Friendship Game [2.2]

Author                                     : Kim Nara

Beta Reader                           : mybabyLiOnew

Main Cast                               : Lee Taemin, Han Sohwa (OC)

Length                                    : Twoshot

Genre                                      : Friendship, Romance

Rating                                     : PG-15

Some scene adapted from     : Pesan Dari Bintang by Sitta Karina

Disclaimer                           : Karakter Sohwa di sini memang ciptaan aku tapi aku udah ngasih karakter ini lebih dulu ke Yuyu dan ternyata malah FFku duluan yang duluan publish. Jadi anggaplah kalau Nandits penciptanya, Yuyu pemilik pertama dan Kim Nara pemilik kedua hehe.

A/N                                      : Nama Han Sohwa emang aku pinjem dari Sohwa, salah satu admin SF3SI kita yang baik hati dan tidak sombong atas saran dari Yuyu. Makasih yaa Sohwa udah mau pinjemin namanya hehe. FF ini pernah dipublish sebelumnya di wp pribadi aku. Saran dan kritik yang membangun diterima banget lho. Happy reading 🙂

FRIENDSHIP GAME – PART 2

2012©Kim Nara

 

You can’t stop the feelings you have for someone. You can’t lie to yourself either. Your heart knows the truth too well.

Putitinwords

 

Another perfect date.

Kali ini Jiyoung ingin menikmati capuccino di Kona Beans. Memang dari semua date yang mereka jalani, hampir 90% atas keinginan Jiyoung. Bukan karena Jiyoung tidak pernah mau menuruti usulan dari Taemin tapi pria itu itu memang tidak pernah berkata apa-apa. Semua keputusan ada di tangan Jiyoung dan ia senang-senang saja akan hal itu.

Semuanya berjalan dengan normal, meski tidak cukup untuk dikatakan sempurna.

Karena hati Taemin terasa hampa…

Di bagian luar Kona Beans, melintas sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang bercanda kasual. Taemin melihatnya dan hal itu membuatnya diam-diam tersenyum sentimentil, seolah-olah dapat merasakan juga kehangatan yang melingkupi kedua orang itu. Membuatnya teringat pada Sohwa…

Ia meraih ponsel yang ia letakkan di meja dan berancang-ancang untuk menghubungi nomor yang begitu lekat di ingatannya. Ia hampir menyentuh ikon berbentuk gagang telepon berwarna hijau ketika menyadari siapa gerangan gadis yang sedang duduk manis sambil membaca sebuah majalah di hadapannya saat ini.

Sesaat ia merasa tertangkap basah. Menghubungi Sohwa saat sedang kencan dengan Jiyoung? Untung saja niatnya tidak diteruskan. Taemin bertanya-tanya, mengapa hatinya menjadi bercabang begini? Ia duduk saat ini, di hadapan kekasihnya, tetapi hati dan pikirannya melayang ke tempat yang sesungguhnya ia tahu ke mana.

Kepada Han Sohwa.

Pintu Kona Beans yang bergemerincing dan suara berisik yang mulai memenuhi ruangan kedai itu menarik perhatian Taemin. Ia melihat ada sekelompok laki-laki dan perempuan, yang dari jaketnya saja sangat jelas bahwa mereka adalah tim basket SNU, masuk, dan memenuhi sudut lain dari kedai ini yang terletak lebih dalam.

Ah iya, lagi-lagi ia melewatkan pertandingan basket sahabatnya itu. Padahal tahun lalu ia tidak pernah melewatkannya. Mata pria itu mencari sesosok gadis yang sampai saat ini masih memenuhi pikirannya. Tapi sekeras apa pun usahanya untuk memperhatikan satu persatu wajah orang-orang itu, Taemin tetap tidak menemukan orang yang dicarinya.

“Sepertinya tim basket kita menang lagi.”

Suara feminim yang terdengar sangat dekat itu membuat Taemin tersadar dan menariknya kembali kepada kenyataan bahwa kini ia sedang berada dengan Jiyoung. Tidak seharusnya mata Taemin mencari gadis lain seperti itu. Jahatkah dirinya? Di satu sisi tangannya menggenggam tangan Jiyoung, tetapi di sisi lain hatinya terus berlari mengejar bayangan sahabatnya sendiri. Di mana saat Sohwa berdiri tepat di depannya, pada jarak yang begitu dekat, ia malah memalingkan muka. Apa yang ia inginkan sebenarnya? Menyakiti kanan-kiri?

“Taemin-ah, tau tidak? Aku sempat mengira kau menyukai Sohwa,” ucap Jiyoung tiba-tiba. Gadis itu menatap kedua manik mata Taemin seolah mencari kepastian di dalamnya.

Geurae?” Taemin memalingkan wajahnya ke gelas kopi di depannya setenang mungkin, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Ne. Karena tidak mungkin laki-laki dan perempuan bisa berhubungan dekat hanya sebagai sahabat, seperti kau dan Sohwa. By the way, apa yang membuat kalian bisa bertahan hanya sebagai sahabat selama empat tahun?”

Taemin sampai tidak tahu harus menjawab apa. Ia sempat tersedak ketika akan bersuara, “Apakah itu penting?”

Jiyoung merubah posisi duduknya yang semula bersandar pada kursi dan memajukan tubuhnya sambil melipat kedua tangannya di atas meja, “Penting bagiku. I’m so curious.”

Wae?” Taemin setengah berbisik, menyesali pertanyaan yang diutarakan kekasihnya itu, “Kenapa kau membicarakan hal ini di dalam kencan kita. Isn’t it kind of disturbing?

Jiyoung menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang seakan tahu segalanya. Ada sedikit senyum meremehkan yang menghiasi bibirnya. Meski gadis itu mencoba menutupinya tapi Taemin dapat menyadarinya juga, “Mengganggu. Hanya jika kamu tidak jujur kepadaku.”

Mendengar itu Taemin membeku di tempat. Tetapi sejujurnya ia merasa kata-kata Jiyoung bagian ‘apa-yang-membuat-kalian-bisa-bertahan-hanya-sebagai-sahabat-selama-empat-tahun’ terus berputar-putar di otaknya, “We simply care for each other. That’s the meaning of true friend,” Taemin mencoba menjawab seadanya.

Sesuatu yang bervibrasi di meja membuat pembicaraan berhenti sejenak. Diam-diam Taemin menghela napas lega karena merasa diselamatkan oleh ponselnya dari situasi yang genting.

Yeoboseyo?

Jeda sesaat. Tidak lama kemudian Taemin menepuk keningnya sendiri kemudian berkata, “Astaga! Aku lupa. Mian, mian, aku akan segera ke sana.”

“Ada apa?” Jiyoung bertanya kepada Taemin bersamaan ketika pria itu mengakhiri pembicaraannya dengan si penelepon.

“Aku lupa hari ini ada tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok. Teman-temanku sudah berkumpul di kampus sekarang,” jelas Taemin dengan nada suara yang justru terdengar lega di telinga Jiyoung, “Maaf ya aku rasa aku harus pergi,” Tapi setelah itu nada suara pria itu pun berubah ketika mengucapkan kata maaf dan yang terdengar kali ini benar-benar nada penyesalan.

Gwaenchanha. Kau pergi saja, aku masih ingin di sini,” ujar Jiyoung sambil tersenyum manis.

Arasseo, aku pergi dulu ya. Maaf rencana kita malah menjadi kacau,” Taemin bangkit dari duduknya lalu menatap Jiyoung dengan pandangan tidak enak. Ia merasa sangat bersalah dengan gadis itu. Pertama, karena ia harus meninggalkan Jiyoung seorang diri di tengah-tengah kencan mereka. Kedua, dan yang paling fatal adalah karena ia memikirkan gadis lain justru saat ia sedang bersama kekasihnya.

Jiyoung juga bangkit dari kursinya, memutari meja dan berdiri tepat di hadapan pria itu. Ia menggamit jemari tangan kanan Taemin dan menatap pria itu lama sampai akhirnya ia berkata, “Tidak apa-apa. Berhati-hatilah di jalan.”

Taemin tidak dapat mengelak ketika tiba-tiba Jiyoung mendaratkan tangan halusnya di bahu kiri Taemin, berjinjit dan menyentuhkan bibirnya ke bibir pria itu lama.

TRING… TRING….

Taemin mendengar gemerincing bel dari pintu masuk Kona Beans yang menandakan ada pelanggan yang datang. Tapi karena saking terkejutnya dengan tindakan tiba-tiba dari Jiyoung, Taemin nyaris merasa seluruh fungsi tubuhnya mati sementara. Hanya detak jantungnya saja yang tetap bekerja… dan anehnya bekerja dengan sangat normal. Ia terkejut, namun tidak ada detak-detak berlebihan yang menyakitkan dadanya.

TRING… TRING….

Ketika gemerincing bel kedua terdengar, Jiyoung pun melepaskan sentuhan bibirnya dari bibir Taemin. Ciuman tadi memang hanya sebuah sentuhan, bukan ciuman yang menuntut. Apa yang Jiyoung lakukan tadi adalah usaha yang ia lakukan untuk membuktikan prediksinya selama ia menjadi kekasih Taemin, bahwa pria itu tidak sungguh-sungguh mencintainya.

Jiyoung memandang Taemin yang masih terdiam di hadapannya. Gadis itu bahkan dapat melihat bagaimana datarnya ekspresi Taemin meski ia baru saja mencium pria itu. Jiyoung tersenyum kecil sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan yang membuat Taemin menaikkan sebelah alisnya ketika melihat tingkah laku Jiyoung.

“Kau adalah pria yang baik… Terlalu baik, sampai matamu tidak bisa berbohong dan menunjukkan dengan jelas kepada siapa hatimu bertaut.,” ujarnya sambil tersenyum. Tangannya mengelus pelan pipi Taemin yang halus, “…dan orang itu bukanlah aku. Han Sohwa-lah orangnya.”

Taemin terkesiap pelan ketika Jiyoung mengatakan hal itu. Tapi hal yang paling membuatnya terkejut adalah karena gadis yang ada di hadapannya sekarang terlihat sangat tenang. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak terluka karena ketidakpastian perasaan Taemin.

“Maafkan aku Taemin, ku rasa kita berdua memang tidak benar-benar saling menyayangi. Perasaanmu yang sesungguhnya hanya kepada Sohwa dan perasaanku yang sesungguhnya pun bukan kepadamu.  Sekarang pergilah dan temui Sohwa. Katakan kepadanya tentang bagaimana perasaanmu sesungguhnya,” Jiyoung berkata panjang lebar kepada Taemin yang masih terdiam.

“Terima kasih,” akhirnya Taemin hanya mampu mengucapkan dua kata itu. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia masih speechless.

Ani, aku yang berterima kasih kepadamu. Karena kau sudah tidak bisa menutupi lagi perasaanmu yang sebenarnya, jadi aku tidak perlu lebih menyakitimu dan selingkuh di belakangmu lagi,” Jiyoung berkata dengan santainya tanpa memedulikan ekspresi terkejut Taemin karena perkataannya itu.

Mwo? Kau selingkuh di belakangku?” Taemin memang murni terkejut, namun ia tidak merasa tersakiti sedikit pun. Ia terkejut karena mata Sohwa benar-benar tajam mengenai Jiyoung yang tidak bisa setia dengan satu pria, “Kali ini kau tidak perlu selingkuh lagi. Kau sudah bisa pergi ke sisinya juga kalau begitu… dan jangan mengulangi perbuatanmu lagi. Arasseo?” ucap Taemin lagi.

“Ya ampun, Lee Taemin! Ini benar-benar bukan gayaku. Sebelumnya aku tidak pernah mengakui secara terang-terangan kalau aku selingkuh dan aku juga tidak pernah membiarkan pria pergi begitu saja. Aku selalu membuat mereka memohon kepadaku untuk kembali menjadi kekasih mereka, kemudian aku akan membuang mereka begitu saja. Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan hal itu kepadamu. Kau terlalu baik. Aku bisa merasakan bahwa kau menghargaiku sebagai seorang perempuan. Bukan karena kecantikanku tapi murni karena kau ingin memperlakukanku dengan baik. Hmm… mian karena aku harus sampai menciummu untuk membuktikan prediksiku selama ini.”

Taemin tersenyum simpul mendengar apa yang dikatakan oleh Jiyoung. Ya, memang dia selalu berusaha untuk memperlakukan gadis itu dengan baik meski hanya sebatas itu, bukan karena ia benar-benar mencintainya, “Aku mempunyai ibu yang hebat, juga sahabat perempuan yang membuka mataku terhadap segala hal. Dia amat spesial,”

“Siapa? Ibumu atau sahabatmu?” Jiyoung gatal ingin terus mengusik Taemin. Ia puas sekali dengan ekspresi Taemin yang lagi-lagi terkesiap karena kata-katanya. Kasihan Taemin, hari ini ia terlalu banyak mendapatkan kejutan.

“Sudahlah. Aku pergi sekarang ya. Annyeong,” Taemin pun mengambil tas dan ponselnya. Jiyoung hanya mengangguk sambil tersenyum mengikuti kepergian pria itu. Tapi belum di saat langkahnya yang ketiga Taemin justru membalikkan badannya dan kembali ke hadapan Jiyoung.

“Terima kasih banyak karena membantuku untuk memahami perasaanku sendiri. Semoga kau mendapatkan pria yang bisa membuatmu lebih setia,” ujar Taemin sambil memegang kedua bahu Jiyoung.

Gadis itu tergelak mendengarnya, namun di saat yang bersamaan pun dia tertohok. Ya, mungkin harus dipertimbangkan lebih jauh lagi untuk masalah setia. Ia rasa sekarang ini memang sudah bukan waktunya lagi untuk bermain-main dalam urusan percintaan.

***

 

People say the bad memories cause the most pain. But actually, it’s the good ones that drive you insane.

Putitinwords

 

Sohwa berjalan cepat tanpa mempedulikan rasa ngilu yang menyerang pergelangan kakinya. Ia tidak bisa berpikir dengan benar saat ini. Yang ia butuhkan adalah sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari apa yang ia lihat tadi.

Ia merasakan ada cairan lembab dan basah yang mengalir di pipinya. Sial, bahkan kerja kelenjar air matanya sudah tidak dapat ia kontrol lagi. Langkah kaki yang cepat itu kini menjadi lebih cepat lagi hingga akhirnya gadis itu berlari.

Ketika ia tersadar, kakinya telah membawa gadis itu kembali ke hall basket di mana pertandingan final berakhir pukul dua siang tadi. Sudah tidak ada satu orang pun di dalamnya. Tanpa pikir panjang, Sohwa melemparkan tas yang sejak tadi dibawanya ke pinggir lapangan dan berjalan ke arah keranjang yang penuh dengan bola basket. Ia mengambil satu bola, mendribble beberapa kali kemudian melakukan lay up.

Benarkah dirinya selama ini terlalu terhanyut dengan sikap Taemin yang baik –bahkan terlalu baik- kepadanya? Benarkah selama ini sesungguhnya ia mengharapkan sesuatu yang lebih daripada sebuah hubungan persahabatan? Mengapa sesakit ini rasanya melihat sahabat sendiri memiliki kisah cinta yang begitu membahagiakan? Mengapa sesakit ini melihat Taemin dan Jiyoung akhirnya berciuman?

Bukannya Sohwa tidak pernah menyadari perasaannya kepada Taemin. Seperti apa yang sering terjadi, tidak ada persahabatan yang murni di antara laki-laki dan perempuan. Pasti ada salah satu yang jatuh cinta pada yang lain dan hal itu tidak bisa dipungkiri begitu saja. Terlalu sering bergaul dengan seseorang pasti akan membuatmu merasa memiliki hak atas orang itu dan kini hal itulah yang terjadi pada diri Sohwa. Tapi selama ini ia memang selalu mencoba untuk menyangkalnya. Bagaimana mungkin sepasang sahabat akhirnya bisa menjadi sepasang kekasih? Lagipula Sohwa lebih takut dengan hal buruk yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana jika mereka tidak bisa mempertahankan hubungan mereka nantinya jika pada akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih? Karena mustahil mereka akan bisa kembali berteman atau bahkan bersahabat seperti dulu jika hubungan mereka putus di tengah jalan.

Banyak hal yang menganggu pikirannya selama ini, di mana Sohwa pun tidak mungkin membaginya kepada Taemin. Kini ia merasa bahwa ini adalah pertanda di mana ia harus menyerah. Menyerah untuk terus-menerus menyangkal perasaannya dan di saat bersamaan juga ia harus menyerah untuk terus mengharapkan suatu hal yang lebih dalam hubungannya dengan Taemin. Kenyataan itu rasanya semakin terasa pahit ketika ia hanya menemukan dua pilihan di dasar hatinya : ia menjadi kekasih dari Lee Taemin ATAU ia berhenti menjadi sahabat dari Lee Taemin dan melupakan semua hal tentang pria itu. Karena perlahan-lahan Sohwa mulai menyadari bahwa seorang laki-laki dan perempuan tidak mungkin menjalin hubungan persahabatan selama bertahun-tahun dan tidak merasakan apa-apa. Tidak sesederhana itu.

Yang paling menyesakkan adalah ketika ia ingin melupakan semuanya, kenangan-kenangan manis bersama Taemin justru bermunculan di benaknya, membuat hatinya bimbang atas keputusannya sendiri. Orang-orang mengatakan bahwa kenangan buruklah yang menyebabkan luka yang mendalam. Tapi nyatanya, justru kenangan manis yang bisa membuat lebih sakit. Dan kenangan itu terus bermunculan di benaknya, ketika Taemin melindunginya dan gadis itu merasa menyesal karena sama sekali tidak mengucapkan terima kasih.

*Flashback*

“Dengar ya, Lee Taemin, jangan pernah berkelahi lagi! Kau selalu berdarah seperti ini,” ujar Sohwa sambil meneteskan alkohol ke kapas, yang ketika cairan itu sedikit tumpah ke tangannya, ia merasakan sensasi dingin di permukaan kulitnya. Tapi di saat bersamaan ia tahu betul Taemin akan sangat kesakitan ketika ia menempelkan kapas itu ke luka yang berada di sudut bibirnya.

Taemin memutar kedua bola matanya. Bukankah suatu hal yang wajar jika berkelahi lalu berdarah?

“Ini parah sekali. Aku mendengar kabar bahwa pembimbing akademismu sampai murka ketika mengetahui hal ini terjadi. Kenapa kita tidak pergi saja sih tanpa kau harus menghajar Daewong?”omelan Sohwa masih berlanjut ketika gadis itu menempelkan kapas ke luka Taemin, yang menyebabkan pria itu harus meringis kesakitan karena rasa perihnya. Masih teringat jelas di benak Taemin ketika ia melihat raut cemas yang bermain di wajah manis gadis itu, ketika Sohwa melihat dirinya babak belur.

“Biarkan saja! Yang penting Daewong si tidak tahu sopan santun itu giginya sudah rontok sekarang,” sahut Taemin penuh kemenangan, seolah mengabaikan perkataan Sohwa sebelumnya. Tapi beberapa detik kemudian ekspresi Taemin berubah, pria itu mengalihkan pandangannya ke wajah Sohwa dan memberi tatapan yang penuh peringatan, “Dan kau…”

“Aku kenapa?” Sohwa bertanya ekspresi polos masih dengan memegang kapas dengan bercak darah di tangan kanannya.

“Kau harusnya berterima kasih karena aku telah membelamu sampai aku babak belur seperti ini. Jangan pernah lagi kau memakai celana jeans robek-robek seperti ini!! Bagaimana Daewong tidak menggodamu kalau robekan-robekan itu sampai setengah paha? Aku menyesal memperbolehkanmu membelinya waktu itu.”

*Flashback End*

Sohwa masih melakukan lay up, sesekali ia juga melakukan three point shoot. Rasa letih yang dirasakan tubuhnya tidak setara dengan rasa letih yang dirasakan hatinya. Dan tidak ada pelampiasan yang lebih baik daripada tangannya yang menyentuh bola basket. Ia akan terus melakukannya sampai perasaannya membaik. Meski membutuhkan waktu yang lama…

***

Taemin berdecak, entah karena kesal atau karena ada sesuatu hal yang lain ketika melihat jarum jam yang melingkar di tangan kirinya menunjuk ke angka empat.

Dua jam terasa seperti dua abad bagi Lee Taemin saat ini. Andaikan ia bisa langsung menemui Sohwa, pasti rasanya tidak akan segelisah ini. Bukan suatu hal yang buruk memang, ia hanya merasakan adrenalinenya terpacu dan membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Tangannya menjadi sedikit berkeringat, serta kerongkongannya terasa kering. Hal-hal yang bahkan tidak dirasakannya ketika ia ingin mengutarakan perasaannya kepada Jiyoung.

Setelah memutuskan berpisah dengan Jiyoung, bukan hanya secara fisik tapi juga ikatan yang ada di antara mereka, unexpectedly Taemin merasa lebih… bahagia? Dibandingkan dengan ketika ia mendapat jawaban ‘ya’ dari Jiyoung ketika ia mengutarakan perasaannya kepada gadis itu. Jadi sesungguhnya selama ini apa yang ia rasakan terhadap Jiyoung? Apa karena rasa penasaran saja? Apa perasaannya lebih ke sesuatu yang berhubungan dengan obsesi semata?

Perlahan-lahan Taemin menyadari bagaimana perasaannya kepada Sohwa yang sesungguhnya. Akhirnya ia mulai bisa memaknai dengan benar perasaan khawatirnya –yang selalu dinilai Sohwa terlalu berlebihan- jika terjadi sesuatu dengan gadis itu. Ia juga bisa memaknai dengan benar kenapa ia selalu merasa ada yang kurang jika sehari saja tidak bertemu dengan Sohwa, terlebih kenapa ia merasa Choi Minho atau lelaki mana pun tidak cocok dengan gadis itu. Belakangan ia sadar bahwa jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa bahwa dirinyalah satu-satunya lelaki yang cocok untuk seorang Han Sohwa.

Taemin melangkah keluar dari Student Centre sembari mengetik sesuatu di ponselnya. Sejak tadi Taemin mencoba menghubungi Sohwa namun gadis itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Semua pesan singkat yang dikirimkannya juga tidak dibalas oleh gadis itu. Sedikit demi sedikit rasa khawatir mulai menjalari perasaan Taemin. Ia tidak tahu harus mencari Sohwa ke mana, ia hanya mengikuti kemana langkahnya pergi.

Ia merasa beruntung ketika kakinya membawa pria itu ke tempat yang tepat.

Taemin mengintip ke dalam hall basket dan ia menemukan Sohwa sedang duduk di kursi pemain dengan wajah tertunduk. Pria itu dapat melihatnya dengan jelas bahwa kini gadis itu sedang terengah-engah dengan alasan yang sudah jelas, bahwa Sohwa lagi-lagi memforsir tubuhnya untuk latihan basket. Lagi pula untuk apa sekarang dia latihan? Toh mereka baru saja memenangkan pertandingan. Bukankah lebih masuk akal jika Sohwa bersenang-senang di Kona Beans tadi bersama teman-temannya, dari pada di tempat ini sendirian dan malah berlatih?

Ya, Han Sohwa,” Taemin tidak berteriak, namun suaranya cukup keras untuk didengar oleh gadis itu.

Tubuh Sohwa sedikit menegang ketika ia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, suara yang saat ini tidak ingin didengarnya. Gadis itu tahu persis bahwa sekarang wajahnya pasti sangat berantakan. Ia baru saja menangis, ditambah dengan kondisi tubuhnya yang memang sudah letih sejak awal. Bagaimana hancurnya kondisi wajah Sohwa sekarang dengan mata sembab, dark circle, bibir dan wajah yang pucat? Andaikan Sohwa bisa menyembunyikan wajahnya dulu untuk beberapa saat. Andaikan ia menuruti apa kata ibunya untuk selalu membawa perlengkapan make up yang praktis dan simple untuk keadaan darurat seperti ini, untuk menutupi wajah kusutnya. Ia malas menjelaskan kepada Taemin jika pria itu bertanya macam-macam kepadanya.

Sohwa berdiri dari duduknya, bermaksud untuk pergi yang —yang dia sendiri tidak tahu harus ke mana. Pokoknya ke mana saja, asal pergi dari hadapan Taemin. Tapi entah kenapa tubuhnya seolah tidak bertulang. Kakinya lemas sekali hingga ia harus meraih dinding terdekat untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

Taemin setengah berlari menghampiri Sohwa yang di matanya terlihat tidak sehat dan pucat. Pria itu segera memegang pangkal lengan Sohwa dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu, “Kau kenapa?”

Sohwa melepaskan rengkuhan Taemin. Ia mencoba berdiri dengan tegak meski kepalanya pusing luar biasa dan pandangannya berkunang-kunang, “Tidak apa-apa. Aku harus pulang,” ujarnya pelan.

“Biar ku antar,” kata Taemin yang kemudian membereskan beberapa barang milik Sohwa dan memasukkannya kembali ke dalam tas yang tergeletak begitu saja di bangku pemain.

BRUK.

Indera pendengaran Taemin menangkap suara yang mirip seperti ada sesuatu yang terjatuh. Tiba-tiba pria itu takut untuk membalikkan badannya dan sekedar memeriksa apa yang terjadi di balik punggungnya.

“Soo?” bisik Taemin. Alih-alih membalikkan badannya, pria itu terus terpaku pada seleting tas di hadapannya yang sedang dipegang dengan erat.

“Soo?” Panggilnya lebih keras. Suara pria itu sedikit bergetar, terselip nada khawatir di sana.

Ketika tidak terdengar suara yang diharapkan dapat menjawab panggilannya, Taemin pun membalikkan badannya. Detik itulah ia merasa jantungnya seperti jatuh ke tanah.

***

Cahaya lembut mentari pagi tanpa malu-malu menerobos gorden putih khas aksesoris rumah sakit, mengetuk halus jiwa Sohwa. Gadis itu merasa seharusnya ia sudah terbangun sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi ia tidak bisa, lebih tepatnya tidak ingin, memaksakan tubuhnya lagi. Namun, di saat secercah cahaya membayangi kelopak matanya yang masih tertutup, Sohwa tidak dapat menolak untuk tidak segera membuka matanya…

…untuk menemukan seorang pria tampan dengan rambut coklat, memakai polo shirt abu-abu dan celana jeans, sedang tertidur di sofa dengan lelapnya. Sofa yang panjang dipenuhi dengan tubuh tinggi pria itu, kakinya terjulur hingga ke ujung sofa. Tangannya bersedekap di dada sedangkan headset berwarna putih terjulur ke telinganya.

Sohwa turun dari ranjang dan berjalan mendekat ke arah sofa. Kemudian ia berjongkok di sampingnya, tepat menghadap ke wajah pria itu. Sohwa memeluk lututnya dan menaruh dagu di lutut sambil sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap lekat-lekat setiap inci wajah pria yang sedang tertidur itu.

Lalu tangan itu bergerak dengan sendirinya. Jari telunjuk Sohwa menyusuri pelan rahang pria itu hingga ke dagu. Gadis itu tersenyum kecil ketika merasakan betapa halusnya kulit yang disentuhnya. Pandangannya pun beralih ke rambut coklat pria itu. Empat tahun sudah ia selalu ada di dekat pria itu tapi tidak pernah sekali pun Sohwa merasakan tekstur rambutnya. Lembut. Itulah yang dirasakan buku-buku jarinya ketika gadis itu mengusap pelan rambut pria itu.

Sohwa menarik tangannya dan kembali memeluk lutut, masih ingin memandangi wajah tampan tanpa cela yang nampak tidak terusik dengan sentuhan jemarinya. Gadis itu tahu yang dilakukannya sekarang adalah salah karena membiarkan diri sendirinya terlena dan jatuh lebih dalam ke lubang yang justru akan lebih menyakitkannya lagi.

Tapi ia hanya ingin mengikuti kehendak hatinya. Sekali ini saja. Sebelum ia benar-benar memantapkan hati untuk melupakan perasaannya. Hmm anggaplah tindakannya sekarang sebagai… ucapan selamat tinggal?

“Sudah puas menatap wajah tampanku?”

Sohwa jatuh terduduk ketika tiba-tiba Lee Taemin berkata seperti itu. Matanya masih tertutup rapat tapi bibirnya melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman. Taemin pun membuka matanya dan terkikik geli ketika melihat Sohwa terduduk di lantai sambil menatap pria itu dengan ekspresi terkejut dan malu.

Taemin bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk di sofa. Setelah melepaskan headset yang terpasang di telinganya, pria itu menaruh kedua lengannya di paha kemudian menatap Sohwa—yang masih terduduk di lantai—dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Antara khawatir, marah, tapi juga senang.

“Han Sohwa…” ujarnya dengan nada rendah yang terdengar mematikan, “Tolong. Bisakah kau menjaga kondisi kesehatan tubuhmu sendiri? Sudah ratusan kali aku memintamu untuk jangan memaksakan diri dan membuat tubuhmu terlalu lelah. Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana paniknya aku ketika melihatmu pingsan kemarin sore. Rasanya jantungku seperti jatuh ke tanah, ara? Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?”

Siapa pun yang melihat ekspresi Taemin pasti tahu betul bahwa amarah yang terlihat dari ekspresi wajahnya itu dipicu oleh rasa khawatir. Dalam keadaan normal, seharusnya Sohwa senang dengan kekhawatiran Taemin yang ditunjukkan kepadanya. Hal itu jelas-jelas menunjukkan kepedulian pria itu kepada Sohwa. Tapi saat ini hati Sohwa sedang dalam keadaan yang tidak normal sehingga mood Sohwa langsung terjun ke level terbawah ketika mendengar rentetan kalimat yang diucapkan Taemin. Gadis itu tidak suka dengan cara Taemin yang justru membuatnya semakin sulit mengenyampingkan perasaannya terhadap pria itu. Sohwa tidak suka kenyataan bahwa dia sesungguhnya suka dengan semua perhatian Taemin, di mana hal itu jelas-jelas terlarang baginya karena pria itu sudah memiliki kekasih.

Sohwa bangkit dari duduknya dan menatap Taemin dengan tajam, “Sudahlah, jangan berlebihan,” gadis itu duduk di pinggir ranjang dan meminum segelas air yang ada di meja tepat di samping ranjangnya itu.

Taemin mengerutkan kening. Reaksi Sohwa sangat berbeda dengan dugaannya. Sejak kemarin Sohwa bersikap aneh dan Taemin tahu betul pasti ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu. Yang belum diketahuinya adalah kejadian apa yang membuat sahabatnya bersikap aneh seperti itu. Semarah atau sekesal apa pun, Sohwa akan selalu mengutarakan alasannya. Sedangkan sekarang ini, gadis itu sama sekali tidak mengungkapkannya.

Taemin bangkit dari sofa, berjalan mendekat ke arah ranjang dan berdiri tepat di hadapan Sohwa. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeans dan menatap Sohwa dengan intens, meneliti ekspresi wajah gadis itu yang berubah malu dan gelisah, “Seriously, what’s wrong with you?

Sohwa tetap mempertahankan eskpresi kesalnya ketika ia memilih untuk menjauh dari Taemin dan duduk di tepi ranjangnya. Tapi ketika pria itu ikut beranjak dan malah berdiri di hadapannya, Sohwa bahkan tidak mampu mempertahankan ekspresi kesalnya sedetik lebih lama. Pipinya justru memanas ketika menyadari bahwa dada Taemin hanya berjarak 30 cm dari matanya. Meski Sohwa tidak mampu mengelak bahwa aroma musk yang menguar dari tubuh Taemin itu sangat dirindukannya. Ia nyaris saja berhambur ke arah pria itu untuk memeluk dan memenuhi paru-parunya dengan aroma tubuh pria itu.

“Sudah ku bilang, jangan berlebihan. Aku tidak apa-apa,” Sohwa menempelkan telapak tangan kanannya di dada pria itu dan mendorongnya perlahan. Ia butuh ruang untuk mewaraskan pikiran dan memulihkan kepalanya yang sedikit pusing karena aroma tubuh pria itu yang membuyarkan konsentrasinya. Ada apa dengan dirinya? Sohwa bahkan bingung dengan reaksi yang ditunjukkan tubuhnya itu. Apakah karena sekarang ia sudah menyadari sepenuhnya perasaan yang dimilikinya terhadap Taemin sehingga tubuhnya bereaksi berlebihan seperti itu?

Sohwa beranjak dari tepi ranjang. Rasanya berjalan-jalan akan menjadi pilihan yang tepat. Siapa tahu udara luar bisa membuat fungsi tubuhnya kembali normal. Masih butuh empat sampai lima langkah lagi agar Sohwa dapat meraih gagang pintu dan keluar dari kamarnya ketika ia merasakan pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang, oleh Lee Taemin.

“Kau mau pergi ke mana? Kita belum selesai bicara!” nada suara Taemin mulai meninggi karena hampir kehabisan akal menghadapi Sohwa yang suasana hatinya tidak karuan, terlihat dari ekpresi wajahnya sejak tadi. Demi Tuhan, gadis itu tidak pernah jelas-jelas menutupi sesuatu dari Taemin. Kalau pun iya, tidak mungkin ia membiarkan pria itu menjadi curiga. Pasti ia akan menutupinya dengan sempurna demi menjaga perasaan Taemin. Tapi kali ini terlalu jelas terlihat di mata Taemin dan pria itu bertekad kuat untuk mengetahui kebenarannya. Karena ada satu hal yang harus ia pastikan.

“Sudah ku bilang jangan seperti ini, Lee Taemin!” Sohwa menghentakkan tangannya hingga genggaman Taemin di pergelangan tangannya terlepas. Kali ini nada suara Sohwa yang meninggi.

Seperti ini bagaimana?!” bentak Taemin.

“Terlalu mengkhawatirkanku, terlalu peduli padaku, terlalu baik padaku. Kau lupa kalau kau punya pacar, hah?!” Sohwa merasakan matanya panas, ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Gadis itu bersumpah tidak akan membiarkan air mata itu menetes di depan Taemin.

Ekspresi Taemin melunak ketika ia mendengar kalimat terakhir dari Sohwa. Ia menghela napasnya kemudian berkata dengan nada suara yang normal,“Hubunganku dengan Jiyoung sudah berakhir,” ujarnya tenang, diselingi senyum tipis.

Apa?

Hening…

…dan Sohwa tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

“Apa?” gadis itu mengulangi pertanyaan yang belum sempat ia lisankan tadi.

“Kemarin… hubunganku dengan Jiyoung sudah berakhir,” ulang pria itu.

Kalau saja fungsi otak Sohwa sudah menurun, mungkin ia akan mengikuti suasana hatinya dan bersorak saat itu juga ketika mengetahui kenyataan bahwa Taemin kembali single. Tapi fungsi otak gadis itu masih bagus, hingga ia merasa ada keanehan dengan yang Taemin ucapkan. Mana mungkin Taemin dan Jiyoung putus padahal mereka baru saja bermesraan, ani, berciuman di depan umum? Mana mungkin ekspresi Taemin sama sekali tidak menunjukkan kesedihan?

“Sejak kapan kau menjadi seorang pria yang mengakhiri hubungan dengan kekasih yang baru saja diciumnya?” kata-kata itu spontan meluncur begitu saja dari bibir Sohwa dan gadis itu tidak menyesal telah mengucapkannya. Ia merasa butuh penjelasan. Setidaknya agar ia bisa menentukan langkah apa yang sebaiknya ia ambil ke depan.

Taemin membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan dari Sohwa, “Kau melihatnya?” bisiknya tak percaya.

“Aku tidak percaya sekarang kau menjadi seorang bajingan,” Sohwa menggelengkan kepala, menatap Taemin dengan tatapan tajam.

Sohwa marah kepada Taemin bukan karena bersimpati kepada Jiyoung. Sesungguhnya dia lega karena pria itu akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Jiyoung karena yang Sohwa tahu tentu saja gadis itu yang memiliki potensi lebih besar untuk menyakiti Taemin. Tapi yang membuatnya marah adalah tindakan Taemin justru membuatnya merasa dipermainkan. Setelah pria itu berkali-kali membuat Sohwa terbang setinggi-tingginya, pria itu juga lah yang selalu menghempaskannya ke tanah dengan keras. Terlebih Taemin langsung menghampirinya tepat setelah ia mengakhiri hubungannya dengan Jiyoung. Oh baiklah, seharusnya ini menjadi hal yang biasa untuk sepasang sahabat yang saling mencari ketika suka mau pun duka. Tapi ketika perasaan salah satu sudah terkontaminasi, bukankah semuanya terasa selalu tidak benar? Terlalu dekat takut berharap, tapi ketika terlalu jauh takut kehilangan.

“Bukan seperti itu, Soo. Kau salah paham,” Taemin mendekat selangkah, mencoba meraih pergelangan tangan gadis itu. Tapi ia gagal ketika Sohwa malah mundur selangkah dan menjauhinya. Ia menghela napas kemudian menatap Sohwa dengan tatapan memohon, “Biar ku jelaskan.”

“Hentikan!” Sohwa merentangkan tangan kanannya ke depan, menunjukkan penolakan terhadap Taemin, “Aku tidak mau– ”

“Kau harus dengar!” potong Taemin, “Aku harus menghapus semua kecemburuan ketika kau melihat Jiyoung menciumku dan aku harus menghapus semua prasangkamu bahwa aku hanya memberikan harapan kepadamu. Tidak Han Sohwa, yang ingin kuberikan kepadamu hanya kenyataan, bukan harapan. Jadi tolong dengarkan aku,” Kali ini Taemin berhasil meraih jemari Sohwa. Pria itu mempererat genggamannya, berharap dapat memberikan isyarat bahwa dirinya serius.

Gadis itu terpaku.

yang ingin kuberikan kepadamu hanya kenyataan, bukan harapan

Kalimat itu terus berputar-putar di kepalanya. Apakah Taemin mengetahuinya? Apakah Taemin pada akhirnya mengetahui perasaan gadis itu? Apa maksudnya ia mengatakan hal-hal semacam ‘kenyataan’ kepadanya?

Eotteokhae ara…?” bisik Sohwa, suaranya nyaris tidak terdengar saking pelannya.

“Duduk dan dengarkan,” ujar Taemin sambil menarik gadis itu dengan lembut untuk duduk di sofa,“Akan lebih baik jika berbicara sambil duduk, tenang dan tidak pakai urat. Kau mengerti?” Taemin memandang Sohwa dengan lembut, lengkap dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya.

“Dengarkan baik-baik. Pertama, Jiyounglah yang menciumku, bukan aku yang menciumnya. Ia menangkap gelagat yang aneh dari ku ketika kencan kemarin dan gadis itu ingin membuktikan kecurigaannya terhadapku selama ini. Kedua, Jiyoung mengetahui sesuatu… bahwa aku tidak benar-benar mencintainya, bahwa ada gadis lain yang menyita seluruh hati dan pikiranku bahkan disaat aku sedang kencan dengannya, bahwa aku belum menyadari sepenuhnya apa yang sebenarnya aku rasakan. Ketika ia menciumku, semua kecurigaannya menjadi pasti. Aku pun merasakannya. Tidak ada rasa gelisah, tidak ada perut yang mual dan tidak ada jantung yang berdebar keras. Ketiga, Jiyoung mengaku telah berselingkuh di belakangku tapi aku sama sekali tidak merasakan sakit hati. Jiyoung bilang karena aku tidak pernah benar-benar mencintainya, aku hanya bersikap baik kepadanya sebagai seorang perempuan. Keempat, Jiyoung yang menyuruhku pergi dan meraih gadis yang memiliki hatiku. Aku… benar-benar menghampirinya. Sayang sekali aku harus menemaninya di rumah sakit,” Taemin tidak pernah melepaskan pandangannya dari mata cokelat Sohwa ketika menjelaskan semua itu.

Sohwa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Benarkah gadis yang dimaksud Taemin adalah dirinya? Seakan penjelasan Taemin tidak cukup, rasanya Sohwa membutuhkan pria itu benar-benar mengucapkan nama gadis yang dimaksud. ‘Jangan konyol, Han Sohwa,’ ucapnya dalam hati. Bukankah semua sudah jelas? Bagaimana Taemin terus menerus menatap matanya dan menggenggam tangannya ketika memberikan penjelasan, seharusnya sudah menjadi cukup bukti.

Hal terbaik yang terjadi adalah ketika Sohwa menatap mata Taemin dan pria itu balik menatapnya, semua terasa tidak normal. Rasanya tidak karuan. Tidak begitu jelas apa yang sedang dirasakan gadis itu, hanya saja, Sohwa merasa nyaman ketika menatapnya. Ia merasa menemukan tempat untuk pulang.

“Berhenti saja,” ujar Taemin lagi.

“Apa?” Sohwa memandang Taemin dengan bingung.

“Berhenti berpikir bahwa sepasang sahabat tidak bisa berpacaran. Karena aku yang akan mematahkan pikiran itu. Aku sudah menyadari betul bagaimana perasaanku terhadapmu dan apa yang aku inginkan mengenai hal itu.”

“Aku…” Sohwa sedikit ragu untuk mengucapkan apa yang ada di pikirannya tapi gadis itu merasa harus mengucapkannya, “Aku takut jika suatu saat kita tidak bisa mempertahankan hubungan, kita tidak akan pernah bisa bersahabat lagi.”

“Aku sudah menemukanmu sejak empat tahun lalu dan hingga saat ini aku tidak menemukan satu pun alasan yang bisa membuatku melepaskanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan hal semacam perpisahan terjadi di antara kita. Rasanya bukan hidup jika tidak ada kau di dalamnya,” Taemin menggeleng sekali ketika mengucapkan kalimat terakhir. Pria itu bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika hal-hal mengerikan terjadi pada mereka berdua.

Sohwa memandangi jemari Taemin yang sedang menggenggam tangannya. Gadis itu pun menautkan jemarinya dengan jemari pria itu. Ia tersenyum kecil ketika merasakan ruang-ruang di sela jemarinya terisi oleh jemari Taemin, rasanya hanya tangan itu yang cocok, “Bolehkah aku merasa senang sekarang?” gumamnya pelan, namun masih dapat terdengar oleh Taemin.

“Tentu saja. Kau sekarang pacarku jadi kau boleh merasa senang,” Taemin merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Sohwa melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang pria itu. Rasanya nyaman ada di dalam dekapannya dan gadis itu menikmati degup jantung Taemin yang terdengar merdu di telinganya. Pada akhirnya mereka menjalin hubungan yang lebih dari persahabatan dan jika terus menerus memikirkannya hal itu menjadi sesuatu yang lucu bagi Sohwa. Kenapa tidak dari dulu saja mereka berpacaran?

“Taem, jika kau bisa merubah satu hal saja yang ada di dunia ini, apa yang akan kau ubah?”

Pria itu melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Sohwa. Taemin menatap mata gadis itu kemudian beralih ke bibirnya, berpikir sebentar dan…

CUP~

Your last name.”

A guy and a girl can be just friends. But at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.

-500 Days of Summer-

END

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “Friendship Game [2.2]”

  1. Yaaampuun ini FF yang paling aku suka suka suka suka banget #plak >.<
    Ceritanya kereen, feelnya dapet banget
    Taemnya juga di situ keren 😀 I love it!

  2. aha! So sweeet..
    Feel-nya bener2 dapet..
    Taemin so cool!!
    Oya, mianhamnida, di part lalu salah nyebut nama author-nya.. Ku kira rahmi eon. Padahal rahmi eon beta-readernya..#bow

    1. Bahkan aku ga ngira kalau kamu salah nyebut hahaha. Aku mikirnya emang kamu beneran mau bahas Rahmi Eon. Hehehe iya gak apa-apa.
      Makasih yaaa udah ngikutin terus 🙂

    1. Hai eon lama tidak bersua hahaha. Secret udah nyampe part 15, mau bikin yang epilog tapi sekarang lagi hiatus karena lagi praktikum lapangan gitu deh hehe. makasih eon udah mampir 🙂

  3. huaaaa, endingnya……. suka banget

    “Taem, jika kau bisa merubah satu hal saja yang ada di dunia ini, apa yang akan kau ubah?”–“Your last name.”

    taemin udah gede, ihihihihi
    sebenernya diawal itu biasa-biasa aja, lebih suka part pertamanya…. tapi begitu liat kalimat terakhirnya, itu oke banget

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s