House Next Door [3.3]

House Next Door [3.3]

Author             : ZaKey

Main Cast        : Kim Jonghyun, Lee Jinki

Support Cast    : Lee Taemin

Length             : Trilogy

Genre              : Friendship, Fantasy

Rating              : General

Summary         : Ketika bulan baru, pemilik rumah akan keluar untuk memanggil-manggil nama mendiang istrinya

“Demi Tuhan, apa rencanamu sebenarnya, Lee Jinki?” jerit Jonghyun frustasi.

Jinki terlalu shock dengan lemparannya yang meleset; ia bahkan tidak menyadari si mulut berjahit sudah menariknya dan menghempaskannya ke lantai.

Si mulut peniti berjalan ke arah sofa dan, dengan penuh hormat, mengangkat kepala itu dengan kedua tangan. Matanya yang menyala merah tampak redup untuk beberapa saat, kemudian kembali membara sedemikian kuat sehingga seluruh kepalanya bersinar seperti labu halloween. Ia memeluk kepala itu dengan posisi leher di atas.

“Penyusup. Harus mati.” Si mulut berjahit mengaitkan jari-jemarinya di seputar leher Jinki, mencekiknya dengan kekuatan yang sangat besar dan dingin.

Jinki terbatuk pelan merasakan udara direnggut paksa dari tenggorokannya. Pandangannya mengabur, otaknya berputar panik. Oh, inikah akhir dari kehidupannya?

Jonghyun menatap Jinki dengan putus asa. Seandainya ia tidak diikat di kursi seperti ini, seandainya ia bisa meloloskan diri, ia akan bisa menyelamatkan Jinki. Tapi bagaimana?

Si mulut peniti berjalan perlahan dengan kepala Nyonya Kang masih di pelukannya. Untuk alasan yang tidak diketahui ia bersenandung pelan selagi melangkah menuju pintu bertirai tempat Jinki muncul tadi. Mungkin ia bermaksud mengembalikan kepala itu ke tempat asalnya.

Mendadak terdengar suara memekik keras. Tinggi, melengking, dan berasal dari dua orang yang berbeda disusul suara benda menghantam kulit. Baik Jonghyun, Jinki, maupun anak lelaki dengan bibir berjahit menoleh ke arah suara yang sekarang sehening malam.

Tidak ada yang terjadi selama sepuluh detik penuh (Jinki berusaha membebaskan diri dari cengkraman makhluk yang entah kenapa terpaku tapi tetap sia-sia – setidaknya sekarang ia tidak lagi dicekik), kemudian sesuatu bergerak; membungkuk sejenak lalu meraba-raba mencari ujung tirai untuk disibak terbuka.

Jinki dan Jonghyun membelalakkan mata tak percaya.

Taemin berdiri disana, terlihat linglung sekaligus ketakutan. Ia mencengkram kain lapuk tirai dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang tali ransel kuat-kuat.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Bagaimana kau bisa ada disini?”

“Penyusup.”

Si mulut berjahit melepaskan Jinki dan berdiri, terseok-seok berjalan mendekati Taemin yang masih terpaku. Kemarahan tersirat jelas disana.

“Oh, hai,” Taemin meringis melihat wajah tak sempurna itu – tidak ada mata, hidung terkoyak parah, mulut berjahit – dan mulai melangkah mundur.

Diam-diam Jinki bangkit dan segera menghampiri Jonghyun yang juga entah kenapa sangat takjub melihat Taemin berada dalam satu ruangan dengannya. Membekap mulut Jonghyun agar anak itu tak berisik, Jinki dengan satu tangan melepas ikatan di belakang kursi.

“Jinki-ya?”

“Ssht, kita harus menyelamatkan Taemin segera,” bisik Jinki.

“Penyusup.”

Tanpa terduga si mulut peniti muncul di belakang Taemin. Ujung bibirnya yang sudah tak berpeniti sobek semakin jauh dan kini terkulai lemas ke bawah.

“Kau menyakitiku,” suaranya berubah dalam dan menggema, “kau harus menjadi seperti kami.”

Si mulut berjahit menangkap leher kurus Taemin dan mengangkatnya dengan mudah. Anak kecil itu meronta-ronta panik.

“Kau siap, Jonghyun-ah?” Jinki merunduk di samping kursi Jonghyun. Jonghyun mengangguk; dalam waktu singkat Jinki telah membeberkan semua rencananya.

“Ya.”

“Satu….”

Taemin berusaha menggapai tangan kurus yang mencengkramnya dengan sia-sia. Sementara itu, si mulut peniti mematahkan salah satu panel kayu lapuk di koridor, meniup-niup ujungnya yang tajam.

“Kayu ini pasti mampu mencabut bola matamu keluar.” Ia terkikik mengerikan. “Aku akan menikmati pertunjukan ini.”

“Kumohon, jangan….” rengek Taemin di sela-sela tarikan napasnya yang pendek. Matanya sudah digenangi air mata.

“Dua….”

Si mulut peniti mengangkat kayu tersebut tinggi-tinggi, bersiap menghujam ke wajah Taemin. Rekannya memudahkan dengan mencengkram dagu mungil Taemin agar tak bergerak-gerak.

“Tiga. Serang, Jonghyun-ah!!”

Jonghyun mencengkram kedua lengan kursi dan melontarkannya kuat-kuat ke arah pintu. Melesat dengan kecepatan tinggi, menerbangkan tirai dan menghantam kepala si mulut berjahit yang membelakanginya dengan begitu telak. Bersamaan dengan kursi yang menabrak sisi terjauh koridor, si mulut berjahit roboh ke lantai.

Seperti robot yang sudah rusak, tubuhnya menggelepar, sinar matanya berkedip-kedip, mulutnya membuka-tutup tanpa suara selain desisan samar.

“Pe… nyu… sup….”

Jonghyun tak memperhatikan reaksi mencengangkan tersebut; ia sudah berlari ke arah Taemin secepat yang ia bisa, menarik kerah anak lelaki mungil itu, dan merunduk di depan si mulut peniti yang shock dengan serangan mendadak Jonghyun. Ia masih memegang kayu di satu tangannya, dengan amat perlahan menunduk menatap Jonghyun.

“Kau… menyakiti temanku, tak bisa kubiarkan!!” Ia mengayunkan kayunya membabi-buta pada Jonghyun, yang segera berkelit setelah mendorong punggung Taemin ke samping. Tapi ia terlambat; bahunya menjadi sasaran empuk dan ia bisa merasakan nyeri yang berdenyut-denyut disana.

Hyung, kau tak apa?” bisik Taemin cemas melihat Jonghyun mencabut beberapa serpihan kayu dari bahunya. Jonghyun tersenyum samar.

“Tenang saja, aku – “

“Kau harus mati!”

Hanya sesenti dari ujung hidung Jonghyun kayu itu melesat turun, si mulut peniti menggeram marah atas keberuntungan itu. Jonghyun merangkak menembus kegelapan ke arah kepala yang tergeletak tak jauh di depannya, tapi si mulut peniti dapat membaca gerakan Jonghyun; ia melangkah mundur, berputar, dan menghantam kepala Jonghyun sekuat tenaga.

“Itu untuk temanku!” jeritnya puas saat Jonghyun mengerang keras.

“Dan ini untukmu!”

~~~

Jinki berlari ke arah berlawanan saat Jonghyun melontar kursi plastik tersebut. Menabrak kaki meja, menjatuhkan vas bunga, dan menyenggol entah apa lagi dalam perjalanannya ke perapian.

Rencananya simpel saja: membawa kayu yang tersulut api ke kepala Nyonya Kang sementara Jonghyun mengalihkan perhatian kedua penghuni rumah. Setelah itu? Setidaknya mereka bisa kabur selagi dua makhluk aneh tersebut menangis histeris.

Namun semuanya berjalan sedikit melenceng. Ia tidak menduga kekuatan Jonghyun dalam melempar kursi sebesar itu, dan tidak menyangka si mulut berjahit langsung tumbang karenanya. Tentu saja akibat yang ditimbulkan – si mulut peniti mengamuk pada Jonghyun – berada di luar perkiraannya.

Tapi tak ada waktu berpikir ulang. Jinki berhenti tepat di depan perapian, memasukkan tangan dan dengan acak mengambil salah satu kayu yang bergemertak dan memancarkan api, lalu berlari sekencang mungkin ke arah mereka.

Jonghyun gagal mengambil kepala Nyonya Kang, Jinki sudah tahu itu, tapi kenyataan bahwa si mulut peniti menghantam teman sekelasnya membuat kemarahan menggelegak dalam diri Jinki. Tanpa disadari ia sudah mengendap-endap di belakang mereka dan memukul bahu makhluk itu dengan segenap kekesalan dan kekuatannya.

“Dan ini untukmu!”

Untuk sesaat tidak ada yang terjadi, kemudian, seperti pisau memotong mentega, tubuh si mulut peniti melumer di bagian bahu, perlahan menetes ke lantai menjadi cairan hitam pekat. Ia menoleh, menatap Jinki shock sekaligus marah.

“Kau! Apa yang kau lakukan padaku?!”

Si mulut peniti merentangkan kedua tangan ke arah Jinki, tapi kakinya seakan menancap pada tanah, meleleh seperti lilin yang dipanasi dengan suhu tinggi. Perlahan wajah itu ikut meleleh menjadi bentuk lonjong tanpa mulut dan hidung kecuali dua lubang mata yang menyala amat terang. Tangannya yang terulur meneteskan cairan pekat ke lantai.

Tapi bukan saatnya untuk takjub. Jinki merunduk di bawah lengan agar-agar itu lalu menarik kerah Jonghyun dan Taemin menjauh dari sana. Jonghyun dengan cepat mengambil alih kendali; ia berlari di depan, membimbing Jinki yang tidak tahu-menahu soal rumah tersebut.

Mereka menyusuri koridor panjang dan berkelok-kelok, dengan insting Jonghyun berbelok di satu tikungan dan melintasi beberapa ruangan besar lain. Sesekali terdengar teriakan mengerikan yang perlahan mengikuti mereka. Setelah melewati satu ruangan penuh sarang laba-laba, mereka tiba di koridor utama yang menghadap langsung ke pintu tinggi.

“Hei, pintunya tertutup!” jerit Jinki cemas.

“Tenang, aku bisa mengeluarkanmu,” sahut Jonghyun sambil menarik tangan Taemin yang tertinggal sedikit di belakang.

“Bagaimana?”

“Begini.” Jonghyun memeluk pinggang Jinki dari belakang dan mengangkatnya ke lubang sempit di bagian atas pintu. Jinki menahan napas saat tubuh bagian atasnya tiba di dunia luar yang dingin, tapi ia segera menumpukan kedua tangan di pintu, menahan laju tubuhnya yang terus turun ke luar akibat gravitasi. Baru beberapa detik ia berhasil menjejak tanah, kepala Jonghyun telah muncul dan dengan gerakan mudah anak lelaki itu melompat keluar.

“Kau meninggalkan Taemin di dalam?”

“Agar aku bisa menariknya keluar,” sahut Jonghyun. Ia berbalik kembali ke arah pintu untuk membantu Taemin keluar sementara Jinki memandangi jalan yang lengang.

Pagar tanaman, lampu jalan, semua tampak normal dan tak berubah sejak terakhir kali Jinki melihatnya. Ia memejamkan mata, menghirup udara dingin yang sarat kebebasan, kemudian kembali membuka mata.

Sebuah mobil tua telah terparkir di depan gerbang.

~~~

“Kau tak apa, kan, Taeminnie?”

“Ya, Hyung.”

“Jonghyun-ah, lihat itu!”

Jonghyun membalikkan tubuh begitu Jinki menarik jaketnya dengan teramat mendesak. Matanya segera menangkap bayangan lelaki tua bungkuk berjalan tertatih-tatih menuju gerbang sambil mengeluarkan sejenis kunci dari dalam mantel lusuh.

“Dia pencuri?”

Jonghyun tercekat saat ucapan ibu Taemin teringang di benaknya, “lebih dari itu: dia pemilik rumah ini!”

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jinki panik. Jonghyun terdiam.

Jika benar pria itu sang pemilik rumah, maka mungkin ia akan benar-benar memutar lahan untuk memanggil-manggil nama Nyonya Kang. Ini jelas tidak baik; mereka harus segera kabur dari sini jika tidak ingin menerima kemungkinan buruk.

“Kita harus lari, Jinki-ya.”

~~~

Taemin merasa semuanya seperti mimpi: ia dan Jonghyun melihat kepulan asap sepulang sekolah, Jonghyun mengajaknya masuk ke dalam pondok itu, ia ditangkap oleh makhluk aneh, disekap dalam gudang bawah tanah yang membutuhkan usaha keras untuk kabur (kebetulan makhluk-makhluk ceroboh itu lupa mengunci pintu dan tidak merampas ranselnya), nyaris dibunuh oleh kedua penghuni rumah, dan berhasil keluar dari pondok.

Lalu sekarang mereka harus merunduk serendah mungkin untuk menghindari pemilik rumah yang benar-benar masih ada; berdiri di depan gerbang sambil menghisap cerutu.

Merasakan rerumputan menampar pipinya, Taemin mencengkram erat bagian belakang jaket Jonghyun, terus berjalan nyaris tanpa suara menyusuri bagian belakang halaman pondok menuju lubang tempat mereka masuk tadi.

Ini semua ide Jinki; anak lelaki itu mengusulkan agar mereka memutar lewat halaman belakang alih-alih langsung menuju lubang – bukan berarti mereka bisa bebas, tapi dapat sedikit mengulur waktu agar si pemilik rumah sudah tidak berada di depan gerbang. Berbahaya, bantah Jonghyun, tapi akhirnya mereka bertiga tetap mengikuti saran Jinki.

Bersembunyi di balik mesin pemotong rumput usang, mereka bergerak bak kucing; pelan dan tanpa suara. Di bawah komando Jonghyun, mereka segera berlari saat pemilik rumah membungkuk di depan gerbang menuju garasi yang berada di ujung halaman. Tepat saat kaki Taemin masuk ke balik bayangan bangunan tua itu, sang pemilik rumah kembali mendongak seakan merasakan adanya penyusup dalam rumahnya.

“Kita sudah ada disini,” Jinki berkata hal yang sebenarnya tidak perlu. Jonghyun menyikut rusuknya.

“Lalu apa, idiot? Bagaimana caranya kita keluar?” bisiknya gusar.

“Pria tua itu akan masuk ke dalam rumah, bukan?”

Giliran Taemin yang berbisik, “menurut mitos dia akan mencari-cari istrinya di halaman.”

“Kalau begitu kita tidak punya kesempatan untuk lari?” desis Jinki terkejut. Wajahnya sontak memucat; sepertinya ia tidak mempertimbangkan detail kecil ini dalam rencananya.

“Tapi setidaknya,” Jinki melanjutkan, lalu terdiam. Sedetik kemudian ia memekik, “Jonghyun tidak ada!”

Anak lelaki itu tampaknya tak sabar dengan Jinki, maka ia mengendap-endap mendahului mereka menuju lubang yang menganga di dekat gerbang. Hanya tampak seperti gundukan tak nyata yang bergerak.

Jinki menggumam tak jelas dan menggenggam tangan mungil Taemin, menariknya menyusul Jonghyun saat pemilik rumah berbalik kembali ke dalam mobil.

Sepertinya Dewi Fortuna berpihak pada mereka; hingga Jinki dan Taemin berhasil keluar dari celah dahan yang saling silang, pemilik rumah tetap tak menyadari kehadiran mereka. Jonghyun sudah menunggu di trotoar sedikit jauh dari rumah tersebut, gemetar dan kelelahan.

“Hei, kita berhasil,” engahnya pada Jinki. Ia mengangkat satu tangan yang segera disambut high-five oleh Jinki.

“Kupikir pemilik rumah itu termasuk satu rintangan, ternyata dia tidak melakukan apapun,” sahut Jinki menyetujui. Diam-diam ia melirik si pemilik rumah. Pria itu masih berada di dalam mobil.

“Jadi… kau bilang pemilik rumah itu menyimpan mayat istrinya di dalam rumah,” bisik Jonghyun sembari menarik Jinki mendekat. “Benarkah?” tanyanya ragu. Ada sirat penasaran di matanya.

Jinki bergidik ngeri membayangkan foto keluarga yang dilihatnya. Kedua makhluk itu adalah anak sang pemilik rumah; bagaimana cara mereka hidup seperti zombie, Jinki enggan memikirkannya. “Entahlah. Bisakah kau berhenti membahas hal itu? Kita sudah berhasil keluar.”

“Tapi — “

Hyung, kau akan menginap di rumahku juga?” sela Taemin. Melihat sekujur tubuh Jinki yang basah dan kotor, ia meragukan kakak kelasnya itu sanggup pulang ke rumah.

“Tidak usah.” Jinki tersenyum pada Taemin. “Sampai jumpa lagi, Taeminnie. Maaf aku sudah berbohong tentangmu; kupikir Jonghyun akan tenang jika aku bilang melihatmu di loteng. Omong-omong, dimana kau tadi?”

“Maksudnya kau tidak pernah melihat Taemin? Ya!” Jonghyun menonjok pelan lengan atas Jinki, kesal karena ia sudah ditipu. Tapi setidaknya anak itu berusaha tidak membuatnya khawatir….

“Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa, Jonghyun-ah, Taemin-ah….”

Jinki berbalik meninggalkan kedua anak lelaki itu dan mulai melangkah pulang. Tidak bisa dipungkiri tenaganya sudah terkuras habis, tapi ia rasanya sanggup menghabiskan malam untuk menceritakan pengalaman menegangkan ini pada ibunya.

“Hei, Jinki-ya!”

Jonghyun memanggilnya? Jinki menoleh, memiringkan kepala melihat Jonghyun yang sudah ada di seberang jalan, di depan rumah berpagar kayu putih. Anak lelaki itu membuka gerbang kayu. Sementara Taemin sudah masuk ke dalam, ia tersenyum lebar.

“Hari Senin, kau duduk sebangku denganku!”

Jinki tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Dan mendapat satu teman baru yang mengasyikkan. Rasanya semua lelah dan pegalnya terbayar.

~~~

“Hyung, kau tidak ingin tahu apakah pemilik rumah benar-benar memanggil istrinya atau tidak?” Taemin bertanya saat mereka sudah tiba di rumah, mengendap-endap naik ke kamar Taemin dan membersihkan tubuh sedemikian rupa hingga sekarang siap untuk tidur.

Jonghyun menarik selimut sampai sebatas dagu Taemin. “Tidak usah, aku sudah cukup lelah dengan rumah seberang.”

“Aku juga,” Taemin menguap lebar, “selamat malam, Jonghyun hyung.”

“Selamat malam, Taeminnie.”

Jonghyun kembali turun dari tepi tempat tidur begitu Taemin terlelap. Perlahan ia menegakkan kursi dan naik ke atasnya, berjinjit agar dapat melihat melalui celah sempit ventilasi.

Rumah itu gelap. Rumah itu kosong. Tapi bayangan sesosok pria bungkuk tengah berjalan menyusuri halaman nyaris tanpa suara, menyibak-nyibak rerumputan entah mencari apa.

Jonghyun mendadak merasa sangat mengantuk. Hari ini dua tujuannya tercapai: melihat pria tua itu benar-benar ada di seberang rumah dan menjadi teman seorang Lee Jinki.

Ia tak sabar menanti hari Senin dan berbagi pengalaman dengan teman barunya.

..::END::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

38 thoughts on “House Next Door [3.3]”

  1. hhaaah..
    Leganya.. Akhirnya tamat..
    Keren abies.. Aku suka sama karakter OnJongTae..
    Buat lg dunk yg kya gni.. Hehe..
    Keep writing!!

  2. yeeiiyy……
    Akhirnya happy ending..
    Waauuuu……………
    OnJongTae memang kereen….
    Kecil2 udh super duper pemberani..
    Sering2 buat yg spt nie ya..^^

  3. Dengan hebohnya, aku berseru ‘YAHHH, YAHHH, YAHHHH’ waktu baca pria pemilik rumah dtg, auranya horor. Aku pikir jangan2 endingnya bakal ‘kagok’.
    Lega banget ternyata engga, huh u,uv
    zakey eon, entah kenapa aku rada ngakak sm karakter hantu peniti. Pinter tp bodoh (?) -.- dasar udh bukan manusia .-. Wkwk.
    Good job, eon, dirimu berbakat memang ‘-‘)d

    1. Maunya sih mereka harus ngelawan (?) pemilik rumah, tapi nanti jadinya lebih panjang lagi, dan itu sama sekali nggak keren u.u

      Thank you, I’ll try harder ^^

  4. Ahh, ada FF keren nih,
    Aku belum baca part2 sebelumnya :p Entar mampir ahh

    Tapi itu, ngeliat ada mahluk peniti sama mulut berjahit kenapa aku jadi inget film kartun yang masuk kerumah2an serem ya (lupa judulnya). Itu juga walopun filmnya kartun dan buat anak2 entah kenapa feel nya serem aja nonton itu, ini juga sama 😀

    Tapi keren loh narasinya, sukaaa (y)

    1. Baca, ayo baca part sebelumnya dan jangan lupa komen <- promosi

      Banyak yang bilang gitu, emang mirip sama film Monster House, iya kan? Yes, makasih banyak yaa 😀

  5. fuih, happy ending! *ngusap keringet* sy pikir bakalan sad ending.
    Sy bener2 kyak lagi lari marathon, abis baca yg part 1, lngsung ke part 2 n 3 ^^
    sy tggu karya slanjutnya y~^^

  6. Hhahh… akhirnya mrk bisa kluar jg *naps lega*
    Daebakk thor sumpah nihh keren banget ‘-‘)b

    Euumm.. Sbnrnya dikepalaku ini msh ada sdikit prtnyaan. apa yg trjdi dgn istri & pmilik rmh smpai mrk bisa jd zombie kyak gt?& 1 lg, jd trnyata mitosnya bener klo tiap bln baru si pemilik rmh bkln dtg & keliling rmh nyari istrinya. Berarti dia ga tau dong apa yg ada & trjadi didlm rmhnya??Aku msh penasaran ma 2 hal itu 😀
    Tp aku senang akhirnya ending jg. Klo ngga aku ga tau bkln tdr jam brp semalam, aku ngabisin wktu 3 jam baca dr part 1 ><
    OnKey dehh thor ditunggu krya²selanjutnya. Fighthing!! ^^)9

    1. Wah, tiga part sekaligus? O__O Hmm, pemilik rumahnya tau nggak yaa?

      Yap, kalo (masih) penasaran, tunggu sequelnya saja yaa… Makasih udah komen 😀

  7. Wuuaaah dari awal sampai akhir sukses bikin aku penasaraan! xDD Menurutku keren banget! Aku seneng ngebayangin Taemin jadi anak kecil, hehe. Tokoh Jonghyun sama Onew disini pas banget menurutku 😀
    Tapi aku masih penasaran. Kenapa keluarga di rumah itu bisa jadi kayak hantu? Diapain sama bapaknya? Ngapain bapak pemilik rumah itu di halaman rumahnya? Nyari duit jatuh? ._. #duagh

    Aaah, pokoknya aku suka deh! Oh iya, aku panggil ZaKy Author aja nggak apa-apa? ._.
    Lanjut terus, ya Author. Karya selanjutnya ditunggu ^^

  8. end?? sumpah ini nanggung!! kok endingnya bkin orang kepo sih? jd aslinya mereka beneran hantu, trus gk dijelaskan apa yg dilakukan si pemiik rumah?

    aq msih bingung, tp si kepala nyonya kangnya kan blm dibakar? berarti msh berbahaya dong? perlu sequel!!!

    1. Halo, maaf baru bales di part 3 ini aja. Fasilitas kurang memadai ._.

      Dan Anda memiliki pikiran yg sama dengan saya #plakk *makin malem makin ngaco -_-

      Iyaa, sebenernya ada niatan buat bikin sequel karena aku sendiri terbingungkan (?). Udah jalan kira2 4 halaman daaan… komputerku bermasalah. Yah, mungkin lah dibuat lagi, mumpung nganggur juga ._.

      Anyway, thanks a lot, Hanakey ^^

  9. Ughh leganyaaaa ..akhirnya mereka selamat , tapi koq berasa masih gantung ya ??
    Jadi gimana kelanjutan kisah si ahjussi tua itu stelah arwah/zombie nyonya kang mati atau mungkin lebih tepatnya keadaan dalem rumahnya itu kacau atau gimana lah pkonya harus ada kisah untuk ngjelasinnya …
    Dan juga prtemanan jjong sama jinki akhirnya gimana , trus juga aku masih penasaran ama jinki ..dari tadi aku ngiranya kalo jinki itu bukan manusia loh jadi yaa semacam roh yang nyamar jadi jinki untk bantuin jongtaem mungkin atau apapun sejenisnya gitulah ..
    Yaa intinya mnurut aku sih ini harus SEQUEL !!!!
    Ya ya ya ?? Please author ..beri jawaban ataupun pncerahan atas fantasi2ku kkk~

    SEQUEL SEQUEL SEQUEL !!!!!

    1. Jinki manusia biasa, anak kecil yang imut dan menggemaskan (?). Sequelnya masih diproses kok, tenang aja, haha 😀

      Makasih yaa ^^

  10. annyeong Zaky, saya baca ff ini dulu sebelum baca Toy Store, mian baru komen di part 3, bacanya dikebut nih.. Saya suka ff-nya, dan saya langsung lanjut ke sequel ya.. 🙂

  11. Aahhhh!! Ikutan lega waktu selesai baca
    Kirain belakangnya si orangtua itu ngejar jinki jong taem gitu wkwk untuuung nggak
    Seru bangeet! Aku ikut nahan nafas waktu mereka di dalem rumah itu. Bisa ya nyeremin gitu rumahnya:/
    Daebak:D!

  12. Benar2 menegangkan.
    Apalagi bagian pemilik rumah pulang.
    Ternyata bener2 nyariin isterinya tuh pemilik rumah.
    Yg jd pertanyaan, napa anak2 dan isteriny pd jd zombie??
    Hanya author lah yg tw hahay.
    Happy ending(?) dpet teman bru n crita baru.
    Tp apa tubuhny JH gak patah2 tuh? Dpukulin mulu daritadi.
    Deudieo, Nice ching.

  13. sukaaa deh sama karakternya jinki disini.. ^^~ easy going… juga, kayaknya dia santai banget ya pas lagi bawa kepalanya nona kang itu (0.0) ini fanfic pertama yg buat aku dag dig dug (?) lanjutin sequel (toy store) nya yaaaaa~

  14. Fiuh~ lega happy end
    sempet tegang waktu mreka nyusup kluar… mrinding gila..
    takut2 mreka djadiin zombie
    tapi serius pnasaran sama mahluk aneh penghuni rumah.. itu mreka sebenrnya apa

    Ff daebak! good job zakey ^^
    saya bener2 terpesona 🙂

  15. Hooaaaaaaa,,,,, Daebakk Min! Sungguh menegangkan 😀

    Klw nae jdi mrka b.3 ,, mgkin mati aja kali ye? #Plakk..

    Oh, jdi tuh monster2 keluarga? Nahhh, anaknya knp bsa kek bgtu min? #Gantuuuung XD

    TaeMin lucu ahhh 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s