God Must Be Hate Me [1.3]

Title : God Must Be Hate Me ( 1.3 )

Subtitle : [Before Story] ‘Cause We’re Together #Jinki Vers.

Author: Boram.Onyu

Main Cast: Lee Jinki, Lee Eunmi

Support Cast : Lee Yun Seong ( Jinki’s Father ), Lee Hyun Ah ( Jinki’s Mother ), Yoo Jin Songsaenim

Length: Trilogy

Genre: Romance, Family, Angst, School Life

Rate : G

Recommended Song : SHINee-KissKissKiss, SM artist-Dear My Family ( OST.I AM )

Disclaimer: Jinki milik saya, TITIK!

Summary:

Dalam hatinya justru ia mendesah, sampai kapan keluarga ini bisa mempertahankan keutuhannya, ia tidak tahu. Mengenai pertengkaran yang didengarnya tadi, meski itu bukan untuk pertama kalinya, tapi ia bisa menyimpulkan sesuatu yang besar pasti terjadi suatu saat nanti.

 

As the title, saya mau jelasin mengenai kehidupan Jinki sebelum ia bertemu Jiyeon dan all the rest of SHINee’s member. Saya mau memperingatkan kalian, part ini sangat-sangat panjang, jadi mungkin agak membosankan.

Pintu gerbang Seoul High School terbuka lebar. Lima puluh lebih siswa-siswi yang sudah menunggu di depan gerbang sedari tadi segera menyerbu masuk. Raut wajah kesenangan saat menginjak halaman sekolah tinggi itu terpancar di wajah-wajah polos mereka. Tentu saja, kesempatan untuk memasuki sekolah ini tidaklah mudah. Dengan mengalahkan seribu tujuh ratus lima puluh lebih pendaftar di ujian tertulis yang diadakan dua bulan yang lalu, nama mereka akhirnya terdaftar sebagai siswa Seoul High School.

Jinki tetap berdiri di samping gerbang, malas berdesakan di antara kerumunan siswa seumurannya yang mulai sibuk mengatur barisan. Setelah memastikan barisan itu sudah terbagi rapi menjadi sebelas barisan, ia segera berdiri di barisan paling belakang. Sekarang waktunya ia merengut. Seharusnya ia mengikuti saran eummanya untuk menghindari acara penerimaan siswa baru di lapangan. Dengan begitu, ia tak harus sibuk melap keningnya yang terus mengucurkan keringat sebagai respon dari terpaan sinar mentari di tengkuknya.

“ Kau murid spesial juga? “

Jinki berbalik, seorang yeoja dengan rambut terkuncir ke atas memandang pita biru di atas nametagnya.

“ Sepertinya aku benar. “ Yeoja itu mengulurkan tangannya.

“ Namaku Lee Eunmi, kau siapa? “

Jinki kembali meluruskan kepalanya ke depan, tak berniat meraih tangan yang terulur padanya. Tak peduli pada pandangan merendahkan dari siswa-siswa disekitarnya pada yeoja yang memperkenalkan dirinya sebagai Lee Eunmi itu pada dirinya.

“ Suck! “

Jinki bisa mendengar rutukan yeoja itu, meski lebih terdengar seperti desisan. Ia lebih suka berdoa agar pidato kepala sekolah segera berakhir, dan ia bisa masuk ke dalam kelasnya sendiri.

****

Sebuah meja paling depan berhadapan dengan meja guru menjadi incaran Jinki. Ia meletakkan tasnya di atas meja itu dengan sedikit membantingnya, bersamaan dengan tas lain berwarna peach lembut.

“ Ini tempatku! “

“ Ah, kau lagi. “

Bola mata Jinki terputar ke atas, tak peduli pada protes dari yeoja si pemilik tas, ia segera duduk di kursi.

“ Apa kau gila? Aku memilih tempat ini lebih dulu! “

Jinki menutup telinganya dengan headset putihnya, berpura-pura mendengarkan musik  agar ocehan si yeoja berkuncir segera berhenti.

“ Kau benar-benar keterlaluan! Bahkan kau tak mau mengalah pada seorang yeoja? Kau tahu apa istilah kami untuk namja sepertimu? A loser! “

Tangan Jinki menggenggam erat lengan si yeoja, kemudian dengan pelan ia mendekati wajah si yeoja. Menatap lekat sepasang mata tajam yang menunjukkan rasa tak gentar sedikit pun, padahal cengkraman di lengannya semakin lama semakin kuat.

“ Dan kau tahu aku menyebut yeoja sepertimu dengan sebutan apa? Ahjumma! “

Jinki menghempaskan tangannya, hampir menghilangkan keseimbangan si yeoja jika saja yeoja itu tak segera menumpukan tangannya di atas meja. Beberapa siswa lainnya yang dari tadi menyaksikan pertengkaran itu tak berani melerai di antara mereka. Lagipula, mereka tak mengenal namjayeoja yang terlibat adu mulut itu demi hal yang sangat sepele.

Tas Jinki dilemparkan ke atas meja yang dipilihnya sebagai tempatnya kini. Berada di antara empat kursi di samping si yeoja. Baru saja ia duduk di kursinya, seorang wanita berblus hijau tua dengan kaus dalaman hitam memasuki ruangan mereka. Setelah menuliskan namanya sendiri di whiteboard, ia berdiri di depan kelas.

“ Selamat pagi anak-anak. Saya adalah wali kelas kalian mulai dari sekarang. Kalian harus mengingat nama saya baik-baik. Jadi, sebagai pertemuan pertama kita, bagaimana kalau dimulai dengan perkenalan? “

Semua siswa mengangguk, kecuali Jinki yang menatap ke arah papan tulis dengan mata memicing. Tubuhnya mungkin berada di sana, bersandar di kursinya, padahal pikirannya sudah melayang entah kemana. Baru setelah si guru wanita bertampang cantik itu menghampirinya, ia baru kembali ke alam sadarnya.

“ Saya harus menekankan di sini, Tuan Lee. Dalam pelajaran saya, ataupun ketika saya berbicara, tak ada seorang pun bisa melamun. Kau mengerti? “

“ Ne, ahjumma. “

Semua yang ada di ruangan itu menahan tawanya, takut jika si guru akan tersinggung, lalu poin mereka akan dikurangi. Tak tanggung-tanggung, mereka mungkin akan ditendang dari kelas khusus ini ke kelas biasa, kemungkinan terkecil lainnya dari pilihan dikeluarkan dari sekolah. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi setidaknya mereka tak mau menyia-nyiakan usaha mereka untuk memasuki sekolah dengan akreditas A ini.

“ Kenapa kita tak memulai pelajarannya saja? Kita tak boleh membuang-buang waktu dengan hal yang tak berguna. “

Guru muda bernama Kim Yoo Jin itu tersenyum lembut. Tak ada niat lain di baliknya.

“ Baiklah, kita akan memulai pelajarannya. Naikkan satu persatu  buku kalian. “

****

Jinki melepas sepatunya, menggantinya dengan salah satu sandal rumah yang tertata rapi di rak sepatu.

“ Aku mohon Yun Seong, jangan seperti ini. Kau mau kemana? “

“ Lepaskan aku! “

Jinki menghentikan langkahnya mendengar pertengkaran dari balik pintu itu. Ia menghela napasnya pelan. Saat pintu itu terbuka, ia berbalik cepat. Menunduk dalam pada pria yang mendorong koper besar di sampingnya.

“ Ah, Jinki. Kau baru pulang? “

“ Ne aboji. Kau ingin pergi kemana? “

“ Aku ada urusan bisnis di Incheon. “

Pria yang ternyata ayah Jinki itu melepas kopernya, kemudian memeluk Jinki.

“ Baiklah. Mungkin aku akan kembali dalam waktu yang lama. Jadi, anak aboji yang tampan ini bisa berdua saja dengan eomma kan? “

Jinki mengangguk, sangat menikmati elusan di kepalanya. Ia mengantar kepergian ayahnya hingga ke teras, membalas lambaian tangan ayahnya yang sudah melajukan mobilnya melewati gerbang utama rumah klasik itu.

Ketika ia berbalik, ia bisa melihat eommanya yang sibuk menggosok matanya. Ia pasti sudah menangis lagi. Batin Jinki.

“ Eomma, sesuatu terjadi di antara kalian? “

“ Tidak ada apa-apa. Apa kau sudah makan? “

Jinki menggeleng, kemudian mengikuti langkah eommanya menuju ruang makan. Dalam hatinya justru ia mendesah, sampai kapan keluarga ini bisa mempertahankan keutuhannya, ia tidak tahu. Mengenai pertengkaran yang didengarnya tadi, meski itu bukan untuk pertama kalinya, tapi ia bisa menyimpulkan sesuatu yang besar pasti terjadi suatu saat nanti. Ia juga tak mau tahu masalah yang terjadi di antara kedua orang tuanya, yang jelas ia bisa merasakan kehangatan kasih sayang baik dari eumma atau abojinya hingga kini. Itu sudah cukup.

****

“ Kenapa harus selalu aku yang dipasangkan dengannya?! “

Eunmi menatap sebal pada namja yang berjalan dengan santai di depannya. Sangat tidak adil. Namja itu membawa map absensi yang sangat ringan, sedang ia yang seorang yeoja harus  membawa setumpuk buku tulis hasil pekerjaan dari teman-teman sekelasnya yang beratnya jangan dipertanyakan lagi.

Terhitung sudah delapan bulan lebih ia melewati tahun pertamanya di kelas khusus yang terisi oleh lima belas orang siswa dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Dan terhitung selama delapan bulan itu pula, ia memupuk rasa bencinya pada namja yang diketahuinya bernama Lee Jinki itu.

“ Berhenti menatapku selama itu kalau kau tak mau jatuh cinta padaku. “

Langkah Eunmi terhenti. Sorot matanya semakin tajam menatap punggung Jinki yang semakin menjauh.

“ Ya! Tunggu aku! “

Setengah berlari Eunmi mengejar ketertinggalannya dengan Jinki. Namun karena kecerobohannya, ia malah jatuh tersungkur. Tapi, bukan dinginnya lantai yang dirasakannya. Tubuhnya menindih sesuatu yang lebih empuk dan hangat.

“ Ya! Sampai kapan kau mau menutup matamu! “

Mata Eunmi terbuka, mengerjap ketika ia baru menyadari tubuhnya menindih Jinki. Ia buru-buru bangkit, kemudian mengedarkan matanya ke sekeliling. Takut jika seseorang akan melihat mereka.

“ Goma… “

Eunmi menarik ujung rambutnya kesal. Ternyata Jinki sudah meninggalkannya beserta buku-buku yang tadi dibawanya, entah sejak kapan.

“ Si bodoh itu bahkan tidak membiarkanku berterima kasih. “

****

“ Apa ini? “ Eunmi meletakkan sebotol minuman soda ke depan Jinki.

“ Ini sebagai ucapan terima kasihku untuk tadi. “

“ Aku tidak butuh. “ Sahut Jinki ketus kemudian pergi meninggalkan Eunmi yang masih termangu menatapi botol minumannya.

Sudut matanya melirik ke dalam kelas, dimana beberapa siswi sudah berkumpul, tertawa sambil menatap ke arahnya. Eunmi menggigit bibirnya. Diraihnya botol itu. Cukup sudah ia dipermalukan oleh Jinki. Ia segera berlari keluar kelas, tetapi ia tak mendapatkan sosok namja menyebalkan itu di antara puluhan siswa yang berada di koridor.

“ Cih, menyebalkan. “

Eunmi melangkahkan kakinya gontai menuju taman belakang sekolahnya. Sudah kebiasaannya, saat ia mulai sebal dengan tingkah Jinki yang selalu sukses mempermalukannya di depan teman sekelasnya.

“ Babo! Babo! “

Sebatang pohon yang entah apa namanya menjadi sasaran kekesalan Eunmi. Ditendangnya pohon itu berkali-kali, untuk melepaskan luapan amarahnya yang sengaja ditahannya dari tadi. Sebuah pulpen yang berada di sakunya diambilnya, kemudian digoreskan ke batang pohon tadi. Mengorek kulitnya sedalam mungkin.

“ Ya! Apa kau tidak bisa diam sekali saja? “

Eunmi mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan suara menyebalkan yang sudah sangat dihapalnya.

“ Aku di atas sini, bodoh! “

Eunmi terkesiap saat Jinki melompat tepat di depannya. Di luar dugaannya, Jinki sudah berada di atas pohon dari tadi. Ia hampir jatuh, untungnya Jinki segera menahan tangannya.

“ Apa kau tidak bisa ceroboh sekali saja. “

Jinki melipat tangannya di depan perutnya. Sebotol minuman di tangan Eunmi ditariknya, kemudian diminumnya hingga isinya tinggal setengah.

“ Apa yang kau lakukan?! Bukannya kau tidak butuh minuman itu? “

Eunmi menatap ngeri saat-saat Jinki menutup botol itu dengan penutupnya.

“ Rasanya tak buruk. “

“ Aku juga sudah meminumnya tadi. Tapi, itu berarti… ciumanku… aaaargh! Kau brengsek, Lee Jinki! “

Jinki memandangi botol itu dan Eunmi yang sudah menjauh bergantian. Tak lama, smirk evilnya menghiasi wajahnya seiring ibu jarinya yang melap sisa minuman rasa lemon itu di bibirnya.

****

Jinki memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas selempangnya. Jam tangan digital berwarna coklat yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam. Dimasukkannya tangannya ke dalam saku, sepertinya hanya tinggal dirinya saja saat ini. Langkahnya terhenti di depan lab komputer, ketika sesuatu menarik perhatiannya.

“ Si bodoh itu. “

Tangan Jinki mendorong pintu kaca, kemudian melangkah melewati beberapa meja, berhenti tepat di bangku paling belakang.

“ Ya! Ireona! “ Jinki mengguncang tubuh yeoja itu, tapi si yeoja tetap terlelap dalam tidurnya.

“ Ya! Ya! “

“ Aaaaa! “ Eunmi menggosok matanya yang masih sulit untuk terbuka. Sedang mulutnya menguap lebar-lebar.

“ Ya! “

“ Namaku Eunmi! Bukan, Ya! “ Eunmi mendengus kesal begitu disadarinya tinggal ia sendiri di ruangan full ac itu.

“ Apa dia itu hantu? Cepat sekali menghilangnya. “

Setelah membereskan barang-barangnya, ia segera meninggalkan ruangan itu. Di antara dua daun pintu yang terbuka setengah itu Eunmi bisa melihat sosok Jinki dari belakang.

“ Sepertinya malam ini badai salju. “

Eunmi berlari menghampiri Jinki yang menatap luar ruangan. Benar katanya, seluruh lapangan sudah tertutupi salju.

“ Aaaaaaaaaaaaaaaa.. “ Teriakan  Eunmi baru berhenti setelah mulutnya ditutup oleh Jinki.

“ Apa kau memang tidak bisa tenang sekali saja?! “

Eunmi mengangguk, tak lama karena ia kembali menyerocos dengan berbagai macam keluhannya.

“ Bagaimana aku bisa tenang, Lee Jinki! Semua lampu mati! Kau tidak tahu gelapnya sekarang? “

“ Ya! Aku juga tahu itu! Jadi diamlah! “

“ Aku tidak bisa diam! Aku mau pulang! Aku mau… “

Sekali lagi, mulut Eunmi disumpal oleh tangan Jinki. Tubuhnya terseret masuk ke dalam kelas, membuat pikirannya mulai dipenuhi adegan-adegan tak wajar yang belum pantas dipikirkan oleh anak seusianya.

“ Lepaskan aku mesum! “

Eunmi memukul tubuh Jinki dengan tasnya, berkali-kali hingga kedua tangannya digenggam oleh Jinki.

“ Kau bilang aku apa? Mesum? “

Eunmi mundur sedikit demi sedikit. Tubuhnya yang tertabrak dengan dinding membuat detakan jantungnya memacu lebih cepat.

“ Kau tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang mesum sepertiku? “

Eunmi menelan ludahnya ketika wajah Jinki semakin mendekat ke arahnya. Matanya tertutup, sedang kedua bibirnya mengatup rapat-rapat.

“ Babo! “

Ringisan dari Eunmi terdengar setelah dahinya menerima sentilan. Kedua tangannya yang sudah terbebas dari Jinki digunakannya untuk mengelus dahinya.  Dengan bantuan cahaya dari jendela kaca, ia bisa melihat Jinki yang jongkok sambil menggosok kedua tapak tangannya.  Ia pun ikut berjongkok di sampingnya, berjarak dua lantai di antara mereka.

Eunmi meringis pelan saat lengannya ditarik dengan keras, membuat tubuhnya terdorong ke samping. Terjatuh tepat di bahu Jinki.

“ Akan jauh lebih hangat kalau kita berdekatan seperti ini. “

Eunmi batal mengajukan protesnya. Kali ini, ia setuju pada pendapat Jinki. Buktinya, lengannya makin menempel pada lengan Jinki, menjalarkan rasa hangat ke seluruh tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan. Jinki juga tak protes, tangannya dimasukkan ke dalam tasnya. Mencari ponselnya yang mungkin saja bisa mengeluarkannya dari masalah terjebaknya ini. Ia mendengus kesal tatkala tanda dari sinyal ponselnya justru tak menunjukkan segaris pun.

Jinki menggerutu, membuat bibirnya mengerucut sedang Eunmi yang ada di sampingnya tertawa pelan saat melihat ekspresi Jinki. Selama ini, selain tampang datar ataupun seringaian setan yang dilihatnya dari Jinki, tak ada lagi ekspresi lain yang tergambar pada wajah namja itu.

“ Ada apa? Kenapa kau tertawa? “

“ Aku mau tertawa atau tidak, itu bukan urusanmu! “

Sekali lagi, bibir Jinki mengerut. Ia memilih untuk diam, tak mau terlibat dalam pertengkaran bodoh yang hanya akan membuang-buang tenaganya. Sementara suhu di sekelilingnya makin menurun, sedang penghangat ruangan sudah tidak berfungsi lagi mengingat akses listrik yang sudah terputus sejak dimulainya badai salju tadi, tubuh Jinki dan Eunmi bergetar hebat. Jaket tebal yang mereka pakai sepertinya tak mampu lagi menjaga kelembapan kulit mereka.

“ Ya, apa kau baik saja-saja? “

“ Sudah kubilang, namaku Eunmi. Bukan ‘ya’. “

“ Aku tahu ini sangat lancang, tapi… “

Jinki tak melanjutkan kalimatnya. Ia justru menarik Eunmi ke dalam pelukannya, yang tentu saja dibalas Eunmi dengan pukulan-pukulan di dada Jinki.

“ Jinki! “

“ Diamlah. “

Eunmi menghentikan aksi memukulnya ketika didengarnya suara gemerutuk gigi Jinki tepat di telinganya. Lebih tepatnya desahan napas di lehernya, menyebabkan suatu aliran listrik yang menjalari tubuhnya. Menimbulkan kehangatan tersendiri bagi Eunmi hingga dirasakannya wajahnya memanas.

“ Tubuhmu makin lama makin hangat. Apa kau sudah demam? “

Buru-buru Eunmi melepas pelukannya. Dan sepertinya Jinki tak terlalu memusingkannya, karena kini ia sudah menutup matanya. Eunmi melirik wajah damai namja yang sudah terlelap dalam tidurnya itu. Mengamati betapa tampannya tiap lekuk wajah Jinki. Parahnya, ketika matanya menatap bibir Jinki yang terbuka sedikit, ia mengutuk dalam hatinya atas drama yang dinontonnya hingga ia ketiduran di lab komputer tadi. Betapa menyesalnya ia sekarang, karena dalam benaknya berkelebat adegan ciuman panas dari drama itu.

Eumi kembali melirik wajah Jinki. Ia mendesah kesal karena perhatiannya tertuju pada bibir mungil kemerahan itu.  Ia tak tahu apa yang telah merasukinya, karena sekarang tubuhnya bergerak di bawah perintah otaknya. Semakin mendekati Jinki, mengurangi jarak di antara wajah mereka. Baru setelah ia merasakan bibirnya tersentuh oleh bibir lain, dilihatnya mata yang semula tertutup itu sudah terbuka setengah.

“ Sebenarnya, yang mesum di sini kau atau aku? “

Tubuh Eunmi mundur, saat matanya bertemu dengan mata Jinki yang sudah terbuka lebar. Ia akan berkelit, tapi tubuhnya sudah ditindih tubuh Jinki, membiarkan punggungnya merasakan dinginnya lantai. Ia ingin terlepas dari cengkraman tangan Jinki di bahunya, tapi sepasang kakinya telah dikunci oleh sepasang kaki Jinki.

“ Kau mau mencuri ciuman dariku saat aku tertidur, hm? “

“ Ini salah paham, Jinki. “

“ Salah paham, kalau begitu, biarkan aku tahu ini salah paham atau bukan setelah ini. “

Tubuh Eunmi menggelinjang mendengar bisikan Jinki di telinganya. Ia merasakan cengkraman di bahunya melemah, tapi setelahnya dahinya harus kembali mendapatkan sentilan lagi.

“ Kau pikir aku mau menciummu? Aku tidak semesum kau, Lee Eunmi. “

****

“ Berhenti tersenyum jika kau tak mau orang-orang mengataimu gila. “

Jinki meletakkan tasnya di sampingnya. Kepalanya disandarkan pada tiang penopang atap halte. Badai salju telah berhenti sejak lima belas menit lalu, jadi sudah seharusnya ia bergegas menuju tempat pemberhentian bis di dekat sekolahnya jika ia tidak mau terus terperangkap di sekolah.

“ Kupikir kau tak mengingat namaku. “

“ Jadi, kau tersenyum selama ini hanya karena aku menyebut namamu? Ckck, kau benar-benar suka  padaku rupanya. “

“ Suka apanya? Aku hanya menganggap itu lucu. “

Eunmi mengerjapkan matanya berkali-kali. Dengan jarak tak kurang dari lima sentimeter, wajah Jinki menatapnya serius. Ia bahkan harus menelan air liurnya dengan susah payah karena debaran di jantungnya bekerja jauh lebih cepat dari sebelumnya. Oh, ia bahkan baru menyadari betapa tampannya wajah Jinki dari jarak sedekat itu.

“ Kau tahu? Debaran jantungmu lebih cepat dari kecepatan kereta bawah tanah. “

Sekejap wajah Eunmi memerah, membuat Jinki tak sadar mengulas senyum puas di wajah chubbynya.

“ Sepertinya itu bismu. Cepat naik kalau kau tak mau ketinggalan. “

Dengan langkah dipercepat Eunmi segera naik ke dalam bis. Ia mengintip sebentar dari kaca jendela, dan bisa dirasakannya debaran jantungnya yang semakin menggila ketika namja bermata sipit yang masih duduk di bangku halte itu tersenyum padanya.

****

Jinki menutup gerbang rumahnya, dan senyumannya semakin melebar saat melihat sebuah BMW silver terparkir di halaman rumahnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan baginya kecuali menyambut kedatangan ayahnya, mengingat ini sudah delapan bulan sejak kepergiannya ke Incheon.

“ Abo… “

Kening Jinki berkerut. Ini tidak biasa. Jika ayahnya pulang dari perjalanan bisnisnya, namja itu pasti sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi hangat. Ayahnyapasti akan melangkah ke arahnya dengan senyuman lebar, juga dengan kedua lengan yang terbuka lebar untuk memeluknya.

“ Mungkin ia lelah. “

Jinki mengangkat bahunya. Saat ia hampir menaiki jenjang anak tangga pertamanya, matanya menangkap pintu kamar orang tuanya terbuka sedikit.

“ Aku ingin kita bercerai. “

“ Yun Seong, aku mohon. Jangan lakukan itu. “

“ Aku sudah lelah padamu, Hyun Ah! Jangan terus mengekangku dengan alasan Jinki. Dan berhenti menangis, aku muak melihat wajahmu. “

Lutut Jinki melemas. Ia tahu sesuatu seperti ini akan terjadi. Tapi sehari sebelum ulang tahunnya? Apa mereka tak bisa menunda pertengkaran mereka seminggu lagi, atau setidaknya setelah Jinki merayakan pertambahan usianya yang ke-17 besok? Ayolah, ia bahkan berharap jika ia hanya bermimpi, dan setelahnya ia akan terbangun dari mimpi buruknya ini. Tapi, sepertinya berdoa pun akan sia-sia.

Ia melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya. Pandangannya sudah mengabur. Alarm di jamnya membuatnya harus melirik benda digital itu. Sudah pukul 12 ternyata.

“ Selamat ulang tahun, Lee Jinki. “ Desisnya pada dirinya sendiri.

 

Continued…

 

Well,  FF ini tercipta gara-gara dengar lagunya SHINee yang KissKissKiss itu, dan saya sangat suka couple JinMi, alias Jinki-Eunmi. Saya gak pernah bosan bilang ini, tapi tinggalkan komentar kalian! #nuntut. Saya suka sekali sama komentar reader yang panjang sampe berparagraf gitu, yang juga nyisipin kritik sarannya, yang juga memberikan kalimat penyemangat, benar-benar oksigen buat saya loh untuk nulis. I can’t say other thing except than THANK YOU SO MUCH!! Boram J

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

38 thoughts on “God Must Be Hate Me [1.3]

  1. Aku suka karakternya Jinki disini. Nggak sangtae sama sekali, cool abis malahan B)

    Oh ya, bukannya yang bener itu ‘mengelap’, bukan ‘melap’ ya? Kata yang cuma ada satu suku kata itu jadi ‘menge-‘. Well, it just small mistake anyway🙂

    Hwaaa, seperti biasa, FF buatan kak Boram selalu keren! Ditunggu next part-nya ^^

  2. Jinki emg cocok2 aja dikasih karakter cool, dingin bahkan sangtae sekalipun…
    Eun mi mulae suka tuhhh….kkkk
    Mian, aku jg ga bisa komen panjang2…hehe..keseringan malah komenku jg ga mutu..hehe…
    Yg pasti…keep writing boram

  3. love this ff^^ aku bisa ngebayangin jalan ceritanya, karakter jinki sama eunmi cocok deh😀, tp kasian juga kl jinki jadi anak brokenhome, lanjutannya jgn sedih2 amat ya-_- Ok, next..

  4. ff ny daebak,critany seru jdi ga sbar nunggu part slanjutny,part slanjutny jgn lma” yakK. .
    soalny pnasarn bgt. .

    tpi,
    kasian jinki nya. . (; _😉
    mang papa mama nya bertengkar karna alasan apa sih?

  5. wah keren jinki cuek ya dsini nggak bisa banyangin tampang cuek jinki yng sangtae
    keren ni ffnya d tunngu lanjutannya secepat mungkon ya……

  6. Jinki punya cerita hidup yang rumit di sini. Di satu sisi harus mendengar pernyataan buruk ayahnya yang ingin cerai sama ibunya. Di sekolah masih terus musuhan sama Eunmi.

    Ah, detik-detik menjelang hari ulang tahun yang menyedihkan.

    Nice story. Lanjut terus yah. ^^

  7. Wah…
    ternyata nasib Jinki dicerita ini malah lebih parah daripada saya.
    nih FF daebak banget eon!! ^^
    Lanjutannya ditunggu ya!
    Tunggu, jadi nanti ceritanya si Jinki tuh anak Broken Home?

  8. #cengo

    Hei, itu bukan Jinki. Pasti bukan. Kecuali kalau otaknya bergeser. Atau mungkin otak authornya yang bergeser? o,O #dilempar panci

    Aku sama sekali gak melihat satu pun sosok Jinki di sini. Kecuali sisi dirinya yang pintar, senyum menawan dan wajah tampan. Itu baru Jinki yang punya. Tapi yang lainnya terasa begitu asing. Jinki seakan membeli kepribadian baru.
    Dan……. kau tahu apa? Aku suka yang kaya gini!! XDDD

    Selama ini aku bosen baca FF yang kalo ada Onew-nya, pasti si Onew dibuat konyol, sangtae, garing, dan lain-lain .___. Sosok Onew disini terkesan cool banget! Cowok beneran! serem, dingin, cuek, dan ada sisi pemberontak gitu. Aku suka! XDD

    “ Selamat ulang tahun, Lee Jinki. “ Desisnya pada dirinya sendiri.

    Begitu baca kalimat terakhir ini hatiku langsung jleb dalem banget….
    Aaaaa~~~~ *histeris* suka banget sama cara pendiskripsiannya. Rapi dan enak ngalir gitu~~~
    Mana ni author-nya hah??? Mana? Pengen aku peluk orangnya xDD #plaks

    Lanjuuuttt~~~

  9. oow, jinki-ah kau menyukai eunmi? hahaa
    btw, eunmi diremehkan? wae? aku ngga nangkep maksudnya haha #plak
    jadi selama ini ayahnya jinki cuma pura² gitu? ah cian jinki~
    terus aku ga paham. kan dia pulang setelah badai salju, itu jam 12? gila. lama banget.
    overall, keren thor dari segi cerita. buat alur mungkin agak kecepetan ya? ah tapi gapapa, aku tetep suka kok❤

  10. kyaaaa….. Jin-Mi lg…
    Tp untungnya kali ini mrk gak saodaraan… lega,,,
    Tp ni cerita dr ‘Cause We’re Together?’…
    aku suka bgt…
    scene kejebak badai salju romantis lucu gimanaaa…. gitu…
    Nih, justru si Eunminya yang nyosor duluan…
    kyaaa…. suka… Jinki namja iceman jaim mmpesona abis….!!!
    Pantes aja Eunmi gak bisa ngontrol tuh ‘keinginan…’
    ampun…
    Jinki dpt hadiah ‘perceraian ortunya’ untuk ultahhnya ke17?
    kasian kau Jinki….
    mdh2n di part slanjutnya cerita mkn seru!
    Lanjut….!

  11. Keren :’) ♥ paling nyesek pas si Onyu ngucapin selamat ulng tahun ke dirinya sendiri :” jleb banget itohh , daebak !!

  12. Onew cool banget >///< kalo gue jadi eunmi juga gue mah pasti khilaf gelap2an bareng onew mana dingin lagi yaallaaaah~~
    Nice thor suka deh

  13. Aku suka karakter jinki..
    Udh lama ga mampir ke blog ini dan aku lgsung bca ff ini krna liat recomend dr komen” yg aku baca.. Dan ternyata emg seru.. Oke deh smangat terus bkin karya’yh Boram eonni #sok kenal# hehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s