda tidak baik untuk wanita yang sedang mengandung. Para Ibu yang kerap menenggak minuman ringan bersoda mengandung pemanis buatan mengalami risiko besar melahirkan bayi prematur.” Tersenyum miris, tangan Ji Hyo mengelus perutnya yang belum terlalu besar. “Baru dua bulan, tapi aku bertekad akan menjaga kandunganku dengan hati-hati dan merawat karunia ini sebaik mungkin.” Dengan penuh kelembutan, matanya tertuju pada perut itu.

Jinki terhenyak, kelu pun mengunci lidahnya hingga tak ada kata yang mampu ia lontarkan. Sedikit rasa pilu itu ada. Ya, bagaimanapun besarnya rasa cinta Jinki untuk Heera, yeoja bernama Han Ji Hyo ini telah mengisi hidupnya selama bertahun-tahun. Berbekas, tidak sepenuhnya rasa untuk yeoja ini bersih. Walau hanya sekecil partikel debu, tetap saja mengganggu dan membuat matanya sedikit perih, memerah mungkin.

“Beruntunglah orang yang menjadi appa dari bayimu ini. Kenapa kau tidak mengabariku tentang resepsi pernikahanmu?” Bersikap lapang dada memang tak mudah, namun Jinki tetap mencoba tersenyum setulus yang ia mampu.

“Ah itu… mian. Sebagai gantinya aku akan mengabari begitu bayi ini lahir.” Ji Hyo menunduk lebih dalam, tak berani menatap wajah Jinki. Ini hanya sekelumit kisahnya, namun Ji Hyo tahu namja di hadapannya ini cukup terpukul. Akhirnya Ji Hyo memilih berhenti, tak melanjutkan apa yang mendekam jauh di dasar hatinya, yang membuatnya resah hingga sering kali tak dapat memejamkan mata dengan tenang. Tapi Ji Hyo tak ingin egois, tak ingin memaksa Jinki untuk terseret lebih dalam ke lubang ini. “Sebenarnya, inilah yang ingin kukatakan… nggg, sekarang giliranmu. Kurasa kau pun sedang punya masalah.”

“Ooo, ne. Hanya masalah kecil dengan kekasihku, situasi kacau membuat mood-nya hancur lebur. Aku bisa mengerti, yeoja memang sangat bergantung pada perasaan.” Jinki mencoba bersikap biasa, tidak juga bercerita terlalu banyak. Ia memilah mana yang layak diceritakan dan tidak.

Yeoja yang menjadi kekasihmu pasti sangat beruntung,” gumam Ji Hyo lirih. Tanggannya buru-buru meraih sebuah bingkisan terbungkus kertas daur ulang dari tasnya, ia tak ingin terjebak dengan perasaannya. “Ini untukmu, miniatur Menara Pisa khas Italia.”

“Ah ne, gomawo.” Jinki sedikit tersanjung karena yeoja itu masih mengingat pesanannya. Walau bukan benda mahal, Jinki pernah mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah harganya, melainkan kenangan dari orang yang pernah dicintainya itu. “Tidak kusangka kau masih mengingat ini,” imbuhnya setelah melamun cukup lama.

“Tentu, tentangmu, sedikitpun tak ada yang kulupakan,” timpal Ji Hyo kilat.

“Lupakanlah mulai sekarang. Wanita yang sudah bersuami tidak selayaknya mengenang kekasihnya, hanya akan menodai perasaan yang kau punya untuk suamimu,” ujar Jinki tegas. Sedikitpun ia tidak mau lubang harapan itu terngaga di dalam hidupnya maupun di dalam hidup Ji Hyo. Bagi Jinki, pernikahan adalah hal yang dapat menutup semua pintu untuk meraih siapapun, hidup yeoja ini telah menjadi milik pasangannya secara utuh.

***

‘Berarti kau menganggap kalau selingkuh adalah hal yang mungkin terdapat di dalam kamusmu?’

Sungguh kepolosan hati itu menyandera pikirannya kini. Seperti dipojokkan oleh pertanyaan seorang bocah cilik nan lugu yang tak mengerti apapun, yang tak pernah berpikir tentang strategi bertahan dari musuh kehidupan yang bernama kesengsaraan.

Jika nyatanya memang apa yang dituduhkan Ha In benar—bahwa selingkuh itu memang ada di dalam kamus Yoochun—biasanya namja itu tetap tak menganggap bahwa hal yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar. Namun kali ini ada yang aneh, ya, Yoochun yakin dirinya sedang tidak waras. Bagaimana bisa rasa bersalah itu muncul dalam pikirannya justru di saat seperti ini?

Honey, waeyo? Keningmu berkerut seperti itu, kau sedang banyak pikiran? Terlalu lelah?”

Buyar. Semua suara-suara yang tengah berkecamuk di dalam batinnya, pecah berkeping-keping saat suara wanita itu terdengar.

Aniyo, aku tidak apa-apa. Nuna, aku mandi dulu. Kau tunggulah aku sebentar, ya?” Yoochun tersenyum, bangkit setelah meraih handuknya yang sejak tadi masih terlipat rapi di sofa.

“Kau bohong. Duduklah, ceritakan!” Wanita itu mendorong tubuh Yoochun hingga mendarat di kursi. “Bukankah kita sudah berjanji untuk saling bercerita?”

Yoochun membetulkan posisi duduknya, ia melihat ke arah jarum jam yang ada di ruangan tersebut. “Nuna, duduklah,” pinta Yoochun tak lama kemudian.

Wanita itu mengangguk riang. Namun, ia bukan duduk seperti yang diminta Yoochun, melainkan membaringkan tubuhnya dengan kepala yang beralaskan paha kekasihnya itu. “Maaf rambutku membasahi celanamu,” ujarnya sambil mengerling.

“Tak apa. Ehem, Nuna… aku hanya sedang berpikir. Hidup itu berputarnya seperti roda yang kadang di atas, kadang di bawah… atau, seperti dua jarum jam yang berputar?” tanya Yoochun dengan fokus matanya yang tak terlepas dari jam.

“Apa bedanya? Sama-sama berputar, kan?”

“Jelas berbeda. Roda, titik atas dan bawahnya tak punya patokan nilai. Lain halnya dengan perputaran jarum jam, atasnya adalah angka 12, dan bawahnya angka 6. Kau paham maksudku? Hidup, kalau aku menganggapnya sebagai putaran roda, maka definisi titik atas dan bawah itu relatif—tak tersangkut-paut dengan nominal—dalam hal ini posisi di atas dan di bawah tidak melulu tentang angka yang kita punya. Tapi, kalau aku menganggap hidup itu seperti putaran jarum jam, maka posisi atas bisa diraih kalau aku berhasil menggapai angka 12, dalam hal ini kuanalogikan sebagai nominal uang yang besar,” papar Yoochun yang nampak terhenyak dengan kata-katanya sendiri.

“Jadi, kau tipe orang yang mana?” tanya wanita itu antusias. Ia tampaknya mulai bisa meraba ke mana arah perbicangan ini.

“Itulah yang membuatku berpikir lebih. Nuna, kau tidak merasa benci dengan orang sepertiku?”

“Benci? Tidak. Pada dasarnya kita saling membutuhkan. Aku tidak minta hatimu sepenuhnya karena aku tahu itu hanya milik istrimu. Kau juga, bukan tipe namja serakah yang ingin mengeruk hartaku sampai tak bersisa, kau hanya meminta sesuai dengan yang kau beri. Jadi, aturan seperti ini cukup adil, ‘kan?” Wanita itu meraih tangan Yoochun, mengelusnya pelan sebagaimana Yoochun sering melakukannya.

“Hh, Nuna… aku pun sering berpikir seperti itu. Tapi entah mengapa, detik ini aku sedang berpikir begini. Alasan, ya, memang nyatanya alasan itu diciptakan untuk menjadikan apapun seolah menjadi benar. Tapi, apa boleh kita menjadi orang yang selalu mencari alasan?” Yoochun tersenyum getir, membalas dengan mengusap lembut pipi wanita itu.

“Yoochun-ah, jangan lanjutkan percakapan ini, aku tidak ingin membayangkan kelanjutannya. Malam ini, kau hanya perlu menemaniku. Jangan berpikir terlalu banyak, oke?” Guratan cemas terpatri jelas di wajah wanita itu, sementara telunjuknya tertempel di bibir Yoochun. “Basuh tubuhmu dengan air, biar segar. Kau hanya terlalu lelah hingga pikiranmu menjadi terlalu kompleks.”

Nuna, bagaimana jika suatu saat nanti aku melanggar aturan itu?”

***

“Wohoooo, kau datang juga rupanya.” Max merangkul pundak Key yang baru datang bersama Nara. “Tenang saja, tak perlu takut. Hari ini cukup menyimak saja, Key.” Max memamerkan senyum culasnya, hanya dibalas dengan kerjapan mata Key.

Bola mata Key bergerak pelan, memperhatikan beberapa namja yang tengah mengerumuni sebuah motor racing merah— yang telah dimodifikasi banyak—sembari ber-high five ria. Oh, mungkin motor itulah yang nantinya akan bertanding, pikir Key.

“Key, ayo ikut aku.” Tangan Nara menarik tubuh Key menuju kerumunan yang sedang Key perhatikan tadi. “Hey everybody, kalian lihat siapa yang datang bersamaku?”

Malam membuat wajah-wajah itu bertambah lebih mengerikan dan terkesan garang. Ya, Key masih berpikir demikian. Ia belum menikmati dunia barunya, masih belum terbiasa dengan tampilan gothic yang terhampar di hadapannya. Face piercing rupanya masih menjadi hal yang tabu bagi Key, sekalipun ia memang seorang fashionista tadinya. Tidak, bukan seperti ini caranya memadukan fashion, Key masih menggerutu di dalam hatinya.

Osh, kenapa aku terlalu rumit? Oh Ayolah Key, tiap kalangan punya style sendiri, punya selera masing-masing yang menurut mereka menarik. Bukankah kau sendiri yang minta dijadikan menyerupai mereka? Artinya, sebenarnya kau sudah mengakui bahwa mereka inilah patokan arahmu selanjutnya. Kau juga seharusnya tidak protes, Key! Lihat, sekarang bahkan kau tak banyak berbeda dengan mereka? Siapa yang tahu kalau tadinya kau adalah namja yang sering dikatai cantik, manis, ataupun imut.

 

Suara-suara itu menari riang, merobohkan segenap keraguan yang Key pendam sejak Nara selesai  dengan tugas yang diberikan Ken. Key tahu bahwa ini baru permulaan. Style-nya boleh berubah, namun hatinya masih merasa ciut. Melihat sorot mata orang-orang yang bersamanya saja sudah menggentarkan, belum lagi membayangkan kehidupan yang menunggunya di depan. Oh, melihat darah saja sebenarnya Key ingin berteriak—sementara Nara jelas mengatakan bahwa darah dan pertarungan adalah lumrah bagi kelompoknya.

It’s so cool, Nara-ya. Inikah wujud Key yang Max ceritakan?” Salah seorang dari mereka mengelus pipi Nara, lalu menepuknya pelan. “Ya! Kau membuat image keren Ken berkurang setelah hasil karyamu yang satu ini di-launching-kan,” candanya lagi, kali ini matanya melirik pada Ken—namja yang sedang berkaca pada spion motor merah tadi.

“Hey, tidak, tentu tidak ada yang dapat mengalahkan aku,” Ken membalas sembari terkekeh. Ah, bahkan cara Ken tertawa saja membuat Key takut, di dalamnya seperti terselip kesan menantang.

“T-tentu, kita berbeda jauh, Ken,” sahut Key ragu.

“Ya! Santai, Boy. Jangan takut pada kami, juga padaku. Bukan karena kau junior maka kau harus selalu mengalah dan kalah. Tidak, jalanan memberikan kesempatan yang sama untuk kita. Kau bisa mengalahkan aku jika nantinya kau berhasil menaklukkan aku di arena ini. Sekarang, kau hanya perlu menyimak. Perlahan, kau akan mengerti kehidupan yang akan kita jalani bersama ini. Bersama, ya, kau boleh membunuh aku jika kami meninggalkan kau seorang diri.” Ken meraih pundak Key ke dekatnya, menepuk pelan.

Gelak tawa kembali membahana, memenuhi udara malam yang dingin menusuk kulit, mencabik-cabik ketenangan hati Key. Jelas, mundur dan kembali bermanja-manja dalam pelukan eomma-nya, bukanlah option yang ada di dalam rencana Key. Namja itu tahu betul, sebentar lagi ia harus belajar dengan cepat. Motor, ah ya, kendaraan yang satu itu memang cukup sering menemani perjalanannya ke kampus ketika mobil Nyonya Kim sedang dipakai. Namun jelas berbeda antara mengendarai motor dalam kecepatan normal dan menggerakkan lajunya di bawah tekanan seperti yang akan disaksikannya sebentar lagi.

“Itu mereka datang!” seru Max ketika beberapa motor datang bergabung.

Malam menggerutu, terusik oleh keangkuhan deru kendaraan-kendaraan yang muncul. Bukan suara jangkrik ataupun desik dedaunan yang tersapu kesiur angin sejuk yang tertangkap telinga, bukan pula suara dengkuran manusia yang sedang terpekur dalam lelap.

Start from now, your new life. Let’s break the rules. Aturan itu ada untuk ditantang atau bahkan dilanggar,” bisik Nara tajam, membuat Key terpaku dalam selimut dunia malam yang berbaur dengan nuansa ketegangannya.

“Wow, aku terlambat rupanya. Kumpulan anjing sudah menyalak minta tulang,” salah satu pengemudi motor-motor yang baru datang tadi berucap sinis, melepas helm yang menutupi wajahnya.

“Santai saja, Mir. Anjing tidak segalak yang tampak, ia masih bersabar. Tak apa, lima menit tertunda demi sebuah kemenangan,” sahut Ken sambil siaga kembali di atas motornya, melemparkan senyum untuk rival abadinya itu.

“Tapi sesungguhnya, buaya itu lebih mengerikan. Dia tenang dan santai, tak banyak cakap namun sekali bergerak maka mangsannya habis sekejap mata,” timpal Mir sinis.

“Baiklah, mungkin malam ini akulah buayanya. Kita mulai?” Ken mencibir, menaikkan resleting jaketnya dengan mantap.

“Sebentar. Wah, rupanya ada pendatang baru.” Mir turun dari motornya, menghampiri Key yang masih mematung di dekat motor Ken. “Keren juga. Besok-besok giliranmu yang ditantang oleh kawanku. Bagaimana, Kira-ya?” Pandangan Mir terlempar pada sosok temannya yang masih bertahan di atas kendaraannya.

“Hei, dia pemain baru. Tidak sebanding dengan Kira-mu itu sekalipun dia hanya yeoja,” Ken angkat bicara. Tentu sebagai ketua kelompok, dia harus melindungi Key yang notabene masih belum mengerti apapun.

“Wah, kau meremehkan rekanmu sendiri. Pemula bukan berarti tak punya kemampuan, lagipula seharusnya namja tak akan menyerah pada yeoja. Bukan begitu, Eagle Eyes?” Yeoja bernama Kira itu turun, bergabung bersama Mir setelah membuka kaca helm yang menutupi wajahnya tadi. Mata tajam itu menatap bola mata Key, bertatapan lama seolah ada sesuatu yang tengah berkecamuk di dalam pikiran masing-masing.

Tangan Key mengepal keras. Rasa tertantang itu berhasil mencuat hingga titik puncaknya. Namja tak akan kalah dari yeoja. Ya, mulai sekarang prinsip itu akan ditanamkan ke dalam pikirannya. Terlebih,

Ada sesuatu—entah apa itu—mendadak menabuhkan genderang peperangan di dalam batinnya.

“Minggu depan, giliranmu. Bagaimana?” tanya Kira dengan nada yang sedikit terkesan meremehkan.

“Kira-ya, bukan Ken yang meremehkan kemampuan Key, melainkan dirimu sendiri. Lihat bagaimana caramu menatap Key. Cih, kenapa kau hanya berani menantangnya? Kenapa tidak menantangku?” Joon maju, menghalangi tubuh Key sehingga dirinyalah yang kini beradapan dengan Kira.

“Kau? Huh, tidak mau. Aku tahu kau akan minta taruhan apa nantinya. Dan, aku selalu penasaran dengan orang baru. Apa tidak boleh?” balas Kira datar. Emosinya tak tersulut.

“Kau tenang saja, Joon. Key pasti mau. Benar begitu, Key?” Nara memotong sebelum ia mendengar percakapan sepasang mantan kekasih yang hanya akan membuatnya tergelak itu.

Ne, minggu depan,” jawab Key setengah pasrah. Tak siap, tapi juga tak ingin mundur.

“Ya! Key, jangan gila!” teriak Ken kesal. Usahanya untuk melindungi Key gagal karena Key sendiri yang nekat.

“Key? Jadi namamu Key? Wah, kau mengingatkanku pada seorang temanku di dunia yang lain. Tapi tentu kau berbeda. Kau terlihat keren dan menantang, berbeda dengan Key yang itu.” Kira tertawa, melenggang santai menuju motornya lagi. “Mir, aku ingin melihat pertunjukan indah malam ini.” Yeoja itu menyilangkan tangan di dadanya, seolah yakin dengan kemampuan rekannya itu.

“Tentu, malam ini akan indah,” jawab Jun yakin.

To Be Continued

Makasih buat Nandits as usual. Juga buat Lusi yang udah mau dengerin cerita aneh ini, besok-besok bakal kuteror lagi kalo di otakku muncul ide sableng, wkwkwk. Makasih buat semua yang udah mau baca, jangan bosen-bosen ya.

Aku mau ujian komprehenshif dulu, materinya dari awal kuliah ampe materi sekarang dan aku cm punya waktu 53 hari. Jadi, aku mau ngilang dulu. Tetep kok, aku masih nulis Forward ama lanjutin Namja, tapi ya nulisnya ga bisa lama-lama karena harus belajar juga #ketauanbiasanyamalesbelajar. Walau Cuma 1 paragraf, aku pasti ada aja nulis tiap harinya, minimal baca source2 yang kubutuhin ^^

Ditunggu masukan dan opininya ya? *bow*

Source:

Soda tidak baik untuk ibu hamil:

Di sini

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Namja – Part 7

  1. aha! Makin keren aja, Bib..
    Dan key, aku bisa meleleh kalo liat penampakan dia seperti yg kamu ceritain..
    Oya, sedikit menyesal dan malu aku di sini hanya bisa jadi penikmat saja.. Tanpa bisa ngasih masukan ato koreksi.. Kadang aku minder sama komen2 lain yg tampak lebih bermutu.. Ehe, mian jadi curcol..
    Aku kasih semangat aja ya..
    Next ditunggu.. Aku bener2 seneng sama FF bermutu ini..
    FIGHTING!!!

    1. Aaa, Key? Entah, aku separuh meleleh separuh miris.

      Ga apa2 lah eon, mau komen juga aku udah ngucapin makasih banget loh😀

      Makasih eonni buat semangatnya ya ^^
      Part 8 mungkin agak lamaan krn aku lagi fokus di kuliah dulu.

      Ne, fighting! Sekali lg thanks ya eonni

  2. ehhmmm…
    annyong on…
    key jadi anak punk gtu kah on…
    agak2 ng mudeng aqnya…
    ceritaya beda dari ff lain yang biasa aq baca ,beda genre juga ya hehhe
    bagus sih on…
    buat penyegaran…
    fighting on.. ^^

    1. Errr, bukan anak punk. Punk mah ga gini style-nya. Mungkin lebih mirip ke… emo?
      Au udh riset kecil2an sih tt ini, tp watir salah juga.

      Makasih ya vit udah baca. Jgn bosen2 ya ^^

  3. Ternyata jauh dari bayanganku, aku susah ngebayangin Key yg pake tindikan dibibir & hidung ><
    Jankamman, itu Yoochun ama siapa? dia selingkuh?? atau jangan-jangan…O.O
    Yeoja dari masa lalunya Jinki jg datang, aku ngerasa kalo ini bakalan nimbulin masalah antara Jinki-Heera. Aduhh, semoga engga deehh.
    Aigo, koq kayaknya makin belibet yahh.
    Onkey dehh next partnya ditunggu🙂
    Fighting ne buat ujian & nulisnya '-')9

  4. kemarin udah komen, dan entah mengapa tiba” saja komenku menghilang😦
    yasud deh

    pokokny ini keren luar biasa. narasiny, alurny, kece wooooi

    bibib kece banget dah, udah bikin ak makin benci sm Key yg begony luar biasa plin plan.
    mauny jjong sm in young aj titik!

    kritik saran? gak perlu kali yah. emangny apa lgi yg perlu direvisi kalo udah perfect kek gini
    lagipula ak gak tau cara mengkritik haha

    semoga sukses Bib, biar part 8 gak lama haha

  5. baguss… ini baru jln cerita yg unik.
    kupikirnya awalnya jln ceritanya cuma key yg melambai, trus dijelaskan bagaimana keseharian cowok2 seperti itu. dan endingnya bakalan berubah karna dia mencintai seorang wanita, jd cerita romantis ya? hahaha kebanyakan bca ff romance nih!!

    tapi itu semua gk ada diotak bibib eon!! eon punya jln cerita yg lebih, amazing!! aku gk nyangka hubungannya dgn ketemu ken berdampak key yg jd liar seperti ini. wahh keren2!

    untuk saran kl bisa lbih bykin adegan key, karnakan fokusnya ada di masalah key. jujur td rada keganggu dgn cerita teman2 key yg lain🙂

    1. ga semudah itu berubah han, apalagi untuk berubah dr gemulai jd macho. Kalopun tampilan berubah, ada gerak tubuh, karakter khas, ataupun pola pikir yg masih terbawa. Butuh terdesak kondisi, mungkin seseorang bisa brubah perlahan

      tp sebenernya, bukan perubahan itu yang ingin aku sampaikan dlm kisah ini. ntar deh ya, hehe

      makasih ya han udah rajin mampir😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s