Love Me – Part 8

LOVE ME 8

 

Author : *Azmi

Main cast :

  • Kim Jonghyun
  • Choi Yumi

Other cast :

  • Lee Taemin
  • Shin Sekyung
  • Shim Min Ah
  • Choi Siwon
  • Choi Minho
  • Choi Minhwan (FT island)

Length : Squel

Genre : Angst, romance, married life, Friendship

Rating : PG 17

 

STORY

Sinar mentari pagi menerobos tirai transparan kamar Yumi, menghantam kelopak matanya yang terkatup hingga membuatnya menggeliat tak nyaman. Perlahan tangannya keluar dari balik selimut yang membungkus tubuhnya hingga batas pundak, bergerak mengusap-usap matanya. Sinar itu sungguh mengganggu, Yumi masih ingin terlelap lebih lama, ia merasakan badannya pegal-pegal di beberapa bagian.

Tak peduli dengan waktu, kini Yumi justrus membalikkan badannya demi menghindari sinar matahari yang sepertinya tak ingin membiarkan dirinya tenang. Ia mencoba tidur kembali, melupakan tugas rutinnya.

Hampir saja ia menelungkupkan selimutnya untuk menutup seluruh tubuh sampai sebuah tangan menahan gerakannya. Ahhh… siapa lagi yang berusaha mengganggunya??

“Mau sampai kapan kau akan tidur Ny. Kim?” sebuah suara familiar mengintrupsinya, membuatnya seketika membuka mata lebar. Menyambutnya dengan senyum hangat, tampak suaminya itu sudah rapi dengan baju santainya. Terlihat segar, habis mandi.

“Oppa… kau sudah bangun?!” pekiknya kaget.

“Tentu saja, kau pikir ini jam berapa?” dengan santai Jonghyun menjawab sembari mengendikkan dagunya menunjuk jam dinding yang tergantung sempurna di atas pintu kamar.

Mata Yumi kembali melebar. OMO~ jam sembilan. Bagaimana bisa waktu berjalan begitu cepat! Benar ‘kan ia melupakan tugas rutinnya.

Yumi bangun cepat dan seketika itu pula angin terasa menerpa punggungnya yang terbuka. Sekali lagi matanya melebar sempurna, tangannya yang masih menahan selimut semakin menggenggam erat. OMO~ bagaimana bisa angin  menerobos masuk baju tidurnya dengan begitu nyata? Seperti tak terhalang apapun. OMO~ membuatnya merinding saja.

Mata Yumi mengerjab-ngerjab dan perlahan pipinya memancarkan semburat merah yang tak terelakkan. Secepat kilat ia menghempaskan kembali tubuhnya ke kasur dan mempertahankan selimut itu tetap pada posisinya.

Jonghyun yang saat itu duduk di tepi ranjang mengernyit heran, “Kau tak jadi bangun Mi-ya?” tanyannya polos, “Kau masih mengantuk sekali ya?”

Jonghyun beringsut lebih mendekat pada Yumi, membuat Yumi terpekik tartahan. Jantungnya kembali berdetak tak normal. Bayangan-bayangan kejadian tadi malam berkelebatan dengan tak kenal ampun menghujami pikirannya. Semburat merah semakin kentara di wajahnya.

Menyadari sesuatu, Jonghyun menyeringai evil. Kembali ia beringsut lebih dekat lagi ke arah Yumi, membungkukkan badannya tepat di depan wajah Yumi, “Kau harus bangun Ny. Kim! Lihatlah kamar ini, sudah harus dibereskan, berantakan sekali!!” ujarnya dengan seringaian yang menakutkan.

Seketika Yumi mengalihkan tatapan matanya yang sempat terkunci oleh mata tajam Jonghyun, beredar ke penjuru ruang. Yumi mengernyit melihat betapa berantakannya kamar ini, baju bertebaran dimana-mana. OMO~ seperti kapal pecah saja!

“Ayo bangun!!” seru Jonghyun tersenyum penuh kemenangan.

Takut-takut Yumi membuka mulutnya, “Ba-baik… tapi Oppa, Oppa jalan-jalan ke luar saja dulu, mumpung cuaca sedang cerah. Aku akan membereskan kamarnya, yaksokhae!!” Yumi berusaha mengalihkan perhatian Jonghyun dan berharap Jonghyun mau menuruti keinginannya.

“Tidak mau, aku masih ingin bermalas-malas di kamar. Kalau kau ingin membereskannya, bereskan saja!!” ucapnya santai.

“Oppa, ayolah keluar sebentar ya…” Yumi memelas.

“Kenapa aku harus keluar sih?!”

Semburat merah kembali menghujami wajah Yumi. OMO~ tak mungkin kan ia membaritahu pada Jonghyun apa yang terjadi dengan tubuhnya saat ini-walau tanpa di ketahuinya Justru dia lah yang berhasil di bodohi Jonghyun-. Ini semua kan juga ulah Jonghyun sendiri.

“Kau takut aku melihat sesuatu ya??” senyum jahil kembali menghiasi wajah Jonghyun.

“Oppa!!”

“Aigo~ kau malu ya Mi-ya?” goda Jonghyun, “Tak perlu malu, aku sudah melihat semuanya kok semalam!”

Jonghyun kembali beringsut, kini ia menyelipkan tubuhnya, ikut bergabung dengan Yumi di dalam selimut hangat itu dan memeluk Yumi erat.

“Ya!! Oppa!! Apa yang kau lakukan?!!”

***

Jonghyun asik menunggu Yumi di ruang makan dengan PSP-nya, sementara Yumi sendiri sibuk menyiapkan sarapan. Pagi ini sungguh repot. Selain harus membuat sarapan, Yumi juga harus membersihkan peralatan camping dadakan kemarin terlebih dulu karena belum sempat dibereskan. Tangannya sibuk mencuci piring dan sesekali melongok roti yang terselip di mesin pemanggang, tak ingin gosong.

“Mi-ya kenapa lama sekali?!” pekik Jonghyun di balik meja makan, tapi masih fokus dengan game yang dimainkannya, tak peduli Yumi yang kerepotan, “Aku sudah sangat lapar Mi-ya!!”

“Sebentar lagi Oppa, rotinya belum terpanggang sempurna!” Sahut Yumi. Tangannya yang penuh dengan busa itu reflek terayun ke udara demi menyahut Jonghyun, sedikit memuncratkan busa itu di sekitar rambut coklatnya yang tergerai. Bermaksud membersihkan busa itu, justru rambut Yumi semakin kotor, karena melupakan tangannya yang masih penuh dengan busa. Yumi benar-benar gugup saat ini, Jonghyun yang dari tadi merengek, sarapan yang belum juga matang dan piring-piring kotor yang juga tak ada habis-habisnya. Adakah yang mau membantu?

Bunyi kling terdengar di telinga Yumi, menandakan roti dalam panggangannya telah matang. Buru-buru Yumi bertolak untuk mematikan mesin pemanggang, namun baru selangkah kakinya terayun, lantai dapur yang licin akibat tumpahan busa membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan debaman yang cukup keras, kepalanya sukses membentur dinding konter sementara pergelangan tangan kirinya yang berusaha menopang tubuhnya agar tak terlalu keras membentur lantai justru terkilir, lagi-lagi karena busa di tangannya yang belum sempat ia cuci karena terburu-buru saat mendapati rotinya telah matang.

Pekikan keras membuat Jonghyun terkesiap, tak memperdulikan apapun kini ia bangkit dan melemparkan PSP yang berada di tangannya ke sembarang tempat, entahlah apakah ia masih bisa selamat. Dengan kalap ia menghampiri sumber suara dan didapatinya Yumi yang sudah tergolek di lantai dapur dengan mengenaskan.

“Astaga Mi-ya!! Apa yang terjadi?!!”

****

Pelan-pelan Jonghyun menurunkan Yumi dari gendongannya di sofa ruang tengah dan setelah itu ia meluncur entah kemana. Beberapa saat kemudian ia sudah kembali dengan sebaskom air hangat dan handuk kecil.

Jonghyun menatap miris pelipis Yumi yang lebam membiru, “Kenapa kau bisa sampai terjatuh seperti itu Mi-ya?”

Jonghyun mengomperes pelipis Yumi dengan sayang. Sekali-kali meniupnya. Yumi hanya diam menunduk, kepalanya terasa sangat sakit. Ia ingin menangis tapi ditahan. Ia tak mau terlihat seperti anak kecil.

“Kalau ingin menagis, menangis saja!” ucap Jonghyun masih fokus dengan kegiatannya.

Yumi tak bergeming, ia masih saja menunduk manahan sakit.

“Ayo menangis!” pekik Jonghyun lebis keras. Seketika itu pula air mata Yumi meluncur membasahi pipi putihnya. Isakan tersedu terdengar keluar dari bibir kecil Yumi, tubuhnya pun terguncang halus.

“Sakit Oppa…” Jonghyun menghentikan kegiatannya dan menarik tubuh kecil Yumi ke dalam dekapannya. Membiarkan airmata Yumi membasahi kausnya.

Saat Jonghyun hendak mengeratkan pelukannya, tiba-tiba saja Yumi terpekik kesakitan. Seketika Jonghyun melepas pelukannya dan memandang cemas ke arah Yumi.

“Wae?” tannya kawatir.

Menyadari sesuatu, Jonghyun menarik pergelangan tangan Yumi dan mendapatinya dalam keadaan bengkak.

“Astaga Mi-ya. Sekarang tak ada penolakan, ayo kuantar ke Dokter!”

Jonghyun sudah bersiap mengangkat tubuh Yumi, ketika sebuah kepala menyembul dari balik pintu rumah mereka, disusul beberapa orang lainnya. Sekitar empat orang, dua orang dewasa dan dua anak-anak.

Mereka serempak memandang ke arahnya bingung, penuh tanda tanya. Yumi sendiri masih terisak kecil dan berusaha menenangkan dirinya. Pergelangan tangannya sungguh sakit, mungkin terkilir.

“Astaga Hyung… apa yang kau lakukan pada istrimu?!” bocah kecil bernama Minho itu berlari mendekati mereka berdua dan mendapati keadaan menyedihkan Yumi, “Mi-ya… kau kenapa?” tanyannya kawatir.

Tangan kecilnya bergerak menarik tubuh Jonghyun-masih dalam posisi membungkuk hendak menggendong Yumi-menjauh. Ia memegang pelipis Yumi yang membiru dan menampakkan ekspresi penuh dengan kekawatiran.

Ia menoleh, melirik sinis Jonghyun yang cengo di belakangnya, “Sudah kubilang dari awal aku tak menyetujui kau menikah dengannya Mi-ya. Dia itu tak bisa menjagamu dengan baik…” ucapnya sinis, “Dan Oh… apa yang terjadi dengan pergelangan tanganmu?”

Isakan Yumi terganti dengan kikikan kecil, gemas melihat Minho yang bersikap sok dewasa padahal umurnya baru 9tahun. “Aku tak papa Minho-ya…”

Disisi lain, seorang bocah kecil yang berada di gendongan Appanya menatap bingung tak mengerti, “Appa, Yumi nuna kenapa?” tanyannya, “Mengapa Minho-hyung tellihat begitu khawatil?”

****

Jonghyun bersungut sebal. Ia melipat tangannya di depan dada begitu juga wajahnya yang rapi terlipat menjadi beberapa bagian, bibirnya pun mengerucut kesal. Bagaimana bisa ia dikalahkan oleh seorang anak kecil berumur 9tahun.

Ia kembali melirik Minho dari ekor matanya. Bocah kecil itu terasa sangat berbahaya bagi Jonghyun. Lihatlah, dengan tampang sok dewasanya, bagaimana ia mengelus dahi Yumi sok menenangkan. Jonghyun juga ingin melakukan itu, namun setiap kali ia mendekat, bocah sialan itu akan menjadikan wajah tampannya bolong dengan tatapan tajamnya. Ini tak masuk akal, bagaimana mungkin seorang Jonghyun takut dengan tatapan seorang bocah.

Semenjak tiga puluh menit mereka kembali dari rumah sakit, Minho sama sekali tak beranjak dari sisi Yumi. Ditambah lagi dengan ocehannya yang tak masuk akal, membuat Jonghyun ingin meledak saja.

“Sudahlah Mi-ya, tinggalkan Jonghyun hyung, ia itu payah. Tak bisa menjagamu dengan baik. Bagaimana kalau aku saja yang menggantikannya?” seolah menganggap Jonghyun tak ada, Minho berujar dengan begitu santainya.

Yumi tersenyum tipis, “Nanti saja kalau kau sudah dewasa, sayang. Kalau tinggimu sudah melewatiku…” kata Yumi.

“Kau meragukanku, Mi-ya? Bahkan bisa kupastikan tinggiku akan jauh melebihi tinggi Jonghyun hyung, dia itu ‘kan pendek!” ucap Minho sadis sedikit melirik Jonghyun yang berada di belakangnya, “Kau tak takut aku berpaling pada gadis lain? Di sekolah banyak sekali lho Fans-ku!!”

Sudah cukup!!

Jonghyun sudah tak tahan lagi. Bersungut-sungut ia beranjak dari sofa. Dengan kedua lengan kekarnya ia menarik Minho dari sofa dan membopongnya keluar dari ruang santai ke meja makan dimana kedua orang tua dan adiknya berada.

Jonghyun menghempaskan Minho di kursi makan, “Tetap disitu dan jangan banyak bicara atau aku akan selamanya melarangmu bertemu dengan… Choi Ahh~ ani Kim Yumi maksudku!” ucap Jonghyun tegas dan menekan di bagian akhir katanya, “ARRASEO?!!”

****

“Hati-hati Samchon…” Yumi melambaikan sebelah tangangannya yang tak sakit pada mobil Siwon dan keluarga kecilnya yang mulai melaju. Disampingnya Jonghyun hanya melipat tangannya di depan dada dengan memasang wajah cemberut.

Jonghyun menghela nafas begitu mobil mereka menghilang di balik pintu gerbang kediaman keluarga Choi. Yumi tersenyum tipis melihat Jonghyun yang menghela nafas berlebihan.

“Aiss~ bocah itu merepotkan sekali!” gerutu Jonghyun lega. Ia membalikkan tubuhnya dan masuk kembali ke dalam rumah diikuti Yumi di belakangnya.

“Jangan seperti itu, Minho ‘kan masih kecil Oppa!” kata Yumi ikut menghempaskan tubuhnya di samping Jonghyun yang sudah lebih dulu ambruk di atas sofa.

Jonghyun merebahkan tubuhnya di atas paha Yumi dan mengambil PSP di atas meja kemudian memainkannya.

“Masih kecil tapi sudah merepotkan seperti itu, bagaimana besarnya nanti!”

Yumi mencubit hidung Jonghyun dengan gemas, tak menyangka ternyata Jonghyun bisa semanja ini. Fakta baru yang di temukan Yumi dari Jonghyun selama hampir dua tahun kehidupan pernikahan mereka.

“Ya!! Kenapa mencubit hidungku?!” sungut Jonghyun. PSP ditangannya terlepas begitu saja dan jatuh di atas dadanya yang rebah.

“Habisnya Oppa kekanakan sekali sih,,,”

“Apa kau bilang?!” Jonghyun bangkit dan seriangain menakutkan persis seperti pagi tadi kembali dapat tertangkap retina mata Yumi. Yumi bergidik merasa terancam. Ia bersiap bangun dan mencoba berlari menghindari Jonghyun, kalau sudah seperti itu sudah dapat dipastikan bahwa ada bahaya yang akan menimpa Yumi.

Belum sempat Yumi mengangkat tubuhnya dari atas sofa, tangan besar Jonghyun menahan tubuhnya dengan menangkap pinggan Yumi.

“Mau kemana kau huh?” Yumi semakin merinding mendengar suara Jonghyun yang bahkan tak seberapa keras, “Mau ku tunjukan bagaimana yang kekanakan itu?”

Demi apapun, Yumi tak bisa mengelak ketika wajah Jonghyun beringsut semakin mendekat kearahnya. Yumi perlahan menutup matanya ketika jarak di antara mereka kian menipis. Jonghyun tersenyum tipis melihat Yumi yang begitu pasrah. Ia ikut menutup matanya dan semakin mendekat. Tapi belum juga niat Jonghyun terlaksana, Yumi tuba-tiba saja membuka matanya dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Perutnya terasa diaduk-aduk, apa yang tadi dimakan olehnya terasa ingin keluar semua. Reflek Yumi mendorong wajah Jonghyun yang masih berangsek mendekat ke arahnya karena belum menyadari keadaannya.

Yumi berlari ke kamar mandi meninggalkan Jonghyun yang cengo di tempatnya. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi, tadi Yumi sepertinya pasrah saja saat Jonghyun ingin menciumnya, tapi kenapa tiba-tiba ia mendorong Jonghyun padahal tinggal sedikit lagi niat ‘mulia’ Jonghyun terlaksana.

Jonghyun mengerjab-kerjabkan matanya dan tiba-tiba saja senyum lebar menguar dari bibir tebalnya. Jonghyun berlari menyusul Yumi yang masih berusa mengeluarkan isi perutnya.

“Mi-ya kau hamil!!” seru Jonghyun yang bahkan masih di ambang pintu kamar mandi. Membuat Yumi melonjak seketika. Ia yang semula menunduk di atas westafel menegang seketika hingga dua buah lengan kekar melingkari pinggang rampingnya. “Astaga~ aku akan menjadi ayah~”

Yumi mengerjab-kerjabkan matanya melupakan rasa mual yang melilit perutnya tadi.

“Ya!! Jangan ngawur!!” pekik Yumi memukul kecil lengan yang memeluknya erat dari belakang itu, “Kit… Kita bahkan baru melakukannya tadi malam!” semburat merah kembali menguar menghiasi pipi Yumi saat kata-kata itu meluncur dari bibirnya.

“Aku tak peduli. Yang jelas aku tahu saat ini kau sedang hamil!” ucap Jonghyun final. “Astaga~ aku sudah tak sabar ingin melihat wajah baby kita Mi-ya~”

****

“Dokter, apa kau yakin? Mungkin tadi baby kecilku sedang bersembunyi hingga tak tertangkap alat itu, ayo periksa perutnya sekali lagi!” Jonghyun bersikeras bahwa Yumi sedang hamil padahal dokter muda di depannya ini sudah memeriksa Yumi berulang kali.

Yumi hanya bisa menggelengkan kepala melihat bagaimana antusiasnya Jonghyun. Ada rasa bahagia menyebar di hatinya menyadari bahwa Jonghyun kini begitu peduli padanya. Ini seperti mimpi bagi Yumi.

“Yumi-ssi tolong jelaskan pada suamimu, aku sudah lelah!” Dokter muda itu terlihat menyerah menghadapi kekeraskepalaan Jonghyun.

“Ya!! Lee hyukjae!! Kau selalu mengumbar bahwa kau itu Dokter kandungan terhebat, tapi bahkan mendeteksi keberadaan bayiku saja kau tak bisa!!” teriak Jonghyun membuat Yumi ikut terlonjak. Ia sudah menghiraukan etika sopan santun yang selama ini selalu dijaganya di depan umum.

“Ya!! Yang sopan sedikit, ini di rumah sakit Dino sialan!” Dokter yang dipanggil Lee Hyukjae itu ikut emosi, ia sudah tak tahan melihat tingkah kekanakan sepupunya itu, “Bahkan kau baru melakukannya tadi malam, belum ada 24 jam. Setidaknya sperma membutuhkan waktu 2 hari untuk bisa mencapi sel telur dan membuahinya!!”

Semburat merah menyebar dengan cepat menghiasi wajah Yumi. Kata-kata Dokter itu sukses membuatnya malu, apalagi diucapkan dengan suara selantang itu. Bagaimana jika suaranya sampai terdengar di luar ruangan.

“Ahh~ arraseo… kau memang payah, hyung!” ujar Jonghyun akhirnya mengalah. Ia juga tak mampu menyembunyikan semburat merah yang menghiasi pipinya.

“Kau yang payah, sudah menikah dua tahun lebih tapi baru melakukannya tadi malam!” ucap Hyukjae sadis “Datanglah lagi dua minggu kedepan untuk hasil yang akurat! Kau pikir semudah itu membuat bayi?!” Dokter Lee tersenyum mengejek, “Sudah kubilang Yumi hanya tak cocok dengan obat yang baru saja diminumnya hingga ia muntah-muntah seperti itu. Dan kusarankan untukmu Mi-ya, kau carilah dokter lain untuk mengobati lukamu itu, minta obat yang baru!”

“Arraseo~”

****

Malam di musim semi yang indah. Kelopak bunga yang berguguran menghantam permukaan kepala Yumi dan Jonghyun. Tangan yang tertaut itu melambai mengikuti gerakan kaki mereka. Jonghyun masih tersenyum-senyum kecil menyadari kebodohannya. Ia menengadahkan wajahnya tampak seperti tengah menangkap guguran bunga dengan wajahnya sendiri. Ia bahagia, bahagia dalam arti yang sebenarnya. Bukan lagi kebahagian yang selama ini pernah ia rasakan. Ini tak sama dengan ketika ia masih kecil dan mendapatkan mainan baru atau sekedar mendapat nilai yang bagus di sekolah, tidak juga sama dengan ketika hatinya puas telah menyelesaikan beberapa bait lagu yang merupakan hoby wajibnya.

Jonghyun berani bertaruh, semua ini berbeda walau Jonghyun sendiri tak tahu letak perbedaannya. Sama seperti musim semi. Semua terasa mekar dalam lubuk hatinya, menyebarkan serbuk harum yang tak berlebihan seperti halnya parfum-parfum mewah yang kerap dibelinya. Begitu banyak lirik lagu yang telah ia ciptakan dengan apik tapi entah mengapa kata-kata indah manapun serasa tak mampu melukiskan perasaannya kini.

Jonghyun memalingkan wajahnya menatap Yumi. Gadis itu masih sama dengan gadis dua tahun yang lalu. Gadis yang tiba-tiba saja muncul dalam kehidupan damainya, merusak hidupnya dan mengubahnya menjadi lebih berwarna dalam waktu yang sama. Gadis yang tak terlalu cantik namun memiliki pesona dalam kesedarhanaannya. Wajahnya yang selalu tampak ceria walau sebenarnya hatinya penuh dengan luka, dan Jonghyun mengutuk dirinya karena ia lah yang menyebabkan luka itu.

Jonghyun membelai puncak kepala Yumi dengan tangan kirinya yang bebas membuat gadis yang semula menunduk melihat sepatu flat putih yang membungkus kakinya mendongak seketika. Mendapati senyum teduh Jonghyun, tanpa terasa Yumi ikut menarik bibirnya melengkung keatas.

Langkah kaki mereka serempak berhenti. Lampu remang jalanan yang berpendar di atas Yumi membuat gadis itu tampak bersinar di tengah kegalapan. Telapak tangan Jonghyun yang semula masih di atas pucuk kepala Yumi perlahan turun. Jonghyun mengalihkan wajahnya menatap ke depan dan kembali tersenyum atau bahkan terkikik kecil.

“Aku kekanakan sekali ya?”

Yumi mengangguk-angguk keras.

Jonghyun melirik Yumi dari ekor matanya, “Mian…”

“Aku malu sekali tau! Membicarakan hal seperti itu dengan suara keras-keras. Pasti semua orang mendengarnya….”

Jonghyun kembali memutar tubuhnya menghadap Yumi dan memberikan senyum tulusnya sekali lagi. Entah sudah berapa kali dalam sehari ini Jonghyun tersenyum seperti itu pada Yumi, gadis itu tak menghitungnya.

“Mian,,, itu karena aku terlalu antusias.” Ujar Jonghyun, “Bagaimana aku tak seantusias itu, kalau sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Memangnya kau tak senang akan menjadi ibu, Mi-ya?!”

“Itu belum pasti Oppa. Jangan mulai lagi…” Yumi kembali tersulut kesal. Sudah berapa kali ia mengatakan pada Jonghyun bahwa hal itu belum pasti dan bagaimana mungkin Jonghyun bisa seyakin itu bahwa Yumi tengah mengandung anaknya.

Sebenarnya Yumi juga sangat senang jika hal itu memang benar, ia hanya tak ingin Jonghyun kecewa jika yang terjadi tak seperti yang diinginkan. “Lagi pula aku juga masih sekolah Oppa, aku ingin menyelesaikan pendidikanku dulu!”

“Kau bisa ambil cuti sementara waktu!” sela Jonghyun.

“Dan aku tak mau nanti anakku terlantar karena ditinggal ibunya melanjutkan kuliah!” balas Yumi

“Kan ada aku!”

“Seorang bayi membutuhkan keberadaan ibunya!”

“Jadi kau meragukan aku sebagai ayahnya, kau mau bilang bahwa aku tak bisa mengurus baby-ku sendiri begitu?”

“Bukan begitu, hanya saja mengurus baby tak semudah mengurus perusahaan. Memangnya Oppa bisa memberikan ASI pada baby kita?”

“A-ASI??”

“Nde,,, Oppa bisa??”

“Kan ada susu botol!”

“Aku ingin yang terbaik untuknya, tak akan kubiarkan ia hanya mendapat asupan dari susu sapi itu!”

“Ahh~ kau ini! Kau kan bisa memberikannya setelah pulang kuliah!”

“Kalau aku lelah dan ASInya tak mau keluar bagaimana??”

“Yaa!!! Kau ini!!! Jadi intinya kau tak mau punya baby begitu?!!” Jonghyun mulai geram. Ia memandang sengit Yumi yang sama sekali tak mempan pada gadis itu, justru gadis itu tersenyum geli melihat raut kesal Jonghyun.

Yumi menghela nafas sesaat, “Bukan begitu Oppa, bukannya tak mau hanya belum waktunya saja. Kita masih punya banyak waktu…”

“Tapi aku ingin cepat-cepat jadi Ayah!”

“Kalau begitu, hamili saja gadis lain…”

“YAA!!!”

Yumi berhambur memeluk Jonghyun, “Hahaha… Saranghaeyeo Oppa!”

Jonghyun balas memeluk Yumi erat, “Aku tak tahu mengapa aku bisa sekekanakan ini!”

Tawa mereka meledak sesaat setelah suara lirih Jonghyun tak terdengar.

****

Yumi menjalin longgar rambut ikal coklatnya kemudian sedikit merapikan poni sampingnya ketika sebuah mantel rajut tiba-tiba membungkus punggunya. Ia menoleh dan mendapati Jonghyun tersenyum tulus kearahnya. Yumi ikut tersenyum kemudian bangkit dari meja riasnya.

“Ayo sarapan dulu Oppa!” ujar Yumi, melangkah mendahului Jonghyun meninggalkan kamar mereka.

“Tak usah, kita sarapan di luar saja nanti!”

“Tapi Oppa…”

“Tak apa, aku sudah tak sabar mendengar berita bahagia itu. Sudah dua minggu tepat kan? aku harap Hyukjae hyung bisa profesional kali ini!”

Yumi memutar bola matanya. Tak lagi menghiraukan Jonghyun yang sudah seperti akan menerima hasil ujian kelulusan. Ck~ Yumi tak menyangka Jonghyun bisa seantusias ini. Padahal belum tentu kan ia hamil, apa lagi ia tak merasakan perbedaan berarti selama hampir dua minggu ini. Kenyataan itu lah yang membuat Yumi takut. Takut andai saja apa yang diharapkan Jonghyun tak bisa ia penuhi. Lagi pula kalau dipikir-pikir ini konyol bagi Yumi. Mereka bahkan baru pertama kali melakukan hal itu.

Yumi menghentikan langkahnya di beberapa anak tangga dari lantai bawah rumah mereka, membalikkan tubuhnya dan menghadap Jonghyun.

Yumi memejamkan sesaat matanya sebelum mengatakan sesuatu pada Jonghyun, “Oppa, jika seandainya apa yang kau harapkan meleset, apa kau akan membenciku lagi?”

“Membenci?” Jonghyun ikut berhenti dan memandang Yumi dengan tatapan tak mengerti. Apa maksudnya dengan membenci. Kapan Jonghyun pernah membenci Yumi? Walau dulu ia sempat tak suka dengan kehadiran gadis itu tapi sedikitpun tak pernah serbersit rasa benci pada gadis itu. Jonghyun berani bersumpah akan hal itu. Kenyataannya mereka sama-sama menjadi korban perjodohan yang justru kini begitu disyukuri oleh Jonghyun. Jadi alasan apa yang bisa membuat Jonghyun membenci Yumi.

“Ne… jika nanti hasil pemeriksaannya tak seperti yang Oppa harapkan, apakah Oppa akan kembali seperti dulu,,, membenciku?”

“Kapan aku pernah membencimu?!!” suara Jonghyun meninggi tanpa disadarinya, “Demi apapun Mi-ya aku tak pernah sekalipun membencimu. Dulu memang kehadiranmu menggangguku tapi demi Tuhan aku tak pernah sekalipun manaruh rasa benci padamu!”

Jonghyun menyeret Yumi dalam dekapan eratnya, “Jadi selama ini kau berpikir seperti itu tentangku?”

Yumi terdiam, “Maafkan aku…”

“Selalu saja meminta maaf…” kata Jonghyun, “Tolong jangan berpikir seperti itu lagi tentangku, meskipun nantinya aku marah atau pun membentakmu seperti yang pernah kulakukan dulu kumohon jangan pernah berpikiran bahwa aku membencimu. Kau tahu sendiri aku orang yang gampang terpancing emosi, aku selalu tak bisa mengotrol diriku dengan baik saat terdesak dan selalu malakukan apapun tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Jadi kumohon biasakan dirimu dengan hal itu dan yakin lah aku tak pernah membencimu sedikitpun…”

Jonghyun melepaskan pelukannya perlahan dan menatap jauh ke dalam mata Yumi yang sedikit tergenang air mata. Ia sungguh tak berniat berkata seperti itu pada Jonghyun, ia hanya takut mimpi bukruknya dulu akan kembali terulang. Kenyataan bahwa kebahagiaan baru saja ia rasakan membuatnya takut kehilangan.

Yumi mengangguk kecil membuat Jonghyun mengulas senyum. Ia mengacak sesaat puncak kepala Yumi sebelum menarik tangan gadis itu turun dari tangga. “Kajja!” seru Jonghyun.

Jonghyun mengambil sepatu Yumi dari rak kemudian menatanya di depan Yumi membuat gadis itu tersenyum malu. Jonghyun yang masih berjongkok di depan Yumi mengangkat sebelah kaki Yumi yang masih menggunakan sandal rumah, melepaskannya dan menggantinya dengan sepatu flat coklat yang serasi dengan baju yang dikenakan Yumi. Begitu juga dengan kaki sebelahnya lagi, Jonghyun melakukan hal yang sama.

“Sudah cantik! Kajja!” Jonghyun kembali manarik tangan Yumi untuk mengikutinya keluar rumah untuk menuju rumah sakit tempat memeriksakan kandungan Yumi.

Jonghyun berbalik sesaat sebelum membukakan pintu mobil untuk Yumi, “Dan apapun hasilnya nanti meskipun tak seperti yang kuharapkan, perasaanku akan tetap sama!”

Mobil Jonghyun berjalan dalam kecepatan sedang membelah jalanan yang sudah tampak ramai meskipun jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Senyum sedari tadi tak pernah luntur menghiasi wajahnya. Alunan lagu jazz tampak memecah keheningan dalam mobil itu. Mereka tak mengeluarkan sepatah katapun semenjak 10 menit lalu mobil itu melaju.

Tiba-tiba ponsel Jonghyun yang tergeletak diatas daskboard bergetar. Jonghyun yang masih asyik dengan jalan dan musik jazz yang didengarnya tak sadar bahwa sebuah panggilan menyapa ponselnya. Hingga ponsel itu bergetar untuk kedua kalinya barulah Yumi merasa terganggu dan memanggil Jonghyun.

“Oppa ponselmu bergetar…” kata Yumi.

“Ne?” Jonghyun yang tak begitu jelas menoleh pada Yumi.

“Ada telepon!” jelas Yumi sekali lagi.

“Ahh~” Jonghyun tersenyum kemudian mengambi ponselnya dengan tangan kanannya, “Ada telepon ternyata!”

“Yeobosseo?” sapa Jonghyun pada ponselnya, tiba-tiba saja tubuhnya menegang dan pedal rem itu terinjak dengan kuat begitu saja, membuat Yumi agak terpental kedepan.

“Apa?? Katakan yang jelas!!” bentak Jonghyun pada ponselnya menghiraukan Yumi yang terpekik kecil. “Ya!! Lee Jin Ki!! Apa yang kau katakan?!”

TBC

Annyeong… aku datang lagi dengan lanjutan LM. Aku harap meski lama tapi masih ada yang menunggu FF ini. Di chapter ini aku usahain agar Yumi sedikit bahagia mengingat selama hampir setiap cerita di chapter sebelumnya aku buat dia menderita, nyahahaha *ketawa setan*

Dan aku minta maaf, karena banyaknya Typo di part-part sebelumnya karena emang FF ini udah lama banget ngendep di folder PC dan gag da edit sama sekali, di part ini aku udah usahain buat meminimalisir Typo sebaik yang aku bisa, sampe kacamata tipis buat konsentrasi ngeditnya #BOHONGG#DITIMPUK. Kalau masih ada Typo mohon salahkan saja guru bahasa Indonesiaku *diskors lima tahun* hahaha~ sekali lagi maaf ya~

Yeorobeun teman-teman yang tercinta, aku masih mengharapkan kritikan pedas kalian lho… seperti biasa Azmi yang cerewet ini mohon kritikan yang bukan hanya dari segi ide ataupun alur cerita tapi juga dari segi bahasa dan tata penulisan yang benar menurut bahasa Indonesia *sudah seperti penulis hebat saja kamu nduk~ Tsk~* hahaha… segitu aja deh… terimakasih atas suport kalian selama ini~ luv You… See You in the next chap~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

41 thoughts on “Love Me – Part 8”

  1. Kok keluarnya lama amat ya? Tapi nggak papa.. Aku tetep suka sama FF ini^^ Semoga Yumi beneran hamil :)) kelanjutannya ditunggu thor.. Jangan lama-lama ya 😉

  2. datang lagi ff ini…
    hmpir aj lupa klo prnh bc ini sblumnya.. hihihi

    aduh itu mino.. gak klhtn kyk ank 9thn ya.. lol..

    jjong mah aneh.. pngn punya ank trus udh 2 minggu mau periksa lg.. tp dlm 2 mggu itu gak “berhubungan” lg sm yumi.. ckckck

    ada apa itu jinki menelepon?
    ditunggu lnjutannya

  3. annyeong.. readers baru nih.. ^^ aku cari part sebelumnya sebelum baca yg ini.. di beberapa part sebelumnya aku ikutan nangis loh, waktu yuminya nangis, terhanyut deh bacanya -_- jgn lama2 kelanjuannya ya thor.. mian kebanyakan nulis 😛

  4. huaa akhirnya keluar juga , gimana pun jalan cerita ini bawaanya enak gitu hahaha ditunggu lanjutanya ^goodluck ya

  5. hwaa…!akhrnya..akhrnya.. publish juga…

    ckckk..itu si minho msh kcil tp bicranya….
    itu jg jonhyun aneh2 sja.,.bru td mlam juga..haha

    jinki mnlpon,sekyung knapa??

  6. yaampun… lama banget ff ini di updatenya… aku kan nungguin.

    Aaaaaaaaaaaah suka… dari dua atau beberapa chap lalu yumi-nya udah bahagia 🙂

    sweeeeet banget.

    yaampun jjong oppa, segitu pengennya punya aegi? sabar kaliiii XD

  7. udah lama gak mampir ke page ini, eh pas mampir kebetulan ada LOVE ME 8 😀
    akhirnya, kebahagiaan menghampiri yumi..

    di tunggu lanjutannya ya author..

  8. waa ketemu lagi ama love me…
    aku suka part ini,,, tp d’endingnya ada ap tuh………

    ahh bikin pnsaran,,, dtunggu klnjutannyya thor

  9. Omo, minho kok dewasa bgt padahal umurnya bru 9 thn,wk. Jonghyun lucu bgt pas dia ngira yumi itu hamil pdahal kagak. Ada apa jinki nelpon? Uh, benar” bikin aq penasaran. Lanjut…

  10. Dr part1-4 bikin galau lah. Yang sekarang senyum” gaje… Author hebat iniiii~ keren ceritanya… Jangan lama” keluarnya nnti atit peyut #plak!*abaikan*!!

  11. hyaaaa.. aku baru tau ada part 8nya..
    baru sempet baca.
    jjong akhirnya sadar juga..
    next partnya jangan lama2 ya..

  12. Aku ska bgt part yg yumi ny bhgia…
    Ngakak pas jonghyun nyalahin dokter krna yumi ny g hamil, mana ada bayi brsmbnyi (?).haha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s