Waiting For The Sun – Part 4

Waiting for The Sun – PART 4

Credit poster: yuyounji. Thanks eonni 

Author : Dubudays and Nikitaemin

Main cast : Lee Jinki, Cho Hyunsa (OC)

Support cast : Cho Jiman (Hyunsa’s father)

Genre : AU, Romance, Family

Rate : PG – 15

Length : Chaptered (4/?)

Disclaimer : THIS FANFICTION BELONGS TO DUBUDAYS AND NIKITAEMIN!!!

LEE JINKI’S POV

“Kamu yakin, Hyunsa? Tidak mau nanti saja kalau sudah lebih sehat?” sekali lagi aku meyakinkan keingian Hyunsa untuk mengunjungi makam Mamanya dua hari setelah Hyunsa keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih pucat namun sikapnya sudah menunjukkan tanda-tanda orang sehat.

“Aniyo. Mau sekarang. Kajja!” Hyunsa keluar dari mobil dengan beberapa lily segar di tangannya. Dengan tidak sabaran Hyunsa menarik tanganku supaya berjalan beriringan.

“Ini dia. Mama, Hyunsa dataang!” Hyunsa mengusap nisan Mamanya lalu berdoa dengan khusyuk dan aku mengikutinya. Sekitar lima menit kemudian, kepala Hyunsa terangkat dan melihatku sambil tersenyum manis. Jari-jarinya yang hangat dan agak lembab perlahan bertautan dengan jari-jariku. Entahlah, rasanya… begitu nyaman.

“Mama, lihat nih siapa yang disamping Hyun. Ini namanya Lee Jinki. Dia chicken maniac seperti Mama.” Hyunsa memulai sesi bercerita (?) dengan mamanya. Chicken maniac? -.-

“Mwo.. Mwoyaaa!”

Hyunsa menatapku dengan senyum mengejek kemudian kembali bercerita.

“Yaa, seperti yang Hyunsa bilang tadi. Laki-laki ini namanya Lee Jinki. Mama pastinya sudah tahu dia siapa. Jinki ini baiiiiik sekali sama Hyunsa. Jinki benar-benar pria yang bertanggung jawab, benar-benar memperhatikan Hyunsa dari segi manapun. Aih, perhatian sekali! Apa Mama senang ada orang yang perhatian pada Hyunsa selain Appa? Hmm, Hyunsa tidak pernah merasakan ada orang yang segitu perhatiannya pada Hyunsa sebelum Jinki datang di kehidupan Hyunsa. Ah, mungkin sudah. Tapi Hyunsa tidak merasakannya. Hahah.”

“Hyunsa benar-benar merasa berbeda saat Jinki hadir dalam hidup Hyunsa. Seperti kata Appa beberapa waktu lalu. Jinki benar-benar membuat Hyunsa bahagia dan mengembalikan Hyunsa pada kehidupan Hyunsa saat Mama masih menemani Hyunsa dan Appa. Meskipun Hyunsa berjanji untuk tetap move on setelah kepergian Mama, tetap saja Hyunsa selalu merasa hampa. Dan, Jinki yang membuat kehampaan itu sedikit-demi sedikit terkikis. Mama bahagia, kan dengan apa yang Hyunsa rasakan?”

“Mama, beberapa hari yang lalu Appa juga mengajukan suatu permintaan pada Hyunsa. Appa bilang, Appa ingin melihat Hyunsa menikah dengan pria yang Hyunsa cintai dan sayangi. Appa dengan melankolisnya berkata kalau Appa tidak tahu punya umur sampai kapan untuk bisa selalu mendampingi Hyunsa. Jujur Hyunsa tidak suka Appa berkata seperti itu. Tapi Hyunsa pun mengerti apa yang Appa inginkan. Appa bilang ‘menikahlah dan hidup berbahagia bersama Jinki’. Tentu Hyunsa mau membahagiakan Appa dan Mama dengan hidup dengan baik dengan pria yang Hyunsa cintai. Tapi untuk menikah sekarang, Hyunsa tidak yakin bisa. Hyunsa harus benar-benar mengerti pria itu dalam aspek apapun.”

“Kalau Appa menginginkan Hyunsa untuk menikah, apa Mama juga demikian? Apa Mama menginginkan Hyunsa menikah dengan Jinki seperti yang Appa mau? Apa Mama merasa aku dan Jinki saling cocok? Dan apakah Mama merestuinya?”

Hyunsa terdiam. Tangannya masih menggenggam tanganku erat. Kepalanya mendongak menatap langit yang sudah sedikit teduh dibandingkan saat kami baru menginjakkan kaki di pemakaman.

“Hyunsa tahu Mama juga sependapat dengan Appa. Hyunsa berjanji untuk memahami Jinki, pria yang Hyunsa cintai, lebih baik lagi. Hyunsa janji untuk mencintai dia lebih baik lagi. Mama mendukungku, kan? ”

Hyunsa menghela nafas lega. Kembali ditatapnya nisan Mamanya cukup lama sampai akhirnya mengucapkan salam perpisahan. Diusapnya lagi nisap Mamanya lalu tanpa melepaskan tautan jari-jarinya di jari-jariku, kami berjalan pelan menuju mobil.

Tanpa harus berkomentar, ada sedikit perasaan lega dalam hatiku saat mendengar kejujuran Hyunsa yang tulus. Aku bisa tersenyum bahagia sekarang.

********

Timer bom waktu semakin lama semakin mendekati angka nol. Perasaan bahagia yang mengisi seluruh organ tubuhku perlahan menghilang, digantikan rasa sesak dan ngilu yang semakin hari semakin bertambah parah.

Tinggal dua hari lagi tersisa sebelum aku kembali ke Korea dalam jangka waktu yang lama. Setiap hari aku berusaha untuk terlihat tegar dan biasa-biasa saja di hadapan Hyunsa yang terkadang suka termenung sendiri. Mungkin dia juga memikirkannya.

Aku mulai membenahi semua barang-barangku dan memasukkannya ke koper. Kumasukkan bingkai foto berisi fotoku dan Hyunsa saat jalan-jalan ke Lombok beberapa bulan silam. Di foto itu, kami tersenyum lebar sampai-sampai mata kami membentuk bulan sabit sambil menggoes sepeda tandem. Aku tertawa kecil mengenang peristiwa itu.

Kamar ini terasa semakin luas saat barang-barangku telah masuk semua ke kopor. Haahh, rasa sesak ini menghantam paru-paruku lagi. Ayolah, Jinki tidak boleh seperti ini!!!

Tok tok tok

“Dubuuuu!” panggil Hyunsa dari luar. Cepat-cepat kutarik nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya dengan keras dari mulut dan membuka pintunya dengan senyum lebar menghiasi wajahku.

“Haaii! Ada apa?” sapaku.

“Eung.. Dubu…” tiba-tiba Hyunsa menubruk tubuhku dan kedua tangannya melingkar di pinggangku erat.

“Ya! wae keurae? Eoddi apha?”

“Jinki, jeongmal musowo.”

“wae wae wae? Tenanglah, di sini ada aku.” Aku mengelus rambut ikalnya yang sedang tergerai.

“Lusa kamu pergi. Aku takut. Sungguh, aku benar-benar takut.”

Kamu mungkin tidak tahu seberapa ketakutanku, Hyunsa. Tapi aku juga takut. Sangat takut.

“Sshhh, jangan seperti ini dong. Kamu membuatku tidak tenang kalau seperti ini. Semua pasti akan baik-baik saja kok. Tenang ya?” Kalian boleh menyebutku dengan sebutan orang munafik. Karena memang sebenarnya aku munafik. Aku tidak mau terlihat lemah di depan Hyunsa.

“Jangan lost contact, ya. kamu harus sering-sering meneleponku. Sms, email, bbm, apapun! Yang penting—“

“Tentu saja, Hyunsa. tanpa kamu minta aku pasti akan melakukannya. Jadi tidak ada alasan untuk takut, ya? janji padaku kamu tidak boleh takut.” Hyunsa terdiam beberapa saat. Tangannya lalu terlepas dari pinggangku lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aissshhh! Jinki, kamu harus bisa tahan!

“Ayo janji padaku.” Aku mengacungkan kelingking kananku di depan wajahnya dan menggoyang-goyangkannya. Hyunsa dengan ragu menautkan kelingking kanannya dengan kelingkingku.

“A..aku janji,” lirih Hyunsa terbata.

“Aah, itu lebih baik. Semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja, kok.”

********

CHO HYUNSA’S POV

“Jinki?? Neo eoddiyaa?” aku masih terus mencari-cari Jinki di sekitar rumah. Ini aneh. Jinki tidak ada di kamarnya dan kopernya pun sudah tidak ada. Padahal dia sendiri yang berjanji untuk menungguku dan Appa selesai berlatih lalu kami akan mengantarnya ke bandara.

“Jinkinya mana, Hyun?” tanya Appa.

“Molla!! Jinki tidak ada di kamar. Kopernya juga tidak ada.”

“Haa? Aiishh, keu jashik! Coba telepon.”

Dengan tangan gemetar aku memencet speed dial untuk Jinki. ahhhh siaalll!!! Kenapa tidak diangkat?!

“Appa, tidak diangkat. Ottaee?” rasa panik yang mulai menjalari seluruh tubuhku membuatku gemetar. Kemana Jinki??

“Coba lagi, sayang. Jangan panik seperti ini. Appa juga jadi bingung.”

Kucoba menenangkan diriku sendiri lalu menelepon Jinki lagi. Aissshh, nihil!!

“Appa, tidak bisa.”

“Astaga! Apa maksud tingkahnya yang seperti ini? Ya sudah, kita langsung ke bandara saja. mungkin saja Jinki sudah di sana.”

“Tapi tapi…”

“Ayolah! Firasat Appa mengatakan seperti itu.”

********

Drrrtt

Sebuah messenger masuk ke dalam ponselku. Dengan tangan yang masih saja gemetar, aku memasukkan sandi ponselku dan membuka messenger tadi. Mataku langsung membulat begitu melihat siapa pengirimnya.
LeeJinki
 Hyunsa, aku minta maaf. Aku tahu ini salah. Tapi tindakanku
ini ada alasannya. Aku tidak mau membebani pikiran kita
berdua. Mungkin dengan tidak melihat satu sama lain untuk
terakhir kalinya, akan menjadi lebih baik.
 Jangan susul aku ke bandara. I love you.

Ribuan paku yang amat tajam rasanya menusuk dadaku. Jinki memilih tidak melihatku untuk terakhir kalinya di bandara.

Sesak sekali rasanya.

“Nak, ada apa? Ada kabar dari Jinki?” appa memecah lamunanku.

“Appa, Jinki sudah duluan di bandara dan dia.. dia.. huk..” aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku. Sesuatu rasanya mencekik leherku sehingga aku tidak bisa melanjutkannya.

Jinki wae irae…?!

“Ya Tuhan! Nak, Appa mohon kamu tenang dulu, ya. Appa akan ngebut secepat yang Appa bisa. Appa tidak mau tahu, kalian harus bertemu sebelum semuanya terlambat. Sekarang tarik nafas dalam-dalam, tenangkan dirimu, sayang.”

Bukannya menjadi tenang, cairan bening dan hangat itu mulai membasahi pipiku. aku berusaha untuk menghentikannya, namun airmataku tetap saja mengalir bahkan semakin lama semakin banyak mengalir. Kutahan isakanku dengan menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Biarkan saja berdarah lagi. Aku tidak peduli.

********

“Nak, maaf ini macet sekali. Kamu bisa berlari ke terminal? Jaraknya sudah tidak terlalu jauh. Nanti Appa menyusul. Yang penting kejar Jinki dulu, ya?” Appa berbicara lambat-lambat agar aku—yang masih menangis—mengerti.

“Ne. ne, Appa. Hyunsa pergi sekarang.” Kubuka pintu mobil dan berlari sekencang yang kubisa.

Jinki kumohon jangan pergi.

Setidaknya jangan pergi sebelum aku bertemu denganmu. Kumohon.

Kakiku mulai lelah berlari tetapi terus kupaksakan untuk mencapai terminal keberangkatan. Setelah sampai di dalam, kuedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari sosoknya. Namun tidak ada satu orangpun yang bersiluet seperti Jinki. Tidak, aku tidak boleh menyerah seperti ini.

Aku berlari lagi mendekati pintu keberangkatan, berharap bisa melihat Jinki melalui kaca-kaca yang membatasi ruang check-in dengan ruang pengantar. Kutempelkan wajahku di kaca untuk memperjelas mencari sosok Jinki. Mungkin orang-orang yang melihatku menganggapku seperti orang gila karena berlari-lari dalam keadaan menangis.

”Kepada penumpang pesawat Korean Air dengan nomor penerbangan KE 142 tujuan Incheon, silahkan naik ke pesawat melalui pintu 4. Terima kasih.”

Andwae andwae andwaeee!!!

Jinki, neo eoddiyaa???

Saat diambang keputusasaan, akhirnya aku melihatnya. Dia menatapku dengan matanya yang memerah dan hoodie jaketnya yang terpasang menutupi kepalanya.

“Jinki…,” lirihku. dengan sisa-sisa kekuatanku, aku berlari ke arah Jinki dan menubruk tubuhnya. Kupeluk tubuhnya erat dan membenamkan wajahku di dadanya.

“Hyunsa, kamu datang…?” Jinki membelai rambutku dengan lembut. Aahhhh, pabo!! Sejujurnya, aku ingin sekali marah pada Jinki. tetapi sesegukan parah ini membuatku tidak bisa berkata-kata sama sekali. Bodoh.

“Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tahu aku salah. Aku bodoh. Aku jahat. Aku minta maaf, Hyunsa.”

“IYA!! kamu ini bodoh sekali, Jinki! hikkss.. kenapa tega pergi sendiri seperti ini, hah?! Kamu pikir dengan—hikksss—cara seperti ini aku jadi tidak memikirkanmu terus-terusan? BA—hikssss—BO!!” suara teriakanku untung saja teredam.

“Mianhae. Mian, Hyunsa. Aku bodoh.”

“Iya, kamu bodoh!! Kamu jahat sekali, jinjja!”

“Aku minta maaf, Hyunsa. Kupikir dengan begini, kita jadi lebih siap. Ternyata sama sekali tidak. Aku minta maaf, jagiya.”

Aku tidak menggubris Jinki sambil terus berusaha menghentikan sesegukanku. Aisshh! Dia enak sekali tinggal bilang maaf atas semua perbuatannya!

“Jagiya, jangan menangis lagi, kumohon.”

“Salahmu yang membuatku tidak bisa—hikkks—berhenti!”

Jinki tiba-tiba melepas pelukannya dan memegang kedua bahuku. Aku masih menundukkan kepalaku karena tidak mau melihat mata coklatnya. Jinki berdecak pelan. Kurasakan ibu jarinya menyentuh daguku—sedikit memaksa agar aku menatapnya. Matanya terlihat sendu dan menyedihkan—sama sepertiku. Tiba-tiba aku bisa merasakan nafas Jinki yang hangat menerpa wajahku. Bibirnya mengecup bibirku pelan sampai akhirnya dia menjauhkan wajahnya.

“Sudah, jangan menangis lagi. Airmatamu itu semakin membuatku merasa bersalah karena meninggalkanmu. Begini ya, dengar kata-kataku ini baik-baik karena aku tidak punya banyak waktu lagi. Secepatnya aku akan kembali padamu dan menyelesaikan janjiku yang tertunda. Bersabarlah dan semua akan baik-baik saja. Mengerti?”

”Panggilan terakhir untuk penumpang pesawat Korean Air dengan nomor penerbangan KE 142, silahkan naik ke pesawat melalui pintu 4. Terima kasih.”

“Baiklaah, sudah saatnya aku boarding. Jagiya, aku pergi ya.” tangan Jinki yang hangat terlepas dari bahuku namun dengan cepat aku menahannya agar tetap pada posisi semula.

“Kajima.. kajima, Jinki. Kajimaa…”

“Tapi aku sudah mau boarding. Aku sudah janji untuk kembali, apa yang harus ditakutkan lagi, hm?”

Kugelengkan kepalaku lemah. “Andwae Jinki. Kajima, kajima….”

Jinki kembali memeluk tubuhku dan mengecup dahiku lembut. Sekali lagi merasakan setetes airmata mengalir di pipiku. mengapa perpisahan begitu menyakitkan?

“Aku pergi, ya. Dadah Hyunsa sayang~”

Dengan senyuman terindah yang ia miliki, Jinki membalikkan tubuhnya dan perlahan melangkah menjauh dariku.

Tepat sebelum Jinki menghilang dari jendela kaca, dia kembali menatapku dengan dua bulan sabit yang menghiasi wajahnya.

“I love you, forever and ever, Cho Hyunsa.”

To Be Continued.
-ㄱ . ㅅ-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “Waiting For The Sun – Part 4”

    1. Hihihi sebenarnya bukan cepet balikk, tapi cepet ketemu lagi:B upss rahasia nih x_x
      Tungguin yaaa lanjutannyaaaa:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s