Crash – Part 8 (End)

Title: Crash (part 8-END)

Author: Sierra K

Main Cast: Kim Ki Bum (Key), Choi Ji Hyo (this could be you), Lee Jinki, Jung Nicole

Support Cast: Lee Taemin.

Length : Sequel

Genre: Friendship, Romance, school life

Rating : PG-13

Summary : we were young, we were in our teens, it wasn’t a real love.

You are the one the one that lies close to me, Whisper’s hello I miss you quite terribly

I fell in love, in love with you suddenly,

Now there’s no place else I could be but here in your arms

-Here in Your Arms, Hello Goodbye-

Jung Nicole’s POV

Sudah 2 tahun semenjak kelulusan SMA, masih terekam jelas di otakku rentetan kejadian yang terjadi di sekolah dulu, baik itu yang menyenangkan, atau yang menyedihkan. Aku menatap Key yang masih serius dengan bacaannya, akhir-akhir ini ia banyak berubah. Ia menjadi lebih serius dalam apapun, ia menjadi lebih dewasa.

Dari segi penampilan pun, Key sudah sangat banyak berubah, rambutnya ia cat dengan warna pirang gelap, gaya pakaiannya pun lebih rumit daripada dulu pada masa-masa sekolah. Terlihat lebih tampan dan mature.

Namun, melihatnya seperti sekarang membuatku sakit. Terlalu sakit untuk selalu berpura-pura tidak tahu kalau ia tidak mencintaiku, padahal aku tahu. Ia seperti tidak mendapatkan kebebasan, terkekang. Ia selalu bilang, aku tidak keberatan, namun aku tahu ia hanya berbohong. Aku tahu ia keberatan dengan semua kepalsuan yang kami jalani ini.

Mungkin, ini akan menjadi hari dimana aku akan melepasnya. Aku tahu ia masih mencintai Ji Hyo, setelah melihat foto-foto Ji Hyo yang dikirimkan dari Jinki di Inggris melalui e-mail, dan bagaimana Key bereaksi saat mendapat e-mail dari Jinki: bersemangat.

“Key-a” panggilku, aku membulatkan tekad. Aku dan dia tidak bisa sakit seperti ini lebih lama lagi. Ia menoleh dan tersenyum, mengacak rambutku lembut seperti biasa. Membuatku ingin seperti ini lebih lama dengannya.

“kamu masih sayang Ji Hyo?” tanyaku, membuat matanya membulat. Ia tidak menjawabnya, mungkin tidak perlu, aku sendiri sudah tahu jawabannya. Iya. Kami tidak pernah membicarakan soal Ji Hyo semenjak kelulusan sekolah, jelas saja ini membuatnya kaget.

mianhae, Nicole-ya” ia menatap lurus mataku. Memegang pipiku, tangannya masih terasa sangat hangat dan tidak lembut, yang membuatku pasti akan merindukan sentuhan jemarinya di pipiku nanti.

“aku yang meminta maaf. Aku selalu berpura-pura tidak tahu kalau kamu masih cinta Ji Hyo, maaf” air mataku turun, ia menyekanya dengan ibu jarinya. Aku memang egois, selalu berharap kalau Key akan mencintaiku lagi seperti dulu.

“kita akan selalu menjadi teman, kan? Kita akan selalu bersahabat, kan?” tanyaku, meyakinkan. Menjadi temannya pun tidak apa apa, aku hanya tidak ingin dia membenciku atau malah menjauh dariku saat tahu kalau aku selama ini hanya berpura-pura.

“tentu saja kita akan selalu bersahabat” Ia memelukku, untuk yang terakhir kalinya. Merasakan hangat pelukannya, yang sebentar lagi bukan menjadi milikku lagi. Kim Ki Bum, now I’m setting you free.

Lee Jinki’s POV

Kuliah di salah satu universitas terbaik di Inggris memang menyenangkan. Walaupun, setumpuk tugas menunggu, itu tidak membuatku dan Ji Hyo mengeluh lelah. Kami menikmati kehidupan baru kami. Ji Hyo menjadi orang yang lebih supel di bandingkan dulu di masa sekolah. Ia mempunyai cukup banyak teman.

Sebenarnya, ada beberapa teman laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Tidak jarang, namun Ji Hyo selalu menolaknya halus. Ia hanya berkata kalau ia tidak siap untuk memulai suatu hubungan, ia ingin fokus belajar. Bohong. Aku tahu ia masih mengharapkan namja yang sekarang masih tinggal di Korea, Key.

Ia tahu, apa yang ia rasa salah. Key semakin dekat dengan Nicole, semakin serius, dan Ji Hyo malah makin mencintainya. Tidak jarang, aku mendapatinya men-stalking akun-akun jejaring sosial Key dan merajuk seharian jika Key meng-upload foto terbarunya dengan Nicole.

Aku menerima e-mail dari Key, semenjak pindah ke Inggris, kami hanya mengobrol via e-mail. Telfon terlalu mahal untuk jarak sejauh ini. Aku sedikit mengernyit membaca pesannya.

Aku baru saja diputuskan Nicole.

Namun, aku menghela nafas lega. Akhirnya, Nicole menyadari apa yang seharusnya bukan takdirnya. Key bukan untuknya. Aku membalas pesannya cepat.

Minggu depan, aku dan Ji Hyo akan pulang ke Seoul. Meet us there?

Ia tidak membalas pesanku, mungkin terlalu kaget saat membacanya atau apa.

Temui dia, Key.

Aku mengetikkan kata terakhir itu sebelum aku offline, aku yakin Key akan menjemput kami minggu depan. Ia pasti akan menemui Ji Hyo, mengatakan 3 kata itu. Dan aku akan merasa senang, seorang sahabat memang seharusnya begitu, bukan?

***

Choi Ji Hyo’s POV

Soal Korea, aku sangat merindukannya. Rumahku, suasana, makanannya, semuanya. Aku jadi rindu Taemin, kita memang masih sering melakukan webcam lewat skype, tapi itu semua tidak cukup. Aku rasa ia juga merasakan hal yang sama denganku. dia selalu merengek meminta Emma Watson untuk dijadikan oleh-oleh kalau aku pulang ke Korea minggu depan guyonan garingnya memang tidak pernah berubah.

Tapi, Inggris: Daebak! Aku melantunkan lagu band favoritku, One Night Only, band indie dari Inggris dan berharap bisa bertemu George Craig saat aku pergi ke kampus. Akhirnya aku bisa berada di satu negara yang sama dengannya.

Aku memutar lagu-lagu itu dari CD player yang Jinki belikan di hari ulang tahunku tahun lalu. Memang terdengar old-fashioned, namun aku sangat berterima kasih dengannya. Aku memegang cover CD tersebut, mendadak teringat pada kejadian 3 tahun lalu.

Perasaanku meledak-ledak, mengingat kejadian di toko CD bersama Key. Saat ia menekan punggungku dengan tangannya, aroma tubuhnya, dan wajah kami yang bertemu dalam jarak yang sangat dekat, masih segar di ingatanku. Seakan, hal itu baru terjadi kemarin sore, dan masih sukses membuat pipiku memerah.

Aku sudah merelakannya dengan Nicole. Nicole lebih berhak atas hal itu. Aku sering me-refresh akun jejaring sosial milik Key, maupun milik Nicole. Melihat dengan hati tersayat saat mereka mengunduh foto terbaru mereka. Tersenyum dengan paksa saat mereka saling bergurau, saling membalas pesan. Aku selalu berharap Key mengatakan sesuatu di akunku. Aku sudah belajar melupakannya, namun kenapa rasanya masih sesakit ini?

Handphone-ku bergetar. Aku mengangkatnya, dan aku hampir saja menjatuhkan handphone-ku saat mendengar suaranya. Suara milik Jung Nicole. Aku tida mendengarnya selama 2 tahun terakhir ini.

“Nicole?” tanyaku tidak yakin.

“ah! Neomu bogoshippo! Apa kabar?” teriakannya membuatku yakin kalau itu suara Nicole. Aku juga merindukanmu, Nicole-ya. suaranya terdengar sangat riang, membuatku sangat ingin bertemunya nanti saat aku pulang ke Seoul.

“aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” masih terdengar sangat formal, namun tidak se kaku biasanya.

“baik. Oh ya, aku baru saja putus dengan Key” ucapannya tanpa beban, terdengar sangat riang. Aku tersentak, diam seribu bahasa. Antara senang dan sedih.

“akhirnya aku menyadari apa yang seharusnya bukan menjadi milikku” ia berkata lagi, tanganku bergetar, tidak tahu harus berkata apa, benar-benar tidak tahu. Beribu pertanyaan bermunculan di benakku, seperti, apakah Key masih sering bermain basket?, namun lidahku kelu.

“Key masih mencintaimu” aku tersentak lagi. Tidak mungkin, ini sudah 2 tahun lamanya. Tidak mungkin ia masih menyimpan perasaannya yang tak berbalas selama itu. Aku pun sudah mencoba untuk move on, melupakan semua.

“kembalilah, kembali untuk Key.” Pintanya, terdengar bergetar, mungkin masih belum rela melepaskan Key.

“aku tidak mencintainya. Aku menghargai perasaanmu, aku mengerti, Nicole-ya” jawabku, ia hanya terkekeh pelan disana. Ia menghela nafasnya, memulai untuk berbicara lagi.

“bahkan jarak tidak membuat kau bersembunyi dariku. Aku bahkan tahu kalau kau sedang berbohong sekarang” tebaknya, dan sangat tepat sasaran. Aku mengeluh dalam hati, ia memang sudah terlalu tahu diriku.s

“a-a-ak….” suaraku tercekat, dan ia telah memotong perkataanku, “kalau kau sahabatku, jangan bohongi dirimu. Kembalilah padanya” itulah permintaannya sebelum ia menutup sambungannya. Aku duduk dan terdiam, air mataku kembali mengalir.

Sahabatku memang sudah kembali, namun aku tidak yakin dengan cinta. Terlalu rumit.

***

Perjalanan dari Inggris ke Korea memang melelahkan. Aku terus terlelap di samping Jinki, yang masih membaca bukunya. Aku tidak siap kalau memang aku harus bertemu Key. Nicole mengabariku kalau ia tidak bisa menjemputku, ia harus segera bertolak ke Amerika, bertemu sanak keluarganya yang tinggal disana. Aku harap Key juga tidak bisa menjemputku—Jinki, maksudku– atau aku harap, aku tidak bertemu lagi dengannya.

Aku keluar dari pintu gerbang, banyak orang berlalu lalang disini, aku masih menggenggam erat tangan Jinki, seakan takut kalau aku akan hilang disini. Disini sangat sesak, namun aku melihat seseorang. Bukan, itu bukan Key. Aku pasti salah lihat.

Laki-laki itu mungkin hanya mirip. Tidak mungkin, kalau Key sekarang rambutnya berwarna pirang gelap, dengan topi dan pakaian ‘bukan Key’ yang aku tahu. Ia terlihat seperti menunggu kedatangan seseorang, matanya sibuk meneliti kerumunan orang yang baru keluar dari pintu kedatangan.

Namun, kalau aku teliti dari samping, ia sangat mirip dengan Key. Kulit putih susunya, badan kurusnya, namun ia terlihat lebih tinggi beberapa senti dari terakhir kali aku melihatnya. Atau aku saja yang menciut kecil?

Ia tidak sengaja bertatapan denganku, mataku membulat saat menyadari kalau ia memang Key, mata kucing tajamnya menatapku, ia sama terkejutnya denganku. Rasa yang sudah aku simpan rapi-rapi dan tidak ingin kubuka lagi berterbangan bebas. Ia tersenyum, sekarang aku yakin, namja yang berdiri 10 meter dariku adalah Key. Dia datang.

Jinki mendorongku untuk mendekatinya, lebih dekat untuk melihat Key. Ia juga melangkahkan kakinya beberapa langkah, lalu tersenyum. Ia kembali melangkah, merapatkan jarak di antara kami berdua. Aroma tubuhnya masih tetap sama, aroma yang selalu aku rindukan.

annyeong.” ucapnya, dan langsung memelukku. Aku tidak kuasa untuk menolak, terlalu merindu. 2 tahun adalah waktu yang cukup lama, bahkan untuk memperbaiki semua ini. Apakah ia masih menyayangiku seperti yang dulu ia katakan? Apakah masih ada rasa itu untukku?

can we fall one more time? Can we fix this?” ia bertanya penuh harap, penuh kesungguhan di sorot matanya. Tidakkah ini terlambat? Tidakkah ini terlalu cepat? Kita baru bertemu lagi sekarang.

“aku ingin meminta maaf untuk kejadian yang dulu pernah terjadi” aku yang harusnya meminta maaf, seharusnya aku jujur pada perasaanku sendiri. Aku ingin berkata sesuatu dan apapun kepadanya, namun lidahku kelu. Tidak bisa mengatakan apapun saat berhadapan dengannya.

i love you” 3 kata itu mengalun indah dari bibirnya. Kata-kata yang hanya ada di dalam angan, kini terucap jelas darinya. Membuat lututku lemas, kupu-kupu berterbangan di perutku, semuanya terdengar sangat indah.

we can fix this” hanya itu yang keluar dari bibirku. Ia mengerti, ia mengangguk dan mengeratkan pelukannya di tubuhku, melepas semua rindu yang dipendam selama 2 tahun. Kini, aku yakin bahwa Tuhan sudah mempertemukanku dengan namja ini. Kami memang sudah ditakdirkan di satu garis yang sama, dan tidak akan terpisahkan. Kini, aku percaya pada kata selamanya. aku dan dia.

END

Kok endingnya malah gak jelas ya? ahhh, maaf banget emang buru-buru pengen dikirimin nih, nganggur di laptop 3 bulan -_-. By the way, Udah ketebak, kan suami si Ji Hyo yang ada di prolog? Yay, kelar juga FF ini. Jndcnhenfchenahdsnhxas Kibum-aaaaa *stress sendiri*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Crash – Part 8 (End)”

  1. wah,syukurlah…
    akhrx nicole sadar jg,dan bs nglepasin key…knp g dari dulu aja…

    gaje…???
    nggak jg kq…cm agk kcptan aja menurutQ.
    over all,nice ff…:)

  2. Hemm ceritanya keren,bagus 🙂
    Tapi kok aku ngerasa kasian yah sama onew, kayanya dia udah ikhlas bgt gitu 😉
    Onew sama aku ajalaah 😀
    Key romantis bangettt >,<

  3. waa so sweeet thor ;_____; jadi terharu u_u
    aku selalu nunggu lanjutan ff ini loh ga kerasa udah end… bikin after story-nya dong thor, yah yah~

  4. Anyeonghaseyo..
    Mian baru bisa ninggalin jejak di part terakhir ini ㅋㅋ

    love your story. i’m enjoying every part in this story. bahasa penulisannya bagus banget, enak dibaca. jarang banget nemu ff yang kayak gini. walopun ceritanya bisa ketebak dari awal tapi tetep angkat 2 jempol deh buat authornya! hihihi ^^

    ditunggu ff berikutnya yah, dan semoga cerita berikutnya makin daebak! ^^v

    itabayo..
    -케이파

  5. Halo~
    Sebelumnya maaf ya.
    gak tau cuma aku yang ngerasa atau banyak, tapi semakin baca ff ini jadi semacam baca novel Remember When(2011) karya Winna Efendi ya? Bahkan ada beberapa adegan yg sangat Mirip.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s