More Than 100 Days – Part 6

More Than 100 Days – [6]

Title : More Than 100 Days

Author : adinary

Main Cast : Han Jinie – Lee Taemin

Support Cast : Key – Sulli

Length : Sequel

Genre : Fantasy – Romance – Family

Rating : General

Summary : Peristiwa jatuhnya Jinie ke dalam sungai Han membuat Key melarang Jinie untuk menemui Taemin. Key menemui Taemin dan membuat Taemin sadar karena perkataan Key. Ketika hari ke 100 sudah terlewati, Jinie tetap kukuh untuk menuntaskan tugasnya karena itu tanggungjawabnya.

A.N : A-A-Annyeong~ kkk part 6! sorry kalo ada typo ngeditnya sambil ngantuk-_-v atau kalo ceritanya gaje juga maapin T_Tv Buat reader yang naik kelas, yang lulus selamat ya hohoho~ Mungkin pas kalian baca ini, udah telat ya buat ngucapin selamatnya-_-v OKE! Komentar, kritik san saran tetep ditunggu! Enjoy~ dilarang copas!

(part sebelumnya~)

Author pov

Seungho mendelik ke arah Taemin dan mendorong Taemin agar menyingkir dari atas tubuhnya. Dengan cepat mereka semua kabur meninggalkan Taemin sendirian bersandar di pembatas jembatan dengan penuh luka dan tubuh yang lemas.

“Eottokhae..” Lirih Taemin.

“Jinie..mianhae..”

“Jeongmal mianhae..”

Setelah itu semuanya gelap di mata Taemin.

***

Key pov

Manusia-manusia bodoh.

Dengan cepat aku berubah wujud menjadi manusia lalu memunculkan sayap di punggungku dan terbang meluncur dengan cepat ke bawah menyusul Jinie baru saja tercebur ke sungai Han.

Suara percikan yang keras tedengar saat aku meluncur lalu muncul percikan lumayan besar di permukaan saat aku meluncur ke dalam air dan menangkap tubuh Jinie yang pasrah tenggelam dengan mata terpejam.

Aku harus segera membawanya ke permukaan sebelum ia kehabisan nafas. Dengan cepat aku kembali menembus permukaan air dan seketika menghilang. Aku membawa Jinie pulang untuk sementara.

Aku membawa Jinie pulang ke negeri kami tanpa sepengetahuan siapapun terutama ayahnya. Aku menggendong Jinie menuju ruangan rahasia di rumahku. Beruntung orangtuaku sedang bertugas di luar.

Tubuh kami basah kuyup lalu aku membaringkan Jinie di sofa,“Aish sekarang aku harus bagaimana..”

Jinie pingsan karena ia sama sekali tak merespon saat aku menepuk-nepuk pipinya. Dengan kemampuanku, akhirnya aku mengeringkan tubuh Jinie terlebih dahulu dan menghangatkan suhu tubuhnya. Badan Jinie sangat dingin dan wajahnya terlihat sedikit pucat.

Jinie mengerang saat tubuhnya menghangat dan napasnya kembali normal. Ia membuka sedikit matanya tapi terpejam lagi. Mungkin ia pusing lalu tidur?

Aku pun akhirnya mengeringkan tubuhku sendiri lalu menatap wajah Jinie lagi. Duduk di lantai dan membelai lembut rambutnya yang sudah kering.

Manusia-manusia bodoh itu yang membuat Jinie seperti ini. Bodohnya aku terlambat untuk menyelamatkan Jinie dan juga….yah Taemin. Taemin? Bagaimana kabarnya sekarang? Entahlah. Mungkin ia sekarang ada di rumah sakit untuk di rawat?

Taemin pov

Esok paginya…

Mataku mengerjap-ngerjap pelan lalu tertutup lagi saat melihat cahaya putih menusuk mataku. Aku mengerang, kepalaku pusing sekali. Dimana ini?

“Taemin-ah, kau sudah sadar?”

Suara seorang wanita terdengar di telingaku. Sulli?

“Kau sudah sadar?”

Aku pun membuka mata perlahan-lahan dan mendapati Sulli di depan mataku. Ia memegang sebelah pundakku.

“Aku panggil dokter, ya.” Ucapnya. Ia menekan tombol di samping bantalku agar dokter datang. Aku di rumah sakit? Badanku sakit semua.

Tak berapa lama seorang dokter dan suster masuk ke dalam ruanganku lalu langsung memeriksaku.

“Ia membaik, tapi harus lebih banyak istirahat lagi.” Ucap dokter itu pada Sulli.

Dokter itu keluar lalu Sulli kembali menghampiriku. Aku pun mencoba mendudukan tubuhku dibantu Sulli. Aku memegang kepalaku. Ah, pusing sekali.

“Kau masih harus banyak istirahat. Lihatlah, wajahmu penuh lebam dan tubuhmu banyak goresan.” Ucap Sulli dengan nada khawatir.

Aku sedikit tersenyum, “Boleh aku pinjam cermin?”

Aku pun bercermin dan melihat bayanganku di cermin. Omo~ Wajahku… di penuhi banyak lebam. Sudut bibirku juga sangat merah dan sakit saat di gerakan. Punggung dan bahuku juga sakit. Lenganku juga banyak goresan aspal.

Ini semua gara-gara Seungho bodoh itu. Dasar laki-laki pengecut. Ia bahkan berani mendorong Jinie sampai…

Aku teringat sesuatu, “Jinie? Dimana Jinie???”

Sulli menatapku heran, “Jinie? Siapa Jinie?”

Ah, pabo. Yang tahu Jinie kan hanya aku saja, “Ah, ani. Sepanjang aku pingsan sepertinya aku bermimpi. Dimana eomma dan appa?”

Sulli duduk di pinggiran ranjang, “Eommamu sedang mengurus administrasi dan appamu sedang dalam perjalanan pulang ke Korea.”

Aku hanya mengangguk, “Gomawo.”

Sulli menoleh padaku, aku berusaha untuk tersenyum walau sudut bibirku sakit, “Terimakasih karna mau merawatku.”

Sulli memberikan senyum termanisnya, “Ne. Sudah seharusnya aku merawat kekasihku sendiri dan terman terbaikku.”

“Lebih baik kau tidur lagi. Istirahatlah yang banyak dan jangan banyak pikiran. Supaya cepat pulih.” Lanjutnya. Ia membetulkan letak bantalku dan membantuku untuk rebahan kembali. Ia menyelimutiku dan mengusap rambutku.

Aku memejamkan mataku, tapi pikiranku kacau.

ARGH pikiranku kalut, hatiku juga. Dimana Jinie? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu hal yang buruk padanya?

Sungai Han. Sungai han itu dalam. Apa dia tenggelam? Ya Tuhan kumohon jangan. Lakukan apapun yang penting ia selamat.

Aish! Ini gara-gara aku juga. Seharusnya aku bisa melindunginya dan tak membiarkannya membelaku saat itu.Taemin kau terlalu bodoh, bodoh, bodoh!! Arrrggghhhh

Aku harus mencari Jinie.

Author pov

Keesokan harinya…

Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Taemin sendirian di kamar rawatnya. Hari ini ia ingin mencari Jinie. Tak peduli tubuhnya masih terasa sakit. Rasa khawatirnya sudah tak tertahankan lagi. Taemin mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan bergegas keluar dari rumah sakit.

Selangkah demi selangkah Taemin keluar dari rumah sakit dan naik taksi untuk menuju pinggiran sungai Han.

Terik matahari pagi menyinarinya saat itu. Sekarang Taemin sudah ada di pinggiran sungai Han. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru pinggiran ini. siapa tahu ia menemukan Jinie yang terdampar atau terdiam lemah.

Taemin memegangi perutnya yang tempo lalu di pukul dengan tongkat baseball. Ia terus berjalan perlahan mencari Jinie. Pinggiran sungai Han ini masih sepi. Ini memudahkannya untuk mencari Jinie.

“Jinie-ya!” Teriak Taemin memanggil nama Jinie.

Taemin menyipitkan matanya karena silau, “Han Jinie!!”

“Jinie-ya! Kau dimana??”

Taemin terus berteriak memanggil nama Jinie. Siapa tahu Jinie mendengar, pikir Taemin.

Taemin tak peduli dengan beberapa orang yang melintas yang mungkin menganggapnya pasien rumah sakit jiwa.

Keringat bercucuran di kening Taemin. Ia berusaha keras melawan rasa lemas dan sakitnya. Tapi hasilnya nihil. Ia sama sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaan Jinie.

“Jinie, kau dimana..” Lirih Taemin. Ia nyaris putus asa.

Matahari semakin naik, menandakan bahwa waktu telah bertambah. Taemin duduk dipinggiran sungai Han.

Taemin menghembuskan napasnya pasrah, “Ini tidak berguna. Lalu aku harus bagaimana?”

Taemin mengusap wajahnya lalu meremas rambutnya sendiri dan mengerang frustasi.

“Jinie ada bersamaku.”

Perlahan Taemin menoleh dan mendapati sosok manusia Key duduk sampingnya.

“Dia baik-baik saja.” Ucap Key lagi.

Key menatap lurus melihat sungai, “Dia akan menemui nanti. Aku tidak akan mengijinkannya untuk kembali bersamamu selama beberapa hari.”

Taemin kembali menunduk, “Mianhae.”

“Jangan meminta maaf, itu takkan berarti apa-apa karena semuanya sudah terjadi.” Ucap Key dingin.

“Ini semua gara-gara aku. Jinie berniat melindungiku.” Ucap Taemin.

“Ne. Ini memang gara-gara kau.”

“Mianhae.”

“Sudah kubilang jangan meminta maaf. Kau itu bodoh atau bagaimana?”

“Aku memang bodoh.”

“Hidupmu itu yang bodoh. Terkadang aku ingin sekali memaki kehidupan manusia-manusia yang bertingkah bodoh sepertimu. Berurusan dengan orang-orang tidak berotak dan melakukan hal bodoh lainnya.”

Key menghembuskan napasnya dan melanjutkan perkataannya, “Tapi tak ada gunanya memaki hidup para manusia. Bukan hidup namanya jika tanpa kebodohan. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna termasuk makhuk seperti aku.”

Taemin menelan ludahnya dan tetap menunduk.

“Tentang Jinie. Kau pasti sudah tahu kan kalau dia hanya membantu memperbaiki nasibmu, hidupmu. Membantu. Garis bawahi kata-kata itu. Perlu kau ketahui, Jinie bukan tipe gadis yang mempunyai semangat besar untuk mengurusi urusan orang lain.” Lanjut Key.

“Dia tak pernah memperdulikan orang lain. Di sekolah, ia hanya memperhatikan intruksi tanpa menyerapnya. Jinie tak punya ibu, kau tahu itu kan?”

“Ne, aku tahu.”

“Sejak ia lahir ia hanya tinggal dengan ayah dan kedua kakaknya. Ayahnya adalah seorang kepala pembimbing para peri di negeri kami. Salah satu orang paling di hormati. Dan kedua kakaknya juga dua peri yang begitu di kenal banyak peri. Karena itu lah sikap Jinie seperti itu. Ia merasa semua pembelajaran itu tidak berguna, ia sama sekali tak ingin menjadi peri yang sesungguhnya. Ia merasa sudah cukup dengan apa yang ia punya dan menyandang gerlar anak bungsu dari kepala peri di negeri kami.” Jelas Key.

“Tapi saat ia bertemu denganmu, aku melihat Jinie dengan sosok yang berbeda. Walau mungkin di awal ia bertindak semaunya saat membantumu, tapi ia benar-benar berubah. Sebelumnya aku tak pernah melihat Jinie yang bersemangat menjalankan tugasnya. Aku tidak pernah melihat Jinie yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Aku tidak pernah melihatnya frustasi karena tugasnya dan aku tidak pernah melihat Jinie yang peduli pada oranglain, menyelamatkanmu seperti kemarin sampai nyawanya nyaris terancam.” Lanjutnya.

“Benarkah dia gadis seperti itu sebelum bertemu denganku?” Tanya Taemin.

“Ne. Kau tahu? Begitu ia sadar kemarin, ia langsung memohon padaku untuk kembali menemuimu. Ia menjelaskan semua tugas yang belum selesai. Ia bilang kalau kau adalah tanggung jawabnya.”

Taemin menoleh menatap Key. Lalu Key balas menatap Taemin, “Berusahalah untuk membenahi hidupmu sendiri. Karena Jinie hanya membantumu.”

Sedetik kemudian Key berdiri dan menghilang seketika. Sedangkan Taemin termenung. Ucapan Key membuatnya sadar.

Key pov

1 minggu kemudian…

“Key sunbaeeeee, sampai kapan aku harus tinggal disini???” Rengek Jinie.

“Molla.” Jawabku singkat sambil membaca buku.

“Aish! Kau menyebalkan! Kau membuang waktuku 9 hari!”

Aku hanya diam dan terus membaca.

“Ah jinjja, lalu bagaimana dengan Taemin? Bagaimana dengan tugasku?” Gerutunya sambil bergulingan di sofa.

Aku hanya menggeleng dan terus membaca.

“KEY SUNBAE! KENAPA HIDUPMU PENUH DENGAN MEMBACA, HAH?!”

Ada apa dengan gadis itu? Berani sekali ia berteriak di hadapanku. Aku pun menutup bukuku dan menatapnya, “Ya.. bisakah kau sopan pada sunbaemu sendiri? Apa kau baru tahu kalau aku hobi membaca, karena itulah aku pintar tidak sepertimu.”

“Ish, jangan bawa-bawa kepintaran! Aku tahu kau peri berprestasi dan pintar.” Ucapnya lalu duduk di atas meja.

Aku pun beranjak dari dudukku menuju dapur kecil di ruangan rahasia ini. Tiba-tiba Jinie merengek lagi sambil bergelayut di tanganku, “Sunbae~ ayolaaaah, biarkan aku menemui Taemin lagi. Waktuku tinggal 5 hari.”

Aku menatapnya sekilas lalu berjalan dan duduk di sofa tanpa menanggapi rengekannya.

“Sebenarnya apa alasanmu melarangku kembali menemui Taemin?” Jinie menghampiriku dan duduk di sebelahku dengan wajah cemberut.

“Aku memberinya waktu untuk belajar tanpa ada kau bersamanya.”

“Mwo?”

“Ne. aku sudah bilang padanya sekitar seminggu yang lalu.”

“Mwoya?? Kapan kau menemuinya? Kenapa aku tidak tahu?”

Aku mengabaikan pertanyaannya, “Kurasa besok kau boleh menemuinya.”

“Oh jeongmalyo???”

Aku tersenyum dan mengangguk, “Ne.”

“Aaaaaa gomawoyo~ kau sunbaeku yang paling tampan!” Ucapnya sambil mencubit sebelah pipiku.

Tumben dia bilang aku tampan-_-

Taemin pov

Aku duduk di pinggiran kasur sambil memegang kalender. Ini sudah seminggu lebih kalender ini tidak di lingkari oleh Jinie. Apa Key masih belum mengijinkan Jinie bertemu denganku?

Tapi kata-katanya tempo lalu membuatku sadar. Kalian tahu? Urusanku dengan genk balap liar itu sudah selesai. Tanpa di sangka-sangka Seungho menemuiku di depan sekolah untuk meminta maaf. Ia menanyakan kabar wanita yang jatuh karena di dorong olehnya. Aku sedikit berbohong saat itu. aku bilang kalau Jinie terluka parah dan pingsan seharian. Itu agar rasa bersalahnya pada Jinie semakin besar.

Lalu dia berjanji untuk tidak akan menggangguku lagi. Hhh, baguslah, aku juga sudah tak ingin berurusan dengan orang seperti itu.

Dan mulai hari ini aku sudah memulai ujian semester akhirku. Hari pertama tadi lancar, aku bisa mengerjakan semua soal dengan baik. Ini karena aku sudah sering belajar. Ini juga karena Jinie.

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, “Ah~ kapan dia kembali~”

“OPPAAAA~!!!!”

Bruk

Aku terlonjak kaget dan langsung turun dari kasur. Ada yang berteriak oppa dan masuk lewat jendela secepat kilat lalu mendarat di kasurku. Serangga? Hantu? O.o

Aku mengamati sekitar kasurku dengan cermat.

Bwusss

“OPPA!”

“Aaaaaa!!!” Teriakku kaget saat seekor beruang memanggilku oppa.

Tunggu!

“Han…Jinie???” Aku membulatkan mataku.

Beruang itu mendekat dan merentangkan tangannya seperti akan memelukku, “Ne~ Ini aku Jinie~”

“Yayaya! Ubah wujudmu jadi manusia!”

“Memang aku apa?”

“Kau beruang-_-“

Jinie menunduk melihat wujudnya, “Ah jinjja, apa kemampuanku belum meningkat.”

Bwussss

Lalu Jinie mendekat dan memelukku, “Taemin oppa~~~”

Aku tersenyum senang dan balas memeluknya erat, “Jinie-yaaaaa~”

~~~

Jinie terlihat senang memakan ayam gorengnya. Aku juga ikut senang melihatnya.

“Ada angin apa kau memanggilku oppa?”

Jinie menoleh, “Wae? Kau merasa aneh? Kekeke~ aku hanya ingin memanggilmu oppa hari ini. Besok namamu akan terlepas dari embel-embel oppa lagi.”

Aku hanya terkekeh lalu diam sejenak, “Mianhae. Aku tidak bisa menjagamu tempo lalu.”

“Gwenchanayo~ Aku baik-baik saja. Kau tidak usah meminta maaf.” Senyumnya.

“Apa kau terluka parah?”

“Aniyo. Saat itu aku hanya pingsan dan saat bangun, punggungku terasa sakit gara-gara laki-laki menyebalkan yang memukulimu itu. Oh iya, Key sunbae bercerita padaku kalau kau masuk rumah sakit setelah kejadian itu, lukamu pasti parah.” Ucapnya sambil menelusuri wajahku dengan matanya.

Aku tersenyum, “Ne, memang sedikit parah. Kau tahu? Wajah tampanku di penuhi lebam. Tapi aku hanya 3 hari di rumah sakit.”

“Aku dengar kau pergi diam-diam dari rumah sakit untuk mencariku ke sungai Han.”

Aku menggaruk kepalaku, “Ne.”

“Waaa kau sungguh anak nakal! Kalau kau pingsan dijalan bagaimana??? Untuk apa kau mencariku.”

“Karena aku khawatir padamu.”

“Mwo?”

“Laki-laki mana.. maksudku teman mana yang tidak khawatir kalau temannya jatuh ke sungai Han dan tidak ada kabar sama sekali.”

“Kau rela sampai bercucuran keringat, menahan sakit dan rasa lemasmu untukku?”

Aku mengalihkan pandanganku, “Ne.” lalu menatapnya lagi, “Darimana kau tahu?”

“Tentu saja Key sunbae menceritakan semuanya padaku.”

“Gomawoyo.” Ucap Jinie.

Aku menatapnya heran, lalu dia tertawa kecil, “Terima kasih atas perjuanganmu untuk mencariku.”

“Oooh, ne.”

Jinie menepuk pundakku, “Ujianmu lancar ya? Chukkhae!”

“Ini berkatmu juga.”

“Aku senang melihatmu berubah jadi lebih baik. Itu artinya bantuanku tidak sia-sia. Bagaimana orangtuamu?”

“Mereka merawatku dengan intens saat aku di rawat. Mereka terlihat sangaaaat khawatir. Begitu juga Sulli, kekeke. Selama 3 hari aku dirawat, eomma dan appa selalu ada di sampingku. Appa sempat menyuruh asistennya untuk memberiku 2 bodyguard untuk mengantarku kemana-kemana, tapi aku menolaknya. Dan yahh sekarang kembali seperti biasa, mereka tetap sibuk.” Jelasku.

“Dulu, biasanya apa yang kau lakukan kalau kau sedang ujian?” tanya Jinie.

Aku tersenyum getir mengingatnya, “Aku akan menyelinap ke kamar eomma dan appa lalu menyimpan secarik kertas bertuliskan bahwa aku akan ujian dan meminta support mereka dan paginya sebelum aku berangkat, eomma akan memberiku susu coklat sambil berkata, “Taeminie, ini eomma buatkan susu penyemangat.”. Lalu setelah ujian selesai, mereka akan mengajakku jogging di taman dekat rumah kami. Kau tahu? Dulu biasanya setiap hari minggu aku dan appa juga suka mencuci mobil kesayangan kami berdua, itu menyenangkan.”

Jinie terkekeh, “Mobil yang mana? Mobil keluargamu kan banyak.”

“Sedan tua dan kecil. Warnanya hijau. Terparkir di garasi paling belakang. Yah, tapi itu dulu. Bertahun-tahun aku tidak merasakannya lagi.”

Jinie menunduk lalu menatapku sambil tersenyum, “Gwenchana, aku akan terus membantumu. Akan kubuat mereka datang saat pembagian rapormu sebagai penutup tugasku. Sekarang kau fokus dengan ujianmu saja.”

“Baiklah.”

Author pov

5:00 AM

Jinie diam bangun dan keluar dari kamar Taemin. Ia menyelinap masuk ke dalam kamar kedua orangtua Taemin dengan wujud perinya dengan membawa secarik kertas polos berwarna biru.

“Eomma, Appa~ Aku sedang ujian akhir semester. Doakan aku^^”

Jinie membaca ulang secarik kertas tersebut lalu tersenyum dan meletakkanya di meja rias, “Semoga berhasil.” Bisik Jinie.

7:00 AM

Ny. Lee melihat secarik kertas di atas meja riasnya. Ia mengambil dan membacanya.

“Eomma, Appa~ Aku sedang ujian akhir semester. Doakan aku^^”

Ny. Lee tertegun lalu tersenyum dengan mata agak berkaca-kaca. Ia teringat sesuatu, “Berapa lama ia tak melakukan hal ini?”

Air mata menetes dari mata Ny. Lee, “Atau aku yang selalu sibuk sampai tak sadar kalau Taemin selalu menyimpan kertas ini di meja saat ia akan ujian?”

Air matanya menetes lagi, “Maafkan eomma, Taeminie.”

Sedangkan di ruang makan, Taemin sudah selesai sarapan di temani Jinie yang selalu duduk di atas kepalanya dengan wujud peri setiap waktu sarapan.

Saat Taemin hendak beranjak dari duduknya, Taemin terpaku saat mendengar suara eommanya, “Taeminie~ ini eomma buatkan susu penyemangat.”

Secepat kilat Jinie langsung masuk ke dalam saku seragam Taemin dan mengintip semua hasil dari rencananya tadi malam.

Taemin menoleh ke arah eommanya yang kini berdiri di sampingnya dengan senyum dan segelas susu coklat hangat yang disodorkan padanya.

“Eomma..” lirih Taemin.

Eommanya tersenyum, “Wae? Ini minumlah agar kau lebih bersemangat mengerjakan soal-soal ujianmu. Minumlah selagi hangat.”

Dengan agak ragu dan kaget Taemin mengambil gelas susu tersebut dan meminumnya sampai habis, “Ini. Sudah habis.”

Eommanya tersenyum lalu mengelus pundak Taemin, “Semoga ujianmu hari ini lancar. Eomma doakan agar soalnya terasa mudah untukmu.”

Taemin tersenyum canggung, “Ne, eomma. Gomawo. Aku pergi dulu.”

“Hati-hati, ya.”

Taemin tersenyum lalu berlalu meninggalkan ibunya di ruang makan. Tanpa Taemin ketahui, eommanya kembali menahan air matanya. Entah kenapa Ny. Lee merasa sedih, “Berapa lama aku tidak membuatkan susu penyemangat untuknya?”

Sejak tadi pagi, Ny. Lee selalu membuatkan Taemin susu penyemangat untuk Taemin. Sebenarnya susu penyemangat hanya namanya saja, toh sedari dulu, setiap hari Taemin selalu meminum susu buatan ibunya sebelum ibunya terlalu sibuk dengan bisnisnya dan akhirnya bibi Jung mengambil alih tugas membuat susu setiap pagi hari. Dan sekarang, tugas itu kembali ke tangan Ny. Lee.

~~~

Pagi ini, sambil menunggu Taemin mandi, Jinie duduk di pinggir kasur dan memegang kalender. Ia melingkari sebuah tanggal, “Hari ke 100.”

Jinie menghela napas, “Dan perkembangannya baru sedikit. Tapi ini cukup bagus.”

Taemin pun keluar dari kamar mandi dengan seragam yang belum rapi, “Kau melingkari tanggal?”

Jinie menoleh lalu mengangguk kecil. Taemin menghampiri Jinie sambil memasang dasinya. Ia melihat ke kalender yang di pegang Jinie.

Taemin melihat keterangan tanggalnya dan membulatkan matanya, “100. Oh? Sekarang hari ke 100?”

Jinie mengangguk lagi. Taemin pun duduk di samping Jinie, “Emm, apa artinya kau akan kembali ke negerimu sekarang? Atau tidak akan sekarang?”

“Tidak, aku tidak akan kembali sekarang. Tugasku belum selesai disini. Tapi nanti siang aku akan menemui appaku.”

“Apa itu tidak apa-apa? Apa aku perlu bicara pada appamu kalau tugasmu sudah di anggap selesai olehku?” tawar Taemin.

Jinie berpura-pura cemberut, “Yaaaa kau ingin aku segera pergi, huh?!”

“Ani!! Bukan seperti itu. Aku khawatir kalau lebih dari 100 hari, kau akan dapat hukuman atau semacamnya.”

“Sudah kubilang tidak apa-apa, paling hanya nilaiku saja yang takkan sempurna dan dimarahi appa seharian. Kau tahu? Aku sudah biasa dimarahi appa, kekeke.”

“Gadis nakal.”

“Kau pikir kau tidak nakal?!”

Taemin nyengir melihat Jinie yang tersinggung, “Sudahlah. Cepat ubah wujudmu. Aku lapar, mau sarapan dan minum susu penyemangat.”

~~~

Days 101…

Hari ini Jinie sengaja tidak ikut ke sekolah bersama Taemin dengan alasan sakit perut. Dia memikirkan cara bagaimana agar orangtua Taemin ingat kalau hari ini adalah hari terakhir ujian Taemin.

“Sunbae~~~!! Ayolah, berpikir dan bantu aku.” Jinie terus menarik-narik lengan Key.

Key melepasnya paksa, “Ish! Diamlah! Bagaimana bisa berpikir kalau kau terus menarik lenganku.”

“Habis kau berpikir lama sekali seperti kakek-kakek!”

“Mwo?! Kau sendiri berpikir atau tidak, huh?”

“Sudah aku bilang kalau otakku sudah buntu!!! Ayolah, kau bilang kau pintar.”

“Beri aku waktu sedikit lagi.”

“AHA!!!” teriak Key.

“Wae wae wae?? Kau dapat ide?” tanya Jinie.

“Ne.”

Key segera mengambil secarik kertas polos biru di meja belajar Taemin dan menulis.

“Hari terakhir Taemin ujian.”

“Ya! Apa dengan begitu orangtuanya tak akan merasa aneh?” protes Jinie.

“Sudahlah, yang penting mereka jadi ingat.”

Mereka berdua segera bergegas ke kamar orangtua Taemin dengan wujud peri mereka. Tapi mereka terhenti saat mendengat percakapan orangtua Taemin.

“Ssstt, sepertinya mereka membicarakan sesuatu.” Ucap Key lalu mengajak Jinie menguping di balik pintu.

Mereka berdua membulatkan mata dan saling menatap setelah mendengar percakapan orangtua Taemin.

Jinie tersenyum senang sedangkan Key merasa sedikit sebal lalu meremas-remas secarik kertas yang ia pegang.

“Wae? Seharusnya kau senang, sunbae.” Ucap Jinie.

“Capek-capek aku berpikir ternyata mereka sudah ingat sendiri dengan hari terakhir ujian anaknya.”

“Bukannya itu bagus? Ini kemajuan!”

“Ne, ini bagus. Tapi entah kenapa aku merasa sebal.” Ucap Key sambil berlalu meninggalkan Jinie.

“Issshh, kekanakan sekali.” Jinie pun akhirnya mengikuti Key.

~~~

Jam 5 pagi Taemin sudah membuka matanya dan tersenyum. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya, “Ahhh~ Ujianku akhirnya selesai~ Lega sekali.”

Taemin pun berguling ke kiri dan memeluk gulingnya, “Aku ingin bangun siang.” Lalu matanya terpejam lagi.

30 menit kemudian…

Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Taemin. Hal itu membuat Jinie cepat bangun dan bersembunyi.

“Taeminie~ ireona.”

Taemin yang belum terlelap sepenuhnya langsung membuka matanya dan melihat siapa yang sudah membangunkannya, “Appa?”

Taemin beranjak duduk, “Ada apa?”

Tn. Lee tersenyum, “Kau ingin jogging di taman? Eomma sudah menunggu di bawah.”

Taemin mengerjapkan mata, “Mm..mwo?”

“Ne~ ayolah jangan jadi anak malas. Cepat bangun dan ganti baju tidurmu.”

Taemin pun menuruti perkataan appanya dengan wajah sedikit bingung, “Ada apa ini?”

Setelah selesai, Taemin dan appanya keluar kamar. Sebelumnya Taemin sempat menoleh ke arah Jinie seolah pamit. Dengan senyum lebar dan semangat tinggi, Jinie melambaikan tangan kecilnya ke arah Taemin.

“YES!! YES!! Yeeeeeeeeeehaaaa!!!”

Sorak Jinie begitu Taemin dan appanya keluar kamar. Jinie beterbangan kesana-kemari karena senang.

“Waaaaa ini kemajuan~ walau sedikit tapi ini benar-benar kemajuan.” Ucap Jinie yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Taemin.

Taemin pov

Ini seperti sebuah mimpi atau bahkan keajaiban. Aku, Appa dan Eomma sekarang sedang berada di taman. Kegiatan jogging yang sering kami lakukan terutama setelah aku selesai ujian. Kegiatan yang sudah nyaris 8 tahun terakhir terlupakan begitu saja.

Tapi entah kenapa rasanya aku sedih dan terharu. Sampai terlihat canggung saat berjogging di tengah-tengah eomma dan appa.

“Gwenchana?” tanya appa.

Aku langsung menoleh, “Oh? Ne hehehe gwenchanayo~”

Selama kami berjogging, kami membicarakan banyak hal. Kecanggungan langsung hilang dariku. Kami tertawa bersama, bercanda dan saling bertukar pikiran.

Appa berpesan padaku agar aku tak menjadi anak-anak kaya yang nakal dan bersikap seperti tak berpendidikan. Yah~ appa memang tidak tahu kalau sebenarnya aku sudah sedikit terlumuri kenakalan-kenakalan remaja masa sekarang.

Aku masuk rumah sakit kemarin pun karena salahku sendiri yang berhubungan dengan anak-anak seperti mereka.

Kami beristirahat di bangku taman sambil meneguk air mineral dalam botol. Suasana hening sebentar sampai aku membuka mulutku, “Berapa tahun kita tidak pergi jogging bersama seperti ini?”

Aku tersenyum sambil meminum air mineralku dan menatap lurus ke depan. Tak ada suara dari eomma dan appa.

Aku menoleh ke eomma dan appa sambil tertawa kecil, “Waeyo?”

Eomma tersenyum, “Ani. Ah, sudah jam 7 pagi. Ayo kita pulang. Eomma akan memasakkan sarapan untuk kau dan appa.”

Aku pun tersenyum, “Ne~ Kajja!”

~~~~~~~TBC~~~~~~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “More Than 100 Days – Part 6”

  1. aaaa!!
    Daebak!! Part ini ga berenti bikin aku senyum2 dan ketawa sendiri..
    Mengharukan juga..
    Next ditunggu..

  2. Kyaa aku.. Aku sampe ketawa badai(?) waktu ngebayangin jinie berubah jadi beruang itu dan pengen meluk taemin xD bg kocak abiisss..
    Daebbak bgt thor!
    ikut terharu jd bacanya.. :’D

  3. Have you ever considered writing an e-book or guest authoring
    on other sites? I have a blog based upon on the same ideas you discuss and
    would really like to have you share some
    stories/information. I know my viewers would enjoy your
    work. If you’re even remotely interested, feel free to send me an e mail.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s