Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 4

Naega Saranghae “Our Marriage” – Story 4

– Author :

Papillon Lynx, @fb: Saika Kurosaki

– Casts :

  • Kim Shin You (Imaginary Cast) covered by Jung Eunji APink
  • Choi Minho SHINee
  • Kim Jonghyun SHINee
  • Aita Rinn (Imaginary Cast) covered by Kim So Eun
  • Kim Kibum aka Key SHINee
  • Lee Jinki SHINee
  • Han Nhaena (Imaginary Cast) covered by Son Naeun APink
  • Han Yurra (Imaginary Cast) covered by Kim Taeyeon SNSD

– Support Cast :

  • Jinki and Minho’s Eomma
  • Lee Won Ssi
  • Shin You and Jonghyun’s Eomma
  • Kim Junsu
  • Lee Soo Man
  • Tuan Han
  • Nyonya Han
  • Nyonya Kim
  • Pengacara Hwang

– Genre :

  • Romance
  • Sad
  • Life
  • Friendship
  • Teen
  • Marriage Life

– Length :

Sequel

– Rating :

PG-13 until PG-16

Summary :

Our marriage was a mistake. However, what if love begins to grow between us over time? We don’t know. But, if that happens, as much as possible I will continue to maintain our beautiful love.

A.N: Oh yeah, oh yeah, oh yeah yeah yeah..#sing mblaq oh yeah.. Haha, part 4 nih!! Adakah dari kalian yang masih demen baca ff gaje ini sampai sekarang? Dan, gimana sama part 3 kemarin? Konfliknya udah makin banyak ya.. Ya udah, langsung baca aja part ini. Don’t forget to give me comment for this ff. Hehe.. ^^

NOTE :

KATA-KATA YANG BERCETAK miring ADALAH KATA-KATA YANG DIUCAPKAN OLEH KARAKTER DALAM HATI DAN BAHASA ASING (KOREA DAN INGGRIS) YANG DIGUNAKAN DEMI KEPERLUAN ALUR CERITA

Review Last Part

“Tak perlu terburu-buru. Selebihnya akan aku lakukan nanti di kamar pengantin kita.”

“YA!” seru Yurra membuat para tamu dan wartawan tergelak karena aksi kekanakkan Jinki dan Yurra.

“Ah, ampun, Noona!”

“Jinki-ssi, seharusnya kau memanggil Yurra-ssi dengan sebutan ‘Yeobo’ atau ‘Chagiya’!” celetuk seorang wartawan. Jinki pun ikut tertawa dan menarik Yurra ke dalam pelukannya. Tak menunggu lagi, wartawan kembali mengabadikan kemesraan Jinki dan Yurra saat itu juga.

@@@

SUARA decitan ban mobil terdengar sedikit keras ketika mobil itu menghentikan lajunya di depan sebuah gedung apartement mewah. Beberapa orang berpakaian resmi dengan setelan jas tampak membungkuk hormat dan tersenyum ramah dari luar mobil itu. Jinki, si Pemilik Mobil sekaligus orang yang duduk di kursi kemudi itu ikut tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya kepada orang-orang yang menyambut kedatangannya itu. Dan juga menyambut seorang yeoja yang duduk manis di samping Jinki. Yeoja itu adalah Han Yurra. Istri dari seorang artis ternama di Korea, Lee Jinki.

“Call! Kita sudah sampai, Noona.” Kata Jinki sambil mematikan mesin mobilnya lalu menatap Yurra yang terdiam. Dalam sekejap, Yurra yang beberapa waktu lalu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri langsung mengerjapkan matanya dan menoleh cepat ke arah Jinki.

“Oh, waeyo??” tanya Yurra dengan eskpresi wajahnya yang bingung. Jinki menggelengkan kepalanya heran.

“Kau melamun.” Komentar Jinki datar. “Tadi aku bilang, kita sudah sampai di apartement kita.” Kata Jinki sambil mengedikkan dagunya ke pintu apartement. Yurra mengikuti kemana arah gerakan dagu Jinki. Beberapa saat, Yurra hanya diam sambil menatap orang-orang yang masih menyambutnya di depan pintu apartement. Sepersekian detik kemudian, barulah ia sadar dan bisa mencerna apa yang ia lihat di depannya dan apa yang tadi Jinki katakan padanya. Kedua mata Yurra membulat.

“M-mwo?! Apartement.. kita???” tanya Yurra sambil menoleh ke arah Jinki dengan tempo lambat. Jinki mendesah dan mengangguk pelan.

“Nde, Noona..” jawab Jinki sambil terus memberi penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. Ia tak ingin Yurra kembali tak mengerti dengan kata-katanya.

“Ya! Kenapa kau tidak mengantarku ke apartementku sendiri? Kau juga punya apartement sendiri, bukan??” tanya Yurra sewot. Tapi sebenarnya, jantungnya jauh lebih tak bersahabat dengannya. Yurra berharap, Jinki tak mendengar detak jantungnya yang begitu cepat.

Jinki mengernyitkan dahinya. “Noona, apa kau melamun lagi? Dari tadi kau tidak mencerna setiap kata-kataku dengan baik. Lihat apa yang sekarang kau pakai di tubuhmu.” Yurra langsung menuruti instruksi Jinki. Matanya kembali terbelalak. “Kau masih memakai baju pengantinmu.” Kali ini, Jinki hanya bisa tersenyum menahan tawa melihat ‘mantan managernya’ itu salah tingkah. “Kita kan sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Jadi, kita pulang bersama ke apartement kita berdua. Bukankah hal ini sudah tertulis dalam surat kontrak pernikahan kita? Kau sudah membacanya, kan?” tanya Jinki ingin memastikan. Yurra hanya menepuk dahinya.

“Aigoo, mianhae, Jinki-ah. Aku lupa..” keluh Yurra. Jinki kembali menggelengkan kepalanya heran. Jinki dapat melihat dan merasakan kegugupan Yurra.

“Arrasseo. Dwaesseo, ayo kita turun.” Jinki langsung membuka pintu mobilnya dan menutupnya dengan cepat begitu ia sudah berada di luar mobil. Ketika Yurra baru saja akan membuka pintu mobilnya, Jinki sudah terlebih dahulu membukanya hingga membuat Yurra terlonjak pelan. Yurra termenung sesaat. Jinki tersenyum. “Noona, turunlah. Kau tidak perlu sampai terkesima seperti itu.” Gurau Jinki membuat Yurra sadar dan segera turun dari mobil sambil berpegangan pada tangan Jinki. Gaun pengantin Yurra yang menjuntai sedikit panjang di bagian bawahnya membuat Yurra kesulitan untuk bergerak. Yurra menundukkan kepalanya. Ia malu.

“Gomawo..” ucap Yurra lirih namun masih bisa didengar oleh Jinki. Jinki tersenyum membalasnya. Sejurus kemudian, Yurra dibuat berdebar lagi oleh sikap Jinki yang kini sudah melingkarkan tangan kirinya di pinggang Yurra. Jinki menarik Yurra lebih mendekat ke tubuhnya. Wajah Yurra kembali merona.

“Tolong parkirkan mobilku.” Pinta Jinki pada salah satu pegawai apartement yang menyambut kedatangan mereka seraya melemparkan kunci mobilnya ke arah pegawai itu. Pegawai itu menangkapnya dan segera melaksanakan perintah Jinki.

“Selamat datang, Tuan Lee, Nyonya Lee.” Sapa seorang pegawai apartement yang lain begitu Jinki dan Yurra sampai di depan lobby apartement. Jinki hanya tersenyum dan mengangguk, namun Yurra hanya bisa diam saja. Perasaan senang, gugup, dan sedikit takut bercampur menjadi satu. Ia merasa seperti sedang berada di alam mimpi yang membuatnya terbang melayang. Dan ia berharap ia tak pernah terbangun dari alam mimpinya. Meskipun nasib pernikahannya dengan Jinki berada di atas kontrak yang sudah mereka tandatangani bersama.

Jinki menggandeng tangan Yurra ketika mereka masuk ke dalam lift. Begitu lift tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua di dalamnya, dengan perlahan Jinki melepaskan tangannya dari tangan Yurra. Yurra akui, ia merasa kecewa. Ia sadar, pernikahannya dengan Jinki hanyalah sandiwara. Dan begitu tidak ada orang lain di sekitar mereka, semuanya akan kembali seperti semula. Kembali pada hubungan mereka yang pada awalnya layaknya seorang manager dan artisnya. Meskipun dalam kontrak itu tertulis, selama Yurra menjadi istri Jinki, status Yurra sebagai manager akan digantikan oleh orang lain.

“Mianhae, baru beberapa jam yang lalu kita menikah, tapi baru saja aku sudah bersandiwara di depan semua orang.” Kata Jinki ketika lift sudah mulai bergerak ke atas. Yurra mendesah pelan, lalu tersenyum miris. Ia tahu akan seperti ini jadinya. Ia sadar ia tak boleh dan tak bisa berharap banyak pada pernikahannya. Ini semua seperti permainan saja.

“Gwenchana, Jinki-ah. Aku mengerti. Bukankah inilah tujuan utama dari pernikahan kita? Aku benar-benar tak apa.” Jawab Yurra kalem. Yurra berusaha untuk meyakinkan Jinki bahwa ia tak apa. Tapi sejujurnya, ia juga tak yakin akan hal itu.

“Jeongmal gomawo, Noona. Maaf, setelah ini aku akan banyak merepotkanmu. Dan juga..”

TING!

Belum sempat Jinki menyelesaikan kalimatnya, pintu lift terbuka. Jinki melirik ke atas pintu lift dan melihat angka 6 terlihat di monitor kecil yang terpasang di sana. Jinki menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dan juga akan menyakiti perasaanmu, Noona. Jinki melanjutkan kalimatnya dalam hati.

“Kkaja, Noona. Kita sudah sampai.” Jinki kembali menggandeng tangan Yurra menuju ke kamar apartement baru mereka. Apartement itu adalah hadiah dari perusahaan management artis tempat Jinki berkerja. Jujur saja, ia sangat bersyukur karena perusahaan memberikan mereka tempat tinggal baru yang jauh dari orangtua mereka. Bukan apa-apa, hanya saja ia tak ingin ayah Yurra tahu kalau mereka menikah tidak dilandasi dengan cinta. Jinki tak ingin menambah beban yang lebih berat pada Yurra jika ayahnya sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan mereka.

Jinki dan Yurra hanya diam sambil melewati koridor apartement yang sepi. Tak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara. Hingga akhirnya, mereka sampai di depan pintu bernomer 114, yang tak lain adalah pintu kamar apartement mereka. Tanpa perlu menunggu lagi, Jinki segera memasukkan password ke dalam kunci otomatis di hadapannya.

CKLEK!

Begitu Jinki memasukkan paswordnya, pintu apartement pun terbuka. Jinki menengok ke belakang, melihat Yurra yang masih diam dan hanya menunduk.

“Noona, masuklah.” Kata Jinki mempersilakan Yurra masuk sambil melebarkan pintu apartement mereka. Dengan langkah perlahan, Yurra masuk ke dalam tempat tinggal barunya. Matanya mulai menatap ke sekeliling, melihat desain interior apartement mereka yang begitu wah di matanya. Di belakangnya, Jinki menutup pintu dan berjalan menuju dapur.

“Kau suka desainnya?” tanya Jinki memecah keheningan. Yurra menoleh, mencari sosok Jinki yang kini sudah berdiri di dekat meja pantry.

“Oh, ne. Bagus sekali. Aku suka warna merah mawar seperti ini.” Yurra tersenyum, lalu kembali mengedarkan pandangannya.

“Aku memang sengaja meminta warna merah untuk apartement kita. Bukankah Noona menyukai warna merah?” Jinki terkekeh setelah meneguk habis air minum di dalam gelas yang dipegangnya. “Aku bertanya pada Aboenim tentang hal itu. Dan begitu Aboenim menunjukkan kamarmu, aku semakin yakin kalau kau memang sangat menyukai warna itu. Dinding, sprei, lemari yang ada di dalam kamarmu, semuanya berwarna merah. Aku takjub melihatnya. Aku kira kau akan menyukai warna pink atau warna yeoja sejenisnya. Tapi perkiraanku salah. Apa itu artinya kau adalah yeoja yang pemberani?” Komentar Jinki panjang-lebar sambil duduk di atas sofa bludru yang berwarna merah pula.

“Gomawo. Seharusnya kau memikirkan dirimu juga. Jangan memaksakan sesuatu yang ada hubungannya denganku. Dan juga, aku tak seberani yang kau kira.” Kata Yurra sambil duduk di samping Jinki. Bahkan aku tak berani mengutarakan perasaanku padamu, Jinki-ah..

“Gwenchana, Noona. Ini bukan masalah untukku. Bukankah ini rumah kita berdua? Kita harus mengisinya dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kita. Tenang saja, aku juga sudah meminta perusahaan untuk membelikan peralatan dapur dan peralatan makan berwarna hijau. Sesuai dengan warna kesukaanku. Jadi, sekarang kita impas, kan?” Jinki terkekeh untuk ke sekian kalinya. Namun Yurra justru kembali diam. Ia merasa senang sekali bisa menjadi istri dari Jinki meskipun hanya pura-pura saja. Dan rasanya, ia mulai merasa tidak rela jika waktu selama 6 bulan itu akan segera berakhir. Ia ingin terus selamanya bersama Jinki, mendampingi Jinki layaknya seorang istri yang sesungguhnya. Tapi apakah Jinki memiliki perasaan yang sama dengannya??

Kali ini Yurra tak bisa membendung air matanya. Meskipun tak terisak, Jinki dapat melihat dengan jelas hal itu. Senyuman di bibir Jinki menghilang, digantikan dengan raut wajah kekhawatiran. Jinki meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Yurra dan menarik tubuh Yurra untuk menghadapnya.

“Noona, kenapa kau menangis? Apa perkataanku ada yang salah?” tanya Jinki polos. Yurra menggeleng dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya, membuat riasan di wajahnya sedikit luntur.

“Mianhae, Jinki-ah. Aku selalu menangis seperti ini dan membuatmu khawatir. Aku membuatmu seolah-olah kau begitu jahat padaku hingga aku terus menangis. Aku.. Aku hanya merasa senang bisa menjadi istrimu. Ada perasaan bersyukur karena perusahaan memilihku menjadi pasanganmu dalam pernikahan kontrak ini. Hajiman, meskipun pernikahan ini hanyalah pernikahan kontrak di antara kita, aku berharap aku bisa mempertahankan pernikahan kita. Sejujurnya, aku tak ingin berpisah darimu setelah 6 bulan nanti. Aku merasa sedih setiap kali aku sadar bahwa kita hanya menikah di atas kontrak. Dangsineun.. Nan.. Nan jeongmal saranghaeyo, Jinki-ah.. Aku mencintaimu sejak lama..”

DEGH!

Genggaman kedua tangan Jinki di bahu Yurra merenggang. Jinki tak pernah tahu dan tak pernah sadar arti dibalik kesedihan Yurra selama ini. Yang ia tahu dan ia rasa, Yurra menangis karena ia tak rela menikah dengannya. Karena Yurra tak ingin menikah dengan artisnya sendiri di atas permainan kontrak perusahaannya. Karena menurutnya, mungkin Yurra sudah memiliki seorang namjachingu di luar sana dan karena menikah dengannya, hubungan Yurra dengan kekasihnya kandas.

Sekarang, Jinki merasa ia begitu bodoh. Ternyata kesedihan yang dirasakan Yurra lebih dari itu. Jinki merasa sangat bersalah. Dan ia tak berani menatap kedua mata Yurra. Sekarang ia yakin, ia telah begitu banyak menyakiti perasaan gadis itu lebih dari apa yang ia duga selama ini.

Jinki bangkit dari duduknya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan oleh Yurra. Yurra sendiri merutuki dirinya sendiri karena ia telah mengumbar perasaannya di depan Jinki di saat yang tidak tepat. Bahkan, setelah melihat Jinki meninggalkan apartement mereka tanpa mengatakan apapun padanya, ia mulai berpikir bahwa tak akan pernah ada waktu yang tepat baginya untuk mengutarakan perasannya itu pada namja yang sangat dicintainya meskipun namja itu telah mengucap janji sehidup semati di depan pendeta dan Tuhan bersamanya di altar pernikahan.

@@@

Shin You duduk di kursi rodanya tepat di bawah pohon besar yang menghiasi taman rumah sakit. Kedua matanya terus menatap ke depan, memperhatikan beberapa pasien anak-anak yang sedang bermain dilengkapi dengan gelak tawa mereka yang sesekali membuat Shin You menyunggingkan senyum manisnya.

Tiba-tiba, rambut panjang Shin You terkoyak pelan. Angin sepoi-sepoi berhembus perlahan dan menerpanya. Shin You memejamkan matanya karena merasa geli begitu anak rambutnya mengganggu pandangannya. Kedua tangannya yang bebas dengan cepat menahan gerakan helai demi helai rambutnya yang mulai nakal.

DEGH!

Shin You terlonjak pelan ketika ia merasakan sebuah sentuhan lembut di atas puncak kepalanya. Tangan seseorang. Hajiman, nugu? Batinnya.

Tangan itu membelai puncak kepalanya perlahan dan bisa Shin You rasakan, si pemilik tangan itu tengah merapikan tatanan rambutnya yang berantakan. Shin You membuka matanya ketika seseorang itu menyampirkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinganya.

“Di sini dingin.” Gumam sebuah suara seorang namja. Shin You tersenyum. Ia tahu siapa pemilik suara itu. Sedetik kemudian, namja itu melangkah dan berjongkok di hadapannya.

“Minho-ah, apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak pergi ke sekolah?” tanya Shin You pada namja di hadapannya. Pada salah satu sahabatnya, Minho. Minho menggeleng kalem.

“Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dan itu membuatku tak bisa berangkat ke sekolah hari ini. Hei, di sini dingin. Kkaja, kita kembali ke kamar saja.” Minho hendak bangkit, namun tangan Shin You menahannya. Kedua alis Shin You bertaut.

“Urusan penting apa hingga kau tidak bisa berangkat ke sekolah hari ini? Dan jika urusanmu itu begitu penting, mengapa kau bisa menyempatkan waktumu untuk datang kemari?” tanya Shin You penasaran. Sejenak Minho hanya bisa menatap kedua mata Shin You dalam. Lalu, ia kembali berjongkok di hadapan yeoja itu. Minho meraih kedua tangan Shin You dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.

Shin You dibuat semakin bingung dengan perlakuan manis Minho. Akhir-akhir ini Minho terlihat berbeda dari biasanya di matanya. Biasanya, setiap mereka bersama selalu saja ada hal yang bisa mereka ributkan. Tapi sekarang? Minho jarang sekali meledeknya. Sikapnya begitu lembut dan lebih tenang dari biasanya. Bahkan sikap lembutnya mengalahkan sikap lembut Key yang selama ini ia rasakan.

“Kau tidak percaya? Aku sungguh memiliki banyak urusan yang harus aku selesaikan secepatnya.” Kata Minho mengulangi kalimatnya.

“Tapi, urusan apa?” tanya Shin You cepat. “Aku hanya bertanya. Apakah untuk menjawabnya saja itu begitu sulit untukmu? Jika itu masalah perusahaan ayahmu, bukankah itu belum menjadi tanggungjawabmu sekarang? Seingatku Lee Won Ssi Ahjussi pernah berkata kalau beliau akan mulai menyerahkan urusan perusahaan seluruhnya padamu ketika kau lulus kuliah nanti. Bukankah itu masih sangat lama?” tanya Shin You dengan tatapan menyelidik. Minho menunduk dan mendesah. “Malhaebwa. Ada masalah ap-“

“Aku mengurus masalah pernikahan kita yang akan diadakan lusa.” Sela Minho cepat dengan nada suaranya yang datar. Kedua mata Shin You melebar. Ia tidak percaya akan apa yang baru saja dikatakan Minho.

“Kau bercanda?” Shin You terkekeh setelah sekian detik terdiam. “Kau mulai mengerjaiku lagi ya?” Shin You melanjutkan tawanya. Mendengar tawa Shin You yang hambar, Minho mengangkat kepalanya. Ia menatap langsung kedua mata Shin You lekat-lekat. Hal itu membuat Shin You mulai merasa takut. Ia mulai takut jika apa yang dikatakan Minho bukanlah suatu lelucon untuk mengerjainya.

“Kita akan menikah, Shin You-ah. Ini bukan lelucon. Lusa, kita akan menikah. Baru saja aku pergi memilih dan membelikanmu gaun pengantin bersama Jonghyun Hyung. Sebelumnya aku juga pergi untuk mengurus segala sesuatu untuk upacara pernikahan kita. Lalu Jonghyun Hyung memintaku untuk datang kemari menjengukmu. Orangtuaku juga sudah tahu akan hal ini. Mereka sangat mendukung.” Jelas Minho panjang lebar. Shin You menarik tangannya dari genggaman tangan Minho dan memalingkan wajahnya cepat. Air mata menetes dari kedua matanya.

“Kau.. Kenapa sekarang kau berbalik menerima rencana pernikahan ini, Choi Minho?” desis Shin You tanpa memandang Minho sedikitpun. Shin You menghapus air matanya asal dan cepat membuat Minho reflek menarik tangan gadis itu sedikit kasar. Sikap Minho itu berhasil membuat Shin You menoleh lagi ke arah Minho. Tatapan Minho berubah tajam.

“Kau kira aku mau begitu saja menerima perjodohan ini? Kau kira aku tega melihat Jonghyun Hyung menangis bahkan ia rela mengorbankan harga dirinya dengan berlutut memohon kepadaku? Kau kira aku tega?? Shin You-ah, kau tidak melihatnya. Kau tidak melihat bagaimana Jonghyun Hyung saat itu. Dia begitu bersikukuh memintaku untuk menikah denganmu, untuk membahagiakanmu karena ia tak yakin ia bisa terus berada di sampingmu. Aku rasa kau tahu apa maksud dari perkataanku kan? Kalian bersaudara! Tidak mungkin kalian akan menikah! Tidak mungkin kalian akan bersatu!! Cinta di antara kalian itu cinta terlarang!!!”

PLAK!

Minho menyentuh pipinya yang terasa perih akibat tamparan keras dari Shin You. Nafasnya menderu. Rahangnya terkatup rapat. Namun sebisa mungkin ia menahan emosinya agar tak meledak saat itu juga dan semakin menyakiti sahabatnya itu.

“Kau tidak memiliki hak untuk berkata seperti itu mengenai hubunganku dengan Jonghyun Oppa. Kau tidak memiliki hak untuk mengatur hubunganku dengannya. ARRASSEO?!” Shin You membalikkan kursi rodanya dan berusaha menjauh dari Minho dengan menggerakkan kedua tangannya cepat saat memutar kedua roda kursi rodanya. Minho segera bangkit.

“TAPI KAU PERNAH MENCINTAIKU, BUKAN?!”

DEGH!

Shin You menghentikan gerakan tangannya seketika. Sesaat, keduanya hanya terdiam.

“Setidaknya aku pernah menjadi seseorang yang kau cintai, bukan? Setidaknya aku adalah cinta pertama bagimu, bukan?” tanya Minho dengan tatapannya yang berubah sendu. Minho memandang punggung Shin You miris. Namun Shin You tak bergeming. Ia tetap diam. Akhirnya, Minho memberanikan diri untuk mendekati Shin You. Ketika Minho sudah berada tepat di balik punggung gadis itu, Minho mendekap tubuh gadis itu erat dan menempelkan pelipisnya di pelipis Shin You. Barulah, saat itu juga tangis Shin You pecah lagi. Minho semakin mengeratkan pelukannya.

“Minho-ah.. Na.. Naneun..” Shin You tersendat. Ia merasa sulit melanjutkan kalimatnya.

“Arrasseo. Jonghyun Hyung sudah menceritakan semuanya padaku. Maafkan aku. Aku pernah membuatmu menangis karena aku tak pernah menyadari perasaanmu padaku dulu.”

“Tapi yang sekarang aku cintai hanyalah Jonghyun Oppa. Dan aku begitu tak menyangka, Jonghyun Oppa bersikeras memintamu untuk menerima perjodohan ini. Ini sama saja artinya dengan dia menginginkan kehancuran hubunganku dengannya, kan??” kata Shin You sambil terisak. Minho menggeleng cepat. Lalu kembali berjongkok di hadapan Shin You.

“Itu tidak benar. Aku yakin ia tak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi. Keundae, meskipun tidak denganku dan kau dijodohkan dengan namja lain, kalian pasti tetap tidak bisa melanjutkan hubungan kalian yang tidak wajar ini. Sungguh, kalian ini bersaudara. Tak sepantasnya kalian saling mencintai. Mengertilah, Shin You-ah. Aku yakin Jonghyun Hyung sangat mencintaimu. Tapi kebahagiaanmu lebih penting baginya.” Kata Minho menjelaskan.

“Kebahagiaanku hanya Jonghyun Oppa lah yang bisa memberikannya.” Shin You mengalihkan tatapannya. “Perasaanku padamu hanyalah masa lalu, Minho-ah. Aku tidak bisa dan tidak ingin menikah denganmu. Sekarang, aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku. Aku tidak ingin kau bersikap seolah-olah kau ingin aku kembali mengais-ngais rasa cintaku padamu dulu yang sudah aku buang jauh-jauh dari dalam hatiku. Kau tidak bisa seperti itu.” Balas Shin You dingin. Mendengar itu membuat hati Minho mencelos. Minho tak menyangka Shin You akan begitu menolak rencana pernikahan mereka meskipun ia adalah cinta pertamanya dan meskipun Jonghyun sendiri lah yang sangat mendukung rencana pernikahan ini.

“Aku tidak memaksamu, bahkan aku tidak memintamu untuk mencintaiku lagi seperti dulu. Aku hanya ingin menikahimu. Karena aku sudah berjanji pada Jonghyun Hyung dan sudah mengatakan kalau aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia ketika kau sudah berada di sisiku kelak. Aku.. Aku membantu kalian terlepas dari dosa dan perasaan bersalah karena cinta kalian yang tak seharusnya itu.” Shin You melirik Minho dengan tatapan sinis.

“Kau sedang mengasihaniku? Aku memang cacat! Aku terpuruk! Dan apa gunanya kau menikahiku dan menjadikanku sebagai istrimu?! Aku tidak akan bisa merawatmu, melayanimu dengan seharusnya. Kau hanya akan menyesal bersama denganku. Setelah itu kau akan mencampakkanku karena kau tak akan pernah bisa mencintaiku sampai kapanpun!!” Air muka Minho mengeras. Kedua alisnya menyatu. “Aku tahu kau hanya mencintai Nhaena-ssi. Dari awal kita masuk ke SHS, kau sudah jatuh hati padanya. Kau tidak pernah memandangku sebagai seorang yeoja yang bisa kau cintai. Kau tidak memandang keberadaanku. Kau tahu, kau membuatku begitu sakit hati denganmu, Choi Minho! Kau jahat!! Neo jeongmal nappeun namja!!”

“BERHENTI BERPIKIRAN SEPICIK ITU TENTANGKU, KIM SHIN YOU!! NAN NAPPEUN NAMJA ANIYA!!” Shin You terperanjat. Pertama kalinya Minho membentaknya sekeras itu dan wajah marahnya yang begitu menakutkan tertangkap kedua manik matanya. Minho menunduk dalam dan menyesali sikapnya barusan. Sejurus kemudian, Minho menekuk kedua lututnya dan menjadikannya sebagai tumpuan tubuhnya. Ia tak peduli celana jeans biru yang ia kenakan akan menjadi kotor karenanya. Minho mengangkat wajahnya dan melihat Shin You yang semakin terisak. Sial! Batin Minho.

Minho mengulurkan satu tangannya hendak menghapus air mata Shin You. Namun Shin You selalu saja menjauhkan wajahnya dari jangkauan kedua tangan Minho.

“Hei, hei, hei. Mianh, mianhae, Shin You-ah.” Minho mencoba menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Shin You. “Jangan seperti ini. Maaf, aku sudah membentakmu. Aku terbawa emosi. Jeongmal mianhae..” Dan akhirnya, Minho berhasil merengkuh wajah Shin You dengan kedua tangannya. Minho menghapus air mata Shin You dengan kedua ibu jarinya. “Ssst, uljima. Aku sedih jika melihatmu menangis.”

“Minho-ah, mianhae. Aku juga tak seharusnya berpikiran kalau kau adalah namja seburuk itu. Mianhae..” sesal Shin You. Minho tersenyum. Di detik selanjutnya, Minho merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu dari sana.

“Marry me?” Kata Minho sambil menunjukkan sebuah cincin emas putih bermata ungu di tengahnya pada Shin You. Cincin itu terlihat cantik dan sederhana. Namun cukup untuk membuat Shin You membuka mulutnya dan menutupnya kembali. Ia bingung harus menjawab apa. “Aku memang tak akan memaksamu mencintaiku. Tapi perlu kau tahu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk berusaha mencintai siapapun yang akan menjadi pendamping hidupku meskipun ia bukanlah yeoja yang aku cintai pada awalnya. Dan sekarang, sepertinya Tuhan telah memilihmu untuk melengkapi hidupku. Maka aku tidak akan menyia-nyiakanmu seperti itu. Aku akan menepati janjiku sendiri. Aku akan berusaha mencintaimu. Semampuku.” Shin You diam. Masih tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.

“Minho-ah..” gumam Shin You. Shin You memandang Minho dan cincin itu bergantian.

“Tatapan matamu mengatakan kalau kau masih ragu untuk menikah denganku.” Namun sejurus kemudian, Minho langsung menyematkan cincin indah itu di jari manis kanan Shin You tanpa aba-aba. Shin You mendelik kaget dan semakin kaget ketika Minho menarik tengkuknya dan menyatukan kedua bibir mereka setelahnya. Beberapa saat, Minho pun melepaskan ciumannya. “Untuk pernikahan ini, aku memaksamu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku tidak akan membiarkanmu menolakku dan membuat semua usahaku sia-sia. Arra?!” desis Minho dengan nada mengancam. Minho memasang wajah semengerikan mungkin di hadapan Minho. Shin You terperangah dibuatnya. Minho tertawa keras melihat wajah Shin You yang konyol di matanya. “Dan maaf jika aku melamarmu dengan cara yang tidak romantis. By the way, untuk ciuman tadi, bukankah setiap namja yang lamarannya diterima itu boleh mencium yeojanya saat itu juga?” Minho terkekeh setelahnya.

“Ya! Kau mengambil ciuman pertamaku dengan seenaknya! Aiish, jincca! Sikapmu kembali menyebalkan lagi, Choi Minho.” Shin You memukul lengan namja di hadapannya sekeras yang ia bisa. Namun pukulan Shin You tak ada apa-apanya bagi Minho. Minho lebih bersyukur perlakuannya tadi berhasil membuat sahabatnya itu berhenti menangis.

“Dwaesseo. Anggap semuanya selesai. Kita masih bisa bersahabat meskipun kita sudah menikah.” Kata Minho santai sambil bangkit dan mendorong kursi roda Shin You sebelum Shin You kembali protes dan memukulnya lagi. “Dan juga, jika kau tidak ingin ada skinskip di antara kita, aku bisa memaklumi. Tapi jika kau mau, aku juga tak masalah dan tak akan menolak.” Kata Minho dengan gamblang.

“Ya! Ya! Seenaknya saja kau. Aku belum menjawab lamaranmu, pabo! Dasar, yadong namja!” Minho terus mendorong kursi roda Shin You dan membawa yeoja itu masuk, meninggalkan taman rumah sakit. Minho diam, seolah ia tidak mendengar omelan Shin You terhadapnya.

Shin You terus merutukinya ketika mereka sampai di kamar rawat. Bagaimanapun, sekarang telinga Minho mulai terasa panas karena mendengar celotehan Shin You yang terus merutuki sikapnya dari tadi tanpa merasa lelah dan bosan. Minho mendesah dan menggendong Shin You membuat yeoja itu memekik tertahan, lalu membaringkan tubuh yeoja itu ke atas ranjang. Minho menarik selimut dan menyelimuti Shin You yang semakin berisik merutuki sikapnya.

CHU~!

Shin You bungkam karena kini Minho telah mengunci bibirnya rapat-rapat dengan bibirnya. Minho menarik satu sudut bibirnya ke atas.

“Seharusnya aku menciummu dari tadi.” Kata Minho tanpa merasa bersalah dan meninggalkan Shin You yang masih mematung di tempatnya. “Oh iya, aku tak menyangka Jonghyun Hyung belum pernah menciummu.” Minho terkekeh. “Bagaimana rasanya mendapat ciuman dari cinta pertamamu, Shin You-ah? Jujur saja, aku merasa bangga bisa mendapatkan ciuman pertamamu itu.”

“YA!”

BLAM! BRUK!

Shin You melempar bantal ke arah pintu namun sia-sia. Minho sudah menghilang di baliknya. Shin You mendengus sebal. Minho berhasil mengerjainya lagi.

Suasana hening. Tanpa sadar, satu tangannya terangkat dan menyentuh bibirnya yang sedikit basah. Itu bekas ciuman bibir Minho. Minho telah mendapatkan first and second kissnya.

DEGH DEGH!

“Ada apa ini? Bukankah selama ini aku sudah tidak pernah lagi merasakan hal seperti ini ketika bersamanya? Kenapa sekarang aku bisa merasakannya lagi?” gumam Shin You pada dirinya sendiri. “Apakah mungkin aku.. Aku masih..”

@@@

Minho menutup pintu kamar rawat Shin You dan berjalan santai sambil mengusap bibirnya dengan ibu jarinya. Minho terkekeh pelan. Dalam hatinya, ia merasa sangat senang atas kelakuannya tadi. Itu juga ciuman pertamanya. Entah kenapa ia bisa merasa senang seperti itu. Ia pun tak tahu apa alasan yang tepat. Mungkin karena selama 18 tahun hidupnya, ia belum pernah mencium yeoja manapun selain ibunya sendiri. Dan tentu saja itu bukan di bibir.

Minho terus berjalan sambil memainkan kunci mobilnya dengan jari telunjuknya. Senyum yang sedari tadi terukir di wajahnya sontak menghilang ketika ia melihat sosok Jonghyun bersandar di dinding ujung koridor kamar rawat Shin You. Namun ada sesuatu yang berbeda. Jonghyun bersama seorang yeoja di sampingnya. Dan Minho yakin kedua matanya tak salah mengenali siapa yeoja itu. Aita Noona? Batin Minho.

Minho menghentikan langkahnya. Jarak mereka tak begitu jauh dan itu membuat Jonghyun menyadari kehadiran Minho meskipun kedua pandangan matanya belum beranjak dari lantai koridor rumah sakit itu.

Minho melihat yeoja yang bersama Jonghyun itu tersentak ketika bertatapan mata dengannya dan menepuk bahu Jonghyun pelan sambil menatap Minho, memberi tanda pada Jonghyun akan kehadiran Minho. Namun sejujurnya, Jonghyun sudah tahu kalau ia akan bertemu dengan Minho. Karena ia memang mengikuti Minho sejak Minho bersama Shin You di taman rumah sakit sampai Minho mengantar adiknya itu ke dalam kamar rawat. Dan sudah barang tentu, Jonghyun melihat semuanya. Melihat pemandangan yang ia akui sangat menohok hatinya.

“Hyung..” lirih Minho. Jonghyun baru mau menolehkan kepalanya. Jonghyun memaksa dirinya untuk tersenyum.

“Aku sudah melihatnya. Sepertinya kau benar-benar menepatimu janjimu padaku untuk membahagiakannya, Minho-ah. Kau berhasil membuat Shin You mau menikah denganmu.” Kata Jonghyun berusaha untuk terlihat tenang.

DEGH!

Aita tersentak. Menikah? Minho menikah dengan siapa? Shin You? Bagaimana bisa? Apakah itu artinya, yeoja yang telah membuatnya berpaling dariku adalah Shin You?? Batin Aita.

“Bukan begitu, Hyung. Aku tidak bermaksud untuk menciumnya seperti-“

“Ah, Minho. Perkenalkan, gadis di sampingku ini bernama Aita Rinn. Ia adalah sahabat dan tetangga apartementku ketika aku masih kuliah di Perancis dulu. Aita Noona juga seorang yeoja yang sudah ku anggap seperi kakak perempuanku sendiri. Dan sekarang, aku mulai mencintainya.” Kata Jonghyun mengalihkan pembicaraan. Minho mengerutkan kedua alisnya heran melihat sikap Jonghyun. Jonghyun Hyung mulai mencintai Aita Noona?? Semudah itukah ia melupakan perasaannya pada Shin You? Batin Minho curiga.

“Ne. Aku juga mengenalnya, Hyung.” Jawab Minho sekenanya. Minho memandang Aita sejenak, lalu kembali memandang Jonghyun.

“Mworago? Whoah, daebak! Bagaimana bisa terjadi kebetulan seperti ini?” Jonghyun tersenyum lebar sambil memandang Aita di sampingnya lalu memandang Minho di hadapannya. “Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Apakah kalian berteman?” terka Jonghyun.

“Aniyo. Kami saudara sepupu.” Jawab Minho dan Aita bersamaan. Jonghyun melongo dibuatnya. Kemudian, Jonghyun tertawa sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.

“Ckckck.. Kalian kompak sekali. Hajiman, ternyata dunia ini sempit sekali ya? Aku tak mengira kalian adalah saudara sepupu. Tadinya aku kira kalian penah memiliki hubungan khusus hingga kalian saling mengenal.” Komentar Jonghyun tanpa sadar. Aita hanya tersenyum miris mendengarnya. Kompak? Hubungan khusus? Aku memang masih mencintainya, Jonghyun-ah.. Dan kami pernah berkencan. Tapi baginya, hubungan kami hanyalah masa lalu. Dan ternyata, Minho bahkan akan menikah dengan adikmu. Batin Aita.

“Jonghyun Hyung, masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan sekarang. Aku permisi dulu. Annyeong!” Minho membungkuk hormat pada kedua manusia di hadapannya lalu segera meninggalkan mereka setelah sebelumnya memandang Aita dengan tatapan yang tak bisa Aita sendiri artikan. Namun Aita bisa merasakan, tatapan Minho berubah dingin padanya. Aita merasa sedih akan hal itu.

“Noona, gomawoyo. Jeongmal gomawo.” Tiba-tiba Jonghyun bersuara. Aita segera menepis lamunannya dan menoleh ke arah Jonghyun.

“Untuk apa?” tanya Aita polos.

“Untuk bersandiwara denganku di depan Minho tadi. Terima kasih karena kau tidak mengelak ketika aku mengatakan pada Minho kalau aku mulai mencintaimu.” Aita tersenyum lalu mengangguk.

“Sudahlah. Tak apa.” Aita mengelus bahu Jonghyun. “Keundae, kenapa kau harus berbohong seperti ini?” tanya Aita. Jonghyun pun mendesah dan duduk di bangku panjang yang tak jauh di dekat mereka. Aita mengikuti.

“Karena, aku ingin meyakinkan Minho dan Shin You kalau aku tak apa jika mereka menikah.” Aita langsung melayangkan pandangan heran dan bingung pada Jonghyun.

“Meyakinkan bagaimana?”

“Noona, kesalahan dan dosa terbesarku adalah.. aku berani mencintai adik kandungku sendiri.” Aita tersentak mendengar pengakuan Jonghyun. “Aku mencintainya sebagai seorang yeodongsaeng dan juga sebagai seorang yeoja. Selama tiga tahun ini, aku dan Shin You berkencan.”

“MWO??! Neo micheosseo??” tanya Aita kaget.

“Ya. Aku memang sepertinya sudah gila. Aku sampai bisa mencintai adikku sendiri. Dan sekarang, aku dihadapkan pada sebuah kenyataan yang sulit dan menyakitkan. Surat wasiat itu. Ya, surat wasiat orangtua kami yang di dalamnya berisi bahwa Shin You dan Minho dijodohkan oleh orangtua kami. Dan mereka harus menikah ketika umur mereka genap berusia 18 tahun. Lusa mereka akan menikah.” Air mata kembali luruh dari kedua mata Jonghyun. Aita merasa iba. “Kau tahu Noona? Hati ini sakit. Sangat sakit. Walaupun aku begitu gigih mendukung pernikahan mereka, tapi tetap saja. Sangat sakit rasanya bila melihat seseorang yang kita cintai akan segera menjadi milik orang lain.”Jonghyun menepuk-nepuk dadanya sambil terus menangis. Reflek, Aita menahan tangan Jonghyun agar Jonghyun tak menyakiti dirinya lagi.

“Jonghyun, Jonghyun-ah! Sudah, sudah. Ssst.. Uljimayo. Nan arra. Rasanya pasti sakit sekali. Aku tahu. Aku juga pernah merasakan hal yang sama sepertimu. Hajiman, bukankah kau sudah memilih? Kau harus tegas dan ikhlas dengan pilihanmu itu. Setidaknya, kau bisa meyakinkan dirimu, bahwa kau telah menyerahkan adikmu, yeoja yang kau cintai selama ini, pada seseorang yang pantas dan kau percaya bisa membahagiakannya. Bahkan bisa mencintainya lebih dari rasa cintamu kepadanya.”Jonghyun diam. Ia menatap kedua mata Aita lekat. Aita tersenyum. “Takdir telah memilih Minho untuk bersanding dengan Shin You. Orangtua kalian juga. Dan sekarang, kau juga mendukung perjodohan mereka. Percayalah, Minho bisa menjaga adikmu dengan baik. Berusahalah untuk ikhlas. Jalan kalian memang harus seperti ini. Sekuat apapun kalian bertahan, kalian tetap tak bisa menentang takdir. Kau pasti sudah sangat paham. Cinta kalian terlarang, Jonghyun-ah.” Jelas Aita panjang lebar memberikan pengertian pada Jonghyun. Aita menggenggam kedua tangan Jonghyun dan mengusapnya perlahan untuk memberikan kekuatan pada Jonghyun.

“Jonghyun Oppa..”

DEGH!

Aita terkejut melihat sesosok yeoja terduduk di kursi roda di balik punggung Jonghyun. Ia memperhatikan tubuh bagian bawah yeoja itu. Satu kakinya dibalut dengan gips. Shin You, kah? Batin Aita.

Sontak Jonghyun membalikkan tubuhnya dan melihat yeoja yang ia cintai berada tak jauh darinya dengan kursi rodanya. Shin You menatap curiga Jonghyun dan Aita bersamaan. Terlebih ketika ia melihat kedua tangan Jonghyun berada dalam genggaman tangan yeoja asing di matanya.

“Ah, Younnie..” Jonghyun segera menghapus air matanya dan bangkit berdiri. Jonghyun memaksakan seulas senyum tersungging di bibirnya. Aita juga ikut bangkit. “Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau mencari Minho? Minho baru saja pergi. Katanya, ada beberapa hal lagi yang harus ia selesaikan untuk pernikahan kalian esok lusa.” Jonghyun tersenyum lagi di akhir kalimatnya. Oppa, kenapa kau begitu terlihat bahagia dengan perpisahan kita? Batin Shin You sedih.

“Oppa, siapa yeoja yang berada di sampingmu itu?” tanya Shin You datar tak mempedulikan perkataan Jonghyun sebelumnya. Jonghyun bingung. Ia menoleh pada Aita yang juga sedang menatap ke arahnya.

“Dia.. Dia..” kata Jonghyun tersendat.

“Joneun Aita Rinn imnida. Bangapseumnida.” Kata Aita memperkenalkan dirinya. Aita membungkukkan badanya lalu menegakkannya lagi. Tapi sejujurnya bukan nama yeoja itu yang Shin You harapkan untuk tahu, namun apa hubungan yang terjalin di antara Jonghyun dan Aita.

“Ooh.. Apakah kalian berteman?” tanya Shin You hati-hati. Jonghyun kembali menoleh pada Aita. Kali ini dengan tatapan memohon. Aita sendiri tak mengerti apa maksud tatapan Jonghyun itu. “Oppa, kenapa kau diam saja? Apakah kalian berteman?” tanya Shin You untuk kedua kalinya.

“Kami hanya-“

“Aku mencintainya.” Jonghyun memotong kalimat Aita cepat. Aita sontak menoleh menatap Jonghyun. Kedua mata Shin You pun melebar setelah mendengarnya. Ia memandang Jonghyun tak percaya. Begitupula dengan Aita. “Ya. Aku sudah lama memendam perasaan sukaku pada Aita Noona.” Tak butuh waktu lama, kedua mata Shin You mulai berkaca-kaca. Air mata menggunung di sana.

“Jonghyun-ah..” ucap Aita sambil memegang lengan tangan kiri Jonghyun, bermaksud agar Jonghyun tidak memulai sandiwaranya lagi. Mencoba menghentikan sikap Jonghyun yang akan membuat situasi dan keadaan semakin bertambah runyam. Namun sia-sia. Jonghyun tak kunjung meralat ucapannya. Aita tak habis pikir dengan sikap Jonghyun. Aita tak tega melihat wajah syok Shin You yang tampak jelas sekali di matanya.

“Shin You-ssi, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Apa yang Jonghyun katakan itu tidak-“

“Aniyo. Aku berkata jujur. Younnie, aku sudah menjalin hubungan dengan Aita Noona sejak aku masih kuliah di Perancis dulu. Di sana, aku tinggal satu apartement dengannya.”

JDEER!!

Seperti ada ribuan anak panah yang berhasil menembus hati Shin You saat itu juga. Shin You menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan cairan bening menetes dengan deras dari kedua manik matanya.

“Jonghyun-ah! Cukup, kau membuat Shin You menangis. Kau menyakitinya.” Kata Aita yang mulai tampak emosi dan tak tahan dengan kebohongan Jonghyun.

“Noona, aku tak ingin berbohong lagi padanya. Aku sudah tidak kuat menyembunyikan hubungan kita. Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku, bukan?” Jonghyun menelan ludahnya, berusaha memutar-balikkan fakta. “Terlebih, aku memiliki tanggungjawab kepada buah cinta kita.” Jonghyun mengusap perut Aita. Aita semakin bingung dengan permainan Jonghyun. Aita tak mengira, Jonghyun akan berani berbohong seperti ini. Setan apa yang sebenarnya telah mempengaruhinya hingga tega berbohong seperti ini pada Shin You? Batin Aita mulai cemas. Ia takut, kebohongan yang Jonghyun ciptakan ini akan membuat banyak pihak tersakiti. Dia, Shin You, Minho dan juga Jonghyun sendiri. Aita mengalihkan tatapannya pada Shin You. Gadis itu terisak keras. Pipinya basah sekali karena air mata. Aita dapat meihat sinar kemarahan dan kekecewaan yang tersirat dari kedua manik mata Shin You pada Jonghyun. Juga, sinar kebencian untuknya.

“Oppa! Neo geotjimal!! Kau tidak mungkin mencintai yeoja lain! Kau tidak mungkin berselingkuh dariku! Oppa, katakan padaku kalau kau sedang bersandiwara! Aku yakin kau tidak mencintainya! Di dalam rahim itu tak ada janin yang berasal dari benihmu, kan?!”

“KENAPA KAU TIDAK PERCAYA, HUH?! Aku mencintai Aita Noona. Kau ingin bukti? Ingin bukti?! Lihat ini!” sentak Jonghyun.

SRET!

Di detik itu juga, Jonghyun segera menarik tubuh Aita mendekat ke arahnya, mendekapnya dan mencium bibir Aita di hadapan Shin You. Namun pandangan mata Shin You dihalangi oleh sebuah tangan yang terlebih dulu sudah menutup kedua matanya rapat sebelum Shin You sempat melihat Jonghyun yang sedang mencium Aita.

Aita memberontak. Ia memukul dada Jonghyun berkali-kali karena marah. Namun tenaga Jonghyun jauh lebih kuat. Jonghyun melingkarkan tangan kanannya di pinggang Aita dan tangan lainnya yang bebas kini mendorong tengkuk Aita agar ciuman mereka tak terlepas, bahkan semakin dalam. Aita bahkan sampai kesulitan bernafas atas perlakuan Jonghyun. Aita sama sekali tak merasakan cinta dari ciuman itu. Kedua matanya pun tak bisa terpejam menikmatinya. Namun ia heran, Jonghyun benar-benar memerankan aktingnya dengan baik. Aita bisa melihat wajah Jonghyun yang seakan sangat menikmati ciuman mereka. Kedua mata Jonghyun terpejam sempurna.

TES!

Setitik cairan bening menetes menyusuri wajah Jonghyun dan melewati bibir mereka yang menyatu. Aita dapat merasakan bagaimana rasanya ciuman mereka sekarang. Asin. Itu karena cairan kepedihan Jonghyun yang terkecap di lidahnya. Aita tahu, Jonghyun sangat-sangat terpaksa berakting berciuman dengannya di hadapan Shin You.

“HYUNG, HENTIKAN!!”

Aita dapat merasakan tubuh Jonghyun menegang mendengar sebuah suara yang menitahnya untuk menghentikan kelakuannya. Jonghyun membuka matanya cepat dan melepaskan ciumannya dengan Aita. Ia menoleh ke arah Shin You dan terkejut melihat dua sosok manusia berada di samping kanan dan kiri Shin You sekarang. Terlebih, ketika Jonghyun melihat sebuah tangan dari salah satu di antara kedua sosok itu masih menutupi kedua mata Shin You.

“Kau tega sekali, Hyung.” Desis seseorang itu sambil menatap Jonghyun tajam.

“Key-ah..” gumam Jonghyun.

“STOP!” bentak Key. Air mukanya mengeras. Ia memandang Jonghyun dengan amarah. “Kau keterlaluan, Hyung! Sikapmu itu benar-benar kekanakkan!” Key menjauhkan tangannya dari kedua mata Shin You. Walaupun seperti itu, Shin You tahu apa yang terjadi ketika matanya ditutup tadi. Ia sudah bisa menebak bukti apa yang ingin Jonghyun tunjukkan padanya. Shin You kembali menangis.

“Shin You-ah.. Gwenchana?” Shin You menoleh ke samping kanannya. Seorang yeoja menatapnya iba.

“Nhaena-ssi..” lirih Shin You dengan suara serak.

“Nhaena-ah, bawa Shin You masuk ke dalam kamar rawatnya. Ppali!” Nhaena segera menuruti perintah Key dan mendorong kursi roda Shin You cepat. Setelah Key yakin Nhaena sudah membawa Shin You menjauh, Key membuka mulutnya lagi. “Kenapa kau menyakitinya seperti ini, Hyung?” Nada suara Key sedikit melembut. Beberapa saat tadi, Key sudah berhasil mengontrol emosinya.

“Ini urusanku dengan Younnie, Key. Sebaiknya kau tak perlu ikut campur.” Sergah Jonghyun cepat. Key tertawa sinis.

“Kau bilang kau mencintainya. Kau bilang kau akan selalu menjaganya, membahagiakannya. Tapi sekarang? Kau justru membuatnya terluka.” Key memandang Aita sinis setelah selesai mengucapkan kalimatnya. “Hanya karena wanita seperti dia, kau mencampakkannya!” Kata Key sambil menunjuk Aita dengan jari telunjuknya.

“Kau tidak tahu apa-apa, Key! Aita sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini semua!!” ralat Jonghyun. Jonghyun segera memunggungi Aita, menamengi yeoja itu. Ia takut Key akan melakukan sesuatu yang tak terduga pada Aita.

“Cih, kau berubah, Hyung. Aku tak menyangka selama ini kau bermain dengan yeoja lain di belakang Shin You. Bahkan kau menidurinya!!” Key kembali pada puncak amarahnya sambil menunjuk ke belakang Jonghyun, ke arah Aita. Dan tentunya dengan melayangkan tatapan kebencian pada Aita yang kini sedang menunduk dalam.

“Aku begini karena Shin You dijodohkan dengan Minho oleh orang tua kami!!”

DEGH!

“M-mwo?? Mworago, Hyung??” Key tersentak.

“Aku juga tersakiti, Key. Tapi aku sadar, cintaku untuk Younnie hanyalah cinta terlarang. Karena itu, aku melakukan ini semua. Aku tidak pernah berselingkuh. Aita Noona adalah seseorang yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Dan memang benar, tak ada apapun di dalam rahim Aita Noona. Aku tak mungkin mengkhianati Shin You. Aku berharap kau tidak membocorkan masalah ini pada Shin You. Dwaesseo! Aita Noona, kkaja. Aku antar kau pulang sekarang.” Jonghyun segera menggandeng tangan Aita dan meninggalkan Key yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Shin You dan Minho.. dijodohkan??

@@@

“Aku akan menikah dengan Nhaena, Shin You-ah..” kata Key sambil duduk di tepi ranjang rawat Shin You. Shin You yang semula menundukkan kepalanya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di benaknya, perlahan mengangkat kepalanya dan mencoba tersenyum.

“Chukkaeyo. Aku turut senang melihat kalian akan menikah.” Kata Shin You. Key menatap miris bulir-bulir air mata yang sepertinya tidak mau berhenti menetes dari kedua mata Shin You. Key tahu, Shin You masih memikirkan kejadian tadi. “Nhaena-ssi, chukkae.” Kata Shin You lagi sambil memandang Nhaena yang sedang duduk di sofa di sudut ruangan.

“Gomawo, Shin You-ssi. Mianhae, waktu itu aku menyalahkanmu dan menuduhmu mencintai Key. Sekarang aku yakin, kalau kedekatan dan keakraban kalian adalah bukti persahabatan kalian.” Jawab Nhaena. Shin You mengangguk dan tersenyum di sela-sela tangisnya.

“Kau melupakan caramu tersenyum, Shin You-ah.” Kata Key yang masih memandang Shin You miris. Key menatap wajah Shin You dengan intens. Shin You kembali memandang Key. “Aku ingin melihat sahabatku kembali tersenyum dengan tulus tanpa menangis seperti ini. Tanpa terbebani seperti ini.” Shin You terdiam.

“Mianhae, karena aku, kau jadi bertengkar dengan Jonghyun Oppa.” Sesal Shin You. Key menghembuskan nafasnya. Bagi Key, hal itu bukanlah suatu masalah. Key justru mencemaskan keadaan sahabatnya itu dibanding apapun dan siapapun.

“Bagaimana bisa, kau, Minho, dan Jonghyun Hyung tidak memberitahuku tentang perjodohan itu?” tanya Key hati-hati. Nhaena yang memperhatikan sepasang sahabat itu mulai mengernyitkan alisnya. Siapa yang dijodohkan dengan siapa? Batinnya.

“Semuanya terjadi begitu cepat. Bahkan aku baru tahu kalau Minho akhirnya menerima perjodohan kami hari ini. Aku.. Sudah menerima lamarannya. Aku kira Minho akan terus menentang perjodohan ini sampai akhir bersamaku. Tapi ternyata, ia luluh dengan sikap Jonghyun Oppa yang memohon padanya untuk menerima perjodohan ini bahkan kata Minho, Jonghyun Oppa sampai rela berlutut di hadapannya. Ternyata, itu karena Jonghyun Oppa sudah memiliki kekasih dan akan segera mendapatkan anak dari gadis bernama Aita tadi. Seharusnya, dengan menyadari sifat playboy Jonghyun Oppa, aku sudah bisa mengira kalau tidak mungkin ia akan mencintaiku dengan tulus. Terlebih aku dan dia bersaudara kandung.” Shin You tertawa miris.

Key hendak menyanggah perkataan Shin You. Ia ingat apa yang dikatakan Jonghyun tadi kalau hubungannya dengan Aita tidak lebih dari kakak dan adik dan juga Aita tidak mengandung anak dari Jonghyun. Tapi Key segera mengurungkan niatnya. Ia berpikir, mungkin memang lebih baik Shin You dijodohkan dan menikah dengan Minho daripada terus melanjutkan hubungan cinta terlarang dengan Jonghyun. Key mulai paham, tujuan dari sandiwara Jonghyun sekarang.

“Sudahlah, biarkan saja Jonghyun Hyung bersama wanita itu. Untuk apa kau menangisi seorang namja seperti dia? Masih ada aku, sahabatmu. Ada Nhaena. Dan juga Minho yang akan menjadi suamimu sebentar lagi. Kau tidak akan kesepian. Dan aku yakin, Minho akan menjagamu dengan baik. Sudah ya, jangan menangis.” Key menghapus air mata Shin You dengan jari telunjuknya.

“Ne, maja, Shin You-ah. Kau masih memiliki kita. Sekarang, kau hanya perlu fokus pada pernikahanmu dan Minho-ssi.” Nhaena tersenyum lebar. “Ah, senangnya. Aku tak menyangka kita berempat akan menikah semuda ini. Oh iya, aku dan Key pasti akan datang ke pernikahan kalian. Tapi kau juga harus datang ke pernikahan kami besok ya.” Nhaena bangkit dan mendekat ke arah Key dan Shin You. Nhaena mengambil sebuah undangan berwarna krem dari dalam tas lengannya dan memberikannya pada Shin You. “Upacara pernikahan kami dilaksanakan di pantai. Dan teman yang kami undang hanyalah kau dan Minho. Selebihnya adalah anggota keluarga kami. Kau harus datang bersama Minho dan memberikan kami restu.” Key berdecak melihat Nhaena sudah kembali pada sifat aslinya. Cerewet.

Shin You membuka undangannya dan membaca isinya. Shin You mengangguk dan tersenyum.

“Baiklah. Akan kuusahakan datang dengan Minho. Beruntungnya, malam ini aku sudah bisa pulang dari rumah sakit. Jadi aku bisa menghadiri upacara pernikahan kalian besok.” ucap Shin You. Nhaena semakin terlihat senang.

“Mianhae, kami memberikanmu undangan sehari sebelum acara. Kami begitu sibuk mengurusi berbagai macam hal yang berhubungan dengan pernikahan dadakan ini. Dan maaf juga, kami baru bisa menjengukmu hari ini.” Kata Key sambil melirik ke arah Nhaena.

“Dadakan? Oh iya, aku baru ingat. Seingatku, kalian tidak pernah akur setelah kejadian di ruang kerja Nhaena-ssi waktu itu. Sebelumnya juga, aku rasa kalian memang tidak saling mengenal, bukan? Keundae, kenapa kalian bisa menikah? Atau kalian juga dijodohkan?”

“Aniyo. Itu karena Key meniduriku.” Jawab Nhaena dengan gamblang. Kedua mata Shin You dan Key membulat.

“MWO?!” pekik Shin You.

“Ya! Kau membocorkannya! Aiish..” kesal Key pada Nhaena. Nhaena hanya menggaruk kepalanya bingung.

“Bukankah kenyataannya memang seperti itu? Kau meniduriku di kamarmu ketika aku masih dalam pengaruh alkohol kan? Dan Kim Ahjumma memergoki kita di pagi harinya.” Key semakin mendelik ke arah Nhaena.

“Key-ah.. Aku tak menyangka kau meniduri seorang gadis di saat ia tengah tidak sadar.” Desis Shin You dengan tatapannya yang berubah tajam. Key langsung menciut ketakutan.

PLETAK! PLETAK!

“AUWWW!!! Kim Shin You, neo wae irrae??? Ini salah paham, pabo!”

@@@

Jam sudah menunjukan pukul 1 pagi ketika Jinki sampai di apartement barunya. Begitu Jinki masuk ke dalam, ia tak bisa melihat apapun. Semuanya gelap. Jinki segera membuka kunci layar ponselnya dan menjadikan ponselnya sebagai penerangan sementara untuknya karena ia belum terlalu hafal bagian-bagian dalam apartementnya. Ia takut ia akan menabrak atau tersandung sesuatu.

Dengan bantuan cahaya dari ponselnya, Jinki melangkahkan kakinya perlahan ke ujung ruangan dan menemukan saklar lampu yang ia cari.

CTEK!

Ruangan pun menjadi terang. Tapi ada satu yang membuat Jinki heran. Kenapa lampunya dimatikan? Apa Yurra Noona yang sengaja mematikannya? Atau baru saja terjadi pemandaman? Batin Jinki. Jinki mengangkat bahunya lalu membalikkan tubuhnya. Kedua mata Jinki melebar ketika melihat Yurra tertidur di sofa ruang tengah dan masih mengenakan gaun pengantinnya. Jinki segera mendekat dan menggendong tubuh gadis itu. Jinki membawanya ke kamar mereka. Ya, dalam apartement mereka memang hanya ada satu kamar untuk mereka berdua.

Jinki menutup pintu kamar mereka dengan satu kakinya dan segera membaringkan Yurra di atas tempat tidur mereka. Jinki melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan Yurra.

“Apakah aku harus membiarkannya tidur dengan pakaian seperti itu? Atau harus kuganti? Aish, inilah bagian tersulit dalam hidupku.” Gumam Jinki sambil mengacak rambutnya. Jinki kembali memandangi Yurra. Yeoja itu terlalu lelap. “Ah, sudahlah. Kuganti saja. Lagipula, dia juga tidak tahu.” Tanpa perlu menunggu lagi, Jinki segera duduk di tepi tempat tidur. Jinki mengangkat tubuh Yurra perlahan dan memposisikan tubuh gadis itu untuk setengah duduk. Jinki menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya. Jinki memejamkan matanya dan mulai melepaskan gaun pengantin yang masih membalut tubuh istrinya itu. Jantung Jinki berdegup kencang. Baru kali ini ia berani melakukan hal seperti ini pada seorang yeoja. Dan baru kali ini pula, ia melakukan skinskip yang lebih dari sekedar berpegangan tangan dengan Yurra. “Aiish, ini sulit. Jika aku tidak melihat apa-apa, maka aku tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat. Dan aku semakin tidak kuat menahan debaran ini. Ettokhae??” Jinki merajuk pada dirinya sendiri.

Jinki diam. Belum melanjutkan aktifitasnya lagi. Ia yakin, gaun pengantin itu masih setengah melekat pada tubuh Yurra. Karena ia menutup matanya, ia jadi kesulitan melepaskannya. Jinki menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jinki sudah memutuskan sekarang. “Joa, bukankah kami sudah menikah? Jadi, tidak apa-apa jika aku melihatnya. Call!” Jinki menggumam lalu mengangguk mantap untuk meyakinkan dirinya. Perlahan, Jinki membuka kedua matanya.

Jinki langsung menelan air liurnya begitu melihat pemandangan di hadapannya. Tak disangka, debaran jantungnya semakin cepat dan dapat ditangkap oleh kedua telinganya. Namun Jinki tetap meneruskan aktifitasnya. Keringat dingin mulai merayapi dahinya. “Oh God, kumohon kuatkanlah aku malam ini. Jangan sampai aku melakukan sesuatu pada Yurra Noona yang akan melanggar kontrak pernikahan kami. Hajiman, aku akui dia begitu cantik. Aku.. Apakah tidak apa jika aku sedikit menyentuhnya ya??” Jinki mencondongkan tubuhnya ke arah Yurra perlahan hingga bisa ia rasakan hembusan nafas Yurra yang teratur menerpa wajahnya. “Yurra Noona, bolehkah aku…?” Jinki terus bergerak membunuh jarak di antara mereka dan Jinki tak bisa mengontrol kendali dirinya lagi.

TBC

KYAAAA!! Jinki mau ngapain tuh? Jangan-jangan dia mau kaya Key sama Nhaena? Wkwk.. Terus gimana sama Jonghyun ya? Apa akibat dari kebohongannya kelak? Oke.. Mianh readers. Di part ini KeyNha dan MinYou belum bisa nikah dulu. Padahal niatnya part ini adalah bagian pernikahan mereka. Tapi alurnya aku ubah, aku buat konfliknya makin rumit jadi mungkin baru di part 5 mereka nikah. Mungkin pernikahan HyunAi juga aku barengin sama mereka di part 5. Oke deh. Aku tunggu comment-nya. Gomawo.. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

40 thoughts on “Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 4”

  1. Anyeoonngggg, I’m new reader here 🙂 🙂
    ceritanya kereeennn, gak sabar mau bayangin minho-shin you, key-nhaena, jinki-yurra, jonghyun-aita. Next partnya buruan yaaaww author kece :3 gomawo 🙂

  2. hyaaaa..
    Dagdigdugduarr..
    Bener2 menegangkan.. Miris jg liat kasus JongShinMinAi..
    Jinki mw apa tuh??
    Next..

  3. Huaaaaa…makin seru..FF ini selalu aku tunggu klo buka SF3i..Nhaena sm Key bener ² cocok,,sama ² bocor..Minho sweet bgt siiihhh,,semoga jinki melakukan nya…fighting jinki *loh…hahahahaa cepetan next nya thor,,btw ini d bwt brp part??

    1. Bocor? Maksudnya? #haid gitu? O.oa hahaha..
      Ih, Jinki melakukan apa? Hayo.. Seua reader pada NC nih. Udah 17+ belum? Jaan..
      Berapa part ya? Sebenernya ni juga masih ongoing.. #nyengir

      1. Oohh,,msh ongoing..okee okee..
        17 thn?? Udah 7 thn yang lalu gue 17 tahun *nyengir 😀
        Call..lanjut terus thor..

  4. kyaaa………
    itu TBC ganggu bnget.!

    hi… eon,
    aku reader baru ni.
    aku suka banget ma cerita yang ini,

    next part na jgn lama-lama y…
    😀

    1. Annyeong, Dhira-ya. Bangapseumnida.. 🙂
      Gomawo udah suka, baca sampai komen.. ^^

      Waduh kalo itu mah urusan admin scheduler di sini.. hihi
      Sabar saja menunggu ya. Tiap minggu ada kok. ^^

  5. Wah,,
    bicara sm diri sendiri, “Akhir2 ini baca ff kog pasti ada adegan 17+ nya ya, qlo diliat di guest book bnyk readers di bawah umur?” *abaikan*sekali lagi tolong abaikan koment ga nyambung ini*deep bow*

    ffnya oke kog, bikin penasaran, ditunggu part selanjutnya

    1. Makin asyik atau makin dewasa? Hehe.. #tutupanbaskom
      Aku author freelance di sini jadi ngga bisa bebas ngepost ff sesuai keinginan maunya kapan dipublish. Mungkin readers semua bisa minta ke admin scheduler biar jadwal publih ff ini dipercepat. 🙂
      Tengkyu yo.. ^^

  6. . tBC.
    nyulek i bngt seh it kata.. beneran dah.
    .. ya alloh.
    mengganggu…!

    .. admin. ak cma bisa komen daebak.
    lnjtn dtunggu dng setia n jng lma2 ne.

  7. YAAAAAAA!!!! IGE MWOYA??? LAGI SERU-SERU BACA KENAPA MALAH MUNCUL TBC? AAHH I HATE TBC π_π *CAPSLOCK JEBOL*

    Kyaaa!! Jinkiii mau ngapain dirimu??
    tapi apa pun itu, lanjutkan! aku mendukungmu ‘-‘)9 *plaaakk #author : reader sarap –“)*
    😀
    minho kayaknya udah mlai suka ma shinyou, aahh tp dia blum tau kalo key-nhaena bklan nikah jg. gimana reaksinya ya kalo tau?apalagi kalo tau kronologis (?) kjdian smpai mrk hrs nikah.
    hwaaa eottokhae? aku bener² penasaran ma bext partnya a-yo thor lanjutkan!!!!!  (o^^)o

    1. Ya Allah, eman-eman banget keyboardnya.. 😀 sabar-sabar.. inget, insyaf 😀
      yaa.. begitulah. sebenernya first love itu masih ada kok di hati shin you. 😉 ngga tau lho reaksinya bakal gimana 😀 #bugh!
      Baiklah. Nagih sama schedulernya yoo.. haha

  8. sebenernya niatnya jjong itu baik tapi…caranya itu loh…
    nge-jleb bgt.. :\ kasian shinyou
    hayoo jinki…ngapain??

  9. Kasian Key ketawan klo nikah gara” niduin cewe wkwk
    kyyaa Jinki oppa ketularan Key oppa yadobng ny
    #^_^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s