A Ghost Inside Me – Part 14

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 14

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Kim Jonghyun,  Lee Taemin, Choi Siwon,   dan    masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

Su Ji langsung menjatuhkan remote tv yang ada dalam genggamannya. Nafasnya tercekat dan tenggorokannya terasa tercekik saat ia melihat wajah kekasihnya sendiri di layar tv. Su Ji tak bisa memikirkan apapun saat ini. Pikirannya benar-benar dibuat beku dan kaku. Air matanya pun tak bisa menetes sama sekali. Apakah ini kenyataan? Atau hanya mimpi buruknya belaka? Lalu, bisakah ia terbangun lagi? Dan… melupakan semuanya?

Su Ji merasakan seluruh tubuhnya mendadak lemas dan penuh keringat dingin. Tiba-tiba ia terjatuh ke lantai, tatapannya nanar. Pikirannya benar-benar kosong dan kalut. Sekarang semua yang ada di depan matanya terlihat hitam dan buram. Ya, ia merasakan kematian seolah akan menghampirinya sebentar lagi.

Key tersenyum-senyum sendiri sambil memandang buket bunga yang ada di genggamannya. Ia berniat untuk memberi kejutan untuk kekasihnya itu. Dengan cara datang ke rumahnya dan mengajaknya berkencan. Ah, membayangkannya saja sudah membuat hatinya terbang.

Key pun menepikan mobil sedannya di depan rumah Su Ji. Kemudian tanpa buang waktu lagi ia berjalan ke dalam dan menekan belnya. Key menunggu sebentar. Beberapa detik kemudian ia menekan lagi hingga puluhan kali tanpa adanya jawaban. Key mengerutkan kening. Apa Su Ji tidak ada di rumah? Tapi ia yakin sekali kalau yeoja itu sedang di rumah karena tadi ia sempat menelponnya. Lalu Key memutuskan untuk menghubungi Su Ji. Ternyata Su Ji pun tak mengangkat telponnya. Key mulai merasa khawatir. Ketika ia tak sengaja mendorong pintu, dan ternyata pintu rumahnya tak terkunci. Key semakin bingung. Apa yang terjadi dengan Su Ji?

Key melangkahkan kedua kakinya ke dalam rumah Su Ji. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Ini memang pertama kalinya ia memasuki rumah Su Ji. Dan baru kali ini ia bisa melihat sedikit bagian dari kehidupan Su Ji. Ia melihat foto kedua orang tua Su Ji, kebahagiaan keluarga kecil itu, bahkan foto yang di ambil ketika Su Ji masih kecil. Key tersenyum kecil, ternyata Su Ji memang seorang yeoja yang terlihat cantik dari kecil.

Perlahan kedua mata Key tertuju pada sebuah pintu yang sedikit terbuka. Key mengerutkan keningnya samar. Dalam hati ia bertanya apakah itu adalah kamar Su Ji? Akhirnya Key memberanikan diri untuk mendekatinya. Selangkah demi selangkah ia jalani hingga kini ia pun berdiri di depan pintu itu.

Key berusaha menyapukan pandangannya ke dalam ruangan itu. Tiba-tiba ia menemukan sebuah tubuh berseragam biru tua tergeletak di lantai. Tanpa berpikir lagi, Key langsung menerobos pintu itu dan merengkuh tubuh yeoja itu.

“Su Ji-ya, Hwang Su Ji!” panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Su Ji. “Su Ji bangunlah, Su Ji!” serunya lagi namun kedua mata kekasihnya itu masih terpejam erat. Key semakin panik. Ia sangat mencemaskan keadaan Su Ji.

“Su Ji-ya, aku mohon bangunlah… Ini aku Key!” serunya semakin keras. “Aku Key… Aku ada disini Hwang Su Ji…” ucapnya lirih dan kali ini ia mulai melihat adanya kehidupan dalam diri Su Ji. Yeoja itu menggerakkan bola matanya hingga perlahan membuka kelopak matanya.

“Su Ji?” panggil Key sambil tersenyum lebar. Ia menatap kedua mata Su Ji yang nampak lemah dan lelah. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau pingsan?”

Kedua mata itu masih terdiam tenang menatapnya. Diam, tak berkata apa-apa. Namun tiba-tiba Su Ji terbangun dan langsung menampar Key hingga darah mengalir di sekitar bibir namja itu. Key pun menatap Su Ji dengan pandangan bertanya. “Kenapa kau menamparku?” tanyanya berusaha setenang mungkin.

Air mata Su Ji keluar merebak dari pelupuk matanya. Hatinya benar-benar terbakar saat ini. Terlebih ketika ia melihat wajah seseorang yang menyebabkan semua penderitaannya selama ini. “KENAPA KAU MASIH BERTANYA PADAKU?” bentaknya sekeras mungkin di depan wajah Key.

“Apa maksudmu?”

“DASAR PENJAHAT! KAU PEMBUNUUUHHHH!!!!” seru Su Ji menghakimi Key. Di matanya, ia tak lagi melihat Key sebagai kekasihnya. Ia sudah melupakan semua itu. Satu-satunya perasaan yang ada di lubuk hatinya hanyalah kebencian.

Key begitu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Su Ji. Namun ia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan yeoja ini. “Chankaman, tenangkan dirimu Hwang Su Ji. kita bisa bicara pelan-pelan kan?”

“Tidak perlu!” tolak Su Ji keras. “Apa dulu kau membunuh sahabatmu sendiri dengan pelan-pelan, huh? Apa yang ada di pikiranmu saat melakukannya!!!!”

“Siapa yang membunuh? Siapa yang melakukannya?”

“KAU!” teriak Su Ji sambil menatap Key tajam. “Kecelakaan dua bulan yang lalu, di Busan. Bukankah kau si pengemudi mobil sedan itu?”

Deg, Key merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Pikirannya yang kacau tiba-tiba saja memutar kaset peristiwa itu. Ketika mobil yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan hingga oleng dan membuat sebuah bus yang berusaha menghindarinya jatuh ke dalam jurang. Key sangat mengingat semua itu. Peristiwa yang membuatnya hampir mati ketakutan.

“Kau sudah ingat?” kata Su Ji lirih.

Key menggerakkan matanya pelan ke arah Su Ji. Yeoja itu masih menatapnya dengan penuh kemarahan. Bibirnya terasa kaku dan dingin. Seolah ia sudah berada di dalam es selama bertahun-tahun. “M… Mian..”

“Mian? Apa hanya itu yang bisa kau lakukan?” ucap Su Ji dengan suara bergetar. “Apa kau masih tidak sadar kalau kau telah menghilangkan nyawa sahabatmu sendiri, Choi Minho?”

Key langsung menegakkan kepalanya menatap Su Ji. “A… Apa?”

“Minho berada dalam bus ituuu!!!” hardik Su Ji lalu menangis sejadi-jadinya. Ia pun memukul-mukul kepala Key saking marahnya pada namja itu. “Kau pembunuh! Kau penjahat! Kau PEMBUNUUUHH!!!” teriaknya tak terkendali.

Key menumpahkan air matanya saat itu juga. Ia melindungi kepalanya sambil terus mengucapkan kata maaf. Ia merasa seperti diadili oleh ribuan orang dan dijatuhi hukuman mati. Kenapa semua ini terjadi padanya? Kenapa ia harus mengalami semua ini?

Su Ji pun akhirnya berhenti memukuli Key. Ia terduduk lalu menghela nafas panjang. Air matanya masih menetes dan hatinya masih terasa perih. “Pergi. Aku tak mau melihat wajahmu lagi,” usirnya tanpa pikir panjang.

Key menundukkan kepalanya. Ia pun mengepalkan tangannya dan pelan-pelan berdiri. “Mianhae, jeongmal mianhae…” ucapnya namun Su Ji tetap mengacuhkannya. Langkahnya terasa begitu berat saat ia meninggalkan Su Ji sendiri. Semuanya kacau. Semuanya, termasuk perasaan dan kenangannya bersama yeoja itu. Ia tak yakin bisa membuat Su Ji memaafkannya, bahkan sekarang semua itu terlihat amat jauh. Jauh, sejauh yang tak bisa ia bayangkan sekalipun…

“Tak seharusnya kau menghakimi Key seperti itu. Sekarang semua orang membencinya, ia pasti sangat terpukul,” ujar Minho menasihati Su Ji. Namun yang diajak bicara malah asyik membaca buku yang ada di hadapannya. “Su Ji-ya, apa kau sangat membencinya? Kau tidak bisa memaafkannya?”

Su Ji langsung menutup bukunya dengan kasar membuat Minho sedikit terkejut. Ia menatap lurus ke depan tanpa berkata apa-apa. Hingga akhirnya ia berdiri dan berjalan ke luar kelas. Minho pun mengikutinya.

“Kau mau kemana?” tanya Minho.

Su Ji masih mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia sama sekali tak memedulikan Minho.

“Tunggu, Key?”ucap Minho membuat Su Ji refleks menghentikan langkahnya. Lalu Su Ji menoleh ke arah yang dilihat Minho juga.

Su Ji merasakan hatinya seperti tertusuk ribuan pisau saat melihat Key sedang dibawa oleh beberapa orang Polisi. Su Ji memang tak melihat wajahnya, namun sejujurnya ia merasa tak tega pada namja itu. Kalau ditanya, ia juga tidak sanggup melihat semua ini. Mana ada orang yang mau melihat kekasihnya sendiri menjadi tersangka sebuah kasus kecelakaan?

Bahkan seandainya sekarang semua orang menutup matanya, maka ia akan berlari kepada Key dan memeluknya erat. Menenangkan namja itu dan memberikannya seluruh kasih sayangnya. Ia ingin mengatakan pada namja itu kalau ia masih mencintainya, walau belum sepenuhnya memaafkannya. Tapi… rasanya semua itu hanya khayalannya saja. Ia dan Key sudah menjadi sebuah kenangan masa lalu. Yang tak akan pernah kembali dilihatnya walau hanya sedetik…

“Su Ji, kau menangis?”

Tanpa menatap Minho, Su Ji langsung menyeka air matanya dan berlari dari tempat itu. Kenapa ia tidak bisa menahannya? Kenapa ia harus terlihat lemah seperti ini? Kenapa?

“Su Ji-ya! Hwang Su Ji!”

“Kau yakin akan menghadapi ulangan ini sendiri? Kau tidak mau aku masuk ke tubuhmu?” tanya Minho memastikan.

Su Ji tak menjawab sama sekali. Ia malah menekuri bukunya sampai Lee sonsaengnim masuk ke kelas.

Minho melihat ke arah Lee sonsaengnim kemudian Su Ji. Ia menggelengkan kepalanya. Ternyata Su Ji benar-benar berubah…

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi. Su Ji menengadahkan tangannya dan memperhatikan tetesan air hujan yang membasahi telapak tangannya. Ia menghembuskan nafas beratnya, pikirannya mulai kacau. Kenapa wajah Key kembali berkecamuk di dalamnya?

“Kau pasti teringat pada namja itu kan?” ucap Minho yang tiba-tiba sudah ada di samping Su Ji entah sejak kapan.

Su Ji melirik sekilas ke arah Minho kemudian kembali menatap ke depan. “Tidak, untuk apa aku memikirkannya?” sangkalnya.

“Kalau Key ada disini, mungkin dia sudah memayungimu dan mengantarmu pulang,” pikir Minho namun Su Ji justru berusaha mengacuhkannya. “Kau tidak merindukannya?”

Su Ji memutar bola matanya sekali sambil mendesah berat. “Aku tidak punya waktu untuk itu. Ara? Dan bisakah kau berhenti membicarakannya?” pinta Su Ji kesal.

“Kau mencintainya Su Ji.  Percayalah… Kau bahkan sudah berhasil tanpa kau ketahui. Kau tidak bisa mengelaknya.”

“Lalu, kenapa bayanganku masih menghilang? Apa kau yakin dengan kata-katamu?” balas Su Ji sambil menatap Minho dengan tajam.

Minho tertegun. Ia terdiam dan menatap yeoja di depannya itu. “Kau hanya belum terlalu yakin. Tapi aku tahu, kau sudah jatuh cinta padanya entah sejak kapan…”

“Jangan bicara lagi. Kau tidak tahu apa yang aku rasakan. Jadi jangan bersikap sok tahu seperti itu,” potong Su Ji sambil menunduk. “Bahkan, kalau memang harus terjadi, aku rela kalau aku ditakdirkan untuk mati..”

“Mwo?”

“Mau bagaimana lagi? Bukankah semua ini mengarah kepada hal itu? Key adalah tersangka utama dalam kasus kecelakaan yang kita alami. Dan sekarang aku sangat membencinya. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu itu. Kau sangat baik Choi Minho, dan kau sudah bekerja keras. Maaf, kalau aku tak bisa menjalankan apa yang kau inginkan. Aku sudah berusaha semampuku, tapi pada akhirnya takdir pulalah yang menentukan…”

“Kenapa kau bicara seperti itu?” potong Minho dengan nada tinggi.

“Jangan membentakku! Aku tidak suka!” balas Su Ji sambil sesenggukan. Ia menangis keras membuat beberapa orang yang melintas menoleh padanya.

“Kau bukan orang seperti ini. Kau tidak mudah menyerah, kau selalu bersikap tegar menghadapi segalanya. Hwang Su Ji, aku sangat mempercayaimu. Kau bisa melewati semua ini. Kau bisa lolos dari kematian itu…”

“Sudahlah, jangan menghiburku lagi,” kata Su Ji singkat lalu berjalan menjauh meninggalkan Minho.

“Su Ji-ya! Hwang Su Ji!” panggil Minho namun Su Ji tak mengacuhkannya. Yeoja itu berjalan menembus hujan tanpa menoleh ke belakang lagi. Minho berdecak kesal. Ia tak menyangka semuanya akan menjadi serumit ini. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus membiarkan Su Ji melangkah sesuka hatinya? Itukah pilihan terakhir yang harus diterimanya? Kenapa ia merasa tidak adil?

“AAAAAAARRKGGH!!!!” teriak Minho jengkel. Ia menjambak rambutnya sendiri. Pikirannya begitu kacau sekarang sampai ia tak bisa melihat mana yang benar dan salah. “Su Ji-ya, apakah ini benar-benar keinginanmu?” gumamnya lirih.

Su Ji menatap jalanan dari jendela taksi yang ia tumpangi. Pandangannya kosong dan nanar, seperti tak ada lagi kehidupan pada dirinya. Sesekali ia meneteskan air mata, entah untuk apa dan siapa. Kini ia telah kehilangan semuanya, bahkan semangat hidup yang akhir-akhir ini selalu ada dalam dirinya. Ia merasa hidupnya begitu kelam, bahkan lebih kelam dari siapapun di dunia ini. Apakah ia akan berakhir seperti ini? Lalu bagaimana gambaran akan kematiannya kelak? Dimana malaikat akan mencabut nyawanya? Bagaimana caranya?

“Aghassi, kau ingin pergi kemana?” tanya supir taksi membuyarkan lamunan Su Ji.

Su Ji menghapus air matanya dan menatap si supir taksi. “Teruslah berjalan, aku akan memberitahumu kalau aku sudah bosan,” jawabnya dan kembali menatap ke jalanan di luar sana. Benar, semua orang sedang melanjutkan hidupnya masing-masing. Mereka semua berjalan teratur, seolah tak terjadi apa-apa. Ada yang terlihat sedih, senang, marah… namun mereka semua tetap berjalan. Sedangkan dirinya? Ia sudah tak mampu melakukan semua itu. Ia sudah sampai di akhir, dan episode dalam hidupnya tak bisa diperpanjang lagi. Atau malah, ia sudah mendapatkan perpanjangan dari hari kecelakaan itu? Entahlah, ia bahkan tak mengerti tentang semua itu.

“Ajhussi, antarkan aku ke Incheon saja,” kata Su Ji pada di supir taksi.

Minho berdiri terdiam memandang sebuah rumah yang tak begitu mewah di hadapannya. Rumah Jung Cheon Sa. Pikirannya langsung tertuju pada semua kenangan semasa hidupnya bersama gadis itu. Bahkan ia masih mengingat jelas bagaimana wajah Cheon Sa saat tersenyum, tertawa, menangis sampai tertidur. Semua itu begitu lekat dalam otak dan hatinya.

“Noona…” panggilnya lirih. Ia ingin, Cheon Sa keluar dan berlari menghampirinya. Kemudian memeluknya erat dan memberikan sebuah ketenangan yang sudah lama ia rindukan. Ya, ia sangat menginginkan hal itu terjadi, walau sekali saja.

Tiba-tiba Minho mendengar suara sirine mobil. Saat ia membalikkan badan, ia langsung melihat mobil-mobil Polisi terparkir rapi di depan rumah kekasihnya itu. Minho mengerutkan keningnya samar.

Namun belum sempat pertanyaannya terjawab, para Polisi itu langsung masuk ke rumah Cheon Sa.

“Ada apa ini?” tanya Minho berkata pada dirinya sendiri.

Su Ji merasakan ponselnya bergetar di tengah-tengah lamunannya. Ia pun merogoh tasnya dan menemukan benda itu. Su Ji tersenyum kecil saat membaca nama ‘Key’ terpampang di layar. “Apa ia masih bisa menggunakan ponsel di dalam penjara?” gumamnya sambil mereject panggilan itu.

Su Ji pun kembali mengamati jalanan yang ia lintasi sekarang. Namun tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Su Ji mendesah berat sampai akhirnya ia menerima juga panggilan itu. “Bisakah kau berhenti menggangguku?” jawabnya kesal.

“Su Ji-ya, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku…” kata Key di seberang sana.

“Penjelasan apa? Semuanya sudah jelas kan? Kau yang menyebabkan kecelakaan itu!”

“Bukan, bukan sepenuhnya seperti itu…”

“Aku tak mau mendengar suaramu lagi,” potong Su Ji cepat. Saat ia akan melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba kedua matanya terbelalak lebar. Bagaimana tidak, kalau sekarang ia melihat sebuah truk besar yang hilang kendali dan akan menabrak taksi yang ia tumpangi? Su Ji merasakan seluruh tubuhnya membeku dan tak bisa berkata apapun ketika kaca-kaca di sekitarnya pecah hingga melukai badannya.

“Hhhhh…” desahnya lirih. Su Ji benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Baru kali ini ia mengalami sebuah kesendirian yang amat menyakitkan, seolah ia berada di dalam ruangan gelap tanpa cahaya dan orang lain. Ia meregang nyawa seorang diri, tanpa ada yang menggenggam tangannya, berdoa untuknya atau menangis di sisinya. Inikah ketakutannya selama ini?

Tapi… kenapa tiba-tiba ia memikirkan Key? Kenapa wajah namja itu mendadak muncul dalam ingatannya? Semua kenangannya bersama Key terputar kembali di pikirannya dengan gerakan yang sangat halus. Layaknya flashback dalam film drama. Benarkah apa yang dikatakan Minho? Apa ia sedang merindukan namja itu?

“Key… sara…”

PRAAAANNNGGGG!!!!!! Suara yang sangat keras itu pun menghentikan semuanya. Su Ji tak bisa lagi melihat ataupun mendengar apapun. Kedua matanya terpejam dengan tetesan air mata di pipinya. Bibirnya yang pucat kini telah terkunci rapat. Badannya yang dulu kuat menahan cercaan dan kepahitan kini tergolek lemas tak berdaya. Su Ji memang tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Namun jauh di dalam sana, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih menyimpan sepenggal perasaan tulusnya untuk namja itu…

To be Continued…

J Apakah kecelakaan yang menimpa Su Ji benar-benar akan merenggut nyawa yeoja itu?

J Lalu bagaimana dengan Key? Apa yang akan dilakukannya agar Su Ji bisa memaafkannya?

J Dan… Minho, apakah ia bisa menyelesaikan tugasnya dan mengakhiri semua ini?

J Hm, fanfic sudah menuju ke bagian ending nih… Huaa… berbulan-bulan lamanya berkutat dengan ff-ku yang paling memusingkan! Tapi, author harus tetap semangat! Fighting! ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 14”

  1. waaaa seru banget!! lagi penasaran penasarannya tiba tiba TBC 😦
    semoga suji gak kenapa napa yaa, kan kasian key ditinggal >.<
    next next 😀

  2. AIGOOOOOOO SUJI KENAPAAA? Kalo suji koma, nanti nyawanya hilang separuh ga? Terus minho gimana? Aku ga nyangka akhirnya kaya giniiii! Thor kau membuatku penasaran ;;;;;~;;;;;
    Semoga key sama suji balikan lagi, aku agak kasian sama key kayanya dia di jebak, suji juga masih suka :((( minho, aku sebenernya pengen dia masih hiduup
    Ayo thor ayo lanjut semoga ga lamaaa hehe mianhae aku bawel banget nih ;;_;;

  3. Waahhhh itu kenapa su ji kecelakaan sih?? Trus knapa polisi ke rumah cheon sa??
    Semuanya bikin penasaran,,.dan aku yakin key ga sepenuhnya salah.. Ada otak jahat nooohh di balik kejdian itu.. #brb ngelirik jjong ma siwon..

    Next part ..
    Fighting!!!

  4. Sad. Episode paling sad ini 😦
    sempet ketawa baca kepala key dipukul, ngebayangin ibu2 mukul kepala anakya -_-a #okeabaikan
    jangan2 penyebab kecelakaan itu malah cheonsa? :O #dor #ngaco
    bener itu scene terakhir bkin nyesek ;A;
    aku tak bisa berkata2, semangat author!

  5. Wuahhhh kenapa ituuuh????
    Su Ji sama Key, MINHO SAMA AKU GA MAU TAUUUUUUUUUU #plaks
    Aduduh, masuk penjara enak banget tuh masih bisa pake ponsel. Eh, tapi itu kenapa? Su Ji apa Key tuh yang bunuh diri?!? YAAHHHH JANGAN MATI DOOOOONGGG!!! *apacoba?*
    Kiyaaaaahhhhhh schedulernya cepetan duuunksssss#pletaks *ditampol Lana eon*
    Ditunggu ditunggu…. ^o^

  6. Aiggoooo knp tuh si su ji???
    Author senang banget deh buat reaader penasaran.:)
    Lanjutannya jangan lama-lama ya thor.
    Re setia menunggu 😀

  7. Aaaaaa daebakk superr
    Intriknya,feelingnya
    Dapet bangett bacanya sampe kebawa suasana ff
    Su ji gimana nasibnya??
    Kluarga minho gimana?
    Key bklan gimna?
    Kasus sbnernya gimnaa
    Aaaaaaaa pensarann
    Daebak…aku suka ceritanya,beneran bisa bkin aq ngerasa ada didalam cerita

  8. setelah beberapa minggu aku ga mampir ke sini, ternyata aku udah ketinggalan satu part…
    pengen ngebut baca yang slanjutnya…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s