I Waiting You Because Love

Title: I waiting you because love

Author : Lee Soon Ji

Main Cast : Im Yoon-Ah, Choi Minho

Support Cast :Yang Yoseob B2ST, Chansung 2PM, Sunhwa SECRET, Minkyung DAVICHI

Lenght: One Shoot

Genree: Romance, Best Friend, School

—00000—-

Aku membuka pintu apartemen. Di sana terlihat Umma dan Appa sedang marah marahan. Aku langsung pergi masuk kamar tanpa menghiraukan mereka sedikitpun. Ini sudah menjadi pemandangan ku sehari hari. Ku pakai headset dan ku putarkan lagu. Lalu aku berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata. Suara lagu di headsetku masih kalah di bandingkan suara Umma dan Appa. Ini sudah volume paling besar.

‘Praaaaaak!!!’ aku langsung terduduk kaget mendengar suara tersebut. Aku lalu bangun dan mengintip apa yang sedang terjadi.

“Ka!! Tinggal kan aku!!!! Pergi lah dengan wanita idamanmu itu!!!” teriak Umma yang rambut dan bajunyanya sudah berantahkan dan dengan posisi duduk. Sementara Appa yang berdiri dengan kemeja yang sudah berantahkan juga menatap Umma dalam sedalam dalamnya. “ne, na kalke. Jangan pernah temui ku lagi. Jangan pernah menganggap kau mengenaliku!!!” lalu Appa meninggalkan Umma.

“Appa!” teriakku. Appa berhenti tanpa memandangiku. “apa Appa akan pergi?” lalu Appa pergi tanpa menjawab pertanyaanku. “Umma…” aku pergi ke Umma dan memeluknya. Aku menangis. Aku tau ini pasti akan terjadi. Tapi ini masih terlalu cepat.

“kajja, sudah malam… sebaiknnya kau tidur karena besok sudah sekolah”aku dan Umma tidur di kamarku berdua. Setidaknya aku masih punya Umma.

*****

=Triiiiiiiiiiiiiing= “hm? Siapa yang menyetel alarm sepagi ini? ” aku melihat alarm yang menunjukkan pukul lima a.m. lalu aku pergi ke dapur. Aku melihat banyak makanan di meja makan. Sepertinya Umma yang menyiapkan semuanya. Aku bergegas mandi dan memakai seragam sekolah. “Umma! Ayo makan bersama!!!” teriakku aku lalu mencari Umma, namun hasilnya nihil. Mungkin Umma pergi ke pasar, pikirku. Lalu aku duduk di meja makan dan aku menemukan surat berwarna hijau

=Yoona, mian ne.

kau sudah besar, sebaiknya kau hidup sendiri dulu.

Umma akan mengirim uang tiap bulannya.

Kau harus mandiri. Jangan cari Umma.=

“umma….” Aku menangis dan berlari ke luar apartementku, di situ ada pagar kecil yang bisa melihat keadaan jalan di bawah apartement yang besar ini. “Umma!!! Hajima…!!!!!” aku melihat ke bawah, Tak ada seorang pun yang mirip Umma. Aku menggenggam erat pagar itu “umma…. Umma…” aku menangis kaku, tatapan ku selalu mencari umma di bawah. Setelah beberapa lama aku di luar, Aku masuk ke rumah dan melihat makanan tersabut dan melihat surat dari umma. “aaaaaaarrrrrrggggghhh!!!!!!” Aku mendorong semua makanan yang sudah di buatnya. makanan itu berserakan di lantai. Tatapan ku kosong menatap makanan tersebut. Aku terduduk di kursi dan termenung beberapa saat.

= if you love me say larallaralla larrallaralla o o…. if you love me say larrallaralla larallaralla o o… neol saranghae yeongweonhi uri hamkkehae… nareul wihe gidallyeojun segandeul =

“oh, Sunhwa… wae?” jawabku datar

“ya! eodi?? Sebentar lagi mau masuk…” ia berteria nyaring di telingaku

“ne… aku masih di rumah… na kalke” aku langsung mematikan handphone ku. Lalu aku pergi ke cermin dan melihat wajahku “how poor you are” aku berbicara sendiri pada cermin. Aku melihat mataku yang membengkak karena menangis. aku memutuskan untuk menggunakan kaca mata ke sekolah.Lalu aku menarik napas panjang dan pergi ke sekolah .

****

Aku berjalan melewati tangga sekolah. Namun di pikiranku masih ada ketakutan untuk manjalani hidup sendiri. Dulu aku terbiasa manja, tanpa mengerjakan pekerjaan rumah sedikitpun. Tapi aku masih tak menyangka ini bisa terjadi. Lalu tiba tiba kaki ku gemetar dan tak sanggup lagi untuk melangkah. Aku merasa di usiaku yang masih lima belas tahun ini, aku harus ditinggal oleh kedua orang tuaku. Aku memegang lututku dan membungkuk agar aku tidak terjatuh. Lalu aku mencoba untuk berjalan lagi. Tiba tiba kaki ku keram dan aku terjatuh di situ.

“gwaenchana?” tanya Minho padaku

“ne, gwaenchana” jawabku. Ia teman sekelasku, tapi aku kurang dekat dengannya. Karena aku pikir ia orang yang arrogant. Ia hidup di keluarga yang kaya. Meski sama saja dengan keluarga ku. Ia juga anak tunggal. Tapi ia sangat sombong dengan kepribadiannya itu.

“ya, muka mu sangat pucat. Kajja” ia menarik tanganku. Kenapa ia begitu baik padaku?

“kau bisa pergi duluan. Aku hanya capek”

“ne. kalke” ia lalu pergi meninggalkanku yang masih terduduk di tangga. Tak beberapa lama aku berdiri. Dan aku mulai terjatuh lagi. Dan kacamataku jatuh. Kali ini ia berlari kembali ke tempatku. Dan mengambil kaca mataku. Ia memperhatikan kaca mataku

“ya, ini kaca mata tak beresep kan? Matamu bengkak, kau pasti habis menangis? appo??” tanyanya padaku. Lalu aku menangis. Entah kenapa aku tiba tiba nangis.

“ya, w-wae?” tanyanya bingung. Tiba tiba bel masuk “hari ini pelajaran dengan Park Songsaenim. Jika terlambat kita akan di usir,”

“jangan perdulikan aku, kau pergilah dulu” ia langsung meninggalkanku yang masih terduduk di situ. Lalu aku menangis lagi, aku tak kuat untuk berdiri dari sini. Hingga ku putuskan untuk duduk sementara di tangga yang di banjiri daun di musim gugur ini. Daun berwarna merah yang telah gugur itu melambangkan hatiku yang sedang marah, ani… sangat marah. Aku termenung dan tatapanku kosong. Tiba tiba Minho kembali dan menggendongku, “ya! turunan aku!!!” teriakku… tapi ia tetap tidak mendengarkanku dan membawaku ke belakang sekolah, di situ ada pagar dan ranting pohon kering yang menumpuk. Minho menurunkanku, “kau sudah bisa jalan?” tanyanya dan aku masih terdiam menatapnya. Di pikiranku masih ada pertanyaan ‘mengapa ia melakukan ini?’ lalu minho menyingkirkan ranting pohon itu dan terbuka lobang besar dari pagar sekolah tersebut. Ia lalu menarik tanganku untuk memasuki lobang tersebut. “kita bolos?” tanyaku pada Minho

“ne, ka….” Ia menarik tanganku dan kami berdua berlari entah kemana

“eodika?” tanyaku

“molla, ikuti saja” setelah beberapa lama kami berlari, kami menemukan sebuah pohon besar. Di situ sangat sepi dan rindang. Aku dan minho duduk di situ, tak jauh dari sini, ada toko kecil.

“kau lapar?” tanyanya padaku

“kau… kenapa begitu baik padaku?” aku bertanya balik namun pandanganku masih kosong ke depan

“molla… kau tau? Waktu Ummaku meninggal, kaki ku juga menjadi kaku dan saat itu aku bergetar hebat. Dan aku merasa agar aku tidak sakit, aku berlari meninggalkan sekolah, aku berlari dan tidak memikirkannya lagi. Yang berlalu biarlah berlalu. Aku berlari sekencang kencangnya dan menemukan pohon ini.” Aku menatapnya yang tersenyum menatap jalan yang kosong

“lalu?” tanyaku. .Ia menatap wajahku “apa kau bisa melupakannya?” dan kali ini ia mengangguk.

“meski aku tak tau apa masalahmu, aku rasa kau bisa melupakannya. Dulu aku juga menyimpan semua foto ummaku yang tersangkut didinding rumah, aku pikir ia sangat jahat membiarkan ku didunia. Tapi aku ingat kalau aku masih punya appa. Buang saja foto namja chingumu. Apa namja chingumu yang membuatmu begini?”

“namja chingu?”

“apa kau bermasalah dengan nemja chingumu?” tanyanya

“ani, aku belum pernah pacaran” jawabku sambil tertawa. Ia menggaruk kepalanya sambil tersenyum “kupikir kau orang yang sombong”

Aku menatap Minho dari samping. Ia lah satu satu nya yang ku miliki. Aku memang tidak pernah terlalu percaya pada orang lain kecuali keluarga, tetapi kali ini aku sangat yakin pada Minho. Nde, Minho memang benar, tak seharusnya aku memikirkan Umma.

Hari itu kami manghabiskan waktu bersama hingga sore. Kami berjalan jalan ke taman, dongdaemun, dan ke taman hiburan.

“jangkaman, aku akan menelepon supir dan mengantarmu pulang”

“ani, aku akan pulang sendiri naik bus. Gumawo… sudah menemaniku seharian…” aku lalu berlari meninggalkannya. Sampai di bus, aku melihat kearah jendela. Aku melihatnya tersenyum padaku.

Sesampainya di rumah, aku menanggalkan semua foto orang tuaku, tiba tiba

“Yoona…”

“Appa!” aku langsung memeluk appaku, “appa tak pergi lagi kan?”

“apa yang sedang kau buat?” tanyanya

“ani, aku sedang membereskan rumah”

“mana umma mu?”

“molla, ia bilang akan pergi jauh meninggalkan ku. Tapi kan masih ada appa” aku memeluknya lagi, dan kali ini ia melepaskanku

“yoona, mian ne… appa tak bisa tinggal bersamamu. Appa punya kehidupan dengan orang lain”

“mwo? ma-maksud appa, appa sudah punya istri lagi?” Appa hanya mengangguk lalu pergi, tiba tiba ia berhenti saat hendak membuka pintu

“jangan cari aku, jangan menganggapku appamu lagi. Aku appa yang tak baik untukmu, aku akan mengirimmu uang tiap bulannya, jangan cari aku.” Ia lalu pergi begitu saja. Aku pikir ia akan kembali menemani hidupku, tapi ternyata….

Aku melempar tubuhku di atas kasur. “hidupku sangat sepi…” tiba tiba aku teringat Minho, aku jadi senyum senyum sendiri. Minho orang yang baik. Kekekekeke… aku berlari keluar kamar dan mengambil kain kanvas untuk melukis, aku melukis wajah Minho yang sekarang ada di pikiranku,

“ah…. Siap, yeppo…” saat aku melihat jam, sudah menunjukkan pukul 1:15 a.m “omo! Aku harus tidur…! Besok sekolah”

*****

Tiap hari aku selalu mengikuti Minho, ia juga tidak mempunnyai teman, aku selalu menjadi temannya. Tanpa orang tua, hidup ku serasa bahagia jika bersama Minho.

*****

“Minho-ah, dari tadi kau hanya diam… waeyo?” tanyaku dan ia tetap terdiam menatap ke depan. “Minho… minho… kau mau lari bersamaku lagi?” tanyaku lagi “aku memang tak tau apa masalahmu, mungkin dengan berlari lagi, itu bisa terselesaikan” Minho menatapku, ia lalu berdiri dan tersenyum menatapku yang masih berjongkok di samping mejanya. Ia lalu mengambi tas dan pergi begitu saja.

*****

Dua hari telah berlalu, Minho tak pernah datang ke sekolah. Sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan masalah yang kemarin. Aku mencoba meneleponya, tapi tetap ia tak mengangkat. Aku meletakkan kepalaku di meja kelas “Yoona, neo gwaenchana?” tanya sunhwa padaku

“Minho tak menjawab teleponku….”

“akhir akhir ini ia tak masuk kelas. Kenapa ya?” aku hanya mengangguk “aku lapar, ayo ke kantin”

“na do…”

Saat di kantin tiba tiba Kang Minkyung datang ke tempat kami

“ kalian sudah tau tentang Minho?”

“minho wae?” tanyaku kaget

“ya, kau selalu mengatakan kau istrinya, tapi kau bahkan tak tau masalah yang di hadapinya”

“mwo? apa yang terjadi pada Minho?”

“orang tuanya meninggal, aku tak tau kalau ibunya sudah lama meninggal, tapi sekarang giliran Appanya.” Minkyung mengambil minumanku dan meminumnya

“mwo?!” tanyaku kaget

“dan katanya ia pindah rumah karena bapaknya dulu banyak utang. Jadi dia harus pindah”

“eodi?!”

“ya, neo wae? Relax… relax” jawab Minkyung santai sambil perlahan melepaskan tanganku dari bahunya

“kau tau dari mana?” tanya Sunhwa

“tadi aku mendengar pembicaraan wali kelas kita”

“kau mengatakan Yoona sebagai istrinya tidak tau apa apa, bukan dia yang tak tau, tapi kupingmu yang terlalu panjang hingga mau mendengarkan pembicaraan songsaenim”Sunhwa menceramahi Minkyung, Minkyung memandang langit langit kantin untuk mengelak dari tatapan matanya Sunhwa

“mian”

Aku pergi meninggalkan mereka berdua. “ya! Yoona! Eodika?” teriak Sunhwa

“jangan cari aku!” teriakku. Aku menyusuri ke belakang sekolah, aku memasuki lobang pagar dan pergi ke rumah Minho. Rumahnya di tutup dan di pagarnya ada tulisan =SALE=

Apa ini beneran rumahnya? Tiba tiba aku melihat seorang lelaki tinggi membawa kotak besar, itu pasti Minho. Saat aku hendak memanggilnya, aku mengurungkan niatku dan mengikutinya dari belakang. Aku melihat rumah barunya, sangat kecil. Aku kembali pulang ke sekolah.

******

“oh, minho… kau datang” aku memegang tangannya “bogoshipo…” ia menarik tangannya dan tetap berjalan. Aku berhenti sejenak lalu mengejarnya lagi dan memegang tangannya lagi. “ya, kenapa kau mengikuti ku terus?”

“bukannya sudah biasa?… Minho, gwaenchana?” tanyaku, ia tak menghiraukanku dan aku memegang tangannya lagi. “Ya…” ia tidak membentakku, tetapi tatapannya sangat dalam hingga aku melepaskan tanganku. “Minho-ah, kau lapar?” tanyaku, ia meletakkan tasnya dan duduk tanpa menghiraukanku

“ige,” aku memberinya roti, ia menatap rotiku dan memakannya. Sebenarnya itu punya ku, tapi karena ada dia, aku jadi kenyang.

*****

Keesokannya, kami makan siang bersama. Aku mengambil dagingku dan meletakkannya di piring Minho “igo, makan yang banyak ya…”

Ia lalu memakan nasinya tanpa menghiraukanku. Aku menatapnya terus sambil tersenyum.

“ya, kau tidak makan?”

“ani, aku sudah kenyang. Kau mau nasi ku?”

“ya, kalau kau tak makan, nanti bisa sakit…” mendengar perkataannya aku sangat bahagia, meski ia tidak tersenyum sedikitpun, itu sudah membuat ku lega karena ia memperhatikanku. Aku langsung mengambil sumpit dan memakan nasik dengan senang.

****

Pagi pagi sekali aku ke sekolah dan melihat Minho yang duduk di kursinya.

“Minho! Jeng jeng….! ” aku memberinya kotak bekal biru. Ia membuka kotak tersebut dan melihat buah kiwi yang ku potong dengan sangat rapi. Ia menatapku “makanlah,” ia memakannya satu. Aku sangat bahagia hingga tersenyum penuh bangga. Aku jongkok di samping mejanya “ aku sengaja bangun jam lima pagi dan memotong ini dengan sangat rapi.”

“gumawo”

“ne!” aku kembali ke tempat dudukku yang tepat berada di samping tempat duduknya. Aku mengeluarkan bukuku dan mengambar wajahnya yang sedang memakan buah kiwi. Aku tak tau berapa lama waktu yang ku habiskan untuk menggambar ini, hingga masuk Ji Hyun Songsaenim dan aku tak menghiraukan panjelasannya. Aku tetap menggambar muka Minho. Tiba tiba Minho mendapat SMS dan ia langsung berdiri

“eodika?” bisikku pelan

“eob (kerja)” ia lalu pergi begitu saja, saat membuka pintu kelas, Ji Hyun Songsaenim sadar akan Minho

“Minho! Eodika?!” tanyanya

“nenek ku sakit dan aku harus pulang” jawabnya santai dan langsung meninggalkan kelas. Aku tau ia sebatang kara sekarang. Ia hanya berbohong.

*****

“Minhoya! hehe” aku tersenyum padanya pagi pagi, karena kami kebetulan bertemu di tangga. Ia berhenti sebentar menatapku, lalu pergi. Aku menggandeng tangannya lagi, lalu di lepaskannya. Setelah itu aku berhenti sedangkan ia masih berjalan dan aku mengejarnya lalu menggandeng tangannya lagi. Ini memang tak mudah, dan aku berhenti lagi. Aku melihatnya dari belakang. Aku melihat ada yang aneh padanya. “Minho-yaa… kau potong rambutmu?”

Ia berhenti dan memegang rambutnya. Aku mengejarnya dan kini aku menatap wajahnya dan bertanya lagi “kau memotong rambutmu?”

“o,” jawabnya sambil mengangguk.

“ya… yeppo… kalau begitu aku juga akan potong rambutku besok.”

“andwae…”

“mwo? andwae? Wae?” tanyaku heran melihatnya

“kau begini lebih bagus” ia menjawab gugup

“kau memuji ku?” ia tak menghiraukan pertanyaan ku yang satu ini. Aku tetap bertanya sambil menggandeng tangannya. Tiba tiba Yoseob menghampiri kami

“neo… Minho?” tanyanya pada Minho

“ya, Yoseob-ah, sudah tiga bulan kita sekelas bahkan kau tak mengetahui yang mana minho” omelku pada Yoseob

“oh, wae?” tanya Minho

“kau mau masuk ke klub bola? Aku lihat prestasi bolamu selama Junior High School sangat hebat” Yoseob menyerahkan formulir pada Minho

“oh, nanti ku pikir kan”

“temui aku nanti ya, annyeong”Yoseob lalu pergi meninggalkan kami.

“Minho-ah, kau pandai main bola?” tanyaku

“ne” jawabnya singkat

“kalau begitu kau masuk saja”

“shireo…”

“wae?”

“kau masuk kelas mana?” tanyanya

“melukis, aku tak mungkin memasuki kelas bola juga…. Kenapa? Kau mau masuk kelas lukis juga?” tanyaku

“ani,”

*****

Dua minggu telah berlalu, Minho tetap memasuki kelas Bola, ia memang sangat mahir.

“minho-ah, sesudah pulang kau mau kemana?” tanyaku, ia tetap membereskan bukunya dan memasukannya kedalam tas “kau tak kerja hari ini kan?” tanyaku

“wae?”

“aku mau membawamu ke suatu tempat”

“hari ini aku kerja” ia langsung meninggalkanku di kelas dan pergi begiitu saja.

“Yoona-ah! ppali” teriak Sunhwa

“ne…” aku pergi mengikuti sunhwa,Minkyung,Yoseob,dan Chansung. Kami pergi ke suatu tempat. Di situ ada rumah yang tak terpakai lagi. Sebenarnya itu rumah Yoseob, namun mereka pindah, dua bulan yang lalu dan rumah ini tak terpakai lagi.

“yeppo…!” teriak Sunhwa “ya, kenapa kau pindah?” tanya Sunhwa dan Yoseob melihat sekeliling dan kami pun ikut melihat juga. Rumah kecil ini terletak di pinggir sungai, pemandangan di sungai sangat indah, aku yakin kita bisa melihat matahari tenggelam dan terbit dari sini, rumput yang sudah memanjang sepanjang betis ini menjadi pemandangan yang tak terkalahkan juga. Ini lumayan jauh dari kota.

“pasti karena jauh,” tebak Chansung

“ne, ini juga sempit untuk keluarga kami”

“ka, kita bereskan” ajak Minkyung. Kami mulai membereskan rumah ini, Chansung mengumpulkan kayu dan membuat beberapa kursi. Di belakang rumah, tepatnya menghadap sungai

“aku tak kau kalau ahli dalam bidang ini. Sangat berpengalaman” ejek Minkyung

“ya!” Chansung lalu mengejar Minkyung yang sudah lari

“romantis… m…” aku iri melihat mereka berdua. Aku menggenggam sapu erat erat melihat mereka, aku lalu mengambil ponselku dan menelepon Minho, ia tak mengangkatnya.

“ye….! Makaaaaan!!!!” teriak Yoseob.

“siapa yang memesan makanan?” tanyaku pada Sunhwa

“molla, ” jawabnya singkat

“makan sajalah, paanggil kan anak berdua tuh” suruh Yoseob padaku

“ya!!!! romeo! Juliet! Kaja!! Makan!” teriakku. Chansung dan Minkyung langsung datang

“huh, lagi enak enannya….” Keluh Chansung

“romeo? Juliet?” tanya Minkyung heran. Aku dengan lesu mengambil pizza tersebut,

“mian telat…” aku memandang sumber suara, sepertinya aku kenal suara itu, Ne… Minho… ia menggunakan seragam pizza. “minho-ya! kau datang?” tanyaku dengan bahagia. Ia hanya tersenyum. Aku langsung pindah duduk di sampingnya.

Semenjak hari itu, kami berenam selalu mampir ke tempat itu. Kami mengumpulkan uang untuk membeli beberapa perabot seperti sofa, tikar, meja, dan kompor. Lalu Umma Sunhwa menyumbangkan kasur di tiap kamar, meski kamarnya hanya dua, untuk namja dan yeoja dan Umma Sunhwa juga menyumbangkan peralatan dapur. Ummanya memang baik. Kami memang tidak pernah manginap, tapi kami pernah bolos sekolah dan lari kesini. Kami membawa sepeda masing masing dan meninggalkannya di sini. Sepeda Minho itu dari ku, aku tau ia pasti tak membawanya, aku membelinya yang warna biru dan punyaku yang Pink. Terkadang Minho sepulang kerja menghampiri kami yang sudah dari tadi di sini dan langsung tidur karna capek. Aku selalu menggambarnya waktu tidur. Hehe.

*****

“jadi, anaknya itu kehabisan uang untuk membeli soju. Akhirnya ia mengambil cincin ummanya. Karena tak bisa lepas, ia langsung memotong jari ummanya.” Yoseob bercerita dengan penuh ekspresi “tiba tiba ummanya bangun dan metanya merah, tiap malam…… ummanya”

“kyaaaaaa!!” teriakku sambil memeluk tangan Minho.

“ya, lepaskan… ini hanya cerita” minho melepaskan tangannya

“Minho kau tak takut?” tanya sunhwa

“untuk apa?” tanya minho datar

“ok, aku lanjutkan…. Tiap malam ummanya…..” Yoseob melanjutkan lagi dan di potong olehku

“jangkamaaaan!!!!” aku sesak napas dan berdiri. Melihat mereka semua memandangi ku, aku duduk kembali

“ya, yoona-ah… wae?” Chansung mulai kesal

“kalau kau tak mau dengar tutup telingamu,” Minkyung memberiku usul. Aku mengikuti sarannya dan lanjut melihat Yoseob bercerita, meskipun masih terdengar ceritanya. Ia bercerita hingga duduk di atas Meja minho, ia tak melihat kalau aku,Minkyung,Sunhwa,Chansung dan Minho memperhatikannya. Tapi ia bercerita dengan penuh ekspresi hingga cerita tersebut seolah olah nyata. Untuk mengalihkan ekspresinya, aku memandangi pantatnya. Jadi aku tidak terlalu mendengarkan cerita seramnya itu.

*****

Aku mencoba hendak mengetuk pintu, tetapi setelah ku buka, ternyata pintu nya tak terkunci. Aku masuk dan Mencari Minho. Ku lihat ia ada di dapur membuka bungkus ramen. Aku berjalan perlahan hendak mengagetkannya, lalu saat ia mengambil air dan memasukkannya ke panci

“Minho-yaa!!!!!!” teriakku. Ia kaget luar biasa dan melempar airnya ke mukaku. Kini aku basah kuyup.

“huh….huh…huh…” ia sesak napas dan menyandarkan punggungnya ke dinding

“kau mengagetkanku”

“kau takut ya?” ledekku

“ani, kajja… bajumu basah kuyup” ia mengambil baju kemeja nya dan menyuruhku memakainya. Dan ia melanjutkan membuat ramen. Aku duduk di meja makan “aku tak sangka rumah mu bisa rapi juga”

“dari mana kau tau rumah ku?” tanyanya yang tak menghiraukan omonganku tadi

“m…. molla, hanya feeling seorang istri” jawabku

“mau apa kau kesini?”

“ah, ne….. aku lupa, tadi aku boring di rumah, jadi aku membuat coklat untukmu” jawabku sambil mengambil coklat dalam tasku “kya….! Basaaaaah!!! Minho-ya! ottokhae????” rengekku. Miho mengambil coklatku dan memakannya, “ciuh… ueeek” ia membuang Coklatku

“kok pahit?” tanyanya

“pahit?” teriakku, aku lalu mengambil satu coklat dan memakannya

“ueeek,…. Hehe ini gak enak,” aku mengambil kotak coklatnya “aku akan buang” lalu ia menarik tanganku,

“andwae… sayang kalau di buang.. biar ku simpan”

Setelah itu kami berdua makan ramen dan setelah itu aku pulang ke rumah.

*****

Salju menyelimuti jalanan, aku, Sunhwa,Minkyung,Minho,Yoseob dan Chansung berjalan di atas salju yang putih ini dan meninggalkan jejak. Kami berjalan menuju ruang aula untuk mengadakan perpisahan sekolah. Sudah tiga tahun kami sekolah di sini dan selalu bersama, sudah saatnya kami berpisah. Untuk mengenang masa masa bahagia kami, kami memuat time capsule. Kami di beri masing masing satu kotak dan bebas memasukkan apa aja yang di inginkan. Dan juga di beri amplop untuk memasukkan surat. Aku memasukkan baju kemeja Minho lalu topi kertas dari taman hiburan yang diberikannya waktu kami jalan jalan. Aku mulai menulis suratnya

=Ya?! sudah berapa umur kita saat membuka ini??? Dan siapa yang akan menikah? Kekekeke…. Biar ku tebak, pasti Sunhwa…. Aku harap saat ini aku bersama Minho dan kami berpacaran, ani, bertunangan… kekeke… dan aku yakin aku masih tetap mecintai Minho. Aku harap saat ini Minho Bisa menjadi pemain bola yang terkenal. Minho-ya… saranghae… jinjja saranghae… terima kasih sudah membuat hidupku lebih berharga hingga aku tak ingin melewatkan sedetikpun hari hari ku.=

Aku sambil tersenyum senyum memasukkannya ke amplop pink.

“minho, punya mu apa? Boleh ku lihat? ” tanyaku. Dan ia dengan cepat memasukkan kotak dan suratnya kedalam kotak yang lebih besar yang muat untuk di masukkan enam kotak kotak kecil. Kotak ku yang berwarna Pink tepat di samping kotak minho yang berwarna biru, kotak Yoseob yang berwarna hijau di samping kotak sunhwa yang berwarna kuning, kotak Chansung yang berwarna hitam, di samping kotak Minkyung yang berwarna putih. Kami lalu menguburnya di dalam tanah yang bersalju, tepatnya di samping rumah kami.

“ppali…. Di sini sangat dingin” teriak Minkyung sambil menggesek gesek kedua tangannya

“kenapa saat ini harus turun salju” Sunhwa menghela napas panjang

“kalian seharusnya bersyukur, karena kalian hanya melihat…. Kami? Harus menggali salju ini, hingga tertutup pasir” rengek Chansung sambil sibuk dengan salju untuk menggalinya.

“huh, siap” Yoseob meletakkan tangannya di pinggang

“kapan akan kita buka?” tanya Chansung

“bukannya saat ada yang hendak menikah?” jawabku

“ne,” Minkyung menyetujuinya….

“jangan di buka dulu ya…. terutama kau, Yoseob” Sunhwa menata Yoseob

“na? mana mungkin aku menggalinya…. Paling paling Chansung”

“jangan melempar kesalahan pada orang lain” Chansung menasehati

*****

“Minho!” teriakku pada minho di ruang loker untuk pemain bola. Aku menatap pria yang sedang mengambil minuman dari dalam tas itu. Sudah enam tahun aku mengikutinya hingga kami satu universitaspun begitu. Dan kami ber enam di terima di universitas yang sama. Sunhwa dan Yoseob sudah pacaran, begitu juga dengan Chansung dan Minkyung. Kami kapan ya? aku berjalan menelusuri koridor sekolah untuk pergi ke tempat Minho, saat aku hendak masuk, aku melihat adik kelas memberikan pai berry ke Minho, awalnya aku memberikan respon biasa melihat mereka dari jauh

“Oppa! Ige… aku membuatnya sendiri, ku harap oppa mau mencobanya”

“ne…. kau tau kalau aku suka ini…gumawo Jiyeon” Minho mengacak rambutnya pelan sambil tersenyum, aku melotot melihat mereka berdua, sudah enam tahun aku mengejar Minho, tapi ia tak pernah mengacak rambutku. Aku memegang rambutku yang panjang, “apa ini kurang bagus?”

Setelah ia pergi, aku langsung masuk ke tempat Minho

“Minho annyeong” sapaku, responnya hanya datar

“annyeong” ia membuka plastic tipis di atas pai itu dan mencoleknya lalu memakannya

“apakah enak? Boleh aku coba? ” tanyaku dan langsung membenamkan telunjukku di pai itu

“ya, apa yang kau buat?” teriaknya

“m-mian” jawabku kaku. Ia menataku lalu kembali menatap painya yang bolong, aku langsung mencolek wajahnya dengan telunjukku yang terkena pai tersebut dan tertawa

“ya, aish… jinjja” ia menghapus pai di wajahnya selagi aku tertawa. Ia lalu mencolek painya dan menaruhnya di wajahku

“minho-ya” teriakku dan aku tak mau kalah, aku melakukan hal yang sama. Kami saling berkejaran untuk saling mencolek. lalu tiba tiba Minho tersandung jatuh dan pai nya terkena mukanya secara keseluruhan, Minho dan aku terdiam sejenak. Pai yang ada di mukanya beserta tempatnya turun ke baju. Dan mengotori baju sepak bolanya. Kini mukanya penuh dengan warna ungu. Tatapannya penuh dengan kekesalan.

“m-minho ya….” aku kaget plus takut memandangi tatapan tajamnya itu. Aku mengambil sapu tangan dan melap mukanya, ia lalu memegang tanganku. Kami bertatapan mata, Minho menatapku sangat penuh arti, aku tak tau apa maksudnya, =Klik=

“a… Minhoya! Wajahmu sangat lucu, kau juga Yoona. Di sini wajah kalian sama sama ungu” teriak Yoseob sambil memegang kameranya. Kami yang memandangi Yoseob bertatapan lagi, lalu ia melepaskan tangannya yang dari tadi menahan tanganku, aku mencairkan suasana dengan tertawa garing. Dan Minho langsung ke westaffle untuk mencuci mukanya, aku pun mengikutinya dan mencuci muka ku di sebelahnya

“Mian ne”

“gwaenchana” jawabnya singat lalu pergi kembali ke tempat tadi.

“ini sangat berantahkan, Nickhun pasti memarahi kita” celetuk Chansung

“mian, nanti aku bereskan” jawab Minho

“Nickhun?” tanyaku sambil mengusapkan handuk ke muka

“ne, sunbae juga” jawab Chansung sambil menggeserkan tas di atas kursi dan duduk dengan merebahkan tangan panjangnya. =klik=

“ya…. kanapa kau dari tadi hanya memfoto saja?” tanya chansung kesal atas perilaku Yoseob

“aku akan memberinya nama –the pink old man- baju pinkmu ini sangat cocok” ledek Yoseob sambil mengutak atik kameranya

“ini bukan baju, ini sweater”

“kan sama saja”

“BEDA! Ini dari Minkyung” Chansung langsung berdiri dan membuat kami semua takut

“annyeong” sapa Sunhwa mencairkan suasana, dan Chansung duduk kembali

“aku baru buat kue jahe… mau mencoba?” tawar Sunhwa sambil memegang sepiring kue jahe. Kami langsung mencobanya

“otthoe?” tanya nya penuh harapan

“m… delicious…kau lulus seleksi menjadi istriku” goda Yoseob dan Sunhwa langsung memukul perutnya

“yoona, tolong ambilkan punyaku” pinta Chansung dan aku menuruti pintanya

“kau harus rajin rajin membuat ini dan mengantarnya setelah kami latihan” minho mengomentari dengan nada datar

“jeongmal? Aku akan sering ke sini” jawab Sunhwa dengan bangga, kue nya memang sangat lezat

“woa…. Ini sangat lezat, daebak!” pujiku

“Yoona, kau ikut bantu aku membuat kue besok ya?” pinta Sunhwa, jujur aku tak pandai dalam urusan masak, aku langsung tersedak begitu mendengar permintaanya

“hahaha, aku tak pandai masak” jawabku dengan tersenyum garing

“ne, kau akan merusak masakannya” ledek Yoseob

“ku dengar saat seleksi, kau memasak nasi dan nasinya gosong? Kau pasti tak memasukkan airnya, kau hanya mencucinya” kali ini Minho yang berkomentar dengan nada datar dan berhasil membuat mukaku memerah karena malu, dari mana ia tau? Waktu kelas satu aku memang berniat ikut kelas memasak karena Sunhwa bilang Minho itu sangat suka dengan wanita yang pandai memasak. Lalu aku ikut tes dan saat tes seleksi pertama aku gagal.

“y-ya~” jawabku kaku sambil memukul lengan Minho kecil

******

“kami duluan ya…. annyeong” Yoseob menggandeng tas nya

“na kalke” Yoseob dan Sunhwa pergi meninggalkan kami bertiga

“Chansung-ya.. aku mencarimu kemana mana” Sapa Minkyung sambil mengatur nafasnya dan Chansung hanya diam

“kaja” Minkyung menarik tangan Chansung dan chansung melepaskannya

“pergi saja duluan” jawab chansung datar, pantas dari tadi ia murung. Aku mengambil kain pel untuk mengepel kotoran pai di lantai dan Minho mengambil air.

“chansung-ah….” Minkyung duduk do samping Chansung yang mengalihkan mukanya

“sepertinya aku harus pergi kerja sekarang, chansung, bisa kau tolong bersihkan? Besok aku ganti traktir. Jaebal…. Aku harus buru buru” Minho menarik tanganku “ka…” aku masih bingung dan melepaskan kain pel yang kupegang, ia menarik tanganku capat hingga aku terburu buru mengambil tasku

“ya! minho-ya” teriak Chansung sementara kami sudah berlari

“beso ku ganti… jaebal!!!!” teriak Minho sambil berlari dan masih memegang tanganku

“huh… huh… huh….” Minho menyandarkan punggungnya di pohon sambil mengatur nafas

“sepertinya kita sudah cukup jauh” ia melihat sekeliling, tangan kami masih berpegangan dan ia menyadarinya dan langsung melepasnya.

“ka” ia pergi meninggalkanku

“jangkaman!! Kakiku… perih….” Teriakku memangil minho sambil terbata bata, ia menoleh ku dan datang kembali. “duduk, panjangkan kakimu” pintanya, dan ia langsung melihat kaki ku, karena aku menggunakan celana yang di atas paha, terlihat merah merah karena berlari terlalu lama. Biar bagaimanapun aku ini yeoja.

“sepertinya kecapean, kau pasti jarang berlari” aku mengangguk pelan “naik ke atas punggungku” pintanya dan aku langsung menaik ke atas punggungnya, ia menggendongku hingga ke pinggir jalan besar dan menyetop taxi. Ia memasukkanku ke dalam taxi dan menutup pintunya. Aku dengan cepat membuka jendela taxi tersebut “kau tidak ikut?” tanyaku

“tak perlu” ia melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Aku masih melihatnya dari dalam taxi, ia memerah karena sinar matahari di musim gugur

*****

Aku mengompres kakiku dangan es, sepertinya sudah sembuh. Aku tertidur di atas sofa sambil menonton tv. Tiba tiba ada yang masuk kerumah ku,

“bukannya aku sudah mengunci pintu? Siapa yang mengetahui sandi apartementku?” aku mengeluh sendiri sambil melihat celingak celinguk kearah ruang tamu, aku berjalan kesana, dan kulihat seorang yeoja dengan membawa dua koper besar,

“umma….” Aku menjatuhkan sebungkus es batu yang ku pegang. Apa aku bermimpi? Apa ini benar terjadi? Apa umma pulang? Aku tersenyum, aku berniat unntuk memeluk umma, aku berjalan selangkah dan tiba tiba ada suara dari luar

“umma….” Anak kecil itu langsung memeluk pinggang ummaku dari samping

“oh, Jae min-ah… ini rumah baru mu” ibu membelai kepala namja kecil itu

“besar juga rumahnya” ada seorang ahjussi lagi yang masuk dan membawa dua koper besar

“umma, i-ige mwoyeyo?” tanyaku gugup melihat orang orang aneh ini

“ini appa mu dan….” Umma melihat ke pintu, sepertinya ia mencari seseorang “Jae sun-ah….”

“ne umma, jangkaman…. Huh, sepatuku sangat sulit di buka” Nampak seorang yeoja masuk kedalam rumah ku, kini bertambah lagi orang orang aneh

“umma…” aku menatap lurus melihat apa yang terjadi “umma… nuguya?” tanyaku bingung

“ige… neon appa,” umma menunjuk ke arah ahjussi itu “ige…. Neon unni” umma tertawa kecil “dan ige….”

“andwae!!!! Andwae!!!!!” aku teriak sambil memegang telingaku,,,

“noona” panggil namja kecil itu

“andwae!!! Aku bukan noonamu!!!! Shireo!!! Aku tak mau punya saudara!!!!! Aku tak mau punya appa!!!!! Appaku Cuma satu!! Andwae!andwae!andwae!!!” aku berjongkok sambil menutup telinga, umma menarik tanganku kasar

“duduk lah dulu” umma bermanis mulut kepada orang orang aneh itu. Umma menarikku hingga ke kamarku dan menghempaskan ku ke tempat tidur “ya! appamu sudah pergi dengan wanita lain!! Kau mau apa?! Tak ada yang bisa menjaga umma saat tua!” teriak umma tertahan, sementara aku menangis di kasur

“umma, aku bisa menjaga umma saat umma tua nanti”

“shireo! Aku mau yang lebih setia, aku ini yeoja…. Butuh perlindungan”

“dia lebih jahat dari appa!” teriakku di tahan dengan lemparan bantal yang mendarat tepat di wajahku

“ya! dari mana kau bisa menilai seseorang seenaknya?!”

“tampangnya kriminal!!!”

“aku tak mau tau!!! Biarpun kau benci padanya, dia baik!! Kau harus berpura pura untuk menerimanya! Kalau tak, kau akan menderita!!! Kau harus akur dengan unni dan dongsaengmu! Satu lagi, aku akan mengubah namamu menjadi Jung Yoon-ah, bukan Im Yoon-ah, arachi?!!!!” teriak umma tertahan, takut mereka mendengarkan suara umma. Umma lalu pergi meninggalkanku yng masih menangis “neon…. Neon…. Bukan umma ku…” perkataanku berhasil membuat umma yang sedang memegang ganggang pintu menjadi tertahan, ia menghentikan langkahnya dan terdiam

“terserahkau mau anggap aku apa, harusnya kau bersyukur aku kembali”

“umma kembali karena tidak memiliki rumah lagi, karena itu umma tak mengirimku uang lagi” umma langsung membuka pintu dan pergi keluar, terdengar suara tawanya bersama keluarga barunya. Sementara aku masih terisak sambil memegang erat bantalku. Tiba tiba ada yang membuka pintu kamarku

“anggap aja kamarmu sendiri, sementara ini tidurlah berdua dengannya” umma melirik ke arah ku “kau juga bisa pakai meja belajarnya sebelum datang yang baru”

“ne umma….” umma mengacak rambut pendeknya pelan. Jae sun langsung memandangiku, ia meletakkan tasnya dan pergi lagi keluar. Ia terlihat seperti yeoja yang menakutkan. Tak beberapa lama kemudian ia masuk lagi membawa lukisan lukisan Minho kedalam kamarku dan menghempaskannya di lantai. Ia berkacak pinggang menoleh ku. Aku kaget dan langsung pergi mendekat. Aku mengambil lukisanku dan aku sangat kaget begitu melihat lukisan lukisanku itu terlepas dari dinding dan ada satu lukisan yang sobek dan tertusuk

“jaemin yang melakukannya” ia berbicara datar. Air mataku jatuh membasahi lukisan Minho tersebut. Minho lah keluargaku satu satunya, tapi mereka merobeknya, aku berdiri menatap sinis yeoja yang berada di hadapanku ini, ia seperti kaget melihat sikapku

“YAAAAA!!!!” aku teriak sekuat kuatnya dan berhasil membuatnya takut

“ya!!!! JaeSun-ah!!! Kau boleh mengambil ummaku! Tapi jangan merusak Uri Minho!!!!”

Aku nekat hingga berteriak sekuat kuatnya, ia menjambak rambutku kuat hingga membuatku kaku, aku melepaskan tangannya, tapi sangat kuat. Aku memukulinya, semakin aku memukulinya, semakin dijambaknya kuat rambutku

“pukul saja jika kau mau rambutmu hilang. Dari foto mu, aku sudah menduga sikap kau seperti ini”

“awwww….!!! Appo!!!!! Ya lepaskan”

“mana sopan santunmu? Kau harus memanggilku unni” ia masih berbicara dengan nada datar

“SHIREO!!!!” jawabku sambil teriak paling keras hingga umma berteriak sambil berlari menuju ke kamarku, di ikuti dengan ahjussi itu. JaeSun melepaskan tangannya dan duduk berlutut. Ia menangis. Apa yang ia lakukan? Apa ia menyesalinya?

=Braaaak= umma masuk dengan muka cemas

“JaeSun-ah, gwaenchana?” tanya umma dan Jaesun langsung memeluk umma dan menangis. Umma langsung memandang sinis terhadapku. Aku menggeleng bingung ke umma menandakan aku tidak melakukannya.

“ya! kau harus di hukum” tarik Jung ahjussi,

“ya! nugu seyo!!!! Nuguya!!!! Kau tak pantas menghukumku karena kau bukan suapa siapaku, Jung ahjussi” aku melepaskan tanganku dan =plakkkk= satu tamparan mendarat ke pipiku, dan berhasil membuat pipiku merah dan perih.

“umma….” Aku tak menyangka umma menamparku, sesuatu seperti berjalan di pipiku yang perih ini. Umma menarikku paksa keluar apartement ini. Ia mengunci pintu.

“kau baru bisa kembali besok pagi!!!” teriak umma dari dalam

“umma!!! Umma!!!” kenapa aku yang di hukum? Ini tidak adil!!!

Aku pergi berjalan dengan kaki yang agak sedikit pincang karena berlari dengan minho tadi, lagi pula aku tidak membawa sandal. Aku juga belum mengganti baju ku ke piyama. Baju ku masih tanpa lengan dan tipis dan celanaku masih jeans dan pendek di atas paha. Untung sekarang musim gugur, jadi tidak dingin. Aku berjalan ke arah di mana hatiku membawanya. Tanpa sadar aku sudah jauh melangkah, aku melihat langit yang tanpa bintang untuk menhiasi gelapnya. Tiba tiba =tesss tesss=

“mwo? bi(hujan)???” tanyaku sambil menampungkan tanganku ke atas. Aku melihat air yang jatuh itu. Mana ada hujan di musim gugur. Tapi ini memang terjadi, sesusah apapun aku memikirkannya yang penting sekarang hujan, dimana aku harus berteduh?. Aku tidak tau sekarang di mana, aku hanya melihat beberapa warung soju di pinggir jalan. Tak mungkin aku ke sana dengan pakaian seperti ini. Aku melihat sekeliling mencari apartementku, setidaknya di apartement aku tidak basah meskipun tidak masuk. Opso. Sepertinya aku sudah berjalan cukup jauh dan cukup lama hingga di jalan sudah kosong. Aku melihat ada halte, lalu aku pergi ke sana dan duduk berteduh karena bajuku ini sudah basah. Aku merogoh kantongku, tapi aku tidak menemukan sedikit uangpun.

“ya… kau sudah menunggu rupanya… kaja, aku tau motel yang dekat dari sini” sapa seorang ahjussi yang mabuk itu masuk ke halte

“ne, kau pasti sudah tidak sabar” seorang ahjussi lagi datang dengan memegang botol sojunya. Mereka merangkulku, dan yang satunya lagi menarik tanganku

“ya!!! lepaskan” teriakku, namun seseorang dari mereka memelukku hingga aku tak bisa melepaskannya, seorang ahjussi lagi sibuk membelai rambutku dan menjaga ke seimbangan hingga akhirnya ia jatuh dan menabrak tong sampah. aku menendang perut ahjussi yang memelukku dan ia memberontak, ia memegang daguku paksa dan mendorongnya ke kaca halte hingga kepalaku agak terantuk dan ia mulai mendekatkan kepalanya dan aku mencoba mengelak dari kepalan tangannya yang kuat di daguku, aku mulai gelisah menatap wajahnya yang semakin mendekat, aku memandang ke langit langit halte, aku sangat takut dan menutup mataku. Sebelum wajahnya mendekat, terdengar suara =praaaak= genggeman tangannya di daguku lepas, aku melihat ahjussi itu pingsan dan ada Minho yang memegang sisa botol soju di tangannya, ia menatapku. Dan ahjussi yang terjatuh di tempat sampah itu bangun dan menendang punggung minho. Minho menahan rasa sakitnya dan berbalik melihat ahjussi yang sudah siap ingin melemparkan botol sojunya, aku mendorong Minho dan lemparan botol sojunya mengenai kepalaku dan tangan yang melindungiku.

******

“eodi?” tanyaku lirih karena menahan sakit

“ini rumahku, kau lapar?” tanya minho dan aku masih bingung “ne, setelah tidur dua hari pasti kau lapar” ia pergi ke dapur. Aku melihat baju yang ku kenakan berubah kecuali celanaku, bajuku menjadi kemeja. Aku merasa kepalaku agak sedikit perih. Aku mengingat kejadian itu,

“ka, makan” minho membawa meja kecil ke tempatku,

Aku makan dengan lahapnya. “b-bagaimana kau mengganti bajuku?” tanyaku dan itu berhasil membuat Minho tersedak. Aku memberinya minum. “kau tidak melakukan apapun denganku kan?” tanyaku lagi, kini ia meletakkan sumpitnya.

“ya…. kau kan menggunakan tank top, aku hanya mengganti bajumu yang basah dan penuh darah. bagaimanapun, baju itu tipis.”

“t-tapikan tetap saja”

“tetap saja apa? Aku tidak menikmatinya. Lagian itu kecil untuk ku nikmati” aku yang sedang makan menjadi tersedak dan segera mengambil air. “y-ya…” aku menyilangkan tanganku di dadaku, dan sepertinya muka ku memerah.

*****

“ani, gwaenchana”

“kau selalu tidak mengizinkanku mengantarmu pulang” aku hanya bisa tertawa garing “biarpun aku tidak tau apa masalahmu, tapi kau harus tetap bertahan. Jika tak kuat, kau bisa lari sekuatnya dan menghindarinya. jika kau tak sanggup cari orang yang tepat untuk membantumu melawannya, arraesso?” aku tersenyum mendengar nasehatnya

“ne…. annyeong chagi…” aku berlari sebelum ia memarahiku karena memanggilnya seperti itu.

*****

“kemana saja kau?” tanya umma galak dan di saksikan Jaemin,Jaesun,dan Jang ahjussi. Aku tak menghiraukan mereka dan langsung masuk ke kamarku.

*****

“Yoona! Aku sudah mengatakan pada Kim Songsaenim, katanya kau bisa masuk ke kelas memasak” teriak Sunhwa

“jeongmal? Kyaaa gumawoooo….” Teriakku senang

“huh,” Minkyung datang dan meletakkan dagunya ke atas meja

“Minkyung waegeure?” tanyaku

“Minkyung gwaenchana?” tanya Sunhwa

“hm… aku capek karena tadi malam latihan lagi dengan anak cheerleaders lainnya”

“oh… ne, kalau begitu kami biarkan kau tidur di sini, mau ku belikkan sesuatu?” tanya Sunhwa

“ani, gumawo” jawab Minkyung lirih sambil menutup matanya

******

Sudah sebulan aku di kelas memasak, dan kami selalu membuat masakan yang segar segar untuk pemain bola di sekolah setiap harinya. Karena ini musim gugur, sangat cocok dengan makanan yang segar segar.

“hm… musim dingin bagusnya apa ya?” tanya Sunhwa membolak balikkan pikiran dan memutar mutar bola matanya

“bagaimana kalau hot chocolate stroberry?” saranku

“good idea!!”

Kami langsung melangkahkan kaki menuju kelas memasak dan mulai mencari bahan. Dari jendela sini biasanya kami bisa melihat lapangan bola dan melihat pemainnya bermain. Tapi karena ini musim dingin, atap nya di tutup dan di gunakan pemanas ruangan. Kami jadi tidak bisa melihat pemainnya. Aku membuat minuman itu dengan semangat seperti biasanya. Setelah itu, kami melangkahkan kaki di atas salju yang membenamkan sepaku kami dan meninggalkan jejak sepanjang jalan menuju tempat istirahat pemain bola.

“kali ini apa?” tanya Yoseob membukakan pintu untuk kami. Dan kami masuk ke dalam ruangan ini.

“waaaah,,,, hot chocolate stroberry…! Ini sangat cocok” teriak Nickhun.

“akhir akhir ini kau semakin pandai memasak” puji Nickhun

“ah, oppa… ini juga di bantu SunHwa”.

“ya! Minkyung-ah…. Kaja! ppalli” teriak Chansung memanggil Minkyung yang sibuk latihan cheer di lapangan.

“argh…. Pemanas ruangan ini tidak bisa mengalahkan cuaca yang begitu dingin ini” Yoseob meneguk kembali hot chocolate strawberrynya.

“Yoona-ah, ayo kita pulang sama” ajak Nickhun

“ah, ne oppa” jawabku

“andwae” Sunhwa mengagetkan kami semua dengan teriakannya “hari ini kami mau pergi bersama”

“a…… ne, arraesso… lain kali saja” Nickhun mengacak rambutku pelan. Aku tersenyum atas perilakunya

“ya, ingat suamimu” bisik Minkyung yang mengagetkanku karena dari tadi ia tak di sini, aku langsung menatap Minho yang menatapku sinis, setelah aku melihatnya, ia mengalihkan pandangan dan meminum hot chocolate stroberrynya.

*****

Aku mengambil sepeda dan mengayuhnya

=klik= Yoseob mulai dengan kameranya lagi, aku tak menghiraukannya mengambil gambarku. Aku melihat Minho yang sedang memandang sungai di pinggir rumah dengan tangan di kantong celananya. Aku berusaha menabraknya dari belakang, itu membuat celana sekolahnya yang berwarna hitam menjadi ada corak corak putih

“m-mian ne minho-ah” aku menjatuhkan sepedaku dan memukul mukul celananya agar kotornya hilang, ia lalu pergi meninggalkanku.

Setelah beberapa lama kami di rumah biasa kami berkumpul, kami pulang.

“aku mengantar Minkyung, Yoseob mengantar Sunhwa dan Minho, Yoona” Chansung mengatur perjalanan pulang kami, aku tahu ia sudah merencanakan ini. Aku tersenyum bangga.

*****

“gumawo”

“untuk apa?” tanya minho

“aku kemarin tak sempat berterima kasih karena kau menyelamatkanku” minho hanya diam

“Minho-ya!!” teriak seorang ahjumma dari dalam toko di pinggir jalan

“ini ada apel untukmu” ahjumma itu memberinya sebungkus besar apel

“ahahaha kau tau saja apa yang ku suka” ternyata minho selama ini menyukai apple, aku bahkan tidak mengetahuinya. Ia sangat senang hingga tertawa.

“gamsahamnidaa” jawabnya sambil bow

“ne, kau sudah membanggakan wilayah ini karena sering menang, jadi ini imbalannya. Reporter itu mondar mandir menanyakan tentang sekolah ini hahaha toko kami jadi terkenal” jawab Ahjumma itu sambil tertawa garing

“ah, itu bukan aku yang memenangkannya, kami memenangkannya secara bersama”

“tapi kau main sangat bagus” ahjumma itu memukul pundak Minho perlahan, dulu minho adalah orang yang dingin dan angkuh untuk berbicara dengan orang orang seperi ini. Sekarang ia berubah. Aku tersenyum

“yeoja chingu?” tanya ahjuma itu sambil menunjukku, aku dan minho saling berpandangan

“ne” jawabku dan terpotong oleh minho “ani”

Kami berdua berpandangan lagi dan tertawa garing

“aigo….. tak perlu malu malu,” ahjumma itu memukul minho yang berusaha sedikit mengelak.

“na kalke” aku beranjak dari toko itu

“gamsahambida apelnya” minho mengambil satu apel dan mengangkatnya sambil tersenyum ke arah ahjumma itu.

“apa kah kau akrab dengan orang orang di sini? Dari tadi mereka melihatmu menyapa dan memanggilmu….” tanyaku sambil melihat Minho yang sedang mengelap apelnya di bajunya,

“ne, aku lumayan terkenal di sini.” Aku tertawa kecil melihat sikapnya “kau mau?” tanyanya

“ani, itu sangat jorok. Kau harus mencucinya dulu”

“tapi ini adalah gaya koboy”

Kemi berjalan hingga ke pinggir jalan besar, ia mencari taxi untukku. Setelah aku masuk, ia meletakkan sekantong apel besar itu kepadaku

“ya, ini semua untukku?” tanyaku sambil meletakkan dagu ke atas kaca pintu taxi yang terbuka setengah

“ani, ubahlah menjadi lebih bagus dan antar ke tempat istirahat pemain bola. Sekali sekali aku ingin yang khusus untukku.”

“selama itukan khusus untuk mu?” tanyaku bingung

“ani, ini spesial” ia lalu lari secepatnya meninggalkan jejak di atas salju.

*****

Aku menyurukkan apelku dalam tas dan tidur cepat. Tepat jam empat pagi aku bangun dan pergi ke dapur bersama apelku

“buat apa ya? pai apel atau apel bakar?” pikirku. “Kalau pai sepertinya sulit. Apel panggang saja”

Aku membolongkan atas apel sampai tengahnya, lalu memasukkan caramel. Aku tiba tiba terpikir seperti ini, lalu aku membungkusnya dengan kertas silver dan memasukkannya ke oven, setelah itu aku membuka bungkusnya dan aku memasukkannya ke freezer agar beku. Setelah jam enam, aku mengeluarkannya dan membungkus kembali dengan kertas silver baru, ku beri pita merah untuk mengikatnya agar indah. Aku memasukkan semua apel itu ke keranjang yang ku beri pita merah.

“ini memang special untuk suamiku”

*****

Aku dengan girang melangkahkan kaki bersama Sunhwa menuju tempat istirahat mereka setelah latihan main bola. Sunhwa sangat senang mendengar ceritaku. Setelah mau sampai, aku melihat minho di depan pintu dengan Jiyeon, dongsaeng yang menyukai minho, ia memeluk minho dan melepaskannya

“oppa… bogoshipo…. Ah, geure, ini pai apel yang oppa pesan”

“gumawo” minho tersenyum sangat bahagia

“oppa, ini special lho…”

“jeongmal? gumawo” minho mengacak rambutnya pelan sambil tersenyum dan Jiyeon mencium pipi Minho lalu pergi sambil lari

Aku kaku melihat semua ini dan berdiri diam membulatkan mata. Pai? Apel? Pemberian? Special? Ke empat kata itu membolak balik otakku. Aku sangat bingung dengan keadaan ini. Ternyata bukan aku saja yang di mintanya, ia memang baik dengan semua orang. Apel ini bukan untukku saja, tapi kebetulan untukku. Aku menjatuhkan apel apel itu dan berlari sekencang kencangnya sambil menangis. aku teringat saat Jiyeon memberi minho pai berry, dan Minho sangat senang. Aku tak menyangka ini bisa terjadi padaku. Aku bodoh telah mengejarnya yang menyukai ji yeon. Tatapannya terhadap ji yeon itu sangat bermakna dan penuh arti. Aku berlari sekencang kencangnya

“huh….. huh…. Huh….” Aku terduduk di sebuah pohon “paboya! Paboya!” teriakku

“gwaenchana?” tanya seorang namja mendekatiku

“oppa” aku langsung berdiri melihat namja yang berada di hadapanku ini. Aku langsung mendekatinya dan menangis di dadanya. Perlahan lahan tangannya perangkulku.aku mengis sekuat kuatnya.

******

“kalau aku sedih, pasti aku kesini untuk melempar batu” aku langsung mengambil batu kecil dan melemparnya ke laut. Sementara Nickhun hanya duduk di atas pasir. Nickhun membawaku jalan jalan, kami ke taman bermain, ke dongdaemun meski hanya melihat lihat, dan ke dukko bokki dan kami kembali ke lapangan bola karena ada sesuatu yang harus di ambil Nickhun karena tertinggal. Aku menunggunya di depan pintu.

“yoona-ah,” nickhun keluar dari ruangan

“hm?” tanyaku dan Nickhun melilitkan syal di leherku. Aku hanya terdiam, ia lalu memelukku

“saranghae” kata kata itu keluar dari mulutnya dan membuat ku kaku. Ia melepaskan pelukannya “na neun saranghae” ia mengulanginya lagi dan aku menatapnya, matanya penuh arti. ia mendekatkan mukanya ke muka ku. Aku tau apa yang ingin ia lakukan. Aku memikirkan Minho dan aku teringat apa yang ia lakukan tadi, aku sangat sakit hati. Tapi tak mungkin aku memberikan first kissku pada Nickhun oppa, aku menunggu Minho yang melakukannya. Sesaat aku melihat seorang namja yang berdiri memandangi kami dan pergi begitu saja, ia menggunakan jacket biru tua. Aku meletakkan tanganku di mulutku

“a, kau harus istirahat, besok mau tanding” aku menhentikan apa yang ingin Nickhun lakukan dan berlari mengejar namja tadi, tetapi opso. Tak ku temui. Aku berjalan melewati jalan yang ku lewati bersama Minho terakhir kali. Aku melihat seorang namja menggunakan jacket biru tua sedang di toko soju. Sepertinya ia mabuk. Aku mendekatinya. MINHO? Tanyaku kaget.

“minho-ya… ige mwoyeyo?” tanyaku

“oh, Yoona-ah…. Kau sudah berciuman dengan pria itu? Bagaimana rasanya?”

“ya, kau mabuk…. Kaja, kita pulang”

“shireo!” ia duduk lagi di kursinya “kau tau? Aku sangat….. sangat….” Ia langsung pingsan.

Aku meletekkan lengannya di pundakku dan membawanya ke taxi meski dengan tergopoh gopoh.

Setelah sampai di rumahnya, aku pergi meninggalkan nya sendiri di rumah

*****

“kenapa dengan kau? kau yang membuat kalah?!” Yoseob memarahi Minho yang terduduk sambil menekan kepalanya

“ya! kau ada masalah?! ” tanya Chansung.

“minho benar benar memalukan” Minkyung mulai melangkah untuk pergi ke tempat istirahat pemain dan Sunhwa menarik tangannya

“hajima…. ”

Aku masih terdiam dan shock dengan apa yang terjadi saat ini. Pandangan ku lurus ke depan. Aku tak memperdululikan sekitarku lagi. Aku berlari ke kelas. Aku terduduk sambil membenamkan kepalaku ke tanganku yang ku lipatkan di atas meja. Aku menangis, dan tak sadar hari sudah malam. Sepertinya aku tertidur. Aku bergegas pulang, saat ku lihat di sebuah toko, aku melihat Minho sedang mabuk minum soju, aku berniat mendekat, tetapi tiba tiba Ji yeon datang

“oppa… waegeure?” tanyanya panik

“oh, kau datang?” Minho langsung memeuk Ji yeon “Mian ne mian ne” ucap minho saat memeluk dongsaeng itu. Aku langsung berlari meninggalkan pemandangan yang sungguh tak ingin ku lihat ini. Aku pulang ke rumah,

“ya! jam berapa ini?!” umma berteriak saat aku baru memasuki rumah, setiap hari seperti ini. Aku langsung mengambil air di dapur tanpa memperdulikan perkataan mereka

Aku masuk kekamarku yang sudah berantahkan “siapa yang melakukannya?” tanyaku, dan aku bergegas mencari dompetku, opso. Isinya kosong. Kemarin masih banyak. Pasti umma mengambilnya lagi.

“annyeong” sepa JaeSun saat memasuki rumah.

“ini sudah sangat telat.” Aku pergi ke tempat Jaesun sambil melihat jam

“yang telat itu kau” umma menjitak kepalaku sambil tertawa kecil

“aww…. Appo!” teriakku sambil memegang kepalaku

“ya! siapa kau berani membentakku?!!!” setiap kali aku selalu di marahi. Aku bukan seperti anaknya lagi. Dan ia bukan seperti ummaku lagi. Aku menjatuhkan gelasku dan berlari keluar rumah.aku berjalan sepanjang pertokoan. Aku berjalan melewati sebuah toko hot dog, di dalamnya terlihat seorang yeoja dan namja sedang makan dengan mesra berdua di balik kaca ini, karena mereka melihatku, namja itu menutup gorden dan melanjutkan makan mereka, aku juga melihat suatu keluarga bahagia yang sedang makan pizza. Mereka tertawa bersama. Aku melanjutkan jalanku. Aku melihat sebuah salon. Tiba tiba aku teringat perkataan Minho

‘biarpun aku tidak tau apa masalahmu, tapi kau harus tetap bertahan. Jika tak kuat, kau bisa lari sekuatnya dan menghindarinya. jika kau tak sanggup cari orang yang tepat untuk membantumu melawannya, arraesso?’

Aku memasuki salon tersebut.

******

Aku mensearch –Im Tae Bum- di google. Keluar beberapa nama dan foto. Aku melihat seseorang yang aku kenal

“ini appa” aku lalu membuka datanya

=Im Tae Bum,

Seoul, 13 September 1970

Wife: Choi Hye Rin

Family: 1.Im KyuJi, 4 years old

2.Im JiKyu, 2 years old=

“Aku melihat biographynya, tak tertulis kalau ia pernah Duda atau pernah kawin sebelum kawin dengan Choi Hye Rin. Ia menghapus semuanya, appa memang hebat. Ia pasti mengandalkan semuanya dengan uang. Kalau umma tidak bertingkah, pasti kita akan sangat kaya” pikirku. Aku langsung mencopy alamatnya.

*****

Aku melihat rumah cream dengan pagar coklat. Aku yakin ini adalah rumah Appa. Aku berniat untuk masuk, tapi aku melihat ada ahjussi keluar dengan mobilnya. Aku langsung mengejarnya.

“appa!” mobilnya langsung berhenti. Ia membuka kacanya

“aku sudah bilang jangan cari aku, cepat masuk sebelum ada yang melihatnya” aku langsung masuk ke mobil appa. Appa mengambil ponselnya dan memasang headset “ne, batalkan semua planning hari ini. Aku ada acara. Jangan hubungi aku. Ne…. ne.” appa menutup teleponnya dan ia membawaku ke sebuah restaurant yang cukup mahal

“jadi kenapa kau menemuiku? Bukannya aku selalu mengirimmu uang? Ku harap ini yang terakhir kali karena istriku belum tau kalau aku memiliki anak sebelumnya” ia bahkan tidak memelukku atau mengatakan kalau aku sudah besar. Aku menghela nafas panjang

“umma pulang dengan ahjussi lain, semenjak itu, ia selalu meminta uangku untuk membeli soju ahjussi itu”

“mwo? jadi? Aku tak mau mendengar namanya lagi”

“kalau begitu, appa harus menuruti permintaanku kalau appa tak ingin aku muncul di hadapan appa lagi” appa menarik nafas

“apa itu?”

“aku mau apartement baru di Daeryun Apertement, mobil city, ubah statusku menjadi anak yatim piatu dari kecil dan tak memiliki orang tua, dan tetap mengirimku uang tiap bulan. Dua kali lipat dari yang sekarang”

“mwo?” mata appa membulat mendengar permintaanku “Kalau ubah status mungkin bisa, uang dua kali lipat bisa, bahkan tiga kali lipat, mobil city juga, t-tapi daeryun apertemen itu sangat mahal….”

“aku rasa rumah appa lebih mahal, apa lagi mobil appa” aku memiringkan kepalaku sedikit dan mengangkat alisku sambil tersenyum “selama ini aku menderita menjadi yatim piatu sementara umma datang dengan keluarga baru dan itu membuatku resah dengan saudara tiri ku itu. Dan appa bahagia dengan istri barunya”

“kau masih kecil tetapi kau lantang sekali berbicara seperti ini pada orang dewasa! Apa kau masih mempunyai sopan?”

“ani, aku akan menjadi anak yatim piatu yang tak terawat oleh orang tuanya, jadi aku bebas melakukan apapun bahkan hal yang tak sopan sekalipun, karena tak ada yang melarangku” aku tersenyum smirk,

“whoaaa kau mengerikan” appa menghepaskan punggungnya ke sofa dan melonggarkan dasinya.

“otthoe?” tanyaku

“shireo” appa menghabiskan minumannya dan berdiri lalu melangkah pergi. Dengan cepat aku berdiri “kalau begitu aku akan memberi tahu istrimu siapa aku”

“ia tak akan percaya. Banyak orang di luar sana yang menginginkan tinggal di rumah seperti ku, pasti ia hanya beranggapan kau adalah gembel. Sebaiknya kau jangan menampakkan muka mu jika tak mau di anggap sampah. Kau masih terlalu kecil untukku”

“kalau begitu aku akan menjadi selingkuhanmu yang tiap bulan selalu mendapatkan uang darimu,” aku tersenyum sambil menunjukkan buku bank kepada appa. Dan appa kembali duduk, aku pun ikut duduk kembali.

“otthoe?” tanyaku lagi

“kau memang nekat. nanti ku usahakan”

“ahjussi, aku minta semuanya atas namaku, Im Yoon Ah. Dan buat juga surat perjanjiannya”

“ne, besok temui aku lagi di sini jam empat sore.” Ia lalu pergi, belum beberapa jauh, aku berdiri

“kalau kau tak datang, aku akan ke rumahmu dan siap siap namamu terpampang di Koran halaman awal” appa berhenti sebentar dan lanjut berjalan.

*******

“tandatangan di sini” appa menunjukkan tempat di kertas yang harus ku tandatangani, appa membawa dua pengacara.

“kau tak mendapatkan apa apa untuk harta warisan” jelas appa

“ne, arraesso” jawabku

“ini pengacaramu, tuan Han, ia bekerja di kantorku. Kalau ada apa apa telepon saja dia.”

“ne, annyeong Han ahjussi”

“ini kunci apartementmu, lantai empat, nomor 35, ini kunci mobil mu. Mobilnya di luar, ini surat pembelian apartement dan mobil, ini surat kelahiranmu, dan ini surat perjanjian pembiayaan tiap bulan. Ini permintaanmu terakhir, jika kau meminta lagi, kau akan di masukkan dalam penjara. Jika uang belum di kirim, kau bisa menghubungi pengacara Han, ini sudah tiga kali lipat dari sebelumnya, jangan meminta lagi atau kau aku masukkan ke penjara. Karena kau bukan anakku lagi”

“ne arraesso” appa lalu pergi dengan kedua pengacaranya

“Im ahjussi!” panggilku, dan appa berhenti “gumawo… gumawooo appa” ia menoleh ke belakang dan melihat ku melambai sambil tersenyum, sepertinnya aku juga menangis. ia juga tersenyum padaku lalu pergi meninggalkanku.

*****

Sudah dua hari aku tak sekolah. Aku mengatakan pada umma untuk tidak mencari ku dan umma benar benar sibuk melayani JaeSun dan JaeMin hingga tak menghiraukan aku yang pergi. Aku berjalan dengan semangat ke sekolah.

“Yoona-ah…” teriak Sunhwa

“kau tampak berbeda” komentar Minkyung

“kami menunggumu di rumah, tapi kau tak datang” Yoseob memasang tampang cutenya

“handphone mu juga tak aktif” koment Chansung

“mian” jawabku

“rambutmu bagus” koment Sunhwa

“kenapa dipotong?” Minkyung juga ikut ikutan

“ani, aku risih rambut panjang.” Aku malihat minho yang sedari tadi hanya diam di belakang

“sebagai gantinya, nanti kau harus ke rumah membawakan pizza, arraesso?” pinta Yoseob

“YES SIR” jawabku sambil memberi hormat ke mereka dan berhasil membuat mereka tertawa

******

“m… ini sangat enak” Yoseob menacungkan jempolnya dan diikuti oleh semua nya kecuali minho yang sibuk mengutak ngatik handphonenya dengan jari jarinya

“yoona-ah, tadi kau tak datang di kelas memasak, wae?” tanya Sunhwa

“ani, aku keluar dari sana” jawabku dan sontak membuat semuanya kaget. Aku memandang wajah Monho. Jari jarinya berhenti bergerak, matanya membulat ke arah handphone, ia melihat ke luar jendela.

“aku sudah terlambat untuk kerja. Na kalke” Minho mengambil jas sekolahnya dan pergi meninggalkan kami

“masuk saja ke grup cheerleader” Minkyung menawrkan

“andwae… aku mau kembali ke kelas lukis”

“jeongmal? ” tanya Chansung.

“kenapa kau pindah? Apa kau punya masalah?”

“ani” aku member senyuman kepada mereka

Hari sudah malam, aku berjalan menuju rumahku, tiba tiba aku melihat seorang ahjussi sedang bernyanyi di tengah jalan sambil memegang sebotol soju dan berjalan sempoyongan. Ia menatapku

“apa itu enak?” tanyaku

“kau bisa menghilangkan stress dengan ini”

“jeongmal? Akuu bahkan belum pernah mencobanya”

“mwo?!!! ya, bagaimana orang sebesar kau belum pernah mencoba ini?” tanyanya kaget “di situ ada tokonya…. fighting” ia pergi sambil bernyanyi dan berjalan sempoyongan lagi

“ahjumma, se botol soju di sini” aku mencoba meminum segelas. “aaarrrgh…. Jinjja… sangat aneh” lalu aku meminumnya lagi, dan lagi hingga aku mabuk.

******

“Oh, kau sudah sadar.” Nickhun berada di hadapanku

“eodi?” tanyaku

“bukannya ini rumahmu?” tanyanya “kenapa ini sepi sekali?”

“apa aku mabuk? Di mana kau tau rumahku?”

“ne, kau mabuk, aku menemukanmu mabuk di tengah jalan. Lalu aku membuka surat mengemudimu dan menemukan alamat rumahmu.” Aku hanya mengangguk “orang tuamu mana? Gak apa apa aku di sini? Kenapa sangat sepi?”

“ne, orang tuaku? Molla. Sampai beribu tahunpun ini akan selalu sepi. Gwaenchana,”

“beribu tahun? bwahahaha” ia tertawa lepas

“kau orang pertama yang datang ke sini” tawanya berhenti

“jeongmal?”

“ne, bahkan Minho belum pernah”

“ah, jinjja hahaha”

******

Hari ini salju tidak turun dan cuaca cerah, aku berniat untuk melukis taman yang ada di samping ruang lukis, tiba tiba Nickhun oppa datang dan menarik tanganku

“oppa… eodika?” tanyaku dan ia hanya diam sambil menarik tanganku ke tengah lapangan

“oppa… ini sangat ramai….”

“YOONA AAA SARANGHAE!!!!!” teriaknya “KAU MAU MENJADI URI YEOJA CHINGU ??”

“oppa, apa kau sakit?” tanyaku, ia menggelengkan kepala sambil tersenyum

“aku akan menjagamu, membuat hari hari mu menjadi ramai. ” aku berpikir keras apa yang harusku jawab. Sampai sekarang Minho belum minta maaf atau menyatakan kalau ia menyukaiku, apa mungkin ia benar benar tidak mencintaiku?

“ne oppa” aku menerima Nickhun menjadi namja chinguku

“jeongmal?!” Nickhun langsung memelukku.

*****

Sudah satu bulan kami pacaran,

“oppa, mau membicarakan apa denganku?”

“sesudah aku tamat bulan ini, aku mau bertunangan denganmu. Etthoe?” aku terdiam “wae?”

Aku tiba tiba mengangguk

“daebak!”

*****

“mwo?! tunangan?!!!” teriak Sunhwa dan Yoseob bersamaan

“a-aku pikir ini mimpi” Minkyung memegang kepalanya dan Chansung mencubitnya

“aw…. appo” teriaknya

“ini bukan mimpi” jelas chansung

“kalau begitu kita harus membuka time capsulenya” usul Yoseob dan kami semua mengiyakan,

“jangkaman! Tunggu sehari sebelum Yoona tunangan saja” teriak Sunhwa

“ah, ne” Minkyung mengiyakan

“aku benar benar tak percaya, aku pikir kau akan bersama Minho” Minkyung langsung menyenggol perut Chansung dengan sikunya, Minho langsung menatap kami semua yang sedang duduk di lantai,

“ah, bisa aja” aku mencairkan suasana dengan tertawa garing, namun tak ada yang ikut tertawa.

*****

“Yoona-ah” umma menunggu di lantai dasar apartement

“wae?” tanyaku

“Jaemin sudah mulai mau sekolah dan itu membutuhkan uang, boleh aku meminjam uangmu?”

“dari mana umma tau rumahku?”

“sekolah… umma mencarimu kemana mana”

“thsk” aku mengalihkan pandanganku smbil sedikit tersenyum “Jaemin bukan siapa siapaku” aku lalu masuk ke lift dan umma masih mengikutiku hingga ke depan pintu apartementku

“wae?”

“kau tinggal di apartement mewah, pasti kau menabung sangat banyak, kalau begitu umma mau pinjam uangmu” umma menahan pintu yang hendak ku tutup

“shireo! Mwo? umma? Aku tidak memiliki umma… opso!”

“ya! kau itu anakku dan ini berarti juga rumahku! Kalau aku jual apartement di sana dan pindah kesini, pasti sangat menyenangkan” aku tersenyum melihat umma “ kau mau meminjamkan uang padaku atau kau mau kami ke sini?” tanyanya dengan evil smile

Aku membalas senyumannya “tidak keduanya, kau bukan ummaku”

“aku punya surat kelahiranmu dan bisa menuntutmu atas menelantarkan orang tua”

“kau adalah Jung Bo Cha dan aku Im Yoona”

“sebentar lagi aku akan membuatmu menjadi Jung Yoona, tunggu dan lihat” umma berjalan keluar “jangkaman Jung Ahjumma” aku mengambil surat kelahiranku dan memberinya ke Umma, umma melotot melihatnya “y-yatim piatu?! S-sejak kapan kau mengambil ini? K-kapan kau merubahnya?”

“cepat keluar atau aku panggil satpam?”

“ani, kau anakku! Ini tidak mungkin!!!!”

“mian, sekeras apapun kau mengatakannya, tak akan ada yang percaya. Biar bagaimanapun semua orang bermimpi untuk tinggal di apartemen mewah seperti ini, apa lagi orang orang miskin dan lemah seperti Jung Ahjussi. Itu adalah alasanku”

******

“Ppalli” seru Minkyung

“sayang sekali Minho tak mau ikut” seru Sunhwa sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celana

“huwaaaa saljunya sangat dingin” teriak Yoseob

“gwaenchana?” tanya Sunhwa khawatir. Kami saling membaca surat dan isinya. Aku membaca suratku, sepertinya tebakanku semua nya salah, semua tertawa membaca suratnya. Aku mengambil kotak minho, terdapat sendok ku, ini sendok saat aku memberi buah kiwi padanya dan sendoknya tinggal. Lalu ada benda keras yang dilipat kecil, setelah ku buka ternyata itu kotak coklat yang ku berikan padanya. Aku membaca suratnya

=saranghae… sangat sulit mengucapkannya= tiba tiba air mataku keluar dan aku berlari sekencang mungkin.

*****

Aku pergi ke lapangan bola dan duduk di sana. Hari sudah sore dan orang orang sudah pulang, sehingga ini menjadi sepi

“Yoona-ah” aku memandang sumber suara

“Minho?” tanyaku, di tangannya ada sebuah surat warna pink dan menggunakan kemeja yang kuletakkan di kotak time capsuleku.

“kau tidak tanya mengapa aku melakukan kesalahan besar saat pertandingan pada tanggal 23 november?” tanyanya

“ani, aku tidak mau mendengarnya”

“apa kau benar benar ingin bertunangan dengan Nickhun hyung?” aku mengangguk pelan “wae?”

“kau tidak mengerti apa apa minho, opso… sedikitpun. Dan kau selalu membohongi dirimu sendiri” minho terdiam. Lalu minho duduk di bangku penonton dan mengajakku duduk.

“apelmu sangat lezat”

“mwo? k-kau memakannya?” tanyaku

“ne. aku sudah bilang mau apel yang special, tapi kau tak memberinya padaku, Sunhwa yang memberinya” aku hanya bisa diam “karamelnya masih terasa di mulutku, aku pikir kau akan selalu membuatkan itu, tapi sepertinya tidak lagi” aku tersenyum mendengar perkataan anehnya.

“ini kan bajuku” tanyaku memegang kemeja yang di pakainya

“kau mencuri ini dariku,”

“tapi kau yang memeberinya padaku saat aku sakit”

“siapa yang memberikannya? Aku meminjamkannya”

“tsk….” Jawabku sambil mengalihkan pandangan. Suasana menjadi hening kembali,

“mian ne” aku memecahkan keheningan ini

“wae?” tanya Minho dan langsung menatapku

“maaf sudah menyukai mu, sudah bersikap berlebihan padamu dan…” tiba tiba aku kaku dan mau menangis, namun ku tahan agar ia tak mengasihaniku “dan sudah mengejar ngejarmu…. Aku pikir jika aku berusaha, aku akan mendapatkan sesuatu yang ku inginkan” tiba tiba air mataku menitik dan membasahi pipiku, aku segera menghapusnya, aku menatap Minho yang kaku menatapku

“na neun paboya, semua sudah di atur dan aku tak bisa merubah takdir” aku terpaksa tersenyum memandangnya yang kaku melihatku. “mian ne. kita akan bersama lagi di kehidupan berikutnya. Aku akan lebih berusaha lagi” jawabku lagi dan pergi meninggalkannya yang duduk kaku tanpa melakukan apa apa. airmataku sudah jatuh sangat banyak. Minho mengejarku

“Yoona-ah”

“ya, kenapa kau mengikutiku?” tanyaku sambil menghapus air mata sebelum ia melihat dan aku berbalik. Aku tertawa kecil “kau sering mengucapkan itu dan aku menjadi hafal.” Ia tersenyum padaku

“gwaenchana?”

“ne…. na kalke” aku pergi meninggalkannya

“berbahagialah” aku berhenti mendengar perkataannya.aku lalu pergi pulang kerumah. Karena besok aku harus bertunangan dengan Nickhun Oppa.

******

“yeppo,” puji Sunhwa “aku pikir aku yang akan bertunangan duluan”

“nado” jawabku sambill tersenyum

“Yoona-ah!” teriak Minkyung berlari keruangan ini sambil mengatur nafas

“mwo?” tanyaku penasaran

“ige”ia memberiku sebuah cincin dan di dalamnya tertulis =Minho Yoona 22 November=

Aku teringat pertanyaan Minho semalam ‘kau tidak tanya mengapa aku melakukan kesalahan besar saat pertandingan pada tanggal 23 november?’

“berarti tanggal 23 dia tanding, tanggal 22… tanggal 22 Nickhun hendak menciumku dan minho melihatnya” pikirku dalam hati

“dimana kau menemukannya?” tanyaku

“waktu dari tempat istirahat pemain, aku berlari kesini dan tersandung tak jauh dari situ dan aku melihat cincin ini”

“ne, di situ. Tak jauh dari tempat istirahat pemain, di situ minho melihatku” pikirku lagi

“annyeong unni” Ji Yeon masuk ke dalam ruangan ini, Sunhwa memandang sinis

“aku pikir kau akan bersama Minho oppa, padahal ia menolak tinggal degan nenek di Paris karena sekolah, tapi aku tau itu karena kau. bukan sekolah” ia tertawa kecil. Apa maksudnya. Kami bertiga bingung melihat dongsaeng ini.

“wae? Mollaesso? Uri appa teman dekat appa minho oppa. Neneknya masih ada di paris dan meminta minho oppa pindah, oppanya gak mau. Katanya ada yang di tunggu. Kita lihat saja, kalau dia pergi ke paris, berarti yang di tunggunya kau. bahkan saat mabuk ia masih sempat minta maaf padamu” ia tertawa lagi.aku sesak nafas mendengar perkataanya. Minta maaf? Mabuk? Aku ingat hari itu, hari di mana aku melihatnya memeluk Jiyeon

“cukhae, semoga Nickhun oppa cocok denganmu” ia lalu keluar. Jadi selama ini aku sudah salah. Apa yang harus kulakukan? Aku memandang Sunhwa dan Minkyung bergantian, mereka bingung menatapku. minho tak datang datang juga. Apa boleh buat, aku sudah memilih Nickhun oppa. Kau benar benar terlambat minho.

*****

“sekarang, saatnya bertukaran cincin.” Chansung selaku MC memerintahkan kami untuk bertukaran cincin, Sunhwa dan Minkyung dari ujung pintu berjalan sambil membawa bantal yang di atasnya terdapat cincin. Mereka berjalan sangat perlahan dan gemulai. Pintu ruangan perlahan lahan di tutup. Dan di nyalakan lampu lampu dan lilin. Tiba tiba pintu ruangan yang tadinya tertutup kini terbuka lebar. Semua orang mengarah ke sumber cahaya silau hingga menutupi wajah orang yang membukanya. Orang itu berjalan dengan cepat ke arahku dan Nickhun, semakin mendekat dan mendekat hingga aku tau siapa. Minho. “sekarang aku sudah mengerti. Aku tak akan membohongi diriku lagi” ia tersenyum padaku dan menawarkan tangannya. Aku memandang Nickhun yang tersenyum sambil melirik minho seolah olah mengatakan

“pergilah, ikuti kata hatimu” aku pun menerima tangannya yang menarikku ke luar dan semua penonton mengikuti kami. Kini, di atas salju dan di hujani salju, ia memegang kedua tanganku. Semua orang melihat kami. aku tersenyum melihatnya tersenyum bahagia.

“mau kah kau menjadi uri yeoja chingu?” aku menggeleng kan kepalaku dan ia kaget dengan apa yang aku lakukan.

“aku mau menjadi tunanganmu” jawabku sambil memanynkan bibir dan ia langsung tersenyum. Aku mengeluarkan cincin yang di beri Minkyung tadi, aku memberinya ke Minho

“dimana lau menemukannya?” tanyanya bingung dan aku hanya tersenyum

“pakaikan”

“ne” ia memasukkan cincin itu ke jari manisku dan itu pas. Ia menatapku dalam dan memelukku sementara yang lain melihat kami. ia melepaskan pelukannyadan mendekatkan mukanya ke mukaku. Aku tersenyum dengan apa yang akan ia lakukan. Aku menutup mataku.

Chu~

Semua orang bersorak dengan apa yang kami lakukan.

“untuk apa ke kehidupan selanjutnya jika sekarang masih bisa” aku tersenyum mendengar perkataannya barusan

“ini first kiss ku” aku tersenyum memandangi wajah minho

“jeongmal?” tanyanya

“ne, yang kemarin dengan nickhun itu tak jadi” dan Minho tertawa kecil. Kini ia memelukku erat.

==THE END==

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “I Waiting You Because Love”

  1. huahhhhhhhh..
    selama itukah mereka harus menunggu hanya untuk bilang ” Saranghae”
    kenapa ga dari dulu aja sih??
    #kesel

    manis,,
    Yoona diculik pas pertunanganx..
    kekekeke,,
    untung Nickhun oppa ikhlas..

    saya suka adegan pas Yoseob cerita hantu Yoona malah liat bokong Yoseob bwat mengalihkan pikirannya..
    hahahagh..
    lucu sumpah pas itu saya ngakak XD

    persahabatan mereka lumayan “kekal” yah,,
    mudah2an persahabatan saya juga kayak gitu..
    #amieeeennnnnnnn ^^

    ff nya keren thor,,
    daebak..
    ditunggu karya selanjutnya..

  2. whuaaaaaa,,,
    orang tua yg durhaka sama anaknya,, *geleng2 kepala

    gemes liat abang minho, tggl ngomong aja apa susahnya sih,
    *mencak2 gaje

    lanjutkan berkarya ya thor!
    Hwaiting

  3. ortu yoona benar2,,,,
    ah, akhirnya yoona sama minho.. Ksian nickhun.. Oppa, sama aku, ne?#wink#dijewer jjong
    Nice!!

  4. Waah, ini cuma perasaanku atau ceritanya sangat panjang ya? Anyway, ending-nya sweet banget XD Entah kenapa jadi inget ending CCC 1 *ketauan deh suka nonton apa, buahaha*

    Keren ceritanya. Keep writing ^^

  5. Wuaaaaa keren keren keren ~~~
    tapi kok rasanya panjang banget yah *dilempar author
    yaampun, ortunya yoona pengen aku masukin ke dalam sumur *dimasukkan sumur duluan ama ortunya yoona .___.v

    Persahabatan mereka keren =’) aq ga pernah punya sahabat kayak gitu. iri aku u,u

    Nice ff! =)

  6. waw keren!! i like it so much. dan nickhun itu lohh.. sifatnya disini bener2 buat aku melting. ahaha. keren bgt deh pokoknya!! daebak!!

  7. Ceritanya sesuatu banget deh,,
    Seru,,
    Keren,,

    Dari awal uda ketauan sama2 suka ,,
    Tapi gak da yg mau ngungkapin duluan geregetan deh,,

    Umma nya yoona jahat banget ,,
    Untungnya yoona anaknya pintar,,
    Ah gak ngebayangin kalo yoona tinggal sama ummanya,,

    🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s